• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Berkembangnya teknologi informasi yang sering disebut sebagai era digital diperkirakan mulai pada abad ke-20, dicirikan oleh revolusi industri dari industri tradisional ke industrialisasi yang berbasis pada teknologi informasi. Era revolusi Industri 4.0 yakni adalah era digitalisasi yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Kemajuan dan perkembangan teknologi informasi inilah yang mengubah gaya hidup manusia bahkan kebiasaan yang terjadi pada keseharian manusia yang mana menjadikan internet sebagai kebutuhan esensial bagi seluruh masyarakat dunia. Transaksi tradisional sudah bergeser menjadi pola transaksi elektronik yang melibatkan teknologi internet diantaranya berupa: online shopping, pembayaran dan transaksi yang pada saat ini lebih nyaman menggunakan internet banking dan sebagainya.

Pandemi Covid-19 yang mendorong terjadinya pemaksimalan pemanfaatan digital pada masyarakat seluruh dunia. Wabah ini memaksakan sejumlah adaptasi yang dilakukan secara cepat dalam berbagai kehidupan. Perubahan yang dimaksud ini merubah segala aspek dari kebiasaan yakni: merubah cara hidup, merubah cara berkomunikasi, merubah cara bersosialisasi, merubah cara bekerja, merubah cara bertransaksi. Segala perubahan ini juga merubah cara berhukum di Indonesia yang memaksimalkan penggunaan teknologi digital.

Perubahan cara berhukum ini terjadi berkenaan dengan pelayanan hukum bahkan terkait dengan penegakannya. Masyarakat yang saat ini masih melakukan adaptasi terkait teknologi digital ini dipaksa untuk melakukan cara berhukum dengan memaksimalkan teknologi digital. Berkembangnya hukum teknologi informasi telah dipaksakan dengan adanya konvergensi antara teknologi komunikasi dan informatika yang mendorong lahirnya suatu alternatif bagi penyelenggaraan berhukum yang mana pemerintah saat ini telah meluncurkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Sertifikat Elektronik. Yang mana hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia juga memaksimalkan penggunaan teknologi digital secara positif untuk menambah kepastian hukum pemilik hak atas tanah.

(2)

Dikutip dari Peraturan Menteri Agraria Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Sertifikat Elektronik pasal 1 yang berbunyi bahwa “Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisa menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan dan/atau menyebarkan informasi elektronik” Hal ini berkaitan erat dengan kepastian hukum yang dipegang oleh pemegang sertifikat hak atas tanah. Yang mana dalam hal ini Sistem Elektroniknya mengandung dokumen-dokumen elektronik yang dimiliki oleh pemegang sertifikat hak atas tanah. Dijelaskan lebih lanjut pada Pasal 2 Peraturan Menteri Agraria Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Sertifikat Elektronik yang berbunyi “Dokumen Elektronik adalah setiap informasi elektronik yang disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas tulisan, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh yang mampu memahami”.

Dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, LNRI Tahun 1960 No. 104 - LNRI No. 2043, diundangkan pada tanggal 24 September 1960. Undang-Undang tersebut awam dikenal dengan sebutan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Namun UUPA sendiri tidak memberikan pengertian mengenai agraria, UUPA hanya memberikan ruang lingkup agraria seperti halnya yang tercantum dalam konsiderans, pasal-pasal maupun penjelasannya. Didalam ruang lingkup agraria, tanah adalah bagian dari pada bumi yang biasa disebut dengan permukaan bumi. Tanah yang dimaksud di atas bukan hanya mengatur terkait tanah dalam segala aspeknya namun hanya mengatur salah satu aspeknya, yakni tanah dalam maksud yuridis yang disebutkan dengan hak.

Yang dimaksud dengan hak atas tanah adalah hak yang memberikan wewenang kepada pemegang haknya untuk menggunakan dan/ atau mengambil manfaat dari tanah yang dihakinya. Penggunaan kata “menggunakan” disini diartikan pengertian bahwa hak atas tanah itu dapat dipakai untuk kepentingan mendirikan bangunan sedangkan “mengambil manfaat” berarti bahwa hak atas tanah itu dipakai untuk kepentingan bukan mendirikan bangunan, misalnya pertanian, perikanan dan perkebunan.

