• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, penulis tidak menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian.

Namun mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis. Berikut merupakan penelitian terdaulu beberapa jurnal terkait dengan penelitian:

(Nurul, 2019), hasil penelitiannya tentang analisis pengaruh variabel ekonomi makro terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2016-2019. Penelitian ini menggunakan metode analisa VAR. Dengan menunjukkan hasil bahwa pada variabel nilai tukar dan variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) secara simultan berpengaruh ke arah negatif terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Variabel nilai tukar berpengaruh terhadap ISSI. Variabel SBIS berpengaruh terhadap ISSI.

(Yudhistira, 2016), hasil penelitiannya tentang variabel makroekonomi terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2011-2015.

Penelitian ini menggunakan metode ECM. Dengan menunjukkan hasil bahwa pada variabel suku bunga, nilai tukar rupiah, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan harga minyak dunia secara simultan berpengaruh terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Variabel suku bunga tidak

(2)

berpengaruh signifikan terhadap ISSI. Variabel Suku bunga tidak berpengaruh signifikan terhadap ISSI. Variabel nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap ISSI. Variabel SBIS berpengaruh signifikan terhadap ISSI. Variabel harga minyak dunia tidak berpengaruh signifikan terhadap ISSI.

(Usnan, 2016), hasil penelitiannya tentang pengaruh nilai tukar rupiah terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2012-2015.

Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier sederhana. Dengan menunjukkan hasil bahwa pada variabel nilai tukar rupiah sebagai variabel independen berpengaruh signifikan ke arah yang negatif terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

(Islami & Widyasa, 2018), hasil penelitiannya tentang pengaruh tingkat suku bunga, nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga domestik terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2013-2017. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Dengan menunjukkan hasil bahwa pada variabel suku bunga, nilai tukar, dan tingkat suku bunga domestik secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Variabel tingkat suku bunga tidak berpengaruh signifikan terhadap ISSI. Variabel nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (USD) berpengaruh signifikan ke arah yang negatif terhadap ISSI.

Varibel tingkat suku bunga domestik berpengaruh signifikan ke arah yang negatif terhadap ISSI.

(Ana, 2019), hasil penelitiannya tentang pengaruh tingkat suku bunga, nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga domestik terhadap Indeks Saham

(3)

Syariah Indonesia (ISSI) periode 2015-2018. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Dengan menunjukkan hasil bahwa pada variabel suku bunga, nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga domestik secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Variabel tingkat suku bunga tidak berpengaruh terhadap ISSI. Variabel nilai tukar rupiah tidak berpengaruh terhadap ISSI. Variabel suku bunga berpengaruh terhadap ISSI.

(Abaida, 2020), hasil penelitiannya tentang pengaruh suku bunga, nilai tukar rupiah, BI rate dan jumlah uang beredar terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2016-2018. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Dengan menunjukkan hasil bahwa pada variabel suku bunga, nilai tukar rupiah, BI rate dan jumlah uang beredar secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Variabel suku bunga tidak berpengaruh signifikan terhadap ISSI. Variabel nilai tukar berpengaruh signifikan ke arah negatif terhadap ISSI. Variabel BI Rate tidak berpengaruh signifikan terhadap ISSI. Variabel jumlah uang beredar berpengaruh signifikan ke arah positif terhadap ISSI.

(Rizky, 2020), hasil penelitiannya tentang pengaruh suku bunga dan BI rate terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2013-2017.

Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Dengan menunjukkan hasil bahwa pada variabel suku bunga dan BI rate secara simultan berpengaruh signifikan ke arah yang positif terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Variabel suku bunga tidak berpengaruh signifikan

(4)

ke arah negatif terhadap ISSI. Variabel BI rate berpengaruh signifikan ke arah negatif terhadap ISSI.

Keterkaitan penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan sekarang memiliki kesamaan dan variabel yang diposisikan sebagai variabel dependen nilai tukar, variabel jumlah uang beredar, dan variabel suku bunga.

Periode yang digunakan dalam penelitian yang digunakan juga berbeda, jika penelitian terdahulu menggunakan tahun yang hampir sama, penelitian ini menggunakan periode selama covid-19 untuk penelitiannya.

B. Landasan Teori

1. Teori Pasar Modal 1.1 Pasar Modal

Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 Pasal 1 tentang Pasar modal mendefinisikan pasar modal sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Samsul (2006) menjelaskan bahwa pasar modal adalah tempat atau sarana bertemunya antara permintaan dan penawaran atas instrumen keuangan jangka panjang, umumnya lebih dari satu tahun. Bentuk instrumen di pasar modal disebut efek, yaitu surat berharga yang berupa saham, obligasi, bukti right, bukti waran, dan produk turunan atau biasa disebut derivatif.

