• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar Permukiman 2.1.1 Pengertian Permukiman

Permukiman merupakan lingkungan tempat tinggal manusia dan sekaligus berfungsi sebagai pendukung perikehidupan dan penghidupan para penghuninya. Permukiman tidak sama dengan perumahan. Perumahan lebih tepat didefinisikan sebagai sekelompok atau sekumpulan rumah. Sebagai kelompok rumah, perumahan dapat menjadi bagian dari permukiman. Letak perbedaan antara perumahan dan permukiman terdapat pada fungsinya. Fungsi perumahan hanya sebagai tempat tinggal bagi para penghuninya. Sementara fungsi permukiman adalah sebagai tempat tinggal dan sekaligus tempat mencari nafkah bagi sebagian penghuninya (Sadana, 2014).

Permukiman merupakan perumahan dengan segala isi dan kegiatan yang ada di dalamnya. Sementara perumahan sendiri berarti sebuah wadah fisik, maka permukiman adalah perpaduan antara wadah dengan isinya, yaitu manusia yang hidup bermasyarakat dan berbudaya. Permukiman tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, maka dari itu permukiman didefinisikan sebagai wadah perpaduan dari tiga unsur, yaitu alam (tanah, air, udara), lingkungan (shell) dan jaringan (network), sedangkan isinya yaitu manusia dan masyarakat (Kuswartojo, 1997).

Menurut Budihardjo (1998) permukiman merupakan wadah kehidupan bagi manusia yan tidak hanya menyangkut aspek teknis dan fisik saja melainkan juga menyangkut aspek sosial, ekonomi dan budaya dari penghuninya. Sementara itu, Rapoport dalam Handoko (2008) mengemukakan bahwa permukiman atau settlement pada dasarnya merupakan bagian dari wilayah yang dihuni oleh penduduk (pemukim), berkiprah dalam kegiatan kerja dan usaha, saling berinteraksi dengan sesama pemukim sebagai hubungan bermasyarakat serta memenuhi berbagai kegiatan kehidupan (Rapoport dalam Handoko, 2008).

Proses terbentuknya permukiman berawal dari lingkungan alam. Lingkungan tempat tinggal manusia merupakan bagian dari lingkungan alam. Manusia yang menetap di lingkungan tempat tinggal adalah juga bagian dari lingkungan alam. Hubungan antara manusia, lingkungan tempat tinggal, dan alam menurut Sadana (2004) digambarkan dalam skema berikut.

digilib.uns.ac.id

(2)

14 Gambar 2. 1 Hubungan antara Manusia, Lingkungan Tempat Tinggal, dan Alam

Sumber : Sadana (2014 : 6)

Yunus (1987) mengartikan permukiman sebagai bentukan artifisial maupun natural dengan semua kelengkapan yang digunakan oleh manusia baik individu ataupun kelompok untuk bertempat tinggal dan menyelenggarakan kehidupannya, baik sementara maupun menetap. Permukiman yang bersifat artificial artinya dalam pembentukannya terdapat campur tangan manusia, sedangkan permukiman yang bersifat natural artinya dalam pembentukannya hanya ada proses-proses alami tanpa campur tangan manusia (Yunus, 1987).

Kuswartojo (1997) mengartikan permukiman sebagai wadah untuk kelompok perumahan yang mana terdapat bagian pelengkap lingkungan sekitar. Ritohardoyo (1989) mengungkapkan bahwa permukiman adalah kelompok-kelompok manusia berdasarkan satuan tempat tinggal, termasuk fasilitas-fasilitasnya meliputi bangunan rumah, serta jalur jalan yang melayani kehidupan manusia tersebut. Di dalam UU No.1 Tahun 2011 juga dijelaskan bahwa perumahan dan permukiman harus dilengkapi dengan sarana penunjang kehidupan sosial, ekonomi dan budaya, serta prasarana yang meliputi jaringan jalan, jaringan air bersih, air kotor, telekomunikasi, listrik, dan sistem pengelolaan sampah.

