• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : Lukis Alam NIM DISERTASI PROGRAM DOKTOR (S3) STUDI ISLAM PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh : Lukis Alam NIM DISERTASI PROGRAM DOKTOR (S3) STUDI ISLAM PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

SEKOLAH ISLAM ELITE, INTEGRASI KURIKULUM DAN

ASPIRASI PENDIDIKAN KELAS MENENGAH MUSLIM DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Oleh :

Lukis Alam NIM. 1530016020

DISERTASI

PROGRAM DOKTOR (S3) STUDI ISLAM PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA 2019

(2)
(3)
(4)
(5)

PERNYATAAN KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIASI

Yang bertanda tangan di bawah ini:

N a m a : Lukis Alam, SS., M.S.I.

N I M : 1530016020

Program/Prodi. : Doktor (S3) / Studi Islam Konsentrasi : Kependidikan Islam

menyatakan bahwa naskah disertasi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian- bagian yang dirujuk sumbernya, dan bebas plagiarisme. Jika di kemudian hari terbukti bukan karya sendiri atau melakukan plagiasi, maka saya siap ditindak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Yogyakarta, Agustus 2019 Saya yang menyatakan,

Lukis Alam, SS., M.S.I.

NIM. 113020002

(6)

PENGESAHAN PROMOTOR

Promotor : Prof. Noorhaidi, S.Ag., MA., M.Phil., Ph.D. ( )

Promotor : Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., MA., Ph.D. ( )

(7)

NOTA DINAS

Kepada Yth.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Assalamu‘alaikum wr.wb.

Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi terhadap naskah disertasi berjudul:

SEKOLAH ISLAM ELITE, INTEGRASI KURIKULUM DAN ASPIRASI PENDIDIKAN KELAS MENENGAH

MUSLIM DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

yang ditulis oleh:

N a m a : Lukis Alam, SS., M.S.I.

N I M : 1530016020

Program/Prodi. : Doktor (S3) / Studi Islam Konsentrasi : Kependidikan Islam

sebagaimana yang disarankan dalam Ujian Tertutup pada 14 Mei 2019, saya berpendapat bahwa disertasi tersebut sudah dapat diajukan kepada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk diujikan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor (S3) dalam rangka memperoleh gelar Doktor (Dr.) dalam Bidang Studi Islam Konsentrasi Kependidikan Islam.

Wassalamu‘alaikum wr.wb.

Yogyakarta, Agustus 2019

Promotor,

Prof.Noorhaidi,S.Ag., M.A.,M.Phil, Ph.D.

(8)

NOTA DINAS

Kepada Yth.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Assalamu‘alaikum wr.wb.

Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi terhadap naskah disertasi berjudul:

SEKOLAH ISLAM ELITE, INTEGRASI KURIKULUM DAN ASPIRASI PENDIDIKAN KELAS MENENGAH

MUSLIM DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

yang ditulis oleh:

N a m a : Lukis Alam, SS., M.S.I.

N I M : 1530016020

Program/Prodi. : Doktor (S3) / Studi Islam Konsentrasi : Kependidikan Islam

sebagaimana yang disarankan dalam Ujian Tertutup pada 14 Mei 2019, saya berpendapat bahwa disertasi tersebut sudah dapat diajukan kepada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk diujikan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor (S3) dalam rangka memperoleh gelar Doktor (Dr.) dalam Bidang Studi Islam Konsentrasi Kependidikan Islam.

Wassalamu‘alaikum wr.wb.

Yogyakarta, Agustus 2019

Promotor,

Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D.

(9)

NOTA DINAS

Kepada Yth.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Assalamu‘alaikum wr.wb.

Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi terhadap naskah disertasi berjudul:

SEKOLAH ISLAM ELITE, INTEGRASI KURIKULUM DAN ASPIRASI PENDIDIKAN KELAS MENENGAH

MUSLIM DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

yang ditulis oleh:

N a m a : Lukis Alam, SS., M.S.I.

N I M : 1530016020

Program/Prodi. : Doktor (S3) / Studi Islam Konsentrasi : Kependidikan Islam

sebagaimana yang disarankan dalam Ujian Tertutup pada 14 Mei 2019, saya berpendapat bahwa disertasi tersebut sudah dapat diajukan kepada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk diujikan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor (S3) dalam rangka memperoleh gelar Doktor (Dr.) dalam Bidang Studi Islam Konsentrasi Kependidikan Islam.

Wassalamu‘alaikum wr.wb.

Yogyakarta, Agustus 2019

Penguji,

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

(10)

NOTA DINAS

Kepada Yth.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Assalamu‘alaikum wr.wb.

Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi terhadap naskah disertasi berjudul:

SEKOLAH ISLAM ELITE, INTEGRASI KURIKULUM DAN ASPIRASI PENDIDIKAN KELAS MENENGAH

MUSLIM DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

yang ditulis oleh:

N a m a : Lukis Alam, SS., M.S.I.

N I M : 1530016020

Program/Prodi. : Doktor (S3) / Studi Islam Konsentrasi : Kependidikan Islam

sebagaimana yang disarankan dalam Ujian Tertutup pada 14 Mei 2019, saya berpendapat bahwa disertasi tersebut sudah dapat diajukan kepada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk diujikan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor (S3) dalam rangka memperoleh gelar Doktor (Dr.) dalam Bidang Studi Islam Konsentrasi Kependidikan Islam.

Wassalamu‘alaikum wr.wb.

Yogyakarta, Agustus 2019

Penguji,

Dr. Hj. Sri Sumarni, M.Pd.

(11)

NOTA DINAS

Kepada Yth.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Assalamu‘alaikum wr.wb.

Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi terhadap naskah disertasi berjudul:

SEKOLAH ISLAM ELITE, INTEGRASI KURIKULUM DAN ASPIRASI PENDIDIKAN KELAS MENENGAH

MUSLIM DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

yang ditulis oleh:

N a m a : Lukis Alam, SS., M.S.I.

N I M : 1530016020

Program/Prodi. : Doktor (S3) / Studi Islam Konsentrasi : Kependidikan Islam

sebagaimana yang disarankan dalam Ujian Tertutup pada 14 Mei 2019, saya berpendapat bahwa disertasi tersebut sudah dapat diajukan kepada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk diujikan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor (S3) dalam rangka memperoleh gelar Doktor (Dr.) dalam Bidang Studi Islam Konsentrasi Kependidikan Islam.

Wassalamu‘alaikum wr.wb.

Yogyakarta, Agustus 2019

Penguji,

Prof. Dr. H. Anik Ghufron, M.Pd.

(12)

ABSTRAK

Sekolah Islam elite menjadi model pendidikan yang diminati kelas menengah perkotaan. Sekolah ini muncul pertama kali di era 60-an dengan berdirinya YPI Al-Azhar.

Seiring berjalannya waktu, bermunculan juga sekolah Islam serupa di berbagai kota di Indonesia. Karakteristik sekolah ini, di samping berbiaya mahal, juga memiliki fasilitas yang lebih lengkap dibandingkan sekolah milik pemerintah. Oleh karena itu, hanya kalangan menengah atas yang memiliki kecukupan finansial yang mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke institusi pendidikan semacam ini.

Dengan berkembangnya Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan sekaligus sebagai fertile ground dari investasi ekonomi yang ditandai dengan peningkatan jumlah pusat perbelanjaan dan jalur transportasi antar propinsi, sekolah swasta kemudian banyak didirikan untuk memfasilitasi harapan dari kelompok menengah atas, tanpa kecuali para keluarga Muslim. Berbasis permasalahan ini, disertasi ini berupaya untuk mengkaji permasalahan tersebut. Tiga pertanyaan utama yang ingin dikaji dalam disertasi ini antara lain: (1) Mengapa sekolah Islam elite muncul dan berkembang di Yogyakarta? (2) Bagaimana karakteristik sekolah-sekolah Islam elite di Yogyakarta? (3) Mengapa kelas menengah muslim menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Islam elite?

Teori-teori yang melandasi kajian ini adalah teori Habitus dari Pierre Bourdieu dan aspirasi pendidikan kelas menengah dari Christoper J. Crook. Kedua teori ini diaplikasikan untuk melihat secara kritis pertumbuhan dan perkembangan sekolah Islam elite sebagai bagian dari dinamika pendidikan Islam modern. Kehadiran lembaga ini telah memberikan dan memfasilitasi ruang sosial kepada kelas menengah muslim di perkotaan untuk menentukan sekolah mana yang sesuai dengan ekspektasi sosial mereka dan menjadi alternatif pendidikan Islam di luar madrasah dan pesantren

Keseluruhan temuan penelitian diperoleh melalui pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data baik dari literatur maupun field work. Literatur bersumber dari studi- studi pendahuluan terhadap disertasi, jurnal, media cetak, dan

(13)

dokumen-dokumen penting yang dikeluarkan baik berupa buku maupun makalah dari ketiga sekolah tersebut. Pengumpulan data lapangan melalui (1) observasi, (2) wawancara mendalam, dan (3) dokumentasi. Data lapangan diambil dari tiga Sekolah Islam elitedi Yogyakarta yang menjadi subjek penelitian ini.

