• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAHAN KABUPATEN EMPAT LA WANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMERINTAHAN KABUPATEN EMPAT LA WANG"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

EMPAT LAWANG

PEMERINTAHAN KABUPATEN EMPAT LA WANG

Menirnbang

PERA TURAN DAERAH KABUPATEN EMP AT LAW ANG NOMOR 12 TAHUN 2008

TENTANG

PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN "C"

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI EMAT LAWANG,

a. bahwa dengan telah diterbitkannya Undang-Undang Nornor 1 Tahun 2007 tentang Pernbentukan Kabupaten Ernpat lawang di Provinsi Surnatera Selatan, maka perlu diterbitkan Peraturan Daerah untuk pelayanan pada masyarakat;

b. bahwa berdasarkan pasal 2 ayat (2) huruf e Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan "C" merupakanjenis Pajak Daerah Kabupaten;

c. bahwa untuk melaksanakan maksud pada huruf a clan b di atas perlu di atur clan di tetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Empat Lawang.

Mengingat 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang :basar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3684);

3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685);

4. Undang-Undang Nomor 19 tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686);

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lernbaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nombr 4844);

6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nornor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);

7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupat~n Ernpat Lawang di Provinsi Sumatera Selatan (Lernbaran Negara Repubhk Indonesia Tahun 2007 Nomor 4677);

8. Peraturan Pemerintah Nornor 19 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 54; tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 3694);

(2)

9. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 170 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah;

10. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 173 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata cara pemeriksaan di Bidang Pajak Daerah Pemungutan Pajak Daerah;

Dengan Persetujuan Bersama

DEW AN PERW AKILAN RAKYAT DAERAH KABUP ATEN EMP AT LAW ANG dan

BUPATI EMPAT LAWANG MEMUTUSKAN

Menetaokan PERATURAN DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG TENTANG PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN "C"

BABI

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Kabupaten adalah Kabupaten Empat Lawang;

2. Pemerintah Kabupaten adalah Pemerintah Kabupaten Empat Lawang;

3. Bupati adalah Bupati Empat Lawang;

4. Sekretaris daerah adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Empat Lawang;

5. Dinas Pertambangan dan Energi adalah Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Empat Lawang;

6. Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan "C" yang selanjutnya disebut Pajak adalah pungutan daerah atas pengambilan dan pengolahan Bahan Galian Golongan "C";

7. Bahan Galian Golongan "C" adalah Bahan Galian Golongan "C" sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

8. Eksploitasi Bahan Galian Golongan "C" adalah Pengambilan Bahan Galian Golongan "C" dari Sumber Alam di dalam dan atau Permukaan Bumi untuk dimanfaatkan;

9. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah Surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terhutang menurut Peraturan Perundang-undangan Perpajakan Daerah;

2

(3)

10. Surat Setoran Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SSPD adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran Pajak yang terhutang ke kas Daerah atau tern pat lain yang ditetapkan oleh Kepala Daerah;

11. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah Surat Keputusan yang Menentukan besarnya pajak yang terhutang;

12. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya disingkat SPDKB adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah Pajak yang terhutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi, jumlah pajak yang telah ditetapkan;

13. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SPDKBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan;

14. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak telah bebas dari pajak terhutang atau tidak seharusnya terhutang;

15. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil yang selanjutnya disebut SKPDN adalah Surat Keputusan yang menentukan Jumlah Pajak yang terhutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak, atau pajak tidak terhutang dan tidak ada kredit pajak;

16. Surat Tagihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat STPD adalah Surat untuk melakukan Tagihan Pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau benda.

