• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN INDIVIDU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN INDIVIDU"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN PENELITIAN INDIVIDU

PERBAIKAN IKLIM INVESTASI DALAM MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA

Studi Kasus di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Sumatera Utara

Oleh:

Edmira Rivani, S.Si., M.Stat.

Peneliti Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik

PUSAT PENELITIAN

BADAN KEAHLIAN DPR RI

(2)

2

RINGKASAN EKSEKUTIF

A. Pendahuluan

Pemerintah telah menggulirkan sepuluh jilid paket kebijakan ekonomi sejak September 2015 hingga Februari 2016. Reformasi dalam memperbaiki iklim investasi telah menjadi bagian di dalamnya, yang tercakup dalam Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 2,3 dan 10, yaitu Deregulasi untuk memperbaiki iklim investasi, Penyederhanaan izin pertanahan untuk penanaman modal, dan revisi Daftar Negatif Investasi (DNI). Segi investasi memegang peranan penting sebesar 30 persen sampai 35 persen dari total PDB, dengan 50 persen sampai 55 persen lainnya bersumber dari konsumsi domestik. Dalam rangka mendukung hal tersebut, BKPM telah melakukan dan mengeluarkan kebijakan terobosan yang mempermudah perizinan yang selama ini menjadi kendala utama. Untuk mendukung prospek investasi 2015-2019, pemerintah telah mempermudah proses perizinan di seluruh sektor melalui pelayanan terpadu satu pintu (PTSP). Terobosan tersebut mengiringi pesatnya perkembangan investasi di Indonesia, yang dalam kurun waktu satu tahun terakhir terus mengalami peningkatan.

Dalam kerangka pembangunan secara keseluruhan, investasi juga menghasilkan banyak dampak ganda (multiplier effects) dan memberi manfaat bagi banyak pihak seperti perusahaan, masyarakat dan pemerintah. Salah satu dampaknya adalah meningkatkan penyerapan tenaga dalam mengatasi masalah pengangguran yang dihadapi pemerintah. Pengangguran merupakan masalah terbesar bagi suatu negara, karena pengangguran menyebabkan pendapatan dan produktivitas masyarakat rendah yang pada akhirnya akan menimbulkan kemiskinan dan masalah-masalah sosial lain. Negara berkembang seringkali dihadapkan pada besarnya angka pengangguran karena sempitnya lapangan pekerjaan dan besarnya jumlah penduduk usia kerja. Sempitnya lapangan pekerjaan dikarenakan faktor kelangkaan modal untuk berinvestasi, banyaknya angkatan kerja, dan masalah sosial politik di negara tersebut. Sedangkan bagi negara maju masalah pengangguran berkaitan dengan pasang surutnya siklus bisnis.

Penyerapan tenaga kerja yang lebih besar harus ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Hasil studi menyebutkan bahwa satu persen pertumbuhan ekonomi dapat menyerap hampir 400 ribu tenaga kerja pada tahun 1994. Namun elastisitas penyerapan tenaga kerja ini terus menurun, karena pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang oleh faktor konsumsi (mencapai 75 persen) dan sisanya berasal dari ekspor dan investasi. Saat ini setiap satu persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap 200 hingga 250 ribu tenaga kerja. Dengan demikian, faktor penting untuk mengurangi tingkat pengangguran adalah investasi, karena kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan elastisitas penyerapan tenaga kerja.

Dalam kerangka pemahaman di atas, penelitian ini akan diarahkan untuk melihat sejauh mana perkembangan investasi dalam menyerap tenaga kerja, dengan fokus beberapa isu atau indikator sebagai berikut: (1) kondisi dan perkembangan investasi serta ketenagakerjaan di daerah; (2) upaya dan kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah

(3)

3 dalam membangun iklim investasi; (3) permasalahan yang dihadapi pemerintah daerah dalam membangun iklim investasi.

B. Metodologi

Penelitian ini bersifat analisis deskriptif (kualitatif) dan bertujuan untuk menjawab permasalahan-permasalahan seperti yang diuraikan pada bagian sebelumnya. Dalam konteks penelitian ini maka yang akan diangkat dan disajikan adalah tentang perbaikan iklim investasi dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan dengan mengubah data menjadi temuan (findings), yaitu hasil dari sistematisasi hasil wawancara dan observasi, menafsirkannya dan menghasilkan suatu pemikiran, pendapat, atau gagasan baru. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan teknik: (1) wawancara mendalam; (2) observasi; dan (3) studi dokumentasi.

