• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Berdasarkan studi pustaka, peneliti menemukan beberapa referensi penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tema penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Dari hasil pada penelitian tersebut menjadi bahan referensi dan evaluasi bagi peneliti untuk melakukan penelitian. Berikut merupakan penelitian terdahulu yang menjadi referensi oleh peneliti:

Pertama, Penelitian ini dilakukan oleh Nilda Susilawati (2018),

Dengan judul “Analisis Model Fundraising Zakat, Infak Dan Sedekah Di Lembaga Zakat”. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis model-model dalam menghimpun dana zakat yang terdapat serta telah diterapkan pada lembaga-lembaga zakat guna bahan evaluasi yang bertujuan untuk memaksimalkan pelaksanaan fundraising zakat, infak serta sedekah. Hasil analisis pada penelitian ini disebutkan perlunya perbaikan dalam aspek sumber daya manusia serta sistem informasi yang memudahkan masyarakat dalam mengakses aplikasi dan perlunya optimalisasi pengumpulan zakat dengan melihat potensi zakat yang terdapat di masing-masing wilayah pengelola zakat tersebut.

Kedua, Penelitian ini dilakukan oleh Meita Rizki Rahmalia & Sari Viciawati Machdun (2020), Dengan judul “Membangun Hubungan Pada Proses Fundraising Di Lembaga Amil Zakat”. Penelitian ini dilakukan untuk

(2)

7

mengetahui seberapa pentingnya keterampilan mikro staf dalam membangun serta menjaga hubungan dengan para donatur dalam proses fundraising dengan menggunakan analisis studi literatur pada jurnal, buku,

maupun karya ilmiah seperti skripsi dan tesis. Dalam penelitian ini ditemukan hasil bahwa keterampilan mikro memiliki peranan yang besar guna proses penghimpunan dana dalam suatu organisasi non-profit.

Pada penelitian terdahulu yang telah disampaikan diatas memiliki perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti saat ini.

Karena pada penelitian ini peneliti berfokus dalam membahas mengenai strategi fundraising lembaga filantropi Islam dalam program sosial- kemanusiaan pada Lazismu Kabupaten Malang dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.

B. Fundraising

1. Definisi Fundraising

Muhsin (Intyaswati, 2016) mendefinisikan fundraising merupakan suatu proses dalam mempengaruhi masyarakat untuk menyalurkan sejumlah dana, sumber daya non-dana, simpati maupun dukungan kepada komunitas.

Dan penyaluran dana tersebut dilakukan oleh perorangan maupun lembaga.

Dalam penggalangan dana, menawarkan program unggulan atau kualitas kinerja suatu lembaga/komunitas kepada masyarakat (donatur), yang membuat masyarakat ikut mendukung dan berpartisipasi, namun penggalangan dana tidak bermaksud atau membudayakan untuk meminta- minta melainkan menawarkan program kerja kepada mitra.

(3)

8

Norton (Apsari et al., 2016) menjelaskan fundraising adalah upaya dalam mengumpulkan uang maupun sumber lainnya yang digunakan guna pembiayaan pelayanan dan diberikan untuk bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan serta dalam pembiayaan operasional organisasi pelayanan sosial tersebut, dan dalam fundraising memiliki lima tujuan pokok yaitu, menghimpun dana, menghimpun donatur, menghimpun simpatisan dan pendukung, membangun citra lembaga serta memuaskan para donatur.

Susilawati (2018) menyebutkan bahwa terdapat beberapa model dalam fundraising yang digunakan oleh suatu lembaga zakat yaitu diantaranya,

pengumpulan dana yang dilakukan secara langsung yang diperoleh melalui masyarakat, melakukan kerjasama dengan instansi pemerintah maupun swasta dalam melakukan penghimpunan dana, dan dengan memanfaatkan aplikasi online, melakukan directmall atau surat penawaran yang ditujukan kepada para calon donatur serta membuka gerai maupun stand khusus di tempat-tempat yang mudah dijumpai masyarakat.

Dalam melakukan kegiatan penggalangan dana atau fundraising, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan. Metode dalam kegiatan fundraising merupakan suatu bentuk yang dilakukan oleh suatu organisasi

guna menghimpun dana dari masyarakat. Terdapat dua jenis metode dalam melaksanakan kegiatan fundraising yaitu, langsung (direct fundraising) dan tidak langsung (indirect) (Samsidar, 2019).

