• Tidak ada hasil yang ditemukan

BABV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BABV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BABV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembangunan semestinya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan memberi kesempatan yang sam a untuk mencapai kehidupan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat. Tetapi masih banyak masyarakat yang belum dapat menikmati dan menjadi subyek dalam pembangunan. Hal tersebut sang at dirasakan oJeh komunitas penyandang tuna netra. Mereka mengalami kesulitan untuk dapat meningkatkan kualitas hidupnya guna bisa memenuhi kebutuhan dasar dan menanggulangi permasalahan yang dihadapinya. Apabila dikaitkan dengan semakin banyaknya penyandang tuna netra yang dapat dilayani oleh PSBN Wyata Guna dari seluruh pelosok Indonesia. Maka seiring berjalannya waktu akan semakin banyak penyandang tuna netra yang akan tinggal di kola 8~!idung. Untuk :tu pcilu pc~h~ti:::m don dukungan yang cukup terhadap upaya-upaya mereka agar mereka dapat hidup mandiri di masyarakat.

Salah salu Program Pengembangan masyarakat yang telah dievaluasi dan dianalisis pada saat pelaksanaan Praktek Lapangan " adalah kegiatan Koperasi penyandang tuna netra Indra Raba yang didirikan oleh komunitas penyandang tuna netra di kelurahan Pasirkaliki. Kegiatan usaha koperasi ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan dan usaha mereka.

5.1. Gambaran Mengenai Koperasi Penyandang Tuna Netra

Koperasi Indra Raba dirintis sejak bulan Maret 1999, namun mulai berdiri pada bulan Januari tahun 2000. Pad a awalnya Koperasi ini dibentuk oJeh 18 orang penyandang tuna netra yang bekerja sebagai pemijat di Panti Pijat Indra Raba. Tujuan dari pembentukan koperasi ini adalah: (1) untuk menghimpun dana guna membantu penyandang tuna netra dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, (2) mengembangkan usaha yang dimiliki oleh anggota, (3) belajar berorganisasi yang sekiranya memberikan manfaat kepada seluruh anggotanya, serta (4) mempererat hubungan para pemijat yang bekerja atau pernah bekerja di Panti Pijat Indra Raba. Koperasi Indera Raba terletak di jalan Pajajaran No 52 Bandung. Dalam melakukan kegiatannya koperasi ini belum mempunyai tempat sendiri tetapi memanfaatkan ruang istirahat bagi pemijat yang ada di Panti Pijat Indera Raba. Adapun sarana yang dapat menunjang kegiatan koperasi adalah

(2)

tersedianya: (1) satu buah lemari untuk arsip, (2) satu set meja tulis kantor, dan (3) satu set kursi tamu.

Untuk mengumpulkan modal awal mereka sepakat menghimpun dana dengan cara membayar simpanan pokok sebesar Rp. 280.000,- per anggota. Pembayaran simpanan pokok dilakukan dengan cara diangsur melalui pemotongan pendapatan sebf'sar Rp 1.000,- setiap kali mereka mendapatkan pasen. Pengumpulan modal awal ini berlangsung 11 bulan. Modal awal yang dapat terhimpun saat itu sebesar Rp 5.040.000,-. Dalam menghimpun modal untuk mengembangkan usahanya, koperasi masih mengandalkan modal dari dalam anggota saja. Untuk mendapatkan modal dari luar belum coba dilaksanakan. Hal ini disebabkan mereka belum dapat membuka akses untuk dapat mengadakan kerjasama dengan pihak luar, baik menjalin ke~asama

dengan lembaga-Iembaga yang ada di masyarakat maupun dengan tingkat yang lebih tinggi yaitu pemerintah ataupun swasta. Hal ini dikarenakan kurangnya infonnasi mengenai akses yang dapat dijangkau juga kurangnya keberanian untuk membuka akses dengan pihak lain. Dilihat dari perkembangan modal dan perkembangan anggota maka koperasi ini mengalami perkembangan yang lambat. Setelah berjalan enam tahun penambahan modal baru sebesar Rp 2.510.000,- yaitu dari modal awal Rp 5.040.000,- sekarang menjadi Rp 7.550.000,-. Sementara dalam perkembangan anggota dari 18 orang anggota

sekarang menjadi 22 orang, hanya bertambah empat orang. Dalam

keanggotaan ini banyak anggota lama yang keluar dikarenakan setelah tidak bekerja di Panti Pijat Indera Raba, mereka mendapat peke~aan yang tempatnya jauh dari Kelurahan Pasirkaliki sehingga tidak dapat melanjutkan

keanggotaannya.

Jenis usaha yang dikembangkan sampai saat ini adalah usaha simpan pinjam. Setiap bulan koperasi hanya dapat meminjamkan kepada tiga sampai empat orang anggota dengan jumlah pinjaman Rp 500.000,- per anggota. Tetapi kalau uang sedang ada maka jumlah pinjaman bisa mencapai satu juta rupiah. Sebelumnya pernah juga dirintis usaha jualan minuman dan makanan ringan tetapi tidak dapat dipertahankan karena mengalami kerugian.

Menjadi anggota Koperasi Indra Raba ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (1) menjadi pemijat di Panti Pijat Indera Raba atau pemah bekerja di PP Indera Raba, (2) bertempat tinggal di kelurahan Pasirkaliki (3) sanggup membayar simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela,

(3)

serta (4) mau mengikuti aturan-aturan yang ada pada koperasi. Persyaratan untuk menjadi anggota ini dibuat untuk memudahkan pelaksanaan koperasi, seperti syamt tempat tinggal atau tempat bekerja menjadi perhatian utalna karena seandainya tempat tinggal atau tempat beke~a anggota jauh maka hal ini akan menyulitkan pengurus untuk menagih iuran anggota. Pengurus koperasi dipilih secara langsung oleh seluruh anggotannya, dengan terlebih dahulu diajukan calon yang sekiranya cocok untuk dijadikan pengurus koperasi. Adapun kriteria untuk menjadi ketua maupun pengurus adalah: (1) berdasarkan seniontas, jadi yang dianggap telah lama bekerja di panti Indera Raba biasanya diprioritaskan untuk menjadi ketua, (2) memiliki jiwa sosial yang tinggi, (3) mempunyai kedekatan kepada anggota, serta (4) mempunyai pengetahuan atau pengalaman dalam berorganisasi.

Dalam melaksanakan kegiatan usahanya koperasi ini telah membentuk kepengurusan yang terdiri dan ketua, sekretaris dan bendahara. Tugas ketua adalah mengawasi, mengevaluasi serta menetukan arah kebijakan kegiatan koperasi. Ketua bertanggung jawab untuk dapat mengarahkan anggota agar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya, memberikan peringatan atau teguran kepada anggota yang melanggar peraturan serta menyampaikan perkembangan koperasi kepada anggota. Tugas sekretaris adalah melakukan pencatatan terhadap Keanggotaan, mewaKili tugas Ketua apabila ketua berhalangan hadir, membantu tug as ketua dalam memotivasi anggota. Adapun tugas bendahara adalah menyimpan dan mengeluarkan keuangan serta membuat catatan pengeluaran dan pemasukan.

Kinerja pengurus dalam mengelola kegiatan koperasi masih rendah hal ini terlihat dari tidak adanya pembukuan yang lengkap yeng menunjukan perkembangan koperasi dari tahun ketahun. Buku kas, buku simpanan anggota maupun buku pinjaman anggota tidak dibuat secara terpisah sehingga membuat ketidakjelasan. Walaupun setiap pengurus sudah mempunyai tugas pokok dan kewajibannya masing-masing namun dalam kenyataanya tugas dan kewajiban itu belum dapat dilaksanakan sesuai dengan apa yang seharusnya dike~akan. Hal ini disebabkan karena diantara pengurus yang ada belum satupun yang pernah rnengikuti pelatihan koperasi, sehingga kurang mengetahui dan memahami tugas yang seharusnya dikerjakan. Akibatnya pengurus mengerjakan pengadministrasian secara asal sesuai dengan kemampuannya, yang penting dimengerti oleh pengurus maupun oleh anggota itu sendiri.

