• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

Dewasa ini, perkembangan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) yang meliputi telekomunikasi, informasi komunikasi, dan penyiaran, banyak memberikan dampak positif dan negatif dalam segala aspek kehidupan. Perkembangan ini telah mengakibatkan dimensi jarak dan waktu menjadi relatif dekat dan singkat, yang turut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Dengan kondisi pada saat ini, Indonesia harus menghadapi paradigma baru yang terjadi pada teknologi dan jasa TIK. Paradigma baru tersebut yaitu: Pertama, pengaruh perubahan lingkungan global yang dapat memberikan dampak terhadap semua aspek kehidupan bangsa. Kedua, kemajuan multimedia yang sangat cepat disertai konvergensi dalam teknologi telekomunikasi, teknologi informasi, dan teknologi penyiaran. Ketiga, konvergensi yang merubah value chain dalam ketiga bidang diatas.

2.1 Industri Teknologi Informasi

Menurut Turban, Rainer dan Potter (2005), Teknologi Informasi dapat diartikan sebagai komponen-komponen individu yang diolah dalam suatu sistem informasi yang berbasiskan komputer.

5

(2)

2.1.1 Sistem Informasi

Sistem informasi diartikan sebagai pengumpulan, proses, penyediaan, analisa, dan distribusi informasi untuk suatu tujuan tertentu. Seperti halnya sistem-sistem yang lain, sebuah sistem informasi meliputi input (data, instruksi) dan output (laporan, kalkulasi).

2.1.1.1 Data

Data merupakan fakta-fakta atau deskripsi dasar mengenai sesuatu benda, kejadian, aktivitas dan transaksi yang tercatat, terekam, tersimpan dan terklasifikasi tetapi belum diolah atau diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan arti tertentu, contoh: data nilai mahasiswa.

2.1.1.2 Informasi

Informasi adalah sekumpulan data yang telah diatur dan diproses dengan

suatu instruksi atau aturan tertentu sehingga memberikan sesuatu yang lebih berarti

bagi penerimanya, contoh: apabila pada data nilai mahasiswa kita cantumkan nama-

nama dari mahasiswa yang memperoleh nilainya, kita akan mendapatkan suatu

informasi yang berguna. Dengan kata lain, informasi merupakan data-data yang

sudah melalui suatu proses.

(3)

2.1.1.3 Pengetahuan

Pengetahuan terdiri dari informasi yang telah diatur dan diproses untuk memberikan pengertian, contoh-contoh, pembelajaran dan keahlian sehingga dapat digunakan dalam pemecahan masalah atau proses suatu bisnis.

Untuk dapat berguna bagi seseorang ataupun organisasi, suatu informasi harus akurat, lengkap, dapat dipercaya, relevan, dapat diverifikasi, mudah diakses, dan aman.

2.1.2 Sistem Informasi Berbasis Komputer (Computer-Based Information System)

Sistem informasi berbasis komputer adalah suatu sistem informasi yang menggunakan komputer dan terkadang teknologi telekomunikasi untuk melakukan beberapa tugas-tugas tertentu. Komponen-komponen dasar suatu sistem informasi meliputi:

1. Hardware (Piranti Keras), seperangkat alat seperti prosesor, monitor, keyboard dan printer, yang dapat menerima data dan informasi, kemudian mengolah dan menampilkannya.

2. Software (Piranti Lunak), sebuah program komputer yang dapat memberikan instruksi kepada piranti keras agar dapat bekerja untuk memproses data.

3. Database, kumpulan file-file yang berhubungan, yang menampilkan data-

data dan hubungan diantara data-data tersebut.

(4)

4. Network (Jaringan), suatu sistem yang terhubung yang memungkinkan pembagian sumber-sumber daya diantara komputer-komputer yang berbeda.

5. Procedure (Prosedur), merupakan kumpulan strategi, kebijakan-kebijakan, metode dan aturan yang akan digunakan dalam sistem informasi.

6. People (Manusia), merupakan elemen terpenting dalam sistem informasi, yang merupakan eksekutor dalam memberikan input atau menggunakan hasil output dari sistem informasi tersebut.

