UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN METODE KARYA WISATA PESERTA DIDIK KELAS VIII PADA MADRASAH
TSANAWIYAH HIDAYATUL INSAN PALANGKA RAYA TAHUN PELAJARAN 2014/2015
SKRIPSI
OLEH PIAWATI NIM.11.22.13252
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JUNI 2015
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN METODE KARYA WISATA PESERTA DIDIK KELAS VIII PADA MADRASAH
TSANAWIYAH HIDAYATUL INSAN PALANGKA RAYA TAHUN PELAJARAN 2014/2015
SKRIPSI
Ditulis untuk memenuhi sebagai persyaratan Dalam mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi
OLEH PIAWATI NIM. 11.22. 13252
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
JUNI 2015
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : PIAWATI
NIM : 11.22.13525
Program Studi : Pendidikan EKONOMI
Lembaga Asal : Universitas Muhammadiyah Palangka Raya Menerangkan dengan sesungguhnya:
1. Skripsi yang akan di ujikan adalah benar-benar pekerjaan saya sendiri (bukan barang jiblakan).
2. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Skripsi ini hasil jiblakan, maka saya akan menanggung resiko diperkarakan oleh Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya.
Palangka Raya Juni 2015 Yang membuat pernyataan
PIAWATI
ABSTRAK
PIAWATI: 2015. Upaya Peningkatan Hasil Belajar IPS Dengan Metode Karya Wisata Peserta Didik Kelas VIII Pada Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya. Skripsi Progam Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universutas Muhammadiyah Palangkaraya. Pembimbing (1) Drs.
M. Ramli, M.Pd. (2) Bambang Irawan, M.Si.
Kata Kunci: Hasil Belajar IPS, Metode Karya Wisata
Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui (1) aktivitas pembelajaran peserta didik dengan menggunakan metode karya wisata sebagai metode pembelajaran IPS.
(2) untuk mengetahui peningkatan minat dan hasil belajar IPS setelah menggunakan metode pembelajaran yaitu metode karya wisata.
Metode yang digunakan peneliti adalah penggunaan rencana peneliti tindakan kelas (PTK) yang berusaha memecahkan atau menjawab masalah yang dihadapi pada saat situasi sekarang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah test dan observasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan rumus presentasi ketuntasan klasikal dan individual.
Berdasarkan hasil penelitian (1) Aktivitas belajar peserta didik kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya pada saat pembelajaran IPS dengan menggunakan metode karyawisata lebih aktif. (2) Ada peningkatan hasil belajar IPS peserta didik kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya setelah menggunakan metode karyawisata.
ABSTRACT
PIAWATI: 2015. Efforts to Improve the Learning Outcomes of Social Study IPS by Using Study Tour Method at the VIII Grade Students of Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya.Undergraduate Thesis.Economic Study Program The Faculty of Teacher Training and Education Muhammadiyah University of Palangkaraya. Advisors (1) Drs. M. Ramli, M.Pd. (2) Bambang Irawan, M.Si Keywords: Learning Result of Social Study (IPS), Using Study Tour Method
This research, aim to find out (1) The students‟ learning activity by using study tour method on Social Study IPS. (2) to find out the improvement of interest and the learning outcomes of Social Study IPS after using Study Tour Method.
The Researcher used Classroom Action Reasearch as a method in this research which tried to find out the answer by the problems that faced in this time.
The technique to collecting data in this research were test and observation. The technique data analysis in this research were used Classical learning completeness precentage and individual.
Based on the results of the study (1) Activities of learners class VIII MTs Hidayatul Insan Palangka Raya personnel upon learning social studies using study tour method more active. (2) There is an increase in social studies learning outcomes of students of class VIII MTs Hidayatul Insan Palangka Raya after using study tour method.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur peneliti kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat,Taufiq dan Hidayah-Nya, Shalawat serta salam semoga abadi tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah berhasil membimbing dan menuntun umatnya kejalan yang benar dan di Ridhoi Allah SWT, sehingga peneliti dapat menyelesaikan karya Ilmiah ini. Dengan judul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar IPS Dengan Metode Karya Wisata Peserta Didik Kelas VIII Pada Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya Tahun Pelajaran 2014-2015”.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi peneliti karena dapat menyelesaikan penyusunan Skripsi. Peneliti menyadari dalam penyusunan skripsi ini tidak dapat terlepas dari uluran tangan berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini peneliti menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Drs. H. Bulkani, M.
Pd.
2. Bapak Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Drs. M. Fatchurahman, M. Pd, M. Psi.
3. Bapak Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Drs. M. Ramli, M. Pd.
4. Bapak Dosen Pembimbing I Drs. M. Ramli, M. Pd dan Bapak dosen pembimbing II Bambang Irawan, M. Si
5. Kepala Dinas Kementerian Agama Kota Palangka Raya.
6. Ibu Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya, Dan Guru Bidang Studi IPS Kelas VIII Serta para guru dan peserta didik Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya.
7. Rekan-rekan seperjuangan serta segala pihak yang membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
Demikian yang dapat peneliti sampaikan, penulis mohon maaf apabila dalam penyampaian dikata pengantar ini terdapat kesalahan baik sengaja maupun tidak disengaja. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Atas perhatiannya penulis mengucapkan terimakasih.
Palangka Raya, April 2015
Penulis
Dia memberikan hikmah (ilmu yang berguna) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Barang siapa yang mendapat hikmah itu
Sesungguhnya ia telah mendapat kebajikan yang banyak.
Dan tiadalah yang menerima peringatan melainkan orang- orang yang berakal”.
(Q.S. Al-Baqarah: 269)
“...kaki yang akan berjalan lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan menatap lebih lama, leher yang akan lebih sering melihat ke atas,
lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras, serta mulut yang akan selalu berdoa...”
Ungkapan hati sebagai rasa Terima Kasihku
Alhamdulllahirabbil‟alamin…. Alhamdulllahirabbil„alamin….
Akhirnya aku sampai ke titik ini,sepercik keberhasilan yang Engkau hadiahkan padaku Ya-Rabb. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur padamu Ya-Rabb Serta shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW dan para sahabat yang mulia. Semoga sebuah karya ilmiah ini menjadi amal sholeh bagiku dan menjadi kebanggaan bagi keluargaku tercinta.
Ku persembahkan karya ilmiah ini...
Untuk belahan jiwa ku bidadari surgaku yang tanpamu aku bukanlah siapa-siapa didunia fana ini Ibundaku tersayang (HERSI) serta orang yang menanamkan segala idealisme,prinsip, edukasi dan kasih sayang berlimpah dengan wajah datar menyimpan kegelisahan atau perjuangan yang tidak pernah ku ketahui, namun tenang dengan penuh kesabaran dan pengertian luar biasa Ayahanda ku tercinta (ONET EME).
Yang telah memberikan segalanya untukku Kepada Kakak-Kakakku (Kariadi), (Inoor Hayati), (Subriadi), (Nuurjanah), (Irawati), (Amat), (Rosita), (Ririn Siti Fatimah), Dan (Toni Hermawan) Dan Adikku (Sri Wahyu) terima kasih tiada tara atas segala support yang telah diberikan selama ini dan semoga Kakak- kakakku dan Adikku tercinta dapat menggapaikan keberhasilan juga di kemudian hari.
