34
Journal of Economics Development Issues (JEDI)
U R L : h t t p : / / J E D I . u p n j a t i m . a c . i d / i n d e x . p h p / J E D I
PENGARUH LUAS LAHAN, PRODUKSI DAN HARGA GABAH TERHADAP KESEKJAHTERAAN PETANI PADI
DI DAERAH SENTRAL PRODUKSI PADI KABUPATEN JEMBER
Mohammad WahedUniversias Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Jawa timur, Jl. Raya Rungkut Madya, Gunung Anyar Surabaya
I N F O R M A S I A R T IK E L A B S T R A C T
Article history:
Dikirim tanggal: 20 Februari 2018 Revisi pertama tanggal: 5 Maret 2018 Diterima tanggal: 30 Mei 2018 Tersedia online tanggal 9 Juni 2018
INTISARI
Tujuan dalam penelitian ini adalah menguji dan menganalisis pengaruh variabel luas lahan, produksi dan harga gabah terhadap kesejahteraan petani padi di Kabupaten Pasuruan. Data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Untuk mempresentasikan wilayah objek penelitian digunakan metode Quota Sampling.
Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Dari hasil estimasi menyimpulkan bahwa pengaruh luas lahan, produksi dan harga gabah terhadap kesejahteraan petani padi di kabupaten pasuruan berpengaruh signifikan.
Disamping itu, ada beberapa kendala yang dirasakan oleh petani padi di Desa Kedemungan antara lain : rendahnya kepemilikan lahan, mahalnya harga pupuk subsidi dan ketergantungan terhadap tengkulak dalam menjual hasil panennya.
.
2018 FEB UPNVJT. All rights reserved.
Keywords: Kesejahteraan petani padi, luas lahan, produksi, harga gabah, Kab. Pasuruan.
JEDI Vol. 1, No. 1, pp 34-40, 2018
© 2018 FEB UPNVJT. All right reserved e-ISSN - 2614-2384
35 PENDAHULUAN
Indonesia salah satu Negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian utama dari penduduknya, sehingga sebagian besar lahan diwilayah Indonesia diperuntuknan sebagai lahan pertanian dan hampir 50% dari total angkatan kerja masih menggantungkan nasibnya bekerja di sektor pertanian (Dilan, 2004). Selain itu, Ketahanan pangan bagi suatu Negara merupakan hal yang sangat penting, terutama bagi Negara yang mempunyai jumlah penduduk sangat banyak seperti Indonesia.
Indonesia dengan potensi perluasan untuk kawasan pertanian adalah sebesar 54 juta ha yaitu dengan komposisi 36 juta ha dapat digunakan untuk tanaman pangan/perkebunan 15 juta ha sesuai untuk areal persawahan dan 3 juta ha untuk lahan peternakan (Renstra Kementan, 2016). Hal ini terbukti pada tahun 2016 secara produksi pada komoditas padi ditingkat dunia menurut Food And Agriculture Organation (FAO), Negara Indonesia menduduki posisi ketiga tertinggi setelah Negara India dan Cina Daratan (FAO, 2016).
Food And Agriculture (2016), kawasan asia menjadi wilayah produksi padi terbesar di dunia dan Indonesia menjadi Negara terbesar ke 3 dalam produksi padi. Namun Negara Indonesia masih di hadapkan dengan permasalahan yang klasik yakni pada kenyataanya masih sebagian besar petani padi merupakan masyarakat miskin atau berpendapatan rendah, yakni hanya sekitar 30% dari total pendapatan keluarga (Setyawan, 2010). selain itu
berhadapan dengan rendahnya pendapatan yang diterima petani, sektor pertanian juga dihadapkan pada penurunan produksi dan produktivitas pertanian.
