• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL 3 PELATIHAN KAPASITAS JALAN LUAR KOTA KARAKTERISTIK JALAN LUAR KOTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODUL 3 PELATIHAN KAPASITAS JALAN LUAR KOTA KARAKTERISTIK JALAN LUAR KOTA"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL 3

KARAKTERISTIK JALAN LUAR KOTA

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JALAN, PERUMAHAN, PERMUKIMAN DAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH

KAPASITAS JALAN LUAR KOTA

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji Syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas perkenan-Nya Modul Diklat Kapasitas Jalan luar kota ini dapat diselesaikan. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga modul ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dan pelatihan (Diklat) Kapasitas Jalan luar kota dalam rangka meningkatkan kemampuan aparatur sipil negara (ASN) khususnya yang tupoksinya berkaitan dengan analisis jalan luar kota. Dengan mengikuti seluruh modul dalam diklat Kapasitas Jalan luar kota ini, para peserta akan dibekali dengan kemampuan untuk menganalisis dan merencanakan kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan jalan baru atau peningkatan kapasitas jalan lama berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia.

Kemampuan ini diharapkan akan membantu ASN dalam menjalankan perannya dalam merancang, membangun, dan mengevaluasi sistem jalan luar kota.

Modul ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya modul ini.

Bandung, 2017

Kepala PUSDIKLAT Jalan, Perumahan, Permukiman, dan Pengembangan Infrastruktur

Wilayah

(3)

ii

DAFTAR ISI

(4)

iii

(5)

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Tipe Penampang Melintang Jalan ... 11

Tabel 3.2 Ketentuan Tipe Alinemen ... 12

Tabel 3.3 Kelas Jarak Pandang ... 12

Tabel 3.4 Kelas Hambatan Samping Jalan Luar Kota ... 18

(6)

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Grafik Fluktuasi Lalu Lintas Harian pada Berbagai Jalan ... 15 Gambar 3.2 Grafik Fluktuasi Lalu Lintas Mingguan pada Berbagai Jalan ... 16

(7)

vi

PETUNJUK PENGGUNAAN

Petunjuk penggunaan modul ini dimaksudkan untuk mempermudah peserta pelatihan Kapasitas Jalan Perkotaan. Oleh karena itu, sebaiknya peserta pelatihan memperhatikan beberapa petunjuk berikut ini.

1) Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan ini, sampai Anda mempunyai gambaran kompetensi yang harus dicapai, dan ruang lingkup modul ini.

2) Baca dengan cermat bagian demi bagian, dan tandailah konsep-konsep pentingnya.

3) Segeralah membuat rangkuman tentang hal-hal esensial yang terkandung dalam modul ini

4) Untuk meningkatkan pemahaman Anda tentang isi modul ini, tangkaplah konsep-konsep penting dengan cara membuat pemetaan keterhubungan antara konsep yang satu dengan konsep lainnya.

5) Untuk memperluas wawasan Anda, bacalah sumber-sumber lain yang relevan baik berupa kebijakan maupun subtansi bahan ajar dari media cetak maupun dari media elektronik.

6) Untuk mengetahui sampai sejauh mana pemahaman Anda tentang isi modul ini, cobalah untuk menjawab soal-soal latihan secara mandiri, kemudian lihat kunci jawabannya.

7) Apabila ada hal-hal yang kurang dipahami, diskusikanlah dengan teman sejawat atau catat untuk bahan diskusi pada saat tutorial.

8) Peserta membaca dengan seksama setiap Sub Kegiatan belajar dan bandingkan dengan pengalaman Anda yang dialami di lapangan.

9) Jawablah pertanyaan dan latihan, apabila belum dapat menjawab dengan sempurna, hendaknya Anda latihan mengulang kembali materi yang belum dikuasai.

10) Buatlah rangkuman, buatlah latihan dan diskusikan dengan sesama peserta untuk memperdalam materi.

(8)

1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Modul ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang karakteristik jalan luar kota yang mencakup hal-hal sebagai berikut:

a) Peraturan yang terkait dengan Jalan luar kota b) Karakteristik prasarana Jalan luar kota c) Dinamika lalu lintas Jalan luar kota d) Karakteristik lingkungan Jalan luar kota

Dalam merencanakan kegiatan pembangunan jalan baru maupun peningkan kapasitas jalan dalam lingkup jalan luar kota, perlu memperhatikan aspek hukum dan peraturan-peraturan yang terkait dengan jalan luar kota. Dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan diatur tentang pihak yang berwenang terhadap suatu jalan tergantung pada statusnya. Dengan memperhatikan aspek hukum ini, peserta diharap dapat mengetahui ruas-ruas jalan yang termasuk dalam lingkup kerjanya dan yang tidak termasuk dalam linkup kerjanya.

Jalan luar kota merupakan jalan yang menghubungkan kota-kota atau dengan kata lain pergerakan jarak jauh, oleh karena itu pada umumnya jalan luar kota memiliki medan yang yang bervariasi dan cenderung memiliki ruas jalan yang panjang.

Pemahaman tentang karakteristik prasarana jalan luar kota akan membantu peserta dalam merancang jalan luar kota yang tepat sesuai dengan medan yang ada.

Dinamika lalu lintas pada perkotaan umumnya tidak begitu terpengaruh oleh jam puncak pagi dan sore yang disebabkan oleh pergerakan pulang-pergi kantor.