Pada umumnya, manusia memiliki tiga macam kebutuhan primer, yakni pangan, sandang, dan papan. Pada zaman dahulu, teknologi yang dikenal manusia belum semaju seperti saat ini. Dengan teknologi yang sangat terbatas maka untuk memenuhi kebutuhan primer manusia hanya mengandalkan alam. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan papan, manusia memilih untuk bertempat tinggal di gua-gua. Tempat tinggal yang seperti ini bersifat non- permanen atau hanya sementara. Setelah manusia mengenal system bercocok tanam, barulah manusia mulai membangun tempat tinggal yang permanen. Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung hidup secara berkelompok. Kelompok-kelompok manusia yang menetap di suatu

digilib.uns.ac.id

(3)

15 tempat lambat laun akan menjadi semakin ramai dan tumbuh menjadi area permukiman (Sadana, 2014). Gambaran proses terbentuknya permukiman dijelaskan dalam gambar berikut.

Gambar 2. 2 Proses Terbentuknya Permukiman Sumber : Sadana (2014 : 8)

Menurut Doxiadis (1977) permukiman ialah totalitas lingkungan yang terbentuk atas 5 (lima) unsur utama berikut.

1. Alam (nature)

Lingkungan permukiman terdiri atas lingkungan biotik dan lingkungan abiotik.

2. Manusia (antropos)

Permukiman terbentuk atas dinamika dan kinerja manusia.

3. Masyarakat (society)

Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung hidup secara berkelompok dan membentuk kelompok masyarakat.

4. Ruang kehidupan (shell)

Ruang kehidupan menyangkut kiprah kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat.

5. Jaringan (network)

Permukiman terdiri atas unsur-unsur penunjang kehidupan seperti jaringan jalan, jaringan air bersih, jaringan drainase, telekomunikasi, listrik, dan persampahan.

Klasifikasi permukiman berdasarkan pertumbuhannya dikemukakan oleh Wesnawa (2015) yang terdiri dari permukiman muda, dewasa dan tua. Berikut adalah penjelasan detail mengenai masing-masing klasifikasi permukiman seperti yang disebutkan di atas :

1. Permukiman Muda

Permukiman yang tumbuh secara cepat (instant) di lahan baru dan sangat terpengaruh oleh hasil pengembangan dari pengembang/ developer, contohnya : komplek perumahan Perumnas, BTN, dan perumahan swadaya masyarakat. Permukiman muda memiliki ciri karakteristik pemukimnya yang merupakan pendatang baru yang menempati perumahan yang dekat dengan tempat kerjanya. Ciri-ciri yang lain yaitu rata-rata pemukimnya berusia muda atau

digilib.uns.ac.id

(4)

16 keluarga baru dengan anak-anak yang masih muda, bekerja di bidang jasa/ pelayanan, pemerintahan, dan perdagangan.

2. Permukiman Dewasa dan Permukiman Tua

Secara umum, ciri dari kedua jenis permukiman ini hampir sama, yaitu tumbuh secara infiltrasi (sedikit demi sedikit) dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar permukiman penduduk yang telah ada. Penyebabnya adalah karena ada batas-batas alam maupun kekuatan adat-istiadat yang terdapat pada suatu komplek permukiman dewasa maupun tua. Permukiman tua sering diindikasi sebagai bangunan bersejarah seperti kompleks keraton yang sangat tidak memungkinkan terjadinya pertumbuhan permukiman karena dilindungi oleh pemerintah.

2.1.2 Pola Persebaran Permukiman

Menurut Singh dalam Pelambi (2016) persebaran permukiman dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu :

1. Pola sebaran permukiman mengelompok, pola ini biasanya dipengaruhi oleh faktor- faktor permukaan lahan yang datar, lahan subur, curah hujan yang relatif kurang, kebutuhan akan kerja sama, ikatan sosial, ekonomi, dan lokasi pertanian. Wesnawa (2015) juga menyebutkan bahwa kedalaman sumber mata air, dalam hal ini sumur menyebabkan pemusatan penduduk.

2. Pola sebaran permukiman tersebar, pola ini biasanya dipengaruhi oleh topografi yang kasar, keanekaragaman kesuburan lahan, curah hujan, air permukaan yang melimpah, keamanan waktu lampau dan suasana kota.

3. Pola sebaran permukiman seragam, pola ini biasanya dipengaruhi oleh lingkungan fisikal seperti relief, sumber air, jalur drainase, kondisi jalan, serta kondisi sosial ekonomi, tata guna lahan, rotasi tanaman, prasarana transportasi, komunikasi serta kepadatan penduduk.

