• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

41 BAB III

METODE PENELITIAN

Pada BAB III ini akan dijelaskan mengenai metode penelitian yang meliputi jenis, desain dan lokasi peneliatian, variabel penelitian, waktu penelitian, populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel, teknik dan instrumen pengumpulan data, uji reliabilitas, validitas, dan butir soal, prosedur pemberian perlakuan, teknik analisis data, dan hipotesis penelitian. Secara lebih rinci akan dijelaskan seperti berikut.

3.1 Jenis, Desain dan Lokasi Penelitian 3.1.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi eksperimental research). Eksperimen semu merupakan pengembangan dari true experimental research yang sulit untuk dilaksanakan. Desain penelitian eksperimen semu memiliki kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengkontrol variable luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. (Karunia Eka Lestari dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara, 2015:136).

3.1.2 Desain Penelitian

Bentuk desain yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan desain Nonequivalent Control Group Design. Pada desain penelitian ini kelompok eksperimen maupun kelompok control tidak dipilih secara random (Sugiyono, 2011:116). Dalam penelitian ini kelompok kelas eksperimen (experiment group) dan kelas kontrol (control group) mendapat pelajaran yang sama yaitu “Bangun Ruang Sederhana dan Kesimetrian Bangun Datar” namun menggunakan penerapan model yang berbeda, kelompok satu diajarkan dengan menggunakan model Jigsaw dan kelompok dua dengan menggunakan model STAD ( Student Teams Achivement Division) . Model Jigsaw dan model STAD akan diteliti perbedaannya dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Desain eksperimen dalam penelitian ini adalah :

(2)

Tabel 3.1

Desain Penelitian Nonequivalent Control Group Design

Grup Pretest Variable bebas Posttest

Kelompok Eksperimen O1 X1 O2

Kelompok kontrol O3 X2 O4

Terdapat empat data dalam penelitian ini, yaitu pretest kelompok eksperimen (𝑂1), posttest kelompok eksperimen(𝑂2), pretest kelompok kontrol (𝑂3), dan posttest kelompok kontrol (𝑂4). Desain penelitian eksperimen semu Nonequivalent Control Group Design di atas dapat diperjelas melalui keterangan berikut:

X₁ : Perlakuan 1 (Pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw)

X₂ : Perlakuan 2 (Pembelajaran menggunakan model Student Teams Achievement Divisions (STAD))

𝑂1 : Hasil pretest kelompok eksperimen 𝑂2 : Hasil posttest kelompok eksperimen 𝑂3 : Hasil pretest kelompok kontrol 𝑂4 : Hasil posttest kelompok kontrol

3.1.3 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Gugus Ronggo Jati yang terletak di wilayah Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Tidak semua SD di Gugus Ronggo Jati dijadikan sebagai objek penelitian, namun hanya mengambil beberapa SD yang sudah mewakili Gugus Ronggo Jati. SD tersebut terdiri atas SD Negeri yaitu SD Negeri 01 Kranggan sebagai SD inti kelas IVA dan kelas IVB.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-April 2016 pada semester II Tahun Ajaran 2014/2015.

3.2 Variabel Penelitian

(3)

Menurut Slameto (2015:195) “variabel penelitian didefinisikan sebagai faktor yang apabila diukur memberikan nilai yang bervariasi”. Sedangkan menurut Sugiyono (2007:02) menyatakan bahwa Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh suatu informasi yang kemudian ditarik menjadi sebuah kesimpulan.

Variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini terdapat beberapa jenis yaitu : a. Variabel independen (bebas) merupakan variabel yang menjadi penyebab

timbulnya variabel lain Sugiyono (2009:61); Slamto (2015:198). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan model Jigsaw dan STAD.

b. Variabel kovariat disebut juga variabel bebas kedua yaitu variabel yang dipilih, diukur, diamati, dan dimanipulasi oleh peneliti karena diduga mempengaruhi hubungan natara variabel bebas dengan variabel terikat Slameto (2015:199).

Variabel kovariat dalam penelitian ini ialah pre test.

c. Variabel dependen (terikat) merupakan variabel yang timbul sebagai akibat pengaruh dari variabel bebas Slameto (2015:198). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependennya ialah hasil belajar siswa kelas 4 pada mata pelajaran Matematika dengan materi “Bangun Ruang Sederhana dan Kesimetrian Bangun Datar” di gugus Ronggo Jati yaitu SD Negeri 01 Kranggan kelas IVA dan kelas IVB. Definisi operasional pada penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Model pembelajaran Jigsaw dan STAD

Model pembelajaran jigsaw dan STAD merupakan model pembelajaran kooperatif yang sama-sama memiliki unsur belajar dalam kelompok, serta pemberian penghargaan baik secara kelompok atau individu untuk memotivasi belajar siswa.

2. Hasil belajar

Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa setelah siswa melakukan kegiatan belajar. Ketercapaian hasil belajar dapat dilihat dari ketuntasan belajar siswa.

(4)

3. Pretest

Pretes merupakan tes pengetahuan yang beisi tentang soal-soal pada materi yang akan dipelajari oleh siswa. Pretes yang diberikan kepada siswa sebelum kegiatan belajar. Pretes digunakan sebagai sarana untuk menyaring variabel- variabel yang tidak dapat dikendalikan oleh peneliti.

3.3 Waktu Penelitian

Kegiatan penelitian dilakukan pada bulan maret 2016 dan dilakukan secara bertahap. Adapun tahapan-tahapannya sebagai berikut :

a. Tahap persiapan

Melakukan survey dan permohonan izin dan permohonan izin kepada sekolah yang direncanakan sebagai tempat melakukan penelitian.

b. Tahap pelaksanaaan

Tahap pelaksanaan meliputi kegiatan penelitian yang dilakukan di sekolah untuk mengujikan model pembelajaran yang meliputi uji instrumen dan uji pengambilan data.

c. Tahap penyusunan

Tahap penyusunan meliputi pengolahan data serta penyusunan laporan.

3.4 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

Menurut Sugiyono (2007:61), mengemukakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek maupun obyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan disimpulkan.

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Gugus Ronggo Jati Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung dengan jumlah siswakelas IV 219 anak yang terdiri atas 7 SD dengan rincian sebagai berikut.

Tabel 3.2 Populasi Penelitian

(5)

No Nama Sekolah Status Jumlah Siswa Kelas 4

1. SDN 01 Kranggan SD Inti 52 siswa

2. SDN 02 Kranggan SD Imbas 25 siswa

3. SDN 01 Sanggrahan SD Imbas 25 siswa

4. SDN 02 Sanggrahan SD Imbas 27 siswa

5. SDN 01 Kramat SD Imbas 28 siswa

6. SDN 02 Kramat SD Imbas 26 siswa

7. SD IT Kartika 35 siswa

Jumlah 218 siswa

Berbeda dengan populasi, sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2007:62). Sampel dalam penelitian ini adalah SDN 01 Kranggan sebagai SD inti dengan jumlah siswa 52 anak, yang terbagi menjadi 2 kelas, kelas IVA berjumlah 27 anak (eksperimen 1) dan kelas IVB berjumlah 25 anak (ekperimen 2). Sedangkan SD yang mewakili SD imbas yaitu SDN 01 Sanggrahan dengan jumlah siswa sebanyak 25 anak (eksperimen 1) dan SDN 02 Sanggrahan dengan jumlah siswa 27 anak (eksperimen 2). Secara ringkas dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 3.3

Daftar Sampel Penelitian

No Nama Sekolah Status Kelas Jumlah Siswa

Kelompok 1. SD Negeri 01 Kranggan SD Inti IVA

IVB

27 25

Eksperimen Kontrol Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini Nonprobability Sampling dengan jenis Sampling Jenuh. Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsure atau atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2007:66). Sampling Jenuh merupakan bagian deri teknik Nonprobability Sampling yang menggunakan seluruh anggota populasi sebagai sampel. Jenis sampel ini memiliki generalisasi kesalahan yang sangat kecil (Sugiyono, 2007:68).

(6)

3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 3.5.1 Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah hasil belajar matematika, siswa kelas IV. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik tes. Tes merupakan alat ukur pengumpulan data yang mendorong setiap individu siswa untuk memberikan penampilan secara maksimal.bentuk tes yang digunakan adalah tes pilihan ganda pada pretest dan posttest.

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari lembar observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Students Teams Achievement Devision (STAD) dan lembar soal pretest-posttest yang berjenis pilihan ganda. Observasi dilakukan oleh guru kelas IV (observer) di masing-masing SD untuk mengetahui tingkat ketercapaian guru dan siswa dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Students Teams Achievement Devision (STAD). Berikut dipaparkan kisi-kisi lembar observasi aktivitas guru dan siswa dalam menerapkan model Jigsaw dan Students Teams Achievement Devision (STAD).

Instrument pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar soal tes pilihan ganda pada pretest dan posttest berupa tes pilihan ganda.

Sebelum instrumen digunakan pada pretest dan posttest, maka perlu dilakukan uji kelayakan. Tahapan yang dilakukan oleh peneliti sehingga menghasilkan instrument yang siap digunakan untuk pengumpulan data yaitu : 1) penyusunan kisi-kisi lembar

(7)

observasi guru dan siswa 2) penyusunan kisi-kisi soal, 3) uji coba instrument soal, 4) uji validitas, dan 5) uji reliabilitas.

a. Kisi-kisi Instrumen Lembar Observasi Aktivitas Guru dan Siswa Tabel 3.4

Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru dan Siswa dalam Menerapkan Model Pembelajaran Jigsaw

No Aspek yang diamati (Kegiatan Guru)

Aspek yang diamati (Kegiatan Siswa) Pertemuan ke-1

1. Mengawali kegiatan pembelajaran dengan berdoa, salam, mengecek kehadiran siswa dan menyiapkan fisik siswa.

Siswa mengawali kegiatan berdoa, menjawab salam, dan menyiapkan fisik.

2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang akan dicapai.

Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang akan dicapai.

3. Guru memberikan soal pretest kepada siswa

Siswa mengerjakan soal pretest yang diberikan dari guru

4. Guru memberikan pertanyaan esensial untuk mengeksplor pengetahuan siswa

Siswa menanggapi pertanyaan esensial dari guru untuk mengeksplorasi pengetahuan yang telah dimiliki

5. Guru menentukan satu orang siswa dari setiap kelompok sebagai ketua kelompok. Siswa yang ditunjuk sebagai ketua merupakan siswa yang paling unggul/matang di dalam kelas tersebut.

Siswa yang ditunjuk sebagai ketua kelompok duduk ke kursi masing- masing kelompok yang sudah disediakan.

5. Guru mengorganisir siswa kedalam kelompok-kelompok (setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang)

Dengan bantuan guru siswa membentuk kelompok, setiap kelompok beranggotakan 5-6 orang

6. Guru membagikan satu set materi

“Bangun ruang sederhana dan kesimetrian bangun datar” yang telah dibagi setiap sub-sub topic terhadap masing-masing kelompok.

Dalam satu kelompok, siswa menerima satu set materi “Bangun ruang sederhana dan kesimetrian bangun datar” yang telah dibagi setiap sub-sub topic terhadap masing-masing kelompok.

(8)

7. Guru membimbing siswa dalam pembagian sub-sub topik kepada masing-masing anggota kelompok.

Masing-masing siswa mendapatkan sub-sub topik yang akan dipelajari.

8. Guru meminta siswa yang mendapatkan topik sama dengan siswa kelompok lain, bergabung dalam satu kelompok baru yang disebut dengan kelompok ahli.

Siswa bergabung dengan siswa kelompok lain yang mendapatkan topik yang sama dan membentuk satu kelompok baru yang disebut dengan kelompok ahli

9. Guru mengajak siswa untuk melakukan diskusi guna membahas sub topik yang diterimanya secara mendalam.

Siswa melakukan diskusi membahas sub topik yang diterima secara mendalam.

10. Guru memberikan bimbingan kepada siswa ketika berdiskusi

Siswa menerima bimbingan dari guru Pertemuan ke-2

1. Guru meminta siswa kembali ke kelompok asal

Siswa kembali ke kelompok asal 2. Guru memberikan bimbingan kepada

siswa berkumpul ke kelompok asal untuk bertukar informasi dari masing- masing tim ahli

Siswa berkumpul ke kelompok asal untuk bertukar informasi dari masing- masing tim ahli

3. Guru memerintahkan ketua kelompok untuk menjelaskan sub topik yang menjadi tanggung jawabnya apabila terdapat siswa yang mengalami kesulitan terhadap sub topik tersebut.

Siswa melakukan diskusi terhadap kelompok asal dan ketua kelompok bertanggung jawab menjelaskan sub topik yang diterimanya apabila terdapat siswa yang mengalami kesulitan terhadap sub topik tersebut.

4. Guru memberikan bimbingan kepada siswa saat diskusi berlangsung.

Siswa menerima bimbingan dari guru.

5. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang mempunyai prestasi tertinggi

Kelompok yang berprestasi mendapatkan penghargaan dari guru 6. Guru memberikan soal evaluasi

(posttest)

Siswa mengerjakan soal (postest) 7. Guru berkeliling mengawasi siswa

mengerjakan soal evaluasi

Siswa mengerjakan soal evaluasi (posttest) secara individu.

8. Guru mengoreksi pekerjaan bersama siswa

Siswa mengoreksi pekerjaan bersama guru

9. Guru meluruskan pemahaman siswa Siswa memperhatikan guru ketika meluruskan kesalahpahaman

10. Guru membantu siswa membuat kesimpulan

Siswa bersama guru membuat kesimpulan

(9)

11. Guru menutup pertemuan dengan doa dan memberikan salam penutup.

Siswa berdoa dan mengucapkan salam.

Tabel 3.5

Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru dan Siswa dalam Menerapkan Model Pembelajaran Students Teams Achievement Devision (STAD) No Aspek yang diamati

(Kegiatan Guru)

Aspek yang diamati (Kegiatan Siswa) Pertemuan ke-1

1. Mengawali kegiatan pembelajaran dengan berdoa, salam, mengecek kehadiran siswa dan menyiapkan fisik siswa.

Siswa mengawali kegiatan berdoa, menjawab salam, dan menyiapkan fisik.

2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang akan dicapai.

Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang akan dicapai.

3. Guru memberikan soal pretest kepada siswa

Siswa mengerjakan soal pretest yang diberikan dari guru

4. Guru memberikan pertanyaan esensial untuk mengeksplor pengetahuan siswa

Siswa menanggapi pertanyaan esensial dari guru untuk mengeksplorasi pengetahuan yang telah dimiliki

5. Guru menjelaskan tata cara pembelajaran STAD

Siswa mendengarkan penjelasan dari guru mengenai tata cara pembelajaran STAD

6. Guru menyajikan materi “Bangun ruang sederhana dan kesimetrian bangun datar”

Siswa memperhatikan guru dalam menyajikan materi tentang “Bangun ruang sederhana dan kesimetrian bangun datar”

7. Guru mengorganisir siswa kedalam kelompok-kelompok (setiap kelompok terdiri dari 5 orang)

Dengan bantuan guru siswa membentuk kelompok, setiap kelompok beranggotakan 5 orang

8. Guru membagikan materi pecahan dan Lembar Kerja Siswa (LKS)

Siswa menerima materi pecahan dan lembar kerja siswa (LKS)

9. Guru membimbing setiap kelompok dalam memahami materi yang diberikan dan mengerjakan soal pada LKS

Siswa berdiskusi memahami materi dan mengerjakan LKS secara berkelompok

(10)

10. Guru membahas/mengoreksi jawaban siswa

Siswa memperhatikan guru ketika membahas dan mengoreksi jawaban 11. Guru mengarahkan siswa untuk

bertransisi ke tempat duduk semula dengan efisien

Siswa bertransisi ke tempat duduk semula dengan efisien

Pertemuan ke-2 1. Guru membagikan lembar soal/kuis

individual

Siswa menerima dan mengerjakan soal evaluasi

2. Guru menuliskan kunci jawaban di papan tulis dan membimbing siswa dalam mengoreksi pekerjaan teman

Siswa mengoreksi lembar jawab teman sesuai kunci jawaban yang ditulis guru dipapan tulis

3. Guru memasukan skor individu ke dalam tabel di papan tulis

Siswa membantu guru memasukkan skor individu ke dalam tabel di papan tulis

4. Guru menghitung skor rata-rata tim secara terbuka

Siswa memperhatikan guru menghitung skor rata-rata tim

5. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang mempunyai prestasi tertinggi

Kelompok yang berprestasi mendapatkanpenghargaan dari guru 6. Guru memberikan soal evaluasi

(posttest)

Siswa mengerjakan soal (postest) 7. Guru berkeliling mengawasi siswa

mengerjakan soal evaluasi

Siswa mengerjakan soal evaluasi (posttest) secara individu.

8. Guru mengoreksi pekerjaan bersama siswa

Siswa mengoreksi pekerjaan bersama guru

9. Guru meluruskan pemahaman siswa Siswamemperhatikan guru ketika meluruskan kesalahpahaman

10. Guru membantu siswa membuat kesimpulan

Siswa bersama guru membuat kesimpulan

11. Guru menutup pertemuan dengan doa dan memberikan salam penutup.

Siswa berdoa dan mengucapkan salam.

b. Kisi-kisi Instrumen Tes

Uji coba instrument soal dilaksanakan bukan di SD yang digunakan sebagai subyek penelitan, namun di SD Negeri 2 Kranggan. Penyusunan kisi-kisi soal yang digunakan pada pretest dan posttest didasarkan pada Standar Kompetensi (SK) ddan Kompetensi Dasar (KD) Matematika kelas IV yang dipilih oleh peneliti. SK yang dipilih adalah memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun

(11)

datar. Sedangkan Kompetensi Dasarnya adalah menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana. Kisi-kisi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.6

Kisi-Kisi Instrumen Tes Uji Coba Standar

Kompetensi

Kompetensi Dasar

Indikator Butir Soal

8. Memahami sifat bangun ruang

sederhana dan hubungan antar bangun datar

8.1 Menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana

1. Menyebutkan macam-macam bangun ruang 2. Menyebutkan

pengertian macam- macam bangun ruang.

3. Menyebutkan sifat- sifat bangun ruang.

4. Menentukan jaring- jaring bangun ruang

1,2,6,9,12,16,21, 26,27

5,8,11,14,19,24, 30

3,4,10,13,18,20,22, 25,28,29,

7,15,17,23

Pengujian instrumen dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 02 Kranggan dengan jumlah responden sebanyak 25 siswa. Selanjutnya hasil uji coba instrument akan digunakan untuk uji coba validitas dan reliabilitas soal, daya pembeda, tingkat kesukaran soal, dan fungsi pengecoh. Analisis data uji soal ini dilakukan dengan program anates versi 4.0.9.

3.6 Uji Reliabilitas, Validitas, dan Buir Soal

(12)

3.6.1 Reliabilitas

Guna memastikan bahwa instrumen tes berupa pilihan ganda ini benar-benar mengukur hasil belajar siswa, maka alat ukur ini harus di uji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu. Uji coba instrumen tes dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: 1) penyusunan kisi-kisi soal, 2) uji coba instrumen soal, 3) uji daya pembeda, tingkat kesukaran dan fungsi pengecoh, 4) uji validitas, dan 5) uji reliabilitas. Uji validitas soal dilakukan di luar SD yang menjadi subjek penelitian. Pengujian instrumen dilakukan di SD 02 Kranggan dengan jumlah responden 25 siswa. Berdasarkan hasil uji coba instrumen tersebut, kemudian peneliti melakukan analisis uji validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterpercayaan) dengan bantuan Anates Ver. 4.0.9.

Menurut Arikunto (2013:115) instrumen tes yang memiliki koefisien korelasi

>0,7 dinyatakan reliabel. Sehingga penulis mengikuti ketentuan tersebut. Setelah melakukan perhitungan menggunakan Anates Ver. 4.0.9. diperoleh hasil uji reliabilitas sebesar 0,79. Angka koefisien reliabilitas Alpha ini berada pada kategori reliabel. Artinya instrumen tes buatan peneliti ini memberikan hasil yang relatif sama apabila dilakukan tes secara berulang-ulang, oleh karena itu soal tes ini dapat digunakan sebagai penelitian.

3.5.2 Validitas

Berkaitan dengan uji validitas soal tes, butir soal dianggap valid apabila mencapai nilai koefisien korelasi setiap skor dengan skor totalnya lebih besar dari 0,30, sedangkan apabila koefisien korelasi kurang dari 0,30 maka item tersebut dianggap tidak valid atau harus dihilangkan (Azwar, 2011:158). Oleh karena itu peneliti menggunakan batas minimal koefisiensi korelasi 0,30. Berdasarkan hasil uji validitas yang telah dilakukan diperoleh data 20 item soal yang memiliki koefisien korelasi skor butir dengan skor total masuk dalam kategori valid (≥ 0,30). Koefisien korelasi ke 20 soal tersebut bergerak antara 0,30 sd 0,66, oleh karena itu soal-soal inilah yang akan digunakan sebagai penelitian. Nomor-nomor yang valid adalah soal

(13)

nomor 1, 2, 3, 5, 7, 9, 10, 12, 13, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, dan 29.

Berikut adalah hasil uji validitas menggunakan Anates Ver. 4.0.9.

Tabel 3.7

Hasil Uji Validitas Instrumen Tes Uji Coba Berdasarkan Anates Standar

Kompeten si

Kompetensi

Dasar Indikator Butir Soal

Hasil Uji Validitas Valid Tidak

Valid 8.

Memahami sifat

bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar

8.1

Menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana

1. Menyebutkan macam-macam bangun ruang 2. Menyebutkan pengertian macam-macam bangun ruang 3. Menyebutkan sifat-sifat

bangun ruang 4. Menentukan jaring-jaring bangun ruang

1,2,6,9,12,16, 21,26,27

5,8,11,14,19, 24

3,4,10,13,18, 20,22,25,28,2

9 7,15,17,23,30

1,2,9,12 ,21,26,2 7 5,19,24

3,4,10,1 3,20,22, 25,29 7,23

6,16

8,11,14, 19

13,18,28

15,17,30

3.5.3 Daya Pembeda

Daya pembeda dari satu butir soal yang menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut membedakan antara siswa yang dapat menjawab soal dengan tepat dan siswa yang tidak dapat menjawab soal dengan tidak tepat/kurang tepat). Dengan kata lain, daya pembeda dari sebuah butir soal adalah kemampuan butir soal tersebut membedakan siswa yang berkemampuan tinggi, kemampuan

(14)

sedang dan siswa yang mempunyai kemampuan rendah. Fernandes seperti dikutip oleh Sulistya Wardani, (2011:524) menyatakan bahwa klasifikasi daya pembeda sebuah soal tes adalah sebagai berikut:

Indeks Kategori

D ≥ 0,40 Sangat baik

0,30 ≤ D < 0,40 Baik 0,20 ≤ D < 0,30 Sedang

D < 0,20 Tidak baik

Berdasarkan kategori tersebut, data hasil uji coba item tes menunjukkan bahwa 20 soal yang menunjukkan validitas yang baik umumnya memiliki daya pembeda yang baik pula.

3.5.4 Tingkat Kesukaran Dan Fungsi Pengecoh

Tingkat kesukaran soal adalah angka yang menunjukkan kemampuan peserta didik menjawab butir soal dengan betul (Slameto, 2001). Dilihat dari proporsi tingkat kesukarannya, dimana secara umum diterima proporsi soal mudah: sedang: sukar adalah 30%: 50% : 20%, maka soal tes yang disusun ini kurang sesuai, yaitu berbanding 10%: 75%: 15%, atau dari keseluruhan soal (20 soal) ada 2 soal mudah, 15 soal sedang dan 3 soal sukar. Dilihat dari fungsi pengecoh, nampak bahwa semua soal pengecohnya berfungsi, meskipun dengan kategori yang berbeda-beda. Pengecoh dikatakan berfungsi dengan baik apabila dipilih oleh pengikut tes minimal 5%. Secara lengkap hasil uji coba soal tes menggunakan Anates Ver. 4.0.9 dilampirkan pada lampiran 3.

3.6 Prosedur Pemberian Perlakuan 3.6.1 Prosedur Pembentukan kelompok

(15)

Berdasarkan pertimbangan karakteristik siswa SD dan lingkungan belajar di wilayah kecamatan Kranggan relatif sama, pembentukan kelompok dalam penelitian ini peneliti mengambil 1 SD di kecamatan Kranggan sebagai populasi penelitian.

Kelas yang ditunjuk sebagai sambel penelitian ini adalah kelas IVA dan kelas IVB.

Melihat jumlah siswa kelas IV di kelas IVA sebanyak 27 dan kelas IVB sebanyak 25 siswa maka dibentuklah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. pembentukan kelompok beracuan pada jumlah siswa masing-masing SD,sehingga jumlah siswa kelompok eksperimen seimbang/tidak berbeda jauh dengan kelompok kontrol. siswa kelas IVA sebagai kelompok eksperimen dengan keseluruhan 27 siswa, diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran matematika. Siswa kelas IVB sebagai kelompok kontrol dengan jumlah 25 siswa diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Devision (STAD) dalam pembelajaran matematika.

3.6.2 Pemberian Perlakuan

Kelompok eksperimen diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran Jigsaw denan melalui beberapa prosedur. Pada pertemuan pertama, siswa diberikan pretest untuk memfilter semua perlakuan yang tidak terkontrol.

Setelah diberikan pretest guru memberikan ulasan materi “bangun ruang sederhana dan kesimetrian bangun datar” sebagai bekal untuk untuk berdiskusi kelompok.

Berikutnya siswa diajak untuk belajar dalam kelompok-kelompokkecil (model Jigsaw). Model Jigsaw ini memiliki beberapa fase yang harus dilalui yaitu : fase Grouping , guru membagi beberapa menjadi beberapa kelompok secara heterogen dengan memberikan permen, siswa melakukan transisi ke dalam kelompok sesuai permen yang didapat. Fase selanjutnya adalah Leader, guru menentukan satu orang siswa dari setiap kelompok sebagai ketua kelompok (leader). Siswa yang ditunjuk sebagai ketua kelompok merupakan siswa yang paling unggul/matang dalam kelompoknya. Pada tahap selanjutnya yaitu Partition, dimana siswa harus memperhatikan penjelasan dari guru dalam pembagian materi pelajaran ke dalam 5-6

(16)

sub topik. Masing-masing siswa dalam satu kelompok memilih satu sub topik yang menjadi tanggung jawabnya. Langkah selanjutnya yaitu Expert Groups, di tahap ini siswa yang mendapatkan topik yang sama dengan siswa kelompok lain, bergabung dalam satu kelompok baru yang disebut dengan kelompok ahli (Expert Groups).

Dalam kelompok ahli ini siswa mendiskusikan satu topik yang menjadi tanggung jawabnya dan mencatat point-point penting dalam topik tersebut.

Memasuki pertemuan ke-2, siswa melakukan fase selanjutnya, yaitu Sharing and Presentation, siswa dengan percaya diri dari kelompok ahli kembali ke kelompok asal untuk berbagi dan mempresentasikan hasil diskusinya. Pada tahap ini, siswa saling melengkapi satu sama lain sehingga terbentuk suatu pengetahuan yang utuh terhadap materi yang dipelajari. Tahap selanjutnya yaitu Observing, guru mengamati proses yang berlangsung pada masing-masing kelompok. Jika terdapat anggota kelompok yang mengalami kesulitan dalam menjelaskan subtopik yang menjadi tanggung jawabnya, guru memerintahkan ketua kelompok untuk membantu anggotanya tersebut. Langkah terakhir yaitu pemberian Quiz, guru memberikan kuis untuk mengecek pemahaman siswa. Dalam hal ini sportifitas siswa akan tumbuh dan nampak. Siswa bersama guru membuat kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilakukan. Selanjunya siswa diberikan posttest untuk mengetahui ketercapaian pembelajaran.

Kelompok kontrol diberikan treatment menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Devisions (STAD). Pada pertemuan pertama, siswa diberikan pretest kemudian guru memaparkan materi “bangun ruang sederhana dan kesimetrian bangun datar”. Selanjutnya pemberian treatment STAD, memiliki beberapa langkah sebagai berikut: fase yang pertama yaitu penyajian informasi, guru menyampaikan materi tentang pecahan, siswa memperhatikan guru dan menangkap informasi yang diberikan. Fase kedua yaitu pembagian kelompok;

guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok secara heterogen, siswa mengambil kertas warna-warni dari guru, siswa berkelompok sesuai warna yang didapat.

Pertemuan ke-2 dilanjutkan dengan penggunaan Fase ketiga yaitu kerja tim, guru

(17)

memberikan ringkasan materi dan Lembar Kerja Siswa, siswa mempelajari dan megerjakan LKS sebagai bekal/persiapan pelaksanaan kuis secara individual, fase keempat yaitu pemberian penghargaan, setelah skor kemajuan siswa dihitung dan di rata-rata dengan anggota kelompok masing-masing, guru memberikan reward kepada kelompok yang mempunyai rata-rata paling tinggi. Siswa bersama guru membuat kesimpulan dan meluruskan pandangan atas materi yang dipelajari dan kegiatan yang terakhir siswa diberikan posttest.

Kelompok eksperimen yaitu kelas IVA SDN 01 Kranggan. Pemberian perlakuan pada siswa kelas IVA SDN 01 Kranggan dilakukan oleh Andriyani (peneliti) yang dilaksanakan pada hari senin s/d selasa, 21 s/d 22 Maret 2016 di ruang kelas SDN 01 Kranggan dengan diamati oleh Lina Hermawati,S.Pd (guru kelas IVA).

Pada kelompok kontrol yaitu kelas IVA SDN 01 Kranggan. Pemberian perlakuan pada siswa kelas IVA SDN 01 Kranggan dilakukan oleh Andriyani (peneliti) yang dilaksanakan pada hari rabu s/d kamis, 23 s/d 24 Maret 2016 di ruang kelas SDN 01 Kranggan dengan diamati oleh Joko Utoro, S.Pd (guru kelas IVB).

3.7 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data hasil penelitian ini dianalisis dengan teknik deskriptif dan teknik statistic inferensial ANCOVA. Teknik statistik ANCOVA dilakukan jika memenuhi uji prasyarat : a) uji normalitas, b) uji homogenitas, c) uji linieritas data.

Apabila salah satuu prasyarat tidak terpenuhi,maka akan dilakukan pengujian dengan teknik statistik non parametrik Kolomogorov Smirnov.

3.7.1 Uji Normalitas

Untuk mengetahui setiap kelas mempunyai data yang terdistribusi normal atau tidak, maka diperlukan uji normalitas. Apabila data berdistribusi normal maka dapat digunakan statistik parametrik, sedangkan apabila data tidak berdistribusi normal maka digunakan statistika nonparametrik. Acuan data dikatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi/probabilitas > 0,05. Jika nilai signifikansi probabilitas kurang

(18)

dari 0,05 maka data dikatakan tidak berdistribusi normal. Dalam uji normalitas data ini bisa menggunakan bantuan software SPSS 23.00 for windows yaitu :

a. Copy total skor ke SPSS di Var 002

b. Kemudian di Var 001 dibuat angka 1 untuk kelompok pertama dan 2 untuk kelompok kedua, guna untuk membedakan jenis kelompoknya.

c. Klik analize – nonparametric test – Legacy Dialogs – 1-sample K-S d. Masukkan total skor - OK

3.7.2 Uji Homogenitas

Uji homogenitas varian digunakan untuk mengetahui apakah varian kedua kelompok dikatakan homogen atau tidak. Varian data kedua kelompok dikatakan homogen jika nilai probabilitas/signifikansi lebih dari 0,05. Jika nilai probabilitas kurang dari 0,05 maka data dikatakan tidak homogen. Analisis uji homogenitas varian ini bisa dilakukan menggunakan software SPSS 23.00 for windows yaitu :

a. Copy total skor ke SPSS di Var002

b. Lalu di Var001 dibuat angka 1 untuk kelompok pertama dan 2 untuk kelompok kedua, guna untuk membedakan jenis kelompoknya.

c. Klik analize – Compare Means – One Way Anova.

d. memasukkan total skor ke kotak Dependent List, dan kelompok subjek ke kotak faktor.

e. Options – homogeneity of variance test – continue – OK 3.7.3 Uji Homogenitas Koefisien Regresi Linier

Uji homogenitas koefisien regresi linier hakikatnya adalah menguji kehomogenitasan koefisien regresi semua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebagai persyaratan analisis kovarian, dimana antara variabel kovariat dengan variabel terikat berkorelasi cukup tinggi. Lazimnya, pada kasus analisis kovariansi, koevisien korelasi 0,60 pada masing-masing kelompok sudah dianggapcukup memadai (Budiyono, 2009:300).dalam penelitian ini, variabel yang akan diuji sebagai

(19)

prasyarat analisis ANCOVA adalah koefisiensi korelasi antara pretest-posttest kelompok eksperimen (Jigsaw) dan kelompok kontrol (Student Teams Achievement Devisions (STAD)). Uji homogenitas koefisien regresi dilakukan dengan teknik analisis kovarian satu jalan. Dengan memperhatikan nilai koefisien beta (B) pada tabel output parameter estimasi dan nilai t serta signifikan/probabilitasnya. Syarat yang lain adalah bahwa nilai beta (B) haruslah lebih besar sama dengan 0,60 (Budiyono, 2009:300). Jika probabilitas < 0,05, maka koefisien regresi linier kedua sampel homogen. Langkah-langkah tersebut adalah :

a. Pada menu Toolbar SPSS pilih Analize, kemudian dipilih General Linier Model - Univariate;

b. Memasukkan variabel Y pada posisi Dependent Variable;

c. Memasukkan variabel Model Pembelajaran pada fixed factor (s);

d. Memasukkan variabel kovariat, yaitu pretest pada posisi Covariates (s);

e. Pada model : dipilih full factorial, kemudian klik Continue;

f. Pada Option : dipilih parameter Estimates, klik Continue;

g. Kemudian pilih OK

Disamping uji prasyarat penelitian yang telah dibahas di atas, peneliti juga melakukan pengendalian terhadap validitas internal dan eksternal. Menurut Punaji Setyorini (2013:155-171), menyebutkan bahwa variabel dependen bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut seperti sejarah, bias seleksi, kematangan, pretest, instrumentasi, regresi statistic, mortalitas, stabilitas, seleksi yang berbeda, interaksi faktor-faktor, dan persaingan kelompok kontrol dengan si pemberi perlakuan, pengaruh bias seleksi, latar belakang dan persoalan perlakuan waktu.

Pendapat yang dikemukakan oleh Punaji (2013) tersebut dipersempit oleh Gay yang menyatakan bahwa pengontrolan variabel di luar treatment pada The Nonequivalent Control Group Design cukup mengkontrol 4 hal yaitu History, maturation, testing, possible regression and interaction between selectio. Lebih lanjut untuk menyeimbangkan secara statistik, maka sebaiknya dilakukan menggunakan ANCOVA (Analisis of Covariance) (Gay, 1987 :289).

(20)

3.8 Uji ANCOVA

ANCOVA (Analisis of Covariance) merupakan gabungan antara analisis regresi dengan analisis varian. Setelah uji prasyarat analisis terpenuhi yakni data berdistribusi normal, data homogen, dan model regresi linier, maka uji analisis berikutnya adalah ANCOVA atau uji kombinasi analisis regresi dan varians. ANCOVA adalah analisis kovarian dengan memasukkan kovariat ke dalam model analisis.

Pilihan teknik analisis ini penting khususnya dalam penelitian yang sampel tidak diambil secara acak sebagaimana dalam eksperimen penerapan model pembelajaran Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) ini. Peneliti berpendapat bahwa variabel kovariat pretest merupakan kompetensi awal siswa yang berpengaruh terhadap hasil posttest. Langkah-langkahnya adalah :

a. Pada menu Toolbar SPSS pilih Analize, kemudian dipilih General Linier Model - Univariate;

b. Memasukkan variabel Y pada posisi Dependent Variable;

c. Memasukkan variabel Model Pembelajaran pada fixed factor (s);

d. Memasukkan variabel kovariat, yaitu pretest pada posisi Covariates (s);

e. Pada model : dipilih full factorial, kemudian klik Continue;

f. Pada Option : dipilih descriptive statistic, estimates of effect size, dan parameter Estimates, klik Continue;

g. Kemudian pilih OK 3.8 Hipotesis Statistik

Berdasarkan hasil uji ANCOVA, kemudian dilakukan analisis uji hipotesis untuk mengetahui apakah H0 diterima atau ditolak dengan prosedur sebagai berikut.

Kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis menggunakan kriteria : H0 diterima dan Ha ditolak apabila nilai signifikansi atau nilai probabilitas kesalahan (α) > 0,05.

Sebaliknya H0 ditolak dan Ha diterima apabila nilai signifikansinya atau nilai probabilitas kesalahan (α) > 0,05. Hipotesis yang akan diuji dalampenelitian ini adalah :

(21)

H0 : µ1 = µ2 Tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) ditinjau dari hasil belajar matematika kelas IVA dan kelas IVB SD Negeri 01 Kranggan.

Ha : µ1 = µ2 Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Student Teams Achievement Devisions (STAD) ditinjau dari hasil belajar matematika kelas IVA dan kelas IVB SD Negeri 01 Kranggan.

Gambar

Tabel 3.2  Populasi Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

meneliti kembali dengan judul “Efektivitas Penagihan Pajak dengan Surat Teguran dan Surat Paksa Atas Penerimaan Pajak pada KPP Pratama Palembang Ilir Barat

Tingkat keyakinan yang dikembangkan berada pada rentang angka satu sampai enam sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Caleon &amp; Subramaniam (2010).

Kualitas laba di dalam laporan keuangan akan sangat berguna bagi pasar modal karena akan membuat investor melakukan pengukuran terhadap nilai suatu perusahaan

Mengingat semua keterbatasan yang dimiliki penulis, maka di dalam penulisan KKW ini ruang lingkupnya dibatasi pada pembahasan mengenai prediksi kebutuhan BBM di TBBM Boyolali sampai

Hipertensi masih menjadi masalah terbesar bagi kesehatan terutama pada lansia, karena hipertensi lebih banyak dialami oleh lansia dibandingkam dengan para usia

Keywords and phrases: color code, locating-chromatic number, firecracker graph. This research is supported by IMHERE Research Grant 2011 and DGHE Competence Research Grant

Hasil tersebut dapat disimpulkan tidak ada perbedaan yang signifikansi antara tingkat kapasitas vital paru siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal dan

Telah dilakukan pengujian intensitas emisi optik plasma nitrogen dengan variasi laju alir gas nitrogen yang dibangkitkan oleh sumber plasma gelombang mikro 2,45 GHz dengan metoda