• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan pendekatan dalam penelitian K (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pendekatan pendekatan dalam penelitian K (1)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENDEKATAN DALAM PENELITIAN KUALITATIF

Dalam kajian penelitian, terdapat enam pendekatan yang bisa digunakan atau dipilih oleh peneliti yaitu diantaranya menggunakan pendekatan analisis framing, analisis wacana, semiotika, fenomenologi, studi kasus dan etnografis.

A. PENDEKATAN ANALISIS FRAMING

Framing adalah metode untuk melihat bagimana media membingkai realitas dan bagaimana yang sama diberitaan secara berbeda oleh media massa. Dalam hal ini tergantung pada wartawan dalam melihat atau menafsirkan seuah peristiwa. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang di ambil, bagian mana yang ditonjolkan atau dihilangkan dan hendak dibawa kemana berita tersebut.

Framing, seperti dikatakan Todd Gitlin atau Edelman, adalah sebuah strategi bagaimana realitas atau dunia dibentuk dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada khalayak pembaca (Eriyanto, 2002:68). Mereka menggunakan framing untuk melihat kecenderungan media mengkonstruksi dan membingkai pesan.

Pada dasarnya, analisis framing merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana. Dalam perbedaannya, framing memusatkan perhatiannya ke pembentukan pesan teks, sedangkan analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks yang mengandalkan interpretasi dan penfsiran peneliti. Selain itu, dilihat dari tujuannya, framing lebih menangkap bentuk konstruksi media terhadap realitas yang disajukan sebagai berita, sedangkan wacana lebih menggali bagaimana “pemakaian bahasa” dalam tuturan atau tulsan sebagai bentuk praktek sosial.

Analisis framing dipakai untuk mengetahui bagaimana realitas dibingkai oleh media. Dengan demikian realitas sosial dipahami, dimaknai dan dikonstruksi dengan bentukan dan makna tertentu. Inilah sesungguhnya sebuah realitas. Bagaimana media membangun, menyuguhkan, mempertahankan suatu peristiwa kepada pembacanya (Eriyanto, 2002:vi).

(2)

proses konstruksi. Dimana sebuah realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu, bagaimana media memahami realitas dengan cara apa realitas itu ditandai. Praktisnya, analisis framing digunakan untuk melihat bagaimana aspek tertentu ditonjolkan dan ditekankan oleh media (Eriyanto, 2004:3).

Secara umum , terdapat dua frame yaitu frame media dan frame individual. Dikatakan frame Individual yaitu bagaimana seseorang mempunyai skema tertentu atas realitas dan dapat kita kategorikan. Sedangkan perangkat yang melekat dalam wacana yang dapat kita kategorisasikan disebut sebagai frame media (Eriyanto, 2004:290).

Selain itu, model-model analisis framing tersebut terbagi menjadi empat yaitu :

Model Zhong Dang Pan dan Pan Konsicki, yang membagi empat struktur besar dalam framing, yaitu:

1. Sintaksis : cara wartawan dalam penyusunan peristiwa dalam bentuk susunan umum berita

2. Skrip : cara wartawan mengisahkan fakta atau bagaimana wartawan menceritakan peristiwa ke dalam berita.

3. Tematik : cara wartawan menulis fakta atau bagaimana wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat, atau antar hubungan hubungan kalimat yang memberntuk teks secara keseluruhan.

4. Retoris : cara wartawan menekankan fakta, bagaimana menekankan arti tententu dalam suatu berita.

Model Murray Edelman

(3)

Model Robert N Entman

Konsep framing oleh Entman untuk menggambarkan proses seleksi dan penonjolan aspek tertentu dari realitas oleh media. Perangkat framing dapat digambarkan sebagai berikut : Seleksi isi dan Penonjolan aspek tertentu dari isu.

