• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Ajar Fisika Terintegrasi Nilai-nilai Islam, Pendidikan Karakter, dan Kearifan Lokal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bahan Ajar Fisika Terintegrasi Nilai-nilai Islam, Pendidikan Karakter, dan Kearifan Lokal"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

Dindin Nasrudin

Bahan Ajar Fisika Terintegrasi Nilai-nilai Islam, Pendidikan Karakter, dan Kearifan Lokal

Dindin Nasrudin

Seri Pembelajaran Fisika Berbasis Wahyu Memandu Ilmu

2018

(2)

BAHAN AJAR FISIKA

TERINTEGRASI NILAI-NILAI ISLAM, PENDIDIKAN KARAKTER DAN KEARIFAN

LOKAL

Dindin Nasrudin

BANDUNG

2018

(3)

i

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat penyusun buku dengan judul “Bahan Ajar Fisika Terintegrasi Nilai-Nilai Islam, Pendidikan Karakter dan Kearifan Lokal” . Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW dan semua ummatnya.

Buku ini merupakan salah satu output penelitian tahun 2018. Penulis menyadari bahwa penulisan buku masih jauh dari kata semurna bahkan banyak kekurangan di sana sini. Oleh karena itu saran dan kritik yang konstrutif sangat penulis harapkan.

Penyusunan buku ini tidak akan terlaksana tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak. Penulis berharap semoga buku ini dapat bermanfaat untuk banyak pihak, khususnya untuk mahasiswa fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, alumni dan guru fisika.

Bandung, November 2018

Penulis

(4)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR _______________________________ i DAFTAR ISI ___________________________________________ ii DAFTAR TABEL _____________________________________ iv DAFTAR GAMBAR _____________________________________ v BAB I PENDAHULUAN _______________________________ 1 BAB II DISTINGSI UNIVERITAS ISLAM PENGHASIL GURU

FISIKA __________________________________________ 5 A. Distingsi Kurikulum ______________________________ 5 B. Distingsi Pendekatan Pembelajaran __________________ 8 C. Fenomena Pendulum dan Implementasi KKNI _________ 10 BAB III STRATEGI PEMBELAJARAN FISIKA DI MADRASAH _ 13 A. Pembelajaran Fisika di Madrasah ____________________ 13 B. Desain Pembelajaran Fisika Terintegrasi ______________ 15 BAB IV PENGEMBANGAN BAHAN AJAR FISIKA _______ 17 A. Pentingnya Penelitian Pengembangan dalam Dunia Pendidikan 17 B. Pentingnya Bahan Ajar Fisika ___________________ 19 BAB V BAHAN AJAR FISIKA TERINTEGRASI NILAI _______ 22 A. Nilai Islam dalam Bahan Ajar Fisika _________________ 22 B. Penguatan Pendidkikan Karakter Melalui Bahan Ajar Fisika 25 C. Pelestarian Kearifan Lokal Melalui Bahan Ajar Fisika _ 28 BAB VI MODEL-MODEL INTEGRASI ___________________ 31 A. Model Adaftasi _______________________________ 33 B. Model Addisi _______________________________ 34 C. Model Koreksi _______________________________ 35 D. Model Pembiaran _______________________________ 37

(5)

iii BAB VII MODEL INTEGRASI PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN

KEARIFAN LOKAL _______________________________ 40 A. Kearifan Lokal Arsitektur Bangunan di Kampung Naga __ 40 B. Arsitektur Rumah di Kampung Naga ________________ 41 C. Fenomena Fisika dalam Kearifan Lokal Bentuk Bangunan di

Kampung Naga _________________________________ 44

BAB VIII PENGUATAN KARAKTER MELAULUI BAHAN AJAR

FISIKA ______________________________________ 50 A. Definisi Karakter ________________________________ 50 B. Pendidikan Karakter _____________________________ 52 BAB IX PENGGALIAN NILAI DALAM KONTEN FISIKA _____ 55 A. Teori Atom _____________________________________ 55 B. Model-Model Teori Atom __________________________ 56 C. Nilai Islam dalam Teori Atom _______________________ 68 D. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Teori Atom _______ 70 BAB X MENGEMAS PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN MEDIA DIGAITAL _______________________________________________ 77

A. Bagaimana Fisika Dibelajarkan? _______________________ 77 B. Peran Media Digital ________________________________ 78 BAB XI PENUTUP _______________________________________ 80 DAFTAR PUSTAKA _______________________________________ 82

(6)

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 2 Perbedaan Komposisi Kurikulum Tabel 3 Desain Pembelajaran

Tabel 6 Model Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Fisika

Tabel 7.1 Jenis-Jenis Kearifal Lokal pada Arsitektur perumahan di Kampung Naga

Tabel 7.2. Bagian Rumah di Kampung Naga Tabel 9.1 Nilai-Nilai Karakter pada Teori Atom Tabel 9.2. Nilai Praktis pada Teori Atom

Tabel 9.3. Nilai Sosial Politik pada Teori Atom Tabel 9.4 Nilai Pendidikan pada Teori Atom Tabel 9.5 Nilai Religi pada Teori Atom

(7)

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pembelajaran di Fisika Murni dan Fisika Pendidikan Gambar 2.2 Pendekatan Pembelajaran Fisika di Universitas Islam Gambar 2.3 Model Kemungkinan Profil Calon Guru Fisika

Gambar 6 Model-Model Integrasi Pembelajarn Fisika dengan Kearifan Lokal Gambar 7.1. Tipe Pemukiman di Kampung Naga

Gambar 7.2 Bagian-bagian Rumah

Gambar 7.3 Diagram dasar gedung dengan suhu titik keseimbangan

Gambar 7.4. Orentasi Bangunan berdasarkan arah gerak matahari dan angin Gambar 9.1 Sebuah penny tembaga (awal tahun1982) mengandung sekitar

3×1022 atom tembaga yang masing-masing memiliki sifat kimia yang sama.

Gambar 9.2 Atom akan selalu bergabung dalam rasio bilangan bulat yang sederhana.

Gambar 9.3. Ketika unsur-unsur tembaga (padatan mengkilap, merah-coklat, ditampilkan di sini sebagai bulatan coklat) dan oksigen (gas yang jernih dan tidak berwarna, yang ditunjukkan di sini sebagai bulatan merah) bereaksi, atom-atom mereka menyusun ulang untuk membentuk senyawa yang mengandung tembaga dan oksigen (bubuk hitam solid).

Gambar 9.4 Diagram J.J. Tabung sinar katoda Thomson. Sinar berasal dari katoda dan melewati celah di anoda. Sinar katoda dibelokkan jauh dari pelat listrik bermuatan negatif, dan menuju pelat listrik yang bermuatan

(8)

vi positif. Jumlah dimana sinar dibelokkan oleh medan magnet membantu Thomson menentukan rasio massa-ke-muatan partikel Gambar 9.5. Atom berbentuk bola padat dengan muatan-muatan listrik positif

tersebar merata diseluruh bagian bola, muatan positif ini dinetralkan oleh elektron-elektron bermuatan negatif yang melekat pada bola seragam bermuatan positif tersebut seperti kismis yang melekat pada sebuah kue.

Gambar 9.6 Teknik Rutherford

Gambar 9.7. Perbandingan sudut pandang Thomson dan Rutherford tentang atom

Gambar 9.8. Model atom Rutherford Gambar 9.9 Skema Percobaan Hertz

(9)

1

BAB I

PENDAHULUAN

§

Salah satu tujuan pembelajaran Fisika di Sekolah Menengah Atas (SMA)/

Madrasah Aliyah (MA) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan menguasai konsep dan prinsip fisika serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan dan sikap percaya diri sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Depdiknas: 2006). Melalui perubahan kurikulum Tahun 2016, tujuan itu diuraikan dalam empat kompetensi inti yang harus dimiliki oleh peserta didik yakni kompetensi spiritual (KI 1), kompetensi sosial (KI 2), kompetensi pengetahuan (KI 3) dan kompetensi psikomotorik (KI 4).

Analisis dokumen lampiran permendikbud No.24 tahun 2014 tenang KI dan KD dapat dijelaskan bahwa rumusan KI 1 mengarahkan peserta didik untuk lebih mengenali penciptanya (hablun min Allah), KI 2 mengarahkan peserta didik untuk berhubungan baik dengan sesama (hablun min an-nas), KI 3 mengarahkan peserta didik untuk menguasai pengetahuan tentang fisika yang lebih komprehensif serta KI 4 yang mengarahkan peserta didik untuk mengaplikasikan

(10)

2 pengetahuan yang dimilikinya dalam aktivitas praktis dalam kehidupan sehari- hari.

Untuk mencapai tujuan dan kompetensi di atas, guru sebagai ujung tombak pembelajaran fisika di kelas dituntut harus mampu membawakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Upaya guru harus nampak dalam rencana pelaksanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Untuk menunjang keberhasilan pembelajaran fisika, guru diharuskan memiliki wawasan dan pengalamaan dalam memilih dan menggunakan model, pendekatan, strategi dan bahan ajar yang tepat.

