Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
462
JEDI Vol.4, No.2, pp 462-477 , 2021
© 2021 FEB UPNVJT. All right reserved e-ISSN - 2614-2384
Journals of Economics Development Issues (JEDI)
U R L : h t t p : / / J E D I . u p n j a t i m . a c . i d / i n d e x . p h p / J E D I
JEDI
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Ekspor Kopi Indonesia Ke Amerika Serikat Tahun 1985-2018
Anna Wijayanti
1, Sotya Fevriera
2, Yustinus Wahyudi
3
*
Email:[email protected]
Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah
Jl. Diponegoro no. 52-60 Salatiga 50711
A B S T R A C T
Key words : export volume; inflation;
real GDP per capita; real effective exchange rates; the world coffee price; the world tea price.
Coffee has a pretty good prospect in Indonesia with quite large production.
However, Indonesian coffee trade still faces many obstacles. One of them,
coffee is less competitive with coffee from other countries in United States
which is Indonesia's main export destination. The purpose of this study is to
determine the factors affecting the volume of coffee exports to United States
in 1985-2018. This study uses secondary time series data collected from the
Central Bureau of Statistics, the World Bank and the Ministry of Agriculture
as well as a multiple regression model with the least squares method. The
results show that the real GDP per capita of the United States, the real
effective exchange rate of the United States, Indonesian inflation, world
coffee prices, world tea prices and United States populations have an effect
on Indonesian coffee exports demand. Individually, inflation in Indonesia,
world tea prices and United States populations have significant positive
effect while the real effective exchange rate of the United States have
significant negative effect on Indonesian coffee exports demand from United
States, but the real GDP per capita of the United States and world coffee
prices have no effect on Indonesian coffee exports demand from United
States.
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
463 Kata kunci: GDP riil per kapita;
harga kopi dunia; harga teh dunia;
inflasi; nilai tukar riil efektif; volume ekspor kopi
Penelitian ini akan menjawab pertanyaan tentang bagaimana tingkat efisiensi dan tingkat efektivitas keuangan daerah Pemerintah Kota Surabaya tahun anggaran 2015-2019 dan bagaimana tingkat kemandirian keuangan daerah Pemerintah Kota Surabaya tahun anggaran 2015-2019.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan ialah data sekunder yang berasal dari situs web Badan Pengelolaan Keuangan dan Pajak Daerah Kota Surabaya. Teknik analisis data menggunakan rasio keuangan. Hasil penelitian ini ialah jika dilihat dari tingkat efisiensi menunjukkan bahwa keuangan daerah Pemerintah Kota Surabaya Tahun anggaran 2015-2019 keuangan daerah Kota Surabaya tergolong kurang efisien dan tidak efisien, karena rasio efisiensi berada antara 90%-100% dan lebih dari 100%.
Ditinjau dari tingkat efektivitas kinerja Pemerintah Kota Surabaya masuk
pada kategori sangat efektif dalam pengelolaan realisasi pendapatan Kota
Surabaya, karena rata-rata berada pada nilai maksimum rasio efektifitas
yaitu diatas 100%. Sedangkan bila ditinjau dari tingkat kemandirian
keuangan daerah menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan Pemerintah
Kota Surabaya terhadap Pemerintah Pusat berada pada kategori delegatif,
yakni tidak ada campur tangan Pemerintah Pusat, dikarenakan nilai rata-
rata kemandirian keuangan daerah Pemerintah Kota Surabaya tahun
anggaran 2015-2019 sebesar 166,23%.
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
464 PENDAHULUAN
Alasan utama setiap negara melakukan perdagangan internasional karena adanya keuntungan dari perdagangan (gains from trade) bagi negara tersebut (Risma et al., 2018).
Perdagangan internasional menjadi sebuah arena untuk menjalin hubungan baik bilateral maupun multilateral dengan negara-negara luar. Melalui ekspor dan impor, tidak hanya dapat dijalin hubungan dengan negara-negara lain, tetapi perdagangan juga dapat melancarkan aliran arus barang dan jasa dari dalam negeri ke luar negeri maupun dari luar negeri ke dalam negeri. Ekspor dilakukan jika produksi dalam negeri melebihi permintaan dalam negeri dan memenuhi syarat untuk dijual ke luar negeri, sedangkan impor dilakukan untuk memenuhi permintaan produk dalam negeri yang belum terpenuhi.