Hagget dalam Wesnawa (2015) juga mengklasifikasikan pola persebaran permukiman menjadi tiga yaitu : a. uniform (seragam), b. random (acak), dan c. clustered (mengelompok).

Untuk menentukan pola sebaran permukiman, Hagget merumuskan suatu cara mengukur pola sebaran permukiman dengan model analisis tetangga terdekat atau neighbour analysis. Model analisis ini digunakan untuk menghitung besar parameter tetangga terdekat atau T, dengan rumus sebagai berikut :

T =𝐽𝑢 𝐽ℎ Keterangan :

T : angka indeks tetangga terdekat

Ju : jarak rata-rata diukur dari satu titik dengan titik tetangga yang terdekat digilib.uns.ac.id

(5)

17 Jh : jarak rata-rata yang didapat andaikata semua titik memiliki pola random, dihitung dengan rumus : 𝐽ℎ = 1

2√P dimana P merupakan kepadatan titik (N) per luas wilayah dalam kilometer persegi (A) atau dapat dirumuskan sebagai berikut: p = N

A

Untuk mengetahui apakah pola sebaran permukiman yang dianalisis termasuk ke dalam kategori mengelompok, random, atau seragam, berikut adalah kontinum nilai parameter tetangga terdekat (T) untuk masing-masing pola sebaran permukiman :

T = 0 – 0.7 Pola bergerombol/ mengelompok T = 0.71 – 1.4 Pola acak

T = 1.41 – 2.15 Pola tersebar merata

Persebaran permukiman juga dapat dipengaruhi oleh faktor ketinggian tempat suatu wilayah. Wesnawa (2015) menyebutkan bahwa semaki tinggi letak suatu tempat pada suatu wilayah maka pola sebaran permukimannya semakin tersebar tidak teratur. Hal ini dikarenakan semakin tinggi suatu tempat maka topografinya semakin kasar, sehingga memicu penduduk untuk membangun rumah pada tempat-tempat yang memiliki topografi datar. Oleh karena itu sangat tidak memungkinkan adanya pengelompokan permukiman di wilayah yang tinggi.

2.1.3 Perkembangan Permukiman

Perkembangan permukiman dapat diartikan menjadi pemekaran permukiman. Hal ini dikarenakan arti perkembangan sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “mekar, membentang, atau makna yang lain yaitu bertambah besar (luas, banyak, dan sebagainya)”.

Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa adanya pertumbuhan permukiman menyebabkan permukiman menjadi berkembang, ditinjau dari luas maupun jumlahnya.

Menurut Wesnawa (2015), permukiman dapat berkembang secara ekstensif, artinya bahwa perkembangan tersebut terjadi secara keseluruhan ke segala arah.

Ilhami (1990) juga menjelaskan bahwa permukiman berkembang karena faktor pendorong utamanya adalah pertumbuhan penduduk, keadaan sosial ekonomi masyarakat, serta bertambahnya kegiatan masyarakat. Pada mulanya perkembangan permukiman berawal dari desa yang mengalami perkembangan pasti menuju sebuah kota. Faktor yang mendorong perkembangan kawasan sendiri adalah karena kawasan tersebut berhasil menumbuhkan pusat kegiatan tertentu, misalnya suatu desa yang menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pertambangan, pusat pergantian transportasi (menjadi pelabuhan, persilangan/

pemberhentian kereta api, terminal bus, dan sebagainya).

Berdasarkan teori Wesnawa (2015) perkembangan permukiman terpengaruh oleh kebijaksanaan kependudukan dan lingkungan hidup. Maksudnya bahwa penduduk merupakan

digilib.uns.ac.id

(6)

18 unsur utama dalam pembangunan sehingga memungkinkan lingkungan hidup menjadi penunjang proses pembangunan secara berkelanjutan. Dalam hal ini kebijaksanaan penduduk atau pengembangan yang dilakukan oleh manusia lah yang menjadi titik sentral penggerak pembangunan, termasuk pada sektor permukiman (Wesnawa, 2015).

