60 BAB IV
Kajian Teori Etika Sosial dalam Konsep Keadilan John Rawls atas Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural dalam Tradisi Henge’do di tengah Pandemi COVID-19
Bab ini berisikan analisis terhadap temuan-temuan pada bagian sebelumnya. Keberadaan nilai- nilai yang terkandung dalam tradisi Henge’do telah disosialisasikan baik dalam keluarga maupun dimasyarakat sehingga tradisi ini memberi dampak pada cara pandang hingga tata periaku masyarakat kecamatan Sabu Barat. Proses sosialisasi inilah yang kemudian makin terinternalisasinya nilai-nilai tradisi Henge’do bagi setiap generasi hingga sekarang dan membentuk pola kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat yang berwatak inklusif terhadap sesama yang berbeda sebagai bagian dari Do Hawu.
Jauh sebelum kaitannya dengan tradisi Henge’do yang memengaruhi pola kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat, tradisi-tradisi yang telah diatur berdasarkan hukum yang diciptakan oleh Deo Ama ialah berisi keutamaan untuk menjaga keharmonisan antara semua ciptaan.
Berbagai tradisi dalam masyarakat kecamatan Sabu Barat selalu berusaha merangkai kehidupan dalam tali persaudaraan sebagai upaya yang dapat mengapresiasi keberadaan dari setiap makhluk ciptaan. Tradisi lainnya seperti, pemberian nama kesayangan bagi setiap orang yang mendatangi pulau Sabu atau yang disebut Ngara Waje. Adapun kebiasaan dalam penuturan silsilah demi memperkuat kekeluargaan, hingga tradisi Henge’do yang menjadi topik utama penulisan ini.
Keberfungsian tradisi Henge’do dalam kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya memperlihatkan tradisi ini memiliki kemampuan dalam mengakomodir perilaku masyarakat untuk menanggapi situasi kemajemukan. Tradisi Henge’do menjadi sesuai dengan tujuan multikulturalisme yakni untuk mengusahakan dan membangun pilar perdamaian di tengah kemajemukan masyarakat kecamatan Sabu Barat yang sangat rawan mengalami gesekan konflik. Oleh karena itu tulisan ini akan menganalisis nilai-nilai dalam tradisi Henge’do yang sesuai dengan nilai-nilai pendidikan multikulturalisme dan bagaimana pengaruh Pandemi COVID-19
61
atas tradisi ini. Selanjutnya kajian etika sosial milik John Rawls dalam kaitannya dengan konsep keadilan sosial akan menjadi alat utama yang digunakan penulis untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan multikulturalisme dalam tradisi Hege’do agar dapat dipertangungjawabkan secara rasional dan empiris.
4.1 Nilai-nilai Pendidikan Multikulturalisme dalam Tradisi Henge’do
Multikulturalisme merupakan sebuah usaha menghadirkan penghargaan, pengakuan, penghormatan dan keingintahuan terhadap budaya lainnya sehingga dapat menciptakan serangkaian hubungan sosial antar berbagi macam kelompok yang berbeda dengan tujuan membangun kehidupan yang harmonis. Melihat kehidupan sosial yang terbentuk dalam kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat dengan keberadaan kemajemukan masyarakat memiliki kemampuan secara tradisional untuk mengatur kehidupan bersama. Berdasarkan hasil penelitian, keberadaan tradisi ini memainkan peran sentral dalam kehidupan sehari-hari masyarakat terutama dalam sebuah skema yang disebut perjumpaan.207 Perjumpaan yang terjadi dengan siapa pun dan apa pun latar belakangnya tanpa terkecuali akan melakukan tradisi Henge’do sebagai ungkapan penyambutan atau penerimaan sebagai bagian dari keluarga Do Hawu. Secara tidak langsung tradisi ini telah membentuk cara hidup masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk memiliki sikap terhadap keberadaan realitas kemajemukan.
Tradisi ini mengandung nilai-nilai yang tujuannya memiliki kesamaan dengan apa yang diharapkan oleh multikulturalisme yaitu, sebagai kearifan menanggapi situasi kemajemukan sebagai realitas fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Kebutuhan akan pendidikan multikultral ialah untuk menyingkirkan stigmatisasi, eksklusifikasi dan dominasi.208 Pelaksanaan tradisi Henge’do mengindikasikan sikap masyarakat kecamatan Sabu Barat yang diwujudkan melalui tindakan mencium hidung sebagai tanda bahwa mereka bersedia mengenal, menerima dan menghormati individu lainnya tanpa memandang siapa pun dan apa pun latar belakang sosialnya.
207 Lihat Bab III, 3.3.1 Sejarah, Hakikat dan Makna Filosofis Tradisi Henge’do
208 Molan, Multikulturalisme, 29.
62
Tilaar menegaskan bahwa terdapat tiga dimensi yakni manusia, masyarakat dan kebudayaan yang secara kompleks saling berhubungan erat dalam membentuk sebuah peradaban. Kebudayaan menghasilkan pengetahuan, kepercayaan, kemampuan, seni, hukum, adat istiadat, kebiasaan serta moral bagi manusia dan masyarakat. Berdasarkan amatan terhadap tradisi Henge’do maka tradisi ini tidak hanya menghasilkan kebiasaan tetapi juga menyimpan pengetahuan, kemampuan bahkan kepercayaan yang digunakan oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk beradaptasi dengan lingkungannya yakni kemajemukan yang ada dalam masyarakat. Kemampuan ini dilihat dari bagaimana tradisi Henge’do mengajarkan masyarakat agar tidak mudah terjebak pada sikap yang ekslusif dan tertutup. Justru tradisi Henge’do membentuk watak dan karakter setiap individu untuk menyambut dan menerima dengan perasaan sukacita siapa pun yang mereka jumpai.209 Jelaslah bahwa dalam tradisi Henge’do dapat menjadi landasan pendidikan multikulturalisme karena mengandung nilai-nilai yang mampu mengembangkan potensi masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk mengeksplorasi dan menanggapi kemajemukan secara arif.
Dalam kaitannya dengan pendidikan multikulturalisme maka kebudayaan tersebut haruslah dilandasi oleh nilai-nilai yang mampu mendidik dan membentuk sikap manusia agar dapat menghargai aspek-aspek keragaman budaya dengan persepsi, apresiasi dan tindakan yang positif terhadap kebudayaan lainnya.210 Seperti yang dimaksudkan oleh Bank bahwa pendidikan multikultural haruslah berdimensi dari penggunaan nilai-nilai kebudayaan lokal yang mana dalam penulisan ini ialah Tradisi Henge’do. Penggunaan nilai-nilai tradisi Henge’do merupakan bentuk usaha mengoptimalisasikan kebudayaan lokal yang juga dapat memperkuat identitas nasional.211 Tradisi Henge’do yang merupakan konstruksi sosial masyarakat kecamatan Sabu Barat dapat menjadi landasan pendidikan yang dapat mewujudkan masa depan dam etika bangsa seperti yang dimaksudkan oleh tilaar tentang dimensi pendidikan multikultural yang menggunakan nilai-nilai kebudayaan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya maka ditemukan bahwa
209 Lihat Bab III, 3.3 Hakikat, makna, Fungsi dan Pelaksanaan Tradisi Henge’do pada Masyarakat Sabu Barat
210 Tilaar, Multikulturalisme Tantangan-Tantangan Global,59.
211 Tilaar, Multikulturalisme Tantangan-Tantangan Global,185.
63
radisi Henge’do adalah konstruksi sosial masyarakat kecamatan Sabu Barat yang memuat nilai-nilai untuk digunakan oleh masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungannya yakni salah satunya kemajemukan. Nilai-nilai tradisi Henge’do yang memiliki kesesuaian dengan nilai-nilai pendidikan multikutural diantaranya ialah:
1. Nilai Kesetaraan atau Hela’u Mira
Dalam tradisi Henge’do nilai kesetaraan dapat ditemukan pada bagaimana tradisi melambangkan simbol persatuan bagi masyarakat kecamatan Sabu Barat sehingga dalam pelaksanaanya semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali melaksanakan tradisi ini. Nilai kesetaraan yang termuat berangkat dari filosofi seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya yakni filosofi dari hidung sebagai alat pernapasan. Filosofi ini dipahami oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat sebagai simbol untuk saling “Berbagi Kehidupan”.212 Ketika melakukan Hege’do berarti setiap individu yang bernapas atau memiliki kehidupan dapat melakukan tradisi Henge’do tanpa didasarkan pada perbedaan usia, gender, status sosial dan latar belakang apa pun. Setiap individu memiliki kedudukan yang sama atau sederajat sebagai manusia yang memiliki kehidupan sehingga berhak untuk saling menyatakan dirinya dan berbagi kehidupan dalam relasi sosial yang terjalin.
