1
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1. Gambaran Umum Puskemas Pasirkaliki Kota Cimahi
Puskesmas Pasirkaliki Kota Cimahi adalah puskesmas yang wilayah kerjanya terdiri dari 1 ( satu ) Kelurahan yaitu Kelurahan Pasirkaliki yang berbatasan dengan desa Sariwangi Kabupaten Bandung Barat disebelah Utara, Kelurahan Sukaraja Kota Bandung di sebelah selatan, Kelurahan Cibabat disebelah Barat dan sebelah timur dengan Kelurahan Sukawarna Kota Bandung. Luas wilayah kerja Puskesmas Pasirkaliki adalah 127,045 Ha dengan jumlah penduduk 19.724 orang dengan jumlah Kepala Keluarga 5.213 KK pada tahun 2014.
Jenis pelayanan yang berada di Puskesmas Pasirkaliki terdiri dari 12 jenis pelayanan antara lain poli umum, poli lanjut usia, poli gigi, poli MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit), konseling gizi, kesehatan lingkungan, konseling IMS/HIV, poli kesehatan ibu dan anak (KIA), KB dan persalinan, imunisasi, farmasi dan laboratorium. Puskesmas Pasirkaliki juga memiliki program prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) sebagai salah satu pelayanan yang diberikan untuk penderita diabetes berupa penyuluhan, pemeriksaan gula darah dan pemberian obat yang juga rutin menyelenggarakan senam sehat 2 kali dalam sebulan.
Salah satu jenis pelayanan yang berada di Puskesmas Pasirkaliki adalah konseling gizi. Alur konseling gizi di Puskesmas Pasirkaliki Kota Cimahi terlebih dahulu harus melakukan pendaftaran ke bagian pemeriksaan umum. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter,
2
apabila ada pasien yang sudah beberapa kali periksa tidak mengalami penurunan kadar gula darah, maka dokter akan merujuk ke bagian gizi.
Konseling gizi di Puskesmas Pasirkaliki Kota Cimahi dilakukan oleh Ahli gizi dengan alat bantu leaflet yang dibuat oleh dinas kesehatan.
Kemudian ahli gizi melakukan wawancara asupan makan dan konseling gizi dengan menggunakan pendekatan NCP (Nutrition Care Process), namun hanya dilakukan sampai tahap asesmen gizi saja. Waktu konseling gizi selama 15 menit. Setelah konseling, ahli gizi akan menyarankan pasien untuk melakukan kunjungan ulang. Konseling gizi tidak hanya diberikan kepada penderita penyakit degeneratif namun juga kepada ibu hamil dan ibu balita.
5.2. Gambaran Karakteristik Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah pasien rawat jalan di Puskesmas Pasirkaliki Kota Cimahi yang menyadang Diabetes Melitus Tipe 2, bersedia ikut penelitian, dapat berkomunikasi dengan baik, tidak mendapat terapi insulin dan tidak sedang hamil atau laktasi. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 12 orang. Namun terdapat 1 (satu) orang sampel yang drop out selama penelitian. Sehingga jumlah sampel menjadi sebanyak 11 orang. Gambaran karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, status gizi, usia dan lamanya diagnosa Diabetes melitus Tipe 2 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