Bahan ajar memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Belawati, dkk (2003) mengurai peranan bahan ajar baik bagi guru dan peserta didik. Bagi guru, adanya bahan ajar akan menghemat dalam penggunaan waktu belajar, mengubah peran guru dari pengajar menjadi fasilitator pembelajaran dan membuat pembelajaran lebih efektif dan interaktif. Bagi peserta didik, bahan ajar akan meningkatkan fleksibiitas dalam belajar karena mereka dapat belajar tanpa kehadiran guru sehingga mereka lebih mandiri, dapat belajar kapan saja dan dimana saja yang ia dikehendaki, dapat belajar sesuai dengan kecepatan sendiri dan dapat memilih urutan belajar yang dipilihnya sendiri.

Fleksibilitas bahan ajar nampak pula dalam lingkungan belajar. Bahan ajar dapat dibawakan dalam pembelajaran klasikal, individual maupun kelompok.

(11)

3 Seiring perkembangan zaman dan tuntutan kurikulum, bahan ajar fisika terus mangalami perkembangan. Bila dulu bahan ajar fisika masih didominasi oleh bahan ajar cetak, maka sekarang kita akan menemukan bahan ajar non cetak.

Konten dan pendekatan pun bervariasi bergantung pada tujuan utama pembelajaran. Pengembahan bahan ajar fisika yang berorientasi pada pemecahan masalah dilakukan oleh Chotimah dkk (2013), berorientasi kemampuan berkomunikasi ilmiah oleh Kurniawan (2014), berorientasi inkuiri oleh Tampubolon dkk (2015) dan Sirait dkk (2016). Buku terakhir bahan ajar fisika diarahkan pada literasi sains (Nugraha dkk, 2017), dan Nature of Science (Wesnawati dkk, 2017). Semua pengembangan bahan ajar yang telah dikemukakan di atas masih berfokus pada penguasaan konsep fisika semata.

Pembelajaran fisika di Madrasah Aliyah seharusnya memiliki distingsi bila dibandingkan dengan pembelajaran fisika di sekolah pada umumnya. Distingsi itu harus nampak pada penguatan nilai keislaman. Tak terkecuali bahan ajar yang dibawakan. Selain orientasi penguasaan konsep, seyogyanya bahan ajar fisika di MA harus diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam. Walaupun konsep integrasi itu masih diperdebatkan banyak kalangan, akan tetapi bukan berarti tidak dapat dilakukan.

Selain nilai-nilai Islam, faktor lain yang dianggap penting yang harus dilibatkan dalam pengembangan bahan ajar adalah penanaman nilai karakter.

Apalagi dengan adanya amanat Perpres N0.87 tahun 2017 tentang pentingnya

(12)

4 penguatan pendidikan karakter. Karakter nasional bangsa Indonesia yang sedang digalakkan dan harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam semua bagian pembelajaran adalah nasionalisme, religius, integritas, gotong royong dan kemandirian. Buku tentang upaya integrasi karakter dalam bahan ajar fisika sudah dirintis oleh Larasati dan Yulianti (2014).

Selain karakter nasional itu, aspek lain yang harus diangkat dalam pembelajaran adalah pelestarian budaya lokal yang disarikan dari kearifan lokal masyarakat setempat. Contohnya di masyarakat Jawa Barat ada beberapa falsafah hidup yang harus dimiliki, dihayati dan dikembangkan yakni filosofi silih asah, silih asih, silih asuh dan silih wawangi. Nilai-nilai luhur ini perlu diangkat kembali dalam pembelajaran termasuk dalam pembelajaran fisika. Pertanyaan bagaimana cara mengintegrasikan nilai-nilai Islam, pendidikan karakter dan kearifan lokal itu dalam bahan ajar fisika menjadi latar belakang penulisan buku ini.

(13)

5

BAB II

DISTINGSI UNIVERSITAS ISLAM PENGHASIL GURU FISIKA

§

A. Distingsi Kurikulum

Distingsi bagi sebuah universitas adalah sebuah keniscayaan. Melalui distingsi itu, univeritas yang satu dapat dibedakan dengan yang lainnya, baik dalam program, kekhasan maupun keunggulan. Di kampus-kampus besar di dunia, distingsi sudah sangat melekat dan mudah diidentifikasi. Dalam konteks univeristas Islam di Indonesia, sebuah distingsi masih harus dibangun dan dipromosikan. Salah satu diantaranya adalah tag line integrasi keilmuan, ilmu umum dan ilmu agama (Islam). Tidak aneh jika banyak kajian, penelitian dan ulasan tentang model integrasi keilmuan di universitas Islam di Indonesia. UIN Malang mempromosikan model “pohon ilmunya”, UIN Yogyakarta mempromosikan model “jaring laba-laba”nya dan UIN Bandung mempromosikan model “rodanya” atau lebih dikenal dengan tag line “Wahyu Memandu Ilmu” (Irawan, tt)

Adanya model integrasi keilmuan di Universitas Islam di Indonesia sesungguhnya sedang memperlihatkan distingsi universitas sehingga customer

(14)

6 pendidikan disajikan pilihan alternatif dalam memilih sebuah universitas. Terlebih bagi perguruan tinggi berbasis agama, perguruan tinggi memang berdampak pada keyakinan agama mahasiswanya (Lee, 2002). Mengingat pentingnya agama dalam kehidupan begitu banyak mahasiswa, sudah saatnya bagi lembaga untuk mempertimbangkan dan mengambil tanggung jawab itu, salah satunya melalui integrasi keilmuan.

Walaupun distingsi adalah sebuah kebutuhan, standar perguruan tinggi tetap tidak dapat diabaikan. Quality ia always number one. Kualitas diukur dalam hal pemenuhan standar perguruan tinggi (Quality in fact) atau diukur melalui kepuasan pelanggan (quality in perception) (Sallis, 2014). Menciptakan kampus yang berkualitas dimulai dari penentuan visi yang kuat yang dijiwai dan dilaksanakan oleh semua sivitas, mulai dari pimpinan sampai staf dan pegawai di level terendah.

Ada kesadaran dari semua pihak bahwa “Quality is everybody business” (Gebhardt, 2017).

Kualitas minimal yang harus dimiliki oleh setiap kampus di Indonesia adalah pemenuhan standar perguran tinggi yang diakreditasi oleh BAN PT, dari mulai akreditasi universitas, fakultas hingga program studi, termasuk pendidikan fisika di Universitas Islam. Salah satu isi dari standar nasional itu adalah pemenuhan kurikulum. Melalui terbitnya perpres No.8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), maka kurikulum pendidikan

(15)

7 sains di Universitas Islam harus direvisi dan disesuaikan dengan KKNI tanpa mengurangi visi dan distingsi universitas.

Tabel 2.1 di bawah ini memperlihatkan beberapa perbedaan komposisi kurikulum fisika murni di universitas umum, program studi pendidikan fisika di univeristas umum dan program studi pendidikan fisika di univeritas Islam.

Tabel 2 Perbedaan Komposisi Kurikulum

Fisika Murni Pendidikan Fisika di PTU Pendidikan Fisika di PT Islam

 Pengetahuan Konten (fisika)

 Pengetahuan konten (fisika)

 Pengetahuan pedagogik (Kurikulum dan Pembelajaran, Strategi pembelajaran, asesmen dan evaluasi, psikologi pendidikan,

perkembangan peserta didik dll)

 Pengetahuan konten (fisika)

 Pengetahuan pedagogik

 (Kurikulum dan Pembelajaran, Strategi pembelajaran, asesmen dan evaluasi, psikologi

pendidikan, perkembangan peserta didik dll)

 Pengetahuan Islam (aqidah akhlak, al-Quran, al- Hadits, Fiqh, Bahasa Arab dll.)

Fisika murni yang diselenggarakan oleh universitas umum diproyeksikan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang ilmu murni dengan gelar SSi. Komposisi mata kuliah didominasi oleh materi konten fisika seperti fisika dasar, mekanika, listrik dan magnet, termodinamika, fisika statistik, gelombang dan optik, fisika modern, fisika kuantum, fisika inti dan mata kuliah lanjutan yang lainnya sesuai dengan konsentrasi yang diambil.

(16)

8 Pendidikan fisika di univeritas umum diproyeksikan untuk menjadi calon guru dengan gelar S.Pd. Kurikulum lama memastikan bahwa mahasiswa yang telah lulus S1 otomatis dapat menjadi guru karena dibekali dengan akta IV. Dalam peraturan baru, lulusan pendidikan fisika hanya memiliki ijazah S1 tanpa dibekali akta IV. Untuk menjadi guru professional, mereka harus mengambil program PPG walaupun mereka sudah mendapatkan mata kuliah kependidikan (pedagogical knowledge) seperti Kurikulum dan Pembelajaran, Strategi pembelajaran, asesmen dan evaluasi, psikologi pendidikan, perkembangan peserta didik dll.

Berbeda dengan universitas umum, program pendidikan fisika di universitas Islam menambahkan mata kuliah khusus tentang Islamic knowledge seperti mata kuliah tentang aqidah Islam, al-Quran dan al-Hadis, Fiqh, Bahasa Arab dll. Mata kuliah ini dipersiapkan untuk membekali calon guru agar dapat mengintegrasikan pembelajaran fisika dengan nilai agama Islam di sekolah- sekolah Islam (Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah).