Hardware Software

People

Database Network Procedures

Gbr 2.1 Komponen-komponen dari sistem informasi berbasis komputer

Sumber: Turban, Efraim, Rainer, R. Kelly Jr., Potter, Richard E. 2005, Introduction to Information Technology, 3

rd

Edition, Sine Nomine

Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah

mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan,

hobi, rekreasi, rohani, hingga profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita

bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu

(5)

dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran. Kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat memungkinkan diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa.

2.2 Industri Telekomunikasi

Definisi dari telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya (UU No. 36 Tahun 1999).

Selama ini, telekomunikasi diselenggarakan melalui jaringan telekomunikasi,

jasa telekomunikasi, dan penyelenggara telekomunikasi khusus atau badan usaha

operator telekomunikasi. Masing-masing penyelenggara melakukan usaha atau bisnis

layanan telekomunikasi melalui layanan fixed line, seluler, atau satelit. Secara teknis,

cara ini telah berhasil membuat fasilitas telekomunikasi menjangkau seluruh wilayah

geografis Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Hal ini terlihat pada grafik di

bawah, yang menunjukkan terjadinya peningkatan pada jumlah sambungan tetap dan

Sentral Telepon Bergerak (STB).

(6)

Tabel 2.1 Perkiraan Kebutuhan Infrastruktur Telekomunikasi

Sambungan Tetap S T B

Akhir

Tahun Kapasitas Penetrasi Pelanggan

(KapasitasTerpakai) Penetrasi 2006 10,454,115 4.6 33,303,941 14.59 2007 11,594,976 5.0 38,622,073 16.70 2008 12,963,259 5.5 43,940,204 18.76 2009 14,591,029 6.1 49,258,336 20.76 2010 16,510,494 6.9 54,576,467 22.71 2011 18,753,716 7.7 59,894,599 24.62 2012 21,352,879 8.7 65,212,730 26.48 2013 24,340,042 9.8 70,530,862 28.29 2014 27,747,373 11.0 75,848,993 30.06 2015 31,607,041 12.4 81,167,125 31.79

Sumber: Demand Forecast Ditjen Postel (2002)

2.2.1 Perangkat Telekomunikasi

Perangkat telekomunikasi adalah sekelompok alat telekomunikasi yang memungkinkan bertelekomunikasi. Berdasarkan UU No. 36 Tahun 1999, perangkat telekomunikasi yang diperdagangkan, dibuat, dirakit, dimasukkan dan atau digunakan di wilayan Negara Republik Indonesia wajib memperhatikan persyaratan teknis dan berdasarkan izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Mengacu kepada UU No. 36 Tahun 1999, maka pada tanggal 26 Februari

2008, Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar telah menandatangani tiga Peraturan

Dirjen Postel, yaitu: Pertama, Peraturan Dirjen Postel No. 94/DIRJEN/2008 tentang

Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi Subscriber Station

Broadband Wireless Access (BWA) Nomadic pada Pita Frekuensi 2.3 GHz; Kedua,

(7)

Peraturan Dirjen Postel No. 95/DIRJEN/2008 tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi Base Station Broadband Wireless Access (BWA) Nomadic Pada Pita Frekuensi 2.3 GHz; Ketiga, Peraturan Dirjen Postel No.

96/DIRJEN/2008 tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi Antena Broadband Wireless Access (BWA) Nomadic Pada Pita Frekuensi 2.3 GHz.

Ketiga peraturan diatas menetapkan bahwa alat dan perangkat subscriber station BWA, base station BWA dan antena BWA nomadic pada pita frekuensi 2.3 GHz wajib mengikuti persyaratan teknis sebagaimana tercantum dalam lampiran peraturan ini. Di samping itu juga ditetapkan, bahwa pelaksanaan sertifikasi alat dan perangkatnya wajib berpedoman pada persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ketentuan yang berlaku.

2.2.2 Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

Pemberlakuan ketiga peraturan diatas menandai rencana penggunaan pita frekuensi 2.3 GHz, selain telah dialokasikannya beberapa pita frekuensi seperti 1.9 GHz, 2.1 GHz, 2.3 GHz, 2.4 GHz, 2.5 GHz, 3.3 GHz, 3.5 GHz, 5.7 GHz untuk akses radio layanan pita lebar.

