PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI METODE EQUITY
Pemilikan 20% - 50%, disarankan untuk menggunakan metode ekuitas . Pemilikan saham secara mayoritas, sehingga dapat mengendalikan perusahaan anak, yaitupemilikan lebih dari 50% dapat menggunakan metode ekuitas juga. Dalam pemilikan di atas 50% ini, perusahaan induk diharuskan menyusun laporan keuangan konsolidasi.
KONSEP DASAR METODE EQUITY
Konsep dasar metode ekuitas pada dasarnya memandang investasi Induk Perusahaan terhadap Anak Perusahaan sebagai sesuatu penyertaan modal sehingga jika aktiva bersih Anak Perusahaan berubah karena kegiatan operasionalnya, secara otomatis akan menyebabkan perubahan pada nilai investasi induk Perusahaan.
PROSEDUR PENCATATAN INVESTASI METODE EQUITY
Jika Laba maka perusahaan induk akan mencatat mendebit rekening “Investasi Saham Pada Perusahaan Anak” dan mengkredit “Laba Yang Ditahan”. Sedangkan jika Rugiperusahaan induk akan mendebit “Laba Yang Ditahan” dan mengkredit “Investasi Saham Pada Perusahaan Anak”.
Teknik dan Prosedur Konsolidasi
1. Mengeliminasi semua rekening timbal balik (Recipocal Account)
Suatu rekening yang dicatat oleh kedua belah pihak (induk dan anak ) untuk satu transaksi yang sama
2. Menyusun Kertas Kerja (Worksheet)
Digunakan untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan.
Contoh Kasus
Berikut ini adalah neraca PT Sinar dan PT Abadi pada tanggal 1 Maret 2013 setelah PT Sinar membeli 85% saham PT Abadi yang beredar dengan harga Rp 22.500.000
Pada tanggal 23 Desember 2013, PT Abadi mengumumkan pembagian deviden sebesar Rp -3.100.000 sedangkan realisasi pembayaran deviden baru terjadi pada tanggal 30 Desember 2013. selama tahun buku PT Sinar memperoleh laba Rp 4.700.000 dan PT Abadi Rp 3.800.000 Buatlah : jurnal yang diperlukan dan kertas kerja laporan konsolidasi
jurnal
Kas PT Sinar : 4.300.000 + 2.635.000 + 4.700.000 = 11.635.000 Kas PT Abadi : 4.000.000 + 3.800.000 – 3.100.000 = 4.700.000 Inv.Saham PT Abadi : 22.500.000 + 3.230.000 – 2.635.000 = 23.095.000 LYD PT Sinar : 6.000.000 + 4.700.000 + 3.230.000 = 13.930.000 LYD PT Abadi : 2.500.000 + 3.800.000 – 3.100.000 = 3.200.000 KHPDNB (Goodwill) : 22.500.000 – (85% * 15.000.000) = 9.750.000
Jurnal Eliminasi dan Penyesuaian : Modal Saham PT Abadi 7.650.000 Agio Saham 2.975.000 LYD PT Abadi 2.720.000 KHPDNB (Goodwill) 9.750.000
Inv.Saham PT Abadi 23.095.000
Jurnal pada saat membeli saham 1 April Modal Saham PT Abadi 7.625.000 Agio Saham PT Abadi 2.975.000 LYD PT Abadi 2.125.000 Goodwill 9.750.000
Inv.Saham PT Abadi 22.500.000
LAPORAN KEUANGAN YANG DIKONSOLIDASI
Dalam hal pencatatan Investasi Saham pada perusahaan anak, selalu diadakan penyesuaian terhadap adanya perubahan (perkembangan) yang terjadi dalam perusahaan anak, sehingga rekening Investasi Saham senantiasa mengikuti perkembangan yang terjadi pada perusahaan anak maka prosedur pencatatan itu disebut Metode Equity. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam prosedur pencatatan terhadap investasi saham pada perusahaan anak dengan menggunakan metode equity adalah :
1. Rugi dan Laba bersih dari perusahaan anak
Keuntungan yang didapat dan rugi yang diderita berakibat terjadinya
perubahan/perkembangan perusahaan anak, maka terhadap keuntungan yang diperoleh dan atau rugi yang diderita oleh perusahaan anak, harus diakui dan dicatat oleh perusahaan induk. Untuk keuntungan : Investasi Saham pada Perusahaan Anak
(D), dan Pendapatan dari Perusahaan Anak (K). Rugi : Kerugian dari Perusahaan Anak (D), dan Investasi Saham pada Perusahaan Anak (K).
