• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI TENTANG KEDUDUKAN AKAL DALAM AL-QUR AN DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STUDI TENTANG KEDUDUKAN AKAL DALAM AL-QUR AN DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI TENTANG KEDUDUKAN AKAL DALAM AL-QUR’AN DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.i) Pada prodi

Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

ST. HAJAR

105 190 1485 11

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1436 H / 2015 M

(2)
(3)
(4)
(5)

HALAMAN MOTTO

KUNCI SUKSES ADALAH USAHA DAN DO’A, MILIKI IMAN DAN ILMU UNTUK MENGABDI

Gelar Kesarjanaan Bagi Mahasiswa Adalah Awal Perjuangan Dalam Mendayung Bahtera Kehidupan Ini

Kupersembahkan Buat Ayahanda,Ibunda, Dan Saudara - Saudaraku yang tercinta

Senantiasa mendo’akan dan rela mengor- Bankan segalanya demi keberhasilanku.

vi

(6)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Dengan penuh kesadaran, penulis/ peniliti yang bertanda tangan di bawa ini, menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis/

peneliti sendiri. Jika kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat di buat atau dibantu secara langsung orang lain baik keseluruhan ataupun sebagian, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Makassar, 24 Syawal 1436 H 09 Agustus 2015 M

Peneliti

St. Hajar

v

(7)
(8)

ABSTRAK

St. Hajar, “Kedudukan Akal Dalam Alquran dan Implementasinya Dalam Pendidikan Agama Islam”. (Dibimbing oleh Hj. Maryam dan B. Marjani Alwi).

Studi ini bermaksud untuk membahas tentang Kedudukan akal dalam Alquran dan implementasinya dalam pendidikan agama Islam.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian Library research, dimana penelitian lebih berfokus dan berhadapan langsung dengan teks literatur yang relevan atau buku-buku yang berkaitan dengan topik yang dibahas, terutama kitab-kitab tafsir klasik dan modern.

Adapun pendekatan ilmiah yang digunakan dalam penyusunan data adalah pendekatan tafsir, penedekatan emperik, penedakatan filosofis. Sedangkan proses pengumpulan data pustaka dengan dua cara yakni kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Setelah data terkumpul, kemudian dianalisis dengan pola berpikir induktif dan deduktif.

Berdasarkan hasil kajian yang mendalam diperoleh kesimpulan bahwa konsep akal dalam Alquran tidak pernah ditemukan dalam bentuk kata benda atau isim, melainkan yang ada hanya dalam bentuk kata kerja masa kini dan masa lampau yang menurut artinya memahami, memikirkan, menganalisa. Sebenarnya Alquran tidak menjelaskan kata- kata itu secara eksplisit, akan tetapi dari konteks ayat-ayat mengungkapkan akar kata akal mengandung suatu implikasi bahwa akal merupakan sarana yang dapat dipakai untuk menganalisis, merenung, berfikir, dan memahami

Implikasi konsep akal dalam pendidikan Islam bahwa, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat mengembangkan potensi akal.

Pendidikan harus membina, mengarahkan, dan mengembangkan potensi akal manusia, sehingga terampil dalam memecahkan berbagai masalah.

Keseimbangan antara pikiran (fikr) dan dan rasa (dzikr) ini menjadi penting karena keduanya adalah pilar peradaban yang tahan banting sejarah. Keduanya adalah perwujudan iman seorang muslim. Umat yang berpegang kepada kedua pilar ini disebut Alquran sebagai ulul albab.

Mereka, disamping mampu mengintegrasikan kekuatan fikr dan dzikr, juga mampu pula mengembangkan kearifan yang menurut Alquran dinilai sebagai khairan katsiran. Perpaduan antara pikiran dan rasa ini merupakan persyaratan mutlak dalam membangun pendidikan agama Islam melalui pengembangan kurikulum PAI. Keseimbangan atara fikr dan dzikr atau ‘aqal dan ‘isyq harus diintegrasikan secara mantap bila mau membangun peradaban modern yang segar. Sesuatu yang tentunya sangat diidamkan olah umat manusia, dan disinilah semestinya peran yang harus dimainkan umat Islam untuk memberikan kontribusinya bagi pendidikan agama Islam melalui pengembangan kurikulum PAI.

Vii

(9)
(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

BERITA ACARA ...ii

PENGESAHAN SKRIPSI ...iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ...v

MOTTO ...vi

ABSTRAK ...vii

PRAKATA ... viii

DAFTAR ISI ...xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...8

C. Tujuan Penelitian ...8

D. Manfaat Penelitian ...8

E. Jenis Penelitian ...9

F. Metode Pendekatan ...10

G. Metode Pengumpulan Data ...10

H. Metode Pengolahan Data ...11

I. Teknik Analisis Data ...11 BAB II KEDUDUKAN AKAL DALAM AL-QUR’AN

xi

(11)

A. Pengertian Akal ...13

B. Akal dalam prespektif Alquran ...16

C. Kedudukan Akal dalam Alquran ...24

D. Fungsi Akal Bagi Manusia Menurut Islam ...41

BAB III KONSEP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM A. Pengertian Pendidikan Agama Islam ...48

B. Karakteristik Pendidikan Agama Islam ...52

C. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam ...53

D. Kurikulum Pendidikan Agama Islam ...57

E. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ...61

BAB IV IMPLEMENTASI KEDUDUKAN AKAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM A. Akal Sebagai Karunia Allah ...65

B. Akal Sebagai Alat Pendidikan Bagi Anak ...68

C. Akal dan Implikasinya Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan ...74

D. Hubungan Akal Dalam Pendidikan Islam ...78

E. Urgensi Konsep Akal Dalam Pendidikan Agama Islam ...86

F. Implementasi Kedudukan Akal Dalam Pendidikan Agama Islam ...93

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 104

B. Saran ... 105 xii

(12)

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR KOMPOSISI BAB

xiii

(13)
(14)

DAFTAR KOMPOSISI BAB

BAB I: Pendahuluan

BAB II: Kedudukan Akal Dalam Alquran BAB III: Konsep Pendidikan Agama Islam

BAB IV: Implementasi Kedudukan Akal Dalam Pendidikan Agama Islam BAB V: Penutup

(15)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Agama Islam, agama yang di anut oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia merupakam way of life yang menjamin kebahagian hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang esensial, berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Alquran memberikan petunjuk dalam persoalan aqidah, syariah dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar- dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan tersebut, dan Allah Swt menugaskan Rasulullah Saw, untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu.

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dibekali dan dilengkapi dengan berbagai potensi fitrah yang tidak dimiliki makhluk lainnya. potensi istimewa ini dimaksudkan agar manusia dapat mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai khalifatullah di muka bumi dan juga abdi Allah untuk beribadah kepadanya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah (2): 30:



















...

Terjemahnya:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi... (Kementerian Agama RI, 2007: 6).

1

(16)

2

Kemudian dilanjutkan dengan ayat tentang tugas manusia sebagai hamba, Allah berfirman dalam Q.S Az-Zariyat (51): 56:















Terjemahnya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Kementerian Agama RI, 2007:520).

Untuk mengaktualisasikan tugas ganda tersebut manusia dibekali dengan sejumlah potensi di dalam dirinya. Potensi-potensi tersebut berupa ruh, nafs, akal, qalb, dan fitrah, tetapi ada juga yang menyebutnya dengan istilah jismiah/jasadiah, nafsiah dan ruhaniah.

Di dalam Alquran dijelaskan Allah bahwa manusia adalah makhluk terbaik dibandingkan dengan makhluk –makhluk Allah lainnya.

salah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain adalah kecerdasan. Manusia memiliki kecerdasan yang jauh lebih tinggi dibandingkan makhluk hidup lainnya. sehingga ciptaan yang lainnya ditundukkan untuk kepentingan manusia. Dengan kecerdasan ini pula, manusia bisa menguasai dunia dan melangsungkan peradaban.