Dilihat dari perkembangan ekspor Indonesia, produk ekspor Indonesia didominasi oleh ekspor non migas. Selama periode 2012 sampai 2018, peranan ekspor non migas Indonesia berada pada kisaran angka 80 persen hingga 90 persen, sedangkan peranan ekspor migas hanya berkisar antara 9 persen sampai 19 persen (BPS, 2018). Peningkatan ekspor Indonesia selalu diupayakan dengan berbagai strategi, diantaranya dengan pengembangan ekspor terutama non migas dengan untuk memacu pertumbuhan ekonomi (Saragih et al., 2018).
Menurut Richardo, peningkatan pembangunan di sektor pertanian dapat mempertahankan stabilitas ekonomi karena sektor pertanian memiliki pengaruh dalam pertumbuhan ekonomi (Saragih et al., 2018). Apabila dilihat dari kontribusinya, sektor pertanian Indonesia menyumbang 13,38 persen dari PDB, di mana sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan. Sekitar 3,47 persen kontribusi sektor pertanian tersebut berasal dari subsektor perkebunan (Pusdatin Pertanian, 2015). Menurut data dari Kementerian Perdagangan Indonesia, 50 persen nilai ekspor diperoleh dari sub sektor perkebunan diantaranya yaitu komoditi kelapa sawit, karet, teh, kopi, kakao (Soviandre et al., 2014). Selain itu, sub sektor perkebunan juga dapat berperan dalam penyerapan tenaga kerja, menghasilkan devisa negara dan juga memiliki andil dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia (Soviandre et al., 2014). Meskipun sub sektor
perkebunan merupakan sub sektor unggulan, akan tetapi ada beberapa komoditas yang masih perlu ditingkatkan lagi baik dari segi tata kelola maupun pemasaran. Tidak hanya itu, ada hal yang juga tidak kalah penting untuk diperhatikan yaitu daya saing karena daya saing komoditas dapat mempengaruhi kinerja ekspor (Kartini, 2018). Oleh karena itu, penyusunan rencana pembangunan pada sektor perkebunan sangat dipengaruhi oleh keadaan komoditas barang, banyaknya komoditas tersebut serta bagaimana peran komoditas tersebut dalam tingkat dunia.
Komoditas kopi merupakan bagian dari sub sektor perkebunan yang memegang peran penting dalam menghasilkan devisa negara. Banyaknya perkebunan kopi di Indonesia membuat Indonesia menjadi salah satu produsen kopi terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Ada beberapa jenis kopi lokal yang dikenal sampai di berbagai penjuru dunia, kopi tersebut diantaranya yaitu kopi Gayo, kopi Toraja, kopi Lampung, dan kopi Aceh (AEKI, 2018). Saat ini, mengkonsumsi minuman kopi merupakan tren bagi kalangan anak muda maupun orang tua. Banyaknya kedai kopi yang bermunculan merupakan bukti bahwa kopi merupakan minuman yang sangat banyak diminati (Kartini, 2018).
Produksi kopi Indonesia berfluktuasi, pada tahun 2006 produksi kopi sebesar 682.158 ton selanjutnya di tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 0,83 persen atau sebesar 676.476 ton dan kembali naik sebesar 3,18 persen atau 698.016 di tahun 2008. Akan tetapi produksi kopi kembali turun 2,20 persen di tahun 2009 dan kembali naik 0,62 persen atau 686.921 ton di tahun 2010 kemudian mengalami penurunan sampai dengan 7,03 persen di tahun 2011. Titik terendah produksi kopi terjadi pada tahun 2011 yaitu saat produksi kopi hanya 638.646 ton dan mengalami surplus pada tahun 2012 dengan total produksi 691.163 ton (Pusdatin Pertanian, 2017). Faktor yang menyebabkan penurunan jumlah produksi kopi yaitu perubahan cuaca secara ekstrim dan curah hujan yang tinggi (Setiawan, 2018).
