• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan alat komunikasi yang utama bagi manusia, tidak dapat lagi dipisahkan dari manusia dan mengikuti di setiap kegiatannya. Menurut Harimurti Kridalaksana (dalam Aminuddin, 2001:28) menjelaskan bahwa bahasa adalah system lambing arbiter yang digunakan suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Bahasa memegang peranan penting dalam masyarakat, karena bahasa merupakan alat komunikasi sosial. Di dalam masyarakat ada komunikasi atau saling berhubungan antara anggota. Untuk keperluan itu, dipergunakan suatu wahana yang dinamakan bahasa. Dengan demikian, setiap masyarakat dipastikan memiliki dan menggunakan alat komunikasi sosial tersebut. Tidak ada masyarakat tanpa bahasa, dan tidak ada pula bahasa tanpa masyarakat (Soeparno, 2002:5). Kebudayaan suatu daerah dapat diketahui berdasarkan bahasa. Semua kebudayaan daerah merupakan rekaman kebudayaan Indonesia dari kurun waktu yang lama, yang mengandung berbagai macam lukisan kebudayaan, buah pikiran, ajaran budi pekerti, nasihat, hiburan, pandangan hidup dan sebagainya.

Koentjaraningrat (1987:9) mengatakan bahwasanya kebudayaan adalah seluruh gagasan manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Dalam kebudayaan tercakup hal-hal bagaimana tanggapan masyarakat terhadap dunianya. Lingkungan serta

commit to user

(2)

masyarakatnya. Wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1987:5) dibagi menjadi 3 wujud yaitu :

1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, norma-norma, nilai-nilai, peraturan, dan sebagainya.

2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.

3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Wujud yang pertama adalah wujud idiil dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tidak dapat dirasa atau difoto, berada dalam pikiran dari warga masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Kebudayaan idiil ini dapat kita sebut sebagai adat kelakuan yang mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalm masyarakat.

Wujud yang kedua adalah system sosial, mengenai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu sama lain. Yang setiap hari mengikuti pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat, maka sistem sosial itu bersifat konkret terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan.

Wujud yang ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik, dan memerlukan keterangan banyak, karena merupakan seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya manusia dalam masyarakat, maka sifatnya paling konkret, dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto.

commit to user

(3)

Salah satu hasil atau wujud kebudayaan adalah karya manusia dalam masyarakat yang berupa benda-benda atau hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto.

Jadi kebudayaan yang berupa benda-benda tersebut merupakan rekaan atau gambaran dari aktivitas yang terjadi dimasa lalu seperti misalnya arsitektur bangunan rumah, tempat beribadah, dan lain-lainnya.

Kata arsitektur berarti seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan, jembatan, dan lain sebagainya, atau bisa diartikan sebagai metode atau gaya rancangan suatu konstruksi bangunan1.

Menurut Marcus Pollio Vitruvius, seorang bapak arsitektur dunia yang sangat terkenal melalui karyanya De Architecture ini menyatakan bahwa arsitektur adalah sebuah sebuah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, yang dilengkapi dengan proses belajar dibantu dengan penilaian terhadap suatu karya tersebut sebagai wujud karya seni. Ilmu-ilmu lainnya yang dimaksud ialah seperti seni, teknologi, humaniora, politik, sejarah, filsafat, dan lain sebagainya. Ia juga menjelaskan bahwa suatu bangunan yang baik haruslah memiliki tiga unsur penting yaitu, keindahan / estetika (venustas), kekuatan (firmitas), dan kegunaan / fungsi (utilitas), sehingga arsitektur dapat dikatakan sebagai suatu keseimbangan dan koordinasi sempurna antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya.

Dari beberapa uraian diatas definisi makna dari arsitektur dalam konteks hubungannya dengan penelitian ini memiliki arti suatu bentuk, dan unsur-unsur pembangunnya yang menjadi satu kesatuan membentuk suatu hasil karya yang berupa bangunan yang juga memiliki unsur-unsur seni serta nilai-nilai makna commit to user

(4)

kehidupan dan semua itu di implementasikan dalam bentuk bangunan berbentuk masjid.

Salah satu wujud bangunan peninggalan orang Jawa untuk beribadah, terlebih untuk umat muslim terdahulu yang sampai sekarang ini masih berdiri, dan terawat yaitu masjid. Masjid merupakan sebuah bangunan atau rumah tempat ibadah umat islam atau muslim. Masjid berarti tempat beribadah. Akar kata masjid adalah sajada di mana berarti sujud atau tunduk. Kata masjid sendiri berakar dari bahasa Aram. Kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke 5 sebelum Masehi. Kata masgid ini berarti “tiang suci” atau “tempat sembahan”

(Hillenbrand, R, 1994:1). Masjid yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu Masjid Makam Menara Kudus, yang letaknya berada di wilayah Desa Kauman Kulon

kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Propinsi Jawa Tengah.

Masjid Makam Menara Kudus berada ditengah pemukiman penduduk dan terletak di tanah datar. Batas yang memisahkan masjid dengan lingkungan sekitarnya adalah di sebelah utara, selatan, dan barat berbatasan dengan pemukiman penduduk, sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan jalan raya. Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari sebuah inskripsi pada prasasti batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang hingga saat ini masih tersimpan dengan baik pada mihrab masjid yang ditulis dengan menggunakan bahasa Arab. Selain itu, secara garis besar desain pembangunan masjid ini terdiri dari beberapa bagian yaitu seperti, (1) Menara, (2) Serambi, (3) Ruang Dalem / Ruang Utama, (4) Pawestren, (5) Makam, (6) Tajugan / Bale-bale, dan (7) Padasan.

commit to user

(5)

Adapun beberapa contoh dari leksikon arsitektur Masjid Makam Menara Kudus yakni :

No. Leksikon Fungsi Wujud Letak Makna

1 Blêndhuk sebagai atap pada bagian serambi sisi timur dan pilar

terdepan masjid.

Cembung atau setengah lingkaran

Di bagian serambi sisi timur /

bagian depan masjid

Berarti ‘besar di bagian tengah’ dalam penyebutannya diibaratkan seperti

bagian perut yang buncit atau (wanita) hamil bagi masyarakat.