Kecerdasan manusia bisa berkembang sejalan dengan interaksi manusia dengan alamnya. Sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk belajar dan meningkatkan potensi kecerdasannya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S al- Isra (17): 70:

(17)

3





































Terjemahnya:

“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Kementerian Agama RI, 2007: 290).

Alquran telah menambahkan dimensi baru terhadap studi mengenai fenomena jagad raya dan membantu pikiran manusia melakaukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam meteri.

Alquran menunjukkan bahwa materi bukanlah sesuatu yang kotor dan tanpa nilai, karena padanya terdapat tanda-tanda yang membimbing manusia kepada Allah Swt serta kegaiban dan keagungan-Nya. Alam semesta yang amat luas adalah ciptaan Allah, dan Alquran mengajak manusia untuk menyelidikinya, mengungkap keajaiban kegaibannya, serta berusaha memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah ruah untuk kesejahteraan hidupnya. Jadi Alquran membawa manusia kepada Allah Swt melalui ciptaan-Nya dan realitas konkret yang terdapat di bumi dan di langit. Inilah sesungguhnya yang dilakukan oleh ilmu pengetahuan yang mengadakan observasi dan eksperimen.

Fungsi Alquran yang paling berharga dalam wacana keilmuan kita adalah pembentukan akal ilmiah. Ada bentuk akal yang bisa kita namakan sebagai akal orang awam atau akal yang dipengaruhi khurafat.

(18)

4

Akal seperti ini membenarkan segala sesuatu yang diajukan kepadanya tanpa menelitinya. Dan akal ini menerima apa adanya, terutama ketika yang mengajukan itu adalah orang yang dianggap istimewa olehnya, seperti nenek moyang, para pembesar, dan pemimpin.

Selain bentuk akal tadi, ada akal lain yang memiliki sifat dan ciri khas tersendiri, yakni bentuk akal yang dibangun secara Islam oleh Alquran sebagai bekal bagi manusia untuk mengarungi kehidupannya di dunia. Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa ilmu tidak akan berkembang, mengakar dan meluas. Bahkan ia tidak dapat berbentuk kecuali dalam kondisi jiwa dan pikiran yang siap untuk berpikir. Oleh karena itu, pemikiran harus terbuka, segala pendapat harus siap didiskusikan, dan orang yang mempunyai gagasan harus mengajukan dalil-dalilnya. Kesemuanya itu secara bertahap telah diproyeksikan oleh Alquran dalam kehidupan yang Islami. Dengan kata lain, Alquran telah mengajak dan memberikan tuntutan untuk membentuk “akal ilmiah” yang bebas dan obyektif. Serta menolak “akal khurafat” yang sesat, “akal taklid”

yang jumud, serta akal yang mengikuti hawa nafsu.

Kafrawi Ridwan (1993: 98) mengemukakan bahwa:

“Lafadz ‘alq berasal dari kata ‘aqala-ya ‘qilun-‘aqlan yang berarti habasa (menahan, mengikat), berarti juga ayada mengokohkan.

Serta arti lainnya fahima (memahami). Lafdz ‘aql juga disebut dengan qalb (hati)”.

Manusia sebagai pelaku dan sasaran pendidikan memiliki alat yang dapat digunakan untuk mencapai kebaikan, dan keburukan. Alat yang dapat digunakan untuk mencapai kebaikan adalah hati nurani, akal,

(19)

5

ruh, dan sirr. Sedangkan alat yang digunakan untuk mencapai keburukan adalah hawa nafsu. Dalam konteks ini, pendidikan harus berupaya mengarahkan manusia agar memiliki keterampilan untuk dapat mempergunakan alat yang dapat membawa kepada kebaikan , yaitu akal yang menjauhkannya dari mempergunakan alat yang dapat membawa kepada keburukan yaitu hawa nafsu.

Muhammad Quraish Shihab (2004: 135) mengemukakan:

“Akal adalah utusan kebenaran, ia adalah kendaran pengetahuan, serta pohon yang membuahkan istiqomah dan konsistensi dalam kebenaran, karena itu manusia baru bisa menjadi manusia kalau ada akalnya”.

Akal bukan hanya daya pikir, tetapi gabungan dari sekian daya dalam diri manusia yeng menghalanginya terjerumus ke dalam dosa dan kesalahan, karena itulah ia dinamai oleh Alquran ‘aql (akal) yang secara harifah berarti tali yang mengikat hawa nafsu manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Ar-Rum (30): 24:











































Terjemahnya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya”. (Kementerian Agama RI, 2007: 406).

(20)

6

Islam memandang pendidikan sebagai proses yang terkait dengan upaya mempersiapkan manusia untuk mampu memikul taklif (tugas hidup) sebagai khalifah Allah di muka bumi. Untuk maksud itu, manusia diciptakan lengkap dengan potensinya berupa akal dan kemampuan belajar.

Dalam hal ini, Allah mengutus para rasul setelah Adam a.s kepada umat manusia untuk membimbing mereka dari kondisi yang

“gelap” kepada kondisi yang “terang”, dari kondisi yang serba tidak berpradaban menjadi berpradaban melalui al- Kitab, al-Hikmah, dan pendidikan. Selanjutnya, Allah memerintahkan kepada manusia untuk membaca. Diletakkannya perintah membaca dalam ayat-ayat permulaan diturunkannya Alquran.

Membaca tidak hanya berarti memberantas buta huruf, tetapi juga memahami dan mempelajari semua ilmu yang berguna bagi makhluk dan membimbing manusia agar insyaf dan bertaqwa kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan firman-Nya, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhannmu”. Perhatikan firman-Nya, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, dan isyarat-Nya untuk menggunakan peralatan memperoleh ilmu, “yang mengajar manusia dengan perantara kalam “.

Tidak ada petunjuk yang lebih jelas tentang kemulian ilmu, ulama dan pendidikan ketimbang penanam Alquran dengan Al-Kitab yang melambangkan makna membaca pengetahuan dan belajar. Oleh sebab

(21)

7

itu, tidak aneh apabila umat Islam disebut umat iqra’, umat ilmu pengetahuan dan cahaya.

Jalan untuk dapat beribadah adalah memperoleh petunjuk, menjadi berbudaya, dan memakmurkan bumi guna melaksanakan tugas hidup dari Allah yaitu dengan ilmu dan pengetahuan yang dijiwai dengan iman. Akal menghasilkan ilmu dan ilmu berkembang dalam masa keemasan sejarah Islam. Supaya dapat dipelajari dengan baik dan benar, ilmu perlu diklasifikasikan (digolong-golongkan). karena itu merupakan salah satu kunci untuk memahami tradisi intelektual islam.

Sejak manusia menuntut kemajuan dan kehidupan, maka sejak itu timbul gagasan untuk masa pengalihan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Maka dari itu dalam sejarah pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka kemajuan kehidupan generasi demi generasi sejalan dengan tuntutan kemajuan masyarakatnya.

Dari uraian di atas, maka kita dapat menarik garis besar bahwa akal sangat berperan terhadap proses pembelajaran. Sedangkan proses pembelajara Pendidikan Agama Islam agar bisa berhasil dengan baik maka perlu pula diperhatikan bagaimana kedudukan dan peran akal yang semestinya yang kemudian diimplementasikan dalam Pendidikan Agama Islam.

Berangkat dari latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji secara komprehensif mengenai kedudukan akal yang

(22)

8

diproyeksikan Alquran tersebut, dengan judul “Kedudukan Akal dalam Al- Qur’an dan Implementasinya dalam Pendidikan Agama Islam”.

B. Rumusan Masalah

Penjelasan tentang akal merupakan bagian yang mendasar dan penting dalam dunia pendidikan khususnya dalam Pendidikan Agama Islam. Maka dari itu peneliti termotivasi untuk mengkajinya dan dalam penelitian ini difokuskan pada pokok permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana kedudukan akal dalam Al-Qur’an?