Berdasarkan data Badan Susat Statistik, selama ini kontribusi produksi padi Nasional masih ditopang dari Pulau Jawa dengan luas lahan sawah di Pulau Jawa sebesar 2,499 juta hektar dan di luar Jawa 2,343 juta hektar. Dari Tabel 1.1 juga terlihat pada tahun 2015 wilayah Jawa Timur merupakan daerah terbesar produksi padi Nasional, berikutnya diikuti oleh Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Jawa Tengah yang menduduki terbesar kedua dan ketiga dalam produksi padi Nasional.
Tanaman padi sebagai komoditas utama di Jawa Timur produktivitas padi sangat perlu diperhatikan.
Tercatat produktivitas sebesar 1,98 juta ton. Sselain itu, kontribusi padi pada tahun yang sama mencapai 51,41%. Sedangkan produksi padi memberikan kontribusi terbesar dari hasil tanaman pangan Propinsi Jawa Timur, lebih dari 50% atau sebesar 12,19 juta ton per tahun. Sehingga tidak heran jika Propinsi Jawa Timur di sebut sebagai lumbung padi Nasional pada tahun 2015 (BPS Jatim, 2016).
Kondisi wilayah Jawa Timur yang menjadi lumbung padi Nasional tidak lepas dari peran atau kontribusi dimasing-masing wilayah kabupaten yang menjadi sentral produksi padi di Propinsi Jawa Timur. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasuruan merupak lumbung padi di jawa timur dengan kontribusi sebesar 576.681 ton Terhadap produksi padi di Jawa Timur.
Tabel 1.1
Tiga Wilayah Sentral Tanaman Padi di Indonesia Berdasarkan luas lahan dan Nilai Produksi
Provinsi Luas lahan Produksi
2015 2014 2015 2014
Jawa timur 1.091.752 1.101.765 13.154.967 12.397.049 Jawa tengah 965.262 966.647 11.301.422 9.648.104 Jawa barat 912.794 924.307 11.373.144 11.644.899 Indonesia 8.087.393 8.111.593 75.397.841 70.846.465 Sumber : BPS Nasional, 2016
Dalam hal penciptaan ketahanan pangan di Kabupaten Pasuruan mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, perkembangan produksi padi selalu meningkat setiap tahunnya, pada tahun 2016 mencapai 20,51%, produktivitasnya juga meningkat sebesar 64.26%, serta dari luas panen juga meningkat mencapai angka tertinggi sebesar
18.19%. disamping itu komoditas tanaman padi menjadi komoditi unggulan, Produksi padi diKabupaten Pasuruan tahun 2015 mencapai 585.735 ton, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.2.
Selanjutnya, Pada RPJM nasional 2004- 2009 dinyatakan bahwa terciptanya kesejahteraan
36 rakyat merupakan salah satu tujuan utama pendirian
Negara republik Indonesia. Sejahtera merupakan keadaan sentosa dan makmur yang diartikan sebagai
keadaan yang berkecukupan atau tidak kekurangan baik dimensi fisik maupun dimensi rohani (BAPENAS dalam zakaria, 2009).
Tabel 1.2 Komoditi Pangan
Di Kabupaten Pasuruan (Rp) Tahun 2014-2015 Jenis Tahun
2014 2015 Padi 574.68 585.735 Jagung 156.481 178.343 Ubi kayu 162.725 108.997 Kedelai 26.695 21.649 Bawang
prey 25.047 25.403 Jamur tiram 99.08 96.271 Wortel 18.867 13.867 Sumber : BPS Pasuruan, 2016
Salah satu indikator kesejahteraan penduduk bisa diukur melalui perkembangan rata-rata pengeluaran konsumsi mereka, baik konsumsi makanan maupun konsumsi non makanan. Selama periode 2014-2015 tingkat kesejahteraan penduduk Kabupaten mengalami peningkatan seperti yang ditunjukkan oleh semakin meningkatnya rata-rata pengeluaran penduduk. Rata-rata pengeluaran penduduk meningkat dari Rp 382.286 pada tahun 2014 menjadi Rp 389.162 pada tahun 2015 atau meningkat sebesar 1,80 persen.
