• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kota Malang yang terletak dalam ketinggian antara 440 – 667 meter diatas permukaan air laut, di Jawa Timur lantaran potensi alam & iklim yang dimiliki.

Letaknya yang berada pada tengah-tengah wilayah Kabupaten Malang secara astronomis terletak 112,06° – 112,07° Bujur Timur & 7,06° – 8,02° Lintang Selatan. Kota Malang adalah kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya.

Bersama dengan Kabupaten Malang & Kota Batu, Kota Malang adalah bagian dari kesatuan wilayah yang dikenal dengan Malang Raya. Kota Malang mempunyai luas 110,06 Km². Jumlah penduduk hingga tahun 2021 merupakan sebesar 937,876 jiwa berdasarkan data dari BPS Kota Malang. Wilayah Kota Malang terdiri dari 5 Kecamatan yaitu Kec. Kedungkandang, Kec. Klojen, Kec.

Blimbing, Kec. Lowokwaru dan Kec. Sukun serta 57 kelurahan. Kota Malang dikenal juga menjadi Kota Pendidikan. Selain itu juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang relatif memadai seperti toko buku, super market, mall, pusat pelayanan kesehatan masyarakat dan fasilitas penunjang lainnya, oleh karena itu sangatlah diperlukan sarana & prasarana transportasi yang baik buat menunjang aktifitas masyarakat kota Malang. (Baskara, 2010)

Simpangan serupa sebuah titik temu berdasarkan dua atau lebih jaringan lalu lintas yang terdiri atas dua macam yaitu persimpangan bersinyal & tidak bersinyal. Simpang bisa diklasifikasikan sebagai dua berdasarkan alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL), simpang bersinyal & simpang tidak bersinyal.

Persimpang merupakan lokasi kejadian adanya permasalahan dalam suatu lalu lintas yaitu kemacetan. Bobot besarnya jumlah lalu lintas bergantung dalam kapasitas simpang yang terdapat pada jaringan jalan tersebut. Disetiap wilayah persimpangan pasti mempunyai masalahnya tersendiri entah itu berdasarkan penurunan kecepatan dikarenakan jalanan yang rusak, peningkatan tundaan &

antrian tunggangan yang tentunya sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar simpang. (Risdiyanto, 2018)

(2)

2 Sebagai salah satu penyokong sarana & prasarana transportasi, simpang yang mempunyai misi mendasar yakni seharusnya meninggikan atau menaikan jumlah mobilitas bersama mengurangi kemacetan namun kebenarannya malah berubah menjadi sebagai pembawa kemacetan karena tidak diimbangi beserta laju kinerja suatu ruas jalan & simpang. Rendahnya kemampuan sebuah simpang bakal mencetuskan kerugian buat pengguna jalan karena terjadinya pengurangan kecepatan, kenaikan tundaan & antrian kendaraan yang mengakibatkan tingginya dana operasional. Kemacetan atau tundaan dalam suatu simpang semakin dirasakan karena terjadi tundaan panjang dan antrian yang lama sampai terjadi dalam setiap simpang yang kejadian pada waktu padat di jadwal pagi atau sore hari. (Risdiyanto, 2018)

Meningkatnya kemacetan dalam jalan perkotaan maupun jalan luar kota yang diakibatkan bertambahnya kepemilikan kendaraan, terbatasnya sumber daya buat pembangunan jalan raya & belum optimalnya pengoperasian lalu lintas yang ada, adalah persoalan utama yang wajib di hadapi banyak sekali kota-kota di Indonesia tidak terkecuali di Malang. Ditinjau menurut segi pertumbuhan penduduk, banyaknya pendatang, meningkatnya permintaan barang & jasa, dan kegiatan masyarakat & wisatawan berakibat laju pertumbuhan kendaraan pada Kota Malang semakin tidak terkendali. Jalan yang adalah aspek terpenting pada melakukan aktivitas perekonomian telah tidak bisa menampung volume lalu lintas yang ada. (Tamin, 2000)

Studi ini dilakukan pada simpang tiga tak bersinyal tiga lengan, yaitu Jl.

Muharto Tim. – Jl. Mayjen Sungkono – Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang.

lantaran dalam kawasan ini terdapat pasar di pagi hari yang berada di sekitar simpang tersebut, sehingga banyak kendaraan atau aktifitas kendaraan yang terjadi dari arah jalan Jl. Muharto Tim. misalnya kendaran parkir, keluar masuknya kendaraan yang mengganggu aktifitas jalan. Kemudian pada sebelah selatan Jl. Mayjen Sungkono terdapat jembatan flyover yang banyak dilalui oleh kendaraan berat. Serta dalam pasar banyak Angkutan Umum dan becak yang memarkirkan kendaraan pada jalur sepeda motor yang menganggu lalu lintas pada jalan tersebut. Volume arus lalu – lintas simpang tiga tak bersinyal Jl. Muharto

(3)

3 Tim. – Jl. Mayjen Sungkono – Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang kondisi eksisting pada jam sibuk Senin 06.00 – 07.00 dengan volume arus lalu lintas 2631 kend/jam. Pada simpang ini memiliki lebar jalan: Jl. Muharto Tim. terdiri dari lebar jalan 9,8 meter termasuk bahu jalan dan memiliki klasifikasi jalan 1 lajur 2 arah, Jl. Mayjen Sungkono terdiri dari lebar jalan 13,1 meter termasuk bahu jalan dan memiliki klasifikasi jalan 2 lajur 2 arah, trotoar dan pembatas jalur, dan Jl.

