• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) telah menegaskan bahwa dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) telah menegaskan bahwa dalam"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) telah menegaskan bahwa dalam Pengawasan Internal Pemerintah lebih menekankan adanya pengendalian dengan memposisikan pola pembinaan dalam seluruh unsurnya. Peraturan Pemerintah tersebut juga menentukan bahwa Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal, Inspektorat Provinsi, Inspektorat Kabupaten/ Kota merupakan aparat pengawasan internal pemerintah.

Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem

Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) diartikan sebagai Proses yang integral

pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh

pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas

tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien,

keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan

terhadap peraturan perundang-undangan. Lima unsur yang ada dalam SPIP

meliputi : Lingkungan Pengendalian, Penilaian resiko, Kegiatan

Pengendalian, Informasi dan Komunikasi, Pemantauan Pengendalian Intern

(Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 2008 tentang SPIP, 2008). Kelima

unsur tersebut memiliki kaitan yang erat satu sama lainnya dan seluruh proses

(2)

2

berjalan terus menerus antara pegawai dan pimpinannya. SPIP ini memungkinkan bagi masing – masing pegawai untuk melakukan pengendalian atas diri mereka sendiri terlepas apakah pimpinan akan menilai / mengawasi ataupun tidak.

Pelaksanaan SPIP dibutuhkan pembinaan Sumber Daya Manusia yang tepat sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Keberadaan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang dalam hal ini berada di tangan Inspektorat dan seluruh jajaran auditor-nya juga perlu ditetapkan dan diberdayakan secara tepat agar dapat bertindak dengan lebih efektif. Kedepan diharapkan APIP dapat sebagai quality control agar kegiatan dilakukan secara efektif dan efisien, tidak terjadi pelanggaran agar tujuan organisasi dapat tercapai. Terdapat kode etik yang harus dijalankan oleh auditor dalam upaya pelaksanaan tugas sebagai APIP yang diatur dalam Peraturan Menteri Pemeberdayaan Aparatur Negara nomor PER04/M.PAN/03/2008 tentang kode etik APIP.

Dalam melakukan fungsi dan tugasnya sebagai aparat pengawasan, Satuan Tugas APIP memerlukan adanya koordinasi yang cukup baik dengan Satuan unit kerja yang lain dalam pola pembinaan dan juga lebih baik dalam merespon pengaduan masyarakat.

Dalam pemerintahan di daerah, diperkuat dengan terbitnya Peraturan

Menteri Dalam Negeri nomor 70 tahun 2012 tentang Kebijakan Pengawasan

Di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri Dan Penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah Tahun 2013, yang memberikan petunjuk pelaksanaan

(3)

3

pengawasan internal dalam Pemerintah Daerah, dimana Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten/Kota dilakukan melalui pemeriksaan kinerja/reguler meliputi pengawasan administrasi umum pemerintahan dan pelaksanaan urusan pemerintahan di Kabupaten/Kota (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 70 tahun 2012 tentang Kebijakan Pengawasan di Lingkungan Kementrian Dalam Negeri dan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2013, 2012). Dengan adanya peraturan ini menegaskan tugas pokok, fungsi dan kewenangan Inspektorat Kabupaten/

Kota sebagai instansi yang berhak melakukan tugas pengawasan menyeluruh terhadap seluruh instansi yang ada dalam lingkup pemerintah daerah, beserta aparatur pemerintahan didalamnya.

Sebagai instansi yang memiliki tugas pokok, fungsi dan kewenangan sebagai instansi pengawasan internal Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Inspektorat Kabupaten Bojonegoro memiliki tugas utama dalam memberikan pembinaan dan pengawasan kepada seluruh instansi dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Bojonegoro termasuk para Pegawai didalamnya, baik Pegawai Negeri Sipil maupun Aparatur Pemerintahan Desa.

Dalam urutan tugas, dapat dikatakan tugas Inspektorat berada di posisi

paling akhir setelah perencanaan, pelaksanaan kegiatan, namun dalam

menghadapi adanya pemeriksaan eksternal seperti BPKP, BPK, Kejaksaan,

hingga KPK, Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Inspektorat seringkali

digunakan sebagai pijakan maupun acuan pelaksanaan pemeriksaan.

