diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan Kajian Tindak Tutur yang dibina oleh Dr. Novia Juita, M.Hum.
DELSY ARMA PUTRI NIM 16174007
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI PADANG
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulisan Makalah pada Mata Kuliah Kajian Tindak Tutur yang berjudul ”Katakteristik dan Jenis Tindak Tutur” dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Muhammad Saw yang telah membawa umatnya dari alam jahiliyah kepada puncak ilmu pengetahuan.
Di dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan bimbingan dan motivasi dan masukan dari berbagai pihak. Namun, penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan kritik, saran, yang
membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
Padang, November 2016
Penulis
A.Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering berkomunikasi dengan orang lain, dengan keperluan menyampaikan maksud, tujuan atau hanya sekedar basa-basi. Berdasarkan kajian linguistik, pada saat berkomunikasi menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan strukur gramatikal. Namun berdasarkan kajian pragmatik, saat berkomunikasi seseorang tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan strukur gramatikal, tetapi kita memngungkapkan tindakan-tindakan melalui tuturan yang dapat kita pahami dengan mengenal dan mendalami berbagai jenis tuturan. Makalah ini menjelaskan pengertian tindak tutur, karakteristik tindak tutur, dan jenis tindak tutur.
B. Fokus Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini meliputi hakikat dan pengertian tindak tutur, karakteristik tindak tutur, dan jenis tindak tutur.
C.Tujuan dan Manfaat Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan fokus masalah, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. Pertama, menjelaskan pengertian tindak tutur dalam pragmatik. Kedua, menjelaskan karakteristik tindak tutur. Ketiga,
menjelaskan jenis-jenis tindak tutur. Harapannya, dengan adanya makalah ini bisa memberi pemahaman lebih tentang hakikat tindak tutur besera jenis-jenisnya bagi penulis dan pembaca.
BAB II PEMBAHASAN
Dalam Bab II mengenai pembahasan tindak tutur, diuraikan tiga hal berikut yang berkaitan dengan tindak tutur. 1) pengertian tindak tutur, 2) karakteristik tindak tutur, dan 3) jenis tindak tutur.
A.Pengertian Tindak Tutur
Istilah tindak tutur 'speech act' pertama-tama dikemukakan oleh Austin (1956) yang merupakan teori yang dihasilkan dari studinya di Universitas Havard dan kemudian dibukukan oleh J.O. Urmson (1965) dengan judul How to Do Thing with Words? Kemudian teori ini dikembangkan oleh Searle (1969) dengan menerbitkan sebuah buku Speech Acts: An Essay in the Philosophy of
Language. Ia berpendapat bahwa komunikasi bukan sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kataa, atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur (the performance of speech acts).
Tindak tutur merupakan aksi (tindakan) dengan menggunakan bahasa (Djajasudarma, 1994: 63). Bahasa digunakan pada hampir semua aktivitas. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh anggota masyarakat dalam interaksi sosial. Dalam interaksi tersebut tampak adanya upaya
penyampaian gagasan, pertukaran gagasan, melalui kerja sama di antara penutur dan mitra tutur. Dapat dipastikan bahwa dalam aktivitas komunikasi tersebut senantiasa terjadi kegiatan bertutur. Dalam kaitannya dengan kegiatan bertutur sebagai aktivitas komunikasi, Yule (2006:82) menjelaskan bahwa kegiatan bertutur adalah tindakan-tindakan, janji atau permohonan.
Seseorang menggunakan bahasa untuk bertindak menyatakan informasi. Ketika seseorang sedang bercakap-cakap, dapat dilihat bahwa ia sedang
melakukan beberapa tindakan seperti: melaporkan, menyatakan, memperingatkan, menjanjikan, mengusulkan, menyarankan, mengkritik, meminta, memohon, memerintah, bertaruh, menasihati, dan sebagainya. Jika kegiatan bertutur dianggap sebagai tindakan, berarti setiap kegiatan bertutur atau menggunakan
tuturan terjadi tindak tutur. Kemudian tindak tutur (istilah kridalaksana penuturan atau speech act, speech event) adalah pengajaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui oleh pendengar (Kridalaksana, 1984: 154). Sehingga dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Hakikat tindak tutur itu adalah tindakan yang dinyatakan dengan makna atau fungsi (maksud dan tujuan) yang melekat pada tuturan.
