• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTEMPLASI KRITIS PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA: OTOKRITIS ATAS PENDIDIKAN HUKUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KONTEMPLASI KRITIS PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA: OTOKRITIS ATAS PENDIDIKAN HUKUM"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

108

KONTEMPLASI KRITIS PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA:

OTOKRITIS ATAS PENDIDIKAN HUKUM

Oleh:

Awaludin Marwan, SH, MH, MA & Dr. Otong Rosadi, SH, M.Hum

([email protected] dan [email protected]) Dosen Filsafat Hukum Universitas Ekasakti Padang

ABSTRACT

Abstrak

Pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk pendidikan tinggi hukum Indonesia kian bertambah baik kualitasnya. Lulusan sarjana hukum sekarang semakin banyak.

Kualitasnya juga semakin meningkat. Namun serapan lapangan kerja rupa-rupanya tak sebanyak hasil yang diproduksi dari jebolan fakultas hukum. Hal ini dikarenakan banyak faktor. Pertama, kurangnya kemampuan dan pengalaman sarjana yang pada saat mahasiswa hanya orientasi studi dengan standar IPK saja. Kedua, kondisi perekonomian yang lesu di sektor swasta menyebabkan profesi dan staf bidang hukum tidak dijadikan prioritas ketimbang tenaga akuntasi, manajemen, dan bidang- bidang umum yang vital lainnya. Namun yang paling terpenting adalah lahirnya sarjana hukum bermental baja dengan semangat kuat memiliki idealisme sehingga tidak terjerembab dalam mekanisme kapitalisme. Artinya, dulu banyak sarjana hukum yang hidupnya tak sederhana di zaman kemerdekaan, lihat saja Muhammad Yamin, Soepomo, dan pendiri bangsa yang lain. Semangat sarjana hukum tidak hanya sekrup kapitalisme yang mendukung berjalanannya institusi negara hukum, yang barangkali tak lepas dari persekongkolan permufakatan jahat. Namun hendaknya sarjana hukum bisa mewakafkan dirinya duduk di kursi-kursi lembab Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dengan bayaran seadanya. Namun tekad untuk berjuang melindungi hak sosial, sipil, politik, dan konstitusional warga begitu kokoh terpatri di dalam dadanya. Semangat sarjana hukum, hendaknya dirubah yang semula mental teknokrasi dan korporasi menjadi mental pengabdian dan perjuangan. Dari sinilah keadilan sosial dimulai dari rekonstruksi agen sosial yang bermartabat tangguh. Pola-pola keadilan sosial yang dibayangkan oleh Amartya Sen dan John Rawls hendaknya juga diikuti dengan rekonstruksi Subjek Zizekian. Program- program paralegal yang dilaksanakan oleh lembaga bantuan hukum kampus hendaknya lebih diprioritaskan membela hak-hak kaum miskin kota. Jatung pendidikan hukum yakni kurikulum juga perlu ditambahkan mata kuliah pendampingan hukum berkeadilan sosial.

Kata Kunci: pendidikan tinggi, pendidikan hukum, dan kurikulum

PENDAHULUAN: REFLEKSI KULTUR PENDIDIKAN HUKUM

Pendidikan formal nyaris tak sesuai dengan harapan. Ia dipenuhi dengan banyak kegagalan. Kebanyakan mencetak generasi buruh, pekerja dan pengangguran.

Makin banyak produk pendidikan yang siklus kehidupannya hanya seputar kuliah, makan, lulus, cari kerja, dan hidup mapan. Tak ada lagi keriuhrendahan aktifis

(2)

109 mahasiswa dan dunia kampus yang berapi-api. Mereka ke kampus hanya mengisi presensi, mendengar paparan dosen sambil ber-facebook atau bbm, dan sama sekali tidak menunjukan karakter subjek yang terpelajar. Pada yang sisi lain, banyak perguruan tinggi bermetamorfosis menjadi industri kapitalisme yang memproduksi lulusan dalam jumlah besar. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) hanyalah isapan belaka. Demi memenuhi kuota, mahasiswa pun diterima dalam jumlah besar.

