• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Kota Tangerang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambaran Umum Kota Tangerang"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

Gambaran Umum Kota Tangerang

2.1 Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik

2.1.1 Geografis

Kota Tangerang berada di bagian Timur Provinsi Banten. Secara geografis, wilayah Kota Tangerang terletak antara 606' – 6013' Lintang Selatan (LS) dan 106036' – 106042' Bujur Timur (BT). Kota Tangerang berjarak ± 60 km dari Ibukota Provinsi Banten dan ± 27 km dari Ibukota Negara Republik Indonesia, DKI Jakarta. Hal ini menjadikan Kota Tangerang sedikit banyak mendapatkan dampak positif maupun negatif dari perkembangan Ibukota Negara. Pesatnya perkembangan Kota Tangerang didukung oleh tersedianya sistem jaringan transportasi terpadu dengan kawasan Jabodetabek, serta memiliki aksesibilitas yang baik terhadap simpul transportasi berskala nasional dan internasional, seperti Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Pelabuhan Internasional Tanjung Priok, serta Pelabuhan Bojonegara. Letak geografis Kota Tangerang yang strategis tersebut telah mendorong pertumbuhan aktivitas industri, perdagangan dan jasa yang merupakan basis perekonomian Kota Tangerang saat ini. Kondisi tersebut harus dapat dikelola dengan baik oleh Pemerintah Kota Tangerang dan masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Tangerang.

2.1.2 Administratif

Luas wilayah Kota Tangerang adalah ±16.455 ha (tidak termasuk Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta seluas ±1.969 ha). Secara administratif, Kota Tangerang terdiri atas 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

 Sebelah Utara : Kecamatan Teluknaga, Kecamatan Kosambi dan Kecamatan Sepatan Timur (Kabupaten Tangerang);

 Sebelah Selatan : Kecamatan Curug dan Kecamatan Kelapa Dua (Kabupaten Tangerang), serta Kecamatan Serpong Utara dan Kecamatan Pondok Aren (Kota Tangerang Selatan);

 Sebelah Barat : Kecamatan Pasar Kemis dan Kecamatan Cikupa (Kabupaten Tangerang); dan

 Sebelah Timur : Kota Administrasi Jakarta Barat dan Kota Administrasi Jakarta Selatan (Provinsi DKI Jakarta).

(2)

Peta 2-1 Administrasi Wilayah

Sumber: RTRW Kota Tangerang 2012-2032.

(3)

Tabel 2-1

Nama, Luas Wilayah, dan Jumlah Kelurahan per-Kecamatan Tahun 2013

No. Kecamatan Jumlah

Kelurahan

Luas Wilayah

Administrasi Terbangun

Luas (ha)

% Terhadap Total

Luas (ha)

% Terhadap Total

1 Ciledug 8 877 5,33

2 Larangan 8 940 5,71

3 Karang Tengah 7 1.047 6,36

4 Cipondoh 10 1.791 10,88

5 Pinang 11 2.159 13,12

6 Tangerang 8 1.579 9,60

7 Karawaci 16 1.348 8,19

8 Jatiuwung 6 1.441 8,76

9 Cibodas 6 961 5,84

10 Periuk 5 954 5,80

11 Batuceper 7 1.158 7,04

12 Neglasari 7 1.608 9,77

13 Benda* 5 592 3,60

Kota Tangerang 16.455 100,00

Sumber: RTRW Kota Tangerang 2012-2032.

Keterangan: * Tidak termasuk luas Bandara Soekarno Hatta (1.969 ha).

2.1.3 Kondisi Fisik

2.1.3.1 Topografi

Wilayah Kota Tangerang berada pada ketinggian antara 10-18 meter di atas permukaan laut (m dpl). Wilayah Kota Tangerang bagian utara memiliki rata- rata ketinggian 10 m dpl, seperti Kecamatan Benda. Sedangkan wilayah Kota Tangerang bagian selatan memiliki rata-rata ketinggian 18 m dpl, seperti Kecamatan Ciledug, Kecamatan Larangan, dan Kecamatan Karang Tengah.

Tabel 2-2

Kondisi Topografi Wilayah per-Kecamatan Tahun 2013

No. Kecamatan

Kondisi Topografi Kemiringan

(%)

Ketinggian (m dpl)

1 Ciledug 3-8 18,0

2 Larangan 3-8 18,0

3 Karang Tengah 0-3 18,0

4 Cipondoh 0-3 14,0

5 Pinang 0-3 14,0

6 Tangerang 0-3 14,0

7 Karawaci 0-3 14,0

8 Jatiuwung 0-3 14,0

9 Cibodas 0-3 14,0

10 Periuk 0-3 14,0

11 Batuceper 0-3 14,0

12 Neglasari 0-3 14,0

13 Benda 0-3 10,0

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2013.

Sebagian besar wilayah Kota Tangerang mempunyai tingkat kemiringan tanah antara 0-3%. Hanya sebagian kecil di bagian selatan wilayah Kota Tangerang yang kemiringan tanahnya antara 3-8%, yaitu di sebagian wilayah Kecamatan Ciledug dan di sebagian wilayah Kecamatan Larangan.

(4)

2.1.3.2 Geologi

Secara geologi, Kota Tangerang termasuk dalam Cekungan Jakarta bagian Barat, yang tersusun oleh endapan alluvium pantai, endapan delta dan sebagian tersusun dari material gunungapi, yang berada pada suatu tinggian struktur yang dikenal dengan sebutan Tangerang High. Tinggian ini terdiri atas batuan tersier yang memisahkan Cekungan Jawa Barat Utara di bagian barat dengan Cekungan Sunda di bagian timur. Tinggian ini dicirikan oleh kelurusan bawah permukaan berupa lipatan dan patahan normal, berarah utara-selatan. Di bagian timur patahan normal tersebut terbentuk cekungan pengendapan yang disebut dengan Sub Cekungan Jakarta (Jurnal Geologi Indonesia Vol.1, September 2006).

Batuan yang menutupi Kota Tangerang merupakan batuan kuarter yang terdiri atas Tuf Banten yang tersusun atas tuf, tuf batu lempung, batu pasir tufan; ditindih oleh endapan kipas alluvium yang terdiri atas pasir tufan berselingan dengan konglomerat tufan; endapan pematang pantai yang terdiri atas pasir halus-kasar, cangkang moluska; serta endapan alluvium yang terdiri atas bongkah, kerakal, kerikil, pasir halus, dan lempung (Jurnal Geologi Indonesia Vol.1, September 2006).

