• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesian Journal of Educational Assessment KAJIAN UMPAN BALIK GURU TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Indonesian Journal of Educational Assessment KAJIAN UMPAN BALIK GURU TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

http://ijeajournal.kemdikbud.go.id

Indonesian Journal of Educational Assessment

p-ISSN : 2655-2892 e-ISSN : 2684-8074

KAJIAN UMPAN BALIK GURU TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

Study of Feedback on Student Learning Outcomes

Etty Sofyatiningrum

1

, Ikhya Ulumudin

2

, Farah Perwitasari

3

1, 2 Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemendikbud RI

3 Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemendikbud RI Email: [email protected]

Naskah Diterima Tanggal 20 Agustus 2019 – Direvisi Akhir Tanggal 6 Oktober 2019 – Disetujui Tanggal 20 November 2019 – Publikasi Online: 29 Desember 2019

Abstract. The purpose of this study was to identify the form of feedback on the learning outcomes on 8th graders junior high school conducted by the teacher. The study was conducted in the city of Yogyakarta, Makassar, Bandung and Badung during July-August 2019. Respondents were 8th grade junior high school teachers, who teach Science and English subjects. School samples were purposely taken from students who achieve high scores in the UN. Respondents were observed during the learning process followed by interviews and discussion with other teacher. The results of the study show that the implementation of teacher feedback on student learning outcomes has not yet optimal. This is indicated by the teacher's comments on student learning outcomes only correcting mistakes, and giving the correct answers. Almost all teachers have not provide depth explanation nor additional concepts towards the mistakes in order to strengthen students’ understanding. According to respondents, there are contributing factors in giving feedbacks on the learning outcomes. These are: (1) teachers’ knowledge on the meaning and function of feedback on student learning outcomes; (2) there is no guidance from the government regarding the importance of teacher feedback, and (3) there is no training from the government about feedback. To foster teachers’ feedback on student learning outcomes requires government efforts with clear guidelines about the necessity to emphasize feedback on student learning outcomes.

Keywords: feedback, learning outcomes, measurement, junior high school

PENDAHULUAN

Pendidikan nasional, sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Hal tersebut tertuang dalam UU No 20/ 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Konten pendidikan yang mencakup sikap, keterampilan dan pengetahuan perlu diarahkan agar dapat memberi kemampuan bagi siswa untuk menggunakannya bagi kehidupan di masa depan.

Guru hendaknya melakukan evaluasi dan umpan balik terhadap proses pembelajaran di kelas, sehingga guru dapat mengarahkan siswanya lebih baik lagi dan guru dapat membuat perencanaan pembelajaran ke depan secara lebih efektif. Hal ini didukung dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22. Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, yang menyatakan bahwa dalam kegiatan penutup, guru bersama peserta didik baik secara individual maupun kelompok melakukan refleksi untuk mengevaluasi seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, serta melakukan kegiatan tindak lanjut (Kemendikbud, 2016). Pada halaman lain tertulis, “Dalam menyusun RPP hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai

▸ Baca selengkapnya: contoh umpan balik guru terhadap teman sejawat

(2)

berikut: Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi”.

(Kemendikbud, 2016).

Penggunaan umpan balik merupakan pembelajaran yang mengajak siswa untuk menerima masukan, sehingga mampu mengkritisi pendapatnya sendiri, memperbaiki kesalahan pemahaman, tanpa melukai harga dirinya. Hal lain yang tidak kalah penting, yaitu motivasi dari guru, yang membuat siswa merasa kompeten; siswa ditantang untuk sedikit melangkah maju dari tingkat perkembangannya saat ini. Hal ini sesuai dengan pendapat Anatole France (dalam Bellen, dkk, 2010);

bahwa sembilan per sepuluh pendidikan adalah memberi dorongan. Hasil penelitian lain mengatakan bahwa pemberian umpan balik positif memberikan pengaruh yang signifikan pada pengembangan konsep diri yang positif pada siswa kelas V SD (Budiman, tanpa tahun).

Umpan balik merupakan informasi yang diberikan kepada siswa mengenai kemampuannya dalam beraktivitas ke arah pencapaian tujuan pengajaran yang berbentuk skor hasil ujian, komentar dalam tugas, dan jawaban atas pertanyaan (Slameto dalam Anggraini, 2015; Cole dan Chan dalam Febriyanti, 2013). Pengertian umpan balik yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Hattie dan Timperley (2007), bahwa umpan balik merupakan informasi yang diberikan oleh agen (guru, teman sebaya, buku, orang tua, diri sendiri, pengalaman) mengenai aspek kinerja atau pemahaman seseorang. Seorang guru atau orang tua dapat memberikan informasi korektif, rekan kerja dapat memberikan strategi alternatif, buku dapat memberikan informasi kepada mengklarifikasi ide, orang tua dapat memberikan dorongan, dan pelajar dapat melihat jawaban untuk mengevaluasi kebenaran jawaban. Umpan balik dengan demikian adalah "konsekuensi" kinerja.

Pada penelitian ini, konsep umpan balik didefinisikan sebagai proses penyediaan informasi baik secara langsung maupun tidak langsung, yang berguna bagi peserta didik untuk memeriksa dan mengoreksi kemampuan yang berkaitan dengan pendapat dan penampilan mereka, sehingga mampu memonitor kemajuan belajar mereka sendiri.