2 Cungkup Rumah kubur atau pelindung dari makam

Bangunan beratap tanpa

dinding

Di area komplek

makam

Sebagai simbol penghormatan dan

perlindungan bagi mereka yang telah

wafat.

3 Jam Sebagai pemberi informasi

waktu

Berbentuk lingkaran

Di bagian atas dari

menara masjid

Sebagai pengingat waktu agar tidak lupa

dengan waktunya untuk beribadah.

4 Luwur Sebagai alat untuk menghiasi

ruangan makam

Kain mori yang melintang

Di area ruang makam

Sebagai penanda makam atau area makam tersebut merupakan area sakral

atau suci.

5 Makam Sebagai rumah terakhir bagi

jasad

Berbentuk persegi panjang

Di area komplek

makam

Sebagai pengingat kematian bahwasanya

manusia yang hidup nantinya juga akan

seperti mereka dimakamkan Tabel 1.1 contoh leksikon arsitektur

Penjelasan diatas merupakan beberapa contoh yang berkaitan dengan bentuk satuan lingual serta ekspresi verbal dan nonverbal yang terdapat pada arsitektur struktur bangunan Masjid Makam Menara Kudus. Seperti pada leksikon umpak yang memiliki bentuk satuan lingual berupa sebuah kata dasar, yang belum

mengalami proses gramatikal (monomorfemis). Kata umpak berarti berupa batu atau tembok berbentuk persegi atau piramid yang terletak di dasar atau di bawah dengan fungsi sebagai pengganjal atau alas dari tiang/saka. Umpak sendiri bagi masyarakat sekitar merupakan sebuah benda mati yang memiliki pralambang, yaitu commit to user

(6)

bermakna setiap manusia harus mendapat pijakan kuat (prinsip) sehingga tidak mudah tenggelam dalam setiap masalah yang di hadapi.

Dari sebagian contoh di atas, banyak peziarah dan masyarakat terlebih khususnya para generasi muda saat ini yang kurang mengetahui bahkan tidak mengerti sama sekali tentang arsitektur Masjid Makam Menara Kudus beserta makna simbolis, nilai-nilai luhur dan ajaran-ajaran baik dalam menjalani kehidupan yang terdapat di dalamnya, sehingga alasan tersebut yang menyebabkan peneliti tertarik untuk meneliti lebih mendalam lagi tentang Masjid Makam Menara Kudus ini sebagai bahan pengtahuan, di samping banyaknya penelitian yang tidak menjelaskan secara rinci tentang kosntruksi Masjid Makam Menara Kudus tersebut.

Selain untuk ilmu pengetahuan sendiri, peneliti juga ingin melestrikan hasil kebudayaan manusia berupa bangunan masjid yang sampai saat ini masih terawatt secara baik, dalam hal ini peneliti ingin meneliti lebih mendalam mengenai (1) sejarah dari awal pembangunan masjid makam menara Kudus, (2) bentuk satuan lingual arsitektur Masjid Makam Menara Kudus secara etnolinguistik, serta (3) ekspresi verbal dan nonverbal arsitektur Masjid Makam Menara Kudus melalui makna kultural sesuai dengan apa yang terkandung di dalamnya.

Pengungkapan bahasa dan hubungannya dengan aktivitas kehidupan masyarakat sekitar Msjid Makam Menara Kudus dapat dikaji melalui pendekatan etnolinguistik. Etnolinguistik memiliki kesepadanan dengan istilah linguistik antropologi. Linguistik antropologi (anthropological linguistics) adalah disiplin ilmu yang bersifat interdisipliner yang lebih jauh mengupas bahsa untuk mengemukakan pemahaman budaya. Pengertian etnolinguistik (anthropological

commit to user

(7)

linguistics) adalah cabang linguistik yang menaruh perhatian terhadap posisi bahasa

dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas untuk menunjukkan dan mempertahankan praktik-praktik budaya dan struktur sosial (Foley dalam Abdullah, 2017: 48). Secara sederhana etnolinguistik dapat diartikan sebagai cabang linguistik yang mempelajari bahasa dalam konteks budaya masyarakat setempat.

Etnolinguistik merupakan bagian dari bidang kajian linguistik yang sangat penting maksudnya untuk mengetahui hubungan antara bahasa dengan kebudayaan secara alami maupun kreatif dari para pendukung kebudayaan itu sendiri. Adapun penelitian sejenis yang pernah diteliti antara lain:

1. Penelitian Hidha Watari. (2008) yang berjudul “Istilah Unsur-Unsur Sesaji dalam Tradisi Bersih Desa di Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen”, mengkaji tentang bentuk istilah yang terdapat dalam tradisi bersih desa, serta makna yang terkandung dalam istilah unsur-unsur sesaji dalam bersih desa pada masyarakat Jawa di Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen.

2. Penelitian Anang Febri Priambada. (2011), “Bentuk dan Makna Leksikon Pembentuk Rumah Adat Kudus”, mengkaji tentang bentuk satuan lingual leksikon pembentuk rumah adat Kudus, serta makna leksikal dan makna kultural apa saja yang terdapat pada leksikon pembentuk rumah adat Kudus.

3. Penelitian Brm. Suryo Triono. (2009) yang berjudul “Istilah-istilah bangunan dalam Lingkup Siti Hinggil Karaton Surakarta Hadiningrat”

commit to user

(8)

(Suatu Tinjauan Etnolinguistik), mengkaji tentang bentuk istilah-istilah bangunan Siti Hinggil dalam ruang lingkup Karaton Surakarta Hadiningrat, makna dan fungsi istilah-istilah bangunan Siti Hinggil dalam lingkup Karaton Surakarta Hadiningrat.

4. Penelitian Ari Margiyati. (2015) yang berjudul “Bahasa dan Budaya dalam Arsitektur Rumah Limasan di Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi (Kajian Etnolinguistik)”, mengkaji tentang hubungan bentuk bahasa dan budaya dalam arsitektur rumah Limasan di Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, makna leksikal dan kultural yang terangkum dalam bahasa dan budaya pada arsitektur rumah Limasan, serta hubungan bahasa dan budaya terkait tata letak fisik arsitektur rumah Limasan di Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi.

5. Thesis Singgih Adinugroho (2003) yang berjudul “Pengaruh Faktor Sosial Budaya Terhadap Bentuk dan Tata Ruang Masjid Makam Menara Kudus” mengkaji tentang sejauh mana proses perkembangan sosial budaya masyarakat Islam berpengaruh terhadap bentuk dan tata ruang pada masjid makam Menara Kudus.