2.1.3.3 Klimatologi

Kota Tangerang merupakan daerah beriklim tropis. Kondisi klimatologi Kota Tangerang dapat dilihat dari data temperatur (suhu) udara dan curah hujan pada penelitian di Stasiun Geofisika Kelas I Tangerang.

Temperatur udara di Kota Tangerang tahun 2009-2013 berada pada suhu 26,6 oC - 29,0 oC, dengan suhu maksimum terjadi pada bulan April 2010 yaitu 29,0 oC dan suhu minimum pada bulan Februari 2009 dan Januari 2013 yaitu 26,6 oC. Rata-rata temperatur udara di Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009-2013 adalah 27,7 oC.

Tabel 2-3

Temperatur Udara Tahun 2009-2013

Bulan

Temperatur Udara Rata-rata (oC)

2009 2010 2011 2012 2013 Rata-rata

Januari 26,7 27,1 26,9 27,2 26,6 26,9

Februari 26,6 27,7 27,2 27,5 27,4 27,3

Maret 27,5 28,0 27,2 27,6 28,2 27,7

April 27,9 29,0 27,8 27,6 28,1 28,1

Mei 27,8 28,6 28,0 28,0 28,0 28,1

Juni 27,9 27,6 28,0 28,1 28,1 27,9

Juli 27,3 27,4 27,3 27,7 26,8 27,3

Agustus 27,7 27,7 27,3 27,7 27,7 27,6

September 28,5 27,0 27,5 28,0 28,0 27,8

Oktober 28,4 27,4 28,5 28,5 28,3 28,2

Nopember 27,8 27,9 28,2 27,9 27,9 27,9

Desember 27,7 27,3 28,0 27,9 27,1 27,6

Rata-rata 27,7 27,7 27,7 27,8 27,7 27,7

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2009-2013.

(5)

Rata-rata curah hujan di Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009- 2013 mengalami penurunan pada periode tahun 2009-2012, yaitu dari 166,7 mm pada tahun 2009 menjadi 99,0 mm pada tahun 2012, tetapi mengalami peningkatan pada tahun 2013 menjadi 201,8 mm. Curah hujan tertinggi dalam kurun waktu tersebut terjadi pada bulan Januari 2013 yaitu 637,4 mm.

Tabel 2-4

Curah Hujan Tahun 2009-2013

Bulan

Curah Hujan (mm)

2009 2010 2011 2012 2013 Rata-rata

Januari 359,0 264,4 141,0 249,2 637,4 330,2

Februari 252,8 213,6 179,0 99,0 216,2 192,1

Maret 211,1 214,8 93,5 97,9 162,0 155,9

April 305,2 55,4 235,0 238,0 96,1 185,9

Mei 196,5 67,8 134,0 200,0 176,9 155,0

Juni 129,1 184,5 65,0 54,0 75,6 101,6

Juli 21,3 124,1 117,0 2,0 253,5 103,6

Agustus 15,4 108,0 0,0 8,0 44,4 35,2

September 36,8 187,4 13,0 5,0 66,3 61,7

Oktober 38,7 181,7 22,0 85,0 40,6 73,6

Nopember 247,2 87,1 29,0 47,0 149,8 112,0

Desember 187,7 169,6 161,0 103,0 502,6 224,8

Rata-rata 166,7 154,9 99,1 99,0 201,8 144,3

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2009-2013.

2.1.3.4 Sumber Daya Air

Wilayah Kota Tangerang berdasarkan satuan wilayah sungai dibagi ke dalam tiga Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu: DAS Cisadane, DAS Angke, dan DAS Cirarab. Sungai Cisadane memiliki panjang 15 km, lebar 100 m, dan tinggi 5,35 m, dengan debit air rata-rata 70 m3/detik. Kali Angke memiliki panjang 10 km, lebar 12 m, dan tinggi 5,50 m, dengan debit air rata-rata 18 m3/detik. Kali Cirarab memiliki panjang 4 km, lebar 11 m, dan tinggi 3,50 m, dengan debit air rata-rata 12 m3/detik.

Tabel 2-5

Daerah Aliran Sungai di Wilayah Kota Tangerang Tahun 2013

Nama Daerah Aliran Sungai Luas (ha)

DAS Cisadane 106.350

DAS Angke 7.430

DAS Cirarab 16.100

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2013.

Sungai Cisadane merupakan sungai besar yang membelah wilayah Kota Tangerang menjadi dua bagian, yaitu wilayah barat dan timur. Hulu Sungai Cisadane berasal dari daerah Danau Lido, Kabupaten Bogor. Selain itu, sungai-sungai kecil di sepanjang lereng utara dan timur Gunung Salak merupakan anak Sungai Cisadane yang secara kontinyu mensuplai air. Aliran

(6)

Sungai Cisadane sangat panjang melintasi daerah administrasi Kabupaten dan Kota Bogor, Kabupaten dan Kota Tangerang dan akhirnya bermuara di Laut Jawa. Bendungan Pintu 10 di Kelurahan Mekarsari Kecamatan Neglasari merupakan bendungan untuk mengendalikan debit air Sungai Cisadane ke arah hilir Kabupaten Tangerang dan dimanfaatkan untuk irigasi teknis.

Beberapa saluran yang berfungsi sebagai jaringan irigasi teknis antara lain adalah Kali Mokervart, Cisadane Barat, Cisadane Timur dan Siphoon. Pada DAS Cisadane yang berada di Kota Tangerang terdapat 43 anak sungai/saluran pembuangan yang semuanya bermuara di Kali Cisadane, dimana anak sungai yang terbesar adalah Saluran Mookervaart yang merupakan sodetan penghubung Sungai Cisadane dan Kali Angke.

Keseluruhan DAS Cisadane di Kota Tangerang ini mempunyai daerah tangkapan air (catchment area) seluas 106.350 ha.