Dari tahun 2014 ke tahun 2015, rata-rata pengeluaran penduduk Kabupaten Pasuruan meningkat sebesar 9,78 pada periode terbut. Secara teoritis, jika persentase konsumsi rumah tangga non makanan lebih mendominasi diduga dilihat dari sisi kesejahteraan terjadi peningkatan taraf hidup masyarakat.
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka dapat disusun tujuan penelitian ini yaitu, menguji dan menganalisis pengaruh variabel luas lahan, produksi dan harga gabah terhadap kesejahteraan petani padi di Kabupaten Pasuruan.
Tabel 1.3
Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Penduduk Kabupaten Pasuruan (Rp) Tahun 2014-2015
Jenis Pengeluaran Tahun 2014 2015 Konsumsi Makanan 60.47% 57.52%
Konsumsi Non Makanan 39.53% 42.48%
Sumber : BPS Pasuruan, 2016
LANDASAN TEORI
Hubungan Luas Lahan Terhadap Kesejahteraan Kassie (2011) serta Agustono (2013) juga mengutarakan pemahaman pola pemilikan dan pengusahaan lahan. Schrevel (1989) melakukan studi kasus di desa Cidurian (Desa yang berbatasan Hasil penelitian Studi Dinamika Perdesaan (SDP) di 15 desa menunjukkan bahwa apabila distribusi pendapatan dikaitkan dengan strata luas pemilikan tanah, masih jelas nampak bahwa makin besar luas tanah milik makin besar pula pendapatan rata-rata
rumah tangga. Dengan demikian, rumah tangga yang memiliki tanah luas lah yang mempunyai jangkauan lebih besar ke sumber non pertanian (Burhansyah, 2010).
Hanafie dan Rita. (2010), Secara stastistik, korelasi antara pendapatan pertanian dengan luas lahan relatif kecil. Pada Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat dan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat terjadi pola hubungan yang searah kedua variable tersebut, namun di Klaten, Jawa Tengah terjadi pola hubungan terbalik antara dua variabel tersebut. Disamping itu, Pertumbuhan luas areal
37 menjadi masalah yang sangat serius karena
terjadinya konversi lahan pertanian ke non pertanian (Soekartawi, 1989).
Hubungan Produksi Terhadap Kesejahteraan Menurut Gopinath el al. (1996) disebutkan bahwa produksi padi pada dasarnya tergantung pada dua variabel yaitu luas panen dan hasil per hektar, disamping itu, produsen selalu berusaha untuk mencapai keuntungan yang maksimum yang pada gilirannya secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan petani (Budiono, 1998). Komoditas pangan, terutama dapat digolongkan menjadi subsisten karena produk yang dihasilkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluaran produsen atau petani dan selebihnya untuk dijual ke pasar (Martin dan Mitra, 1998).
Hubungan Harga Gabah Terhadap Kesejahteraan Harga beras/padi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan ekonomi (Setyawan, 2010). Jika beras terlalu rendah, pendapatan para petani terlalu rendah, dan mereka menjadi korban.
Sedangkan kalau harga terlalu tinggi, maka
konsumen yang menjadi korban (Hermanto, 2012).
Di samping itu juga, bila harga yang dibayar petani lebih rendah dari pada optimal ini konsumen memperoleh keuntungan, keuntungan ini biasanya disebut surplus konsumen (Mubyarto, 1994).
Harga dasar sebagai instrument untuk melindungi petani padi dari jatuhnya harga saat panen (Hermanto, 2012). Sedangkan peran pemerintah dengan lembaga pengyanggah (BULOG) sangat diharpakan yang bertujuan untuk memantau, menjaga dan menstabilkan harga dan pasokan beras di pasar (Hendayana, 1995).
METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif (Sugiyono, 2005). Sedangkan untuk mempresentasikan wilayah objek penelitian digunakan metode Quota Sampling (Christal, 2005), dengan Penentuan responden dibagi ke dalam tiga strata pemilikan atau penguasaan lahan, yaitu:
Tabel 1.4
Kriteri Penentuan Responden No Kategori Penguasaan Lahan
1 Lahan Luas (> 1,00 ha) 2 Lahan Sedang (0,50 - 1,00 ha) 3 Lahan Sempit ( < 0,50 ha) Sumber : Sadikin, 2008
Secara teoritis, variabel didefinisikan sebagai atribut seseorang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu obyek dengan obyek yang lain (Sugiyono, 2005). Sedangkan variabel yang digunakan akan diberikan penjelasan masing- masing variabel berikut ini: a) Nilai Tukar Petani (NTP) (Y1) merupakan pengukur kemampuan tukar barang barang (produk) pertanian yang dihasilkan petani terhadap barang dan jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga dan kebutuhan dalam memproduksi hasil pertanian yang diukur dengan satuan persentase; b) Luas lahan (X1) adalah lahan yang diusahakan petani, dengan luas < 0,5 ha termasuk lahan sempit, luas lahan antara 0,5 - 1 ha termasuk lahan sedang, dan luas lahan > 1 ha termasuk lahan luas; c) Produksi padi (X2), adalah produksi padi yang berhasil dipanen pada tahun itu di wilayah sentral produksi padi Jawa Timur.
Dinyatakan dalam (ton/tahun) GKG (gabah kering giling); dan d) Harga gabah (X3) merupakan harga
yang berlaku dipasar atau harga yang ditetapkan oleh pemerintah (Rp).
Teknik analisis data yang dipergunakan untuk menganalisis pengaruh komoditas pangan padi terhadap kesejahteraan petani di Kabupaten Pasuruan, yang diamati adalah dengan memakai Analisis Regresi Berganda dalam bentuk logaritma (Sugiyono, 2005). Secara umum dapat digambarkan sebagai berikut.
Y = b0X1 b1 X2 b2 X3 b3 X4 b4 ………(1.1) Untuk mempermudah perhitungan, dari fungsi (1.1) tersebut kemudian diubah dalam bentuk logaritma linier, sehingga persamaan matematisnya menjadi (Sarwono, 2007):
LnY = Lnb0 + b1LnX1 + b2LnX2 + b3LnX3 + ε..(1.2) Dimana:
Y = Nilai Tukar Petani (%) b0 = Intercep
b1, b2,b3,b4 = Koefisien Regresi X1 = Luas Lahan (ha)
38 X2 = Produksi (kg/ton)
X3 = Harga Gabah (Rp)
variabel-veriabel penjelas yang siginifan atau tidak signifikan terhadap varaibel dependennya. Secara statistik formulasi uji F adalah (Kerlinger, 2002):
R2/ (k-1)
F = --- ………(1.3) (1-R2)/(n-k)
Bila F hitung > F tabel pada tingkat derajat kepercayaan 5% dan tingkat kepercayaan tertentu atau nilai probabilitas signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak yang berarti variabel bebas secara bersama-sama mempengaruhi variabel terikat.
Uji t
Uji statistik t pada dasarnya adalah menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas secara individual dalam mempengaruhi variabel terikat. Apakah suatu variabel indipenden merupakan penjelas yang signifikan atau tidak signifikan terhadap variabel dependen. Dalam statistik dapat dicari melalui rumus (Kerlinger, 2002) :
βi
t = --- ...(1.4).
Se (βi)
Dimana t = nilai yang dicari; βi = koefisien regresi dan se = standar eror koefisien regresi. Bila t hitung > t tabel pada tingkat kepercayaan 5% atau nilai probabilitas signifikansi lebih kecil dari 0,05 (taraf nyata 5%) maka H0 ditolah dengan kata lain variabel bebas berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat.
