• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

15 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem pembangunan Indonesia terus mengalami perubahan, namun sejalan dengan Konstitusi. Perubahan tersebut disebabkan oleh pergantian kepemimpinan negara-negara papan atas Indonesia. Pada zaman Presiden Sukarno, Indonesia tidak boleh terlalu bergantung pada negara lain atau yang disebut sistem kemerdekaan, dan Presiden Sukarno sangat yakin bahwa ia memiliki kemampuan untuk membangun negara Indonesia. Pada masa Presiden Kedua, Suharto atau yang biasa disebut Orde Baru, terjadi perubahan atau perubahan di era Soekarno yang awalnya anti negara lain menjadi sangat pro negara lain. Suharto telah membuka peluang bagi negara lain untuk berinvestasi di Indonesia. Pada masa Presiden Ketiga, B.J., yang memberikan kebebasan berpendapat pada masa reformasi ini, kebijakan pembangunan berbasis demokrasi ini “oleh rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Melalui era reformasi, Indonesia semakin terbuka dengan negara lain, dan Indonesia sendiri mengikuti banyak aliansi seperti PBB, APEC dan ASEAN. Di era globalisasi, Indonesia harus mengikuti tren tersebut, yaitu tren kerjasama dengan negara lain (internasional). Pokok atau inti pembangunan Indonesia adalah pembangunan manusia dan Pancasila sebagai dasar, tujuan, dan pedoman pembangunan nasional. Negara ASEAN dengan indeks pembangunan manusia tertinggi adalah singapura dengan nilai rata-rata 0,936, sedangkan negara dengan jumlah indeks pembangunan manusia terkecil adalah myamar dengan rata-rata 0,587. Indonesia sendiri terletak pada urutan ke 6 setelah philipina dengan rata-rata indeks pembangunan manusia sebesar 0,712.

Tujuan dari pembangunan negara Republik Indonesia yaitu untuk mensejahterakan rakyatnya, tujuan tersebut sesuai dengan pembukaan (UUD 1945) “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”. Indikator kesejahteraan penduduk suatu daerah dapat dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Akan tetapi indikator yang lebih

(2)

komprehensif untuk mengukur kesejahteraan penduduk suatu daerah yang berlaku secara internasional adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tersusun dari tiga komponen yaitu indeks kesehatan, indeks pendidikan dan standar hidup layak.

Dalam UU 21/2001 untuk Provinsi Papua dimana pemerintah pusat melimpahkan wewenang kepada pemerintah daerah untuk menentukan pembangunan yang diiinginkan oleh rakyatnya. Pengelolaan dana seperti DAU, DAK, PAD. Dari penerimaan tersebut pemerintah daerah akan mengalokasikan dana sebagai bentuk pengeluaran daerah yang digunakan untuk meningkatkan perekonomian dan yang terpenting adalah menciptakan kualitas sumber daya manusia agar tujuan tersebut dapat tercapai diantaranya melalui anggaran APBD pendidikan dan anggaran APBD kesehatan. Oleh karena itu dalam melihat tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di suatu daerah kita harus melihat alokasi pengeluaran daerahnya, apakah pengeluaran tersebut efektif dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia pada suatu daerah.

UNDP (2021), pembangunan manusia didefinisikan sebagai suatu proses untuk perluasan pilihan yang lebih banyak kepada penduduk melalui upaya-upaya pemberdayaan yang mengutamakan peningkatan kemampuan dasar manusia agar dapat sepenuhnya berpartisipasi di segala bidang pembangunan.

Elemen-elemen pembangunan manusia secara tegas menggaris bawah sasaran yang ingin dicapai, yaitu hidup sehat dan panjang umur, berpendidikan dan dapat menikmati hidup secara layak. Ini berarti pembangunan manusia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkaitan dengan kualitas manusia dan masyarakat. Karena itu, manusia merupakan sentral dari proses pembangunan tersebut.

UNDP (1995), untuk melihat sejauh mana keberhasilan pembangunan dan kesejahteraan manusia, UNDP telah menerbitkan suatu indikator yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yaitu untuk mengukur kesuksesan pembangunan dan kesejahteraan suatu negara. Indeks Pembangunan Manusia

(3)

(IPM) adalah suatu tolak ukur angka kesejahteraan suatu daerah atau negara yang dilihat berdasarkan tiga dimensi yaitu: angka harapan hidup pada waktu lahir, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, dan kemampuan daya beli.

Indikator angka harapan hidup mengukur kesehatan, indikator angka melek huruf penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah mengukur pendidikan dan terakhir indikator daya beli mengukur standar hidup. UNDP dalam model pembangunannya, menempatkan manusia sebagai titik sentral dalam semua proses dan kegiatan pembangunan.