Nilai-nilai pendidikan multikultural yang dikemukakan oleh Wakano seperti nilai demokrasi, humanis dan pluralis merupakan nilai inti dalam multikulturalisme.213 Ketiga nilai itu dapat dicapai apabila setiap masyarakat berada pada tingkatan yang sama dan diberlakukan secara setara.
Menelusuri ketiga nilai pendidikan tersebut maka pada tradisi Henge’do dapat ditemukan ketika masyarakat kecamatan Sabu Barat yang terbiasa menempatkan setiap orang pada posisi yang setara sebagai Do Hawu yang memiliki hak untuk hidup dan berbagi kehidupan lewat tradisi Henge’do.
Pada situasi lainnya ketika hendak menghasilkan sebuah keputusan atau saat menyelesaikan konflik yang mana akan membutuhkan ruang dialog yang melibatkan banyak orang, pelaksanaan tradisi
212 Lihat Bab III, 3.3 .1 Sejarah, Hakikat dan Makna filosofis Tradisi Henge’do
213 Wakano, Pegantar Multikulturalisme, 14.
64
Henge’do dapat menjamin kesetaraan.214 Pelaksanaan tradisi Henge’do ketika memulai ruang dialog menjadi sebuah tanda bahwa ada jaminan kesetaraan sehingga semua pihak yang terlibat dapat dengan berani dan bebas mengekspresikan diri mereka secara utuh sebagai individu yang memiliki kelebihan dan kekurangan tanpa takut merasa dihakimi.215 Setiap pihak yang terlibat dapat mengungkapkan, mengakui, bahkan memberikan syarat atas apa yang menjadi keinginannya dalam ruang dialog tersebut. Kesetaraan yang dijamin dalam ruang dialog tersebut menghasilkan berbagai pertimbangan yang nantinya akan membentuk keputusan sesuai dengan tujuan bersama. Keputusan yang dihasilkan tidak boleh meringankan sebelah pihak dan memberatkann pihak yang salah atau yang dipahami sebagai tindakan yang tidak pilih kasih atau hela’u mira, bole le ko do woi wala.216 Pertimbangan-pertimbangan tersebut juga akan tetap disesuaikan berdasarkan hukum adat yang berlaku bagi setiap masyarakat. Oleh karena itu menemukan konsep Nilai kesetaraan atau hela’u mira dalam tradisi Henge’do dilihat dari cara masyarakat menjamin kesetaraan yang telah mereka pahami melalui tradisi Henge’do. Nilai kesetaraan atau hela’u mira menjadi acuan masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk selalu menempatkan setiap individu pada kedudukan yang sama sebagai manusia yang berhak berbagi kehidupan bersama sehingga memiliki kesempatan yang sama untuk saling menyatakan diri dan hak-hak tanpa memecah tali persaudaraan.
2. Nilai Penghormatan atau Kebhue Ngi’u Dii
Pewarisan tradisi Henge’do yang dilakukan oleh para leluhur hingga saat ini merupakan bagian dari proses pendidikan dalam keluarga sebagai ajaran tata krama.217 Para leluhur membangun tradisi ini berdasarkan pada pemahaman bahwa pada pangkal hidung terdapat intan dan permata. Inilah mengapa masyarakat kecamatan Sabu Barat menempatkan tradisi Henge’do sebagai tradisi yang luhur karena mengindikasikan penghormatan atas manusia yang berharga atau kebhue bagaikan intan dan permata. Nilai penghormatan yang ada pada tradisi Henge’do juga merupakan nilai inti dari
214 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat
215 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat
216 Hasil wawancara dengan Elisabeth Baromata 14 September 2022
217 Lihat Bab III, 3.3.1 Sejarah, Hakikat dan Makna filosofis Tradisi Henge’do.
65
pendidikan multikulturalsime.218 Tradisi Henge’do seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya dapat menurus hati atau pemane ade yang dapat menyingkapkan rasa amarah, keegoisan, kekecewaan dan ketidakpuasan yang seringkali menjadi faktor yang menyebabkan pelanggaran hak kemanusiaan.219 Nilai penghormatan atau kebhue ngi’u dii dapat ditemukan pada tradisi Henge’do ketika memahaminya sebagai fungsi yang dapat mengontrol seseorang sehingga tetap menghormati hak kemanusiaan sebagai sesuatu yang tak ternilai harganya dan tidak dapat ditukar dengan apapun.
Apabila menelusuri pada ragam tradisi Henge’do juga dapat menemukan nilai penghormatan atau Kebhue ngi’u dii yang dipahami oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat sebagai simbol untuk menyatakan rasa terima kasih atas bantuan yang telah diberikan dan keinginan untuk saling berdiskusi.220 Nilai penghormatan atau kebhue ngi’u dii diungkapkan oleh masyarakat melalui tindakan Henge’do dengan wujud saling mengapresiasi setiap bantuan yang diberikan dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Nilai penghormatan atau kebhue Ngi’u dii juga ditegaskan dalam konsep pendidikan multikultural menurut Tilaar yang disebut sebagai mutual respect. Mutual Respect sebagai nilai yang berperan untuk mengapresiasi manusia lainnya dengan menempatkan manusia sesuai dengan martabatnya.221 Oleh karena itu nilai penghormatan dalam tradisi Henge’do mendidik masyarakat kecamatan Sabu Barat agar memahami bahwa kemanusiaan perlu dihormati, diapresiasi dan diperjuangkan secara bersama sehingga tidak mengorbankannya demi kepentingan atau keegoisan sepihak.
3. Nilai Penerimaan atau Hemme We
Nilai penerimaan atau hemme we dapat ditemukan berdasarkan pengamatan pengaruh tradisi Henge’do terhadap masyarakat dengan membentuk masyarakat kecamatan Sabu Barat berkarakter inklusif. Tradisi Henge’do mengembangkan kemampuan masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk memiliki sensitivitas terhadap keberadaan yang lain. Tradisi Henge’do yang telah menjadi gaya hidup
218 Mary, Etika Terapan, 15.
219 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat.
