• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BIOGRAFI AL-ALUSI DAN MUSTHAFA AL-MARAGHI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III BIOGRAFI AL-ALUSI DAN MUSTHAFA AL-MARAGHI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

30 BAB III

BIOGRAFI AL-ALUSI DAN MUSTHAFA AL-MARAGHI

A. Al-Alusi dan Tafsir Ruh Al-Ma’ani 1. Riwayat hidup Al-Alusi

Abu Sana‟ Syihab al-Din al-Sayyid Mahmud Afandi al-Alusi al-Bagdadi.

Beliau dilahirkan pada hari Jumat tanggal 14 Sya‟ban tahun 1217 H/1802 M, di dekat daerah Kurkh, Baghdad, Irak.1 Beliau seorang ulama Irak yang pernah menjabat mufti Baghdad, maha guru, pemikir, ahli ilmu agama dan ahli berpolemik. Keluarga besarnya, Al-Alusi, merupakan keluarga terpelajar di Baghdad pada abad ke-19. Nama al-Alusi berasal dari kata Alus, suatu tempat di tepi barat Sungai Eufrat, yaitu antara kota Abu Kamal dan kota Ramadi.2

Sejak ia muda, ia dibimbing oleh ayahnya sendiri yaitu Syaikh al-Suwaidi, selain itu ia juga berguru kepada Syaikh al-Naqsabandi. Dari imam al- Naqsabandiah beliau belajar tentang ilmu tasawuf. Oleh karena itu, wajar jika dalam penafsirannya ia menggunakan pendekatan sufistik sebagai upaya mengungkapkan makna batin (esoteris).3 Pada waktu itu juga, ia sudah rajin mengajar di berbagai perguruan tinggi dan mengarang beberapa buku. Al-Alusi pernah menjadi penanggung jawab wakaf Madrasah Marjaniyah, sebuah yayasan pendidikan yang mensyaratkan penanggung jawabnya adalah seorang tokoh keilmuan di negeri itu, pada tahun 1248. Namun, setelah itu pada tahun 1263 H.

beliau melepaskan jabatan itu dan lebih memilih untuk konsentrasi kepada penyusunan kitab tafsir Ruh al-Ma‟ani4.

Sebagai pendidik, beliau sangat perhatian kepada kebutuhan para muridnya, sehingga banyak orang yang menaruh perhatian kepada pendidikan. Metode pengajaran Al-Alusi adalah mendektekan dan mengemukakan perumpamaan- perumpamaan dengan jelas dan mudah dimengerti. Sebagai mufassir, ia juga menaruh perhatian kepada beberapa ilmu, seperti ilmu Qira‟ah, ilmu Munasabah, dan ilmu Asbabun Nuzul. Ia banyak melihat syair-syair Arab yang mengungkapkan

1 Hamim Ilyas. Studi Kitab Tafsir (Jogjakarta: Teras, 2004), hlm. 153

2 Hafiz Basuki, Ensiklopedi Islam jilid V (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove, 1993), hlm. 130

3 Ibid, hlm. 154

4Sayyid Muhamma Ali Iyaz, Al-Mufassirun Hayatuhum Fi Manhajuhum. (Irsad Al Islam:1212 H.) Cet. I. hlm.483

(2)

31

suatu kata, dalam menentukan Asbabun Nuzulnya.5 Sekitar tahun 1248 H, Al-Alusi mengikuti fatwa-fatwa para kalangan Hanafiyah. Ia sudah mendalami dalam perbedaan madzhab-madzhab serta berbagai corak pemikiran dan aliran akidah.