Berdasarkan uraian di atas, arsitektur Masjid Makam Menara Kudus di Desa Kauman, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus belum pernah diteliti secara etnolinguistik. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengkaji ekspresi verbal dan nonverbal leksikon arsitektur Masjid Makam Menara Kudus, Desa Kauman, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus dengan kajian etnolinguistik.

commit to user

(9)

Penelitian ini juga memiliki kekhasan dari keempat penelitian di atas yaitu, (1) belum pernah ada penelitian yang mengkaji tentang etnolinguistik mengenai arsitektur Masjid Makam Menara Kudus secara menyeluruh, serta (2) makna yang digunakan tidak hanya sebatas makna leksikal dan gramatikal, melainkan juga ada makna kultural yang diteliti, oleh sebab itu maka penelitian dengan judul “Ekspresi Verbal dan Nonverbal Arsitektur Masjid Makam Menara Kudus: Kajian Etnolinguistik” perlu dilakukan, serta (3) menjadikan penelitian ini sebagai dasar, agar nantinya objek yang di teliti tidak sebatas hal-hal yang berkaitan dengan bangunan non-agama seperti rumah, pendopo dan lain-lain.

B. Batasan Masalah

Berkaitan dengan judul di atas, maka yang akan menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini pada:

1. Sejarah dari awal pembangunan Masjid Makam Menara Kudus;

2. Bentuk satuan lingual leksikon arsitektur Masjid Makam Menara Kudus;

3. Ekspresi verbal dan nonverbal yang terkandung pada leksikon arsitektur Masjid Makam Menara Kudus.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang telah ditentukan tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini ialah sebagai berikut.

1. Bagaimanakah sejarah dari awal pembangunan Masjid Makam Menara Kudus ?

commit to user

(10)

2. Bagaimanakah bentuk satuan lingual leksikon arsitektur Masjid Makam Menara Kudus ?

3. Bagaimanakah ekspresi verbal dan nonverbal yang terkandung pada leksikon arsitektur Masjid Makam Menara Kudus ?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebtu, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut.

1. Memaparkan sejarah awal pembangunan Masjid Makam Menara Kudus.

2. Mendeskripsikan bentuk satuan lingual leksikon komponen pembentuk Masjid Makam Menara Kudus.

3. Mendeskripsikan ekspresi verbal dan nonverbal yang terkandung pada leksikon komponen pembentuk Masjid Makam Menara Kudus.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini akan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis.

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan teori linguistik, terkhusus kepada etnolinguistik.

2. Manfaat Praktis

commit to user

(11)

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pengetahuan dan penelitian kepada para pembaca dalam memahami keindahan, variasi, serta makna yang terkandung pada bahasa Jawa dalam ungkapan verbal dan nonverbal yang terdapat pada arsitektur Masjid Makam Menara Kudus; dan b. Penelitian ini dapat dijadikan bahan ajar kajian etnolinguistik.

F. Kerangka Pikir

Adapun kerangka pikir dari penelitian yang berjudul ekspresi verbal dan nonverbal Masjid Menara Kudus yaitu.

Gambar 1.1 Kerangka Pikir Arsitektur Masjid Menara Kudus

Kajian Etnolinguistik

Sejarah awal pembangunan Bentuk satuan lingual leksikon

Ekspresi verbal dan nonverbal

commit to user

(12)

G. Landasan Teori

Landasan teori adalah dasar atau landasan yang bersifat teoretis dan relevan dengan pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Landasan teori digunakan sebagai kerangka pikir untuk mendekati permasalahan dan bekal untuk menganalisis objek kajian. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bentuk

a. Monomorfemis

Menurut Djoko Kentjono (1982: 44-45) satu atau lebih morfem akan menyusun sebuah kata, kata dalam hal ini satuan gramatikal bebas yang terkecil.

Kata bermorfem satu disebut kata monomorfemis dengan ciri-ciri dapat berdiri sendiri, mempunyai makna dan kategori yang jelas. Sedangkan untuk kata bermorfem lebih dari satu disebut kata polimorfemis. Penggolongannya berdasarkan jumlah morfem yang menyusun kata tersebut.

Monomorfemis (monomorphemic) terjadi dari satu morfem, morfem (morphemic) merupakan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan

yang tidak dibagi atas bagian yang lebih kecil lagi, misalnya (ter-) atau (di-) (Kridalaksana, 1993: 140).

Monomorfemis memiliki ciri-ciri seperti dapat berdiri sendiri, belum mengalami proses morfologis, belum diulang, mempunyai makna dan berkategori jelas, serta belum digabungkan atau dimajemukkan.

commit to user

(13)

b. Polimorfemis

Polimorfemis adalah suatu kata yang terdiri atas lebih dari satu morfem.

Kata yang Polimorfemis dapat dilihat sebagai hasil dari proses morfemis yang berupa perangkaian morfem. Proses morfemis sendiri meliputi (1) afiksasi (imbuhan), (2) reduplikasi (pengulangan), dan (3) pemajemukan (komposisi).

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.Dalam proses ini terlibat beberapa unsur seperti, (1) dasar atau bentuk dasar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi, (2) afiksasi adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembuatan kata, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan (Chaer, 2012:177).

Macam-macam Afiksasi (pengimbuhan) terdiri dari empat berdasarkan letaknya, yaitu (1) Afiks yang ditambahkan di depan disebut sebagai awalan atau prefix, (2) afiks yang berada di tengah disebut sisipan atau infiks, (3) lalu afiks yang berada di belakang disebut sufiks, dan (4) yang terakhir afiks yang berada di depan dan di belakang disebut simulfiks atau konfiks. Afiks selalu berupa morfem terikat, sedangkan morfem dasar dapat berupa morfem bebas atau morfem terikat.

Reduplikasi adalah proses morfem yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (persial), maupun dengan perubahan bunyi (Chaer, 2012: 182).

Pemajemukan atau komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga

commit to user

(14)

terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau baru (Chaer, 2012: 185).

c. Frasa

Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas klausa (Ramlan, 1987:152). Frasa ialah sebuah konstruksi mempredikat, artinya hubungan antara kedua unsur yang membentuk dari frasa tersebut tidak berstruktur subjek-predikat atau predikat-objek.