2. Bagaimana implementasi kedudukan Akal dalam Pendidikan Agama Islam?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan proposal ini adalah:

1. Untuk mengetahui kedudukan akal dalam Alquran.

2. Untuk mengetahui implementasi kedudukan akal dalam Pendidikan Agama Islam.

D. Manfaat Penelitian

Nilai guna yang dapat diambil dari pemahaman proposal ini adalah sebagai berikut:

1. Dengan mengetahui kedudukan akal dalam Alquran maka dapat memberikan pemahaman yang lebih luas tentang dunia pendidikan

(23)

9

khususnya dalam dunia Pendidikan Agama Islam. Bahwa sebenarnya akal sangat berperan dan berpotensi dalam pendidikan tersebut.

Dengan pengetahuan kedudukan akal tersebut maka Pendidikan Agama Islam akan berkembang sesuai dengan zaman sehingga pendidikan akan berjalan dengan baik.

2. Bagi peneliti, dengan meneliti kedudukan akal dalam Alquran, maka akan dapat menambah wawasan pemahaman yang lebih komperensif sehingga diupayakan dapat terealisasi dalam kehidupan.

3. Hasil dari pengkajian dan pemahaman masalah di atas, sedikit banyak diharapkan dapat membantu usaha penghayatan dan pengamalan terhadap isi dan kandungan Alquran.

4. Penelitian ini sebagai kajian dan usaha menambah khasanah ilmu pengetahuan di Fakultas Agama Islam umumnya dan jurusan Pendidikan Agama Islam khususnya.

E. Jenis penelitian

Penelitian ini bersifat kualitatif, karena menekankan pada penelitian yang berupaya untuk menelusuri dan mencari teks yang berkaitan dengan implementasi kedudukan akal dalam Pendidikan Agama Islam yang membahas pada masalah tesebut.

F. Metode Pendekatan

Dalam rangka mengumpulkan data-data teoritis untuk menjawab permasalahan penelitian, peneliti menggunakan pendekatan sebagai

(24)

10

berikut:

1. Pendekatan tafsir, yaitu pendekatan tafsir tematik, artinya penulis mengumpulkan data-data yang berkenaan dengan akal dalam Alquran dan hadits (dasar islam) dalam suatu tema, yakni al-Aql. Pendekatan tafsir tematik yang secara operasionalnya meliputi langkah-lagkah berikut:

a. Meghimpun ayat-ayat Alquran yang relevan dengan tema

b. Menyusunnya secara sistematis menurut kerangka pembahasan yang telah di susun.

c. Memberikan uraian dan penjelasan dengan menggunakan ilmu bantu yang relevan dengan masalah yang dibahas.

d. Melahirkan konsep yang utuh dari Alquran yang menyangkut masalah akal.

2. Pendekatan empirik, yaitu penelitian yang menggunakan berbagai analisis berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari berbagai kajian para mufassir dan tokoh pendidikan Islam.

3. Pendekatan filisofis, yaitu mendekati objek pembahasan secara bebas, mendalam, dengan teliti untuk mendapatkan hakekat objek yang diteliti.

G. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan beberapa sumber utama berupa ayat-ayat Alquran yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan permasalahan yang menjadi pokok bahasan dalam skripsi ini. Selanjutnya untuk memberikan penjelasan-

(25)

11

penjelasan dan penafsiran tentang ayat-ayat Alquran tersebut penulis menggunakan studi pustaka (library research) atau suatu penelitian kepustakaan. Dimana pengumpulan data ini meliputi: Sumber primer merupakan sumber pokok diperoleh melalui Alquran, dan didukung oleh buku-buku yang berkaitan dan relevan dengan permasalahan ini. dan melalui sumber sekunder yang merupakan sumber penunjang yang dijadikan alat bantu untuk menganalisa terhadap masalah yang telah ditetapkan atau yang dikaji.

H. Metode Pengolahan Data

Dalam mengelolah data yang telah dikumpulkan, penulis menggunakan pengolahan data secara kualitatif, yaitu mengumpulkan data terlebih dahulu kemudian diolah guna mendapatkan data yang akurat dan dapat di interpretasikan ke dalam konsep yang sesuai dengan topik yang dibahas.

I. Teknik Analisis Data

Teknik Analisis Data merupakan langkah-langkah penting dalam suatu penelitian. Dalam pengolahan data penulis menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif dengan pendekatan interpretative, penulis menggunakan beberapa metode penganalisaan data yaitu:

1. Metode Induktif yaitu, suatu metode penulisan yang berdasarkan pada hal-hal yang bersifat khusus dan hasil analisis tersebut dapat dipakai sebagai kesimpulan yang bersifat umum.

(26)

12

2. Metode Deduktif yaitu, metode penulisan atau penjelasan dengan bertolak dari pengetahuan yang bersifat umum, atau mengolah data dan menganalisa dari hal-hal yang sifatnya umum guna mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus.

3. Metode Komperatif yaitu metode yang dipakai dengan menganalisis data dengan jalan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat yang lain atau antara satu data dengan data lain. Kemudian mencari persamaan dan perbedaan untuk diambil suatu kesimpulan dan menghubungkan dengan realitas yang terjadi dilapangan sehingga penulis dapat menarik kesimpulan bahwa argumen inilah yang sangat tepat untuk diaplikasikan dalam penelitian.

(27)

13

BAB II

KEDUDUKAN AKAL DALAM AL-QUR’AN

A. Pengertian Akal

Akal adalah makhluk yang paling dicintai oleh Allah Swt, karena ia merupakan salah satu makhluk yang membentuk manusia seutuhnya.

Artinya bahwa manusia akan menjadi sempurna bila menggunakan akalnya kepada jalan yang diridhai-Nya.

Para ahli mengartikan akal dengan 3 makna. Makna pertama, akal bermakna akal itu sendiri, tanpa ada makna lain. Makna kedua dan ketiga, akal diartikan sebagai kata benda (isim) yang biasa digunakan oleh orang Arab. Dari kata benda itu muncul penggunaan kata akal dalam bentuk kerja (fi’il).

Dalam Alquran, Allah Swt juga menggunakan kedua makna tersebut. Para ahlipun menanamkan dua makna tersebut sebagai akal.

Makna dan hakikat akal tidak lain adalah naluri yang dianugerahkan Allah Swt kepada mayoritas makhluk-Nya (manusia). Para hamba tidak bisa mengetahui naluri mereka satu sama lain. Mereka bahkan juga tidak dapat mengetahui nalurinya sendiri, baik dengan cara melihat maupun merasakan.

Namun Allah Swt mengenal mereka dengan perantara akal.

Karena akal itulah, mereka mengenal Allah Swt. Mereka dapat menyaksikan Allah Swt dengan akal. Mereka juga dapat mengenal diri

13

(28)

14

mereka dengan akal, lantaran akal pula mereka dapat mengetahui sesuatu yang bermanfaat dan membahyakan dirinya.

Rasyidi (1998: 6) mengemukakan bahwa kata akal yang telah ditransfer masuk kedalam bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Arab yaitu:

“kata jadian dari term aqala, ya’qilu, dan aqlun. Dalam bentuk kata benda al-aql dalam konteks Alquran tidak akan pernah dijumpai, akan tetapi sering ditemukan dalam konteks Alquran hanyalah dalam bentuk kata kerja yakni bentuk ‘aqaluh”.

Taufik Pasiak (2008: 257) mengenai akal, sesungguhnya tidak jelas kapan menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Yang jelas ia diambil dari bahasa Arab (لقعلا) Al-‘aqla atau (لقع) ’aqala. Kata ‘aqal sendiri sudah digunakan oleh orang Arab sebelum datangnya agama.

“Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989: 15), mengartikan akal dengan 4 pengertian: (1) daya pikir (untuk mengerti), pikiran, ingatan, (2) jalan atau cara melakukan sesuatu, daya upaya, ikhtiar, (3) tipu daya muslihat, kecerdikan, kelicikan, dan (4) kemampuan melihat atau cara-cara memahami lingkungan”.

“Sedangkan dalam Kamus Bahasa Arab, (t.th: 267) mengartikan akal (secara harifah) sebagai pengertian al-imsak (menahan), al- ribath (ikatan), al-hijr (menahan), al-nahy (melarang) dan al-man’u (mencegah)”.

Akal juga sering dinamakan dengan( رجحلا) al-hijr (menahan atau mengikat). Sehingga seseorang yang berakal adalah orang yang dapat menahan diri dan mengekang hawa nafsunya. Kata-kata Hamka seorang ulama sastrawan Indonesia mewakili pengertian itu. Mengikat binatang dengan tali, mengikat manusia dengan akalnya. Muhammad Yunus, (t.th:

(29)

15

257) Secara etimologi kata jadian aqala, ya’qilu dan aqlun itu berarti mengikat, mengebatkan binatang dengan tali.

Harun Nasution, (1998: 6) menegmukakan pengertian akal secara etimologi adalah:

“Kata akal itu dijumpai dalam arti, umpamanya: mengadakan analogi, komparasi, kemudian menyimpulkan atas dasar subyektivitas dengan ciri-cirinya keterbatasan kategori, ruang, dalam hubungan kausalitet”.

Memang dari satu segi dapat dikatakan bahwa akal merupakan berometer baik buruknya etika manusia itu sendiri. Akan tetapi, putusan bukanlah sebagi ukuran final dalam menentukan mulia tidaknya seseorang, karena akal tidak boleh di lepaskan secara bebas 100% untuk menetapkan kebenaran-kebenaran tanpa bimbingan dari unsur utama dan pertama yaitu wahyu sebagai alat penentu terakhir dari segala aktivitas kehidupan manusia di dunia menuju alam akhirat.

Alquran sangat menjunjung tinggi peranan atau penggunaan akal secara benar, berpegang teguh pada tujuan-tujuannya berdasarkan garis yang lurus menurut wahyu. Akal tidak pernah muncul dalam Alquran sebgai kata benda abstrak atau masdar, tetapi ia selalu muncul dalam bentuk kerja masa kini dan masa lampau yang kesemuanya memberikan arti dan makna bahwa akal tidak disinggung dalam untaian kalimat yang panjang lebar tanpa aturan, melainkan dijelaskan dengan tegas sebagai motor penggerak perlalisasian tugas dan kewajiban dalam hidup dan kehidupannya di dunia. Term akal banyak disebutkan dalam Ayat Alquran dengan berbagi bentuk itu pada hakikatnya menunjukkan proses

(30)

16

perbuatan berpikir yang implementasinya kepada tingkah laku dan perbuatan manusia.

Dari berbagai bentuk term akal atau kata-kata akal dalam Alquran itu menyebabkan banyak di antara pemikir islam yang berbeda pendapat tentang apa sebenarnya itu akal. Sehingga ada di antara mereka yang membedakan akal dengan pikiran, akan tetapi hemat penulis bahwa antara akal dan pikiran itu masing-masing memiliki tugas-tugas tersendiri kendati tidak bisa atau sulit dipisahkan antara satu sama lain.

B. Akal dalam prespektif Al-Qur’an

Imam Muchlas, (1996: 275) mengemukakan bahwa:

“Alquran mendorong umat islam agar senantiasa menggiatkan pengguanaan akal. Dan berkaitan dengan hal itu, maka dapat di lihat demikian banyaknya Allah menyebut beberapa kata yang berkaitan dengan pentingnya akal, yaitu disebutkan kata al-aqlu sebanyak 50 kali, kata ulul albab (cerdik, cendekia) sebanyak 16 kali, kata ulin nuha (ahli ilmu) sebanyak 2 kali dan masih banyak yang lain, seperti ulil abshor (pengamat ahli) dan kata-kata lainnya”.

Alquran berulang-ulang menggerakkan dan mendorong perhatian manusia dengan bermacam cara, supaya manusia mempergunakan akalanya. Ada secara tegas, perintah mempergunakan akal dan ada pula berupa pertanyaan, mengapa seseorang tidak mempergunakan akalnya. Selanjutnya diterangkan pula bahwa segala benda di langit dan di bumi menjadi bukti kebenaran kekuasaan, kemurahan dan kebijaksanaan Tuhan, hanya bagi kaum yang mempergunakan akalnya. Disuruhnya manusia mengadakan perjalanan, supaya akal dan pikirannya tumbuh dan berkembang. Timbulnya

(31)

17

perpecahan antara satu golongan selamanya, disebutkan karena mereka tiada mempergunakan akalnya. Selanjutnya penyesalan di hari kemudian disebabkan karena tidak mempergunakan akalanya.

Supaya akal itu dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat, perlu diberi ilmu pengetahuan, sehingga berpikir lebih tepat dan mendasar kenyataan, tidak menerawang langit dan tidak ngawur. Akal yang berisi pengetahuan, dapat mengetahui bagaimana alam ini diciptakan Tuhan dengan serba teratur, menyebabkan tumbuhnya kepercayaan bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha bijaksana. Orang yang mempergunakan akalnya suka bersatu dan menjaga persatuan, karena persatuan itu pokok kekuatan. Penggunaan akal untuk berpikir akan mengantarkan individu dan masyarakat menjadi pribadi atau masyarakat yang unggul.

Kaelany, (2005: 223) mengemukakan bahwa Kata ‘aql (akal) yang mula-mula hanya berhubungan dengan kecerdasan prkatis dan berguna untuk “mengikat” atau “menahan” memperoleh pemadatan makna dalam Alquran yaitu:

“Kata ini disebut 49 kali dalam 28 surah: 31 kali dalam 19 surah yang diturunkan di Makkah tempat kehidupan kaum Muslimin berada dalam suasana kaotis, dan 18 kali dalam 9 surah yang diturunkan di Madinah ketika struktur kehidupan kebudayaan kaum Muslimin boleh dikatakan sudah mapan”.

Perlu pula di pahami bahwa otak dan akal merupakan pusat aktifitas pikiran manusia berada. Seluruh peradaban manusiapun dihasilkan oleh kedua hal ini. Itulah yang membuat dunia binatang tidak

(32)

18

memiliki perdaban seperti manusia, tidak punya sains, teknologi, seni budaya bahkan agama.

Menurut Robbi Deporter dan Mike Hernacki, dikutip oleh M.

Ilham Muchtar (2013: 119) otak adalah masa protoplasma yang paling kompleks yang pernah dikenal di alam semesta. Otak merupakan satu- satunya organ yang sangat berkemban, sehingga ia dapat mempelajari dirinya sendiri. Jika dirawat oleh tubuh yang sehat dan lingkungan yang menimbulkan rangsangan, otak yang berfungsi dapat tetap aktif dan reaktif selama seratus tahun.

Otak juga memproduksi pikiran sadar yang menakjubkan, kesdaran akan diri dan lingkungan, serta kemampuan untuk melakukan pilihan bebas berhadapan dengan dunia. Otak juga menghasikan dan menstrukturkan pemikiran, memungkinkan manusia dapat memiliki perasaan dan menjembatani kehidupan spritual keasadaran akan makna, nilai dan konteks yang sesuai untuk memahami pengalaman. Otak memberi kemampuan dalam peradaban, persentuhan, penglihatan, penciuman, dan berbahasa. Ia merupakan tempat penyimpanan memori.