BAB II

NAMA, OBJEK DAN SUBJEK PAJAK Pasal 2

1. Dengan nama pajak pengambilan bahan galian golongan "C" di pungut pajak atas kegiatan eksploitasi bahan galian golongan "C";

2. Obyek pajak adalah kegiatan eksploitasi bahan galian golongan "C";

3. Bahan Galian Golongan "C" sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:

a. As bes; h. Dolonit;

b. Batu tulis; 1. Feldspar;

c. Batu setengah J. Dalam Batu

Permata; (Halitae);

d. Batu Kapur; k. Grafit;

e. Batu Apung; 1. Granit;

f. Batu Permata; m. Gips;

g. Bento nit; n. Kalsit;

0. Kaolin; z. Posfat;

p. Leusit; aa. Talk;

q. Magnesit; ab. Tanah Serap

r. Mika; (Fullers earth);

s. Marmer; ac. Tanah Diatome;

t. Nitrat; ad. Tanah Liat;

(4)

u. Opsidien; ae. Tawas (Alum);

af. Tras;

v. Oker;

w. Pasir dan Kerikir; ag. Y arosif;

ah. Zeolit;

x. Pasir Kuarsa;

y. Perlit;

Pasal 3

(1) Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang mengeksploitasi atau mengambil bahan galian golongan "C";

(2) Wajib Pajak adalah Orang Pribadi atau Badan yang menyelenggarakan eksploitasi bahan galian golongan "C".

BAB III

DASAR PENGENAAN TARIF PAJAK Pasal 4

( 1) Dasar Pengenaan Pajak adalah nilai jual hasil eksploitasi bahan galian golongan "C";

(2) Nilai Jual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan mengalikan volume/tonase hasil eksploitasi dengan nilai pasar atau harga standar masing- masing jenis bahan galian golongan "C";

(3) Nilai pasar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pada masing-masing jenis bahan galian golongan "C" ditetapkan secara priodik oleh Bupati sesuai dengan rata-rata yang berlaku dilokasi setempat;

(4) Harga standar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh instansi yang berwenang dalam bidang penambangan bahan galian golongan "C".

Pasal 5

Dikecualikan dari obyek pajak adalah kegiatan pengambilan bahan galian golongan " C" yang nyata - nyata tidak dimaksudkan untuk mengambil bahan galian golongan "C" tersebut dan tidak dimanfaatkan secara ekonomis.

Pasal 6

Besar tarif pajak ditetapkan sebesar 20 % ( dua puluh persen).

BAB IV

WILAYAH PEMUNGUTAN DAN CARA PERHITUNGAN PAJAK

Pasal 7

(1) Pajak yang terhutang dipungut di wilayah daerah Kabupaten Empat Lawang;

(2) Besamya pajak yang terhutang dihitung dengan cara mengalihkan tarif pajak sebagaimana di maksud dalam pasal 6 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 4.

(5)

BABV

MASA PAJAK, SAAT PAJAK TERHUTANG DAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH

Pasal 8

Masa pajak adalahjangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan takwin.

Pasal 9

Pajak terhutang dalam masa pajak terjadi pada saat kegiatan eksploitasi bahan galian golongan "C" dilakukan.

Pasal 10 (1) Setiap wajib pajak wajib mengisi SPTPD;

(2) SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta di tandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya;

(3) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini harus disampaikan kapada Kepala Daerah selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berlakunya masapajak;

( 4) Bentuk, isi dan tata cara pengisian dan penyampaian SPTPD ditetapkan oleh Kepala Daerah.

BAB VI

TATA CARA PERHITUNGAN DAN PENETAPAN PAJAK

Pasal 11

(1) Berdasarkan SPTPD sebagaiman dimaksud pada pasal 10 ayat (1) Bupati Menetapkan Pajak Terhutang dengan menerbitkan SKPD;

(2) Apabila SKPD sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% ( dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan SPTPD.

Pasal 12

(1) Wajib Pajak yang membayar sendiri, STPD sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) digunakan untuk menghitung, memperhitungkan dan menetapkan sendiri pajak yang terhutang;

(2) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terhutangnya pajak, Kepala Daerah dapat menerbitkan :

a. SKPDKB;

b. SKPDKBT;

c. SKPDN.