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat diketahui bahwa tindak tutur adalah kemampuan seorang individu
melakukan tindak ujaran yang mempunyai maksud tertentu sesuai dengan situasi tertentu. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa dalam tindak tutur yang lebih ditekankan ialah arti tindakan dalam tuturannya. Hal ini sesuai dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, yang bertujuan untuk merumuskan maksud dan melahirkan perasaan penutur. Selain itu, tindak tutur juga mencakup ekspresi psikologis (misalnya berterima kasih dan memohon maaf), dan tindak sosial seperti mempengaruhi tingkah laku orang lain (misalnya mengingatkan dan memerintahkan) atau membuat kontrak (misalnya berjanji dan menamai).
Tindak tutur adalah kegiatan seseorang menggunakan bahasa kepada mitra tutur dalam rangka mengkomunikasikan sesuatu. Apa makna yang dikomukasikan tidak hanya dapat dipahami berdasarkan penggunaan bahasa dalam bertutur tersebut tetapi juga ditentukan oleh aspek-aspek komunikasi secara komprehensif, termasuk aspek-aspek situasional komunikasi atau konteks tuturan. Hal ini sesuai dengan pendapat Chaer (1995:65) yang menjelaskan bahwa tindak tutur
merupakan gejala individu, bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam mengahadapi situasi
tertentu. Dalam tindak tutur itu yang lebih dilihat adalah makna atau arti tindakan dalam tuturannya.
Saat menuturkan kalimat, seorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkan kalimat itu. Ketika ia menuturkan kalimat, berarti ia
4
yang dikunjungi oleh pacarnya “Sudah pukul sembilan”. Ibu tadi tidak semata-mata memberitahukan tentang keadaan yang berkaitan dengan waktu, tetapi juga menindakkan sesuatu yakni memerintahkan mitra tutur lain (misalnya anaknya) agar pacarnya pulang.
B. Karakteristik Tindak Tutur
Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan (Rustono, 1999: 33).
Suatu ujaran atau tindak tutur ketika diujarkan maka dapat memiliki lebih dari satu makna, sehingga untuk mengetahui makna yang terkandung dalam tuturan tersebut sangat tergantung dengan konteks ketika penutur berbicara. Oleh karena itu, dalam mengkaji tindak tutur, tidak lepas dari mitra tutur sendiri, konteks tuturan, peristiwa tutur dan situasi tutur.
1. Situasi tutur
Rustono (1999:26) menyatakan bahwa situasi tutur adalah situasi yang melahirkan tuturan. Dalam komunikasi, tidak ada tuturan tanpa situasi tutur. Sebuah peristiwa tutur dapat terjadi karena adanya situasi yang mendorong terjadinya peristiwa tutur tersebut. Situasi tutur sangat penting, karena dengan adanya situasi tutur, maksud dari sebuah tuturan dapat diidentifikasikan dan dipahami oleh mitra tuturnya. Sebuah tuturan dapat digunakan dengan tujuan untuk menyampaikan beberapa maksud atau sebaliknya. Hal tersebut dipengaruhi oleh situasi yang melingkupi tuturan tersebut. Dengan kata lain, maksud tuturan yang sebenarnya hanya dapat diidentifikasi melalui situasi tutur yang
mendukungnya.