Atas dasar ketentuan Pasal 4 ayat (2) UUPA, kepada pemegang hak atas tanah diberikan wewenang untuk menggunakan tanah yang bersangkutan, demikian pula tubuh bumi dan air serta ruang yang diatasnya diperlukan untuk kepentingan yang

(3)

mana langsung berhubungan dengan penggunaan tanah itu dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh UUPA dan peraturan-peraturan hukum lain yang lebih tinggi.

Tanah bagi masyarakat Indonesia memiliki makna yang multidimensional. Terutama dalam sisi ekonomi tanah merupakan sarana produksi yang menjanjikan kesejahteraan. Kedua, secara politis tanah bisa menentukan kedudukan seseorang dalam mengambil keputusan di dalam bermasyarakat. Ketiga, sebagai budaya yang mana bisa menentukan tinggi rendahnya status sosial yang dimilikinya. Keempat, tanah dimaksudkan sakral karena berbenturan dengan waris dan masalah-masalah yang tergolong transendental.1

Bumi, air dan ruang angkasa merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, memiliki fungsi yang teramat penting untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana cita-cita Bangsa Indonesia. Seiring dengan berkembangnya pembangunan di segala bidang pendidikan maupun teknologi, yang menghantarkan kita secara tidak langsung memaksa setiap orang yang melakukan perbuatan hukum membutuhkan jaminan kepastian hukum atas perbuatan tersebut. Jaminan kepastian hukum yang dimaksud tersebut meliputi ketertiban dan perlindungan hukum sehingga dapat menimbulkan rasa aman bagi setiap perbuatan hukum yang dilakukan. Maka jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan adalah dengan adanya bukti kepemilikan hak atas sebidang tanah yang disebut dengan sertipikat.2

Ruang lingkup agraria menurut Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) sama seperti ruang lingkup sumber daya agraria/ sumber daya alam yang tertuang dalam Ketetapan MPR RI No. IX/MPR/2001 tentang Ruang Lingkup Agraria/ sumber daya agraria/ sumber daya alam dapat dijelaskan seperti halnya berikut ini:

a. Bumi

Pengertian bumi menurut Pasal 1 ayat (4) UUPA yakni merupakan permukaan bumi, termasuk juga bagian bumi dibawahnya begitupun yang berada di bawah air. Permukaan dari bumi menurut pasal 4 ayat (1) UUPA merupakan tanah.

1

Heru Nugroho, 2005, Reformasi Politik Agraria, Makalah Seminar di BPN

2

Aria Putra Ilham, Ashri Muhammad, Abdullah Kasman dan Utami Dian, “Akuntabilitas Administrasi Pertanahan Dalam Penerbitan Sertipikat”, Mimbar Hukum Volume 29, Nomor 2, Juni 2017 Halaman 276-291

(4)

b. Air

Yang dimaksud dari air menurut Pasal 1 ayat (5) UUPA yakni merupakan air yang ada di dalam air dalam maupun juga air yang tempatnya di laut Indonesia. Dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, dimaksudkan bahwa artian air yakni air yang berada di dalam dan/atau berasal dari sumber air, yang mana terdapat di atas maupun di permukaan tanah, namun tidak meliputi air yang terdapat di laut.

c. Ruang Angkasa

Arti dari ruang angkasa itu sendiri seperti halnya Pasal 1 ayat (6) UUPA adalah ruang yang ada diatas bumi wilayah Indonesia dan ruang yang ada di atas perairan wilayah Indonesia. Artian dari ruang angkasa menurut Pasal 48 UUPA, ruang diatas bumi dan air yang mengandung tenaga dan unsur-unsur lain yang dapat digunakan untuk usaha-usaha memelihara dan mengembangkan kesuburan bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya hal-hal lain yang bersangkutan dengan hal tersebut.

d. Kekayaan alam yang terkandung didalamnya

Kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi, hal ini terkait dengan unsur-unsur kimia, mineral yang ada, biji-bijian dan segala macam batuan, termasuk halnya batuan mulia yang dalam hal ini merupakan endapan-endapan alam (Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan).

Kekayaan alam yang juga terkandung didalam air yakni ikan dan lain sebagainya kekayaan alam yang berada di bawah perairan dan berada kedalaman laut wilayah Indonesia (Undang-Undang No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan)

Untuk menjamin kepastian hak dan subjek hak atas tanah mendapat perhatian yang cukup serius. Dalam hal ini seperti apa yang telah diamanatkan Pasal 19 UUPA, yang menentukan, bahwa:

1) Untuk menjamin kepastian hukum maka pemerintah mengadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia yang mana telah diatur ketentuan-ketentuannya dalam Peraturan Pemerintah.