Otak mengendalikan detak jantung, laju produksi keringat, laju pernafasan dan berbagai fungsi lain. Jaringan-jaringan sarafnya mengjangkau ke seluruh bagian tubuh. Otak menjadi jembatan antara kehidupan batin dan dunia lahiriyah. Ia mampu menjalankan semua ini karena bersifat kompleks, luwes, adaptif dan mampu mengorganisasi diri.

(33)

19

Tapi perlu pula dipahami bahwa antara otak dan akal tidaklah sama. Otak bukanlah akal dan akal bukanlah otak. Selama ini banyak orang yang tejebak pada sistem otak dan akal. Karena tidak semua yang berotak itu berakal tetapi yang berakal pastilah memiliki otak. Contohnya seperti orang yang gila yang memiliki otak tetapi tidak berakal, sehingga tidak ada kewajiban baginya untuk melaksanakan ibadah, karena hanya orang yang berakal sehatlah yang diberikan kewajiban tersebut. Dan akal merupakan wujud abstrak yang tidak akan ditemui dalam tubuh biologis manusia manapun. Karena yang nampak hanyalah wujud fisik yakni otak.

Taufik Pasiak, ( 2008: 364) ada tiga fungsi yang diperankan oleh otak dan membuatnya berbeda dengan yang lain, yaitu:

1. fungsi emosi (kecerdasan emosi (EQ) 2. fungsi rasional (IQ)

3. fungsi spritual (rohani dan religius) yang biasa kita kenal dangan kecerdasan (SQ).

Beberapa cara kerja otak kiri antara lain kegiatan analisis dan faktual juga kognitif, rasional secara logis. Secara otak kanan bekerja secara afektif, emosional, kualitatif dan spirit. Otak kecil (cerebellum) sebagai jembatan antara otak belakang dan saraf tulang belakang. Otak ini berperan untuk pernapasan dan koordinasi gerakan tubuh juga merekam seluruh kejadian yang dialami manusia.

M. Ilham Muchtar (2013: 114) mengemukakan bahwa, Menurut pakar psikologis, dalam jiwa manusia ada potensi yang disebut intelegensia, yaitu potensi untuk menjadi cerdas. Potensi inilah yang menjadi alat utama bagi manusia untuk menjalankanperannya di muka

(34)

20

bumi. Manusia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh malikat sekalipun, yaitu sebgai khalifah dimuka bumi. Manusia dengan nafsu yang dibimbing oleh tiga kecerdasan ini yaitu Intelegence Quotient- IQ (kecerdasan intelktual), Emotional Quotient- EQ (kecerdasan emosional), Spritual Quotient-SQ (kecerdasan spritual), dapat berkreasi menyejahterakan alam. Namun sebaliknya bila nafsu tidak terbimbing, maka ia akan berbuat kehancuran dan pertumpahan darah melebihi makhluk manapun di dunia ini. Itu sebabnya, manusia ideal dalam pandangan Islam ialah manusia yang mampu mensinegrikan secara harmonis potensi-potensi yang dimilikinya diatas.

Pada prinsipnya IQ, EQ, dan SQ saling berhubungan dalam meningkatkan kualitas lahiriyah dan bathiniyah. Tapi untuk mencapai itu, tidak cukup hanya mengandalkan potensi yang ada, idealnya melibatkan aktus atau potensi tertinggi di luar manusia, yaitu wahyu (Alquran).

Jika para pemikir Barat berpandangan bahwa, ditinjau dari segi ilmu saraf semua sifat kecerdasan manusia bekerja melalui atau dikendalikan oleh otak beserta seluruh jaringan sarafnya yang tersebar ke seluruh tubuh. Maka ini bukanlah sesuatu yang istimewah , sebab Alquran membicarakan hal tersebut jauh sebelumnya. Bahkan pembahasan mengenai potensi kecerdasan (intelektual) manusia tidak memakai istilah otak, melainkan dengan istilah aql atau akal.

M. Ilham Muchtar (2013:127) mengemukakan dalam pandangan Islam, akal berbeda dengan otak. Akal mempunyai pengertian tersendiri

(35)

21

dan berbeda dengan pengertian pada umumnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari keterangan Prof. Dr. H. Hraun Nasution yang menyatakan akal dalam pandangan Islam, bukanlah otak melainkan daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Dengan demikian jelas bahwa akal dalam Islam tidak sama dengan ratio dalam bahasa Latin atau reason dalam bahasa Inggris. Akal dalam Islam merupakan ikatan dari tiga unsur yakni:

pikiran, perasaan, dan kemauan. Ketiga eksponen tersebut antara satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu dari ketiganya dipisahkan maka bukan lagi berfungsi sebagai akal.

Taufiq Pasiak mengemukakan bahwa dalam Alquran, akal (aql) mendapat kualifikasi religius sebagai keyakinan dan intelektualitas. Ia juga mengutip Sayyed Hossein Nasr yang menyebut akal sebagai proyeksin atau cermin dari hati (qalb), tempat keyakinan dan kepercayaan manusia.

Dengan itu akal bukan hanya instrumen untuk mengetahui, melainkan juga menjadi wadah bagi penyatuan Tuhan dengan manusia.

Dengan begitu dapat dikatakan, bahwa setiap manusia dilahirkan dengan membawa potensi (bakat) intelektual dalam dirinya. Allah Swt berfirman dalam QS. An- Nahl (16): 78:

































Terjemahnya:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

(Kementerian Agama RI 2013: 275)

(36)

22

Lebih jauh lagi Alquran menjelaskan bahwa orang-orang yang berakal adalah orang-orang yang memadukan fungsi antara pikiran (contex) dan perasaan (sistem limbik) secara maksimun, sehingga dapat memperoleh keyakinan (kesimpulan tertinggi berupa keimanan) bakal menggetarkan qalb yang berada di hati. Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Al-A’raf (7): 179:































































Terjemahnya:

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”. (Kementerian Agama RI (2013: 173 )

Ayat ini merupakan penjelasan mengapa seseorang tidak mendapatkan petunjuk dan tersesat. Ayat ini juga berfungsi sebagai ancaman kepada mereka yang mengabaikan tuntunan pengetahuannya.

Ia menjelaskan bahwa mereka yang kami kisahkan keadannya itu, yang menguliti dirinya sehingga kami sesatkan adalah sebahagian dari yang kami jadikan untuk isi neraka jahannam banyak sekali dari jenis jin dan manusia karena kesesatan mereka.

Manusia yang tidak mempergunakan akal, hati, mata, dan telinganya akan memperoleh kesesatan dipersamakan dengan binatang

(37)

23

karena binatang tidak dapat menganalogikan apa yang ia dengar dan lihat dengan sesuatu yang lain. Binatang tidak memiliki akal seperti manusia.

Bahkan manusia yang tidak mempergunakan potensi yang dianugerahkan Allah lebih buruk.sebab binatang dengan instinknya akan selalu mencari kebaikan-kebaikan dan menghindari bahaya, justru manusia yang durhaka menolak kebaikan dan kebenaran dan mengarah kepada bahaya yang tiada taranya. Setelah kematian, mereka akan kekal di neraka berbeda dengan binatang yang punah denga kematiannya. Di sisi lain, binatang tidak dianugerahi potensi sebanyak potensi manusia, sehingga binatang tidak wajar dikejam bila tidak mencapai apa yang dicapai oleh manusia.

Sedangkan mansuia pantas dikejam bila sama dengan binatang dan bahkan bila lebih buruk dari pada binatang, karena potensi manusia dapat mengantarnya kederajat yang kedudukannya lebih tinggi dari pada binatang.

Pengaktualisasian potensi diri manusia melalui sistem pembinaan kecerdasan emosional dan spritual yang berdasarkan enam rukun iman dan lima rukun Islam. Sebab disamping sebagai petunjuk ritual bagi umat Islam, ternyata pokok pikiran dalam rukun iman dan rukun Islam tersebut juga dapat memberikan bimbingan untuk mengenal dan memahami perasaan diri, mengelola emosi dalam berhubungan dengan orang lain.

