• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERKARA TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI MEDIA ELEKTRONIK (STUDI PUTUSAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERKARA TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI MEDIA ELEKTRONIK (STUDI PUTUSAN"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERKARA TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI MEDIA ELEKTRONIK

(STUDI PUTUSAN No.45/Pid.B/2012/PN.MSH dan No.187/Pid.Sus/2017/PN.Gto)

J U R N A L

Oleh:

HANDRYADI SINAGA 150200432

DEPARTERMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)
(3)

i

CURRICULUM VITAE

Nama Lengkap HANDRY SINAGA Jenis Kelamin Laki-laki

Tempat, Tanggal

Lahir Medan, 1 November 1996

Kewarganegaraan Indonesia

Status Belum Menikah

Identitas KTP No. 1271200111960002

Agama Kristen

Alamat Domisili Jl.Maharani I No. 68 Kec. Medan Marelan – Kota Medan

No.Telp 0822 82800 578

Email [email protected]

B. Pendidikan Formal

Tahun Institusi Pendidikan Jurusan

2002 – 2008 SD YPK TRI MURNI MEDAN -

2008 - 2011 SMP ANUGERAH HARAPAN BANGSA

MEDAN -

2011 – 2014 SMA St. THOMAS 2 MEDAN

2015 - 2018 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS HUKUM

C. Data Orang Tua

Nama Ayah/Ibu : Haposan Parulian Sinaga/Norita Samosir Pekerjaan : Wiraswasta / Ibu Rumah Tangga

Alamat : Jl. Maharani I No.68 Kec. Medan Marelan – Kota Medan A. Data Pribadi

(4)

ii

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERKARA TINDAK PIDANA PENCEMARANA NAMA BAIK MELALUI MEDIA ELEKTRONIK

(Studi Putusan No.45/Pid.B/2012/PN.MSH dan No.187/Pid.Sus/2017/PN.Gto) ABSTRAK

HANDRYADI SINAGA, M.HAMDAN, SYAFRUDDIN SULUNG

Peradaban umat manusia dan aturannya mulai menyadari pentingnya suatu perlindungan terhadap kehormatan seseorang. Konsep yang lebih dikenal dengan Hak Asasi Manusia mulai mempengaruhi sistem hukum dan pola interaksi dalam masyarakat dunia. Kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap kehormatan seseorang inilah yang melahirkan aturan aturan yang melarang terjadinya pencemaran terhadap nama baik seseorang. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaturan hukum mengenai tindak pidana pencemaran nama baik di Indonesia dan bagaimana analisis yuridis terhadap putusan hakim No.45/Pid.B/2012/PN.MSH dan No.187/Pid.Sus/2017/PN.Gto. Metode penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian menggunakan pendekatan hukum normatif (yuridis normatif) dengan teknik pengumpulan data yaitu penelitian kepustakaan (library research) yang menitikberatkan pada data sekunder yaitu memamparkan paraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan judul skripsi serta buku-buku, artikel yang menjelaskan peraturan perundang- undangan dan dianalisis secara kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada putusan No.45/Pid.B/2012/PN.MSH maka dapat disimpulkan bahwa pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman selama 6 (enam) bulan, dari hukuman pidana selama 8 (delapan) bulan tuntuan Jaksa Penuntut Umum pada pasal 27 ayat (3) Jo pasal 45 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Maka penulis berpendapat bahwa hakim dalam pengambilan keputusan didasari dari aspek yuridis dan tanpa adanya intervensi dari pihak manapun dalam menjatuhkan putusan. Begitu juga terhadap putusan No.187/Pid.Sus/2017/PN.Gto dalam menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa selama 2 (dua) bulan penjara berpendapat bahwa Hakim terlalu lemah dalam memberikan sanksi pidana sehingga tidak dapat dijadikan dan memberikan efek jera.

Kata kunci:Tindak pidana pencemaran nama baik, media elektronik, social media

(5)

iii

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERKARA TINDAK PIDANA PENCEMARANA NAMA BAIK MELALUI MEDIA ELEKTRONIK

(A STUDY ON THE RULLING No.45/Pid.B/2012/PN.MSH dan No.187/Pid.Sus/2017/PN.Gto)

ABSTRACT

HANDRYADI SINAGA, M.HAMDAN, SYAFRUDDIN SULUNG

Human civilization and its rules begin to realize the importance of protecting one's honor. The concept better known as Human Rights began to influence the legal system and patterns of interaction in the world community. It is this awareness of the importance of protecting one's honor that gives birth to rules that forbid defamation of one's reputation. The problem in this study is how the legal arrangements regarding criminal defamation in Indonesia and how the juridical analysis of the judge's decision No.45 / Pid.B / 2012 / PN.MSH and No.187 / Pid.Sus / 2017 / PN.Gto.The legal research method used in this study is a research method using a normative legal approach (juridical normative) with data collection techniques, namely library research that focuses on secondary data, namely, displaying legislative rules relating to the title of the thesis and books , articles that explain the legislation and are analyzed qualitatively. Based on the results of research conducted on the decision No.45 / Pid.B / 2012 / PN.MSH, it can be concluded that the judge's consideration in imposing a sentence for 6 (six) months, from a criminal sentence for 8 (eight) months of the General Prosecutor's guidance on article 27 paragraph (3) Jo article 45 paragraph (1) RI Law Number 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions. So the authors argue that judges in decision-making are based on juridical aspects and without any intervention from any party in making decisions.

As well Court Decision No.187 / Pid.Sus / 2017 / PN.Gto in imposing a prison sentence on the defendant for 2 (two) months in prison, he believes that the Judge is too weak in providing criminal sanctions so that it cannot be used as a deterrent effect.

Keyword: Defamation, electronic media, social media

(6)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Teknologi informasi dan komunikasi yang semakin lama semakin canggih menjadikan semua lebih mudah dan cepat. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara perlahan mengubah perilaku masyarakat. Sehingga dapat dikatakan teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah menjadi pedang bermata dua, karena selain memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban manusia, sekaligus menjadi sarana efektif perbuatan melawan hukum.1

Pada zaman yang dipenuhi dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memudahkan kita dalam mendapatkan informasi merupakan salah satu bukti dari kemajuan perkembangan teknologi dan komunikasi adalah dengan adanya media massa. Dewasa ini perkembangan media massa melahirkan suatu media yang biasa disebut dengan media sosial. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan masyarakat bergerak menuju globalisasi teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini sudah sangat melekat di sebagian besar kalangan masyarakat bahkan di Indonesia. Penduduk Indonesia mencapai 265,4 juta jiwa.

Tercatat 130 juta diantaranya merupakan pengguna aktif media sosial berbasis internet.2 Orang Indonesia yang menggunakan media sosial paling sering menggunakan media sosial di antaranya YouTube 43%, Facebook 41%, WhatsApp 40%, Instagram 38%, Line 33%, BBM 28%, Twitter 27%, Google+

25%, FB Messenger 24%, LinkedIn 16%, Skype 15%, dan WeChat 14%.3

Dalam realita banyak kasus-kasus tindak pidana pencemaran nama baik melalui sosial media yang terjadi di Indonesia, maka penulis memaparkan beberapa diantaranya yakni;

- Kasus pencemaran nama baik yang dilakukan oleh seorang musisi bernama Ahmad Dhani. Kasus Ahmad Dhani bermula saat dia hendak menghadiri acara deklarasi 2019 Ganti Presiden di Surabaya pada tanggal 26 Agustus 2018. Acara di Tugu Pahlawan itu gagal, karena didemo sejumlah warga. Ahmad Dhani yang menginap di Hotel

1 Ahmad Ramli, Cyber Law Dan HAKI-Dalam System Hukum Indonesia, (Bandung: Rafika Aditama),2004, hlm.1

2https://inet.detik.com/cyberlife/d-3912429/130-juta-orang-indonesia-tercatat- aktif-di-medsos, diakses pada tanggal 6 Mei 2019 pukul 20.00 WIB.