(4)

4

Sehingga dapat dikatakan bahwa kinerja Inspektorat sebagai garda terdepan perbaikan kinerja instansi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Dalam rangka mewujudkan tujuan pelaksanaan pengawasan yaitu menjamin adanya ketegasan dan konsistensi penyelenggaraan dan pengelolaan pembangunan yang berdaya guna dan berhasil guna, Inspektorat Kabupaten Bojonegoro menyusun rencana kerja tahunan yang mencakup tujuan, sasaran, target, dan ruang lingkup pemeriksaan selama masa satu tahun. Adapun kegiatan utama Inspektorat Kabupaten Bojonegoro tercakup dalam program peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan Kepala Daerah, yang dilaksanakan melalui kegiatan pengawasan internal secara berkala, penanganan kasus pengaduan di lingkungan Pemerintah Daerah, tindak lanjut hasil pengawasan, koordinasi pengawasan yang lebih komprehensif, evaluasi berkala temuan hasil pengawasan.

Kegiatan evaluasi berkala temuan hasil pengawasan dilakukan dengan pola pemaparan hasil pemeriksaan kepada obyek pemeriksaan terutama bagi obyek pemeriksaan yang belum melakukan tindak lanjut atas hasil pemeriksaan inspektorat terhadap satuan kerja yang bersangkutan.

Tujuan dari kegiatan evaluasi tindak lanjut hasil pemeriksaan

Inspektorat Kabupaten Bojonegoro (Inspektorat Kabupaten Bojonegoro,

2012) adalah : mengintensifkan penanganan dan penyelesaian tindak lanjut

pemeriksaan, meningkatkan fungsi dan peranan pengawasan sebagai salah

satu fungsi organisasi di setiap satuan unit kerja untuk menjamin keberhasilan

(5)

5

tugas pokok, mengetahui sampai sejauhmana pelaksanaan dan tindak lanjut hasil pemeriksaan di setiap satuan kerja yang menjadi obyek pemeriksaan (obrik) selama 1 tahun, mencegah dan menghindari terjadinya penyimpangan/

penyelewengan dan kesalahan serupa agar tidak terulang, sebagai media/

sarana pembinaan bagi para pimpinan unit kerja dalam rangka penguasaan peraturan dan ketentuan perundang – undangan.

Disebutkan bahwa salah satu tujuan dari kegiatan evaluasi tindak lanjut ini adalah mencegah dan menghindari terjadinya penyimpangan/

penyelewengan dan kesalahan serupa agar tidak terulang (Inspektorat Kabupaten Bojonegoro, 2012), namun pada kenyataannya berdasarkan dokumen evaluasi tindak lanjut pemeriksaan Inspektorat Kabupaten Bojonegoro tahun 2012 masih ditemukan beberapa temuan menonjol yang memiliki kesamaan dengan temuan yang menonjol pada dokumen tahun 2010 maupun 2011. Dengan demikian secara garis besar dapat juga diartikan bahwa tujuan untuk mencegah dan menghindari kesalahan yang serupa tidak dapat terlaksanan dengan baik.

Berdasarkan data yang ada dalam laporan tindak lanjut pemeriksaan

Inspektorat Kabupaten Bojonegoro tahun 2010 – 2013 didapat hasil bahwa

temuan yang berulang antara lain :

(6)

6

Tabel 1.1

Jenis Temuan yang ditemukan tiap tahun

No Bidang Temuan yang Menonjol

Tahun Jenis Temuan

1 2 3 4

1 Kepegawaian 2010 Masih terdapat PNS yang melaksanakan tugas kedinasan tanpa dilandasi Surat Perintah Tugas dari Kepala Unit Kerja PNS yang bersangkutan.

Masih banyak PNS yang telah menduduki jabatan namun belum mengikuti pendidikan penjenjangan struktural sesuai dengan jabatannya.

Pengelolaan administrasi kepegawaian belum dikerjakan dengan baik dan kurang memperhatikan ketentuan yang ada.

Daftar hadir belum dilaporkan secara rutin kepada BKD.

2011 Masih terdapat PNS yang melaksanakan tugas kedinasan tanpa dilandasi Surat Perintah Tugas dari Kepala Unit Kerja PNS yang bersangkutan.

Masih banyak PNS yang telah menduduki jabatan namun belum mengikuti pendidikan penjenjangan struktural sesuai dengan jabatannya.

Pengelolaan administrasi kepegawaian belum dikerjakan dengan baik dan kurang memperhatikan ketentuan yang ada.

Daftar hadir belum dilaporkan secara rutin kepada BKD.

2012 Masih terdapat kekosongan jabatan struktural Eselon IV di Kecamatan.

Masih terdapat PNS yang telah menduduki jabatan tapi belum mengikuti pendidikan penjenjangan struktural sesuai dengan jabatannya.

