153
PENGARUH BRAND IMAGE, PRICE, DAN PHYSICAL EVIDENCE TERHADAP MINAT MENGINAP DI HOTEL
SHANGRI-LA SURABAYA
Siti Aisyah1,Dheo Juan Darmadinata2, Handy Aribowo3 STIE IBMT Surabaya
Email : 1[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh Brand Image, Price, dan Physical Evidence terhadap Minat Menginap di Hotel Shangri-La Surabaya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, menggunakan teknik pengambilan sampel non probability sampling dengan metode pemilihan sampel menggunakan purposive sampling. Adapun hasil penelitian ini adalah bahwa Brand Image berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Minat Menginap, Price berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Menginap, dan Physical Evidence berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Menginap
Kata kunci: Brand Image, Price, Physical Evidence,dan Minat Menginap
ABSTRACT
This study aims to examine the effect of Brand Image, Price, and Physical Evidence on Interest in Staying at the Shangri-La Hotel, Surabaya. This study used a quantitative approach, using non-probability sampling techniques with a sample selection method using purposive sampling. The results of this study are that Brand Image has a positive effect but not significant on Stay Interests, Price has a positive and significant effect on Stay Interests, and Physical Evidence has a positive and significant effect on Stay Interests.
Keywords: Brand Image, Price, Physical Evidence, and Interest in Staying
PENDAHULUAN
Penginapan adalah industri yang sedang sangat berkembang di dunia terutama di Indonesia sendiri di tahun 2019, hal ini sendiri didukung oleh pernyataan Menteri Pariwisata, Arief Yahya didalam wawancaranya dengan majalah Kompas.com, Arief Yahya mengatakan bahwa target pariwisata
154 Indonesia untuk 2019 adalah 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara dengan nilai aman kunjungan sebanyak 18 juta kunjungan wiasatawan asing, dengan rata- rata wisatawan perbulan sebanyak 1,5 juta. Arief Yahya sendiri juga sudah mengusulkan ada 3 program agar target sesuai hasil yaitu, border tourism, tourism hub, dan, LCC (Low Cost Carrier Terminal) dan pengalokasian dana yang diusulkan sebesar Rp. 9 Triliun.
Gambar 1. Data kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2018 dan 2019 Sumber : www.kemenpar.go.id
Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) Jawa Timur Kunjungan Wisatawan Mancanegara (Wisman) yang masuk ke Jawa Timur melalui Juanda pada bulan Agustus 2019 naik hingga 18,33 persen dibandingkan bulan Juli, yaitu dari 25.143 kunjungan menjadi 29.751 kunjungan (https://jatim.bps.go.id).
Perkembangan homestay dan aplikasi – aplikasi tersebut juga memiliki standard hampir seperti hotel – hotel berbintang di Indonesia terutama di Surabaya, perkembangan hotel berbintang di Indonesia mengalami penurunan dari
155 tingkat okupansi atau tingkat penuh tidaknya dari kapasitas kamar yang tersedia yang terus menurun selama tahun 2018, dari 60% yang sekarang menjadi 55% - 50% saja. Wakil Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Rainier Daulay mengatakan, rerata lama menginap turis sepanjang tahun ini hanya 2 – 3 hari. Padahal, tahun lalu mencapai rata-rata 5 – 6 hari. “Rerata wisatawan menginap di hotel berbintang hanya 2 hari-an.
Sisanya kebanyakan di homestay dan Airbnb” tegasnya dalam (www.surabaya.bisnis.com).
Gambar 2. Grafik tingkat penghunian kamar pada hotel berbintang Sumber : www.kemenpar.go.id
Grafik diatas menunjukan bahwa di tahun 2019 ini, tingkat penghunian kamar pada triwulan pertama menunjukkan bahwa lebih rendah dari tahun 2019, sedangkan data wisatawan mancanegara terus meningkat. Hal ini semakin mendukung statement dari Wakil Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Rainier Daulay bahwa para wisatawan lebih
156 memilih untuk menginap di hotel non-berbintang, homestay, guesthouse, dan aplikasi penyedia online seperti Airbnb.