Temuan dalam penelitian ini menegaskan bahwa kemunculan sekolah Islam elite di Yogyakarta dilatarbelakangi oleh kepentingan para aktor yang ingin menghadirkan lembaga pendidikan Islam berkualitas, tetapi tetap sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional. Karakteristik Al-Azhar Yogyakarta sebagai sekolah Islam elite non-partisan menegaskan bahwa sebagai lembaga pendidikan Islam modern yang mencoba menarasikan pemahaman Islam moderat dan tidak terafiliasi pada ideologi tertentu. Sedangkan Budi Mulia Dua mencoba menghadirkan pendidikan Islam yang mengedepankan egaliterianisme, inklusivitas, yang mencoba menampilkan nilai-nilai keislaman secara substantif. Namun, tidak melupakan kewajiban terhadap sesama manusia. BIAS (Bina Anak Sholeh) mencoba mengargumentasikan sebagai sekolah Islam elite yang mengkonstruksikan sebagai lembaga pendidikan Islam yang tetap berpijak pada keseimbangan transformasi pengetahuan agama dengan Sistem Pendidikan Nasional. Dalam perkembangannya, sekolah Islam elite telah berhasil memposisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang berhasil mengintegrasikan pengajaran umum dan pengetahuan agama dengan tetap mengakomodir Sistem Pendidikan Nasional. Kehadiran sekolah Islam elite turut memicu kesadaran kelas menengah dalam mengaktualisasikan simbol dan identitas agama di ruang publik dan menganggap sekolah Islam bagian dari investasi kesalehan dalam menanamkan moral dan etika kepada putra-putri mereka sesuai dengan ajaran agama.

Kata Kunci: Kelas Menengah, Sistem Pendidikan, Aspirasi, Identitas, Kesalehan

(14)

ABSTRACT

Initiated in the 1960s with YPI Al-Azhar, elite Islamic schools are becoming an education model favored by urban middle-class group and have provoked cities throughout Indonesia take similar action. Their expensive school fee and relative complete facilities make middle-class families only whose financial support is quite good able to access.

As a student city and a fertile ground for investment, Yogyakarta is an excellent place for private schools to establish to accommodate the middle ups‟, including muslim families, need. This phenomenon underlies the dissertation.

Three main questions being studied are as follows. (1) Why do elite Islamic schools flourish in Yogyakarta? (2) What are the characteristics of such schools? (3) Why do middle-class muslim families send their children to these types of school?

Both Habitus theory from Pierre Bourdieu and aspiration of education for middle-class theory from Christoper J. Crook are applied to overlook critically the growth and development of the schools as part of the dynamics of modern Islamic education. Not only have the institutions provided a social room for urban muslim families to decide which schools meet their social expectations but also acted as alternative to Islam education other than madrasah and boarding schools.

Using qualitative approach, the study obtains data from both literature and field work. The former relies on available works: dissertations, journals, print media, and necessary documents, papers and books, from respected schools. Data were obtained by observation, in-depth interview, and documentation. Field data were drawn from three elite Islamic schools, the subjects of the study, in Yogyakarta.

The results confirm that the idea of elite Islamic schools in Yogyakarta was backgrounded by the eagerness to provide qualified Islamic education without neglecting the government‟s policy on it. Characterized as a non-partisan

(15)

Islamic school in Yogyakarta, Al-Azhar is a modern Islamic school that vocalizes moderate Islamic belief with no specific ideology affiliation. Budi Mulia Dua presents Islamic education emphasizing egalitarianism, inclusivity, and introduces Islamic values substantively without ignoring person to person relationship. BIAS (Bina Anak Sholeh) is set as an elite Islamic school that tries to balance between religion and the National Education system. Elite Islamic schools successfully position themselves as institutions that integrate general teaching method and religion knowledge by accommodating national education system. Their existence triggers the middle-class‟ awareness in bringing religion symbols and identities about to public and placing Islamic schools a solemnity investment for their children and let them aware of morals and ethics under the religion base

Keywords: Middle-Class, Education System, Aspiration, Identity, Solemnity.

(16)

صخلم

،ملاأ سٌكول

" .2019 ةٌبرتلا حومطو جهانملا جمد ،ةرخافلاةٌملاسلإا ةسردملا

اتراكاٌجوٌةصاخلا ةمطنملا ًف ةملسملاةطسوتملاةمبطلل ."

ةحورطأ . اتركاٌجوٌ

:

ةٌموكحلا ةٌملاسلإا اكاجٌلاك نانوس ةعماج .

ةمبطلا هلضفت يذلا ةٌبرتلا جذومن ًه ةرخافلا ةٌملاسلإا ةسردملا ةٌرضحلا ةطسوتملا .

ءاشنإ عم تاٌنٌتسلا ًف ىلولأا ةرملل ترهظ ةسردملا هذه

ةٌملاسلإا ةٌبرتلل رهزلأا ةسسؤم .

ةٌملاسلإا سرادملا ترهظ ،نامزلا رورم عم

اٌسٌنودنإ ًف ةفلتخم ندم ًف ةلثامملا .

اهنوك بناج ىلإ ،ةسردملا هذه صئاصخ

ةٌموكحلا سرادملا نم لاامتكا رثكأ كفارم اضٌأ اهل ،راعسلأا ةظهاب .

،نلذلو

لاسرإ ىلع ةرداملا ةدٌحولا ًه ةٌلاملا ةٌافكلاب عتمتت ًتلا اٌلعلا ةطسوتملا ةمبطلاف ةٌوبرتلا تاسسؤملا نم عونلا اذه ىلإ اهئانبأ .

يداصتللاا رامثتسلال ةبصخ ضرأو ةٌوبرت ةنٌدمك اتركاٌجوٌ روطت عم ءاشنإ مت ًلاتلابو ،تاعطامملا نٌب لمنلا قرطو قوستلا زكارم دٌازتب زٌمتت ًتلا

ةرسلأاكلذ ًف امب ،اٌلعلا ةطسوتملا ةمبطلا تاٌنمأ لٌهستل ةٌلهلأا سرادملا ةملسملا . تلاكشملا نلت فشك ةلاسرلا هذه لواحت ،تلاكشملا هذه ىلع ءانب .

ًه اهتباجإ مزلت ًتلا ةٌسٌئرلا ةثلاثلا ةلئسلأاو :

( )1 تروطتو تسسأ اذامل

؟اتركاٌجوٌ ًف ةٌملاسلإا ةرخافلا سرادملا (

)2 سرادملا صئاصخ ًه امو

؟اتركاٌجوٌ ًف ةٌملاسلإا ةرخافلا (

)3 ةملسملا ةطسوتملا ةمبطلا تلسرأ اذاملو

؟ ةرخافلاةٌملاسلإا سرادملا ىلإ اهءانبأ وٌدروب رٌٌبل لوٌملاةٌرظن ًه ثحبلا اذه ءارو ةنماكلا تاٌرظنلا

( Pierre Bourdieu ج رفوتسٌركل ةٌوبرتلا ةطسوتملا ةمبطلا تاعلطتو )

. نورك

( Christoper J. Crook.

.) سرادملا ومن ةٌؤرل نٌتٌرظنلا ًتلك كٌبطت متو

ةثٌدحلا ةٌملاسلإا ةٌبرتلا تاٌمانٌد نم ءزجك اهروطتو ةٌملاسلإا ةرخافلا .

دوجوو

ًف ةملسملا ةطسوتملا ةمبطلل ًعامتجلاا ءاضفلا تلهسو تحاتأ دل ةسسؤملا هذه نع لاٌدب حبصتو ةٌعامتجلاا مهتاعلوت عم كفاوتت ًتلا سرادملا دٌدحتل ندملا دهعملاو ةسردملا جراخ ةٌملاسلإا ةٌبرتلا .

عمج عم ًعون جهن للاخ نم اهٌلع لوصحلا مت ًتلا ثحبلا جئاتن عٌمج

ًنادٌملا لمعلاو تاٌبدلأا نم تاناٌبلا .

ةٌلولأا تاساردلا نم تاٌبدلأا ردصم

ةرداصلا ةماهلا كئاثولاو ،ةعوبطملا ملاعلإا لئاسوو ،تلاجملاو ،تاحورطلأل ثلاثلا سرادملا نلت نم قاروأو بتك لكش ًف .