Hasil karya tulisan beliau antara lain: Hasyiyah „ala al-Qatr al-Salim tentang ilmu logika, al-Ajwibah al-„Iraqiyyah Iraniyyah, Durrah al-Gawas fi Awham al- Khawass, al-Nafakhat al-Qudsiyyah fi Adab al-Bahs Ruh al-Maani fi Tafsir al- Quran al-Azmi wa al-Sab‟i al-Masani dan lain-lain. Beliau wafat pada tanggal 25 Zulhijjah 1270 H, dimakamkan di dekat kuburan Syaikh Ma‟ruf al-Karkhi, salah seorang tokoh sufi yang sangat terkenal di kota Kurkh.6 Setelah meninggal, kitab Ruh Al-Ma‟ani disempurnakan oleh anaknya, as-Sayyid Nu‟man Al-Alusi. Ada yang menyebutkan bahwa nama kitab tersebut diberikan oleh Perdana Menteri Rida Pasya. Tafsir tersebut pernah mendapat sanjungan Sultan Abdul Majid Khan ketika ia mengunjungi kota Constantinopel pada tahun 1267 H dan memperkenalkan karyanya. Dan di kota ini ia pernah menetap selama 2 tahun.7 Al-Alusi di dalam bidang fiqih beliau bermadzhab Syafi‟i, namun dalam banyak hal beliau mengikuti mazhab Hanafi. Bahkan beliau juga memiliki kecenderungan berijtihad. Sedangkan dalam aqidah mengikuti aqidah sunni.

Pada tahun 1252 H. Al Alusi mendapatkan sebuah mimpi, dalam mimpinya Al Alusi diperintahkan oleh Allah untuk melipat langit dan bumi lalu memperbaikinya, kemudian setelah itu Al-Alusi mencari apa maksud dari mimpi tersebut dan pada akhirnya beliau menemukan jawabannya bahwa ternyata Allah memerintahkan untuk meluapkan ilmu-ilmunya ke dalam sebuah ktab salah satunya yaitu kitab tafsir. Ketika Al- Alusi umur 34 tahun Al-Alusi mengarang Kitab Tafsir selama 15 tahun dan selesah sekitar tahun1267 H. muncul nama kitab tafsirnya adalah hasil dari kesepakatan antara Al-Alusi perdana Mentri Ali Ridha Basya.8 Tafsir Ruh al-Ma‟ani dapat dikatakan merupakan rangkuman-rangkuman kitab- kitab tafsir sebelumnya. Ia mengutip dari tafsir Ibn „Athiyyah, Abi Hayyan, al- Khasyaf, Abi Su‟ud, al-Baidhawi, al-Fakhr al-Razi, ia adalah seorang Sunni dan menentang paham Mu‟tazilah dan Syi‟ah.9

5 Hafiz Basuki, Ensiklopedi Islam jilid V(Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove, 1993), hlm. 131.

6 Hamim Ilyas, Studi Kitab Tafsir (Jogjakarta: Teras, 2004), hlm. 155.

7 Sayyid Muhamma ali iyaz, Al Mufassirun‟hayatuhum Fi Manhajuhum. (Irsad Al Islam:1212 H.) Cet.

I. hlm.481

8 Ibid. hlm.482

9 DEPAG. Ensiklopedi Islam. (Jakarta: CV Anda Utama 1993) Jilid 1, hlm 108.

(3)

32 2. Karya-karya Al-Alusi

Hasil karya tulisan beliau antara lain: Hasyiyah „ala al-Qatr al-Salim tentang ilmu logika, al-Ajwibah al-„Iraqiyyah Iraniyyah, Durrah al-Gawas fi Awham al-Khawass, al-Nafakhat al-Qudsiyyah fi Adab al-Bahs Ruh al-Maani fi Tafsir al-Qu‟ran al-Azmi wa al-Sab‟i al-Masani dan lain-lain.Setelah Al-Alusi meninggal, kitab Ruh Al-Ma‟ani disempurnakan oleh anaknya, as-Sayyid Nu‟man al-Alusi.