(5)

a. Pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah;

b. Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut; c. Pemberian surat menyurat tanda bukti hak yang mana dapat

digunakan sebagai alat bukti yang kuat dan sah.

Untuk menindaklanjuti ketentuan tersebut diatas, telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, sebagai penyempurna dari Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961. Penyelenggaraan pendaftaran tanah tersebut ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah. Pasal 84 ayat 1 pasal tersebut berbunyi “Penyelenggaraan dan pelaksanaan Pendaftaran Tanah dapat dilakukan secara elektronik” Dilanjutkan pada pasal 84 ayat 2 Peraturan yang sama berbunyi “Hasil penyelenggaraan dan pelaksanaan Pendaftaran Tanah secara elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa data, informasi elektronik, dan/atau dokumen elektronik.”

Di Dalam UUPA juga mengatur mengenai ketentuan pendaftaran tanah yang ditujukan kepada pemegang hak atas tanah yang salah satunya adalah hak milik atas tanah. Terkait pendaftaran Hak Milik yang telah diatur salam Pasal 23 ayat (1) UUPA menyatakan bahwa:

1) Hak Milik, demikian setiap peralihan, hapusnya dan pembebanan dengan hak-hak lain harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam Pasal 19 UUPA

2) Pendaftaran termasuk dalam ayat (1) UUPA ini adalah alat bukti yang kuat terkait hapusnya hak milik serta sahnya peralihan dan pembebasan hak yang dimaksud tersebut.

Maksud ketentuan Pasal 23 io ayat (1) UUPA tersebut diatas adalah untuk setiap terjadinya peralihan, pembebanan dan hapusnya Hak Milik wajib didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19 UUPA serta Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dan juga Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021.

Pemberian bukti hak atas tanah yang berupa sertifikat yang sebelumnya diawasi dengan pendaftaran tanah, terutama di peruntukkan kepada subjek hak dengan maksud agar para subjek hak tersebut mendapatkan kepastian hukum. Hal tersebut merupakan suatu jaminan yang diberikan oleh Undang-Undang, sehingga pada hakikatnya subjek hak atas tanah mempunyai kewajiban untuk melakukan

(6)

pendaftaran tanah agar dapat diketahui dengan jelas mengenai keadaan, letak, luas, dan batas-batas tanah yang bersangkutan. Misalkan dalam suatu peristiwa timbul perselisihan khususnya perselisihan yang terjadi dengan pemilik tanah yang bersebelahan, maka hal ini dapat dijelaskan dengan adanya bukti kepemilikan hak atas tanah (sertifikat)

Didalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dengan semua sistem yang digunakan, yang pada sebenar-benarnya seperti apa yang sudah ditetapkan dalam Undang-Undang Pokok Agraria, yaitu bahwa pendaftaran tanah diadakan dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan dan bahwa sistem publikasinya adalah sistem negatif, namun yang mengandung unsur positif, karena akan menghasilkan surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Jaminan kepastian hukum mengenai hak atas tanah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dimana dalam pasal 3 dijelaskan mengenai tujuan dari pendaftaran tanah, yakni:

1) Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungannya kepada pemegang hak atas suatu bidang tanag, satuan rumah susun dan juga hak-hak yang lain yang terdaftar, untuk bisa dengan mudah mendapatkan bukti dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan; 2) Untuk menyediakan informasi kepada pihak yang berkepentingan di

dalamnya termasuk pemerintahan, guna memudahkan pencarian data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum di bidang-bidang pertanahan dan satuan-satuan rumah susun yang terdaftar; 3) Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.3

Proses penerbitan sertifikat hak atas tanah adalah sebagai rangkaian dari sistem administrasi pertanahan. Hukum agraria apabila dilihat dari sisi aturan hukum adalah hukum yang mengatur terkait hal yang bertalian erat dengan tanah. Ini berarti bukan saja menyangkut peraturan tentang manusia dengan tanah saja namun juga

3

Bisa dilihat dalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 3696)

(7)

mengatur penyelenggaraan peruntukan, penggunaan dan penyediaan serta pemeliharaan.4

Diperjelas dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun Dan Pendaftaran Tanah pada Pasal 84 dijelaskan terkait dengan penyelenggaraan dan pelaksanaan pendaftaran tanah dapat dilakukan secara elektronik dengan hasil penyelenggaraannya menghasilkan data, informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik. Data dan informasi elektronik ini hasil cetaknya adalah merupakan alat bukti hukum yang sah. Penerapan Pendaftaran Tanah elektronik ini dilaksanakan secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan kesiapan dari sistem elektronik yang dimiliki oleh Kementrian.