(4)

9 2. Strategi Fundraising

Dalam strategi penggalangan dana (fundraising) dalam buku Strategi Fundraising: Konsep dan Implementasi oleh Apsari et al (2016) menyebutkan yang digunakan oleh organisasi pelayanan sosial, meliputi;

1. Dialogue fundraising

Strategi dalam hal ini dilakukan oleh para penggalang dana di suatu organisasi pelayanan sosial dengan cara berdialog langsung atau bertatap muka untuk pencarian sumber dana.

2. Corporate fundraising

Strategi dalam hal ini dengan melakukan kerjasama dengan perusahaan. Strategi-strategi yang digunakan yakni; Cause Related Marketing (CRM), promosi bersama, serta pengajuan proposal.

3. Multichannel fundraising

Strategi dalam hal ini dengan memanfaatkan media serta saluran seperti; penggunaan website secara online, melalui telepon, dan melalui komunitas.

4. Retention and development donor

Strategi dalam hal ini dengan mempertahankan loyalitas para donatur dan pengembangan donatur, seperti; membangun hubungan dengan donatur serta menciptakan pelayanan kepada donatur tersebut.

Dalam melakukan penggalangan dana, para fundriser diharapkan mampu memahami sudut pandang para donatur, karena dalam melakukan penggalangan dana akan selalu berhubungan dengan banyak orang-orang.

(5)

10

Dan dalam melakukan penggalangan dana tentu menggunakan suatu teknik yang meyakinkan agar orang-orang tersebut tertarik untuk menyumbang dan menunjukkan alasan mengapa kegiatan bersangkutan menjadi hal yang penting.

Apsari et al (2016) menjelaskan salah satu teknik yang digunakan dalam melakukan penggalangan dana yakni Campaign. Campaign merupakan suatu strategi dalam melakukan penggalangan dana dengan melakukan kampanye melalui berbagai media komunikasi. Media-media yang dapat digunakan tersebut berupa liflet, stiker, poster, brosur, spanduk, media cetak dan elektronika, internet, dan lain-lain. Bentuk pada model ini yaitu berupa iklan, laporan keuangan, liputan program, profil donatur serta profil penerima bantuan tersebut.

Dalam mengumpulkan dana dibutuhkan strategi-strategi khusus yang digunakan (Samsidar, 2019), strategi tersebut meliputi:

1. Kampanye Media

Kampanye media merupakan suatu strategi yang dilakukan dengan berbagai macam publitas oleh media massa yang dilakukan oleh suatu lembaga guna membangkitkan kepedulian masyarakat.

Kampanye media diarahkan pada dua orientasi, (1) adanya citra kondisi masyarakat yang mengalami kesulitan seperti korban bencana, (2) sosialisasi yang dilakukan oleh lembaga yang bersangkutan bahwa sedang melakukan penghimpunan dana guna membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.

(6)

11

Terdapat beberapa tekhnik yang dapat dilakukan dalam kampanye media, yaitu:

a. Membuat Berita

Pada tekhnik ini dilakukan dengan membuat Press Release, undangan peliputan kegiatan, penyediaan

kolom khusus informasi kegiatan, forum dialog maupun diskusi yang dilakukan dengan wartawan, serta kunjungan ke media massa.

b. Pemasangan Iklan

Pada tekhnik ini dilakukan dengan memasang berbagai iklan pada media massa. Iklan-iklan tersebut dapat berupa gambaran mengenai kondisi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan, iklan yang dapat membangkitkan kesadaran masyarakat maupun iklan berisi informasi yang menjelaskan bahwa lembaga tersebut sedang melakukan penggalangan dana &

sedang membantu masyarakat yang mengalami kesulitan. Iklan tersebut dapat berbentuk advertorial maupun display.

2. Direct Fundraising

Direct fundraising merupakan suatu strategi lembaga yang dilakukan dengan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat, terlebih pada masyarakat yang berpotensi untuk menyumbangkan dananya. Strategi ini bertujuan untuk mewujudkan donasi oleh

(7)

12

masyarakat atau dapat langsung mendapatkan donasi setelah dilakukannya proses interaksi tersebut. Teknik yang digunakan tersebut seperti:

a. Direct Mail b. Telefundraising c. Pertemuan Langsung d. Kerjasama Program e. Fundraising Event

C. Konsep Filantropi

1. Definisi Filantropi

Filantropi (Philanthropy) berasal dari bahasa Yunani yaitu, Philos yang memiliki arti “Cinta”, dan Anthropos yang memiliki arti “Manusia”.