Alhasil kelas yang besar berjumlah puluhan orang dengan seorang dosen yang suaranya saat mengajar nyaris hilang tersapu angin, sayup bahkan nyaris tak terdengar tertindih oleh terlalu gemuk kelasnya. Kegiatan belajar menjadi tidak efektif lagi dan paling mengerikan sudah tidak lagi manusiawi. Hubungan antara dosen-mahasiswa sudah tidak lagi intens, saking banyaknya jumlah mahasiswa. Kini dosen tak mengenali mahasiswanya lagi, dan bahkan ada mahasiswa yang juga tak tahu mana dosennya, karena tak pernah masuk kuliah dan dosennya tak sempat mengambil presensi.

Padahal pendidikan yang humanis itu—meminjam bahasa Freire—hanya dimungkinkan jika adanya revolusi kultural dunia akademik. Dengan kelas yang besar, otoritas dosen semakin besar dalam mekanisme pembelajaran, mahasiswa kesempatan berekspresinya semakin sempit dalam sistem SKS. Dosen seperti diktator yang mengatur kelasnya. Freire menawarkan conscientização, sebuah metafora yang mengajarkan bahwa setiap orang patut dihargai secara personal.

Konsep otoritas senior-yunior atau bapak-anak adalah relasi yang tidak seimbang dalam kelas, menekan hasrat aktualisasi mahasiswa dan pada akhirnya membentuk struktur feodal yang kaku. Revolusi kebudayaan dalam kelas diperlukan untuk memelihara jejak sejarah dalam sebuah superstuktur yang selalu bertransformasi dan penguasaan dibawah transformasi revolusioner yang terus menerus berlangsung.

Conscientização sebagai kreasi praksis dari masyarakat baru, masyarakat yang menginginkan transformasi jejak mistik masyarakat lama hidup dalam kebaruan itu sendiri. Paulo Freire, 2005: 159)

Revolusi itu tentunya bukan pekerjaan yang gampang. Birokrasi kapitalisme telah melembaga begitu kokoh di lingkungan kampus. Sebagai pabrik ahli hukum, ia melanggengkan budaya akademik itu dengan memberikan sentuhan legitimasi dan dukungan teori-asas hukum pada praktek kapitalisme pendidikan itu. Sebut saja Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Sumbangsih keteledoran juga dimiliki oleh para pakar hukum yang membiarkan praktek budaya kapitalisme merampah ke dunia kampus. Menurut UU ini, bidang keilmuan didisiplinkan: menteri berwenang untuk memberikan dan mencabut izin penyelenggaraan program studi (Pasal 7 ayat 4 huruf e); rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya diatur dengan peraturan menteri (Pasal 10 ayat 4). Bagaimana mungkin kebebasan akadmik yang menjadi adagium suci bagi perguruan tinggi ditekan oleh regulasi unifikasi yang bersifat represif. Penelitian dan pengabdian masyarakat pun dikendalikan oleh kementrian, bukan inisiatif perguruan tinggi yang bersangkutan lagi Pasal 46 ayat (4) dan Pasal 48 ayat (5). Kini daitur dalam Pasal 45 sampai Pasal 48 UU Nomor 12 Tahun 2012. Bidang organisasi diatur sedemikian detailnya oleh kementrian, tidak berdasarkan kebutuhan perguruan tinggi masing- masing yang biasanya disesuai dengan perkembangan masyarakat setempat (Pasal 61-63). Kementrian memiliki otoritas penuh dalam mengatur dari kebijakan paling umum hingga pada level dapur sebuah lembaga perguruan tinggi. Tak hanya birokrat kampus yang akan terkena getahnya dari RUU ini, tapi juga lembaga kemahasiswaan

(3)

110

(Pasal 13 ayat 7) kini diatur dalam Pasal 13 dan 14 UU Nomor 12 Tahun 2012. Hal ini mengingatkan kita pada memori sejarah kelam dunia akademik nusantara yang dikuasai penuh oleh rejim orde baru melalui terbitnya Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 037/U/1979 tentang Badan Koordinasi Mahasiswa (NKK/ BKK). Dengan regulasi berpostur seperti ini, kebebasan akademik jelas terbungkam, nuansa intelektual kampus tiada lagi bisa berkembang sesuai dengan hukum kodratnya, melainkan dibonsai tak dibiarkan mengalir menuai takdirnya. Yang paling parah dalam RUU ini adalah rotasi dosen oleh kementrian. Memungkinkan para dosen yang kritis mudah sekali disingkirkan dari peredaran dunia akademik-intelektual (Pasal 73 ayat 3) kini menjadi Pasal 70 ayat (3) Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012.