Menurut Tandelilin (2010) sekuritas yang diperdagangkan di pasar Indonesia bersifat ekuitas adalah saham, baik saham biasa

(5)

maupun saham preferen serta bukti right dan waran. Dari keempat sekuritas ekuitas ini, saham biasa merupakan sekuritas yang terpenting dan paling dikenal oleh masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, sebutan pasar ekuitas seringkali dimengerti sebagai pasar saham dan sebutan saham disebut saham biasa.

1.2 Saham

Saham merupakan bukti penyertaan kepemilikan pada suatu perusahaan, apakah itu perseroan terbatas atau perusahaan public.

Secara umum, investasi dalam saham memungkinkan untuk diperolehnya return yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi, walaupun untuk itu resiko yang dikandung juga lebih tinggi (Ary Tatang, 2011). Kelebihan investasi saham:

1. Memberikan potensi return yang tinggi dan berkesinambungan.

2. Sangat likuid, saat anda ingin menjualnya, pembeli tersedia.

Dikarenakan saham memiliki bursa tersendiri yakni Bursa Efek Indonesia yang mempertemukan pihak penjual dan pembeli.

3. Tidak memerlukan rekruitmen karyawan baru.

4. Tidak memerlukan perawatan.

5. Tidak perlu membayar pajak selama memilikinya.

6. Nilai saham dapat dipantau dengan mudah di media cetak maupun visual.

Dana yang didapatkan perusahaan melalui penjualan sekuritas (saham) merupakan hasil perdagangan saham-saham perusahaan yang dilakukan di pasar perdana. Di pasar perdana inilah perusahaan

(6)

untuk pertama kalinya menjual sekuritasnya, dan proses situ disebut dengan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum perdana.

Setelah sekuritas tersebut dijual perusahaan di pasar perdana, barulah kemudian sekuritas diperjualbelikan oleh investor-investor di pasar sekunder atau dikenal juga dengan pasar regular. (Tandelilin, 2010)

Saham disebut juga Variable Income Securities karena frekuensi dan besarnya deviden yang diterima investor tidak tentu, hal ini dipengaruhi oleh laba atau rugi yang dihasilkan oleh perusahaan.

Bentuk saham adalah selembar kertas yang didalamnya menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik dari perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Saham ada tiga macam, yaitu saham biasa (common stock), saham preferen (preferred stock) dan saham bonus (bonus stock). (Riau, 2011)

1.3 Indeks Saham Syariah Indonesia

Menurut (IDX, 2021), Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang diluncurkan pada tanggal 12 Mei 2011 adalah indeks komposit saham syariah yang tercatat di BEI. ISSI merupakan indikator dari kinerja pasar saham syariah Indonesia. Konstituen ISSI adalah seluruh saham syariah yang tercatat di BEI dan masuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh OJK. Artinya, BEI tidak melakukan seleksi saham syariah yang masuk ke dalam ISSI.

Konstituen ISSI diseleksi ulang sebanyak dua kali dalam setahun, setiap bulan Mei dan November, mengikuti jadwal review DES.

Oleh sebab itu, setiap periode seleksi, selalu ada saham syariah yang

(7)

keluar atau masuk menjadi konstituen ISSI. Metode perhitungan ISSI mengikuti metode perhitungan indeks saham BEI lainnya, yaitu rata-rata tertimbang dari kapitalisasi pasar dengan menggunakan Desember 2007 sebagai tahun dasar perhitungan ISSI.

2. Teori Nilai Tukar

Nilai tukar atau kurs, merupakan harga mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Sedangkan Krugman dan Maurice (2000) mengartikan nilai tukar adalah harga sebuah mata uang dari suatu negara yang diukur atau dinyatakan dalam mata uang yang lain. Nilai tukar suatu mata uang dapat didefinisikan sebagai harga relatif dari mata uang terhadap mata uang negara lainnya. Pergerakan nilai tukar di pasar dapat dipengaruhi oleh faktor fundamental dan non fundamental. Faktor fundamental tercermin dari variabel-variabel ekonomi makro, seperti pertumbuhan ekonomi, laju suku bunga, perkembangan ekspor dan impor.

