II-1 BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan dijelaskan bagian kedua dari laporan tugas akhir ini yang membahas tentang teori-teori yang relevan dengan masalah pokok yang dikaji yang digunakan penulis untuk membangun sistem ini.
2.1 Penerbitan
Menurut [2] (E. Suhartini, 2011) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994:91), kata penerbit berarti diberikan dibawah kata terbit. Terbit antara lain mengandung arti keluar untuk diedarkan (tentang surat kabar, buku dan sebagainya) kata penerbit sebagai bentukan kata terbit mengandung arti orang atau perusahaan yang menerbitkan buku, majalah dan sebagainya. Pada mulanya, penerbitan adalah percetakan, yaitu sebagai pembuatan (manufacturing), dan belum berfungsi sebagaimana fungsinya yang sekarang, yakni sebagai promotor dari kata-kata tercetak.
2.1.1 Jenis Penerbitan Buku
Secara lebih luas, penerbit dapat digolongkan 3 yaitu:
1. Penerbitan Buku Umum
Pembaca sasaran penerbit ini adalah khalayak ramai yang sudah tentu sangat beragam, sukar dikenali dan sukar diperkirakan. Porsi terbesar karya penerbit jenis ini adalah buku fiksi. Dalam hal ini, pengarang yang sudah suskes dan terkenal merupakan kekayaan penerbit yang tak ternilai. Puncak penjualan buku umum biasanya dicapai pada setahun pertama penerbitan, yaitu pada saat penerbit mempromosikan buku- buku terbitan terbarunya.
II-2 2. Penerbitan Buku Anak-Anak
Pada penerbit jenis ini, judul-judul lama merupakan modal utama karena pada umumnya buku anak-anak yang klasik selalu dicetak ulang. Agar menarik buat pembaca yang masih kecil-kecil, buku anak-anak biasanya sarat warna, sehingga produksinya besar. Untuk mengatasi biaya sebesar itu, penerbit sering bekerja sama dengan penerbit lain. Khususnya penerbit luar negri untuk menerbitkan judul yang sama.
3. Penerbitan Buku Khusus
Dalam kelompok ini terdapat penerbit buku pelajaran sekolah dasar dan menengah (selanjutnya disebut penerbit buku sekolah), penerbit buku Universitas, dan penerbit buku ilmiah.
Diperkirakan 65%npenerbit di Indonesia bergerak dalam penerbitan buku sekolah (termasuk buku anak-anak), dan sekitar 15% menerbitkan buku Universitas. Penerbit buku ilmiah jumlahnya sangat sedikit, diperkirakan tidak sampai 5%
(ceramah ketua IKAPI, Juli 1990).
2.2 Supply Chain Management
Supply chain (rantai pengadaan) [4] adalah suatu sistem melalui mana suatu organisasi itu menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai ini juga merupakan jaringan atau jejaring dari berbagai organisasi yang saling berhubungan yang mempunyai tujuan yang sama yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran barang tersebut.
Kata penyaluran mungkin kurang tepat karena dalam istilah supply termasuk juga proses perubahan barang tersebut jadi misalnya dari bahan mentah menjadi barang jadi.
II-3 Konsep supply chain adalah juga konsep baru dalam melihat persoalan logistik. Konsep lama melihat logistik lebih sebagai persoalan intern masing- masing perusahaan dan pemecahannya dititik beratkan pada pemecahan secara intern di perusahaan masing-masing. Dalam konsep baru ini, masalah logistik dilihat sebagai masalah yang lebih luas yang terbentang sangat panjang sejak dari bahan dasar sampai barang jadi yang dipakai konsumen akhir yang merupakan mata rantai penyediaan barang.
Oleh karena itu, maka supply chain management dapat didefinisikan sebagai berikut: “Supply chain management is a set of approaches utilized to efficiently integrate suppliers, manufacturers, warehouses, and stores, so that merchandise is produced and distributed at the right quantities, to the right locations, at the right time, in order to minimize systemwide costs while satisfying service level requirement‟ (David Simchi-Levi)
Melihat definisi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa supply chain ialah logistics network. Dalam hubungan ini ada beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kepentingan yang sama tersebut yaitu suppliers,manufacturer, distribution, retail outlets, customers.