Tabel 2-6

Karakteristik Umum DAS Cisadane

No. Daerah

Administrasi Kecamatan Dominasi Guna Lahan Intensitas Kegiatan 1 Kab. Bogor Cijeruk Hutan, ladang, permukiman Rendah

Caringin Hutan, ladang, perkebunan, permukiman Rendah Ciampea Hutan, ladang, perkampungan Rendah Ciomas Permukiman, ladang, perkebunan Rendah-sedang

Dermaga Permukiman, ladang sedang

Parung Permukiman, ladang Sedang

Gunung Sindur Permukiman, ladang Sedang

2 Kota Bogor Bogor Selatan Pemukiman, kegiatan perkotaan Tinggi Bogor Barat Permukiman, kegiatan Perkotaan Tinggi 3 Kab. Tangerang Serpong, BSD,

Gading Serpong

Permukiman, ladang, lahan kosong Sedang Sepatan Permukiman, sawah, ladang Sedang

4 Kota Tangerang Cibodas Permukiman Tinggi

Pinang Permukiman, ladang, lahan kosong. Sedang Karawaci Permukiman, kegiatan perkotaan Tinggi Tangerang Permukiman, kegiatan perkotaan Sangat Tinggi

Neglasari Permukiman, ladang Sedang

Sumber: RPJMD Kota Tangerang 2014-2018.

Kali Angke mengalir di bagian Timur Kota Tangerang. Hulu Kali Angke berasal dari daerah Semplak, Kabupaten Bogor. Aliran Kali Angke melintasi 4 daerah administrasi, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Jakarta Barat, berakhir di Saluran Pembuang Cengkareng Drain, Jakarta Barat. Sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) Angke merupakan kawasan terbangun intensitas sedang-tinggi, yaitu kegiatan permukiman dan kegiatan perkotaan. Pada DAS Angke yang berada di Kota Tangerang terdapat 7 anak sungai/saluran pembuangan yang semuanya bermuara ke Kali Angke. Keseluruhan DAS Angke di Kota Tangerang ini mempunyai daerah tangkapan air (catchment area) seluas 7.430 ha.

(7)

Tabel 2-7

Karakteristik Umum DAS Angke

No. Daerah

Administrasi Kecamatan Dominasi Guna Lahan Intensitas Kegiatan 1 Kab. Bogor Semplak Permukiman, ladang, sawah Sedang

Bojong Gede Permukiman, ladang, sawah Sedang

Parung Permukiman, ladang Sedang

2 Kab. Tangerang Pamulang Permukiman, ladang Tinggi Serpong Permukiman, ladang lahan kosong Sedang 3 Kota Tangerang Ciledug Permukiman, kegiatan perkotaan Sangat Tinggi

Kr. Tengah Permukiman, kegiatan perkotaan Tinggi Pinang Permukiman, ladang, lahan kosong Tinggi 4 Jakarta Barat Duri Kosambi Permukiman, kegiatan perkotaan Tinggi

Kembangan Permukiman, kegiatan perkotaan Sangat Tinggi Sumber: RPJMD Kota Tangerang 2014-2018.

Hulu sungai Kali Cirarab berada di bagian Utara Kabupaten Bogor sekitar Kecamatan Rumpin. Aliran Kali Cirarab berkelok-kelok, melintasi 3 daerah administrasi, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang. Sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) Cirarab merupakan kawasan budidaya daerah terbangun. Pada DAS Cirarab yang berada di Kota Tangerang terdapat 4 anak sungai / saluran pembuangan yang semuanya bermuara ke Kali Cirarab, yaitu: Kali Cangkring, Kali Sasak, Kali Keroncong, dan Kali Jatake. Keseluruhan DAS Cirarab di Kota Tangerang ini mempunyai daerah tangkapan air (catchment area) seluas 16.100 ha.

Tabel 2-8

Karakteristik Umum DAS Cirarab

No. Daerah

Administrasi Kecamatan Dominasi Guna Lahan Intensitas Kegiatan 1. Kab. Bogor Parung Panjang Permukiman, perkebunan, ladang Rendah

Rumpin Permukiman, Perkebunan, ladang Rendah 2. Kab. Tangerang Serpong Permukiman, ladang, lahan kosong Sedang

Curug Permukiman Sedang

Cikupa Industri Tinggi

Sepatan Permukiman, sawah, ladang Sedang 3. Kota Tangerang Jatiuwung Industri, permukiman Sangat Tinggi

Periuk Industri, permukiman Tinggi

Sumber: RPJMD Kota Tangerang 2014-2018.

Selain sungai, di wilayah Kota Tangerang juga terdapat situ sebanyak 6 buah situ dengan luas total saat ini adalah 152,01 ha dan kedalaman antara 2,5-3,0 m. Secara umum, kondisi situ di Kota Tangerang menunjukkan penurunan kuantitas maupun kualitas. Hal ini antara lain tercermin dari berbagai laporan yang menyatakan berkurangnya jumlah dan luasan areal situ, dari semula terdata sebanyak 9 situ, saat ini hanya tersisa 6 situ, dengan penyusutan luas keseluruhan areal sebesar 41%, yaitu dari 257 ha menjadi 152,01 ha. Situ terluas di wilayah Kota Tangerang adalah Situ Cipondoh yang berada di Kecamatan Cipondoh dan Kecamatan Pinang, dengan luas saat ini adalah 126,17 ha. Selama ini Situ Cipondoh difungsikan sebagai pengendali banjir, irigasi, cadangan air baku dan rekreasi. Kondisi Situ Cipondoh saat ini cenderung mengalami pendangkalan terutama di tepi situ karena banyak ditumbuhi tanaman eceng gondok yang memenuhi permukaan air Situ Cipondoh.

(8)

Peta 2-2 Daerah Aliran Sungai

Sumber: Perencanaan Penanganan Banjir Kota Tangerang, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Tangerang 2010.

(9)

Tabel 2-9

Nama dan Kondisi Situ Tahun 2013

No. Nama Situ Lokasi Luas

(ha)

Kedalaman

(m) Kewenangan

1 Cipondoh Kec. Cipondoh dan Kec. Pinang 126,17 3,0 Pusat/Provinsi Banten 2 Besar (Gede) Kel. Cikokol Kec. Tangerang 5,07 3,0 Pusat/Provinsi Banten

3 Cangkring Kec. Periuk 5,17 3,0 Pusat/Provinsi Banten

4 Kunciran Kel. Kunciran Kec. Pinang 0,40 2,5 Pusat/Provinsi Banten 5 Bojong Kel. Kunciran Kec. Pinang 0,20 3,0 Pusat/Provinsi Banten

6 Bulakan Kec. Periuk 15,00 3,0 Pusat/Provinsi Banten

Jumlah 152,01

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2013

Akuifer yang berkembang di wilayah Kota Tangerang berlitologi pasir tufaan, dan dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya menjadi akuifer dangkal dan akuifer dalam. Akuifer dangkal di sini dibatasi hanya untuk akuifer-akuifer yang terdapat hingga kedalaman sampai 50 m di bawah permukaan tanah setempat (bmt), sedangkan akuifer dalam adalah akuifer yang terdapat pada kedalaman lebih dari 50 m bmt. Ketebalan akuifer ini beragam mulai dari 5-25 m untuk akuifer dangkal (kedalaman sampai 50 m), hingga ketebalan 4-80 m untuk akuifer dalam (kedalaman lebih dari 50 m). Akuifer dangkal (kedalaman kurang dari 50 m) adalah akuifer tak tertekan dan pada tempat yang semakin dalam berubah menjadi akuifer semi-tertekan. Sedangkan akuifer dalam (kedalaman lebih dari 50 m) merupakan akuifer tertekan yang dibatasi oleh dua lapisan kedap air (impermeable layer) pada bagian atas dan bawahnya.