(Nini Sulaini, 2016) Teori penentuan nilai tukar dapat dijelaskan melalui sisi keseimbangan makro dan keseimbangan mikro. Dalam keseimbangan makro nilai tukar mencerminkan keseimbangan internal dan keseimbangan eksternal. Dengan menggunakan model persamaan identitas pendapatan nasional dapat dijelaskan penentuan nilai tukar dari sisi keseimbangan ekonomi makro. Jika internal balance dinyatakan dalam: Y = Y (A,Q), dimana A adalah domestic absorption (C+I+G) dan Q adalah nilai tukar riil (S.P*/P) maka Y = C + I + G + (X – M). Kurva

(8)

internal balance berslope negatif yang menunjukkan bahwa kenaikan pada domestik absorption akan diikuti oleh apresiasi pada Q sebagai pengalihan pengeluaran dari barang domestik. Bagian kiri dari kurva internal balance menunjukkan kelebihan permintaan dan bagian kanan adalah kelebihan penawaran. Proses penyesuaian dalam internal balance dapat dilakukan melalui suku bunga, apresiasi nilai tukar nominal atau lewat kebijakan fiskal dan moneter.

(Prasetyo, 2016) Ketika membicarakan perilaku nilai tukar pada jangka panjang, maka konsep ini berkaitan dengan konsep law of one price dan theory purchasing power parity. Law of One Price berarti jika kedua negara memproduksi barang yang identik, dengan transportation cost dan trade barriers yang sangat rendah, maka harga barang tersebut harus sama, tanpa melihat tempat dimana produk tersebut diproduksi.

Sedangkan theory purchasing power parity merupakan teori yang menyatakan bahwa nilai tukar antara kedua mata uang akan mencerminkan perubahan tingkat harga di kedua negara tersebut. Dengan asumsi barang-barang yang diproduksi identik dikedua negara, dengan transpotastion cost dan trade barriers yang amat rendah. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi perilaku nilai tukar pada jangka panjang yaitu relative price levels, trade barriers, preferences for domestic vs foreign goods, dan produktifitas. Ketika tingkat harga suatu negara meningkat (relatif pada tingkat harga luar negeri luar negeri) maka mata uang negara tersebut akan terdepresiasi pada jangka panjang. Ketika trade barriers meningkat, maka mata uang di negara tersebut akan terappresiasi pada

(9)

jangka panjang. Kenaikan permintaan ekspor akan menyebabkan mata uang terappresiasi pada jangka panjang, sebaliknya kenaikan permintaan impor akan menyebabkan mata uang terdepresiasi pada jangka panjang.

Dan ketika produktifitas suatu negara meningkat, maka mata uang negara tersebut akan terapresiasi.

(Prasetyo, 2016) Pada umumnya, kebijakan nilai tukar suatu negara diarahkan untuk mendukung neraca pembayaran dan membantu efektifitas kebijakan moneter. Dalam kaitannya dengan kebijakan moneter, depresiasi nilai tukar yang berlebihan dapat mengakibatkan tingginya laju suku bunga sehingga menganggu tujuan akhir kebijakan moneter untuk memelihara stabilitas harga. Sehubungan dengan itu, maka kebijakan nilai tukar yang tepat merupakan faktor penting dalam perkenomian suatu negara. Dalam perkembangannya di dunia, terdapat beberapa jenis sistem nilai tukar yang dapat digunakan sesuai dengan kebijakan masing-masing. Secara garis besar, suatu negara dapat menggunakan sistim nilai tukar tetap atau sistim nilai tukar mengambang.

3. Teori Jumlah Uang Beredar

Menurut Boediono (2014) pengertian mengenai uang beredar adalah seluruh uang kartal dan uang giral yang tersedia untuk digunakan masyarakat. Uang kartal merupakan uang tunai (yang dikeluarkan oleh pemerintah atau bank sentral) yang langsung di bawah kekuasaan masyarakat untuk menggunakannya. Sedangkan uang giral merupakan

(10)

seluruh nilai saldo rekening koran (giro) yang dimiliki masyarakat pada bank-bank umum. Saldo ini merupakan bagian dari uang yang beredar karena sewaktu-waktu dapat digunakan pemiliknya untuk kebutuhan.

Dalam kepustakaan ekonomi moneter, pengertian tersebut disebut uang beredar dalam arti sempit atau narrow money.

(Bank Indonesia, 2022)Dalam Publikasi Bank Indonesia, uang beredar dapat didefinisikan dalam arti sempit (M1) dan dalam arti luas (M2). M1 meliputi uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (giro dalam bentuk rupiah). Sedangkan M2 meliputi M1, uang kuasi (mencangkup tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, serta giro dalam valuta asing), dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun.