Pemahaman tentang dinamika lalu lintas jalan luar kota akan membantu peserta dalam merancang jalan luar kota yang tepat yang sesuai dengan kebutuhan pergerakan antar kota.

Tidak seperti jalan perkotaan, jalan luar kota tidak semuanya memiliki daerah terbangun pada sisi kiri dan kanan jalan, sehingga tingkat aktifitas pada sisi jalan tidak terlalu tinggi. Dalam hal pelebaran jalan, bila dilakukan di medan yang datar dan cukuo luas daerahnya, maka pelebaran jalan menjadi opsi yang cukup mudah.

Namun untuk medan bukit dan gunung, perlu memperhatikan kontur tanah di

(9)

2 sekitar jalan. Pemahaman tentang karakteristik lingkungan jalan luar kota akan membantu peserta dalam merancang jalan luar kota yang tepat yang sesuai dengan kondisi lingkungan perkotaan.

Dengan memahami karakteristik dari jalan luar kota ini peserta dapat melakukan eliminasi opsi-opsi pengembangan jalan yang diperkirakan sulit untuk dilakukan dalam wilayah jalan luar kota.

1.2. Deskripsi Singkat

Modul ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang karakteristik jalan luar kota yang mencakup hal-hal sebagai berikut:

a) Peraturan yang terkait dengan Jalan luar kota b) Karakteristik prasarana Jalan luar kota c) Dinamika lalu lintas Jalan luar kota d) Karakteristik lingkungan Jalan luar kota

Pemahaman tentang karakteristik jalan luar kota akan membantu peserta dalam merancang jalan luar kota yang tepat yang sesuai karakteristik jalan luar kota dan mengeliminasi opsi-opsi pengembangan jalan yang diperkirakan sulit untuk dilakukan dalam wilayah jalan luar kota.

1.3. Tujuan Pembelajaran

Dengan mempelajari modul ini dan mengikuti mata diklat karakteristik jalan luar kota, peserta akan memiliki kompetensi dasar:

a) Mampu menganalisis peraturan yang terkait dengan Jalan luar kota b) Mampu memahami karakteristik prasarana Jalan luar kota

c) Mampu memahami dinamika lalu lintas Jalan luar kota d) Mampu memahami karakteristik lingkungan Jalan luar kota

Indikator keberhasilan modul mata diklat karakteristik jalan luar kota ini adalah:

a) Menganalisis peraturan yang terkait dengan Jalan luar kota b) Menjelaskan karakteristik prasarana Jalan luar kota

c) Menjelaskan dinamika lalu lintas Jalan luar kota d) Menjelaskan karakteristik lingkungan Jalan luar kota

(10)

3 1.4. Kegiatan Belajar dan Sub Kegiatan Belajar

Modul mata diklat karakteristik jalan luar kota ini disusun dalam beberapa kegiatan belajar dan sub kegiatan belajar. Penyusunan kegiatan belajar dan sub kegiatan belajar ini disusun secara bertahap untuk memudahkan peserta dalam memahami materi yang disampaikan. Susunan kegiatan belajar dan sub pokok dalam modul ini adalah sebagai berikut:

a) Peraturan yang terkait dengan Jalan luar kota b) Karakteristik prasarana Jalan luar kota c) Dinamika lalu lintas Jalan luar kota d) Karakteristik lingkungan Jalan luar kota

1.5. Estimasi Waktu

Waktu yang digunakan dalam mempelajari kegiatan belajar ini adalah sebanyak 2 JP (Jam Pelajaran) atau setara dengan 2 X 45 menit.

(11)

4

KEGIATAN BELAJAR 1 : PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN JALAN LUAR KOTA

2.1. Kompetensi Dasar dan Indikator Hasil Belajar

Kompetensi yang akan dicapai dalam pembahasan kegiatan belajar 1 ini adalah mampu menjelaskan peraturan yang terkait dengan Jalan Luar Kota.

Adapun indikator hasil belajar yang harus dicapai adalah :

− Mampu menjelaskan peraturan yang terkait dengan Jalan Luar Kota

2.2. Uraian Materi

Peraturan mengenai jalan luar kota yang telah dikeluarkan oleh pemerintah sebagai berikut:

a) UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang jalan, dengan struktur pembahasan tentang jalan sebagai berikut:

1) BAB I KETENTUAN UMUM

2) BAB II ASAS, TUJUAN, DAN LINGKUP

3) BAB III PERAN, PENGELOMPOKAN, DAN BAGIAN-BAGIAN JALAN

− Peran Jalan

− Pengelompokan Jalan

− Bagian-Bagian Jalan 4) BAB IV JALAN UMUM

− Penguasaan

− Wewenang Pemerintah

− Wewenang Pemerintah Provinsi

− Wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota

− Pengaturan Jalan Umum

− Pembinaan Jalan Umum

− Pembangunan Jalan Umum

− Pengawasan Jalan Umum 5) BAB V JALAN TOL

− Umum

− Syarat-Syarat Jalan Tol

− Wewenang Penyelenggaraan Jalan Tol

− Pengaturan Jalan Tol

− Pembinaan Jalan Tol

(12)

5

− Pengusahaan Jalan Tol

− Pengawasan Jalan Tol 6) BAB VI PENGADAAN TANAH

− Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Jalan 7) BAB VII PERAN MASYARAKAT

8) BAB VIII KETENTUAN PIDANA 9) BAB IX KETENTUAN PERALIHAN 10) BAB X KETENTUAN PENUTUP

b) Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang jalan, dengan struktur pembahasan tentang jalan sebagai berikut:

1) BAB I KETENTUAN UMUM 2) BAB II JALAN UMUM

− Umum

− Sistem Jaringan Jalan

− Fungsi Jalan, dan Persyaratan Teknis Jalan

• Fungsi Jalan

• Persyaratan Teknis Jalan

− Status Jalan

− Kelas Jalan

3) BAB III BAGIAN-BAGIAN JALAN DAN PEMANFAATAN BAGIAN-BAGIAN JALAN

− Bagian-Bagian Jalan

• Ruang Manfaat Jalan

• Ruang Milik Jalan

• Ruang Pengawasan Jalan

− Pemanfaatan Bagian-Bagian Jalan

• Bangunan Utilitas

• Penanaman Pohon

• Prasarana Moda Transportasi Lain 4) BAB IV IZIN, REKOMENDASI, DAN DISPENSASI 5) BAB V WEWENANG

− Umum

− Pelimpahan Wewenang dan Penugasan

− Penetapan Sistem Jaringan Jalan, Fungsi Jalan, Status Jalan, dan Kelas Jalan

• Penetapan Sistem Jaringan Jalan

• Penetapan Fungsi Jalan

(13)

6

• Penetapan Status Jalan

• Penetapan Kelas Jalan Berdasarkan Spesifikasi Penyediaan Prasarana Jalan

− Perubahan Fungsi Jalan, Status Jalan, dan Kelas Jalan 6) BAB VI PENYELENGGARAAN JALAN

− Umum

− Pengaturan

• Perumusan Kebijakan Perencanaan

• Penyusunan Perencanaan Umum

• Pengendalian Penyelenggaraan Jalan Secara Makro

− Pembinaan

• Umum

• Penyusunan dan Penetapan Norma, Standar, Kriteria, dan Pedoman

• Pelayanan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia

• Penelitian dan Pengembangan Jalan

− Pembangunan

• Umum

• Pemrograman dan Penganggaran

• Perencanaan Teknis

• Pengadaan Tanah

• Pelaksanaan Konstruksi

• Pengoperasian dan Pemeliharaan

• Laik Fungsi Jalan

• Penilikan Jalan

− Pengawasan

− Standar Pelayanan Minimal 7) BAB VII DOKUMEN JALAN 8) BAB VIII PERAN MASYARAKAT 9) BAB IX JALAN KHUSUS

10) BAB X KETENTUAN PERALIHAN 11) BAB XI KETENTUAN PENUTUP

c) UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, dengan struktur pembahasan yang relevan dengan jalan sebagai berikut:

1) BAB I KETENTUAN UMUM 2) BAB II ASAS DAN TUJUAN

3) BAB III RUANG LINGKUP KEBERLAKUAN UNDANG-UNDANG

(14)

7 4) BAB IV PEMBINAAN

5) BAB V PENYELENGGARAAN

6) BAB VI JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

− Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

− Ruang Lalu Lintas

• Kelas Jalan

• Penggunaan dan Perlengkapan Jalan

− Dana Preservasi Jalan

− Terminal

− Fasilitas Parkir

− Fasilitas Pendukung 7) BAB VII KENDARAAN 8) BAB VIII PENGEMUDI 9) BAB IX LALU LINTAS

− Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas

− Analisis Dampak Lalu Lintas

− Pengutamaan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, dan Petugas yang Berwenang

• Syarat dan Prosedur Pemasangan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Rambu Lalu Lintas, dan Marka Jalan

• Pengutamaan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas dan Rambu Lalu Lintas

• Pengutamaan Petugas

− Tata Cara Berlalu Lintas

− Penggunaan Jalan Selain untuk Kegiatan Lalu Lintas

− Hak dan Kewajiban Pejalan Kaki dalam Berlalu Lintas

− Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas

− Hak Utama Pengguna Jalan untuk Kelancaran

− Sanksi Administrati 10) BAB X ANGKUTAN

11) BAB XI KEAMANAN DAN KESELAMATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

12) BAB XII DAMPAK LINGKUNGAN

13) BAB XIII PENGEMBANGAN INDUSTRI DAN TEKNOLOGI SARANA DAN PRASARANA LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

14) BAB XIV KECELAKAAN LALU LINTAS

(15)

8 15) BAB XV PERLAKUAN KHUSUS BAGI PENYANDANG CACAT, MANUSIA USIA

LANJUT, ANAK-ANAK, WANITA HAMIL, DAN ORANG SAKIT

16) BAB XVI SISTEM INFORMASI DAN KOMUNIKASI LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

17) BAB XVII SUMBER DAYA MANUSIA 18) BAB XVIII PERAN SERTA MASYARAKAT

19) BAB XIX PENYIDIKAN DAN PENINDAKAN PELANGGARAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

20) BAB XX KETENTUAN PIDANA 21) BAB XXI KETENTUAN PERALIHAN 22) BAB XXII KETENTUAN PENUTUP

2.3. Rangkuman

Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang jalan adalah:

a) Undang–Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan, yang salah satunya mengatur tentang klasifikasi jalan, pengaturan wewenang jalan, Pengaturan, pembinaan, pembangunan dan pengawasan jalan umum.

b) Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan, yang salah satunya mengatur tentang Jalan umum, Bagian-bagian jalan, penyelengaraan jalan, Penetapan Sistem Jaringan Jalan, Fungsi Jalan, Status Jalan, dan Kelas Jalan.

c) Undang–Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Jalan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang salah satunya mementukan spesifikasi kelas jalan.