2.2.2.1 Teknologi WiMax

Beberapa jenis teknologi pun telah tersedia untuk layanan pita lebar berbasis

radio tersebut, yaitu teknologi WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave

Access). WiMax adalah salah satu teknologi yang memungkinkan transmisi pita lebar

(8)

hingga 260 Mbps dengan jangkauan puluhan kilometer. Teknologi ini adalah pengembangan dari teknologi nirkabel Wireless Fidelity (Wi-Fi) baik dalam kapasitas transmisi maupun daya jangkauan dan menawarkan layanan broadband dengan menggunakan basis standar global serta jaminan interoperability produk perangkat.

Hal ini menjadikan WiMax sebagai teknologi yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan koneksi Internet berkualitas dan melakukan aktivitas dan teknologi nirkabel telekomunikasi berbasis protokol internet (VoIP).

Memandang besarnya minat dan banyaknya permohonan untuk layanan pita lebar menggunakan teknologi baru dalam layanan Broadband Wireless dan mempertimbangkan tujuan pemerintah untuk meningkatkan penetrasi teledensitas informasi atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) secara cepat, efektif dan efisien, dengan harga terjangkau masyarakat serta mendorong partisipasi industri dalam negeri, maka pemerintah mencanangkan akan meluncurkan WiMax versi Indonesia pada momentum 1000 tahun kebangkitan nasional 28 Mei 2008.

2.2.2.2 Isu dalam Implementasi Teknologi WiMax

Beberapa isu yang berhubungan dengan implementasi WiMax adalah regulasi

yang terkait dengan alokasi frekuensi. Hal ini disebabkan implementasi ini akan

menentukan skala ekonomi produk perangkatnya dan bagi vendor perangkat nirkabel,

kepastian alokasi frekuensi itu akan menjadi dasar dalam menentukan titik awal

pemasaran produknya dalam skala ekonomi yang memadai.

(9)

Selain regulasi, terdapat pula isu yang berkaitan dengan proses perizinan, penetapan tarif, ketersediaan lahan yang terbatas, peminat yang jauh melebihi kapasitas. Berpatokan pada Ditjen Postel, pita frekuensi 2.5 GHz dan 3.5 GHz paling banyak diincar untuk WiMax dan BWA (Broadband Wireless Access), tapi harus berbagi dengan Satelit downlink S-band Cakrawala, Ext-C band Palapa-C1, serta Palapa-Telkom.

2.2.3 Pengembangan Teknologi Seluler

Selain teknologi WiMax, terdapat pula pengembangan teknologi seluler pada pita-pita frekuensi diatas yang dapat menyediakan layanan pita lebar bagi rakyat Indonesia.

2.2.3.1 Teknologi 2G

Pada bulan Mei 1995, Telecommunications Industry Association / Electronic Industries Association Interim Standard – 95 (TIA/EIA IS-95), mengembangkan teknologi IS-95A yang digunakan sebagai basis pada sistem 2G CDMA di seluruh dunia.

IS-95A merupakan selular CDMA standar pertama yang memiliki struktur

jaringan pengoperasian CDMA dengan wideband berkapasitas 1.25 MHz. Dalam era

ini, sebagian besar operator telekomunikasi yang menggunakan IS-95A, menyediakan

sambungan circuit-switched data dengan kecepatan sebesar 14.4 kbps. IS-95 kembali

(10)

mengembangkan sebuah teknologi baru dan melahirkan IS-95B sebagai generasi TIA/EIA-95 yang kedua. Teknologi ini memadukan tiga elemen, yaitu IS-95A, ANSI-J-STD-008, dan TSB-74, ke dalam sebuah sistem tunggal yang lebih tinggi dibandingkan generasi yang sebelumnya (2.5G). Sebagian operator yang menggunakan sistem IS-95B menyediakan packet-switched data sebesar 64 kbps untuk memberikan layanan suara yang memuaskan.