Sistem airtanah tak tertekan dijumpai pada kedalaman antara 2-10 m bmt.

Batuan penyusun akuifer sistem airtanah tersebut berada pada satuan endapan pantai. Akuifer tak tertekan ini berubah menjadi semi-tertekan pada tempat yang lebih dalam. Permeabilitas batuan pada satuan endapan ini sedang, dan pada beberapa lokasi berubah menjadi tinggi, khususnya pada daerah akumulasi endapan sungai dengan butiran pasir kasar hingga kerakal.

Debit aliran pada sumur-sumur gali pada sistem akuifer ini berkisar antara 0-3 liter/detik.

Tipe akuifer yang berkembang adalah Sistem Endapan Aluvium Pantai.

Batuan penyusun endapan ini umumnya berupa lempung, pasir, dan kerikil hasil dari erosi dan transportasi batuan di bagian hulunya. Umumnya batuan pada endapan alluvium bersifat tidak kompak, dengan morfologi yang umumnya datar sampai sedikit bergelombang. Dari segi kuantitas, airtanah pada endapan alluvium pantai dapat menjadi sumber airtanah yang baik, terutama pada lensa-lensa batu pasir lepas. Namun demikian, dari segi kualitas airtanah pada akuifer endapan alluvium pantai tergolong buruk yang ditandai dengan bau, warna kuning, keruh karena tingginya kandungan garam, besi, serta mangan (Fe dan Mn).

Kualitas airtanah yang baik umumnya dapat dijumpai pada endapan akuifer alluvium pantai yang berupa akuifer tertekan. Akuifer pada sistem ini tersusun oleh endapan pasir halus yang belum terkompaksi dan setempat, sehingga terdapat airtanah segar.

(10)

Peta 2-3 Airtanah

Sumber: Studi Potensi dan Konservasi Airtanah Kota Tangerang, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Tangerang, 2011.

(11)

Ketinggian muka airtanah rata-rata di wilayah Kota Tangerang berkisar antara 9-32 meter di bawah permukaan tanah setempat (m bmt). Tinggi muka airtanah rata-rata paling dalam terdapat di Kecamatan Jatiuwung yaitu 32 m bmt. Sedangkan tinggi muka airtanah rata-rata paling dangkal terdapat di Kecamatan Benda yaitu 9 m bmt.

Tabel 2-10

Tinggi Muka Airtanah Rata-rata per-Kecamatan Tahun 2013

No. Kecamatan Tinggi Muka Airtanah Rata-rata

(m bmt)

1 Ciledug 15

2 Larangan 17

3 Karang Tengah 10

4 Cipondoh 19

5 Pinang 12

6 Tangerang 14

7 Karawaci 16

8 Jatiuwung 32

9 Cibodas 26

10 Periuk 26

11 Batuceper 14

12 Neglasari 11

13 Benda 9

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2013.

2.2 Demografi

Bagian ini berisi uraian tentang jumlah dan kepadatan penduduk Kota Tangerang tahun 2009-2013 dan proyeksinya untuk tahun 2014-2019.

2.2.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Berdasarkan data BPS Kota Tangerang, jumlah penduduk Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009-2013 mengalami peningkatan dari 1.652.590 jiwa (2009) menjadi 1.982.132 jiwa (2013). Pertumbuhan penduduk rata-rata Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009-2013 sebesar 3,28%.

Jumlah penduduk terbesar saat ini berada di Kecamatan Cipondoh, yaitu 256.810 jiwa (2013), sedangkan jumlah penduduk terkecil berada di Kecamatan Benda, yaitu 92.336 jiwa (2013). Laju pertumbuhan penduduk rata-rata tertinggi dalam kurun waktu tahun 2009-2013 dialami oleh Kecamatan Cipondoh, yaitu rata-rata 5,88% per tahun, sedangkan laju pertumbuhan penduduk rata-rata terendah dialami oleh Kecamatan Jatiuwung, yaitu rata-rata 0,23% per tahun.

Jumlah rumah tangga di Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009-2013 juga mengalami peningkatan dari 446.646 KK (2009) menjadi 519.925 KK (2013). Jumlah rumah tangga terbesar saat ini berada di Kecamatan Cipondoh, yaitu 62.862 KK (2013), sedangkan jumlah rumah tangga terkecil berada di Kecamatan Benda, yaitu 24.199 KK (2013).

(12)

Tabel 2-11

Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga, Pertumbuhan Penduduk, dan Kepadatan Penduduk per-Kecamatan Tahun 2009-2013

No. Kecamatan

Jumlah Penduduk (jiwa)

Jumlah Rumah Tangga (KK)

Tingkat Pertumbuhan (%)

Kepadatan Penduduk (jiwa/ha)

Tahun Tahun Tahun Tahun

2009 2010 2011 2012 2013* 2009 2010 2011 2012 2013* 2009 2010 2011 2012 2013* 2009 2010 2011 2012 2013*