Kepada teman-teman seperjuangan khususnya rekan-rekan Pendidikan Ekonomi Angkatan 2011/2012 yang tak bisa tersebutkan namanya satu persatu terima kasih yang tiada tara, ku ucapakan kepada sahabat setiaku forever (Mistina Januarti) terima kasih banget atas supportnya kepada Anakku Firas Alwa yang bersama-sama dalam tempat tinggal yang telah dirasa suka duka kita lalui...
Suamiku ALFIANOOR HISMA yang masih iklas dan sepenuh hati memberiku cinta, kasih sayang, support, dukungan, baik secara moril dan materil, dalam suka maupun duka dalam tempat tinggal yang telah dirasakan dan terimakasih telah menjadi baik dan bertahan di sampingku untuk membimbingku selama ini.
Yang ku hormati para dosen dan dosen pembimbingku, Drs.M.Ramli, M.Pd dan Bambang Irawan, M.Si. Terima kasih yang tak terhingga untuk ilmu dan bimbingan yang diberikan kepadaku.
Akhir kata, semoga skripsi ini membawa manfaat dikemudiah hari. Jika hidup bisa kuceritakan di atas kertas, entah berapa banyak yang dibutuhkan hanya untuk ku ucapkan terima kasih.
LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi oleh Piawati ini
Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji
Palangka Raya,...Juni 2015 Pembimbing I
Drs. M. Ramli, M. Pd.
NIK. 94.000.05
Palangka Raya,...Juni 2015 Pembimbing II
Bambang Irawan, M. Si.
NIK. 000.00.102
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN
Skripsi oleh Piawati ini
Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 16 Juni 2015
Dewan Penguji,
Drs. H. Saiffullah Darlan,M. Pd. (Ketua)
Drs. M. Ramli,M. Pd. (Sekretaris)
Bambang Irawan, M. Si. (Anggota)
Drs. H. Bulkani, M. Pd. (Anggota)
Dr. Iin Nurbudiyani, M. Pd. (Anggota) Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi
Drs. M. Ramli, M. Pd.
NIK. 94.000.05
Mengetahui, Dekan FKIP
Drs. M. Fatturahman, M. Pd. M. Psi NIP. 19660805 199412 1 001
DAFTAR ISI
SURAT PERNYATAAN... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
LEMBAR PERSETUJUAN... vi
LEMBAR PENGESAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 7
C. Batasan Masalah ... 7
D. Rumusan Masalah ... 8
E. Alternatif Pemecahan Masalah ... 8
F. Tujuan penelitian ... 9
G. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Kajian Teoretis... ... 12
1. Pengertian Belajar. ... 12
2. Hasil Belajar ... 14
a. Pengertian Hasil Belajar ... 14
b. Macam-Macam Hasil Belajar ... 14
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 18
3. Metode Karya Wisata ... 19
a. Pengertian Metode ... 19 Halaman
b. Macam-macam Metode ... 19
c. Pengertian Metode Karya Wisata ... 24
d. Kelebihan dan Kelemahan Metode Karya Wisata ... 26
4. Pembelajaran IPS ... 27
a. Pengertian Pembelajaran IPS ... 27
b. Tujuan Pembelajaran IPS ... 28
c. Prinsip-Prinsip Pembelajaran IPS ... 30
5. Pajak ... 30
a. Pengertian Pajak ... 30
b. Unsur-Unsur Pajak ... 31
c. Fungsi-Fungsi Pajak ... 32
d. Prinsip Pemungutan Pajak ... 33
e. Syarat Pemungutan Pajak ... 34
f. Sistem Pemungutan Pajak ... 36
g. Perbedaan Pajak dan Pungutan Resmi Lainnya ... 37
h. Jenis-Jenis Pajak ... 38
B. Penelitian Yang Relevan ... 40
C. Kerangka Berpikir ... 42
D. Hipotesis ... 43
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu Dan Tempat Penelitian ... 45
1. Waktu Penelitian ... 45
2. Lokasi Penelitian ... 45
B. Jenis Penelitian ... 45
C. Kehadiran dan Peran Peneliti ... 47
D. Subjek Penelitian ... 48
E. Rancangan Penelitian ... 48
F. Teknik Pengumpulan Data ... 53
1. Teknik Pengumpulan Data ... 53
2. Instrumen Pengumpulan Data ... 55
3. Uji Coba Instrumen ... 59
G. Teknik Analisis Data ... 60
H. Indikator Keberhasilan Penelitian. ... 63
1. Aktifitas Peserta Didik ... 63
2. Peningkatan Hasil Belajar ... 63
I. Jadwal Penelitian ... 65
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ... 66
1. Deksripsi Data Penelitian ... 66
2. Deskripsi Hasil Belajar ... 67
a. Siklus I ... 69
b. Siklus II ... 84
B. Pengujian Hipotesis Tindakan ... 98
1. Aktivitas Peserta Didik ... 98
2. Peningkatan Hasil Belajar ... 99
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 100
BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 102
B. Rekomendasi ... 103
DAFTAR PUSTAKA ...104
DAFTAR TABEL
1. Tabel 1 Subjek Penelitian ... 48
2. Tabel 2 Kisi-kisi Lembar Pengamatan Aktivitas Guru ... 56
3. Tabel 3 Kisi-kisi Lembar Pengamatan Aktivitas Peserta Didik ... 57
4. Tabel 4 Kisi-kisi Pre-Test dan Post-Test ... 58
5. Tabel 5 Spesifikasi Lembar Penilaian ... 59
6. Tabel 6 Jadwal Penelitian ... 65
7. Tabel 7 Perolehan Evaluasi Peserta Didik Pada Tes Awal ... 68
8. Tabel 8 Pengamatan Aktivitas Guru Siklus I ... 75
9. Tabel 9 Pengamatan Aktivitas Peserta Didik Siklus I ... 76
10. Table 10 Hasil Perolehan Aktivitas Guru Dan Peserta Didik Siklus I ... 77
11. Tabel 11 Perbandingan Nilai Hasil Belajar IPS (Pre-Test dan Post-Test) I ... 79
12. Tabel 12 Pengamatan Aktivitas Guru Siklus II ... 91
13. Tabel 13 Pengamatan Aktivitas Peserta Didik Siklus II ... 92
14. Tabel 14 Hasil Perolehan Aktivitas Guru dan Peserta Didik Siklus II ... 93
15. Tabel 15 Perbandingan Nilai Hasil Belajar IPS (Pre-Test dan Post-Test) II ... 94
16. Tabel 16 Hasil Peningkatan Aktivitas Peserta Didik Siklus I Dan II ... 99
17. Tabel 17 Hasil Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Siklus I Dan II ... 99 Halaman
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR Halaman 1. Siklus Penelitian ... 49 2. Grafik Hasil Perolehan Peserta Didik Pre-Test Dan Post-Test Pada
Siklus I ... 82 3. Grafik Hasil Perolehan Peserta Didik Pre-Test Dan Post-Test Pada
Siklus II ... 96
DAFTAR LAMPIRAN Halaman
1. Lampiran Siklus I ...
2. Lampiran Siklus II ...
3. Lampiran Lembar Validasi Soal ...
4. Lempiran Lembar Observasi ...
5. Lampiran Foto ...
6. Lampiran Surat izin Penelitian ...
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN METODE KARYA WISATA PESERTA DIDIK KELAS VIII PADA MADRASAH
TSANAWIYAH HIDAYATUL INSAN PALANGKA RAYA TAHUN PELAJARAN 2014/2015
BAB I
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI TAHUN 2015
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Meskipun barangkali sebagian dari kita mengetahui tentang apa itu pendidikan, tetapi ketika pendidikan tersebut diartikan dalam satu batasan tertentu, maka terdapat macam-macam pengertian yang diartikan.