3. Karakteristik Tafsir Ruh Al-Ma‟ani a. Metodologi Penafsiran

Berbicara metodologi pada prinsipnya adalah berbicara tentang proses dan prosedur dalam melakukan penelitian atau penulisan, termasuk dalam komponen metodologi adalah metode, pendekatan, sistematika penyajian dan sumber sumber penafsiran.

Metode yang dipakai oleh Al-Alusi dalam menafsirkan Al-Qur‟an adalah metode Tahlili.10Salah satu yang menonjol dalam tahlili (analisis) adalah bahwa seorang mufassir akan berusaha menganalisis berbagai dimensi yang terdapat dalam ayat yang ditafsirkan. Maka biasanya mufassir akan menganalisis dari segi bahasa, Asbab al-Nuzul, nasikh-mansukhnya dan lain-lain.

Mashadir (sumber-sumber) penafsiran yang dipakai Al-Alusi berusaha memadukan sumber Al-Ma‟tsur (riwayat) dan Al-Ra‟yi (ijtihad). Artinya bahwa riwayat dari Nabi atau sahabat atau bahkan tabi‟in tentang penafsiran Alquran dan ijtihad dirinya dapat digunakan secara bersama-sama, sepanjang hal itu dapat dipertanggungjawabkan akurasinya. Berdasarkan hal inilah tafsir Al-Alusi digolongkankan kepada tafsir bil-Ra‟yi, karena dalam tafsirnya lebih mendominasi ijtihadnya atau ra‟yinya. Hal ini juga bisa dilihat pada isi muqaddimah kitabnya (pada faedah yang kedua), ia menyebutkan beberapa penjelasan tafsir bil-Ra‟yi dan argumen tentang bolehnya tafsir bil-Ra‟yi, termasuk kitab tafsir bil-Ra‟yinya tersebut.11

b. Kecenderungan Aliran (Naz‟ah/Ittijah)

Naz‟ah/Ittijah adalah sekumpulan dari dasar pijakan, pemikiran yang jelas yang tercakup dalam suatu teori dan yang mengarah pada satu tujuan. Dalam

10 Hamim Ilyas, Studi Kitab Tafsir (Jogjakarta: Teras, 2004), hlm 156

11 Abi Fadl Syihabudin Al Sayid Mahmud Al Alusi al Bagdadi, Ruh Al Ma‟ani (Dar Al Fikr 2013 t.t) juz I.hlm 6

(4)

33

penjelasannya Al-Alusi memiliki kecenderungan banyak menjelaskan makna samar yang diisyaratkan oleh lafadz. Kecenderungan penafsiran seperti ini dinamakan Tafsir (aliran) Isyari/Sufi.

Menurut aliran ini ayat memiliki dua makna, makna dzahir dan makna bathin yang berupa isyarat samar. Isyarat tersebut hanya dapat ditangkap oleh Nabi Saw atau para wali atau Arbab al Suluk (orang-orang yang menapaki jalan untuk mendekati Allah Swt). Tafsir semacam ini apabila didasari istinbath yang bagus, sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan memiliki dalil penguat yang menunjukkan kebenarannya tanpa ada yang menentang maka dapat diterima.

Apabila tidak demikian maka danggap pembodohan.

Menurut Ibn al Qayyim, Tafsir Isyari/Sufi dapat diterima dengan empat syarat, yaitu:

1) Tidak berlawanan dengan makna ayat 2) Makna yang diajukan itu sendiri benar

3) Di dalam lafadz terdapat isyarat makna tersebut

4) Makna isyari dan makna ayat ada pertalian dan talazum (saling menetapkan)

Contoh Tafsir Isyari adalah penafsiran Ibn Abbas pada ayat “ aza jȃ nasr Allah sa al fath”. Menurut beliau apabila kaum muslimini sudah bisa menaklukkan Mekkah berarti pertanda ajal Rasulullah Saw. sudah dekat. Al- Alusi mengemukakan riwayat Izz bi Abd al Salam bahwa Khalifah Ali memutuskan untuk memerangi Mu‟awiyah berdasar makna isyari dari ayat (قسعمح), tapi sayang tidak ada penjelasan lebih detail tentang hal ini.