3Ibid

(7)

2

Majapahit, Tunjungan, Surabaya juga tidak bisa keluar karena dihadang pengunjuk rasa yang menolak acara deklarasi. Terjebak di dalam hotel, suami Mulan Jameela itu kemudian membuat vlog. Dalam vlognya dia meminta maaf kepada massa aksi 2019 Ganti Presiden karena tidak bisa keluar hotel. Dia mengatakan dirinya dihadang oleh pendemo pro pemerintah. Dhani mengucapkan kata “idiot” dalam videonya yang dimasukkan kedalam sosial media berupa akun youtube. Atas pernyataannya, Ahmad Dhani dilaporkan oleh kelompok yang bernama Koalisi Bela NKRI ke Polda Jawa Timur pada tanggal 30 Agustus 2018.

Kelompok itu merasa Dhani melakukan pencemaran nama baik.

Kemudian polisi menetapkan Ahmad Dhani sebagai tersangka pada tanggal 18 Oktober 2018. Kemudian Polda Jatim melimpahkan Kasus Ahmad Dhani ke kejaksaan tinggi Jatim pada tanggal 7 Desember 2018.

Namun pada awalnya kejaksaan sempat mengembalikan berkas itu kepada polisi karena dinilai belum lengkap. hingga pada awal Januari 2019, kejaksaan telah menyatakan berkas Ahmad Dhani telah lengkap.4 Dalam persidangan musikus Ahmad Dhani dituntut 1 tahun 6 bulan oleh jaksa atas kasus pencemaran nama baik di pengadilan Surabaya, selasa 23 April 2019. Menurut jaksa penuntut Rahmat Hari Basuki, perbuatan Ahmad Dhani memenuhi unsur dengan sengaja mendistribusikan konten berisi penghinaan seperti yang diatur dalam pasal 27 ayat 3 Undanng – Undang ITE juncto pasal 45 KUHP. Menurut jaksa, dari video yang tersebar. Ahmad Dhani dengan sengaja merendahkan massa. “Idiot itu berdasarkan keterangan saksi ahli ialah orang yang daya pikirnya rendah, IQ di bawah 25," kata jaksa. Jaksa mengatakan unsur memberatkan dalam menjatuhkan tuntutan ialah selama persidangan Ahmad Dhani tak menyesali perbuatannya, saksi korban merasa dirugikan martabatnya dan pernah divonis hukuman dalam kasus penghinaan. Adapun yang meringankan adalah selama persidangan Ahmad Dhani bersikap sopan. Namun penasihat hukum Ahmad Dhani merasa jaksa telah mengabaikan fakta – fakta dalam persidangan. Oleh karena itu penasihat hukum dan Ahmad Dhani meminta waktu dua minggu untuk menyusun pledoi guna menanggapi tuntutan jaksa.5

- Kasus pencemaran nama baik yang dilakukan Baby Jovanca yang telah terbukti menghina temannya, Anggraini dengan mengatakan Anggraini sebagai mucikari. Rabu 5 Desember 2018 di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat, Majelis Hakim mendakwa Baby Jovanca dengan pasal 310 ayat 1 tentang pencemaran nama baik. Sebelumnya, Polres Metro Jakarta Barat mengamankan Baby lantaran dituding menghina temannya. Ia dituding melanggar pasal 45 ayat 1 junto pasal 27 ayat 3 Undang – Undang No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), atau pasal 310, pasal 311 Kitab Undang – Undang Hukum Pidana.6

4https://nasional.tempo.co/read/1173121/kronologis-pencemaran-nama-baik- oleh-ahmad-dhani-di-surabaya/full&view=ok diakses pada tanggal 28 Mei 2019 pada pukul 01.29 WIB

5 https://nasional.tempo.co/read/1198488/kasus-kata-idiot-ahmad-dhani-dituntut- 15-tahun-penjara/full&view=ok diakses pada tanggal 28 Mei 2019 pada pukul 01.33 WIB

6https://metro.sindonews.com/read/1360379/170/menghina-teman-artis-cantik- baby-jovanca-divonis-empat-bulan-1544020355 diakses pada tanggal 28 Mei 2019 pada pukul 01.45 WIB

(8)

3

Dampak negatif terjadi akibat pengaruh penggunaan media internet dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Melalui media internet beberapa jenis tindak pidana semakin mudah untuk dilakukan seperti, pencemaran nama baik, pornografi, penipuan, pencurian nomor kredit, memasuki, modifikasi, atau merusak homepage (Hacking), dan penyerangan situs atau e-mail melalui virus atau spamming.7

Beberapa kasus telah terjadi dan menimbulkan kebutuhan aturan terkait penggunaan media elektronik. Lahirnya UU ITE adalah jawaban atas keresahan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia dalam berbagai aspek tindakan yang dianggap merugikan dan merusak hubungan masyarakat termasuk mengenai tindak pidana yang menyerang kehormatan sesorang atau perbuatan pencemaran nama baik.

Pasal 27 ayat (3) Undang-undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik melarang "setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik".

Pasal UU ITE pertama kali ramai dibicarakan sejak Prita Mulyasari menjadi korban pertama, yang dianggap mencemarkan nama baik RS Omni Internasional Tangerang, pada 2009 hingga 2012. Sejak saat itu, publik menyimpulkan begitu mudahnya orang memidanakan orang lain karena pernyataan di media sosial.8

Pasal 27 ayat (3) UU ITE juga dianggap lebih menarik dibanding Pasal 310 dan 311 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik, karena memuat sanksi yang lebih berat. Kecenderungan tersebut dibuktikan dengan catatan Polri yang menerima sekitar 2.700 laporan terkait pelanggaran UU ITE sepanjang 2016.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 laporan atau 40 persennya telah diselesaikan oleh penyidik.9

Dengan memperhatikan putusan hakim dan dampaknya setelah putusan dijatuhkan serta tanggapan dari masyarakat umum menjadi latar belakang

7Budi Suhariyanto, Tindak Pidana Teknologi Informasi (Jakarta:Rajawali Pers,2014), hlm.18

8https://nasional.kompas.com/read/2009/06/03/17254074/pakar.komunikasi.kasu s.prita.bukan.salahnya.uu.ite diakses pada tanggal 30 Juli 2019 Pukul 15.18 WIB

9https://kbr.id/nasional/09_2017/icjr__laporan_pencemaran_nama_baik_dengan_

uu_ite_akan_melonjak_di_2018/92284.html diakses pada tanggal 22 Mei 2019 Pukul 01.23 WIB

(9)

4

dibuatnya jurnal dengan judul ANALISIS YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI MEDIA ELERKTRONIK (Studi Putusan No.45/Pid.B/2012/PN.MSH dan No.187/Pid.Sus/2017/PN.Gto)”

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka saya sebagai penulis ingin merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah :

1. Bagaimana pengaturan Hukum mengenai tindak pidana pencemaran nama baik di Indonesia ?

2. Bagaimana analisis yuridis terhadap pertimbangan putusan Hakim N0.45/PID.B/2012/PN.MSH dan No.187/Pid.Sus/2017/PN.Gto ? C. TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana merupakan terjemahan dari “strafbaar feit”, di dalam KUHP tidak terdapat penjelasan mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan strafbaar feit. Strafbaar feit merupakan istilah asli bahasa Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan berbagai arti diantaranya, yaitu:

a. Tindak pidana, b. Delik,

c. Perbuatan pidana, d. Peristiwa pidana10

Meskipun di dalam KUHP tidak dirumuskan atau tidak dimuat pengertian mengenai Tindak Pidana, para ahli – ahli hukum tetap memberikan pendapatnya mengenai Tindak Pidana yakni:11

a. R.Soesilo

R.Soesilo meneyebutkan bahwa tindak pidana yaitu suatu perbuatan yang dilarang atau diwajibkan oleh undang-undang apabila dilakukan atau diabaikan, maka orang melakukan atau mengabaikan itu diancam dengan hukuman.

10Zuleha, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Yogyakarta: Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA,2017) hlm 37.

11Moh Eka Putra, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Medan : Usu Press,2013) hlm 81.

(10)

5 b. W.P.J Pompe

Menurut W.P.J Pompe suatu strafbaar feit (tindak pidana) itu sebenarnya tidak lain daripada tindakan yang dapat dihukum. Pompe mengatakan, bahwa menurut teori (definisi menurut teori) strafbaar feit itu adalah perbuatan, yang bersifat melawan hukum, yang dilakukan dengan kesalahan dan diancam pidana. Dalam hukum positif, sifat melawan hukum (wederrechtelijk-heid) dan kesalahan (schuld) bukanlah sifat mutlak untuk adanya tindak pidana (strafbaar feit). Untuk penjatuhan pidana tidak cukup, dengan adanya tindak pidana, akan tetapi selain itu harus ada orang yang dapat dipidana.

c. H.B.Vos

Straafbaar feit adalah suatu kelakuan manusia yang diancam pidana oleh undang-undang.

d. Menurut R. Tresna

Peristiwa pidana itu adalah sesuatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia, yang bertentangan dengan Undang-undang atau peraturan- peraturan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman.