Pertama, penutur dan mitra tutur. Penutur adalah orang yang bertutur, sementara mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran atau kawan penutur. Peran penutur dan mitra tutur dilakukan secara silih berganti, penutur pada tahap tutur berikutnya dapat menjadi mitra tutur, begitu pula sebaliknya sehingga terwujud interaksi dalam komunikasi. Konsep tersebut juga mencakup penulis dan pembaca apabila tuturan tersebut dikomunikasikan dalam bentuk tulisan. Aspek-aspek yang terkait dengan penutur dan mitra tutur tersebut antara lain Aspek-aspek usia, latar belakang sosial, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan tingkat keakraban. Aspek-aspek tersebut mempengaruhi daya tangkap mitra tutur, produksi tuturan serta pengungkapan maksud. Penutur dan mitra tutur dapat saling memahami maksud tuturan apabila keduanya mengetahui aspek-aspek tersebut. Berikut adalah contoh dalam percakapan.
Konteks : Andi Bertanya kepada Tatang mengenai hasil pertandingan sepak bola Indonesia melawan Korea Selatan
Andi : Tang, kemarin lihat bola gak, gimana Indonesia menang nggak?
Tatang : Wah, kacau Ndi. Indonesia kalah 0-1.
Andi dalam tuturan tersebut berlaku sebagai penutur sedangkan Tatang sebagai orang yang diajak bicara oleh Andi sebagai mitra tutur yang mendengarkan tuturan Andi, disamping itu Tatang dalam peristiwa tutur tersebut juga berperan sebagai penutur, yaitu dengan mengungkapkan jawaban atas pertanyaan Andi yang menanyakan hasil pertandingan sepak bola AFC, Indonesia melawan Korea Selatan yang dimenangkan oleh Korea Selatan 1-0.
Kedua, konteks tuturan. Kontek tuturan adalah konteks dalam semua aspek fisik atau setting sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan. Konteks berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian. Pada hakikatnya konteks dalam pragmatic merupakan semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang dipahami bersama antara penutur dengan mitra tuturnya.
Konteks : Rintan bertemu dengan Rizal saat menunggu angkutan Rizal : Hai, Rintan!, mau kemana nih, kok sendirian aja?
6
Konteks yang ditampilkan dalam peristiwa tutur yang terjadi antara Rintan dan Rizal tersebut adalah Rizal bertanya kepada Rintan sedangkan koteks ditunjukkan pada raut wajah Rintan yang agak malu menjawab pertanyaan Rizal.
Ketiga, tujuan tuturan. Tujuan tuturan merupakan hal yang yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan tutur. Tujuan tuturan merupakan apa yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Semua tuturan memiliki tujuan, hal tersebut memiliki arti bahwa tidak ada tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan. Bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur selalu dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tuturan. Sehingga, bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan satu maksud dan sebaliknya satu tuturan dapat menyatakan berbagai macam maksud.
Konteks : Adi datang berkunjung ke rumah Bu Nori untuk meminjam buku catatan
Adi : Kemarin aku gak sempat nyatet kuliahnya Pak Tomo nih Bu Nori : Nah, kamu pasti mau pinjam buku catatanku lagi kan?
Berdasarkan peristiwa tutur tersebut dapat diungkapkan bahwa penutur dalam hal ini Adi memiliki tujuan dalam menuturkan tuturan ‘Kemarin aku gak sempat nyatet kuliahnya Pak Arifin nih.’ Tujuan dari tuturan tersebut adalah bahwa Adi bermaksud meminjam buku catatan Bu Nori, karena kemarin dia tidak sempat mencatat materi kuliah yang disampaikan Pak Arifin.
Keempat, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Menuturkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan (act). Tuturan dapat dikatakan sebagai sebuah tindakan atau aktivitas karena dalam peristiwa tutur, tuturan dapat menimbulkan efek sebagaimana tindakan yang dilakukan oleh tangan atau bagian tubuh lain yang dapat menyakiti orang lain atau
mengekspresikan tindakan.
Konteks : Seorang ibu berkata kepada anaknya Ibu : Wah, terasnya kotor sekali ya?.