Fenomena berkembangnya guesthouse, homestay, dan aplikasi penyedia online seperti Airbnb mendorong hotel berbintang untuk lebih berbesar hati karena menurunnya persentase pasar untuk hotel berbintang, fenomena ini menarik keinginan saya untuk mencari tahu, apa yang merubah minat dari masyarakat untuk lebih memilih hotel non-berbintang, seperti guesthouse, homestay, dan aplikasi penyedia online seperti Airbnb, sehingga hotel – hotel berbintang ini dapat menarik minat calon konsumen untuk menginap di hotel berbintang, yaitu dengan mencari tahu adakah relasi dari segi, citra nama, harga yang ditawarkan, dan juga dari komponen desain interior yang diterapkan dari hotel berbintang tersebut.
Hotel Berbintang adalah suatu usaha akomodasi yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus, di mana setiap orang dapat menginap, makan, memperoleh pelayanan, dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran, dan telah memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang telah ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata (www.mediabpr.com). Ciri khusus dari hotel adalah mempunyai restoran yang dikelola langsung di bawah manajemen hotel tersebut. Guesthouse dan homestay memiliki klasifikasi yang hampir sama, bangunan bisa milik pribadi, atau rumah tinggal yang memiliki beberapa kamar untuk disewakan sebagai tempat penginapan, tanpa adanya pengalaman pelayanan seperti pada hotel berbintang, yang membedakan guesthouse dengan homestay adalah, homestay biasanya bisa untuk disewakan dengan jangka waktu yang lumayan lama seperti satu bulan atau lebih.
Airbnb sendiri adalah aplikasi penyedia online untuk membantu konsumen menemukan tempat penginapan, bedanya adalah penginapan yang ditawarkan biasanya berupa rumah tinggal, apartemen, dan juga villa. Airbnb berkerja sama
157 langsung dengan pemilik tempat penginapan dan biasanya ada syarat tertentu untuk tempat tersebut dapat masuk dalam daftar Airbnb, inilah yang membuat Airbnb menjadi murah dan para tamu juga mendapatkan privasi yang lebih luas dibandingkan dengan hotel, guesthouse, dan homestay.
Hotel Shangri-La Surabaya adalah hotel bintang lima dan terbesar untuk saat ini di Surabaya, diresmikan pada 11 Januari 1995 di Jalan Mayjen Sungkono No.
120, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur 60256, dibawah naungan Shangri-La International. Sebagai hotel bintang lima yang mewah Shangri-La Hotel Surabaya didukung dengan unforgetable experience dan tentunya dengan semua ini yang berdampak langsung terhadap tarif yang harus dikeluarkan oleh para tamu yang ingin menginap, dengan rate yang ditawarkan mulai dari kamar termurah yaitu Deluxe Room dengan tarif menginap permalamnya sebesar 1,6 juta rupiah hingga kamar yang paling mahalnya yaitu Presidential Suite dengan tarif permalamnya sebesar 25 juta rupiah.
Sebagaimana mestinya pada hotel bintang lima, Shangri-La Hotel juga memiliki Physical Evidence yang terbaik, dimulai dari yang paling depan yaitu tempat parkir hingga sampai di dalam kamar hotel, Disini saya ingin mengetahui apakah Physical Evidence yang dimiliki oleh Shangri-La Hotel Surabaya dapat mempengaruhi minat menginap masyarakat di Surabaya terhadap Shangri-La Hotel Surabaya, karena hotel yang baik adalah hotel yang memiliki kemudahan akses dan memiliki unsur keindahan di dalamnya, yang membuat Shangri-La Hotel Surabaya dituntut untuk memiliki Physical Evidence yang baik.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka peneliti mengangkat judul Pengaruh Citra Nama, Harga, dan Desain Interior Terhadap Minat Menginap di Shangri-La Hotel Surabaya.
158 LANDASAN TEORI
Minat Menginap
Minat menginap berangkat dari teori minat beli. Mehta (1994) mengatakan bahwa minat beli adalah bentuk kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian. Menurut Kotler (2005) minat beli merupakan perilaku yang muncul dari dalam diri sebagai respon terhadap suatu objek yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian.