Terdapat 4 level umpan balik, yaitu (1) umpan balik berupa keterangan salah atau benar; (2) ditambah pemberian jawaban yang benar; (3) ditambah penjelasan; dan (4): diberi pengajaran atau konsep tambahan untuk menguatkan (Roper dalam Windarsih, 2016). Tingkatan umpan balik ini sangat berguna untuk melihat tingkat mana umpan balik yang dilakukan guru terhadap siswanya.

Beberapa fungsi umpan balik, yang dikemukakan oleh Buis dalam Windarsih (2016) yaitu (1) peringatan; (2) perbaikan strategi; (3) informasional ; (4) komunikasi; (5) motivasi. Untuk menerapkan umpan balik yang bermakna, guru harus memperhatikan prinsip (1) berikan umpan

balik sesegera mungkin; (2) berikan umpan balik yang spesifik; (3) berikan umpan balik sesuai tingkat perkembangan anak; (4) berikan penghargaan (reward) bersama umpan balik positif; (5) bantulah siswa untuk tetap fokus pada proses, bukan pada hasil (Kulhavy & Stock, dalam Lestariningsih, 2014).

Apabila siswa melakukan kesalahan, saat itu juga hendaknya guru langsung bertindak sehingga dapat langsung terkoreksi. Komentar atau memberi saran juga harus spesifik, misalnya komentar terhadap hasil ulangan “belajar lebih rajin lagi”, itu termasuk yang normatif; namun jika “pelajari tentang fungsi otak, karena kamu belum faham materi tersebut” pesan tersebut sudah spesifik, mudah diterima siswa. Selain bermanfaat bagi siswa, umpan balik juga bermanfaat bagi guru, berdasarkan masukan dari siswa, guru dapat memperbaiki strategi pembelajarannya.

Penelitian yang dilakukan oleh Jumiatun., Samad, & Ma’ruf (2016) yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Melalui Pemberian Tugas Terstruktur Disertai Umpan Balik pada Model Pembelajaran Langsung Peserta Didik Kelas VIIA SMP Negeri 1 Bontonompo Kabupaten Gowa” membuktikan bahwa upaya pemberian tugas terstruktur disertai umpan balik pada model pembelajaran langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika. Penelitian yang dilakukan oleh Fernando, Jatra, & Reski (2017) untuk melihat pengaruh pemberian umpan balik positif, netral dan negatif terhadap self-esteem pada siswa SMP, menemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian umpan balik positif, netral dan negatif terhadap perkembangan self-esteem yang sehat pada siswa kelas 1 SMP, adapun pemberian umpan balik positif akan memberikan pengaruh paling baik dalam mengembangkan self-esteem yang sehat pada mereka.

Anggraini (2015) dalam penelitiannya yang berjudul “Pemberian umpan balik terhadap hasil belajar dan self-efficacy matematis siswa kelas VII SMP” menemukan bahwa rata-rata hasil belajar dan self-efficacy matematis siswa yang diberikan umpan balik lebih tinggi daripada siswa yang tidak diberikan umpan balik. Selain itu, terdapat pengaruh yang positif dari pemberian umpan balik terhadap hasil belajar dan self-efficacy matematis siswa kelas VII. Selain itu, terdapat hubungan yang positif antara self-efficacy matematis dan hasil belajar siswa sebesar 0,87 (sangat kuat). Freedman-Doan, dkk.

dalam Burnett (2010) menemukan bahwa ketika anak-anak ditanya "Bagaimana mereka tahu bahwa mereka adalah yang terbaik dalam kegiatan yang mereka pilih?" 46% menjawab bahwa umpan balik tentang kemampuan mereka adalah alasan mereka percaya bahwa mereka adalah yang terbaik.

Kondisi faktual tentang hasil pembelajaran yang bermakna yang dilihat pada pelaksanaan ujian nasional (UN) SMP tahun 2019, menggambarkan

▸ Baca selengkapnya: catatan umpan balik hasil supervisi

(3)

bahwa proses pembelajaran di SMP masih belum berhasil.

Tabel 1. Capaian rata-rata UN SMP negeri dan swasta, tahun 2019

Mata Pelajaran Nilai Rerata

Bhs Indonesia Bh. Inggris

65,69 50,23 IPA

Matematik

48,7 46,56

Sumber: http://puspendik.kemdikbud.go.id/hasil-un/

Perlu dilakukan pengkajian pada dokumen perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembelajaran siswa untuk melihat keberhasilan pelayanan umpan balik guru dalam pembelajaran. Hasil dari saran kebijakan kajian ini diharapkan terdapat peningkatan hasil belajar siswa yang ditunjukkan melalui nilai UN. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan kajian awal umpan balik guru terhadap hasil belajar siswa. Perumusan masalahnya adalah bagaimana bentuk guru memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa? Adapun tujuan pengkajian ini adalah mendapatkan informasi tentang bagaimana bentuk umpan balik guru terhadap hasil pembelajaran siswa.