Frasa sendiri mempunyai ciri-ciri yaitu, (1) unsur terkecilnya merupakan kata atau klitik, (2) selalu terdapat dalam satu fungsi bisa hanya S saja, P saja, O saja, K saja, atau Pel saja, serta (3) bersifat terbuka, maksudnya dalam artian antara unsur-unsur langsungnya dapat disisipi kata lainnya, seperti contohnya dalam frasa klambi anyar, dimana diantara kata klambi anyar tersebut dapat disisipi kata sing.

Dengan demikian frasa klambi anyar berparafrasa dengan klambi sing anyar (Kurniati, 2008: 27).

Frasa dapat diklasifikasikan berdasarkan distribusi dan kategorinya.

Berdasarkan distribusinya, frasa dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu frasa endosentrik, dan eksosentrik, sedangkan berdasarkan kategorinya, frasa dapat dibedakan menjadi enam jenis, yaitu frasa nominal (kata benda), verbal (kata kerja), adjektiva (kata sifat), numeralia (kata bilangan), adverbial (kata keterangan sifat), dan preposisional (depan) (Kurniati, 2008:27).

commit to user

(15)

1) Klasifikasi Frasa Berdasarkan Distribusinya a) Frasa Endosentrik

Frasa endosentrik ialah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan semua unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya. Dengan kata lain, sebagian atau seluruh unsur frasa tersebut bisa saling menggantikan. Frasa Endosentrik dibagi lagi menjadi tiga jenis yaitu, frasa endosentrik atributif, frasa endosentrik koordinatif, dan frasa endosentrik apositif.

Frasa Endosentrik atributif yaitu kosntruksi frasa yang salah satu unsurnya mempunyai kedudukan yang lebih tinggi itu disebut sebagai unsur pusat atau inti, sedangkan unsur lainnya disebut atributif atau pembatas. Frasa endosentrik koordinatif adalah frasa yang meiliki dua unsur pusat atau lebih yang masing- masing berkontribusi parallel dengan keseluruhan frasa yang dibentuk. Dilihat dari segi bentuk, unsur-unsur frasa endosentrik koordinatif itu mempunyai kedudukan yang sejajar atau sama-sama unsur pusat, tetapi dilihat dari segi maknanya atau referennya tidaklah sama. Sedangkan Frasa endosentrik apositif adalah frasa yang unsur-unsur langsungnya memiliki makna yang sam. Unsur langsung yang pertama sebagai unsur pusat dan unsur lainnya sebagai apositif yang memiliki fungsi sebagai penjelas.

b) Frasa Eksosentrik

Frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak berdistribusi parallel (Sutanto, 1998: 25), maksudnya unsur-unsur frasa tersebut tidak bisa saling menggantikan, karena frasa eksosentris ini juga disebut frasa yang tidak memiliki hulu/induk/inti/pusat serta frasa semacam ini biasanya diawali dengan preposisi.

commit to user

(16)

2) Klasifikasi Frasa Berdasarkan Kategorinya

Berdasarkan Kategorinya Frasa dapat dibedakan menjadi (1) frasa nominal, (2) frasa verbal, (3) frasa adjectival, (4) frasa numeralia, (5) frasa adverbial, dan (6) frasa preposisional.

a. Frasa Nominal

Kurniati (2008:31) mendefinisikan frasa nominal adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata nominal. Dengan kata lain, frasa nominal adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif dengan nomina sebagai intinya.

b. Frasa Verbal

Frasa verbal adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya. Dengan demikian, frasa verbal mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal (Kurniati 2008:31).

c. Frasa Adjektival

Menurut Kurniati (2008:32) Frasa adjektival adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih dengan adjektiva sebagai intinya.

Dengan demikian, frasa adjektival mempunyai distribusi yang sama dengan kata adjektival.

d. Frasa Numeralia

Menurut Kurniati (2008:33) Frasa numeralia adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih dengan numeralia sebagai intinya.

Dengan demikian, frasa numeralia mempunyai distribusi yang sama dengan kata numeralia. commit to user

(17)

e. Frasa Adverbial

Frasa adverbial adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih dengan adverbia sebagai intinya. Dengan demikian, frasa adverbial mempunyai distribusi yang sama dengan kata adverbial (Menurut Kurniati (2008:33).

f. Frasa Preposisional

Menurut Kurniati (2008:34) Frasa preposisional adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih, diawali kata depan atau preposisi sebagai penanda, diikuti aksisnya.

2. Makna

Makna adalah arti yang dimiliki oleh sebuah kata (leksem) karena hubungannyadengan makna leksem lain dalam sebuah tuturan (Subroto, 2011: 23).

Maknaleksikal merupakan makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer, 2007: 289). Makna leksikal adalah makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain; makna leksikal ini dimiliki unsur-unsur bahasa lepas dari penggunaanya atau konteksnya (Kridalaksana, 2001:

133). Jadi, makna leksikal adalah makna kata yang berdiri sendiri tanpa adanya imbuhan dan lepas dari konteks bahasa tersebut.

Makna gramatikal adalah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata dalam kalimat (Fatimah Djajasudarma, 1999:13) secara umum makna gramatikal berkenaan dengan makna yang terjadi pada proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi atau proses penggabungan dengan dasar dengan dasar. commit to user

(18)

Makna kultural adalah makna yang dimiliki bahasa sesuai dengankonteks budaya penuturnya (Subroto, dalam Abdullah, 2014: 20). Konsep makna kultural ini dimaksudkan untuk lebih dalam memahami makna ekspresi verbal dan nonverbal suatu masyarakat yang berhubungan dengan sistem pengetahuan (cognition system) terkait pola pikir, pandangan hidup(way of life), serta pandangan terhadap dunianya (world view) suatumasyarakat (Abdullah, 2014: 20).