Keamanan yang ditawarkan pemerintah tertuang sepenuhnya dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Kepala Badan Pemerintahan Nasional Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Sertifikat Elektronik sudah menjelaskan terkait sistem elektronik beserta dengan fungsinya, bentuk dari dokumen elektronik dan juga pangkalan data dari seluruh Sertifikat yang telah didaftarkan secara elektronik. Data yang dimaksud dalam hal ini adalah keterangan mengenai sesuatu hal yang termasuk dengan tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, EDI, surat elektronik, telegram, teleks, telecopy dan lain sebagainya. Dalam hal ini seluruh data akan dikumpulkan dalam suatu Pangkalan Data yang dipegang oleh Pemerintah atau dalam hal ini Menteri Agraria yang disusun secara sistematis dan terintegrasi dan disimpan menggunakan memori yang besar serta bisa diakses oleh salah satu atau lebih pengguna dari terminal yang berbeda.

Sertifikat adalah tanda bukti yang hak yang dinyatakan sah sebagai pemilik hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik suatu rumah susun dan hak tanggungan yang masing-masingnya sudah dibukukan didalam buku tanah yang bersangkutan. Sertipikat Elektronik ini sendiri yang selanjutnya akan disebut dengan Seripikat-el ialah seripikat berbasis data online yang dapat diterbitkan melalui Sistem Elektronik dalam bentuk Dokumen Elektronik.

Aspek administrasi pertanahan dalam pengaturan hak-hak atas tanah adalah mengenai pendaftaran tanah tersebut. Menurut ketentuan Peraturan Pemerintah

4

Aria Putra Ilham, Ashri Muhammad, Abdullah Kasman dan Utami Dian, “Akuntabilitas Administrasi Pertanahan Dalam Penerbitan Sertipikat”, Mimbar Hukum Volume 29, Nomor 2, Juni 2017 Halaman 276-291

(8)

Nomor 24 Tahun 1997 dinyatakan bahwa yang terkait segi administratif disebutkan adalah data yuridis sedangkan segi teknik adalah data fisik. Data yuridis maksudnya adalah keterangan mengenai status hukum bidang tanah dan satuan rumah susun yang didaftarkan, pemegang haknya dan hak pihak lain serta beban-beban lain yang membebani hal tersebut.5 Bila dinyatakan sebagai status hukum bidang tanah yang sudah terdaftar, berarti terdapat bukti yang menunjukan nyatanya hubungan hukum antara orang dengan tanahnya. Nyatanya bukti hubungan hukum tersebut kemudian diformalkan melalui kegiatan pendaftaran tanah. 6

Kegiatan tersebut yang memformalkan kepemilikan tanah baik berdasarkan bukti-bukti pemilikan maupun penguasaan atas tanah selain menyangkut aspek yuridis dan aspek teknis, juga pelaksanaan pendaftaran tanah terkait dengan tugas-tugas keadministrasian. Maka dalam hal tersebut kegiatan pendaftaran tanah memiliki tugas-tugas penatausahaan, seperti halnya penetapan hak atas tanah dan pendaftaran peralihan hak tanah. Bisa dikatakan bahwasanya kegiatan yang berkaitan aspek yuridis sampai dengan penerbitan buku tanah, sertipikat dan daftar umum yang lain serta pencatatan perubahan di kemudian hari hampir semuanya berkaitan dengan tugas-tugas administrasi.7

Berkembangnya ilmu teknologi informasi adalah salah satu dorongan untuk dilahirkannya alternatif penyelesaian termasuk bagi penyelenggaraan pendaftaran tanah, setelahnya dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang selanjutnya disebut dengan UU ITE, secara yuridis menciptakan suatu pengaturan terbaru atas bentuk alat bukti yang dipandang sah dimuka hukum.