Selanjutnya Van Hamel sebagai salah seorang ahli hukum juga memberikan pengertian ataupun defenisi dari tindak pidana. Jadi menurut Van Hamel tindak pidana harus meliputi 5 unsur sebagai berikut:

1) Diancam dengan pidana oleh hukum 2) Bertentangan dengan hukum

3) Dilakukan seseorang dengan kesalahan

4) Seseorang itu dipandang bertanggung jawab atas perbuatannya 5) Sifat perbuatan yang mempunyai sifat melawan hukum.12

Moeljatno menterjemahkan istilah strafbaar feit sebagai “perbuatan pidana” menyimpulkan rumusan tindak pidana dari Simons dan Van Hamel mengandung dua pengertian sebagai berikut :

1) Bahwa Feit dalam strafbaar feit berarti handeling, kelakuan atau tingkah laku.

2) Bahwa pengertian stafbaar feit dihubungkan dengan kesalahan orang yang mengadakan kelakuan tadi.13

Berbicara mengenai tindak pidana, sudah menjadi konsekuensi bahwa apabila terjadi suatu tindak pidana maka akan timbul pertanggungjawaban pidana. Pertanggungjawaban pidana di sini dimaksudkan untuk menentukan seseorang tersebut dapat dipertanggungjawabkan atas sanksi pidana atau tidak terhadap tindak pidana yang dilakukannya itu. Jadi sangat erat kaitannya suatu tindak pidana dengan pertanggungjawaban pidana, karena ada beberapa alasan seseorang tidak dapat diminta pertanggungjawabannya, secara umum sudah

12Lihat Zuleha, Op cit, hlm 38

13Ibid, hlm 39

(11)

6

diatur di dalam KUHP itu sendiri yang tedapat di dalam Pasal 44, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50 dan Pasal 51 KUHP.14

2. Pengertian Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik

Nama baik adalah penilaian baik menurut anggapan umum tentang perilaku atau kepribadian seseorang dari sudut moralnya. Nama baik seseorang selalu dilihat dari sudut pandang orang lain, yakni moral atau kepribadian yang lain sehingga ukurannya ditentukan berdasarkan penilaian secara umum dalam suatu masyarakat tertentu di tempat mana perbuatan tersebut dilakukan dan konteks perbuatannya.15

Pasal 310 Kitab Undang – Undang Hukum Pidana berbunyi:

“Barangsiapa dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Berdasarkan Pasal 310 KUHP, pencemaran nama baik memiliki pengertian yaitu “menyerang kehormatan dan nama baik seseorang”. Yang diserang biasanya merasa dipermalukan, kehormatan disini hanya mengenai kehormatan yang dapat dicemarkan. Dari kata “atau” diantara kata “nama baik”

dan “kehormatan”, dapat disimpulkan bahwa keduanya “nama baik” dan

“kehormatan” adalah dua hal berbeda dan dapat dibedakan, sekalipun sering terkait satu sama lain.16 Oemar Seno Adji mendefenisikan pencemaran nama baik sebagai menyerang kehormatan atau nama baik (aanrading of geode naam). Hal itu dapat dilakukan dengan dua macam cara, secara lisan dan tulisan.17

Pencemaran nama baik merupakan delik aduan, yaitu delik yang hanya dapat dituntut, jika diadukan oleh orang yang merasa dirugikan. Delik aduan sifatnya pribadi/privat, yang memiliki syarat yaitu harus ada aduan dari pihak yang dirugikan. Selain itu, yang dimaksud dengan delik aduan (klacht delict) merupakan pembatasan inisiatif jaksa untuk melakukan penuntutan. Ada atau tidaknya tuntutan terhadap delik ini tergantung persetujuan dari yang dirugikan/

14Lihat, M.Hamdan, Alasan Penghapusan Pidana, (Bandung: PT Refika Aditama, 2012) hlm77.

15Moh.Anwar, Hukum Pidana Bagian Khusus, (Bandung:Citra Aditya Bakti,1994), hlm.145.

16J. Satrio, Gugat Perdata Atas Dasar Penghinaan Sebagai Tindakan Melawan Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm 26

17Lihat Sahrul Mauludi,Awas HOAX! , (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2019) hlm 122.

(12)

7

korban/ orang yang ditentukan oleh undang-undang. Delik ini membicarakan mengenai kepentingan korban18.

Pencemaran nama baik merupakan perbuatan melawan hukum yang menyerang kehormatan dan nama baik seseorang sehingga tercemar di muka umum. Kriminalisasi delik pencemaran nama baik dimaksudkan untuk melindungi nama baik seseorang serta mendorong agar seseorang memperlakukan orang lain sesuai dengan harkat dan martabatnya manusia.19

Pencemaran nama baik sangat erat kaitannya dengan suatu kata penghinaan dimana penghinaan itu sendiri memiliki pengertian perbuatan menyerang nama baik dan kehormatan seseorang. Objek atau sasaran pencemaran nama baik dapat digolongkan menjadi :20

1. Terhadap pribadi perorangan.

2. Terhadap kelompok atau golongan.

3. Terhadap suatu agama.

4. Terhadap orang yang sudah meninggal.

5. Terhadap para pejabat yang meliputi pegawai negeri, kepala negara atau wakilnya dan pejabat perwakilan asing.

3. Pengertian Media Elektronik dan Sosial Media

Media elektronik adalah media yang menggunakan elektronik atau energi elektromekanis bagi pengguna akhir untuk mengakses kontennya. Istilah ini merupakan kontras dari media statis (terutama media cetak), yang meskipun sering dihasilkan secara elektronis tetapi tidak membutuhkan elektronik untuk diakses oleh pengguna akhir. Sumber media elektronik yang familiar bagi pengguna umum antara lain adalah rekaman video, rekaman audio, presentasi multimedia, dan konten. Media elektronik dapat berbentuk analog maupun digital, walaupun media baru pada umumnya berbentuk digital.21

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), media dapat diartikan sebagai perantara, penghubung, yang terletak di antara dua pihak. Media massa

18Muchammad David Faishal, Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Media Elektronik, Skripsi Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri

Walisongo,Semarang,2015,hlm.20

19Sahrul Mauludi,Awas HOAX! , (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2019) hlm 123.

20Ibid hlm 135.

21https://id.wikipedia.org/wiki/Media_elektronik diakses pada tanggal 13 Mei 2019 pada pukul 01.45 Wib

(13)

8

sebagai alat atau sarana komunikasi seperti majalah, televisi, radio, film, poster dan spanduk.22 Sedangkan elektronik dapat diartikan alat yang dibuat berdasarkan prinsip elektronika, hal atau benda yang menggunakan alat – alat yang dibentuk atau bekerja atas dasar elektronika.23 Jadi media elektronik merupakan media media yang menggunakan elektronik atau energi elektromekanis bagi pengguna akhir untuk mengakses kontennya.24

Media sosial adalah sebuah media online, dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan sesuatu meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.25

Adapun pendapat para ahli tentang defenisi sosial media yakni:26 1. Philip Kotler dan Kevin Keller

Menurut Philip dan Kevin Keller pengertian media sosial adalah sarana bagi konsumen untuk berbagai informasi teks, gambar, video, dan audio dengan satu sama lain dan dengan perusahaan dan sebaliknya.

2. Marjorie Clayman

Menurut Marjorie Clayman pengertian media sosial adalah alat pemasaran baru yang memungkinkan untuk mengetahui pelanggan dan calon pelanggan dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin.

Media sosial dipahami sebagai kelompok jenis media online, yang terbagi atas 5 (lima) karakteristik yaitu :

1. Partisipasi

Sosial media mendorong kontribusi dan umpan balik dari setiap orang yang tertarik. Hal ini mengaburkan batas antara media dan penonton.

2. Keterbukaan

Media sosial terbuka untuk umpan balik dan partisipasi. Media sosial mendorong voting, komentar dan berbagi informasi. Jarang ada hambatan untuk mengakses dan memanfaatkan konten – konten yang disukai.