Model William Gamson

Didasarkan pada pendekatan konstruksionis yang melihat representasi media —berita dan artikel, terdiri atas package interaktif yang mengandung makna tertentu. Di dalam package ini terdapat dua struktur, yaitu core frame dan condesnsing symbols. Struktur pertama merupakan pusat organisasi elemen-elemen ide yang membantu komunikator untuk menunjukkan substansi isu yang tengah dibicarakan. Sedangkan struktur yang kedua mengandung dua substruktur, yaitu framing devices dan reasoning devices

B. PENDEKATAN ANALISIS WACANA

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar (Kridalaksana dalam Tarigan, 1987: 25). Berbeda dengan Kridalaksana, Van Djik, mendefinisikan wacana yaitu sebagai bentuk penggunaan bahasa yang melibatkan siapa yang menggunakan bahasa, bagaimana menggunakannya, mengapa menggunakannya dan kapan menggunakannya. Jadi secara sederhana Sunderland dan Losseti juga merangkum bahwa wacana adalah teks dalam sebuah konteks.

Secara teoritik, dapat ditekankan bahwa kajian wacana harus melibatkan aspek dari teks dan percakapan dan juga melibatkan konteks, yaitu karakteristik lain dari situasi sosial atau peristiwa komunikasi yang seara sistematis mempengaruhi teks atau percakapan. Kemudian, untuk melakukan analisis wacana, maka pettimbangan yang dapat di ambil adalah hal-hal yang berkaitan dengan aspek gramatikal, aspek leksikal dan aspek konteks dan inferensi.

(4)

yang mengemukakan pernyataan tertentu. Sehingga, dalam hal ini wacana dapat didefinisikan dalam tiga cara yaitu language beyond the level of sentence, language behaviors linked to social practies dan language as a system of thought. (Michael Stubbs dalam Slemborouck, 2006 : 4-5)

Masih berbicara tentang wacana, Menurut A.S Hikam dalam Eriyanto (2001: 4) ada tiga paradigma analisis wacana dalam melihat bahasa. Pertama, pandangan positivisme-empiris; kedua, pandangan konstruktivisme; dan ketiga pandangan kritis. Pendekatan analisis wacana kritis ini menekankan pada pentingnya studi tentang teks pada konteks social dan historical secara menyeluruh. Secara umum para analisis menggunakan tiga level pada konteks wacana yaitu di antaranya :

1. Level Makro : Analisis terhadap konteks dilakukan dengan melihat hubungan antara teks dan proses social dan ideologi yang lebih luas lagi. Sebagai contoh, isu-isu sosial apa saja yang penting saat teks dibuat.

2. Level Meso : Analisis berfokus pada konteks produksi dan resepsi dari teks, dimana teks dibuat? siapa yang membuat? perspektif apa yang di angkat? dan orang-orang seperti apa? yang mungkin membaca ini?

3. Level Mikro : Wacana dilakukan dengan melihat apa-apa saja yang dikatakan, dengan bahasa seperti apa, dengan sybol apa yang digunakan menggambarkan gagasan.

Critical Discourse Analysis (CDA) adalah bentuk dari analisis wacana yang mempelajari hubungan antara wacana dan ideologi. Dengan kata lain, seperangkat kepercayaan, sikap dan perilaku, yang merupakan perspektif tentang dunia. Dalam analisis wacana krisis ini, berfokus pada kritik terhadap keadilan sosial dan memiliki hubungan yang erat pada studi bahasa dan kekuasaan atau dapat difokuskan pada wacana tentang politik, ras, gender, kelas sosial, hegemoni.

Dalam konsep wacana kritis, terdapat dua teori wacana yang diungkapkan oleh kedua ahli yaitu :

1. Teori Wacana Foucault : Wacana sebagai praktek social berperan dalam mengontrol, menomalkan dan mendisiplikan individu.

(5)

Untuk Model Analisis Wacana Kritis, terbagi menjadi empat model yaitu model dari Roger Foeler, Theo van Lesuwen, Sara Millis, Teun A. Van Dhik. Dan Nouman Fairlough.(Sobur, 2001 : 127)

Dalam model Van Djik, terdapat empat sruktur wacana yaitu diantaranya: a) Struktur makro (Makna global dari suatu teks yang di amati dari topik/ tema yang diangkat oleh suatu teks = lebih ke tematik) ; b) Superstruktur, (Kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup dan kesimpulan (lebih ke skema) = Skematik. C) Struktur Mikro : Makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat dan gaya yang dipakai oleh suatu teks. = Semantik, Sintaktis, Stilistik, Retoris. (Eriyanto, 2001 : 227)

