• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

5

Tinjauan pustaka dari penelitian terdahulu dijelaskan secara sistematis tentang hasil-hasil penelitian yang didapat oleh peneliti terdahulu dan berhubungan dengan penelitian yang dilakukan. Hasil penelitian terdahulu dapat diuraikan sebagai berikut:

Penelitian Tanti, dkk (2016) dengan variabel dependen adalah penyerapan tenaga kerja dan variabel independen adalah pertumbuhan ekonomi, upah minimum kabupaten/kota (UMK), dan jumlah unit usaha industri. Alat analisis yang digunakan adalah regresi data panel, uji F, uji Lagrange Multiplier (LM), dan uji housman, dengan hasil pertumbuhan ekonomi dan upah minimum kabupaten/kota berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri, sedangkan jumlah unit usaha industri tidak berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja.

Kedua dari Mahendra (2012) dengan variabel dependen adalah

penyerapan tenaga kerja sedangkan independen adalah jumlah industri dan

kapasitas produk. Olah data yang digunakan dalam penelitian ini adalah spss,

dimana dapat diketahui bahwa

(2)

variabel jumlah industri berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja sedangkan variabel kapasitas produk berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja.

Penelitian ketiga dari Oktaviana dan Rejekiningsih (2011) dengan variabel dependen adalah penyerapan tenaga kerja di kota salatiga dan variabel independen adalah upah dan produktivitas tenaga kerja. Alat analisis yang digunakan adalah eviews, analisis SWOT, uji asumsi klasik (uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji autokorelasi), analisis regresi, koefisien determinasi (R

2

), uji F, dan uji T, dengan hasil variabel upah berpengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja berpengaruh negatif signifikan terhadap tenaga kerja di kota Salatiga.

Penelitian keempat dari Tindaon (2014) dengan variabel dependen adalah penyerapan tenaga kerja seluruh sektor perekonomian Jawa Tengah dan variabel independen adalah pertumbuhan penduduk dan PDRB sektoral. Alat analisis yang digunakan adalah uji asumsi klasik, uji-t, uji F, dan uji R

2

. Dengan hasil variabel pertumbuhan penduduk dan PDRB adalah berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja seluruh sektor perekonomian di Jawa Tengah.

Dilihat dari penelitian terdahulu diatas maka judul yang ditulis dalam

penelitian ini mempunyai persamaan dan perbedaan, diantaranya yaitu sama-

sama membahas tentang penyerapan tenaga kerja, upah minimum, dan unit

usaha, sedangkan yang menjadi pembeda adalah lokasi dan waktu, dimana

penelitian sekarang dilakukan di kabupaten Gresik pada tahun 2007-2015.

(3)

B. Teori dan Kajian Pustaka 1. Industri

Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa. Jenis-jenis industri berdasarkan jumlah tenaga kerja :

a) Industri kecil merupakan industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 5-19 orang.

b) Industri sedang atau industri menengah merupakan industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 20-99 orang.

c) Industri besar merupakan industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 100 orang atau lebih.

Penggolongan perusahaan industri didasarkan pada banyaknya tenaga kerja yang bekerja, tanpa memperhatikan penggunaan mesin atau tidak dan tanpa memperhatikan besarnya modal perusahaan (BPS, 2018).

2. Angkatan Kerja

Angkatan Kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang sudah mempunyai pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan untuk menghasilkan barang dan jasa (Mulyadi, 2008).

Angkatan kerja yang banyak diharapkan mampu meningkatkan

kegiatan ekonomi yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan

rakyat. Jumlah orang yang bekerja tergantung dari besarnya permintaan atau

(4)

demand dalam masyarakat. Besarnya jumlah orang yang bekerja dipengaruhi oleh faktor kekuatan penyediaan dan permintaan tersebut dan besarnya penyediaan dan permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh tingkat upah. Terdapat 4 hal yang berkaitan dengan tenaga kerja, yaitu :

a) Bekerja (Employed) adalah penduduk yang sudah memperoleh pekerjaan dan bekerja untuk menghasilkan barang dan jasa.

b) Pencari pekerja (Unemployed) adalah penduduk yag menawarkan tenaga kerja tapi belum berhasil memperoleh pekerjaan dan dianggap terus mencaei pekerjaa.

c) Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) adalah perbandingan antara angkatan kerja dengan jumlah seluruh penduduk usia kerja.

d) Profil angkatan kerja untuk membahas penawaran tenaga kerja atau TPAK dengan tolak ukur umur, seks (laki-laki dan perempuan), wilayah kota atau pedesaan), dan pendidikan (Sumarsono, 2009).