Akal sangat padat maknanya dalam Alquran, dan digunakan secara luas oleh para pemikir Muslim. Dalam perbendaharaan kata orang

(38)

24

Islam, kata itu sangat tinggi kedudukannya. Berfungsinya akal memiliki signifikansi ibadah. Sehingga, orang gila (yang dianggap “kehilangan akal”

akan dianggap tidak lagi beribadah. Ibadahnya itu tidak berguna sama sekali karena tidak dilakukan dengan kesadaran. Dari segi ibadah, ia akan berhubugan erat dengan kesadaran.

C. Kedudukan Akal dalam Al-Qur’an

Para sufi memahami kedudukan akal dalam konteks “mengikat”,

“melekatkan”, “membatasi”. Pilihan makna ini berkaitan dengan penciptaan semesta alam oleh Tuhan. Tuhan dianggap tidak terbatas, tidak terjangkau. Namun, ketika Ia bertajalli, setiap ciptaan-Nya senantiasa terbatas. Ciptaan ini “mengikat” dimensi Tuhan yang terbatas itu. Jadi, akal cenderung berkaitan dengan segala ciptaan Tuhan, bukankah Tuhan sendiri yang Maha luas.

Kedudukan akal dalam Alquran, yang dimaksud adalah tempat akal dalam Alquran. Dengan mengetahui kedudukannya, dapat pula diketahui peranannya dalam Pendidikan Agama Islam. Kedudukan dan peranan adalah dua hal yang tidak mungkin di ceraipisahkan, karena peranan adalah aspek dinamis kedudukan. karena kedudukannya, misalnya dapat berperan bertindak melalui sesuatu.

Taufik Pasiak, (2008: 276) mengemukakan 7 sinonim untuk kata akal, yaitu :

(1) رّبد dabbara (merenungkan), (2) هقف faqiha (mengerti), (3) مهف fahima (menahan), (4) رظن nazhara (melihat dengan mata kepala), (5) ركذ dzakara (mengingat), (6) رّكف fakkara (berpikir secara dalam), dan

(39)

25

(7) ملع alima (menahan dengan jelas). Selain tujuh kata itu, masih ada kata-kata yang dari segi fungsi yang ditunjukkannya memiliki kemiripan dengan kata akal, yang paling mendekati adalah kata بلقلا al-qolb.

Dari penjelasan diatas mengenai kedudukan akal dalam Alquran, maka penulis dapat pula menguraikan beberapa hal yang berkaitan dengan akal yaitu :

1. Manusia Sebagai Makhluk Berakal

Manusia sebgai makhluk Allah yang paling mulia, karena manusia satu-satunya makhluk yang paling sempurna diantara makhluk lainnya. Kesempurnaan manusia tersebut adalah karena manusia dibekali oleh Allah dengan akal, dengan akal ini pula manusia menanggung amanat Allah di muka bumi sebagai khalifah yang menjadi kelestarian bumi beserta isinya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Tin (95): 4.















Terjemahnya:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Kementerian Agama RI, 2007: 597)

Dengan akal pula manusia dimintai tanggung jawab atas semua perbuatannya dimuka bumi, karena akal bagi manusia sangat penting artinya yakni untuk memikirkan, memahami, merenungkan, dan memutuskan mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Dalam Alquran menegaskan bahwa manusia yang mengabaikan akal yang diberikan Allah menempati derajat yang

(40)

26

lebih rendah dari pada hewan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al- Anfal (8): 22:























Terjemahannya:

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun”.(Kementerian Agama Islam RI, 2007: 179)

Dalam Tafsir Al-Misbah ayat diatas juga dijelaskan bahwa makhluk yang dapat dijangkau dalam panca indera. Pertama tingkat terendah adalah benda yang tak bernyawa, tumbuh-tumbuhan, binatang dan terakhir manusia. Manusia tingkat tinggi dari binatang, karena manusia memiliki rasa, gerak, dan dapat mengetahui. Binatang yang memiliki kecerdasan adalah binatang yang termulia dan dalam hal ini manusia memiliki kecerdasan lagi dapat berfikir dan memanfaatkan potensinya adalah yang termulia. Apabila manusia tidak memiliki potensi untuk mengetahui adalah tidak dapat berfikir, maka dialah binatang yang paling buruk. Alat-alat untuk tahu adalah penglihatan, pendengaran, akal

dan alat untuk merasa adalah hati.

Berdasarkan QS. Al-Anfal ayat 22 dapat dipahami, bahwa orang- orang yang dianggap makhluk terburuk itu, karena tidak mau menggunakan telinga, mata, dan akal mereka dengan baik, maka seolah mereka kehilangan potensi dan indera tersebut. Allah amat mencela bagi orang yang tidak mau menggnakan akalnya, orang yang terikat fikirannya

(41)

27

dengan kepercayaan dan pemahaman yang tidak berlandaskan kepada syariah Allah. Oleh karena itu, umat Islam diwajibkan menggunaka akalnya untuk memikirkan ayat Alquran supaya mengerti dan memahami maknanya. Ini karena Al-quran diturunkan untuk orang yang mau berfikir dan mengambil manfaatnya.

Salah satu ciri khas orang yang berakal yaitu memperhatikan sesuatu, selalu memperoleh manfaat dan faedah. Ia selalu menggambarkan kebesaran Allah Swt, mengingat dan mengenang kebijaksanaan, keutamaan dan banyaknya nikmat Allah yang diberikan kepadanya, Ia selalu mengingat Allah disetiap waktu.

Manusia adalah ciptaan Allah Swt, yang diberikan 3 kelebihan utama, pertama dari ruh yang bisa membuat manusia hidup di muka bumi, kedua tubuh/jasad yang sempurna dan yang ketiga akal yang mampu membuat manusia bisa menaklukkan dunia dan alam sekitarnya untuk memudahkan kehidupannya. Akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dan kemampuan akal inilah manusia baru dapat dikatakan manusia.

Dengan potensi akal pikiran manusia, Allah Swt memerintahkan manusia untuk berfikir dan mengelolah alam semesta serta memanfaatkan sebenarnya-benarnya bagi kemashalatan dan kesejahteraan hidup manusia. Dengan dibekali akal, manusia berbeda

(42)

28

dengan makhluk lain, bila akalnya tidak berfungsi maka tidak ada bedanya antara dirinya dengan makhluk lain.

Baharuddin, (2004: 167) mengemukakan bahwa akal manusia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut:

a. Akal jasmani yaitu salah satu organ tubuh yang terletak dikepala.

Dimana akal ini menggunakan daya kognisi (al-mudrikah) dalam otak (al-dimagh) untuk proses berfikir. Objek pemikirannya adalah hal-hal yang bersifat sensoris dan empiris.

b. Akal Ruhani yaitu akal yang abstrak yang mampu memperoleh pengetahuan yang abstrak, metafisika, seperti memahami proses penciptaan langit dan bumi. Akal ini selalu dihubungkan dengan qalb. Karena akal ruhani menjadi puncak kemampuan manusia dibidang kecerdasan, pengetahuan, penalaran, dan lain sebaginya.

Manusia memiliki dua daya yaitu daya berfikir yang berpusat dikepala dan daya rasa (qalbu) yang berpusat di dada untuk mengembangkan daya ini telah ditata sedemikian rupa oleh islam.