Menurut Ferdinand (2006), minat beli di identifikasi melalui indikator- indikator sebagai berikut:
a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli produk atau mendapatkan jasa.
b. Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk atau jasa kepada orang lain.
c. Minat preferensial, yaitu minat perilaku seseorang yang memiliki kecenderungan pada produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat digantikan jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
d. Minat eksploratif, yaitu perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
Brand Image
Kotler (2002) mengatakan bahwa: “Citra adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan, yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu objek”. Menurut Setiadi (2003) Citra merek mengacu pada skema memori (ingatan) akan sebuah merek, yang berisikan tentang interpretasi konsumen atas atribut, kelebihan, penggunaan,
159 situasi, para pengguna, dan karakteristik pemasar dan/atau karakteristik pembuat dari merek tersebut.
Menurut Keller (2000), pengukuran citra merek dapat dilakukan berdasarkan pada aspek sebuah merek, yaitu:
1. Merek mudah diingat: Elemen merek yang dipilih hendaknya mudah diingat dan diucapkan. Simbol, logo, nama yang digunakan hendaknya dibuat menarik dan unik sehingga menarik perhatian masyarakat untuk mudah diingat dan digunakan.
2. Merek mudah dikenal: Selain logo, sebuah merek dikenal melalui pesan dan cara bagaimana produk dikemas dan disajikan kepada para konsumen yang disebut trade dress. Melalui komunikasi yang intensif, suatu produk dapat menarik perhatian dan mudah dikenali oleh konsumen. Sehingga trade dress sering sama seperti merek dagang, yaitu deferensiasi produk dan jasa di pasar yang dapat dimintakan perlindungan hukum.
3. Reputasi merek yang baik: Bagi perusahaan citra berarti persepsi masyarakat terhadap jati diri perusahaan. Persepsi ini didasarkan pada apa yang masyarakat ketahui atau kira tentang perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan yang sama belum tentu memiliki citra yang sama pula dihadapan masyarakat. Citra perusahaan menjadi salah satu pegangan bagi konsumen dalam mengambil keputusan.
Price (Harga)
Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2009), harga adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, elemen lain menghasilkan biaya. Menurut Tjiptono (2008) menyebutkan bahwa harga merupakan satu – satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan.
160 Menurut Stanton (1998), ada empat indikator yang mencirikan harga yaitu, keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas produk, daya saing harga, kesesuaian harga dengan manfaat.
Physical Evidence (Bukti Fisik)
Menurut Huriyati (2005:64) bahwa Physical Evidence adalah sarana fisik yang merupakan suatu hal yang secara nyata turut mempengaruhi keputusan untuk membeli dan menggunakan barang maupun jasa. Physical Evidence (Bukti Fisik) menurut Kotler (2011) adalah bukti yang dimiliki oleh penyedia jasa yang ditujukan kepada konsumen sebagai usulan nilai tambah konsumen.
Indikator Physical Evidence (bukti fisik) menurut Zeithaml and Bitner (2003) antara lain Exterior Appearance (Tampilan Luar), Interior Appearance (Tampilan Dalam), dan Other Tangibles (Wujud Lain)
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian korelasional yakni meneliti antara dua variabel atau lebih, yang bertujuan untuk mengukur atau mencari hubungan, seberapa besar korelasi diantara variabel-variabel yang akan diteliti.
Dalam penelitian ini menggunakan rumusan masalah asosiatif dengan hubungan kausal.
Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah warga Surabaya yang berusia 20-45 tahun dan mengetahui tentang Shangri-La Hotel Surabaya.
responden yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah minimum 110 responden. Pengujian pada penelitian ini menggunakan uji validitas, uji reliabilitas dan uji Structual Equation Model (SEM).
161 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Uji Validitas
Pengujian validitas ini menggunakan program SPSS (Software Statistic for Social Science) yang menghasilkan data sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Uji Validitas Pada Variabel Brand Image
Sumber : Olahan Peneliti
162 Tabel 2 Hasil Uji Validitas Pada Variabel Price
Sumber : Olahan Peneliti
Tabel 3. Hasil Uji Validitas Pada Variabel Physical Evidence
Sumber : Olahan Peneliti
163 Tabel 4. Hasil Uji Validitas Pada Variabel Minat Menginap
Sumber : Olahan Peneliti
Berdasarkan uji validitas diatas, penelitian ini menggunakan alpha sebesar 0.05 yang diujikan kepada 110 responden dan adapun df dari penelitian ini adalah N-2 yaitu 110-2 = 108. Penelitian ini dapat dikatan valid apabila r hitung memiliki nilai yang lebih besar daripada r tabel. Nilai r hitung dalam penelitian ini adalah 0.1874, maka dapat disimpulkan bahwa semua item pernyataan di dalam penelitian ini dinyatakan valid dikarenakan r hitung lebih besar daripada r tabel.