Sebagai salah satu negara penghasil kopi
terbesar di dunia, ekspor menjadi tujuan utama
dalam menawarkan produk-produk kopi yang
dihasilkan dari Indonesia. Negara yang menjadi
tujuan ekspor kopi adalah negara-negara konsumen
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
465 tradisional seperti Amerika dan Uni Eropa. Kopi Indonesia juga memiliki pangsa ekspor tinggi di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea, dan Aljazair (Purba, 2011). Sebuah waralaba penjual kopi terkenal di Amerika Serikat yaitu Starbuck juga menggunakan kopi yang diimpor dari Indonesia (Purba, 2011). Perkembangan ekspor kopi Indonesia menurut negara tujuan tahun 2017 dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 menunjukkan Amerika Serikat merupakan negara yang menjadi pasar kopi terbesar bagi Indonesia. Sebesar 63 ribu ton atau 13 persen dari total ekspor kopi nasional yang dikirim ke Amerika Serikat. Ekspor tersebut merupakan yang
terbesar dibandingkan dengan ekspor ke negara lainnya. Selain Amerika Serikat, negara tujuan ekspor utama kopi Indonesia adalah Jerman, Malaysia, Italia, Rusia, dan Jepang. Sebanyak 68 persen warga Amerika Serikat berusia 18 tahun dan lebih tua mengatakan mereka minum secangkir kopi setiap hari (VOA, 2018). Penikmat kopi di Amerika Serikat rata-rata mengonsumsi 3,1 cangkir kopi per hari, artinya sekitar 90 juta cangkir kopi diminum di Amerika Serikat setiap harinya (Febrinastri, 2015).
Hal ini tentunya dapat meningkatkan potensi pasar Indonesia dalam mengembangkan ekspor kopi ke Amerika Serikat.
Sumber: BPS (2020)
Gambar 1. Negara Tujuan Utama Ekspor Kopi Indonesia Tahun 2017
Catatan: Data 20002018 dari BPS (2018b), 19951999 dari BPS (1999), 19911994 dari BPS (1995), 19881990 dari BPS (1992).
Gambar 2. Volume Ekspor Kopi Indonesia ke Amerika Serikat Tahun 1988-2018
63,238 44,740 29,503
41,394 38,103 36,920 24,040 21,938 13,156 4,174
146,994
0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 160,000 Amerika Serikat
Jerman Jepang Malaysia Italia Rusia Mesir Inggris Belgia Kanada Lainnya
Berat Bersih (ton)
10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000
1988 1994 2000 2006 2012 2018
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
466 Ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat mengalami penurunan volume selama sepuluh tahun terakhir meskipun berdasarkan nilai ekspor mengalami kenaikan. Gambar 2 menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, volume ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat mengalami penurunan. Hal ini serupa dengan hasil studi Purba (2011) yang menyatakan meskipun Amerika Serikat merupakan negara pengimpor kopi terbesar di Indonesia, tetapi ekspor kopi ke negara Amerika Serikat menurun. Menurut Sanjaya (2008), naik turunnya harga ekspor kopi dapat menyebabkan perubahan pada volume ekspor kopi. Ketika harga ekspor kopi naik, maka akan menyebabkan ekspor kopi berkurang dan sebaliknya ketika ketika harga ekspor kopi turun, maka ekspor kopi akan meningkat.
Penelitian dengan topik komoditas kopi sudah pernah diteliti. Ada yang meneliti dari sudut ekonomi yaitu pengaruh GDP, harga kopi internasional, kurs, dan produksi terhadap volume ekspor kopi (Soviandre et al., 2014; Jamilah et al., 2016; Marpaung et al., 2018; Desnky et al., 2018;
Muttoharoh et al., 2018), ada yang meneliti pengaruh inflasi, kurs, dan produksi kopi terhadap volume ekspor kopi (Fadhilah, 2018; Kartini, 2018) dan ada pula yang meneliti pengaruh harga ekspor kopi Indonesia, kurs dan juga GDP terhadap volume ekspor kopi diteliti (Nopriyandi & Haryadi, 2017;
Hidayah, 2017; Riska, 2018).
Penelitian lain mengenai komoditas kopi juga pernah dilakukan yaitu mengenai pengaruh daya saing terhadap ekspor kopi. A. E. Setiawan dan Sugiarti (2016) meneliti pengaruh daya saing, produksi, harga ekspor kopi, nilai tukar, nilai RCA terhadap ekspor kopi. Suprayogi et al. (2017) meneliti daya saing ekspor kopi dengan melihat faktor produksi, faktor kondisi permintaan domestik, industri-industri yang berkaitan dan kebijakan pemerintah. Parnadi dan Loisa (2017) meneliti daya saing ekspor kopi di pasar internasional dengan membandingkan posisi daya saing Indonesia dengan negara-negara produsen lainnya yaitu Brazil, Colombia, dan Vietnam. Subhani et al. (2019).
meneliti pengaruh volume ekspor, produksi kopi, konsumsi domestik dan PDB Indonesia terhadap daya saing ekspor kopi Indonesia di pasar internasional.