Bintarto (1977) juga mengemukakan bahwa pada dasarnya permukiman dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor fisik maupun non-fisik. Permukiman tidak tumbuh serta merta, melainkan ada penggerak yaitu manusia yang mengembangkannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (Bintarto, 1977). Menurut Sujarto (1985) faktor-faktor perkembangan dan pertumbuhan suatu kawasan harus dapat mengembangkan maupun menumbuhkan kawasan tersebut menuju arah tertentu. Klasifikasi faktor utama yang menentukan pola perkembangan dan pertumbuhan kawasan terdiri atas dua faktor, yaitu:

1) Faktor Manusia

Faktor manusia ini menyangkut perkembangan penduduk yaitu perkembangan penduduk karena kelahiran atau karena migrasi. Selain itu juga menyangkut perkembangan tenaga kerja, perkembangan status sosial dan perkembangan kemampuan pengetahuan dan teknologi.

2) Faktor Kegiatan Manusia

Faktor kegiatan manusia yaitu menyangkut segi kegiatan kerja, kegiatan fungsional, kegiatan perekonomian dan kegiatan hubungan regional. Faktor kegiatan manusia ini disebabkan oleh faktor perkembangan penduduk disertai dengan perkembangan fungsi kegiatan yang menuntut pola perhubungan antara pusat-pusat kegiatan tersebut.

Di dalam kawasan permukiman tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, namun juga terdapat fungsi-fungsi lain seperti pendidikan, perdagangan yang mempunyai aksesibilitas maksimum (Camm dan Irwin, dalam Amila 1996). Permukiman dapat cepat berkembang lebih cepat apabila terdapat akses yang mudah menuju pusat-pusat kegiatan di suatu kawasan.

Kawasan permukiman adalah bentuk penggunaan tanah di dalam kota untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia dan merupakan rangkaian tempat tinggal dalam berbagai ukuran, usia, kualitas maupun gaya yang berbeda-beda.

Menurut Yunus (1987) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman adalah faktor alam, faktor lokasi, faktor aksesibilitas & transportasi, faktor pertumbuhan penduduk dan faktor ekonomi. Shafarani (2015) mengemukakan faktor penentu berkembang serta berubahnya pola permukiman di pesisir yaitu :

a) Kepadatan penduduk, kebudayaan dan kondisi manusia

b) Akses transportasi

c) Kegiatan utama (kegiatan maritim)

d) Ketersediaan dan daya dukung lahan untuk dibangun

digilib.uns.ac.id

(7)

19 Tabel 2. 1 Sintesis Teori Perkembangan Permukiman

Ilhami (1990) Sujarto (1985) Camm & Irwin dalam Amila

(1996)

Yunus (1987) Sintesis

Pertumbuhan penduduk

Perkembangan penduduk baik karena migrasi ataupun kelahiran

Pertumbuhan penduduk

Demografi

Muncul pusat kegiatan baru

Ada kegiatan fungsional yang berkembang

Pusat kegiatan baru

Keadaan ekonomi berkembang

Terdapat kegiatan perekonomian

Faktor ekonomi Peluang ekonomi

Kegiatan masyarakat bertambah

Terdapat kegiatan kerja

Aksesibilitas yang maksimum

Faktor

aksesibilitas dan transportasi

Aksesibilitas

Faktor alam Faktor alam Faktor lokasi Faktor lokasi Sumber : Peneliti, 2018

2.1.4 Teori Lokasi Permukiman

Dari teori-teori di atas sebelumnya, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa perkembangan permukiman juga ditentukan oleh persebaran permukiman itu sendiri, dimana persebaran permukiman terkait erat dengan persebaran penduduk. Goodall dalam Trikorawati (2002) menyebutkan beberapa pertimbangan keluarga dalam memutuskan lokasi tempat tinggal yaitu antara lain :

a) Pendanaan keluarga atau penghasilan total yang dihasilkan dalam satu keluarga termasuk penghasilan dari usaha untuk membeli tanah dan membuat rumah.

b) Akses ke tempat kerja, dapat berupa besaran biaya yang dikeluarkan setiap melakukan perjalanan menuju tempat kerja.

c) Status keluarga, beberapa keluarga memutuskan untuk tinggal di dekat kerabatnya.

Status keluarga juga biasanya terkait dengan sistem waris dari keluarga.

d) Faktor lain, yaitu faktor yang mempertimbangkan rata-rata penghuni suatu permukiman, misalnya ditinjau dari kehidupan, etnis/ suku, lingkungan, dan sebagainya.