Hasil Uji Reliabilitas
Berdasarkan hasil uji reliabilitas, didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 5. Hasil Uji Reliabilitas Pada Variabel Brand Image
164 Sumber : Olahan Peneliti
Tabel 6. Hasil Uji Reliabilitas Pada Variabel Price
Sumber : Olahan Peneliti
Tabel 7. Hasil Uji Reliabilitas Pada Variabel Physical Evidence
Sumber : Olahan Peneliti
Tabel 8. Hasil Uji Reliabilitas Pada Variabel Minat Menginap
Sumber : Olahan Peneliti
Suatu kuesioner dapat dikatakan reliable apabila jawaban responden dapat teruji dari waktu ke waktu dengan konsisten. Sebuah variabel dapat dikatakan reliable jika memberikan nila Cronbach Alpha > 0.60. Dapat dilihat pada ketiga tabel diatas bahwa ketiga variabel tersebut dapat dinyatakan reliable.
165 Analisis Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Analisis CFA Terhadap Variabel Brand Image
Gambar 5. Analisa Faktor Konfirmatori Variabel Brand Image Sumber : Olahan Peneliti
Berdasarkan pada gambar diatas dapat diketahui bahwa variabel Brand Image memiliki 3 indikator. Berikut adalah tabel Analisa Faktor Konfirmatori
untuk melihat P value.
Tabel 9. Analisa Faktor Konfirmatori Variabel Brand Image
Estimate S.E. C.R. P Label X1.3 <--- Brand_Image 1,000
X1.2 <--- Brand_Image ,556 ,222 2,509 ,012 par_1 X1.1 <--- Brand_Image ,361 ,174 2,075 ,038 par_2
Sumber : Olahan Peneliti
Berdasarkan pada tabel 9 dapat diketahui bahwa hasil pengujian setiap indikator pada variabel Brand Image, keseluruhan merupakan indikator yang signifikan terhadap Brand Image karena memiliki nilai P value kurang dari 0,05.
166 Tabel 10. Standardized Regression Weights Variabel Brand Image
Estimate X1.3 <--- Brand_Image ,951 X1.2 <--- Brand_Image ,643 X1.1 <--- Brand_Image ,296
Sumber : Olahan Peneliti
Dilihat dari tabel diatas, menunjukkan bahwa indikator yang memiliki nilai tertinggi dari variabel Brand Image adalah pada indikator reputasi yang baik (X1.3) yaitu sebesar 0,951. Hal ini membuktikan bahwa konsumen / calon konsumen sangat mempertimbangkan reputasi yang baik dalam menentukan citra sebuah merek.
Analisis CFA Terhadap Variabel Price
Gambar 6. Analisa Faktor Konfirmatori Variabel Price Sumber : Olahan Peneliti
167 Berdasarkan pada gambar diatas dapat diketahui bahwa variabel Brand Image memiliki 4 indikator. Berikut adalah tabel Analisa Faktor Konfirmatori
untuk melihat P value.
Tabel 11. Analisa Faktor Konfirmatori Variabel Price
Estimate S.E. C.R. P Label X2.4 <--- Price 1,000
X2.3 <--- Price ,834 ,145 5,764 *** par_1 X2.2 <--- Price ,645 ,151 4,280 *** par_2 X2.1 <--- Price ,550 ,152 3,618 *** par_3
Sumber : Olahan Peneliti
Berdasarkan pada tabel 11 dapat diketahui bahwa hasil pengujian setiap indikator pada variabel Price, keseluruhan merupakan indikator yang signifikan terhadap Price karena memiliki nilai P value kurang dari 0,05.