Secara khusus, tujuan pengkajian ini adalah (1) mengkaji keberadaan muatan umpan balik di dalam pelatihan K-13 (2) mengkaji pemahaman guru tentang umpan balik, (3) mengkaji keberadaan muatan umpan balik di dalam RPP (3) mengkaji umpan balik dalam pelaksanaan pembelajaran, (4) mengkaji umpan balik pada hasil belajar siswa, (5) mengkaji tanggapan siswa dan guru terhadap umpan balik guru; (6) mengkaji berbagai pendukung dan kendala pelaksanaan umpan balik pada hasil belajar siswa.

Manfaat hasil kajian awal ini adalah dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi untuk menetapkan kebijakan pada program peningkatan profesionalisme guru secara sistematis dan menyeluruh tentang bagaimana caranya agar guru-guru SMP melakukan umpan balik kepada siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna dan hasil belajar siswa lebih meningkat.

METODE PENELITIAN

Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan objek secara alamiah sebagai sumber data yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang digunakan pada pembelajaran, proses pembelajaran dan penilaian, sarana pembelajaran di sekolah, dan catatan supervisi kepala sekolah dan pengawas. Responden terdiri atas 4 guru yang diwawancarai dan diamati pembelajarannya, 4 kepala sekolah yang diwawancarai, siswa-siswa sejumlah 4 kelas yang mengisi kuesioner secara offline, 9.483 siswa yang mengisi kuesioner online, dan 1.490 guru yang mengisi kuesioner online. Selama penelitian berlangsung, tidak ada intervensi yang dilakukan oleh pengumpul data agar informasi yang

didapatkan berdasarkan situasi apa adanya. Desain penelitian yakni dengan triangulasi antara beberapa instrumen dan beberapa responden untuk menjawab tujuan penelitian.

Temuan hasil analisis pada penelitian ini berasal dari berbagai data yang berbeda-beda baik sumber data maupun teknik pengumpulan datanya yang saling berkaitan satu dengan lainnya, misalnya temuan tentang umpan balik di dalam dokumen kurikulum didapatkan berdasarkan hasil analisis Standar Proses, RPP; jawaban pada wawancara guru, siswa, hasil diskusi kelompok terpumpun (DKT) yang melibatkan guru-guru, dan hasil pengamatan pada saat proses dan penilaian pembelajaran.

Lokasi penelitian ditetapkan dengan kriteria:

(1) sekolah yang sudah mengimplementasikan Kurikulum 2013, dan (2) Sekolah dengan guru dan tenaga kependidikan (GTK) yang telah mendapatkan pelatihan K-2013 hasil penyempurnaan 2016. Keempat lokasi pengumpulan data mencakup: Kota Yogyakarta, Kota Bandung, Kota Makasar, dan Kabupaten Badung. Instrumen utama pada penelitian ini adalah peneliti sendiri yang dapat berhubungan langsung dan berinteraksi dengan sumber data serta mampu memahami sumber data. Instrumen yang digunakan panduan wawancara, panduan observasi, panduan DKT, dan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan cara mengolah dan menganalisis data yang telah terkumpul menjadi data yang sistematik, teratur, terstruktur dan mempunyai makna.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Semua responden, baik guru, kepala sekolah, pengawas maupun pejabat Dinas Pendidikan dari Kota Yogyakarta, Kota Makasar, Kota Bandung, dan Kabupaten Badung sudah pernah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013, dengan variasi waktu pelaksanaan, jumlah pelaksanaan 1 s.d. 4 kali, tempat dan tutor. Adapun tutor beragam berasal dari sekolah yang bersangkutan, MGMP yang dilatih oleh teman gurunya yang mengikuti pelatihan, ada juga yang di LPMP, dengan instruktur dari LPMP dan dari instruktur kabupaten (IK).

Guru, kepala sekolah, pengawas dan pejabat dinas pendidikan yang diwawancarai, mempunyai pengalaman yang sama, bahwa selama pelatihan, instruktur atau pelatih K-2013 tidak pernah menjelaskan tentang konsep dan pentingnya umpan balik dalam pembelajaran, namun instruktur melakukan umpan balik pada saat pelatihan di kelompok kecil, pada saat penyusunan RPP, penyusunan instrumen penilaian, dan analisis bahan ajar. Beberapa instruktur yang dirasa kurang mampu menyajikan materi K-2013. Menurut responden, kemampuan instruktur yang kurang ini, karena pemilihan instruktur hanya dari nilai UKG, tanpa melihat pengalaman mengajar, padahal subjek yang dilatih adalah para pengawas, kepala sekolah dan guru yang sudah berpengalaman dalam

(4)

pembelajaran. Responden menyarankan untuk mempertimbangkan pengalaman mengajar selain nilai UKG dalam pemilihan instruktur.

Pemahaman tentang umpan balik, bagi guru- guru umumnya adalah refleksi yang dilaksanakan di akhir pembelajaran. Sedikit berbeda dengan pendapat kepala sekolah, bahwa umpan balik merupakan masukan dari kepala sekolah kepada guru, dari guru kepada siswa, atau dari hasil penilaian siswa yang membuat guru mengrubah strategi mengajarnya, jika daya serapnya kecil.

Pendapat pengawas hampir sama dengan pendapat kepala sekolah, para pengawas menambahkan pengalamannya pada saat supervisi kelas kepada guru-guru, bahwa mereka memberi umpan balik kepada guru, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu melalui kepala sekolah.