2.4. Latihan

Diskusikan Undang-Undang yang terkait dengan Jalan Luar Kota

(16)

9

KEGIATAN BELAJAR 2 : KARAKTERISTIK PRASARANA JALAN LUAR KOTA

3.1. Kompetensi Dasar dan Indikator Hasil Belajar

Kompetensi yang akan dicapai dalam pembahasan kegiatan belajar 2 ini adalah mampu menjelaskan karakteristik prasarana Jalan Luar Kota.

Adapun indikator hasil belajar yang harus dicapai adalah :

− Mampu menjelaskan karakteristik Jalan Luar Kota

3.2. Uraian Materi

Karakteristik segmen jalan luar kota menurut MKJI adalah tidak ada perkembangan yang menerus pada setiap sisi jalan, walaupun mungkin terdapat beberapa perkembangan permanen seperti rumah makan, pabrik, atau perkampungan.

(Catatan: Kios kecil dan kedai di sisi jalan bukan merupakan perkembangan permanen).

Indikasi lain yang membantu (walaupun tidak pasti) dalam mengklasifikasi jalan menjadi jalan luar kota adalah keberadaan kereb/trotoar, jalan luar kota jarang dilengkapi kereb/trotoar.

Secara alinemen horisontal, jalan luar kota umumnya bervariasi sesuai dengan medannya. Pada medan berbukit/gunung akan banyak ditemui tikungan-tikungan tajam, sedangkan pada medan datar umumnya jalan luar kota lebih lurus. Panjang jalan dan panjang segmen jalan luar juga umumnya lebih panjang daripada jalan perkotaan. Hal ini dikerenakan jalan luar kota melayani pergerakan antar kota atau pergerakan jarak jauh melitasi daerah yang cukup luas.

Secara alinemen vertikal, jalan luar kota bervariasi sesuai dengan medannya. Pada medan berbukit/gunung akan banyak tanjakan dan turunan, sedangkan pada medan datar umumnya jalan luar kota lebih datar.

Tipe jalan luar kota tipikal menurut MKJI adalah sebagai berikut:

a) Jalan dua-lajur dua-arah tak terbagi (2/2UD)

Tipe jalan ini meliputi semua jalan dua-arah dengan lebar jalur sampai dengan 11 meter. Untuk jalan dua-arah yang lebih lebar daripada 11 meter, cara beroperasi jalan sesungguhnya selama kondisi arus tinggi harus diperhatikan sebagai dasar dalam pemilihan prosedur perhitungan untuk jalan dua lajur atau

(17)

10 empat-lajur tak-terbagi. Keadaan dasar dari tipe jalan ini yang digunakan untuk menentukan kecepatan arus bebas dan kapasitas dicatat sehagai berikut:

1) Lebar jalur lalu-lintas efektif tujuh meter

2) Lebar efektif bahu 1,5 m pada masing-masing sisi (bahu tak diperkeras, tidak sesuai untuk lintasan kendaraan bermotor)

3) Tidak ada median

4) Pemisahan arah lalu-lintas 50 – 50 5) Tipe alinyemen: Datar

6) Guna lahan: Tidak ada pengembangan samping jalan 7) Kelas hambatan samping: Rendah (L)

8) Kelas fungsional jalan: Jalan arteri 9) Kelas jarak pandang: A

b) Tak terbagi (yaitu tanpa median) (4/2UD)

Tipe jalan ini meliputi semua jalan dua-arah tak terbagi dengan marka lajur untuk empat lajur dan lebar total jalur lalu-lintas tak terbagi antara 12 dan 15 meter. Jalan standar dari tipe ini didefinisikan sebagai berikut:

1) Lebar jalur lalu-lintas empat belas meter

2) Lebar efektif bahu 1,5 m pada masin masing sisi (bahu tak diperkeras, tidak sesuai untuk lintasan kendaraan bermotor)

3) Tidak ada median

4) Pemisahan arah lalu-lintas 50 - 50 % 5) Tipe alinemen: Datar

6) Guna lahan: Tidak ada pengembangan samping jalan 7) Kelas hambatan samping: Rendah (L)

8) Kelas fungsional jalan: Jalan arteri 9) Kelas jarak pandang: A

c) Terbagi (yaitu dengan median) (4/2 D)

Tipe jalan ini meliputi semua jalan dua-arah dengan dua jalur lalu-lintas yang dipisahkan oleh median. Setiap jalur lalu-lintas mempunyai dua lajur bermarka dengan lebar antara 3,0 - 3,75 m. Jalan standar dari tipe ini didefinisikan sebagai berikut:

1) Lebar jalur lalu-lintas 2 × 7,0 m (tak termasuk lebar median)

2) Lebar efektif bahu 2.0 m diukur sebagai lebar bahu dalam + bahu luar untuk setiap jalur lalu-lintas (bahu tak diperkeras, tidak sesuai untuk lintasan lalu- lintas)

(18)

11 3) Median

4) Tipe alinemen: Datar

5) Guna lahan: Tidak ada pengembangan samping jalan 6) Kelas hambatan samping: Rendah (L)

7) Kelas fungsional jalan: Jalan arteri 8) Kelas jarak pandang: A

d) Jalan enam-lajur dua-arah terhagi (6/2 D)

Jalan enam-lajur dua-arah dengan karakteristik umum sama sebagaimana diuraikan untuk 4/2 D di atas.