Chain 1 : Suppliers
Jaringan bermula dari sini, dimana merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama dimana mata rantai penyaluran barang akan bermulai. Bahan pertama ini dapat dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, subassemblies, spare parts dan sebagainya. Sumber pertama ini dinamakan suppliers. Dalam artinya yang murni, disini termasuk juga suppliers atau sub- suppliers. Supplier ini dapat berjumlah banyak atau sedikit, tetapi suppliers biasanya berjumlah banyak sekali. Inilah mata rantai yang pertama.
II-4 Chain 1 - 2 : Suppliers ► Manufacturer
Rantai pertama dihubungkan dengan rantai ke dua yaitu manufacturer atau plants atau assembler atau fabricator atau bentuk lain yang melakukan pekerjaan membuat, memfabrikasi, mengasembling, merakit, mengkonversikan ataupun menyelesaikan barang (finishing). Untuk keperluan tulisan ini, sebut saja bentuk yang bermacam-macam tadi sebagai manufacturer. Hubungan mata rantai pertama ini sudah mempunyai potensi untuk melakukan penghematan. Misalnya inventories bahan baku maupun bahan setengah jadi maupun bahan jadi yang berada di pihak suppliers maupun di manufacturer maupun di tempat transit merupakan target untuk penghematan ini. Tidak jarang bahwa antara 40% sampai 60% bahkan lebih penghematan dapat diperoleh dari inventory carrying cost di mata rantai ini. Dengan menggunakan konsep supplier partnering misalnya, penghematan ini dapat diperoleh.
Chain 1 - 2 - 3 : Suppliers ► Manufacturer ► Distribution
Barang yang sudah jadi yang sudah dihasilkan oleh manufacturer sudah mulai harus disalurkan kepada pelanggan. Walaupun tersedia banyak cara untuk penyaluran barang ke pelanggan, yang umum adalah melalui distributor dan ini biasanya ditempuh oleh sebagian besar supply chain. Barang dari pabrik melalui gudangnya disalurkan kepada gudang distributor atau wholesaler atau pedagang besar dalam jumlah besar dan pada waktunya nanti pedagang besar menyalurkan dalam jumlah yang lebih kecil kepada retailers atau pengecer.
Chain 1 - 2 - 3 - 4 : Supplier ► Manufacturer ► Distribution ► Retail Outlets
Pedagang besar biasanya mempunyai fasilitas gudang sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini digunakan untuk menimbun barang sebelum disalurkan lagi ke pihak pengecer. Sekali lagi disini ada kesempatan untuk
II-5 memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah inventories dan biaya gudang dengan cara melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik dari gudang manufacturer maupun kepada toko pengecer (retail outlets).
Walaupun ada beberapa pabrik yang langsung menjual barang hasil produksinya kepada pelanggan, namun secara relatif jumlahnya tidak banyak dan kebanyakan menggunakan pola seperti di atas.
Chain 1 - 2 - 3 - 4 - 5 : Supplier ► Manufacturer ► Distribution ► Retail Outlets ► Customers
Dari rak-raknya, para pengecer atau retailers ini menawarkan barangnya langsung kepada para pelanggan atau pembeli atau pengguna barang tersebut. Dalam pengertian outlets ini termasuk toko, warung, department store, super market, toko koperasi, mal, club stores dan sebagainya pokoknya dimana pembeli akhir melakukan pembelian. Walaupun secara fisik dapat dikatakan bahwa disini merupakan mata rantai yang terakhir, sebetulnya masih ada lagi yaitu mata rantai dari pembeli (yang mendatangi retail outlet tadi) kepada real customers atau real user, karena pembeli belum tentu pengguna sesungguhnya. Mata rantai supply betul-betul baru berhenti sampai barang yang bersangkutan tiba di pemakai langsung (pemakai yang sebenarnya) dari barang atau jasa dimaksud.
2.3 Sales and Distribution
Sales and Distribution adalah salah satu komponen kunci dari sistem ERP dan digunakan untuk mengelola pengiriman, penagihan, penjualan dan pengangkutan produk dan layanan dalam suatu organisasi.