3
TABEL 5.1
DISTRIBUSI FREKUENSI KARAKTERISTIK SAMPEL BERDASARKAN JENIS KELAMIN, TINGKAT PENDIDIKAN, PEKERJAAN, STATUS GIZI, USIA DAN LAMANYA DIAGNOSA
DIABETES MELITUS TIPE 2
Karakteristik Sampel Kategori N %
Jenis Kelamin Perempuan
Jumlah
11 11
100 100 Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah
Tamat SD Tamat SMA Tamat PT Jumlah
1 8 1 1 11
9,1 72,7
9,1 9,1 100
Pekerjaan Bekerja
Tidak Bekerja Jumlah
2 9 11
18,2 81,8 100
Status Gizi Normal
Lebih Jumlah
4 7 11
36,4 63,6 100
Usia <45 tahun
>45 Tahun Jumlah
1 10 11
9,1 90,9
100 Lamanya Diagnosa
Diabetes Melitus Tipe 2
<5 tahun
>5 Tahun Jumlah
6 5 11
54,6 45,5 100 Riwayat konseling gizi Pernah
Tidak pernah Jumlah
5 6 11
54,5 45,5 100 Obat sensitivitas insulin Pakai
Tidak pakai Jumlah
9 2 11
81,8 18,1 100 Obat sekresi insulin Pakai
Tidak pakai Jumlah
9 2 11
81,8 18,1 100
Berdasarkan tabel 5.1. diketahui bahwa seluruh sampel pada penelitian ini adalah perempuan dengan jumlah 11 orang (100%). Tingkat pendidikan terbanyak adalah tamat SD yaitu 8 orang (72,7%). Sebagian besar sampel pada penelitian ini tidak bekerja atau ibu tumah tangga yaitu
4
sebanyak 9 orang (81,8%). Status gizi sampel terbanyak adalah gizi lebih sebanyak 7 orang (63,6%). Sebagian besar sampel berusia >45 Tahun yaitu 10 orang (90,9%) dengan lama diagnosa Diabetes Melitus Tipe 2 yang terbanyak adalah <5 Tahun yaitu 6 orang (54,6%).
5.3. Analisis Univariat
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui frekuensi masing-masing variabel independen dan variabel dependen yaitu konselilng gizi, asupan energi, asupan karbohidrat, tingkat aktivitas fisik dan kadar gula darah puasa.
5.3.1. Konseling Gizi
Konseling gizi dilakukan sebanyak 2 (dua) kali yaitu pada kunjungan pertama dan kedua. Metode konseling yang digunakan adalah penjelasan serta diskusi. Konseling dilakukan +45 menit meliputi makanan yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan bagi diabetisi, tujuan diet, prinsip diet, cara mengatur diet, 3J (Jenis, Jadwal, Jumlah), hal-hal yang harus diperhatikan bagi diabetisi, serta aktivitas fisik bagi diabetisi. Media yang digunakan pada saat konseling adalah leaflet yang kemudian dibawa pulang oleh sampel untuk membantu dalam mengatur makanan sehari- hari.
Evaluasi terhadap hasil dari konseling dilakukan setelah 2 minggu sampai dengan 1 bulan setelah konseling. Evaluasi konseling dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada kunjungan pertama dan ketiga. Evaluasi dilakukan melalui wawancara langsung. Evaluasi yang dilakukan yaitu asupan makan, aktivitas fiisk, kadar gula darah puasa serta kendala berdiet. Evaluasi yang dilakukan yaitu asupan makan, aktivitas fiisk, kadar gula darah puasa serta kendala berdiet.