Lebih lanjut, penelitian mengenai komoditas kopi juga pernah dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor kopi. Penelitian ini dilakukan oleh Rosandi (2007) yang meneliti pengaruh produksi, konsumsi kopi, harga kopi dunia, harga kopi domestik, kurs dan luas areal terhadap ekspor kopi, Siregar (2008) yang meneliti pengaruh produksi, konsumsi kopi dan harga kopi domestik terhadap ekspor kopi, Nugroho (2013) yang meneliti pengaruh harga kopi domestik, harga kopi dunia, produksi, nilai tukar terhadap ekspor kopi dan Elisha (2015) yang meneliti produksi, harga kopi dunia, nilai tukar terhadap ekspor kopi.
Selain itu, ada pula yang meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan ekspor kopi. Anggraini (2006) meneliti pengaruh GDP, harga kopi dunia, harga teh dunia, konsumsi, kurs, jumlah penduduk terhadap ekspor kopi. Purba (2011) yang meneliti PDB, konsumsi, kurs, harga kopi domestik dan harga kopi dunia. Ilham et al.
(2012). meneliti pengaruh pengaruh harga kopi arabika, harga kopi robusta, harga teh, harga gula dan pendapatan per kapita terhadap permintaan komoditas kopi di Sumatera Utara. Komaling (2013) meneliti pengaruh GDP, harga kopi dunia dan konsumsi terhadap permintaan ekspor kopi. Putri (2017) meneliti pengaruh harga kopi internasional, GDP, kurs terhadap ekspor kopi. Fatha (2017) meneliti pengaruh harga ekspor kopi, PMA, GDP terhadap ekspor kopi. Hidayah (2017) meneliti pengaruh harga ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat, harga ekspor kopi Brazil ke Amerika Serikat, nilai tukar rupiah terhadap USD, GDP Amerika Serikat terhadap ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat. Sedangkan Akmal (2018) meneliti pengaruh PDB riil Amerika Serikat dan China, kurs riil Amerika Serikat dan China, inflasi Amerika Serikat dan China terhadap nilai ekspor Indonesia- Amerika Serikat dan Indonesia-China.
Berdasarkan hasil dari berbagai penelitian diatas menunjukkan pengaruh GDP, kurs, harga kopi dunia merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor kopi (Anggraini, 2006; Nugroho, 2013; Soviandre et al., 2014;
Jamilah et al., 2016). Tetapi hasil penelitian lain
menunjukkan bahwa harga kopi dunia (Elisha,
2015), kurs (Marpaung et al., 2018), GDP
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
467 (Muttoharoh et al., 2018). tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap volume ekspor kopi.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka persoalan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi permintaan ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat pada tahun 1985-2018, bagaimana pengaruh GDP riil per kapita Amerika Serikat, nilai tukar riil efektif Amerika Serikat, inflasi Indonesia, harga kopi dunia, harga teh dunia, dan populasi Amerika Serikat terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat pada tahun 1985-2018.
Berdasarkan dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi permintaan ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat pada tahun 19852018 dan untuk mengetahui bagaimana pengaruh GDP riil per kapita Amerika Serikat, nilai tukar riil efektif Amerika Serikat, inflasi Indonesia, harga kopi dunia, harga teh dunia, dan populasi Amerika Serikat terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat.
KAJIAN LITERATUR Perdagangan Internasional
Menurut Nopriyandi dan Haryadi (2017) perdagangan internasional merupakan aktivitas jual beli yang dilakukan oleh masyarakat (individu dengan individu, individu dengan pemerintah maupun pemerintah dengan pemerintah) di suatu negara dengan masyarakat di negara lainnya dengan kesepakatan bersama. Perdagangan internasional dapat terjadi karena sumber daya yang dimiliki pada setiap negara berbeda sehingga untuk memenuhi kebutuhan sumber daya yang tidak ada di dalam negeri, suatu negara mengimpor atau membeli dari negara lain. Terdapat beberapa indikator yang dapat memicu timbulnya perdagangan internasional, diantaranya adalah keinginan untuk memperluas pemasaran, menambah penerimaan devisa, dan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Teori perdagangan internasional digunakan dalam penelitian ini dikarenakan teori ini dapat melihat faktor yang dapat mempengaruhi suatu negara melakukan hubungan dagang dengan negara lainnya. Perbedaan potensi sumber daya di setiap negara menjadi salah satu faktor terjadinya ekspor maupun impor.