Syarhin Harahab (1994: 50) mengemukakan agar akal manusia dapat berperan dengan baik, maka perlu adanya pendidikan akal yang mendasar seperti:

1. Membebaskan akal dari semua tekangan dan belenggu

2. Membangkitkan indera dan perasaan, karena hal itu merupakan pintu untuk berfikir.

3. Membekali berbagai macam ilmu pengetahuan yang bisa membersihkan akal dan meninggikan kriterianya.

Perlu digaris bawahi, bagaimanapun hebatnya akal ia tetap mempunyai keterbatasan dengan argumentasi bahwa akal tidak mampu menangkap hal-hal yang ghaib yang jauh dari jangkaun akal, seperti adanya malaikat, jin, syaitan, al-arsy, dan lain sebagianya. Kemudian

(43)

29

orang yang mau menggunakan akal dan pikirannya adalah orang yang beruntung. Dia akan mudah untuk menentukan sebuah pendidikan yang akan ditempuh dan sesuai dengan kemampuannya. Orang yang menggunkan akal pikirannya akan selalu menghadap kepada Allah dengan pujian do’a dan ihtibal. Dia akan mempunyai pengetahuan yang luas, sehingga dia mempunyai, “hablun minallah dan habbun minannas”

yang tinggi. Secara tidak lansung akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Gunanya untuk menilai dan merenung setiap kejadian Allah, untuk dijadikan i’tibar dalam kehidupan.

2. Ayat-ayat akal dalam Al-Qur’an

Taufik Pasiak (2008: 273) Kata dasar al-‘aql tidak terdapat dalam Alquran, teapi dipakai sebagai kata kerja yaitu sebgai berikut:

“لعف dalam 49 penyebutan: 1 kali dalam bentuk lampau (past tense), ضام لعف dan 48 kali dalam bentuk sekarang (present tense), penyebutannya meliputi: تلقع ‘aqlah (1 kali), نولقعت ta’qilun (24 kali), لقعن na’qilu (1 kali), اهلقعي ya’qiluha (1 kali), dan نولقعي ya’qilun (22 kali)”.

Jika mencermati setiap ayat dalam Alquran yang menggunakan kata ‘aql yang identik dengan istilah intelktualitas, maka ayat-ayat tersebut tidak pernah menggunakan bentuk masdhar (invitif) atau jamid (beku) yang tidak dinamis. Dalam Alquran kata ‘aql disebutkan 49 kali dalam bentuk kata kerja yang dinamis. Hal ini menunjukkan bahwa potensi inteltualitas manusia bersifat dinamis, berkembang dan berdayaguna.

Adapun ayat-ayat yang menjelaskan tentang akal dalam Alquran yaitu sebagai berikut:

(44)

30

a. Istilah نولقعي dalam QS. Al-Ankabut (29): 63. Allah Swt berfirman:





























 





 











Terjemahnya:

“Dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka:

Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya? tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya)”. (Kementerian Agama RI, 2007: 403)

M. Quraish Shihab (2000: 536) mengemukaka bahwa:

“Lafal (نولقعي) ya’qiluna terambil dari kata (لقع) yang pada mulanya berarti menjelas. Kata (لاقع) aqal berarti tali: yaitu sesuatu yang digunakan untuk mengikat. Dari sini potensi manusia yang menjadikannya dapat memahami sekaligus membedakan antara yang baik dan yang buruk, serta “mengikat” dan menghalanginya terjerumus dalam kesesatan dan keburukan dinamai “akal”. Karena itu akal dalam pengertian Alquran tidak terbatas pada daya pikir semata-mata, tetapi juga daya kalbu”.

Inventarisasi ayat-ayat Alquran yang memakai kata akal dapat diklasifikasikan dalam 3 bagian: (1) teologis, yang bersangkut paut dengan keimanan, (2) kosmologis, menyangkut pemahaman dan keberadaan alam semesta, baik makro maupun mikro, dan (3) moralitas, terutama menyangkut etika pribadi dan etika sosial.

(45)

31

Jumlah Ayat

Sub Topik klasifikasi

14 Keimanan

Teologis 3 Kehidupan akhirat

5 Kitab suci 1 Sholat

7 Dinamika manusia

Kosmologis 6 Tanda kebesaran Tuhan

12 Alam semesta

1 Etika pribadi/sosial Moralitas

b. Istilah نوركفتي dalam QS. Saba’: 46

kata “pikir” dan “pakar” dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab fikr yang dalam Alquran menggunakan istilah fakkara dan tafakkarun. Kata “fikr” menurut Quraish Shihab diambil dari kata “fark”

yang dalam bentuk faraka dapat berarti: (1) mengorek sehingga apa yang dikorek itu muncul, (2) menumbuk sampai hancur, dan (3) menyikat (pakaian) sehingga kotorannya hilang. Baik kata “fikr” maupun “fark”

memiliki makna yang serupa. Bedanya “fikr” digunakan untuk hal-hal yang abstrak, sedangkang “fark” digunakan untuk hal-hal konkret. Larangan berpikir tentang Tuhan adalah sebuah contoh tentang objek “fikr”. Tuhan memang tidak dapat tergamabar dalam pikiran seseorang sehingga sangat susah untuk diketahui.

(46)

32

Taufik Pasiak (2008: 280) dengan pumusatan pikiran pada saat tafakkur ini mirip dengan meditasi dalam tradisi Hindu memudahkan seseorang untuk memahami gejala disekitarnya. Di samping ia memperolah kenikmatan tersendiri dari kegiatan tersebut, bertafakkur memberikan dua akibat: (1) refleksi (perenungan) yang menumbuhkan kesadaran-kesadaran spritual bagi yang melakukannya dan mengarah pada pembersihan hati, dan (2) relaksasi yang memberikan kenikmatan secara ragawi bagi yang melakukannya. Dengan bertafakkur, dapat dipahami dengan erat antara “pikiran” dan “perasaan”. Demikian halnya antara fikr dan dzikir. Perasaan itu, sebagaimana dibuktikan melalui penelitian amigdala di otak, ternyata harus juga memiliki pikirannya sendidri. Inti kecerdasan Emosi (EQ), yang antara lain dapat disuburkan melalui tafakkur, adalah bagaimana pikiran itu mengontrol emosi.

Bagaimana kulit otak (pusat intelektualitas manusia) menata amigdala (pusat emosi manusia).. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Saba’ (34):

46.



















































Terjemahnya:

Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Kementerian Agama RI, 2007: 432).

(47)

33

c. Istilah نوركدتئ dalam QS. Az-Zumar: 9

Tadzakkur adalah salah satu tugas akal yang paling tinggi. Dan dzakirah (ingatan) adalah tempat penyimpanan pengetahuan dan informasi yang diperoleh manusia untuk dipergunakannya pada saat dibutuhkan. Menurut Qardhawi, manusia tidak bisa hidup tanpa tadzakkur dan dzakirah, baik di dunia maupun di ahirat.

Ada perbedaan penekanan makna antara tafakkur dan tadzakkur. Untuk memperoleh pengetahuan baru dan segar, tafakkur diperlukan. Sedangkan untuk mengingatnya, supaya tidak lupa dan lalai tadzakkur diperlukan. Imam Al-Ghazali mempertegas posisi keduanya,”setiap orang yang berpikir adalah ber-tadzakkur, namun tidak semua ber-tadzakkur itu berpikir”.

Tadzakkur sama dengan menyebut berulang-ulang dalam psikologi kognitif. Sel-sel saraf ketika seseorang mengingat atau menyebut berulang-ulang, senantiasa bertambah dan tidak hilang. Hal ini, terutama bagaimana proses mengingat terjadi pada sel-sel saraf yang plastis itu, memiliki dimensi yang luas.

Zikir dapat dilakukan dengan hati (dzikr al-shadr), bisa pula dengan lidah saja. Yang penting dengan itu seseorang dapat mengingat Tuhan. Kapan saja, dimana saja. Relevansi cara ini dengan kegiatan berpikir terletak pada hikmah yang diperoleh. Berpikir yang baik adalah bila dengan itu seseorang mendapatkan “Zat Maha Tinggi” dibalik setiap objek pikiran. Dalam hal ini, kata ayat berulang-ulang disebut dalam

(48)

34

Alquran memiliki medan makna yang sangat luas. Inilah yang dilukiskan para ahli hikmah dengan kata-kata: “Bertafakkur satu jam lebih baik dari pada beribadah satu tahun”.