للاخ نم ةٌنادٌملا تاناٌبلا عمجو

1( و ،تاظحلاملا ) 2(

و ،ةممعتملا تلابامملا ) 3(

كئاثولا ) . ةٌنادٌملا تاناٌبلاو

تحبصأ ًتلا اتركاٌجوٌ ًف ةرخافلا ةٌملاسلإا سرادملا ثلاث نم ةذوخأم ثحبلا اذه عوضوم .

(17)

اتركاٌجوٌ ًف ةرخافلا ةٌملاسلإا سرادملا روهظ نأ ثحبلا جئاتن تدّكأ ةٌملاسلإا ةٌوبرتلا تاسسؤملا مٌدمت ًف بغرت ًتلا ةلعافلا تاهجلا تامهم اهتعفد

ةٌنطولا ةٌبرتلا تاساٌس عم ةٌشامتم لظت اهنأ رٌغ ،ةدٌجلا .

رهزلأا صئاصخ

ةٌملاسإ ةٌوبرت ةسسؤم اهنأ ىلع دكؤت ةٌبزح رٌغ ةٌملاسإ ةسردمك اتركاٌجوٌ

نٌعم اٌجولوٌدٌأب ةطبترم رٌغو لدتعملا ملاسلإا مهف درس لواحت ثٌح ةثٌدح .

ةٌناثلا اٌلوم يدوب لواحت امنٌب (

Budi Mulia Dua ًتلا ةٌملاسلإا ةٌبرتلا مٌدمت )

لكشب ةٌملاسلإا مٌملا راهظإ لواحت ًتلاو ،ةٌلومشلاو ةاواسملا ىلع دكؤت يرهوج . ةٌناسنلإا تامازتللاا ىسنن لا ،نلذ عمو .

نانأ انٌب ةسسؤم لواحتو

حلاص ( Bina Anak Sholeh ثٌح ةرخاف ةٌملاسإ ةسردمك اجاجتحا)

ماظنو ةٌنٌدلا ةفرعملا لوحت نٌب نزاوتلا ىلع ةمئال ةٌملاسإ ةٌوبرت ةسسؤمكىنبت

ًنطولا مٌلعتلا .

اهناٌك عضو ًف ةٌملاسلإا ةرخافلا سرادملا تحجن ،اهروطت ًفو

باعٌتسا للاخ نم ةٌنٌدلا ةفرعملاو ماعلا مٌلعتلا جمد ًف ةحجان ةٌوبرت ةسسؤمك

ًنطولا مٌلعتلا ماظن تراثأ دل اًضٌأ ةٌملاسلإا ةرخافلا سرادملاروضح نأ امك .

ماعلا لاجملا ًف ةٌنٌدلا تاٌوهلاو زومرلا كٌمحت ًف ةطسوتملا ةمبطلل اٌعو قلاخلأا سرغ ًف ىومتلا رامثتسا نم اءزج ةٌملاسلإا سرادملا تربتعاو ةٌنٌدلا مٌلاعتلل امفو مهئانبلأ بدلأاو .

ةيحاتفملا تاملكلا ،ةيوهلا ،حومطلا ،ميلعتلا ماظن ،ةطسوتملا ةقبطلا :

ىوقتلا .

(18)

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB –LATIN

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 158/1987 dan 0543.b/U/1987, tanggal 22 Januari 1988.

A. Konsonan Tunggal Huruf

Arab Nama Huruf Latin Keterangan

ا Alif Tidak

dilambangkan Tidak dilambangkan

ب Bā‟ b be

ت Tā‟ t te

ث Ṡā‟ ṡ es (dengan titik atas)

ج Jīm j je

ح Ḥā‟ ḥ ha (dengan titik bawah)

خ Khā‟ kh ka dan ha

د Dāl d de

ذ Żāl ż zet (dengan titik atas)

ر Rā‟ r er

ز Zā‟ z zet

س Sīn s es

ش Syīn sy es dan ye

ص Ṣād ṣ es (dengan titik bawah)

ض Ḍād ḍ de (dengan titik bawah)

ط Ṭā‟ ṭ te (dengan titik bawah)

ظ Ẓā‟ ẓ zet (dengan titik bawah)

ع „Ain „ Apostrof terbalik

غ Ghain gh ge

ؼ Fā‟ f ef

ؽ Qāf q qi

ؾ Kāf k ka

ؿ

(19)

Huruf

Arab Nama Huruf Latin Keterangan

ـ Mīm m em

ف Nūn n en

و Wāw w we

ػه Hā‟ h ha

ء Hamzah ‟ Apostrof

ي Yā‟ y ye

B. Konsonan Rangkap karena Syaddah Ditulis Rangkap

Kata Arab Ditulis

ةدّدعتم ةّدم muddah muta‘ddidah ّععتم ّفتتم جرر rajul mutafannin muta‘ayyin C. Vokal Pendek

Ḥarakah Ditulis Kata Arab Ditulis

Fatḥah a جتقو رصن م man naṣar wa qatal Kasrah i ةئف م مك kamm min fi’ah Ḍammah u ثلثو سخمو سدس sudus wa khumus wa ṡuluṡ

D. Vokal Panjang

Ḥarakah Ditulis Kata Arab Ditulis

Fatḥah ā فاّفم ؽاّزر حاّتف fattāḥ razzāq mannān Kasrah ī يرقفو عكسم miskīn wa faqīr Ḍammah ū جورخو ؿوخد dukhūl wa khurūj

(20)

E. Huruf Diftong

Kasus Ditulis Kata Arab Ditulis

Fatḥah bertemu wāw mati aw دولوم maulūd Fatḥah bertemu yā’ mati ai ميهم muhaimin F. Vokal Pendek yang Berurutan dalam Satu Kata

Kata Arab Ditulis

متنأأ a’antum

يرفاكلل تدعأ u‘iddat li al-kāfirīn تمركش ئل la’in syakartum عبلاطلا ةناعإ i‘ānah at-ṭālibīn G. Huruf Tā’ Marbūṭah

1. Bila dimatikan, ditulis dengan huruf “h”.

Kata Arab Ditulis

ةليزر ةروز zaujah jazīlah ةدّدمح ةيزر jizyah muḥaddadah Keterangan:

Ketentuan ini tidak berlaku terhadap kata-kata Arab yang sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia, seperti salat, zakat, dan sebagainya, kecuali jika dikehendaki lafal aslinya.

Bila diikuti oleh kata sandang “al-” serta bacaan kedua itu terpisah, maka ditulis dengan “h”.

Kata Arab Ditulis

عوملمجا ةلمكت takmilah al-majmū‘

ةبلمحا ةولاح ḥalāwah al-maḥabbah

(21)

2. Bila tā’ marbūṭah hidup atau dengan ḥarakah (fatḥah, kasrah, atau ḍammah), maka ditulis dengan “t” berikut huruf vokal yang relevan.

Kata Arab Ditulis

رطتلا ةاكز zakātu al-fiṭri ىتطصلما ةرضح لىإ ilā ḥaḍrati al-muṣṭafā

ءاملعلا ةللار jalālata al-‘ulamā’

H. Kata Sandang alif dan lām atau “al-”

1. Bila diikuti huruf qamariyyah:

Kata Arab Ditulis

جئاسلما ثبح baḥṡ al-masā’il ليازغلل ؿوصلمحا al-maḥṣūl li al-Ghazālī 2. Bila diikuti huruf syamsiyyah, ditulis dengan

menggandakan huruf syamsiyyah yang mengikutinya serta menghilangkan huruf “l” (el)-nya.

Kata Arab Ditulis

عبلاطلا ةناعإ i‘ānah aṭ-ṭālibīn يعفاشلل ةلاسرلا ar-risālah li asy-Syāfi‘ī بهذلا تارذش syażarāt aż-żahab

(22)

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wr.wb.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah semata yang telah melimpahkan karunia, taufiq, hidayah dan 'inayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikarn disertasi yang berjudul SEKOLAH ISLAM ELITE, INTEGRASI KURIKULUM DAN ASPIRASI PENDIDIKAN KELAS MENENGAH MUSLIM DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

Disertasi ini, sesungguhnya, merupakan hasil nyata dari sebagian ilmu yang penulis dapatkan selama menjadi mahasiswa di Program Doktor Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan dan keterbatasan, penulis menyadari bahwa disertasi ini tidak akan mungkin tersusun sedemikian rupa tanpa adanya uluran tangan dan sumbangsih pemikiran dari berbagai pihak. Pihak yang paling berjasa memberikan kontribusi terhadap lahirnya disertasi ini adalah para promotor yang kapanpun dan di manapun dengan ikhlas dan sabar telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan disertasi ini. Untuk itu, dengan penuh kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D (Rektor), Prof. Noorhaidi, S.Ag., MA., M.Phil., Ph.D (Direktur Pascasarjana), Dr. Moch Nur Ichwan, M.A. (Wakil Direktur Pascasarjana), Ahmad Rafiq, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D (Ketua Program Studi Doktor) dan seluruh jajaran pengelola Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, disampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan yang diberikan kepada penulis atas bimbingan, arahan, bantuan, pemberian fasilitas, dan pelayanannya yang diberikan kepada penulis selama mengikuti proses perkuliahan, sampai terselesaikannya disertasi ini.