B. Ahmad Musthafa Al-Maraghi dan Tafsir Al-Maraghi 1. Riwayat hidup Ahmad Musthafa Al-Maraghi

Nama lengkap Al-Maraghi adalah Ahmad Musthafa Ibn Musthafa ibn Muhammad ibn Abd al-Mun‟im al-Qadhi Al-Maraghi. Ia lahir pada tahun 1300 H/1883 M di kota Al-Maraghah, propinsi Suhaj, kira-kira 700 km arah selatan Kairo.12 Ahmad Musthafa Al-Maraghi berasal dari kalangan ulama yang taat dan menguasai berbagai bidang ilmu agama. Hal ini dapat dibuktikan, bahwa 5 dari 8

12 Hasan Zaini, M.A., Tafsir Tematik Ayat-ayat Kalam Tafsir Al-Maraghi, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997), cet.1 hlm. 15

(5)

34

orang putra laki-laki Syekh Musthafa Al-Maraghi (ayah Ahmad Musthafa Al- Maraghi) adalah ulama besar yang cukup terkenal, yaitu:

a. Syekh Muhammad Musthafa Al-Maraghi yang pernah menjadi Syekh Al- Azhar dua periode, tahun 1928-1930 dan 1935-1945.

b. Syekh Ahmad Musthafa Al-Maraghi, pengarang Tafsir Al-Maraghi.

c. Syekh Abdul Aziz Al-Maraghi, pernah menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar dan imam Raja Faruq.

d. Syekh Abdullah Musthafa Al-Maraghi, pernah menjadi inspektur umum pada Universitas Al-Azhar.

e. Syekh Abdul Wafa Musthafa Al-Maraghi, pernah menjadi sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Universitas Al-Azhar13.

Al-Maraghi mula-mula belajar dari buku al-Qaryah dan tidak lama kemudian beliau hafal Al-Qur‟an. Setelah lulus sekolah dasar dan menengah, pada tahun 1314 H orang tuanya menyuruh Al-Maraghi untuk melanjutkan studi di Al- Azhar. Disinilah ia mendalami bahasa arab, tafsir, hadits, fiqih, akhlak dan ilmu falaq. Di antara guru-gurunya, Muhammad Abduh, Syekh Muhammad Hasan Al- Adawy, Syekh Muhammad Bahis Al-Mufthi, dan Syekh Ahmad Rifa‟i Al-Fayumi.

Tidak lama setelah tamat belajar, Al-Maraghi diangkat menjadi guru di beberapa sekolah menengah kemudian diangkat menjadi direktur sebuah sekolah guru di Fayum14.

Pada masa selanjutnya Al-Maraghi semakin mapan, baik sebagai birokrat maupun sebagai intelektual muslim, menjadi Qadi Al-Qudat dan menduduki jabatan Mahkamah Tinggi Syariah hingga tahun 1919, kemudian kembali ke Mesir pada tahun 1920. Pada bulan Mei tahun 1928 M, Al-Maraghi diangkat menjadi rektor Al-Azhar. Usia 47 tepatnya pada tahun 1952 M, ialah merupakan tahun dimana Al-Maraghi meninggal dunia.

2. Karya-karya Ahmad Musthafa Al-Maraghi

Sebagaimana diketahui bahwa selain mengajar, kegiatan ilmiah yang ditekuni Aḥmad Musthafa Al-Maraghi adalah menulis dan mengarang, dan salah satu karya monumentalnya adalah tafsir Al- Marȃghȋ, sebuah kitab tafsir yang beredar dan dikenal di seluruh dunia Islam sampai saat ini. Kitab ini sebagaimana

13 Ibid, hlm. 16

14 Ahmad Musthafȃ al- Marȃghȋ, Tafsir al- Marȃghȋ (Beirut: Dȃr Ihyȃ at-Turȃst al-Arabȋ, t.t), juz I, hlm 5

(6)