Anak : (segera mengambil sapu dan menyapu teras tersebut)
menggunakan tangan. Dalam perilaku yang dilakukan oleh anak yang segera mengambil sapu dan menyapu teras merupakan efek dari ucapan Ibu tersebut.
Kelima, tuturan sebagai produk tindakan verbal. Karena tercipta melalui tindakan verbal, tuturan tersebut merupakan produk tindak verbal yang
merupakan tindakan mengekspresikan kata-kata atau bahasa. Tuturan sebagai produk tindakan verbal akan terlihat dalam setiap percakapan lisan maupun tertulis antara penutur dan mitra tutur, seperti yang tampak pada tuturan berikut.
Konteks : seorang ibu berpesan pada anaknya
Ibu : Ris, nanti kalau ada tamu bilang Ibu sedang arisan ya! Risa : Iya, Bu.
Tuturan tersebut merupakan hasil dari tindakan verbal bertutur kepada mitra tuturnya, dalam hal ini Risa yang diberi pesan Ibunya, bahwa kalau ada tamu Risa harus mengatakan bahwa Ibunya sedang arisan.
Kelima aspek situasi tutur tersebut tentu tidak terlepas dari unsur waktu dan tempat di mana tuturan tersebut diproduksi, karena tuturan yang sama apabila diucapkan pada waktu dan tempat berbeda, tentu memiliki maksud yang berbeda pula. Sehingga unsur waktu dan tempat tidak dapat dipisahkan dari situasi tutur.
2. Petistiwa tutur
Peristiwa tutur (Inggris: speech event) adalah terjadinya atau
berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu (Chaer, 1995: 61). Jadi interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur. Peristiwa serupa kita dapati juga dalam acara diskusi di ruang kuliah, rapat dinas di kantor, sidang di pengadilan, dan sebagainya.
8 I : ( instrumentalities)
N : (norms of interaction and interpretation) G : (genres)
Pertama, setting and scene. Setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi, tempat dan waktu atau situasi psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda juga. Berbicara di lapangan sepak bola pada waktu ada pertandingan sepak bola dalam situasi yang ramai tentu berbeda dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada waktu banyak orang membaca dan dalam keadaan sunyi. Di lapangan sepak bola kita bisa berbicara dengan keras tapi di ruang perpustakaan harus bicara seperlahan mungkin.
Kedua, participant. Participant adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima pesan. Dua orang yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai pembicara atau pendengar, tetapi dalam khotbah masjid, khotib sebagai pembicara dan jemaah sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran. Status sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan. Misalnya, seorang anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda bila berbicara dengan orang tuanya atau gurunya bila dibandingkan kalau dia berbicara dengan teman-teman sebayanya.
berusaha membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil.
Keempat, act sequence. Act sequence mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran dan isi ujaran ini berkenaan dengan kata-kata yang
digunakan, bagaimana penggunaannya, dan hubungan antara apa yang dikatakan dan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam kuliah umum, dalam percakapan biasa, dan dalam pesta adalah berbeda. Begitu juga dengan isi yang dibicarakan.
Kelima, key. Key mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan disampaikan dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat. Keenam, instrumentalities. Instrumentalities, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalities ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan, seperti bahasa, dialeg ragam atau register.
Ketujuh, Norm of Interaction and Interpretation. Norm of Interaction and Interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya, dan sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara. Kedelapan, genre. Genre mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa dan sebagainya.
Secara sederhana tindak tutur adalah segala tindak yang dilakukan seseorang pada saat berbicara, sedangkan peristiwa tutur adalah suatu kegiatan yang terkontrol oleh sejumlah kaidah maupun norma yang digunakan dalam berbicara. Berbeda dengan tindak dan peristiwa tutur, situasi tutur adalah kegiatan yang tidak terkontrol secara keseluruhan oleh kaidah-kaidah yang tetap, seperti pembicaraan pada saat perkelahian, pembunuhan, makan dan pesta (Hymes, 1972 dalam Richard (1995).