220 Lihat Bab III. 3.3.2. Fungsi Tradisi Henge’do
221 Wakano, Pengamtar Multikulturalisme, 14.
66
masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk memberikan respon positif pada setiap perjumpaan dengan siapa pun kapan pun dan dimana pun.222 Semua masyarakat yang mendiami pulau Sabu baik itu orang Sabu asli maupun para pendatang akan menjadi bagian dari keluarga atau Do Hawu ketika telah disambut dengan tangan terbuka untuk melangkahkan kaki secara bersama atau hemme we ko penau helau.223
Tradisi Henge’do terus dipelihara oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat sebagai sebuah tradisi yang luhur karena membawa harapan para leluhur yang mewarisinya agar supaya peradaban masyarakat kecamatan Sabu Barat tetap abadi dalam keharmonisan relasi dengan sesama. Merujuk pada teori nilai pendidikan multikultural oleh Wakano, menegaskan salah satu nilai yang diperlukan menjadi dasar pendidikan multikultural ialah harus adanya keterbukaan dan kepekaan untuk belajar hidup dalam perbedaan.224 Oleh karena itu Tradisi Henge’do secara jelas mengungkapkan nilai penerimaan yang ditunjukkan oleh kesediaan masyarakat yang terbiasa untuk terbuka menyambut dan menerima siapa saja yang ada pada wilayah Rai Hawu sebagai Do Hawu.
Henge’do juga menegaskan identitas pelaku tradisi sebagai Do Hawu. Penegasan identitas ini berarti bahwa pelaku tradisi membawa tanggung jawab sebagai orang Sabu yang mengutamakan kasih persaudaraan sehingga mempengaruhi bagaimana mereka menempatkan diri yang bersedia menerima individu yang lain sebagai bagian dari Do Hawu.225 Tradisi Henge’do yang dilakukan bukan oleh masyarakat Sabu asli mengartikan adanya keinginan untuk mau memahami dan belajar tentang kehidupan masyarakat Sabu serta bersedia menjadi bagian didalamnya. Nilai penerimaan atau hemme we inilah yang juga dipertegas oleh Tilaar bahwa nilai pendidikan multikultural ialah belajar hidup dalam perbedaan yang harus diawali dengan nilai penerimaan.226 Dengan demikian nilai Nilai Penerimaan atau hemme we yang ditemukan pada tradisi Henge’do sesuai dengan nilai-nilai pendidikan multikulturalisme.
222 Hasil wawancara dengan Mawanyi Manu Djami 20 September 2022
223 Hasil wawancara dengan Elo Lado tanggal 13 September 2022
224 Wakano, Pengamtar Multikulturalisme, 14.
225 Lihat Bab III, 3.3.1 Sejarah, Hakikat dan Makna filosofis Tradisi Henge’do.
226 Tilaar, Multikulturalisme Tantangan-tantangan Global, 84.
67 4. Nilai Persaudaraan atau Tu ahhu
Masyarakat menggunakan tradisi Henge’do sebagai tolok ukur untuk menilai kualitas hubungan yang akur.227 Itulah mengapa tradisi Henge’do berperan sangat penting pada proses rekonsiliasi masyarakat kecamatan Sabu Barat.228 Tradisi Henge’do merupakan simbol perdamaian sehingga setiap pertikaian yang mengancam hubungan persaudaraan harus diselesaikan dengan menggunakan tradisi Henge’do. Seperti yang diuraikan bahwa tradisi Henge’do dapat menciptakan sebuah situasi dimana adanya perubahan status dari “ya atau aku“ dan “no atau dia” menjadi “dii atau kita”. 229 Pertikaian tersebut haruslah berakhir dengan damai agar dapat memperbaiki hubungan perasudaraan. Seperti halnya moto yang terkenal dalam kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat ialah ie ta lowe wini do memude pa dara lai jaru nga lalu tu ahhu, yang berarti betapa bahagianya apabila memiliki banyak saudara karena dapat meringankan beban disaat duka.230 radisi Henge’do yang berperan dalam proses rekonsiliasi digunakan agar perasudaraan tetap terjalin kembali secara baik dan utuh dengan menjaga ruang dialog tetap kondusif.231 Merujuk pada salah satu nilai pendidikan multikultural yang diajukan oleh Wakano ialah nilai mendahulukan dialog untuk menanggapi konflik masyarakat multikultural dapat ditemukan pada tradisi Henge’do yakni nilai persaudaraan atau tu ahhu. Nilai persaudaraan atau tu ahhu mengarahkan setiap masyarakat untuk menjaga hubungan kekerabatan sebagai Saudara agar tidak dirusak oleh konflik.
Memperkuat analisis atas nilai persaudaraan atau tu ahhu dalam tradisi Henge’do dapat diterangkan bahwa, sejak awal tradisi ini dikreasikan oleh para lelehur untuk menjaga tali
227 Lihat Bab III, 3.3.2 Fungsi Tradisi Henge’do
228 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat.
229 Hasil wawancara dengan Yenny Riwu tanggal 14 September 2022
230 Hasil wawancara dengan Malvinus Raja Hawu tanggal 15 September 2022
231 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat.
68
persaudaraan masyarakat. Filosofi tangan yang merangkul, menjadi dasar masyarakat Sabu membentuk konsep relasi persaudaraan yang memiliki sikap untuk saling berkorban dan menopang satu dengan lainnya.232 Pemaknaan atas salah satu ragam tradisi Henge’do juga memberi penjelasan terhadap nilai persaudaraan yang termuat dalam tradisi Henge’do. Dapat terlihat pada jenis ragam poin satu dan dua yang dijelaskan bahwa tradisi Henge’do dilakukan sebagai tindakan yang menggambarakan kesediaan untuk menerima dengan sukacita individu yang lain bagai bagian dari keluarga.233 Masyarakat kecamatan Sabu Barat selalu melaksanakan tradisi Henge’do untuk merayakan setiap siklus kehidupan baik sukacita maupun dukacita sebagai perwujudan dari sikap sepenanggungan sebagai saudara.234 Dalam tradisi Henge’do, hubungan yang dilandasi oleh kasih persaudaraan merupakan keutamaan yang harus dicapai.
Seperti apa yang uraikan, maka tradisi Henge’do merupakan tindakan yang membutuhkan adanya sikap timbal balik yakni saling memberi diri yakni saling menolong, saling mendukung, saling berdiskusi dan saling menerima.235 Sikap timbal balik mempengaruhi makna dari tradisi Henge’do seperti yang dijelaskan pada raga Henge’do pemaknaannya tidak datang dari pihak yang mencium saja tetapi juga respon dari pihak yang dicium. Sikap tersebut mengidikasikan ikatan persaudaraan pada masyarakat kecamatan Sabu Barat diusahakan oleh setiap pihak yang melakukan tradisi Henge’do. Pola hubungan tersebut seperti demikian juga dijabarkan oleh Tilaar bahwa nilai- nilai pendidikan multkultural ialah nilai yang mengidikasikan hubungan yang saling timbal balik atau mutual.236 Dengan demikian maka pada tradisi Henge’do termuat nilai persaudaraan yang juga menjadi nilai pendidikan multikultural yang teraktualisasikan melalui usaha masyarakat dalam menyelenggarakan relasi yang saling memberi diri untuk menciptakan relasi harmonis, kondusif dan damai.
5. Nilai Kejujuran atau Mola Mira
232 Lihat Bab III, 3.4 Tradisi Henge’do Mendidik Masyarakat Kecamatan Sabu Barat dalam Kemajemukan
233 Lihat Bab III, 3.3.2 Fungsi Tradisi Henge’do
234 Lihat Bab III, 3.4 Tradisi Henge’do Mendidik Masyarakat Kecamatan Sabu Barat dalam kemajemukan
235 Lihat Bab III, 3.3.2 Fungsi Tradisi Henge’do.
236 Tilaar, Multikulturalisme Tantangan-tantangan Global, 84.
69
Nilai kejujuran atau Mola Mira merupakan nilai yang juga dapat ditemukan dalam tradisi Henge’do. Berangkat dari penjelasan filosofi yang ada bola mata yang saling bertatapan mengharuskan adanya kejujuran dan ketulusan sebagai prinsip utama agar tradisi dapat berdaya bagi pelaku tradisi yakni masyarakat kecamatan Sabu Barat.237 Nilai kejujuran ini ditegaskan oleh Tilaar sebagai nilai mutual trust.238 Nilai kejujuran mengarahkan masyarakat agar dalam kehidupan bersama dalam masyarakat majemuk setiap individu tidak dengan sengaja mencari kepentingan sendiri tetapi berangkat dari ketulusan dan kejujuran sehingga kerjasama sosial dapat dibangun di atas kepercayaan.