3. Permintaan Tenaga Kerja

Permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan, dalam hal ini permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh perubahan tingkat upah dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi permintaan tenaga kerja.

a) Perubahan tingat upah.

1) Apabila upah naik maka akan meningkatkan biaya produksi perusahaan sehingga harga per unit suatu barang juga akan ikut naik.

Dengan cepat konsumen akan mengurangi konsumsi atau bahkan

(5)

tidak lagi mau membeli barang tersebut, akibatnya barang tidak terjual dan terpaksa perusahaan mengurangi tingkat produksinya dan turunnya produksi akan mengurangi tenaga kerja. Perununan jumlah tenaga kerja terjadi karena pengaruh turunnya skala produksi yang disebut efek skala produksi (scale effect).

2) Apabila upah naik tapi harga barang tidak berubah maka perusahaan akan mengganti tenaga kerja dengan teknologi. Penurunan jumlah tenaga kerja karena adanya penggantian penggunaan mesin yang disebut substitusi tenaga kerja (substitution effect).

b) Faktor lain yang mempengaruhi permintaan tenaga kerja

1) Naik turunnya permintaan pasar atas produksi yang dihasilkan suatu perusahaan. Apabila permintaan produksi perusahaan meningkat, produsen akan menambah produksinya maka produsen juga akan menambah tenaga kerja.

2) Apabila harga barang modal turun maka biaya produksi turun dan mengakibatkan harga jual barang per unit juga turun, dan produsen akan meningkatkan produksi barang karena permintaan yang meningkat, sehingga permintaan tenaga kerja juga akan bertambah karena peningkatan produksi perusahaan (Sumarsono, 2009).

4. Penyerapan Tenaga Kerja

Analisis penyerapan tenaga kerja di sektor industri dapat didekatkan

melalui teori permintaan tenaga kerja. Perusahaan menyewa tenaga kerja

bukan untuk dikonsumsi langsung tapi digunakan untuk berproduksi, maka

(6)

kemampuan pengusaha untuk menyerap tenaga kerja tergantung dari bertambahnya permintaan barang yang akan diproduksi (Malik, 2013).

5. Upah Minimum Kabupaten

Upah adalah imbalan dari perusahaan ke karyawan atas hasil atau kerja keras yang dilakukan. Dalam teori neoklasik menyatakan bahwa upah yang diperoleh sesuai dengan pertambahan hasil marginal yang didapat oleh karyawan. Ada beberapa perbedaan tingkat upah, yaitu :

a) Tergantung pada proporsi keuntungan perusahaan, semakin besar proporsi keuntungan maka akan semakin tinggi tingkat upah.

b) Perbedaan tingkat upah dikarenakan faktor kelangkaan. Semakin langkah tenaga kerja maka upah yang ditawarkan semakin tinggi.

c) Perbedaan tingkat upah terjadi karena perbedaan tingkat pendidikan, keterampilan, atau pengalaman kerja (Simanjuntak, 1998).

Mankiw (2006) menjelaskan bahwa teori upah efisiensi mengajukan penyebab ketiga dari kekakuan upah selain undang-undang upah minimum dan pembentukkan serikat pekerja. Teori upah-efisiensi yang pertama menyatakan bahwa upah yang tinggi membuat para pekerja lebih produktif.

Pengaruh upah terhadap efisiensi pekerja dapat menjelaskan kegagalan

perusahaan untuk memangkas upah meskipun terjadi kelebihan penawaran

tenaga kerja. Meskipun akan mengurangi tagihan upah perusahaan, maka

pengurangan upah akan memperendah produktivitas pekerja dan laba

perusahaan.

(7)

Teori upah-efisiensi yang kedua, menyatakan bahwa upah yang tinggi menurunkan perputaran tenaga kerja. Dengan membayar upah yang tinggi, perusahaan mengurangi frekuensi pekerja yang keluar dari pekerjaan, sekaligus mengurangi waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk menarik dan melatih pekerja baru.

Teori upah efisiensi yang ketiga menyatakan bahwa kualitas rata-rata tenaga kerja perusahaan bergantung pada upah yang dibayar kepada karyawannya. Jika perusahaan mengurangi upahnya, maka pekerja terbaik bisa mengambil pekerjaan di tempat lain, meninggalkan perusahaan dengan pekerja yang tidak terdidik yang memiliki lebih sedikit alternatif. Dan teori upah-efisiensi yang keempat menyatakan bahwa upah yang tinggi meningkatkan upaya pekerja.