Tabel 3.1 Definisi Tipe Penampang Melintang Jalan

Tipe Jalan/Kode

Kelas Jarak Pandang

Lebar Jalan

(m)

Lebar Bahu (m) Luar

Dalam Datar Perbukitan Pegunungan

2/2 UD - 5,0 B 5,0 1,50 1,50 1,00

2/2 UD - 6 B 6,0 1,50 1,50 1,00

2/2 UD - 7 B 7,0 1,50 1,50 1,00

2/2 UD - 10 B 10,0 1,50 1,50 1,00

4/2 UD - 12 B 12,0 1,50 1,50 1,00

4/2 UD - 14 B 14,0 1,50 1,50 1,00

4/2 D - 12 A 12,0 1,75 1,75 1,25 0,25

4/2 D - 14 A 14,0 1,75 1,75 1,25 0,25

6/2 D - 21 A 21,0 1,75 1,75 1,25 0,25

*) didefinisikan pada panduan perancangan yang ada (Spesitikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota)

(Sumber: MKJI, Halaman 6-26, Tabel 2.5.2:1)

Ruas jalan luar kota secara umum diharapkan jauh lebih panjang dari ruas jalan perkotaan atau semi perkotaan karena pada umumnya karakteristik geometrik dan karakteristik lainnya tidak sering berubah dan simpang utamanya tidak selalu berdekatan. Panjangnya mungkin puluhan kilometer, tetapi perlu untuk menetapkan batas ruas dalam hal terdapat perubahan karakteristik yang penting, walaupun ruas yang dihasilkan lebih pendek.

Karakteristik utama jalan yang akan mempengaruhi kapasitas dan kinerjanya apabila dibebani lalu lintas ditunjukkan dibawah ini.

(19)

12 a) Lebar jalur lalu lintas: Kapasitas meningkat dengan bertambahnya lebar jalur

lalu lintas.

b) Karakteristik bahu: Kapasitas dan kecepatan pada volume tertentu, sedikit bertambah dengan bertambahnya lebar bahu. Kapasitas berkurang jika terdapat penghalang tetap didekat tepi jalur lalu lintas.

c) Ada atau tidaknya median (terbagi atau tak terbagi): Median yang direncanakan dengan baik meningkatkan kapasitas. Tetapi mungkin ada alasan lain mengapa median tidak diinginkan, misalnya kekurangan tempat, biaya, jalan masuk ke prasarana sisi jalan tersebut.

d) Lengkung vertikal : Mempunyai dua pengaruh, makin berbukit jalannya makin lambat-lambat kendaraan bergerak ditanjakan (ini biasanya tidak diimbangi di turunan) dan juga pundak bukit mengurangi jarak pandang. Kedua pengaruh ini mengurangi kapasitas dan kinerja pada arus tertentu.

e) Lengkung Horisontal: Jalan dengan banyak tikungan tajam memaksa kendaraan untuk bergerak lebih lambat dari pada di jalan lurus, agar yakin bahwa ban mempertahankan gesekan yang aman dengan permukaan jalan. Lengkung horisontal dan vertikal dapat di nyatakan sebagai jenis alinemen umum. Selain itu juga dihubungkan dengan kelas jarak pandang. Lengkung vertikal dan horisontal sangat panjang pada jalan dua-lajur dua-arah.

Tabel 3.2 Ketentuan Tipe Alinemen

Tipe

Alinyemen Keterangan

Lengkung Vertikal

Naik + Turun (m/km)

Lengkung Horizontal (rad/km) F Datar < 10 (5) < 1,0 (0,25) R Bukit 10 - 30 (25) 1,0 - 2,5 (2,00) H Gunung > 30 (45) > 2,5 (3,50) (Sumber: MKJI, Halaman 6-9, Tabel 1.3:2)

Tabel 3.3 Kelas Jarak Pandang

(20)

13 Kelas

Jarak Pandang

% Segmen dengan Jarak Pandang Paling Sedikit 300 m

A > 70%

B 30 - 70%

C < 30%

(Sumber: MKJI, Halaman 6-9, Tabel 1.3:3)

f) Jarak pandang: Apabila jarak pandangnya panjang, menyiap akan lebih mudah dan kecepatan serta kapasitas lebih tinggi. Meskipun sebagian tergantung pada lengkung vertikal dan horizontal, jarak pandang juga tergantung pada ada atau tidaknya penghalang pandangan dari tumbuhan, pagar, bangunan dll.

3.3. Ringkasan Materi

a) Karakteristik segmen jalan luar kota menurut MKJI adalah tidak ada perkembangan yang menerus pada setiap sisi jalan. Indikasi lain (walaupun tidak pasti) adalah tidak adanya kereb/trotoar.

b) Secara alinemen horisontal, jalan luar kota umumnya bervariasi sesuai dengan medannya. Pada medan berbukit/gunung akan banyak ditemui tikungan- tikungan tajam, sedangkan pada medan datar umumnya jalan luar kota lebih lurus. Panjang jalan dan panjang segmen jalan luar juga umumnya lebih panjang daripada jalan perkotaan.

c) Secara alinemen vertikal, jalan luar kota bervariasi sesuai dengan medannya.

Pada medan berbukit/gunung akan banyak tanjakan dan turunan, sedangkan pada medan datar umumnya jalan luar kota lebih datar.

3.4. Latihan

Diskusikan karakteristik jalan luar kota menurut MKJI.

