37 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Yayasan Gita Pertiwi (GP) yang beralamat di Jl. Baturan Raya No.20, Klemburan, Baturan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Data yang telah ditemukan kemudian dapat dilakukan tahapan analisis, berdasarkan pedoman penelitian sampai pada tahapan penyajian data yang dilakukan secara sistematis.
Yayasan GP merupakan LSM yang bergerak pada isu pelestarian lingkungan serta memperjuangkan keadilan dan kesetaraan (gender). Yayasan GP melakukan fokus kegiatan mengantisipasi masalah percepatan pembangunan yang menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat. Melalui isu lingkungan hidup dan keadilan sosial Yayasan GP melakukan pemberdayaan dan pengembangan sikap kritis masyarakat.
Tujuan Yayasan GP yaitu membantu proses pemberdayaan masyarakat untuk mampu memperjuangkan hak untuk hidup secara layak di lingkungan. Yayasan GP membantu memfasilitasi masyarakat agar dapat menganalisis masalah disekitarnya secara kritis. Kerjasama Yayasan GP dengan berbagai pihak juga dilakukan atas kesamaan tujuan dalam menegakan keadilan bagi masyarakat dan pelestaian lingkungan, jika diperlukan mendorong diciptakannya kebijakan atau advokasi yang sesuai.
Dalam rangka mencapai tujuan kegiatan, Yayasan GP menggunakan dua strategi pendekatan. Strategi pengorganisasian masyarakat yang digunakan adalah (1). Pembelajaran, bertujuan untuk penguatan di tingkat masyarakat sebagai basis bagi prakarsa pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingannya serta mendorong terlibatnya peran-perannya dalam pembangunan dan pengambilan keputusan publik; (2). Advokasi, dimaksudkan sebagai suatu tindakan dalam rangka mempengaruhi commit to user
pengambilan keputusan atau perubahan policy publik, agar tidak merugikan kepentingan masyarakat terutama kelompok masrginal (perempuan, anak dan masyarakat miskin). Khususnya dalam hal ini adalah kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup agar sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.
Peneliti juga melakukan penelitian di Kelurahan Kemlayan Kota Surakarta. Wilayah ini menjadi salah satu kawasan bagi Yayasan GP dalam menaruh perhatian. Peneliti memilih tempat di Kelurahan Kemlayan karena adanya Kelompok Bank Sampah RW 02 di Kelurahan Kemlayan, di wilayah Kemlayan kelompok masyarakat tersebut merespon baik program kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan GP. Kelompok Bank Sampah Kelurahan Kemlayan dibawah kepemimpinan Dumasari, pada tanggal 1 Juni 2016 telah diresmikan oleh Djoko Barwoto selaku Lurah Kemlayan melalui surat keputusan No: 220/6/VI/2016.
Kelompok Bank Sampah menjadi salah satu kelompok masyarakat umum yang mempunyai kepentingan terhadap persoalan lingkungan, kelompok tersebut mempunyai potensi untuk digerakannya kegiatan pertanian perkotaan di Kelurahan Kemlayan oleh Yayasan GP. Potensi pemanfaatan sampah akan semakin bermanfaat jika dapat digerakan. Peran Yayasan GP adalah untuk memfasilitator keahlian serta menggali potensi untuk menggerakan masyarakat kemlayan dalam pemenuhan hak atas pangan.
Kegiatan Bank Sampah merupakan program Dinas Lingkungan Hidup yang berlandaskan prinsip 3R (reduce, rease and recycle). Yayasan GP mencoba unuk memperkuat dan mendorong masyarakat dengan melakukan pertanian perkotaan sebagai langkah tindak lanjut dalam strategi pemenuhan hak atas pangan di Kelurahan Kemlayan.
a) Sejarah singkat Yayasan Gita Pertiwi
Yayasan GP merupakan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang memfokuskan diri pada kegiatan pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat. Sejak berdirinya, Yayasan GP telah melakukan berbagai kegiatan yang berorientasi pemberdayaan dan commit to user
pengembangan sikap kritis masyarakat melalui isu lingkungan hidup dan keadilan sosial. Khususnya dalam rangka mengantisipasi masalah percepatan pembangunan yang menimbulkan berbagai dampak dan perubahan lingkungan yang merugikan kelompok perempuan dan anak- anak.
Tabel 4.1 Sejarah Berdirinya Yayasan Gita Pertiwi
Tanggal Keterangan
21Desember 1991 Yayasan Gita Pertiwi Ecological Studies Programme berdiri di Surakarta, dengan Akte Notaris Nomor 64 Kantor Notaris Tjondro Santoso, SH. LSM tersebut disyahkan oleh Pengadilan Negeri Surakarta Nomor 05 Tahun 1991.
28 April 2003 Melalui Akta Notaris No. 96 dari kantor Notaris Sunarto, SH Yayasan Ecological Studies Programme diperbaharui menjadi Yayasan GitaPertiwi (GP).
29 Oktober 2005 Anggaran Dasar Yayasan GP diperbaharui melalui Notaris Sri Mahyani, SH dengan Akte Notaris No. 6 tahun 2005. Yayasan GP terdaftar di Depkumham No.5014062633101120 sebagai organisasi yang berbadan hukum Yayasan.
Saat ini terdapat 11 program yang dikerjakan oleh Yayasan GP, yaitu: 1) Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture/ SA); 2) Penataan Kota Berwawasan Lingkungan (Green City/ GC); 3) Pendidikan Lingkungan Hidup Untuk Anak (EEC); 4) Hutan Kemasyarakat (Social AgroForestry/
SAF); 5) Sustainable livelihood ; 6)Konsumen Pangan Sehat; 7) Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan; 8) Kesehatan Ibu dan Anak; 9) Kota Cerdas Pangan;
10) Konservasi Pangan Lokal dan; 11) Jasa konsultansi peningkatan kapasitas organisasi masyarakat sipil, pemerintah dan swasta tentang pemberdayaan masyarakat, pengembangan lokal ekonomi berbasis sumber daya alam dan tata kelola pemerintah desa dan daerah.
b) Visi dan Misi Yayasan GP 1. Visi Yayasan GP
Yayasan GP saat ini mempunyai visi yaitu terwujudnya tatanan sosial yang lebih adil dan kelestarian lingkungan, yang commit to user
berdasarkan pada nilai-nilai keadilan, partisipasi demokrasi, kesetaraan, akuntabilitas dan keterbukaan bagi seluruh masyarakat tanpa memperhatikan suku, ras, budaya, agama, kelas dan jenis kelamin.
Terciptanya tatanan sosial yang adil bebas dapat dipahami bahwa masyarakat dapat terbebas dari eksploitasi lingkungan dan eksploitasi manusia. Pada waktu Yayasan GP berdiri ditahun 1991, fokus perhatian organisasi lebih kepada afirmasi pada perempuan, akan tetapi saat ini yang harus diperhatikan bukan hanya perempuan, namun seluruh masyarakat yang terkena dampak dari pembangunan juga menjadi perhatian serius, salah satunya adalah pentingnya mengedukasi pangan sehat kepada masyarakat di Wilayah Perkotaan.
Yayasan GP dalam hal ini melaksanakan kegiatan program Kota Cerdas Pangan, kegiatan tersebut dilakukan untuk dapat membantu mensosialisasikan isu-isu pangan diantara pemangku kepentingan kelompok masyarakat umum dan pemerintah, mendukung dan membela hak pangan masyarakat ditengah banyaknya pembangunan di Perkotaan yang mengeksploitasi masyarakat.
2. Misi Yayasan GP
Selain visi, Yayasan GP juga mempunyai misi, yaitu mendorong upaya-upaya agar mengurangi eksploitasi terhadap kelompok rentan, seperti kelompok marginal terutama perempuan, anak dan perusakan lingkungan.
Program Kota Cerdas Pangan yang diusung oleh Yayasan GP sesuai dengan misi organisasi, yaitu “Mendorong upaya-upaya untuk mengurangi eksploitasi terhadap kelompok rentan,...”
Dalam hal ini peningkatan kualitas hidup masyarakat terhadap pangan adalah suatu keinginan yang akan dicarpai. Yayasan GP melalui strategi program Kota Cerdas Pangan adalah langkah untuk dapat meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, khususnya menjamin masyarakat Kemlayan memperoleh hak pangan yang baik.
Pelaksanaan program Kota Cerdas Pangan untuk pemenuhan hak atas commit to user
pangan bagi masyarakat Kemlayan, pelaksanaannnya terjadi dengan melibatkan masyarakat pada kegiatan. Melalui program ini, Yayasan GP juga mendorong masyarakat dalam mengakses pangan secara mandiri dan mengedukasi masyarakat dengan makanan yang baik, bergizi seimbang.
2. Deskripsi Hasil Penelitian
Deskripsi hasil penelitian merupakan pemaparan data yang diperoleh di Lapangan. Penelitian ini memperoleh data dari observasi, wawancara dan juga dokumen terkait strategi yang dilakukan oleh Yayasan GP dalam upaya pemenuhan hak atas pangan di Kelurahan Kemlayan Kota Surakarta. Data tersebut kemudian dilakukan pemilahan dan analisis sebagai cara untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
a. Bagaimana strategi pemenuhan hak atas pangan oleh Yayasan GP di Kelurahan Kemlayan Kota Surakarta?
b. Bagaimana partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan GP dalam pemenuhan hak pangan di Kemlayan Kota Surakarta?
Berdasarkan rumusan masalah di Atas dapat dijabarkan deskripsi permasalahan sebagai berikut:
a. Strategi pemenuhan hak atas pangan oleh Yayasan Gita Pertiwi di Kelurahan Kemlayan Kota Surakarta
Pangan adalah suatu hak dasar bagi setiap manusia, pernyaatan tersebut dapat dipahami bahwa pangan menjadi kebutuhan penting yang harus dipenuhi bagi setiap warga negara, untuk menjamin pemenuhan hak pangan bagi setiap masyarakat, negara berkewajiban mewujudkan kesediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan pangan yang cukup, aman dan bergizi. Tanggung jawab tersebut bukan saja tugas yang harus dilakukan oleh pemerintah namun masyarakat juga mempunyai peran dalam pemenuhan hak pangan. Masyarakat membutuhkan pemahaman, commit to user
pelatihan dan pembinaan yang dilakukan secara terus menerus agar dapat berdaya dan terpapar ilmu dalam melakukan. LSM dalam hal ini berusaha mewadahi aspirasi hak dan kewajiban masyarakat untuk kemajuan pembangunan, salah satunya pemenuhan hak atas pangan.
LSM Yayasan GP hadir dalam pelayanan masyarakat untuk menangani fenomena pemenuhan hak atas pangan.
Menurut analisis dokumen profil Yayasan GP, ditemukan dua strategi pendekatan yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan kegiatan Yayasan GP, pertama yaitu melalui pembelajaran, yang bertujuan untuk penguatan di tingkat masyarakat sebagai basis pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingannya serta mendorong terlibatnya peran-perannya dalam pembangunan dan pengambilan keputusan publik, dan kedua adalah advokasi, yang dimaksudkan sebagai suatu tindakan dalam rangka mempengaruhi pengambilan keputusan atau perubahan policy publik, agar tidak merugikan kepentingan masyarakat.
Yayasan GP melakukan berbagai macam perencanaan program salah satunya program Kota Cerdas Pangan. Program ini memfasilitasi masyarakat dalam pengurangan sampah makanan dengan kampanye makan sesuai kebutuhan, meningkatkan akses pangan masyarakat kota dengan berbagi makanan, mengembangkan urban farming dan membangun kerjasama antara produsen dan konsumen serta memberi asistensi pemerintah untuk menyusun kebijakan pangan berkelanjutan.
Program kota cerdas pangan terinisiasi karena adanya kegelisahan banyaknya sampah makanan, yang kedua trend proyeksi penduduk kota semakin banyak mengakibatkan konsumsi pangan meningkat, membuat keluarga menjadi sangat konsumtif, hobi makan diluar, mengambil banyak kemudian tersisakan. Satu sisi ada masyarakat kota yang kekurangan pangan, di Kota Solo pemerintah juga kebingungan mengatasi masalah sampah secara umum. Tujuan program ini adalah menjaga ketahanan pangan nutrisi masyarakat kota, khususnya masyarakat yang kurang mampu.(kutipan wawancara 1 pada 25 Agustus 2020). commit to user
Masyarakat seringkali mengabaikan tentang pentingnya pemenuhan hak atas pangan untuk dirinya, ketidaktahuan dalam memilih dan menerima pangan yang baik, bergizi, sehat dan aman untuk dikonsumsi adalah sutu permasalahan nyata yang nantinya akan mengganggu kelangsungan kehidupan. Selain itu aksesibilitas pangan juga menjadi hal penting, bagaimana keterjangkauan pangan dapat diperoleh oleh seluruh masyarakat. Dalam hal ini Yayasan GP telah berkomitmen untuk memperjuangkan hak atas pangan dengan memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan terhadap kondisi tersebut, penanganan pangan dimulai dari masyarakat yang mempunyai tujuan yang sama dalam pemenuhan hak atas pangan.
Salah satu wilayah yang dimasuki Yayasan GP pada program Kota Cerdas Pangan adalah wilayah Kemlayan, program tersebut menjadi rencana pemenuhan hak atas pangan. Yayasan GP memfasilitasi program ini sebagai strategi pembelajaran masyarakat dalam membangun sistem pangan berkelanjutan, melalui edukasi ketahanan pangan dan ketahanan nutrisi bagi masyarakat Kemlayan. Strategi tersebut diuraikan dalam dokumen Profil Yayasan GP dan juga diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh ibu Titik selaku direktur program Yayasan GP yang menyampaikan
Kalau kita berbicara kota cerdas pangan, kita punya 5 strategi kegiatan program kota cerdas pangan, 1) mendorong masyarakat kota memproduksi pangan sendiri melalui urban farming; 2) Bagaimana mengelola makanan berlebih, kelebihan makanan itu yang kita bagi pada masyarakat yang kurang membutuhkan. 3) Food waste adalah sampah makanan yang bisa dikelola menjadi pelet ikan dan juga pupuk organik; 4) Kami mendorong terciptanya kantin sehat sekolah ramah anak, 5) Food counsil atau badan pangannya. (Kutipan wawancara 1, 25 Agustus 2020).
Sebagaimana hasil dari wawancara yang menunjukan strategi yang dilakukan Yayasan GP dalam pemenuhan hak pangan di Surakarta, Kemlayan menjadi salah satu tempat masuknya program tersebut, dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan GP untuk mewujudkan commit to user
pemenuhan hak atas pangan. Dalam pelaksanaan program Kota Cerdas Pangan di Kelurahan Kemlayan, Yayasan GP menggunakan strategi pembelajaran, yang berarti masyarakat kemlayan dilibatkan secara penuh dan bermakna dalam pelaksanaan kegiatan. Untuk mewujudkan pemenuhan hak atas pangan di Kelurahan Kemlayan, Yayasan GP juga melakukan pengedukasian masyarakat terkait pangan sehat. Dari 5 strategi kegiatan Program Kota Cerdas Pangan yaitu 1) Mendorong masyarakat kota memproduksi pangan sendiri melalui pertanian perkotaan; 2) pengelolaan mengelola makanan berlebih, 3) Sampah makanan yang bisa dikelola menjadi pelet ikan dan juga pupuk organik;
4) menciptakan kantin sehat, 5) Food counsil atau badan pangannya.
terdapat 2 strategi program kegiatan yang dilaksanakan dalam pemenuhan hak atas pangan di Kelurahan Kemlayan. Kegiatan program kota cerdas pangan yang dilakukan di Kelurahan Kemlayan antara lain:
1. Urban farming Kemlayan
Pertanian perkotaan menjadi strategi yang dilakukan Yayasan GP dalam pemenuhan hak atas pangan di Kemlayan, dengan pertanian perkotaaan diharapkan dapat mendorong masyarakat Kemlayan untuk memproduksi pangan sendiri, melalui bercocok tanam menanam sayur dan buah. Berbagai jenis tanaman yang dihasilkan tidak hanya dikonsumsi keluarga, tetapi juga kelompok kebun sayur, dengan dilakukannya pertanian perkotaan masyarakat Kemlayan juga mampu mengembangkan ruang terbuka hijau di Kota Surakarta. Bukan hanya sekedar pangan tapi masyarakat menyadari terciptanya lingkungan yang sehat, CO2 berkurang, emisi gas rumah kaca berkurang, Pemanfaatan lahan terbatas membuat masyarakat Kemlayan bertanggung jawab terlibat dalam kegiatan pemenuhan hak atas pangan. Berikut kutipan wawancara dengan mbak Sofi selaku teknisi Yayasan GP di Kebun Sayur Kemlayan:
commit to user
Kegiatan di Kemlayan yaitu mensupervisi, mengasistensi pengembangan kegiatan pertanian perkotaan, baik teknis maupun nonteknis, teknisnya adalah mensupervisi budidaya tanaman di Kebun Sayur dari penyiapan lahan, media, memilih bibit, menanam, merawat itu kan menyiram, memberikan asupan sinar matahari yang cukup, itu dari sisi budidaya. Sedangkan dari sisi pengolahannya bisa meningkatkan nilai tambah, tidak hanya berupa sayuran tapi juga bisa mengolah produk makanan, misalnya di Kemlayan itu kan juga menanam empon-empon tidak hanya sayur, dimasa pandemi kan kita juga butuh asupan yang dapat meningkatkan imun tubuh kita. (kutipan wawancara 5, 28 Agustus 2020).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat dipahami, bahwa kegiatan urban farming yang disiapkan oleh Yayasan GP sebagai upaya dalam pemenuhan hak atas pangan di Kemlayan, selain masyarakat dikenalkan pada pertanian perkotaan, mereka juga dibekali edukasi untuk meningkatkan produksi pangan, Kebun Sayur Kemlayan menjadi tempat berkumpulnya warga untuk menciptakan ruang terbuka hijau di Perkotaan, sedikit dari produk sayuran yang dihasilkan bisa dijadikan sumber pangan ditingkat keluarga, anggota dan bermanfaat untuk masyarakat disana. Berikut ini kutipan wawancara bapak Eko selaku teknisi Yayasan GP di Kebun Sayur Kemlayan:
Awalnya kita latih menanam, kemudian kita memberikan bibit dan media tanam untuk memfasilitasi kegiatan.
Kemudian pendampingan kebutuhan tanam dengan membuat pupuk, atau pestisida alami, kita lakukan kegiatan promosi pangan yaitu hasil kebun sayur di jual di Paud Pergiwati, jika tidak laku dapat dikonsumsi masing-masing.
Konsep kebun sayur kita gabungkan dengan bank sampah, karena kita konsepnya organik saya selalu bilang untuk media tanam kita jangan pakai pollybag karena kita mengambil isu lingkungan, kita sarankan pakai plastik bekas minyak atau sisa tempat cat attau kalau tidak ambil di bank sampah bisa pakai bambu. Selain itu ada aktivitas pemanfaatan untuk hal tertentu misalnya pembuatan handsanitizer alami pakai daun sirih antiseptik, lidah buaya
commit to user
sebagai pelembab dan sereh sebagai pewangi. (kutipan wawancara 4, 28 Agustus 2020).
Hasil kutipan wawancara tersebut, dikuatkan oleh kutipan wawancara dengan ibu pertiwi selaku staf program Yayasan GP, yang menjelaskan bahwa “di Kemlayan itu ada kebun sayur, sebelum di dampingi oleh Gita Pertiwi kelompok ini sudah berjalan dengan baik di Bank Sampah, artinya ketika kami masuk, mereka kami dampingi lebih lanjut”. (kutipan wawancara 2, 24 Agustus 2020).
Selanjutnya kutipan hasil wawancara tersebut dibenarkan melalui kutipan wawancara dengan mbak Fani selaku tim pelaksana harian bagian pemberdayaan Yayasan GP yang mengatakan bahwa
“untuk sasarannya kami masuk pada kelompok-kelompok di masyarakat” (kutipan wawancara 3, 24 Agustus 2020).
Berdasarkan ketiga hasil wawancara tersebut diperoleh keterangan bahwa konsep yang dibuat dalam strategi pembelajaran yang dilakukan oleh Gita Pertiwi di Kebun sayur Kemlayan merupakan turunan dari kegiatan Bank sampah yang dinaungi oleh Dinas Lingkungan Hidup, di Kelurahan Kemlayan sudah dilakukannya kegiatan Bank Sampah yang sudah dibuat berjadwal, untuk kebutuhan media tanam dapat memanfaatkan sampah nonorganik botol bekas dan juga plastik tebal hasil sortiran para anggota Bank Sampah, sedangkan untuk pupuk yang digunakan pada kebun sayur didapat dari hasil sampah organik yang dibuat menjadi komposter.
Hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Kemlayan menunjukan bahwa para anggota Bank Sampah merupakan pengurus kebun, sehingga adanya kebun sayur merupakan turunan dari kegiatan Bank Sampah, selanjutnya beberapa informan menjelaskan bagaimana terbentuknya Kebun Sayur dan Peran yang dilakukan oleh Yayasan GP dalam pemenuhan hak atas pangan di Kemlayan. commit to user
Berikut ini kutipan wawancara dengan ibu Roesdiyah selaku pengurus kebun sayur yang menjelaskan bahwa:
Yayasan Gita Pertiwi pertama sosialisasi di Danukusuman memberikan materi tanaman di perkotaan, cara menanam, lalu dari kelompok Bank Sampah Kemlayan tertarik. Loh kok wah kita sebenarnya ada tempat yang bagus, toh ini sebelum ada kebun sayur, sudah buat lindih, tapi pemanfaatan hanya ke kita, kita usulkan ke Gita Pertiwi, Pak Eko oke, tapi waktu itu kita belum tau okenya kapan, tiba-tiba langsung ditindak lanjuti, kemudian mereka mengajari bagaimana cara menanam, kita diberi tanaman, kemudian mereka mengajari kita bagaimana cara menanam.
(kutipan wawancara 8, 26 Agustus 2020).
Kutipan wawancara di Atas juga diperkuat melalui kutipan wawancara kepada ibu Dewi selaku pengurus kebun sayur yang menyatakan bahwa “Gita Pertiwi dan Jaker PO punya keterkaitan mbak, kita ada kebun sayur itu juga dari Gita Pertiwi, akhirnya kita mengajukan diri. Bantuannya banyak sekali mbak ada ilmu, bibit, pendampingan”. (kutipan wawancara 9, 24 Agustus 2020).
Berdasarkan hasil kutipan wawancara yang dilakukan, dapat dijelaskan bahwa Yayasan GP berusaha memfasilitasi masyarakat melalui cara sosialisasi, memberikan bibit untuk bertanam, pelatihan dan pendampingan dengan mengasistensi masyarakat, sehingga dari kegiatan tersebut membuka peluang bagi mereka untuk menciptakan ruang terbuka hijau di perkotaan melalui urban farming. Serangkaian kegiatan yang dilakukan masyarakat di Kemlayan akan membentuk mereka untuk melakukan kerjasama kepada pihak lain, Yayasan GP juga bertugas untuk mengenalkan mereka kepada beberapa jaringan.
Hal ini dikuatkan oleh kutipan wawancara yang dilakukan kepada ibu Titik selaku Direktur Program Yayasan GP, sebagai berikut:
Dahulu kami fasilitator, naik satu tahap menjadi asisten mereka dan tahap ketiga sebagai konsultan artinya datang ketika dibutuhkan. Karena mereka akan lebih banyak punya mitra, mereka tau ketika punya persoalan apa mereka datang pada commit to user pihak lain. Tugas kami adalah
memeperkenalkan mereka dengan pihak lain. (kutipan wawancara 1, 25 Agustus 2020).
Serangkaian kutipan wawancara tersebut juga dikuatkan oleh hasil temuan analisis dokumen Rencana Kerja Operasional Yayasan GP di Kelurahan Kemlayan Kota Surakarta yang menjelaskan bahwa terdapat anggaran dalam memfasilitasi Urban Farming di Wilayah Kemlayan dan pelatihan dalam kegiatan tersebut dengan hasil kegiatan berupa peluang kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam pengadaan tong komposter, sebagaimana diketahui Bank Sampah Kemlayan dibawah naungan DLH dan juga pembuatan pupuk organik untuk mensuplai urban farmin. Dokumen Minutes of Meeting Urban Farming juga menerangkan bahwa benar dilakukannya seangkaian pertemuan kegiatan Urban Farming oleh Yayasan GP di Kemlayan.
Berdasarkan Observasi Kegiatan yang dilakukan pada kegiatan pertemuan kebun sayur pada tanggal 28 Juli 2020 dengan pokok pembahasan membuat minuman instan dari hasil panen kebun untuk menambah nilai suatu produk juga telah dilakukan oleh Yayasan GP Hal tersebut selaras dengan visi misi Yayasan GP yaitu terwujudnya tatanan sosial yang lebih adil dan kelestarian lingkungan, yang berdasarkan pada nilai-nilai keadilan, partisipasi demokrasi, kesetaraan, akuntabilitas dan keterbukaan bagi seluruh masyarakat tanpa memperhatikan suku, ras, budaya, agama, kelas dan jenis kelamin, dalam rangka mendorong upaya-upaya agar mengurangi eksploitasi terhadap kelompok rentan, seperti kelompok marginal terutama perempuan, anak dan perusakan lingkungan.
Yayasan GP melakukan berbagai macam program salah satunya program Kota Cerdas Pangan. Program ini memfasilitasi masyarakat dalam pengurangan sampah makanan dengan kampanye makan sesuai kebutuhan, meningkatkan akses pangan masyarakat kota dengan berbagi makanan, mengembangkan urban farming dan commit to user
membangun kerjasama antara produsen dan konsumen serta memberi asistensi pemerintah untuk menyusun kebijakan pangan berkelanjutan. Berdasarkan hasil pemaparan wawancara, dokumen terkait dan juga hasil observasi lapangan kegiatan, urban farming merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dilakukan oleh Yayasan GP di Kelurahan Kemlayan, hal tersebut dapat dilihat dari peran Yayasan GP yang menjadi fasilititator masyarakat Kemlayan untuk melakukan kegiatan pertanian perkotaan, pendampingan yang diberikan bertujuan melatih masyarakat Kemlayan untuk menjangkau pangan secara mandiri.
2. Kantin Sehat
Yayasan GP selain memfokuskan pemenuhan hak atas pangan di Kemlayan melalui pertanian perkotaan, kegiatan Kantin Sehat juga menjadi startegi yang telah dilakukan untuk mengedukasi masyarakat Kemlayan mengenai pangan yang sehat, bergizi, dan aman. Dari program Kota Cerdas Pangan terbentuklah KONPASERA (Konsumen Pangan Sehat Surakarta) yang aktif mengkampanyekan pangan sehat. Kegiatan Kantin Sehat dilakukan dengan cara sosialisasi dan edukasi pada kegiatan masyarakat Kemlayan untuk meberikan pengetahuan tentang makanan dan cara pengelolaan makanan yang sehat. Sasaran kegiatan ini bukan hanya pada sekolah saja, namun kelompok masyarakat lainnya juga seperti, PKK, pedagang makanan di Kemlayan, Forum anak, dan kelompok umum lainnya di Kelurahan Kemlayan.
Dokumen Rencana Kerja Operasional Yayasan GP menerangkan Ruang lingkup edukasi pangan sehat pada kegiatan kantin sehat yang dilakukan oleh Yayasan GP kepada masyarakat Kemlayan terdiri dari:
1) Edukasi bahan makanan yang dikonsumsi dalam kondisi segar, sehat, dan tidak busuk;
2) Tidak mengandung bahan kimia berbahaya; commit to user
3) Makanan dikonsumsi tidak kadaluarsa, bahan tambahan pangan sesuai dengan kadar yang diperbolehkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM);
4) Tidak berbau yang bukan aroma khasnya;
5) Tidak berlendir dan berjamur.
Pada tahun 2020 semenjak adanya Covid 19 kegiatan kantin sehat mengalami kendala, edukasi pangan sehat yang biasanya dilakukan Yayasan GP kepada masyarakat Kemlayan tidak dapat dijalankan secara langsung karena tidak bolehnya melakukan pertemuan dalam jumlah banyak, sehingga kegiatan program Kota Cerdas Pangan sebagai pemenuhan hak atas pangan saat ini difokuskan kepada pertanian perkotaan saja, adanya pandemi Covid 19 membuat masyarakat perkotaan mengubah pola hidup, salah satunya memperbanyak mengkonsumsi sayur dan buah.
Keterbatasan mengumpulkan data lapangan pada penelitaian ini dikarenakan Covid 19 ini, membuat penulis tidak dapat melakukan observasi pada kegiatan Kantin Sehat.
Kegiatan deskripsi penelitian kantin sehat ini dikuatkan dengan data notulensi kegiatan webinar kantin sehat yang dilakukan pada tanggal 12 Agustus 2020 oleh Yayasan Gita Pertiwi. Kegiatan tersebut diikuti oleh 110 peserta dari seluruh wilayah Surakarta, salah satunya kelurahan Kemlayan. Salah satu sasaran yang dituju dalam kegiatan ini adalah para pengurus sekolah yang ada di Kemlayan untuk mendapatkan edukasi pengelolaan kantin sehat di Sekolah, walaupun sampai dengan saat ini sekolah belum menerapkan tatap muka dan membuat kantin tutup, tapi sangat penting menyiapkan kantin sehat untuk ramah anak dan perwujudan dari keamanan panga masyarakat.
Kegaiatan kantin sehat bukan saja berpusat pada wilayah persekolahan saja namun edukasi pangan juga dilakukan kepada masyarakat lainnya di Kelurahan Kemlayan melalui kelompok-commit to user
kelompok yang ada di masyarakat. Wawancara dengan mbak Sofiawati selaku Teknisi Yayasan GP untuk kegiatan di Kemlayan sebagai berikut:
Kantin sehat di Sekolah lebih sering memberikan tanggung jawab kepada guru-gurunya, kalau untuk PAUD Pergiwati sering mengadakan perkumpulan saat anak belajar ibunya sering mengadakan parenting class, salah satunya diisi oleh masalah pangan sehat, saya juga masuk ke kegiatan untuk mendampingi forum anak yang beranggotaan anak SD, SMP, SMA, kita pertemuan juga ada jadwal kita coba masuk dan edukasikan pangan sehat, memilih jajanan yang baik, kegiatan lebih kepada sosialisasi PKK RW, PKK RW. (kutipan wawancara 5, 22 Agustus 2020).
Selanjutnya penyataan di Atas dilengkapi oleh kutipan wawancara dengan ibu Roesdiyah selaku Ketua Pokja 3 dan pengurus Kebun Sayur yang menjelaskan juga sasaran kegiatan kantin sehat di Kemlayan sebagai berikut:
Kegiatan yang dilakukan oleh Gita Pertiwi dan Jaker PO kita sering diundang, terutama Pokja 3 di Kelurahan Serengan, kemudian membentuk Kompassera (Konsumen Pangan Surakarta). Rata-rata yang diundang dari Pokja 3 di masing-masing kelurahan, mereka juga mengedukasi pangan yang sehat (Kutipan wawancara 8, 26 Agustus 2020).
Penjelasan kedua kutipan wawancara di Atas menerangkan bahwa kegiatan kantin sehat yang dilakukan oleh Yayasan GP di Kelurahan Kemlayan melakukan fokus startegi Program Kota Cerdas Pangan dengan kegiatan pada kelompok-kelompok yang ada di wilayah tersebut, merangkul kerjasama bersama kelompok PKK POKJA (Penanggung Jawab Pelaksana Program) 3 sebagai pemerhati bidang pangan, sandang dan perumahan dan tatalaksana dalam rumah tangga. Selain itu Yayasan GP juga besamai kegiatan kantin sehat pada kelompok lain seperti forum anak, parenting class di sekolah PAUD dan perkumpulan kelompok lainnya pada wilayah
commit to user
Kemlayan. Strategi yang dilakukan adalah sosialisai kepada masyarakat agar mereka dapat tersedukasi pangan sehat.
b. Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Program Kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Gita Pertiwi dalam pemenuhan Hak Pangan di Kemlayan Kota Surakarta.
Partisipasi merupakan keterlibatan seseorang maupun kelompok pada suatu kegiatan. Seseorang atau kelompok dapat dikatakan berpartisipasi apabila mereka terlibat langsung untuk berkontribusi, secara sukarela dalam kegiatan yang dilakukan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada tahapan evaluasi. Pemenuhan hak atas pangan yang dilakukan oleh Yayasan GP tidak dapat berjalan tanpa adanya peran dari masyarakat Kemlayan untuk mensukseskan kegiatan, perlu adanya kontribusi dari masyarakat Kemlayan sebagai pelaku utama untuk bertanggung jawab juga dalam pemenuhan hak pangan bagi individu dan lingkungannya.
Berdasarkan analisis data yang dilakukan pada dokumen Minutes of Meeting Urban Farming pada kegiatan Asistensi Urban Farming Kemlayan pada tanggal 15 Juli 2020 dijelaskan bahwa masing masing anggota kelompok Kebun Sayur melakukan pertemuan selama 3 jam dengan mentaaati protokol kesehatan dimasa pandemi, masing masing anggota menerima bibit yang diberikan oleh Yayasan GP untuk dibawa ke rumah, pembagian bibit dilakukan atas kesediaan dan kemampuan masing-masing anggota untuk merawatnya, sebagai tindak lanjut bibit tersebut akan dilaporkan masing-masing oleh anggota kelompok secara berkala atau jika ada sesuatu yang mengganggu masing- masing anggota dapat melaporkan pada pendamping kegiatan.
Dokumen tersebut juga menerangkan bahwa bahwa kelompok masyarakat Kebun Sayur Kemlayan juga melakukan praktek pemindahan bibit tanaman ke media tanam yang lebih besar, hal ini dilakukan agar tanaman yang dirawat mendapatkan suplay nutrisi yang cukup dari tanah pada media tanam baru, kelompok kebun sayur juga melakukan evaluasi commit to user
kegiatan sebagai tindak lanjut pertemuan yaitu memperbaiki media tanam dari media tanam sampah nonorganik Bank Sampah Kemlayan dan mengiatkan kegiatan tersebut melalui media sosial Whatsapp Group dan sarana komunikasi lainnya satu sama lain.
Analisis data yang dilakukan pada dokumen Minutes of Meeting Urban Farming memperoleh keterangan bahwa kelompok masyarakat di Kemlayan melakukan kegiatan Urban Farming dengan ikut berkontribusi pada kegiatan Kebun Sayur yang didampingi oleh Yayasan GP, setiap anggota melakukan pemindahan bibit secara sukarela untuk dibawa ke rumah masing-masing, pada kegiatan tersebut anggota kelompok juga melakukan rencana tindak lanjut dari kegiatan yang dilakukan, selanjutnya setiap anggota kegiatan melakukan evaluasi dan monitoring melalui sosial media kepada Yayasan GP dan anggota kelompok lainnya.
Untuk memperkuat penjelasan tersebut peneliti juga melakukan observasi pada kegiatan lain yaitu Pertemuan Kebun Sayur yang dilakukan oleh Yayasan GP di Kemlayan.
Berdasarkan lembar observasi pengamatan yang dilakukan pada kegiatan pertemuan anggota Kebun Sayur Kemlayan dan masyarakat sekitar pada tanggal 28 Juli 2020, Yayasan GP memberikan pelatihan praktek membuat minuman instan dari tanaman empon-empon, dari kegiatan tersebut anggota kebun sayur dan masyarakat Kemlayan lainnya berpartisipasi dengan memfasilitasi kegiatan berupa hasil panen tanaman empon-empon dari kebun sayur dan juga perlengkapan masak lainnya untuk membuat minuman instan.
Masyarakat Kemlayan merencanakan kegiatan ini secara bersama sama sebagai peningkatan nilai tambah pada suatu produk dan edukasi pada masyarakat terkait asupan makanan maupun minuman untuk ketahanan tubuh dimasa pandemi. Melalui hasil panen Kebun sayur berupa jahe, kencur dan temulawak. Yayasan GP dan masyarakat Kemlayan bersama sama melakukan evaluasi kegiatan berupa masukan
commit to user
serta perbaikan hasil kelola panen di Kebun Sayur supaya dapat meningkatkan nilai tambah suatu produk.
Masyarakat Kemlayan meberikan respon yang baik terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan GP dalam pemenuhan hak atas pangan bagi mereka, setelah dipaparkannya hasil penelitian dilapangan berupa analisis dokumen dan observasi pengamatan pada kegiatan, untuk melengkapi data dalam penelitian juga dilakukan beberapa wawancara dari informan yang terlibat dalam kegiatan Urban Farming yang didampingi oleh Yayasan GP, wawancara dilakukan untuk mengetahui kontribusi apa yang diberikan masyarakat selama di adakannya kegiatan oleh Yayasan GP. Berikut ini kutipan wawancara yang dilakukan oleh Ibu Duma selaku pengurus Kebun Sayur Kemlayan yang menyatakan bahwa:
Saya aktif berkegiatan di kebun sayur, bisasanya pertama sekali di Kebun kita siram semua, ibu ibu semua juga semangat melakukan bersih Kebun, buat pupuk juga dari sampah nonorgnik yang diperoleh dari Bank Sampah, trus kemauan teman teman selalu ada karena banyak dukungan dari Gita Pertiwi, Babinsa, Kantimnas, pokoknya macam-macam mbak, kalau saya saat kegiatan ya beli ember, beli ciduk, karena kita kan kondisinya sederhana, kalo kegiatan biasanya kami melakukan evaluasi, misalkan kebun sudah mampu jual atau belum, kebun sudah memenuh kebutuhan kita belum untuk sayuran (Kutipan wawancara informan 7, 26 Agustus 2020).
Berdasarkan kutipan wawancara diatas diperoleh penjelasan bahwa anggota kelompok melakukan partisipasi dengan berkontribusi dalam kegiatan Urban Farming yang didampingi oleh Yayasan GP, kegiatan yang dilakukan di kebun dengan cara menyiram tanaman, membuat pupuk, bersih kebun, selanjutnya diceritakan bahwa adanya kemauan, kesukarelaan mereka untuk melakukan kegiatan, anggota kebun sayur membawa peralatan berkebun untuk memfasilitasi kegiatan, setelah adanya kegiatan kelompok Kebun Sayur juga melakukan evaluasi, evaluasi yang dilakukan adalah peningkatan hasil produksi agar dapat dijual belikan. commit to user
Pernyataan yang sama juga diketahui melalui kutipan wawncara dengan ibu Roesdiyah selaku pengurus Kebun Sayur untuk pendukung penjelasan kutipan wawancara diatas sebagai berikut:
Yang kita lakukan tentu merawat apa yang telah ditanam, para warga saling support, dari semula yang tidak pernah kumpul bareng-bareng, eh dapat dukungan dari lingkungan mbak, selama ini kami sukarela. Saya ketua Pokja 3 jadi selalu ikut berkegiatan, memang terkadang ada yang tidak bisa datang karena halangan. Kita sering bertanya kepada Pak Eko cara menanam, tapi bertanya itu malah jadinya minta tolong trus, kalau dari bantuan yang masyarkat berikan hanya itu usaha pupuk, media dari bank sampah, namun tidak ada inisiatif urunan. Terakhir kali kami lakukan evaluasi dengan Gita Pertiwi dan JakerPO, perbaikan kegiatan kebun sayur selama covid yang terhenti. (kutipan wawancara 8,26 Agustus 2020).
Berdasarkan kutipan wawancara pada diatas dapat diperoleh penjelasan bahwa masyarakat Kemlayan berpartisipasi melakukan kegiatan Kebun Sayur yang didampingi Yayasan GP dengan cara bertanam, kegiatan yang dilakukan oleh kelompok dan masyarakat dilakukan secara sukarela, seringkali ada beberapa anggota kebun yang tidak datang dalam kegiatan karena halangan, namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi anggota lain untuk melaksanakan kegiatan, tidak adanya tuntutan dari siapapun, tidak dilakukannya urunan untuk kebun, tetapi kelompok masyarakat tergerak untuk memfasilitasi pupuk dan media tanam yang dihasilkan melalui kegiatan Bank Sampah Kemlayan, masyarakat berkontribusi dalam pemenuhan hak pangan pada wilayah tempat tinggalnya. Adanya pandemi Covid 19 membuat kelompok kebun sayur bersama masyarakat sekitar lingkungan, dan Yayasan GP melakukan evaluasi bersama kegiatan kebun sayur yang kurang berjalan maksimal.
Kutipan wawancara lain diperoleh keterangan yang sama, kelompok masyarakat berpartisipasi dalam kegitan Yayasan GP di Kelurahan Kemlayan melalui Kebun Sayur. Berikut ini kutipan
commit to user
wawancara yang dilakukan kepada ibu Dewi selaku pengurus Kebun Sayur Kemlayan yang menyatakan bahwa:
Begitu datang ke Kebun mereka bekerja, kita ada inisiatif untuk tanya kepada pendamping, rencanakan kegiatan bersama Pak Eko dan Mbak Shofi. Kami selalu melakukan komunikasi grup whatsapp, Kalau evaluasi seperti oh harusnya gini ya, harusnya tanaman ini letakan jauh dari sinar. (kutipan wawancara 9, 25 Agustus 2020).
Selanjutnya kutipan wawancara diatas juga diperkuat oleh kutipan wawancara kepada ibu Mulyati selaku pengurus Kebun Sayur Kemlayan yang menjelaskan bahwa:
Pokja 3 Kelurahan sering diundang di edukasi pangan sehat, itu juga sering diikuti oleh bunda di PAUD, kalau kegiatan di kebun sayur kita melakukan penanaman bibit yang baru itu, perawatan kan setiap hari, kita lakukan gilir dari beberapa orang, saya ikut kegiatan apabila tidak bentrok dengan urusan lain, karena saya juga pekerja sosial, ibu-ibu disini mbak kalau punya kelebihan bibit kita diberi, kan kadang mengontrol agak repot. (kutipan wawancara 10, 25 Agustus 2020).
Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang sudah diuraikan, dapat diperoleh penjelasan bahwa partisipasi masyarakat Kemlayan dilakukan dengan cara kontribusi dan berperan aktif pada saat kegiatan Urban Farming yang di dampingi oleh Yayasan GP, kegiatan yang dilakukan oleh mereka dilakukan secara sukarela, perencanaan kegiatan dilakuan bersama-sama dalam pemenuhan hak atas pangan di lingkungan Kelurahan Kemlayan, setelah berkegiatan dilakukannya monitoring satu sama lain melalui media sosial, dan evaluasi yang dilakukan berupa perbaikan pada setiap kegiatan pemenuhan hak atas pangan.
B. Pembahasan
Masyarakat dewasa ini mengalami ketidaktahuan dalam memilih pangan yang beragam, bergizi sehat dan aman, sehingga pengetahuan dalam literasi pangan menjadi sangat terbatas. Permasalahan lainnya adalah tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di Perkotaan dalam menjangkau pangan secara mandiri mengalami kesulitan yang diakibatkan banyaknya pembangunan secara terus commit to user
menerus. Meskipun tidak disebutkan secara tegas dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, namun pemenuhan hak atas pangan bagi masyarakat selaras dengan tujuan negara yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 194 yaitu,
“ ... memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Pada intinya bahwa perwujudan hak atas pangan bagi seluruh rakyat Indonesia harus berdasarkan pada keadilan, tanpa mempertimbangkan suku, ras, kelas, agama dan jenis kelamin.
Di Indonesia hak atas pangan dijelaskan melalui Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 28C Ayat (1), Pasal 28I Ayat (4), Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 1 Ayat (4) tentang Ketahanan Pangan, Undang-Undang No. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Ratifikasi Konvenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya atau ECOSOC Rights (International Convenant on Economic Social and Cultural Rights) dan Komentar Umum No. 12 Tahun 1999 tentang Hak Atas Bahan Pangan Yang Layak.
Akan tetapi masih terdapat masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang belum dapat merasakan manfaat dari Undang-Undang tersebut. Tidak sedikit masyarakat berlimpah pangan namun sebagian lainnya merasakan kekurangan pangan, belum dapat mandirinya masyarakat dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam yang tersedia membuat mereka sulit berperilaku secara mandiri dalam penyediaan pangan, kebiasaan konsumtif masyarakat sekarang ini membuat masyarakat mengkonsumsi makanan tanpa didasarkan pada edukasi literasi pangan yang terus terjadi. Hak atas pangan yang harus diperoleh masyarakat yang dimuat dalam peraturan tersebut seringkali terabaikan dan belum terjamin pelaksanaanya di masyarakat.
Untuk itu Yayasan GP sebagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak memperjuangkan hak masyarakat di lingkungan, salah satunya hak pangan masyarakat, mengusung Program Kota Cerdas Pangan yang dimaksudkan agar dapat membangun sistem pangan berkelanjutan, dengan mewujudkan commit to user
ketahanan pangan dan ketahanan nutrisi bagi penduduk kota. Melalui berbagai kesempatan, kegiatan Program Kota Cerdas Pangan menjadi strategi pembelajaran bagi masyarakat Kemlayan untuk terlibat secara penuh dan bermakna pada agenda-agenda pembangunan. Dalam pelakasanaan Proram Kota Cerdas Pangan, Yayasan GP berupaya memfasilitasi masyarakat Kemlayan dalam pemenuhan hak atas pangan dan menjamin hak atas pangan dengan melibatkan peran stakeholder.
Berdasarkan deskripsi hasil penelitian yang telah diuraikan, maka peneliti dapat menguraikan pembahasannnya seperti di bawah ini:
a. Strategi pemenuhan hak atas pangan oleh Yayasan Gita Pertiwi di Kelurahan Kemlayan Kota Surakarta.
Hadirnya Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan merupakan bagian dari upaya peningkatan perlindungan hak atas pangan bagi masyarakat Indonesia. Untuk pelaksanaanya dibutuhkan suatu lembaga atau organisasi khusus untuk menangani permasalahan pemenuhan hak ataspangan, yang tidak hanya melihat persoalan dari permasalahan pangan saja, melaikan juga mendorong aspek penyelesaian masalah. Dalam hal ini Yayasan GP sebagai LSM mempunyai peran dalam memperjuangkan hak atas pangan di Kelurahan Kemlayan kota Surakarta.
Berdasarkan deskripsi hasil penelian yang dilakukan di Lapangan, dapat dijelaskan bahwa strategi pemenuhan hak atas pangan di Kelurahan Kemlayan Kota Surakarta yang dilaksankan oleh Yayasan GP adalah dengan strategi pembelajaran program Kota Cerdas Pangan. Dilaksanakannya strategi pada program Kota Cerdas Pangan adalah untuk membangun sistem pangan berkelanjutan, dengan mewujudkan ketahanan pangan dan ketahanan nutrisi bagi penduduk kota. Program Kota Cerdas Pangan yang diselengarakan oleh Yayasan GP merupakan salah satu perwujudan dari Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 1 Ayat (4) tentang Ketahanan Pangan.
Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi seseorang, dengan terjaminnya hak pangan seseorang melalui tersedianya pangan yang cukup, baik, aman, bergizi, merata dan dapat dijangkau oleh semua orang. commit to user
Timbulnya permasaahan pemenuhan hak pangan di masyarakat terjadi karena kurangnya literasi pengetahuan dan pemahaman pangan untuk memilih makanan secara beragam, bergizi, sehat dan aman untuk dikonsumsi.
Untuk itu perlu diadakannya pengedukasian masyarakat tentang pangan yang baik agar pemenuhan hak atas pangan masyarakat dapat terpenuhi dan tidak diabaikan.
Berikut ini strategi pembelajaran dalam program Kota Cerdas Pangan yang dilaksanakan oleh Yayasan GP untuk penguatan di tingkat masyarakat dan mendorong terlibatnya peran masyarakat dalam pembangunan agar dapat mengedukasi pangan masyarakat untuk pemenuhan hak atas pangan masyarakat Kemlayan:
1) Urban Farming Kemlayan
Untuk melakukan penyadaran pentingnya mengkonsumsi makanan yang beragam, diwujudkanya strategi pembelajaran Yayasan GP melalui kegiatan urban farming yang ditujukan pada kelompok Bank Sampah di Kemlayan. Kegiatan urban farming bertujuan untuk dapat mendorong masyarakat Kemlayan dengan memproduksi pangan sendiri, melalui bercocok tanam menanam sayur dan buah.
Menurut Corothers dan Estie (Gaffar, 2006: 204) menguraikan salah satu peran yang dapat dilakukan oleh LSM dalam sebuah negara yaitu “Implementasi program dan pelayanan dilakukan LSM agar mampu mewujudkan program di masyarakat”. Hal ini berarti bahwa untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat Kemlayan tentang konsumsi pangan beragam, dilakukan melalui strategi pembelajaran program Kota Cerdas Pangan pada kegiatan urban farming. Dalam hal ini Yayasan GP memfasilitasi kegiatan melalui cara sosialisasi pertanian perkotaan, selanjutnya Yayasan GP memberikan bibit untuk nantinya dapat dirawat oleh masing-masing anggota kelompok, pelatihan dan pendampingan juga diberikan untuk mengasistensi perkembangan kegiatan di kebun sayur, sehingga dari kegiatan tersebut berdampak membuka peluang bagi
commit to user
masyarakat Kemlayan untuk menciptakan pangan beragam dalam ruang terbuka hijau di perkotaan.
Sebagaimana dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 C Ayat (1) yang menjelaskan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi, manfaat, seni, dan budaya demi meningkatkan kualitas kehidupannya dan kesejahteraan, demikian juga masyarakat Kemlayan yang mempunyai hak untuk mengembangkan diri melalui edukasi strategi pembelajaran program Kota Cerdas Pangan oleh Yayasan GP. Hal tersebut memberikan rasa tanggung jawab dalam pemenuhan hak pangan yang beragam melalui kegiatan urban farming.
2) Kantin Sehat
Kegiatan Kantin Sehat bertujuan untuk meberikan pengetahuan tentang makanan dan cara pengelolaan makanan yang sehat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara sosialisasi dan edukasi pangan sehat kepada masyarakat kemlayan. Sasaran kegiatan ini bukan hanya pada sekolah saja, namun kelompok masyarakat lainnya juga seperti, PKK, pedagang makanan di Kemlayan, Forum anak, dan kelompok umum lainnya di Kelurahan Kemlayan.
Sebagai organisasi yang menjembatani masyarakat dalam memperjuangkan hak atas pangan, Yayasan GP memperhatikan masalah ketidakpahaman masyarakat dalam memilih makanan untuk dikonsumsi.
Yayasan GP memberikan edukasi kepada masyarakat Kemlayan tentang bahan makanan yang harus dikonsumsi dalam kondisi baik, tidak mengandung bahan kimia berbahaya, makanan dikonsumsi tidak kadaluarsa, bahan tambahan pangan sesuai dengan kadar yang diperbolehkan, pangan yang dikonsumsi tidak berbau yang bukan aroma khasnya dan tidak berlendir serta berjamur. Sebagaimana menurut Jalal (Zubaedi 2016: 89) yang menyatakan bahwa:
commit to user
LSM merupakan organisasi swasta yang bebas dari intervensi pemerintah. Berdirinya didasarkan pada idealisme dalam memberikan perhatian isu kemanusiaan, sosial, memperbaiki kesejahteraan kelompok tertinggal, perlawanan terhadap kesenjangan dan kemiskinan, fokus dalam perlindungan sumber daya alam atau lingkungan, manajemen dan pengembangan sumber daya manusia.
Berdasarkan pernyataan yang telah diuraikan di Atas, dapat diketahui bahwa Yayasan GP menjadi LSM yang memperhatikan masalah hak pangan. Dengan dilakukannya kegiatan Kantin Sehat, strategi pembelajaran dari edukasi pangan pada program Kota Cerdas Pangan diharapkan dapat mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, sebagaimana diketahui pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap manusia dan merupakan tanggung jawab bersama termasuk peran dari Yayasan GP untuk mengedukasikan pangan sehat kepada masyarakat Kemlayan.
Strategi pembelajaran pada program Kota Cerdas Pangan yang dilaksanakan oleh Yayasan GP memang bertujuan untuk membantu pemenuhan hak atas pangan bagi masyarakat perkotaan tak terkecuali wilayah Kemlayan. Dalam hal ini Marrus (2002: 1) menjelaskan bahwa strategi merupakan “suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi yang disertai dengan penyusunan cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai”.
Strategi yang dilakukan Yayasan GP dalam pemenuhan hak atas pangan masyarakat Kemlayan dijelaskan melalui tujuan yang akan dicapai, tujuan dari LSM ini ialah untuk mebantu proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memperjuangkan hak hidup secara layak di lingkungan. Yayasan GP membantu memfasilitasi kegiatan urban farming dan kantin sehat bagi masyarakat Kemlayan agar dapat menganalisis masalah disekitarnya secara kritis.
Yayasan GP melakukan strategi pembelajaran dalam progrm Kota Cerdas Pangan sebagai cara penguatan ketahanan pangan di tingkat masyarakat commit to user
dan basis bagi prakarsa pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan serta mendorong terlibatnya peran-peran masyarakat Kemlayan dalam pembangunan. Sebagaimana menurut Indraddin dan Irwan (2016: 31) yang mendefinisikan “strategi bisa juga dikatakan sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok untuk mengatasi permasalahan yang dialami dalam kehidupannya”.
Berdasarkan pernyataan di Atas dapat diketahui bahwa masyarakat Kemlayan yang sebelumnya mengalami kesulitan berperilaku secara mandiri dalam penyediaan pangan dan belum adanya kemandirian dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam yang tersedia. Permasalahan lainnya adalah literasi pangan yang terbatas membuat ketidaktahuan masyarakat dalam memilih pangan untuk dikonsumsi secara baik, sehat, bergizi dan bebas dari kandungan berbahaya. Atas dasar inilah Yayasan GP memberikan upaya melalui strategi pembelajaran dalam program Kota Cerdas Pangan, hal ini dilakukan untuk mendorong masyarakat Kemlayan agar terdukasi pangan yang sehat dan agar tergerak untuk memproduksi pangan secara mandiri.
Sumarsono, dkk (2006: 139) menjelaskan bahwa “strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau pencapaian tujuan”. Strategi pembelajaran pada program Kota Cerdas Pangan di kelurahan Kemlayan dilakukan melalui cara urban farming pada kelompok Bank Sampah Kemlayan, sampah makanan yang ada dikelola menjadi pupuk kompos organik atau lindih dan sampah nonorganik dijadikan media tanam untuk Kebun Sayur, selanjutnya Yayasan GP mendorong kegiatan kantin sehat dengan cara sosialisasi, edukasi terkait pangan sehat, aman, dan bernutrisi kepada kelompok-kelompok yang ada di Kemlayan.
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang sudah diuraikan dapat dipahami bahwa strategi pemenuhan hak atas pangan oleh Yayasan GP jika dikaji dengan teori tipe strategi dari Scehendel, Hofer dan Higgins (1985) bahwa tipe strateginya menjelaskan berada pada tingkatan Enterprise Strategy dan Corporate Strategy. Dimana Enterprise Strategy berkaitan dengan respon masyarakat Kemlayan karena adanya peran Yayasan GP mensosialisasikan commit to user
kegiatan program kepada masyarakat, masyarakat Kemlayan merespon hal tersebut dengan baik. Adanya respon baik dari sosialisasi kegiatan program Kota Cerdas Pangan, yaitu munculnya keberlanjutan dari kegiatan Bank Sampah, pemanfaatan media tanam dan pupuk yang dihasilkan pada kegiatan tersebut memberikan kontribusi pada kegiatan urban farming.
Memaknai tingkatan Corporate Strategy, dapat dijelaskan melalui misi Yayasan GP yaitu, mendorong upaya-upaya agar mengurangi eksploitasi terhadap kelompok rentan, seperti kelompok marginal terutama perempuan dan anak serta perusakan lingkungan. Yayasan GP berinisiatif menggiatkan urban farming di Kemlayan sebagai antisipasi pembangunan yang semakin banyak pada wilayah Kemlayan, lahan untuk bercocok tanam yang semakin sedikit di Kemlayan membuat masyarakat Kemlayan dalam menjangkau pangan masih sangat bergantung pada pasar. Edukasi pangan yang baik, sehat dan bergizi juga terus dilakukan melalui kegiatan sosialisasi kantin sehat. Sebagaimana Allison dan Kaye (2013: 3) menyatakan bahwa “strategi adalah prioritas atau arah keseluruhan yang luas yang diambil oleh organisasi: strategi adalah pilihan-pilihan tentang bagaimana cara terbaik untuk mencapai misi organisasi”. Penyusunan strategi pembelajaran dalam program Kota Cerdas Pangan oleh Yayasan GP di Kemlayan tentu saja bertujuan untuk memastikan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada organisasi kedepannya. Yayasan GP tentu saja dapat mengambil langkah strategi pembelajaran program kota cerdas pangan dalam membagun visi, misi, serta menetapkan tujuan yang dapat berorientasi untuk masa yang akan datang.
Selain dengan cara urban farming sebagai kegiatan dalam strategi program kota cerdas pangan, dilakukannya juga kegiatan kantin sehat pada kelompok-kelompok di Kelurahan Kemlayan. Hal ini mendukung pernyataan dari J.R David (Sanjaya, 2007: 126) yang menjelaskan strategi sebagai “a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal”. Definisi tersebut dapat diartikan bahwa strategi sebagai suatu rencana, metode dan serangkaian kegiatan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan pendidikan tetentu. Pelaksanaan serangkaian kegiatan commit to user
Urban Farming dan Kantin Sehat merupakan perencanaan dalam pemenuhan hak atas pangan bagi wilayah Kemlayan, tujuannya agar masyarakat dapat terpapar literasi pangan secara baik, output dari kegiatan ini diharapkan masyarakat Kemlayan mampu teredukasi dan mengedukasi pangan secara baik, sehat dan bernutrisi untuk dirinya sendiri, keluarga dan lingkungannya.
b. Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Program Kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Gita Pertiwi dalam pemenuhan Hak Pangan di Kemlayan Kota Surakarta.
Yayasan GP mempunyai visi yaitu terwujudnya tatanan sosial yang lebih adil dan kelestarian lingkungan, yang berdasarkan pada nilai- nilai keadilan, partisipasi demokrasi, akuntabilitas dan keterbukaan bagi seluruh masyarakat tanpa memperhatikan suku, ras, budaya, agama, kelas dan jenis kelamin. Menurut Hagul (1992: 153) terdapat lima ciri peranan LSM, yaitu:
1) Mampu menjangkau penduduk miskin; 2) Mampu mendorong partisipasi yang lebih luas; 3) Tidak birokratis; 4) Dapat bereksperimen; dan 5) Membutuhkan biaya yang murah. Yayasan GP mempunyai peranan untuk modorong masyarakat Kemlayan berpartisipasi pada rangkaian kegiatan yang terdapat dalam strategi Program Kota Cerdas Pangan.
Berdasarkan deskripsi hasil penelitian lapangan, dapat diperoleh penjelasan bahwa masyarakat berkontribusi dan berperan aktif pada saat kegiatan Urban Farming. Hutahuyan (2019: 101) yang menyatakan bahwa
“partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara umum dalam proses pembangunan, masyarakat dapat berperan dalam pembangunan yang berkelanjutan”, keterlibatan masyarakat Kemlayan pada kegiatan urban farming merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat terhadap pembangunan berkelanjutan, wilayah Kemlayan yang berada diperkotaan membuat lahan untuk bercocok tanam terbatas, adanya kesukarelaan dari masyarakat untuk menciptakan lahan terbuka hijau sebagai peluang terciptanya akses pangan secara mandiri di sekitar lingkungannya.
commit to user
Kegiatan yang dilakukan Yayasan GP di Kelurahan Kemlayan merupakan rangkaian kegiatan dari strategi pembelajaran bagi program Kota Cerdas Pangan, kegiatan dilakukan supaya dapat diwujudkannya pemenuhan hak pangan bagi masyarakat Kemlayan, berdasarkan deskripsi hasil penelitian yang dilakukan pada kegiatan urban farming yang didampingi oleh Yayasan GP kelompok, setiap anggota melakukan pemindahan bibit secara sukarela untuk dirawat dan dibawa ke rumah masing-masing. Hal ini sesuai dengan pendapat David (Huraerah 2008: 95) yang menyatakan bahwa “partisipation is defined as mental and emotional involvement of persons in group situation that encourage them to contribute to group goals and share responsibility for them”. Penjelasan David dapat diartikan bahwa masyarakat Kemlayan ikut berpartisipasi secara mental, emosi, adanya kemauan untuk berkonstribusi, hal ini dapat terlihat dari tanggung jawab mereka dalam pelaksanaan kegiatan urban farming.
Berdasarkan dokumen Minutes of Meeting Urban Farming di Kemlayan pada kegiatan asistensi dijelaskan bahwa, secara bersama- sama anggota kelompok dan Yayasan GP melakukan perencanaan kegiatan, setelah setiap kegiatan dilakukan masyarakat akan dilibatkan dalam evaluasi dengan Yayasan GP baik berupa perbaikan, tambahan, dan sebagainya, satu sama lain dari anggota kelompok dapat monitoring jalannya kegiatan melalui sosial media. Menurut Hajar, dkk (2018: 30) “partisipasi merupakan keterlibatan aktif seseorang atau kelompok (masyarakat) secara sadar dan sukarela untuk berkontribusi dalam program pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga tahap evaluasi”.
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang sudah di uraikan dapat dipahami bahwa partisipasi masyarakat Kemlayan dalam pelaksanaan program kegiatan program Kota Cerdas Pangan jika dikaji dengan teori partisipasi dari Sherry R. Arnstein (1969: 217) The of Ladder Participation, bahwa tingkat partisipasinya menjelaskan berada pada tingkat pemberian informasi (informing) dan Kemitraan (Parnertship). Dimana informan menjelaskan bahwa Masyarakat Kemlayan mendapat edukasi kegiatan commit to user
setiap bulan, informasi yang diberikan berupa edukasi tentang hak atas pangan, tanggung jawab oleh Yayasan GP setiap bulan.
Aktivitas yang terjadi intinya membentuk partisipasi masyarakat pada kontribusi kegiatan, Kemudian untuk pelaksanaanya program Kota Cerdas pangan sudah memanfaatkan fasilitas yang diberikan Yayasan GP dengan baik. Selain ini, program ini juga disambut dengan antusias oleh masyarakat. Upaya penggerakan partisipasi ini bukan hanya dimaksudkan untuk mendukung kebijakan yang dilakukan pemerintah, tetapi juga sebagai upaya masyarakat untuk lebih berperan dalam setiap kegiatan pembangunan. Partisipasi masyarakat Kemlayan mengacu pada tahap melibatkan mereka juga untuk berperan dalam pembangunan, mengerahkan daya serta tanggung jawab bersama untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi pada pelaksanaan kegiatan pembangunan.
commit to user