Modul SAP Sales and Distribution adalah bagian dari modul SAP Logistics yang mengelola hubungan pelanggan mulai dari menaikan kuota
II-6 hingga pesanan penjualan dan penagihan produk atau layanan. Modul ini terintegrasi erat dengan modul lain seperti SAP Material [3] .
Gambar 2.1 Proses Bisnis Sales and Distribution [9]
SAP menyediakan banyak komponen untuk melengkapi struktur organisasi SAP Sales and Distribution seperti Sales Areas, Distribution Channels, Division, dll.
Struktur organisasi SAP SD terdiri dari dua langkah:
1) Penciptaan elemen organisasi dalam sistem SAP, dan 2) Menghubungkan setiap elemen sesuai kebutuhan.
Diatas struktur organisasi dalam modul SD, organisasi penjualan berada pada tingkat tertinggi dan bertanggung jawab atas distribusi barang dan jasa. SAP merekomendasikan agar jumlah organisasi penjualan dalam struktur organisasi minimum. Ini akan membantu dalam membuat proses pelaporan menjadi mudah dan idealnya harus memiliki satu organisasi penjualan.
II-7 Tingkat selanjutnya adalah distribusi, yang memberi tahu media dimana produk dan layanan didistribusikan oleh organisasi yang mewakili produk atau layanan dalam satu organisasi. Area penjualan dikenal sebagai entitas, yang diperlukan untuk memproses pesanan di peruahaan. Ini terdiri dari organisasi penjualan, saluran dan divisi. Dalam struktur organisasi SAP SD, setiap organisasi penjualan ditugaskan ke kode perusahaan. Kemudian saluran distribusi dan divisi ditugaskan ke organisasi penjualan dan semua ini terdiri dari area penjualan. Pada tahap pertama struktur organisasi penjualan ditugaskan ke kode perusahaan dan kemudian mendefinisikan saluran distribusi [5].
2.3.1 Proses Bisnis Sales and Distribution
Pada modul SAP SD, terdapat proses bisnis yaitu proses penjualan (sales order management). Dalam melakukan proses penjualan, terdapat beberapa proses bisnis yang harus dijalankan dan menghasilkan dokumen diantaranya [5][8] :
1) Presales
Upaya yang digunakan agar dapat terjadi penjualan (meyakinkan pelanggan agar bersedia membeli barang tersebut). Terdapat dua dokumen yang dibuat dalam Presales, diantaranya:
1) Inquiry
Pada tahap ini, pembeli masih bertanya-tanya mengenai produk yang akan dibeli dan tahap ini masih merupakan proses non-formal.
2) Quotation
Quotation merupakan penawaran barang dari penjual ke pembeli. Pada Quotation terdapat quantity yang harus diisi.
II-8 2) Sales Order Creation and Avaibility Check
Pesanan barang dari konsumen didokumentasikan dalam surat perintah penjualan (Sales Order) oleh CSR (Customer Sales Representative), sedangkan Avaibility Check adalah cek ketersediaan barang berdasarkan Sales Order yang telah dikeluarkan.
3) Delivery and Good Issue
Jika barang pesanan tersedia di gudang, berarti barang bisa dijual, dan dijadwalkan pengiriman barang ke pelanggan, setelah itu menentukan alat transportasi apa yang akan digunakan untuk mengirim barang ke pelanggan, dan apakah ada perlakuan dan kemasan khusus yang dibutuhkan untuk pengiriman, sesuai sifat barangnya. Tahap selanjutnya menentukan barang mana yang akan dikeluarkan dari gudang, mungkin berdasarkan tanggal stok atau kondisi barang, dan mengeluarkan barang dari gudang ke tempat pengemasan. Pada tahap ini barang sudah dikemas untuk pengiriman. Good Issue secara harafiah berarti pengeluaran barang dari gudang. Barang siap dikirimkan, diantarkan atau diserahkan ke pelanggan. Pada tahap ini biasanya dikelarkan surat jalan (Delivery Document), kemudian barang diantarkan atau dikirimkan ke pelanggan.
4) Billing
Dari SO (Sales Order) dan DD (Delivery Document) yang sudah dibuat, disusun tagihan ke pelanggan. Setelah tagihan diterima, pelanggan akan verifikasi kondisi barang setelah diantarkan, dan melakukan penyesuaian tagihan seperti pada proses procurement .