Analisis RPP guru terkait umpan balik; pada RPP guru IPA di SMPN 1 Kuta, umpan balik terdapat pada kegiatan inti; tertulis “Guru menanggapi hasil diskusi siswa dan memberikan konfirmasi yang sebenarnya”. Umpan balik di RPP guru IPA SMPN 5 Yogyakarta terlihat pada kalimat”. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang berkinerja baik secara lisan”. ”Guru IPA di Makasar, menuliskan umpan balik pada akhir pembelajaran berupa “Melakukan refleksi berupa tanya jawab”; sedangkan guru bahasa Inggris di Bandung menuliskan “Guru mengamati sikap siswa kedisiplinan, percaya diri, kerja sama, dan kesopanan selama pembelajaran”. Semua guru tanpa mereka sadari sudah menuliskan umpan balik pada RPPnya, walaupun pada saat wawancara mereka merasa belum mencantumkan umpan balik pada RPP.

Hasil observasi selama pembelajaran, cara guru memberikan umpan balik bervariasi; di SMPN 2 Bandung; mata pelajaran Bahasa Inggris, materi yang diajarkan “Teks Interaksi Transaksional”.

Umpan balik terlihat saat kegiatan inti, tanya jawab, misalnya pada saat guru mengajukan pertanyaan,

“what is another example?”, siswa menjawab; “She can make a cake’, guru memberi pujian, “ok, very good (guru mengulang jawaban siswa). Tiga kali guru mengomentari siswa dengan “ok, very good” yang berarti jawaban benar. Pujian dari guru membuat siswa yang menjawab dengan benar, terlihat senang.

Umpan balik guru akan lebih bermakna bagi siswa yang menjawab kurang tepat, sehingga dapat langsung terkoreksi. Tantangan bagi guru, agar timbul umpan balik di kelas, adalah guru memberi pertanyaan yang lebih menantang pemikiran siswa.

Kondisi pembelajaran IPA tentang “Gerak”

di SMP 05 Yogyakarta; guru memberi komentar positif, berupa motivasi seperti “hampir benar, teruskan”. Komentar guru lainnya antara lain

“Mana hasilnya?”, “Susun yang bagus ayo”; “Hasil kamu mana? perbaiki, sedikit lagi, semangat, semangat”. Ada juga umpan balik negatif seperti

“Kamu kok ngerjain lambat banget, ga biasa ya?”;

terlihat muka siswa tersipu, malu. Sebaiknya ada

kalimat positif yang bisa meningkatkan semangat siswa tersebut, seperti...”Ayo cara kerjamu dipercepat sedikit” agar dapat memotivasi siswa.

Komentar-komentar guru di atas yang berbentuk pujian, belum mengerucut ke substansi khusus, belum sesuai dengan prinsip yang dikemukakan Kulhavy (dalam Lestariningsih, 2014), bahwa umpan balik harus spesifik, atau memuji sambil memberikan koreksi.

Pada pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran IPA kelas 8 di SMPN 8 Makasar, suasana kelas hidup, jawaban siswa banyak yang spontan, misalnya menjawab pertanyaan “Mengapa langkah citah lebih cepat jika dibandingkan dengan gajah?”

Jawaban spontan siswa “Karena badannya ringan”.

Ada kesan akrab antara guru dengan siswa, terlihat dari jawaban bersamaan dan spontan dari siswa.

Hasil kegiatan kelompok yang benar semua dan paling cepat, mendapat 5 bintang, kedua tercepat 4 bintang, dan seterusnya, sehingga membuat anak termotivasi untuk bekerja lebih cepat. Dalam hal ini, guru memberi umpan balik terhadap sikap sehingga masing-masing termotivasi untuk bekerja lebih cepat.

Pembelajaran di kelas 8 SMPN 1 Kuta, Kabupaten Badung, Bali; siswa ditugasi secara kelompok dengan tugas yang berbeda-beda. Tugas kelompok 1 tentang fungsi rangka, tugas kelompok 2 tentang jenis tulang, tugas kelompok 3 tentang kelainan sendi, tugas kelompok 4 tentang otot, tugas kelompok 5 tentang rusuk, dan tugas kelompok 6 tentang fungsi otot. Masing-masing mempresentasikan hasil kelompoknya. Guru bertanya siapa yang mau bertanya, semua siswa pasif, tidak ada komentar. Setelah semua mempresentasikan hasil kelompok, guru menjelaskan materinya.

Ketika ada siswa yang mengantuk, guru berkomentar, “Yang di belakang tolong perhatikan”, namun siswa tidak peduli. Guru kurang menekan siswa agar berperilaku lebih baik. Selama penjelasan, tidak ada siswa yang bertanya. Di akhir pelajaran guru melakukan tes dengan metode kerja mandiri. Hasil tes bervariasi, ada yang masih salah ada juga yang hampir semua benar. Komentar guru pada hasil tes sangat normatif seperti “Belajar lebih giat lagi”, cenderung nihil tanpa komentar. Selama pengamatan tidak ditemukan umpan balik, suasana kelas terkesan pasif, walaupun ada kerja kelompok.

Cara guru menjelaskan dengan tanya jawab, namun hanya satu dua orang yang menjawab pertanyaan guru. Sebaiknya guru lebih merangsang siswa untuk lebih aktif baik secara fisik maupun mental, sehingga pelajaran lebih mudah diserap.