5 5.3.2. Asupan Energi
Asupan energi diketahui dari asupan makanan sehari yang diperoleh melalui wawancara dengan metoda recall 1x24 jam. Recall dilakukan sebelum dan sesudah konseling yaitu pada kunjungan pertama dan ketiga. Metoda recall ini dilakukan untuk mengetahui asupan makan sampel sebelum dan sesudah mendapat konseling gizi. Asupan makan sampel juga akan dievaluasi pada kunjungan kedua dan ketiga dengan rentang waktu 2 minggu setelah mendapat konseling gizi. Gambaran asupan energi dapat diketahui dari tabel dibawah ini:
TABEL 5.2
ASUPAN ENERGI SAMPEL SEBELUM DAN SESUDAH KONSELING GIZI
Pada tabel 5.2 diketahui rata-rata asupan energi sebelum konseling gizi lebih tinggi bila dibandingkan dengan setelah konseling. Sebelum konseling gizi, rata-rata asupan energi adalah 861,2 kkal/hari dengan asupan energi terendah adalah 350,7 kkal/hari dan tertinggi adalah 1357,8 kkal/hari. Setelah konseling gizi, rata-rata asupan energi adalah 799,1 kkal/hari dengan asupan energi terendah adalah 595,0 kkal/hari dan
Nomor Sampel
Kebutuhan Energi
Asupan Sebelum
Asupan Sesudah
% Asupan Sebelum Sesudah
01 1371,37 1041,0 996,1 75,90 72,63
02 1345,50 1357,8 871,3 100,91 64,75
03 887,50 586,9 1093,3 66,12 123,18
04 1064,25 448,0 1053,5 42,09 98,9
05 945,00 250,7 595,0 26,52 62,96
06 1377,00 1089,5 871,0 79,12 63,25
07 1116,25 830,0 351,4 74,35 31,48
08 1068,75 925,9 972,8 86,63 91,02
09 1113,75 948,6 471,5 85,17 42,33
10 1237,50 1118,3 821,6 90,36 66,39
11 1113,75 876,6 693,6 78,70 62,27
Mean 1149,14 861,2 799,19 74,9 69,54
6
tertinggi adalah 1093,3 kkal/hari. Berdasarkan hasil analisa, sampel yang mengalami penurunan asupan energi sebanyak 7 orang (63,6%) sedangkan sampel yang mengalami peningkatan asupan energi sebanyak 4 orang (36,3%).
5.3.3. Asupan Karbohidrat
Asupan karbohidrat diketahui dari asupan makanan sehari yang diperoleh melalui wawancara dengan metoda recall 1x24 jam. Recall dilakukan sebelum dan sesudah konseling yaitu pada kunjungan pertama dan ketiga. Metoda recall ini dilakukan untuk mengetahui asupan makan sampel sebelum dan sesudah mendapat konseling gizi. Asupan makan sampel juga akan dievaluasi pada kunjungan kedua dan ketiga dengan rentang waktu 2 minggu setelah mendapat konseling gizi. Gambaran asupan energi dapat diketahui dari tabel dibawah ini:
TABEL 5.3
ASUPAN KARBOHIDRAT SAMPEL SEBELUM DAN SESUDAH KONSELING GIZI
Pada tabel 5.3 diketahui rata-rata asupan karbohidrat sebelum konseling gizi lebih rendah bila dibandingkan dengan setelah konseling.
Sebelum konseling gizi, rata-rata asupan karbohidrat adalah 98,7 gr/hari Nomor
Sampel
Kebutuhan KH
Asupan Sebelum
Asupan Sesudah
% Asupan Sebelum Sesudah
01 154,28 94,9 93,2 61,51 60,41
02 151,37 148,8 88,0 98,30 58,14
03 99,84 81,4 124,4 81,53 124,59
04 119,73 48,6 155,5 40,59 129,57
05 106,31 32,9 113,4 30,95 106,67
06 154,91 113,3 63,5 73,14 40,99
07 125,58 107,1 52,0 85,29 41,41
08 120,23 104,1 110,0 86,58 91,49
09 125,30 101,1 62,9 80,69 50,20
10 139,22 149,4 146,2 107,31 105,01
11 125,30 104,6 72,7 83,48 58,02
Mean 129,28 98,7 98,3 75,40 78,80
7
dengan asupan karbohidrat terendah adalah 32,9 gr/hari dan tertinggi adalah 149,4 gr/hari. Setelah konseling gizi, rata-rata asupan karbohidrat adalah 98,3 gr/hari dengan asupan karbohidrat terendah adalah 52,0 gr/hari dan tertinggi adalah 155,5 gr/hari. Kebutuhan karbohidrat sebesar 45% dari total kalori sehari. Berdasarkan hasil analisa, sampel yang mengalami penurunan asupan karbohidrat sebanyak 7 orang (63,6%) sedangkan sampel yang mengalami peningkatan asupan karbohidrat sebanyak 4 orang (36,3%).