Ekspor
Ekspor didefinisikan sebagai barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri lalu dijual di luar negeri. Ekspor merupakan upaya pengeluaran barang dari peredaran masyarakat dan kemudian dikirimkan keluar negeri dengan memenuhi ketentuan yang ada sehingga mendapatkan pembayaran berupa valuta asing. Suatu negara dapat mengekspor suatu barang-barang yang dihasilkan ke negara lain yang tidak dapat menghasilkan barang- barang yang dihasilkan negara pengekspor (Nugroho, 2013). Ekspor dapat dikatakan sebagai suatu pemasukan pendapatan seperti halnya investasi karena ekspor berasal dari produksi dalam negeri kemudian dijual atau digunakan oleh penduduk luar. Berikut adalah rumus matematisnya (Soleh, 2016):
X
t= Q
t– C
t+ S
t-1(1) Keterangan:
X
t= Jumlah ekspor komoditas tahun ke t Q
t= Jumlah produksi domestik tahun ke t C
t= Jumlah konsumsi domestik tahun ke t S
t-1= Stok tahun sebelumnya
Tingkat konsumsi kopi di Amerika Serikat terbilang tinggi. Mengkonsumsi kopi bukan lagi budaya akan tetapi sudah menjadi kebutuhan mereka. Menurut Febrinastri (2015), penduduk Amerika Serikat mengkonsumsi kurang lebih 90 juta cangkir kopi setiap harinya sehingga negara mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan akan permintaan kopi domestik. Sedangkan Indonesia selalu surplus kopi. Hal ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk memenuhi permintaan kopi di Amerika Serikat dengan melakukan ekspor.
Teori Permintaan
Permintaan merupakan keinginan yang timbul akibat kebutuhan yang disertai dengan adanya kesediaan barang serta kemampuan untuk membeli barang tersebut. Hukum permintaan berbunyi “Jika harga naik, maka jumlah output yang diminta akan turun. Demikian pula sebaliknya”.
Dalam ilmu ekonomi, istilah permintaan (demand)
mempunyai arti tertentu, yaitu jumlah dari
keseluruhan barang dan jasa yang diminta oleh
seluruh pelaku ekonomi pada berbagai tingkat harga.
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
468 Jumlah dari banyaknya suatu barang yang diinginkan sehingga dapat dibeli dan dimiliki sesuai dengan harga dan waktu tertentu dengan asumsi hal- hal lain tetap sama (ceteris paribus) dapat diistilahkan sebagai permintaan akan barang maupun jasa. Qodri (2017) menyatakan bahwa permintaan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu harga barang yang bersangkutan, harga barang substitusi atau komplemennya, selera, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan.
Hubungan matematis beserta faktor-faktor yang mempengaruhi dalam permintaan disebut sebagai fungsi permintaan. Fungsi permintaan menghubungkan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas. Fungsi permintaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut (Akmal, 2018):
D
x= f (P
x, P
y, Y, T, N) (2) Keterangan:
D
x= permintaan barang x P
x= harga barang x P
y= harga barang y Y = pendapatan per kapita T = selera
N = jumlah penduduk
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori permintaan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat dengan menggunakan variabel GDP riil per kapita Amerika Serikat, nilai tukar riil, inflasi Indonesia, harga kopi dunia, harga teh dunia dan populasi Amerika Serikat.
Penelitian Terdahulu
Anggraini (2006) meneliti pengaruh permintaan ekspor kopi. Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data tahun 19752004 dengan analisis rergesi linier berganda. Hasil pada penelitian ini yaitu harga kopi dunia, harga teh dunia, jumlah penduduk Amerika Serikat dan konsumsi berpengaruh signifikan terhadap ekspor kopi.
Sedangkan nilai tukar dan pendapatan per kapita penduduk Amerika Serikat tidak berpengaruh terhadap ekspor kopi.
Purba (2011) meneliti pengaruh ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat. Analisis yang digunakan yaitu OLS. Data yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu tahun 19812016. Hasil dari penelitian yaitu harga konsumsi kopi Amerika Serikat memiliki pengaruh signifikan terhadap ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat, harga kopi dunia berpengaruh positif terhadap ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat, pendapatan Amerika Serikat dan kurs berpengaruh tidak signifikan terhadap ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat, harga kopi domestik memiliki pengaruh negatif terhadap ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat.