Tabel 12. Standardized Regression Weights Variabel Price
Estimate X2.4 <--- Price ,840 X2.3 <--- Price ,722 X2.2 <--- Price ,496 X2.1 <--- Price ,409 Sumber : Olahan Peneliti
Dilihat dari tabel 12 diatas, menunjukkan bahwa indikator yang memiliki nilai tertinggi dari variabel Price adalah pada indikator kesesuaian dengan manfaat (X2.4) yaitu sebesar 0,840. Hal ini membuktikan bahwa konsumen / calon konsumen sangat mempertimbangkan kesesuaian dengan manfaat apa yang mereka dapatkan dalam memayar sebuah harga.
168 Analisis CFA Terhadap Variabel Physical Evidence
Gambar 7. Analisa Faktor Konfirmatori Variabel Physical Evidence Sumber : Olahan Peneliti
Berdasarkan pada gambar 7 diatas dapat diketahui bahwa variabel Physical Evidence memiliki 3 indikator. Berikut adalah tabel Analisa Faktor
Konfirmatori untuk melihat P value.
Tabel 13. Analisa Faktor Konfirmatori Variabel Physical Evidence
Estimate S.E. C.R. P Label X3.3 <--- Physical_Evidence 1,000
X3.2 <--- Physical_Evidence ,825 ,161 5,120 *** par_1 X3.1 <--- Physical_Evidence ,769 ,148 5,183 *** par_2
Sumber : Olahan Peneliti
Berdasarkan pada tabel 13 diatas dapatdiketahui bahwa hasil pengujian setiap indikator pada variabel Physical Evidence, keseluruhan merupakan indikator yang signifikan terhadap Physical Evidence karena nilai P value kurang dari 0,05.
169 Tabel 14. Standardized Regression Weights Variabel Physical Evidence
Estimate X3.3 <--- Physical_Evidence ,688 X3.2 <--- Physical_Evidence ,798 X3.1 <--- Physical_Evidence ,636
Sumber : Olahan Peneliti
Dilihat dari tabel 14 diatas, menunjukkan bahwa indikator yang memiliki nilai tertinggi dari variabel Physical Evidence adalah pada indikator tampilan eksterior (X3.2) yaitu sebesar 0,798. Hal ini membuktikan bahwa konsumen / calon konsumen sangat mempertimbangkan tampilan eksterior dalam Physical Evidence suatu objek.
Analisis CFA Terhadap Variabel Minat Menginap
Gambar 8. Analisa Faktor Konfirmatori Variabel Minat Menginap Sumber : Olahan Peneliti
170 Berdasarkan pada gambar 8 diatas dapat diketahui bahwa variabel Brand Image memiliki 4 indikator. Berikut adalah tabel Analisa Faktor Konfirmatori
untuk melihat P value.
Tabel 15. Analisa Faktor Konfirmatori Variabel Minat Menginap
Sumber : Olahan Peneliti
Berdasarkan pada tabel 15 diatas dapatdiketahui bahwa hasil pengujian setiap indikator pada variabel Minat Menginap, keseluruhan merupakan indikator yang signifikan terhadap Minat Menginap karena nilai P value kurang dari 0,05.
Tabel 16. Standardized Regression Weights Variabel Minat menginap
Estimate Y.1 <--- Minat_Menginap ,741 Y.2 <--- Minat_Menginap ,808 Y.3 <--- Minat_Menginap ,833 Y.4 <--- Minat_Menginap ,806
Sumber : Olahan Peneliti
Dilihat dari tabel 16 diatas, menunjukkan bahwa indikator yang memiliki nilai tertinggi dari variabel Minat Menginap adalah pada indikator minat preferensial (Y3) yaitu sebesar 0,833. Hal ini membuktikan bahwa konsumen / calon konsumen akan lebih menyukai untuk memilih objek tersebut ketika berminat untuk membelinya atau dalam penelitian minat untuk menginap.