3. Percakapan

Apabila media sosial tentang “broadcast” (konten ditransmisikan atau didistribusikan kepada audiens) media sosial lebih baik dilihat sebagai percakapan dua arah.

4. Komunitas

Sosial media memungkinkan komunitas untuk terbentuk dengan dan berkomunikasi secara efektif.

5. Keterhubungan

22Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa, 2008, hlm 1002

23Ibid, hlm 384

24https://id.wikipedia.org/wiki/Media_elektronik diakses pada tanggal 30 Juli 2019 pada pukul 17.34 WIB

25Yusrina Rizka Fitriana dkk,Sosial Media Deviation , (Malang: Cetakan Pertama, 2019) hlm 10.

26https://www.maxmanroe.com/vid/teknologi/internet/pengertian-media- sosial.html diakses pada tanggal 13 Mei 2019 pada pukul 03.02 Wib

(14)

9

Sebagian besar jenis media sosial berkembang pada keterhubungan mereka, mereka memanfaatkan link ke situs lain, sumber daya dan orang – orang di dalamnya.27

Apabila dikelompokkan dalam bentuk maka ada tujuh bentuk media sosial antara lain :

1. Berbentuk jejaring sosial

Situs ini memungkinkan orang untuk membangun halaman web pribadi dan kemudian dapat terhubung dengan teman – teman. Dengan fasilitas ini dapat dipakai untuk berbagi konten dan komunikasi. Berdasarkan pengamatan banyak pihak, terbukti jejaring sosial bentuk ini yang terbesar adalah facebook.

2. Berbentuk blog

Bentuk yang paling awal dan paling dikenal dari media sosial. Bentuk ini lebih dikenal dengan personal diary yang online.

3. Berbentuk wiki

Bentuk kamus umum, website ini memungkinkan orang untuk menambahkan atau mengedit informasi yang ada. Jadi kamus umum itu bertindak sebagai database informasi terminologi umum.

4. Berbentuk podcast

Bentuk Podcast adalah bentuk kumpulan file audio dan file video yang tersedia dengan berlangganan, melalui layanan seperti Apple iTunes.

5. Berbentuk forum

Bentuk untuk diskusi online, sering sekitar topik dan kepentingan tertentu.

Forum muncul sebelum istilah “sosial media” dan merupakan elemen kuat dan populer komunitas online.

6. Berbentuk komunitas konten

Komunitas yang mengatur dan berbagi jenis konten tertentu. Komunitas konten yang paling populer cendrung membentuk forum/link .

7. Berbentuk microblogging

Bentuk jejaring sosial yang dikombinasikan dengan blogging, dimana update didistribusikan dengan online dan melalui telepon selular.28

4. Bentuk – Bentuk Pencemaran Nama Baik

Sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (3) UU No.11 tahun 2008 jo Undang – Undang No.19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, pelaku pencemaran nama baik dapat dijatuhi pidana apabila perbuatannya memenuhi unsur [unsur], yaitu:

1. Pelakunya adalah orang (baik berstatus warga negara Indonesia maupun asing).

27Raymond,Sistem Informasi Manajemen(Bandung:Salemba Empat,2008), hlm 23.

28A. Shenia, Buku Pintar Menguasai Internet, (Jakarta:Media Kita,2009), hlm. 223

(15)

10

2. Unsur “dengan sengaja”, maksudnya pelaku mempunyai niat jahat (mens rea) ingin mewujudkan akibat yang dilarang undang-undang, yaitu membuat malu orang yang dinista atau dihina, atau tercemar nama baiknya.

3. Unsur “tanpa hak”, maksudnya perbuatan itu dilakukan dengan cara bertentangan dengan hukum, tanpa memita izin atau tidak memiliki kewenangan untuk itu.

4. Unsur “mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik”, maksudnya tulisan atau gambar yang bermuatan menista atau menghina tersebut diunggah atau disebarkan kepada orang yang berstatus “teman” di media online si pelaku, sehingga dapat diakses, dilihat maupun dibaca oleh orang banyak.29

29Sahrul Mauludi,Op.cit, hlm 166.

(16)

11 BAB II

PENGATURAN HUKUM MENGENAI TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK DI INDONESIA

Peraturan hukum pidana di Indonesia secara umum dibagi menjadi dua bagian yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Sedangkan, hukum pidana formil memuat peraturan-peraturan yang mengatur tentang bagaimana caranya hukum pidana yang bersifat abstrak itu harus diberlakukan secara konkrit. Biasanya orang menyebut jenis hukum pidana ini sebagai hukum acara pidana.30

Hukum pidana materiil dalam sistem hukum pidana Indonesia diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang telah disahkan dengan Undang-Undang No.1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Sedangkan sistem hukum pidana formil yang mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana materiil, telah disahkan dengan Undang-Undang No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Menurut Sudarto, hukum pidana umum ialah hukum pidana yang dapat diperlakukan terhadap setiap orang pada umumnya, yang umumnya terdapat di dalam KUHP. Sedangkan, hukum pidana khusus diperuntukkan bagi orang- orang tertentu saja misalnya anggota angkatan perang atau merupakan hukum yang mengatur tentang delik delik tertentu saja, yang biasanya pengaturan mengenai deliknya ditentukan diluar KUHP , misalnya hukum fiskal (pajak), hukum pidana ekonomi, dan lain lain.31

A. Pengaturan Hukum Mengenai Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Lex Generalis)

Pada prinsipnya, mengenai pencemaran nama baik diatur dalam KUHP, Bab XVI tentang penghinaan yang termuat dalam Pasal 310 s.d.321 KUHP.32

30 Mohammad Eka Putra, Op.Cit hlm.5

31 Lihat Ruslan Renggong,Hukum Pidana Khusus,(Rawamangun: Kencana, 2017)

hlm 26.

32 Lihat Sahrul Mauludi,Op.cit, hlm 126

(17)

12

Sesuai penjelasan R.Soesilo dalam Pasal 310 KUHP, dapat kita lihat bahwa KUHP membagi enam macam penghinaan/tindak pidana kehormatan, yakni:33

1. Penistaan

Pasal 310 ayat (1) KUHP :

“Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Menurut R.Soesilo, supaya dapat dihukum menurut pasal ini, maka penghinaan itu harus dilakukan dengan cara “menuduh seseorang melakukan suatu perbuatan tertentu” dengan maksud agar tuduhan itu tersiar (diketahui oleh orang banyak). Jadi, syarat dapat dituntutnya seseorang melakukan tindak pidana menurut Pasal 310, penghinaan itu harus dilakukan dengan kata-kata yang terselip tuduhan seolah-olah orang yang dihina telah melakukan perbuatan tertentu,dengan maksud agar tuduhan itu tersiar dan diketahui orang banyak.

Unsur-unsur dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP, dibagi dua yaitu unsur subjektif dan unsur objektif.

Unsur objektif terdiri dari : 1. Barang siapa,

2. Menyerang nama baik atau kehormatan seseorang, 3. Dengan menuduhkan suatu hal.

Unsur subjektif terdiri dari :

- Dengan maksud nyata supaya tuduhan itu diketahui umum, - Dengan sengaja,

2. Penistaan dengan surat Pasal 310 ayat (2) KUHP:

“Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Menurut R.Soesilo sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan Pasal 310 KUHP, apabila tuduhan tersebut dilakukan dengan tulisan (surat) atau gambar, maka kejahatan itu dinamakan “menista dengan surat”. Jadi seseorang dapat dituntut menurut pasal ini jika tuduhan atau kata-kata hinaan dilakukan dengan surat atau gambar.

Berdasarkan rumusan di atas maka menista dan menista dengan tulisan mempunyai unsur-unsur yang sama, bedanya adalah bahwa menista dengan tulisan dilakukan dengan tulisan atau gambar

33Ibid

(18)

13

sedangkan unsur-unsur lainnya tidak berbeda. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 310 ayat (2), yaitu:

1) Unsur-Unsur Objektif:

a. Barangsiapa,

b. Menyerang kehormatan atau nama baik “seseorang”, c. Dengan menuduhkan suatu hal,

d. Dengan tulisan atau gambar yang disiarkan.

2) Unsur-Unsur Subjekif :

a.Dengan maksud yang nyata (kenlijk doel) supaya tuduhan itu diketahui umum (ruchtbaarheid te geven),

b. Dengan sengaja (opzettelijk).