4. Teori Suku Bunga

Menurut Mishkin (2008), suku bunga adalah biaya pinjaman atau harga yang dibayar atas penyewaan dana-dana. Mishkin memandang suku bunga dari sisi peminjam (borrower). Suku bunga merupakan tingkat bunga yang dinyatakan dalam persen, jangka waktu tertentu (perbulan atau pertahun). Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur.

Suku bunga juga berarti penghasilan yang diperoleh oleh orang- orang yang memberikan kelebihan uangnya atau surplus spending unit

(11)

untuk digunakan sementara waktu oleh orang-orang yang membutuhkan dan menggunakan uang tersebut untuk menutupi kekurangannya unit.

Suku bunga adalah biaya pinjaman atau harga yang dibayarkan untuk dana pinjaman tersebut (biasanya dinyatakan sebagai persentase per tahun) (Mishkin, 2008).

Menurut (Mishkin, 2008), tingkat suku bunga merupakan salah satu indikator moneter yang mempunyai dampak dalam beberapa kegiatan perekonomian sebagai berikut:

a. Tingkat suku bunga akan mempengaruhi keputusan untuk melakukan investasi yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi.

b. Tingkat suku bunga juga akan mempengaruhi pengambilan keputusan pemilik modal apakah ia akan berinvestasi pada real assets ataukah pada financial assets.

c. Tingkat suku bunga akan mempengaruhi kelangsungan usaha pihak bank dan lembaga keuangan lainnya.

d. Tingkat suku bunga dapat mempengaruhi nilai uang beredar.

5. Hubungan Antar Variabel Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Indeks Harga Saham Syariah

Menurut (Tandelilin, 2010) menguatnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing merupakan sinyal positif bagi perekonomian yang mengalami inflasi. Menguatnya nilai tukar terhadap mata uang asing

(12)

akan menurunkan impor bahan baku untuk produksi dan akan menurunkan tingkat suku bunga yang berlaku.

Menurut (Septian Prima Rusbariandi, 2012) pendekatan pasar barang dimana perubahan kurs akan mempengaruhi suatu perusahaan, kemudian akan mempengaruhi pendapatan perusahaan atau struktur cost of fund.

Hal tersebut akan berpengaruh pada harga saham suatu perusahaan. Pada saat kurs rupiah terdepresiasi maka biaya bahan baku impor atau produk yang memiliki kaitan dengan impor akan mengalami kenaikan. Kondisi ini akan mendorong investor untuk melepas sahamnya sehingga berdampak pada penurunannya harga saham yang kemudian penurunan tersebut akan tercermin pada indeks harga saham, begitupun sebaliknya.

(Nurwani, 2008)Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing akan sangat mempengaruhi iklim investasi di dalam negeri khususnya di pasar modal. Perusahaan-perusahaan di Indonesia yang sudah go public dengan masih mengandalkan bahan baku impor dari luar negeri akan menerima dampak negatif apabila mata uang rupiah terdepresiasi atau mengalami pelemahan terhadap mata uang USD. Hal ini akan mengakibatkan naiknya bahan baku tersebut. Kenaikan biaya produksi akan mengurangi tingkat keuntungan perusahaan sehingga akan mendorong investor untuk melakukan aksi jual terhadap saham-saham yang dimilikinya. Apabila banyak investor yang melakukan hal tersebut, tentu akan mendorong penurunan indeks harga saham gabungan.

(13)

6. Pengaruh Jumlah Uang Beredar terhadap Indeks Harga Saham Syariah

Menurut (Samsul, 2006) jika jumlah uang beredar meningkat maka tingkat suku bunga menurun dan harga saham naik sehingga pasar menjadi bulish (terapresiasi). Jika tingkat bunga naik maka harga saham akan turun dan pasar modal dapat menjadi bearish (terdepresiasi).

Namun demikian, besar dampak kenaikan atau penurunan bunga terhadap harga saham tergantung seberapa besar perubahan bunga tersebut.

7. Pengaruh Suku Bunga Terhadap Indeks Harga Saham Syariah

Menurut (Tandelilin, 2010) tingkat suku bunga yang tinggi merupakan sinyal negatif terhadap harga saham. Tingkat suku bunga yang meningkat akan menyebabkan peningkatan suku bunga yang diisyaratkan atas investasi pada suatu saham. Disamping itu tingkat suku bunga yang meningkat bisa juga menyebabkan investor menarik investasinya pada saham dan memindahkannya pada investasi berupa tabungan atau deposito.

Menurut (Mushlihin, 2013) nilai suku bunga domestik di indonesia sangat terkait dengan tingkat suku bunga internasional. Hal ini disebabkan oleh akses pasar keuangan domestik terhadap pasar keuangan internasional serta kebijakan nilai tukar mata uang yang kurang fleksibel.