(21)

14

KEGIATAN BELAJAR 3 : DINAMIKA LALU LINTAS JALAN LUAR KOTA

4.1. Kompetensi Dasar dan Indikator Hasil Belajar

Kompetensi yang akan dicapai dalam pembahasan kegiatan belajar 3 ini adalah mampu menjelaskan dinamika lalu lintas Jalan Luar Kota.

Adapun indikator hasil belajar yang harus dicapai adalah :

− Mampu menjelaskan dinamika lalu lintas Jalan Luar Kota

4.2. Uraian Materi

Karakteristik pada jalan luar kota, seperti jalan antar-kota (intercity) dan jalan menuju akses wisata (recreation access route), jam puncak yang terjadi berbeda dengan jalan perkotaan (local route). Perbedaan fluktuasi jam puncak ini ditunjukkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 menunjukkan fluktuasi harian pada berbagai tipe jalan, gambar ini menunjukkan volume total kedua arah pergerakan. Pada jalan perkotaan (local route), dapat terlihat dengan jelas jam puncak pagi dan sore yang menjadi ciri jalan komuter (jalan yang digunakan untuk pergerakan pulang-pergi kerja).

Pada jalan antar-kota (intercity), tidak terlihat dengan jelas jam puncak pergerakan antar kota, selama dari jam 9 pagi hingga 6 sore grafik volume pergerakan hampir rata. Hal ini disebabkan pada pergerakan antar-kota tidak ada jadwal yang harus ditepati seperti jam masuk dan pergi kantor.

Pada jalan akses wisata (recreation access route), terdapat jam puncak pada hari Sabtu pagi dan Minggu sore. Hal ini dapat disebabkan karena pengguna jalan yang ingin memaksimalkan waktu liburannya sehingga berangkat lebih pagi pada hari Sabtu dan pulang lebih sore pada hari Minggu. Namun jam puncak ini tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan jam puncak pada jalan perkotaan.

(22)

15 Gambar 3.1 Grafik Fluktuasi Lalu Lintas Harian pada Berbagai Jalan

Fluktuasi lalu lintas juga terjadi dalam siklus mingguan seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.1. Pada hari kerja umumnya jalan perkotaan (suburban freeway) ramai, sedangkan jalan antar kota (rural road) dan jalan akses wisata (recreation access route) cenderung lebih sepi. Kondisi ini berubah pada hari libur, yang ditunjukkan dengan jalan perkotaan (suburban freeway) yang lebih sepi, sedangkan jalan antar kota (rural road) dan jalan akses wisata (recreation access route) cenderung lebih ramai.

(23)

16 Gambar 3.2 Grafik Fluktuasi Lalu Lintas Mingguan pada Berbagai Jalan

4.3. RIngkasan Materi

Karakteristik dinamika lalu lintas pada jalan luar kota adalah sebagai berikut:

a) Jam puncak harian tidak terlalu terlihat

b) persentase truk berat yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan jalan perkotaan

4.4. Latihan

Diskusikan karakteristik dinamika lalu lintas pada jalan luar kota.

(24)

17

KEGIATAN BELAJAR 4 : KARAKTERISTIK LINGKUNGAN JALAN LUAR KOTA

5.1. Kompetensi Dasar dan Indikator Hasil Belajar

Kompetensi yang akan dicapai dalam pembahasan kegiatan belajar 4 ini adalah mampu menjelaskan karakteristik lingkungan Jalan Luar Kota.

Adapun indikator hasil belajar yang harus dicapai adalah :

− Mampu menjelaskan karakteristik lingkungan Jalan Luar Kota

5.2. Uraian Materi

Pada jalan luar kota tidak ada perkembangan yang menerus pada setiap sisi jalan, walaupun mungkin terdapat beberapa perkembangan permanen seperti rumah makan, pabrik, atau perkampungan. (Catatan: Kios kecil dan kedai di sisi jalan bukan merupakan perkembangan permanen). Sehingga bila dinilai dari hambatan samping, jalan luar kota relatif tidak memiliki hambatan samping sebesar jalan perkotaan.

Hambatan samping yang telah terbukti sangat berpengaruh pada kapasitas dan kinerja jalan luar kota ada 4 jenis yang masing memiliki bobot yang berbeda sebagai berikut:

a) Pejalan kaki ( bobot : 0,6 )

b) Kendaraan berhenti ( bobot : 0,8 )

c) Kendaraan keluar/masuk darilke sisi-sisi jalan ( bobot : 1 ,0 ) d) Kendaraan bergerak lambat ( bobot : 0,4 )

Frekuensi tiap kejadian hambatan samping dicacah dalam rentang 100 meter ke kiri dan kanan potongan melintang yang diamati kapasitasnya lalu dikalikan dengan bobotnya masing-masing. Frekuensi terbobot menentukan kelas hambatan samping sesuai dengan tabel 3.4.

Dalam kegiatan pelebaran jalan, jalan luar kota relatif bervariasi bergantung kepada medanya. Pada medan datar, pelebaran jalan tergolong cukup mudah karena kegiatan yang diperlukan hanya pembebasan lahan. Pada medan berbukit dan pegunungan, pelebaran jalan sangat dipengaruhi oleh kontor tanah di samping jalan.