3. Komponen Makna

Chaer (2003:318) mengungkapkan bahwa setiap kata, leksem, atau butir leksikal tertentu mempunyai makna. Makna yang dimiliki oleh setiap kata terdiri dari sejumlah komponen yang disebut komponen makna dan membentuk keseluruhan makna kata tersebut. Untuk mengetahui perbedaan antara makna kata satu dengan kata yang lain dalam leksikon komponen pembentuk masjid makam menara Kudus diperlukan adanya nama perbandingan. Berdasarkan analisis komponen atau ciri pembedanya, bahwa dari perbedaan-perbedaan itulah, kita dapat mencari raut atau ciri semantik yang kita cari. Raut pembeda untuk kata benda dapat meliputi raut-raut semantik seperti beikut:

1. Fungsi benda itu;

2. Bentuknya;

3. Ukurannya (panjang, lebar, besar, banyaknya cairan, panas, dan kelembabannya, dan sebagainya);

4. Warnanya;

5. Sifatnya (khasiatnya, dan rasanya);

commit to user

(19)

6. Nilainya di mata masyarakat manusia sekitar (diukur dengan uang, atau tingkat penghargaan sosial);

7. Menjadi bagian atau kepunyaan siapa;

8. Anggota dari kelompok apa;

9. Terbuat dari apa bahannya;

10. Asalnya darimana;

11. Mempunyai bagian apa saja (apa komponennya);

12. Letaknya dimana;

13. Tahap perkembangannya;

14. Waktu dan keberadaaanya;

15. Nama dari apa;

16. Profesinya;

17. Jantinannya (jenis kelamin);

18. Status perkawinannya;

19. Status kekerabatannya;

20. dan lain-lain.

Untuk mengetahui raut pembeda atau ciri semantik suatu leksikal dalam komponen pembentuk masjid menara Kudus dapat didasarkan pada beberapa hal tertentu, yaitu:

1. Fungsi leksikon yang dianalisis;

2. Bentuknya;

3. Ukuran: commit to user

(20)

4. Terbuat dari apa (bahannya);

5. Letaknya dimana, dan 6. Warna.

4. Etnolinguistik

a. Pengertian Etnolinguistik

Etnolinguistik berasal dari gabungan kata etnologi dan linguistik yang lahir karena adanya penggabungan dua pendekatan yang biasa dilakukan oleh ahli etnologi dengan pendekatan linguistik. Istilah lain untuk menyebut istilah etnolinguistik ialah antropolinguistik (Duranti, 1997: 2).

Etnolinguistik atau antropologi linguistik adalah suatu ilmu bagian yang pada asal mulanya erat bersangkutan dengan ilmu antropologi. Penelitiannya berupa daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri bahasa dan tata bahasa dari berbagai bahasa suku bangsa yang tersebar di berbagai tempat di bumi ini, yang terkumpul bersama-sama dengan bahan kebudayaan suku bangsa (Andri, 1999: 11).

Etnolinguistik adalah jenis linguistik yang menaruh perhatian terhadap dimensi bahasa (kosakata, frasa, klausa, wacana, dan unit- unit lingual lainnya) dalam dimensi sosial dan budaya (seperti upacara ritual, peristiwa budaya, folklore, dan lainnya) yang lebih luas untuk memajukan dan mempertahankan praktik-praktik budaya dan struktur sosial masyarakat (Abdullah, 2014: 10)

Berdasarkan tiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa etnolinguistik berarti suatu cabang linguistik yang mempelajari bahasa dalam konteks budaya masyarakat setempat yang meliputi kosakata, frasa, klausa, wacana, dan unit-unit lingual lainnya.

commit to user

(21)

b. Kajian Etnolinguistik

Kajian etnolinguistik perlu dijelaskan tentang pengertian semantik.

Semantik mengkaji arti bahasa (arti lingual) yang bersifat bebas konteks atau tidak terikat konteks (Subroto, 2011:10). Orientasi terpenting dalam kajian etnolinguistik sangat membutuhkan pemahaman tentang semantk kultural (cultural semantics), yaitu makna yang dimiliki bahasa sesuai dengan konteks budaya penuturnya (Subroto dalam Abdullah, 2014: 20). Pentingnya pemahaman tentang semantik kultural dalam kajian etnolinguistik ialah sebagai alat untuk menyoroti berbagai produk budaya yang terekam baik dalam bentuk perilaku verbal maupun nonverbal suatu masyarakat.

Seorang ahli etnologi terutama yang mempelajari berbagai simbol dan maknanya dalam suatu masyarakat, biasanya akan sangat memperhatikan beraneka ragam makna dari berbagai kata yang dianggap penting oleh warga masyarakat yang bersangkutan. Seperti halnya dalam arsitektur bangunan Masjid Makam Menara Kudus yang di dalamnya terdapat berbagai macam konstruksi susunan- susunan pembangunnya. Konstruksi susunan-susunan tersebut merupakan simbol- simbol yang memiliki makna. Misalnya, umpak yang merupakan simbol makna bahwa setiap manusia harus mendapat pijakan yang kuat (prinsip) sehingga tidak mudah tenggelam dalam setiap masalah yang di hadapi.

c. Kajian Linguistik untuk Etnologi 1) Bahasa dan Pandangan Hidup

Bahasa dan pandangan hidup suatu masyarakat dapat tercermin dari bahasa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Jawa memiliki

commit to user

(22)

beberapa tingkatan-tingkatan, terdapat tiga macam tingkatan dalam bahasa Jawa yaitu ngko, krama, dan karma inggil. Bahasa Jawa ngoko merupakan bahasa Jawa yang dianggap paling kasar oleh orang Jawa dan sekaligus paling informal atau dalam istilah lain disebut sebagai bahasa pergaulan, sedangkan bahasa Jawa krama inggil dipandang sebagai bahasa yang memiliki tingkat tutur yang sangat halus

sekaligus juga paling formal diantara lainnya. Bahasa Jawa krama dianggap berada di tengah-tengah (madya), yakni agak halus dan agak formal akan tetapi tidak terlalu baku seperti krama inggil. Istilah-istilah dalam Arsitektur Masjid Makam Menara Kudus, menggunakan bahasa Jawa. Istilah yang digunakan dapat mencerminkan pandangan hidup masyarakat pemakainya.

2) Bahasa dan Cara Memandang Kenyataan

Selain tadi membahas tentang pandangan hidup, kajian tentang bahasa serta maknanya akan kemungkinan kita mengetahui cara memandang kenyataan yang ada dikalangan pendukung bahasa yang kita teliti, aritnya kita dapat mengetahui setiap dimensi-dimensi kenyataan mana yang mereka anggap penting dan relevan dalam kehidupan mereka, dan dari sinilah kita dapat mengetahui tempat unsur kenyataan tertentu dalam kehidupan mereka (Ahimsa, 1997:5).