Penelitian dilakukan di Provinsi D.I. Yogyakarta (DIY) dan Sumatera Utara. Provinsi D.I. Yogyakarta dipilih karena pemerintah melalui BKPM menerapkan kebijakan baru dimana 35 bidang usaha dikeluarkan dari DNI. Beberapa bidang usaha tersebut masuk dalam kategori sektor pariwisata antara lain restoran, bar, cafe, usaha rekreaso, seni, dan hiburan: gelanggang olahraga. Adapula kelonggaran investasi dengan menghilangkan rekomendasi untuk hotel (non bintang, bintang satu, bintang dua), motel, usaha rekreasi, seni dan hiburan: biliar, bowling, dan lapangan golf.1 Di satu sisi, rencana tersebut diakui pemerintah sebagai bagian dari penguatan arus investasi asing ke dalam negeri demi peningkatan ekonomi nasional. Namun, hal tersebut harus diberi catatan tebal yakni dengan tidak melepas kepemilikan saham untuk pemodal asing hingga 100%. Pertimbangan dasar pemerintah atas rencana tersebut bisa diperdebatkan, terkait dengan provinsi yang menggantungkan pendapatan daerahnya melalui sektor pariwisata, salah satunya DIY, Provinsi yang menjadikan sektor ini sebagai sumber pendapatan unggulan dimana pariwisata menjadi mesin penggerak di banyak bidang diantaranya perdagangan, perhotelan (infrastruktur), kuliner (restoran, cafe, bar, dll), industri olahan serta tekstil (batik). Pariwisata merupakan sektor utama bagi DIY. Bentuk wisata di DIY meliputi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), wisata budaya, wisata alam, wisata minat khusus, dan berbagai fasilitas wisata lain. Sumbangsih sektor tersebut terhadap Produk Domestik Regional Bruto DIY mencapai porsi 34%. Untuk Kabupaten Bantul sendiri, pariwisata menyumbang 30% Konsumsi Kebutuhan Pokok masyarakatnya. Persentase yang tidak bisa disumbang dari produk komoditas seperti emas, batubara, atau kelapa, sesuatu yang tidak dimiliki DIY. Dengan adanya rencana pemerintah memberikan investor asing kuasa hingga 100% saham atas sektor penggerak ini, memunculkan kekhawatiran. Kekhawatiran juga muncul dari angkatan tenaga kerjanya, Bidang Pengembangan Tenaga Kerja Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kota Jogja mencatat angka Angkatan Kerja DIY pada 2015 mencapai 10.874 orang. Walapun konsentrasi investasi DIY kini lebih mengarah ke sektor industri padat karya dan industri kreatif, tetap tidak bisa dipungkiri sektor pariwisata masih memegang peranannya dalam kinerja pertumbuhan ekonomi di provinsi ini.

1 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Paket Kebijakan Ekonomi Minggu ke-II Februari

(4)

4 Sementara, pemilihan Provinsi Sumatera Utara didasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 sudah ada 13 kawasan industri yang dibangun, dan jika 13 kawasan industri ini dioptimalkan, maka nilai investasi yang masuk mencapai Rp 192 triliun. Hal tersebut sejalan dengan arah pengembangan luar Jawa yang akan dijadikan kawasan industri berbasis sumber daya alam baik terbarukan dan tidak terbarukan, meningkatkan efisiensi sistem logistik dan menjadikan kawasan industri sebagai penggerak utama pusat pertumbuhan ekonomi baru. Sumatera Utara, merupakan salah satu dari 13 kawasan industri tersebut dengan nilai investasi mencapai Rp9,5 triliun, fokus industri adalah industri pengolahan CPO, dimana anchor industrinya adalah PT. Unilever Oleochemical Indonesia dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 83.000.2

C. Hasil Penelitian

C.1 Kondisi Umum Penanaman Modal dan Penyerapan Tenaga Kerja Provinsi D.I. Yogyakarta

Pelaksanaan program/kegiatan selama kurun tahun anggaran 2012 - 2014 diarahkan untuk peningkatan promosi peluang-peluang serta potensi investasi yang ada serta peningkatan iklim dan realisasi investasi. Upaya peningkatan promosi investasi telah dilaksanakan melalui bentuk keikutsertaan dalam pameran-pameran investasi tingkat regional maupun skala nasional seperti gelar potensi investasi daerah (GPID), Trade and Tourism Investment (TTI) Expo, penyelenggaraan one on one meeting, business forum/business meeting dengan calon investor dan stakeholder terkait serta penyelenggaraan promosi peluang investasi melalui situs internet “Jogja Invest”.