Sudah tiada tempat bagi ‘ketulusan’ dalam pendidikan formal, di kelas-kelas formal. Mahasiswa dan dosen dibatasi oleh satuan kredit, dosen dibebani BKD, program studi dipagu oleh akreditasi secara periodik. Ketulusan, empati, sifat kepamongan (yang ngemongi), apalagi kemafhuman (verstehen) tidak akan diperoleh di pendidikan formal. Kecuali ada rahib, orang suci yang mengambil posisi menjadi dosen sepenuh hati, sepanjang hari. Solusi untuk kondisi ini adalah membentuk

‘komunitas epistemik’, sebuah kelompok studi di luar kampus yang terdiri dari mahasiswa, yang secara tulus membedah buku, menganalisis kasus-kasus dengan pikiran sehat-dingin-tidak emosional.

Meskipun demikian, kita masih bisa menyumpangkan secercah optimisme pada pendidikan formal hukum. Walau, cukup naïf. Paling tidak pemikiran tentang pembaharuan bisa disematkan didalamnya. Selain revisi kurikulum, disesuaikan dengan pasar, kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan-sains- teknologi, perlu juga memberikan reformasi konsep seperti: pendalaman materi;

penguatan keterampilan, dan membangun tradisi kritis di lingkungan kampus.

Pertama, pendalaman materi. Banyak dosen yang bersemboyan, ‘belajar 1 (satu) tahun untuk seumur hidup’. Buku diktat ia tulis pada awal mengajar 1 (satu) tahun pertama, dan buku itu tak pernah diperbaiki hingga ia menjelang pensiun.

Padahal Johnstone dan Joughin percaya mutu dan kualitas materi itu mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran. Secara praksis ia mengusulkan untuk: memberi mahasiswa lebih banyak kebebasan dimana dan kapan ia belajar; mengijinkan mahasiswa untuk mengakses materi dari berbagai sumber (termasuk up dating bahan-bahan pengajaran), menyediakan interaksi seluas-luasnya di dalam maupun diluar kelas, dan terakhir mempromosikan mahasiswa untuk terlibat dalam konteks perkuliahan—tidak hanya teori, tapi praktek juga. (Richard Johnstone&Gordon Joughin.,1997: 3). Kedua, penguatan keterampilan. Sebenarnya ada yang lebih penting ketimbang keterampilan, yakni sensivitas mahasiswa dalam menanggapi ketidak-adilan yang berlangsung di masyarakat. Nurani mereka dilatih untuk selalu tanggap atas persoalan sosial. Meski keterampilan juga penting dalam prakteknya di lapangan. Backer menyebutkan kemampuan yang perlu dimiliki para calon ahli hukum adalah: penyelesaian sengketa; analisis hukum, penelitian hukum, investigasi faktual, komunikasi, konseling, negosiasi, litigasi dan mediasi, keterampilan administrasi, dan pengetahuan tentang kode etik profesi. (Jan Klabbers&Mortimer, 2008: Springer. 42) Terakhir, pembangunan tradisi kritis. Perlunya membangun sebuah komunitas diskusi yang detail, mempelajari tentang filsafat Karl Marx, membedah buku-bukunya. Mendiskursuskan pemikiran sosialisme pasca Marx, dan

(4)

111 menelitinya dengan detail. Yang paling penting, juga mempelajari sejarah revolusi- revolusi dunia dan politik internasional kontemporer. Dari konteks inilah, budaya kritis ditumbuhkan, institusi kampus tidak hanya ladang bisnis dan komersil, melainkan institusi konterhegemoni dari kapitalisme. (Raquel Medina Plana.Onati- Socio-legal Serius, 2 (5), 7-24)

PENDIDIKAN HUKUM: SEBUAH KONTEMPLASI KRITIS

Pendidikan adalah jantung kehidupan. Filsuf John Locke sendiri, menilai tabula rasa akan beroperasi dengan baik dalam kancah pendidikan (Jo-Anne Dillabough) yang pada akhirnya membuat orang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. (Margaret Walshaw, 2007: p. 27-32) Perhatikan pendidikan hukum kita.