B. Distingsi Pendekatan Pembelajaran

Selain perbedaan konten mata kuliah, perbedaan tujuan, clearning outcome dan profil lulusan, perbedaan program studi juga akan nampak pada pemilihan pendekatan pembelajaran. Untuk fisika murni, perkuliahan akan difokuskan agar mahasiswa menguasai konten mata kuliah yang akan membekali keahlian

(17)

9 mahasiswa baik sebagai saintis, peniliti atau ahli. Untuk pendidikan fisika, perkuliahan akan difokuskan pada penguasaan konten dan pedagogi.

Bagi mahasiswa prodi pendidikan fisika, selain mereka harus menguasai pengetahauan konten (content knowledge), meraka juga harus menahami cara mengajarkan konten tersebut pada peserta didiknya (pedagogical knowledge).

Komposisi dua kemampuan itu digabung oleh Shulman (2015) sebagai Pedagogical Konten Knowledge (PCK).

Gambar 2.1 di bawah memperlihatkan perbedaan fokus mata kuliah dan pendekatan pembelajaran yang dibawakan.

(a) (b)

Gambar 2.1 a.Pembelajaran di Fisika Murni; b.Pembelajaran di Fisika Pendidikan

Untuk mahasiswa yang belajar pendidikan fisika di universitas Islam, selain mereka harus menguasai konten dan pedagogi, mereka juga harus menguasai Islamic knowledge yang tersebar di mata kuliah yang cukup banyak.

Secara teori, maka perkuliahan fisika di universitas Islam dan pembelajan fisika di sekolah Islam mestinya menggunakan model pendekatah baru. Kami menyebut

(18)

10 model itu sebagai Islamical, Pedagogical, Content Knowledge (IPCK) yang diperlihatkan di gambar 2.2.

Gambar 2.2. Pendekatan Pembelajaran Fisika di Universitas Islam

C. Fenomena Pendulum dan Implementasi KKNI

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sector. KKNI telah membuat 9 level kualifikasi baik melalaui jalur pendidikan formal maupun melalui jalur pelatihan kerja. Level sarjana S1 atau D-IV dikategorikan pada level 6, sementara guru ditempatkan di level profesional (level 7).

Untuk menjadi guru fisika professional, input lulusan S1 atau D-IV tidak harus berasal dari program studi kependidikan. Akan tetapi, dapat pula diikuti

(19)

11 oleh lulusan program studi fisika murni. Ada beberapa kebijakan yang masih debatable terutama terkait pilihan jenis kurikulum. Selama ini, program studi kependidikan di Indonesia masih menggunakan pendekatan concurrent teacher training, semua mata kuliah kependidikan diberikan berbarengan dengan mata kuliah konten. Ketika mengikuti PPG, dikhawatrikan ada pengulangan materi yang sama, walaupun dapat pula disiasati dari tingkat kedalaman atau jenis tagihannya. Bagi lulusan murni, adanya program PPG dapat dianggap sebagai consecutive teacher training, mereka mendapatkan kuliah kependidikan calon guru profesional setelah mereka menyelesaikan mata kuliah kontennya.

Sebelum adanya KKNI, ada sebagian anggapan bahwa penguasaan subject matter oleh lulusan pendidikan fisika dengan fisika murni adalah berbeda. Jika anggapan ini benar, maka jawabannya adalah wajar sebab di jatah waktu yang sama, mahasiswa di pendidikan fisika harus menguasai dua bidang sekaligus (content and pedagogy) sementara di waktu yang sama, mahasiswa di departemen fisika murni hanya fokus ke konten saja.

Terkait dengan penguasaan konten dan pedagogic, di mahasiswa atau lulusan pendidikan fisika akan ditemukan 3 fenomena terkait kompetensi yang mereka miliki (gambar 3) Kami menyebutnya fenomena pendulum. Ada mahasiswa yang sangat menguasai konten namun lemah dalam bidang pedagogi (pendulum miring ke kanan), ada mahasiswa yang sangat menguasai pedagogi, namun lemah di konten (pendulum miring ke kiri) dan ada mahasiswa yang

(20)

12 kompeten di kedua bidang (pendulum yang seimbang). Namun posisi dan kondisi mahasiswa dan lulusan tidak selalu ada di kondisi yang sama. Seiring dengan waktu dan tuntutan, ke tiga kondisi itu dapat dialami. Pelatihan dan pengembangan diri memiliki peran yang sangat menentukan untuk menentukan profil lulusan.

Gambar 2.3. Model Kemungkin Profil Calon Guru Fisika

Melalui KKNI, masing-masing universitas, departemen dan program studi, baik fisika murni maupun pendidikan fisika harus berbenah dan merevisi kurikulum sesuai KKNI dan tuntutan kerja di lapangan. Peran dan fungsi asosiasi program studi sangat diharapkan untuk menjamin standar minimal untuk capaian pembelajaran di level kualifikasi yang sama.

(21)

13

BAB III

STRATEGI PEMBELAJARAN FISIKA DI MADRASAH

§

A. Pembelajaran Fisika di Madrasah

Pendidikan Islam mulai dikenal di dunia, termasuk di Eropa dan Amerika, bahkan kata Madrasah, nama Islam untuk sekolah menjadi istilah umum yang digunakan di Westerners’vocabulary (Karlsson & Mansory, 2017). Pendidikan Islam di Indonesia memiliki sejarah panjang karena Islam menjadi agama sebagian besar orang-orang di pulau Nusantara sejak abad ketiga belas (Rosyada, 2014). Di Indonesia sendiri, pendidikan Islam mengacu pada pembelajaran di sekolah Islam (madrasah), pembelajaran agama Islam di sekolah umum dan pembelajaran non formal di pesantren (Haidar Putra Daulay, 2014). Pembelajaran di sekolah Islam dengan sekolah umum memiliki beberapa perbedaan, salah satunya jumlah mata pelajaran yang dipelajari dan pendekatan pembelajaran.

Dalam konteks Indonesia, seharusnya ada perbedaan pendekatan pembelajaran fisika di sekolah Islam dengan sekolah umum. Fisika di sekolah Islam seharusnya dirancang untuk menyatukan kembali konsep ilmu yang bersumber dari Tuhan yang sama (Azra, 2017). Di sekolah Islam, fisika dipelajari

(22)

14 dalam rangka meningkatkan keyakinan pada Tuhan dan “seharusnya” fisika sesuai dengan ayat suci yang diyakini. Integrasi Sains-Agama menjadi sebuah jawaban sebagaimana diungkapkan oleh para pemikir Islam terdahulu seperti Nasr (1983) dan Bakr (1999).

Pendidikan Islam tidak hanya dimaksudkan untuk menyampaikan isi kurikulumnya, namun sebenarnya untuk membangun karakter siswa yang baik (Omar & Noh, 2015). Akan tetapi, masih ditemukan ketimpangan antara tujuan dan kenyataan. Bahkan saat ini, ada degradasi moral di kalangan siswa, tak terkecuali di lembaga Islam. Untuk menanggulangi hal itu, presiden bahkan mengeluarkan peraturan presiden melalui program penguatan pendidikan karakter. Penguatan pendidikan karakter adalah tugas bersama, tidak hanya dibebankan pada guru Agama semata melainkan menjadi tugas semua guru mata pelajaran, termasuk fisika (Berkowitz & Me’inda, 2003).

Pembelajaran fisika di madrasah harus dibangun dan ditujukan untuk membangun generasi yang religius (tunduk pada konsep Tuhan), dan memenuhi tugas mereka sebagai pemimpin dunia (Ramdhani, & Muhammadiyah, 2015), saling mencintai dan peduli terhadap lingkungan yang pada gilirannya akan membentuk masyarakat komunal yang beradab (Koizumi, 2017). Oleh karena itu, pembelajaran fisika harus dirancang dan diperkaya dengan nilai agama, karakter sekaligus kontektual dengan kearifan budaya lokal di tempat mereka tinggal.

(23)

15 B. Desain Pembelajaran Fisika Terintegrasi

Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk membelajarkan fisika di madrasah adalah polyculture strategy (Nasrudin, 2018). Tabel 3 di bawah akan memperlihatkan contoh pembelajaran Zat dan Karakteristiknya yang dipadukan dengan nilai Islam, karakter nasional dan kearifan lokal.