Keunggulan Teknologi 2G

Terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh para pengguna jaringan telepon selular 2G. Apabila dibandingkan dengan sistem analog AMPS, maka keunggulan teknologi ini yaitu:

1. Kapasitas teknologi 2G meningkat 8 hingga 10 kali.

2. Kualitas sambungan lebih baik, suara yang jernih dan konsisten.

3. Sistem lebih sederhana, khususnya pada penggunaan frekuensi sejenis.

4. Privasi lebih terjamin.

5. Cakupan daerah cukup luas, sehingga memungkinkan penyediaan jaringan yang tidak terlalu besar jumlahnya.

6. Waktu bicara lebih lama.

7. Bandwidth disesuaikan sesuai kebutuhan operator.

(11)

Gbr 2.2 Skema pada Jaringan Sistem 2G

Sumber: www.cdg.org (2007)

2.2.3.2 Teknologi CDMA 2000

Setelah generasi 2G, generasi berikutnya adalah CDMA2000 1X; sebuah teknologi yang menjadi cikal bakal teknologi 3G, yang digunakan pertama kali oleh SK Telecom, sebuah perusahaan telekomunikasi Korea Selatan.

Milestones teknologi CDMA2000 adalah sebagai berikut:

• CDMA2000 1X

CDMA2000 1xEV-DO Technologies

o CDMA2000 1xEV-DO Rel 0

o CDMA2000 1xEV-DO Rev A

o CDMA2000 1xEV-DO Rev B

Ultra Mobile Broadband - UMB

(12)

CDMA2000 merupakan sebuah teknologi yang dikembangkan dari keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh teknologi CDMA. Selain itu, teknologi CDMA2000 turut menampilkan elemen-elemen pendukung, seperti: Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM dan OFDMA), yaitu sebuah mekanisme kontrol yang canggih yang memungkinkan terjadinya peningkatan transfer data dalam jumlah dan kualitas layanan yang baik. Sementara itu, kapasitas jaringan yang ada semakin meningkat, namun tetap menjaga biaya tetap rendah. Hal ini dimungkinkan dengan penggunaan Multiple Inputs Multiple Outputs (MIMO) dan Space Division Multiple Access (SDMA).

Keunggulan Teknologi CDMA 2000

Keunggulan teknologi CDMA 2000 yaitu:

− Pertama, performa lebih unggul, karena lebih cepat melakukan pengiriman data, dimana kapasitas layanan suara akan semakin berkembang.

− Kedua, efisiensi spektrum. Teknologi CDMA2000 memberikan kapasitas layanan suara maksimum dan transfer data melalui penggunaan spektrum yang lebih efisien, sehingga biaya yang ditanggung operator menjadi lebih murah, serta memberikan kenyamanan kepada para penggunanya dalam hal kecepatan.

− Ketiga, adanya layanan-layanan pendukung, seperti CDMA2000 1xEV-DO

yang digunakan pada VoIP, push-to-talk, video telephony, pesan multimedia,

multicasting, dan multi-playing online gaming. All-IP, teknologi CDMA2000

(13)

yang cocok dengan IP dan mendukung sistem jaringan. Belakangan ini, sebagian besar operator telah menggunakan perpaduan antara teknologi CDMA2000 dan layanan IP ini dan hasil yang dirasakan adalah tingkat fleksibel dan efisiensi yang lebih baik, serta nilai ekonomis yang lebih tinggi.

− Keempat, fleksibilitas. CDMA2000 dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan wireless jaringan tetap, wireless local loop (WLL), baik di area perkotaan dan pedesaan, melalui ketersediaan beberapa spektrum gelombang, seperti 450 MHz, 800 MHz, 1,700 MHz, 1,900Mhz, dan 2,100 MHz.

2.2.3.3 Teknologi 3G

3G adalah generasi telepon seluler terbaru yang memiliki layanan komunikasi lebih baik serta sambungan jarak jauh yang lebih cepat, khususnya saat mengakses Internet, melakukan pengiriman data, dan kandungan multimedia. Berdasarkan standard yang telah ditetapkan IMT-2000 (International Mobile Telecommunications- 2000), kecepatan 3G adalah 144 Kbps di daerah terbuka dan 2 Mbps dalam daerah tertutup.