(25)

18 Tabel 3.4 Kelas Hambatan Samping Jalan Luar Kota

Kelas hambatan samping Kode

Frekuensi berbobot dan kejadian

(kedua sisi)

Kondisi Khas

Sangat rendah VL < 50 Pedesaan, pertanian atau belum berkembang

Rendah L 50-150 Pedesaan, beberapa bangunan dan

kegiatan samping jalan

Sedang M 150-250 Kampung, kegiatan permukiman

Tinggi H 250-350 Kampung, beberapa kegiatan pasar

Sangat Tinggi VH > 350 Hampir perkotaan, banyak pasar kegiatan niaga

(Sumber: MKJI, Halaman 6-10, Tabel 1.3:4)

5.3. Ringkasan Materi

a) Pada jalan luar kota tidak ada perkembangan yang menerus pada setiap sisi jalan, sehingga bila dinilai dari hambatan samping, jalan luar kota relatif tidak memiliki hambatan samping sebesar jalan perkotaan.

b) Dalam kegiatan pelebaran jalan, jalan luar kota relatif bervariasi bergantung kepada medanya. Pada medan datar, pelebaran jalan tergolong cukup mudah karena kegiatan yang diperlukan hanya pembebasan lahan. Pada medan berbukit dan pegunungan, pelebaran jalan sangat dipengaruhi oleh kontor tanah di samping jalan.

5.4. Latihan

Diskusikan pengaruh lingkungan perkotaan terhadap jalan luar kota

(26)

19

KUNCI JAWABAN

Kegiatan Belajar 1:

Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang jalan adalah:

a) Undang–Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan, yang salah satunya mengatur tentang klasifikasi jalan, pengaturan wewenang jalan, Pengaturan, pembinaan, pembangunan dan pengawasan jalan umum.

b) Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan, yang salah satunya mengatur tentang Jalan umum, Bagian-bagian jalan, penyelengaraan jalan, Penetapan Sistem Jaringan Jalan, Fungsi Jalan, Status Jalan, dan Kelas Jalan.

c) Undang–Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Jalan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang salah satunya mementukan spesifikasi kelas jalan.

Kegiatan Belajar 2:

a) Karakteristik segmen jalan luar kota menurut MKJI adalah tidak ada perkembangan yang menerus pada setiap sisi jalan. Indikasi lain (walaupun tidak pasti) ta adalah tidak adanya kereb/trotoar.

b) Secara alinemen horisontal, jalan luar kota umumnya bervariasi sesuai dengan medannya. Pada medan berbukit/gunung akan banyak ditemui tikungan- tikungan tajam, sedangkan pada medan datar umumnya jalan luar kota lebih lurus. Panjang jalan dan panjang segmen jalan luar juga umumnya lebih panjang daripada jalan perkotaan.

c) Secara alinemen vertikal, jalan luar kota bervariasi sesuai dengan medannya.

Pada medan berbukit/gunung akan banyak tanjakan dan turunan, sedangkan pada medan datar umumnya jalan luar kota lebih datar.

Kegiatan Belajar 3:

Karakteristik dinamika lalu lintas pada jalan luar kota adalah sebagai berikut:

a) Jam puncak harian tidak terlalu terlihat

b) persentase truk berat yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan jalan perkotaan

Kegiatan Belajar 4:

(27)

20 a) Pada jalan luar kota tidak ada perkembangan yang menerus pada setiap sisi jalan, sehingga bila dinilai dari hambatan samping, jalan luar kota relatif tidak memiliki hambatan samping sebesar jalan perkotaan.

b) Dalam kegiatan pelebaran jalan, jalan luar kota relatif bervariasi bergantung kepada medanya. Pada medan datar, pelebaran jalan tergolong cukup mudah karena kegiatan yang diperlukan hanya pembebasan lahan. Pada medan berbukit dan pegunungan, pelebaran jalan sangat dipengaruhi oleh kontor tanah di samping jalan.

(28)

21

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Bina Marga, Manual Kapastas Jalan Indonesia, Jakarta, 1997

Transportation Research Board, US Highway Capacity Manual 2000, Washington

Pemerintah Republik Indonesia, 2004, Undang–Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan.

Pemerintah Republik Indonesia, 2006, Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan

Pemerintah Republik Indonesia, 2009, Undang–Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Jalan Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan

Transportation and Traffic Engineering Handbook

(29)

22

GLOSARIUM

Notasi Istilah Definisi

Arus Lalu Lintas

UNSUR LALU LINTAS Benda atau pejalan kaki sebagai bagian dari lalu lintas

kend KENDARAAN Unsur lalu lintas diatas roda

LV KENDARAAN

RINGAN

Kendaraan bermotor beroda empat, dengan dua gandar berjarak 2,0 - 3,0 m (termasuk kendaraan penumpang, oplet, mikro bis, pick-up dan truk kecil, sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

MHV KENDARAAN BERAT

Kendaraan bermotor dengan dua gandar, dengan MENENGAH jarak 3,5 - 5,0 m (termasuk bis kecil, truk dua as dengan enam roda, sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

LT TRUK BESAR

Truk tiga gandar dan truk kombinasi dengan jarak gandar (gandar pertama ke kedua) < 3,5 m (sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

LB BIS BESAR Bis dengan dua atau tiga gandar dengan jarak as 5,0 - 6,0 m.

MC SEPEDA MOTOR

Sepeda motor dengan dua atau tiga roda (meliputi sepeda motor dan kendaraan roda tiga sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

UM KENDARAAN TAK

BERMOTOR

Kendaraan bertenaga manusia atau hewan di atas roda (meliputi sepeda, becak, kereta kuda dan kereta dorong sesuai sistem klasifikasi Bipa Marga).