Osman (2014) menyebutkan hal-hal yang diperhatikan dalam pemilihan lokasi perumahan/ permukiman seperti berikut :

1. Teknis Pelaksanaan : konstruksi bangunan mudah, tidak rawan bencana, mudah dicapai, kondisi struktur tanah baik, tersedia jaringan utilitas, tersedia bahan bangunan, tersedia sumberdaya manusia.

digilib.uns.ac.id

(8)

20 2. Tata Guna Tanah : tanah tidak produktif atau bukan merupakan lahan persawahan, perkebunan dan lahan usaha, tidak akan merusak lingkungan, dapat mempertahankan reservoir air, penampung air hujan, dan penahan abrasi air laut.

3. Teknis Kesehatan dan Kemudahan : jauh dari pabrik, jauh dari kebisingan, udara bersih dan sehat (jauh dari polusi), mudah utilitas dan fasilitas pelayanan umum & sosial, mudah dicapai dari tempat kerja.

4. Pengaturan Daerah Perumahan : aksesibilitas jaringan jalan yang baik dan nyaman, susunan kapling yang jelas sehingga jauh dari konflik, tersedia lahan untuk berbagai fasilitas, terlayani jaringan utilitas yang memadai, keterpaduan dengan lingkungan yang ada

Koestoer (1997) mengatakan bahwa faktor-faktor sosial dan fisik sangat menentukan pilihan lokasi bermukim bagi masyarakat. Dalam hasil penelitiannya, didapatkan faktor aksesibilitas yang merupakan pengaruh utama seseorang memilih lokasi tempat tinggal, terutama faktor kemudahan transportasi dan kedekatan jarak dengan tempat kerja. Kemudian faktor lainnya seperti ikatan tali keluarga (kindship) yang juga mempengaruhi seseorang untuk bermukim.

Jayadinata (1986) mengungkapkan bahwa pilihan tempat tinggal ditinjau dari orientasi sosial dimana pada umumnya seseorang ingin tinggal berdekatan dengan tetangga agar dapat hidup gotong royong, dan jika ditinjau dari orientasi ekonomi maka seseorang memilih tinggal di tempat yang berdekatan dengan tempat kerjanya dan mudah untuk mencapai prasarana sosial ekonomi seperti jalan, sekolah, pasar, tempat belanja, tempat ibadah, dan lain-lain.

Kemudian Lusht (1997) mengatakan bahwa kualitas kehidupan yang berupa kenyamanan dan keamanan dari suatu tempat tinggal ditentukan oleh lokasinya, dalam hal ini daya tarik suatu lokasi ditentukan dari dua hal yaitu : aksesibilitas dan lingkungan. Aksesibilitas merupakan daya tarik dimana calon penghuni akan memperoleh kemudahan menuju ke tempat- tempat yang diinginkan serta kemudahan mendapatkan pelayanan dan transportasi umum, atau bisa juga dilihat dari kondisi jalan (lebar jalan) yang artinya semakin sempit lebar jalan maka berarti aksesibilitas tempat tersebut kurang baik.

Von Thunen dalam Trikorawati (2002) menyebutkan bahwa secara umum ada dua macam daya tarik suatu lokasi yaitu terkait aksesibilitas atau kemudahan mencapai tempat kerja, belanja, kesehatan, sekolah, rekreasi, ibadah dan lokasi lainnya dan juga terkait lingkungan fisik seperti topografi, kebersihan air, udara, kenyamanan dan keadaan sosial lingkungannya.

digilib.uns.ac.id

(9)

21 Tabel 2. 2 Sintesis Teori Lokasi Permukiman

Goodall dalam Trikorawati (2002)

Osman (2015) Koestoer (1997) Jayadinata (1986) Lusht (1997) Von Thunen dalam Trikorawati

(2002)

Sintesis

Kemudahan konstruksi Konstruksi bangunan mudah;

Struktur tanah baik;

Mudah mendapat material bangunan;

Tersedia sumberdaya manusia

Kondisi fisik alam

Bukan daerah bencana Tidak rawan bencana Daerah

tidak rawan bencana Bukan lahan produktif Tanah tidak produktif;

Bukan lahan sawah, kebun dan usaha

Memiliki aksesibilitas yang baik

Mudah dicapai Kemudahan

transportasi

Kemudahan pelayanan

transportasi umum

Aksesibilitas

Aksesibilitas jaringan jalan yang baik

Tersedia jaringan jalan

Kondisi lebar jalan

Dekat dengan tempat kerja Mudah dicapai dari tempat kerja

Kedekatan dengan tempat kerja

Kemudahan mencapai tempat kerja

Jaringan utilitas Prasarana

Ketersediaan sistem drainase

Ketersediaan listrik

Ketersediaan prasarana air limbah

Tersedia reservoir air;