Seiring dengan perkembangan informasi, maka pada akhir tahun 2006,

terdapat kurang lebih 430 juta pengguna 3G yang tersebar di enam benua, dan pada

beberapa negara maju seperti Korea, Jepang dan Amerika bagian Utara, jumlah

pengguna 3G lebih besar jumlahnya daripada pengguna 2G. Secara global, banyak

pihak memprediksi bahwa pengguna layanan 3G akan jauh melebihi pengguna 2G

dalam tahun 2011. Hal ini merupakan sesuatu yang signifikan, karena target diatas

(14)

terjadi hanya sekitar 10 tahun semenjak 3G memasuki industri telekomunikasi, setelah kurang dari 5 tahun bagi sistem 2G mengungguli penerapan teknologi 1G.

2.3 Strategi

Agar tetap unggul dalam persaingan, maka perusahaan perlu menyusun sasaran jangka panjang dan memilih strategi yang tepat. Menurut Pearce II dan Robinson, Jr., misi perusahaan tersebut harus diterjemahkan kedalam kebijakan- kebijakan yang mencerminkan strategi perusahaan secara keseluruhan. Adapun, pemaparan pemahaman tentang diversifikasi, merger, strategic alliances, joint ventures, vertical integration, dapat menjadi landasan dalam menentukan strategi yang tepat demi tercapainya rencana suatu perusahaan.

2.3.1 Diversifikasi

Suatu perusahaan yang memiliki dua atau lebih kegiatan bisnis yang berbeda, dapat digolongkan kedalam perusahaan yang terdiversifikasi, sebagaimana halnya dengan PT Metrodata Electronics Tbk. Oleh karena itu, untuk masing-masing kegiatan bisnis, manajemen membutuhkan multi-strategi bisnis yang sesuai dan tepat.

(Thompson Jr., Strickland III, dan Gamble, 2007)

2.3.1.1 Related Diversification

Related diversification adalah strategi yang diambil perusahaan untuk

melakukan diversifikasi sesuai dengan value-chain perusahaan yang sudah ada pada

(15)

saat ini. Strategi ini tepat digunakan pada saat perusahaan hendak melakukan transfer keahlian atau pengalaman dari satu bisnis ke bisnis lainnya; menggabungkan kegiatan yang sama agar dapat memperoleh biaya yang lebih rendah; meningkatkan brand tertentu; dan melakukan kolaborasi untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas perusahaan.

2.3.1.2 Unrelated Diversification

Unrelated diversification adalah strategi perusahaan yang melakukan diversifikasi ke dalam bisnis baru, diluar value-chain perusahaan yang sudah ada.

2.3.2 Merger

Menurut Weston, Mitchell and Mulherin (2001, p5), kata merger digunakan dalam sebuah transaksi bisnis yang dilakukan dengan cara negoisasi, yang harus memenuhi syarat-syarat teknis tertentu dan persyaratan hukum yang berlaku. Kata merger juga dapat diartikan sebagai proses negosiasi antara dua entitas usaha untuk menggabungkan kedua perusahaan yang akan menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan.

Adapun keputusan manajemen suatu perusahaan untuk melakukan merger

dipengaruhi oleh sepuluh faktor, yaitu teknologi, skala ekonomi, globalisasi dan

perdagangan bebas, perubahan yang terjadi dalam organisasi suatu industri,

bertumbuhnya industri-industri baru, deregulasi dan regulasi yang berlaku, adanya

perbaikan ekonomi dan kondisi keuangan, adanya trend yang negatif pada industri-

(16)

industri tertentu, melebarnya ketimpangan pendapatan dan kesejahteraan, relatif tingginya valuasi ekuitas perusahaan.

2.3.2.1 Tipe-tipe Merger

Menurut Weston, Mitchell dan Mulherin, merger dapat dikategorikan ke dalam tiga tipe:

1. Horizontal merger melibatkan dua perusahaan yang beroperasi dan berkompetisi di jenis aktivitas bisnis yang sama. Tipe merger ini harus diatur oleh regulasi pemerintah dikarenakan adanya kemungkinan efek negatif yang ditimbulkan dalam kompetisi industri, karena horizontal merger dapat mengurangi jumlah perusahaan yang bersaing dalam industri tertentu yang pada akhirnya dapat menimbulkan monopoli.