(6)

(3) SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diterbitkan:

a. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terhutang tidak atau kurang dibayar dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2% ( dua persen) sebelum dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak terhutangnya pajak;

b. Apabila STPD tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telah ditegur secara tertulis, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 ( dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terhutangnya pajak;

c. Apabila kewajiban melunasi STPD tidak dipenuhi, pajak yang terhutang dihitung secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25% ( dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga 2% ( dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terhutangnya pajak.

(4) SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terhutang, akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% ( seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut;

(5) SKPDN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c diterbitkan apabila jumlah pajak yang terhutang sama besarnya dengan jumlah pajak atau pajak tidak terhutang dan tidak ada kredit pajak;

(6) Apabila kewajiban membayar pajak terhutang dalam SKPDKB dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan b tidak atau tidak sepenuhnya dibayar dalam jangka waktu yang telah ditentukan ditagih dengan menerbitkan STPD ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 2%

( dua persen) sebulan;

(7) Penambahan jumlah pajak yang terhutang sebagaimana dimaksud ayat (4) tidak dikenakan apabila wajib pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan.

BAB VII

TATACARAPEMBAYARAN Pasal 13

(1) Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah sesuai waktu yang ditentukan dalam SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD;

(2) Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk, hasil penerimaan pajak harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam;

(3) Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan menggunakan SSPD.

6

(7)

Pasal 14

(1) Pembayaran Pajak harus dilakukan sekaligus atau lunas;

(2) Kepala Daerah harus memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mangansur pajak terhutang dalam kurun waktu tertentu setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan;

(3) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga sebesar 2% ( dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar;

( 4) Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga 2% ( dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar;

(5) Persyaratan untuk dapat mengangsur dan menunda pembayaran serta tata cara pembayaran angsuran dan penundaan sebagaimana dimaksud ayat (2) dan ayat

(4) ditetapkan oleh Kepala Daerah. ·

Pasal 15

(1) Setiap pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 diberikan bukti pembayaran dan dapat dicatat dalam buku penerimaan;

(2) Bentuk, jenis isi, ukuran tanda bukti pembayaran dan buku penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh kepala daerah.

BAB VIII

TATA CARA PENAGIHAN PAJAK Pasal 16

( 1) Surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran;

(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis, wajib pajak harus melunasi yang terhutang;

(3) Surat teguran, surat peringatan atau surat lain yang seJems sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh pejabat.

Pasal 17

(1) Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam surat peringatan atau surat lain yang sejenis, jumlah pajak yang harus dibayar ditagih dengan surat paksa;

(2) Pejabat menerbitkan Surat Paksa segera setelah lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis.

(8)

Pasal 18

Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalarn jangka waktu 2 x 24 jam sesudah tanggal pernberitahuan surat paksa, pejabat segera rnenerbitkan surat perintah rnelaksanakan penyitaan.

Pasal 19

Setelah dilakukan penyitaan dan Wajib Pajak belurn juga rnelunasi hutang pajaknya, setelah lewatnya 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan surat perintah rnelaksanakan penyitaan, pejabat rnengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan pada kantor Lelang Negara.

Pasal 20

Setelah kantor Lelang Negara rnenetapkan hari, tanggal, jam dan ternpat pelaksanaan lelang, juru sita rnernberitahukan dengan segera secara tertulis pada wajib pajak.

Pasal 21

Bentuk, jenis dan isi formulir yang digunakan untuk pelaksanaan penagihan Pajak Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah.

BAB IX

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN PAJAK Pasal 22

(1) Kepala daerah berdasarkan permohonan wajib pajak dapat rnernberikan pengurangan, keringanan dan pernbebasan pajak;

(2) Tata cara pernberian pengurangan, keringanan dan pernbebasan pajak sebagairnana dirnaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh kepala daerah.