Masih diumpai staf pada kantor kecamatan yang belum dibuatkan Surat Penugasan Staf.

   

(7)

7

Tabel 1.1 (lanjutan)

Jenis Temuan yang ditemukan tiap tahun

No Bidang Temuan yang Menonjol

Tahun Jenis Temuan

1 2 3 4

DUK belum dibuat sesuai dengan ketentuan.

2013 Masih terdapat kekosongan jabatan struktural Eselon IV di Kecamatan.

Masih terdapat PNS yang telah menduduki jabatan tapi belum mengikuti pendidikan penjenjangan struktural sesuai dengan jabatannya.

Masih dijumpai staf pada kantor kecamatan yang belum dibuatkan Surat Penugasan Staf.

Daftar Hadir kerja tidak ditandatangani secara rutin tanpa keterangan oleh beberapa karyawan.

DUK belum dibuat sesuai dengan ketentuan.

2 Pemerintahan 2010 Masih ada Laporan

Pertanggungjawaban pelaksanaaan APBDes yang belum dibuat dan dilaporkan kepada Bupati Bojonegoro

2011 Masih ada Laporan

Pertanggungjawaban pelaksanaaan APBDes yang belum dibuat dan dilaporkan kepada Bupati Bojonegoro Terdapat kekosongan Aparat pemerintahan Desa.

2012 Belum terbentuknya Satgas SPIP di tiap-tiap Kecamatan yang tertuang dalam Surat Keputusan Camat.

Masih terdapat beberapa Pemerintahan Desa di wilayah Kecamatan yang belum menyelesaikan APBDes Tahun 2012.

Masih terdapat beberapa Kepala Desa di wilayah Kecamatan yang belum

menyelesaikan Laporan

Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (

LPPD ) tentang pelaksanaan APBDes

Tahun 2012.

(8)

8

Tabel 1.1 (lanjutan)

Jenis Temuan yang ditemukan tiap tahun

No Bidang Temuan yang Menonjol

Tahun Jenis Temuan

1 2 3 4

2013 Belum terbentuknya Satgas SPIP di tiap-tiap Kecamatan yang tertuang dalam Surat Keputusan Camat.

Masih terdapat beberapa Pemerintahan Desa di wilayah Kecamatan yang belum menyelesaikan APBDes Tahun 2013.

Masih terdapat beberapa Kepala Desa di wilayah Kecamatan yang belum

menyelesaikan Laporan

Penyelenggaraan Pemerintahan Desa ( LPPD ) tentang pelaksanaan APBDes 3 Pengelolaan

Keuangan

2010 Terdapat tunggakan PBB

Dalam pembuatan SPJ terdapat kegiatan yang belum diperhitungkan, dipungut dan disetor pajaknya.

Terdapat SPJ yang tidak disertai bukti kwitansi pendukung

Kerugian daerah

Pemborosan Penggunaan Keuangan Daerah

2011 Atasan langsung belum melaksanakan pemeriksaan terhadap bendaharawan sekurang kurangnya 3 bulan sekali disertai dengan BAP Kas

Dalam pembuatan SPJ terdapat kegiatan yang belum diperhitungkan, dipungut dan disetor pajaknya.

2012 Dalam Pembuatan SPJ belum disertai bukti – bukti atau data - data yang mendukung seperti Kwitansi, Surat Perjalanan Dinas, Nota.

Masih terdapat tunggakan PBB Tahun 2011.

Dalam Pembuatan SPJ terdapat

beberapa kegiatan yang belum

diperhitungkan, dipungut dan disetor

pajaknya.

(9)

9

Tabel 1.1 (lanjutan)

Jenis Temuan yang ditemukan tiap tahun

No Bidang Temuan yang Menonjol

Tahun Jenis Temuan

1 2 3 4

Masih terdapat kelebihan pembayaran terhadap perjalanan dinas.

2013 Dalam Pembuatan SPJ belum disertai bukti – bukti atau data - data yang mendukung seperti Kwitansi, Surat Perjalanan Dinas, Nota.

Masih terdapat tunggakan PBB.

Dalam Pembuatan SPJ terdapat beberapa kegiatan yang belum diperhitungkan, dipungut dan disetor pajaknya.