5.3.4. Tingkat Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Pengukuran tingkat aktivitas fisik dilihat dari nilai PAL (Physical Activity Level) yang dilakukan terhadap jenis aktivitas yang dilakukan subyek dan lama waktu melakukan aktivitas dalam sehari. Pengukuran tingkat aktivitas fisik diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan form aktivitas fisik. Metode yang dilakukan pada umumnya menggunakan metode yang sama dengan Recall asupan makan 1x24 jam. Pengukuran aktivitas fisik dilakukan sebelum dan sesudah konseling yaitu pada kunjungan pertama dan ketiga. Pengukuran aktivitas fisik dilakukan untuk mengetahui peningkatan aktivitas fisik sampel sebelum dan sesudah mendapat konseling gizi.
Aktivitas fisik sampel juga akan dievaluasi pada kunjungan kedua dan ketiga dengan rentang waktu 2 minggu setelah mendapat konseling gizi.
Gambaran tingkat aktivitas fisik dapat diketahui dari tabel dibawah ini:
8
TABEL 5.4
TINGKAT AKTIVITAS FISIK SEBELUM DAN SESUDAH KONSELING GIZI
Nomor Sampel Tingkat Aktivitas Fisik Sebelum Konseling Sesudah
Konseling
Perubahan
01 1,64 1,67 +0,03
02 1,61 1,65 +0,04
03 1,33 1,36 +0,03
04 1,48 1,51 +0,03
05 1,37 1,41 +0,04
06 1,54 1,57 +0,03
07 1,55 1,55 0,00
08 1,60 1,64 +0,04
09 1,63 1,66 +0,03
10 1,35 1,35 0,00
11 1,56 1,56 0,00
Mean 1,51 1,53 +0,02
Pada tabel 5.4 diketahui rata-rata tingkat aktivitas fisik sebelum konseling gizi lebih rendah bila dibandingkan dengan setelah konseling.
Sebelum konseling gizi, rata-rata tingkat aktivitas fisik adalah 1,51 dengan tingkat aktivitas fisik terendah adalah 1,33 dan tertinggi adalah 1,64.
Setelah konseling gizi, rata-rata tingkat aktivitas fisik adalah 1,53 dengan tingkat aktivitas fisik terendah adalah 1,36 dan tertinggi adalah 1,67.
5.3.5. Gula Darah Puasa
Gula darah puasa diperoleh melalui pengukuran langsung menggunakan glukometer. Pengukuran gula darah puasa dilakukan sebelum dan sesudah konseling yaitu pada kunjungan pertama dan ketiga. Pengukuran gula darah puasa dilakukan untuk mengetahui respon insulin dalam menyeimbangkan gula darah dan untuk melihat dampak terhadap pemberian konseling gizi terhadap kontrol gula darah. Gula
9
darah puasa sampel juga akan dievaluasi pada kunjungan ketiga dengan rentang waktu 1 bulan setelah mendapat konseling gizi pertama.
Gambaran gula darah puasa dapat diketahui dari tabel dibawah ini:
TABEL 5.5
KADAR GULA DARAH PUASA SEBELUM DAN SESUDAH KONSELING GIZI
Nomor Sampel Gula Darah Puasa (mg/dl) Sebelum Konseling Sesudah
Konseling
Perubahan
01 350 300 -50
02 169 170 1
03 147 166 19
04 186 210 24
05 134 117 -17
06 247 152 -95
07 167 134 -33
08 362 45 -317
09 173 112 -61
10 320 199 -121
11 96 79 -17
Mean 213,72 153,09 -60,63
Pada tabel 5.5 diketahui rata-rata gula darah puasa sebelum konseling gizi lebih tinggi bila dibandingkan dengan setelah konseling.
Sebelum konseling gizi, rata-rata gula darah puasa adalah 213,72 mg/dl dengan gula darah puasa terendah adalah 96 mg/dl dan tertinggi adalah 362 mg/dl. Setelah konseling gizi, rata-rata gula darah puasa adalah 153,09 mg/dl dengan gula darah puasa terendah adalah 79 mg/dl dan tertinggi adalah 300 mg/dl.