35

dijelaskan sendiri oleh pengarangnya diselesaikan dalam masa tujuh tahun dan berakhir pada bulan Dzulhijjah 1365H, di kota Hilwan, Mesir.15 Selain tafsir Al- Maraghi, ia juga menghasilkan beberapa karya lainnya, di antaranya adalah:

1. Tafsir al- Maraghi 2. Ulȗm al- Balaghah 3. Hidayah al- Thȃlib 4. Tahdzib al- Taudhiḥ

5. Buhȗts wa Ara‟ Tarȋkh „Ulȗm al- Balaghah wa Ta‟rif bi Rijalihȃ 6. Mursyid al- Thullȃb

7. Al-Mujȃz Fi al-Adab al-„Arabiy 8. Al-Mujȃz Fȋ „Ulȗm Ushul 9. Diyanah wa al-Akhlȃq 10. al-Hisȃb fȋ al-Islȃm

11. al-Rifq bi al-Hayawan fȋ al-Islȃm 12. Syarḥ Tsalatsȋn Haditsan

13. Tafsir Juz Innamȃ al- Sabȋl 14. Risalah fȋ Zaujat al-Nabi saw.

15. Risalah Itsbȃt ar-Ru‟yah al-Hilȃl fȋ Ramadhȃn

16. Al-Khutab wa al- Khutaba‟ fȋ al- Daulatain al- Umayyah wa al- Abbasiyah 17. al-Muthala‟ah al-„Arabiyah li al-Madȃris al-Sudaniyyah

18. Risalah fȋ Musthala‟ah al- Hadits16. 3. Karakteristik Tafsir Al Maraghi

a. Metodelogi Penafsiran

Dari sisi metodelogi, Al-Maraghi bisa disebut telah mengembangkan metode baru bagi sebagian pengamat tafsir, Al- Maraghi adalah muffasir yang pertama kali memperkenalkan metode tafsir yang memisahkan antara “uraian global” dan “uraian rincian”, sehingga ayat-ayat di dalamnya dibagi menjadi dua kategori ma‟na Ijmali dan ma‟na Tahlili. Sistematika penulisan Tafsir Al- Maraghi ini, dikemukakan seperti penuturannya dalam muqaddimah tafsir tersebut, sebagai berikut:

15 Ahmad Musthafȃ al- Marȃghȋ, Tafsir al- Marȃghȋ (Beirut: Dȃr Ihyȃ at-Turȃst al-Arabȋ, t.t), juz XXX, hlm. 273.

16 Abdul Jalal, Op. cit., hlm. 117-118.

(7)

36

1) Menyampaikan ayat-ayat diawal pembahasan satu atau lebih dari ayat- ayat Al-Qur‟an, sehingga memberikan pengertian yang menyatu.

2) Apabila terdapat ayat-ayat yang sulit dipahami, Al-Maraghi menjelaskan secara mufrodat (kata-kata).

3) Menyebutkan maksud ayat secara ijmali, dengan maksud sebelum memasuki kepada penafsiran terlebih dahulu mengetahui makna ayat- ayat secara ijmali, kemudian ditafsirkan secara rinci.

4) Menyertakan bahasan asbabun nuzul, jika terdapat riwayat shahih dari hadits yang menjadi pegangan para mufassir.

5) Mengesampingkan istilah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, seperti: ilmu sharaf, nahwu, balaghah, dan yang lainnya.

6) Gaya bahasa yang dipergunakan disesuaikan dengan perkembangan pengetahuan masa kini.

7) Sebelum membahas, terlebih dahulu dia mengkaji tafsir terdahulu yang beraneka kecenderungannya serta masa penulisannya, setelah itu baru dia menyajikannya dengan gaya bahasa yang mudah diterima.