1 Ciledug 136.655 147.023 153.069 161.604 169.426 33.926 36.461 37.839 39.948 41.881 NA 7,59 4,11 5,58 4,84 156 168 175 184 193 2 Larangan 151.879 163.901 168.877 176.229 182.732 38.847 40.885 41.956 43.780 45.395 NA 7,92 3,04 4,35 3,69 162 174 180 187 194 3 Karang Tengah 109.931 118.473 121.627 126.364 130.509 28.625 29.652 30.292 31.470 32.502 NA 7,77 2,66 3,89 3,28 105 113 116 121 125 4 Cipondoh 197.906 216.346 227.396 242.548 256.810 49.812 53.167 55.661 59.371 62.862 NA 9,32 5,11 6,66 5,88 111 121 127 135 143 5 Pinang 148.222 160.206 166.172 174.655 182.357 37.815 40.093 41.386 43.497 45.415 NA 8,09 3,72 5,10 4,41 69 74 77 81 84 6 Tangerang 137.524 152.145 157.343 162.192 167.463 36.244 38.448 39.583 40.799 42.125 NA 10,63 3,42 3,08 3,25 87 96 100 103 106 7 Karawaci 156.465 171.317 172.959 176.556 179.240 43.452 46.020 46.319 47.389 48.109 NA 9,49 0,96 2,08 1,52 116 127 128 131 133 8 Jatiuwung 127.824 120.216 119.929 120.767 121.045 35.370 43.383 43.132 43.491 43.591 NA -5,95 -0,24 0,70 0,23 89 83 83 84 84 9 Cibodas 111.249 142.479 144.422 148.032 150.889 41.025 38.304 38.677 39.733 40.500 NA 28,07 1,36 2,50 1,93 116 148 150 154 157 10 Periuk 119.249 129.384 132.089 136.420 140.076 34.296 36.380 37.922 39.246 40.298 NA 8,50 2,09 3,28 2,68 125 136 138 143 147 11 Batuceper 95.538 90.590 92.351 95.162 97.532 23.693 24.471 24.866 25.680 26.319 NA -5,18 1,94 3,04 2,49 83 78 80 82 84 12 Neglasari 82.607 103.504 105.585 108.908 111.718 22.552 25.355 25.781 26.055 26.727 NA 25,30 2,01 3,15 2,58 51 64 66 68 69 13 Benda 77.541 83.017 85.522 89.119 92.336 20.989 21.809 22.362 23.356 24.199 NA 7,06 3,02 4,21 3,61 131 140 144 151 156 Kota Tangerang 1.652.590 1.798.601 1.847.341 1.918.556 1.982.132 446.646 474.428 485.776 503.815 519.925 NA 8,84 2,71 3,86 3,28 100 109 112 117 120

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2011-2013.

Keterangan: * Angka perkiraan sementara.

(13)

Kepadatan penduduk Kota Tangerang mengalami peningkatan dalam kurun waktu tahun 2009-2013, dari 100 jiwa/ha (2009) menjadi 120 jiwa/ha (2013). Kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi saat ini adalah Kecamatan Larangan, yaitu 194 jiwa/ha (2013), sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Neglasari, yaitu 69 jiwa/ha (2013).

2.2.2 Proyeksi Penduduk

Pertumbuhan penduduk Kota Tangerang dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2009-2013) menunjukkan pola yang cenderung linier, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2-1 berikut ini:

Gambar 2-1

Grafik Pertumbuhan Penduduk Tahun 2009-2013

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2011-2013.

Dengan asumsi bahwa pertumbuhan penduduk Kota Tangerang untuk lima tahun mendatang juga masih berpola linier, maka metode yang digunakan untuk proyeksi penduduk Kota Tangerang tahun 2014-2019 adalah Metode Proyeksi Aritmatik, dengan rumus perhitungan sebagai berikut:

di mana:

Pn = penduduk tahun ke-n P0 = penduduk tahun awal n = jumlah tahun (periode) r = angka pertumbuhan

(14)

Tabel 2-12

Proyeksi Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga, dan Kepadatan Penduduk per-Kecamatan Tahun 2014-2019

No. Kecamatan

Jumlah Penduduk (jiwa)

Jumlah Rumah Tangga (KK)

Kepadatan Penduduk (jiwa/ha)

Tahun Tahun Tahun

2014 2015 2016 2017 2018 2019 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2014 2015 2016 2017 2018 2019 1 Ciledug 177.247 185.069 192.891 200.712 208.534 216.355 43.815 45.748 47.682 49.615 51.549 53.482 202 211 220 229 238 247 2 Larangan 189.235 195.738 202.240 208.743 215.246 221.749 47.011 48.626 50.242 51.857 53.473 55.088 201 208 215 222 229 236 3 Karang Tengah 134.653 138.798 142.943 147.088 151.232 155.377 33.534 34.567 35.599 36.631 37.663 38.696 129 133 137 140 144 148 4 Cipondoh 271.072 285.333 299.595 313.857 328.119 342.381 66.353 69.844 73.335 76.826 80.317 83.808 151 159 167 175 183 191 5 Pinang 190.060 197.762 205.464 213.166 220.869 228.571 47.333 49.252 51.170 53.088 55.006 56.925 88 92 95 99 102 106 6 Tangerang 172.734 178.006 183.277 188.548 193.819 199.091 43.451 44.777 46.103 47.429 48.755 50.081 109 113 116 119 123 126 7 Karawaci 181.923 184.607 187.291 189.974 192.658 195.342 48.830 49.550 50.270 50.991 51.711 52.431 135 137 139 141 143 145 8 Jatiuwung 121.323 121.600 121.878 122.156 122.434 122.711 43.691 43.791 43.891 43.991 44.091 44.191 84 84 85 85 85 85 9 Cibodas 153.746 156.603 159.460 162.317 165.174 168.031 41.267 42.034 42.800 43.567 44.334 45.101 160 163 166 169 172 175 10 Periuk 143.732 147.388 151.044 154.700 158.356 162.012 41.350 42.401 43.453 44.505 45.557 46.609 151 154 158 162 166 170 11 Batuceper 99.901 102.271 104.640 107.010 109.379 111.749 26.959 27.598 28.238 28.877 29.517 30.156 86 88 90 92 94 97 12 Neglasari 114.528 117.337 120.147 122.957 125.767 128.577 27.399 28.072 28.744 29.416 30.088 30.761 71 73 75 76 78 80 13 Benda 95.553 98.771 101.988 105.205 108.422 111.639 25.042 25.885 26.729 27.572 28.415 29.258 161 167 172 178 183 189 Kota Tangerang 2.045.707 2.109.283 2.172.858 2.236.434 2.300.010 2.363.585 536.035 552.145 568.256 584.366 600.476 616.586 124 128 132 136 140 144 Sumber: Hasil Analisis, 2014.

(15)

Berdasarkan hasil perhitungan proyeksi, jumlah penduduk Kota Tangerang pada tahun 2019 bertambah sebesar 19,24% dari saat ini, yaitu menjadi 2.363.585 jiwa.

Jumlah penduduk terbesar pada tahun 2019 berada di Kecamatan Cipondoh, yaitu mencapai 342.381 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil berada di Kecamatan Benda, yaitu sebanyak 111.639 jiwa.