Estimate S.E. C.R. P Label Y.1 <--- Minat_Menginap 1,000
Y.2 <--- Minat_Menginap 1,150 ,141 8,153 *** par_1 Y.3 <--- Minat_Menginap 1,518 ,184 8,232 *** par_2 Y.4 <--- Minat_Menginap 1,116 ,140 7,990 *** par_3
171 Analisis Structural Equation Model (SEM)
Gambar 9. Structural Equation Modeling (SEM) Sumber : Olahan Peneliti
Berdasarkan pada gambar diatas maka peneliti mendapatkan hasil pengujian seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel 17. Regression Weights : SEM
Estimate S.E. C.R. P Label Minat_Menginap <--- Brand_Image ,073 ,102 ,720 ,471 par_11 Minat_Menginap <--- Price ,567 ,193 2,929 ,003 par_12 Minat_Menginap <--- Physical_Evidence ,555 ,163 3,403 *** par_13
X1.3 <--- Brand_Image 1,000
X1.2 <--- Brand_Image ,601 ,207 2,898 ,004 par_1
X1.1 <--- Brand_Image ,390 ,168 2,329 ,020 par_2
X2.4 <--- Price 1,000
X2.3 <--- Price ,871 ,132 6,596 *** par_3
172 Estimate S.E. C.R. P Label
X2.2 <--- Price ,713 ,159 4,474 *** par_4
X2.1 <--- Price ,706 ,185 3,825 *** par_5
X3.3 <--- Physical_Evidence 1,000
X3.2 <--- Physical_Evidence ,674 ,115 5,839 *** par_6
X3.1 <--- Physical_Evidence ,742 ,141 5,249 *** par_7
Y.1 <--- Minat_Menginap 1,000
Y.2 <--- Minat_Menginap 1,123 ,135 8,307 *** par_8
Y.3 <--- Minat_Menginap 1,461 ,175 8,341 *** par_9 Y.4 <--- Minat_Menginap 1,079 ,133 8,122 *** par_10
Sumber : Olahan Peneliti
Dapat dilihat dari tabel 17 diatas bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap minat menginap adalah Price dan Physical Evidence karena memiliki nilai P value kurang dari 0,05. Sedangkan brand image tidak berpengaruh signifikan karena p value lebih besar dari 0,05.
Tabel 18.Standardized Regression Weights : SEM
Estimate Minat_Menginap <--- Brand_Image ,078 Minat_Menginap <--- Price ,635 Minat_Menginap <--- Physical_Evidence ,768
X1.3 <--- Brand_Image ,914
X1.2 <--- Brand_Image ,668
X1.1 <--- Brand_Image ,308
X2.4 <--- Price ,764
X2.3 <--- Price ,685
X2.2 <--- Price ,498
X2.1 <--- Price ,477
X3.3 <--- Physical_Evidence ,689 X3.2 <--- Physical_Evidence ,653 X3.1 <--- Physical_Evidence ,615
Y.1 <--- Minat_Menginap ,679
Y.2 <--- Minat_Menginap ,733
Y.3 <--- Minat_Menginap ,747
Y.4 <--- Minat_Menginap ,722
173 Sumber : Olahan Peneliti
Pada tabel 18 diatas dapat dilihat bahwa adanya hubungan antara variabel pada Brand Image dengan minat menginap dengan indikator reputasi yang baik (X1.3) dengan nilai sebesar 0,914. Hal ini membuktikan bahwa konsumen akan selalu melihat reputasi sebuah hotel atau dalam penelitian ini citra merek dari Shangri-La Hotel Surabaya.
Konsumen dapat merasakan reputasi yang baik dari Shangri-La Hotel Surabaya dikarenakan responden merasa Shangri-La menempatkan dirinya sebagai hotel yang termasuk papan atas sehingga konsumen mendapatkan pengalaman yang berbeda pada saat menginap, disini juga para konsumen juga dapat merasakan bahwa Shangri-La Hotel Surabaya juga memberikan pelayanan yang terbaik, juga para konsumen dapat melihat Shangri-La Hotel Surabaya adalah hotel yang bertaraf internasional dengan badge hotel bintang 5 internasional yang memiliki nama yang besar di banyak negara maka konsumen merasa bahwa Shangri-La Hotel Surabaya adalah tempat yang memiliki citra merek yang bagus dan membuat para konsumen berminat untuk menginap di Shangri-La Hotel Surabaya.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan bahwa :
174 1. Variabel Brand Image berpengaruh positif terhadap Minat Menginap namun memiliki nilai P value > 0,05 yang membuat tingkat pengaruh yang tidak signifikan, namun salah satu indikator yaitu reputasi yang baik memiliki skor yang paling tinggi diantara indikator yang lainnya dengan nilai 0,914. Hal ini menunjukkan bahwa reputasi dari Shangri-La Hotel Surabaya sangat baik dimata konsumen / calon konsumen.