Masih terdapat kelebihan pembayaran terhadap perjalanan dinas

4 Pengelolaan Barang Daerah

2010 Kode lokasi belum dibuat

Kartu inventaris ruangan belum dipasang

Surat pernyataan dan surat penunjukan pemegang kendaraan dinas belum dibuat

2011 Kode lokasi belum dibuat

Kartu inventaris ruangan belum dipasang

Surat pernyataan dan surat penunjukan pemegang kendaraan dinas belum dibuat

2012 Kode lokasi belum dibuat

Kartu inventaris ruangan belum dipasang

Surat pernyataan dan surat penunjukan pemegang kendaraan dinas belum dibuat

Pengurus Barang belum melaksanakan

pencatatan / pengadministrasian

terhadap barang-barang yang menjadi

tanggung jawabnya. Hal ini terjadi

karena Pengurus Barang kurang

memperhatikan ketentuan yang berlaku

tentang pembuatan Buku Inventaris

Barang.

(10)

10

Tabel 1.1 (lanjutan)

Jenis Temuan yang ditemukan tiap tahun

No Bidang Temuan yang Menonjol

Tahun Jenis Temuan

1 2 3 4

2013 Pengurus Barang belum melaksanakan pencatatan / pengadministrasian terhadap barang-barang yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini terjadi karena Pengurus Barang kurang memperhatikan ketentuan yang berlaku tentang pembuatan Buku Inventaris Barang.

Dalam pengelolaan barang inventaris masih dijumpai beberapa hal :

a. Kode Lokasi Barang belum dibuat b. Kartu Inventaris Ruangan sudah

terpasang tetapi tidak sesuai dengan kondisi barang yang ada, hal ini disebabkan karena tidak diperbaharui setiap tahunnya.

Surat pernyataan dan surat penunjukan pemegang kendaraan dinas belum dibuat

5 Kemasyarakatan (PNPM)

2010 Terdapat beberapa kegiatan pelaksanaan pembangunan fisik PNPM yang tidak sesuai dengan RAB dan gambar yang telah dibuat, serta lemahnya pembuatan RAB yang tidak memenuhi seluruh unsur kebutuhan barang dan kesesuaian harga.

2011 Sering dijumpai adanya kekurangan bukti transaksi dalam laporan pertanggungjawaban keuangan

Dijumpai adanya beberapa dokumen administrasi pelaksanaan kegiatan dan penatausahaan keuangan yang belum dilengkapi dan dibubuhi tanda tangan pengesahan dari pihak pengelola

Masih dijumpai adanya tunggakan

angsuran Simpan pinjam Perempuan

(11)

11

Tabel 1.1 (lanjutan)

Jenis Temuan yang ditemukan tiap tahun

No Bidang Temuan yang Menonjol

Tahun Jenis Temuan

1 2 3 4

Masih dijumpai adanya TPK yang belum melaporkan Laporan penggunaan dana sebagai bentuk pertanggungjawaban

Kondisi fisik proyek yang tidak sesuai dengan RAB

Kondisi fisik proyek yang tidak sesuai gambar

Terdapat kekurangan volume pada pengerjaan fisik proyek.

2012 Masih sering dijumpai adanya kekurangan Bukti – bukti Transaksi/pembayaran dalam Laporan Pertanggungjawaban Keuangan

Masih dijumpai adanya beberapa dokumen administrasi pelaksanaan kegiatan dan penatausahaan keuangan yang belum dilengkapi dan dibubuhi tanda tangan pengesahan dari pihak – pihak pengelola/pelaksana.

Masih dijumpai adanya tunggakan SPP dan UEP yang mencapai kolektibilitas ke V.

Terdapat kelemahan pengendalian pengelolaan pinjaman SPP / UEP . Pada beberapa pembangunan proyek masih dijumpai adanya kondisi fisik proyek yang tidak sesuai dengan RAB.

Masih dijumpai adanya kondisi fisik proyek yang tidak sesuai gambar.

Masih terdapat kekurangan volume pada pengerjaan fisik proyek.

2013 Masih sering dijumpai adanya

kekurangan Bukti – bukti

Transaksi/pembayaran dalam Laporan

Pertanggungjawaban Keuangan;

(12)

12

Tabel 1.1 (lanjutan)

Jenis Temuan yang ditemukan tiap tahun

No Bidang Temuan yang Menonjol

Tahun Jenis Temuan

1 2 3 4

Terdapat kelemahan pengendalian pengelolaan pinjaman SPP / UEP . Masih dijumpai adanya TPK yang belum melaporkan Laporan Penggunaan Dana sebagai bentuk Pertanggungjawaban.