2. Prof. Noorhaidi, S.Ag., MA., M.Phil., Ph.D dan Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., MA., Ph.D selaku Promotor. Di tengah-tengah kesibukan, beliau berdua bersedia membimbing penulis dengan cermat dan sabar, serta saran maupun kritik yang disampaikan membuat penulis menemukan arah dan tujuan dalam menyelesaikan Disertasi ini.

(23)

3. Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si., Dr. Hj. Sri Sumarni, M.Pd., dan Prof. Dr. H. Anik Ghufron, M.Pd., selaku para penguji yang telah memberikan banyak masukan, arahan, dan perbaikan pada ujian pendahuluan dan tertutup.

4. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Ir.

Ircham, M.T., selaku Rektor ITNY dan Ibu Solikhah Retno Hidayati, S.T., M.T, selaku Kepala Departemen Perencanaan dan Desain ITNY. Atas perhatian beliau berdua, penulis telah diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi lanjut program Doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tidak lupa juga kepada Bapak Sutrisna, S.T., M.T, yang waktu itu sebagai Warek I, telah memberikan referensi akademik sebagai syarat melanjutkan program Doktor.

5. Para narasumber yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk diwawancara, antara lain: Drs. H.A.

Hafidz Asram, M.M. (Al-Azhar Yogyakarta), Prof.

Dr.H.M. Amien Rais beserta Ibu Kusnariyati Amien; Mbak Tasniem Rais (Budi Mulia Dua), Ir. Hj. Lilik Indriati dan Ustadz Wijayanto (Bina Anak Sholeh), Mas Yuswohady (Direktur Middle Class Institute Jakarta), Prof. Azyumardi Azra, CBE (UIN Syarif Hidayatullah), Dr. Fahmy Alaydroes (Jaringan Sekolah Islam Terpadu Pusat), Ahmad Burhan (Jaringan Sekolah Islam Terpadu Yogyakarta), Alm. K.H. Sunardi Syahuri (DDII Yogyakarta) Allahu Yarham, Dr. Ali Mahmudi (UNY) dan segenap informan yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah bersedia diganggu waktunya untuk diwawancarai, diobservasi, maupun bantuan-bantuan lainnya dalam proses pengumpulan data penelitian ini.

6. Prof. Dr. Achmad Dardiri S.U (UNY), Prof. Dr. Usman Abu Bakar, M.A (IAIN Surakarta). Atas dorongan dan motivasi beliau berdua, penulis bersemangat melanjutkan studi program Doktor.

7. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada kedua orangtua, H. Mudji Hartono, S.Pd., S.H dan Hj. Dwi Djumiati. Penulis yakin, hasil ini adalah buah dari ketulusan do‟a Bapak dan Ibu di rumah. Serta tidak lupa penulis sampaikan kepada adinda H. Meredian Alam, M.A., M.Phil., PhD atas diskusi dan masukan selama berlangsungnya penulisan Disertasi ini.

(24)

8. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Putri Naufia, sang istri tercinta yang setiap saat mendampingi penulis, baik dalam suka maupun duka, beserta anak-anak, Azmy, Aqilah, Aisha, untuk sementara waktu mengorbankan kebersamaan dan rasa nyaman demi terselesaikan studi ini.

9. Terakhir, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada teman-teman sekelas, Pak Ali, Mas Lahmi, Pak Sukino, Pak Salim, Bu Har, Mas Benny, Mas Mus, Bu Faila, Eyang Adzfar, Mas Burhan, Mas Imam, Mas Katni dan kawan- kawan seperjuangan studi Islam yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Semoga tetap terjalin kehangatan silaturahim sampai kapanpun.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Yogyakarta, Agustus 2019 Penulis,

Lukis Alam, SS., M.S.I

(25)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i Pengesahan Rektor ... ii

Yudisium ... iii

Dewan Penguji ... iv

Pernyataan Keaslian dan bebas Plagiarisme... v Pengesahan Promotor ... vi Nota Dinas ... vii

Abstrak ... xii

Pedoman Transliterasi Arab-Latin ... xviii

Kata Pengantar ... xxii

Daftar Isi ... xxv

Daftar Tabel ... xxviii Daftar Gambar ... xix Daftar Grafik ... xxx

BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 8 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8 D. Kajian Pustaka ... 9 E. Kerangka Teori ... 12 F. Metode Penelitian ... 22 G. Sistematika Pembahasan ... 24

BAB II SEJARAH SEKOLAH ISLAM ELITE ... 29 A. Panggung Arena Kekuasaan dan

Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia ... 29 B. Dominasi Simbolik Pemerintah

Terhadap Pendidikan Islam Modern ... 44 C. Persinggungan Gerakan Tarbiyah dan

Islamisasi Pendidikan ... 58 D. Sekolah Islam Elite di Yogyakarta dan

Heterodoxa Kebatinan Para Pendiri ... 65

BAB III PROFIL SEKOLAH ISLAM ELITE ... 91 A. Al-Azhar Yogyakarta ... 91 1. Jumlah Siswa ... 91

(26)

2. Fasilitas Pendidikan ... 92 3. Struktur Lembaga... 92 4. Biaya Pendidikan ... 93 5. Karakter Sekolah ... 95 B. Yayasan Budi Mulia Dua ... 99 1. Jumlah Siswa ... 99 2. Fasilitas Pendidikan ... 100 3. Struktur Lembaga... 100 4. Biaya Pendidikan ... 101 5. Karakter Sekolah ... 102 C. Sekolah Islam Berwawasan

Internasional BIAS (Bina Anak Sholeh) 104 1. Jumlah Siswa ... 104 2. Fasilitas Pendidikan ... 105 3. Struktur Lembaga... 105 4. Biaya Pendidikan ... 106 5. Karakter Sekolah ... 109 D. Modal Sosial Sekolah Islam Elite

Terhadap Masyarakat ... 111

BAB IV SEKOLAH ISLAM ELITE DALAM BINGKAI KURIKULUM NASIONAL .... 121 A. Doxa Kekuasaan Dalam Pelembagaan

Kurikulum Nasional ... 121 B. Persentuhan Pendidikan Islam Modern

dan Sistem Pendidikan Nasional ... 128 C. Integrasi Struktur Kurikulum

Pendidikan Islam dan Kurikulum Nasional ... 144 D. Kurikulum Sekolah Islam Elite di

Yogyakarta ... 151

BAB V SISTEM PENDIDIKAN SEKOLAH ISLAM ELITE ... 163 A. Tenaga Akademik dan Manajerial ... 163 B. Full Day School dan Habitus

Pembiasaan Karakter di Sekolah ... 171 C. Bakat dan Potensi Anak: Penciptaan

Distinction Terhadap Pembelajaran ... 183

(27)

D. Pendidikan Integratif: Islamisasi Sains Pendidikan Nasional ... 195

BAB VI KELAS MENENGAH MUSLIM DI INDONESIA ... 207 A. Industrialisasi Dalam Masyarakat Kelas

Menengah ... 207 B. Kemakmuran dan Perubahan Selera

Politik Penguasa ... 212 C. Kesalehan Populer: Reproduksi

Kultural Kelas Menengah Muslim ... 221 D. Komodifikasi dan Konsumsi Kelas

Menengah Muslim... 230 E. Demografi Kelas Menengah Muslim di

Indonesia ... 241

BAB VII ASPIRASI PENDIDIKAN KELAS MENEGAH MUSLIM ... 247 A. Model Parenting Kelas Menengah

Muslim ... 247 B. Menguatnya Kesadaran Moral dan

Kesalehan Kelas Menengah Muslim ... 252 C. Profil Orangtua Kelas Menengah

Muslim ... 258 D. Alasan Memilih Kelas Menengah

Muslim Elite ... 261 1. Pentingnya Investasi Kesalehan

Bagi Anak ... 261 2. Kualitas Akademik ... 269 3. Full Day School: Konsekuensi

Pendidikan Modern... 275 4. Post-Islamisme Dalam Bingkai

Pendidikan Islam Modern ... 278

BAB VIII PENUTUP ... 291 A. Kesimpulan ... 291 B. Saran ... 294

DAFTAR PUSTAKA ... 297 DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 317