2. Variabel Price dan Physical Evidence berpengaruh positif terhadap Minat Menginap dan memiliki nilai P value < 0,05 yang membuat kedua variabel ini memiliki tingkat pengaruh yang signifikan dalam membuat konsumen berminat untuk menginap di Shangri-La Hotel Surabaya.
Saran
Dari hasil penelitian ini dapat terlihat bahwa Price dan Physical Evidence berpengaruh sangat signifikan. Oleh sebab itu Shangri-La Hotel Surabaya perlu menjaga dan meningkatkan manajemen pengaturan pada harga dan menonjolkan bukti fisik yang mereka miliki agar dapat bersaing dengan hotel-hotel baru atau hotel bintang 5 lainnya. Dan untuk peneliti selanjutnya dapat meneliti lebih lanjut mengenai bukti fisik lebih dalam bentuk penelitian kualitatif.
DAFTAR PUSTAKA
Aeker, D and Keller.,2000. Brand Utility, Telaah Manajemen, Vol 1, Edisi 2, 2004, Semarang.
175 Ajay Kalra and Ronald C. Goodstein, 1998, The Impact of Advertising Positioning Strategies on Consumer Price Sensitivity, Journal of Marketing Research, Vol. XXXV.
Alma, Buchari dan Hurriyani, Ratih. 2008. Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Fokus pada Mutu dan Layanan Prima.
Bandung: Alfabeta.
Anastasia, A & Susana Urbina. 1997. Psychological Testing. New Jersey:
Prentice- Hall Inc.
Arikunto, S., 2009. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi 6.
Jakarta : Rineka Cipta.
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2019. Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Jawa Timur melalui Juanda pada bulan Agustus 2019 naik sebesar 18,33 persen. https://jatim.bps.go.id/pressrelease/2019/10/01/1037/kunjungan- wisatawan-mancanegara-ke-jawa-timur-melalui-juanda-pada-bulan-
agustus-2019-naik-sebesar-18-33-persen.html (diakses pada 1 November 2019)
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2019. Kunjungan Wisman ke Jawa Timur Melalui Juanda Pada Juli 2019 Naik Sebesar 8,61 Persen.
https://jatim.bps.go.id/pressrelease/2019/09/02/1036/kunjungan-wisman- ke-jawa-timur-melalui-juanda-pada-juli-2019-naik-sebesar-8-61-
persen.html. (di akses pada 01 November 2019)
Band, Oliver. 1991. Membangun Kepuasan Pelanggan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
176 Cant, M., Strydom, J., Jooste, C., & Plessis, P. d. (2006). Marketing Management
(5th ed.). Juta & Company.
CareTourism. 2015. Membaca Kebijakan Pariwisata.
https://caretourism.wordpress.com/ 2015/03/12/membaca-kebijakan- pariwisata-2015-2019/. (diakses pada 12 Juni 2019)
Fandy Tjiptono, 1997, Strategi Pemasaran, Edisi 1, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Ferdinand, Augusty. 2006. Metode Penelitian Mananjemen: Pedoman Penelitian untuk Penulisan skripsi, Tesis, dan disertasi Ilmu Manajemen. Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Ferdinand. 2002. Metode Penelitian Manajemen: Pedoman penelitian untuk Skripsi, Tesis, dan Desertasi Ilmu Manajemen, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hair J.F. et.al. 1995, “Multivariate Data Analysis With Reading”, Fourth Edition, Prentice Hall. New Jersey.
Hox, J.J. dan Bechger, T.M., 1998, An Introduction to Structural Equation Modeling, Family Science Review, 11, 354-373.
Kemenpar. 2019. Statistik Tingkat Penghunian Kamar Hotel Bintang Tahun 2019.
http://www.kemenpar.go.id/post/statistik-tingkat-penghunian-kamar-hotel- bintang-tahun-2019. (diakses pada 12 Juni 2019)
Kotler P., dan G. Amstrong. 2011. Principles of marketing. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kotler, P. 2005. Manajemen Pemasaran, Jilid 1 dan II, PT. Index, Jakarta.
177 Kotler, P. dan Keller. 2009. Marketing Management, Penerjemah Bob Sabran,
Edisi Ketiga Belas, Erlangga, Jakarta.