Tabel 1. 1. Indeks Pembangunan Manusia 5 Provinsi Tertinggi di Indonesia Tahun 2015-2019

Provinsi

Indeks Pembangunan Manusia 2015 - 2019

2015 2016 2017 2018 2019 DKI Jakarta 78,99 79,60 80,06 80,47 80,76 Daerah Istimewa Yogyakarta 77,59 78,38 78,89 79,53 79,99 Kalimantan Timur 74,17 74,59 75,12 75,83 76,61 Kepulauan Riau 73,75 73,99 74,45 74,84 75,48

Bali 73,27 73,65 74,30 74,77 75,38

Papua 57,25 58,05 59,09 60,06 60,84

Indonesia 68,58 69,16 69,75 70,39 71,04

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa persebaran persentase IPM di Indonesia belum merata terutama Provinsi Papua yang merupakan wilayah paling timur di Indonesia dengan angka persentase terkecil dibandingkan dengan seluruh provinsi lain yang ada di Indonesia. IPM merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan pembangunan dalam jangka panjang. Untuk melihat kemajuan pembangunan manusia, terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu kecepatan dan status pencapaian. Secara umum, pembangunan manusia Papua terus mengalami kemajuan selama periode 2015 hingga 2019. IPM Papua meningkat dari 57,25 pada tahun 2015 menjadi sebesar 60,84 di tahun 2019. Dimana Kabupaten/Kota dengan IPM tertinggi adalah Kota Jayapura sebesar 80,16 di

(4)

Tahun 2019, kedua Kabupaten Mimika sebesar 74,13, dan IPM terendah terdapat di Kabupaten Nduga sebesar 30,75 Selama periode tersebut, IPM di provinsi paling timur Indonesia ini rata-rata tumbuh sebesar 1,01 persen tiap tahunnya. Meskipun nominal IPM Papua terus meningkat setiap tahunnya, namun pertumbuhannya selama periode 2010-2019 terus melambat. Dengan nilai IPM yang masih berada di rata-rata 60, pembangunan manusia Papua masih berstatus rendah.

Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur Papua Bagian Barat. Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973.

Suatu daerah harus memiliki kemampuan dalam mengelola keuangan atau kapasitas fiskal daerah, seperti sumberdaya alam, potensi daerah, keadaan alam dan kemampuan sumberdaya manusia tiap-tiap daerah. Hal itu menjadi sangat penting karena menentukan besarnya tingkat pendapatan suatu daerah (Mahardika & Santoso, 2013).

Tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga berpengaruh terhadap jumlah penerimaan pendapatan daerah yang selanjutnya akan berdampak pada proses pembangunan dan menyangkut kesejahteraan dari masyarakat. Besar kecilnya pendapatan yang diperoleh suatu daerah digunakan untuk membiayai segala kegiatan pemerintah daerah tersebut termasuk juga dalam hal pembangunan. Tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat tercermin melalui Produk Domestik Regional Bruto. PDRB Provinsi Papua selama kurun lima tahun terakhir adalah masing-masing 129,259,690 miliar rupiah (2015), 141.820,893 miliar rupiah (2016), 148,488,796 miliar rupiah (2017), 159.790,31 miliar rupiah (2018), dan 134.677,64 miliar rupiah (2019). Pada tahun 2019 PDRB provinsi papua mengalami penurunan 15% atau Rp24,032,538 milliar rupiah.

(5)

Seberapa besar komitmen pemerintah terhadap pembangunan pendidikan antara lain tercermin dari anggaran pendidikan yang disediakan dalam APBN. UU No. 20 Tahun 2003 yang menyebutkan bahwa ”dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20 persen dari APBD.

Anggaran pendidikan provinsi papua meningkat dengan signifikan pada tahun 2016 sebesar 61% dan pada tahun 2017 sebesar 51% terkecuali pada tahun 2018 sampai 2019 hanya meningkat sebesar 5%. Peningkatan ini mencerminkan keseriusan pemerintah Provinsi Papua dalam meningkatkan pembangunan manusia yang tercermin dalam realisasi anggaran tahun 2019 yang mencapai 4.640.577.753.650 triliun rupiah.

Kesehatan merupakan kebutuhan penting dan sekaligus merupakan investasi bagi pembangunan sumber daya manusia agar mereka dapat sehat dan hidup secara produktif. Keseriusan pemerintah daerah provinsi papua dapat dilihat melalui relialisasi anggaran kesehatan provinsi papua pada gambar dibawah ini. pengeluaran pemerintah sektor kesehatan mengalami peningkatan. Terjadi peningkatan terbesar pada tahun 2016 dan 2018 sebesar 92% dengan nilai Rp2.605.889.972.835 dari Rp1.356.652.941.396 pada tahun 2015, dan pada tahun 2018 terjadi peningkatan sebesar 68% dengan nilai Rp4.839.689.013.491 dari Rp2.881.918.176.560. Namun pada tahun 2018 sampai 2019 mengalami penurunan -2% sebesar Rp102.165.227.310 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Pembangunan pendidikan dan kesehatan dapat berjalan dengan baik dapat terlaksana apabila pembangunan infrastruktur didaerah juga diperbaiki dan di tingkatkan. Pembangunan infrastruktur yang baik akan menjamin efisiensi, memperlancar pergerakan barang dan jasa, dan meningkatkan nilai tambah perekonomian. Ketersediaan infrastruktur merupakan salah satu faktor pendorong produktivitas daerah. Keberadaan infratsruktur seperti jalan raya dan jembatan akan mampu membuka akses bagi masyarakat dalam melaksanakan aktivitas ekonomi. Pengeluaran pemerintah sektor infrastruktur