(28)

DAFTAR TABEL

Tabel II.1 Persebaran Sekolah Islam Al-Azhar Indonesia, 77

Tabel III.1 Besaran Biaya Al-Azhar 31, 94

Tabel III.2 Besaran Biaya Al-Azhar Kelas Bilingual, 94

Tabel III.3 Besaran Biaya BIAS, 107

Tabel IV.1 Capaian Kurikulum, 143

Tabel IV.2 Struktur Kurikulum 2006 SD/MI, 145

Tabel IV.3 Struktur Kurikulum MI KMA No. 207/2014, 147

Tabel IV.4 Struktur Kurikulum 2006 MTS/SMP, 149

Tabel IV.5 Struktur Kurikulum MTS KMA No.207/2014, 149

Tabel IV.6 Struktur Kurikulum MA Kelas X Umum, 150

Tabel IV.7 Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas X, 151

Tabel IV.8 Struktur Kurikulum SD Al-Azhar Yogyakarta, 156

Tabel IV.9 Struktur Kurikulum SD Budi Mulia Dua, 159

Tabel IV.10 Struktur Kurikulum SD BIAS Yogyakarta, 161

(29)

DAFTAR GAMBAR

Gambar III.1 Struktur Lembaga SD Islam Al-Azhar Yogyakarta, 93

Gambar III.2 Struktur Lembaga Budi Mulia Dua, 101

Gambar III.3 Struktur Lembaga sekolah Islam BIAS, 105

Gambar IV.1 Delapan Basis Pembelajaran Budi Mulia Dua, 152

(30)

DAFTAR GRAFIK

Grafik III.1 Grafik Peserta Didik SD Islam Al-azhar Yogyakarta, 91

Grafik III.2 Grafik Peserta Didik Budi Mulia Dua, 99

Grafik III.3 Grafik Peserta Didik BIAS, 102

Tabel VI.1 Grafik Persentase Penduduk Muslim, 248

Tabel VI.2 Grafik Pertumbuhan Kelas Menengah Muslim, 243

Tabel VII.1 Grafik Profil Orangtua Muslim, 260

(31)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keberadaan pesantren dan madrasah bukan lagi mendominasi diskursus pendidikan Islam kontemporer. Era 60-an muncul model pendidikan yang mengadopsi sistem kedua lembaga tersebut, dengan tetap mempertahankan karakteristiknya sebagai pendidikan Islam modern.1 Lembaga pendidikan yang dimaksud adalah sekolah Islam yang pertumbuhannya banyak diminati oleh kalangan menengah muslim.2 Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar menjadi pioner untuk model pendidikan tersebut. Sepuluh tahun berikutnya sekolah ini menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Seiring meningkatnya popularitas Al-Azhar, bermunculan juga model sekolah serupa misalnya, SMA Insan Cendekia di Serpong dan SMA Madania di Parung. Azyumardi Azra menyebut model pendidikan semacam itu sebagai sekolah Islam elite.3

1Ismatu Ropi,“Sekolah Islam untuk Kaum Urban: Pengalaman Jakarta dan Banten,” dalam Jajat Burhanuddin dan Dina Afrianty (ed)., Mencetak Muslim Modern, Peta Pendidikan Islam Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada dan PPIM UIN Jakarta, 2006), 241-257. Lihat, Charlene Tan, Islamic Education and Indoctrination: The Case in Indonesia (New York:

Routledge, 2011), 91-113; Noorhaidi Hasan, ”Islamizing Formal Education:

Integrated Islamic School and a New Trend in Formal Education Institution in Indonesia,” RSIS Working Paper, Singapore: Nanyang Technological University, 2009; Nurlena Rifai, ”The Emergence of Elite Islamic School,”

Dissertation, McGill University, 2006; Muhammad Zuhdi,” Political and Social Influences on Religious School: A Historical Perspective on Indonesian Islamic School Curricula,” Dissertation, McGill University, 2006.

2Azyumardi Azra, Dina Afrianty, Robert W.Hefner, “Pesantren and Madrasah: Muslim Schools and National Ideals in Indonesia” dalam Robert W.Hefner dan Muhammad Qosim (ed), Schooling Islam: The Culture dan Politics of Modern Muslim Education (Princeton: Princeton Press, 2007), 177.

3Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta:Logos,1999), 69-82. Mengacu istilah elite, penulis mencoba mendeskripsikan sebagai suatu pola pendidikan yang dilakukan

(32)

2

Perkembangan sekolah Islam elite di Indonesia berjalan secara paralel dengan pesantren dan madrasah. Dalam hal ini, ada perspektif yang menyatakan bahwa dalam struktur masyarakat yang religius, pendidikan dengan penekanan pada kehidupan keagamaan dan moral akan memiliki pangsa

“pasar” yang cukup potensial.4Pandangan tersebut yang menjadikan kelas menengah muslim menaruh perhatian utama terhadap masa depan pendidikan anak-anak mereka.

Di satu sisi, kelas menengah muslim masih melihat pesantren dan madrasah merupakan lembaga yang efektif membentengi anak-anak mereka dari kerusakan moral, karena kedua lembaga tersebut secara intensif dan fokus mengajarkan model kehidupan keberagamaan yang baik.5 Di sisi berbeda, selain mengajarkan pengetahuan agama, lembaga pendidikan Islam dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan jaman dengan mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada para peserta didik.6

Persoalan kurangnya perhatian atas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak jarang memunculkan suara- suara sumbang bahwa lembaga pendidikan Islam hanya menjadi “pelabuhan terakhir” setelah berlomba dengan sekolah umum, terlebih setelah kalah berkompetisi dengan sekolah- sekolah umum non-Islam.7

oleh suatu kelas tertentu. Simbol kemakmuran dan kesejahteraan mempengaruhi orientasi pemilihan lembaga pendidikan tertentu.

Representasi kedua aspek tersebut yang melekat kepada kelas menengah menjadi faktor yang mendukung tersedianya pendidikan yang elitis. Lihat, Agnes van Zanten. The Sociology of Elite Education (England: The Routledge International Handbook of the Sociology of Education, 2009), 329-339. Selanjutnya, tiga lembaga pendidikan Islam dalam penelitian ini disebut sebagai sekolah Islam elite.

4Penuturan Yuswohady, Direktur MCI (Middle Class Institute) Jakarta, Mei 2017.

5FGD (Forum Discussion Group) dengan orangtua BIAS, Mei 2017.

6FGD (Forum Discussion Group) dengan orangtua Al-Azhar Yogyakarta, Mei 2017.

(33)

3

Kegelisahan akan masa depan pendidikan Islam ini dirasakan secara kolektif oleh sebagian kelas menengah muslim, yang pada tahap selanjutnya mempromosikan perasaan berbeda antara kelompoknya dengan kelompok lainnya, seperti perasaan ketertinggalan umat Islam dibanding kelompok lain, terlebih dalam bidang pendidikan.8 Hal tersebut selanjutnya menjadi identitas pembeda yang memicu keinginan lebih kuat untuk semakin mengintensifkan dalam gerakan untuk mengubah situasi yang didasarkan atas perasaan ketertinggalan itu. Maka, salah satu cara dalam mengatasi perasaan ketertinggalan tersebut adalah dengan melakukan pengembangan bidang pendidikan. Di kemudian hari andil kelas menengah muslim inilah yang turut mempopulerkan pendirian sekolah Islam elite.9

Sebagaimana disebutkan di atas, Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar mengawali pendirian sekolah Islam elite menjadi penanda awal adanya partisipasi dan kepedulian umat Islam untuk membangun identitas khusus pendidikan Islam saat itu, karena di saat yang sama juga telah menjamur sekolah-sekolah yang dikelola lembaga nirlaba seperti Tarakanita, Santa Maria, dan Santa Ursula, atau sekolah- sekolah umum baik negeri maupun swasta yang telah ada setelah zaman kemerdekaan.10 Bersamaan dengan itu, muncul kesadaran kelas menengah muslim akan pentingnya nilai-nilai keberagamaan yang menjadi fondasi dalam kehidupan.

Selanjutnya, kesadaran keberagamaan yang dialami kelas menengah muslim ini, dalam pandangan Azyumardi Azra, dikategorikan sebagai fenomena santrinisasi model baru.

Sebutan itu berbeda dari klasifikasi santri di pesantren pada umumnya.11

8Penuturan YPI Al-Azhar Jakarta, Mei 2017.