Ilham et al. (2012) meneliti pengaruh harga kopi arabika, harga kopi robusta, harga teh, harga gula dan pendapatan per kapita Provinsi Sumatera Utara terhadap permintaan kopi di Sumatera Utara.
Data yang digunakan data time series tahun 1990–
2010. Metode analisis data yang digunakan adalah OLS. Hasil pada penelitian ini secara simultan menunjukkan bahwa harga kopi arabika, harga kopi robusta, harga teh, harga gula dan pendapatan perkapita provinsi Sumatra Utara berpengaruh terhadap permintaan kopi di Sumatra Utara. Secara parsial permintaan kopi di provinsi Sumatra Utara dipengaruhi oleh harga gula dan pendapatan per kapita Sumatra Utara. Sedangkan harga kopi arabika, harga kopi robusta dan harga teh tidak berpengaruh terhadap permintaan kopi di provinsi Sumatra Utara.
Komaling (2013) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kopi di Indonesia ke Jepang.
Data yang digunakan adalah data sekunder runtun waktu (time series) periode tahun 19932011.
Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu OLS. Hasil pada penelitian menunjukkan bahwa GDP Jerman, nilai tukar, harga kopi dunia dan konsumsi kopi Jerman berpengaruh secara signifikan terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia ke Jerman, sedangkan harga teh dunia tidak berpengaruh terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia ke Jerman.
Mutia (2015) meneliti pengaruh ekspor
Indonesia ke negara ASEAN (Malaysia, Filipina,
Singapura dan Thailand). Penelitian ini
menggunakan analisis Fixed Effect Model Least
Square Dummy Variable (FEM LSDV). Data yang
digunakan data panel dari tahun 19852012. Hasil
pada penelitian ini PDB riil dan kurs berpengaruh
positif terhadap ekspor Indonesia ke negara ASEAN,
sedangkan inflasi tidak memiliki pengaruh terhadap
ekspor Indonesia ke negara ASEAN.
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
469 Zuhdi (2016) meneliti tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kopi Indonesia dan Vietnam di ASEAN. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data panel dari tahun 2007-2014 yang terdiri dari 5 negara tujuan eskpor kopi yaitu Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam. Penelitian ini menggunakan RCA, EPD, Model Gravitasi dan Regresi Berganda. Hasil dari penelitian tersebut GDP per kapita masing masing negara pengimpor, nilai tukar riil dan harga kopi di negara pengimpor berpengaruh terhadap nilai ekspor kopi Indonesia.
Selanjutnya GDP perkapita, nilai tukar riil dan jarak ekonomi berpengaruh terhadap nilai ekspor kopi Vietnam ke pasar ASEAN. Sedangkan
Hidayah (2017) meneliti pengaruh ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat dengan Pendekatan Error Correction Model (ECM). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder tahun 19902014. Hasil dari penelitian pada jangka panjang harga ekspor kopi domestik, harga ekspor kopi pesaing, dan GDP berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat akan tetapi nilai tukar tidak berpengaruh terhadap volume ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat. Pada jangka pendek, harga ekspor kopi domestik, harga ekspor kopi pesaing, dan GDP berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat, sedangkan nilai tukar tidak berpengaruh terhadap volume ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat.
Anshari et al. (2017) meneliti pengaruh ekspor di negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand). Penelitian ini menggunakan analisis OLS. Data yang digunakan data tahun 20122016. Hasil penelitian secara simultan variabel inflasi dan kurs berpengaruh signifikan terhadap ekspor di negara ASEAN.
Secara parsial, variabel kurs memiliki pengaruh negatif terhadap ekspor ke negara Indonesia, Malaysia dan Singapura. Variabel kurs memiliki pengaruh positif terhadap ekspor di Filipina dan tidak berpengaruh terhadap ekspor di Thailand.
Sedangkan variabel inflasi berpengaruh positif terhadap ekspor di negara Filipina dan tidak berpengaruh di negara Thailand.
Lubis et al. (2018) melakukan penelitian pemasaran dan juga ekspor kopi Aceh menggunakan data time series 19902017 dan menggunakan
analisis Structural Equation Modelling (SEM). Hasil dari penelitian ini yaitu harga kopi domestik dan harga produk substitusi (teh) tidak berpengaruh volume ekspor kopi kopi Aceh. Harga ekspor, nilai tukar, produksi kopi Aceh dan produksi kopi dunia memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap volume ekspor kopi Aceh. Nilai tukar berpengaruh terhadap terhadap volume ekspor kopi Aceh.
