55
Simpulan, Disuksi dan Saran
5.1 Simpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa kelas I dan II SMA Santo Lukas Penginjil I memiliki konsep diri yang dalam tingkatan dikatakan sedang (71%) dan memiliki tingkatan prestasi akademik yang sedang (72,8%).
Hasil uji kolerasi pearson menunjukkan nilai korelasi (r) sebesar -0,010 dan nilai sig. sebesar 0,956. Dalam penelitian ini, tingkat signifikansi yang digunakan
sebesar 0,05. Berdasarkan output di atas diperoleh nilai signifikan sebesar 0,956.
Nilai signifikansi 0,956 lebih dari 0,05, maka Ho diterima (Ho diterima jika signifikansi > 0,05). Kesimpulannya adalah karena nilai signifikansi 0,956 lebih dari 0,05, maka Ho diterima, artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara konsep diri terhadap prestasi akademik siswa SMA Santo Lukas Penginjil I Jakarta.
5.2 Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara konsep diri dengan prestasi akademik siswa kelas I dan II SMA Santo Lukas Penginjil I. Dari hasil penelitian didapat bahwa mayoritas konsep diri subjek penelitian berada pada tingkatan sedang dengan jumlah 26 siswa (71 %), 3 siswa (11,6%) memiliki konsep diri tinggi dan 6 siswa (17,4%) memiliki konsep diri rendah. Sedangkan tingkat prestasi akademik, dari data dapat terlihat bahwa mayoritas prestasi akademik subjek penelitian berada pada tingkatan sedang dengan jumlah 27 siswa (72,8 %), 4 siswa (11,6%) memiliki prestasi akademik tinggi dan 4 siswa (11,6%) memiliki prestasi akademik rendah. Penelitian ini mendapatkan hasil tingkat konsep diri siswa kelas I dan II SMA Santo Lukas Penginjil I berkategori sedang yaitu dengan presentase 71 % jumlah 26 siswa dan prestasi akademik dengan presentase sebesar 72,8 % jumlah 27 siswa.
Dengan begitu kita dapat menilai bahwa konsep diri dan prestasi belajar siswa
kelas I dan II SMA Santo Lukas Penginjil I berada pada tingkat menengah atau sedang dan perlu ditingkatkan mengingat bahwa konsep diri yang tinggi/ positif dapat memberikan dampak yang baik bagi para siswa. Tingkat konsep diri individu dapat dikembangkan dengan melatih dan membiasakan diri untuk mengenal dan memahami diri agar saat berada pada proses pendidikan individu mampu untuk serius dan bertanggung jawab terhadap tugas yang sedang dijalaninya. Dari hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa siswa kelasI dan II SMA Santo Lukas Penginjil I belum maksimal mengelola dan meningkatkan konsep diri siswanya.
Hasil penelitian ini sangat berlawanan dengan hasil beberapa penelitian yang sudah dilakukan oleh para ahli sebelumnya. Walsh (Burns, 1993) melakukan penelitian tentang konsep diri terhadap prestasi akademik dan hasilnya siswa yang tergolong memiliki konsep rendah mempunyai prestasi akademik yang rendah juga begitu pula sebaliknya dari penelitian Walsh dapat disimpulkan bahwa konsep diri memilki hubungan dengan prestasi akademik. Hal ini juga dikuatkan dengan hasil penelitian Sahputra (2009) yang mengatakan bahwa adanya hubungan positif bermakna antara konsep diri dengan prestasi akademik. Peneliti menjelaskan kenapa hasil penelitian ini berentangan dengan teori atau penelitian sebelumnya dengan berangkat pada paradigma metodologi. Penelitian ini bukan- lah sebuah penelitian yang sempurna. Dalam hal metode penelitian pun tidak terlepas dari beberapa keterbatasan yang dapat menjadi kekurangan dalam penelitian ini yang lebih jauh lagi dapat menjadi sumber error pada penelitian ini.
Beberapa kekurangan dalam penelitian ini adalah masalah alat ukur, sampel, pengadministrasian dan metode pengambilan data. Alat ukur Konsep diri yang digunakan dalam penelitian merupakan alat yang diadaptasi dari alat ukur Tennesse Self Concept Scale , penerjemahan dan penyesuaian dari bahasa inggris
ke Indonesia menjadi salah satu sumber error dari penelitian ini. Peneliti juga menghilangkan beberapa item yang memiliki nilai validitas rendah dibawah 0,25.
