1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Meningkatnya kualitas kesehatan akan berdampak pada peningkatan angka harapan hidup suatu negara. Hal tersebut tentunya berpengaruh terhadap jumlah penduduk lanjut usia. Peningkatan kualitas kesehatan dialami Indonesia sehingga dalam kurun waktu 40 tahun (1970-2010) terjadi peningkatan penduduk lansia hingga 17,7 juta. Saat ini, Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai negara dengan penduduk lansia terbesar di dunia. Diperkirakan pada tahun 2020 terjadi peningkatan jumlah lansia sebesar 1,34% dari tahun 2010 yang berjumlah 23 jiwa (BPS, 2013). Pada skala yang lebih kecil yaitu skala kota, Kota Yogyakarta merupakan kota yang memiliki penduduk lansia paling tinggi se-Indonesia yang mencapai 12,01% dari seluruh penduduk dengan Usia Harapan Hidup (UHH) 71,4 tahun. Dengan kondisi yang demikian maka Kota Yogyakarta memiliki tantangan untuk memberi perhatian lebih kepada lansia agar mereka tetap aktif dan mandiri mengingat banyaknya penduduk usia tua bukan menjadi suatu ancaman apabila mereka tetap produktif. Hal ini cukup penting, mengingat lansia, juga memiliki hak yang secara yuridis dilindungi dan wajib dipenuhi oleh negara. Dalam pasal 5 UU No.13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia disebutkan bahwa pemenuhan hak lansia meliputi: (1)pelayanan keagamaan dan mental spiritual; (2) pelayanan kesehatan; (3) pelayanan kesempatan kerja; (4) pelayanan pendidikan dan pelatihan; (5) kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana dan prasarana umum; (6) kemudahan dalam layanan dan bantuan hukum; (7) perlindungan sosial;
dan (8) bantuan sosial.
Pemenuhan hak lansia ini dapat dimplementasikan dengan menciptakan lingkungan kawasan yang ramah lansia yang mendorong partisipasi aktif lansia terhadap pelaksanaan pembangunan sesuai dengan kapasitas mereka sehingga mereka akan menjadi lansia aktif dan produktif. Prioritas pengembangan kawasan
2 ramah lansia akan lebih tepat sasaran apabila dilakukan pada area dengan jumlah penduduk lansia terbanyak di Kota Yogyakarta yaitu Kelurahan Gedongkiwo.
Gambar 1.1 Grafik Jumlah dan Persentase Lansia per Kelurahan di Kota Yogyakarta
Sumber : Data Hasil Konsolidasi dan Pembersihan Database Kependudukan oleh Ditjen Kependudukan Pencatatan Sipil Kemendagri, diolah Bagian
Kependudukan Biro Tata Pemerintahan Setda DIY, 2015
3 Apabila dilihat dari persentase penduduk lansia, Kelurahan Gedongkiwo memiliki persentase yang cukup tinggi (di atas rata-rata jumlah lansia per kelurahan) yaitu sebesar 12,55% dari total jumlah penduduk meskipun bukan merupakan Kelurahan dengan persentase lansia tertinggi. Akan tetapi pengembangan kawasan yang ramah lansia tetap perlu dilakukan di kelurahan ini karena 93% lansia tergolong sebagai lansia yang sehat namun kurang diimbangi dengan aktivitas lansia sehingga mereka menjadi kurang aktif dan produktif.
Ruang di Kelurahan Gedongkiwo juga belum mendukung lansia untuk berkegiatan fisik seperti banyaknya ruang terbuka yang terbengkalai dan tidak direncanakan sehingga tidak menarik lansia untuk berkegiatan di ruang tersebut, trotoar yang banyak mengalami kerusakan serta kurangnya fasilitas sosial sebagai tempat berkegiatan lansia. Padahal, kebutuhan lingkungan yang ramah lansia ini sangat diperlukan mengingat manusia terus mengalami pertumbuhan sampai akhirnya menjadi lansia. Pada masa ini, individu mengalami proses penuaan yang mengakibatkan menurunnya kemampuan fisik. Penurunan kemampuan fisik ini mengakibatkan lansia cenderung berada di dalam ruangan. Akan tetapi, pada dasarnya para lansia memiliki kebutuhan untuk berkegiatan di luar ruangan seperti berjalan-jalan, berinteraksi sosial dengan kerabat atau pergi kesuatu tempat dengan tujuan tertentu. Aktivitas di luar ruangan ini dapat meningkatkan kemampuan fisik dan kognitif lansia (Thompson dan Travlou, 2007 dalam Suryani, 2009). Di sisi lain, kebutuhan aktivitas di luar ruangan ini belum diimbangi dengan adanya ruang yang ramah lansia. Keberadaan ruang yang digunakan untuk beraktivitas seperti jalan dan ruang terbuka belum bisa mengakomodir kebutuhan para lansia. Dengan demikian, maka diperlukan penataan ruang yang ramah lansia sehingga dapat meningkatkan aktivitas fisik yang dapat berdampak pada peningkatan kesehatan dan kualitas hidup lansia.