Lulusan doktor ilmu hukum akan banyak menduduki posisi penting dan strategis ketimbang orang-orang yang hanya memiliki gelar sarjana. Memang mencapai gelar doktor itu bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan memerlukan perjuangan yang berdarah-darah.

Pendidikan hukum Indonesia kian bertambah baik kualitasnya. Lulusan sarjana hukum sekarang semakin banyak. Kualitasnya juga semakin meningkat.

Namun serapan lapangan kerja rupa-rupanya tak sebanyak hasil yang diproduksi dari jebolan fakultas hukum. Hal ini dikarenakan banyak faktor. Pertama, kurangnya kemampuan dan pengalaman sarjana yang pada saat mahasiswa hanya orientasi studi dengan standar IPK saja. Kedua, kondisi perekonomian yang lesu di sektor swasta menyebabkan staf bidang hukum tidak dijadikan prioritas ketimbang tenaga akuntasi, manajemen, dan bidang-bidang umum yang vital lainnya. Namun yang paling terpenting adalah lahirnya sarjana hukum bermental baja dengan semangat kuat memiliki idealisme sehingga tidak terjerembab dalam mekanisme kapitalisme.

Artinya, dulu banyak sarjana hukum yang hidupnya tak karuan di zaman kemerdekaan, lihat saja Muhammad Yamin, Soepomo, dan pendiri bangsa yang lain.

Semangat sarjana hukum tidak hanya sekrup kapitalisme yang mendukung berjalanannya institusi negara hukum, yang barangkali tak lepas dari persekongkolan permufakatan jahat. Namun mereka pada sarjana hukum yang mewakafkan dirinya duduk di kursi-kursi lembab Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dengan bayaran seadanya. Namun tekad untuk berjuang melindungi hak sosial, sipil, politik, dan konstitusional warga begitu kokoh terpatri di dalam dadanya. Semangat sarjana hukum, hendaknya dirubah yang semula mental teknokrasi dan korporasi menjadi mental pengabdian.

Menarik juga apa yang pernah dikatakan oleh Mochtar. Pendidikan hukum itu akan jauh lebih baik bukan karena disempurnakannya perpustakaan berikut koleksinya, dinaikan gaji dosen pengajar, sampai pada lengkapnya fasilitas laboratorium hukum sebuah fakultas hukum. Melainkan bagaimana melakukan pembaharuan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jadi percuma kita memiliki sarjana lulusan hukum yang brilian namun tidak kompatibel dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Menurunnya kualitas pendidikan hukum memang karena tiada perubahan radikal yang direkonstruksikan oleh pendidikan tinggi, ungkap Mochtar.

(5)

112

Pengajaran hukum di kebanyakan tempat pendidikan sudah tidak lebih daripada suatu proses hafal-menghafal. Jika demikian keadaan pendidikan hukum di negara kita ini, apakah persoalan perbaikan pendidikan hukum itu akan tercapai dengan menyediakan fasilitas perpusatakaan yang lengkap, menambah gaji para dosen, dan menambah anggaran belanja pendidikan hukum. Jawabnya tidak, walaupun tindakan-tindakan demikian akan banyak menolong keadaan yang sudah parah. Hal ini disebabkan perbaikan pendidikan hukum itu dalam arti yang sebenarnya hanya akan terjadi dalam sistem pendidikan sehingga dapat menjamin dipenuhinya kebutuhan- kebutuhan masyarakat. Jadi, persoalannya adalah untuk menyeseuaikan tujuan pendidikan hukum itu dengan kebutuhan masyarakat yang merdeka yang sedang membangun. Hal ini membawa kia pada persoalan apakah tujuan pendidikan hukum itu hingga kini dan bagaimanakah seharusnya untuk masa yang akan datang. (Mochtar Kusumaatmadja, 2002: 25)