Seperti yang diuraikan bahwa Tradisi Henge’do harus berangkat dari hati yang bersih atau yang disebut Mola Mira atau akan menempatkan tradisi ini pada tempatnya sesuai dengan kebermanfaatannya bagi kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat.239
Nilai kejujuran atau Molla Mira inilah yang nantinya mendatangkan kebermanfaatan atas tradisi Henge’do tidak hanya bagi salah satu pihak tetapi bagi semua pihak yang terlibat.240 Tradisi Henge’do melatih masyarakat tidak hanya jujur dengan orang lain tetapi dengan diri sendiri untuk mengakui kelemahan ataupun kekurangannya sehingga menghilangkan sikap keangkuhan.241 Pengakuan itulah mendidik masyarakat untuk memiliki pengendalian diri agar tidak saling menguasai manusia yang lain dengan secara serakah menuntut kepentingan yang bukan miliknya. Ketulusan dan kejujuran juga dapat menciptakan empati sehingga adanya saling pengertian. Prinsip kejujuran dan ketulusan menjadi ketentuan dalam tradisi Henge’do agar terciptanya relasi yang dilandasi oleh rasa saling percaya. Saling percaya mengkokohkan sebuah relasi, tetapi kecurigaan dan kecurangan hanya akan menghancurkan relasi persaudaraan dalam masyarakat kecamatan Sabu Barat. Dengan demikian nilai pendidikan multikultural mutual trust dapat jelaskan dalam nilai kejujuran atau mola mira yang dihayati oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat dengan mengutamakan prinsip kejujuran dan ketulusan dalam pelaksanaan tradisi Henge’do.
237 Lihat Bab III, 3.3.1 Sejarah, Hakikat dan Makna filosofis Tradisi Henge’do.
238 Tilaar, Multikulturalisme Tantangan-tantangan Global, 84.
239 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat.
240 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat.
241 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat.
70
Berdasarkan uraian di atas menjadi jelas bahwa tradisi Henge’do memuat nilai-nilai pendidikan multikultural. Nilai-nilai pendidikan multikutural dalam tradisi Henge’do mampu memberdayakan dan mendidik masyarakat kecamatan Sabu Barat dalam mengatur relasi sosial. Nilai- nilai pendidikan multikutural dalam tradisi Henge’do dapat mengurangi prasangka sosial maupun potensi konflik lainnya dalam perjumpaan sehari-hari sebagai masyarakat majemuk. Demi menjamin nilai-nilai dalam tradisi Henge’do sebagai nilai-nilai pendidikan multikulturalisme maka selanjutnya penulis akan mengkajinya menggunakan kajian etika sosial milik John Rawls.
4.2 Kajian Teori Etika Sosial dalam Konsep Keadilan John Rawls Nilai-nilai Pendidikan Multikultural Tradsi Henge’do
Mencermati kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat maka dapat dijelaskan bahwa nilai-nilai yang termuat pada tradisi Henge’do telah menjadi pandagan dan pedoman hidup yang melandasi perilaku masyarakat. Nilai-nilai dalam tradisi Henge’do digunakan masyarakat sebagai kewajiban dan tanggung jawab masyarakat untuk menjaga relasi agar tetap dalam keharmonisan. Sebagaimana fungsi etika yang merupakan kajian yang dipergunakan untuk merefleksikan dan mengkritisi asas- asas dan nilai-nilai moral yang dilakukan secara metodis dan sistematik maka penulis menggunakan kajian etika sosial. Kajian etika sosial bertanggung jawab menerangkan hakikat kebaikan dan kejahatan atas setiap ketentuan perilaku manusia yang mencerminkan nilainya sendiri dan hubungan dengan yang lain agar menjadi perilaku yang terbaik sesuai dengan realitasnya. Etika sosial berfokus yang pada pemikiran manusia termasuk nilai-nilai yang berimplikasi dengan tindakan manusia secara langsung baik hubungan secara individu maupun secara komunal. Tindakan yang dimaksudkan ialah tindakan berkaitan dengan sistem keadilan, otonomi, pelanggaran atas kewajiban, penghormatan atau ketidakhormatan terhadap manusia satu dengan lainnya. Tindakan yang diwujudkan oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat pada konteks penelitian ini ialah berangkat dari nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Henge’do. Sesuai dengan situasi kemajemukan maka nilai-nilai pendidikan multikultural menjadi nilai ideal yang diperlukan dalam mendidik masyarakat majemuk. Oleh karena itu pada bagian ini penulis akan menggunakan kajian etika sosial dengan konsep keadilan John Rawls
71
untuk menyelidiki nilai-nilai pendidikan multikulutural dalam tradisi Henge’do, yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya yakni, nilai-nilai pendidikan multikulturalisme dalam tradisi Henge’do agar dapat dipertanggungjawabkan secara kritis dan teoritis khususnya sesuai dengan tujuan penulisan ini dalam kaitannya dengan multikulturalisme.
4.2.1 Konsep Keadilan John Rawls atas Nilai-nilai Pendidikan Multikultural dalam Tradisi Henge’do
Konsep keadilan yang diterangkan oleh Rawls adalah bentuk pengajuan sebuah prosedur dasar dari sebuah pola kemasyarakatan yang dapat menjamin adanya kesetaraan.242 Rawls mengemukakan keadilan dalam kesetaraan dengan merujuk pada hubungan dalam masyarakat yang dapat membawa berbagai manfaat sosial bagi semua pihak terutama bagi pihak yang kurang beruntung. Realitas kemajemukan memiliki kerentanan atas potensi-potensi konflik kepentingan yang dapat mengancam masyarakat. Potensi konflik sebagian besarnya diakibatkan oleh faktor-faktor yang sangat berkaitan dengan situasi ketidakadilan. Tradisi Henge’do dapat dikatakan memiliki pengaruh dalam membentuk pola kemasyarakatan yang juga mengatur hal-hal yang berkaitan dengan konsep keadilan dalam kesetaraan. Sebagaimana tergambar pada bagian sebelumnya tradisi Henge’do memiliki peran yang penting dalam mengatur masyarakat menghadapi tantangan kemajemukan. Sebagai usaha mengatur pola kemasyarakatan dalam konteks kemajemukan maka konsep teori keadilan Justice as Fairness ini menjadi acuan pola atau prosedur dasar yang dapat digunakan untuk menerangkan tradisi Henge’do berdasarkan dari nilai-nilai pendidikan multikultural yang termuat didalamnya sehingga secara komprehensif dapat dipertanggungjawabkan secara teoritis.