3. Fitnah

Pasal 311 KUHP:

“Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis diperbolehkan untuk membuktikan apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya, dan tuduhan itu dilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam melakukan fitnah dengan pidana penjara paling lama empat tahun”

Kata “fitnah” dalam ilmu hukum pidana, fitnah adalah menista atau menista dengan surat/tulisan tetapi yang melakukan perbuatan itu, diizinkan membuktikannya dan ternyata, tidak dapat membuktikannya.34 Jadi yang dimaksud dengan memfitnah dalam pasal ini adalah kejahatan menista atau menista dengan tulisan dalam hal ketika ia diizinkan untuk membuktikan bahwa tuduhannya itu untuk membela kepentingan umum atau membela diri, ia tidak dapat membuktikannya dan tuduhannya itu tidak benar. Tindak pidana yang diatur dalam Pasal 311 ayat (1) KUHP erat terkaitannya dengan ketentuan Pasal 310 KUHP. Sehingga dapat ditarik unsur-unsur kejahatan yang terkandung yaitu:

a) Semua Unsur (objektif dan subjektif) dari Pencemaran (Pasal 310 ayat (1) ) atau Pencemaran Tertulis ( Pasal 310 ayat (2) ) ;

b) Si pembuat dibolehkan untuk membuktikan apa yang dituduhkannya itu benar;

c) Tetapi si pembuat tidak dapat membuktikan kebenaran tuduhannya;

d) Apa yang menjadi tuduhannya adalah bertentangan dengan yang diketahuinya.

4. Penghinaan ringan Pasal 315 KUHP:

“Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis yang dilakukan terhadap seseorang, baik dimuka umum dengan lisan ataupun tulisan, maupun dimuka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, diancam karena penghinaan ringan dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Menurut R.Soesilo, dalam penjelasan Pasal 315 KUHP.

Mengatakan bahwa jika penghinaan itu dilakukan dengan jalan lain

34Leden Marpaung,Op.cit. hlm.31

(19)

14

selain “menuduh suatu perbuatan”, misalnya dengan mengatakan

“anjing”, “asu”, “sundel”, “bajingan” dan sebagainya, masuk Pasal 315 KUHP dan dinamakan dengan “penghinaan ringan”. Penghinaan ringan ini juga dapat dilakukan dengan perbuatan. Menurut R.Soesilo, penghinaan yang dilakuan dengan perbuatan seperti meludahi di mukanya, memegang kepala orang Indonesia, mendorong melepas peci atau ikat kepala orang Indonesia.

Di dalam Pasal 315 KUHP terdapat unsur-unsur yakni:

1) Unsur Objektif:

a. Setiap penghinaan yang tidak bersifat pencemaran (dengan lisan) atau pencemaran tertulis;

b. Yang dilakukan terhadap seseorang di muka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan;

c. Dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya.

2) Unsur Subjektif : Dengan Sengaja.

5. Pengaduan palsu Pasal 317 KUHP:

“Barang siapa dengan sengaja mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada penguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan, tentang seseorang sehingga kehormatan atau nama baiknya terserang, diancam karena melakukan pengaduan fitnah, dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”

R.Sugandhi dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Berikut Penjelasannya memberikan uraian pasal tersebut, yakni diancam hukuman dalam pasal ini ialah orang yang dengan sengaja:

a. Memasukkan surat pengaduan yang palsu tentang seseorang kepada pembesar negeri,

b. Menyuruh menuliskan surat pengaduan yang palsu tentang seseorang kepada pembesar negeri sehingga kehormatan atau nama baik orang itu diserang.

Berdasarakan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan unsur-unsur dalam Pasal 317 ayat (1) KUHP adalah :

1) Unsur Objektif:

a) Mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada penguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan,

b) Tentang seseorang kepada penguasa,

c) Sehingga kehormatan atau nama baiknya terserang.

2) Unsur Subjektif : Dengan sengaja.

6. Perbuatan fitnah Pasal 318 KUHP:

“Barang siapa dengan sesuatu perbuatan sengaja menimbulkan secara palsu persangkaan terhadap seseorang bahwa dia melakukan suatu perbuatan pidana, diancam karena menimbulkan persangkaan palsu, dengan pidana penjara paling lama empat tahun”

Menurut R.Sugandhi, yang diancam hukuman dalam pasal ini ialah orang yang dengan sengaja melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan orang lain secara tidak benar terlibat dalam suatu tindak

(20)

15

pidana, misalnya: dengan diam-diam menaruhkan sesuatu barang asal dari kejahatan di dalam rumah orang lain, dengan maksud agar orang itu dituduh melakukan kejahatan.

Unsur-unsur Pasal 318 ayat (1) KUHP adalah:

1. Unsur Objektif : Sesuatu perbuatan sengaja menimbulkan secara palsu persangkaan terhadap seseorang bahwa dia melakukan sesuatu perbuatan pidana;

2. Unsur Subjektif : Dengan sengaja.

Selain delik penghinaan sebagaimana tersebut diatas, KUHP juga mengatur delik penghinaan terhadap pemerintah Indonesia (Pasal 154, 155, 160, 161), delik penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden (Pasal 134,Pasal 136 bis Pasal 137).35

B. Pengaturan Hukum Mengenai Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di luar Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Lex Specialis)

1. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Penggabungan antara teknologi informasi dan komunikasi dengan jaringan internet menimbulkan konsekuensi yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan telepon dan televisi secara tersendiri. Konsekuensi yang dimaksud adalah pelanggaran penggunaan teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet yang tidak sesuai dengan ketentuan sehingga menimbulkan keresahan dalam berinteraksi sosial. Tidak dapat dihindari karena perkembangan yang pesat ini terdapat orang-orang yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet ini untuk melakukan kejahatan misalnya hacking, penipuan, penghinaan, perdagangan manusia, perdagangan narkoba, pornografi, perjudian, dll. Dalam persperktif sosiologi, kejahatan termasuk cybercrime merupakan suatu perilaku yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri dalam interaksi sosial.36 Cybercrime merupakan keseluruhan bentuk kejahatan yang ditujukan terhadap komputer, jaringan komputer dan para penggunanya,

35M.Halim,Fulthoni A.M dan M.Nur Sholikin, Menggugat Pasal-Pasal Pencemaran Nama Baik,(Jakarta:LBH Pers, 2009), hlm.24

36Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, (Jakarta:Rajawali,2002), hlm.12

(21)

16

dan bentuk-bentuk kejahatan tradisional yang menggunakan atau dengan bantuan peralatan komputer.37

Disamping itu berdasarkan beberapa literatur serta praktiknya, cybercrime memiliki karakteristik yang khas dibandingkan dengan kejahatan konvensional, yaitu:38

1. Perbuatan yang dilakukan secara ilegal, tanpa hak atau tidak etis tersebut terjadi dalam ruang/wilayah siber (cyberspace), sehingga tidak dapat dipastikan yuridiksi negara mana yang berlaku baginya.

2. Perbuatan tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan apapun yang berhubungan dengan internet.

3. Perbuatan tersebut menyebabkan kerugian material maupun immaterial (waktu, nilai, jasa, uang, barang, harga diri, martabat, kerahasiaan informasi) yang cenderung lebih besar dibandingkan dengan kejahartan konvensional.

4. Pelakunya adalah orang yang menguasai penggunaan internet beserta aplikasinya.

5. Perbuatan tersebut sering dilakukan secara transnasional/melintasi batas negara.

Pengaturan hukum tentang tindak pidana pencemaran nama baik yang menggunakan alat telekomunikasi dan elektronik daitur dalam Pasal 27 ayat (3) Undanng-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang berbunyi:

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 27 ayat (3) adalah:39 1) Setiap orang

Orang adalah orang perseorangan, baik warga indonesia warga negara asing, maupun badan hukum.

2) Dengan sengaja dan tanpa hak, yaitu tindakan yang dilakukan oleh pelaku kejahatan telah direncanakan atau disiarkan terlebih dahulu dan tanpa sepengetahuan dari orang yang berhak.

3) Mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya, adalah tindakan yang dilakukan pelaku kejahatan untuk menyebarluaskan tindak kejahatannya supaya dapat diketahui orang banyak.

4) Informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta,

37Abdul Wahid dan Mohammad Labib, Kejahatan Mayantara (Cyber Crime),(Bandung:PT.Refika Aditama,2005), hlm. 40.