Tersedia penampung air hujan;

Tersedia penahan abrasi air laut

Status keluarga Ikatan keluarga

digilib.uns.ac.id

(10)

22 Goodall dalam

Trikorawati (2002)

Osman (2015) Koestoer (1997) Jayadinata (1986) Lusht (1997) Von Thunen dalam Trikorawati

(2002)

Sintesis

Hubungan sosial yang erat

Sosial demografi Keamanan

Jauh dari kebisingan;

Jauh dari pabrik

Jauh dari kebisingan;

Jauh dari pabrik;

Jauh dari polusi;

Berpadu dengan

lingkungan yang ada

Kenyamanan

Dekat dengan fasilitas Tersedia fasilitas pelayanan umum & sosial

Dekat dengan sekolah

Dekat dengan sekolah

Sarana/

fasilitas Tersedia lahan untuk

fasilitas

Dekat dengan pasar Dekat dengan

tempat belanja Dekat dengan

tempat ibadah

Dekat dengan tempat ibadah Dekat dengan pusat kesehatan

Lokasi strategis Lokasi

strategis Kemampuan masyarakat

untuk membeli tanah

Harga tanah

Sistem waris Susunan kapling jelas Sistem

waris Sumber : Peneliti, 2018

digilib.uns.ac.id

(11)

23 2.2 Teori Wilayah Pesisir

Menurut Supriharyono (2000) wilayah pesisir merupakan pertemuan antara daratan dan laut, dimana wilayah pesisir ke arah darat meliputi daratan kering maupun terendam air, yang mana wilayahnya masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti angin laut, pasang surut, dan perembesan air.

Menurut Kay, dkk dalam Rabiatun (2012) “The band of dry land adjancent ocean space (water dan submerged land) in wich terrestrial processes and land uses directly affect oceanic processes and uses, and vice versa”. Definisi tersebut memiliki artian bahwa batasan dari wilayah daratan kering dengan wilayah laut terdapat pada proses terestrial dan penggunaan lahannya, yang mana masih terpengaruh secara langsung oleh proses dan aktivitas dari laut, dan juga berlaku sebaliknya.

Batasan wilayah pesisir cenderung menyesuaikan dengan batas yuridis yang berlaku di setiap propinsi (Supriharyono, 2000). Rabiatun (2012) menyebutkan bahwa pada umumnya wilayah di pesisir laut memiliki kontur yang relatif datar. Menurut Bengen dalam Rabiatun (2012) ekosistem wilayah pesisir dan lautan berdasarkan dimensi ekologis memiliki empat fungsi pokok bagi kehidupan manusia, antara lain (1) sebagai penyedia sumberdaya alam; (2) penerima limbah;

(3) penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan manusia; dan (4) penyedia jasa-jasa kenyamanan.

Terdapat beberapa hal mendasar yang dapat mempengaruhi perkembangan suatu wilayah pesisir yang diungkapkan oleh Nursari (2015), di antaranya :

1) Kajian biogeofisik;

2) Kondisi ekonomi;

3) Kondisi sosial dan budaya;

4) Kelembagaan masyarakat; dan 5) Kebijakan yang ada.

Wilayah pesisir memiliki banyak potensi namun juga memiliki berbagai permasalahan.

Potensi di kawasan pesisir menurut Simanjuntak (2014) adalah sebagai berikut.

1) Merupakan dataran subur yang memiliki berbagai sumberdaya mineral.

2) Muka air tanah tinggi sehingga ketersediaan air cukup banyak.

3) Menjadi percepatan pengembangan kawasan karena lokasi mempunyai akses langsung ke air.

4) Salah satu alternatif pemecahan masalah penyediaan perumahan sebagai akibat kekurangan lahan baru (semakin mahal dan terbatas).