Hasil perhitungan proyeksi juga menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga di Kota Tangerang pada tahun 2019 meningkat sebesar 18,59% dari saat ini, yaitu menjadi 616.586 KK. Jumlah rumah tangga terbesar pada tahun 2019 berada di Kecamatan Cipondoh, yaitu 83.808 KK, sedangkan jumlah rumah tangga terkecil berada di Kecamatan Benda, yaitu 29.258 KK.

Untuk kepadatan penduduk, hasil proyeksi menunjukkan bahwa kepadatan penduduk Kota Tangerang mengalami peningkatan dari 120 jiwa/ha (2013) menjadi 144 jiwa/ha (2019). Kecamatan terpadat pada tahun 2019 adalah Kecamatan Ciledug dengan kepadatan penduduk mencapai 247 jiwa/ha.

2.3 Keuangan dan Perekonomian Daerah

Bagian ini berisi uraian tentang kondisi perekonomian daerah dan kondisi keuangan daerah Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009-2013.

2.3.1 Perekonomian Daerah

Bagian ini berisi uraian tentang kondisi perekonomian daerah Kota Tangerang tahun 2009-2013 berdasarkan indikator perekonomian daerah berupa: Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pendapatan perkapita, Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE), dan tingkat inflasi.

Tabel 2-13

Peta Perekonomian Daerah Tahun 2009-2013

Uraian Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

PDRB Hk (Milyar Rp) 27.562,54 29.402,85 31.414,10 33.428,91 35.754,78 PDRB Hb (Milyar Rp) 49.332,26 56.964,84 63.675,06 70.200,92 75.312,21

Pendapatan Perkapita Hk (Juta Rp) 16,68 16,35 17,01 17,42 18,04

Pendapatan Perkapita Hb (Juta Rp) 29,85 31,67 34,47 36,59 38,00

Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,74 6,68 6,84 6,41 6,02

Tingkat Inflasi (%) 2,49 6,08 3,78 4,44 10,02

Sumber: RPJMD Kota Tangerang 2014-2018.

Penghitungan PDRB didasarkan pada dua harga, yaitu harga dasar/konstan (constant price) dan harga berlaku (current price). PDRB atas dasar harga konstan (Hk) adalah jumlah dari barang dan jasa, pendapatan atau pengeluaran yang dinilai sesuai dengan harga pasar yang tetap (tahun dasar, yaitu tahun 2000). Sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku (Hb) adalah jumlah nilai barang dan jasa, pendapatan atau pengeluaran yang dinilai sesuai dengan harga berlaku pada tahun bersangkutan. Nilai

(16)

PDRB ini merepresentasikan pertumbuhan ekonomi suatu daerah atas barang dan jasa yang diproduksi dalam satu tahun. Besar kecilnya PDRB suatu daerah sangat tergantung pada potensi sumber ekonomi yang dimiliki daerah tersebut. Dalam kurun waktu tahun 2009-2013, PDRB atas dasar harga konstan Kota Tangerang mengalami peningkatan dari 27.562,54 milyar rupiah (2009) menjadi 35.754,78 milyar rupiah (2013). Artinya, dalam kurun waktu tersebut terdapat kenaikan nilai PDRB atas dasar harga konstan Kota Tangerang sebesar 8.192,24 milyar rupiah. Sedangkan nilai PDRB atas dasar harga berlaku Kota Tangerang, dalam kurun waktu yang sama, mengalami kenaikan sebesar 25.979,95 milyar rupiah, yaitu dari 49.332,26 milyar rupiah (2009) menjadi 75.312,21 milyar rupiah (2013).

Pendapatan perkapita dihitung dengan membagi jumlah PDRB dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Angka pendapatan perkapita ini memperlihatkan rata-rata pendapatan yang diterima oleh masing-masing penduduk dan dapat merepresentasikan tingkat kesejahteraan suatu daerah. Berdasarkan data di atas, dalam kurun waktu tahun 2009-2013, angka pendapatan perkapita Kota Tangerang atas dasar harga konstan mengalami kenaikan sebesar 1,36 juta rupiah, yaitu dari 16,68 juta rupiah per tahun (2009) menjadi 18,04 juta rupiah per tahun (2013).

Sedangkan angka pendapatan perkapita Kota Tangerang atas dasar harga berlaku mengalami kenaikan sebesar 8,14 juta rupiah, yaitu dari 29, 85 juta rupiah per tahun (2009) menjadi 38,00 juta rupiah per tahun (2013).

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009- 2013 relatif stabil seiring dengan LPE Provinsi Banten dan LPE Nasional,

sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 2-2

Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2009-2013. Berdasarkan data dalam gambar tersebut, juga terlihat bahwa LPE Kota Tangerang saat ini (2013) sebesar 6,02% lebih tinggi dari LPE Provinsi Banten (5,86%) dan LPE Nasional (5,72%).

Gambar 2-2

Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2009-2013

Sumber: Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (ILPPD) Kota Tangerang 2013.

(17)

Selama Januari-Desember 2013 telah terjadi inflasi di Kota Tangerang sebesar 10,02%, berada di atas laju inflasi Provinsi Banten (9,65%) dan Nasional (8,38%).

Sedangkan perkembangan inflasi Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009- 2012 menunjukkan angka yang cukup terkendali dan masih berada pada koridor sasaran inflasi Provinsi Banten dan Nasional untuk setiap tahunnya.

2.3.2 Keuangan Daerah

Keuangan Daerah, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.

Lebih lanjut dalam Permendagri tersebut dijelaskan bahwa Keuangan Daerah terbagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan Daerah.

2.3.2.1 Realisasi APBD

Realisasi total Pendapatan Daerah Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009-2013 terus mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 21,22% per tahun, yaitu dari 1.182.799,57 juta rupiah (2009) menjadi 2.554.197,03 juta rupiah (2013). Peningkatan ini selain disebabkan oleh naiknya pendapatan yang berasal dari Dana Perimbangan (dengan rata-rata pertumbuhan 9,88% per tahun), juga karena adanya berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Tangerang dalam peningkatan pendapatan dari pajak dan retribusi daerah sejak tahun 2008 yang ditunjukkan oleh naiknya Pendapatan Asli Daerah (dengan rata-rata pertumbuhan 43,28% per tahun). Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi daerah berdampak pula terhadap perkembangan basis penerimaan daerah yang ada.