Teori ini menegaskan bahwa perusahaan tidak dapat memantau dengan

sempurna upaya para pekerja, dan para pekerja harus memutuskan sendiri

sejauh mana mereka akan bekerja keras. Semakin tinggi upah, semakin

besar kerugian bagi pekerja bila mereka sampai dipecat. Dengan membayar

upah yang lebih tinggi, perusahaan memotivasi lebih banyak pekerja agar

tidak bermalas-malasan dan dengan demikian meningkatkan produktivitas

mereka. Meskipun keempat teori upah efisiensi ini secara rinci berbeda,

namun teori-teori tersebut menyuarakan topik yang sama: karena

perusahaan beroperasi lebih efisien jika membayar pekerjanya dengan upah

yang tinggi, maka perusahaan dapat menganggap bahwa mempertahankan

(8)

upah di atas tingkat yang menyeimbangkan penawaran dan permintaan adalah menguntungkan.

Pengangguran

Setiap hari sebagian pekerja kehilangan atau keluar dari pekerjaannya, dan sebagian lagi yang menganggur diterima bekerja. Pasang surut yang terjadi secara terus menerus ini menentukan bagian dari angkatan kerja yang menganggur. L menunjukkan angkatan kerja, E menunjukkan jumlah orang yang bekerja, dan U menunjukkan jumlah menganggur. Maka angkatan kerja adalah jumlah orang yang bekerja dan menganggur :

L = E + U

Salah satu penyebab pengangguran dikarenakan adanya kekakuan upah (wage rigidity), gagalnya upah melakukan penyesuaian sampai penawaran tenaga kerja sama dengan permintaan. Ketika upah riil berada diatas tingkat yang menyeimbangkan penawaran dan permintaan, jumlah tenaga kerja yang ditawarkan melebihi jumlah yang diminta. Perusahaan haru menjatah pekerjaan yang langka diantara para pekerja. Kekakuan upah riil mengurangi tingkat perolehan kerja dan mempertinggi tingkat pengangguran.

Pengangguran yang disebabkan oleh kekakuan upah dan penjatahan

pekerjaan adalah pengangguran struktural. Para pekerja tidak dipekerjakan

bukan karena mereka aktif mencari pekerjaan yang paling cocok dengan

keahlian mereka, tetapi karena ada ketidak cocokan mendasar antara jumlah

(9)

pekerja yang menginginkan pekerjaan dan jumlah pekerja yang tersedia.

Pada tingkat upah berlaku, penawaran tenaga kerja melebihi permintaan sehingga para pekerja ini hanya menunggu pekerjaan yang akan tersedia (Mankiw, 2006).

Kekakuan Upah Riil

Kekakuan upah yaitu gagalanya upah melakukan penyesuaian sampai penawaran tenaga kerja sama dengan permintaannya. Upah riil adalah pembayaran kepada tenaga kerja yang diukur dalam unit output, bukan dalam mata uang. Untuk memaksimalkan laba, perusahaan terus menarik tenaga kerja sampai pada titik dimana produk marginal tenaga kerja sama dengan upah riil. Kekakuan upah bisa menyebabkan pengangguran, ketika upah riil berada diatas tingkat yang menyeimbangkan penawaran dan permintaan, jumlah tenaga kerja yang ditawarkan melebihi jumat tenaga kerja yang diminta. Perusahaann harus menjatah pekerjaan yang langka diantara para pekerja. Kekakuan upah riil mengurangi tingkat perolehan kerja dan mempertinggi tingkat pengangguran.

Pengangguran yang disebabkan oleh kekakuan upah dan penjataan pekerja disebut pengangguran struktural. Para pekerja dipekerjakan bukan karena mereka aktif mencari pekerjaan yang apling cocok dengan keahlian mereka tetapi karena adanya ketidak cocokan mendasar antara jumlah pekerja yang menginginkan pekerjaan dan jumlah pekerjaan yang tersedia.

Pada tingkat upah berlaku, penawaran tenaga kerja melebihi permintaan

(10)

sehingga para pekerja hanya menunggu pekerjaan yang tersedia (Mankiw, 2006).

1. Hubungan Upah Minimum dan Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri

Kenaikan upah sangat menarik para tenaga kerja untuk berproduksi, sebagai mana dalam hal ini upah adalah imbalan yang diberikan kepada perusahaan untuk pekerjanya atas barang dan jasa yang dihasilkan.

Tingginya upah akan membuat tenaga kerja tersebut bersemangat dalam meningkatkan produksi sesuai dengan produktivitas yang ditentukan oleh perusahaan. Jadi upah tinggi akan membuat produktivitas semakin tinggi sehingga upah yang tinggi mempunyai pengaruh positif terhadap produktivitas dan menentukan tingkat penyerapan tenaga kerja.