9Penuturan Yuswohady, Direktur MCI (Middle Class Institute) Jakarta, Mei 2017.

10 Ropi, Sekolah Islam, 247-248.

11Azra, Pendidikan, 69-82.

(34)

4

Penamaan sekolah Islam elite dilatarbelakangi oleh sejumlah kriteria. Jika dilihat dari aspek akademik, dalam beberapa kasus untuk menjadi siswa di sekolah-sekolah tersebut harus melalui seleksi ketat dan siswa terbaik yang diterima. Hal ini dimaksudkan untuk menjaring calon murid yang berkualitas. Menurut lembaga, strategi yang baik tersebut bertujuan untuk menarik perhatian kelas menengah yang menginginkan agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan terbaik, kuat dari pendidikan umum maupun secara agama.12

Demikian juga para pengajar diseleksi dengan ketat.

Hanya calon pendidik atau pengajar memenuhi kualifikasi terbaik yang diizinkan mengajar. Selain itu, lembaga-lembaga tersebut telah mengokohkan diri sebagai institusi modern dan dikelola para profesional dalam hal manajemen dan pengembangan kurikulum. Untuk mendukung hal tersebut, selain guru, para staff dan manajerial direkrut secara kompetitif dan profesional dengan mempertimbangkan keahlian di bidangnya masing-masing.13

Sekolah-sekolah tersebut memiliki berbagai sarana prasarana pendidikan yang jauh lebih baik dan lebih lengkap seperti perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, ruang komputer, masjid, AC, dan sarana olahraga. Bahkan, dalam pengamatan di lapangan, disediakan pula boarding school (sekolah berasrama) yang mengadopsi sistem pesantren untuk membina kedisiplinan dan kesalehan dalam keseharian peserta didik. Oleh sebab itu, sekolah-sekolah tersebut mengenakan biaya yang relatif mahal untuk orang muslim kebanyakan.14

12Mengenai soal ini, bila di SDI Al-Azhar Yogyakarta kelas Billingual (kelas berbahasa Inggris), calon siswa diseleksi dengan ketat. Pihak sekolah akan memperhatikan latarbelakang sekolah sebelumnya (Taman Kanak- Kanak).

13 Azra, Pendidikan…, 69-82.

14Bagi sebagian orangtua, biaya pendidikan di sekolah Islam elite seperti yang disebutkan dalam penelitian ini terlihat mahal. Maka, tidak semua

(35)

5

Biaya yang dibayarkan variatif jumlahnya, selain untuk biaya pendaftaran dan biaya bulanan, orangtua akan dikenakan sejumlah biaya sumbangan atau uang pembangunan yang disyaratkan sekolah. Belum termasuk biaya makan dan penginapan jika sekolah tersebut merupakan boarding school.

15

Maraknya sekolah Islam elite di perkotaan di satu sisi merupakan respon ketidakpuasan kelas menengah muslim terhadap pendidikan modern yang dianggap belum mampu memberikan kesesuaian terhadap pengembangan Iptek dan moral para siswa.16 Lebih jauh, esensi pendidikan selain mengajarkan ilmu pengetahuan, tentunya juga membentuk akhlak dan kepribadian siswa dan melindungi mereka dari hal- hal negatif seperti, penggunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas, serta kenakalan remaja. Kegelisahan semacam ini membuat kelas menengah berpikir bagaimana jika hal-hal tersebut menimpa anak mereka.17 Dengan demikian, mengintensifkan pendidikan umum yang diintegrasikan dengan pendidikan agama menjadi poin yang sangat penting sebagai upaya melakukan Islamisasi pendidikan formal di sekolah,agar anak terhindar dari hal-hal yang merugikan sebagaimana disebutkan di atas.18

Wacana integrasi sains dengan agama mengalami peningkatan sejalan dengan kesadaran umat Islam terhadap pola pendidikan yang menggabungkan cara pandang Islam yang komprehensif. Artinya, pengetahuan saja tidak cukup jika tidak ditunjang dengan integritas moral. Oleh karena itu,anak perlu dididik dan dilatih untuk menerima Islam sebagai

15Ibid.

16Penulis melakukan forum discussion group kepada beberapa orangtua siswa di Budi Mulia Dua, Al-Azhar, dan BIAS, Agustus, 2017.

17Lyn Parker dan Pam Nilan, Adolescents in contemporary Indonesia (London: Routledge, 2013).

18Ibid.

(36)

6

konstruksi utuh yang bisa diaktualisasikan dalam berbagai aspek seperti, sosial, budaya, ekonomi, dan agama.19

D sisi lain, pendidikan dianggap sebagai investasi.Hal ini yang memberikan kesempatanbagi sekolah Islam untuk berkembang di perkotaan. Charlene Tan menyebut sekolah ini sebagai model Islamic School with smiling face20 yang mengajarkan Islam dengan prinsip inklusivitas. Prinsip ini menekankan bahwa pengajaran dalam sistem sekolah ini,tidak berpihak pada paham-paham tertentu. Tidak mengherankan bila sekolah Islam elite menjadi penyedia pendidikan yang berkualitas bagi kelas menengah, yang secara bersamaan mengajarkan ilmu agama dan pengetahuan umum.21

Menguatnya aspirasi kalangan menengah terhadap pendidikan berkualitas (high educational aspirations) merupakan transformasi sosial yang difasilitasi oleh kemampuan mereka secara finansial.22 Hal tersebut merupakan bagian dari kesadaran diri membangun etos kosmopolitan di era global yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan mereka.23

Berpijak dari argumentasi di atas, menjamurnya sekolah Islam elite memiliki daya tarik yang patut diteliti. Hal pertama yang menjadi perhatian dengan adanya model pendidikan ini adalah berkembangnya fenomena santrinisasi di perkotaan.

19Ahmad Syarief, Pengenalan Kurikulum Sekolah dan Madrasah (Bandung: Citra Umbara, 1997), 146-148.

20Charlene Tan, “Islamic Schools in Indonesia: Islam with a Smiling Face?” dalam Charlene Tan (ed), Islamic Education and Indoctrination: The Case in Indonesia (New York: Routledge, 2011), 91-113.

21Yuswohady, Marketing To The Middle Class Muslim: Kenali Perubahannya, Pahami Perilakunya, Petakan Strateginya (Jakarta:

Gramedia,2014), 159-186.

22Elisabet Weedon dkk., “Muslim Families’ Educational Experiences in England and Scotland,” Final Report, Centre For Research in Education Inclusion and Diversity (CREID), 2013, iii.

23Amanda Gilbertson, “Aspiration as Capacity and Compulsion:The Futures of Urban Middle Class Youth in India,” dalam Amy Stambach and Kathleen D. Hall (ed), Anthropological Perspectives on Student Futures Youth and the Politics of Possibility (New York: Palgrave Macmillan,

(37)

7

Selain menawarkan pendidikan yang berkualitas, sekolah- sekolah tersebut juga memberikan kontribusi terjadinya proses santrinisasi di ruang publik.

Siswa yang ada di sekolah tersebut telah mengalami Islamisasi gaya baru. Di samping belajar pengetahuan umum dan agama, mereka dituntut untuk mempraktikkan apa yang diajarkan di kelas. Dengan membawa pengetahuan agama yang diperoleh di kelas dan dibawa pulang ke rumah. Bahkan dalam beberapa kasus, adakalanya para siswa tersebut mengajarkan kepada orangtua mereka yang acapkali kurang memiliki pengetahuan agama. Akibatnya, orangtua pun terpanggil dan terdorong untuk mempelajari Islam.

Hal tersebut merupakan pola baru santrinisasi yang muncul di kalangan menengah muslim. Secara normatif, santrinisasi biasa dilakukan oleh para da’i melalui majlis taklim atau dakwah yang diselebrasikan dan dihelat di masjid, atau di lokasi lain yang digemari oleh kaum muslimin untuk menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Berpijak dari fenomena kultural ini dapat dilihat bahwa sekolah Islam elite secara tidak langsung telah melakukan proses santrinisasi non- formal.24

Hal kedua mengenai fenomena antusiasme kelas menengah mengirim anak ke sekolah Islam bisa juga dilihat sebagai pergeseran orientasi terhadap pendidikan Islam modern. Kurun waktu 90-an, memasukkan anak ke sekolah umum merupakan kebanggaan karena memiliki kualitas yang bagus. Bahkan, Pendidikan Islam di era tersebut masih kalah pamor dengan sekolah Kristen yang memiliki kualitas terbaik.

Namun, dengan pertumbuhan sekolah Islam elite yang semakin meningkat, aspirasi untuk mendapatkan sekolah yang berkualitas dapat terpenuhi.