Konsep keadilan Rawls yakni Justice as Fairnes yang menekankan pentingnya keadilan sebagai kebajikan utama. Setiap masyarakat semestinya menjadi setara dalam memiliki kebebasan dan kesempatan yang sama agar dapat mengakomodasikan pribadi tanpa mengorbankan kesejateraan orang lain dalam sebuah kerjasama sosial. Meninjau nilai-nilai pendidikan dalam tradisi Henge’do
242 Lihat bagian pengantar Rawls.
72
yang juga berpengaruh pada prosedur dasar kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat yang mana telah membentuk, mengatur dan mengikat tata perilaku masyarakat.243 Ditemukan bahwa nilai-nilai pendidikan dalam tradisi Henge’do secara khusunya juga telah mengatur cara kerja dari relasi masyarakat dalam konteks kemajemukan. Berdasarkan kelima nilai pendidikan multikulural yang dihasilkan oleh tradisi Henge’do yakni, nilai kesetaraan atau hela’u mira, nilai penghormatan atau kebhue ngi’u dii, nilai penerimaan atau hemme we, nilai persaudaraan atau tu ahhu dan nilai kejujuran atau mola mira menjadi dasar yang membentuk masyarakat kecamatan Sabu Barat dalam perilakunya menetapkan kualitas kerja sama sosial. kelima nilai ini diwujudkan oleh masyarat kecamatan Sabu Barat melalui tradisi Henge’do yang dapat memperkuat solidaritas, pengendalian diri, menekan keegoisan, mengawasi jalannya sebuah pertemuan sosial, menegaskan identitas sebagai Do Hawu dan sebagai sumber pengetahuan yang mendatangkan kebermanfaatan lainnya bagi kemanusiaan. Sejalan dengan konsep dasar keadilan Rawls demi mengatur jalannya kerjasama sosial maka ke lima nilai ini dapat ditelusuri secara lebih spesifik dengan prasyarat yang harus dimiliki untuk mencapai kriteria Justice as fairness.
a. Kontrak Sosial
Kontrak sosial merupakan konsep pertama yang diajukan oleh Rawls untuk memulai prosedur keadilan. Kontrak sosial ini memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang bersifat kontraktual yang lahir dari hasil kesepakatan setiap individu dengan hak dan kedudukan yang setara.244 Tradisi Henge’do dapat diterangkan sebagai prosedur kontrak sosial dalam masyarakat kecamatan Sabu Barat karena digunakan masyarakat sebagai simbol perjanjian atau kontrak yang terjalin antar dua pihak atau lebih. Tradisi Henge’do sebagai bentuk kerja sama sosial untuk mengatur prosedur pelaksanaan dari setiap pertemuan sosial yang diadakan dalam masyarakat.245 Tradisi Henge’do mewakili harapan dan komitmen yang telah dipahami bersama oleh masyarakat
243 Lihat Bab III, 3..4 Tradisi Henge’do Mendidik Masyarakat Kecamatan Sabu Barat dalam Kemajemukan
244 Ujan, Keadilan dan Demokrasi,25.
245 Lihat Bab III, 3.3.2 Fungsi Tradis Henge’do
73
kecamatan Sabu Barat, sehingga ketika pertemuan sosial tersebut dilaksanakan akan menghasilkan sebuah kesepakatan yang mana setiap individu berkesempatan untuk menentukan dan bersedia untuk menaatinya.246 Tradisi Henge’do tidak hanya dipakai sebagai simbol saling sapa tetapi lebih dari itu masyarakat menggunakannya sambil berkomitmen atas nilai-nilai yang terkandung dibalik tindakan mencium hidung. Inilah yang dimaksudkan bahwa kontrak sosial merupakan situasi dimana setiap pihak terlibat dalam menentukan kesepakatan sosial yang sifatnya seperti sebuah kontrak atau perjanjian. Tradisi Henge’do mengikat setiap pihak dalam komitmen atas berbagai bentuk kesepakatan sebagai perjanjian bersama.247 Oleh karena itu kontrak yang dihasilkan melalui tradisi Henge’do harus diterima, disetujui dan dipertanggungjawabkan oleh setiap pihak yang terlibat sebagaimana penjelasan dalam kontrak sosial menurut Rawls.
Kesepakatan yang diperoleh dalam kontrak sosial harus berasal dari adanya kesetaraan yang mengakomodasi segala kepentingan secara adil agar mencapai kepentingan bersama.248 Dalam tradisi Henge’do nilai kesetaraan dan penghormatan dapat mendukung setiap pihak dalam pembentukan kontrak sosial untuk menghasilkan kesepakatan sesuai dengan prinsip keadilan. Situasi Kesetaraan mengarahkan setiap individu untuk memiliki sikap penghormatan terhadap individu lainnya agar secara bersama-sama menentukan kesepakatan serta berkomitmen atasnya. Nilai-nilai pendidikan multikultural dalam tradisi Henge’do yakni nilai kesetaraan atau hela’u mira dan nilai penghormatan atau kebhue ngi’u dii, yang mengindikasikan bahwa setiap individu telah bersedia dan menerima tanpa adanya sikap saling membedakan.249 Peran tradisi Henge’do pada ruang dialog memberikan jaminan adanya kesetaraan bagi semua pihak yang terlibat dengan pemberian kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka secara otentik dengan kelebihan dan kekurangan. Kedua nilai ini menempatkan individu pada kedudukan sebagai manusia yang harus dihormati dan diberikan
246 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat.
247 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat.
248 Ujan, Keadilan dan Demokrasi, 53.
249 Lihat Bab IV, 4.1 Nilai-nilai Pendidikan multkultural dalam tradisi Henge’do.
74
kesempatan yang sama dalam proses mengajukan persyaratan kontrak sosial sebagaimana yang dimaksud oleh Rawls.
b. Posisi Asali
Berdasarkan proses kontrak sosial maka Rawls juga menekankan pentingnya prosedur yang Fair atau setara untuk merumuskan kesepakatan berdasarkam prinsip keadilan. Prosedur yang Fair bagi Rawls hanya dapat terjadi apabila setiap pihak ada pada posisi asali.250 Pengandaian atas posisi asali pada kenyataannya sangat berpengaruh secara esensial demi mencapai kesepakatan yang adil terutama dalam dalam konteks kemajemukan yang diperhadapkan dengan banyak pilihan, kebutuhan dan kepentingan. Sejatinya posisi asali memang tidak dapat terlaksanakan secara sempurna dan hanyalah situasi ideal yang diandaikan oleh Rawls. Namun pengandaiannya ini mengharuskan setiap individu datang dengan keadaan yang kosong tanpa pengetahuan atau secara sederhana menekan kepentingan yang sifatnya pribadi dan unik.251 Berdasarkan prasyarat yang diajukan Rawls ini juga dapat ditemukan dalam tradisi Henge’do bahwa prinsip utama dalam pelaksanaan tradisi Henge’do ialah harus dilandasi oleh kejujuran dan ketulusan.252 Prinsip ini terbentuk atas nilai kejujuran yang mendidik masyarakat kecamatan Sabu Barat menempatkan diri secara tulus, jujur dan apa adanya sehingga dapat membersihkan hati dari amarah, keegoisan, kesombongan serta motivasi yang tersembunyi demi mendapatkan kepentingan pribadi.253 Ketidakjujuran dan ketidaktulusan menyebabkan menyebabkan hilangnya keluhuran tradisi Henge’do sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Melihat kembali posisi asali yang dimaksudkan oleh Rawls, bahwa posisi asali ialah sebuah pengandaian tanpa keadaan pengetahuan agar tidak menghasilkan kepentingan atau motivasi tertentu yang dapat mengganggu keadilan sama halnya dengan nilai kejujuran atau mola mira dalam tradisi Henge’do.