Dalam arti sederhana pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadianya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembanganya, istilah pendidikan atau pedagogi berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa selanjutnya pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau menjadi tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Berdasarkan tujuan pendidikan yang dirumuskan menurut Undang- undang No. 20 tahun 2003 yaitu:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. (UU RI. No.20 Tentang Sistem Pendidikan, 2008:8).
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta dan generalisasi yang berkaitan dengan fenomena alam serta kehidupan makhluk. Pada Jenjang Madrasah Tsanawiyah mata pelajaran IPS memuat materi ekonomi, geografi, sejarah, antropologi, sosiologi dan tata negara dalam bentuk sederhana dan menjadi satu kesatuan serta disusun secara sistematis kompetensi dan terpadu.
Sering terjadi salah tafsir manakala IPS dipahami sebagai hafalan.
Dengan serentetan kata tanya apa, kenapa, dimana, kapan, bagaimana dan mengapa terjawab dengan jalan menghafal untuk itu tidak dipungkiri lagi bahwa anak dituntut untuk terus belajar menghafal, bahkan kadang kala mengesampingkan aspek pemahaman. Para guru IPS pada umumnya menginginkan agar peserta didiknya berhasil dalam belajar IPS. Keberhasilan ini merupakan modal bagi peserta didik untuk memperoleh tes hasil belajar yang lebih baik.
Walaupun pada umumnya dianggap demikian, namun untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar IPS sebenarnya tidak sekedar nilai yang dicapai. Melainkan, selain aspek nilai, ada pula aspek-aspek lain yang perlu dicapai peserta didik dari belajar IPS yaitu keterampilan psikomotorik dalam kehidupan. Ada tiga hal prinsip keberhasilan sejalan dengan
“Taksonomi Bloom” yang harus dicapai peserta didik seusai belajar, yaitu:
kemampuan kognitif (pengetahuan), kemampuan afektif (penghayatan), dan kemampuan psikomotorik (perilaku).
Dengan demikian yang dimaksud dengan keberhasilan dalam belajar IPS bukanlah semata-mata hanya diukur dengan perolehan nilai yang memuaskan baik dalam ulangan maupun ujian akhir, melainkan diukur pula dari materi IPS yang dipelajari dapat dihayati dan diterapkan dalam perilaku sehari-hari. Pengalaman menunjukkan bahwa, keberhasilan seseorang peserta didik dalam belajar IPS ternyata ditentukan oleh berbagai faktor yang saling mendukung secara serempak atau terpadu. Dengan hanya mengandalkan faktor kecerdasan saja belum tentu menjamin keberhasilan peserta didik, jika tidak didukung faktor lain.
Faktor pendukung keberhasilan belajar peserta didik dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu: faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar. Faktor internal meliputi intelegensi (kecerdasan, kesehatan, kemampuan, adaptasi dan minat belajar). Faktor eksternal meliputi keadaan lingkungan, keadaan sarana prasarana maupun cara belajar. Faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar peserta didik yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.
Apabila ketiga faktor tersebut tersedia secara memadai, maka diharapkan akan dicapai hasil belajar. Peserta didik akan memperoleh hasil belajar IPS secara maksimal jika mempunyai minat belajar yang kuat kemudian didukung oleh lingkungan alam dan sosial, teman keluarga secara penuh, tersedia guru profesional, buku-buku pelajaran dan alat tulis yang memadai, serta menggunakan metode pengajaran yang tepat.
Telah terpapar diatas bahwasannya dengan penyajian materi dengan menggunakan metode yang tepat dapat menarik hasil belajar siswa. Menurut Susanto Ahmad (2013:5), mengemukakan bahwa “Hasil belajar peserta didik adalah kemampuan-kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar yang diperlakukan oleh guru”.
Metode karyawisata dipilih sebagai metode tepat guna dalam menarik minat belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS, dimana IPS itu sendiri sangat berhubungan erat dengan lingkungan. Karya wisata adalah metode mengajar dimana guru mengajak siswanya keluar kelas untuk menuju pada objek yang sesungguhnya sebagai sumber belajar yang disesuaikan dengan materi ajar.
Dengan karya wisata diharapkan siswa dapat mengamati, merasakan, melakukan secara langsung obyek dan dengan karya wisata pula menambah pengalaman wawasan serta ingatan siswa, yang jika dikaitkan dengan suatu konsep. Karya wisata menempatkan guru sebagai fasilitator sehingga siswa dapat aktif dan melakukan kegiatan. Dengan demikian akan menumbuhkan perasaan santai, tapi tetap serius pada diri siswa. Karya wisata adalah metode alternatif yang edukatif dan menyenangkan. Tumbuhnya pengalaman dari berwisata adalah guru berharga dan trik pembelajaran yang menarik, menyenangkan serta akan membangun “kerinduan” untuk belajar dan belajar.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan antara peneliti terhadap peserta didik Kelas VIII MTs Hidayatul Insan Palangka Raya menunjukan
bahwa pelaksanaan belum bervariasi dalam kegiatan pembelajaran IPS. Hal tersebut terbukti dari kurangnya motivasi belajar peserta didik dan rendahnya hasil belajar peserta didik. Hal itu terlihat pada saat KBM berlangsung tidak sedikit peserta didik yang ribut dan mengganggu teman di dalam kelas, mereka kurang fokus dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru.
Pada saat diberikan tugas tidak sedikit peserta didik yang mendapatkan nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), pada mata pelajaran IPS nilai KKM yang ditentukan oleh pihak sekolah adalah ≥65, sedangkan nilai yang diperoleh oleh peserta didik adalah 55-65, nilai ini di ambil dari tugas harian dan tugas rumah (PR), presentasi hasil belajar peserta didik menunjukan dari 33 orang peserta didik kelas VIII, 25 orang (80%) peserta didik mendapatkan nilai dibawah 65, dan hanya 8 orang (20%) yang mendapatkan nilai di atas 65. (Sumber data: Guru bidang studi IPS kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya).
Kondisi tersebut disebabkan karena: (1) peserta didik tidak mengerti, tidak fokus memperhatikan guru ataupun pelajaran, (2) guru hanya menggunakan buku sebagai satu-satunya sumber belajar, (3) guru hanya menjelaskan materi dengan metode ceramah sehingga peserta didik hanya menjadi pendengar tanpa terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, (4) dan tidak adanya tugas-tugas yang menantang peserta didik untuk berpikir dan membuat karya.
Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya merupakan salah satu lembaga pendidikan yang belum menerapkan karyawisata sebagai
metode dalam pengajaran mata pelajaran IPS. Dengan alasan keamanan dan dana, guru berdalih memanfaatkan metode ceramah, diskusi dan menggambar dalam menyajikan materi IPS, hingga akhirnya peserta didik memahami materi hanya secara abstrak.
Melihat latar belakang masalah tersebut dan dari fenomena yang terjadi, maka peneliti tertarik untuk melakukan kajian yang lebih mendalam untuk memperoleh kebenaran ilmiah yang dipertanggung jawabkan antara lain melakukan penelitian terhadap judul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar IPS Dengan Metode Karya Wisata Peserta Didik Kelas VIII Pada Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya”.