38Abdul wahid,Op.Cit, hlm.76

39Sahrul Mauludi, Op.cit , hlm.150

(22)

17

rancangan foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang telah diolah sehingga di dalamnya mengandung unsur penghinaan atau pencemaran nama baik seseorang.

Penghinaan (defamation), secara harafiah diartikan sebagai tindakan yang merugikan nama baik dan kehormatan seseorang. Dalam hal ini hanya menyangkut kehormatan berupa nama baik bukan kehormatan dalam makna lingkupan seksual. Pencemaran nama baik juga merupakan sebuah tindakan menyerang nama baik seseorang dan merusak penilaian yang baik dari masyarakat kepada seseorang.

Harusnya pengertian dan penggolongan penghinaan dapat saja merujuk pada ketentuan Bab XVI Buku II KUHP tentang Penghinaan, bahwa penghinaan adalah perbuatan menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dapat digolongkan atas : pencemaran, pencemaran tertulis, fitnah, penghinaan ringan, pengaduan fitnah, dan persangkaan palsu. Karena genus crime dari Pasal 27 ayat (3) adalah Pasal 310 ayat (2), Pasal 311 dan Pasal 315 KUHP maka mengenai penggolonganya maka harus disesuaikan pula dengan ketentuan tersebut.40

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran

Selain dalam KUHP dan UU ITE delik pencemaran nama baik juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Dalam Undang-Undang Penyiaran didefenisikan, bahwa penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau transmisi di darat, di laut dan di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.

Sehingga berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan, Hukum Penyiaran adalah seluruh kaidah dan aturan yang menyangkut kegiatan pemancarluasan, termasuk sarana teknis, sistem dan spektrum frekuensi

40Supriyadi Widodo Eddyono, Problem Pasal Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik di Ranah Maya. (Jakarta:Elsam,2014). hlm.23.

(23)

18

hingga penerimaan masyarakat secara serentak melalui alat penerima siaran.41

Bentuk penghinaan yang dimaksud dalam Pasal 36 ayat (5) jo Pasal 57 Huruf d, apabila dirinci terdapat usur berikut, sebagaimana dijelaskan oleh Adami Chazawi:42

a. Perbuatan: siaran (menyiarkan)

Perbuatan menyiarkan dalam Pasal 36 ayat (5) UU Penyiaran tidak sama artinya dengan menyiarkan (verspreiden) dalam Pasal 310 ayat (2) atau Pasal 157 ayat (1) KUHP. Menurut KUHP menyiarkan (verspreiden) melakukan perbuatan dengan menyebarkan sesuatu (objek tindak pidana), kepada umum sehingga sesuatu tersebut diketahui oleh orang banyak (umum).

Oleh karena tidak disebutkan cara menyiarkan, maka cara tersebut harus disesuaikan dengan sifat objek dan wadah objek yang disiarkan. Dicontohkan pencemaran tertulis Pasal 311 ayat (2) KUHP. Wadah objek (kehormatan dan nama baik) pencemaran tersebut terdapat dalam bentuk tulisan, yang terdapat pada benda- benda yang mengandung sifat dapat ditulisi, misalnya kertas.

Karena sifatnya, maka menyiarkan (verspreiden) dapat dilakukan dengan cara membuat tulisan dalam banyak lembar kertas (misalnya dalam majalah, tabloid dll). Kemudian disebarkan dengan cara bermacam-macam, sehingga tersebar pada umum.

Berdasarkan pengertian yang demikian, maka sesungguhnya verspreiden lebih tepat di bahasa Indonesia dengan “menyebarkan”

daripada “menyiarkan”. Berbeda halnya dengan perbuatan menyiarkan dalam Pasal 36 ayat (5) UU Penyiaran. Objek yang disiarkan menurut UU Penyiaran adalah merupakan pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran.

b. Objeknya: isi siaran bersifat fitnah

Oleh karena UU Penyiaran tidak memberi keterangan apa-apa mengenai unsur bersifat fitnah, maka harus kembali pada sumber utama hukum pidana ialah KUHP. Fitnah dalam KUHP dirumuskan dalam Pasal 311. Dari rumusan fitnah tersebut dapatlah diketahui bahwa sesungguhnya dalam fitnah terdapat pencemaran, baik pencemaran lisan maupun tulisan.

Oleh karena fitnah merupakan bentuk khusus pencemaran, maka dalam fitnah harus terdapat unsur-unsur pencemaran. Unsur-unsur pencemaran Pasal 310 ayat (1) adalah:

1. Unsur objektif;

2. Perbuatannya: menyerang;

3. Objeknya: a) kehormatan orang; b)nama baik orang;

4. Caranya : dengan menuduhkan suatu perbuatan tertentu;

5. Unsur subjektif;

41Judhariksawan, Hukum Penyiaran, (Jakarta :PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2010), hlm.17

42Sahrul Mahludi,Op.cit,hlm.156

(24)

19

6. Kesalahan: a) sengaja; b) maksudnya terang supaya diketahui umum.

3. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers

Istilah pers berasal dari istilah Latin pressus artinya tekanan, tertekan, terhimpit, padat.43 Pers dalam kosakata Indonesia berasal dari bahasa Belanda yang mempunyai arti sama dengan bahasa Inggris “pers”, sebagai sebutan untuk alat cetak. Keberadaan pers dari terjemahan istilah ini pada umumnya adalah sebagai media penghimpit atau penekan dalam masyarakat.

Pengertian pers itu dibedakann dalam dua arti. Pers dalam arti luas adalah media cetak atau media elektronik yang menyampaikan laporan dalam bentuk fakta, pendapat, usulan dan gambar kepada masyarakat luas secara regular. Pers dalam arti sempit adalah media tercetak seperti surat kabar harian, surat kabar mingguan, majalah dan bulletin, sedangkan media elektronik meliputi radio, film dan televisi.44

Menurut Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, pengertian pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.

Konsiderans undang-undang tentang pers ini lahir enam bulan setelah kejatuhan Orde Baru, yanng menyebutkan setidak-tidaknya latar belakang kelahirannya, yaitu:45

a. Kemerdekaan pers merupakan perwujudan kedaulatan rakyat dan unsur penting dalam kehidupan demokrasi, sesuai dengan amanat Pasal 28 UUD 1945;

b. Kemerdekaan pers, yang merupakan perwujudan dari kemerdekaan menyatakan pendapat secara lisan dan tulisan, merupakan hak asasi manusia;

c. Kemerdekaan pers harus bebas dari campur tangan penguasa;

43Samsul Wahidin, Hukum Pers, (Jakarta: Yayasan Ciptaloka Caraka, 1984), hlm.114

44Ibid,hlm.35

45Lihat UU No.40 Tahun 1999 tentang pers

(25)

20

d. UU No.21 tahun 1982 yang mengharuskan adanya SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Usaha Pers), harus dicabut, karena menghambat kemerdekaan pers.

Menurut Undang-Undang No.40 tahun 1999 tentang Pers, yang dapat dikenai pertanggungjawaban adalah :

1. Pemimpin umum/Redaksi 2. Redaktur pelaksana 3. Redaktur

4. Reporter/Keresponden.

(26)

21 BAB III

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERTIMBANGAN PUTUSAN HAKIM I. PUTUSAN HAKIM NO.45/PID.B/2012/PN.MSH

A. Posisi Kasus 1. Kronologis

Pada awalnya kasus Terdakwa LECO MABA Alias LECO Alias ECON pada hari jumat tanggal 22 Oktober 2010 sekitar pukul 14.00 WIT atau setidaknya pada suatu waktu dalam bulan Oktober 2010 bertempat di Kampung Jawa Desa Wahai Kecamatan Seram Utara Kabupaten Maluku Tengah, yang pada saat itu Terdakwa baru tiba di rumah setelah shalat Jumat pada masjid Kampung Hatui dimana terdakwa masih berada di atas sepeda motor, kemudian terdakwa melihat saksi korban Kadir Rumuar sedang mencungkil kotak amal yang berada di depan Masjid Attaqwa tepatnya di depan pintu masuk halaman Masjid Attaqwa.