C. PENDEKATAN SEMIOTIKA

Istilah semiotika atau semiotik, merujuk kepada “doktrin formal tentang tanda-tanda”. Yang menjadi dasar semiotika adalah konsep tentang tanda : tak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda, melainkan dunia itu sendiri, terkait pula dengan pikiran manusia yang selutuhnya terdiri atas tanda-tanda. Bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda yang paling fundamental bagi manusia, sedangkan tanda-tanda nonverbal seperti gerak-gerik, bentuk-bentuk pakaian, serta beraneka praktik sosial konvensional lainnya, dapat dipandang sebagai jenis bahasa yang tersusun dari tanda-tanda bermakna yang dikomunikasikan berdasarkan relasi. Hal 13 Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi (Liltlejohn 1996 : 64). Hal 15 Manusia dengan perantara tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya.

(6)

Luxemburg yang diterjemahkan oleh Dick Hartoko (1984:42) bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang, sistem-sistemnya dan proses perlambangan. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti. Selain itu, terdapat beberapa teori semiotika yang dikemukan oleh beberapa para ahli, dalam hal ini akan mebahas tiga para ahli yaitu :

1. C.S Peirce

Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant. Tidak hanya itu saja , Peirce membagi tanda berdasarkan sifat ground menjadi tiga kelompok yakni qualisigns, sinsigns dan legisigns. Hal 41 Kemudian, Peirce membedakan hubungan antar tanda dengan acuannya ke dalam tiga jenis hubungan, yaitu : hal 35

Ikon : Berhubungan dengan kemiripan. Ikon bisa berupa, foto, peta geografis, penyebutan atau penempatan

Indeks: Berhubungan dengan kedekatan eksistensi. Misalnya, asap hitam tebal membubung menanadi kebakaran, wajah yang muram menandai hati yang sedih dan sebagainya

Simbol : berupa hubungan yang sudag terbentuk secara konvensi 2. Ferdinand De Saussure

Dalam teori ini semiotik dibagi menjadi dua bagian (dikotomi) yaitu penanda (signifier) dan pertanda (signified). Penanda adalah yang menandai dan sesuatu yang segera terserap atau teramati, mungkin terdengar sebagai bunyi atau terbaca sebagai tulisan. Petanda adalah sesuatu yang tersimpulkan, atau terpahami maknanya dari ungkapan bahasa maupun non-bahasa (Santosa, 1993:6). Hal 32

3. Roland Barthes

(7)

Teori semiotik yang berkembang selama ini berumber pada dua pandangan, yakni semiotik struktural dan semiotik pragmatis . Carles Moris juga menambahkan, kajian semiotika di bedakan ke dalam tiga cabang penyelidikan yakni sintaktik, semantik dan pramatik. (Wibowo, 2011 :4)

Selain itu, berbicara tentang semiotik, terdapat 9 macam semiotik (Pateda dalam Sobur, 2004) sebagai berikut : Semiotik analitik, semiotik deskriptif, semiotik faunal zoosemiotic, semiotik kultural, semiotik naratif, semiotik natural, semiotik normatif, semiotik sosial, semiotik struktural

D. PENDEKATAN FENOMENOLOGI

Fenomenologi adalah fakta yang disadari dan masuk ke dalam pemahaman manusia. Fenomenologi merefleksikan pengalaman langsung manusia, sejauh pengalaman itu secara intensif berhubungan dengan suatu objek. (Kuswarno, 2009:1)

Menurut The Oxford English Dictionary, fenomenologi adalah fenomenologi mempelajari fenomena yang tampak di depan kita, dan bagaimana penampakannya. (Kuswarno, 2009:1)

Tujuan utama fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis. Fenomenologi mencoba mencari pemahaman bagaimana manusia mengonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangka intersubjektivitas. (Kuswarno, 2009:2)

Secara harfiah, fenomenologi adalah studi yang mempelajari fenomena, seperti penampakan, segala hal yang muncul dalam pengalaman kita, cara kita mengalami sesuatu dan makna yang kita miliki dalam pengalaman kita. Pada dasarnya fenomenologi mempelajari struktur tipe-tipe kesadaran, yang terentang dari persepsi, gagasan, memori, imajinasi, emosi, hasrat, kemauan, sampai tindakan, baik itu tindakan sosial maupun dalam bentuk bahasa. (Kuswarno, 2009:22).