Penurunan standart nilai peritem dari 0,3 menjadi 0,25 dirasa menurunkan keakuratan alat ukur Tennesse Self Concept Scale itu sendiri. Jumlah item yang sangat banyak dan adanya beberapa indikator yang memiliki jumlah item yang sedikit, menjadi keterbatasan utama dalam alat ukur ini. Banyaknya item membuat
partisipan merasa lelah dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengerjakan alat ukur ini. Hal ini menyebabkan ada beberapa partisipan yang tidak dapat diolah datanya dikarenakan ada nomor yang tidak terisi. Dari segi pengadministrasian, penyebaran kuesioner yang tidak hanya dilakukan oleh peneliti, menyebabkan peneliti tidak dapat mengontrol beberapa hal. Peneliti tidak dapat mengontrol apakah partisipan yang mengisi kuesioner tersebut dengan sungguh-sungguh atau tidak, apakah partisipan mengalami kendala dalam pengisian, apakah kuesioner tersebut benar-benar hanya diisi oleh satu orang, dan hal-hal lain yang tidak dapat dikontrol peneliti. Peneliti juga tidak dapat memberikan instruksi secara langsung kepada tiap partisipan. Pemberian waktu yang cukup panjang dalam pengisian kuesioner ini dengan pertimbangan item yang cukup banyak juga dikhawatirkan akan menyumbangkan error tertentu.
Sedangkan dari segi metode pengambilan data, penelitian ini hanya menggunakan metode tunggal, yaitu dengan menyebarkan kuesioner. Tentunya dengan metode ini kita tidak dapat mendapatkan gambaran yang menyeluruh dan mendalam bagi tiap individu. Kita juga tidak dapat melihat keunikan masing-masing partisipan.
Hal – hal inilah yang menurut peneliti secara metodologi menyebabkan error pada data yang didapat melalui alat ukur sehingga hasil yang didapat berlawanan dengan penelitian – penelitian sebelumnya.
Selain itu peneliti juga melakukan asumsi dengan melihat pada hasil analisa tambahan yaitu angka koefisien determinasi sebesar 0,01% yang berarti sebenarnya konsep diri ada memberikan pengaruh pada prestasi akdemik dan dapat disimpulkan memiliki hubungan, tetapi sangat sedikit karena angka presentase yang sangat kecil. Hal ini bisa terjadi, karena menurut teori yang sudah dijabarkan diatas prestasi akademik tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh konsep diri ada hal - hal lain yang mempengaruhinya, hal ini didukung dengan pernyatan dari Fikri (2005) yang mengatakan bahwa ada hal-hal lain yang mempengaruhi prestasi akademik selain dari faktor konsep diri. Di antara faktor yang mem- pengaruhi tersebut termasuk intelegensia, minat, perhatian, kematangan emosional dan kesiapan peserta didik, dapat memberi pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar peserta didik dalam meningkatkan proses dan hasil belajar yang pada akhirnya berpengaruh kepada peningkatan prestasi.
5.3 Saran
Pada bagian ini peneliti mencoba memberikan beberapa saran untuk penelitian selanjutnya, baik secara metodologis maupun secara praktis.
5.3.1 Saran Metodologis
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, peneliti menyarankan beberapa hal, yaitu:
a. Alat ukur yang digunakan sebaiknya ditelusuri lebih jauh reliabilitas, validitas, dan daya diskriminasinya. Jika diperlukan, untuk penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan uji coba berkali-kali agar benar-benar mendapatkan item-item yang baik. Pengujian validitas sebaiknya menggunakan teknik lain selain internal consistency. Selain itu, perlu pertimbangkan mengenai banyaknya jumlah item pada alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini. Untuk penelitian selanjutnya, jika memungkinkan, peneliti sebaiknya mengurangi jumlah item yang ada, dengan tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap reliabilitas dan validitas alat ukur.
b. Mengambil sampel dalam jumlah yang lebih besar sehingga lebih dapat merepresentasikan populasi. Bisa dilakukan dengan mengadakan penelitian dibeberapa sekolah.
c. Peneliti sebaiknya menyebarkan sendiri kuesioner yang diberikan dan mendampingi partisipan dalam pengerjaannya. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat memastikan bahwa kuesioner tersebut benar-benar diisi secara sungguh-sungguh oleh partisipan yang sesuai dengan karakteristik partisipan.
d. Sebagai alat pengumpul data lainnya, selain dengan memberikan kuesioner, peneliti dapat melakukan metode observasi atau wawancara
sehingga didapat gambaran yang lebih komprehensif mengenai konsep diri siswa tersebut.
5.3.2 Saran Praktis
Selain saran metodologis, peneliti juga mencoba memberikan saran praktis yang dapat digunakan bagi kehidupan sehari-sehari, yaitu:
a. Para Orang tua dan guru sebaiknya tidak hanya membantu mengembangkan konsep diri siswa saja, tetapi juga memperhatikan aspek – aspek lainya. Karena prestasi akademik tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh konsep diri.
b. Sekolah SMA Santo Lukas Penginjil I perlu meningkatkan tingkatan konsep diri yang dimiliki siswanya, karena menurut hasil penelitian ini mayoritas siswa memilki konsep diri yang menengah atau sedang, dimana kita tahu bahwa memilki konsep diri yang tinggi atau positif dapat memberi banyak manfaat bagi siswa dari segi akademis maupun non akademis. Hal ini bisa dimulai dari melakukan hal kecil seperti memberi pujian ketika siswa memakai baju rapi, bukan memarahinya ketika bajunya tidak rapi.