Tabel 3 Desain Pembelajaran Langkah-

Langkah

Kegiatan Pembelajaran

Pendahuluan  Guru mengungkap tujuan pembelajaran (sesuai kurikulum)

 Guru memperlihatkan video/simulasi/

demontrasi tiga jenis benda (padat, cair, dan gas) dan siswa mengamatinya

 Guru memfasilitasi peserta didik untuk memberikan pertanyaan terkait fenomena yang terjadi

 Guru mengarahkan siswa pada pembelajaran

Kegiatan Inti  Guru mengajak peserta didik untuk mencoba simulasi/demontrasi yang dicontohkan oleh guru

 Guru meminta peserta didik untuk mengidentifikasi sifat-sifat benda

 Dengan menggunakan metode analogi, siswa diminta untuk mengasosiasikan sifat-sifat benda terhadap karakter manusia (contoh: ikatan antar atom zat padat paling kuat sama dengan siaft integritas pada manusia)

 Guru memberikan contoh kaitan sifat benda dengan nilai-nilai Islam, karakter dan local wisdom

 Guru meminta siswa untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan temuan mereka terkait konsep zat dan karakteristiknya lalu dihubungkan dengan nilai-nilai yang tadi

 Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan hasil pekerjaan mereka di depan kelas, siswa yang lain diminta menambahkan, mengomentari atau menyanggah

(24)

16 Penutup  Guru memberikan kesimpulan dari konsep zat dan

karakteristiknya secara singkat

 Guru memberikan “makna baru” pada teori zat yang telah dipelajari dengan nilai islam, pendidikan karakter dan local wisdom

 Guru meminta siswa melakukan refleksi atas pembelajaran yang sudah dilakukan

Guru fisika bertanggung jawab penuh terhadap semua proses pembelajaran. Dialah yang menentukan mau dibawa kemana arah pembelajaran itu. Guru fisika saat ini dituntut untuk memfasiitasi pembelajaran sains yang lebih bermakna. Sains bukan hanya diarahkan untuk mengusai konsep dan mengaplikasikannya. Tujuan akhir dari fisika adalah agar manusia sadar akan Tuhannya, sayang pada sesama dan menghargai warisan budayanya.

Agar fisika lebih bermakna dan berdampak ganda, ia tidak dapat dibelajarkan sendiri. Ia harus diintegrasikan dengan disiplin ilmu yang lain.

Diperlukan model integrasi yang tepat dan strategi pembelajaran yang tepat.

Policuture strategy dapat dijadikan alternatif untuk memecahkan hal itu. Dengan strategi seperti ini, pembelajaran sains sesuai kurikulum tidak berkurang sedikit pun dan hasil integrasi itu diharapkan berdampak terhadap otput dan outcome pembelajaran fisika, yakni manusia yang berguna.

(25)

17

BAB IV

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR FISIKA

§

A. Pentingnya Buku Pengembangan dalam Dunia Pendidikan

Arah roadmap buku nasional saat ini sedang memperkuat buku dan pengembangan. Harapannya setelah buku selesai dilakukan akan tercipta produk yang dapat diimplementasikan. Bahkan ada upaya baik dari pemerintah untuk menyokong hilirisasi buku dalam arti penyebarluasan hasil buku berupa produksi hasil buku yang bersifat massal. Melalui buku pengembangan, peneliti tidak lagi berfokus pada pengujian teori atau pengujian hipotesis, namun menguji dan menyempurnakan produk (Soenarto, 2008). Jenis buku ini sudah mulai diterapkan dalam dunia pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh hasil buku yang dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualiatas pendidikan Indonesia.

Buku pengembangan dalam dunia pendidikan sangat diperlukan terutama dalam inovasi pembelajaran. Tak dapat dipungkiri, dengan berkembangnya zaman dan perkembangan IPTEK menuntut para praktisi di dunia pendidikan untuk berbenah dan melakukan inovasi-inovasi terutama terkait peningkatan mutu pembelajaran. Hanya melalui buku dan pengembangan, akan tercipta

(26)

18 produk pendidikan berupa prototipe, desain, materi pembelajaran, media, strategi pembelajaran, alat evaluasi pendidikan dsb. Secara praktis, buku dan pengembangan ini dapat menjawab permasalahan di dunia pendidikan terutama permasalahan yang ditemukan di kelas, yang dihadapi guru dalam pembelajaran.

Buku pengembangan dalam dunia pendidikan sains, termasuk dalam pembelajaran fisika diarahkan untuk mengembangkan suatu produk pendidikan dan/atau pembelajaran serta menvalidasi efektivitas, efisiensi, dan/atau daya tarik produk yang dihasilkan. Contoh produk buku dan pengembangan dalam pendidikan sains antara lain materi pelatihan guru sains, metode pembelajaran sains, paket pembelajaran sains cetak dan paket pembelajaran sains berbentuk CD (Soekardjo, 2008).

Dalam buku ini, produk pembelajaran yang akan dikembangkan dan dihasilkan adalah bahan ajar fisika yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah pada pembelajaran fisika. Melaui bahan ajar fisika ini, selain penguasaan konsep fisika yang dikuasai, peserta didik diharapkan dapat pula mendapatkan nilai lebih (added value) berupa penguatan nilai-nilai keislaman, penguatan pendidikan karakter dan penggalian nilai kearifan lokal yang bersumber nilai-nilai luhur budaya lokal.

(27)

19 B. Pentingnya Bahan Ajar Fisika

Bahan Ajar atau learning material merupakan materi ajar yang dikemas oleh pengajar atau instruktur sebagai bahan untuk disajikan dalam proses pembelajaran. Dalam penyajiannya, bahan ajar tidak berbeda dengan buku pelajaran pada umumnya. Isi bahan ajar berupa deskripsi tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip, norma yakni berkaitan dengan aturan, nilai dan sikap, serta seperangkat tindakan/keterampilan motorik. Titik perbedaan bahan ajar dibanding buku umum adalah terletak pada tujuan penyajian. Penyusunan bahan ajar dimaksudkan untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, penyajian konten harus mempertimbangkan tuntutan kurikulum terutama pencapaian kompetensi yang diharapkan.

Selain faktor pengajar dan peserta didik, bahan ajar memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Melalui bahan ajar, guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan peserta didik akan lebih terbantu dan mudah dalam mengikuti pembelajaran. Bentuk bahan ajar sangat bervariasi bergantung pada tujuan dan kebutuhan. Penyusunan bahan ajar harus mempertimbangkan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik.

Keberadaan bahan ajar harus mampu memberikan alternatif sumber belajar bagi peserta didik di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.

Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh apabila seorang guru atau dosen mengembangkan bahan ajar sendiri, yakni antara lain; pertama, diperoleh

(28)

20 bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa atau mahasiswa. Kedua, tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh.

Ketiga, bahan ajar menjadi labih kaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi. Keempat, menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru atau dosen dalam menulis bahan ajar. Kelima, bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru/dosen dengan siswa/mahasiswa karena siswa akan merasa lebih percaya kepada guru atau dosennya.

Dengan tersedianya bahan ajar yang bervariasi, maka pembelajar akan mendapatkan manfaat; yaitu, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik, pembelajar akan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru atau dosen.

Dilihat dari aspek fungsi, bahan ajar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara langsung dan sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak langsung.

Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan langsung, bahan ajar dijadikan rujukan wajib dalam pembelajaran. Contohnya adalah buku teks, modul, handout, dan bahan-bahan panduan utama lainnya. Bahan ajar yang dikembangkan mengacu pada kurikulum yang berlaku, khususnya yang terkait dengan tujuan pembelajaran, kompetensi, standar materi dan indikator pencapaian.

(29)

21 Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak langsung, bahan ajar dijadikan pembelajaran bahan penunjang yang berfungsi sebagai pelengkap.

Contohnya adalah buku bacaan, majalah, program video, leaflet, poster, dan komik pengajaran. Bahan pembelajaran ini pada umumnya disusun di luar lingkup materi kurikulum, tetapi memiliki keterkaitan yang erat dengan tujuan utamanya yaitu memberikan pendalaman dan pengayaan bagi peserta didik.

Sama halnya dengan bahan ajar yang lain, keberadaan bahan ajar fisika memiliki peran penting dalam proses pembelajaran fisika di madrasah. Melalui bahan ajar, guru fisika dapat menyusun konsep-konsep essensial fisika yang harus dimiliki oleh peserta didik dikaitkan dengan standar minimal kompetensi yang harus dimiliki peserta didik.

Penyajian bahan ajar fisika untuk tingkat MA disajikan lebih sederhana bila dibandingkan dengan buku pelajaran biasa atau textbook fisika. Konten dan kontex pembelajaran yang sederhana akan memfasilitasi siswa untuk lebih cepat memahami fisika sekaligus dapat mengantarkan rasa ingin tahu mereka untuk mempelajari sumber belajar yang lebih lengkap.

Bahan ajar fisika yang akan dikembangkan dalam buku ini adalah bahan ajar fisika yang sesuai dengan corak pembelajaran di madrasah. Selain menyajikan konten utama fisika, akan disajikan pula konten muatan agama Islam yang relevan.

(30)

22

BAB V

BAHAN AJAR FISIKA TERINTEGRASI NILAI

§

A. Nilai Islam dalam Bahan Ajar Fisika

Dalam tataran paradigma, saat ini banyak opini, usulan bahkan penilitian yang mengusulkan perlunya islamisasi sains. Tidak sedikit pula yang membantah usulan itu. Alasannya bahwa sains itu sendiri sudah islami. Akan tetapi, adanya kepentingan bahwa pembelajaran sains diarahkan untuk lebih mendekatakan diri kepada Sang pencipta sains itu sendiri adalah sebuah keniscayaan. Dari berbagai diskusi, seminar sampai buku, saat ini sedang ada upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran sains. Berbagai model pun terus diusulkan.

Berbagai bantahan satu model dengan yang lain pun tak terelakkan.