Bahasa bagi manusia sangatlah penting, karena digunakan untuk berkomunikasi antara satu sama lain. Manusia selalu memandang bahwa bahasa itu adalah suatu kenyataan, karena itu mereka selalu menganggap sesuatu yang ritual adalah penting, walaupun kenyataanya hal tersebut kadang sering diabaikan.

commit to user

(23)

3) Bahasa dan Perubahan dalam Masyarakat

Kajian atas suatu bahasa juga dapat memberikan informasi kepada kita tentang berbagai macam dan hal perubahan yang telah terjadi dalam masyarakat.

Selain dapat diketahui dari frekuensi penggunaan suatu kata dalam kehidupan sehari-hari, perubahan yang terjadi dalam masyarakat juga dapat diketahui dari bertambah atau berkurangnya kosakata yang ada dalam suatu bahasa. Adanya kebutuhan akan istilah-istilah baru menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat telah megalami suatu perubahan. Ada banyak hal-hal baru yang dulunya tidak ada, kini sudah begitu terbiasa dalam kehidupan sehari-hari.

d. Kajian Etnologi untuk Linguistik 1) Kebudayaan dan Sejarah Bahasa

Salah stu masalah yang menarik perhatian para ahli etnologi jika mereka melakukan suatu penelitian lapangan adalah sejarah dari masyarakat yang mereka teliti. Sejarah kebudayaan suatu suku bangsa yang direkonstruksi oleh ahli antropologi ini juga akan sangat bermanfaat bagi seorang ahli bahasa yang tertarik pada persebaran bahasa dan sejarah persebaran bahasa tersebut. Dalam hal ini, apa yang dilakukan oleh seorang ahli etnologi, yang sedang melakukan studi perbandingan mengenai berbagai unsur kebudayaan dan distribusi. Unsur-unsur dalam hal tersebut untuk suatu kawasan geografis tertentu, akan dapat banyak membantu para ahli bahasa. Berbagai kesimpulan yang ditarik oleh ahli etnologi dari kajian unsur kebudayaan yang dilakukannya akan dapat memperkuat atau mempertajam berbagai kesimpulan yang telah dirumuskan oleh para ahli bahasa

commit to user

(24)

berkenaan dengan proses persebaran bahsa-bahasa tertentu disuatu kawasan tertentu (Ahimsa, 1997:8).

2) Kebudayaan dan Makna Bahasa

Terdapat salah satu bidang penting dalam studi bahasa yaitu, semantics atau studi mengenai makna-makna yang ada di dalam sebuah bahasa. Para ahli bahasa sering kali mampu untuk menyusun suatu kamus yang di dalamnya berisi kumpulan kata- kata bahsa asing, nasional maupun lokal dengan lengkap, karena pada hakikatnya suatu kata sering kali memiliki banyak makna yang berbeda-beda, yang ditentukan oleh konteks dimana kata tersebut muncul. Konteks bahasa ini, yang terkait dengan konteks sosial budaya masyarakat pemilik bahasa tersebut, sangat beraneka ragam.

Dan seorang ahli bahasa tidak selalu mampu untuk bisa menggali berbagai dimensi semantis dari suatu kata, karena ini memerlukan penelitian lapangan dengan waktu yang cukup lama. Dalam konteks inilah para ahli etnologi dapat memberikan sumbangan kepada ilmu interdisipliner linguistik (Silva-Fuen Zalida dalam Ahimsa 1997: 9).

5. Ekspresi Verbal dan Nonverbal

Kearifan lokal dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu (1) ekspresi verbal, yaitu ekspresi yang terekspresikan dalm bentuk kosakata, frasa, klausa, wacana (folklore), dan unit lingual yang lain, serta (2) ekspresi nonverbal yaitu ekspresi yang tidak terkatakan namun teradakan dalam ekspresi simbolis terkait bahasa dan budaya Jawa (Abdullah, 2017: 312).

commit to user

(25)

H. Data dan Sumber Data 1. Data Penelitian

Data adalah semua informasi atau bahan yang disediakan oleh alam yang harus dicari atau dikumpulkan dan dipilih oleh peneliti (Subroto, 2007:38). Data yang berupa informasi atau bahan alamiah yang telah tersedia tersebut dianalisis agar diarahkan kepada sejarah, struktur bahasa, dan ekspresi verbal dan nonverbal yang terdapat pada arsitektur Masjid Makam Menara Kudus.

a. Data Primer

Data primer meliputi yaitu, (1) data lisan, berupa bentuk kosa-kata yang tercermin dalam kategori dan ekspresi bahasa dan budaya masyarakat setempat, seperti folklore pembangunan beserta kosa-kata yang terdapat pada arsitektur bangunan Masjid Makam Menara Kudus; (2) data penelitian yang diperoleh dari beberapa informan terpilih dan informan kunci.

b. Data Sekunder

Data sekunder diantaranya, (1) data tertulis yang meliputi, (a) catatan mengenai kosa-kata yang menyangkut kategori dan ekspresi bahasa dan budaya masyarakat setempat; (b) penjelasan yang berkaitan dengan catatan semantik kultural dari leksikon yang diperoleh, seperti catatan makna simbolik yang didapatkan dari hasil mendalam dengan para informan; (c) kategori dan ekspresi bahasa dan budaya masyarakaat setempat menyangkut nama tiap-tiap arsitektur bangunan; (d) artikel; (e) buku referensi; (f) buku bacaan; (g) laporan penelitian;

(h) makalah; serta (i) dokumen penting lainnya yang terkait dengan tema penelitian.

commit to user

(26)

2. Sumber Data

Sumber data adalah seorang penghasil atau pencipta bahasa yang sekaligus tentu saja seseorang tersebut merupakan penghasil atau pencipta data yang dimaksud, biasanya disebut dengan narasumber (Sudaryanto, 1990:35). Sumber data dalam penelitian ini ialah sumber data primer dan sekunder.