1. Dividen yang dibagikan oleh Perusahaan Anak
Dilihat dari segi perusahaan anak, pembagian dividen ini akan berakibat kurangnya saldo Laba Yang Ditahan di satu pihak dan menaikkan jumlah hutang lancar (dalam hal pembayarnnya tidak dilakukan bersamaan dengan pengumuman pembagian dividen) atau mengurangi jumlah uang kas (dalam hal pembayarannya dilakukan tunai) di pihak yang lain. Dengan adanya pembagian dividen ini, perubahan yang terjadi pada perusahaan induk ialah perubahan bentuk kekayaan (aktiva) yang semula berupa hak atas laba pada perusahaaan anak (yang tercemin dalam rekening
“Investasi Saham Perusahaan Anak”) ke dalam bentuk kekayaan (aktiva) yang lain (“Piutang Dividen” atau “Kas”).
Modifikasi Metode Equity
Di mana perusahaan induk mencatat dan mengakui bagian atas laba atau rugi perusahaan anak yang ditampung dalam rekening Investasi Saham dan mengakui pembagian deviden dari perusahaan anak sebagai realisasi dari/pencarian dari sebagian Investasi/Penanaman Modal pada perusahaan anak di sebut dengan metode yang konvensional. Dari segi ekonomis, laba yang didapat oleh perusahaan anak juga harus diakui dan tercermin dalam laporan keuangan perusahaan induk.
Prosedur yang merupakan suatu modifikasi tersebut disebut sebagai Prosedur Penilaian oleh karena pencatatan yang dipakai didasarkan atas penilaian.
Hutang Piutang Antar Perusahaan Afiliasi
Di dalam neraca yang dikonsolidasikan tidak lagi dibenarkan melaporkan hak-hak dari perusahaan yang satu atas perusahaan yang lain yang berafiliasi atau sebaliknya kewajiban-kewajiban dari suatu perusahaan kepada perusahaan lain yang
berafiliasi tersebut.saldo rekening-rekening timbal balik yang timbul dapat berasal dari transaksi-transaksi penjualan, pemberian uang muka/piutang di antara
perusahaan afiliasi, pengumuman/pembagian dividen oleh perusahaan anak dll.
Saldo rekening-rekening timbal balik tersebut, harus dieliminassi dalam neraca konsolidasi.
Masalah Eliminasi terhadap Wesel Tagih dan atau Wesel Bayar yang telah Didiskontokan
Dari sebagai satu kesatuan usaha bagi perusahaan-peusahaan yang berafiliasi, dengan didiskontokannya wesel tersebut berarti timbulnya kewajiban untuk membayar wesel tersebut pada saat jatuh tempo kepada pihak di luar perusahaan afiliasi. Oleh sebab itu proses penyusunan Neraca Konsolidasi mengikuti ketentuan sbb:
1. Menghapuskan rekening-rekening Wesel Bayar pada perusahaan afiliasi 2. Menghapuskan rekening Wesel Tagih Yang Didiskontokan dengan rekening
lawan “Wesel Bayar” yang berarti timbulnya kewajiban pada pihak luar.
Masalah Penyesuaian dan Koreksi sebelum Penyusunan Neraca Konsolidasi
1. Tidak dipercayanya oleh salah satu pihak dari perusahaan-perusahaan yang berafiliasi terhadap informasi keuangan tertentu.