Buku ini tidak sedang membahas perbedaan itu. Penulis sedang mencoba mengambil satu sisi integrasi yang dapat diungkapkan pada pembelajaran fisika, yakni bahan ajar. Kepentingan ini muncul atas semangat dari praktisi pendidikan di madrasah yang berusaha menghidupkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap pembelajaran. Dan itu sangat dimungkinkan dengan model integrasi keilmuan.

Adanya bahan ajar fisika yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam dapat menjadi

(31)

23 distingsi madrasah dengan sekolah umum. Bahkan suatu saat jika model ini dianggap efektif dan berguna, tidak menutup kemungkinan untuk diberlakukan secara meluas.

Pengintegrasian nilai-nilai Islam dalam pembelajaran fisika sudah banyak dilakukan, salah satunya oleh Azis (2008) dengan Paradigma Integrasi- Interkoneksinya, Rochman (2010) dengan model sistem koordinatnya, Aslamiyah dkk (2017) dengan media pembelajaran komiknya. Buku yang sudah dilakukan belum ada yang menyentuh sampai bahan ajar fisika. Oleh karena itu, keberadaan buku ini dapat dijadikan pelengkap bagi buku-buku sebelumnya.

Keberadaan nilai sangat penting baik bagi teori pendidikan maupun aktivitas praktis di sekolah. Paling tidak ada dua alasan yang mendasarinya.

Pertama, sekolah dan guru memberikan pengaruh besar terhadap nilai-nilai yang berkembang pada anak-anak dan masyarakat pada umumnya. Kedua, sekolah mencerminkan dan mewujudkan nilai-nilai masyarakat (Halstead, 1996). Atas dasar itu, keberadaan pendidikan nilai di semua level pendidikan merupakan sebuah keniscayaan.

Pendidikan nilai dikenal secara internasional dengan sejumlah nama, termasuk Pendidikan Moral, Pendidikan Karakter dan Pendidikan Etika.

Sebenarnya ketiga istilah itu menunjukkan essensi yang sama dan harus difasilitasi dalam pembelajaran di semua level pendidikan. Pembelajaran berkualitas memiliki relevansi besar bagi dunia jika dihuni oleh pendidikan nilai yang

(32)

24 mendalam (Lovat, & Toomey, 2009). Pengetahuan dan keterampilan dalam pendidikan nilai harus diintegrasikan saat mengajar mata pelajaran tertentu dan proses belajar mengajar pada umumnya. Pendidikan nilai juga dapat dilihat sebagai bagian penting dari kompetensi guru, dan karena itu ia menjadi bagian penting dalam pendidikan guru (Thornberg, 2008).

Mengingat pentingnya keberadaan pendidikan nilai, setiap negara di dunia ini memiliki strategi masing-masing dalam mengajarkan pendidikan nilai pada masyarakatnya. Sebagai contoh, dunia barat cenderung menempatkan tekanan yang dominan pada nilai-nilai kewarganegaraan, meskipun dalam kasus sebagian besar masyarakat Eropa, ini ditambah dengan nilai-nilai agama dan moral. Jepang cenderung menempatkan tekanan yang lebih besar pada moral dari pada pada nilai-nilai kewarganegaraan (Cummings, Gopinathan, & Tomoda, 2014).

Walaupun negara-negara tersebut memiliki paham sekuler, terlihat jelas bahwa pendidikan nilai tetap menjadi perhatian utama.

Dalam konteks Indonesia, sebagai negara yang memperhatikan nilai-nilai agama sangat memperhatikan pendidikan nilai yang dituangkan dalam kurikulum pembelajaran. Kurikulum 2013 dengan jelas menyiratkan pentingnya pendidikan nilai sebagai kompetensi inti yang harus dimiliki (kompetensi spiritual dan komptensi sosial). Mengingat pentingnya pendidikan nilai bagi peserta didik, pendidikan guru seyogyanya dapat mengadopsi pendidikan nilai di dalamnya (Campbell, 2003).

(33)

25 B. Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Bahan Ajar Fisika

Dewasa ini, pendidikan karakter merupakan isu yang sedang digembor- gemborkan terutama di kalangan dunia pendidikan. Di awal kemunculannya, isu ini mendapatkan perhatian lebih baik dari para ahli, pejabat, pengamat maupun praktisi dunia pendidikan. Salah satu topik yang hangat diperbincangkan adalah perlu tidaknya pendidikan karakter menjadi mata pelajaran khusus menambah mata pelajaran yang ada.

Ada beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang pendidikan karakter. Salah satunya berasal dari Lickona (1991). Menurut Lickona, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai- nilai etika yang inti.

Definisi lain dikemukakan oleh Elkind dan Sweet (2004). Mereka mendefinisikan pendidikan karakter sebagai the deliberate effort to help people understand, care about and act upon core ethical values. Definisi yang hampir sama dikemukan oleh Williams & Schnaps (1999). Menurut mereka, pendidikan karakter adalah “any deliberate approach by which school personnel, often in conjunction with parents and community members, help children and youth become caring, principled and responsible”.

(34)

26 Menurut Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan akhlak. Tujuannya adalah untuk membentuk pribadi anak menjadi pribadi yang baik, yaitu warga masyarakat dan negara yang baik. Pendidikan karakter berpijak pada karakter dasar manusia yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolute) agama, yang disebut juga sebagai the golden rule. Singkat kata, pendidikan karakter adalah upaya sadar, sistematik dan terarah yang dilakukan oleh guru untuk membentuk pribadi peserta didik yang memiliki kepribadian, sikap, tutur kata dan tindakan yang baik yang bersumber dari nilai-nilai luhur.

Alasan pentingnya pendidikan karakter diberikan karena kesuksesaan seseorang bukan lagi ditentukan oleh kecerdasan semata. Paradigma ini sudah lama ditinggalkan. Kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh hard skill (IQ) semata, melainkan memerlukan soft skill (EQ dan SQ). Buku menunjukkan bahwa faktor karakter memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap persepsi keberhasilan seseorang di masa yang akan dating. Buku lain mengungkapkan bahwa orang yang optimis (karakter positif) dengan kompetensi rendah ternyata memperlihatkan kinerja lebih baik dibanding oaring yang pesimis walaupun memiliki kompetensi tinggi (Raka, 2002).

Menurut Lickona (1991), karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior).

Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik

(35)

27 didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Melalui pemberian dan pembiasaan pendidikan karakter diaharapakan peserta didik memiliki konsep moral yang baik yang mewujud menjadi sikap dan tindakan yang baik. Selanjutnya Lickona memberikan tujuh alasan perlunya pendidikan karakter, yaitu:

1. Merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya;

2. Merupakan cara untuk meningkatkan prestasi akademik;

3. Sebagian siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain;

4. Mempersiapkan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam;

5. Berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral- sosial, seperti ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelanggaran kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah;

6. Merupakan persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja; dan

7. Mengajarkan nilai-nilai budaya merupakan bagian dari kerja peradaban.

(36)

28 Bahasan terdahulu mengenai integrasi pendidikan karakter dalam fisika telah dilakukan oleh Kurniawan dkk (2014) melalui pengembangan perangkat pembelajaran, Suparno (2014) dengan pembelajaran statistika kontruktivisnya, Hadiati dan Pramuda (2016) dengan pembelajaran inkuri termodifikasinya dan Pratiwi dkk (2017) dengan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) nya.

Berbeda dengan tulisan sebelumnya, dalam buku ini pendidikan karakter akan diintegrasikan dalam bahan ajar fisika.

C. Pelestarian Kearifan Lokal Melalui Bahan Ajar Fisika

Kearifan lokal mulai menjadi wacana dalam masyarkat pada tahun 1980- an, ketika nilai-nilai budaya lokal yang terdapat dalam masyarakat Indonesia sebagai warisan nenek moyang sudah hampir habis digerus oleh arus modernisasi (Rosidi dkk, 2006). Esensi kearifan budaya Sunda mengandung nilai moral kebaikan dalam kehidupan masyarakat Sunda masa lalu hingga kini menjadi pedoman dan pandangan hidup masyarakatnya, yang muncul dalam wujud budaya dan unsur-unsur kebudayannya.

Menurut Suryalaga (2010) Kearifan budaya Sunda dalam proses menata lingkungan hidup yang harmonis yang mengandung makna suatu konsep kehidupan masyarakat Sunda yang sarat dengan kearifan lokal dan nilai-nilai yang bersifat universal. Lebih lanjut Suryalaga mengatakan bahwa dengan penggunaan kata saling sudah menunjukkan adanya gerak aktif dari pihak - pihak yang

(37)

29 bersangkutan, suatu kegiatan yang bersifat resiprokal, saling memberi respon dengan penuh kesantunan.

Kearifan lokal masyarakat Jawa Barat dituangkan dalam semboyan 4S (silih asih, silih asah, silih asuh dan silih wawangi). Berikut penjelasan ke empat nilai tersebut.

Silih asih adalah tingkah laku yang memperlihatkan rasa kasih sayang yang tulus yang ditandai dengan kerja, dedikasi, disiplin, tanggung jawab dan pengorbanan dalam berbagi yang diwujudkan dalam kemampuan untuk berempati dengan sesama. Silih Asih berasal dari pribadi yang telah mampu mengolah hati dengan baik. Silih asih adalah cerminan salaing memberikan perhatian dari hati yang tulus dan terbuka (open heart).