BABX

TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN DAN PENGHABUSAN ATAU PENGURANGAN SAKSI

ADMINISTRASI Pasal 23

(1) Kepala daerah karenajabatan atau atas permohonan wajib pajak dapat:

a. Pernbetulan SKPD atau SKPDKB atau SKPDKBT atau STPD yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung dan atau· kekeliruan dalarn penerapan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah;

b. Mernbatalkan atau rnengurangkan ketetapan pajak yang tidak benar;

c. Mengurangkan atau rnenghapus sanksi adrninistrasi berupa bunga, denda dan kenakan paj ak yang terutang dalarn hal sanksi terse but dikenakan karena kehilangan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya.

(2) Pernohonan pernbetulan, pernbatalan, pengurangan dan penghapusan atau pengurangan sanksi adrninistrasi atas SKPD atau SKPDKB atau SKPDKBT

8

(9)

atau STPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan secara tertulis oleg Wajib Pajak kepada Kepala Daerah atau pejabat selambat- lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal terima SKPD atau SKPDKB atau SKPDKBT atau STPD dengan memberikan alasan yangjelas;

(3) Kepala daerah atau pejabat paling lama 3 (tiga) bulan sejak surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah harus memberikan keputusan;

(4) Apabila setelah lewat 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Bupati atau Pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan pengapusan dan atau pengurangan sanksi administrasi dianggap dikabulkan.

BAB XI

KEBERA TAN DAN BANDING Pasal 24

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau Pe_iabat atas suatu:

a. SKPD b. SKPDKB c. SKPDKBT d. SKPDLB e. SKPDN

(2) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan secara tertulis dalam bahsa Indonesia paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, dan SKPDN diterima oleh Wajib Pajak kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaan;

(3) Bupati atau Pejabat dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah memberikan keputusan;

(4) Pabila setelah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaiamana dimaksud pada ayat (3) Kepala Daerah atau Pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan keberatan dianggap dikabulakan;

(5) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksudkan ayat (1) tidak menunda kewajiban membayar pajak.

Pasal 25

(1) wajib pajak dapat mengajukan Banding kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak diterimanya keputusan keberatan;

(2) pengajuan Banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menunda kewajiban membayar pajak.

(10)

Pasal 26

Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 atau banding sebagaimana dimaksud pasal 25 dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% ( dua persen) sebelum atau palinh lama 24 (dua puluh empat) bulan.

BAB XII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK Pasal27

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Pajak kepada Kepala Daerah atau Pejabat secara tertulis dengan

menyebutkan sekurang-kurangnya : ·

a. Nama dan alamat Wajib Pajak;

b. Masa Pajak;

c. Besar kelebihan pembayaran Pajak;

d. Alasan yang jelas.

(2) Kepala Daerah atau Pejabat dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan;

(3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampaui Kepala Daerah atau pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan pengembalian kelebihan bayar pajak dianggap dikabulakan dan SKPDLB harus diterbitkan dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan;

(4) Apabila Wajib Pajak mempunyai hutang pajak lainnya, kelebihan pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang pajak dimaksud;

(5) Pemgembalian kelebihan pembayaran Pajak dilakukan dalam waktu paling lama 2 ( dua ) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB, kepala atau pejabat memberikan imbalan bunga sebesar 2 % ( Dua Persen ) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pajak.

Pasal 28

Apabila kelebihan pembayaran pajak diperhitungkan dengan utang pajak lainnya, sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat ( 4) pembayarannya dilakukan dengan cara pemindah bukuan dan bukti pemindah bukuan, juga berlaku sebagai bukti pembayaran.

10

(11)

BAB XIII KADALUWARSA

Pasal 29

(1) Hak untuk rnelakukan penagihan pajak, kadaluwarsa setelah rnelarnpaui jangka waktu setelah 5 (lirna) tahun terhitung sejak terutangnya pajak, kecuali apabila sejak pajak rnelakukan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;

(2) Kadaluwarsa penagihan pajak sebagairnana dirnaksud pada ayat (1) tertangguh apabila :

a. Diterbitkan surat teguran dan surat paksa atau

b. Ada pengakuan utang pajak dari wajib pajak baik langsung rnaupun tidak langsung.