Koefisien determinasi
Uji terhadap koefisien determinasi (R2) pada dasarnya adalah mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variansi variable terikat, diformulasikan dalam rumus (Kerlinger, 2002).
Σûi2
R 2 = 1 - ………….(1.5) ΣYi2
Selanjutnya penyelesaian analisis ini menggunakan program SPSS, sehingga untuk menilai hasil regresi dilakukan dengan melihat nilai masing-masing koefisien dari keluaran program SPSS tersebut.
PEMBAHASAN
Fokus dalam pembahasan penelitian ini adalah menjawab tujuan utama dalam penelitian ini yaitu, untuk mengetahui variabel Luas Lahan, Produksi, Harga Gabah terhadap kesejahteraan petani padi (NTP). Berdasarkan hasil perhitungan regresi Y = -10,349+ 0,176X1 +0,160X2+1,179X3,
dimana variabel Luas Lahan (X1) Produksi (X2) dan Harga Gabah (X3) berpengaruh signifikan baik secara bersama-sama maupun secara parsial terhadap Nilai Tukar Petani (Y1).
Pengaruh Luas Lahan Tehadap Kesejahteraan Petani
Dengan menggunakan bantuan software SPSS, didapatkan statistik uji t sebesar 2,431 dengan signifikansi sebesar 0,017. Nilai statistik uji |thitung| tersebut lebih besar daripada ttabel (2,431 > 1,661).
Selain itu, nilai signifikansi lebih kecil daripada α = 0,05. Pengujian ini menunjukkan bahwa H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa X1 (luas lahan) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y (kesejahteraan petani padi). Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan toeri yang digunakan dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa luas areal panen merupakan salah satu determinan utama dalam peningkatan produksi padi yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani (Wiradi dan Makali dalam Sofyan, 2009).
Pengaruh Produksi Tehadap Kesejahteraan Petani
Dengan menggunakan bantuan software SPSS, didapatkan statistik uji t sebesar 2,426 dengan signifikansi sebesar 0,017. Nilai statistik uji |thitung| tersebut lebih besar daripada ttabel (2,426 > 1,661).
Selain itu, nilai signifikansi lebih kecil daripada α = 0,05. Pengujian ini menunjukkan bahwa H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa X2 (produksi) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y (kesejahteraan petani padi). Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan teori Vadimicum (dalam Joko, 2011) disebutkan bahwa produksi padi pada dasarnya tergantung pada dua variabel yaitu luas panen dan hasil per hektar, dengan menganggap bahwa produsen selalu berusaha untuk mencapai keuntungan yang maksimum yang pada gilirannya secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan petani (Budiono, 2002).
39 Pengaruh Harga Gabah Tehadap Kesejahteraan
Petani
Dengan menggunakan bantuan software SPSS, didapatkan statistik uji t sebesar 2,174 dengan signifikansi sebesar 0,032. Nilai statistik uji |thitung| tersebut lebih besar daripada ttabel (2,174 > 1,661).
Selain itu, nilai signifikansi lebih kecil daripada α = 0,05. Pengujian ini menunjukkan bahwa H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa X4 (harga gabah) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y (kesejahteraan petani padi).
Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan teori yang digunakan dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa Harga beras/padi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan ekonomi (Sugiarto dkk, 2000). Jika beras terlalu rendah, pendapatan para petani terlalu rendah, dan mereka menjadi korban. Sedangkan kalau harga terlalu tinggi, maka konsumen yang menjadi korban (Kadariah, 1994).
SIMPULAN
Pengaruh variabel luas lahan, produksi dan harga gabah terhadap kesejahteraan petani padi di kabupaten pasuruan berpengaruh signifikan.