Mochtar lebih menitik beratkan pada kebutuhan riil masyarakat terhadap pasokan sarjana hukum yang memiliki integritas tidak hanya sekadar mengoperasikan institusi atau mesin hukum negara. Masukan sarjana hukum pada ranah pejabat pemerintahan, pejabat kehakiman dan jaksa, sampai pada polisi dan lawyer. Tapi yang perlu dibutuhkan juga adalah seorang ahli atau pakar, yang bisa menyusun strategi jangka panjang dan bisa mengidentifikasi persoalan secara radikal kehidupan sosial masyarakatnya. Maka struktur kurikulum yang ditawarkan oleh Mochtar pada pertama memang adalah ilmu-ilmu pokok hukum seperti ilmu dan tata hukum Indonesia, serta ilmu negara. Pada tahun kedua mereka mendapatkan pemahaman terhadap hukum prositif, hingga akhirnya tahun berikutnya mahasiswa diberikan mata kuliah sosiologi hukum, sejarah hukum, perbandingan hukum, teknik dan metodologi penelitian. (Mochtar Kusumaatmadja, 2002: 27)

Dengan penelitian, memasok minat baca mahasiswa, diharapkan lulusan hukum bukan lagi bermental budak atau buruh, melainkan berjiwa pembaharu hukum bahkan bisa jadi seorang begawan hukum handal. Kurikulum yang sudah dicatat oleh Mochtar sudah banyak diimplementasikan di saban fakultas hukum.

Sampai tesis ‘pendidikan klinis hukum’ yang ditawarkan kepada mahasiswa untuk membekali keahlian pokok (shoft skill) mereka terjun langsung kepada masyarakat.

Memang sepertinya sederhana membahas kurikulum. Seperti yang dipikirkan Mochtar, kurikulum adalah jantung dari hujan-kemaraunya ilmu hukum. Tanpa disadari beberapa fakultas hukum menghapus mata kuliah pokok, seperti sosiologi hukum dan filsafat hukum. Sebuah mata kuliah paradigmatik yang harusnya menjadi panduan filosofis dan metodologis aparatus hukum di lapangan. Mata kuliah pokok itu digantikan dengan pelajaran baru yang dipandang lebih seksi, meski teramat teknis aplikatif.

Hal yang senada diungkapkan oleh Satjipto Rahardjo. Masyarakat berikut kebutuhan sosialnya menjadi tolok ukur arah pendidikan hukum. Bukan ‘pasar’ yang dijadikan tolok ukurnya. Kondisi yang lazim terjadi di lapangan, hukum dijadikan ladang kapitalistik. Pendampingan hukum menjelma semacam perusahaan raksasa mirip pabrik-pabrik konglomerasi lengkap dengan sistem administrasi dan tata kelola organisasi marketing. Di gedung-gedung bertingkat konsultasi hukum lebih mahal ketimbang pemeriksaan kesehatan rumah sakit besar. Mereka dibayar dengan hitungan per-jam. Profesionalisme menjadi kata mutiara sakti yang membius titik

(6)

113 nadir paralegal ini. Jasa hukum bukan lagi sebuah profesi mulia, melainkan mesin pencari uang semata. Dari sinilah pendidikan hukum sebagai pendidikan manusia dilupakan. Dengan menjalani pendidikan hukum selama beberapa tahun lamanya itu, manusia telah kehilangan sisi kemanusiaannya. Terpangkas hati nuraninya, demi sekadar memenuhi birahi karir dan gelimpangan harta. Iming-iming kemewahan seorang lawyer berjam terbang tinggi dengan ribuan pekerja lengkap dengan sekretaris pribadi yang penuh kemanjaan begitu terbayang dalam imajinasi mahasiswa-mahasiswa hukum saat belajar. Nilai-nilai pengabdian telah terhempas jauh dari jiwa mereka. Entah rasa sensitivitas terhadap ketidak adilan melayang tinggi menguap.