Dalam maknanya yang sempit, zikir dimaksudkan untuk menyebut nama Allah secara berulang-ulang. Dalam Alquran, Allah Swt berfirman: “ingatlah kepadaku, niscaya aku mengingatmu”. Biasanya zikir dilkakukan usai shalat dengan menyebut frasa-frasa pendek, seperti:

astagfirullah, subuhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, Allahu Akbar.

Kegiatan seperti ini, bila dilakukan secara serius, sangat efektif sebagai pereda ketegangan dan kecemasan.

Penelitian Herbert Benson menunjukkan bahwa kata-kata zikir itu dapat menjadi salah satu frasa fokus (kata-kata yang menjadi titik perhatian) dalam proses penyembuhan diri dan kecemasan, ketakutan dan bahkan keluhan fisik seperti: sakit kepala, nyeri dada, dan hipertensi.

Frasa fokus itu jika dikombinasikan dengan respon relaksasi dapat menghambat kerja sistem saraf simpatis yang mengatur kecepatan denyut jantung, nadi, pernapasan, dan metabolisme. Ia berfungsi seperti obat- obat Beta Blocker (peghambat reseptor beta) dalam kerja saraf simpatis.

Pada sisi lain, zikir dapat membuat alur gelombang otak berada pada gelombang alfa ketika seseorang menjadi sangat kreatif dan berdaya renung tinggi. Perubahan gelombang otak inilah yang terjadi ketika seseorang bertafakkur. Dalam QS. Az-Zumar (39): 9. Allah berfirman:

(49)

35



















































Terjemahnya:

“(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"

Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Kementerian Agama RI, 2007: 459)

Ayat diatas menggaris bawahi rasa takut hanya pada akhirat, sedang rahmat tidak dibatasi dengan akhirat, sehingga dapat mencakup rahmat duniawi dan ukhrawi. Memang seorang mukmin hendaknya tidak merasa takut menghadapi kehidupan duniawi, karena apapun yang terjadi selama ia bertakwa maka itu tidak masalah, bahkan dapat merupakan sebab ketinggian derajatnya di akhirat. Adapun rahmat, maka tentu saja yang diharapkan adalah menyeluruh, dunia dan akhirat.

Takut dan mengharap menjadikan seseorang selalu waspada, tetapi tidak berputus asa dan dalam saat yang sama tidak yakin.

Keputusan mengundang apatisme, sedang keyakinan penuh dapat mengundang pengabaian persiapan. Seseorang hendaknya selalu waspada, sehinggga selalu meningkatkan ketakwaan, namun tidak pernah kehilangan optimisme dan sangka baik kepada Allah Swt.

Kata (نوملعي) ya’lamun pada ayat di atas, ada juga ulama yang memahaminya sebagai kata yang tidak memerlukan objek. Maksudnya

(50)

36

siapa yang memiliki pengetahuan apapun pengetahuan itu pasti tidak sama dengan yang tidak memilikinya. Hanya saja jika makna ini yang di pilih, maka harus digaris bawahi bahwa ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang bermanfaat, yang menjadikan seseorang mengetahui hakikat sesuatu lalu menyesuaikan diri dan amalnya dengan pengetahuannya itu.

Sayyid Quthb, (2004: 71) mengemukakan bahwa:

“Kata (ركذتى( yatadzakkaru terambil dari kata dzikr yakni pelajaran/peringatan. Penambahan huruf (ت) ta’ pada kata yang digunakan ayat ini mengisyaratkan banyaknya pelajaran yang dapat diperoleh oleh Ulul Albab. Ini berarti bahwa selain mereka pun dapat memperoleh pelajaran, tetapi tidak sebanyak ulul albab.

Karena ulul albab sendiri ialah para peimilik kalbu yang senantiasa sadar, terbuka dan memahami hakikat yang ada di balik lahiriah.

Juga yang memanfaatkan apa yang dilihat dan diketahuinya, yang ingat kepada Allah melalui segala sesuatu yang dilihatnya dan disentuhnya. Dia tidak melupakan-Nya, maka takkan lupa kamu saat kamu menemui-Nya”.

Di akhir ayat ini Allah Swt menyatakan bahwa orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. Baik pelajaran dari pengalaman hidupnya atau dari tanda-tada kebesaran Allah yang terdapat di langit dan di bumi serta isinya, juga terdapat pada dirinya suri tauladan dari kisah umat yang lalu.

d. Istilah بابللاا اولوا dalam QS. Ali-Imran: 7

Sesuatu yang amat agung dari petunjuk Alquran, berkenaan dengan visi pemikiran dan ilmu pengetahuan, adalah bahwa Alquran memberi penghargaan terhadap ulul albab dan cendekiawan, atau

(51)

37

meberikannya kepada kaum intelektual. Allah memuji mereka dalam banyaknya ayat dalam surat Makiyah dan Madaniyah.

Alquran memberi perhatian terhadap kata kerja ‘aqala dan derivasinya seperti ya’qilun atau ta’qilun, tetapi Alquran tidak menyebut al- aql sebagai potensi dan subtansi dalam diri manusia yang darinya berlangsung beberapa proses oleh pikir, seperti berpikir, mengingat, mengambil ikhtibar, dan sebagainya.

Pendapat tersebut benar jika kita melihat dari sisi term al-‘aql, tetapi jika kita melihat pada makna yang dimaksudkan darinya, kita akan mendapatkan dalam Alquran tertulis secara jelas term al-alab atau ‘uqul.

Ia adalah bentuk jamak dari term lubbu “isi”, yaitu antonim “kulit”. Di sini, Alquran seakan ingin menunjukkan bahwa manusia terdiri atas dua bagian: kulit dan isi. Bentuk fisik adalah kulit, sadangkan akal adalah isi.

Yusuf Qordhawi, (1998: 29) mengemukakan bahwa:

“Term ulul albab atau ulil albab terulang dalam Alquran sebanyak 16 kali. Sembilan diantaranya terdapat dalam surat Makkiyah dan tujuh lainnya dalam surat Madaniyah”.

Di antara tujuh yang Madaniyah, empat diantaranya dengan redaksi memanggil Dalam surah Ali-Imran (3): 7, ulul albab disebut sebanyak dua kali. Pertama, dalam pembicaraan tentang ayat-ayat yang mutsyabihat. Di sini dijelaskan bahwa ulul albab tidak terjerumus dalam kecelakaan seperti yang terjadi pada orang-orang yang terdapat penyakit dalam hatinya, mereka yang mengikuti apa yang tersamar dari ayat Alquran. Kaum ulul albab tersebut mengambilkan ayat-ayat mutassyabihat

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

[r]

Sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan menengah kejuruan merupakan pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan

Metode pengelasan yang digunakan dalam pembuatan exhaust pipe adalah proses pengelasan GMAW dengan kawat las Ø 0.8 mm, material untuk pipa menggunkan STKM 11 A dan

Mulai dari proses penerimaan zakat, infak/sedekah yang diakui sesuai dengan nominal yang disetorkan kepada BAZNAS dari muzzaki, penyaluran zakat, infak/sedekah yang diakui ketika

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga skripsi dengan judul Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian Menurut

a) Pleasure Relaxation, perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi dan makan. b) Stimulation to

Dalam Pelaksanaan Taḥfīẓ Al-Qur’ān di Pondok Pesantren Nur Huda Senting, metode yang dipakai adalah metode tilawah/ talaqqi, yaitu menyimakkan hafalan santri

Dari analisis koefisien regresi variabel motivasi internal diperoleh hasil yang signifikan sebesar 0.339, hal ini berarti dengan naiknya perhatian atas Motivasi