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer berasal dari informan yang memahami betul tentang arsitektur masjid makam menara Kudus. Kriteria dari informan yang dimaksud, ialah: (1) mengetahui tentang arsitektur komplek masjid makam, (2) sehat jasmani dan rohani, (3) mempunyai alat ucap dan ujaran yang baik, (4) bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tema penelitian, (5) Menguasai bahasa Jawa (penutur asli) dan bahasa Indonesia, serta (6) Bersikap terbuka, sabar, ramah, dan tidak mudah tersinggung.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder berupa sumber teertulis, meliputi (1) catatan penting, (2) artikel, (3) buku referensi, (4) dokumen arsip dari penelitian terdahulu, serta (5) arsip dari dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Kudus.

I. Metode dan Teknik Penelitian

Metode penelitian merupakan cara, alat, prosedur, dan teknik yang dipilih dalam melakukan penelitian. Metode adalah cara untuk mendekati, mengamati, menganalisis, dan menjelaskan suatu fenomena (Kridalaksana, 2011: 106). Dalam bagian metode penelitian ini dibahas beberapa hal, yaitu (1) jenis penelitian, (2)

commit to user

(27)

lokasi penelitian, (3) instrument penelitian, (4) metode dan teknik pengumpulan data, (5) metode dan teknik analisis data, dan (6) metode penyajian analisis data.

1. Sifat Penelitian

Penelitian dengan judul “Ekspresi Verbal dan Nonverbal Arsitektur Masjid Makam Menara Kudus”: Kajian Etnolinguistik” merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif adalah sebuah metode yang digunakan peneliti untuk menemukan pengetahuan atau teori terhadap penelitian pada suatu waktu tertentu (Mukhtar, 2013: 10). Data deskriptif merupakan data yang berupa kata-kata, gambar, dan bukan berupa angka-angka (Moleong, 2010: 11).

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di komplek masjid makam menara Kudus, yang letaknya berada di Jl. Menara, Pejaten, Kauman, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Prespektif kajian penelitian ini tentang etnolinguistik yang cenderung merupakan penelitian lapangan. Pertimbangan ilmiah pemilihan komplek masjid makam menara Kudus dibandingkan lainnya ialah karena di masjid tersebut sudah mengalami proses pemugaran sebanyak 3 kali (1918, 1926, dan 1933) sehingga proses perubahannya mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat pada saat masa itu, dan oleh karena sebab itu juga komplek masjid makam menara Kudus ini lebih memiliki banyak variasi baru di setiap kosntruksinya dibandingkan masjid peninggalan terdahulu lainnya.

commit to user

(28)

Gambar 1.2 Peta Lokasi Penelitian

3. Teknik Sampling

Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yang dimana sampel merupakan sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki oleh peneliti. Penentuan sampel purposif (purposive sampling) yaitu dengan cara menentukan sampel yang dilakukan dengan mengambil sampling yang memiliki ciri-ciri sehubung dengan masalah penelitian (Siswanto, 2012: 48). Selain itu teknik snow-ball sampling juga digunakan karena peneliti belum mengenal semua sumber

data (informan), kemudian menemui orang pertama, selanjutnya menanyakan siapa yang lebih mengetahui lebih dalam berbagai informasi yang diperlukan, serta mengikuti petunjuknya untuk mendapatkan sampling berikutnya. Proses ini berkelanjutan hingga mendapatkan data yang lengkap serta mencukupi sesuai dengan tema penelitian (Sutopo, 2006:45-46), terutama yang berkaitan dengan ekspresi verbal dan nonverbal arsitektur masjid makam menara Kudus secara etnolinguistik.

4. Intrumen Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dimana peneliti memiliki kedudukan khusus sebagai bentuk alat utama, yaitu sebagai perencana, pelaksana

commit to user

(29)

pengumpulan data, analisis, penafsir data, serta pelapor, hasil penelitiannya (Moleong, 2010: 168). Kedudukan peneliti tersebut menjadikan peneliti sebagai key instrument atau instrumen kecil yang mengumpulkan data berdasarkan kriteria-

kriteria yang dipahami. Kriteria tersebut berdasarkan aspek etnolinguistik, khususnya mengenai arsitektur masjid makam. Oleh karena itu, peneliti secara langsung berperan sangat aktif dalam proses penelitian ini. Hal itu dilakukan guna mendapatkan data-data yang sudah sesuai dengan tujuan penelitian.

Alat bantu yang digunakan antara lain ialah alat tulis kantor (ATK), seperti bolpoin, buku catatan, dan tipe-x, dan alat elektronik, seperti alat rekam (aplikasi recorder dalam HP), flashdisk, laptop, kamera DSLR atau HP, dan kendaraan

pribadi seperti motor yang menjadi alat bantu sangat penting dalam proses penelitian.

5. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode merupakan cara mendekati, mengamati, menganalisis dan menjelaskan suatu fenomena (Kridalaksana, 2001: 136). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode dokumentasi, metode simak dan metode cakap.

a. Dokumentasi

Metode dokumentasi digunakan untuk mencari data-data mengenai hal yang berkaitan dengan arsitektur masjid makam menara Kudus. Dokumentasi di dalam penelitian ini berupa foto-foto/gambar objek penelitian, sehingga nantinya terdapat adanya bukti nyata yang bisa dilihat.

commit to user

(30)

b. Simak

Metode simak atau penyimakan adalah metode pengumpulan data dengan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993: 133). Adapun teknik dasar yang dipakai adalah teknik sadap. Adapun teknik lanjutan yang digunakan ialah teknik simak bebas libat cakap, dalam teknik lanjutan ini, peneliti tidak terlibat dalam dialog, konversasi, atau imbal wicara, jadi tidak ikut serta dalam proses pembicaraan orang-orang yang saling berbicara, tetapi hanya sebagai pemerhati yang penuh minat tekun mendengarkan apa yang dikatakan (dan bukan apa yang dibicarakan) oleh orang-orang yang hanyut dalam proses berdialog (Sudaryanto, 2015: 203-204).

c. Cakap

Metode cakap berupa percakapan dan terjadi kontak antara peneliti selaku peneliti dan penutur selaku informan. Teknik dasar dalam metode cakap ialah teknik pancing, yaitu peneliti memancing informan agar mau berbicara. Teknik lanjutan yang pertama dalam penelitian ini adalah teknik cakap semuka, dalam hal itu percakapan dikenali oleh peneliti dan diarahkan sesuai dengan kepentingannya, yaitu memperoleh data selengkap-lengkapnya, sebanyak tipe data yang diperlukan atau dikehendaki ada. Teknik lanjutan yang selanjutnya ialah teknik rekam dan teknik catat, dalam hal ini ketika teknik cakap semuka dilakukan maka dapat pula dilakukan perekaman, kemudian diikuti dengan pencatatan (Sudaryanto, 2015: 209- 210).

commit to user

(31)

J. Validitas Data

Untuk menjamin serta mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian yang bersifat kualitatif ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber data, yaitu teknik dimana data yang sejenis dikumpulkan dari beberapa sumber data yang berbeda seperti informan, arsip, dokumen yang berkaitan dengan arsitektur masjid makam menara Kudus. Triangulasi data yaitu penarikan sebuah kesimpulan yang memerlukan lebih dari satu cara pandang.