Upaya peningkatan iklim dan realisasi investasi di DIY pada tahun 2012 - 2014 dilakukan dengan 2 (dua) strategi utama yakni perbaikan perangkat sistem serta prosedur investasi dan peningkatan jalinan komunikasi berikut pelayanan prima kepada investor. Perbaikan perangkat sistem dan prosedur telah diupayakan dengan optimalisasi fungsi Gerai Pelayanan Perizinan Terpadu (P2T) yang telah memenuhi kualifikasi bintang satu (Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia, Nomor 67 Tahun 2010 tentang Penetapan Kualifikasi Terhadap 130 Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Di Bidang Penanaman Modal Tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota Tahun 2010). Kualifikasi bintang satu memberikan kewenangan bagi Gerai P2T DIY untuk melayani perizinan dan non-perizinan sesuai kewenangannya dengan berbasis SPIPISE (sistem pelayanan informasi dan perizinan investasi secara elektronik). Per tahun 2012, Gerai P2T DIY telah melayani 334 surat persetujuan/ijin prinsip. Adapun sampai dengan bulan September 2014, telah melayani sejumlah 382 surat persetujuan/ijin. Ini berarti target dalam RPJMD 2012-2017 untuk tahun 2014 yang mencapai 347 surat persetujuan/ijin prinsip telah terlampaui.

Gerai P2T DIY saat ini telah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP), Standar Pelayanan Publik (SPP) sampai dengan mekanisme kerja dan petunjuk pelaksanaan pengaduan, menerapkan standar ISO 9001-2008, menerapkan paralelisasi izin, dan menggunakan TIK sebagai sarana perizinan online. Optimalisasi fungsi Gerai Pelayanan

2 Ridho Syukro,

(5)

5 Perizinan Terpadu (P2T) ini telah membuahkan apresisasi dari Pemerintah Pusat. Pada tahun 2013 Gerai P2T DIY memperoleh penghargaan “Citra Pelayanan Prima (CPP)“ dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi karena prestasinya dalam memberikan kinerja pelayanan publik di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) DIY.

Strategi lain yang juga diupayakan untuk peningkatan realisasi penanaman modal adalah optimalisasi serta revitalisasi peran Kantor Perwakilan Daerah (KAPERDA) DIY di Jakarta sebagai single window sekaligus front office Pemerintah Daerah DIY di Jakarta. Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan terkait hal tersebut diantaranya pelaksanaan gathering bersama perusahaan-perusahan penanaman modal di DIY yang memiliki kantor pusat di Jakarta. Kegiatan-kegiatan tersebut secara khusus merupakan upaya menjalin komunikasi intensif dengan perusahaan-perusahaan penanam modal agar terus mempertahankan dan jika memungkinkan menambah investasinya di DIY.

Investasi di DIY tumbuh 18,05% dari tahun 2013 sebesar Rp8.067.770.134.638 menjadi Rp9.524.400.134.638 pada tahun 2014 yang terdiri dari PMDN Rp3.568.546.291.755 dan PMA sebesar Rp5.955.853.842.883. Perusahaan yang merealisasikan investasi di DIY sejumlah 218 perusahaan, yang terdiri dari 119 PMA dan 106 PMDN dengan serapan tenaga kerja sebanyak 44.145 TKI dan 189 TKA. Pada tahun 2014, lima sektor terbesar penyumbang investasi di DIY, yaitu secara berturut-turut dari yang terbesar adalah Perhotelan dan Restoran, Perdagangan, Industri Tekstil, Jasa Lainnya dan Transportasi.