(4)

Motivasi pengurus maupun anggota untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan koperasi ini cukup kuat. Hal ini tampak dari kerelaan pengurus maupun anggota untuk tidak menerima dulu hasil keuntungan koperasi yang semestinya dibagikan pada saat RAT dilaksanakan. Keuntungan koperasi yang belum dibagikan be~umlah Rp 2.378.000,-. Uang tersebut disatukan dengan modal untuk dipinjamkan kepada anggota. Mereka beranggapan apabila sisa hasil usaha (SHU) dibagikan modal koperasi menjadi berkurang.

Pertemuan antara pengurus dan anggota dilakukan tiga bulan sekali. Kegiatan ini dilakukan untuk membicarakan masalah-masalah yang ada pada koperasi. Dalam penanganan terhadap anggota yang mer.galami kredit macet pengurus dan anggota mencarikan solusi yang teri:'aik agar anggota tersebut dapat memenuhi kewjibannya. Cara yang ditempuh adalah menghapuskan kewajibannya untuk merr.bayar bunga pinjaman apabila anggota tersebut dianggap memang sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk membayar.

Pengurus dan anggota setiap tahun mengadakan rapat a.nggota tahunan (RAT) yang membahas tentang laporan pengurus dalam perkembangan koperasi baik mengenai keuangan, keanggotaan maupun rencana kedepan. Pemilihan ketua dan pengurus baru, dilaksanakan dua tahun sekali pad a saat RAT. Koperasi ini belum mempunyai anggaran dasar dan belum berbadan hukum. Sehingga apabila mengacu kepada Undang-Undang Perkoperasian No 25 Tahun 1992 koperasi ini belum dapat disebut koperasi.

5.2. Pengembangan Ekonomi Komunitas Penyandang Tuna Netra Melalui Koperasi

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa kelurahan Pasirkaliki mempunyai lokasi strategis yang dapat dijadikan potensi untuk dijadikan tempat berusaha. Peluang ini dimanfaatkan oleh komunitas penyandang tuna netra guna membuka usaha atau beke~a sebagai pemijat di kawasan ini. Karena banyaknya jumlah pemijat maka persainganpun menjadi lebih ketal. Hal ini berdampak terhadap rendahnya pendapatan yang didapat oleh mereka. Sehingga dan hasil pijatnya tersebut tidak cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehan-hari apalagi untuk membuka usaha sendiri.

Dengan adanya koperasi, penyandang tuna netra yang bekerja memperoleh upah harian dapat menyisihkan dananya untuk kegiatan rr.enabung. Dari dana anggota yang terkumpul tersebut dimanfaatkan untuk memberikan

(5)

pinjaman kepada anggota yang membutuhkan. Bunga yang dikenakan kepada peminjam dua persen dengan lama angsuran sampai sepuluh bulan. Pinjaman ini dimanfaatkan oleh anggota untuk membeli kebutuhan konsumtif atau untuk membayar sewa kos sehingga mereka masih bisa bertahan di tempat itu. Bagi anggota yang mempunyai usaha dagang baik itu pakaian atau makanan dapat menitipkan barang dagangannya kepada koperasi. Sistem yang digunakan adalah sistem konsinyasi yaitu dibayar kalau barang sudah laku. Hal ini cukup membantu karena dengan demikian anggota yang punya barang tidak pertu menjajakannya dan usaha mereka dapat bertanjut.

Sampai saat ini koperasi baru bisa membantu melayani kebutuhan anggota yang sifatnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hart saja belum kepada pengembangan usaha. Padahal dengan banyaknya hotel yang ada di lokasi terse but pihak anggota berharap bahwa koperasi dapat r.1embuat ke~asama tiengan pihak hotel untuk menyediakan jasa pijat di hotel terse but. Hal ini merupakan harapan sebagian besar anggota yang sudah tidak lagi beke~a di Panti Pijat Indera Raba. Dengan sistem jemput bola seperti ini maka diharapkan jumlah pasen pijat semakin banyak. pendapatan dapat meningkat dan usaha merekapun dapat berlanjut.

Potensi lain yang dapat dikembangkan pada penyandang tuna netra adalah memanfaatkan keterampilan lain yang dimiliki oleh mereka. Selain keterampilan pijat mereka memiliki keterampilan untuk membuat map. membuat telur asin dan membuat anyaman dart bahan injuk untuk dibuat kesed. Mengingat banyaknya waktu luang yang mereka miliki pada saat menunggu pasen maka ada harapan dart anggota agar pihak koperasi dapat memanfaatkan waktu mereka untuk kegiatan yang lebih produktif. Untuk merealisasikan hal tersebut pihak koperasi harus menghubungi PSBN Wyata Guna agar dapat menampung hasil produksi mereka. Namun hal ini belum dapat dilakukan mengingat masih terbatasnya modal koperasi yang dapat dijadikan untuk modal usaha.

Sampai saat ini pengembangan koperasi masih dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan dari dalam. Belum diupayakan mengadakan ke~asama dengan pihak luar untuk penambahan modal dan peningkatan sumberdaya man usia. Harapan mereka ada pihak luar yang dapat membantu sehingga koperasi ini dapat terus be~alan dengan memberi banyak manfaat sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

(6)

5.3. Pengembangan Modal Sosial dalam Koperasi

Menurut Woolcock sebagaimana dikutip oleh Nasdian dan Utomo (2005), modal sosial didefinisikan sebagai info nnasi , kepercayaan dan norma-norma timbal balik yang melekat dalam suatu jaringan sosial. Komunitas membangun modal sosial melalui pengembangan hubungan-hubungan aktif, partisipasi, demokrasi, penguatan pemiJikan komunitas serta kepercayaan. Sumber dari modal sosial adalah: (1) nilai-nilai yang hidL!p dalam masyarakat, (2) ikatan solidantas, (3) adanya pertukaran timbal balik yang saling menguntungkan serta, (4) kewajiban masing-masing.

Berdasarkan pendapat di atas dengan merujuk kepada konsep modal sosial, maka dalam kegiatan evalusi temadap koperasi dapat dikatakan bahwa:

1. Koperasi Indera Raba terbentuk karena adanya ikatan solidantas yang kuat dan komunitas penyandang tuna netra yang me,'asa perlu untuk melakukan suatu aktivitas bersama guna meningkatkan kesejahteraan mereka.

2. Koperasi dapat terus be~alan dan dipertahankan karena adanya kepercayaan penuh dan anggota kepada pengurus. Dengan kejujuran yang diperlihatkan oleh para pengurus, anggota merasa yakin bahwa koperasi dapat dijadikan tempat yang dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka. 3. Baik anggota maupun pengurus merasakan adanya perukaran timbal balik

yang saling menguntungkan dengan masuknya mereka menjadi anggota koperasi.

4. Koperasi dapat dijadikan sebagai wadah untuk memberdayakan komunitas penyandang tuna netra. Melalui kegiatan k:lperasi, penyandang tuna netra belajar memahami ap'l yang menjadi masalahnya dan bagaimana upaya untuk menanggulangi masalahnya.

5.4. Analisis Keragaan dan Permasalahan Koperasi

Analisis terhadap kapasitas kelembagaan koperasi perlu dilakukan sebelum merancang program pengembangan kapasitas kelembagaan koperasi yang menjadi subyek kajian. Sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab 3 bahwa kapasitas kelembagaan dapat diJihat dari empat aspek, yaitu modal, manajemen, usaha dan pembentukan janngan. Kajian temadap kapasitas kelembagaan koperasi dilakukan dengan wawancara mendalam dan diskusi terarah.

(7)

5.4.1. Modal

Seperti yang telah dikemukakan dalam bab terdahulu bahwa pada lembaga koperasi dikenal adanya dua jenis modal, yaitu modal dalam atau rr.odal sendiri dan modal luar atau modal pinjaman dari pihak lain. Pad a koperasi Indra Raba modal sendiri masih hanya terbatas pada modal yang dihimpun dari anggota, dalam bentuk simpanan pokok dan simpanan wajib. Pengumpulan modal dari dalam perkembangannya masih sangat lambat. Dan modal awal sebesar Rp 5.040.000 pada tahun 2000 menjadi Rp 7.550.000,· pada tahun 2006.

Ke!erbatasan modal yang ada telah membuat usaha koperasi kurang berkernbang dan mengalami kesulitan untuk membuka usaha yang lain. Demikian halnya dengan pinjarnan anggota senngkali tidak sesuai dengan yang diajukan, baik dari waktu peminjaman maupun dan besamya jumlah pinjaman. Masalah kurang modal dalam koperasi membuat pengurus menjadi kesulttan untuk memenuhi permohonan anggota serta sulit mengembangkan usaha yang sudah ada. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Egr, berikut ini:

" .. kami sebagai pengurus merasa kesulitan untuk bisa memajukan koperasi dikarenakan masih sedikitnya modal yang ada. Mau diperbesar jumlah simpanan wajib anggota kasihan takut memberatkan. Dengan adanya modal yang keeil ini maka kami tidak dapat memenuhi seluruh keinginan anggota. Demikian juga kami tidak dapat merintis usaha-usaha lain yang dapat lebih dikembangkan. Gerak kami menjadi terbatas". Masalah yang diakibatkan kurangnya modal koperasi sangat dirasakan juga oleh anggota. Hal ini telah mengakibatkan terbatasnya jumlah anggota yang dapat meminjam kepada koperasi serta kesulitan dalam merintis usaha yang lain. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Smt berikut ini:

" ... setiap bulan koperasi hanya dapat memberi pinjaman kepada tiga orang pad aha I yang mengajukan pinjaman bisa lebih dari lima orang. Kalau tidak sedang benar-benar butuh tidak masalah tidak kebagian juga. Tapi kalau pas butuh ternyata di koperasi sedang tidak ada uang ttu yang sering ktta sebagai anggota merasa dikeeewakan. Sebenarnya banyak kesempatan yang bisa dijadikan untuk meningkatkan usaha koperasi misalnya be~ualan sembako untuk memenuhi kebutuhan anggota setiap bulannya. Saya yakin usaha ini bisa mendatangkan keuntungan tambahan bagi koperasi. Tapi ya ttu tadi modalnya tidak ada. Bagusnya koperasi jangan hanya mengandalkan keuntungan dari jasa simpan pinjam saja. Kalau hanya mengandalkan jasa yang dua persen sebulan kapan majunya koperasi".

Lambatnya perkembangan modal koperasi disebabkan masih keeilnya modal yang dapat dihimpun oleh koperasi dari simpanan pokok dan simpanan

(8)

wajib anggota. Hal ini tereermin dan apa yang disampaikan oleh bapak Kno selaku ketua koperasi, benkut ini:

" .. modal koperasi kita biarpun sudah berjalan enam tahun tetapi masih keeil, karena simpanan wajib anggota setiap bulan hanya lima nbu rupiah. Mau ditingkatkan menjadi lebih besar susah juga karena kita tahu sendin pendapatan mereka keeil. Sebetulnya pemah masalah kenaikan simpanan wajib ini diusulkan untuk dinaikan menjadi sepuluh nbu sebulan, tetapi lebih banyak anggota yang tidak setuju daripada yang setujunya" .

Walaupun modal dari dalam dirasakan masih sangat kurang namun sampai saat ini koperasi belum dapat mengakses modal dari luar. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya mereka takut mau pinjam ke luar karena tanggung jawabnya besar. Hal tersebut dikemukakan oleh Bapak Atg sebagai pen gurus benkut ini :

" .. saya tidak berani mau mencari pinjarnan untuk menambah modal koperasi karena siapa nanti yang akan bertanggungjawab kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Yang saya tahu untuk pinjam uang ke bank memer1ukan jaminan berupa sertifikat yang dapat diagunkan, sementara koperasi kita ini tidak mempunyai surat berharga apapun yang bisa untuk dipakai jaminan . ."

Faktor lain yang mengakibatkan pengurus belum dapat menghimpun modal dan luar adalah karena sampai saat ini belum ada informasi mengenai keberadaan lembaga yang dapat membantu penambahan modal koperasi, ditambah kurangnya pengetahuan pengurus untuk dapat menjangkau akses tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Egr benkut ini:

" .. Selama saya menjadi pengurus koperasi saya belum pernah mendapatkan informasi dari siapapun mengenai adanya lembaga pemerintah ataupun dari perusahaan-perusahaan yang dapat membantu memberikan pinjaman modal kepada koperasi. Saya tidak tahu harus kemana atau menghubungi siapa agar koperasi kita dapat pinjaman modal dengan bunga rendah seperti yang sudah dialami oleh koperasi-koperasi lain. Padahal apabila koperasi-koperasi kita mendapat tambahan modal maka kebutuhan anggota akan dapat lebih terpenuhi dan usaha koperasi akan dapat lebih berkembang".

Berdasarkan uraian di atas maka masalah-masalah yang berhubungan dengan kurangnya modal koperasi adalah:

1. Modal yang berasal dari anggota berupa simpanan pokok dan simpanan wajib jumlahnya masih relatif keeil.

(9)

3. Pen gurus tidak mempunyai keterampilan ataupun pengelahuan yang cukup untuk dapat mengakses modal dari luar.

4. Informasi mengenai pinjaman yang dapal dimanfaatkan oleh koperasi lidak sampai kepada pengurus koperasi.

5.4.2. Manajemen

Pengslolaan sebuah koperasi dapat diserahkan kepada seorang manajer atau dikelola langsung oleh pengurusnya. Pada koperasi penyandang tuna neira, pengelolaan usaha sepenuhnya ditangani oleh para anggota yang diberi kepercayaan sebagai pengurus. Untuk pengelolaan suatu usaha yang balk maka tugas, tanggung jawab dan wewenang masing-masing pengurus harus jelas dan tegas, sehingga masing-masing dapat beke~a secara profesional menangani bidangnya masing-masing.

Berdasarkan pengamatan lang sung di lapangan maupun hasil

wawancara dengan pengurus dan anggota, kegiatan koperasi dalam perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sumberdaya organlsasl belum dilaksanakan dengan balk. Untuk memb!.lat suatu kegiatan tidak dibuat perencanaan secara matang terlebih dahuiu. Sebagai contoh pada saat hendak membuka usaha dagang, tidak dibuat perencanaan mengenai pendanaan, tempat, konsumen yang akan dituju, petugas jaga, sistem pengawasan. Kegiatan berjalan begitu saja sehingga usahapun kurang lerkonlrol dan men gal ami kerugian.

Pengorganisasian kegiatan koperasi oleh pengurus masih kurang tepa!. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan pengurus dalam mengorganisasi sebuah usaha. Untuk membuat pengadministrasian keuangan yang benar seorang bendahara diharapkan mengetahui dasar-dasar mengenai pembukuan. Kurangnya pengetahuan ini membuat pengurus kurang terampil melaksanakan tugas pokoknya. Hal ini sangat dirasakan oleh salah seorang pen gurus yang mempunyai tug as sebagai bendahara. Dia mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya dikarenakan kurangnya pengetahuan, seperti yang disampaikan oleh Bapak Hd berikut ini:

•.. hambatan saya dalam melaksanakan tugas saya sebagai bendahara adalah saya tidak tau bagaimana cara melakukan pembukuan yang baik. Sehingga catatan yang saya buat berdasarkan yang saya tahu saja, yang penting bisa dimengerli oleh ketua dan pengurus yang lain. Makanya kalau misalnya ada kemungkinan kita mengadakan ke~asama dengan

(10)

pihak lain dan harus dipenksa masalah pembukuannya saya tidak tahu harus bagaimana".

Dalam ketentuan penerimaan anggota koperasi, pengurus dan anggota sepakat bahwa yang dapat menjadi anggota koperasi adalah penyandang tuna netra yang beke~a atau pemah beke~a di Panti Pijat Indera Raba. Ketentuan ini telah mengakibatkan perkembangan jumlah anggota dan tahun ke tahun be~alan sangat lambat. Alasan pengurus dan anggota menetapkan peraturan ini adalah untuk memudahkan pengurus dalam pengumpulan setoran anggota. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Bapak Hmn, benkut ini:

" .. kami selaku pengurus atas masukan dari anggota sepakat bahwa yang dapat menjadi anggota koperasi Ini adalah penyandang tuna netra yang beke~a di Panli Pijat Indera Raba atau pemah bekrja di Panti Pijat Indera Raba tetapi tinggalnya masih di wilayah Paiskaliki. Ketentuan ini kami buat untuk memudahkan pengurus dalarr. menarik setoran wajib anggota ataupun setoran pinjaman a,nggota. Apabila anggota tempatnya jauh atau tidak beke~a lagi di Indera Raba maka siapa yang akan menagih bila anggota tersebut mengalami kemacetan dalam setoran".

Dalam pengelolaan usaha simpan pinjam, pengadministrasian mengenai peminjam, buku kas keluar dan masuk uang, catatan mengenai keuntungan koperasi tiap bulan dibuat sangat sederhana dan hanya dapat dipahami oleh pen gurus dan anggota saja. Keadaan ini diakui oleh pengurus maupun anggota seperti yang diungkapkan oleh Saudara yto, bahwa:

" .. Saya tidak tahu jelas mengenai perkembangan modal maupun keuntungan koperasi, karena sampai saat ini saya belum pemah menenma laporan perkembangan koperasi secara tertulis Bagi saya yang penting koperasi ini dapat terus berjalan, dapat memenuhi kebutuhan anggota, dan tidak ada yang dirugikan. Lagipula saya yakin tidak ada unsur penyalahgunaan apapun oleh pengurus"

Dari hasil pengamatan maupun wawancara dengan para pengurus

terdapat beberapa masalah yang menyebabkan menejemen koperasi

penyandang tuna netra dirasakan masih kurang, yaitu:

1. Kegiatan organisasi masih berada dalam lingkup yang terbatas, yaitu hanya ditujukan bagi orang-orang yang beke~a atau pernah bekerja di panti pijat Indera Raba saja, belum ada upaya untuk mengembangkan keanggotaan kepada yang lebih luas.

2. Pengelolaan dalam organisasi baik mengenai pengadministrasian, pelaporan, pengarahan maupun pengawasan masih dilakukan secara sederhana.

(11)

Kondisi ini disebabkan masih lemahnya sumberdaya manusia, baik dari segi pendidikan maupun keterampilan.

6.4.3. Keragaarl Uasaha

Jenis usaha yang telah dilaksanakan oleh koperasi penyandang tuna netra hingga saat ini ada dlJa jenis usaha, yaitu usaha simpan pinjam dan usaha perdagangan. Usaha simpan pinjam sampai saat ini masih dapat be~alan, sementara usaha perdagangan tidak dapat bertangsung lama dikeranakan mengalami kerugian. Untuk usaha simpan pinjam, setiap anggota mempunyai hak untuk meminjam uang maksimal Rp 500.000 dengan waktu pengembalian maksimal sepuluh kali angsuran, bung a dua persen tetap. Setiap bulannya pihak pengurus hanya dapat meminjamkan uang kepada tiga sampai empat orang anggota. Dari keseluruhan peminjam tidak semuannya dapat melunasi pinjaman sesuai dengan pe~anjian teiapi ada juga beberapa anggota yang sering mengalami ketertambatan dalam pembayaran ataupun yang mengalami kredit macet. Walaupun jumlah anggota yang mengalami kredit macet tidak banyak tetapi hal ini sangat berpengaruh terhadap perputaran uang yang digunakan untuk usaha tersebut. Keterangan tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Egr berikut ini:

" Masalah yang dihadapi oleh pengurus sehubungan dengan usaha simpan pinjam ini adalah adanya anggota yang tidak dapat membayar angsuran pi;]jaman tepat pada waktunya. Ini mengakibatkan semakin berkurangnya dana yang dapat disalurkan untuk dipinjamkan kepada anggota yang lain. Maklum modal koperasi kita ini kan masih kecil, jadi kalau ada yang menunggak apalagi sampai macet pengaruhnya cukup besar terhadap usaha koperasi".

Usaha koperasi untuk menjual barang kebutuhan anggota temyata tidak dapat bertahan lama. Usaha itu hanya dapat be~alan 4 buian saja. Modal yang digunakan untuk usaha dagang sebesar Rp.500.000,- diambil dari uang kas yang berasal dari keuntungan koperasi yang belum dibagikan kepada anggota. Yang menjadi kendala sehingga membuat usaha dagang tidak berjalan adalah: (1) tidak mempunyai tempat yang cukup aman untuk menyimpan barang dagangan sehingga keamanan barang kurang terjaga, (2) tidak ada petugas tetap yang terus menerus menjaga barang dagangan, karena bisa saja pada saat petugas menjaga dagangan tiba-tiba dia harus memijat karena gilirannya untuk memijat sudah tiba. Pada saat menitipkan barang dagangan kepada petugas lain tidak ada serah terima yang jelas dalam perhitungan barang dan uang, (3) anggota

(12)

lebih suka membeli rokok ataupun minuman dengan cara meminjam tidak secara tunai sehingga perputaran uang menjadi lambat. Seperti yang diungkapkan oleh Saudara Nsh (28) berikut ini :

" ... Jualannya sebenarnya laku, banyak orang yang beli baik dari anggota maupun para tamu. Lama-lama anggota jadi banyak yang ngutang, sehingga modal untuk belanja barang dagangan besok semakin berkurang. Selain itu barang-barang juga banyak yang hilang, kita mau nuduh ke siapa ngga ada yang tahu, habis terlalu banyak orang masuk sih, mana petugas jaganya juga ngga tetap tergantung siapa yang piket oi panti",

Kegiatan usaha dagang akhimya dihentikan dengan jumlah kerugian Rp 100.000,- yang ditanggung oleh semua anggota dengan berkurangnya jumlah hasil usaha koperasi yang rencananya akan dibagikan pada rapat anggota tahun depan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan anggota, banyak peluang usaha yang ada di PSBN Wyaia Guna maupun di lingkungan Kelurahan Pasirkaliki yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha anggota maupun pengembnngan usaha koperasi. Hal ini terungkap dari pembicaraan Bpak Hs benkut ini:

" Sebenamya saya dan temen-teman sudah mempunyai rencana untuk membuka usaha guna mengisi waktu luang kami. Kami ingin mmbuat telur asin yang hasilnya bisa dijual ke Wyata Guna. Modalnya dari koperasi nanti keuntungannya kita bagi dua. Selain cara pembuatannya mudah, kami juga bisa menambah pendapatan. Seandainya saja setiap minggu Wyata Guna membeli telur asin sebanyak 250 buah untuk kiien di asrama, berapa keuntungan yang bisa kita dapat setiap bulannya, lumayankan. Tapi niat ini samp&i sekarang belum dapat terlaksana karena pengurus belum dapat mengadakan ke~asama dengan Wyata Guna".

Dan uraian di atas maka yang menjadi masalah belum berkembangnya usaha yang ada pada koperasi, adalah:

1. Jenis usaha yang ditangani hanya simpan pinjam dalam skala usaha yang masih sangat keeil. Hal ini disebabkan pengurus belum dapat menangkap peluang-peluang usaha yang dapat diambil untuk menambail jenis usaha yang telah ada.

2. Usaha koperasi cenderung hanya memenuhi kepeliuan interen anggota, belum beroreantasi ke luar anggota, seperti memenuhi kebutuhan panti pijat ataupun keb"tufian para pasen pijat yang datang.

(13)

3. Modal yang ada masih sangat terbatas sehingga suitt untuk mengembangkan usaha yang sudah ada maupun membuka usaha baru.

4. Masih ada anggota yang tidak tepat waktu dalam pengembalian cicilan sehingga mempengaruhi jalannya usaha.

5.4.4. Jaringan

Hubungan antara koperasi Indra Raba dengan pihak luar masih sangat kurang. Upaya kerjasama baru dirintis dengan pihak koperasi PSBN Wyata Guna untuk mendaftar menjadi anggota koperasi Wyata Guna itupun tidak berhasil karena adanya penolakan dari ketua Koperasi Wyata Guna, seperti yang dikemukakan oleh Bapak Smt, berikut ini :

" ... memang pernah datang kepada kami beberapa orang pengurus dan anggota dari koperasi Indra Raba bahkan sampai tiga kali mereka memaksa ingin menjadi anggota koperasi kita, tapi

ya

kita tidak bisa mengabulkan permohonan mereka sebab di dalam AD/ART kita kan sudah jelas bahwa yang menjadi anggota koperasi PSBN Wyata Guna adalah pegawai PSBN Wyata Guna, kalau kita menerima mereka sebagai anggota, berarti kita harus merubah AD/ART, kalau memberikan bantuan tenaga untuk mendampingi kegiatan koperasi sih kita siap bantu".

Pengurus mengalami kesulitan dalam melakukan jaringan dengan pihak luar karana pengetahuan mereka untuk membuka akses dengan pihak luar masih sangat kurang. Hal tersebut diungkapkan oleh bapak Kn berikut ini :

" ... sampai saat ini belum terpikirkan untuk mengadakan kerjasama dengan pihak lain baik untuk meningkatkan pengetahuan kami mengenai berkoperasi maupun dalam penambahan modal karena kita tidak tau harus menghubungi kemana dan kepada siapa, kalaupun kami tau kemana harus pergi tidak ada yang bisa mengantar, kalau sendirian sementara belum tahu arah-arahnya nanti bisa nyasar-nyasar".

Alasan pihak luar selama ini belum dapat membantu komunitas penyandang tuna netra karena berbagai macam faktor. Salah satu diantaranya karena kehadi,an penyandang tuna netra di Kelurahan Pasirkaliki banyak yang tidak terdaftar sebagai penduduk setempat. Hal ini mengakibatkan keberadaan mereka kurang mendapat perhatian pemerintah dan tidak tersentuh oleh

program-program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat. Selain itu adapula yang beralasan bahwa masyarakat tidak tahu apa yang dapat dilakukan untuk membantu penyandang tuna netra sebab setahu mereka semua masalah yang berkenaan dengan penyandang tuna netra

(14)

sudah ditangani oleh Departemen Sosial. Pendapat tersebut disampaikan oleh bapak Mm seorang petugas kelurahan berikut ini :

" ... dari program-program yang sudah dilaksanakan di kelurahan seperti Program Pengentasan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) ataupun Bantuan Langsung Tunai (BL T) semuanya ditujukan untuk keluarga miskin yang sudah tercatat sebagai warga miskin di kelurahan. Bagi mereka yang tidak terdaftar sebagai keluarga miskin dan tidak bisa menunjukan bukti KTP ataupun KK maaf saja, kita tidak bisa membantu biarpun mereka itu memang tinggal di Kelurahan Pasirkaliki. Lagi pula untuk masalah tuna netra kan sudah ada yang menangani yaitu DEPSOS jadi kita prioritaskan untuk masyarakat biasa saja dulu".

Faktor lain yang menyebabkan koperasi belum dapat membangun jejaring dengan pihak luar adalah masih adanya perasaan kurang percaya dari pihak luar terhadap kemampuan penyandang tuna netra sehingga kalaupun ada kemungkinan untuk diadakan kemitraan maka dalam pelaksar.aannya harus didampingi oleh orang awas. Hal ini terungkap dart pembicaraan dengan Bpak Hsn dari PT Bio Farma, berikut ini:

" .. kalau koperasi tuna netra ini mau maju, tentunya mereka harus dapat

beke~asama dengan orang awas untuk dapat mendampingi usaha

mereka. Apalagi sebetulnya peluang untuk mendapat pinjaman modal koperasi bukan hanya dari PT Bio Farma saja, tetapi dari PERUMTEL dan PLN juga sama mempunyai program seperti ini. Kalau tanpa didampingi orang awas mana bisa mereka sampai kepada akses tersebut. Di lembaga manapun kalau yang namanya urusan pinjaman modal pasti harus melaporkan perkembangan usaha yang dapat dibaca dan dipahami oleh orang awas".

Dart uraian di atas yang menjadi masalah dalam pengembangan jaringan koperasi, adalah:

1. Kurangnya pengetahuan dan keberanian pengurus untuk mengadakan kerjasama dengan pihak luar.

2. Kurangnya pengetahuan pihak luar mengenai masalah yang dihadapi oleh penyandang tunanetra serta adanya anggapan bahwa penanganan penyandang tuna netra adalah tanggungjawab DEPSOS.

3. Masih adanya perasaan kurang percaya dart pihak luar terhadap kemampuan yang dimiliki oleh penyandang tuna netra.

Untuk dapat lebih menjelaskan mengenai keragaan dan permasalahan yang ada pada koperasi dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini:

(15)

Tabel 8: Keragaan dan Permasalahan Koperasi dalam Kondisi di Lapangan Aspek-aspek

No dalam koperas; Keragaan Masalah

1. Modal - Perkembangan modal lambat - Simpanan wajib dan simpanan - Jumlah modal keen sukarela an990ta keeil

- Penghimpunan modal baru dari

I

dalam koperasi, belum diupayakan modal dan Iuar

2. J Manajemen - Sudah ada pembagian kerja tetapi - Pengetahuan dan keterampifan

,

belum bekerja seeara efektif pengurus mengenai - Pengadministrasian be/urn teratur pengelolaan koperasi masih - Belum ada pembukuan yang kurang

menje/askan mengenai perkembangan modal dan keuntungan koperasi dari tahun ke tahun

3. Keragaan usaha - Usaha yang dikeloJa hanya simpan - Pengurus beJum dapat pinjam menagkap peluang usaha yang

- Perkembangan usaha lambat ada

- Keuntungan yang dihasilkan dari usaha - Modal untuk mengembangkan masih keciJ usaha masih terbatas

- Masih ada anggota yang tidak tepat waktu dalam

pengembaUan cicUan

4. Jaringan - Belum ada jaringan dengan pihak luar - Kurangnya pengetahuan dan keberanian pengurus untuk membuka kerjasama dengan pihak luar

-

Kurangnya pengetahuan pihak luar mengenai masalah penyandang tuna netra

. Masih adanya perasaan kurang percaya dari pihak luar pada kemampuan penyandang tuna I1E=tra

Sumber. Wawancara dan observasr

5.5. Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Keragaan Koperasi

Terdapat berbagai faktor yang berpengaruh dalam keragaan koperasi sehingga dapat menentukan keberfanjutan dan perkembangan koperasi. Dalam kajian ini yang menjadi faktor pengaruh dalam perkembangan koperasi adalah kapasitas pengurus, kapasitas anggota dan dukungan dan luar baik yang berasal dari masyarakat, pemenntah maupun swasta. Pembahasan terhadap faktor-faktor yang berpengaruh dalam keragaan koperasi dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana faktor-faktor terse but mampu memberikan dorongan

(16)

terhadap keberlanjutan koperasi sehingga dapat memberdayakan penyandang tuna netra sebagai anggotanya.

5.5.1. Kapasitas Pengurus

Maju mundumya koperasi sangat dipengaruhi oleh kinerja pengurus dalam menjalankan usahanya. Koperasi yang mulai dibentuk tahun 2000 masih tetap dapat bertahan sampai sekarang karena adanya dorongan yang kuat dari para pengurus untuk tetap berusaha menjalankan koperasi. Untuk mengelola koperasi telah terbentuk susunan pengurus yang terdio dari ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara. Dalam pelaksanaanya kerjasama mereka cukup bagus dalam arti mereka sudah berusaha untuk melaksanakan perannya masing-masing sebatas pengetahuan dan kemampuan mereka.

Da'am menjalankan misinya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota, para pengurus mempertlihatkan sikap berusaha untuk terbuka, jujur dan mengutamakan kepentingan bersama. Mereka mempunyai motivasi untuk bisa mengembangkan usaha koperasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan anggot3. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Kno beokut ini:

" .. Motivasi saya menjadi pengurus adalah saya ingin bisa membantu

teman-teman senasib membentuk sebuah koperasi yang bisa

meningkatkan kesejahteraan kami. Walaupun pengetahuan saya mengenai koperasi masih sanga! kurang tapi saya yakin dengan adanya kepercayaan dan dukungan dari teman-teman sebagai anggota, koperasi ini dapat terus berjalan".

Pengetahuan pengurus mengenai kope:asi masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan dari lima orang pengurusnya yang ada, belum satupun yang pernah mendapat pelatihan mengenai koperasi atau pelatihan lain yang berhubungan dengan manajerial sebuah organisasi. Mereka hanya mengetahui sedikit tentang koperasi pada saat mereka masih me njadi klien PSBN Wyata Guna atau bagi yang mempunyai pekerjaan lain sebagai pemijat mereka mempunyai psngalaman berkoperasi ditempatnya bekerja. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Kn berikut ini :

" .. saya tahu mengenai cara berkoperasi dan pen gala man saya menjadi anggota koperasi di rumah sakit Boromeus tempat saya bekerja sekarang maupun pen gala man saat menjadi pengurus sewaktu menjadi klien binaan Wyata. Guna. Dengan pengetahuan itu saya menerapkan dalam koperasi yang sekarang kita bangun bersama. Namun begitu saya masih mengalami hambatan karena saya tidak tahu bagaimana cara membukukan yang benar sehingga catatan-catatn yang kita buat masih

(17)

Kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh pengurus sangat mempengaruhi keterampilan dan hasil kelja mereka. Keadaan demikian mengakibatkan koperasi yang telah dibentuk selama enam tahun kurang berkembang. Hal ini ditunjukkan dengan perkembangan modal yang lambat, usaha yang masih terbatas pada simpan pinjam serta kegiatan yang kurang terorganisir. Sampai saat ini pengurus belum dapat merumuskan anggaran dasar, belum dapat melaksanakan Rapat Anggota Tahunan yang bena; serta belum dapat melengkapi usahanya dengan pembukuan yang jelas. Padahal untuk benar-benar menjadi sebuah koperasi, kegiatan-kegiatan tersebut mutiak harus dilaksanakan. Untuk itu pengurus mempunyai harapan ada pihak luar yang dapat membantu menangani permasalahan yang dirasakan oIeh pengurus. Hal ini terungkap dari pembicaraan Bapak Hdi berikut ini:

" .. Sebagai pen gurus saya mengharapkan adanya suatu pelatihan mengenai koperasi yang diberikan kepada kami baik dari dinas koperasi maupun dari PSBN Wyata Guna. Sehingga saya dapat menjalankan tugas saya sebagai bendahara dengan baik, dapat mengerjakan pembukuan yang benar".

Harapan lain adalah adanya bantu an dart lembaga keuangan yang dapat memberikan pinjaman modal dengan bunga rendah kepada koperasi sehingga dapat meningkatkan usaha koperasi. Hal ini disampaikan oleh bapak Egr berikut ini:

" .. Untuk dapat memajukan usaha koperasi ini, maka saya mengharapkan adanya pinjaman yang dapat kami manfaatkan dengan bunga pinjaman yang rendah dan waktu pengembalian yang tidak terlalu cepat. Sehingga penambahan modal terse but akcin sangat membantu bagi kami untuk mengembangkan usaha kami ke depan".

Har3pan lain adalah dapat dilakukan kemitraan antara koperasi dengan pihak PSBN Wyata Guna dan per'lotelan untuk membuka usaha baru. Hal ini disampaikan oleh bapak Kno bertkut ini:

" .. Untuk meambah penghasilan koperasi maka caya mengharapakan adanya suatu kerjasama yang dapat dilakukan oleh pihak kami dengan pihak PSBN Wyata Guna. Bentuk keljasamanya dalam perdagangan dimana kami diberi kesempatan untuk mengisi kebutuhan panti pijat berupa deterjen, pembersih lantai, pengharum ruangan, bedak powder dan obat nyamuk yang biasa dipake sehari-hari dibeli dan koperasi kami. Saya juga mempunyai angan-angan agar koperasi dapat bekerjasama dengan hotel-hotel yang ada di sini agar dapat menyalurkan anggota kami yang sedang tidak mempunyai pekerjaan".

(18)

Walaupun pengetahuan dan keterampilan pen gurus masih banyak keterbatasan tetapi mereka terus berusaha dan optimis bahwa koperasi yang dilakukannya dapat maju dan memberikan manfaat kepada anggotanya. Hal ini dapat dijadikan potensi untuk pengembangan koperasi, agar koperasi lebih mampu memenuhi kebutuhan ang90ta.

5.5.2 Kapasitas Anggota

Jumlah anggota koperasi saat ini ada 22 orang. Dari jurnlah tersebut hampir semuanya menjadi anggota aiM koperasi. Hal ini ditunjukkan dengan keaktifan mereka dalam membayar simpanan wajib dan pokok, memanfaatkan pinjaman dari koperasi serta keaktifannya dalam mengembalikan uang pinjaman. Pengetahuan anggota mengenai berkoperasi sangat beraneka ragam. Ada yang sama sekali belum pemah berkoperasi, ada yang pernah menjadi anggota koperasi ada juga yang pemah menjadi pen gurus koperasi. Pengalaman ini mempengaruhi pengetahuan mereka dalam mengembangkan koperasi. Seperti yang disampaikan oleh ibu Nd yang sebelumnya tidak pernah menjadi anggota koperasi, berikut ini:

" .. saya selalu menghadiri undangan pertemuan yang diadakan oleh pengurus koperasi. Bapak ketua suka meminta saran dari anggota usaha apa yang kira-kiranya untuk memajukan koperasi. Bagi saya terserah aja gimana pengurus. Pen gurus labih tahu dari saya, mereka kan sudah berpengalaman kalau saya kan bslum . .'

Kurangnya pengetahuan anggota mengakibatkan mereka menyerahkan segala sesuatu mengenai perkembangan kopersi kepada pengurus. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Wm berikut ini:

" .. koperasi ini memang agak lambat berkembang dan belum sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh koperasi pada umumnya. Karena untuk kemajuan koperasi kita hanya menyerahkan sepenuhnya kepada para pengurus. Sebagai anggota paling kita hanya mendukung apa yang menjadi ketentuan pengurus karena anggota sendiri banyak yang tidak tahu bagaimana cara untuk bisa memajukan koperasi ini. Kita tidak bisa berbuat banyak untuk ikut memikirkan bagaimana caranya agar koperasi ini bisa maju seperti halnya koperasi orang lain. Saya dengar koperasi PERTUNI sekarang banyak kemajuan. Ya maklum saja sebagian anggotanyakan guru jadi mereka lebih tahu apa yang harus dilakukan untuk memajukan koperasinya".

Sikap anggota terhadap koperasi dapat dilihat dari kepercayaan anggota terhadap pengurus sangat besar sehingga mereka beusaha agar koperasi ini

(19)

belum sepenuhnya dapat memenuhi apa yang menjadi harapan mereka. Namun demikian anggota tetap mempunyai penilaian yang positif terhadap usaha pengurus. Sampai saat ini belum ada keuntungan koperasi yang dibagikan kepada anggota. Tetapi itu tidak menjadi masalah karena mereka yakin uang keuntungan itu ada dan aman tidak terpakai oleh pengurus. Hal ini terungkap dari isi percakapan bapak Dd berikut ini:

" .. saya ingin sampai kapanpun koperasi ini jangan sampai bubar. Memang kalau saya rasakan koperasi ini belum bisa memenuhi semua kebutuhan anggota. Tapi saya menyadari bahwa itu bukan karena kesalahan pengurus tapi karena modal koperasinya aja yang masih keeil. Makanya biarpun sampai saat ini saya belum pemah diberi keuntungan koperasi tidak apa-apa sebab uangnya juga kan ada pad a pinjaman anggota bukan dimaka'l oleh pengurus. kalau uang itu dibagikan nanti buat ngasih pinjaman darimana . ."

Partisipasi anggota dalam mengikuti kegiatan koperasi tidak terlepas dari adanya penghormatan mereka terhadap pigur pimpinan yang dianggapnya melindungi. Anggota menaruh hormat kepada ketua karena selama ini ketua dianggap pimpinan yang eukup adil dan terbuka dalam menerima aspirasi dari 2nggota. Setiap ada permasalahan, anggota selalu diajak untuk berunding. Hal tersebut disampaikan oleh bapak Mk berikut ini:

" ... sebagai anggota saya berusaha untuk selalu hadir dalam pertemuan dan mematuhi apa yang telah dipuluskan dalam koperasi. Kalau sampai tidak demikian rasanya tidak enak. Saya malu sama pa ketua karena dia itu baik sekali. Selama dia menjadi ketua, anggota merasa lebih diperhatikan. Jika mengadakan pertemuan, anggota diberi keleluasaan berbicara apa saja untuk kebaikan koperasi. Dia tidak pemah marah kalau ada anggota yang tidak sependapat dengannya . ."

Setelah dikaji lebih dalam bahwa anggota memang mempunyai kelemahan yang membuat mereka sulit untuk turut memajukan memajukan f:operasi. Kelemahan tersebut adalah masih rendahnya pengetahuan mereka dalam melakukan kegiatan koperasi, sehingga lebih banyak menyerahkan usaha memajukan koperasi kepada pengurus saja. Tetapi yang menjadi faktor positif dari anggota untuk bisa koperasai tetap berlanjut juga eukup banyak. Seperti adanya rasa percaya yang linggi kepada pengurus, rasa hormat kepada ketua serta adanya keinginan untuk melakukan apa yang terbaik bagi koperasi. Hal tersebut dapat dikembangkan untuk menjadi potensi dalam pengembangan koperasi.

(20)

6.5.3. Dukungan dari pihak luar

Keberhasilan sebuah koperasi tidak dapat terlepas dari dukungan pihak luar. Dukungan ini dapat berupa dukungan permodalan, bimbingan maup~n berupa kebijakan. Dukungan dari luar dapat berasal dari masyarakat dimana komunitas penyandang tuna netra itu berada, dari pemerintah yang terkait dengan usaha koperasi yang mereka kelola maupun dari pihak swasta yang dapat membantu pengembangan usaha koperasi.

Dukungan pihak luar terhadap koperasi penyandang tuna netra masih terbilang rendah. Hal ini dibuktikan dengan be~alannya koperasi selama en am tahun belum ada pihak manapun yang memberikan bimbigan ataupun bantuClp. kepada koperasi. Keberadaan koperasi masih tidak banyak diketahui oleh pihak luar baik itu oleh pemerintah setempat maupun oleh masyarakat.

Kurangnya dukungan dari pihak luar kepada koperasi dapat disebabkan oleh ketidak tahuan mereka akan adanya koperasi yang dikelola oleh penyandang tuna netra. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang pegawai Dinas Koperasi, bapak Sn berikut ini:

" .. baru saat ini saya tahu' bahwa di kelurahan ini ada koperasi yang dibentuk oleh para penyandang tuna netra. Kalau saya tahu pasti sudah dari dulu koperasi ini saya kunjungi untuk diberikan bimbingan mengenai cara berkoperasi. Padahal saya sering datang ke daerah Pajajaran. Setiap liga bulan sekali saya mengunjungi koperasi karyawan Wyala Guna untuk mengadakan monitoring."

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa kendala utama yang saal ini dihadapi oleh koperasi adalah masalah pengelolaan dan permodalan. Untuk mengatasi masalah terse but, pihak luar ada yang bersedia membantu memberikan pinjaman modal. Hal tersebut disampaikan oleh bapak Hm, ketua P2KP berikul ini:

" .. Kalau memang koperasi tuna netm mengalami masalah modal, Insya Allah kita bisa banlu. Tapi pengajuannya tidak bisa besar dulu paling hanya dua jula rupiah. Nanti kalau kedepannya ada kemajuan, baru besar pinjaman bisa dilingkatkan .. ."

Sementara ilu dalam memberi dukungan kepada koperasi, pihak luar masih ada keraguan alas kemampuan komunitas penyandang tuna netra. Hal ini dimungkinkan karena masih adanya pandangan dari masyarakat bahwa penyandang luna nelra merupakan bagian dari orang lemah yang tidak berdaya . Hal tersebut disampaikan oleh bapak Dm dari koperasi PRIMKOPTAMA Cicendo berikul ini:

(21)

" .. untuk berbagi pen gala man dan mengajari bagaimana cara mengelola kcperasi saya siap untuk membantu. Tapi saya masih belum yakin, apa mereka nanti bisa mengerti apa yang saya ajarkan. Menurut saya koperasi netra akan sulit untuk berkembang kalal,J tidak didampingi terus oleh orang awas . ."

Besarnya dukungan dari pihak luar dapat diperoleh dengan adanya komunikasi yang baik antara penyandang tuna netra dengan pihak luar. Hal tersebut dapat membantu pengembangan usaha yang selama ini menjadi salah satu permasalahan dalam koperasi. Hal ini diungkapkan oleh ibu Ij sebagai penanggung jawab panti pijat Indera Raba, benkut ini:

" .. beberapa han yang lalu bapak At berbicara kepada saya untuk mengadakan usaha kedasama antara koperasi dengan panti pijat. Pada dasarnya saya sih setuju-setuju saja. Nanti kita pikirkan bersama kira-kiranya kedasama apa yang bisa dikerjakan untuk bisa menambah penghasilan bagi anggota. Bagi saya kalau dengan usaha itu pendapatan mereka bisa meningkat, pasti akan saya bantu."

Setelah dikaji lebih dalam banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan koperasi agar dapat memberdayakan penyandang tuna netra. Adapun alasan kurangnya perhatian pihak luar kepada penyandang tuna netra karena kurangnya informasi rnengenai permasalahan penyandang tuna netra. Untuk lebih memudahkan menganalisis bagaimana faklor kapasitas pengurus, kapasitas anggota dan dukungan dari pihak luar dapat mempengaruhi keragaan koperasi dapat di iihat pada Tabel 9, benkut ini:

Tabel9: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keragaanan Koperasi Faktor yang

No mempengaruhi Positif Negatif

1. Kapasitas Pengurus a. Mengelota usaha secara a. Pengetahuan terbuka dan jujur berkoperasi kurang b. Mengutamakan b. Mengelola usaha kurang

kepentingan bersama terorganlsir c. Mempunyai "einainan c. Belum mampu

kuat untuk memajukan melaksanakan RAT koperasi d. Be[um dapat melakukan d. Bersikap demokratis jaringan

2. Kapasitas Anggota a. Mau bekerjasama a. Pengetahuan b. Aktif mengikuti kegiatan berkoperasi kurang c. Percaya penuh kepada

pengurus

3. Dukungan pihak luar a. Ada keinginan untuk a. Kurang percaya membantu b. Kurang memahami b. Ada peluang untuk masalah tuna netra

menambah jenis usaha c. Mau bekerja sarna

(22)

5.6. Ikhtisar

Bab ini membahas tetang gambaran mengenai koperasi, keragaan dan permasalahan koperasi serta fakto-faktor yang mempengaruhi koperasi. Pembahasan tentang gambaran koperasi bertujuan untuk mengetahui gambaran koperasi penyandang tuna netra yang ada di Kelurahan Pasirkaliki. Analisis terhadap keragaan koperasi dan permasalahan koperasi untuk mengetahui tentang kapasltas kelembagaan koperasi yang menjadi subyek kajian. Anaiisis faktor-faktor yang mempengaruhi koperasi untuk memberikan masukan bagi penyusunan program pengembangan kapasitas kelembagaan koperasi.

Gambaran mengenai koperasi penyandang tuna netra yang ada di Kelurahan Pasirkaliki adalah koperasi ini dibentuk mumi dari keinginan sendiri bukan atas dorongan atau pengaruh dari orang lain. Tujuan pembentukan koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengembangkan usaha anggota. Dalam menjalankan kegiatannya koperasi belum mempunyai tempat sendiri tetapi masih menumpang kepada panti pijal Indera Raba. Koperasi baru dapat memenuhi kebutuhan anggota terkait untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (konsumtif), sedangkan untuk pengembangan usah", belum bisa dilaksanakan.

Analisis terhadap kapasitas kelembagaan koperasi meliputi empat aspek, yaitu:: modal, manaJemen, keragaan usaha, dan jaringan. Modal koperasl sampai saat ini berasal dari anggota berupa simpanan pokok dan simpanan wajib. Perkembangan modal yang terjadi pada koperasi masih sangat lambat

dik~renakan adanya masalah-masalah berupa besar simpanan anggota keeil, sementara modal yang berasal dari luar untuk dapat menambah modal koperasi belum dapat diupayakan. Hal ini mengakibatkan terbatasnya pelayanan yang dapat diberikan kepada anggoia serta terbatasnya gerak pengurus untuk dapat mengembangkan usahanya. Manajemen koperasi masih dilaksanakan oleh pen gurus seeara sederhana sebatas penget~huan dan kemampuan mereka. Hal ini mengakibatkan pengadministrasian tidak teratur serta pengelolaar. usaha kurang berjalan dengan baik. Masalah yang menyebabkan manejemen koperasi kurang dapat ditangani dengan baik, adalah rendahnya pengetahuan dan keterampilan pengurus dalam berkoperasi. Jenis usaha yang selama ini telah dikerjakan oleh koperasi adalah usaha dagang dan usaha simpan pinjam, tetapi usaha dagang tidak bisa dipertahankan karena mengalami kerugian. Untuk usaha simpan pinjam perkembangannya masih lambat, hal ini disebabkan

(23)

kurangnya modal dan rendahnya pengetahuan dan keterampilan pengurus dalam mengelola usaha yang sudah ada. Jaringan koperasi dengan pihak luar sampai saat ini belum bisa dilaksanakan, sehingga untuk menyelesikan semua masalah yang ada selama ini belum mendapat jalan keluamya. Hal ini te~adi disebabkan adanya masalah-masalah berupa kurangnya pengetahuan dan kemampuan pengurus untuk membuka akses kepada pihak luar yang dapat membantu, kurangnya pengetahuan pihak luar mengenai permasalahan yang dihadapi oleh penyandang tuna netra serta masih adanya rasa kurang percaya pihak luar terhadap kemampuan penyandang tuna netra

Analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi koperasi bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai aspek positif dan aspek negatif dari faktor pengaruh dalam keberlanjutan dan perkembangan koperasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi koperasi dalam hal ini adalah faktor kapasitas pen gurus, kapasitas anggota dan dukungan pihak luar. Kapasitas pengurus mempunyai aspek positif yang dapat dikembangkan untuk dapat terus membantu keberlajutan koperasi. Aspek positif tersebut adalah pen gurus telah mengelola kegiatan secara terbuka dan jujur, mengutamakan kepentingan bersama serta bersikap demokratis. Sementara aspek-aspek negatif yang ada pad a pengurus yang dapat menghambat kebertanjutan koperasi adalah pengetahuan mereka kurang, melakukan kegiatan usaha kurang terorganisir, belum mampu melaksanakan RAT serta belum dapat beke~a sarna dengan pihak luar. Kapasitas anggota mempunyai aspek positif yang dapat menunjang terhadap kebertanjutan koperasi. Aspek positif terse but yaitu dapat bekerjasama, aktif mengikuti kegia!an serta mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada pen gurus. Sementara aspek negatif yang juga dapat menghambat keber1anjutan koper'l.si adalah pengetahuan mereka mengenai koperasi kurang. Dukungan pihak luar terhadap koperasi mempunyai aspek positif yang juga dapat membantu terhadap perkembangan koperasi. Aspek tersebut adalah ada keinginan dart pihak luar untuk membantu koperasi baik membantu penambahan modal maupun membantu meningkatkan pengetahuan angota koperasi, juga adanya peluang usaha yang dapat dimanfaatkan oleh koperasi. Sementara itu aspek negatif dari pihak luar yang dapat menghambat adalah masih adanya perasaan kurang percaya terhadap kemampuan penyandang tuna netra serta kurang memahami permasalahan yang ada pada penyandang tuna netra.

Gambar

Tabel 8:  Keragaan  dan  Permasalahan  Koperasi dalam Kondisi  di Lapangan  Aspek-aspek

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas segala berkah dan limpahan rahmatnya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Studi Deskriptif

Iz enačbe pričakovanih povprečnih stroškov enote kapitala določenega podjetja in enačbe vrednotenja podjetja v razmerah negotovosti sledi, da če sta ke in ki konstantna ali če

Adapun kriteria sampel yang digunakan yaitu: (1) Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia secara berturut-turut dari tahun 2011 sampai dengan 2014,

Adalah layanan yang memungkinkan pengguna melakukan komunikasi telepon dengan pengguna lain melalui internet. Dalam hal ini kita juga mengenal Internet Telephony

Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) sektor pertanian dalam arti sempit (Tanaman Pangan, Perkebunan dan Peternakan) tahun 2005 turun menjadi hanya 1.62 persen jauh

Ketiga jenis makanan tradisional tersebut memiliki bahan baku yang sebagian besar berupa tumbuhan, dengan jenis dan bagian tubuh tumbuhan cukup relevan dan potensial sebagai

Tesis dengan judul Proses Komunikasi dan Perubahan Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Melayu Pontianak (Studi Kasus : Tradisi Pantang Larang) disusun sebagai salah satu syarat

ABSTRAK: Pada zaman yang telah modern ini masyarakatnya mulai melupakan budaya setempat dan lebih condong kepada budaya luar dengan alasan budaya setempat sudah ketinggalan zaman