Kotler, P., & Keller. (2012). Marketing Management. Jakarta: Indeks.
Kotler, P., Bowen, J., dan Makens, J. 1999. Marketing for Hospitality and Tourism. Second Edition. Prentice Hall Inc. Upper Saddle River, New Jersey.
Kotler, Philip, dan Amstrong, Gery. 2008. Dasar-Dasar Pemasaran. Edisi Kedua Belas. Jilid 1. Alih bahasa Bob Sarban. Erlangga. Jakarta.
Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Jilid 1. Edisi Milenium. Jakarta:
Prehallindo.
Lidyawati. 1998. Hubungan antara Intensitas Menonton Iklan di Televisi dengan Perilaku Konsumtif. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi UMS.
Lupiyoadi, Rambat. 2013. Manajemen Pemasaran Jasa Edisi Ketiga. Jakarta:
Salemba Empat.
Maunaza, Afianka, (2012), “Pengaruh Brand Image terhadap Minat Beli Konsumen (Studi Pada Maskapai Penerbangan Lion Air Sebagai Low Carrier)”, Skripsi.
Media BPR. Hotel Berbintang. http://www.mediabpr.com/kamus-bisnis- bank/hotel_berbintang.aspx. (di akses pada 01 Juli 2019)
Mehta, Abilasha, 1994. How Advertising Response Modelling (ARM) can Increase Ad Effectiveness; Journal of Advertising Research, vol 34.
178 Nasution. 2009. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution. 2010. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar.
Jakarta: Bumi Aksara.
Nurhayati, R. 2005. Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Alfabeta
Patriella, Yanita. 2018. Bisnis Hotel Berbintang Terganjal Tren Penurunan Lama
Menginap Turis.
https://surabaya.bisnis.com/read/20181105/12/856574/bisnis-hotel-
berbintang-terganjal-tren-penurunan-lama-menginap-turis (diakses pada 11 Juni 2019)
Prodjo, Wahyu Adityo. 2019. Kunjungan Wisman Tahun 2019 Diprediksi Tercapai 18 Juta. https://travel.kompas.com/read/2019/03/01/220700827/- wawancara-khusus-kunjungan wisman-tahun-2019-diprediksi-tercapai-18- juta. (diakses pada12 Juni 2019)
Ridwan dan Engkos Ahmad Kuncoro. 2007. Cara Menggunakan dan Memakai Analisis Jalur (Path Analysis). Bandung: CV Alfabeta.
Schiffman dan Kanuk, (2007). Perilaku Konsumen. Edisi Kedua. Jakarta : PT.
Indeks Gramedia.
Setiadi, N. J., (2003) Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: Prenada Media.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
179 Stanton, William, J. 1998. Prinsip Pemasaran. Edisi Ketujuh, Jilid I. Jakarta:
Erlangga.
Sudjana. Nana dan Ibrahim. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan.
Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sugiyono. (2011) Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D.
Bandung: CV Alfabeta.
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sulistyari, Ikanita Noviriana. (2012). “Analisis Pengaruh Citra Merek, Kualitas Produk, Dan Harga Terhadap Minat Beli Produk Oriflame”, Skripsi.
Suryani, Tatik, 2008. Perilaku Konsumen: Implikasi Pada Strategi Pemasaran, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Swastha, B.D. dan Irawan. 2001. Manajemen Pemasaran Modern. Edisi Kedua.
Jakarta: Erlangga.
Swastha, Basu dan Irawan. 2005, Manajemen Pemasaran Modern, Liberty, Yogyakarta.
Syaiful Bahri Djamarah. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Tjiptono, F. (2011), Manajemen dan Strategi Merek, Seri Manajemen Merek 01.
Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
180 Tjiptono. Fandy. 2008. Strategi Pemasaran. Edisi Pertama. Yogyakarta: Andi
Zeithaml, A., A. Valerie., Parasuraman., dan L. Berry. (2009). Services Marketing Integrating Customer Focus Across. New York: Prentice Hall Mc. Graw Hill
Zeithaml, V.A. and Bitner, M.J. 2003. Services Marketing Integrating Customer Focus across the Firm. 3rd Edition, Irwin McGraw-Hill, New York.