Diskursus ilmu hukum di ruang publik sebenarnya sudah tiada lagi kekurangan konsep-konsep hukum yang bombastis. Sudah terlalu banyak gagasan- gagasan pembaharuan hukum yang bertumpuk-tumpuk di lembaga-lembaga negara dan pendidikan tinggi. Namun, yang nihil dalam percaturan itu adalah integritas moral. Kekosongan panduan moral inilah yang membuat pembangunan hukum berjalan penuh kepincangan. Pendidikan hukum yang dinobatkan sebagai pabrik para professional tidak punya pengaruh sedikitpun mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Kecuali pendidikan hukum dikembalikan dalam konstek progresif yang terus- menerus membangun paradigma hukum yang berbasis moral. Kurikulum sudah tidak begitu lagi penting. Sistem pendidikan juga sudah tiada lagi dikultuskan. Namun perhatian ditujukan pada manusianya. Satjipto sebenarnya pada tahun 1979 juga lebih fokus pada kurikulum pendidikan tinggi, sebagaimana ia ungkapkan dalam disertasinya bahwa kurikulum pendidikan tinggi hukum hendaknya memegang kedaulatan untuk menentukan kemana arah sesuai dengan falsafah bangsa ini. Lebih lanjut, Satjipto mengamati masih bercokolnya beberapa mata kuliah dan sistem pendidikan bermateri dan bergaya kolonial. Misalnya pada saat Rechthoogeschool, pada tahapan candidaatsexamen eerste gedeelte: mereka memiliki mata kuliah seperti Inleiding totde rechtswetenschap, de beginselen van’t Neder Indich, de Staatshuis-houkunde, De instellingen van den Islam, Net Javansch, het Maleisch of eene andere Indonesische. Sementara Pada tahapan persiapan kuriulum minimum fakultas hukum, mahasiswa juga diberikan mata kuliah pengantar ilmu hukum, ilmu negara, sosiologi, antropologi budaya,pengetahuan bahasa, dan seterusnya. (Satjipto Rahardjo, 2009:237)

Pertemuan demi pertemuan adalah komunikasi interpersonal yang mengantarkan sebuah refleksi mendalam terhadap sebuah fenomena hukum. Dosen bukanlah seorang subjek yang mendominasi mahasiswa, melainkan menjadikan sebagai subjek juga. Dalam terminologi Lacanian, subjek adalah penemuan jati diri seorang manusia secara otentik. Sebelumnya manusia hanya bilangan yang ditandai simbol, sehingga tak mampu menggapai siapa sesungguhnya dirinya yang sebenarnya. Dengan menemukan kembali ke-jati diri-an (the real) manusia bisa melakukan perubahan radikal atas masalahnya dan masyarakatnya. (Bruce Fink, 1995: 25). Dosen memperhatikan satu per satu mahasiswa, sebagai sahabat, teman diskusi, penuh egaliteran, memancing pembicaraan untuk menyoal problem hukum hari ini. Dalam pergaulan sehari-hari juga, pesan-pesan moral hendaknya selalu disebar luaskan kepada mahasiswa. Saat begawan hukum Satjipto masih hidup, beliau selalu mengungkapkan slogan ‘hukum untuk manusia’. Adagium itu diulang terus hingga mahasiswa-mahasiswanya jenggah dan hampir bosan mendengarnya.

(7)

114

Namun slogan itulah yang tertancam dalam sanubari mahasiswanya, memberikan bekal selamanya saat sang mahasiswa merantau dalam dunia ilmu hukum.

Pendidikan hukum yang baik adalah pendidikan hukum yang berbasis nilai.

Norma-norma transcendental lebih digodok dalam paradigma mahasiswa, sehingga kelak pada saat ia lulus tidak hanya menjadi kacung pasar maupun penguasa negara.

Namun mampu mengamalkan ilmunya laksana buldoser yang menggempur tembok ketidak-adilan yang bersarang di muka bumi ini. Pendidikan hukum hendaknya menghasilkan mahasiswa yang peka terhadap perubahan-perubahan sosial, diikuti dengan kreativitas dalam melakukan aktivitas juridis, sehingga apa yang dibutuhkan masyarakat beserta perubahannya mampu ditangkap oleh para sarjana muda hukum yang masih memegang idealismenya. Tiada yang lebih indah kecuali menyaksikan mahasiswa-mahasiswa hasil binaan kita menjadi agen perubahan sosial dengan penuh kematangan organisasi dan kecerdasan intelektual. Dalam dunia praktek, para pelaku pembangunan tentu kurang memiliki waktu untuk selalu bisa memikirkan tindakan-tindakan yang dilakukannya secara tenang dan berdasarkan kerangka keilmuan yang lebih objektif. Di sinilah dibutuhkan lulusan mahasiswa hukum yang tampil sebagai sosok ‘intelektual organik’, ia tak hanya berkemampuan akademisi menara gading, melainkan ia juga mampu mengorganisir kegiatan dan massa untuk memperjuangkan hak-hak sipil, politik, dan kebudayaannya.