Berdasarkan observasi secara keseluruhan dapat dilihat bahwa dalam pembelajaran bahasa Inggris baik dalam proses maupun hasil terdapat umpan balik guru pada substansi, sedangkan pada pembelajaran IPA bervariasi. Ada yang sama sekali tidak ada umpan balik guru terhadap siswa, baik dalam proses maupun dalam hasil belajar, namun

(5)

ada juga ada yang lebih dominan dalam proses pembelajaran dan pada hasil belajar siswa. Pada saat wawancara, diketahui bahwa guru tidak mengetahui jika harus ada penekanan umpan balik baik pada proses pembelajaran maupun hasil belajar. Mereka bekerja sesuai dengan nurani bagaimana seharusnya guru mengajar. Para guru berjanji akan memberikan umpan balik yang lebih intens selama proses pembelajaran maupun terhadap hasil belajar.

Hasil analisis pada lembar tes siswa, pada mata pelajaran Bahasa Inggris ada komentar guru seperti “exellent” untuk siswa dengan nilai 100;

“good” untuk siswa dengan nilai 90; lainnya ada komentar pembetulan seperti penulisan “arrived”;

spend; “will do it”. Menurut guru Bahasa Inggris, Ia terbiasa mengomentari hasil karya siswa beberapa kali, sampai siswa mampu menulis karangan pendek seperti “My Holiday”, “Go to Mecca”; “dialogue”. Dari hasil wawancara, guru baru mengetahui ternyata umpan balik merupakan hal yang sangat penting dan sangat mempengaruhi hasil belajar siswa.

Lembar hasil tes mata pelajaran IPA di SMPN 5 Yogyakarta, dikomentari guru antara lain

“Good”, sementara nomor yang salah tidak dikomentari sama sekali. Hal ini terjadi kemungkinan karena guru belum memahami hakikat umpan balik. Hasil tes siswa pada pembelajaran IPA di SMPN 1 Kuta, Kabupaten Badung Bali, dengan topik “Sistem Gerak Manusia”, beberapa komentar guru antara lain;

“Pertahankan nilainya”; “Tingkatkan lagi belajar”;

“Baca materi lebih banyak”; “Konsentrasi pada saat teman presentasi”. Komentar guru pada hasil belajar siswa di SMPN 8 Makasar, diisi dengan bintang- bintang; ada gambar bintang lima, bintang 4 dan lainnya. Komentar guru ini cenderung memotivasi, terlihat dari siswa yang berlomba agar cepat selesai, mengejar 5 bintang. Guru juga meminta umpan balik dari siswa, dengan mengatakan, “Silakan kalian tulis di buku tugas simbol senang, kecewa, gembira, sedih dan lainnya selama kalian belajar IPA”. Guru sudah meminta umpan balik dari siswa secara psikologis, bukan substansi.

Beberapa tanggapan positif siswa SMPN 01 Kuta, Bali, mengenai umpan balik dari guru antara lain, bahwa Bapak/ Ibu guru selalu memberi tanggapan positif terhadap setiap jawaban yang diberikan siswa saat pembelajaran. Hal ini dikemukakan oleh 28 siswa dari 34 siswa.

Tanggapan lainnya untuk PR, bapak/Ibu guru selalu rajin memeriksa dan memberitahu mana yang salah beserta hasil koreksi jawaban yang benar. Hal ini dikemukakan oleh 25 siswa, sisanya menjawab sering dan kadang-kadang. Ternyata masih terdapat siswa (9 siswa) yang berpendapat bahwa siswa jarang termotivasi terhadap tanggapan guru ke siswa.

Berdasarkan tanggapan sepertiga dari jumlah kelas siswa dari SMPN 5 Yogyakarta, mereka menyampaikan bahwa umumnya guru memeriksa PR dengan memberi keterangan salah atau benar, namun jarang memberitahu jawaban yang benar maupun penjelasan yang lebih mendalam.

Hal ini terjadi kemungkinan karena kesibukan guru atau karena umpan balik telah dilakukan secara klasikal sebelumnya. Begitu juga, mayoritas siswa menyatakan bahwa guru hanya kadang-kadang memberi keterangan salah atau benar di dalam ulangan yang dibagikan pada setiap butir jawaban siswa. Semua siswa umumnya mendambakan guru yang jelas dalam memaparkan, sabar menghadapi siswa, ramah dan lucu sehingga belajar lebih semangat.

Penggunaan umpan balik positif dalam hasil pembelajaran sebagian telah dilakukan oleh guru.

Berikut ini adalah hasil kuesioner yang telah diisi oleh guru dan siswa. Pengisi kuesioner guru sebanyak 1.490 responden yang berasal dari lima daerah sampel dan setiap daerah sampel diisi oleh seluruh guru pada enam sekolah. Sedangkan pengisi kuesioner siswa sebanyak 9.483 responden yang berasal dari lima daerah sampel dan setiap daerah sampel diisi oleh 40% jumlah siswa dari enam sekolah. Selanjutnya hasil kuesioner tersebut dilakukan triangulasi dan dijelaskan dengan hasil observasi, DKT, maupun wawancara.