Hipotesis
Ada pun hipotesis dari setiap variabel akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Diduga terdapat pengaruh antara GDP riil per kapita Amerika Serikat terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia
2. Diduga terdapat pengaruh antara nilai tukar riil efektif terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia
3. Diduga terdapat pengaruh antara inflasi Indonesia terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia
4. Diduga terdapat pengaruh antara harga kopi dunia terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia
5. Diduga terdapat pengaruh antara harga teh dunia terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia
6. Diduga terdapat pengaruh antara jumlah penduduk Amerika Serikat terhadap permintaan ekspor kopi Indonesia
METODOLOGI PENELITIAN Jenis data dan sumber data
Jenis penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif. Data yang digunakan adalah data
sekunder berbentuk data runtut waktu (time series
data) yaitu dari tahun 19852018. Variabel
dependen yang digunakan adalah permintaan ekspor
kopi Indonesia ke Amerika Serikat, kemudian untuk
variabel independennya GDP riil per kapita Amerika
Serikat, nilai tukar riil efektif, inflasi Indonesia,
harga kopi dunia, harga teh dunia dan populasi
Amerika Serikat. Data bersumber dari situs resmi
Badan Pusat Statistik, World Bank, Kementerian
Perkebunan dan Kementerian Pertanian, dalam
kurun waktu 33 tahun yaitu dari tahun 1985 sampai
tahun 2018.
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
470 Definisi Operasional
a. Ekspor kopi
Dalam penelitian ini yang dimaksud ekspor yaitu volume ekspor kopi Indonesia ke negara tujuan Amerika Serikat (dalam ton) tahun 19852018.
Data diperoleh dari BPS (2020, 1999, 1995, 1992, 1989).
b. GDP riil per kapita Amerika Serikat
GDP riil per kapita adalah produk domestik bruto dibagi dengan total populasi. GDP yang digunakan pada penelitian ini adalah GDP riil per kapita dari negara pengimpor yaitu Amerika Serikat (dalam ribuan Dollar Amerika Serikat) dari tahun 19852018 dengan tahun dasar 2010 yang diperoleh dari World Bank (2020).
c. Nilai tukar riil efektif Amerika Serikat
Nilai tukar riil efektif Amerika Serikat adalah nilai mata uang Amerika Serikat yang digunakan untuk menukarkan barang/jasa dengan negara lain dan sudah disesuaikan dengan tingkat inflasi serta dibandingkan secara relatif terhadap mata uang beberapa negara lain. Dalam penelitian ini, nilai tukar riil efektif tahunan dari 19852018 yang diperoleh dari World Bank (2020).
d. Inflasi Indonesia
Inflasi yang terjadi di Indonesia adalah kenaikan harga yang berlangsung di Indonesia pada periode tertentu. Data yang digunakan yaitu data inflasi negara Indonesia tahun 19852018 yang diperoleh dari World Bank (2020).
e. Harga kopi dunia
Harga kopi Arabika menjadi ukuran harga kopi di pasar internasional. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data tahunan (dalam USD per kilogram) yang diperoleh dari buku Statistik Perkebunan Indonesia untuk komoditas Kopi tahun 20152017, 20162018 dan 20172019 (Ditjen Perkebunan 2016, 2017, 2018).
f. Harga teh dunia
Teh dan kopi merupakan komoditas yang dapat saling menggantikan atau sering juga disebut sebagai barang substitusi. Harga teh dunia merupakan nilai jual atau beli suatu produk barang atau jasa pengganti yang berlaku secara internasional. Data harga teh dunia (dalam USD per kilogram) yang digunakan adalah data tahunan dari 19852018 yang diperoleh dari buku Outlook
Komoditas Perkebunan Teh 2019 yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian (Pusdatin Pertanian, 2019).
g. Populasi Amerika Serikat
Populasi adalah jumlah penduduk yang tinggal dan menetap di Amerika Serikat. Data yang digunakan dalam penelitian ini data tahunan dari 19852018 diperoleh dari World Bank (2020).
Model Ekonometrika
Model ekonometrika yang digunakan pada penelitian ini sebagai berikut:
EXP
i= β
0+ β
1GDP_PCAP
i- β
2EXC_RATE
i+β
3INF_IND
i+ β
4PRC_COFFEE
i+β
5PRC_TEH
I+ β
6POP
i+ e
i(3) di mana:
EXP = permintaan (Volume) ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat (Ribu Ton)
GDP_PCAP = GDP riil per kapita Amerika Serikat (US$)
REER= nilai tukar riil efektif INF_IND = inflasi Indonesia (%)
PRC_COFFEE = harga kopi dunia (US$/kg) PRC_TEH = harga teh dunia (US$/kg) POP = populasi Amerika Serikat
i indeks untuk observasi atau tahun {1985- 2018}
β
0= konstanta/intercept model
β
j= koefisien regresi dari variabel bebas ke-j, dengan j {1, …, 6}
e
i= error term/pengganggu Teknik Analisis Data
Studi ini bertujuan menganalisis pengaruh ekspor kopi Indonesia ke Amerika Serikat tahun 19852018. Karena model ini menggunakan time series data, maka sebelum model disusun terlebih dahulu dilakukan uji stasioneritas untuk seluruh data yang digunakan untuk menyusun model regresi.
Sedangkan untuk mengestimasi koefisien regresi
dalam persamaan (3) digunakan metode regresi
kuadrat terkecil atau OLS yaitu teknik mengestimasi
suatu garis regresi dengan meminimalkan jumlah
kuadrat kesalahan dari setiap observasi terhadap
garis tersebut
1. Oleh karena itu, model regresi yang
diperoleh harus dipastikan memenuhi asumsi klasik
yang meliputi uji normalitas dan uji
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
471 multikolinearitas. Uji autokorelasi dan uji heteroskedastisitas tidak dilakukan karena model regresi disusun menggunakan HAC (Heteroscedasticity and Autocorrelation Consistent) standard error yang dilakukan dengan metode Newey-West (Gujarati, 2012).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Stasioner
Tabel 1 menunjukkan baik variabel tak bebas maupun variabel bebas yang digunakan dalam model regresi sudah stasioner semua, di mana variabel GDP riil per kapita Amerika Serikat, nilai tukar riil efektif dan harga teh dunia stasioner dalam nilai first difference-nya.
Tabel 1 Hasil Uji Stasioner dengan Augmented Dickey Fuller (ADF)
VariabelLevel First Difference
ADF Prob ADF Prob
EXP
2,2424 0,0161**GDP_PCAP
0,5298 0,8724 3.5841 0.0119**REER
1,8529 0,3489 5.0845 0.0002***INF_IND
4,6359 0,0008***PRC_COFFEE
2,5819 0,0968*PRC_TEA
0,6381 0,8485 4.8208 0.0005***POP
6,0748 0,0000***Catatan: (1) ADF = Augmented Dickey-Fuller. (2) *, **, *** berturut-turut signifikan pada α = 10%, 5%,1%.
Uji Multikolinieritas
Tabel 2 menunjukan bahwa koefisien korelasi antar variabel independen kurang dari 0,8
sehingga dapat diduga bahwa tidak ada hubungan linier yang kuat antar variabel bebas atau dengan kata lain tidak terdapat masalah multikolinieritas antar variabel bebas.
Tabel 2 Hasil Uji Multikolinieritas
DGDP_PCAP DREER INF_IND PRC_COFFEE DPRC_TEA POP DGDP_PCAP 1,0000
0,02390,1941 0,0315
0,1177 0,0793DREER
0,02391,0000 02222
0,09520,0430 0,3679
INF_IND 0,1941 0,2222 1, 0000
0,1276 0,1298 0,1768PRC_COFFEE 0,0315
0,0952 0,12761,0000 0,1793 0,3637 DPRC_TEA
0,11770,0430
0,12980,1793 1,0000 0,1301 POP
0,07930,3679
0,17680,3637 0,1301 1,0000 Catatan: Huruf D di depan nama variabel menunjukan kalau variabel tersebut dalam nilai first difference-nya.
Uji Normalitas
Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai probabilitas dari uji Jarque-Bera, yaitu 0,5906,
lebih dari nilai α = 10% sehingga dapat
disimpulkan bahwa error model berdistribusi
normal.
Anna Wijayanti dkk/ JEDI Vol. 4 No. 2 (2021)
472
Tabel 3 Hasil Uji Jarque-Bera untuk Normalitas Error Model
0 1 2 3 4 5 6 7
-25 -20 -15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30
Series: Residuals Sample 1986 2018 Observations 33 Mean -1.70e-15 Median -0.133461 Maximum 28.05283 Minimum -20.19030 Std. Dev. 12.31604 Skewness 0.221498 Kurtosis 2.245173 Jarque-Bera 1.053264 Probability 0.590591