Secara harfiah Filantropi adalah konseptualisasi dari praktek memberi (giving), pelayanan (services) serta asosiasi (Association) yang secara

sukarela guna membantu pihak lain yang membutuhkan sebagai ekspresi cinta (Jusuf, 2007).

Secara umum Filantropi didefinisikan sebagai suatu tindakan sukarela untuk kepentingan publik. Filantropi memiliki dua bentuk menurut sifatnya, yaitu Filantropi Tradisional dan Filantropi Modern. Filantropi Tradisional merupakan filantropi yang berbasis kepada karitas (Charity) atau belas kasihan yang pada umumnya dalam bentuk pemberian untuk suatu kepentingan pelayanan sosial seperti pemberian yang dilakukan oleh para dermawan kepada kaum miskin guna membantu kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lainnya. Sedangkan pada Filantropi Modern,

(8)

13

lebih kepada upaya mobilisasi sumber daya guna mendukung kegiatan yang menggugat ketidakadilan struktur yang menjadi penyebab suatu kemiskinan maupun ketidakadilan. Dalam hal ini sumber daya yang dikumpulkan akan ditujukan kepada suatu kegiatan yang mengarah kepada perubahan sosial dengan metode utamanya pengorganisasian masyarakat, advokasi serta pendidikan publik (Jusuf, 2007).

James O. Midgley (Tamim, 2011) menjelaskan filantropi adalah salah satu dari tiga pendekatan dalam mempromosikan kesejahteraan dimana berisi upaya pengentasan kemiskinan yang disebut pendekatan social services (social administration), social work serta philanthropy. Kegiatan

dalam suatu tradisi filantropi dilestarikan dengan melakukan pemberian sumbangan kepada orang-orang yang kurang beruntung.

Barry Knight (Abidin, 2016) menyebutkan ada lima faktor yang dapat dikategorikan sebagai filantropi keadilan sosial sebagai berikut:

1. Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, seperti, makanan, pakaian, perumahan, lingkungan hidup, kesehatan, dsb.

2. Berderma guna hal-hal yang berhubungan dengan suatu kesetaraan, seperti kesetaraan gender, anti-diskriminasi, hak asasi manusia.

3. Kedermawanan untuk suatu program yang berhubungan dengan pembagian kekuasaan, seperti penegakan demokrasi.

4. Dukungan pendanaan guna meningkatkan kapasitas masyarakat.

5. Partisipasi publik di dalam pengambilan suatu keputusan.

(9)

14 2. Filantropi Islam

Filantropi dalam islam menurut Zahrah (Kasdi, 2016) ditunjukkan dengan terdapatnya praktik filantropi dengan tradisi Islam yakni dengan melakukan zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Dalam al-Qur’an dikenal dengan istilah zakat, infak dan sedekah yang memiliki pengertian berderma saat membahas mengenai filantropi. Kedermawanan tersebut ditunjukkan dengan bentuk filantropi Islam yakni berupa zakat, infak, sedekah dan wakaf.

Al-Qur’an Surat al-Ma’un: 1-7 merupakan suatu dasar utama filantropi islam, yaitu dimana salah satu pertanda seseorang yang mendustakan agama ialah tidak menyantuni anak yatim. Terdapat dua konsep dalam filantropi (Rahmayati, 2015), yaitu:

1. Filantropi merupakan suatu kesukarelaan yang tidak dapat dituntut apapun dari pihak pemberi.

2. Filantropi merupakan sesuatu yang berkaitan tentang hak, tentang peralihan suatu sumber daya dari seseorang yang kaya kepada mereka yang tidak mampu.

Seseorang yang berhak menerima zakat disebut sebagai Mustahiq.

Tentunya terdapat golongan atau orang-orang tertentu yang sangat berhak menerima zakat, disebutkan melalui surat At-Taubah ayat 60 bahwasanya terdapat delapan kelompok yang berhak menerima zakat. Kelompok tersebut disebut ashnaf tsamaniyah yang berarti kelompok delapan. Delapan kelompok tersebut ialah sebagai berikut:

(10)

15

1. Fakir, disebutkan fakir ialah seseorang yang tidak memiliki harta, serta tidak memiliki penghasilan yang tetap.

2. Miskin, ialah seseorang yang memiliki penghasilan tetap, namun penghasilan tersebut tidak dapat mencukupi keperluan setiap harinya (selalu dalam kekurangan).

3. Amil, ialah seseorang dengan pekerjaan menghimpun serta memberikan zakat pada orang-orang yang berhak untuk menerimanya.