Sistem hukum positif Indonesia, ketentuan terkait dokumen elektronik diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi Teknologi dan Elektronik. Di Dalam UU ITE mengatur bahwa informasi elektronik/ dokumen elektronik sebagai alat bukti yang sah dimata hukum secara khusus dapat digunakan dalam acara perdata, diantara kedua alat bukti tersebut sangat menarik untuk dikupas lebih dalam lagi. Hal tersebut

5 Pasal 1 angka 6 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran

Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043)

6

M. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, 2011, Pencabutan Hak, Pembebasan dan Pengadaan Tanah, Maju Mundur, Bandung., hlm 208

7

(9)

disebabkan karena dokumen elektronik memiliki sifat paperless (tanpa penggunaan kertas) yang semula berbentuk paper based (menggunakan kertas) yang diartikan dahulu sebelum berkembangnya teknologi informasi yang begitu pesat sampai dengan sekarang ini, dokumen dibuat dengan menggunakan kertas maka digolongkan sebagai alat bukti tertulis atau surat. Yang mana dalam perkara ini bukti surat dan bukti tulisan merupakan bukti utama. keutamaan inilah yang terjadi akibat dalam surat dibuat untuk membuktikan keadaan tertentu atau peristiwa atau perbuatan hukum yang dilakukan oleh seseorang.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah digunakan untuk dapat mempertegas masalah-masalah yang akan diteliti dengan harapan akan memudahkan dalam penelitian yang dilakukan. Berdasarkan Judul dan Latar Belakang diatas maka dapat ditarik rumusan masalah yakni:

1. Bagaimana perbedaan sertifikat elektronik hak atas tanah dengan sertifikat hak atas tanah yang bersifat analog dalam hal memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi pemegang sertifikat?

2. Apakah dengan adanya sertifikat elektronik yang baru lebih memberikan perlindungan hukum dalam hal pembuktian?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui komparasi dari sertifikat hak atas tanah analog dan sertifikat elektronik hak atas tanah.

2. Untuk mengetahui apakah dengan adanya sertifikat berbasis elektronik ini lebih memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang sertifikat hak atas tanah.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini disusun dengan harapan besar mampu memberikan manfaat, baik secara Teoritis maupun praktis:

(10)

Hasil dari penelitian ini memiliki harapan mampu memberikan sumbangsih pemahaman kepada mahasiswa pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya dalam hal Sertifikat Elektronik Hak Atas Tanah.

2. Manfaat Praktis

Dengan adanya penelitian terkait Sertifikat Elektronik Hak Atas Tanag ini diharapkan dapat menjadi perbandingan, sekaligus pemahaman yang lebih mendalam lagi.

1.5 Kegunaan penelitian

Penelitian ini disusun dengan tujuan mempu memberikan manfaat kepada banyak pihak, yakni:

1. Kepada Pemerintah

Kegunaan dari penelitian ini mempunyai harapan besar yakni menjadi sumbangsih kajian untuk dijadikan pertimbangan adanya sertifikat elektronik yang mana harapan tidak terjadinya masalah-masalah pertanahan tidak akan terulang kembali.

Kajian ini merupakan perbandingan antara Sertipikat elektronik hak atas tanah dengan sertipikat elektronik analog yang mana diharapkan dengan menggunakan sertipikat elektronik ini bisa dengan ringkas menyimpan segala dokumen yang ada. Maka dari itu kajian ini juga diperlukan karena ada pertimbangan-pertimbangan yang akan diperlukan oleh PPAT maupun BPN yang menangani terbitnya sertipikat elektronik.

2. Kepada Masyarakat

Dengan adanya kajian ini maka diharapkan memberikan sumbangsih ilmu kepada masyarakat agar dapat mempertimbangkan dengan baik, juga untuk menjadikan referensi terkait sertipikat elektronik sekarang ini.

1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif yakni penelitian hukum yang menaruh hukum sebagai sistem norma. Sistem norma yang dimaksud ini yaitu mengenai aas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan. Dengan

(11)

pengertian penelitian inilah yang ditulis menggunakan teknik analisis substansi Peraturan Perundang-undangan atas pokok permasalahan. Sehingga dengan begitu penulis akan menganalisis mengenai Sertifikat Elektronik sebagaimana diatur dalam Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, Undang-Unang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun dan Pendaftaran Tanah, Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2020 tentang Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2020 tentang Badan Pertanahan Nasional, Peraturan Menteri Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Sertifikat Elektronik.