Sasaran penelitian akan dapat dipandang dalam berbagai sudut pandang maka akan bisa nantinya untuk dipertimbangkan beragam fenomena yang muncul, perbedaan dan persamaannya, mengapa terjadi demikian, dan selanjutnya akan bisa ditarik sebuah kesimpulan yang lebih konkrit, lengkap, dan bisa diterima kebenarannya (Sutopo, 2006: 92-93).

K. Metode dan Teknik Analisis Data

Peneliti melakukan beberapa tahapan setelah pengumpulan data, yaitu tahap seleksi data (pemilihan data), tahap klasifikasi data (pemilahan data), dan tahap analisis data.

Pada bagian ini peneliti menganalisis data sesuai dengan masalah dan tujuan dari penelitian ini, yaitu mendeskripsikan bentuk satuan lingual leksikon, serta mendeskripsikan tentang ekspresi verbal dan nonverbal yang terkandung pada leksikon komponen pembentuk Masjid Makam Menara Kudus. Peneliti di sini menggunakan dua metode dalam menganalisis data, yaitu metode agih dan padan.

commit to user

(32)

a. Metode Agih (Distribusional)

Metode agih (distribusional) adalah metode yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto, 2015: 18). Teknik dasar yang digunakan ialah dengan Bagi Unsur Langsung (BUL). Teknik ini digunakan untuk membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur dan unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud (Sudaryanto, 2015:37).

b. Metode Padan

Metode padan adalah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 2015:

15). Metode padan yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode padan referensial. Teknik yang digunakan yaitu Pilih Unsur Penentu (PUP) dan penentuan komponen makna, untuk menganalisis makna kultural pada ekspresi verbal dan nonverbal dalam penelitian ini.

L. Metode Penyajian Analisis Data

Metode penyajian hasil analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode formal dan informal. Metode penyajian informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa, walaupun dengan terminologi yang teknis sifatnya (Sudaryanto, 2015: 241). Dengan kata lain metode ini menggunakan kata-kata sederhana agar mudah dipahami. Analisis metode informal digunakan dalam penelitian ini agar dapat mempermudah pemahaman terhadap setiap hasil penelitian.

commit to user

(33)

Metode penyajian data formal adalah perumusan dengan yang umum dikenal sebagai tanda dan lambang-lambang. Khusus mengenai penggunaan tanda dan lambang dalam metode penyajian formal itu dapat disebut teknik dasar (Sudaryanto, 2015: 241).

M. Sistematika Penyajian

Penyajian dari hasil analisis data menggunakan metode formal dan metode informal. Mettode formal yaitu perumusan dengan tanda baca dan lambing- lambang, seperti tanda kurung biasa (( … )), tanda garis miring (/), dan tanda untuk menyatakan suatu terjemahan (‘…’), peta letak objek, gambar, foto, bagan, tabel, dan sebagainya. Adapun metode informal yaitu metode penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata yang biasa atau sederhana agar nantinya mudah dipahami (Sudaryanto, 1993: 145). Penyajian dari hasil analisis data dengan metode formal dan metode informal diharapkan dapat memberikan penjelasan dalam bentuk laporan penelitian untuk skripsi ini.

Sistematika penyajian dari penelitian ini terdiri atas tiga bab, sebagai berikut.

Bab I Pendahuluan terdiri atas latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian.

Bab II Pembahasan meliputi (1) Bentuk satuan lingual leksikon arsitektur Masjid Makam Menara Kudus; (2) Ekspresi verbal dan nonverbal yang terkandung pada leksikon arsitektur Masjid Makam Menara Kudus; (3) Korelasi antara ekspresi

commit to user

(34)

verbal dan nonverbal dengan kehidupan masyarakat di sekitar Masjid Makam Menara Kudus.

Bab III berisi penutup yang terdiri atas kesimpulan dan saran.

Tambahan berupa jadwal penelitian, daftar pustaka, dan lampiran.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

INSTIPER Yogyakarta saat ini telah menjadi Perguruan Tinggi yang khas dengan desain model pendidikan University Industry Partnership, dan telah mendapatkan kepercayaan yang luar

Tidak di ragukan lagi bahwasannya dalam kegiatan penelitian ini penulis masih banyak mengalami kendala baik dari segi informasi maupun kebutuhan akan petani sampel maupun agen

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukan: 1) Adanya pengaruh penguasaan kosakata dan penguasaan kalimat secara bersama-sama terhadap kemampuan menulis narasi; 2)

Jadi, dapat dikatakan bahwa penyewa tersebut diizinkan untuk menggunakan tanah, bahwa adalah mungkin untuk menyebutkan suatu penggunaan dengan tujuan khusus dalam akta

Variabel yang diteliti yaitu kartu bergambar tiga dimensi yang divalidasi oleh pakar, tanggapan guru, tanggapan siswa mengenai kartu bergambar tiga dimensi sebagai

Relasi positif antara job resources dan work engagement tidak berbeda antara partisipan yang memiliki conscientiousness tinggi dan partisipan yang memiliki

Oleh karenanya, mereka sebaiknya menanyakan apakah para karyawan memahami apa yang diharapkan dari mereka untuk dilakukan (tindakan kunci) atau untuk diselesaikan (hasil

muscaedomesticae yang berasal dari induk betina kawin akan menjadi deutonimfa bakal jantan dengan lama stadia 22,43 jam dan bakal betina 23,02 jam.. Pada induk betina yang tidak