Dengan tertanamnya jiwa pejuang yang sarat akan pertimbangan moral. Tentu tidak hanya didukung dengan kurikulum, yang mengajarkan tentang, misalnya:

hukum dan moral, etika profesi, dst. Tetapi juga paling penting memberikan tauladan kepada para mahasiswa. Resi-resi zaman dahulu memberikan pelajaran weda pada masyarakat bukan hanya melalui sesembahan dan hafalan saja, melainkan juga lelaku atau tirakat, sebuah kehidupan yang sederhana penuh kesahajaan.

Memang pada level ini, ginjal kurikulum lumayan ditinggalkan oleh Satjipto. Ia lebih memfokuskan diri pada asupan metafisika moral pada mahasiswa. Tesisnya sederhana, hukum yang baik dimulai dari mahasiswa yang baik secara moral. Orang yang memiliki integritas moral kadang memang berada di jalan yang sepi, ditinggalkan, bahkan miskin. Namun kebahagiaan yang ada dalam hati tak akan bisa tergantikan dengan harta dan kekuasaan yang bergelimpahan. Akan tetapi revolusi kurikulum kembali dibidik oleh mereka orang yang berada di wilayah aliran filsafat hukum kritis. Pakar seperti Duncan Kennedy yang lebih menekankan pada pembaharuan kurikulum pendidikan hukum secara radikal untuk menggulingkan kemapanan dominasi kepentingan status quo yang disusupkan dalam sistem pendidikan tinggi.

Pendidikan hukum didasarkan oleh tiga basis materi, oleh Kennedy klasifikasikan ke dalam: pengetahuan dasar dotrinal dan keterampilan, pengalaman klinik hukum dan studi interdislipliner. Dalam penggalan materi pertama, seperti biasa, mahasiswa untuk memahami logika dasar hukum, asas, dogma, doktrin, prinsip ilmu hukum. Mahasiswa diberikan keterampilan dalam menggunakan perangkat hukum hingga membentuk keterampilan dengan basis latihan yang intens. Pada sisi ini, tidak banyak perbedaan antara usulan Kennedy dengan kurikulum pendidikan hukum yang berkembang kebanyakan di Amerika, entah itu Harvard, Chicago, maupun Winconsin, namun pada sebuah sudut yang sempit, ia mengusul, sesuatu yang nampak sumbing. Yakni pendidikan manipulasi kasus. Karena Kennedy percaya

(8)

115 bahwa hukum itu hanyalah sebuah trik, sehingga yang paling liciklah yang kemungkinan besar memenangkan pertarungan, maka mahasiswa pun harus mengetahui realitas itu, bagaimana mengenal skandal, korup, suap, negosiasi, kompromi, dst. Memang satu ini agak riskan, namun begitulah perkembangan di lapangan hukum, tanpa memiliki jaringan yang kuat, seorang pengacara muda hanya menjadi bulan-bulanan dan selalu kalah dalam pertarungan di muka sidang. (Awaludin Marwan,2012: 45)

Hukum adalah kekuasaan. Untuk merobohkan rejim kekuasaan ini perlu radikalitas gerakan. Termasuk menghancurkan sendi-sendi proseduralistik yang banyak diagung-agungkan oleh paralegal. Dengan merekonstruksi gerakan sosial yang berbasis massa akar rumput, seorang aktivis pergerakan akan mencongkel kemampanan kekuasaan itu untuk dipergunakan sebagai jembatan penghubung antara aspirasi masyarakat dan keadilan sosial. Politik distribusi yang berbasis kesejahteraan sulit dicapai jika hanya mengandalkan pendekatan hukum normatif.

Perlu adanya revolusi gerakan yang ditopang dengan pendidikan hukum kritis.

Membuat mahasiswa tidak hanya mengenal aturan, melainkan menghafalkan medan pertarungan, di mana hukum banyak melindungi pejabat korup. Hanya dengan membangun kekuatan sosial, berjuang terus-menerus akan mampu mengupas ketidak-beresan yang ada di sistem hukum itu. (Duncan Kennedy, 2004: 120).

Pandangan Kennedy tentu berbeda dengan Satjipto yang sarat akan moralitas.

Namun, bukan tidak mungkin pandangan ini bisa disatukan. Dengan cara rekonstruksi sarjana hukum yang penuh idealisme berbasis moral, sementara ia tetap kritis terhadap kekuasaan. Diharapkan filsafat pendidikan hukum yang dilukiskan dari Mochtar, Satjipto, dan Kennedy tadi mampu memberikan inspirasi lebih dalam, luas dan detail bagaimana cara memperbaiki sistem pendidikan tinggi hukum di Indonesia.

PENUTUP

Tiada bangunan yang lebih indah dari sebuah kebudayaan akademik yang dipenuhi dengan mahasiswa kritis yang mengedepankan idealisme, nurani, dan semangat perjuangannya. Sementara Dosennya adalah teman belajar mahasiswa.

Membuat mahasiswa menemukan dirinya sendiri dalam pencarian intelektualisme, mengajak mereka bermimpi tentang tengaknya kebenaran dan keadilan sebagai sebuah utopia suatu saat akan bisa diimplementasikan. Pada gilirannya, termasuk bagi pendidik hukum menjadikan pendidikan hukum sebagaimana direnungkan oleh Satjipto Rahardjo sebagai ‘Pendidikan Manusia’. Karena bukankah hukum itu hadir untuk manusia? Karena tujuan hukum sejatinya memberikan rasa aman, tenteram, adil bagi seluruh umat manusia dalam pergaulan hidupnya.

(9)

116

DAFTAR PUSTAKA Buku-Buku

Awaludin Marwan. Studi Hukum Kritis: Dari Modern, Posmodern hingga Posmarxis. 2012. Satjipto Rahardjo Institute. Semarang.

Bruce Fink. The Lacanian Subject Between Language and Jouissance. 1995.

Pricenton University Press. New York.

Duncan Kennedy. Legal Education and the Reproduction of Hirarkhy A Polemic Against The System. New York University Press. 2004

Jo-Anne Dillabough, Degrees of Freedom and Deliberations of Self The Gendring of Identity in Teaching

Larry. Cata Backer. Internationalizing the American Law School Curriulum (in Light of the Carnegic Foundation’s Report. Jan Klabbers&Mortimer. The Internationalization of Law and Legal Edducation. 2008. Springer.

Margaret Walshaw. Working with Foucault in Education. 2007. Sense Publishers.

Mochtar Kusumaatmadja. Konsep-konsep Hukum dalam Pembangunan: Kumpulan Karya Tulis Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. SH. LLM. 2002. Alumni.

Bandung

Paulo Freire. Pedagogy of the Oppressed. 2005. Continuum. New York&London.

Raquel Medina Plana. Critical Thinking Inside Law Schools: An Outline. Onati- Socio-legal Series

Richard Johnstone&Gordon Joughin. Designing Print Materials For Felxible Teaching and Learning in Law. 1997. Cavendish Publishing. New South Wales.

Satjipto Rahardjo. Hukum dan Perubahan Sosial. 1979, dicetak ulang pada 2009, Genta Pubslishing. Yogjakarta.

Peraturan Perundang-undangan

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0156/ U/ 1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 037/ U/ 1979 tentang Badan Koordinasi Mahasiswa (NKK/ BKK).

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahap ikonik, pada tahap ini siswa tidak memanipulasi secara langsung benda-benda konkrit seperti dalam tahap enaktif melainkan sudah dapat memanipulasi dengan

Pada pagi hari kontrol bekerja lebih sering on dan off, hal ini sesuai dengan kapasitas penyerapan panas matahari pada pagi hari yang kurang dan meningkat seiring jumlah

Implementasi penggunaan e-learning pada saaat ini sangat bervariasi. Hal tersebut didasarkan pada prinsip atau konsep bahwa e- learning sebagai upaya

Pada Portfolio Smart Order mempunyai dua kondisi yaitu Take Profit dan Stop loss berguna untuk menjaga stok posisi yang ada agar bisa dijual dengan harga yang

Azizah, Skripsi “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition) Terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita

permasalahan peserta didik kelas X SMA Negeri 1 kota Pontianak ialah pentingnya pemahaman diri mengenai tipe kepribadian dengan berbagai karakteristik kelemahan dan

Walaupun dari hasil penelitian ada juga yang menilai anak laki- laki tidak berperan di dalam keluarga Lampung hal ini dikarenakan mereka menganggap bahwa zaman sudah

Keamanan Jaringan Internet menggunakan Mikrotik dengan Metode Access Control List (Studi Kasus : Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Cirebon). Ade Irma Purnamasari,