Penelitian ini penting dilakukan karena hasil belajar IPS dengan menggunakan metode karya wisata ini dapat merubah kebiasaan pasif peserta didik menjadi kebiasaan aktif, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Selain itu, penelitian ini memiliki peranan penting demi tercapainya perubahan dalam proses pembelajaran, jika penelitian ini tidak dilakukan maka proses pembelajaran akan berlangsung seperti biasa dan kemampuan aktivitas belajar akan berkurang.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan fenomena yang telah dikemukakan dalam latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1. Masih rendahnya hasil belajar peserta didik pada pembelajaran IPS.
2. Peserta didik cenderung bersifat pasif pada saat pembelajaran IPS.
3. Peserta didik merasa bosan, jenuh, serta sering ribut pada saat pembelajaran IPS berlangsung.
4. Hasil belajar peserta didik belum mencapai KKM dalam mata pelajaran IPS.
C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini menjadi terarah dan untuk menghindari meluasnya masalah yang diteliti, maka dalam penelitian ini peneliti memberikan batasan masalah sebagai berikut:
1. Peneliti berfokus pada upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan metode pembelajaran yaitu metode karya wisata khusus mata pelajaran IPS di Madrasah Tsanawiah Hidayatul Insan Palangka Raya.
2. Materi yang akan dibahas dalam penelitian ini dibatasi pada materi berdasarkan dengan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimana aktivitas belajar IPS peserta didik kelas VIII di Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya dengan menggunakan metode karya wisata?
2. Apakah ada peningkatan hasil belajar IPS setelah menggunakan metode karya wisata pada peserta didik kelas VIII di Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya?
E. Alternatif Pemecahan Masalah
Salah satu alternatif yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar IPS peserta didik adalah:
1. Metode karya wisata dipilih sebagai metode tepat guna dalam menarik minat belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS, dimana IPS itu sendiri sangat berhubungan erat dengan lingkungan. Karya wisata adalah metode mengajar dimana guru mengajak siswanya keluar kelas untuk menuju pada obyek yang sesungguhnya sebagai sumber belajar yang disesuaikan dengan materi ajar.
2. Penggunaan metode karya wisata diharapkan siswa dapat mengamati, merasakan, melakukan secara langsung obyek dan dengan karya wisata pula menambah pengalaman wawasan serta ingatan siswa, yang jika dikaitkan dengan suatu konsep alternatif yang edukatif dan menyenangkan.
3. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, seperti menyajikan (Role Playing) bermain peran merupakan suatu teknik kegiatan belajar yang menekankan pada kemampuan penampilan warga belajar untuk memerankan suatu status atau fungsi suatu pihak-pihak lain yang terdapat pada dunia kehidupan.
F. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan latar belakang yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui aktivitas belajar IPS peserta didik kelas VIII di Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya dengan menggunakan metode karya wisata.
2. Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar IPS dengan menggunakan metode karya wisata pada peserta didik kelas VIII di Madrasah Tsanawiyah Hidayatul Insan Palangka Raya.
G. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara Teoretis
a. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar bagi peneliti selanjutnya yang lebih mendalam, penelitian ini bermafaat untuk menambah informasi dan memberi referensi bagi peneliti lainnya.
b. Bagi pengembangan keilmuan, penelitian ini dapat memberikan sumbangan terkait mengatasi masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran IPS.
c. Memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka pengembangan ilmu pendidikan terutama dikaitkan dengan hal-hal yang mempengaruhi minat belajar peserta didik.
d. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran dalam rangka menyempurnakan konsep maupun implementasi paktik pendidikan sebagai upaya yang strategis dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia.
2. Secara Praktis
a. Bagi Kepala Sekolah
1) Sebagai bahan pertimbangan agar lebih memperhatikan pembelajaran serta dapat mengambil kebijakan terhadap pendidik agar dapat mendesain dan menyampaikan pelajaran dengan menggunakan metode yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan mengoptimalkan penggunaan metode dalam proses pelaksanaan belajar mengajar.
2) Agar dapat memberikan motivasi dan masukan kepada guru untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan penggunaan metode yang menyenangkan.
b. Bagi Guru
1) Menambah variasi metode pembelajaran pada saat proses belajar mengajar.
2) Mendapatkan pengalaman langsung dalam melakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan profesi guru
3) Dapat memperoleh keterampilan baru yaitu pembelajaran langsung dengan metode karya wisata dalam pembelajaran IPS.
c. Bagi peserta didik
Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan minat belajar peserta didik yang akhirnya berdampak pada hasil belajar peserta didik pada proses belajar mengajar.
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN METODE KARYA WISATA PESERTA DIDIK KELAS VIII PADA MADRASAH
TSANAWIYAH HIDAYATUL INSAN PALANGKA RAYA TAHUN PELAJARAN 2014/2015
BAB II
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI TAHUN 2015
BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teoretis 1. Pengertian Belajar
Menurut Muhibbin Syah (2010:87), “Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan”.
Sedangkan menurut Hamalik (dalam Susanto Ahmat, 2013:3-4) menyatakan bahwa:
Belajar adalah memodifikasi atau memperteguh prilaku melalui pengalaman, tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungan sekitar dan pengalaman yang dialami sendiri. Setiap perilaku belajar ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik antara lain:
a. Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang berfungsi terus menerus.
b. Belajar hanya terjadi dari pengalaman yang bersifat individual.
c. Belajar merupakan kegiatan yang bertujuan kearah yang ingin dicapai.
d. Belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh, melibatkan seluruh tingkah laku secara integral.
e. Belajar adalah proses interaksi dan belajar berlangsung dari yang paling sederhana sampai pada yang kompleks.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan prilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam belajar meliputi:
1) Prinsip Kesiapan
Tingkat keberhasilan belajar tergantung pada kesiapan belajar.
Apakah dia sudah dapat mengkonsentrasikan pikiran atau apakah kondisi fisiknya sudah siap untuk belajar.
2) Prinsip Asosiasi
Tingkat keberhasilan belajar juga tergantung pada kemampuan belajar mengasosiasikan atau menghubung-hubungkan apa yang sedang dipelajari dengan apa yang sudah ada dalam ingatannya pengetahuan yang sudah dimiliki, pengalaman, tugas yang akan datang, masalah yang pernah dihadapi, dll.
3) Prinsip Latihan
Pada dasarnya mempelajari sesuatu itu perlu berulang-ulang atau diulang-ulang, baik mempelajari pengetahuan maupun keterampilan, bahkan juga dalam kawasan efektif. Makin sering diulang makin baiklah hasil belajarnya.
4) Prinsip Efek (Akibat)
Situasi emosional pada saat belajar akan mempengaruhi hasil belajarnya. Situasi emosional itu dapat disimpulkan sebagai perasaan senang atau tidak senang selama belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang terjadi oleh adanya interaksi dengan lingkungan melalui pengalaman dan pengetahuan.
2. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Kunandar (2009:241) mengemukakan bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan peserta didik dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu kompetensi dasar”.
Sedangkan menurut Susanto Ahmad (2013:5) mengungkapkan bahwa
“Hasil belajar peserta didik adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri peserta didik, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan proses perubahan penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari prelakunya dalam bentuk penguasaan pengetahuan, kemampuan berpikir maupun keterampilan motorik. Hampir sebagian besar dari kegiatan atau prilaku yang diperlihatkan seseorang merupakan hasil belajar. Di sekolah hasil belajar dapat dilihat dari penguasaan peserta didik akan semata-mata pelajaran yang ditempuhnya. Tingkat penguasaan pelajaran atau hasil belajar dalam mata pelajaran tersebut di sekolah dilambangkan dengan angka-angka atau huruf.
b. Macam-macam hasil belajar
Macam-macam hasil belajar meliputi:
1) Pemahaman konsep
Menurut Bloom (dalam Susanto Ahmad, 2013:6) menyatakan bahwa:
Pemahaman diartikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari sebagian besar peserta didik mampu menerima, menyerap dan memahami pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa, atau sejauh mana siswa dapat memahami serta mengerti apa yang dibaca, yang dilihat, yang dialami atau yang dirasakan berupa hasil penelitian atau observasi langsung yang dilakukan.