Raya Ki Ageng Gribig terdiri dari lebar jalan 11 meter termasuk bahu jalan dan memiliki klasifikasi jalan 1 lajur 2 arah. Dengan adanya Permasalahan- permasalahan tersebut Peneliti melakukan studi dengan judul “Analisa Kinerja Simpang Tiga Tak Bersinyal (Studi Kasus: Jl. Muharto Tim. – Jl. Mayjen Sungkono – Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang)”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Tingginya volume lalu lintas melintas bertambah banyak dikarenakan jumlah arus yang melintas juga semakin bertambah.

2. Kawasan ini merupakan jalur dominan untuk kendaraan berat melintas.

Gambar 1. 1 Pengambilan Dokumentasi Dilokasi Penelitian

1.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagaimana kinerja simpang tiga tak bersinyal Jl. Mayjen Sungkono - Jl.

Muharto - Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang pada saat ini (2022).

1 2

(4)

4 2. Alternatif apa aja yang lebih baik untuk meningkatkan kinerja simpang dan mengatasi permasalahan kemacetan, jika derajat kejenuhan melebihi batas yang telah ditentukan sebesar DS ≥ 0,85.

3. Bagaimana kinerja simpang tiga tak bersinyal pada Jl. Mayjen Sungkono - Jl. Muharto - Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang diestimasikan untuk kondisi lima tahun yang akan datang (2027).

1.4. Tujuan Studi

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penelitian ini sebagai berikut : 1. Mengetahui kinerja simpang tiga tak bersinyal Jl. Mayjen Sungkono - Jl.

Muharto - Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang pada saat ini (2022) 2. Mengetahui kinerja yang lebih baik apabila kinerja kurang baik pada

simpang tiga tak bersinyal Jl. Mayjen Sungkono - Jl. Muharto - Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang.

3. Untuk mengetahui kinerja simpang tiga bersinyal pada Jl. Mayjen Sungkono - Jl. Muharto - Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang pada kondisi lima tahun mendatang (2027).

1.5. Manfaat Studi

Manfaat yang diperoleh sebagai berikut : a. Bagi Akademisi

Menerapkan ilmu yang diperoleh diperkuliahan beserta kondisi langsung di lapangan dapat memahami dan menambah ilmu pengetahuan serta wawasan khususnya di bidang transportasi mengenai evaluasi kinerja pada simpang tak bersinyal.

b. Bagi Pemerintah Kota Malang

Dapat memberikan saran dan masukan kepada pemerintah Kota Malang bagi Dinas Pekerjaan Umum serta Dinas Perhubungan untuk pembangunan maupun perancangan mengenai kinerja simpang tiga tak bersinyal Jl.

Mayjen Sungkono - Jl. Muharto - Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang.

c. Bagi Masyarakat

(5)

5 Dapat membagikan berita beserta penjelasan bagi masyarakat terkait dengan kinerja simpang dan lebih spesifik kinerja simpang tiga tak bersinyal Jl.

Mayjen Sungkono - Jl. Muharto - Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang.

1.6. Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dari Tugas Akhir ini, adalah sebagai berikut:

1. Daerah yang ditinjau adalah simpang tiga tak bersinyal Jl. Mayjen Sungkono - Jl. Muharto - Jl. Raya Ki Ageng Gribig, Kota Malang.

2. Pengambilan data dilakukan pada saat jam padat pagi hari (07.00 WIB - 09.00 WIB), siang hari (11.00 WIB - 14.00 WIB) dan sore hari (15.00 WIB - 18.00 WIB).

3. Penelitian dilakukan saat pandemic.

4. Metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 (Departemen Pekerjaan Umum, 1997) digunakan untuk pengerjaan pada penelitian yang akan dilakukan pada simpang tiga tak bersinyal.

5. Kendaraan yang diamati adalah,

a. Kendaraan ringan (LV), seperti : minibus, mobil penumpang, oplet, pick up, mobil box dan sedan.

b. Kendaraan berat (HV), seperti : bus, truk 2 as, truk 3 as, truk gandeng dan kendaraan yang memiliki roda lebih dari 4 roda.

c. Sepeda motor (MC)

d. Kendaraan tak bermotor (UM), seperti : segala jenis kendaraan yang digerakan oleh tenaga manusia atau hewan. Gerobak, sepeda dan becak.

6. Variable kinerja simpang yang diamati adalah, a. Geometri lalu lintas

b. Arus lalu lintas

c. Keadaan Lingkungan Sekitar d. Peta Lokasi

e. Luas Wilayah f. Jumlah Penduduk

Referensi

Dokumen terkait

Dengan kata lain apa yang dinamakan interaksi edukatif, secara khusus adalah sebagai interaksi belajar-mengajar (Sardiman, 2004: 1). Kegiatan belajar mengajar merupakan

Pada siklus I tes yang diberikan dalam bentuk esai dengan jumlah soal 5 nomor. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 9 orang yang belum tuntas. Untuk daya serap klasikal

Berdasarkan uraian tersebut , maka untuk mengetahui jumlah kunjungan wisatawan, tingkat hunian kamar hotel dan jumlah kamar hotel apakah berpengaruh simultan dan parsial

Mendeskripsikan kepraktisan dari media pembelajaran game edukasi berbasis Android pada materi Bentuk Aljabar berdasarkan penilaian ahli materi, ahli media, praktisi

Sesuai dengan Organisasi Tata Kerja (OTK), UNDIKSHA terdiri atas 7 Fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis subak sebagai bagian Warisan Budaya Dunia di Desa Mengesta Kabupaten Tabanan

Pemolaan komunikasi dalam keterkaitan antar komponen yang meliputi peristiwa komunikasi dan komponen komunikasi sehingga menimbulkan beberapa perilaku yang khas dan menjadi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh buku saku gizi terhadap tingkat pengetahuan gizi pada anak Kelas 5 Sekolah Dasar, dengan alasan bahwa anak kelas