Catatan: Dalam manual ini kend. tak bermotor tidak dianggap sebagai unsur lalu-lintas tetapi sebagai unsur hambatan samping.

(30)

23 Kondisi Lalu Lintas

Q ARUS LALU-LINTAS

Jumlah kendaraan bermotor yang melalui suatu titik pada jalan per satuan waktu, dinyatakan dalam kend/jam (Qkend) atau smp/jam (Qsmp) atau LHRT

SP PEMISAHAN ARAH

Pembagian arah arus pada jalan dua arah dinyatakan sebagai persentase dari arus total pada masingmasing arah sebagai contoh 60:40).

Faktor Perhitungan

CO KAPASITAS DASAR

Kapasitas suatu segmen jalan untuk suatu set (smp/jam) kondisi yang ditentukan sebelumnya (geometri, pola arus lalu-lintas dan faktor lingkungan).

FCW

FAKTOR PENYESUAIAN KAPASITAS AKIBAT LEBAR JALUR

Faktor penyesuaian untuk kapasitas dasar akibat lebar jalur lalu-lintas.

FCSP

FAKTOR PENYESUAIAN KAPASITAS AKIBAT PEMISAHAN ARAH

Faktor penyesuaian untuk kapasitas dasar akibat pemisahan arah (hanya untuk jalan dua arah tak terbagi)

FCSF

FAKTOR PENYESUAIAN KAPASITAS AKIBAT HAMBATAN

SAMPING

Faktor penyesuaian untuk kapasitas dasar akibat hambatan samping sebagai fungsi dari lebar bahu.

emp EKIVALEN MOBIL

PENUMPANG

Faktor dari berbagai tipe kendaraan dibandingkan terhadap kendaraan ringan sehubungan dengan pengaruh kepada kecepatan kendaraan ringan dalam arus campuran (untuk mobil penumpang dan kendaraan ringan yang sama sasisnya; emp = 1,0)

smp SATUAN MOBIL

PENUMPANG

Satuan untuk arus lalu-lintas dimana arus berbagai kendaraan yang berbeda

(31)

24 telah diubah menjadi arus kendaraan ringan (termasuk mobil penumpang) dengan menggunakan emp.

Fsmp FAKTOR SMP

Faktor untuk mengubah arus dalam kendaraan campuran menjadi arus ekivalen dalam smp, untuk analisa kapasitas.

LHRT (kend/hari) Lalu-lintas harian rata-rata tahunan.

k FAKTOR LHRT Faktor pengubah dari LHRT ke lalu-lintas jam puncak

QDH ARUS JAM RENCANA

(kend/jam)

Arus lalu-lintas yang digunakan untuk perancangan: QDH = LHRT × k

FV KECEPATAN ARUS

BEBAS

Kecepatan kendaraan yang tidak terhambat oleh kendaraan lain dalam pemilihan kecepatannya.

Catatan: Kadang-kadang disebut KECEPATAN YANG DIINGINKAN

FVO

KECEPATAN ARUS BEBAS DASAR (km/jam)

Kecepatan arus bebas suatu segmen jalan untuk suatu set kondisi ideal (geometri, pola arus lalu lintas dan faktor lingkungan) yang ditentukan sebelumnya

FVW

PENYESUAIAN KECEPATAN AKIBAT LEBAR JALUR

Penyesuaian untuk kecepatan arus bebas dasar akibat lebar jalur.

FFVSF

FAKTOR PENYESUAIAN KECEPATAN AKIBAT HAMBATAN

SAMPING

Faktor penyesuaian untuk kecepatan arus bebas

dasar akibat hambatan samping dan lebar bahu.

FFVRC

FAKTOR PENYESUAIAN KECEPATAN AKIBAT KELAS FUNGSIONAL JALAN

Faktor penyesuaian untuk kecepatan arus bebas dasar akibat kelas fungsional jalan (arteri, kolek-tor atau lokal) dan guna lahan.

Gambar

Tabel 3.1 Definisi Tipe Penampang Melintang Jalan
Tabel 3.2 Ketentuan Tipe Alinemen

Referensi

Dokumen terkait

didapatkan hasil yang lebih baik, dengan menggunakan piring rotari horizontal kapasitas 30 kg/jam.mesin yang dirancang ini sangat berbeda dengan mesin yang ada

Tabel 4.12 Analisis Data Tol Dalam Kota Lingkar Luar Jakarta Arah Pondok Indah .... xv Universitas

Pembatalan pendaftaran merek hanya dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan atau oleh pemilik merek, baik dalam bentuk permohonan kepada Direktorat Jenderal

Berdasarkan uraian diatas dalam rangka melaksanakan PKLM (Praktek Kerja Lapangan Mandiri) yang merupakan salah satu persyaratn untuk menyelesaikan perkuliahan pada program studi

Select Insert and then Picture from the top tool bar, in From File dialog windows, select and open the needed picture. Change

Hipotesis dalam penelitian ini adalah: (1) HO : tidak berpengaruh nyata karakteristik individu terhadap persepsi masyarakat dalam hal diversifikasi pangan; (2) HO: tidak

Menarik untuk dilihat penggunaan tanda-tanda dan sistem tanda yang digunakan pada logo RSU.Surya Husadha sebagai salah satu bentuk komunikasi visual entitas kepada

Untuk mengkaji sejauh mana pe1ajar dapat menggunakan pemikiran mereka untuk berfikir secara kritikal dalam matapelajaran Matematik, guru perlu membina beberapa