5) Adanya potensi wisata yang dapat dikembangkan.

digilib.uns.ac.id

(12)

24 Tabel 2. 3 Sintesis Teori Wilayah Pesisir

Supriharyono (2000) Menurut Kay, dkk dalam Rabiatun (2012)

Bengen dalam Rabiatun (2012)

Nursari (2015)

Simanjuntak (2014) Sintesis

Kajian biogeofisik

Dataran yang subur

Kondisi fisik Ketersediaan air

bersih banyak Klimatologi (iklim, cuaca, angin, suhu, dan kelembaban) tinggi

Sumberdaya alam Sumberdaya alam

mineral

Sifat-sifat kelautan Aktivitas teristrial Intrusi air laut

Ada ancaman bencana alam Rawan bencana

tsunami

Tingkat abrasi dan akresi tinggi Lapangan

pekerjaan

Peluang ekonomi Kondisi

ekonomi

Potensi wisata

Kenyamanan Kenyamanan

Kondisi sosial dan budaya

Kondisi sosial dan budaya Percepatan

pengembangan kawasan

Percepatan pengembangan

kawasan

Kelembagaan Kelembagaan

dan kebijakan

Kebijakan Kebijakan

Sumber : Peneliti, 2018

digilib.uns.ac.id

(13)

25 2.3 Sintesis Variabel

Variabel pada penelitian ini ditentukan berdasarkan hasil sintesa teori dari kajian literatur.

Sintesis teori merupakan penyandingan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli untuk kemudian direduksi menjadi variabel. Sintesis teori faktor perkembangan permukiman di kawasan pesisir terdiri dari penggabungan teori faktor perkembangan permukiman, teori lokasi permukiman dan teori wilayah pesisir. Teori perkembangan permukiman sendiri didapatkan dari hasil penggabungan teori permukiman dengan teori faktor pembentuk pola permukiman.

Tabel 2. 4 Sintesis Variabel Faktor Perkembangan Permukiman di Kawasan Pesisir Teori Perkembangan

Permukiman

Teori Lokasi Permukiman

Teori Wilayah Pesisir Sintesis Variabel

Faktor alam Faktor kondisi fisik Kondisi fisik

Kondisi fisik Daerah tidak rawan

bencana

Ada ancaman bencana alam

Pemahaman kebencanaan

Faktor demografi Faktor sosial demografi Kondisi sosial dan budaya

Sosial demografi

Faktor lingkungan

Kenyamanan

Aksesibilitas Aksesibilitas Aksesibilitas

Prasarana Prasarana

Sarana/ fasilitas Sarana/ fasilitas

Peluang ekonomi Peluang ekonomi Peluang ekonomi

Faktor lokasi Lokasi strategis

Kelembagaan dan kebijakan

Kelembagaan dan kebijakan

Pusat kegiatan baru Percepatan

pengembangan kawasan

Pengembangan kawasan

Harga tanah Harga tanah

Sistem waris Sistem waris

Sumber : Peneliti, 2018

Dari tabel variabel di atas tidak semua dipilih untuk dijadikan variabel penelitian. Variabel yang tidak terpilih menjadi variabel penelitian disebut variabel kontrol. Variabel kontrol pada penelitian ini yaitu kelembagaan dan kebijakan. Variabel ini tidak diteliti karena keberadaannya sangat sedikit dan dirasa kurang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan permukiman, sehingga variabel ini dianggap konstan.

digilib.uns.ac.id

Referensi

Dokumen terkait

Edukasi pada program acara Asyik Belajar Biologi dalam Mata Pelajaran. IPA

Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita saja, melainkan juga pada orang tuanya. Mengapa demikian? Siapapun orangnya

yang inovatif sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan hanya dijual mentah saja, seperti mengolah ikan lele menjadi abon lele. Oleh karena itu

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat pinggiran kota Medan yang terdiri dari kecamatan Medan Tembung, Medan Denai, Medan Tuntungan dan Medan Amplas.. Data

Dibandingkan dengan ekstrak etanol daun mindi konsentrasi 15% memang hasil yang diperoleh terlihat berbeda tetapi karena perbedaan konsentrasi yang lebar maka tidak

Setelah melihat hasil dari pengujian yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ke enam variabel bebas yaitu ukuran perusahaan,

Jika jumlah luas daerah yang tidak diarsir seluruhnya pada bangun tersebut 50 cm 2 , maka luas daerah yang diarsir adalah ...... Keliling bangun ABCDE di bawah

Surat undangan ini disamping dikirimkan melalui email juga ditayangkan pada website SPSE Kabupaten Bolaang Mongondow, oleh karenanya Pokja tidak dapat menerima