Silih asah adalah saling mencerdaskan, saling menambah ilmu pengetahuan memperluas wawasan dan pengalaman. Silih asah adalah adalah proses aktifitas antara dua pihak, ada yang berperan sebagai pemberi pengetahuan dan ada juga yang berperan sebagai penerima. Silih asah ditandai dengan kemampuan berbagi visi, sikap terbuka menerima perbedaan, kreatif dan inovatif, serta kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi dan bersinergi. Sikap saling asah lahir dari pribadi yang mampu membuka pikiran meraka (open mind).

Silih asuh mengandung makna membimbing, menjaga, mengayomi, memperhatikan mengarahkan membina secara seksama dengan harapan agar selamat mencapai tujuan. Silih asuh ditandai dengan sikap menghargai, peduli,

(38)

30 mengormati da nada kesediaan untuk berbagi. Silih asuh muncul dari pribadi yang sudah mau menggunakan tangan dan gerak langkahnya untuk menyantuni dan menghilangkan kesusasahan orang lain (open hand).

Silih wawangi bermakna saling menghubungkan hal yang positif untuk memberikan hal yang positif (Suryalaga, 2003). Silih wawangi merupakan kritalisasi nilai yang terbentuk dari sikap positif berupa kejujuran, keikhlasan, keadilan dan sikap kstaria untuk menjaga keharmonisan dalam berinteraksi dengan sesama. Sikap silih wawangi lahir dari sikap ksatria yang mampu mengalahkan ego pribadi, mengakui kelebihan sesorang dan mampu menutupi kekurangan orang lain.

Nilai kearifan budaya lokal Sunda mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan mengajarkan berbudi pekerti yang luhur. Peserta didik sebagai individu yang sedang berkembang pada saatnya akan tiba di ranah lingkungan yang lebih luas.

Mereka harus dibekali cara berinteraksi dengan sesama manusia yang pasti akan menemui kultur yang berbeda. Sikap menghargai perbedaaan ditanamkan sejak dini melalui nilai karakter Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh dan Silih Wawangi.

Keempat nilai kearifan budaya lokal Sunda ini diharapkan dapat menjadi bekal peserta didik dalam berinteraksi dengan dunia yang lebi luas.

(39)

31

BAB VI

MODEL-MODEL INTEGRASI

§

Welsh dan Wright (2010) mengemukakan bahwa melek budaya akan membantu seseorang untuk berhubungan baik dengan lingkungan sekitar, budaya mereka sendiri, budaya orang lain dan memiliki pandangan yang lebih luas tentang dunia. Saat ini, literasi masyarakat terhadap kearifan lokal masih rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan literasi kearifan lokal masyarakat adalah melalui pendidikan, baik formal maupun nonformal. Melalui pendidikan yang simultan dan berkelanjutan, manusia akan diarahkan untuk mengenal penciptanya, bijak pada sesama dan bajik pada lingkungan sekitar (Longworth, 2006). Pendek kata, pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia (Freire, 2003).

Sains merupakan salah satu bagian yang berperan besar dalam menghasilkan output dan outcome pendidikan, yakni profil peserta didik yang taat dan patuh pada penciptanya, menyayangi sesama dan peduli pada lingkungannya yang pada gilirannya akan membentuk masyarakat komunal yang berperadaban (Koizumi, 2017). Untuk mencapai hal itu, diperlukan pembelajaran fisika yang bermakna dan bermutu (Karim et al, 2017). Pembelajaran yang dekat dengan

(40)

32 peserta didik, terpadu dan terintegrasi dengan lingkungan dan budaya sosial dimana mereka tinggal. Pembelajaran fisika yang memfasilitasi peserta didik untuk menemukan konsep dari pengalaman nyata di lingkungan dimana mereka belajar, termasuk kearifan lokal di dalamnya (Prosser & Millar, 1989).

Kearifan lokal dapat diartikan sebagai nilai-nilai mulia yang dianut dan dijaga oleh sebuah komunitas masyarakat yang bertujuan untuk melindungi dan melestarikan lingkungan di daerahnya. Menjadikan kearifan lokal sebagai sebuah bahan dalam pembelajaran mutlak diperlukan (Meliono, 2011). Penjelasan ilmiah (konsep sains) tentang fenomena budaya di sekitar siswa (kearifan lokal) dapat membantu siswa dalam memahami hubungan dunia kehidupan mereka dengan apa yang mereka pelajari di sekolah (Aikenhead & Jegede, 1999). Melalui kearifan lokal, peserta didik dapat mempelajari nilai-nilai budaya yang dapat mempengaruhi sikap, perilaku, dan kemampuan berpikir (Laurens et.al, 2014).

Oleh karena itu, formula atau model yang tepat untuk mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembelajaran sains mutlak diperlukan.

Dalam dunia fisika, model sering diartikan sebagai versi sederhana dari suatu sistem fisika yang kompleks yang terlalu rumit untuk dianalisis keseluruhan detailnya (Young & Freedman, 2008). Istilah sejenis dapat kita temukan dalam bidang pertanian (Chenu et.al, 2017) bidang pendidikan sains (Falk &

Storksdieck, 2005) dan ilmu lingkungan (Schmolke et al, 2010). Dalam buku ini, model diartikan sebagai pola hubungan dua buah subjek yang diintegrasikan,

(41)

33 yakni antara pembelajaran fisika dengan kearifan lokal. Gambar 6 memperlihatkan empat jenis model integrasi antara keduanya.

Gambar 6. Model-Model Integrasi Pembelajarn Fisika dengan Kearifan Lokal

A. Model Adaptasi

Gambar 1.a memperlihatkan model integrasi adaptasi. Gambar itu memperlihatkan dua lingkaran yang saling bersinggungan dan membentuk sebuah irisan. Jika lingkaran A adalah pembelajaran fisika dan lingkaran B adalah kearifan lokal, maka irisan yang dibentuk oleh dua buah lingkaran itu dinamai model integrasi adaptasi. Model adaptasi adalah pola penyesuaian pembelajaran fisika yang disesuaikan dengan kearifan lokal yang mau diangkat.

Model adaptasi tidak mengubah pembelajarn fisika yang biasa, hanya saja pengambilan konteks pembelajaran dan contoh penerapannya diambil dari kearifan lokal daerah setempat. Contohnya jika guru ingin membawakan pembelajaran fisika pada konsep Usaha dan Energi, maka rencana pembelajaran,

(42)

34 pelaksanaan dan evaluasi yang akan dilakukan memuat kearifan lokal yang ada di daerah setempat. Di awal pembelajaran, pada fase apersepsi dan menggali konsep awal, guru dapat membawakan aplikasi Usaha dan Energi yang ada di kampung adat misalnya. Media yang dibawakan dapat berupa gambar video atau kunjungan langsung (kuliah lapangan).

Media gambar termasuk didalamnya penggunaan interactif withboard (IWB) sangat membantu guru dalam mentransfer pengetahuan pada siswanya (Gregorcic et.al, 2017). Video terbukti efektif digunakan sebagai media pembelajaran fisika (Kearney & Treagust, 2001). Studi lapangan dapat pula dijadikan alternatif sebagai startegi pembelajaran (Zaragoza & Fraser, 2017).

Model adaftasi adalah model yang paling mudah dilakukan. Kuncinya guru sudah memahami seluk beluk kearifan lokal di daerah tertentu dan bagaimana mengintegrasikannya dalam rancangan pembelajaran. Model adaptasi hanya berlaku jika kearifan lokal yang diangkat dikategorikan dalam scientific local wisdom.

B. Model Addisi

Model addisi diperlihatkan dalam gambar 1.b. Dari gambar tersebut terlihat ada dua buah lingkaran dengan berbeda ukuran. Jika lingkaran A adalah pembelajaran fisika dan lingkaran B adalah kearifan lokal, maka penempatan B di dalam A menunjukkan bahwa kearifan lokal digunakan sebagai muatan tambahan pada pembelajaran fisika.

(43)

35 Secara sederhana, addisi dimaknai sebagai penambahan. Fungsinya hanya sebagai supplement atau pelengkap. Dalam pelaksanaannya, integrasi antara pembelajaran fisika dengan kearifan lokal dapat dituangkan dalam bentuk penyusunan bahan pengayaan (Kurniawati et.al, 2017). Bahan pengayaan ini disusun untuk memberikan wawasan lebih kepada peserta didik terkait kearifan lokal yang ada di daerah tertentu dengan menambahkan kajian atau pembahan fisika (sains) di dalamnya.

Model integrasi addisi dilakukan ketika guru mendapat kesulitan untuk mengintegrasikan fenomena fisika yang ada di kampung adat dengan tuntunan materi pokok fisika yang ada di dalam kurikulum. Agar model addisi dapat diterapkan secara efektif, diperlukan keahlian guru dalam menulis dan menuangkan gagasan untuk mengemas kearifan lokal dan konsep fisika dalam sebuah bentuk bahan pengayaan (buku). Sama seperti model adaptasi, model Addisi hanya dapat dilakukan untuk scientific local wisdom.