(6)

terjadi peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2016 sebesar 309% dengan nilai Rp4.423.426.159.409 dari Rp1.080.843.140.796 pada tahun 2015.

Berdasarkan pernyataan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Analisis Dampak Pengeluaran Pemerintah Terhadap PDRB Sektor Pendidikan, Kesehatan dan Infrastruktur terhadap IPM di Papua Tahun 2015-2019”. Faktor potensial yang mempengaruhi IPM adalah Produk Domestik Bruto (PDRB). Produk domestik bruto yang tinggi akan mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Daya beli merupakan salah satu indikator majemuk IPM, yaitu indikator pendapatan, sehingga daya beli masyarakat yang mengkonsumsi barang sangat erat kaitannya dengan IPM. Faktor lain yang diyakini mempengaruhi IPM adalah pengeluaran pemerintah untuk sektor pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

Kehadiran fasilitas pendidikan dan kesehatan yang murah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produktivitas dan dengan demikian pertumbuhan pendapatan.

B. Rumusan Masalah

Bedasarkan uraian yang dikemukakan pada latar belakang, maka permasalahan yang akan diteliti ialah:

Bagaimana pengaruh PDRB (ADHK), pengeluaran pemerintah sektor Pendidikan, kesehatan dan infrastruktur terhadap indeks pembangunan manusia (IPM) di Kabupaten/Kota Provinsi Papua pada tahun 2015-2019?

C. Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam penilitian ini:

Penelitian ini menggunakan empat variable independent yaitu PDRB (ADHK) (X1), pengeluaran pemerintah sektor Pendidikan (X2), kesehatan (X3), dan infrastruktur (X4). Dan memiliki variable dependen yaitu indeks pembangunan manusia di Kabupate/Kota Provinsi Papua Tahun 2015-2019.

D. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari peneltian ini adalah untuk mengetahui:

(7)

Pengaruh PDRB, pengeluaran pemerintah sektor Pendidikan, kesehatan dan infrastruktur terhadap indeks pembangunan manusia (IPM) di Kabupaten/Kota Provinsi Papua.

E. Manfaat

1. Manfaat akademis, hasil penelitian diharapkan mampu menambah pengetahuan keilmuan bidang ekonomi, khususnya terkait dengan indeks pembangunan manusia.

2. Manfaat kebijakan, penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi kebijakan untuk pemerintah Kabupaten/Kota Provinsi Papua menyangkut indeks pembangunan manusia. Sehingga dapat menjadikan kebijakan yang efektif.

3. Manfaat operasional, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan indeks pembangunan manusia.

Gambar

Tabel 1. 1. Indeks Pembangunan Manusia 5 Provinsi Tertinggi di  Indonesia Tahun 2015-2019

Referensi

Dokumen terkait

Data Lagu Pengguna yang direkam di instrumen dapat ditransfer ke komputer dan disimpan sebagai file, sementara data Lagu (file MIDI) yang didapatkan dari internet dapat ditransfer

Oleh karena itu, peristiwa turunnya Al Qur’an selalu terkait dengan kehidupan para sahabat baik peristiwa yang bersifat khusus atau untuk pertanyaan yang muncul.Pengetahuan

NUSA INDAH PERKASA TRANSPORTASI JL.I GUSTI NGURAH RAI RT.. NUSA INDAH PERKASA TRANSPORTASI JL.I GUSTI NGURAH

Senyawa ini dikandung lebih banyak pada pucuk tanaman teh ( Camellia sinensis ) varietas assamica dibandingkan varietas sinensis. Teh hitam lebih sedikit mengandung

Modul ini dikembangkan dengan tujuan agar mahasiswa mengerti, memahami masalah Penggunaan Obat yang Rasional ( POR ); memahami dan berkemampuan cara mengidentifikasi masalah POR;

LAPORAN LABA RUGI DAN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN BULANAN PT BANK MANDIRI (PERSERO), Tbk

Posted at the Zurich Open Repository and Archive, University of Zurich. Horunā, anbēru, soshite sonogo jinruigakuteki shiten ni okeru Suisu jin no Nihon zō. Nihon to Suisu no kōryū

ayo kita coba bermain ayo kita coba bermain gerakan yang agak sulit gerakan yang agak sulit yaitu berjalan di balok titian yaitu berjalan di balok titian naiklah ke atas balok