2. Vertical merger terjadi antara dua perusahaan yang memiliki tahap produksi yang berbeda dalam operasional perusahaannya. Merger ini biasanya dilakukan oleh dua perusahaan yang masing-masing memiliki spesialisasi dalam tahap produksi yang berbeda, sehingga dengan terjadinya merger diharapkan akan memperbesar skala ekonomi perusahaan dan meningkatkan efisiensi biaya yang akan dikeluarkan di masa mendatang, jika dibandingkan dengan hanya melakukan kontrak kerjasama jangka panjang antar perusahaan.

3. Conglomerate merger; melibatkan dua perusahaan yang memiliki aktivitas

yang benar-benar berbeda. Merger tipe ini dapat disub-kategorikan menjadi

dua, yaitu:

(17)

• Financial conglomerates; hanya mengambil alih posisi yang menentukan kebijakan strategis dan tidak ikut terlibat dalam operasional perusahaan.

• Managerial conglomerates; selain mengambil alih posisi yang menentukan kebijakan strategis perusahaan, dalam managerial conglomerates, perusahaan ikut mengambil alih pengambilan keputusan operasional perusahaan serta menyediakan tenaga-tenaga ahli atau penambahan karyawan baru yang dibutuhkan oleh perusahaan yang akan merger.

2.3.3 Strategic Alliances dan Joint Ventures

Dalam era globalisasi, perusahaan mulai memandang pentingnya kehadiran rekan kerja yang strategis untuk menunjang kegiatan bisnis menjadi lebih efektif dan oleh karena itu, perusahaan tersebut dapat melakukan Strategic Alliances ataupun Joint Ventures.

Menurut Doz dan Hamel (1998), terdapat lima perbandingan antara Strategic Alliances dan Joint Ventures:

• Pertama, Strategic Alliances lebih condong kepada strategi perusahaan apabila dibandingkan dengan Joint Ventures.

• Kedua, Strategic Alliances dapat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dari

jenis industri yang berbeda, dengan keterbatasan sumber daya seperti

(18)

teknologi, sumber daya manusia, maupun skill. Hal ini dapat menyebabkan perusahaan kurang fleksible dalam mengantisipasi hal-hal yang dapat terjadi di masa yang akan datang. Sedangkan, Joint Ventures dilakukan oleh perusahaan yang memiliki alokasi sumber daya tertentu dan menggabungkannya dengan perusahaan sejenis; bahkan tidak hanya sumber dayanya, risiko yang mungkin terjadi pun sudah dapat diantisipasi dan dapat dibagi; sebagai contoh perusahaan yang bergerak di industri perminyakan banyak melakukan Joint Ventures.

• Ketiga, dengan Strategic Alliances memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk melibatkan lebih banyak rekanan, dibandingkan dengan Joint Ventures yang hanya melibatkan dua pihak saja.

• Keempat, melalui Strategic Alliances, perusahaan dapat membentuk sebuah sistem yang terintegrasi dengan rekanannya.

• Kelima, dalam kompetisi yang semakin ketat dan ketidakpastian yang dihadapi perusahaan dalam menerapkan Strategic Alliances, menjadikan penerapan strategi ini lebih sukar dikendalikan.

Walaupun masing-masing strategi memiliki kelebihan dan kekurangannya,

namun dalam abad ke-21 ini, kedua pilihan ini akan sangat banyak diterapkan oleh

perusahaan-perusahaan. (Bendaniel dan Rosenbloom, 1998)

(19)

2.3.3.1 Kategori Strategic Alliances

Sebagian besar perusahaan yang memilih dan menerapkan Strategic Alliances, lebih banyak mengacu kepada bentuk-bentuk marketing alliances, dengan empat kategorinya yang akan dibahas berikut ini.

• Product or Service Alliances. Suatu perusahaan memberikan lisensi kepada rekanannya untuk menghasilkan produknya, atau kedua perusahaan tersebut bergabung dalam memasarkan produk-produk mereka, baik itu produk yang baru maupun produk pelengkap.

• Promotional Alliances. Suatu perusahaan melakukan kegiatan promosi bagi perusahaan lainnya.

• Logistics Alliances: Suatu perusahaan yang menyediakan tempat penyimpanan logistik perusahaan lainnya.

• Pricing Collaborations: Satu atau lebih dari satu perusahaan yang saling memberikan harga yang khusus diantaranya.

2.3.4 Integrasi

Berbagai upaya kerap dilakukan oleh suatu perusahaan untuk bersaing dengan

kompetitor lainnya, salah satunya dengan senantiasa meningkatkan pelayanan jasa

dan penawaran produk dengan biaya yang rendah. Hal ini akan terwujud dalam

perusahaan-perusahaan yang senantiasa meningkatkan value-chain secara struktural,

melalui penerapan forward integration, backward integration, dan vertical

integration.

(20)

2.3.4.1 Forward Integration

Forward integration adalah strategi perusahaan mengakuisisi perusahaan wholesale dan mendistribusikan jasa maupun produknya melalui perusahaan tersebut.

Strategi ini lebih tepat diterapkan oleh perusahaan yang kegiatan produksinya cenderung stabil dan terukur, sehingga dapat lebih meningkatkan penjualannya melalui rantai produksi dan pemasaran perusahaan tersebut.

2.3.4.2 Backward Integration

Backward integration merupakan strategi perusahaan yang mengakuisisi perusahaan penyedia barang-barang yang akan diproduksi oleh perusahaan tersebut.

Strategi ini tepat digunakan pada saat jumlah supplier sedikit sedangkan pesaing semakin banyak, karena dengan backward integration perusahaan dapat meningkatkan ketersediaan serta menjaga kualitas bahan-bahan baku yang akan diproduksi.

2.3.4.3 Vertical Integration

Vertical integration merupakan penggabungan antara forward integration dan

backward integration, dimana vertical integration mengakuisisi satu atau beberapa

perusahaan yang berhubungan erat dengan seluruh rangkaian bisnis dalam perusahaan

tersebut. Manfaat yang didapatkan oleh perusahaan dari penerapan strategi ini adalah

seluruh alur bisnis berada di bawah kendali perusahaan tersebut, yaitu mulai dari

supplier hingga distributor. Namun, strategi ini pun dinilai lemah karena menjadikan

(21)

perusahaan tidak leluasa untuk mengubah penerapan teknologi baru yang dapat mengakibatkan kerugian pada skala ekonomis perusahaan tersebut.

2.4 The Value Chain

Michael Porter mengusulkan the value chain sebagai metode didalam mengidentifikasikan cara-cara untuk menciptakan nilai lebih bagi konsumen.

Menurut metode ini, perusahaan adalah sebuah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk merancang, menciptakan, memasarkan, menyalurkan, dan mendukung setiap produk yang dihasilkannya.

The value chain mengidentifikasikan sembilan tindakan strategis yang dapat menciptakan nilai dan biaya dalam kegiatan bisnis perusahaan tertentu. Kesembilan kegiatan tersebut terdiri dari lima kegiatan primer dan empat kegiatan sekunder.

Kegiatan primer mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang dimulai dari pengiriman barang baku menuju tempat penyimpanan; pengolahan barang baku tersebut hingga menjadi barang jadi; penyaluran masing-masing barang jadi tersebut; pemasaran barang jadi tersebut; dan pelayanan yang diberikan. Adapun kegiatan sekunder – mencakup pembelian, perkembangan teknologi, tenaga kerja, manajemen, dan infrastruktur perusahaan – ditangani oleh departemen - departemen yang terkait.

Seberapa baik masing-masing departemen menjalankan fungsinya masing-

masing, bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan suatu

(22)

perusahaan, namun juga seberapa baik tugas-tugas yang beragam tersebut terkoordinasi, sehingga tercipta suatu inti dari proses bisnis perusahaan tersebut yang mencakup:

• The market sensing process. Masing-masing kegiatan terkait dengan upaya mengumpulkan data-data di pasar, akan disinergikan dengan organisasi perusahaan dimana perusahaan dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi-informasi yang diperoleh.

• The new offering realization process. Setiap kegiatan terkait dengan penelitian, pengembangan, dan kehadiran dari produk baru yang ditawarkan dengan kualitas yang tinggi dan harga yang terjangkau.

• The customer relationship management process. Setiap kegiatan terkait dengan membangun pemahaman dan hubungan yang mendalam, serta pelayanan kepada pelanggan individual.