(8)

1. Metodelogi Penelitian Fenomenologi Schutz

Schutz mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan dengan interpretasi terhadap realitas. Jadi sebagai peneliti sosial, kita pun harus membuat interpretasi terhadap realitas yang diamati. Dalam meneliti, peneliti harus menggunakan metode interpretasi yang sama dengan orang yang diamati, sehingga peneliti bisa masuk ke dalam dunia interpretasi orang yang dijadikan objek penelitian. Pada praktiknya, peneliti mengasumsikan dirinya sebagai orang yang tidak tertarik atau bukan bagian dari dunia yang diamati. Peneliti hanya terlibat secara kognitif dengan orang yang diamati. (Kuswarno, 2009:38)

2. Metodologi Penelitian Fenomenologi Transendental Husserl

Dalam pemikiran fenomenologi transendental Hussserl berbicara tentang perbedaan fakta dan esensi dalam fakta, atau dengan kata lain perbedaan antara real dan yang tidak. Oleh karena itu secara metodelogis, fenomenologis bertugas menjelaskan thing in themselves, mengetahui apa yang masuk sebelum kesadaran dan memahami makna dan esensinya, dalam intuisi dan refleksi diri. Proses ini memerlukan penggabungan dari apa yang tampak, dan apa yang ada dalam gambaran orang yang mengalaminya. Jadi gabungan anatara yang nyata (real) dan yang ideal. Kemudian berbicara tentang komponen-komponen konseptual (unit-unit analisis) dalam fenomenologi transedental Husserl terbagi menjadi 4 yaitu : Kesengajaan (Intentionality), Noema da Noesis, Intuisi dan Intersubjektivitas

Selanjutnya, berbicara tentang analisis data, terdapat dua metode analisis data dalam menggunakan pendekatan fenomenologi yaitu : hal 68-72

1. Metode analisis data fenomenologi Van Kaam

2. Metode Analisis Data Fenomenologi Stevick-Colaizzi-Keen

(9)

Method : A Comparison of Phenomenology, Discourse Analysis, and Grounded

Theory. Journal Qoaulitative Health Research. 17(10). Washington : Sage

Publication.

E. PENDEKATAN STUDI KASUS

Studi kasus adalah sebuah eksplorasi dari “suatu sistem yang terikat” atau “suatu kasus/beragam kasus” yang dari waktu ke waktu melalui pengumpulan data yang mendalam serta melibatkan berbagai sumber informasi yang “kaya” dalam suatu konteks. Sistem terikat ini diikat oleh waktu dan tempat sedangkan kasus dapat dikaji dari suatu program, peristiwa, aktivitas atau suatu individu. Dengan perkataan lain, studi kasus merupakan penelitian dimana peneliti menggali suatu fenomena tertentu (kasus) dalam suatu waktu dan kegiatan (program, event, proses, institusi atau kelompok sosial) serta mengumpulkan informasi secara terinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama periode tertentu.

Selain itu, penelitian studi kasus mempunyai tiga tujuan dari masing-masing strategi, yaitu : eksplanatoris, Eksploratoris, Deskriptif. Hal 7 Kemudian Esensi studi kasus dari semua jenis studi kasus, adalah mencoba menjelaskan keputusan-keputusan tentang mengapa studi tersebut dipilih, bagaimana mengimplementasikan dan apa hasilnya. Definisi ini dengan demikian menonjolkan keputusan sebagai fokus utamanya. Hal 17

Peneliti studi kasus, harus memaksimalkan empat aspek kualitas desainnya, yaitu : validitas konstruk , validitas internal , validitas ekstenal , Reliabilitas.hal 25 Dalam desain studi kasus, terdapat 4 desian strategi studi kasus: Desain kasus Tunggal Holistik, Desain kasus tunggal Terjalin, Desain multikasus holistik, Desain multikasus terjalin. Hal 46-47

(10)

empat bentuk analisis data beserta interpretasinya dalam penelitian studi kasus, yaitu: (1) pengumpulan kategori; (2) interpretasi langsung, (3) peneliti membentuk pola dan mencari kesepadanan antara dua atau lebih kategori. (4) pada akhirnya, peneliti mengembangkan generalisasi naturalistik melalui analisa data.