Sedangkan menurut Carin dan Sund (dalam Susanto Ahmad, 2013:6) “Mengungkapkan bahwa pemahaman adalah suatu proses yang terdiri dari tujuan tahapan kemampuan”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman merupakan gabungan dari aspek-aspek seperti kemapuan untuk menerangkan dan menginterprestasikan sesuatu hal yang telah dipahami dengan memberikan contoh, gambaran, dan penjelasan yang lebih luas, memadai, sesuai dengan kebenaran.
Menurut Dorothy J. Seel (dalam Susanto Ahmad, 2013:8)
“Mengemukakan bahwa konsep merupakan sesuatu yang tergambar dalam pikiran, suatu pikiran, gagasan, atau suatu pengertian”.
Sedangkan menurut Jemes G. Womack (dalam Susanto Ahmad, 2013:8) “Mengidentifikasi bahwa konsep merupakan sebagai kata atau ungkapan yang berhubungan dengan sesuatu yang menonjol, sifat yang melekat”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konsep merupakan sesuatu yang telah melekat dalam hati seseorang dan tergambar dalam pikiran, gagasan, atau suatu pengertian.
Dan dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep merupakan mengukur hasil belajar siswa yang berupa pemahaman peserta didik akan materi pelajaran yang diberikan oleh guru, guru dapat melakukan melalui evaluasi produk dapat diselidiki apakah dan sampai berapa jauh suatu tujuan intruksional telah tercapai, semua tujuan itu merupakan hasil belajar yang seharusnya diperoleh siswa. Hasil belajar siswa erat hubungannya dengan tujuan intruksional (pembelajaran) yang telah dirancang guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar.
Evaluasi produk dapat dilaksanakan dengan mengadakan berbagai macam tes, baik secara lisan maupun tertulis.
2) Keterampilan Proses
Menurut Usma, (dalam Susanto Ahmat, 2013:9), mengemukakan bahwa:
Keterampilan proses merupakan kemampuan keterampilan yang mengarah kepada pembangunan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak yang lebih tinggi dalam diri individu peserta didik.
Sedangkan menurut Indrawati (dalam Susanto Ahmat, 2013:10), merumuskan bahwa:
Keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif maupun psikomotorik) yang dapat digunakan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip
atau teori, untuk mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, atau untuk melakukan penyanggalan terhadap suatu penemuan (klasifikasi).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu hasil tertentu termasuk keaktivitasannya. Dalam keterampilan proses, secara bersamaan dikembangkan pula sikap-sikap yang dikehendaki, seperti keaktivitasan, kerja sama, bertanggung jawab, dan berdisiplin sesuai dengan penekanan bidang studi yang bersangkutan.
3) Sikap
Menurut Lange (dalam Susanto Ahmat, 2013:10) “Sikap tidak hanya merupakan aspek mental sementara, melainkan mencakup pula aspek respon fisik”.
Sedangkan menurut Sardiman (dalam Susanto Ahmat, 2013:11), “Sikap merupakan kecendrungan untuk melakukan sesuatu dengan cara, metode, pola, dan teknik tertentu terhadap dunia sekitarnya baik berupa individu-individu maupun objek-objek tertentu”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sikap merujuk pada perbuatan, perilaku, atau tindakan seseorang yang dilakukan dengan kekompakan antara mental dan fisik secara bersamaan.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Hasil belajar sebagai pencapaian tujuan pembelajaran dikelas tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri.
Menurut Muhibbin Syah (2010:129), menyebutkan faktor- faktor yang mempengaruhi hasil belajar sebagai berikut:
1) Faktor Internal Peserta didik
Faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri meliputi 2 aspek yakni: 1) aspek psikologis (yang bersifat jasmaniah), 2) aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).
2) Faktor Eksternal Peserta didik
Faktor yang berasal dari luar diri peserta didik sendiri meliputi 2 aspek yakni: 1) faktor lingkungan sosial (keluarga, masyarakat dan sekolah), 2) faktor lingkungan nonsosial (lokasi tempat tinggal, keadaan cuaca, waktu belajar dan alat-alat belajar).
3) Faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar peserta didik yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.
Sedangkan menurut menurut Ruseffendi (dalam Susanto Ahmat, 2013:14) mengemukan bahwa:
Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar kedalam sepuluh macam, yaitu: 1) kecerdasan peserta didik, 2) kesiapan peserta didik, 3) bakat belajar, 4) kemauan balajar peserta didik, 5) minat peserta didik, 6) metode atau model penyajian materi, 7) pribadi dan sikap guru, 8) suasana belajar, 9) kopetensi guru, 10) kondisi masyrakat.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar yakni faktor yang terdapat pada diri peserta didik itu sendiri seperti minat, motivasi, kesadaran, dan kesiapan peserta didik, kemudian didukung oleh foktor
dari luar diri peserta didik seperti faktor lingkungan, masyarakat, dan sumber belajar.
3. Metode Karya Wisata a. Pengertian Metode
Menurut Wina Sanjaya (dalam Mulyono, 2012:81) menyatakan bahwa:
Metode adalah cara memudahkan peserta didik mencapai kompetensi tertentu. Jadi, metode pembelajaran diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
Sedangkan menurut Susanto Ahmat (2013:266) “Metode adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya pelajaran”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode merupakan teknik yang dirancang oleh guru untuk mempermudah proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang ingin dicapai tercapai dengan baik sehingga proses pembelajaran menjadi terasa lebih menyenangkan oleh peserta didik.
b. Macam-Macam Metode
Metode mengajar terdiri dari beberapa macam, mulai dari yang tradisional hingga konvensional sampai yang modern. Ada beberapa
metode yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain sebagai berikut:
1) Metode Tanya Jawab yaitu cara penjelasan informasi yang pelaksanaannya saling bertanya dan menjawab antara sumber belajar dengan peserta didik.
2) Metode Ceramah yaitu cara penyampaian informasi secara lisan yang dilakukan oleh sumber belajar kepada peserta didik.
3) Metode Diskusi Kelompok yaitu cara pembahasan suatu masalah oleh jumlah anggota kelompok untuk mencapai suatu kesepakatan.
4) Metode Membaca dan Berdiskusi yaitu cara pembahasan suatu permasalahan melalui diskusi dengan mengawali kegiatan dengan membaca terlebih dahulu.
5) Metode Demontrasi yaitu cara memperagakan sesuatu hal yang pelaksanaannya diawali oleh peragaan sumber belajar kemudian diikuti oleh peserta didik.
6) Metode Resitasi atau Penugasan yaitu cara pemberian tugas yang dilakukan oleh sumber belajar kepada peserta didik yang pelaksanaannya dapat dilakukan didalam kelas maupun diluar kelas, serta dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.
7) Metode Karyawisata yaitu cara mengunjungi suatu tempat atau objek tertentu dengan melibatkan seluruh peserta didik, dengan kegiatan ada unsur karya dan unsur wisata.
8) Metode Simulasi yaitu cara permainan yang merupakan cuplikan satu situasi kehidupan nyata yang diangkat dalam kegiatan belajar.