Gambar 1. Kemauan guru dalam memeriksa PR

(6)

Gambar 2. Perasaan guru dalam memeriksa PR Pada gambar 1 dapat dilihat bahwa 95,77%

guru menyatakan selalu dan sering memberikan umpan balik berupa pemeriksaan PR yang dikumpulkan oleh siswa. Hal tersebut juga disepakati oleh 82,89 % siswa yang menganggap bahwa guru mereka hampir selalu dan sering

memeriksa PR. Pada gambar 2 terlihat bahwa sebagian besar guru (94,03 %) mengaku sering dan merasa selalu senang untuk memeriksa PR siswa.

Para siswa juga hampir sebagian besar (81,25%) memberikan penilaian yang sama terhadap guru mereka.

Gambar 3. Kemauan guru dalam memeriksa ulangan

Gambar 4. Perasaan siswa ketika hasil ulangan dibagikan

(7)

Pada gambar 3 dan gambar 4 dapat dilihat bahwa hampir seluruh guru (96,18 % ) menyatakan selalu dan sering memberikan umpan balik berupa pemeriksaan hasil ulangan siswa. Sebanyak 93,43 % guru juga menyatakan bahwa siswa sering dan selalu merasa senang jika hasil ulangan dibagikan dan ditanggapi oleh guru. Hal tersebut juga disepakati

oleh 87,85 % siswa yang menganggap bahwa guru mereka juga hampir selalu dan sering memeriksa hasil ulangan, dan sebanyak 79,36% siswa merasa sering dan selalu senang menerima umpan balik guru berupa pemeriksaan dan tanggapan terhadap hasil ulangan.

Tabel 2. Pengoreksian guru dalam memeriksa PR dan Ulangan

NO PERNYATAAN RESPONDEN PERNYATAAN

SELALU SERING KADANG JARANG TD PERNAH 1 Guru memberikan keterangan

salah atau benar pada setiap jawaban siswa (Dalam memeriksa PR)

Siswa 49,94% 30,19% 15,04% 3,13% 1,70%

Guru 54,09% 35,64% 8,79% 0,60% 0,87%

2 Guru memberikan keterangan salah atau benar dan memberikan jawaban yang benar (Dalam memeriksa PR)

Siswa 45,92% 30,33% 17,69% 3,96% 2,09%

Guru 46,98% 39,53% 12,21% 0,47% 0,81%

3 Guru memberikan keterangan salah/benar dan memberi jawaban benar & penjelasan (memeriksa PR)

Siswa 46,38% 31,44% 16,44% 3,84% 1,91%

Guru 42,35% 41,01% 14,70% 1,14% 0,81%

4 Guru memberikan keterangan salah atau benar pada setiap jawaban siswa (dalam memeriksa ulangan)

Siswa 48,03% 31,80% 15,14% 3,07% 1,95%

Guru 54,50% 34,36% 9,53% 0,67% 0,94%

5 Guru memberikan keterangan salah atau benar dan memberikan jawaban yang benar (memeriksa ulangan)

Siswa 37,07% 31,44% 22,05% 5,69% 3,75%

Guru 35,17% 42,75% 19,19% 1,54% 1,34%

6 Guru memberikan keterangan salah atau benar dan memberikan jawaban yang benar serta penjelasannya (dalam memeriksa Ulangan)

Siswa 37,63% 31,38% 21,83% 6,05% 3,11%

Guru 32,48% 40,94% 23,15% 2,28% 1,14%

Gambar 5. Pemanfaatan hasil ulangan untuk kegiatan remedial

(8)

Gambar 6. Pemanfaatan hasil ulangan untuk kegiatan pengayaan Pada gambar 5 dan 6 dapat dilihat bahwa

hampir seluruh guru responden menyatakan bahwa mereka selalu dan sering memanfaatkan umpan balik hasil ulangan untuk kegiatan remidi (93,09%), dan memanfaatkannya untuk pengayaan (88,26%).

Persentase siswa yang mendukung pernyataan guru tersebut sedikit di bawah dari jumlah guru yang menjawab selalu dan sering memanfaatkan hasil ulangan. Sejumlah 75,83 % siswa melihat bahwa guru memanfaatkan hasil ulangan untuk remidi, sedangkan 64,39 % siswa melihat bahwa guru memanfaatkannya untuk pengayaan materi. Namun demikian, secara umum sebagian besar guru maupun siswa menyatakan bahwa guru telah memanfaatkan hasil ulangan untuk kegiatan remidi dan pengayaan materi.

Menurut para guru, faktor pendukung agar umpan balik terlaksana dengan baik yaitu (1) ada instruksi dari kepala sekolah sebagai perpanjangan dari dinas pendidikan daerah dan pemerintah; (2) adanya pelatihan khusus tentang umpan balik yang tepat, (3) adanya pendampingan setelah pelatihan dan (4) adanya pedoman yang jelas untuk melaksanakan umpan balik. Menurut kepala sekolah, faktor pendukung umpan balik lebih diutamakan pada kreativitas guru serta instruksi secara formal, sehingga para kepala sekolah bersepakat menginstruksikan tentang umpan balik tersebut terhadap guru-guru.