2. Adanya pos-pos yang masih dalam proses, sehingga suatu informasi telah dicatat oleh satu pihak akan tetapi belum dicatat oleh pihak yang lain berhubung dengan faktor waktu.
Sebagai contoh, pada akhir periode perusahaan anak telah mengumumkan adanya pembagian deviden dan dilaporkan di dalam neracanya sebagai “Hutang Deviden”.
Jika neraca perusahaan induk pada akhir periode yang sama tidak melaporkan adanya “Piutang Deviden” atas bagian devidennya pada perusaahaan anak berarti bahawa neraca perusahaan induk tersebut belum lengkap. Dalam hal penyesuaian cukup dilakukan dalanm “Daftar Lajur Penyesuaian Neraca Konsolidasi”. Hal ini disebabkan informasi tersebut pada akhirnya nanti akan dicatat dan dilaporkan pula pada buku-buku perusahaan bersangkutan apabila informasi itu sudah sampai kepadanya.
Masalah Selisih Harga Perolehan dari Nilai Buku Saham
Pada metode ini eliminasi terhadap saldo rekening Investasi Saham-saham
perusahaan anak (dimana jumlahnya selalu berubah-ubah), didasarkan atas posisi terakhir hak-hak para pemegang saham perusahaan anak (yang jumlahnya juga selalu berubah-ubah). Selisih antara hak-hak pemegang saham yang dieliminasi dengan saldo debit rekening “Investasi Saham Perusahaan Anak” merupakan
“Selisih Lebih atau Selisih Kurang Harga Perolehan dari Nilai Buku Saham.
Contoh :
PT SUKA memiliki 80% saham-saham PT JAYA yang dibeli pada tanggal 1 Juli 2008 sebanyak 800 dengan harga @ Rp 20.000,00 = Rp 16.000.000,00. Adapun posisi modal dari masing-masing perusahaan pada tanggal 31 Desember 2007, serta laba(rugi) dan deviden yang dibagilan selama periode tahun buku 2007 dan 2008 adalah sebagai berikut :
Keterangan
PT SUKA (Rp)
PT JAYA (Rp)
Modal Saham, nominal @ Rp 15.000 Laba yang ditahan 31 Des 2007
Pembagian deviden, 30 Des 2008, dibayar 10 Jan 2009
Laba bersih tahun 2008
Pembagian deviden 30 Des 2009, dibayar bulan Jan 2010
Laba bersih tahun 2009
30.000.00 0
5.000.000 1.000.000 3.000.000 1.000.000 2.000.000
15.000.000 2.000.000 –
1.000.000 –
1.500.000
Berikut ini Neraca pada tanggal 31 Desember 2009 dari masing-masing perusahaan
Rekening-rekening Neraca
PT SUKA (Rp)
PT JAYA (Rp)
Aktiva Kas
Piutang Wesel (PT JAYA) Piutang Dagang
Cadangan Kerugiaan Piutang
Pendapatan yang Masih Harus Diterima Uang Muka Pembelian
Persediaan barang Dagangan Mesin
Akumulasi Penyusutan Mesin Investasi saham-saham PT JAYA
650.000 2.000.000 2.500.000 ( 500.000) 50.000 2.000.000 3.000.000 20.000.000 ( 2.500.000) 20.000.000
500.000 –
5.000.000 ( 600.000) –
–
2.500.000 17.000.000 ( 4.000.000) –
Jumlah Aktiva 47.200.000 20.400.000
Hutang & Modal Hutang Wesel1) Hutang Dagang
Biaya Bunga Yang Masih harus Dibayar2) Modal Saham
Laba Yang Ditahan
5.000.000 10.000.000 250.000 30.000.000 1.950.000
2.000.000 2.000.000 50.000 15.000.000 1.350.000
Jumlah Hutang & Modal 47.200.000 20.400.000
Catatan : 1) Hutang Wesel PT JAYA sebesar Rp 2.500.000,00 adalah hutang kepada PT SUKA
2) Biaya Bunga Yang Masih Harus Dibayar PT JAYA sebesar Rp 50.000,00 adalah merupakan bunga atas Hutang Wesel kepada PT SUKA.
