• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci : kecemasan sosial, cognitive behavior therapy (CBT)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kata kunci : kecemasan sosial, cognitive behavior therapy (CBT)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

130 COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY (CBT) UNTUK MENGATASI KECEMASAN

SOSIAL PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENGHADAPI PROSES BIMBINGAN SKRIPSI

Oleh: Syalwa

[email protected]

Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

ABSTRAK

Kecemasan sosial adalah perasaan ketidaknyamanan akan kehadiran orang-orang lain yang selalu disertai oleh perasaan malu yang ditandai kejanggalan atau kekakuan, hambatan dan kecenderungan untuk menghindari interasksi sosial karena pemikiran- pemikiran negatif. Individu yang mengalami kecemasan memiliki pemikiran negatif akan evaluasi orang lain, yang akibatnya menimbulkan kecemasan, sensasi fisik seperti gemetar atau keringat dingin dan perilaku menghindar atau perilaku aman.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kasus tunggal. Desain penelitian ini menggunakan ABA dengan rancangan 6 kali pertemuan. Klien dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang memenuhi kriteria kecemasan sosial. Penelitian yang dilakukan difokuskan pada masalah satu situasi sosial yang dapat menimbulkan kecemasan pada mahasiswa yaitu proses bimbingan skripsi. Proses bimbingan skripsi merupakan salah situasi sosial yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir yaitu skripsi. Metode yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecemasan adalah SUDs (Subjective Unit of Discomfrt scale) yaitu berupa skor tingkat kecemasan yang diberi sebelum terapi dan setelah terapi. Selain itu, kriteria klien dalam penelitian ini juga berdasarkan pada mahasiswa yang mempunyai kecerdasan rata-rata atau diatas rata.

Hasilnya menunjukkan bahwa dengan terapi Kognitif Perilaku tingkat kecemasan menurun pada gangguan kecemasan sosial terutama pada situasi sosial sebelum proses bimbingan skripsi yang dialami oleh kedua klien. Hal ini didukung klien mampu merasionalkan pemikiran negatif yang selama ini menimbulkan kecemasan baginya.

Sensasi tubuh seperti gemetar, keringat dingin, berhasil dihilangkan dengan menerapkan teknik Relaksasi. Relaksasi juga membantu klien lebih nyaman dan rileks ketika melakukan eksposur, sehingga membuatnya mampu mencari alternatif pemikiran positif dan rasional.

Kata kunci : kecemasan sosial, cognitive behavior therapy (CBT)

(2)

131 PENDAHULUAN

Kehidupan global pada abad ke 21 menuntut kualitas sumber daya manusia yang tinggi diharapkan mereka mampu bersaing di dalam kehidupan global.

Kualitas sumber daya manusia sangat penting dan menduduki posisi sentral, baik sebagai sarana maupun tujuan pembangunan itu sendiri.

Kualitas pendidikan terkait dengan kualitas proses dan produk. Kualitas proses dapat dicapai apabila proses belajar dan mengajar berlangsung secara efektif dan peserta didik dapat menghayati dan menjalani proses pembelajaran secara bermakna. Pendidikan dapat diperoleh melalui pendidikan formal, informal dan non formal. Pendidikan informal dapat berlangsung dalam keluarga, pergaulan sehari-hari dalam pekerjaan, masyarakat dan organisasi. Pendidikan formal terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal terdiri atas lembaga khusus, lembaga pelatihan atau pusat kegiatan belajar masyarakat

Dalam kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia, skripsi merupakan salah satu syarat utama kelulusan mahasiswa dari perguruan tinggi dan berhak memperoleh gelar Sarjana Strata 1.

Skripsi merupakan salah satu tugas yang

memiliki nilai ilmiah yang tinggi, karena dalam pengerjaan skripsi seorang mahasiswa dituntut untuk mempertanggung jawabkan hasil belajarnya selama di Perguruan Tinggi.

Kenyataanya banyak masalah yang sedang dihadapi oleh mahasiswa dan tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan lingkungan perkuliahan terutama sehingga ini terkadang dapat membuat stress pada mahasiswa tersebut. Salah satunya yang membuat mahasiswa stres adalah pada saat mengerjakan skripsi. Skripsi sendiri merupakan hasil penelitian terhadap masalah yang ditemukan oleh peneliti sejalan dengan bidang studi yang dipelajari, dengan metodologi dengan cermat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia skripsi adalah karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya (Sri, 2007).

Hanya saja ada beberapa hal yang menjadi kesulitan-kesulitan yang menuntut mahasiswa dapat menghadapinya. Kesulitannya tersebut salah satunya adalah proses selama bimbingan mahasiswa tidak hanya mendapatkan bimbingan dari dosen pembimbinganya namun secara tidak langsung maupun langsung akan mendapatkan motivasi dari dosen

(3)