• The fulfillment management process. Setiap kegiatan terkait dengan penerimaan dan penyetujuan pesanan-pesanan, pengiriman barang-barang tepat waktu, dan penagihan pembayaran.

2.4.1 Strategic Formulation

Suatu tujuan memberikan indikasi terhadap hal-hal yang hendak dicapai oleh

suatu perusahaan dan strategic formulation merupakan salah satu cara untuk

mencapainya. Setiap bisnis harus merancang sebuah strategi untuk mencapai tujuan

(23)

tersebut, dimana didalamnya terdapat strategi pemasaran, dan strategi akan teknologi dan strategi akan sumber.

Michael Porter kembali membagi strategi kedalam tiga generic strategies yang mengusulkan untuk memulai sebuah awal yang baik didalam pemikiran yang strategis, yaitu overall cost leadership, differentiation, dan focus.

• Overall cost leadership. Setiap bisnis selalu berupaya untuk mencapai biaya produksi dan distribusi yang serendah-rendahnya, sehingga harga yang dibebankan kepada konsumer akan lebih rendah dibandingkan kompetitornya dan dapat unggul dalam hal market share. Setiap perusahaan yang melakukan strategi ini haruslah baik didalam pelaksanaan, pembelian, produksi, dan pendistribusiannya. Kelemahan dari strategi ini adalah kompetisi yang terjadi akan sangat ketat karena banyaknya pesaing, sedangkan mengakibatkan perusahaan akan menurunkan biayanya dan memperkecil keuntungan yang diterima oleh perusahaan.

• Differentiation. Kegiatan bisnis yang terpusat pada pencapaian hasil yang memuaskan para konsumen dapat dinilai dari pasar. Perusahaan tersebut akan menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk menyediakan kebutuhan para konsumen yang berbeda-beda.

• Focus. Kegiatan bisnis yang fokus pada sebuah segmen atau segmen yang

terbatas. Perusahaan mengetahui masing-masing segmen dengan rinci dan

(24)

menerapkan kedua strategi diatas pada segmen-segmen bisnis perusahaan tersebut.

Menurut Porter, perusahaan-perusahaan yang menggunakan strategi yang

sejenis akan mengarah kepada target yang sejenis pula. Hal ini disebutnya sebagai

sebuah strategic group. Perusahaan yang menerapkan strategi ini akan menikmati

keuntungan yang lebih besar, namun dilain pihak perusahaan yang menerapkan

berbagai macam strategi akan mengakibatkan kerugian yang lebih besar.

Gambar

Tabel 2.1 Perkiraan Kebutuhan Infrastruktur Telekomunikasi

Referensi

Dokumen terkait

: Mahasiswa mampu menerapkan konsep yajna dan bhakti, memahami tentang kedudukan Pandita dan Pinandita. Mampu mengamalkan ninai filosofis dari masing-masing hari

Pengujian dilakukan dengan Structural Equation Modeling (SEM) untuk mengetahui kebenaran konsep teori mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan e- learning

telah terjadi pisah tempat tinggal selama 6 bulan;--- Menimbang, bahwa dari fakta-fakta tersebut diatas, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa rumah tangga antara

Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka dapat dikatakan bahwa walaupun semakin lengkap fasilitas/ sarana kesehatan yang digunakan di puskesmas Teppo dalam memberikan

Peneliti dan guru kelas berkolaborasi dalam pembuatan RPP (Rencana Pelaksaan Pembelajaran). Tugas guru dalam pelaksanaan penelitian adalah melaksanakan pembelajaran

• Diketahuinya jenis bahan yang digunakan, misalnya Kuda-kuda/gelagar/lantai kayu kelas II, atap seng/genteng beton, dll. a) Desain, berdasarkan hasil Survey kondisi lapangan

Perlu dilakukan pemetaan ancaman dan resiko, kerentanan dan kapasitas menghadapi bencana yang sensitif gender (Gender-Sensitive Risk Mapping). Melalui pemetaan resiko

Hasil perendaman tulang ayam menggunakan basa kimiawi (NaOH) tingkat konsentrasi 4% dengan lama perendaman 48 jam memberikan hasil yang optimal terhadap