1.6.2 Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini disesuaikan dengan jenis penelitian yang telah penulis ambil. Oleh karenanya pendekatan yang digunakan ini mencangkup pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan analisis (analytical approach)

a. Pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach)

Pendekatan ini adalah pendekatan yang mana dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundang-undangan dan regulasi yang bersangkutan dengan isu hukum terkait.8

Dengan menggunakan metode pendekatan ini peneliti perlu memahami hierarki dan asas-asas yang ada di dalam peraturan perundang-undangan. Telah didefinisikan di dalam Perundang-undangan yang telah dibentuk oleh lembaga negara atau yang menjabat. Singkatnya dapat dimaknai bahwa yang dimaksud dengan statute berupa legislasi dan regulasi. Maka dari itu pendekatan

(12)

perundang-undangan adalah pendekatan yang menggunakan legislasi dan regulasi.

b. Pendekatan Analisis (Analytical Approach)

Pendekatan ini ialah pendekatan dengan menggunakan metode analisa dengan bahan hukum untuk mengetahui makna yang terkandung didalam istilah- istilah yang ada di dalam peraturan perundang-undangan tersebut secara konsepsional.9

1.6.3 Bahan Hukum

Penelitian ini diambil menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, maka dalam hal ini data pokok yang digunakan merupakan data sekunder. Data ini terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

1. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang terdiri dari peraturan perundang-undangan, dokumen dokumen resmi yang terkait, risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan hakim yang memiliki kaitan dengan permasalahan.

10

a. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria

b. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

c. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja

d. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah

e. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik f. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala

Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pendaftaran Tanah Wakaf di

9Johny Ibrahim, 2006, “Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif”, PT

Remaja Rosdakarya, Bandung

10

(13)

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

g. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Penerapan Tanda Tangan Elektronik

h. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Sertifikat Elektronik;

i. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah. 2. Bahan hukum sekunder (secondary law material) ialah bahan

yang memiliki penjelasan mengenai bahan hukum primer yang mana dalam hal ini adalah buku ilmu hukum, jurnal, laporan hukum, media cetak maupun elektronik. 11

3. Bahan hukum tersier (tertiary law material) ialah bahan hukum yang memiliki petunjuk ataupun informasi terkait bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, misal Kamus Bahasa Indonesia dan Kamus Hukum.12

1.6.4 Analisa Badan Hukum

Seluruh data yang didapat akan dianalisis dengan menggunakan metode normatif. Nomor dalam arti penelitian dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada kemudian akan dihubungkan dengan literatur dan juga memperhatikan penerapan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang memiliki hubungan dengan masalah yang diteliti. Pengelolaan bahan hukum secara normatif ini dilakukan dengan membahas dan menjabarkan bahan hukum yang digunakan dengan berdasarkan pada norma, teori serta doktrin yang berkaitan dengan materi yang telah diteliti dan menggunakan logika deduktif yang mana dalam artian menarik kesimpulan dari suatu permasalahan yang bersifat umum terhadap permasalahan konkret yang dihadapi.

11Abdulkadir Muhammad, 2004, “Hukum Perusahaan Indonesia”, PT. Intan

Pariwara, Bandung. Hlm. 82

12

(14)

1.6.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu bertujuan agar mendapatkan bahan perbandingan dan juga acuan penelitian. Selain perbandingan dan acuan, untuk menghindari anggapan kesamaan dengan penelitian yang sedang penulis susun. Maka dari itu kajian pustaka ini akan mencantumkan hasil-hasil penelitian terdahulu yang mana sebagai berikut:

1. Hasil Penelitian Nopika Sari Aritonang

Penelitian Nopika Sari Aritonang (2018) Berjudul “Efektivitas Pengurusan Pertanahan Berbasis Online Dalam Membantu Kinerja PPAT Melakukan Tugas Jabatannya (Studi Pada Kantor Notaris/PPAT Di Kota Medan)”. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang memiliki tujuan untuk mempelajari suatu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya. Selain itu juga mengadakan pemeriksaan mendalam terhadap suatu faktor hukum terkait, agar dapat mengusahakan suatu pemecahan atas suatu permasalahan yang timbul dari gejala yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses-proses yang digunakan untuk pendaftaran pertanahan berbasis online yang telah diberikan oleh Kantor Pertanahan Kota Medan yang mana bisa disimpulkan menyederhanakan atau tidak serta mengetahui kelebihan dan kekurangan, yang mana kekurangan dan kelemahan dapat diperbaiki agar mencapai tujuan dari Aplikasi Layanan Online.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Pendaftaran peralihan hak atas tanah dengan Aplikasi Layanan Online Kantor pertanahan tidak memudahkan proses penyelesaiannya di Kantor Pertanahan tersebut, dengan itu asas sederhana pendaftaran tanah yang telah diatur dalam PP Nomor. 24 tahun 1997 belum juga tercapai. Hal ini dikarenakan sistem Aplikasi Layanan Online ini hanyalah mengerjakan permohonan pendaftaran pengurusannya saja sementara proses lanjutannya dikerjakan di Kantor tetap sama, dengan artian Kantor tetap menggunakan sistem manual.

2. Hasil Penelitian Rizka Damayanti Pane

Penelitian Rizka Damayanti Pane (2019) dengan judul “Perlindungan Hukum Pemegang Hak Atas Tanah Dalam Pengadaan Tanah Untuk

(15)

Kepentingan Umum”. Penelitian yang digunakan berupa metode Normatif. Yang mana penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan dan dilakukan dengan menggunakan metode kajian terhadap peraturan perundang-undangan dan bahan-bahan hukum yang lainnya. Tujuan dari penelitian ini merupakan agar bisa mengetahui perlindungan hukum pemegang hak atas tanah tersebut dan juga untuk mengetahui kepastian yang diberikan oleh hukum terhadap pemegang sertipikat hak atas tanah.

3. Hasil Penelitian Yuyun Mintaraningrum

Penelitian oleh Yuyun Mintaraningrum (2015) yang memiliki judul “Aspek Kepastian Hukum Dalam Penerbitan Sertifikat Hak Atas Tanah (Analisis Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang Nomor Putusan PTUN Nomor 24/G/TUN/2000/PTUN.Smg)” Penelitian ini menggunakan Metode Penelitian Empiris yang mana memiliki tujuan untuk memberikan penjelasan terhadap praktik hukum yang dilakukan oleh pemerintah terhadap pendaftaran tanah.

Didasarkan dengan hal tersebut maka kesimpulan yang dapat diambil adalah Pendaftaran tanah di Indonesia ini bersifat Rechts Kadaster yang didasarkan pada Pasal 19 ayat (1) UU Nomor 5 Tahun 1960 yang mana menganut sistem publikasi negatif yang bertendensi positif. Maka dengan diterbitkannya sertifikat hak atas tanah ini tidak selamanya memberikan jaminan kepastian hukum bagi pemegang hak nya.

No. Nama/Perguruan Tinggi/Tahun

Judul Persamaan Perbedaan

1. Nopika Sari Aritonang/ Universitas Sumatera Medan/ 2018 Efektivitas Pengurusan Pertanahan Berbasis Online Dalam Membantu Kinerja PPAT Melalui Tugas Jabatannya (Studi PAda Kantor

Notaris/PPAT di Kota Medan)

Dalam hal

persamaan ini, juga melakukan analisis terhadap pendaftaran tanah/ penerbitan sertifikat berbasis online. Karena penelitian yang dengan menggunakan latar Dalam Penelitian yang dilakukan oleh Nopika Sari memiliki latar belakang kinerja yang dilakukan oleh PPAT dalam melakukan tugas dan jabatannya sebagai PPAT.

(16)

belakang online ini masih sangat sedikit maka Tesis yang ditulis oleh Nopika ini sangat berguna bagi acuan terhadap penelitian yang penulis lakukan. Dengan harapan dapat menjadi sinkronisasi “berbasis Online” yang sama-sama diteliti Efektivitas yang dimaksud disini adalah kinerja mengerucut kepada media online yang digunakan apakah mempercepat laju pembuatan akta ataukah tidak. Pada Penelitian ini juga memiliki perbedaan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Nopita tidak terkait dengan Kepastian dan Perlindungan Hukumnya namun lebih kepada efektivitas pengurusan di Kantor Pertanahan. 2. Rizka Damaryanti Pane Perlindungan Hukum pemegang Hak Atas Tanah Dalam Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Persamaannya dengan penelitian penulis adalah terkait dengan perlindungan hukum pemegang hak atas tanahnya. Tak Hanya itu penelitian ini juga menggunakan metode penelitian Perbedaan yang dimaksud disini adalah perlindungan hukum yang ada dalam penelitian penulis adalah perlindungan terkait sertifikat elektronik Perbedaan yang