10
pendapat Alwasilah (1993:20) bahwa ujaran bersifat context dependent (tergantung konteks). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa sebagai
pembicara dituntut untuk memahami situasi, peristiwa, dan tindak tutur yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dalam konteks berbahasa.
C.Jenis Tindak Tutur
Jenis-jenis tindak tutur antara lain, 1) konstatif dan performatif. 2) lokusi, ilokusi, dan perlokusi. 3) representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. 4) langsung, tidak langsung, harfiah, dan tidak harfiah. 5) vernakuler dan
seremonial.
1. Tindak tutur konstatif dan performatif
Menurut Austin (1962:1-11) dalam bukunya yang berjudul How to do things with word, tuturan yang kalimatnya bermodus deklaratif atau pernyataan terbagi atas dua jenis, yaitu konstantif dan performatif.
Tuturan konstatif adalah tuturan yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji benar atau salah dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia. Tuturan “Semarang ibukota Jawa Tengah” merupakan tuturan konstatif karena kebenaran tuturan itu.
Tuturan performatif adalah tuturan yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu. Tuturan “Saya mohon maaf atas keterlambatan saya
ini” merupakan contoh tuturan performatif. Tuturan performatif tidak dapat dikatakan bahwa tuturan itu salah atau benar. Terhadap tuturan performatif dapat dinyatakan sahih atau tidak. Kesahihan tuturan performatif bergantung kepada pemenuhan persyaratan kesahihan. Empat syarat kesahihan tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
1) Harus ada prosedur konvensional yang mempunyai efek konvensional dan prosedur itu harus mencakupi pengujaran kata-kata tertentu oleh orang-orang tertentu pada peristiwa tertentu.
2) Orang-orang dan peristiwa tertentu di dalam kasus tertentu harus berkelayakan atau yang patut melaksanakan prosedur itu.
Berkenaan dengan tuturan, Austin (1962) mengemukan tiga jenis tindakan yang bisa diwujudkan seorang penutur, yaitu: (a) tindak lokusi, (b) tindak
perlokusi, dan (c) tindak perlokusi.
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini disebut sebagai the act of saying something. Bila diamati konsep lokusi adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. Tindak tutur lokusi paling mudah untuk diidentifikasi karena pengidentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan atau tanpa mengaitkan maksud tertentu. Tuturan “Udara panas” yang mengacu kepada makna udara atau hawa panas, lawan dingin; tanpa dimaksudkan untuk meminta kipas angin dijalankan atau jendela dibuka merupakan tuturan lokusi.
Tuturan yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan adalah tindak tutur ilokusi. Tindak ilokusi disebut the act of doing
something. Tuturan “Sayur ini enak meskipun kurang asin” yang dimaksudkan untuk meminta diambilkan garam merupakan tuturan ilokusi.
Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh atau efek bagi yang mendengarnya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak disengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur disebut dengan tindak perlokusi. Tindak tutur ini sering disebut the act of affecting someone. Sebagai contoh, tuturan “Ada hantu” mempunyai daya pengaruh untuk menakut-nakuti.
3. Tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi Mneurut Searle (1975) tindak tutur dikategorikan menjadi lima jenis, yaitu: (a) representatif atau asertif, (b) direktif atau impositif, (c) ekspresif atau evaluatif, (d) komisif, dan (e) deklarasi atau isbati.
12
Tuturan “Mahasiswa yang membayar angsuran kedua sudah 90%”, “Di kota inilah dia dilahirkan”, dan “Sebentar lagi kita berangkat ke
Parangtritis” termasuk tuturan reprentatif.
Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penutur dengan maksud agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tuturan-tuturan yang termasuk jenis tindak tutur direktif
adalah: memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberi aba-aba, dan menantang.Tuturan “Ambilkan sendok di meja itu!”, “Mana barang yang kau janjikan kemarin?”, dan “Lebih baik Anda pulang sekarang” adalah tuturan direktif.
Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang diujarkan penutur
dimaksudkan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Yang termasuk jenis tindak tutur ini adalah tuturan-tuturan memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, dan menyanjung. Tuturan “Sudah bekerja keras, tetapi gaji tetap tidak mencukupi kebutuhan hidup” termasuk tuturan mengeluh. Tuturan “Kegiatanmu hari ini sangat bermanfaat, Nak” termasuk tuturan memuji.
Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan sesuatu yang disebutkan di dalam tuturannya. Tuturan yang termasuk jenis tindak tutur komisif adalah berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan, dan berkaul. Contohnya: “Saya berjanji akan mengasuh anak ini dengan ikhlas dan baik”, “Jika kau tidak datang ke pesta pernikahanku, aku tidak akan berteman lagi denganmu”, dan “Jika ada rezeki, kami akan menunaikan ibadah haji.
4. Tindak tutur langsung, tidak langsung, harfiah, dan tidak harfiah
Sebuah tuturan yang bermodus deklaratif difungsikan secara konvensional untuk mengatakan sesuatu, tuturan interogatif untuk bertanya, dan tuturan
imperatif untuk menyuruh atau mengajak atau memohon, dan sebagainya; tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur langsung. Di samping itu, untuk berbicara secara sopan, perintah dapat diutarakan dengan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa diperintah. Bila hal itu terjadi,
terbentuklah tindak tutur tidak langsung. Tuturan seperti “Obat ayahmu sudah habis”; jika dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya, tuturan itu dapat merupakan pengungkapan secara tidak langsung. Hal itu terjadi karena maksud yang diekspresikan dengan tuturan deklaratif itu bermaksud memerintah. Dengan demikian, kita dapat membedakan dua jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur
langsung dan tindak tuturtidak langsung.
Selain itu, tindak tutur dapat dibedakan menjadi tindak tutur harfiah dan tindak tutur tidak harfiah. Tindak tutur harfiah adalah tindak tutur yang
maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya; sedangkan tindak tutur tidak harfiah adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Tuturan imperatif “Makan hati!”, yang diujarkan seorang kakak kepada adiknya yang sedang makan dan di atas meja tersedia hati ayam digoreng merupakan tindak harfiah. Tuturan “Pemuda itu tinggi hati”yang diujarkan penutur untuk mengungkapkan pemuda yang tidak mudah bergaul merupakan tindak tutur tidak harfiah.
5. Tindak tutur vernakuler dan seremonial
14
Dari berbagai penjelasan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan ternyata fenomena tindak tutur dalam proses berkomunikasi cukup beragam dan makna yang ditimbulkan adakalanya juga beragam. Makna dan maksud dalam tindak tutur tidak dapat dilihat dari aspek ujaran nyata yang keluar dari mulut penutur saja, tetapi juga dilihat dari aspek tindakan penutur.
Dalam tindak tutur yang lebih ditekankan ialah arti tindakan dalam tuturannya. Suatu ujaran atau tindak tutur ketika diujarkan maka dapat memiliki lebih dari satu makna, sehingga untuk mengetahui makna yang terkandung dalam tuturan tersebut sangat tergantung dengan konteks ketika penutur berbicara. Oleh karena itu, dalam mengkaji tindak tutur, tidak lepas dari mitra tutur sendiri, konteks tuturan, peristiwa tutur dan situasi tutur.
Secara pragmatis ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yaitu tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi
(illocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act).
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Pengantar Sosiolinguistik Bahasa. Bandung: Angkasa.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Djajasudarma, 1994. Pragmatik Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Kridalaksana, Harimurti. 1984. Fungsi Bahsa dan Sikap Bahasa. Bandung: Ganaco.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: UI Press.
Rustono. 1999. Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: IKIP Semarang Press.
Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.