Setelah selesai mencungkil kotak amal tersebut saksi korban membawa kotak amal tersebut dengan menggunakan sepeda motor milik saksi Hi.Amrin Mantunainai dengan tujuan Kampung Baru dengan di bantu oleh seorang anak kecil bernama Safar, setelah terdakwa melihat saksi korban Kadir Rumuar sudah menuju ke kampung baru dengan menggunakan sepeda motor, terdakwa langsung bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil handphone (HP) yang disimpan terdakwa ke dalam kamar.

Kemudia Terdakwa menekan tombol menu lalu memilih aplikasi website (layanan internet) kemudian terdakwa memilih situs www.facebook.com setelah muncul aplikasi facebooknya terdakwa memasukkan alamat email

terdakwa dan ada konfirmasi dari layanan tersebut sehingga muncul aplikasi berupa foto profil, beranda, teman, kotak masuk, lalu ada salah satu kotak dalam aplikasi facebook tersebut yang tujuannya untuk pelanggan facebook yang akan memberitakan sesuatu tentang dirinya atau biasa disebut dengan update status.

Selanjutnya terdakwa mengetik di keypad ( papan ketik ) pada handphone.

Adapun tulisan yang dibuat yaitu “Telah hilang 1 (satu) buah kotak amal milik Panitia Pembangunan Masjid Attaqwa Kampung Jawa yang berada di lokasi pembangunan masjid, dan menurut saksi mata yang mencuri adalah saksi korban Kadir Rumuar”.

2. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

(27)

22

Jaksa Penuntut Umum mengajukan dakwaan ke depan sidang pengadilan Negeri Masohi dengan bentuk dakwaan alternatif. Penulis merangkum secara ringkas dalam kasus ini surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang diutarakan dalam persidangan adalah sebagai berikut :

KESATU :

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang RI No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

ATAU KEDUA :

Perbuatan terdakwa tersebut sebagaimana telah diatur dan diancam pidana dalam Pasal 311 ayat (1) KUHP.

3. Tuntuan Jaksa Penuntut Umum

Penulis telah membaca Tuntutan Jaksa Penuntut Umum dari putusan Nomor 45/Pid.B/2012/PN.MSH, yang pada pokoknya menuntut supaya majelis Hakim yang memeriksa perkara ini memutus sebagai berikut :

1. Terdakwa LECO MABA Alias LECO Alias ECON bersalah melakukan tindak “Pidana pencemaran nama baik/Penghinaan” sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dalam dakwaan kesatu.

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa LECO MABA Alias LECO Alias ECON dengan pidana penjara selama 8 (delapan) bulan.

3. Menetapkan terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp 2.500.000,- ( dua juta lima ratus ribu rupiah ) subsidair 1 (satu) bulan kurungan.

4. Barang bukti berupa 1 (satu) buah HP merk Nokia 2220 S warna silver dikembalikan kepada terdakwa.

5. Barang bukti berupa 1 (satu) buah HP merk Nokia 5610 warna merah milik Tejo Trisnomo dikembalikan kepada pemiliknya yang sah;

6. Menetapkan agar Terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar Rp 2.000,- (dua ribu rupiah).

4. Fakta Hukum

(28)

23

Adapun fakta-fakta hukum yang terdapat di dalam persidangan adalah sebagai berikut :

a. Keterangan saksi

Di dalam persidangan terdapat 5 (lima) saksi yang memberikan keterangan yang dibawah sumpah pada pokoknya antara lain menerangkan bahwa benar pada hari Jumat tanggal 22 Oktober 2010 sekitar pukul 14.00 WIT di Desa Wahai Kecamatan Seram Utara Kab.

Maluku Tengah, Bahwa pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Terdakwa ditulis melalui Facebook (internet). Terdakwa menuliskan status di halaman media sosial milik terdakwa yang berisi: “Telah hilang 1 (satu) buah kotak amal milik Panitia Pembangunan Mesjid Attaqwa Kampung Jawa yang berada di lokasi pembangunan mesjid, dan menurut saksi mata yang mencuri adalah saksi korban Kadir Rumuar”.

Setelah mengetik di halaman media sosial miliknya, terdakwa kemudian membagikan ke halaman media sosialnya, yang tujuannya adalah supaya Pengguna Jejaring Sosial bisa melihat serta membaca tulisan/status Terdakwa tersebut dan nantinya dapat merusak nama baik korban.

5. Pertimbangan Hakim

Berdasarkan fakta-fakta hukum yang telah diperoleh sebelumnya, majelis hakim lalu mempertimbangkan apakah Terdakwa dapat dinyatakan telah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam proses pengadilan dari keterangan saksi-saksi maupun terdakwa sendiri dan beberapa barang bukti maka sampailah kepada pembuktian mengenai unsur-unsur tindak pidana yang menjadi pertimbangan hakim dalam membuat putusan, yang didakwakan yaitu Pasal 27 Ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (1) UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ATAU kedua Pasal 311 ayat (1) KUHP.

Oleh karena dakwaan Jaksa Penuntut Umum bersifat alternatif maka Majelis Hakim akan langsung mempertimbangkan pada dakwaan yang menurut pendapat Majelis Hakim terbukti di persidangan yaitu Dakwaan kesatu yang unsur-unsurnya sebagai berikut :

1. Unsur setiap orang;

2. Unsur dengan sengaja atau unsur tanpa hak;

(29)

24

3. Unsur mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik.

6. Putusan Hakim

Amar dalam putusan Hakim dalam kasus ini adalah sebagai berikut : M E N G A D I L I :

1) Menyatakan Terdakwa LECO MABA Alias LECO Alias ECON telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Dengan sengaja dan tanpa hak membuat dapat diaksesnya informasi elektronik yang memiliki muatan pencemaran nama baik”;

2) Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan;

3) Menyatakan bahwa pidana tersebut tidak usah dijalankan, kecuali jika dikemudian hari dalam putusan hakim diperintahkan lain, yaitu karena ia terdakwa dipersalahkan melakukan suatu tindak pidana sebelum berakhir masa percobaan selama 1 (satu) tahun;

4) Memerintahkan agar barang bukti berupa :

- 1 (satu) buah HP merk Nokia 2220 S warna Silver dikembalikan kepada terdakwa;

- 1 (satu) buah HP merk Nokia 5610 warna mera milik Tejo Trisnomo dikembalikan kepada Tejo

5) Membebani Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 1000 – (seribu rupiah).

B. Analisis Putusan NO.45/PID.B/2012/PN.MSH

Kasus yang dianalisis di dalam skripsi ini yaitu tindak pidana pencemaran nama baik, oleh TERDAKWA LECO MABA Alias LECO Alias ECON yang telah melakukan perbuatan dengan sengaja dan tanpa hak membuat dapat diaksesnya informasi elektronik yang memiliki muatan pencemaran nama baik.

Terkait dengan pertanggungjawaban TERDAKWA Pencemaran nama baik dalam Putusan Nomor 45/PID.B/2012/PN.MSH yang dianalisis dalam judul ini, maka mengenai hal ini terlebih dahulu akan menganalisa identitas terdakwa yang sudah dipaparkan sebelumnya. Berdasarkan informasi tersebut, dapat

(30)

25

diambil kesimpulan bahwa terdakwa tidak tahu mengapa sampai saksi korban mengambil kotak amal tersebut. Hal ini dapat dibuktikan melalui keterangan para saksi dan barang bukti berupa 1 (satu) buah Hp Merek Nokia 2220 S Warna Silver dikembalikan kepada Terdakwa dan barang bukti berupa 1 (satu) buah Hp Merek Nokia 5610 warna Merah milik Tejo Trisnomo.

Pertanggungjawaban pidana terhadap pencemaran nama baik diatur dalam Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (1) UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 310 KUHP. Maka dari itu, dalam kasus yang dianalisis di dalam kasus ini ditemukan fakta bahwa terdakwa pada hari Jumat tanggal 22 Oktober 2010 sekitar pukul 14.00 WIT dengan sengaja atau tanpa hak mendistribusikan dan atau menttransmisikan dan atau membuat dapat diakseskan informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik, dari Perbuatan mana dilakukan Terdakwa di temukan barang bukti.

3. Analisis Yuridis terhadap Putusan Hakim Nomor 45/Pid.B/2012/PN.MSH

Putusan Pengadilan merupakan pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hukum serta menurut cara yang diatur.