4. Mu’allaf, ialah seseorang dengan hati yang lemah dicontohkan seseorang yang baru masuk Islam, ia diberikan zakat guna hatinya kuat untuk tetap memeluk agama Islam.

5. Riqab, ialah seorang hamba (budak) dengan akan dimerdekakan yaitu oleh tuannya, jika dibayarkan kepadanya dengan uang maupun lainnya.

6. Gharim, ialah seseorang yang memiliki hutang dan tidak mampu untuk membayarnya.

7. Sabillilah, ialah seseorang yang dengan rela hati berperang di jalan Allah dengan tidak memperdulikan upah maupun pangkat dan lainnya, yang diperjuangkannya semata-mata memiliki niat karena Allah.

8. Ibnu Sabil, ialah seseorang yang sedang bepergian dengan jaraj yang jauh (musafir) dan bukan untuk menjalankan maksiat, kehabisan bekal di pertengahan jalan, ialah sama halnya seseorang menuntut ilmu pengetahuan maupun seseorang yang mensyiarkan agama Islam.

Sudarsono (Chintya & Wahyuni, 2017).

(11)

16 3. Bentuk Pemanfaatan Zakat

Sesuai pada penjelasan diatas bahwa pendistribusian zakat harus dilakukan hanya kepada delapan golongan. Dijelaskan kata distribusi diambil melalui bahasa inggris yaitu distribute yang memiliki arti pembagian atau penyaluran, secara terminologi distribusi merupakan penyaluran (pembagian) yang ditujukan kepada orang banyak maupun beberapa tempat. Dalam pemanfaatannya pendistribusian zakat digolongkan kedalam 4 bentuk (Ansori, 2018) :

1. Memiliki sifat konsumtif tradisional dimana proses pembagian zakat dilakukan secara langsung.

2. Memiliki sifat kreatif konsumtif yang berarti pada proses yang dalam pengkonsumsiannya dilakukan pada bentuk lain dari barangnya semua pemberian tersebut dalam bentuk seperti beasiswa, gerabah, cangkul.

3. Memiliki sifat produktif yaitu dimana proses pada pemberian zakat diserahkan dalam berupa benda maupun barang yang memberikan produktifitas untuk satu daerah yang mengelola zakat, bentuk tersebut dapat berupa sapi, kambing, becak, dan lain sebagainya.

4. Memiliki sifat produktif kreatif yang berarti proses perwujudan dalam pemberian zakat diberikan dalam bentuk berupa permodalan bergulir yang dimana baik guna usaha program sosial, home industri, maupun modal usaha kecil.

Melalui penjelasan yang telah dikemukakan diatas dapat peneliti simpulkan bahwa filantropi merupakan suatu kegiatan kemanusiaan yang

(12)

17

memiliki sifat sukarela dengan mengajak, membagikan serta mengumpulkan harta yang dimiliki kepada orang-orang yang membutuhkan atas dasar kasih sayang pada sesama yang ditujukan untuk mendapatkan suatu perubahan sosial.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan diberlakukannyaUndang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7 ) peraturan Pemerintah Republik

Karya sastra merupakan hasil dari curahan perasaan sentimentaldan abstraksi dari sebuah semesta kejiwaan, baik kesadaran maupun alam bawah sadar dalam memahami kehidupan

Dari data dan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian kepada remaja putri di Desa Undaan Lor yang akan dituangkan dalam skripsi dengan judul Pengaruh Gaya

Tabungan Dian lebih banyak daripada jumlah tabungan Anis, Benny, dan Kinar.. Tabungan Anis lebih banyak daripada

Satu hal yang perlu di pertimbangkan pada saat penerapan multi faktor otentikasi di sebuah organisasi adalah bahwa sistem ini masih memiliki beberapa kelemahan yang

Berdasarkan penelitian ini terbukti bahwa ekstrak daun ceremai (Phyllanthus acidus (L.) Skeels.) dapat mempengaruhi titer widal O pada mencit balb/c yang diinfeksi

Huruf hijaiyah Huruf hijaiyah Huruf hijaiyah Gambar 3.16 Tampilan Belajar Tanwin Dhomah.. Pada gambar 3.16 bisa kita lihat bahwa terdapat pop up huruh tanwin dhomah dan

Pertanyaan berkaitan dengan data demografi responden serta opini atau tanggapan terhadap gaya kepemimpinan consideran, gaya kepemimpinan structure, kompleksitas