Capaian sasaran Meningkatnya Nilai Investasi di DIY baik PMA maupun PMDN dengan target Rp8.946.874.000.000, dengan realisasi sebesar Rp9.524.400.134.638 atau sebesar 106,46% penyebab keberhasilan atau kenaikan pertumbuhan nilai investasi adanya Perluasan Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA), solusi atau upaya untuk peningkatan realisasi penanaman modal, BKPM DIY telah Memfasilitasi percepatan Realisasi Investasi, melakukan penanganan permasalahan investasi dan Pemberian Insentif dan kemudahan investasi. Sasaran Meningkatnya Nilai Investasi di DIY baik PMA maupun PMDN dengan pagu anggaran sebesar Rp1.898.583.900 dengan realisasi sebesar Rp1.774.742.075 atau sebesar (93,48%). Kondisi ini mampu meningkatan pertumbuhan nilai investasi sebesar Rp1.456.630.000.000 atau 18,05 % dari capaian realisasi nilai investasi komulatif tahun 2014. Sasaran strategis meningkatnya nilai investasi di DIY baik PMA maupun PMDN didukung dengan 1 (satu) program dan 11 (sebelas) kegiatan, sampai dengan akhir Triwulan IV tahun 2014 ada 10 (sepuluh) kegiatan telah memenuhi realisasi anggaran maupun fisik diatas 90%. Sementara itu, sebanyak 1 (satu) kegiatan yaitu koordinasi dan pembinaan pemanfaatan perizinan dan nonperizinan yang realisasi anggaran di bawah 90% disebabkan oleh Pemberian honor tim diukur dengan kinerja yang ditentukan dari ada atau tidaknya perusahaan yang mengajukan insentif dan kemudahan.

Secara regional, investasi nampaknya masih terkonsentrasi di Sleman dan Kota dengan porsi yang mencapai sekitar 90% baik untuk PMDN maupun PMA. Sementara di tiga wilayah lain hanya memiliki porsi 11% untuk PMDN, sementara untuk PMA bahkan kurang dari 10%. Hal ini tentu membawa dampak kesenjangan ekonomi antar wilayah. Secara teori pengelompokan investasi (aglomerasi) semacam ini sangat mungkin terjadi. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan aglomerasi, antara lain daya dukung

(6)

6 infrastruktur, SDM, dan faktor lain yang dapat mempengaruhi efisiensi produksi. Sesuai dengan target dalam RPJMD, diharapkan terjadi pertumbuhan realisasi investasi yang cukup signifikan di DIY dalam kurun waktu 2013-2017 terutama di wilayah kabupaten Kulonprogo, Gunungkidul dan Bantul yang selama ini masih tertinggal dari wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta.

C.2 Peran Pemerintah Daerah Provinsi D.I. Yogyakarta Yang Optimal

Dalam pelaksanaannya terhadap jalannya pemerintah di tingkat daerah, kepala daerah yakni gubernur daerah Istimewa Yogyakarta memiliki fungsi utama yang berbeda dengan kepala daerah di Indonesia pada umumnya. Selain sebagai wakil pemerintah pusat di daerah yang bertindak sebagai kepala daerah, gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki fungsi atau tugas lain sebagai penguasa tunggal di daerah Istimewa Yogyakarta. Karena sebagaimana yang diatur oleh undang-undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah telah ditetapkan, bahwa Gubernur daerah Istimewa Yogyakarta akan dijabat dari yang bertakhta sebagai Sultan Hamengku Buwono untuk calon Gubernur dan bertakhta sebagai Adipati Paku Alam untuk calon Wakil Gubernur.

Dalam perananannya sebagai kepala daerah dan penguasa tunggal di Daerah Istimewa Yogyakarta, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya melebihi kepala daerah di Indonesia pada umumnya. Hal ini di dasarkan oleh adanya undang-undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di dalam undang-undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut mengatur adanya kewenangan yang di atur dalam bab empat pasal tujuh. Mengingat adanya kewenangan keistimewaan yang dimiliki oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang di jabat oleh Sultan Hamengku Buwono, gubernur memiliki kewenangan yang lebih luas. Namun, kewenangan disini bukan merupakan kewenangan yang bersifat otoriter, karena sebagai Gubernur dan raja Sultan Hamengku Buwono harus tetap mempertanggungjawabkan segala kepemimpinannya baik di tngkat daerah maupun ditingkat pusat. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mampu melahirkan atau memutuskan sebuah kebijakan yang bersifat singkat namun demi kesejahteraan rakyat dan tetap sesuai dengan kaidah undang-undang yang berlaku.