132 pembimbing, baik dalam hal pujian

ataupun teguran yang lebih banyak diartikan dengan kata “marah”. Hanya saja motivasi yang berupa teguran dimana seharusnya menjadi sebuah dorongan tetapi bagi mahasiswa yang mempunyai rasa kecemasan yang tinggi mempunyai anggapan sesuatu hal yang menakan bagi mahasiwa yang menyebabkan mahasiswa merasa tertekan, cemas, bahkan stres yang mengakibatkan aspek fisik dan psikologis pada mahasiswa tersebut. Hal ini sesuai Berdasarkan hasil wawancara penulis kepada 7 mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi pada tanggal 20 – 24 Januari 2011, penyelesaian skripsi merupakan tugas akhir yang dianggap paling berat karena skripsi sangat berbeda dengan proses penyelesaian mata kuliah biasa di kelas.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa mahasiswa banyak mengalami cemas sehingga stres pada saat menyusun skripsi yang ditandai dengan perasaan tegang, khawatir tidak mampu menyelesaikan, mudah tertekan, dan sering mengalami rasa bersalah terkait dengan skripsi. Mereka juga merasa pusing, tidak siap bila bertemu pembimbing, takut diberi pertanyaan yang tidak mampu mereka jawab, cemas bila melihat teman seangkatan sudah lulus lebih dahulu, ingin marah bila diajak

membicarakan skripsi/bila ditanya tentang kelulusan. Hal tersebut membua sebagian mahasiswa mengalami perubahan yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia pasti pernah merasakan rasa cemas dalam berbagai situasi, yaitu perasaan takut, cemas, atau khawatir.

Pengaruh yang dirasakan oleh jiwa akan berpengaruh terhadap raga, demikian sebaliknya, seseorang yang mengalami sesuatu yang mengganggu jiwanya pasti akan mempengaruhi penampilannya atau prestasi terutama pada waktu-waktu tertentu. Harsono (1988) menyatakan:

“Anxiety adalah perasaan takut, cemas atau khawatir akan terancam keamanan kepribadiannya”. Kecemasan berbeda dengan rasa takut biasa, rasa takut dirasakan jika ancaman berupa sesuatu yang sifatnya objektif, spesifik dan terpusat. Ketakutan lebih banyak didominasi oleh efek negatif, sementara kecemasan disebabkan oleh ancaman yang sifatnya lebih umum dan subyektif. Orang yang merasa sangat menderita ketika berada di sekitar orang lain yaitu orang- orang yang memiliki fobia sosial (Durand, 2006).

Setiap orang dapat dikatakan pernah mengalami kecemasan, tetapi hal itu bukan berarti dapat digolongkan mengalami gangguan kecemasan (anxiety

(4)

133 disorder). Contoh, salah satu rangsang

yang membangkitkan kecemasan adalah suasana saat ujian, karena menurut Djiwandono, timbulnya kecemasan yang paling besar adalah pada saat mahasiswa menghadapi tes atau ujian. Selama bertahun-tahun mahasiswa memberikan reaksi cemas yang hebat terhadap tes.

Biasanya mereka menganggap ujian merupakan mimpi buruk yang sangat menakutkan, jika memikirkan ujian perut akan sakit, mulai gelisah,menggigil, berkeringat dan sering ke kamar kecil, ketika ujian dimulai merasa panik dantidak bisa berkonsentrasi sehingga tidak bisamenyelesaikan ujian ( dalam Ferri dan Novliadi, 2009).

Selain itu, kecemasan yang dialami bukan hanya pada pada situasi sosial atau tampil didepan orang banyak tetapi juga pada situasi antara perorangan karena seseorang yang mengalami kecemasan sosial berfokus pada evaluasi negatif atau pengingatan negatif dari orang lain (Addelmen, 1992).

Kecemasan dalam menghadapi dosen pembimbing ditunjukkan oleh mahasiswa dalam perilaku menghindari bertemu dengan dosen pembimbing dan menunda untuk melakukan bimbingan dengan alasan belum bisa mempertanggung jawabkan ide-idenya di depan dosen pembimbing. Meskipun

mahasiswa telah melakukan bimbingan berulang kali dengan dosen pembimbing tetap saja mengalami kecemasan bahkan ketakutan untuk melakukan bimbingan.

Tanda-tanda kecemasan seseorang yang mengalami fobia sosial dapat mempengaruhi seseorang dalam penampilan, seperti kecemasan, sepanjang ujian biasanya diketahui sebagai dua masalah utama dalam proses ujian (Anderoson & Sauser dalam Burns, 2004) karena beberapa fakta-fakata mengatakan bahwa kecamasan tes dapat menimbulkan kinerja buruk pada saat ujian dan berbading balik dengan harga diri pada siswa ( Hembre dkk dalam Burns, 2004).

Terapi kognitif telah digunakan secara luas untuk mengatasi berbagai gangguan kecemasan. Beberapa hasil studi yang terkontrol menunjukkan keefektifan terapi kognitif untuk menangani berbagai tipe gangguan kecemasan seperti misalnya gangguan panik, agoraphobia, fobia sosial, gangguan kecemasan menyeluruh, dan gangguan obsesif kompulsif (Brett J.

Diakon dan Jonathan S. Abramowitz Mayo Clinic, 2004). Tujuan terapi yang akan dilakukan adalah untuk lebih mengajak subyek untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan pemikiran bukti-bukti yang bertentangan

(5)

134 dengan keyakinan subyek tentang masalah

yang sedang dihadapi. Dalam hal ini cognitive behavior therapy (CBT) mampu menolong seseorang yang mengalami gangguan kecemasan yang dogmatis dalam diri mereka dan secara kuat menguranginya (Oemarjoedi, 2003).

TINJAUAN TEORITIS Kecemasan

Kecemasan Sosial

Butler (1999), salah satu ahli yang menggunakan istilah kecemasan sosial berpendapat bahwa istilah kecemasan sosial (social anxiety) adalah sama dengan istilah fobia sosial (dalam Suryaningrum, 2005). Mengacu penjelasan Butler, peneliti lebih menggunakan istilah kecemasan sosial dalam penelitian ini dikarenakan istilahnya lebih umum/luas.

Artinya, istilah kecemasan sosial dapat mencakup keadaan kecemasan sosial yang berat sekalipun (yang dalam diagnosis klinis sudah tergolong fobia sosial) karena orang yang mengalami fobia sosial sebenarnya adalah orang yang mengalami kecemasan sosial.

Menurut DSM IV (dalam Stein dan Walker, 2001) kecemasan sosial terdiri dari ketakutan yang tertandai dan tetap terhadap satu atau lebih situasi sosial atau performa dimana orang berhadapan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya

atau terlalu diperhatikan orang lain.

kecemasan sosial merupakan ketakutan individual bahwa ia akan bertindak menurut cara (menunjukkan gejala-gejala kecemasan) yang akan memalukan atau membodohkan.

Semua orang yang dianggap mengalami kecemasan sosial menampakkan keengganan terhadap pertemuan sosial yang bisa menyebabkan orang tersebut gelisah pada situasi yang sama dimasa depan (Edellman, 1992).

Edellman (1992) mengemukakan bahwa individu yang mengalami kecemasan sosial secara alami peka terhadap sensasi- sensasi tubuh dan evaluasi –evaluasi dari orang lain, seperti kesadaran diri pribadi dan publik. Kesadaran diri pribadi melalui perhatian terhadap sensasi-sensasi tubuh sedangkan kesadaran diri publik melalui persepsi berlebihan tentang seseorang yang berfokus dari pengamatan orang lain.

Edellman (1992) menjelaskan bahwa individu yang cemas secara sosial lebih cenderung menghasilkan kognisi yang negatif saat menemui keadaan yang menekan, meremehkan tingkat skill sosial mereka dalam situasi sosial dan lebih cenderung mengingat hal-hal (pertemuan- pertemuan) yang negatif.

(6)

135 Komponen dalam kecemasan sosial

Menurut Beatty (dalam Robinson, 1991) komponen kecemasan sosial menjadi tiga aspek :

a. Aspek kognitif

Yaitu adanya suatu gangguan dalam pikiran yang bisa mempengaruhi perasaan/emosi. Misalnya kelihatan tampak bodoh dihadapan orang lain b. Aspek efektif

Yaitu adanya suatu respon emosi dari dalam diri individu yang bisa berupa perasaan depresi. Misanya distress sosial yang merujuk pada suatu kecemderungan untuk merasa cemas dalam suatu situasi

c. Aspek behavioral

Yaitu mengungkap komponen perilaku individu. Misanya social avoidance atau penghindaran sosial yag merujuk pada suatu kecenderungan untuk menghindari interaksi sosial.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan sosial

Edellman (1992) mengemukakan empat faktor kognitif (kesalahan berpikir) dalam proses menghasilkan dan mempertahankan kecemasan sosial, yaitu : a. Evaluasi - diri negatif

Subyek mengalami kecemasan sosial sebagai akibat dari pengevaluasian diri terhadap penampilan mereka sendiri yang negatif. Individu-individu yang

mengalami kecemasan sosial dalam pengetahuan bagaimana cara mengatasi kejadian-kejadian yang memalukan cenderung tidak jelas dalam bereaksi, dan merasa tidak mempunyai perlakuan yang efektif terhadap situasi tersebut. Bagi subyek laki-laki yang mengalami kecemasan sosial yang berat selalu merendahkan aspek positif dari diri mereka sendiri (seperti skill atau kecakapan sosialnya) dan selalu melebihkan atau memunculkan aspek negatif mereka (seperti derajat kecemasan sosial mereka).

b. Pernyataan-diri negatif

Pernyataan diri negatif mempunyai peranan dalam hubungannya terhadap kecemasan sosial. Yaitu bahwa evaluasi diri negatif dapat mempengaruhi fungsi adaptif (penyesuaian diri) yang berakibat dalam kecemasan dan titik pusat dari kecemasan sosial berhubungan untuk memperhatikan tentang penampilan yang kurang, menyatakan hal yang salah serta menerima evaluasi negatif. Pada akhirnya pemikiran seperti itu yang akan menentukan interaksi selanjutnya.

c. Kepercayaan irrasional

Hal yang berhubungan dengan kecemasan sosial adalah eksistensi dari kepercayaan-kepercayaan irrasional. Yaitu sebuah tujuan untuk mempertahankan kepercayaan negatif atau irrasional dari

(7)

136 keadaan yang sesungguhnya dan

anggapan tentang seseorang dan dunia, bahkan dalam bentuk yang berlawanan.

d. Memori selektif

Individu-individu yang mengalami kecemasan sosial lebih waspada terhadap isyarat-isyarat yang berhubungan.

Kecemasan sosial bisa berjalan dalam perilaku yang sedikit berbeda dalam studi- studi yang menunjukkan pengingatan informasi negatif yang meningkat mengenai diri mereka sendiri oleh individu – individu yang mengalami kecemasan sosial dan juga peningkatan pre-okupasi (kebingungan) dengan evaluasi terhadap sesama. Dengan kata lain individu-individu yang mengalami kecemasan sosial lebih banyak menghabiskan waktunya dalam merenungkan apa yang dipikirkan oleh orang lain mengenai mereka.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kecemasan sosial dipengaruhi oleh kesalahan berpikir atau gaya kognitif individu yaitu antara lain evaluasi diri negatif (pengevaluasian terhadap penampilan diri yang negatif), pernyataan diri negatif yang dapat mempengaruhi fungsi adaptif seseorang yang mengakibatkan kecemasan, kepercayaan irrasional dan memori selektif dimana individu yang mengalami kecemasan sosial lebih banyak mengingat atau

merenungkan informasi negatif mengenai apa yang dipikirkan oleh orang lain mengenai mereka.

Ciri-ciri kecemasan sosial

Dalam DSM IV (1994 ), diungkapkan ciri-ciri kecemasan sosial antara lain :

a. Sangat sensitif terhadap kritikan, evaluasi negatif ataupun penolakan b. Kesulitan untuk bersikap asertif

c. Harga dirinya rendah atau memiliki perasaan inferioritas

d. Individu yang memiliki kecemasan sosial sering merasa takut terhadap evaluasi tak langsung dari orang lain.

e. Mereka memiliki skill sosial yang buruk (misalnya, kontak mata yang buruk) atau tanda-tanda yang terselidiki (misalnya, tangan basah dan dingin, gemetaran, suara yang gemetaran).

f. Ketakutan individu terhadap situasi sosial dapat terjadi secara terus menerus ketika individu bergaul dengan orang yang dkenalnya atau ketika individu itu merasa diselidiki oleh orang lain, karena individu takut ia akan bertindak dengan cara menunjukkan gejala kecemasan yang membuatnya malu. Bagi anak-anak ketakutan terhadap situasi sosial ini terjadi ketika berinteraksi dengan teman sebayanya dan bukan hanya

(8)

137 ketika berinteraksi dengan orang

dewasa.

g. Penampakan pada situasi sosial yang ditakutkan dapat menimbulkan kekhawatiran yang mungkin berbentuk Panic Attack. Pada anak-anak kekhawatiran biasanya diungkapkan dengan menangis, marah, takut ataupun bersembunyi dari situasi sosial ketika bertemu dengan orang lain yang tidak dikenalnya.

h. Situasi sosial yang ditakutkan bisa dihindari atau berlangsung terus menerus dengan disertai kekhawatiran atau kesukaran yang intens.

i. Penghindaran, antisipasi kekhawatiran, atau kesukaran dalam situasi sosial yang ditakutkan bisa mengganggu rutinitas seseorang, tugas kerja (akademis), dan kreativitas sosial atau hubungan sosialnya.

j. Ketakutan atau penghindaran bukanlah disebabkan oleh efek psikologis dari suatu zat (misalnya penyalahgunaan obat-obatan dan pengobatan) atau kondisi medis umum dan tidak disebabkan oleh gangguan mental lainnya.

Gejala-Gejala Kecemasan Sosial

Adapun gejala-gejala dari kecemasan sosial menurut Stein dan Walker (2001), yaitu :

a. fisik, seperti jantung yang berdetak keras, denyut jantung yang tak beraturan, gemetaran, mencucurkan keringat, raut muka merah atau pucat, perut mual.

b. Gejala umum, yaitu :

1. Perilaku menghindar diwujudkan ketika seseorang mencoba untuk tidak menghindari atau menghindar dari situasi yang membuatnya cemas.

2. Perilaku jalan keluar

diwujudkan dengan

meninggalkan situasi yang membuat seseorang cemas dan gentar, biasanya dilakukan dengan berpura-pura ada urusan lain atau akan mengerjakan sesuatu yang penting.

Skripsi

Skripsi adalah suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian yang membahas tentang masalah dalam bidang ilmu sesuai dengan jurusan yang sedang ditempuh dengan menggunakan kaidah yang berlaku.

1. Tujuan skripsi

Secara umum, dengan adanya tugas penyusunan skripsi diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada

(9)

138 mahasiswa agar dapat berpikir secara

logis dan ilmiah dalam menguraikan dan membahas suatu permasalahan serta dapat menuangkannya secara sistematis dan terstruktur. Secara khusus, tugas penyusunan skripsi yang diwajibkan kepada mahasiswa memiliki tujuan agar:

a. Mahasiswa mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai dengan bidang ilmu yang ditempuh.

b. Mahasiswa mampu melakukan penelitian mulai dari merumuskan masalah, mengolah data, mengumpulkan data, menganalisis, menarik suatu kesimpulan.

c. Membantu mahasiswa

menyampaikan, menggunakan, mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh menjadi suatu sistem yang terpadu untuk pengembangan ilmu.

2. Bimbingan Skripsi

a. Dalam perannya sebagai mediator, selain mengajar dosen dapat melakukan bimbingan tugas/akhir.

Analisis dalam evaluasi diri berbagai universitas menunjukan bahwa panjangnya masa studi mahasiswa disebabkan masa penyusunan skripsi yang lebih lama dari seharusnya (skripsi berbobot 6 sks seharusnya dapat selesai dalam 6 bulan).

b. Penulisan skripsi yang didasarkan pada penelitian mungkin sangat berguna kalau para dosen menemukan bahwa sebagian besar prasyarat keterampilan tidak terpenuhi mahasiswa untuk hampir semua mata kuliah yang berarti bahwa proses pembelajaran kurang efektif.

3. Fungsi Dosen Pembimbing Skripsi Pembimbing skripsi mempunyai fungsi membantu mahasiswa agar ( Rindang, 2006) :

a. Memahami etika masyarakat ilmiah terutama yang menyangkut sikap ilmiah.

b. Menetapkan masalah

penelitian/kajian c. Menelusuri literatur

d. Menyusun usul penelitian/kajian e. Mampu menerapkan teknik

presentasi yang baik f. Mampu menulis skripsi

g. Mampu melakukan ujian lisan untuk skripsi.

Cognitive Behavior Therapy (CBT) Tujuan terapi cognitive behavior therapy (CBT) adalah untuk mengajak klien untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan

(10)

139 mereka tentang masalah yang dihadapi

(Oemarjoedi, 2003).

Model kecemasan Beck (1976, dalam Blackburn, & Davison, 1990/1994) merupakan model yang menghubungkan faktor emosi dan pikiran dengan gangguan kecemasan. Tujuan dari terapi kognitif adalah untuk (1) mengoreksi pengolahan kesalahan informasi klien, (2) memodifikasi keyakinan disfungsional klien yang menjaga perilaku maladaptif dan emosi, dan (3) menyediakan klien dengan keterampilan dan pengalaman yang menciptakan pemikiran adaptif (Beck, 1979). Terapi kognitif perilaku muncul didasari adanya konsep teori kognitif dan teori perilaku. Dalam teori- teori kognitif perilaku menyakini bahwa pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses rangkaian Stimulus – Kognisi – Respon (SKR), dan diakhiri dengan terwujudnya perilaku (Oemarjoedi, 2003).

Orang dengan fobia sosial perlu untuk mengembangkan cara baru dalam berfikir mengenai interaksi dengan orang lain. Mengombinasikan teknik seperti restrukturisasi kognitif dengan penggunaan teknik in vivo dapat memberikan hasil yang mengesankan (Halgin dan Susan, 2010). maka akan diuraikan lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang :

1. Terapi kognitif (Restrukturisasi kognitif)

Apa yang diistilahkan oleh Butler (1999) yaitu mengubah pola-pola pemikiran adalah sama halnya dengan restrukturisasi kognitf karena prinsipnya adalah untuk menolong klien bagaimana mengenali dan mengkaji ulang pola-pola pemikiran yang menimbulkan kecemasan (dalam Suryaningrum, 2005). Penerapan restrukturisasi kognitif untuk mengatasi kecemasan pada prinsipnya meliputi: (1) Menemukan/mengidentifikasi pemikiran negatif/irasional yang menimbulkan kecemasan, (2) Mengajari klien hubungan antara pemikiran–emosi-tingkah laku, (3) Mengajari klien untuk mencari alternatif- alternatif pemikiran yang lebih positif atau rasional (Antony & Swinson, 2000;

Butler, 1999, Beck, 1979, Cottone, 1992;

Schuyler; dalam Emery & Oltamnns, 2000).

2. Terapi perilaku eksposur

Konsep-konsep belajar seperti pengkondisian (conditioning), penguatan (reinforcement), dan pemunahan (extinction) telah meningkat penggunaannya untuk mempelajari gangguan-gangguan kecemasan. Terapi tingkah laku merupakan terapi yang sangat bernilai dari aplikasi konsep- konsep tersebut (Sarason & Sarason, 1999). Situational role play memberi

(11)

140 kesempatan subyek berlatih exposure

tanpa harus berhadapan langsung dengan risiko-risiko sosial yang adakalanya muncul dalam situasi sosial yang sesungguhnya Situational role play juga bertujuan untuk menumbuhkan perasaan nyaman dan meningkatkan ketrampilan subyek sebelum berhubungan dengan situasi-situasi sosial yang sesungguhnya.

3. Terapi prilaku relaksasi

Relaksasi adalah salah satu teknik dalam terapi perilaku yang dikembangkan oleh Jacobson dan Wolpe untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan (Goldfried dan Davidson, 1976). Teknik ini dapat digunakan oleh pasien tanpa bantuan terapis dan mereka dapat menggunakannya untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan yang dialami sehari-hari dirumah (dalam Walker, 1981).

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Istilah penelitian eksperimen adalah suatu metode penelitian yang dikembangkan untuk mempelajari fenomena dalam kerangka hubungan sebab akibat, yang dilakukan dengan memberikan perlakuan oleh peneliti kepada klien penelitian untuk kemudian dipelajari dan diobservasi efek

perlakukan tersebut dengan menggunakan variabel yang tidak dikehendaki (Latipun, 2002). Dalam penelitian ini menggunakan desain eksperimen kasus tunggal (single case eksperimen design) yang merupakan sebuah design penelitian untuk mengevaluasi efek suatu perlakuan dengan kasus tunggal (Kazdin dalam Latipun, 2002). Tujuan dalam eksperimen kasus tunggal adalah untuk mengetahui efek suatu perlakuan dengan jalan membandingkan kondisi atau performasi klien dari waktu ke waktu, diaman klien diamati perlakuan secara bergantian.

Penelitian ini menggunakan kategori A-B-A yang pada dasarnya melibatkan fase base line (A) dan perlakuan (B). Adapun variasi desian yang digunakan adalah desain A-B-A (Latipun, 2002) yang dapat digambarkan dengan skema dibawah ini

Tabel 1 Skema penelitian O

Fase A

X Fase B

O Fase A Keterangan :

Fase A : Merupakan fase baseline (keadaan awal sebelum perlakuan)

Fase B : Merupakan pemberian perlakuan terapi Relaksasi

Fase A : Merupakan fase setelah permberian perlakuan

(12)

141 Klien Penelitian

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini nadalah sampel non random (Non Probalitiy Sampling) yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan- pertimbangan tertentu (Poerwanti, 1998).

Bersadarkan rancangan eksperimen kasus tunggal ini maka klien penelitian ini berdasarkan hasil assessment awal yang dilakukan didapatkan hasil bahwa klien mengalami kecemasan sosial pada saat proses bimbingan skripsi dan sesuai simptom- simptom yang muncul pada klien sesuai dengan kriteria DSM IV untuk kecemasan sosial. Selain itu, dalam penelitian lebih dispesifikan pada klien yang mempunyai intelegensi rata-rata atau diatas rata-rata dan mempunyai keinginan untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik dan menyelesai skripsi dengan baik. Maka dalam penelitian menggunakan 2 klien, pertama “PT” yang mempunyai intelegensi diatas rata-rata (IQ=119) dan JN dengan kecerdasan rata-rata (IQ=99) dimana kedua klien mengalami kecemasan sosial berdasarkan dari DSM IV.

Dalam asesmen yang diberikan terdapat 4 tahap asesmen :

1. Asesmen pra terapi

Tujuannya asesmen pra terapi ini adalah untuk mengumpulkan data-data tentang klien, keluhan, riwayat keluhan serta sebagai sumber data untuk penegakan diagnosis.

2. Asesmen proses terapi

Tujuan asesmen ini adalah untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dan hambatan apa saja yang dialami selama klien diberi terapi.

3. Asesmen pasca terapi

Tujuan asesmen ini adalah untuk melihat bagaimana kondisi klien setelah mendapatkan terapi. Alat yang digunakan pada paska terapi ini adala guide interview (Terlampir)

4. Asesmen follow up

Tujuan asesmen ini adalah untuk melihat bagaimana kondisi dan kemajuan klien setelah tidak lagi mengikuti proses terapi dan tidak lagi berada dalam pengawasan peneliti. Pada proses ini metode asesmen yang dilakukan oleh peneliti adalah wawancara.

Rancangan intervensi

Cognitive behavioral therapy (CBT) yang diberikan pada klien bertujuan untuk menurunkan tingkat kecemasan, mengubah pemikiran dan perilaku negatif. Berikut teknik cognitive behavioral therapy (CBT) yang digunakan dalam penelitian ini.

(13)

142 1. Terapi Perilaku (Relaksasi)

Tujuannya untuk mengurangi ketegangan & kecemasan dg cara melemaskan otot-otot badan. Cara : klien diminta untuk menegangkan otot dg ketegangan tertentu, kemudian mengendurkannya. Sebelum dikendurkan, penting utk merasakan ketegangan yg ada shg klien dpt membedakan otot tegang &

otot lemas. Disisi lain tujuannya diharapkan dapat membantu klien untuk dapat rileks saat berada pada situasi yang mencemaskan serta dapat sebagai keterampilan mengatasi permasalahan dan guna membantu klien untuk dapat berpikir positif dan rasional sehingga diharapkan dapat mengatasi kecemasannya pada saat situasi yang membuat klien takut atau cemas.

2. Terapi Kognitif (Restrukrisasi kognitif)

Restrukturisasi kognitif adalah teknik yang memfokuskan pada pemikiran yang negatif dan tidak realistis dari klien yang mengarahkannya pada tingkah laku yang meladaptif. Peneliti membantu klien untuk melihat kembali keyakinan- keyakinan yang keliru dan membantu mengembangkan cara-cara yang lebih rasional untuk memandang kehidupannya kearah yang lebih baik.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan klien yang mengalami gangguan kecemasasn sosial terutama pada saat sebelum proses bimbingan skripsi dapat diatasi dengan menggunakan terapi Cognitive behavior therapy (CBT).

Kecemasan sosial pada kedua klien ditemukan berdasarkan dari hasil asesmen yang telah dilakukan yaitu melalui interview, observasi, tes kecerdasan, kepribadian. Dimana kedua klien mengalami kecemasan seperti tidak percaya diri, takut dikritik orang, berpikir bahwa klien akan menunjukan prilaku negatif, dan menghindari pada situasi- situasi yang mengharuskan klien berinteraksi perorang atau dengan orang banyak. Kecemasan sosial sebagai bentuk ketakutan yang intens dan irasional akan keberadaan orang lain (Davison, Neale &

Kring, 2006; Nevid, 2005), dianggapsangat merugikan karena dalam kondisi yang parah dapat menyebabkan terjadinya bunuh diri, dibandingkan mereka yang mengalami gangguan kecemasan lain (Schneier dalam Davison, Neale & Kring, 2006).

Salah satu teknik perilaku yang paling umum digunakan untuk mengatasi kecemasan sosial adalah adalah teknik cognitive behavior therapy (CBT).

Dimana menurut Beck (dalam

(14)

143 Oemardjoedi, 2003) didasarkan kepada

pemikiran logis bahwa cara seseorang merasa dan bertindak sanagt dipengaruhi oleh cara ia memandang dan memahami pengalaman, Beck menjelaskan tujuan cognitive behavior therapy (CBT) adalan untuk merubah cara pandang klien melalui pemikiran otomatis dan memberikan ide untuk menstrukturisasi pikiran negatif san system kepercayaan yang kaku.

Penelitian ini peneliti melakukan hanya dalam 6 kali pertemuan dengan mempertimbangkan bahwa secara kecerdasan dan faktor kepribadian yang dimiliki. Berdasarkan dari peneltian yang telah dilakukan dapat membuktikan bahwa kecerdasan dan dasar kepribadian yang dimiliki dapat membantu klien mengikuti terapi ini terutama pada saat terapi kognitif dilakukan yaitu terapi restrukturisasi kognitif. Dimana munurut Alferd Binet bersama Theodore Simon (Azwar, 2006), seorang tokoh utama perintis pengukuran intelegensi mendifiniskan intelegensi sebagai terdiri atas tiga komponen yaitu (1) kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan, (2) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan, dan (3) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri.

Salah satu teknik perilaku yang paling umum digunakan untuk mengatasi kecemasan sosial adalah adalah teknik cognitive behavior therapy (CBT).

Dimana menurut Beck (dalam Oemardjoedi, 2003) didasarkan kepada pemikiran logis bahwa cara seseorang merasa dan bertindak sanagt dipengaruhi oleh cara ia memandang dan memahami pengalaman, Beck menjelaskan tujuan cognitive behavior therapy (CBT) adalan untuk merubah cara pandang klien melalui pemikiran otomatis dan memberikan ide untuk menstrukturisasi pikiran negatif san system kepercayaan yang kaku. Eng dkk juga menyatakan kognitif-perilaku perawatan yang menghasilkan perbaikan handal dan kuat pada banyak klien dengan gangguan kecemasan sosial, Studi kognitif-perilaku perawatan telah secara konsisten menunjukkan kemanjuran intervensi dalam memodifikasi kedua aspek perilaku dan kognitif kecemasan sosial (2001).

Selaras dengan pernyataan teori dan teknik restrukturisasi kognitif yang talah diberikan, menurut Martin dan Pear (2003) dalam bukunya menyatakan bahwa restrukturisasi kognitif adalah suatu metode terapi kognitif untuk membantu klien mengidentifikasikan pemikiran- pemikiran atau keyakinan-keyakinan yang negatif dan menggantikannya dengan

(15)

144 pemikiran-pemikiran yang positif.

Pendekatan terapi mereka adalah untuk menolong orang-orang mengidentifikasi ide-ide atau keyakinan-keyakinan yang irasional tersebut dan menggantinya dengan pernyataan-pernyataan yang lebih realistis. Berdasarkan dari pemahaman intelegensi dan pengertian psikologi kogintif tersebut hal ini terbukti ada perbedaan dalam terapi kognitif pertemuan kedua yang difokuskan terapi kognitif yaitu restrukturisasi kognitif.

Hanya saja perbedaan intelegensi yang dimiliki tersebut adalah pada PT yang mempunyai intelegensi diatas rata-rata (IQ=119) lebih cepat dalam memahami pada saat menjelaskan hubungan kognitif, emosi dan prilaku. Selain itu, pada saat terapis mengarahkan atau mengajak klien mengarahkan pemikiran positif klien lebih baik dan cepat menemukan pemikiran positif dan kesalahan-kesalahan terhadap pemikiran negatif yang dialami selama ini.

Kecerdasan rata-rata yang dimiliki oleh PT juga membuat klien mudah untuk mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh peneliti ini juga didukung PTn secara keribadian kemampun dalam memori (mengingat) atau dan kemampuan berkosntrasi yang baik hanya saja klien adalah seseorang yang terlalu khawatir sehingga membuat klien sulit untuk

berkonsentrasi dalam menerima instruksi secara langsung.

Namun, pada JN dengan kecerdasan rata-rata (IQ=99) pada saat terapi restrukturisasi kognitif dilakukan pada JN kurang cepat memahami hubungan kognitif-emosi-prilaku. Selama terapi kognitif berlangsung klien selalu memberikan jawaban dengan waktu yang lama setelah pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Disisi lain, JN juga lebih lambat memuncul ide positif pada saat peneliti sudah mengarahkan perubahan pemikiran kearah positif. Pemikiran- pemikiran positif pada JN muncul setelah dibantu peneliti dengan memberikan gambaran pada obyek lain. Hal ini juga didukung secara kepribadian klien adalah seseorang yang mempunyai pola pikir yang praktis dan realistis, dan koordinasi yang baik. Namun, kemampuan dasar yang dimiliki klien ini terhalang atau terhambat dari diri klien yang kurang dapat konsentrasi dengan baik, tidak dapat memfokuskan perhatian sehingga membuat klien menghambat berpikir efisien dan begitu juga dalam memadang permasalahn yang dihadapi sehingga membuat klien juga tidak percaya diri dalam menyelesaikan masalah sehingga dalam terapi kognitif terapis lebih banyak aktif dari pada klien.

(16)

145 Selanjutnya dalam cognitive

behavior therapy (CBT) yang telah dilakukan didukung dengan pemberian terapi prilaku. Terapi prilaku yang telah diberikan juga mendukung keberhasilan dalam mengatasi kecemasan sosial terutama terapi prilaku relaksasi dan eksposur. Penggunaan teknik relaksasi untuk menangani kecemasan sosial didasarkan pada ide bahwa klien perlu memiliki meto decoping dalam manifestasi fisik dari kecemasan (Feeney, 2004). Hal ini sesuai dampak positif yang dialami oleh kedua klien, dimana pada saat klien telah dilatih untuk relaksasi dan dilakukan sebelum restrukturisasi kognitif dan eksposur dapat membatu untuk meredakan kecemasan yang dimiliki.

Relaksasi yang telah dilakukan klien membuat klien untuk lebih tenang pada situasi-situasi yang membuat klien cemas sebelumnya. Relaksasi dapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan resiprok, sehingga timbul counter conditioning dan penghilangan (Bellack &

Hersen, dalam Utami, 2002).

Setelah keberhasilan teknik restrukturisasi kognitif dan relaksasi yang diberikan terapi Role play memberi kesempatan klien berlatih exposure tanpa harus berhadapan langsung dengan risiko- risiko sosial yang adakalanya muncul dalam situasi sosial yang sesungguhnya

role play juga bertujuan untuk menumbuhkan perasaan nyaman dan meningkatkan ketrampilan subyek sebelum berhubungan dengan situasi- situasi sosial yang sesungguhnya (Suryaningrum, 2005).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Kesimpulannya adalah menunjuk- kan bahwa cognitive behaviuor therapy (CBT) (dengan teknik relaksasi, restrukturisasi kognitif, role play, dan exposure) dapat mengatasi kecemasan sosial pada mahasiswa yang sedang menghadapi proses bimbingan skripsi. Hal ini terlihat dari menurunnya tingkat kecemasan, berkurang/hilangnya pemikiran dan tingkah laku negative klien hingga masa tindak lanjut. Hal ini terlihat adanya perubahan yang terjadi setelah mengikuti terapi yaitu adanya penurunan frekuensi tingkat kecemasan, menjadi terbiasa berpikir positif, lebih berani dan lebih percaya diri. Hal ini terlihat pada penurunan tingkat kecemasan pada kedua klien, klien PT yang awalnya tingkat kecemasan 99 termasuk kategori tinggi turun hingga 49 termasuk kategori menengah dan JN tingkat kecemasan 90 termasuk kategori tinggi turun hingga 30 termasuk kategori rendah.

(17)

146 Saran

Bagi peneliti selanjutnya

a) Tampaknya penelitian dapat pula diarahkan dengan membandingkan keefektifan terapi ini pada mahasiswa yang tinggal bersama orangtua dengan mahasiswa yang tidak tinggal bersama orangtua. Dalam hal, ini untuk melihat dampak dampak dukungan yang atau dampak yang tidak mendapatkan dukungan dari orangtua atau keluarga.

b) Klien dalam penelitian ini adalah perempuan. Mungkin dapat diterapkan dengan melibatkan Klien berjenis kelamin laki-laki, apakah mereka akan menunjukkan penilaian atau respon yang berbeda terhadap terapi ini.

c) Disarankan untuk terus memonitor perkembangan klien selama proses terapi diberikan seperti : pada saat setalah memberikan restrukturisasi kognitif, relaksasi atau role play agar pada eksposur yang diberikan lebih efektif untuk klien.

Bagi terapis atau praktisi di bidang psikologi

a) Terapi kognitif-tingkah laku ini dapat direkomendasikan untuk mengatasi kasus-kasus kecemasan social atau kecemasan sosial yang dispesifikan seperti interaksi yang dilakukan hanya orang-perorangan (proses bimbingan skripsi).

b) Mengingat pada dasarnya cukup banyak mahasiswa yang mengalami kecemasan sosial, mungkin bisa dikembangkan menjadi suatu bentuk pelatihan atau terapi kelompok. Untuk kasus-kasus kecemasan sosial yang masih ringan dalam bentuk pelatihan.

DAFTAR PUSTAKA

Beck, A. T dan Weishaer, M. E. (1989).

Cognitive therapy. Dalam R. J Corsini dan D. Wedding (eds).

Curent psychoterapier. Illnois : F.

E Peacock Publishers, Inc

Brett. Diakon dan Jonathan S.

Abramowitz. Cognitiveand behavioral treatmentsfor anxiety.

Mayo Clinic

Burns. D.J. (2004). Anxiety at the time or the final exam: relationship eith expextation and perfomance.

Journal or education for business Davison, G.C., Neale, J.M. (1994).

Abnormal Psychology. New York : John Wiley & Son Inc.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Fourth Edition (2000).Washington, DC : American Psychiatric Association.

Duran, V. M., & Barlow, D. H. (2006).

Psikologi Abnormal. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Eddellman, R.J (1992). Anxiety (theory research and invententon in Clinical an health psycgologis).

By John Wiley and Sons ltd.

England

(18)

147 Harsono. (1988). Coaching dan Aspek

Aspek Psikologis dalam Coaching.

Jakarta : CV. Tambak Kusuma Kazdin, A. E. (1998). Metodological

Issues & Strategies in Clinical Research.Washington DC : American Psychological Association.

Martin, G., & Pear, J. (2003). Behavior Modification What It Is and How To Do It.Seventh Edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Oemarjoedi, A. K. (2003). Pendekatan cognitive behavior dalam psikoterapi. Jakarta : Penerbit Creative Media

Stein, M. B dan Walker, J. R. (2002).

Trumph over Shyness (conquering shynees and social anxiety).

United States of America. Mc Grace hill

Suryaningrum, C. (2005). Terapi kognitif- tingkah laku untuk mengatasi kecemasan sosial. Tesis. Jakarta : Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perhitungan diperoleh balok dimensi 50/70 dengan kebutuhan tulangan tumpuan, lapangan dan geser yang dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.. Penulangan Lentur

Bagian Pembelian Toko Daftar pesanan Laporan produksi Laporan pemasukan Nota pelunasan Nota pesanan Daftar pesanan Input data detail pesanan D a ta b a s e Cetak nota ,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan karyawan di Anggrek Shopping Hotel Bandung berada pada kategori baik, kinerja karyawan Anggrek Shopping Hotel Bandung berada

Dengan adanya masalah tersebut maka akan dibuat sistem yang dapat dapat memudahkan penyampaian semua informasi produk terbaru kepada customer secara cepat, mempermudah

Pada Kecepatan > 200 km/jam, ketiga gaya yang terjadi pada salah satu sisi roda sama-sama semuanya bernilai negatif dan hal ini menunjukkan kendaraan tersebut tidak stabil

Peptida-peptida bergugus pelindung penyusun epitop M2e(2-16)-K-P25; SLLTEVET (F1), IRNEWGK (F2), dan ENCTKAEL (F3); telah berhasil dibuat dengan sintesis peptida fase padat

Diizinkan bentuk Lakes atau garam dari bahan pewarna ini selama bahan tersebut tidak termasuk dalam daftar bahan yang dilarang pada

Hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan metode mind mapping dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa mengalami