(17)

normatif sama halnya dengan metode yang penulis pilih lainnya adalah penulis memfokuskan diri dalam hal kepastian hukum dan juga perlindungannya. 3. Yuyun Mintaraningrum Aspek Kepastian Hukum Dalam Penerbitan Sertifikat Hak Tanah (Analisis Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang Nomor Putusan PTUN Nomor

24/G/TUN/2000/PTU N.Smg)

Dalam penelitian ini kesamaan adalah terkait aspek kepastian hukum yang penelitian terdahulu angkat terkait dengan penerbitan sertifikat hak atas tanah, jaminan kepastian hukum dalam pendaftaran tanah yang menjadi bahasan dalam penelitian tersebut. Perbedaannya dalam hal ini penulis mengajukan penelitian terkait sertifikat elektronik dan penelitian terdahulu ini membahas terkait sertipikat analog saja, tak hanya itu yang membedakan disini adalah metode penelitian yang penulis pilih yakni adalah metode penelitian Normatif sedangkan penelitian terdahulu ini memilih menggunakan metode empiris yang mana terdapat dua data yakni Data Primer

(18)

dan Data Sekunder. Data Primer yang diperoleh melalui wawancara Dan data sekunder diperoleh melalui bahan hukum primer yakni Undang-Undang. 1.7 Sistematika Penelitian

Penulisan Tugas Akhir ini terdiri dari empat bab yang mana akan disusun secara sistematis, yang berkaitan antar bab dengan bab yang lainnya sehingga menimbulkan suatu rangkaian yang berkesinambungan. Agar bisa mengetahui maksud dari isi penulisan penelitian Tugas Akhir ini, maka dari itu disusunlah sistematika penulisan skripsi yang terdiri dari 4 (empat) bab, yakni:

BAB I PENDAHULUAN

Bahasan yang mencangkup pada bab ini adalah latar belakang, pembatasan, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian dan sistematika penelitian. BAB II TINJAU PUSTAKA

Pada bab ini menguraikan terkait tinjauan umum tentang teori kepastian hukum, tinjauan umum teori pembuktian hukum, tinjauan umum hak atas tanah, tinjauan umum pendaftaran tanah, tinjauan umum sertifikat hak atas tanah fisik, tinjauan umum sertifikat elektronik hak atas tanah dan tinjauan umum alat bukti elektronik.

(19)

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini menjelaskan yang memiliki isi hasil penelitian dan pembasahan yang menguraikan terkait hasil penelitian yakni kepastian hukum pemegang sertifikat berbasis online yang dikenal sebagai sertifikat elektronik dan juga pembuktian terhadap sertifikat tersebut. BAB IV PENUTUP

Bahasan yang memiliki isi kesimpulan dan saran yang diambil dengan dasar hasil penelitian yang telah dilakukan.

Referensi

Dokumen terkait

madrasah menilai dan membina pelaksanaan pendidikan agama di Madrasah di lingkungan kementerian Agama Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah

Eva Syafa‟ah, Judul :“Sejarah dan Perkembangan Organisasi Persatuan Islam di Banten Tahun 1952-2015” , Skripsi ini membahas mengenai Sejarah Persatuan Islam di Banten dari

Baik dari proses penghitungan keuangan dalam rumah tangga sampai pengontrolan alat-alat sederhana dan berat dalam perusahaan.Modem merupakan alat komunikasi dua

Penelitian pendahuluan dimaksudkan untuk menentukan kondisi optimum proses deasetilasi yang menghasilkan kitosan dengan derajat deasetilasi minimal 50% dengan perlakuan

1. Manusia bukan pemilik mutlak, tetapi dibatasi oleh hak-hak Allah sehingga wajib baginya untuk mengeluarkan sebagian kecil hartanya untuk berzakat dan ibadah

[r]

Lazimnya, keputusan tersebut mengidentisifikasikan masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan atau sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara

Penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif Kualitatif dengan metode studi kasus yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam dan lengkap