Dari sisi kemandirian keuangan daerah yang diukur dengan rasio realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap realisasi total pendapatan daerah, kemampuan Pemerintah Kota Tangerang dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat relatif rendah. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi PAD terhadap total pendapatan daerah Kota Tangerang dalam kurun waktu tahun 2009-2013 rata-rata hanya sebesar 26,35%. Namun demikian, rasio kemandirian keuangan daerah Kota Tangerang dalam kurun waktu tersebut juga mengalami peningkatan dari 16,36% (2009) menjadi 33,31% (2013). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemandirian keuangan daerah Kota Tangerang dari tahun ke tahun dalam kurun waktu tersebut

(18)

Tabel 2-14

Rekapitulasi Realisasi APBD Kota Tangerang Tahun 2009-2013

No. Uraian

Realisasi

(juta rupiah) Rata-rata

Pertumbuhan

2009 2010 2011 2012 2013

A Pendapatan (a.1 + a.2 + a.3)

1.182.799,57 1.338.920,81 1.839.864,61 2.188.723,33 2.554.197,03 21,22

a.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD)

193.552,07 230.634,14 499.600,76 631.328,86 815.733,56 43,28

a.1.1 Pajak Daerah 126.887,06 159.764,13 418.529,73 516.450,64 643.428,46 50,06 a.1.2 Retribusi Daerah 26.381,13 30.180,38 39.609,90 60.374,68 103.524,86 40,75 a.1.3 Hasil Pengolahan

Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

10.762,27 13.663,13 12.515,47 7.407,59 8.302,85 -6,28

a.1.4 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

29.521,61 27.026,50 28.945,65 47.095,95 60.477,39 19,64 a.2 Dana Perimbangan

(Transfer)

803.724,32 823.213,83 819.401,10 1.069.716,22 1.171.494,01 9,88

a.2.1 Dana Bagi Hasil 293.775,91 326.681,95 253.727,03 315.169,00 333.794,31 3,24 a.2.2 Dana Alokasi Umum 506.999,71 488.979,28 554.055,98 747.696,47 829.387,86 13,09 a.2.3 Dana Alokasi Khusus 2.948,70 7.552,60 11.618,10 6.850,76 8.311,84 29,57 a.3 Lain-lain

Pendapatan yang Sah

185.523,18 285.072,84 520.862,75 487.678,25 566.969,46 32,22

a.3.1 Hibah - - - - - -

a.3.2 Dana Darurat - - - - - -

a.3.3 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya

170.523,18 207.460,32 270.466,35 300.729,85 342.745,51 19,07

a.3.4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus

- 74.612,56 236.396,43 182.398,55 219.224,10 71,39 a.3.5 Bantuan Keuangan

dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya

15.000,00 2.999,97 13.999,97 4.549,85 4.999,85 -24,02

B Belanja (b1 + b.2)

1.104.824,34 1.395.734,74 1.635.673,96 1.925.246,11 2.766.418,07 25,79

b.1 Belanja Tidak Langsung

447.480,62 598.698,83 717.932,74 815.995,55 921.801,44 19,80

b.1.1 Belanja Pegawai 426.237,55 568.184,49 649.560,94 782.092,43 850.294,04 18,84

b.1.2 Belanja Bunga 1.739,22 - - - -

b.1.3 Belanja Hibah 2.685,92 11.522,83 41.061,73 32.108,00 69.856,39 125,83 b.1.4 Belanja Bantuan

sosial

15.817,94 17.916,13 22.709,90 487,50 616,25 -55,57 b.1.5 Belanja Bantuan

Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/

Kota, Pemerintahan Desa dan Partai Politik

- 954,55 954,55 954,55 954,55 0,00

b.1.6 Belanja Tidak Terduga

1.000,00 120,84 3.645,62 353,07 80,21 -46,78

b.2 Belanja Langsung 657.343,72 797.035,90 917.741,21 1.109.250,56 1.844.616,63 29,43 b.2.1 Belanja Pegawai 200.322,08 254.739,74 280.233,89 184.907,82 274.009,39 8,15 b.2.2 Belanja Barang dan

Jasa

177.063,73 228.843,05 313.859,31 494.366,62 778.754,70 44,82 b.2.3 Belanja Modal 279.957,90 313.453,11 323.648,02 429.976,12 791.852,54 29,68 C Pembiayaan 329.873,94 381.717,82 312.381,62 496.618,63 745.286,34 22,60

Surplus/Defisit Anggaran

56.788,31 -71.813,93 186.713,83 248.477,22 -212.221,04 -184,70

Sumber: RPJMD Kota Tangerang 2014-2018.

(19)

Realisasi belanja daerah Kota Tangerang selama tahun 2009-2013 menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 25,79% per tahun, yaitu dari 1.104.824,34 juta rupiah (2009) menjadi 2.766.418,07 juta rupiah (2013). Pertumbuhan rata-rata realisasi Belanja Tidak Langsung menunjukkan angka yang lebih kecil yaitu 19,80%

dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata realisasi Belanja Langsung yaitu 29,43%. Sedangkan berdasarkan proporsinya terhadap total belanja daerah, proporsi Belanja Langsung selalu lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi Belanja Tidak Langsung untuk setiap tahunnya dalam kurun waktu tahun 2009-2013 tersebut.

Pembiayaan Daerah adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daerah dan belanja daerah, ketika terjadi defisit anggaran. Sumber pembiayaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun lalu, penerimaan pinjaman obligasi, transfer dari dana cadangan maupun hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan. Sedangkan pengeluaran dalam pembiayaan itu sendiri dapat berupa anggaran hutang, bantuan modal dan transfer ke dana cadangan.

Realisasi Pembiayaan Daerah Kota Tangerang selama tahun 2009-2013 menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 22,60%, yaitu dari 329.873,94 juta rupiah (2009) menjadi 745.286,34 juta rupiah (2013).