24 Tan, Islamic…,91-113.

(38)

8

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, ada tiga rumusan masalah yang dijawab dalam penelitian ini :

1. Mengapa sekolah-sekolah Islam elite tersebut muncul dan berkembang di Yogyakarta ?

2. Bagaimana karakteristik sekolah-sekolah Islam elite di Yogyakarta ?

3. Mengapa kelas menengah muslim menyekolahkan anak- anak mereka ke sekolah Islam elite?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan pertanyaan utama dalam rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan disertasi ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan dinamika kemunculan dan perkembangan sekolah Islam elite di Yogyakarta dalam persinggungannya dengan pendidikan Islam modern.

2. Untuk menarasikan karakteristik dan posisi dari masing- masing sekolah Islam elite yang tetap menjadi bagian dari Sistem Pendidikan Nasional.

3. Untuk menjelaskan alasan kelas menengah muslim dalam memilih sekolah Islam elite sebagai model pendidikan yang sesuai dengan aspirasi pendidikan mereka.

Sedangkan manfaat yang diharapkan dalam penulisan disertasi ini adalah:

1. Sebagai pengayaan dan pengembangan atas kajian lembaga pendidikan Islam yang selama ini berfokus pada pesantren dan madrasah.

2. Sebagai pijakan referensi dalam penelitian untuk melihat sejauh mana dinamika sekolah Islam elite dan kelas menengah muslim di Yogyakarta.

3. Sebagai bahan kajian akademis atas dinamika sekolah Islam elite di Yogyakarta.

(39)

9

D. Kajian Pustaka

Berkaitan dengan pertumbuhan sekolah Islam elite, tulisan Azyumardi Azra , Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru25 dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk mengetahui kemunculannya. Sebagai sekolah yang banyak didirikan di perkotaan tentunya memiliki magnet tersendiri dalam memikat kelas menengah muslim.

Tulisan tersebut menyoroti kemunculan Sekolah Islam elite yang awalnya tumbuh di sekitar Jakarta, yaituYPI Al- Azhar. Sekolah ini diprakarsai diera 60-an oleh Buya Hamka.

Lambat laun pertumbuhannya semakin cepat, merambah beberapa kota di Indonesia. Selain itu,di era 90-an didirikan juga SMA Madania yang dimiliki oleh yasasan Paramadina, diketuai oleh Nurcholish Madjid. Karena dukungan sejumlah Muslim kaya dan terkemuka, perkembangan SMA Madania begitu cepat. Al-Azhar dan Madania menggunakan kurikulum Pendidikan dan Kebudayaan yang diperkaya dengan muatan Islam. Selain kedua sekolah itu, ada juga MAN Insan Cendekia yang didirikan pada tahun 1996 oleh B.J. Habibie. Sekolah ini menegaskan kepada umat Islam agar tidak mengabaikan ilmu pengetahuan dan teknologi dan fokus pada ilmu agama saja.

Melainkan, keduanya harus dipelajari secara utuh supaya tercipta generasi yang unggul dalam sains dan mumpuni dalam agama.

Sepaham dengan Azyumardi Azra, penelitian Ismatu Ropi yang berjudul Sekolah Islam untuk Kaum Urban: Pengalaman Jakarta dan Banten,26 memaparkan bahwa sekolah-sekolah Islam seperti,YPI Al-Azhar, Insan Cendekia, Madania menjadi pusat reproduksi generasi muslim perkotaan yang dalam berbagai aspek tidak memiliki ikatan ideologis dengan Nahdatul Ulama maupun Muhammadiyah. Sekolah-sekolah itu

25Azra, Pendidikan…,69-82.

26Ismatu Ropi, “Sekolah”, dalam Jajat Burhanuddin dan Dina Afrianty (ed)., Mencetak Muslim Modern, Peta Pendidikan Islam Indonesia (Jakarta:

Raja Grafindo Persada & PPIM UIN Jakarta, 2006), 241-267.

(40)

10

secara khusus tidak mengajarkan sejarah Islam, fikih dan teologi sebagai materi utama seperti di pesantren dan madrasah. Pembelajaran di sekolah-sekolah itu menekankan keseimbangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terintegrasi dengan moral yang dilandasi ajaran agama.

Dengan demikian, bisa melahirkan generasi baru muslim yang disebut newly-reborn muslims, yang mempraktikkan nilai-nilai keislaman secara menyeluruh. Namun, tetap memiliki aspek kritis terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Disertasi Nurlena Rifai, The Emergence of Elite Islamic Schools in Contemporary Indonesia: A Case Study of al-Azhar Islamic School.27 Ia memfokuskan pada sekolah Islam elite Al- Azhar di Jakarta dengan mengidentifikasi karakteristik kemunculan sekolah Islam elite sebagai bentuk modernisasi pendidikan Islam di daerah urban. Perspektif berbeda, keberadaan sekolah Islam Al-Azhar dihadapkan pada tantangan untuk menyelenggarakan pendidikan berkualitas yang bisa bernegoisasi terhadap kebijakan pendidikan nasional. Di samping itu, sekolah Islam Al-Azhar diharuskan untuk memiliki kemampuan mengembangkan diri baik secara internal maupun eksternal, agar mampu menjawab tantangan jaman dan mampu berdinamisasi dengan pendidikan modern.28

Karen Bryner dalam disertasinya, Piety Project: Islamic Schools for Indonesia’s Urban Middle Class.Ia meneliti dua sekolah yang menampilkan aspek kesalehan di dalamnya.

Adapun sekolah yang ia teliti antara lain: sekolah Islam Al- Azhar 21 dan sekolah Islam Terpadu Lukman Al-Hakim.

Menurutnya, sekolah Islam Al-Azhar menampilkan identitas sebagai sekolah Islam yang tidak berafiliasi dengan organisasi Islam mana pun, walaupun demikian sekolah ini menjadi ikon

27Nurlena Rifai, “The Emergence of Elite Islamic Schools in Contemporery Indonesia: A Case Study of Al-Azhar Islamic School”, Dissertation, Department of Integrated Studies in Education McGiil University, 2006.

(41)

11

pendidikan Islam modern yang bisa diterima oleh berbagai kalangan.29

Sedangkan sekolah Islam terpadu Luqman Al-Hakim merupakan sekolah yang mempromosikan model Islam transnasional. Sekolah Islam Terpadu Lukman Al-Hakim berafiliasi ke JSIT. Maka, menurut Karen Bryner sekolah ini mengajarkan purifikasi Islam. Dalam praktiknya, sekolah ini mengembalikan ajaran Islam yang sesungguhnya dan mempromosikan praktik-praktik Ibadah sesuai standar Islam.

Sehingga kedua sekolah tersebut memberikan gambaran atas dinamika kesalehan yang diproduksi melalui lembaga pendidikan Islam modern.

Berdasarkan elaborasi beberapa hasil penelitian di atas, peneliti terdorong dan terinspirasi untuk melanjutkan dan menentukan fokus penelitian ini. Fokus penelitian ini adalah dinamika sekolah Islam yang semakin diminati oleh kalangan menengah muslim. Ada aspirasi mereka yang tidak bisa dijembatani pada model pendidikan lain, seperti sekolah negeri maupun madrasah. Beragam latarbelakang didirikannya sekolah Islam elite berpengaruh pada sistem pendidikan yang diselenggarakan. Bersamaan dengan itu, sekolah Islam elite diwajibkan untuk mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sesuai dengan Sistem pendidikan Nasional.

Selain itu, karakteristik penelitian ini terletak pada kelas menengah yang mencoba untuk menempatkan sekolah Islam elite bagian dari mode of consumption di era modern saat ini.

Dalam konteks demikian, pendidikan semacam ini memegang peranan krusial dalam menanamkan ideologi konsumsi kelas menengah, yang dianggap sebagai pilihan yang terbaik dalam menghadirkan kualitas pendidikan yang sejalan dengan kebutuhan modern bagi putra-putri mereka.

Sekolah Islam elite mencoba menghadirkan model pendidikan yang berbeda dengan sekolah pada umumnya.

29Karen Bryner, “Piety Project: Islamic Schools for Indonesia’s Urban Middle Class”, Dissertation, Columbia University, 2013.

(42)

12

Konsekuensinya, orangtua muslim didorong untuk terlibat secara intensif dalam pendidikan yang diselenggarakan.

Bentuk dukungan tersebut tidak lepas dari aspek finansial yang dibutuhkan, karena untuk mewujudkan kualitas yang bagus, maka dibutuhkan dana yang cukup besar untuk menopangnya.