C. Model Koreksi

Berbeda dengan kedua model sebelumnya, Gambar 1.c memperlihatkan dua buah lingkaran yang disatukan dengan sebuah cerobong. Lingkaran A (pembelajaran fisika) seolah-olah memberikan pengaruh pada lingkaran B (kearifan lokal) sehingga ada perubahn warna (gradasi) pada lingkaran B. Sesuai

(44)

36 namanya, model koreksi bertujuan untuk memperbaiki konsep fisika yang ada pada kearifan lokal yang dianut oleh masyarakat tertentu.

Koreksi disini tidak dimaksudkan untuk mengganggu atau menghilangan kearifan lokal. Koreksi disini hanya dilakukan pada tararan pembelajaran fisika di kelas. Secara teknis, model ini dapat diterapkan kapan pun, tidak terbatas pada satu materi pokok. Hanya saja guru harus meningidentifikasi terlebih dahulu miskonsepsi fisika yang terjadi pada peserta didik terkait pengalaman mereka pada konteks kearifan lokal mereka. Proses pembelajaran yang dilakukan di kelas dimaksudkan untuk memfasilitasi terjadinya perubahan konsep pada peserta didik.

Salah satu teori belajar yang dianggap relevan dengan model koreksi ini adalah teori belajar kognitif Piaget (teori skemata). Menurut teori ini, struktut kognitif yang dimiliki peserta didik, dalam hal ini peserta didik yang menganut suatu kearifan lokal tertentu yang tidak ilmiah, akan beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental akibat interaksinya dengan lingkungan (sekolah). Bila ditelusuri lebih mendalam, Skema ini identik dengan pra paradigm nya Khun terutama pada fase akomodasi dan equilibrium, yakni fase dimana peserta didik mampu membentuk skema baru yang sesuai dengan rangsangan baru, atau memodifikasi skema yang ada sehingga sesuai dengan fakta ilmiah sebenarnya (Khun, 1970).

(45)

37 Strategi pembelajaran yang tepat untuk mengintegrasikan pembelajaran fisika dengan kearifan lokal ini adalah satrategi konflik kognitif (Baser, 2006).

Model koreksi ini dilakukan hanya untuk non scientific local wisdom.

D. Model Pembiaran

Gambar 1.d memperlihatkan model terakhir, yakni model pembiaran.

Dari gambar terlihat ada dua lingkaran (A dan B) yang satu sama lain terpisah, tidak ada hubungan apa-apa. Dalam konteks buku ini, pembelajaran fisika dan kearifan lokal berjalan masing-masing. Tidak ada kaitan satu sama lain. Model ini dipakai jika dan hanya jika kearifan lokal dari kampung adat berupa non scientific local wisdom dan tidak atau belum ada penjelasan ilmiah dan bahkan tidak perlu mencari penjelasan ilmiahnya.

Cara yang paling bijak adalah membiarkan apa adanya. Model pembiaran dilakukan dalam rangka menjaga bubungan harmonis antara sesama manusia dan manusia dengan alamnya. Dengan model pembiaran ini, guru tidak boleh memaksakan bahwa kearifan lokal itu harus logis dan dapat diterima dengan sains.

Biarkan kearifan lokal yang ada lesatari dan apa adanya, tanpa perlu diintervensi.

Pengembangan model diatas dapat dijadikan rintisan untuk model hybrid knowledge seperti yang dikemukakan oleh Raymond et.al (2010) yang menyatukan scientific knowledge dan local knowledge. Agrawal (1995) menyebutnya indigenous knowledge yang

(46)

38 meliputi tradisi budaya, nilai-nilai, kepercayaan dan cara pandang masyarakat local.

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, akhirnya diperoleh gambaran umum kriteria kearifan lokal, jenis model integrasi kearifan lokal pada pembelajaran fisika, strategi pelaksanaan di lapangan dan output/outcome yang dihasilkan sebagaimana yang diperlihatkan pada tabel 6.

Tabel 6. Model Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Fisika

Tipe Model Strategi Output

Scientific

adaptation

penyesuaian rpp,

pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran fisika

pembelajaran berbasis kearifan lokal

addition

penambahan konten fisika dengan muatan lokal (kearifan lokal)

bahan ajar dan bahan pengayaan

Non Scientific correction pembelajaran konflik

kognitif pembelajaran

perubahan konsep neglected

pemeliharaan kearifan lokal yang menjadi sebuah kepercayaan masyarakat

pelestraian nilai/budaya

(47)

39

BAB VII

MODEL INTEGRASI PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN KEARIFAN LOKAL

§

Sebagai salah satu suku terbesar di Indonesia, suku Sunda telah memberikan warisan budaya yang sangat bernilai bagi pembentukan karakter bangsa Indonesia (Hasanah, 2017). Sebagai contoh, di Jawa Barat ada salah satu warisan berharga yang diwariskan oleh para leluhur Sunda, yakni Kampung Naga dan peninggalannya: keyakinan, tradisi, kesenian, upacara adat, norma sosial, sampai bentuk bangunan (Suganda, 2006; Indartoro, 1987). Selain karena bentuknya yang unik, pembangunan rumah di Kampung Naga harus mengikuti arahan leluhur yang diwariskan secara turun temurun (Hermawan, 2014). Karena bersumber dari tradisi dan warisan nenek moyang, sebagian masyarakat awam menyebutnya sebagai mitos, tapi tak sedikit pula yang menganggapnya kearifan lokal yang bermakna.

Fisika berperan besar dalam menghasilkan output dan outcome pendidikan, yakni profil peserta didik yang taat dan patuh pada penciptanya, menyayangi sesama dan peduli pada lingkungannya. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran fisika yang bermakna dan bermutu. Pembelajaran yang dekat dengan peserta

(48)

40 didik, yang memfasilitasi penemuan konsep dan pengalaman nyata yang terpadu dan terintegrasi dengan lingkungan dan budaya sosial dimana mereka tinggal.

Buku ini ingin mengungkapkan beberapa fenomena fisika yang terkandung dalam sebuah kearifan lokal dalam arsitektur bangunan di Kampung Naga.

A. Kearifan Lokal Arsitektur Bangunan di Kampung Naga

Tabel 7.1 di bawah ini memperlihatkan jenis-jenis kearifan lokal yang ada dalam arsitektur bangunan rumah di daerah Kampung Naga. Data ini diperoleh dari hasil studi lapangan, observasi, wawancara dengan kuncen dan masyarakat adat setempat. Untuk mempermudah pemetaan dan didasarkan pada tujuan buku, ditentukanlah dua kategori kearifan lokal terkait arsitektur bangunan di Kampung Naga yakni: scientific local wisdom dan non scientific local wisdom.

Tabel 7.1. Jenis-Jenis Kearifal Lokal pada Arsitektur Rumah di Kampung Naga Tipe Kearifan Lokal pada Arsitektur Rumah di Kampung Naga

Kearifan Lokal Saintifik Kearifan Lokal Non-Saintifik

 Bangunan-bangunan yang ada di Kampung Naga berbentuk segitiga, dengan pondasi bongkahan batu yang menancap ke dalam tanah dan beratap ijuk.

 Setiap rumah di Kampung

Naga dibangun

menghadap utara dan selatan sehingga satu dengan yang lain saling berhadap-hadapan serta saling membelakangi

 Pembangunan rumah panggung dilakukan sesuai petunjuk dari leluhur.

 Penggunaan alat-alat modern dalam pembangunan rumah akan membawa sial (terkena kuwalat).

 Lelaki dilarang bercakap-cakap di dapur, terutama di goah atau pandaringan. Tempat penyimpanan padi ini hanya boleh dimasuki kaum hawa, karena dipercaya tempatnya Dewi Sri.

 Letak Goah (tempat menyimpan padi) ditentukan oleh weton (tanggal lahir) istri

(49)

41 terhadap barisan rumah

berikutnya

 Rumah bertiang kayu dan berdinding bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag.

 Setiap rumah memiliki kolong

 Bumi Ageung adalah tempat sakral yang dijaga oleh perempuan yang sudah tidak haid (monopouse)

Pembagian kearifan lokal pada tabel 7.1 didasarkan pada anggapan sementara tentang konten kearifan lokal menurut penulis. Sebuah kearifan lokal dikategorikan scientific jika fenomena, aktivitas atau kejadian yang dipelihara oleh masyarakat adat dapat dijelaskan secara ilmiah. Sementara itu, semua fenomena yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan secara ilmiah, peneliti menyebutnya non scientific local wisdom.

B. Arsitektur Rumah di Kampung Naga

Arsitektur perumahan di Kampung Naga tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan kampung adat yang lain di Jawa Barat. Perumahan di Kampung Naga berbentuk panggung yang secara vertikal terbagi ke dalam tiba lapisan utama, yakni bagian bagian bawah disebut kolong, bagian tengah adalah ruang utama tempat beraktivitas dan bagian atas yang disebut para, ruangan yang dibatasi lalangit dan atap yang terbuat dari ijuk. Jika digambarkan, profil bangunan rumah di Kampung Naga diperlihatkan pada gambar 7. Penjelasan masing-

(50)

42 masing bagian disertai pandangan kosmlogi sunda dan konsep fisika yang terdapat dalam bagian itu diberikan pada tabel 7. 2

Tabel 7.2. Bagian Rumah di Kampung Naga Bagian Rumah

(secara vertical) Fungsi Kosmologi

Sunda Konsep Fisika Kolong (bagian

bawah) Tempat

penyimpanan kayu bakar, alat pertanian, kandang ternak unggas

Dunia

bawah kalor jenis

Palupuh /lantai

(bagian tengah) Tempat beraktivitas

sehari-hari Dunia

tengah Titik

keseimbangan suhu, arah angin dan matahari Lalangit/para

(bagian atas) dan atap

Pelindung dari hujan

dan panas Dunia atas Perpindahan kalor

Secara arsitektur, bangunan di Kampung Naga termasuk arsitektur vernacular. Secara sederhana, vernacular diartikan sebagai desain arsitektur yang menyesuaikan iklim lokal, menggunakan teknik dan material lokal, dipengaruhi aspek sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat.

Rumah bagi masyarakat Sunda, termasuk masyarakat Kampung Naga dibuat bukan untuk perlindungan dari musuh, tapi dari alam, seperti hujan, angin, sinar matahari, dan tempat berlindung dari hewan. Oleh karena itu bangunan di kawasan Kampung Naga didominasi oleh material alami, dengan atap dari ijuk

(51)

43 atau pelapah kelapa kering, dinding dari bilik bambu, kolom dari kayu, dan pondasi dari batu.

Gambaran lengkap arsitektur perumahan di Kampung Naga dapat dilihat di gambar 7.1 dan 7.2.

Gambar 7.1. Tipe Pemukiman di Kampung Naga (Sumber:dokumen Asriningpuri et.al)

Gambar 7.2: Bagian-bagian Rumah (Sumber: dokumen utami et.al)

(52)

44 C. Fenomena Fisika dalam Kearifan Lokal Bentuk Bangunan di Kampung

Naga

a. Atap Ijuk dan proses penyerapan dan perpindahan kalor

Penggunaan atap ijuk termasuk pada konsep green roof yang memberikan manfaat yang besar terhadap efisiensi energi bangunan. Konsep fisika yang dapat diangkat dari penggunaan ijuk sebagai bahan atap rumah adalah konsep suhu, kalor dan perpindahan kalor. Atap berfungsi mengahalangi radiasi sinar matahari langsung. Radiasi yang diterima oleh atap dari lingkungannya dirumuskan oleh formula:

𝑃𝑎𝑏𝑠 = 𝜎𝜀𝐴𝑇𝑒𝑛𝑣4 (1)

dimana P abs = laju aliran kalor, 𝜎 = 5,6703 x 10 -8 W/m 2 .K 4, disebut konstatnta Stefan-Boltzmann, ε= emisivitas permukaan atap ( nilainya dari 0 sampai 1). Tenv= adalah suhu lingkungan (Kelvin).

Selain fenomena perpindahan kalor secara radiasi, terjadi pula perpindahan kalor secara konveksi. Secara teori. perpindahan kalor secara konveksi terjadi jika ada fluida yang melakukan kontak dengan permukaan zat padat pada temperature yang berbeda. Ada dua jenis konveksi yakni konveksi alami atau bebas dan konveksi paksa. Perpindahan kalor di antara dinding atau atap sebuah rumah di hari yang tenang merupakan salah satu contoh konveksi bebas.

(53)

45 Formula rata-rata perpindahan kalor secara konveksi dapat dinyatakan dalam bentuk Newtons law of cooling:

𝑞𝑐 = ℎ̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅𝑐𝐴(𝑇𝑠− 𝑇̇ 𝑓,∞)

(2)

b. Dinding bilik dan Konsep the Building Balance Point Temperature

Bagian tengah merupakan bagian utama rumah bagi aktivitas masyarakat Kampung Naga. Di ruang inilah tempat mereka beristirahat, tidur, menerima tamu dll. Dari ilmu arsitektur, bagian tengah adalah bagian yang harus diperhatikan kenyamanannya terutama masalah suhu dan sirkulasi udara. Konsep fisika yang terkait pada bagian ini adalah temperature titik keseimbangan bangunan. Suhu titik keseimbangan bangunan adalah indikator VITAL SIGN dari hubungan antara berbagai kekuatan termal yang dimainkan dalam suatu bangunan; panas yang dihasilkan oleh hunian bangunan, panas matahari yang memasuki gedung, dan transfer energi melintasi selungkup bangunan karena perbedaan suhu antara bangunan dan lingkungan.

Gambaran temperature ini digambarkan pada gambar 5.3.

Gambar 7.3 . Diagram dasar gedung dengan suhu titik keseimbangan (sumber:

https://en.wikipedia.org)

(54)

46 Suhu titik keseimbangan secara matematis didefinisikan sebagai:

𝑇𝑏𝑎𝑙𝑎𝑛𝑐𝑒= 𝑇𝑡ℎ𝑒𝑟𝑚𝑜𝑠𝑡𝑎𝑡𝑄𝐼𝐻𝐺+ 𝑄𝑆𝑂𝐿

𝑈𝑏𝑙𝑑𝑔 (3)

c. Arah Utara-Selatan

Arah utara selatan dalam bentuk rumah di Kampung Naga ternyata dapat dijelaskan secara ilmiah. Secara teori, orientasi bangunan harus dilakukan untuk zona iklim dimana bangunan berada. Tujuan orientasi bangunan tiada lain adalah untuk memberi rasa nyaman bagi penghuni di sepanjang tahun bahkan bahkan di bawah kondisi cuaca yang tidak diinginkan sekalipun.

Salah satu teori arsitektur tropis yang berhubungan dengan studi ini adalah teori Geroge Lippsmeier. Ia menyatakan bahwa iklim dan kelembaban sangat mempengaruhi arsitektur di Indonesia. Sementara itu, karakteristik iklim tropis yang lembab adalah: suhu rata-rata adalah 20 ° C, kelembaban di atas 60%, dan intensitas curah hujan harus rendah di musim kemarau dan tinggi di musim penghujan. Selain kondisi iklim, kelembaban dan curah hujan, faktor terpenting yang menentukan orientasi bangunan adalah arah angin. Arah angin umumnya dianggap untuk menentukan orientasi blok bangunan untuk memaksimalkan kapasitas udara yang mengalir melalui ventilasi pada dinding bangunan. Bentuk fisik dasar dan orientasi bangunan dianggap relatif terhadap arah angin.

(55)

47 Di daerah tropis, sudut cerah sinar matahari yang lebih curam, energi panas yang lebih besar akan didapat. Untuk ini, diasumsikan bahwa posisi ideal sisi lebar massa bangunan harus diarahkan ke utara – selatan. Gambar 7.4 memperlihatkan skema arah angin dan sinar matahari.

Gambar 7.4. Orentasi Bangunan berdasarkan arah gerak matahari dan angin

Dinding bangunan yang berbahan lokal (kayu, dan anyaman bambu) serta arsitektur bangunan yang merupakan bangunan panggung. Bahan bangunan dan bentuk arsitektur bangunan demikian merupakan bentuk penyesuaian dengan kondisi iklim dan cuaca setempat, udara di dalam rumah tetap bersih dan kesejukan di dalam rumah tetap terjaga. Udara panas akan keluar melalui dinding dan atap. Udara tersebut akan segera digantikan dengan aliran udara sejuk yang masuk melalui dinding dan palupuh/ lantai kayu atau bambu

Gambar

Tabel 2.1 di bawah ini memperlihatkan beberapa perbedaan komposisi  kurikulum fisika murni di universitas umum, program studi pendidikan fisika di  univeristas umum dan program studi pendidikan fisika di univeritas Islam
Gambar 2.1 di bawah memperlihatkan perbedaan fokus mata kuliah dan  pendekatan pembelajaran yang dibawakan
Gambar 2.2. Pendekatan Pembelajaran Fisika di Universitas Islam
Gambar 2.3. Model Kemungkin Profil Calon Guru Fisika
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jalan Raya Cirendang - Cigugur - Kuningan.. SMK

Mahasiswa yang telah selesai proses pembimbingannya menyerahkan bukti lembar bimbingan dan proposal / skripsi kepada koordinator ujian untuk menentukan jadwal sidang proposal

Hasil rancangan sistem monitoring tekanan darah yang diusulkan bekerja dengan baik dengan tingkat kesalahan sebesar 2,47% dibandingkan dengan menggunakan tensimeter

Makna disfemisme dan eufemisme yang ditemukan dapat diketahui dengan cara mengamati penggunaan sinonim dari masing-masing makna kata berdasarkan Tesaurus Alfabetis

Berdasarkan hasil pengamatan, analisis graf dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa persoalan optimalisasi dari Travelling Salesman Problem (TSP) pada pendistribusian

Berdasarkan Gambar di atas dapat dilihat persentase keakuratan dan ketidakakuratan kode diagnosis carcinoma mammae ada 14 (15,56%) dokumen rekam medis pasien rawat

Ditinjau dari aspek tanggungjawab (16%) stres kerja dapat diindikasikan dari tanggung jawab karyawan banyak namun tidak diberikan kewenangan yang cukup dan

Tabungan yang dimiliki saat ini masih dapat digunakan, bagi nasabah dengan cabang buka rekening dan bertransaksi di kantor cabang pilot dapat melakukan migrasi rekening tabungan