9) Metode Role Playing atau Bermain Peran yaitu cara permainan yang pelaksanaannya berupa peragaan secara singkat oleh peserta didik dengan tekanan utama pada karakteristik atau sifat seseorang dengan dasar memerankan cuplikan tingkah laku dalam situasi tertentu, yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi tentang masalah yang baru diperagakan.
10) Metode Drill atau Latihan yaitu cara melatih peserta didik tentang kegiatan-kegiatan tertentu secara berulang ulang dengan materi yang sama.
11) Metode DIAD yaitu cara komunikasi diantara dua orang baik secara lisan maupun tertulis terutama menyangkut identitas dari masing- masing pribadi.
12) Metode Broken Square yaitu cara penyusunan pecahan-pecahan bujur sangkar yang dilakukan oleh empat atau lima kelompok menjadi bentuk bujur sangkar.
13) Metode Brainstorming atau curah pendapat yaitu cara menghimpun gagasan atau pendapat dari setiap peserta didik tentang suatu permasalahan.
14) Metode Sambutan Melingkar yaitu suatu cara untuk menghimpun pendapat peserta didik, yang pelaksanaannya setiap peserta didik harus mengemukakan pendapatnya sesuai dengan permasalahan
yang diajukan oleh sumber belajar secara bergiliran dalam keadaan tempat duduk yang melingkar.
15) Metode Rembuk Sejoli yaitu cara pemecahan suatu masalah yang pelaksaanaannya dalam kelompok dibagi secara berpasangan kemudian dalam waktu yang singkat masing-masing kelompok membahas suatu masalah dan diakhiri dengan penyampaian laporannya oleh masing-masing juru bicara dalam kelompok besar.
16) Metode Buzz Group yaitu cara pembahasannya suatu masalah yang pelaksanaannya peserta didik dibagi beberapa kelompok antara tiga sampai enam orang membahas suatu maslah yang diakhiri dengan penyampaian hasil pembahasannya oleh setiap juru bicara pada kelompok besar.
17) Metode Phillips 66 yaitu cara pembahasan masalah yang pelaksanaanya peserta didik dibagi dalam kelompok kecil terdiri dari enam orang dan dalam waktu enam menit membahas suatu masalah yang diakhiri dengan penyampaian laporan oleh setiap juru bicara dalam kelompok kecil.
18) Metode Fish Bowl atau metode cawan ikan yaitu cara pemecahan masalah melalui diskusi yang pelaksanaannya peserta didik dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok dalam dan kelompok luar.
Yang melaksanakan diskusi yaitu kelompok dalam, sedangkan kelompok luar berperan sebagai pendengar yang satu waktu bisa pindah pada kelompok dalam untuk mengemukakan pendapat.
19) Metode Lukisan Kelompok yaitu cara mengekspresikan gagasan oleh setiap kelompok dalam bentuk gambar yang diakhiri dengan kegiatan diskusi yang baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus.
20) Metode Karangan Kelompok yaitu cara pengekspresian gagasan oleh setiap kelompok dalam bentuk karangan kelompok yang diakhiri dengan kegiatan diskusi baik yang bersifat umum maupun khusus.
21) Metode Forum Musik yaitu cara pembahasan sesuatu hal yang diawali dengan mendengarkan musik terlebih dahulu oleh warga belajar.
22) Metode Penelaahan Induktif Kitab Suci yaitu cara penelaahan sesuatu ayat Kitab Suci yang dikemukakan oleh sumber belajar.
23) Metode Pembahasan Mendalam Kitan Suci yaitu cara pembahasan ayat-ayat Kitab Suci yang dikemukakan oleh peserta didik baik secara lisan maupun tertulis.
24) Metode Symposium yaitu cara penyimpanan materi secara lisan dilakukan berupa kegiatan ceramah oleh beberapa orang narasumber.
25) Metode Panel yaitu cara pembahasan suatu masalah melalui suatu kegiatan diskusi yang dilakukan oleh beberapa ahli dari berbagai keahlian dihadapi oleh peserta didik.
26) Metode Forum atau Diskusi Panel yaitu pengembangan dari metode panel. Metode Forum Panel sama dengan Metode Diskusi Panel.
27) Metode Seminar yaitu cara penyampaian informasi berdasarkan hasil penelitian yang diikuti dengan kegiatan diskusi oleh seluruh warga belajar dibawah bimbingan sumber belajar.
28) Metode Studi Kasus yaitu cara penelaahan suatu kasus nyata dilapangan melalui kegiatan penelitian, yang diakhiri dengan kegiatan penyampaian laporan.
29) Metode Colloquy yaitu cara pembahasan suatu permasalahan yang dilakukan oleh tiga atau empat orang narasumber dengan didasarkan kepada pertanyaan yang dilakukan oleh tiga atau empat orang sebagai wakil kelompok belajar.
30) Metode Socio drama penerapan dan langkah-langkahnya pada prinsipnya sama dengan metode role playing yaitu sama-sama termasuk rumpun metode permainan.
c. Pengertian Metode Karya Wisata
Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan.
Menurut Mulyono (2012:112) menyatakan bahwa:
Metode karya wisata merupakan implementasi dari salah satu dan satu gabungan dari beberapa strategi pembelajaran antara lain:
pembelajaran konstekstual, bermain peran, pembelajaran partisipatif, belajar tuntas maupun strategi pembelajaran inkuiri.
Sedangkan menurut Pupuh Fathurrohman (2007: 62) menyatakan bahwa:
Karyawisata adalah metode dalam proses belajar mengajar dengan mengajak siswa keluar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau suatu objek, hal ini bukan rekreasi tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya untuk melihat langsung atau kenyataan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode karya wisata merupakan suatu metode gabungan dari berbagai metode pembelajaran yang dilakukan dengan mengajak peserta didik ke luar kelas menuju tenpat tertentu dengan tujuan untuk belajar dan memperdalam pelajaran dengan melihat secara langsung atau kenyataan yang sebenarnya sehingga proses belajar lebih menyenangkan.
Langkah-langkah pokok dalam pelaksanaan metode karya wisata, antara lain:
1. Perencanaan Karyawisata
a) Merumuskan tujuan karyawisata.
b) Menetapkan objek karyawisata sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
c) Menetapkan lamanya karyawisata.
d) Menyusun rencana belajar bagi peserta didik selama karyawisata.
e) Merencanakan perlengkapan belajar yang harus disediakan.
2. Pelaksanaan Karyawisata
Fase ini adalah pelaksanaan kegiatan belajaran di tempat karyawisata dengan bimbingan guru. Kegiatan belajar ini harus diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan pada fase perencanaan di atas.
3. Tindak Lanjut
Pada akhir karyawisata peserta didik diminta laporannya baik lisan maupun tertulis, mengenai inti masalah yang telah dipelajari pada waktu karyawisata.
d. Kelebihan dan Kelemahan Metode Karya Wisata Kelebihan metode karyawisata sebagai berikut:
1) Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
2) Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
3) Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.
Kekurangan metode karyawisata sebagai berikut:
1) Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
2) Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
3) Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas dari pada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan.
4) Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak- gerik anak didik di lapangan.
5) Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.