250 Lebacqz, Teori-Teori Keadilan, 50.
251 Ujan, Keadilan,55.
252 Lihat Bab III, 3.3.1 Sejarah, Hakikat dan Makna filosofis Tradisi Henge’do.
253 Lihat Bab III, 3.3.2 Fungsi Tradis Henge’do
75
Menempatkan diri dalam pengandaian posisi asali juga merupakan prosedur dalam tradisi Henge’do yakni melaui nilai kejujuran atau mola mira. Nilai kejujuran atau Mola mira itu telah mendidik masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk memiliki sikap ketulusan, saling pengertian, keikhlasan, kerendahan hati dan pengakuan atas diri sendiri. 254 nilai kejujuran atau mola mira merupakan landasan bagi cara berpikir masyarakat kecamatan Sabu Barat agar dapat mengendalikan diri dan tidak terjebak motivasi yang salah sehingga berpotensial mengganggu keadilan.255 Dengan demikian nilai kejujuran atau mola mira ini diperlukan untuk mendidik masyarakat multikultural yang memiliki berbagai kepentingan, yang mana juga sesuai dengan prosedur keadilan yang dimaksudkan Rawls.
c. Moral Person
Pihak-pihak yang menempati posisi asali merupakan individu yang miliki kemampuan moral atau disebut Moral Person.256 Moral Person memiliki duakemampuan yakni, pertama, kemampuan untuk mengerti dan bertindak berdasarkan rasa keadilan dan dengan itu juga didorong untuk mengusahakan suatu kerja sama sosial. Kedua, kemampuan untuk membentuk, merevisi dan secara rasional mengusahakan terwujudnya konsep yang baik.257 Sebagai individu yang bebas, adil dan setara maka usaha untuk mencapai keadilan merupakan dorongan secara sukarela untuk melibatkan diri dalam kerjasama sosial. Menyelidiki motivasi dibalik tindakan masyarakat terhadap tradisi Henge’do ialah adanya dorongan untuk menciptakan hubungan kekerabatan yang mewujudkan kerjasama sosial yang mendatangkan kesejahteraan bagi semua masyarakat. Kesejahteraan itu dicapai dengan berusaha menciptakan situasi kondusif, aman dan damai dengan tidak membedakan setiap individu tertentu berdasarakan latar belakang sosial dalam masyarakat sehingga dapat menciptakan keseimbangan dalam kerjasama sosial. Masyarakat kecamatan Sabu Barat menempatkan
254 Lihat Bab IV, 4.1 Nilai-nilai Pendidikan Multikultural dalam Tradisi Henge’do.
255 Lihat Bab III, 3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat.
256 Lebacqz, Teori-teori Keadilan, 23.
257 Lebacqz, Teori-Teori Keadilan, 37.
76
sesamanya pada kedudukan yang setara sebagai Do Hawu. Dorongan tersebut terbentuk melalui Nilai kesetaraan atau hela’u mira.258
Kebutuhan umum sebagai Do Hawu ialah ingin mencapai keseimbangan dalam kehidupan bersama.259 Kebutuhan inilah mewajibkan setiap masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk bersama-sama memperjuangkannya sebagai kebutuhan dasar hidup melalui nilai persaudaraan atau tu ahhu 260 yang termuat dalam tradisi Henge’do mendorong masyarakat kecamatan Sabu Barat diamana adanya kerelaan dengan inisiatifnya sendiri melakukan tradisi Henge’do untuk menyelesaiakan berbagai pertikaian demi menjaga keharmonisan persaudaraan sebagai tanggung jawab leluhur. Keberadaan tradisi Henge’do hingga sekarang membuktikan bahwa masyarakat secara alamiah memiliki kemampuan moral yang rasional, bebas dan setara untuk menimbang dan memutuskan sebuah keputusan yang baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sesamanya dalam kehidupan bersama sebagai masyarakat.
Pada konsep Moral Person Rawls tidaklah hanya mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan individu. Namun Pada akhirnya pertanggungjawaban yang dimaksudkan bukan pada keadilan tetapi terhadap kemampuan Moral Person yang membuat manusia menjadi manusia. 261 Pengakuan atas manusia sebagai yang rasional, bebas dan setara akan membawa pada hak dan kewajiban yang sama sehingga itu merupakan basis dari bertumpu dan berkembangnya konsep keadilan sebagai kesetaraan. Kesamaan yang ada pada tradisi Henge’do ialah bagaimana mengakui setiap individu adalah Do Hawu yang memiliki kedudukan yang sama sebagai serta berharga layakanya intan dan permata. Tradisi Henge’do mengarahkan cara berpikir masyarakat agar menghormati hak kemanusiaan sebagai sesuatu yang tak ternilai harganya dan tidak dapat ditukar dengan apa pun sebagai perwujudan dari nilai penghormatan atau kbue ngiu di.262 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konsep person moral dapat ditemukan dalam tradisi Henge’do melalui penghayatan terhadap nilai
258 Lihat Bab IV, 4.1 Nilai-nilai Pendidikan Multikultural dalam Tradisi Henge’do.
259 Lihat Bab III, 3.2..2 Sistem Agama dan Kepercayaan Masyarkat Sabu..
260 Lihat Bab IV, 4.1 Nilai-nilai Pendidikan Multikultural dalam dalam Tradisi Henge’do.
261 Ujan, Keadilan, 39.
262 Lihat Bab IV, 4.1 Nilai-nilai Pendidikan Multikultural dalam Tradisi Henge’do
77
kesetaraan atau hela’u mira, nilai penghormatan atau kebhue ngi’u dii dam nilai persaudaraan atau tu ahhu.263 Nilai-nilai pendidikan multikultural dalam tradisi Henge’do inilah memperlihatkan kemampuan masyarakat kecamatan Sabu Barat sebagai moral person yang menurut Rawls dibutuhkan oleh masyarakat multikultural mengikuti prosedur keadilan.
d. Dua Prinsip Keadilan
Inti dari konsep keadilan Rawls ialah pada dua prinsip keadilan yang akan digunakan apabila masyarakat telah memenuhi syarat dalam posisi asali. Dua prinsip keadilan yang dikemukakan Rawls bertujuan untuk menjamin nilai-nilai primer dari setiap anggota masyarakat (social goods).264 Prinsip yang pertama ialah, setiap orang harus memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas, seluas kebebasan yang sama bagi semua orang.265 Prinsip ini merujuk pada hak kesempatan dan kebebasan yang sama bagi setiap individu yang terlibat dalam menentukan kontrak sosial.
Tradisi Henge’do dilakukan demi menghilangkan batas-batas sosial di tengah masyarakat kecamatan Sabu Barat dengan menempatkan setiap individu pada kedudukan yang sama sebagai Do Hawu atau keluarga. Melaksanakan tradisi Henge’do berarti mewujudkan sikap menghargai sesama sebagai Do Hawu yang memiliki kehidupan di wilayah Rai Hawu sehingga harus secara bersama saling berbagi kehidupan serta saling menghormati martabatnya sebagai manusia yang berhak atas kebebasan dan kesempatan dalam mengejar kelayakan hidup. Tradisi Henge’do mengarahkan agar setiap masyarakat kecamatan Sabu Barat mengutamakan kehidupan dan kemanusiaan sebagai Do Hawu diatas kepentingan- kepentingan lainnya. Perwujudan tersebut berangkat dari nilai-nilai yang termuat dalam tradisi Henge’do yakni nilai kesetaraan dan penghormatan. Memenuhi kelayakan hidup setiap individu sebagai manusia ialah keutamaan yang ingin dicapai oleh prinsip keadilan yang pertama begitu pun dengan tradisi henge’do mengusahakan kehidupan yang layak bagi setiap
263 Lihat Bab IV, 4.1 Nilai-nilai Pendidikan Multikultural dalam Tradisi Henge’do
264 Ujan, Keadilan dan Demokrasi, 72.
265 Lebacqz, Teori-teori Keadilan, 23.
78
individu tanpa terkecuali. Oleh karena keutamaan dalam prinsip pertama yang dimaksudkan oleh Rawls juga menjadi nilai inti yang juga diutamakan dalam tradisi Henge’do.