1.2. Permasalahan Perencanaan
Secara umum, permasalahan yang menjadi latar belakang perencanaan ini adalah ruang yang tidak memperhatikan kebutuhan lansia. Ruang kota umumnya didesain bukan untuk manula tapi untuk orang aktif dan sehat. Hal ini dapat menyulitkan lansia dalam menjalankan aktivitas terutama aktivitas fisik. Sebagai
4 contoh di Kelurahan Gedongkiwo yang memiliki jumlah lansia terbanyak di Kota Yogyakarta ruang jalan dan trotoar banyak mengalami kerusakan sehingga membahayakan lansia dalam berjalan, serta belum adanya elemen-elemen ramah lansia seperti ruang terbuka publik, fasilitas penunjang perjalanan perjalanan dan pusat kegiatan yang mendorong peningkatan kemandirian dan kualitas hidup lansia.
1.3. Tujuan Perencanaan
Berdasarkan permasalahan perencanaan, maka dirumuskan tujuan perencanaan yaitu menghasilkan usulan rencana kawasan ramah lansia yang dapat diterapkan di Kelurahan Gedongkiwo sehingga dapat mendorong lansia untuk dapat melakukan aktivitas fisik sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.
1.4. Ruang Lingkup Perencanaan 1.4.1. Ruang Lingkup Lokasi
Lingkup lokasi perencanaan adalah Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta yang mempunyai jumlah penduduk lanjut usia tertinggi di Kota Yogyakarta dengan luas 90 Ha.
5 Gambar 1.2 Kawasan Perencanaan
Sumber : Google Maps, 2015 dan Data Kelurahan Gedongkiwo, 2016 1.4.2. Fokus
Fokus perencanaan ini berupa penataan ruang Kelurahan Gedongkiwo untuk mengakomodasi aktivitas lansia sehingga dapat mendorong aksesibilitas, partisipasi dan interaksi sosial, kemandirian serta peningkatan kualitas hidup lansia.
1.4.3. Periode Perencanaan
Periode penyusunan rencana berlangsung selama lima bulan dari Januari 2016 hingga Mei 2016. Perencanaan ini diarahkan menjadi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dengan jangka waktu 10 tahun.
1.4.4. Produk Perencanaan
Produk perencanaan berupa peta dengan skala 1:5000 serta dengan pendetailan titik lokasi perencanaan dengan skala 1:1000.
6 1.5. Penelitian Terkait
Penulis belum menemukan perencanaan ruang yang ramah lansia dalam suatu kawasan di Kota Yogyakarta. Akan tetapi, penulis menemukan beberapa penelitian terkait dengan lansia dan kawasan ramah lansia, antara lain :
1. Pemanfaatan Ruang Luar Bagi Lansia dalam Skala Perkotaan, Studi Kasus : Gelora Bung Karno dan Monumen Nasional oleh Irma Suryani (Skripsi S1 Arsitektur Universitas Indonesia, 2009)
Penelitian ini membahas tentang sejauh mana ruang luar bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup lansia di Gelora Bung Karno dan Monumen Nasional dan elemen-elemen apa saja yang dibutuhkan dan perlu dihindari dalam ruang luar untuk lansia. Namun peneliti tidak mengusulkan arahan desain penataan ruang di kedua lokasi tersebut.
2. Komparasi Implementasi Konsep Ramah Manula (Age-Friendly City) di London, Inggris dan New York City oleh Raisya Savitri Ramadhani (Skripsi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada, 2013)
Penelitian ini membahas tentang perbandingan antara implementasi Konsep Kota Ramah Manula pada dua lokasi yang berbeda yaitu London dan New York City. Peneliti menggunakan metode content analysis dengan membandingkan variabel dari Kota Ramah Manula yaitu variabel Perumahan dan Transportasi.