Disamping itu, ada beberapa kendala yang dirasakan oleh petani padi di Desa Kedemungan antara lain : rendahnya kepemilikan lahan atau tingginya petani gurem (petani dengan luas lahan sempit), harga subsidi pupuk yang mahal dan sering megalami kelangkaan, kurang efisiennya penggunaan benih dan pupuk karena tidak sesuai dengan teknologi pertanian, variasi tanam yang relatif rendah, ketergantungan terhadap tengkulak serta belum dapat mengatasi hama (wereng dan tikus) secara efektif. Sehingga apabila dari beberapa kendala tersebut bisa diatasi, maka diharapkan taraf hidup atau tingkat kesejahteraan petani padi juga meningkat.
Diharapkan petani padi kabupeten pasuruan khususnya di Desa Kedemungan bisa memanfaatkan waktu senggang pada saat musim tanam. Sehingga petani padi bisa bekerja diluar pertanian guna meningkatkan pendapatan yang nantinya akan meninkatkan kesejahteraan petani itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Boediono, 1998. Teori Pertumbuhan Ekonomi : Seri Synopsis Pengantar Ilmu
Ekonomi no. 4 Yogyakarta. BPFE
Badan Pusat Statistik. Laporan Akhir Tahun 2016.
Badan Pusat Statistik. Jawa Timur Dalam Angka 2017
Badan Pusat Statistik. Pasuruan Dalam Angka 2017
Christal, a. 2005, Foundation Of Economic Theory, Bsc Business Studies Lacture 11 www.cass.city.a.u.uk/faculty/a Christal.
Dilan, h.s. 2004 Pertanian Mandiri. Penebar Swadaya. Jakarta.
Kerlinger, Fred n, 2002. Asas-Asas Penelitian Behavioral, Terjemahan Yogyakarta, Gajah Mada University Press.
http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php?kat=3
Martin, W. and D.Mitra, 1998, Productivity Growth And Convergence In Agriculture And Manufacturing, Development Reseach Group, World Bank And Depertement Of Economics.
Hermanto, Bambang. 2012. Analisis Fungsi Produksi Usaha Tani Padi Sawah Dan Pengaruhnya Terhadap Produksi Domestik Regional Bruto (PDRB) Untuk Pengembangan Wilayah Di Kabupaten Deli Serdang. Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah Medan
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Bisnis, Bandung, CV ALFABETA.
Mubyarto, 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. PT Pustaka LP3ES Indonesia. Jakarta Zakaria, Wan Abbas. 2009. Penguatan
Kelembagaan Tani Kunci Kesejahteraan Petani.
http//pse.litbang.deptan.go.id/pdfffiles.
MP pros c3 2009.pdf. Diakses Tanggal 1 Februari 2010.
Hanafie, Rita. (2010). Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Kementria Pertanian. (2015). Rencana Strategis Kementrian Pertanian 2015-2018.
Jakarta: Author.
Sarwono, Jonathan. 2007. Analisis Jalur untuk Riset Bisnis Dengan SPSS. Yogyakarta: Andi.
40 Kassie, Menale. 2011. Agricultural Technology,
Crop Income, And Poverty Alleviation In Uganda. World Development Vol. 39, No. 10, pp. 1784–1795, 2011.
Agustono .2013. Analisis Sektor Pertanian Ditinjau Dari Peran Terhadap Pertumbuhan Dan Stabilitas Produk Domestik Regional Bruto Di Provinsi Jawa Tengah. Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
Setyawan, Agus. 2010. Analisis Pengaruh Sektor Pertanian Dan Sektor Industri Pengolahan Terhadap Kemiskinan Di Jawa Tengah. Universitas Padjajaran.
Burhansyah Rusli. 2010. Kinerja Usahatani Padi Dan Indikator Kesejahteraan Petani Padi Di Sentra Produksi Padi Kabupaten Kubu Raya. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat.
Pontianak.
Hendayana, R. 1995. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Petani.
Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Soekartawi, 1989. Prinsip dasar ekonomi pertanian teori dan aplikasi, rajawali press, Jakarta.