Faktor penghambat umpan balik menurut guru adalah karena tidak ada informasi bahwa umpan balik itu sangat mempengaruhi hasil belajar siswa, tidak ada instruksi dari kepala sekolah dan pengawas, serta tidak adanya pedoman yang dapat digunakan guru di sekolah. Solusinya, baik menurut guru maupun kepala sekolah, sebaiknya ada program pelatihan atau modul yang jelas untuk disosialisasikan dan digunakan di lapangan.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan data dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan hal sebagai berikut. Pertama, dalam pelatihan kurikulum 2013, konsep umpan balik tidak dijelaskan sama sekali oleh instruktur,

begitu juga dalam buku pedoman pelatihan tidak dicantumkan. Kedua, pemahaman guru-guru tentang umpan balik umumnya masih terbatas dan identik dengan refleksi, yaitu penilaian siswa terhadap situasi kondisi selama pembelajaran berlangsung.

Ketiga, umumnya guru mencantumkan satu jenis umpan balik dalam RPP, namun setelah diobservasi, ternyata kegiatan umpan balik tersebut tidak dilakukan. Guru juga merasa bahwa hal itu bukan bentuk umpan balik, dan hanya tanggapan guru secara alami. Bentuk refleksi umumnya terdapat dalam RPP dan dilakukan guru dalam pembelajaran. Keempat, bentuk umpan balik terhadap proses pembelajaran bervariasi, berupa motivasi, tantangan, dan penghargaan, yang menempati level 2 dan sebagian kecil level 3.

Sedangkan fungsi umpan balik baru mencapai 3 fungsi yaitu peringatan, informasi, dan motivasi yang berarti belum mencapai komunikasi bermakna dan perbaikan strategi.

Kelima, umpan balik guru terhadap hasil belajar siswa berupa motivasi dan penghargaan, namun belum mencapai substansi yang diharapkan.

Keenam, umpan balik guru terhadap hasil ulangan siswa terdapat perbedaan pendapat guru dengan siswa. Setengah dari jumlah responden guru mengatakan bahwa mereka selalu menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah (54,4%) sedangkan hanya 48,03% siswa yang menyatakan hal yang sama. Namun demikian siswa merasa bahwa bapak/Ibu guru umumnya memberi tanggapan positif terhadap jawaban siswa pada saat pembelajaran, baik jawaban salah maupun jawaban benar. Sebagian kecil siswa menyatakan kurang termotivasi dengan tanggapan gurunya. Harapan para siswa, mereka mendambakan guru yang ramah, sabar, penjelasannya dapat dipahami, dan humoris, sehingga siswa menjadi senang untuk belajar.

Ketujuh, faktor pendukung agar umpan balik terlaksana di sekolah, yaitu (1) ada instruksi secara formal dari pusat yang dijalankan oleh dinas pendidikan, (2) adanya pelatihan tentang umpan balik, disertai pendampingan setelah pelatihan dan

(9)

(3) adanya pedoman pelaksanaan umpan balik yang jelas. Faktor penghambat pelaksanaan umpan balik yaitu (1) karena tidak ada informasi bahwa umpan balik sangat mempengaruhi hasil belajar siswa, dan (2) tidak ada instruksi dari kepala sekolah dan pengawas. Sebagai solusinya, sebaiknya ada program pelatihan dengan disertai modul yang jelas untuk disosialisasikan dan digunakan di lapangan.

Kegiatan selanjutnya dapat dikembangkan di MGMP internal maupun lintas sekolah.

Saran bagi pemerintah pusat adalah: (1) perlu memasukkan unsur konsep dan praktek umpan balik disertai pedoman atau modul dalam pelatihan khusus umpan balik atau terintegrasi dalam berbagai pelatihan, untuk disosialisasikan dan didiskusikan di MGMP; (2) ada sosialisasi dari pemerintah pusat dan dinas pendidikan daerah bahwa umpan balik terdapat dalam standar proses, serta adanya penjelasan tentang pengaruh umpan balik terhadap hasil belajar berada paling tinggi dibanding lainnya, sehingga umpan balik sangat penting dilakukan guru di sekolah; (3) pendapat siswa perlu diapresiasi dengan cara siswa diminta pendapat secara rutin, tanpa nama, sehingga lebih leluasa dalam mengemukakan pendapat.

UCAPAN TERIMAKASIH

Keberhasilan penelitian, analisis data dan tulisan ini melibatkan instansi dan personal, khususnya [Puslitjakdikbud, Balitbang, Kemdikbud], [Sisdiana, E], [Nuraeni, F], [Hermawan, Ida]; oleh karena itu kami mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan, bimbingan dan kerjasamanya, sampai terselesaikannya tulisan ini.

*****

REFERENSI

Anggraini, W. (2015). Pemberian Umpan Balik (Feedback) terhadap Hasil Belajar dan Self- Efficacy Matematis Siswa Kelas VII SMP.

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Volume 4 Nomor 9; dalam jurnal. untan. ac.id/ index.

php/jpdpb/ article/ view/11455.

BSNP. (2010). Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI

Bellen., Sukandi., dkk. (2010). Bahan Pelatihan Penguatan Metoda Pembelajaran (Belajar Aktif).

Jakarta, Pusat Kurikulum, Balitbang, Kemendikbud.

Budiman, D. (tanpa tahun). Perbandingan Pengaruh Pemberian Umpan Balik Positif (Positive Feedback) dan Umpan Balik Netral (Neutral Feedback) Dalam Pembelajaran Penjas Terhadap Pembentukan Konsep Diri Yang Positif Siswa SD.

Diunduh dari laman

http://file.upi.edu/Direktori/fpok/jur._pend.

_olahraga/197409072001121- didin_budiman/jurnal_sept08.pdf

Burnett, Paul & Mande, V. (2010). Praise and Feedback in the Primary Classroom:

Teachers’ and Students’ Perspectives.

Australian Journal of Educational &

Developmental Psychology. Vol 10, 2010, pp. 145- 154.

Dimyati, dkk. 1999. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.

Febriyanti, C. (2013). Pengaruh Bentuk Umpan Balik Dan Gaya Kognitif Terhadap Hasil Belajar Trigonometri. Jurnal Ilmiah Pendidikan

MIPA. Diunduh dari laman

http://jornal.lppmunindra.ac.id/index.php/F ormatif/article/view/125

Fernando, F., Jatra, R & Reski. (2017). Upaya Pengembangan Self-Esteem Siswa SMP melalui Pemberian Umpan Balik. Journal Sport Area. Volume 2, Nomor 2, hal 96 -104.

Jumiatun, Samad, A, & Ma’ruf. (2016). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Melalui Pemberian Tugas Terstruktur Disertai Umpan Balik pada Model Pembelajaran Langsung Peserta Didik Kelas VIIA SMP Negeri 1 Bontonompo Kabupaten Gowa. Jurnal Pendidikan Fisika Unismuh. Volume 4 Nomor 2. Hal 185 – 196.

Lestariningsih. (2014). Evaluasi Hasil Belajar Siswa yang Diberi Umpan Balik Positif dan Negatif pada Pokok Bahasan Pecahan. Jurnal Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sidoarjo Volume 2, Nomor 1, Maret 2014 ISSN: 2337-

8166. diambil dari laman

https://www.researchgate.net/publication/3 23676316_Evaluasi_Hasil_Belajar_Siswa_Ya ng_Diberi_Umpan_Balik_Positif_dan_Negati f_Pada_Pokok_Bahasan_Pecahan

Hattie, J. dan Timperley, H. (2007). The Power of Feedback. Review of Educational Research.

March 2007, Vol. 77, No. 1, pp. 81-112 DOI:

10.3102/003465430298487. University of Auckland.

Nasrullah, I. (2017). Tujuan Belajar dan Pembelajaran.

Garut: STKIP

Sulastri, dkk. (tanpa tahun). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Mata Pelajaran IPS di Kelas V SDN 2 Limbo Makmur Kecamatan Bumi Raya. Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol.

3 No. 1.

Windarsih, C.A. (2016). Aplikasi Teori Umpan Balik (Feedback) Dalam Pembelajaran Motorik Pada Anak Usia Dini. Bandung:

PGPAUD STKIP. Tunas Siliwangi. Volume 2, Nomor 1, April 2016.

Kemendikbud. (2016). Laporan Hasil Ujian Nasional tahun 2016, Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang,

Kemendikbud. (2017). Panduan Pelaksanaan Bimbingan Teknis Instuktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama Tahun 2017.

(10)

Kemendikbud. (2016). Permendikbud Nomor 22, Tahun 2016 tentang Standar Proses, Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang. Nomor 20, Tahun 2003 Tentang. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta

Gambar

Tabel 1. Capaian rata-rata UN SMP negeri dan swasta,  tahun 2019
Gambar 1. Kemauan guru dalam memeriksa PR
Gambar 2. Perasaan guru dalam memeriksa PR  Pada  gambar  1  dapat  dilihat  bahwa  95,77%
Tabel 2. Pengoreksian guru dalam memeriksa PR dan Ulangan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pada uji pengaruh sederhana siswa yang diajarkan dengan pemberian tugas individu sebaiknya diberikan umpan balik tingkat 4 sedangkan siswa yang diajarkan dengan

feedback (umpan balik) positif dan feedback (umpan balik) negatif. Dalam penelitian ini penulis, menggunakan alat ukur berupa tes angket minat dan

(3) terdapat perbedaan signifikan rata-rata hasil belajar trigonometri yang diberikan umpan balik segera dan tertunda pada kelompok peserta didik bergaya kognitif

perlakuan berbeda, yaitu pemberian peta konsep sekaligus umpan balik, dengan. metode pemberian peta konsep tanpa umpan balik, serta

(3) umpan balik ekspalantori lebih menekankan pada kegiatan reflektif, memberikan secara mandiri untuk memberikan jawaban dengan merefleksikan pengetahuannya dalam

(3) terdapat perbedaan signifikan rata-rata hasil belajar trigonometri yang diberikan umpan balik segera dan tertunda pada kelompok peserta didik bergaya kognitif

Umpan balik memiliki beberapa fungsi yang disampaikan oleh Buis (dalam Slameto, 1988: 191) yaitu: 1) fungsi peringatan; 2) fungsi perbaikan strategi belajar; 3) fungsi

Umpan balik ialah suatu dorongan dari guru untuk membantu siswa dalam memahami pelajaran dengan menaggapi hasil belajar mengajar sampai siswa mampu memahami meteri pelajaran yang telah