2.3.2.2 Realisasi Belanja Sanitasi

Tabel 2-15

Realisasi Belanja Sanitasi SKPD Kota Tangerang Tahun 2009-2013

No. SKPD

Realisasi Belanja Sanitasi (juta rupiah)

Rata-rata Pertumbuhan

2009 2010 2011 2012 2013 (%)

1 DPU 1.a Investasi

1.b Operasional/Pemeliharaan (OM)

2 DKP 2.a Investasi

2.b Operasional/Pemeliharaan (OM)

3 BPLH 3.a Investasi

3.b Operasional/Pemeliharaan (OM)

4 Dinkes 4.a Investasi

4.b Operasional/Pemeliharaan (OM)

5 Bappeda 5.a Investasi

5.b Operasional/Pemeliharaan (OM)

6 Total Belanja Sanitasi (1+2+3+4+5)

7 Pendanaan investasi Sanitasi Total (1+2+3+4+5)

(20)

No. SKPD

Realisasi Belanja Sanitasi (juta rupiah)

Rata-rata Pertumbuhan

2009 2010 2011 2012 2013 (%)

8 Pendanaan OM Sanitasi (1+2+3+4+5)

9 Belanja Langsung 10 Proporsi Belanja Sanitasi-

Belanja Langsung (6/9)

11 Proporsi Investasi Sanitasi- Total Belanja Sanitasi (7/6)

12 Proporsi OM Sanitasi-Total Belanja Sanitasi

(8/6)

Sumber: DPKD Kota Tangerang 2013.

Tabel 2-16

Perhitungan Pendanaan Sanitasi oleh APBD Kota Tangerang Tahun 2009-2013

No. Uraian

Pendanaan Sanitasi (juta rupiah)

Rata-rata Pertumbuhan

(%)

2009 2010 2011 2012 2013

1 Belanja Sanitasi ( 1.1 + 1.2 + 1.3 + 1.4 ) 1.1 Air Limbah Domestik 1.2 Sampah rumah tangga 1.3 Drainase perkotaan 1.4 PHBS

2 Dana Alokasi Khusus ( 2.1 + 2.2 + 2.3 ) 2.1 DAK Sanitasi

2.2 DAK Lingkungan Hidup 2.3 DAK Perumahan dan

Permukiman

3 Pinjaman/Hibah untuk Sanitasi

4 Bantuan Keuangan Provinsi untuk Sanitasi

Belanja APBD murni untuk Sanitasi (1-2-3)

Total Belanja Langsung

% APBD murni terhadap Belanja Langsung Sumber: DPKD Kota Tangerang 2013.

Tabel 2-17

Belanja Sanitasi Perkapita Kota Tangerang Tahun 2009-2013

No. D e s k r i p s i Tahun Rata-rata

2009 2010 2011 2012 2013 (%)

1 Total Belanja Sanitasi (juta rupiah)

2 Jumlah Penduduk (jiwa)

Belanja Sanitasi Perkapita (1 / 2) (juta rupiah/jiwa)

Sumber: DPKD Kota Tangerang 2013.

(21)

Tabel 2-18

Realisasi dan Potensi Retribusi Sanitasi

No. SKPD Retribusi Sanitasi Tahun (Rp) Pertumbuhan

2009 2010 2011 2012 2013 (%) 1 Retribusi Air Limbah

1.a Realisasi retribusi 1.b Potensi retribusi 2 Retribusi Sampah 2.a Realisasi retribusi 2.b Potensi retribusi 3 Retribusi Drainase 3.a Realisasi retribusi 3.b Potensi retribusi

4 Total Realisasi Retribusi Sanitasi (1a+2a+3a) 5 Total Potensi Retribusi Sanitasi (1b+2b+3b)

6 Proporsi Total Realisasi-Potensi Retribusi Sanitasi (4/5) Sumber: DPKD Kota Tangerang 2013.

2.4 Tata Ruang Wilayah

Bagian ini berisi tentang uraian tentang kebijakan penataan ruang Kota Tangerang berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang berlaku.

2.4.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah

Kota Tangerang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dalam Sistem Perkotaan Nasional, sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten Tahun 2010-2030.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 6 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tangerang 2012-2032, rencana struktur ruang wilayah Kota Tangerang meliputi: (1) sistem pusat pelayanan; (2) sistem jaringan transportasi; (3) sistem jaringan energi/kelistrikan; (4) sistem jaringan telekomunikasi; (5) sistem jaringan sumber daya air; dan (6) sistem infrastruktur perkotaan. Rencana struktur ruang wilayah kota tersebut digambarkan dalam peta Rencana Struktur Ruang Kota Tangerang dengan tingkat ketelitian 1:25.000 sebagaimana ditunjukkan pada peta di bawah ini.

2.4.1.1 Sistem Pusat Pelayanan

Rencana sistem pusat pelayanan dimaksudkan untuk memperjelas hirarki kota sesuai dengan struktur kota yang ditetapkan sehingga diperoleh suatu sistem pemanfaatan ruang yang optimal untuk setiap bagian kota.

Pengembangan sistem pusat pelayanan akan mempermudah masyarakat kota untuk mendapatkan pelayanan sarana dan prasarana perkotaan.

(22)

Rencana sistem pusat pelayanan Kota Tangerang, sebagaimana tertuang dalam RTRW Kota Tangerang 2012-2032, terdiri atas:

1. Pusat Pelayanan Kota (PPK), adalah pusat pelayanan ekonomi, sosial, dan/atau administrasi yang melayani seluruh wilayah kota dan/atau regional, yang meliputi:

a. PPK I memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan regional ditetapkan di Kecamatan Tangerang;

b. PPK II memiliki fungsi sebagai perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan regional dan perumahan kepadatan menengah tinggi ditetapkan di Kecamatan Cibodas;

c. PPK III memiliki fungsi sebagai perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan regional dan perumahan kepadatan menengah rendah ditetapkan di Kecamatan Pinang; dan

d. PPK IV memiliki fungsi sebagai perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan regional dan perumahan kepadatan menengah rendah ditetapkan di Kecamatan Cipondoh.

(23)

Peta 2-4

Rencana Struktur Ruang Wilayah

Sumber: RTRW Kota Tangerang 2012-2032

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan arahan pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Nasional atau PKN adalah kawasan perkotaan yang

Sesuai  dengan  arahan  pada  PP  Nomor  26  Tahun  2008  tentang  Rencana  Tata  Ruang  Wilayah  Nasional,  Pusat  Kegiatan  Nasional  atau  PKN  adalah 

Sesuai dengan arahan pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Nasional atau PKN adalah kawasan perkotaan yang

Sesuai dengan arahan pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Nasional atau PKN adalah kawasan perkotaan yang

Sesuai dengan arahan pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Nasional atau PKN adalah kawasan perkotaan yang

Sesuai dengan arahan pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Nasional atau PKN adalah kawasan perkotaan

Sesuai dengan arahan pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Nasional atau PKN adalah kawasan perkotaan yang

Sesuai dengan arahan pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Nasional atau PKN adalah kawasan perkotaan