E. Kerangka Teori

1. Pandangan Bourdieu Terhadap Konstruksi Kelas Menengah dan Pendidikan Elitis

Topik kelas menengah di Indonesia kerap diperbincangkan para akademisi sosial semenjak era 80-an, di mana menjadi tonggak pencapaian kemakmuran ekonomi pada masa tersebut. Kelas ini menjadi stratifikasi baru dalam struktur masyarakat Indonesia yang dipengaruhi dinamika kekuasaan dan politik Orde Baru. Demikian juga kalangan menengah ikut melejitkan kekuatan baru umat Islam dalam menampilkan aspirasinya ke ruang publik.

Mengidentifikasi eksistensi kelas menengah di Indonesia merupakan hal yang kompleks dan memerlukan perspektif tertentu. Oleh karena itu, preferensi dalam melihat kelas menengah akan lebih mudah dilihat bila menggunakan pola konsumsi yang dilakukan.30 Solvay Gerke memaparkan pola konsumsi kelas menengah telah berubah dari pemenuhan kebutuhan mendasar (basic needs fulfilled approach) menjadi pemenuhan kebutuhan simbol, status, dan gaya hidup (symbolic consumption approach).

Oleh karena itu, bergesernya pola pemenuhan konsumsi tidak berdasarkan pada kebutuhan, tetapi berbasis

30Howard Dick dalam Richard Tanter and K.Young(ed), The Politics of Middle Class Indonesia (Clayton: Monash University, 1990), 64; Lizzy Van Leeuwen, Air Conditioned Lifestyle: New Rijken in Jakarta (Amsterdam:

(43)

13

penguatan status sosial yang lebih mengedepankan kebutuhan sekunder dan tersier.31

Pemenuhan kebutuhan yang dilakukan kelas menengah untuk menunjang gaya hidup juga disepakati oleh Mark Weber, lebih spesifik ia menunjukkan identitas kelas menengah pada kelompok sosial khusus dan memiliki status di masyarakat. Lahirnya kelompok status ini karena dibentuk berdasarkan gaya hidup,karisma, atau dilahirkan oleh kekuasaan politik. Ciri khas dari kelompok sosial ini bisa dilihat dari penguatan prestise yang senantiasa melekat dalam kelompok ini.32

Memahami Bourdieu menempatkan struktur kelas sosial sebagai hal yang fundamental menjadi prinsip klasifikasi yang memberikan struktur mengenai dunia sosial dan menentukan selera memang membutuhkan eksplorasi yang mendalam. Tentunya hal tersebut erat kaitannya dengan kelas sosial dan selera itu sendiri. Maka, konstruksi Bourdieu mengenai kelas sosial menjadi upaya untuk menginstitusionalisasi batas-batas kelas (class boundaries) yang ditentukan oleh kekuasaan simbolik.33

Berinteraksi sebagai individu yang memiliki mobilitas dalam ruang sosial dan pemilihan gaya hidup tertentu menjadikan mereka memiliki pengalaman serupa yang cenderung menciptakan habitus yang serupa, pada akhirnya melahirkan habitus kelas.34 Habitus akan membentuk kesiapan fisik dalam konteks bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, habitus menuntut dalam pembiasaan sikap. Bahkan, memerlukan tindakan

31Solvay Gerke,”Global Lifestyles under Local Conditions: The New Indonesian Middle Class,” dalam Chua Beng-Huat(ed), Consumption in Asia: Lifestyles and Identities (London: Routledge, 2000), 135-158.

32Hans H. Gerth dan C.Wright Mills (ed), From Max Weber: Essays in Sociology (New York: Oxford University Press, 1946), 45-70.

33Pierre Bourdieu, Distinction: A Social Critique ofthe Judgement of Taste (Cambridge: Harvard University Press, 1984), 169-173.

34Ibid.

(44)

14

sosial yang terlembagakan dan menampilkan identitas yang sama. Sikap demikian menyebabkan diferensiasi sosial di lingkungan di mana mereka berinteraksi.

Ruang sosial merupakan arena kekuasaan yang bersifat multidimensional. Struktur arena kekuasaan multidimensional ini ditopang oleh prinsip pengkategorian sosial berdasarkan perbedaan distribusi modal yang dapat digunakan secara aktif untuk memperoleh kekuasaan.

Bentuk-bentuk modal yang paling menentukan adalah modal ekonomi, modal budaya, modal sosial dan modal simbolik.35

Kelas-kelas sosial dengan memasukkan dimensi budaya, simbolik, moral dan psikologi. Habitus akan membentuk kesiapan fisik dalam konteks bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, habitus menuntut seseorang terutama bagi kalangan menengah sudah menjadi kebiasaan dalam lingkungan mereka.

Dalam pandangan Bourdieu, ketika ia melontarkan konstruksi habitus, sebenarnya ia tidak bisa melepaskan dari skema Aristotelian.36 Penegasan yang dilakukannya adalah dengan membuat substansi yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Jati diri manusia menjadi sesuatu yang terberi dan diterima-begitu-saja.37 Segala bentuk historisitas manusia tidak mempengaruhi jati diri asli manusia. Oleh karena itu, untuk mengetahui jati diri asli manusia membutuhkan abstraksi dan pemilahan yang hati-hati dari berbagai aksidensi dan habitusnya, maka apa yang tampak dari manusia—berbagai perilaku, praksis, dan habitus manusia dalam kesejarahannya - hanyalah aksidensi yang kebetulan saja. Maka, Manusia, sebagai individu yang berelasi dengan struktur sosialnya, merupakan agen yang

35Pierre Bourdieu, ”The Social Space and The Genesis Of Groups,”

Theory and Society, Vol.14, No. 6, (November 1985), 723-744.

36Ibid.

(45)

15

aktif sekaligus pasif dalam membentuk habitusnya. Dalam membentuk habitusnya, agen tidak pernah bisa terlepas dari pengaruh yang diberikan struktur sosialnya.38

Melalui habitus juga yang digambarkan sebagai sebagai struktur yang menstrukturkan dan distrukturkan, struktur sosial-termasuk norma-norma dan perilaku sosial- ditubuhkan ke dalam diri agen yang kemudian direproduksi ulang oleh agen melalui praktek sosialnya. Maka, dengan ini habitus bersifat imanen.39

Habitus dikonstruksi secara simultan melalui praktek keseharian manusia, dan itu dilakukan secara repetitif dan tidak sadar. Dalam pada itu, struktur habitus diproduksi melalui pengalaman yang bersifat ekonomis dan sosial.

Pengalaman ini terjadi dalam lingkup keluarga yang kemudian memproduksi dan mereproduksi habitus.

Berdasarkan pengalaman inilah habitus kemudian dijadikan basis untuk mempersepsi dan mengapresiasi pengalaman- pengalaman berikutnya.40 Sehingga habitus bisa ditularkan dari kelas sosial tertentu ke kelas lain melaluo instrumen sosialisasi yang berlangsung secara implisit. Sehingga tanpa disadari kelompok lain bisa “meniru” habitus sosial yang berinteraksi satu dengan lainnya.41

Habitus mengacu pada sekumpulan disposisi yang tercipta dan diformulasi melalui kombinasi struktur objektif dan sejarah personal. Disposisi diperolah melalui berbagai posisi sosial yang berada dalam suatu arena, dan mengimplikasikan suatu penyesuaian subjektif terhadap posisi itu. Di samping itu, habitus juga mencakup pengetahuan dan pemahaman seseorang mengenai dunia,

38Pierre Bourdieu, Outline of a Theory of Practices (Cambridge:

Cambridge University Press, 1977), 72.

39Ibid.

40Pierre Bourdieu, The Logic of Practice. terj. dari bahasa Prancis oleh Richard Nice (Stanford: Stanford University Pres, 1992), 55.

41David Swartz, Power & Culture: The Sociology of Pierre Bourdieu (Chicago dan London: The University of Chicago Press, 1997), 16-20.

Referensi

Dokumen terkait

SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak

Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku

Tesis Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2020. Pentingnya buku teks sebagai bahan ajar untuk

Kemampuan dalam mengembangkan materi pelajaran PAI seperti dialami Knf ini juga terjadi dalam diri guru pada kelompok yang secara esensi amat paham dengan materi PAI yang termuat

Si peneliti melihat proses dan hasil penelitian ini bisa menyimpulkan bahwa masalah-masalah yang dihadapi siswa selama ini adalah kurang lancarnya kemampuan mereka dalam

[r]

Metode Resources Leveling dalam perencanaan sumber daya manusia suatu proyek dapat menghasilkan histogram kebutuhan tenaga kerja yang ideal dibandingkan dengan

Penelitian ini ingin membuktikan apakah proporsi Aedes aegypti dan Aedes albpictus di dalam rumah dan kebun berhubungan dengan kejadian DBD dengan asumsi bahwa