Selanjutnya pada prinsip kedua Rawls mengajukan strategi yang digunakan untuk menjamin pihak yang tidak beruntung agar tetap memiliki kebebasan dan kesempatan menentukan kontrak sosial. Strategi tersebut dibutuhkan karena pada realitasnya tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan dan kepentingan dasar atas kelayakan hidup bagi setiap individu dalam masyarakat sangat beragam sehingga tidak dapat dipenuhi sepenuhnya secara sempurna. Realitas tersebut berpotensi menciptakan ketidaksetaraan, sehingga Rawls mengajukan prinsip kedua yakni, ketimpangan sosial dan ekonomi diatur sedemikian rupa sehingga (a) dapat diharapkan memberi keuntungan semua orang, dan (b) semua posisi dan jabatan terbuka bagi semua orang.266 Strategi ini dapat diterima sejauh memberikan keuntungan bagi semua pihak tanpa terkecuali. Usaha menjamin semua pihak mendapatkan kebebasan dan kesempatan ialah bentuk dari keadilan dalam kesetaraan. Tradisi Henge’do yang digunakan untuk mengatur keseimbangan hidup masyarakat kecamatan Sabu Barat dipahami sebagai tindakan untuk saling berbagi kehidupan oleh karena itu masyarakat mesti mengutamakan sikap solidaritas dan saling sepenanggungan.267 Saling berbagi kehidupan baik suka maupun duka berarti ketika memperoleh manfaat harus dapat berbagi sehingga dirasakan oleh semuanya, begitupun ketika menanggung beban harus berbagi dengan semua pihak yang terlibat.
Pada dasarnya prinsip kedua menurut Rawls ini memuat sikap saling pengertian dan bersedia untuk berbagi agar sebagai pihak yang beruntung tidak dirugikan dan yang tidak beruntung juga memperoleh keuntungan. nilai yang termuat dalam tradisi henge’do yakni nilai penerimaan atau hemme we, nilai persaudaraan atau tu ahhu, nilai kejujuran atau mola mira yang menggambarkan kemampuan masyarakat dalam memberi kesempatan untuk saling
266Lebacqz, Teori-teori Keadilan, 86.
267 Lihat Bab III, 3.4 Peran Tradisi Henge’do bagi kemajemukan masyarakat Kecamatan Sabu Barat
79
memahami dan menerima keberadaan atas kepentingan yang berebeda dan beragam dalam masyarakat. Ketiga nilai ini akan mendorong setiap pihak yang terlibat untuk melakukan berbagai pertimbangan sebelum akhirnya menghasilkan kesepakatan. Seringkali banyak yang mengatakan bahwa orang sabu hanya dibayar dengan ciuman hal ini bukanlah untuk meremehkan hasil kesepakatan tetapi menunjukkan bahwa ada sikap saling empati, saling terbuka dan saling pengertian yang dilakukan secara sukarela. Ketiga nilai ini yang akan mendorong kerjasama sosial yang adil dan setara dalam masyarakat kecamatan Sabu Barat begitu pun dalam prosedur keadilan menurut Rawls pada prinsip yang ke dua untuk berusaha mengakomodasi setiap kebebasan dan kesempatan terutama bagi yang kurang beruntung.
e. Well-Oredered Society
Prosedur keadilan Rawls diharapkan dapat membentuk struktur masyarakat yang teratur atau yang disebut sebagaI well-ordered society. Well-ordered society yang dimaksudkan ialah pertama, masyarakat yang secara efektif diatur oleh konsep keadilan yang diterima secara umum. Kedua, setiap anggota masyarakat melihat dirinya sebagai person- person moral. Ketiga lembaga sosial dasar masyarakat dapat menjamin rasa keadilan sehingga mempengaruhi tingkah laku masyarakat untuk mendukung tumbuhnya keadilan dalam diri dan masyarakat.268 Tradisi Henge’do yang dihidupi oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat dalam segala aspek kehidupan sehari-hari telah membentuk watak dan karakter masyarakat sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan didalamnya sehingga secara tidak langsung mengatur perilaku masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat yang tinggal di wilayah Sabu secara umum memahami, melakukan bahkan menerima tradisi Henge’do sebagai sebuah ketentuan yang harus dilakukan sesuai dengan prinsip dan manfaatnya.
Masyarakat kecamatan Sabu Barat mengatur sistem pranata sosial dari hal yang terkecil yakni dari peristiwa kelahiran hingga kematian. Berbagai ritus dan tradisi yang dilakukan bertujuan menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara sesama manusia, alam
268 Ujan, Keadilan dan Demokrasi, 46-47.
80
dan Sang pencipta.269 Berdasarkan hal itu tradisi Henge’do menjadi salah satu sarana yang digunakan masyarakat yang ada pada wilayah kecamatan Sabu Barat agar dapat menyelenggarakan kehidupan yang harmonis dan seimbang. Masyarakat saling memiliki kesadaran yang luas untuk saling menghargai, menghormati, menerima, melindungi dan mendukung sesama sebagai Do Hawu agar menjaga peradaban sebagai tanggung jawab terhadap para leluhur atau dapat dikatakan melihat sesama dengan kemampuan moralnya.
Bagi masyarakat kecamatan Sabu Barat hidup sesuai dengan aturan atau adda yang berlaku akan menghindarkan diri dari kekacauan. Meskipun tidak dapat menarik gagasan bahwa masyarakat kecamatan Sabu Barat merupakan well-ordered society, namun berdasarkan penelitian menunjukkan gambaran struktur dasar yang telah dimiliki dapat mengarahkan pada struktur well-ordered society. Melalui tradisi Henge’do masyarakat kecamatan Sabu Barat dapat meraih keseimbangan dan keharmonisan hidup sebagai cita-cita bersama.
Well-ordered Society merupakan struktur dasar masyarakat yang diharapkan menjadi wadah dari keragaman pandangan untuk mengupayakan cita-cita kerjasama sosial secara adil diantara person-person moral yang rasional, bebas dan setara.270 Masyarakat akan mencapai kriteria sebagai Well-ordered Society apabila adanya pengakuan dan dan penerimaan secara mendasar bahwa setiap individu adalah setara, bebas dan adil yang mampu memilih prinsip keadilan yang bermanfaat bagi semua pihak tanpa terkecuali.271 Well-ordered society pada masyarakat kecamatan Sabu Barat dapat tersirat melalui nilai kesetaraan atau hela’u mira, nilai penghormatan atau kebhue ngi’u dii, nilai penerimaan atau hemme we, nilai persaudaraan atau tu ahhu dan nilai kejujuran atau mola mira. Sebagai mana keterikatan kelima nilai yang saling melengkapi untuk memenuhi prosedural keadilan sehingga dapat mencapai masyarakat ideal yang dicita-citakan oleh Rawls sebagai Well-ordered society. Ke lima nilai ini dapat dikatakan mendukung teori prosedural keadilan Rawls sehingga dapat dijadikan sebagai nilai- nilai pendidikan multikulural dalam masyarakat majemuk.
269 Lihat Bab III, 1.3.2.2 Agama dan Sistem Kepercayaan Masyarakat Sabu.
270 Ujan, Keadilan dan Demokrasi,47.
271 Ujan, Keadilan dan Demokrasi,48.
81
Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan multikultural yang termuat dalam tradisi Henge’do memiliki kesesuaian dengan prosedur keadilan yang juga dimaksudkan oleh Rawls. Pendistribusian hak-hak dasar secara adil dengan tidak membiarkan pihak-pihak yang kurang beruntung mengalami kerugian, merupakan salah satu hal yang harus diprioritaskan oleh masyarakat majemuk sebagaimana cara masyarakat kecamatan Sabu Barat mengusahakannya melalui tradisi Henge’do. Nilai-nilai pendidikan dalam tradisi Henge’do dapat dipakai sebagai landasan pendidikan multikultural karena terbukti memiliki kesesuaian dengan prosedur keadilan yang dapat menjamin keseimbangan bagi masyarakat majemuk.