BAB XIV

KETENTUAN PIDANA Pasal 30

(1) Wajib pajak yang karena kealpaannya tidak rnenyarnpaikan SPTPD atau rnengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau rnelarnpirkan keterangan yang tidak benar sehingga rnerugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda paling banyak 2 ( dua) kali jurnlah pajak yang terutang;

(2) Wajib pajak yang dengan sengaja tidak rnenyarnpaikan SPTPD atau rnengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau rnelarnpirkan keterangan yang tidak benar sehingga rnerugikan keuangan daerah dapat di pidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan atau denda paling banyak 4 (ernpat) kalijurnlah pajak yang terutang.

Pasal 31

Tindak pidana sebagairnana dirnaksud pada pasal 29 tidak dituntut setelah rnelarnpaui jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhimya rnasa pajak atau berakhimya bagian tahun pajak atau berakhimya tahun pajak.

BAB XV PENYIDIKAN

Pasal 32

(1) Pejabat pegawai negeri sipil tertentu dilingkungan pernerintah daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk rnelakukan penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah sebagai rnana dirnaksud dalarn Undang- Undang Nornor 8 Tahun 1981 tentang Hukurn Acara Pidana;

(2) Wewenang penyidik sebagai rnana dirnaksud pada ayat (1) adalah:

a. Menerirna, rnencari, rnengurnpulkan dan rneneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daera agar keterangan atau laporan tersebut rnenjadi lengkap danjelas;

(12)

b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan Daerah tersebut;

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang Perpajakan Daerah;

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. Meminta bantuan Tenaga Ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;

g. Menyuruh berhenti, melarang seorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa indentitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana perpajakan daerah;

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

J. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang Perpajakan Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

(3) Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan penyampaian hasil penyidikan kepada penuntut umum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XIV

KETENTUANPENUTUP Pasal 33

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Pasal 34

Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.

12

(13)

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Empat Lawang.

Diundangkan di Tebing Tinggi pada tanggal,

JJ--1.f

~ 2008 Pit. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG,

NADJAMUDDIN ZAHEIR

Ditetapkan di Tebing I

pada tanggal, :l 8

LEMBARAN DAERAH KABUP ATEN EMP AT LA WANG TAHUN 2008 NOMOR \ ~ SERI

(14)

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Empat Lawang.

Diundangkan di Tebing Tinggi pada tanggal,

.2.ft fy

2008

Pit. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG,

NADJAMUDDIN ZAHEIR

LEMBARAN DAERAH KABUP ATEN EMP AT LAW ANG T AHUN 2008 NOMOR

1 ~

13

Referensi

Dokumen terkait

Pengertian sewa terdapat dalam beberapa peraturan yang berhubungan dengan pengelolaan barang milik negara/daerah, diantaranya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27

Berdasarkan seluruh uraian yang telah penulis jelaskan di atas, maka dengan demikian sesuai dengan judul penelitian yang diangkat dalam penelitian ini adalah Pertanggungjawaban

Kredit fiktif merupakan salah satu modus kejahatan perbankan yang melibatkan seseorang dalam melakukan serangkaian tindakan, seperti pemberian kredit yang tidak

Uraian Kategori K D SR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 2 Jumlah kawasan perdesaan yang mengimpleme ntasikan rencana aksi kawasan perdesaan

(Segi empat, segi tiga, lingkaran): bentuk yang terukur, berskala, proporsional dan memiiiki fungsi >Grid-grid struktur yang beraturan : Untuk efisiensi ruang dan

357 Tahun 2004 Tentang Penertiban Hewan/ ternak Peliharaan di Kota Manokwari hingga saat ini belum belum berjalan efektif sehingga melalui evaluasi ini dapat dijadikan

[r]

Namun demikian, bagi UMKM yang berhasil dan berkem- bang seperti Ibu Tatik dan Ibu Ida tentunya perkembangan usaha mereka mampu meningkatkan perekonomian keluarga dan