3. Hubungan Antar Persepsi dan Tingkat Kepentingan Lansia terhadap Taman Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan oleh Erma Irawaty (Skripsi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada, 2014)
Penelitian ini berfokus pada identifikasi persepsi dan tingkat kepentingan lansia sebagai pengguna taman langsat yang merupakan ruang terbuka yang khusus diperuntukkan bagi lansia. Penelitian ini menggunakan metode deduktif-kuantitatif dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi lansia terhadap taman ini sudah sangat baik. Di samping itu, hubungan persepsi dan tingkat kepentingan ini juga menghasilkan masukan terhadap peningkatan atribut Taman Langsat sebagai salah satu ruang terbuka bagi lansia.
7 4. Interaksi Sosial Lansia di Kampung Padat Tepi Sungai, Studi Kasus : Kampung Tedjokusuman, Notoprajan oleh Ovy Wahyuni (Tesis S2 Arsitektur Universitas Gadjah Mada, 2016)
Penelitian ini berfokus pada merumuskan konsep interaksi sosial lansia yang terjadi pada kampung padat tepi sungai dengan menggunakan metode deduktif-eksploratif. Hasil penelitian ini menunjukkan pola interaksi sosial lansia di kampung padat tepi sungai dipengaruhi oleh keterlibatan orang dewasa sebagai counterpart-nya. Di samping itu setting fisik ruang diduga dipengaruhi oleh kemampuan lansia untuk menjangkau ruang interaksi serta kesehatan fisik lansia.
Kemudian yang terakhir adalah pengaruh kondisi spasial dengan topografi khas tepian sungai yang semakin landai terhadap pemilihan ruang untuk berinteraksi lansia.
5. Kawasan Ramah Lansia Studi Kasus : Kelurahan Gedongkiwo, Yogyakarta oleh Siti Utari (Skripsi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Gadjah Mada, 2016)
Penelitian ini berfokus pada mengidentifikasi apakah Kelurahan Gedongkiwo merupakan kawasan ramah lansia atau tidak dengan hasil penilaian terhadap kawasan Kelurahan Gedongkiwo sehingga adanya perbaikan yang bersifat memperhatikan kebutuhan lansia. Dari segi non fisik yaitu (komunikasi dan informasi, dukungan dan kepedulian masyarakat dan pemerintah, rasa, partisipasi sosial dan penghormatan) sudah ramah lansia. Akan tetapi dari segi fisik seperti ruang terbuka publik, sarana transportasi serta fasilitas penunjang perjalanan masih diperlukan perbaikan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deduktif kualitatif sehingga peneliti menentukan terlebih dahulu variabel yang kemudian digunakan untuk mencari hasil penelitian dengan wawancara. Sumber utama dalam penelitian ini adalah persepsi masyarakat sehingga penulis tidak menyampaikan persepsi terhadap penilaian variabel yang telah ditentukan. Dengan demikian terdapat kekurangan dalam metode ini yaitu informasi yang didapatkan dari responden bisa saja berdasarkan faktor terbiasa bukan karena benar-benar menilai dengan penilaian sebenarnya. Walaupun lokus dari penelitian ini sama dengan penulis, namun perbedaan yang paling mendasar adalah penulis melakukan
8 perencanaan bukan penelitian. Disamping itu walaupun terdapat variabel yang sama, indikator dan tolok ukur yang digunakan berbeda sehingga hasil analisisnya pun berbeda.
1.6. Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan
Bab pendahuluan berisi tentang latar belakang, permasalahan perencanaan, tujuan, ruang lingkup perencanaan, proyek terkait serta sistematika penulisan laporan.
BAB II Tinjauan Pustaka
Pada bab ini dijelaskan mengenai teori terkait lansia, rancang kota, kawasan ramah lansia serta best practice sebagai dasar dalam perencanaan serta variabel perencanaan.
BAB III Metode Perencanaan
Bab ini berisi pejelasan tentang unit amatan dan unit analisi, alat dan instrumen perencanaan, cara pengumpula dan analisis data, metode perencanaan serta tahapan perencanaan yang akan dilaksanakan.
BAB IV Deskripsi dan Analisis Lokasi Perencanaan
Bab ini memuat deskripsi kawasan perencanaan, kondisi eksisting lokasi perencanaan serta hasil analisis data dan potensi masalah dari kawasan perencanaan BAB V Konsep Perencanaan dan Rencana
Bab ini memuat tentang konsep perencanaan, alternatif rencana serta rencana detail pada kawasan perencanaan.
BAB VI Penutup
Memuat pembelajaran dari perencanaan yang telah dilakukan.