5.4. Analisis Bivariat
5.4.1. Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Asupan Energi
Analisa pengaruh konseling gizi terhadap asupan energi pada pasien DM tipe 2 dapat dilihat pada tabel berikut:
10
TABEL 5.6
PENGARUH KONSELING GIZI TERHADAP ASUPAN ENERGI Asupan
Energi Rerata Perbedaan
Rerata P Value CI 95%
Lower Upper Sebelum 861,2
62,01 0,615 -203,84 327,88 Sesudah 799,1
Berdasarkan tabel 5.6 diketahui bahwa hasil uji statistik menggunakan uji parametrik dependent T-test didapatkan p=0,615 pada α=0,05, dengan demikian p value > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara konseling gizi dan asupan energi pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Pasirkaliki.
5.4.2. Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Asupan Karbohidrat
Analisa pengaruh konseling gizi terhadap asupan karbohidrat pada pasien DM tipe 2 dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL 5.7
PENGARUH KONSELING GIZI TERHADAP ASUPAN KARBOHIDRAT Asupan
Karbohidrat Rerata Perbedaan
Rerata P Value CI 95%
Lower Upper Sebelum 98,74
0,40 0,982 -37,30 38,10 Sesudah 98,34
Berdasarkan tabel 5.7 diketahui bahwa hasil uji statistik menggunakan uji parametrik dependent T-test didapatkan p=0,982 pada α=0,05, dengan demikian p value > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara konseling gizi dan asupan karbohidrat pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Pasirkaliki.
5.4.3. Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Tingkat Aktivitas Fisik
Analisa pengaruh konseling gizi terhadap tingkat aktivitas fisik pada pasien DM tipe 2 dapat dilihat pada tabel berikut:
11
TABEL 5.8
PENGARUH KONSELING GIZI TERHADAP TINGKAT AKTIVITAS FISIK
Aktivitas
Fisik Rerata Perbedaan
Rerata P Value CI 95%
Lower Upper Sebelum 1,51
-0,02 0,001 -0,03 -0,01
Sesudah 1,53
Berdasarkan tabel 5.8 diketahui bahwa hasil uji statistik menggunakan uji parametrik dependent T-test didapatkan p=0,001 pada α=0,05, dengan demikian p value < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara konseling gizi dan tingkat aktivitas fisik pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Pasirkaliki.
5.4.4. Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Gula Darah Puasa
Analisa pengaruh aktivitas fisik terhadap gula darah puasa pada pasien DM tipe 2 dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL 5.9
PENGARUH AKTIVITAS FISIK TERHADAP GULA DARAH PUASA Aktivitas
Fisik
Rerata Sebelum
Rerata Sesudah
Perbedaan Rerata
P Value
CI 95%
Lower Upper Tetap 194,3 137,3 57,0
62,0
0,220 -82,1 196,1
Naik 221,0 159,0 0,158 -30,7 154,7
Berdasarkan tabel 5.9 diketahui bahwa hasil uji statistik menggunakan uji parametrik dependent T-test didapatkan p=0,220 dan p=0,158 pada α=0,05, dengan demikian p value > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan kadar gula darah puasa sebelum dan setelah mendapat konseling gizi pada kelompok dengan aktivitas fisik tetap dan naik pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Pasirkaliki.
12
5.4.5. Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Gula Darah Puasa
Analisa pengaruh konseling gizi terhadap gula darah puasa pada pasien DM tipe 2 dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL 5.10
PENGARUH KONSELING GIZI TERHADAP GULA DARAH PUASA Gula Darah
Puasa Rerata Perbedaan
Rerata P Value CI 95%
Lower Upper Sebelum 213,72
60,63 0,063 -3,98 125,26 Sesudah 153,09
Berdasarkan tabel 5.10 diketahui bahwa hasil uji statistik menggunakan uji parametrik dependent T-test didapatkan p=0,063 pada α=0,05, dengan demikian p value > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara konseling gizi dan gula darah puasa pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Pasirkaliki.