Selain bunga internasional, tingkat diskoto suku bunga indonesia juga merupakan faktor penting dalam penentuan suku bunga di indonesia.

(14)

bank sedangkan respon suku bunga deposito baru muncul setelah 7 sampai 8 bulan.

(Fathurrahman & Widiastuti, 2021) Meningkatnya suku bunga akan memberikan dampak negatif terhadap pasar modal karena akan membuat harga saham semakin fluktuatif. Pada saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga maka pada saat itu bank sentral sedang menarik uang yang beredar di masyarakat. Dengan naiknnya tingkat suku bunga maka para investor akan lebih tertarik untuk menyimpan uangnya pada bank dalam bentuk tabungan. Perubahan minat yang terjadi pada para investor maka akan mempengaruhi aliran kas perusahaan, sehingga dapat dikatakan kegiatan investasi pada pasar modal syariah akan menurun karena para investor lebih memilih untuk menabung di bank.

C. Kerangka Berpikir

Adapun yang merupakan variable independen dalam penelitian ini adalah nilai tukar (X1), jumlah uang beredar (X2), suku bunga (X3) yang menjadi variable dependennya adalah indeks harga saham syariah (Y).

(Meifira Putri, 2021)Perkembangan pasar modal syariah di Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan yang lumayan pesat. Perusahaan dalam menjalankan usahanya membutuhkan modal yang didapatkan dengan berbagai cara seperti menabung, melakukan kredit dengan bank atau mencari investor. Mencari dana melalui investor dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan menerbitkan saham di pasar modal.

(15)

(IDX, 2021) Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) setiap tahunnya selalu mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan saham syariah ini tidak lepas dari variabel makro ekonomi seperti nilai tukar, jumlah uang beredar, dan suku bunga. Nilai tukar menjadi indikator dalam perekonomian yang peran strategis dalam ekonomi Negara. Pergerakan nilai tukar sangat berpengaruh luas terhadap berbagai aspek termasuk perkembangan suku bunga, kinerja dalam sektor ekspor-impor yang menghasilkan output perekonomian. Jumlah uang beredar yang ada di suatu Negara otomatis akan mencerminkan bagaimana kondisi Negara tersebut. Jumlah uang yang beredar juga akan masuk pada sektor perekonomian Negara. Suku bunga merupakan harga dana yang dapat dipinjamkan dan besarnya pinjaman tersebut ditentukan oleh preferensi serta sumber pinjaman berbagai pelaku ekonomi di pasar.

Gambar 2. 1 Kerangka Berfikir

(16)

D. Hipotesis

Adapun hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. H01: Diduga nilai tukar berpengaruh terhadap indeks harga saham syariah.

Ha1: Diduga nilai tukar tidak berpengaruh terhadap indeks harga saham syariah.

2. H02: Diduga jumlah uang beredar berpengaruh terhadap indeks harga saham syariah.

Ha2: Diduga jumlah uang beredar tidak berpengaruh terhadap indeks harga saham syariah.

3. H03: Diduga suku bunga berpengaruh terhadap indeks harga saham syariah.

Ha3: Diduga suku bunga tidak berpengaruh terhadap indeks harga saham syariah.

4. H04: Diduga indeks harga saham syariah indonesia bernilai lebih baik sebelum pandemi covid-19.

Ha4: Diduga indeks harga saham syariah indonesia bernilai lebih baik selama pandemi covid-19.

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan rekomendasi ICRP, pengawasan medis pekerja yang terpapar radiasi harus didasarkan pada prinsip-prinsip mendasar terhadap kesehatan bekerja yang bertujuan untuk

[r]

dan mematuhi serta melaksanakan kewenangan pemerintah, tunduk terhadap penuntutan apabila mereka melakukan kesalahan yang melanggar hukum nasional atau hukum

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Asmidar (2018) dengan judul “Hubungan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga Di Dalam Rumah Dengan Kejadian ISPA Pada Anak Usia

Proses 3.2 Proses Pilih Pelanggan adalah proses yang dilakukan bagian gudang untuk memilih supplier dan data dugunakan diambil dari tabel Pelanggan.. Proses 3.3

Bagian percetakan bertanggung jawab dalam menyelesaikan segala sesuatu yang dipesan oleh pelanggan dalam mencetak barang dengan kualitas yang baik serta pada waktu yang

Adapun penyusunan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat penyelesaian program pendidikan Strata Satu jurusan manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu

Agar tidak terjadi lesi atau luka pada daerah kulit yang di serang oleh kuman. Membantu mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh klien... Program perawatan dan