4. Pembelajaran IPS
a. Pengertian Pembelajaran IPS
Rumusan tentang pengertian IPS telah banyak dikemukakan oleh para ahli IPS atau sosial studies di sekolah-sekolah Amerika pengajaran IPS di kenal dengan social student. Jadi, istilah IPS merupakan terjemahan Social Studies. Dengan demikian IPS dapat diartikan dengan “Penelahan atau kajian tentang masyarakat”. Dalam mengakaji masyarakat, guru dapat melakukan kajian dari berbagai persfektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik pemerintahan, dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Zamroni (dalam Acinupawati, 2011:14), menyatakan bahwa:
Pembelajaran IPS adalah suatu bidang studi yang merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasikan tentang alam sekitar yang diperoleh melalui pengalaman dan melalui serangkaian proses sosialisasi antara lain menyediakan penyusunan serta pengujian gagasan.
Sedangkan menurut Susanto Ahmad (2013:139), mengungkapkan bahwa:
Pembelajaran IPS merupakan penyederhanaan adaptasi, seleksi, dan modifikasi dari disiplin akademik ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk menghujudkan tujuan guruan berdasarkan pancasila.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa IPS merupakan kajian tentang masyarakat, dalam IPS dapat dilakukan dalam lingkungan yang terbatas, yaitu lingkungan sekitar sekolah atau peserta didik atau dalam lingkungan yang luas, yaitu lingkungan negara lain, baik yang ada dimasa sekarang maupun di masa lampau. Dengan demikian peserta didik yang mempelajari IPS dapat menghayati masa sekarang dengan dibekali pengetahuan tentang masa lampau umat manusia.
b. Tujuan Pembelajaran IPS
Berdasarkan falsapah negara disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 tahun 2007, maka telah dirumuskan tujuan pendidikan nasional, dalam SISDIKNAS (2007:119) yaitu “Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab‟‟. Berkaitan dengan tujuan pendidikan diatas tentu saja tujuan harus dikaitkan dengan kebutuhan disesuaikan dengan tantangan-tantangan kehidupan yang akan dihadapi peserta didik. Berkaitan dengan hal tersebut pembelajaran IPS, bertujuan untuk:
1) Mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, kewarganegaraan, pedagogi dan psikologis.
2) Mengembangkan kemampuan berpikir kriitis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan sosial.
3) Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4) Meningkatkan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global.
5) Mengenalkan konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.
Menurut Solihatim (2011:14) mengungkapkan bahwa “Tujuan pembelajaran IPS adlah untuk untuk mendidik dan memberi bakal, minat, kemampuan dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi”.
Sedangkan menurut Susanto Ahmad (2013:145) mengungkapkan bahwa:
Tujuan pembelajaran IPS adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masala sosial yang terjadi dimasyarakat , memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya maupun yang menimpa masyarakat.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS adalah untuk mengembangkan potendi peserta didik untuk peka terhadap masalah-masalah sosial baik yang berkenaan
dengan diri mereka sendiri dan lingkungannya, untuk membentuk dan mengembangkan pribadi warga negara yang baik dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat sehari-hari.
c. Prinsip-Prinsip Pembelajaran IPS
Prinsip-prinsip pembelajaran IPS antara lain adalah sebagai berikut:
1) Tingkat perkembangan usia dan belajar peserta didik.
2) Pengalaman belajar dan lingkungan budaya peserta didik.
3) Kondisi kehidupan masyarakat sekitar masa kini dan kelak yang diharapkan.
4) Proyeksi harapan pembangunan nasional atau daerah yang tentunya mampu dijalankan atau diperankan peserta didik kini dan kelak dikemudian hari.
5) Isi dan peran moral budaya bangsa, Pancasila dan agama yang dianut yang diakui bangsa dan negara Indonesia.
5. Pajak
a. Pengertian Pajak
Menurut Mardiasmo, (dalam Raharta Ringo, dkk, 2013:106), Menyatakan bahwa:
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang- undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
Sedangkan Menurut Undang-Undang No.16 Tahun 2009, (dalam Raharta Ringo, dkk, 2013:106), Menyatakan bahwa:
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pajak merupakan iuran wajib masyarakat berdasarkan undang-undang yang berbentuk uang yang besipat memaksa dan tidak mendapat balas jasa secara langsung selain itu juga pajak selain berfungsi sebagai sumber pendapatan bagi negara juga berfungsi sebagai alat kebijaksanaan moneter yang mampu mengatur kehidupan ekonomi dan mendorong atau menekan suatu cara hidup. Berdasarkan pengertian pajak tersebut dapat diketahui ciri-ciri pajak antara lain:
1) Bersifat memaksa.
2) Merupakan iuran (pembayaran) wajib kepada negara.
3) Tidak ada imblan balas jasa secara langsung dari negara kepada rakyat.
4) Digunakan untuk kesejahteraan umum.
5) Pungutan pajak berdasarkan undang-undang.
6) Pendapatan negara berasal dari pajak digunakan untuk pembelanjaan negara.
b. Unsur-Unsur Pajak
Unsur-unsur pajak terdiri atas subjek pajak, objek pajak dan tarif pajak unsur-unsur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Wajib pajak atau wajib pajak atau subjek pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayaran pajak, pemotong pajak dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Sedangkan subjek pajak terdiri atas pegawai, pengusaha, dan perusahaan.
2) Objek pajak adalah segala sesuatu yang dikenai pajak. Objek pajak dapat berupa pengahasilan pegawai, tanah, bangunan, laba perusahaan, kekayaan, dan kenderaan. Objek pajak dibayarkan setiap tahun kelender.
3) Tarif pajak adalah dasar bembebanan besarnya pajak yang harus dibayar wajib pajak dalam bentuk presentase. Tarif pajak terdiri atas tarif pajak tetap, tarif proposional, tarif progresif, dan tarif degresif.
c. Fungsi-Fungsi Pajak
Menurut Ringo, dkk, (2013:107), Menyatakan bahwa pajak berfungsi sebagai sumber pendapatan negara. Fungsi pajak terbagi menjadi lima yaitu:
1) Fungsi anggaran, artinya pajak sebagai sumber penerimaan negara untuk membiayai pengeluaran pemerintah kaitannya dengan pelayanan publik.
2) Fungsi regulasi, artinya pajak sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan pemerintah.
Fungsi regulasi pajak tercermin dalam bentuk insentif perpajakan dan tarif ekspor.
3) Fungsi distribusi, artinya pajak digunakan untuk membiayai pelaksanaan pembangunan ekonomi dalam rangka meningkatkan tarif hidup rakyat. Fungsi distribusi pajak tercermin dalam bentuk penyediaan pelayanan kesehatan yang murah, fasilitas pendidikan yang murah, fasilitas
transportasi publik yang nyaman, serta susbsidi pengadaan rumah murah, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya.
4) Fungsi alokasi, artinya pajak digunakan untuk membiayai dan menyediakan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan masyarakat. Misalnya, ketersediaan lampu penerangan jalan, saluran telpon umum, dan lampu pengatur lalu lintas.
5) Fungsi stabilitasi, artinya pajak sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi suatu negara. Pajak dapat digunakan untuk mengatasi ketidakstabilan ekonomi melalui pembentukan tarif pajak, misalnya pemerintah menetapkan tarif pajak tinggi untuk mengendalikan laju inflasi. Sebaliknya, pada saat deflasi pemerintah dapat menurunkan tarif pajak.
Sedangkan menurut Siti Resmi (dalam Sari Kartika, dkk, 2013:117), menyebutkan bahwa fungsi pajak adalah sebagai berikut:
1) Fungsi Budgetir ( Sumber Keuangan Negara)
Pajak mempunyai fungsi Budgetir artinya pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin maupun pembangunan. Sebagai sumber keuangan negara, pemerintah berupaya memasukan uang sebanyak-banyaknya untuk kas negara. Upaya tersebut ditempuh dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak melalui penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak seperti pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, dan pajak penjualan atas barang mewah, pajak bumi dan bangunan.