8) Dalam pembahasannya, dia tidak memakai cerita-cerita orang dahulu, kecuali yang tidak bertentangan dengan agama serta tidak diperselisihkan17.

Dalam pembahasan kitab tafsir ini mudah dipahami dan enak dicerna, sesuai dengan kebutuhan masyarakat kelas menengah dalam memahami Al- Qur‟an, serta relevan dengan problematika yang muncul pada masa kontemporer.

b. Metode

Adapun metode yang digunakan Al-Maraghi dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an menggunakan metode tahlili, hall itu dilihat dari cara beliau menafsirkanayat-ayat Al-Qur‟an menggunakan metode tahlili, hal itu dilihat dari cara beliau menafsirkannya dengan memulai mengelompokan ayat-ayat menjadi satu kelompok lalu menjelaskan pengertian kata-kata, maknanya secara ringkas,

17Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Terjemah (Toha Putra, Semarang,1993) Juz I, 1985, hlm..

18-22

(8)

37

dan disertai asbabun nuzul, kemudian munasabah ayatnya. Pada bagian akhir, beliau memberikan penafsiran yang rinci mengenai ayat tersebut18.

c. Corak

Kitab Tafsir Al-Maraghi dapat dikatakan kitab tafsir yang memiliki corak Adabi Ijtima‟i, hal itu disebabkan dari uraian dalam kitab tafsirnya menggunakan bahasa yang indah dan menarik dengan berorientasi pada sastra, kehidupan budaya dan masyarakat. Arti umum mengenai corak Adabi Ijtima‟i ini, dijelaskan oleh Husein Adz-Dzahabi, yaitu penafsiran yang menjelaskan ayat-ayat Al- Qur‟an berdasarkan ketelitian ungkapan-ungkapan yang disusun dengan bahasa yang lugas, dengan menekankan tujuan pokok diturunkannya Al- Qur‟an, lalu mengaplikasikannya dengan tatanan sosial, seperti pemecahan masalah-masalah umat islam dan bangsa pada umummya, sejalan dengan perkembangan masyarakat19.

18 Abd. Muin Salim, Metodologi Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Teras, 2005). hlm. 41.

19 Muhammad Husain Al-Dzahabi, Tafsir Wal Mufassirun, , (Kairo : Maktabah Wahbah. 2004) Juz. 1.

hlm. 332

Referensi

Dokumen terkait

terhadap penilaian kinerja UPTD parkir sendiri dalam pelaksanaan pengawasan parkir di kota Pekanbaru khususnya di Kecamatan Sukajadi, dilihat dari adanya

Hal ini dilihat dari nilai p-value untuk model linier maupun square lebih besar dari α = 5%, ini menunjukkan faktor-faktor (variabel bebas) yaitu lama dan suhu fermentasi

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah : untuk mengetahui pengaruh yang di timbulkan oleh program

Inst.sistem AC yg meliputi perangkat AC Indoor unit & Outdoor unit (termasuk dudukannya), pipa refrigrant lengkap dengan isolasidan pipa drain, kabel daya & stop kontak.

Berdasarkan gambar 4.8 diketahui bahwa nilai R square yang terbesar antara skenario 5 dan 6 adalah skenario 6 sebesar 0,9740. Untuk hasil perhitungan perhitungan

Pengelolaan kebudayaan dan kepariwisataan pada satu kawasan merupakan upaya dalam mensinergiskan berbagai kepentingan sebagaimana makna dari suatu kawasan merupakan

Menimbang, bahwa menurut Majelis Hakim tuntutan agar Putusan ini dapat dijalankan terlebih dulu meskipun ada upaya hukum verzet, banding maupun upaya hukum lainnya atau

KOMUNIKASI ANTAR KELOMPOK MASYARAKAT BERBEDA AGAMA DALAM MENGEMBANGKAN RELASI DAN TOLERANSI SOSIAL (Studi kasus pada masyarakat desa Ngadas suku tengger kecamatan