F. PENDEKATAN ETNOGRAFIS

Studi tentang etnografi adalah studi yang dihususkan untuk menggambarkan cara hidup manusia. Deskripsi sosial dari orang-orang dan basis kebudayaan masyarakat mereka (Vidich & Lyman, 200 : 38)

Etbnografi merupakan metode primer yang digunakan oleh para antropolog..Jadi, etnografi adalah usaha untuk menguraikan kebudayaan atau aspek-aspek kebudayaan suatu bangsa. (Mudjiyanto, 2009:79).

Sarantakos (1993) mengemukakan bahwa budaya merupakan konsep sentral dari etnografi (Mudjiyanto, 2009:79). Budaya yang di dalamnya terkandung ukuran, pedoman, dan petunjuk bagi kehidupan manusia, yakni norma dan nilai yang menjadi standar berinteraksi, dibangun oleh masyarakat dari generasi ke generasi melalui proses komunikasi yang panjang.

Hofstede (1994) menyebutkan empat konsep yang secara keseluruhan dapat mewakili berbagai manifestasi kebudayaan secara umum, yakni simbol-simbol, kepahlawanan, kegiatan ritual, dan nilai-nilai (Zakiah, 2008:181). Simbol dapat berbentuk kata-kata, gerakan tangan, gambar, atau objek yang memuat makna khusus dan yang hanya dapat dipahami oleh anggota kelompok yang berada di dalam sebuah kultur. Kepahlawanan biasanya menyangkut seseorang, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal, baik yang nyata maupun yang berupa gambaran atau imajinasi saja, yang memiliki sejumlah karakteristik yang dianggap bernilai bagi kultur tersebut. Ritual merupakan aktivitas koletif, secara teknis tampak seperti mengada-ada di dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

(11)

Metode etnografi dapat diterapkan dalam penelitian komunikasi. Penerapan dalam tataran kajian etnografi komunikasi merupakan metode etnografi yang diterapkan untuk melihat pola-pola komunikasi dalam suatu kelompok. Etnografi komunikasi akan berbeda dengan antropologi linguistik dan sosiolinguistik, karena etnografi komunikasi memfokuskan kajiannya pada perilaku-perilaku komunikasi yang melibatkan bahasa dan budaya (Kuswarno, 2008:16).

Dalam sebuah penelitian etnografi komunikasi, ada tiga pertanyaan yang harus dikejar, yaitu pertanyaan tentang : (1) norma, (2) bentuk, dan (3) kode-kode budaya (Mudjiyanto, 2009:84).

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan, pendekatan fakta, pendekatan analisis konsep hukum dan pendekatan kasus

Pada tanaman kelapa sawit muda, jumlah bunga jantan lebih sedikit dibandingkan dengan bunga betina, tetapi perbandingan tersebut akan berubah sesuai dengan

Masalah tersebut dapat diatasi dengan menggunakan menggunakan metode Linear Scaling, dimana dalam perhitungan centralitydipengaruhi oleh jarak node tersebut yang

Maksudnya, ada satu hal yang harus terpenuhi dalam menyatakan suatu kumpulan adalah suatu himpunan yaitu dapat dipahami dengan jelas maksud dari kumpulan tersebut (kumpulan

g) Pelaksanaan penyelesaian permohonan surat keterangan Nilai Jual Objek Pajak h) Pelaksanaan penerbitan Daftar Nominatif untuk Usulan SP3 PSL Ekstensifikasi 6. Seksi

relapse pada kelompok kontrol karena nilai signifikasnsi lebih besar dari 0.05. Hasil Evaluasi Program Pelatihan Efikasi Diri dan Pemahaman Materi. 1) Hasil Analisis Program

untuk menemukan dan memcahkan masalah pembelajarn di kelas, proses pemecahan dilakukan secara bersiklus, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar di

Berdasarkan kode karakter morfologi talas diketahui bahwa karakter setiap jenis talas lokal sebagai sumber plasma nuthah Jawa Tengah begitu banyak ,sebagai langkah awal upaya