Menurut (Mankiw, 2006) upah yang tinggi meningkatkan upaya

pekerja. Teori ini menegaskan bahwa perusahaan tidak dapat memantau

dengan sempurna upaya para pekerja, dan para pekerja harus memutuskan

sendiri sejauh mana mereka akan bekerja keras. Semakin tinggi upah,

semakin besar kerugian bagi pekerja bila mereka sampai dipecat. Dengan

membayar upah yang lebih tinggi, perusahaan memotivasi lebih banyak

pekerja agar tidak bermalas-malasan dan dengan demikian meningkatkan

produktivitas mereka.

(11)

2. Hubungan Jumlah Industri dan Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri

Jumlah unit industri merupakan jumlah industri yang berada disebuah perusahaan. Jumlah industri sangat menentukan banyaknya tenaga kerja yang terserap. Semakin banyak jumlah perusahaan maka semakin tinggi pula tingkat penyerapan tenaga kerja, karena semakin banyak produksi maka tenaga kerja yang dibutuhkan suatu perusahaan juga meningkat. Jadi jumlah industri berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja (Rejekiningsih, 2004).

3. Hubungan Angkatan Kerja dan Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri

Tingginya pertumbuhan penduduk dibeberapa wilayah menyebabkan

jumlah penduduk yang meningkat cepat. Dengan adanya pertumbuhan

tersebut maka penduduk berbondong-bondong untuk meningkatkan taraf

hidup masing-masing. Jumlah angkatan kerja atau tenaga kerja tergantung

dari jumlah penduduk tersebut. Jadi angkatan kerja berpengaruh positif

terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja Karena semakin tinggi jumlah

penduduk maka semakin tinggi pula tingkat penyerapan tenaga kerja untuk

suatu perusahaan dalam meningkatkan produktivitas serta meningkatkan

perekonomian untuk kesejahteraan rakyat.

(12)

C. Kerangka Pemikiran

Dalam penelitian ini Upah Minimum Kabupaten, jumlah industri, dan angkatan kerja berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri.

Hubungan antara penyerapan tenaga kerja dan variabel yang mempengaruhinya adalah sebagai berikut:

Sumber : Dikembangkan untuk penelitian ini

Gambar 2.1 : Kerangka Pikir Penelitian Analisis Tingkat Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri di Kabupaten Gresik.

D. Hipotesis

Hipotesis adalah kemungkinan dari sebuah jawaban benar atau tidaknya tentang suatu yang dianalsisi. Berdasarkan kerangka pikir diatas maka dapat dihipotesiskan bahwa diduga Upah Minimum Kabupaten (UMK), jumlah industri, dan angkatan kerja berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri di kabupaten Gresik.

Upah Minimum Kabupaten

Angkatan Kerja

Jumlah Industri Penyerapan Tenaga

Kerja Sektor Industri

Gambar

Gambar  2.1  :  Kerangka  Pikir  Penelitian  Analisis  Tingkat  Penyerapan  Tenaga Kerja Sektor Industri di Kabupaten Gresik

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan Untuk dapat berkompetensi dalam berkomunikasi lintas budaya di kalangan generasi muda sebagai bentuk kesiapan menghadapi Pemberlakuan

Berdasarkan data yang diperoleh dari jawaban responden pada kuesioner secara keseluruhan wajib pajak orang pribadi yang menggunakan sistem e-Registration memiliki persepsi yang

Andi Arief Berkicau https://t.co/uiWNfL3BeY #Jokowi #AHY #Prabowo #Netarlnews 8 Siapapun yang terpilih harus menjadi Kemenangan rakyat Indonesia.. .#2019pilihjokowi

Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa kinerja karyawan dan produktivitas pada PTPN XIV Takalar (Persero) Takalar telah sejalan dengan prinsif-prinsif ekonomi islam,

Undang-Undang Dasar 1945 Setelah Perubahan merumuskan Pesyaratan Calon Presiden dan Wakil Presiden dalam pasal 6 ayat (1) yang berbunyi “ calon Presiden dan wakil

Bernafas merupakan salah satu dari ciri-ciri mahluk hidup yang sangat penting. Tanpa melakukan proses bernafas, mahluk hidup tidak akan hidup. Saat bernafas,

SENARAI SEKOLAH MENENGAH DI NEGERI JOHOR DARUL

Gambar 3.7 Use Case Diagram Petugas UMKM pada Sistem Informasi Peengolahan Data Dinas Koperasi dan UMKM Nusa Tenggara