Dilihat dari segi kewenangan yang tertuang dalam undang-undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, gubernur sebagai kepala daerah dan penguasa tunggal di Yogyakarta mampu memutuskan sesuai kewenangannya sebagai kepala daerah. Dengan kewenangan ganda tersebut justru mampu memberikan fungsi kepala daerah yang lebih optimal. Apabila dilihat sesuai dengan kewenangannya sesuai dengan undang-undang keistimewaan tersebut, gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam masalah penanaman modal mampu melahirkan kebijakan yang dapat memberikan kemudahan bagi terlakasananya pembangunan, dalam penyediaan lahan atau masalah perizinan, gubernur sebagai Kepala daerah bisa memutuskan untuk memberi kemudahan atau memberikan penyingkatan perizinan kepada para penanam modal apabila memang diperlukan. Namun, hal tersebut harus sesuai dengan peraturan perundangan yang telah di tetapkan.

Sebagai kepala daerah secara politis dan sebagai raja dalam sisi budaya dan sejarah, Gubernur daerah Istimewa Yogyakarta memiliki kewenangan yang sangat tinggi dibanding kepala daerah lain. Dengan undang-undang keistimewaan yang mengatur masalah pertanahan dan tata ruang menjadikan gubernur dan raja kasultanan Yogyakarta

(7)

7 memiliki kewenangan dalam mengatur masalah tanah dan tata kota di daerah. Adanya Sultan Ground atau tanah milik raja menjadikan peluang bagi gubernur sekaligus raja di kasultanan Yogyakarta untuk mengelolal secara penuh tanah-tanah raja tersebut. Gubernur mampu memberikan ijin bagi para investor baik asing maupun dalam negeri untuk menempati dan mengelola tanah milik raja tersebut. Selama pihak raja atau dalam hal ini juga Gubernur daerah Istimewa Yogyakarta memberikan ijin kepada para investor tersebut.

Dalam peran serta sebagai badan perencana pembangunan daerah, peran serta dalam bidang peningkatan angka investasi juga menjadi salah satu prirotas pembangunan daerah di Yogyakarta. Badan Perencana Pembangunan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta juga mengeluarkan kebijakan guna mendukung peningkatan investasi asing sebagai wujud peran serta pembangunan daerah.

Dalam urusan penanaman modal, Badan Koordinasi dan Penanaman Modal merupakan nahkoda atau aktor penting dalam upaya peningkatan perekonomian. Badan Kerjasama dan Penanaman Modal Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam upaya peningkatan investasi asing di Daerah. Meskipun masalah investasi asing masih menjadi kewenangan pemerintah pusat, namun tanggung jawab dari Badan Kerjasama dan Penanaman Modal Daerah Istimewa Yogyakarta masih memiliki tanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan investasi di daerah.

Badan kerjasama dan Penanaman Modal tetap memiliki tanggung jawab di tingkat daerah guna mendukung keberlangsungan investasi asing di daerah. Era ototnomi daerah, menjadikan pelimpahan tanggung jawab di tingkat pemerintahan pusat kepada pemerinthan di daerah. Sesuai dengan tanggung jawab tersebut, Badan Kerjasama dan Penanaman Modal Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki dan wewenang tambahan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan dari pemerintah pusat. Dekosentrasi dan desentralisasi yang diamanatkan dalam undang-undang otonomi daerah menjadikan Badan kerjasam dan Penananman Modal Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki tugas dalam pengendalian pelaksanaan Penanaman Modal. Yang selanjutnya tertuang dalam Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2015 Tentang Pedoman Dan Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Dimana pengendalian pelaksanaan Penanaman Modal adalah melaksanakan Pemantauan, Pembinaan, dan Pengawasan terhadap pelaksanaan Penanaman Modal sesuai dengan hak, kewajiban dan tanggung jawab Penanam Modal serta ketentuan peraturan perundang-undangan.

C.3 Kondisi Umum Penanaman Modal dan Penyerapan Tenaga Kerja Provinsi Sumatera Utara

Perkembangan penanaman modal baik PMDN maupun PMA terus mengalami pasang surut dalam lima tahun belakangan ini, baik dilihat dari jumlah proyek maupun jumlah dana yang terealisasi. Hanya pada tahun 2010 terjadi penurunan nilai investasi yang terealisasi dan kemudian naik kembali pada tahun 2011 dan peningkatan secara perlahan tahun 2012.

Tahun 2012 Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia menetapkan target investasi di setiap provinsi dimana Provinsi Sumatera Utara diberikan target realisasi investasi oleh Pemerintah Pusat sebesar Rp9 triliun, dapat kita lihat bersama

(8)

8 walaupun dalam tiga tahun belakangan ini minat para penanaman modal mengalami pasang surut, namun demikian Provinsi Sumatera Utara dalam hal ini SKPD Badan Penanaman Modal dan Promosi Provinsi Sumatera Utara dapat mencapai target realisasi investasi Tahun 2012 bahkan melebihi target yang diberikan yaitu sebesar Rp9,16 triliun.

Rasio daya serap tenaga kerja pada tahun 2012 mengalami kenaikan bila dibandingkan pada tahun 2011 dan 2010, namun bila dibandingkan dengan tahun 2008 dan 2009, rasio daya serap tenaga kerja masih terlihat menurun. Hal ini menggambarkan bahwa investasi pada sektor riil mengalami peningkatan walaupun penggunaan teknologi masih mendominasi investasi, hal ini mengakibatkan orientasi penyediaan lapangan kerja adalah padat modal bukan padat karya.

Untuk Tahun 2012 Provinsi Sumatera Utara diberikan target investasi oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia (BKPM-RI) sebesar Rp. 9 Trilyun, dapat kita lihat bersama walaupun dalam lima tahun belakangan ini minat para penanaman modal mengalami pasang surut, namun demikian Provinsi Sumatera Utara dalam hal ini SKPD Badan Penanaman Modal dan Promosi Provinsi Sumatera Utara dapat mencapai target realisasi investasi tahun 2012 bahkan melebihi target yang diberikan yaitu sebesar Rp. 9,1 Triliun.

C.4 Tantangan Penanaman Modal di Provinsi Sumatera Utara

Dalam pengurusan izin masih terdengar keluhan dari para investor yang disebabkan pelayanan yang lambat, kurang transparan dan akuntable. Sementara juga masih ditemui kewenangan perizinan diproses diberbagai instansi daerah sehingga investor harus memasuki banyak pintu perizinan. Pemerintah melihat permasalahan pelayanan tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab sekaligus membuka peluang investasi daerah.

Tantangan Investasi Daerah, di dalam penjelasan umum Undang-undang No. 25 Tahun 2007 menyebutkan permasalahan pokok yang dihadapi penanam modal dalam memulai usaha di Indonesia adalah di bidang pelayanan perizinan. Permasalahan tersebut merupakan tantangan pemerintah daerah dalam memperbaiki penyelenggaraan pelayanan investasi sesuai kebijakan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di bidang penanaman modal sehingga pengurusan perizinan yang terpencar menjadi terpusat pada satu lembaga.

Landasan kebijakan pelayanan terpadu satu pintu bidang penanaman modal adalah Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 yang dalam pasal 1 menyatakan maksud Pelayanan Terpadu Satu Pintu di bidang penanaman modal adalah kegiatan penyelenggaraan suatu Perizinan dan Non perizinan yang mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan Perizinan dan Non perizinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen yang dilakukan dalam satu tempat. Penerapan sistem PTSP bidang penanaman modal mensyaratkan agar lembaga diberikan kewenangan dan proses perizinan mulai dari tahap permohonan hingga terbitnya izin dilakukan disatu tempat.

Penyelenggara pelayanan perizinan dan non perizinan dengan sistem PTSP adalah Perangkat Daerah Provinsi (PDPPM)/Perangkat Daerah Kabupaten/Kota (PDKPM) dibidang Penanaman Modal. Dalam menjalankan fungsi perizinan PTSP mendasarkannya

(9)

9 pada pelimpahan kewenangan dari Gubernur atau Bupati sesuai lingkup kewenangannya dan pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat. Walaupun telah diatur secara jelas tentang pelimpahan kewenangan beberapa daerah masih terkendala karena instansi teknis masih cenderung mempertahankan kewenangannya sehingga lembaga PTSP bidang penanaman modal masih belum berfungsi secara maksimal. Khususnya di Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara yang menjalankan fungsi sebagai PTSP bidang penanaman modal melalui SPIPISE hanya 8 (delapan) daerah dari 33 Kabupaten Kota di Sumatera Utara. D. Kesimpulan dan Rekomendasi

D.1 Kesimpulan

Berbagai tantangan dalam pengembangan iklim investasi daerah menjadi

pekerjaan rumah bagi Pemerintah untuk mulai mendorong (stimulus, insentif)

pengembangan investasi di luar Pulau Jawa

. Berdasarkan penelitian di dua daerah yang telah dilakukan yaitu Provinsi D.I. Yogyakarta dan Sumatera Utara, isu strategis yang dihadapi pemerintah D.I. Yogyakarta adalah bagaimana agar investor datang ke daerah, bagaimana mempertahankan investor yang sudah ada di DIY, bagaimana pemerataan dan percepatan investasi di DIY, bagaimana investasi yang sudah disetujui dapat direalisasikan dan berkembang, pengaruh MEA terhadap iklim investasi DIY. Permasalahan lainnya yang tidak kalah penting dan perlu mendapat perhatian pemerintah D.I. Yogyakarta adalah masih kurangnya infrastruktur pendukung investasi, minimnya ketersediaan tanah/lahan dan harga tanah yang cenderung mahal serta keterbatasan sumber daya alam, regulasi daerah yang belum terlalu pro investasi, masih panjangnya mekanisme perijinan.

Meskipun kegiatan investasi secara agregat mengalami peningkatan, Iklim investasi di Sumatera Utara perlu terus diperbaiki. Hal itu dikarenakan realisasi PMA dan PMDN yang justru menurun secara signifikan baik secara jumlah maupun nilai proyek. Masih terkendalanya penyediaan energi (listrik dan gas) diperkirakan menjadi salah satu hambatan yang perlu diperbaiki agar minat investasi di Sumatera Utara membaik.

Pada umumnya, rasio daya serap tenaga kerja kedua daerah tersebut masih terlihat menurun. Hal ini menggambarkan bahwa investasi pada sektor riil mengalami peningkatan walaupun penggunaan teknologi masih mendominasi investasi, hal ini mengakibatkan orientasi penyediaan lapangan kerja adalah padat modal bukan padat karya.

D.2 Saran

Sebagai upaya penting dalam menggerakkan roda ekonomi nasional dan daerah, pemerintah pusat menerbitkan paket kebijakan ekonomi. Sebagian besar output dari paket kebijakan ekonomi ini adalah produk kebijakan berupa Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), Instruksi Presiden (Inpres), Peraturan Menteri (Permen), dan berbagai peraturan pelaksana lainnya. Penggelontoran berbagai regulasi teknis dari berbagai sisi ini harapannya dapat memberikan kepastian hukum kepada pelaku usaha. Namun, tantangan kedepan adalah berkaitan dengan sosialisasi kebijakan yang masif, implementasi regulasi serta monitoring capaian. Khusus di daerah Provinsi Sumatera Utara dan D.I. Yogyakarta, pemerintah daerah perlu mendorong kabupaten/kota untuk mewujudkan peluang investasi unggulan di kabupaten/kota terutama kesiapan lahannya sesuai dengan renana tata ruang.

(10)

10 Terkait implementasi, pemerintah pusat sebaiknya memiliki perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga dapat juga dijabarkan mana saja kegiatan yang membutuhkan kontribusi dari pemerintah daerah. Hal ini akan memudahkan terjalinnya sinergi capaian pusat dan daerah. Selain itu, diperlukan kebijakan yang lebih pro investasi untuk memberikan nilai tambah produk, peningkatan penerimaan negara, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja di daerah.

Referensi

Dokumen terkait

Uji statistik t (uji parsial) merupakan salah satu uji statistik yang digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen

( TANES, KHOO & PAULRAJ ) PERSATUAN KARATE-DO PAHANG 20 Notis Permohonan Pengurusan Kes 9.00 PAGI.. Nombor Kes Plaintif / Pemohon Defendan Kand Pendengaran Jenis

Scanning Electron Microscope (SEM) merupakan mikroskop elektron yang dapat digunakan untuk mengamati morfologi permukaan dari suatu material dalam skala mikro dan nano.

Individu yang melakukan belanja impulsif mengalami konflik kognitif, seperti: tidak mempertimbangkan harga maupun kegunaan suatu barang, tidak melakukan evaluasi terhadap

(1) Setiap orang dilarang melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau

ISI: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya dampak dari pemberian injeksi dalam bentuk subsidi pupuk dan subsidi benih pada sektor pertanian

Kedua, evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksanakan kurikulum dan sesudah melaksanakan (hasil). Dasar pemikiran kedua ini menunjukkan

Pola-pola ini diketahui memiliki sistem yang sangat terkait dengan pengelolaan hutan alam, hutan tanaman, kebun dan usaha pertanian sehingga bentuknya sangat