Pada beberapa pembangunan proyek masih dijumpai adanya kondisi fisik proyek yang tidak sesuai dengan RAB.

Masih dijumpai adanya kondisi fisik proyek yang tidak sesuai gambar;

Masih terdapat kekurangan volume pada pengerjaan fisik proyek.

6 Fisik 2012 Terdapat Ketidakcocokan Antara Laporan Capaian Kinerja dengan Pelaksanaan Kegiatan Fisik

Terdapat Kekurangan Pengerjaan Fisik baik jenis maupun volume pada pelaksanaan kegiatan fisik.

Terdapat Pengerjaan Fisik yang Tidak Sesuai Dengan Gambar.

Pada beberapa pembangunan proyek masih dijumpai adanya kondisi fisik proyek yang tidak sesuai dengan RAB.

2013 Terdapat Ketidakcocokan Antara Laporan Capaian Kinerja dengan Pelaksanaan Kegiatan Fisik

Terdapat Kekurangan Pengerjaan Fisik baik jenis maupun volume pada pelaksanaan kegiatan fisik.

Terdapat Pengerjaan Fisik yang Tidak Sesuai Dengan Gambar.

Pada beberapa pembangunan proyek masih dijumpai adanya kondisi fisik proyek yang tidak sesuai dengan RAB.

Sumber : dokumen evaluasi hasil tindak lanjut pemeriksaan

Inspektorat Kabupaten Bojonegoro tahun 2010 – 2013.

(13)

13

Dari data tersebut, dapat kita ketahui dalam masing – masing bidang pemeriksaan masih terdapat temuan yang sama, meskipun dengan kadar temuan yang tidak terlalu berat, seperti halnya kesalahan atau kekurangan administrasi kepegawaian, atau keuangan. Namun juga terdapat temuan tentang pemborosan dan kerugian atas keuangan daerah yang terbanyak pada kegiatan perjalanan dinas. Hal ini dikarenakan model pembayaran perjalanan dinas secara lunsump. Dengan batasan pembayaran cukup tinggi, pengelola keuangan memberikan perjalanan dinas pegawai secara utuh tanpa memperhatikan azas kewajaran.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh Inspektorat merupakan sebuah hubungan timbal balik antara pihak pemeriksa maupun obyek pemeriksa.

Dimana pemeriksa melakukan proses pembinaan untuk selanjutnya dilakukan timbal balik dari obrik dengan menindaklanjuti hasil pemeriksaan. Secara tidak langsung akan terjadi juga koordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah leading sector teknis.

Sebagaimana diketahui bahwa pelaksanaan kegiatan dalam organisasi

pemerintahan terdiri atas kegiatan perencanaan, pelaksana teknis, dan

pengawasan. Pengawasan seyogyanya dilakukan tidak hanya melakukan

pembinaan dan pengawasan dari pelaksanaan kegiatan dan

pertanggungjawabannya namun juga dari proses perencanaannya. Namun

pada kenyataannya koordinasi dengan leading sector tersebut dapat dikatakan

sangat jarang dilakukan. Sehingga timbal balik hanya terjadi antara

pemeriksa dan obyek pemeriksaan semata.

(14)

14

Permasalahan yang dihadapi oleh Inspektorat Kabupaten Bojonegoro dalam melaksanakan kegiatan pengawasan internal (Inspektorat Kabupaten Bojonegoro, 2012) antara lain : Keterlambatan penyelesaian tindak lanjut hasil pemeriksaan dari obyek pemeriksaan, baik dalam proses penyelesaian administrasi kelengkapan data pendukung maupun dukungan / respon dari Pimpinan satuan unit kerja obyek pemeriksaan, Keterbatasan sarana dan prasarana pemeriksaan, baik sarana penunjang administrasi maupun sarana operasional. Dengan banyaknya jumlah obyek pemeriksaan yang harus dilaksanakan membuat kontrol akan koordinasi dengan leading sector pelaksana teknis dan juga unit kerja lain sangat minim dapat dilaksanakan.

Satu – satunya cara koordinasi adalah melalui kegiatan evaluasi tindak lanjut pemeriksaan yang dihadiri obyek pemeriksaan yang telah diperiksa dan belum menyerahkan hasil tindak lanjut pemeriksaan.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dan melihat masih adanya jarak yang besar antara Inspektorat Kabupaten Bojonegoro dan obyek pemeriksaan, maka permasalahan utama penelitian adalah : Mengapa dengan koordinasi yang telah terjalin selama ini masih belum memberikan hasil yang efektif dalam penanganan temuan yang berulang pada tahun 2010 – 2013?