4.3 Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural dalam Tradisi Henge’do di tengah Pandemi COVID- 19
Protokol kesehatan merupakan peraturan umum yang mengakibatkan masyarakat kecamatan Sabu Barat melakukan strategi kebudayaan sebagai usaha untuk beradaptasi dengan konteks pandemi COVID-19. Henge’do sebagai tradisi yang nilainya telah terinternalisasi secara kuat dalam kehidupan masyarakat tidak mudah untuk mengalami degradasi nilai yang dipengaruhi oleh situasi pandemi.
Nilai-nilai tradisi tentu tidak dengan mudah mengalami degradasi. Namun tidak disangkali bahwa pada kenyataannya Pandemi COVID-19 memberikan dampak terhadap pemaknaan masyarakat tradisi Henge’do. Dampak tersebut membawa perubahan pada cara masyarakat melaksanakan tradisi Henge’do sambil berusaha tetap menggunakan nilai-nilai yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kepentingan dari pelaku tradisi walaupun tidak secara efektif dapat berfungsi sebagaimana seharusnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, masyarakat kecamatan Sabu Barat melakukan usaha untuk tetap dapat memanifestasikan nilai-nilai dari tradisi Henge’do. Sebagai bentuk strategi budaya tradisi Henge’do kemudian mengalami modifikasi pada tataran bentuk perilakunya.272 Strategi masyarakat terhadap tradisi Henge’do diciptakan agar tetap saling berbagi kehidupan sebagaimana
272 Lihat Bab III, 3.5 Tradisi Henge’do di tengah Pancemi COVID-19
82
keutamaan yang pahami masyarakat dalam tradisi Henge’do. “Cium Korona”273 dan pengalungan selendang seperti yang telah penulis jelaskan pada bagian sebelumnya menjadi cara yang dipakai oleh masyarakat. Perubahan cara melakukan tradisi Henge’do justru memperkaya makna tradisi Henge’do pada sisi yang lain. Ketika masyarakat kecamatan Sabu Barat hanya melakukan “Cium Korona”
menandakan bahwa ada keinginan untuk tetap tercipta solidaritas untuk saling menjaga kehidupan bersama.274 Menaruh tangan pada dada mengindikasikan hati yang tulus untuk menyapa, menghargai, menerima, menghormati untuk menandai relasi persaudaraan yang harmonis. Pengalungan selendang juga menunjukan bentuk penghormatan dan penerimaan yang merangkul sesama dalam perjumpaan yang terjalin.275 Modifikasi dan strategi budaya yang dilakukan supaya masyarakat kecamatan Sabu Barat tidak mengalami pergeseran nilai yang ekstrim yang mempengaruhi pemaknaan tradisi Henge’do selama situasi pandemi COVID-19.
Masyarakat Kecamatan Sabu Barat mengadakan banyak pertimbangan untuk melaksanakan tradisi Henge’do dan disaat yang sama tetap melaksanakan protokol kesehatan. Tradisi Henge’do yang telah terbukti mampu mengatur kerjasama sosial dalam kehidupan masyarakat Kecamatan Sabu Barat sehingga mereka makin menyadari bahwa tradisi ini menjadi kebutuhan dasar serta memiliki peran sentral bagi keteraturan kehidupan bersama. Masyarakat kecamatan Sabu Barat merasakan keterhilangan identitas diri yang selama ini telah terbentuk lewat pemaknaan nilai-nilai tradisi Henge’do. Kesulitan masyarakat kecamatan Sabu Barat memanifestasikan nilai-nilai inilah yang mendorong masyarakat melakukan upaya modifikasi dan inovasi. Namun sebagai upaya menjelaskan dampak pandemi terhadap pemaknaan nilai tradisi Henge’do tentu akan memberikan simpulan yang bersifat generalisasi sehingga simpulan itu membtuhkan penelitian lebih lanjut. Namun yang dapat dipastikan bahwa bahwa masyarakat kecamatan Sabu Barat mengalami kesulitan dalam memanifestasikan nilai-nilai tersebut terutama pada pertemuan sosial yakni seperti acara kematian
273“ Cium Korona” merupakan istilah yang digunakan masyarakat kecamatan Sabu Barat sebagai ungkapan permohonan maaf karena tidak bisa melakukan cium hidung atau Henge’do akibat Pandemi COVID-19. Ungkapan tersebut meengindikasikan ungkapan untuk meminta saling pengertian karena tidak dapat melakukan tradisi sebagaimana biasanya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat menggunakan tradisi Henge’do sebagai bentuk ungkapan keramahtamahan sekaligus penghormatan, jadi apabila tidak dapat melakukannya maka masyarakat merasa tidak menghargai pertemuan tersebut.
274 Lihat Bab III, 3.5 Tradisi Henge’do di tengah Pandemi COVID-19
275 Lihat Bab III, 3.5 Tradisi Henge’do di tengah Pandemi COVID-19
83
atau upacara adat lainnya. Masyarakat kecamatan Sabu Barat enggan memberhentikan secara total pelaksanaan tradisi Henge’do karena nilai-nilai yang termuat di dalamnya telah telah diluhurkan dan dihidupi sejak dahulu.
Nilai-nilai yang termuat dalam tradisi Henge’do digunakan sebagai kebermanfaatan dalam menjalani kehidupan sosial masyarakat kecamatan Sabu Barat. Situasi Pandemi COVID-19 dapat menjadikan tradisi henge’do justru dapat membawa bahaya bagi kehidupan sosial masyarakat apabila dilakukan sebagaimana mestinya karena tidak sesuai dengan protokol kesehatan. Peran tradisi Henge’do yang kuat dalam kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat menjadikan mereka mengupayakan agar nilai-nilai inti dalam tradisi Henge’do tetap dapat mendatangkan kebermanfaatan terutama menjaga kebersatuan masyarakat dalam situasi Pandemi COVID-19. Masyarakat kecamatan Sabu Barat mengupayakan agar tradisi nilai-nilai inti dalam Henge’do tetap dapat berfungsi pada initinya yaitu dapat mendidik masyarakat untuk memiliki sikap saling menerima, menghargai, menghormati dan menjaga satu dengan yang lainnya dalam relasi persaudaraan Do Hawu.
Sebagaimana dalam peneltian ini memfokuskan pada nilai-nilai pendidikan multikuktural, maka situasi pandemi COVID-19 justru memberikan kesempatan untuk kembali memaknai dan memperkuat peran tradisi Henge’do dalam mewujudkan semangat solidaritas pada seluruh lapisan masyarakat Kecamatan Sabu Barat, sehingga bersama-sama menghadapi dampak-dampak permasalahan sosial yang ditimbulkan selama Pandemi COVID-19 berlangsung.
Melihat upaya yang dilakukan masyarakat kecamatan Sabu Barat menjadi bukti nyata tentang kerja sama sosial yang terjalin dalam masyarakat. Soilidaritas dan keharmonisan masyarakat kecamatan Sabu Barat masyarakat kecamatan Sabu Barat justru semakin menguat di tengah pandemi COVID-19. Tradisi Henge’do tidak lagi hanya dimengerti sebagai saling berbagi kehidupan tetapi juga saling menjaga kehidupan. Nilai-nilai yang termuat dalam tradisi Henge’do dijaga agar tetap terukir dan terlaksana dalam kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat walau dengan cara yang terbatas. Dalam mengatur jalannya kerjasama sosial masyarakat kecamatan Sabu Barat tetap menjunjung nilai sentral yang telah dihidupi oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat yakni hubungan
84
yang dilandasi rasa persaudaraan yang tulus dan jujur. Oleh karena itu Konstruksi berpikir masyarakat kecamatan Sabu Barat terhadap tradisi Henge’do mengalami adaptasi dan modifikasi, demi tetap melanggengkan nilai-nilai tradisi Henge’do di tengah Pandemi COVID-19 sebagai kekuatan internal menjaga keberaturan masyarakat.