Oleh karena pada metode equity perubahan dann perkembangan yang terjadi pada perusahan anak selalu diikuti oleh perusahaan induk, melalui rekening Investasinya dan rekening Laba Yang Ditahan, maka sejak pemilikannya sampai dengan akhir
periode tahun buku 2009, perubahan dalam rekening-rekening tersebut dapat diikhtisarkan sebagai berikut :
Perubahan dalam hak-hak pemegang saham
Investasi PT JAYA (Rp)
Laba Yang Ditahan PT SUKA (Rp)
31 Desember 2007 : Saldo Laba Yang Ditahan 1 Juli 2008 :
Membeli 800 lembar saham PT JAYA @ Rp 20.000
30 Desember 2008 : Pembagian Deviden
–
16.000.000 –
5.000.000 –
(1.000.000)
31 Desember 2008 : Laba tahun 2008 PT JAYA Rp 1.000.000 PT SUKA Rp 3.000.000
16.000.000 400.000
4.000.000 400.000 3.000.000
30 Desember 2009 : Pembagian Deviden
16.400.000 –
7.400.000 (1.000.000)
31 Desember 2009 : Laba bersih tahun 2009 PT JAYA Rp 1.500.000 PT SUKA Rp 2.000.000
16.400.000 1.200.000
6.400.000 1.200.000 2.000.000
Saldo, 31 Desember 2009 17.600.000 9.600.000
PT JAYA
Saldo Laba Yang Ditahan 31 Desember 2007 Rp 2.000.000 Laba tahun 2008 sebesar Rp 1.000.000.
Bagian laba samapi dengan tanggal 1 Juli 2008 (tgl pemilikan saham)
6/12 x Rp 1.000.000 = Rp 500.000 Saldo laba yang ditahan 1 Juli 2008 Rp 1.500.000 Bagian laba selama pemilikan saham
(1 Juli sampai dengan 31 Desember 2008)
6/12 x Rp 1.000.000 = Rp 500.000 Saldo laba yang ditahan, 31 Desember 2008 Rp
1.000.000
Bagian laba yang harus diakui PT SUKA
atas laba usaha PT JAYA = 80% x Rp 500.000 Rp 400.000 Jurnal yang dicatat oleh PT SUKA
Laba Yang Ditahan Rp 400.000
Investasi Saham-saham PT JAYA Rp 400.000 Daftar Lajur Untuk Penyusunan Neraca Konsolidasi Per 31 Desember 2009
Rekening- rekening
Neraca PT SUKA PT JAYA
Eliminasi Nerac
D K D
Aktiva
Kas 650000 500000 11500
Piutang Wesel (PT
Jaya) 2000000 2000000 0
Piutang
Dagang 2500000 5000000 75000
Cadangan Kerugian
Piutang (500000) (600000)
Pendapatan yang masih harus
diterima 50000 50000 0
Uang Muka
Pembelian 2000000 2000000 0
Persediaan barang
Dagangan 3000000 2500000 55000
Mesin 20000000 17000000 37000
Akumulasi Penyusutan
Mesin (2500000)
(4000000 )
Invesatsi Saham- saham PT
JAYA 20000000
Eliminasi 80% Modal Saham
1200000 0
Eliminasi 80% Laba Yang
Ditahan 1080000
SHPDNBS 69200
Jumlah
Aktiva 47200000 20400000
Hutang &
Modal Hutang
Wesel 5000000 2000000 2000000
Hutang
Dagang 10000000 2000000
Biaya Bunga Yang Masih Harus
Dibayar 250000 50000 50000
Uang Muka Dari
2000000 2000