Dari pertanyaan besar tersebut dikaitkan dengan elemen pemeriksaan internal

yang dibutuhkan dapat dijelaskan melalui pertanyaan sebagai berikut :

(15)

15

-­‐ Faktor – faktor apakah yang menjadi penyebab ketidakefektifan penanganan temuan berulang selama ini?

-­‐ Bagaimana peran APIP dan pelaksanaan SPIP dalam menunjang program pengawasan internal dan penanganan temuan dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Bojonegoro?

C. TUJUAN PENELITIAN

Berkaitan dengan pertanyaan penelitian tersebut diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk :

-­‐ Untuk memahami penyebab kurang efektifnya penanganan temuan berulang pemeriksaan Inspektorat Kabupaten Bojonegoro.

-­‐ Untuk memahami peranan APIP, Satuan Tugas SPIP dalam menunjang kegiatan Pengawasan Internal serta penanganan temuan pemeriksaan Inspektorat Kabupaten Bojonegoro.

D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi

kepentingan akademis maupun dari segi praktis. Bagi kepentingan praktis,

penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan yang berarti kepada

seluruh jajaran personil Inspektorat Kabupaten Bojonegoro, terutama bagi

anggota tim pemeriksa yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan

pengawasan internal secara berkala yang merupakan program rutin di

Inspektorat Kabupaten Bojonegoro sebagai lembaga pengawasan internal

(16)

16

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dengan harapan akan perbaikan kinerja dan model kerja yang lebih profesional.

Bagai kepentingan akademis, manfaat penelitian ini untuk memperkaya pengetahuan tentang pengawasan internal secara berkala dalam pemerintahan, khusus nya dalam pemerintahan daerah. Manfaat yang kedua, diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan pengembangan metode penelitian kualitatif.

E. KEASLIAN PENELITIAN

Sebuah penelitian ilmiah terdapat tiga hal utama yang secara struktural merupakan satu kesatuan, tiga hal tersebut adalah lokasi penelitian, fokus penelitian, dan metode penelitian. Mengacu pada tiga hal tersebut, keaslian penelitian ini didasarkan pada struktur sebagai berikut :

Lokasi : Auditor pada Inspektorat Kabupaten Bojonegoro beserta obyek pemeriksaan dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Bojonegoro

Fokus : Diarahkan untuk mengetahui penyebab ketidakefektifan koordinasi dalam penanganan temuan berulang pemeriksaan Inspektorat tahun 2010 – 2013 serta peranan APIP dan Program SPIP dalam menyokong koordinasi yang ada.

Metode : Penelitian dengan cara wawancara mendalam semi terstruktur

dan kuisioner.

(17)

17

Mengingat penelitian sejenis yang dilakukan di lingkup Kabupaten Bojonegoro belum pernah dilakukan sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran yang positif mengenai penanganan temuan berulang inspektorat.

 

Referensi

Dokumen terkait

Minyak pelumas pada suatu sistem permesinan berfungsi untuk memperkecil- gesekan-gesekan pada permukaan komponen komponen yang bergerak dan bersinggungan. selain itu minyak

Bahwa dari fakta hukum tersebut meskipun Termohon sudah melakukan beberapa kali klarifikasi kepada pihak-pihak terkait (vide Bukti T-3 sampai dengan T-16),

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan yang terdiri dari kehandalan ( reliability ), daya tanggap ( responsiveness ), aspek fisik

Menjelaskan cara menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan atau pengurangan bilangan bulat Bersama siswa mendiskusikan cara penyelesaian soal cerita tentang penjumlahan

Bagi peserta didik yang sudah menguasai materi pembelajaran, diminta untuk me- ngerjakan materi pengayaan yang sudah disiapkan oleh guru.. (Guru mencatat dan memberikan tambahan

Maka dalam penelitian yang telah di analisa secara objektif, penulis menganalisis kebutuhan dengan menggunakan alat bantu penjualan barang berbasis Barcode untuk memudahkan

moushiwakearimasen, hontou ni sumimasendeshita, omataseshimashita, suimasen, gomennasai, taihen moushiwakegozaimasen, sumimasen, gomen, ojamashimashita. Dari beberapa data

Robot yang dimiliki Beritagar.id juga terus dilatih oleh awak redaksi agar robot ini mampu mengenal susunan kalimat (SPOK), mengerti relevansi sebuah berita,