Menurut analisis dan peraturan perundang-undangan yang ada, substansi dan isi dari putusan terdakwa LECO MABA Alias LECO Alias ECON Nomor 45/PID.B/2012/PN.MSH sudah sesuai dengan kaidah dan struktur putusan pada umumnya. Pada putusan ini hakim juga mempertimbangkan keadaan yang memberatkan dan meringankan kepada terdakwa. Hakim sudah mempertimbangkan agar tujuan pidana bukanlah semata-mata untuk menderitakan (menistai) Terdakwa, tetapi lebih sebagai upaya edukatif agar dikemudian hari Terdakwa dapat memperbaiki perilakunya, menurut iman dan kepercayaannya seturut dengan kehendak Undang - Undang dan ketertiban masyarakat pada umumnya, dan disamping itu tentunya juga harus memperhatikan perasaan keadilan masyarakat terutama korban, sehingga keseimbangan dan tertib masyarakat dapat dipelihara. Ada beberapa alasan penulis setuju dengan putusan hakim tersebut, yang dimana akan diuraikan sebagai berikut:

(31)

26

a. Hakim telah mempertimbangakan dengan seksama tujuan pidana bukanlah semata-mata untuk menderitakan (menistai) Terdakwa, tetapi lebih sebagai upaya edukatif agar dikemudian hari agar Terdakwa dapat memperbaiki perilakunya, menurut iman dan kepercayaannya seturut dengan kehendak Undang - Undang dan ketertiban masyarakat pada umumnya, dan disamping itu tentunya juga harus memperhatikan perasaan keadilan masyarakat terutama korban, sehingga keseimbangan dan tertib masyarakat dapat dipelihara.

b. Tindakan terdakwa yang melakukan pencemaran nama baik yang di putuskan selama 6 (enam) bulan dikarenakan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan bahwa ternyata kesalahan Terdakwa sendiri disebabkan karena adanya salah paham dengan sang korban dan atas pertimbangan dari hakim yang memutuskan 2 (dua) bulan dibawah tuntutan jaksa penuntut umum merupakan hal yang wajar dan mempertimbangkan banyak aspek bermasyarkat guna memberikan edukasi pada terdakwa dan masyarakat tentang penggunaan elektronik untuk digunakan demi tujuan yang lebih positif.

Jadi kesimpulan yang dapat diambil dari Putusan Nomor 45/PID.B/2012/PN.MSH yaitu sudah tepat dalam hal substansi dan isi dari putusan tersebut. Dalam hal ini setelah dilakukan analisis secara yuridis ditemukan fakta bahwa hakim telah mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan memberatkan terdakwa pencemaran nama baik dan juga mempertimbangkan efek lingkungan terdakwa serta efeknya hasil putusan bagi masyarakat.

(32)

27 BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hal-hal yang sudah dibahas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pengaturan hukum mengenai Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik diatur di dalam KUHP dan di luar KUHP. Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di dalam KUHP terdapat di dalam Pasal 310 sampai dengan Pasal 321 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan pengaturan hukum di luar KUHP diatur dalam beberapa undang-undang khusus yakni UU No.11 tahun 2008 tentang Transaksi dan Informasi Elektronik, UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran dan UU No.40 tahun 1999 tentang Pers.

Kedudukan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia yaitu bersifat umum seperti dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana dan khusus yang dimana secara detail dan rinci diatur di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yaitu salah satunya adalah Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

2. a) Analisis yuridis terhadap pertimbangan putusan hakim No.45/Pid.B/2012/PN.MSH .

Analisis yuridis terhadap pertimbangan putusan hakim No.45/Pid.B/2012/PN.MSH dalam perkara tindak pidana pencemaran nama baik melalui media elektronik sesuai dengan Undang-undang No.11 tahun 2008, pada umumnya telah mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan memberatkan terdakwa tindak pidana pencemaran nama baik dan juga sudah mempertimbangkan tujuan pidana bukanlah semata- mata untuk menderitakan terdakwa tetapi sebagai upaya edukatif agar dikemudian hari

terdakwa dapat memperbaiki perilakunya menurut iman dan kepercayaan seturut dengan kehendak undang-undang dan ketertiban masyarakat pada umumnya sehingga keseimbangan dan tertib masyarakat dapat dipelihara melalui putusan hakim. Dalam putusan Hakim, terdakwa dipidana 6 bulan penjara namun pidana tersebut tidak perlu dijalankan. Hakim dalam putusan ini menggunakan teori pemidanaan Detterence (Pencegahan) dimana dalam menangani perkara tindak pidana pencemaran nama baik

(33)

28

untuk mencegah perbuatan terdakwa tidak terulang kembali, serta berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan ternyata kesalahan terdakwa sendiri disebabkan karena adanya salah paham dengan saksi korban. Penulis berpendapat bahwa putusan ini telah memenuhi rasa keadilan masyarkat, terutama keluarga saksi korban maupun terdakwa dimana hakim selalu mencari dan menemukan pemecahan permasalahan tindak pidana pencemaran nama baik. Pada putusan, ancaman pidana terhadap terdakwa selama 8 (delapan) bulan oleh jaksa penuntut umum namun pada putusan hakim menjatuhkan pidana penjara selama 6 (enam) bulan penjara. Penulis sependapat dengan putusan hakim dimana hakim mempertimbangkan status terdakwa yang merupakan Pegawai Negeri Sipil, tulang punggung keluarga satu-satunya serta pertimbangan- pertimbangan hakim lainnya terutama putusan pengadilan lebih sebagai upaya edukatif agar dikemudian hari terdakwa dapat memperbaiki perilakunya.

b) Analisis yuridis terhadap pertimbangan putusan hakim No.187/Pid.Sus/2017/PN.Gto .

Dalam perkara tindak pidana pencemaran nama baik melalui media elektronik sesuai dengan Undang-undang No.19 tahun 2016, pada umumnya telah mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan memberatkan terdakwa tindak pidana pencemaran nama baik tetapi dalam penjatuhan sanksi pidana putusan hakim kuranng efektif baik itu unuk memberikan upaya edukasi maupun memberikan efek jera terhadap terdakwa maupun masyarakat.. Dalam putusan Hakim, terdakwa dipidana 2 bulan penjara yang sangat jauh di bawah tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Penulis berpendapat bahwa putusan ini kurang efektif dalam memenuhi rasa keadilan masyarkat dan juga sebagai upaya edukatif. Pada putusan, ancaman pidana terhadap terdakwa selama 2 (dua) tahun oleh jaksa penuntut umum namun pada putusan hakim menjatuhkan pidana penjara selama 2 (dua) bulan penjara. Penulis tidak sependapat dengan putusan hakim dimana hakim tidak memikirkan untuk memberikan efek jera yang lebih terasa dan lebih dapat menjadi suatu ingatan bagi masyarakat atau terdakwa agar tidak melakukan tindak pidana pencemaran nama baik dan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik lebih bermanfaat walaupun mempertimbangkan status terdakwa yang

Referensi

Dokumen terkait

Siagiaan (2005:102) menjelaskan lebih lanjut bahwa jika proses rekrutmen ditempuh dengan tepat dan baik, hasilnya adalah sekelompok orang yang kemudian diseleksi

30 Inhibitor senyawa organik umumnya adalah jenis inhibitor teradsorbsi yaitu inhibitor yang menurunkan laju korosi dengan mengisolasi permukaan logam dari lingkungan yang

Kegiatan Estimasi Stok Karbon akibat Perubahan Luas Penutupan Lahan di Kawasan Penambangan Terkait dengan Skema REDD (Reduced Emission from Deforestation and Forest

Sumber : Hamermesh dan Rees, (1987) Mereka menyimpulkan bahwa individu dengan pendidikan yang lebih tinggi awalnya mempunyai pendapatan yang lebih rendah dari pada

Simpulan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe paired storytelling lebih efektif digunakan untuk meningkatkan keterampilan menyimak cerita

Secara umum teknik perbankan pada pembiayaan iB istishna di BPRS Suriyah KC Kudus yaitu jika pembeli dalam akad istisna tidak mewajibkan bank untuk membuat sendiri barang

Fungsi pengecatan adalah untuk melindungi besi kontak dengan air dan udara. Cat yang mengandung timbal dan seng akan lebih melindungi besi terhadap korosi. Pengecatan harus

Ruang lingkup permasalahan pada pada penelitian ini adalah desain backfilling yang dibuat sesuai dengan jumlah overburden yang masih harus dikupas serta dengan