2) Fungsi Regulerend (Mengatur)
Pajak mempunyai fungsi mengatur artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi, dan mencapai tujuan-tujuan tertentu di luar bidang keuangan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki fungsi sebagai sumber dana untuk membiayai pengeluaran- pengeluaran pemerintah yang mungkin dapat digunakan untuk membiayai kegiatan dan proyek pembangunan, memperluas lapangan atau kesempatan kerja.
d. Prinsip Pemungutan Pajak
Prinsip pemungutan pajak antara lain:
1) Prinsip keadilan, artinya pajak yang dikenakan sebanding dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak.
2) Prinsip kepastian, artinya pelaksanaan pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang, yaitu harus ada kejelasan, ketegasan dan adanya jaminan hukum.
3) Prinsip kelayakan, artinya pemungutan pajak hendaknnya tidak memberatkan wajib pajak.
4) Prinsip ekonomi, artinya secara ekonomi biaya pemungutan dan pemenuhan kewajiban pajak bagi wajib pajak harus proporsional.
e. Syarat Pemungutan Pajak
Menurut Raharta Ringo, dkk, (2013:108), menyatakan bahwa syarat pemungutan pajak antara lain:
1) Kesamaan yaitu dalam pemungutan pajak orang yang berada dalam keadaan yang sama harus dikenakan pajak yang sama.
2) Kesenangan yaitu dalam pemungutan pajak diupayakan pada saat yang tepat, yaitu pada saat wajib pajak mempuyai uang.
3) Ekonomi artinya biaya pemungutan pajak harus lebih kecil dari pada hasil pungutan pajak tersebut.
Sedangkan menurut Menurut Erly Suandy (dalam Raharta Ringo, dkk, 2013:112), mengatakan bahwa yang menjadi syarat dalam pemungutan pajak adalah sebagai berikut:
1) Syarat Keadilan, syarat pemungutan pajak pada umumnya harus adil dan merata, yaitu dikenakan pada orang-orang pribadi sebanding dengan kemampuannya untuk membayar
(ability to pay) pajak tersebut, dan sesuai dengan manfaat yang diterimanya. Keadilan disini baik keadilan dalam prinsip mengenai prinsip peraturan perundang-undangan maupun dalam praktik sehari-hari. Syarat keadilan dapat dibagi menjadi dua yaitu: Keadilan horizontal wajib pajak mempunyai kemampuan membayar (gaya pikul) sama harus dikenakan pajak yang sama dan keadilan vertikal wajib pajak mempunyai kemampuan membayar (gaya pikul) tidak sama harus dikenakan pajak yang tidak sama.
2) Syarat Yuridis, dimana pembayaran pajak harus seimbang dengan kekuatan membayar wajib pajak. Memang kelihatannya bahwa hal ini mudah saja, karena membayar pajak sesuai dengan kemampuannya. Tetapi dalam praktik mengalami kesulitan-kesulitan dalam memperhitungkan pajak. Bagi orang yang berpenghasilan tidak menjadi persoalan. Tetapi mereka yang berpenghasilan tidak tetap hasilnya, maka sukar sekali untuk menentukan kemapuannya atau daya pukulnya. Untuk itu maka kepada wajib pajak diberikan kepercayaan sepenuhnya untuk menghitung sendiri pajaknya dengan cara mengisi SPT secara jujur sesuai dengan kenyataan. Keadaan dalam pelaksanaannya Undang-undang pajak harus diawasi supaya pegawai-pegawai yang diserahi dengan tugas untuk menetapkan pajak, tidak bertindak sewenang-wenang.
Untuk mencegah hal ini Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang- undang Nomor 9 Tahun 1994 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, memberikan kesempatan kepada wajib pajak tidak puas untuk mengajukan keberatan dan banding. Pada tahap pertama, wajib pajak dapat mengajukan keberatannya kepada Direktur Jenderal Pajak.
Jika keberatan dari wajib pajak ditolak, maka masih terbuka untuk mengajukan banding ke Badan Penyelesaian Sengketa Pajak.
3) Syarat Ekonomis yaitu pungutan pajak harus menjaga keseimbangan kehidupan ekonomi dari si wajib pajak.
Jangan sampai akibat pemungutan pajak terhadap seseorang, maka orang itu jatuh melarat. Pemungutan pajak tidak boleh menggangu atau menghalangi kelancaran produksi maupun perdagangan atau perindustrian, jangan sampai terjadi bahwa dengan adanya pemungutan pajak, perusahaan akan gulung tikar atau pailit. Sebaliknya pemungutan pajak diharapkan bisa membantu menciptakan pemerataan pendapatan.
4) Syarat Finansial di mana pajak yang dipungut cukup untuk pengeluaran negara dan hendaknya pemungutan pajak tidak memakan biaya yang terlalu besar. Dalam hal ini diartikan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pemungutan atau penetapan pajak hendaknya lebih kecil dari penerimaan pajak ke kas Negara atau Daerah. Hal ini sesuai dengan fungsi budgetair dari pajak.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pemungutan pajak haruslah memenuhi syarat yang telah diterapkan agar dapat tercapai suatu hal yang berkesinambungan antara wajib pajak dan penagih pajak serta untuk menghindari hambatan dan perlawanan dari wajib pajak, karena wajib pajak merasa dirugikan oleh fiskus. Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut: syarat keadilan, syarat yuridis, syarat ekonomis, syarat finansial.
e. Sistem Pemungutan Pajak
Menurut Raharta Ringo, dkk, (2013:108), Menyatakan bahwa Sistem pemungutan pajak yang dilaksanakan di Indonesia sebagai berikut:
1) Official assessment system, yaitu sistem pemungutan pajak yang menyatakan bahwa jumlah pajak yang terutang oleh wajib pajak dihitung dan ditetapkan oleh aparatur negara.
2) Semi-self assessment system, yaitu cara pemungutan pajak untuk menentukan besar pajak terutang ada pada wajib pajak bersamaan dengan aparatur negara.
3) Self assessment system, yaitu sistem pemungutan pajak yang memungkinkan wajib pajak menghitung besar pajak terhutang yang kemudian diserahkan kepada aparatur negara.
4) With holding system, yaitu sistem pemungutan pajak yang menyatakan bahwa jumlah pajak yang terhutang dihitung oleh pihak ketiga (selain wajib pajak dan aparatur pajak).
Sedangkan Menurut Mardiasmo (dalam Menurut Raharta Ringo, dkk, 2013:108), Menyatakan bahwa dalam memungut pajak dikenal beberapa sistem pemungutan pajak yaitu:
1) Official Assessment System adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
Ciri-ciri Official Assessment System: Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus,wajib pajak bersifat pasif,utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.
2) Self Assessment System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang. Ciri-ciri Self Assessment System: Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak itu sendiri,wajib pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang, fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi.
3) With Holding System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
Ciri-ciri With Holding System: Wewenang menentukan besarnya pajak terutang ada pada pihak ketiga, pihak selain fiskus dan wajib pajak.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sistem pemungutan pajak dapat memberikan wewenang kepada wajib pajak untuk membayar, menghitung, dan melaporkan sendiri jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
f. Perbedaan Pajak dan Pungutan Resmi Lainnya
Perbedaan pajak dan pungutan resmi lainnya dapat diuraikan sebagai berikut: