II-1
II. BAB II
LANDASAN TEORI
II.1 Pengertian Perancangan
Perancangan adalah sebuah proses untuk mendefinisikan sesuatu yang akan dikerjakan dengan menggunakan teknik yang bervariasi serta di dalamnya melibatkan deskripsi mengenai arsitektur serta detail komponen dan juga keterbatasan yang akan dialami dalam proses pengerjaannya (Karunia, 2015)
Proses perancangan memiliki tiga unsur penting yakni : pengetahuan mengenai teknik perancangan, kebutuhan sistem, serta kendala yang mungkin terjadi (Rizky,2011).
II.2 Konsep Enterprise Architecture
II.2.1 Pengertian Enterprise
Umumnya pengertian enterprise sering disamakan dengan pengertian organisasi atau perusahaan. Di dalam buku (The Open Group, 2009). Enterprise diartikan sebagai semua kumpulan organisasi yang memiliki sekumpulan tujuan.
Enterprise diartikan sebuah agen pemerintahan, sebuah rantai organisasi yang terhubung tetapi berjauhan secara geografis. Enterprise dalam konteks arsitektur enterprise dapat digunakan oleh semua perusahaan yang meliputi layanan sistem informasi, teknologi informasi, proses, dan infrastruktur dan domain tertentu dalam perusahaan.
Dalam definisi tersebut dapat disimpulkan kumpulan organisasi berupa non- profit/nirlaba seperti pemerintah, organisasi amal atau institusi pendidikan bisa dikatakan juga sebagai enterprise yang memiliki sekumpulan pemanfaatan dari sistem informasi, teknologi informasi, proses, dan infrastruktur guna mencapai tujuan.
II.2.2 Architecture
Menurut The Open Group (2009) architecture didefinisikan sebagai dasar sistem organisasi yang terdiri dari sekumpulan komponen yang memiliki hubungan satu sama lainnya serta memiliki keterhubungan dengan lingkungan sistem, dan memiliki aturan untuk perancangan dan evaluasi.
Sebuah arsitektur juga merupakan penggambaran jelas tentang rencana detail bagaimana bentuk konstruksi sebuah sistem, bagaimana setiap komponen sistem disusun, dan bagaimana aturan dan interface (penghubung sistem) digunakan untuk mengintergrasikan seluruh komponen yang anda tersebut hingga implementasi.
II.2.3 Enterprise Architecture
Enterprise architecture adalah kumpulan prinsip, metode, dan kode yang bersifat masuk akal yang digunakan untuk mendisain dan merealisasikan sebuah struktur organisasi enterprise, proses bisnis seperti perencanaan bisnis dan operasional bisnis, sistem informasi, dan infrastruktur teknologi informasi (Surendro, 2009). Menurut The Open Group (2009) dapat disimpulkan enterprise architecture adalah blueprint organisasi yang menentukan bisnis, informasi, dan teknologi yang digunakan agar tercapai misi organnisasi.
Sebuah enterprise architecture penting diterapkan karena sebagai proses menerjemah visi bisnis dan strategi (baik perusahaan dan TI) menjadi efektif dengan menciptakan, berintegrasi dan meningkatkan persyaratan utama, prinsip- prinsip dan model yang menggambarkan keadaan perusahaan sekarang, masa depan dan memungkinkan evolusi dengan membangun dan emnggunakan sistem TI.
Keuntungan yang dihasilkan dari sebuah enterprise architecture yang baik yaitu (The Open Group et al., 2011)
a. Dalam operasi bisnis, istilah enterprise architecture mengacu pada seni dan ilmu merancang suatu perusahaan sehingga dapat memungkinkan bagaimana menghasilkan kualitas organisasi yang semakin baik, pengelolaan biaya operasional yang lebih rendah, menghasilkan tenaga yang fleksibel, dan meningkatkan produktivitas bisnis.
b. Dalam operasi teknologi informasi, implementasi teknologi informasi, sepertinya halnya rumah yang dibangun tidak akan selamanya kokoh berdiri pastinya didalamnya terdapat perbaikan. Teknologi informasi memiliki pengembangan hamper setiap bidang bisnis dan koordinasi operasional.
Namun, dengan enterprise architecture yang baik maka operasi TI akan lebih efisien seperti pengembangan perangkat lunak, dukungan dan biaya pemeliharaan yang lebih rendah, portabilitas aplikasi yang meningkat, interoperability yang ditingkatkan, manajemen sistem dan jaringan yang lebih mudah, kemampuan untuk memenuhi masalah yang perlu ditingkatkan seperti keamanan, upgrade dan petukaran komponen sistem yang lebih mudah.
c. Pengurangan resiko untuk investasi masa depan, pengurangan kompleksitas dalam infrastruktur TI, flesibilitas untuk membuat, pengadaan, membeli atau solusi TI secara outsource, mengurangi resiko secara keseluruhan dalam investasi baru dan biaya kepemilikan TI.
d. Menyediakan suatu mekanisme yang memungkinkan komunikasi tentang elemen-elemen EA diantara organisasi bisnis dan TI dan berfungsinya enterprise.
e. Menghasilkan informasi yang terpusat, stabil dan meningkatkan konsistensi, ketelitian, ketepatan waktu, integritas, kualitas, ketersediaan, akses dan pembagian informasi.
f. Memungkinkan organisasi untuk mengurangii duplikasi dalam infromasi g. Mempercepat integrasi sistem lama serta migrasi sistem yang baru
h. Focus pada strategi penggunaan teknologi untuk mengelola dara sebagai asset.
II.3 Kerangka Kerja Enterprise Arsitektur
Pengertian tentang kerangka kerja adalah suatu ide, pemikiran, dan konsep yang digunakan untuk membuat pemikiran lain yang lebih spesifik dalam suatu obyek dan digunakan untuk mengelompokkan suatu organisasi yang penting bagi manajemen organisasi tersebut dan digunakan juga dalam pengembangan sistem perusahaan yang akan dating (Aham, 2012).
Dalam pengembangan sebuah enterprise architecture akan lebih baik dan lebih mudah jika mengikuti sebuah kerangka berpikir tertenu. Kerangka berpikir tersebut dikenal dengan istilah kerangka kerja enterprise architecture. Kerangka kerja enterprise architecture mengidentifikasikan jenis informasi yang dibutuhkan untuk mendeskripsikan enterprise architecture, mengorganisasikan jenis informasi dalam struktur logis, dan mendeskripsikan hubungan antara jenis informasi tersebut menjelaskan danmenunjukkan bagaimana metode merancang, mengembangkan dari arsitektur-arsitektur yang berbeda sesuai dengan yang direncanakan sehingga mempercepat dan menyederhanakan pengembangan arsitektur (Surendro, 2009).
Penggunaan kerangka kerja (framework) mmepunyai tujuan utama yang sama yaitu menggambarkan struktur dimana hubungan dari objek kompleks dapat berinteraksi untuk menghubungkan orang, proses, dan teknologi dan menghasilkan cetak biru enterprise architecture.
Cetak biru (blueprint) menyediakan alat bantu untuk menerapkan teknologi ke dalam perusahaan secara tepat dan mengandung rincian bisnis, informasi, dan teknologi lama digantikan, cetak biru arsitektur harus diperbaharui untuk menunjukkan adanya perubahan portofolio bisnis atau portofolio teknologi informasi.
Kerangka kerja yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan enterprise architecture, contorhnya seperti The Zachman Framework dor Enterprise Architecture.
FEAF Framework (Federal Enterprise Architecture Framework) dan The Open Group Architecture Framework (TOGAF).
TOGAF memberikan metode yang detail mengenai bagamana membangun, mengelola, dan mengimplementasikan arsitektur enterprise dan sistem informasi yang disebut dengan Architecture Development Method (ADM) “(Surendro, 2009)”. Menjelaskan bagaimana menemukan sebuah arsitektur perusahaan / organisasi secara khusus berdasarkan bisnisnya dan proses. Selain itu TOGAF memiliki Resource Base memberikan sumber-sumber informasi berupa guideline, templates, checklist, latar belakang informasi dan detail material pendukung yang membantu arsitek di dalam penggunaan ADM. Resource Base juga menyediakan banyak material referensi.
Berbeda dengan TOGAF, Framework Zachman adalah framework EA yang menyediakan enam sudut pandang yang dijelaskan dalam sebuah cube. Keenam sudut pandang tersebut adalah planner, owner, designer, builder, subcontractor, dan functioning.
Sedangkan FEAF menyediakan sebuah arsitektur untuk mengembangkan memelihara dan mengimplementasikan lingkungan operasional di top-level dan mendukung implementasi dari sistem TI, namun FEAF tidak memiliki proses arsitektur yang detail dan tidak ada standarisasinya.
II.4 The Open Group Architecture Framework
The open Group Architecture Framework (TOGAF) merupakan sebuah framework dan sebuah metode untuk mengembangkan data dan melaksanakan Enterprise Architecture. TOGAF memegang peranan penting membantu proses pengembangan arsitektur, memungkinkan pengguna TI membangung solusi berbasis sistem terbuka untuk kebutuhan bisnis mereka.
Menurut The Open Group (2009), ada empat jenis arsitektur yang umumnya diterima sebagai bagian dari keseluruhan Enterprise Architecture, yaitu:
a. Business architecture, yaitu mendefinisikan bagaimana proses bisnis untuk mencapai tujuan organisasi.
b. Data architecture, adalah penggambaran bagaimana penyimpanan, pengelolaan, dan pengaksesan data pada perusahaan.
c. Aplication architecture, merupakan pendeskripsian bagaimana suatu aplikasi dirancang dan bagaimana interaksi dengan aplikasi lain.
d. Technology architecture, yaitu gambaran mengenai infrastruktur perangkat lunak dan perangkat keras yang mendukung aplikasi dan bagaimana interaksinya.
II.4.1 TOGAF Architecture Development Method (ADM)
TOGAF Architecture Development Method menyediakan teruji dan berulang dalam pengembangan arsitektur yang dibutuhkan perusahaan (The Open Group, 2009). ADM merupakan hasil kerjasama generik yang berisikan sekumpulan aktifitas yang mempresentasikan progresi dari setiap fase ADM dan model arsitektur yang digunakan dan dibuat selama tahap pengembangan Enterprise Architecture (Surendro, 2009).
Prinsip pengembangan enterprise dengan menggunakan metodelogi TOGAF ADM terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1. Prinsip-prinsip enterprise, mendukung keputusan bisnis di seluruh bagian organisasi/perusahaan.
2. Prinsip – prinsip teknologi informasi, mengarahkan penggunaan sumber daya teknologi nformasi di seluruh bagian organisasi/perusahaan.
3. Prinsip-prinsip arsitektur, mengembangkan arsitektur proses organisasni/perusahaan dan arsitektur implementasinya. Pada prinsip ini dipengaruhi oleh rencana organisasi/ perusahaan, strategi, factor pasar, sistem dan teknologi yang ada dalam organisasi/perusahaan.
ADM mempunyai 9 fase seperti gambar berikut:
Gambar 2. 1 TOGAF ADM
1. Preliminary Framework and Priciple Tahapan persiapan (Preliminary Stage) merupakan tahapan untuk menentukan ruang lingkup Enterprise Architecture (EA) yang akan dikembangkan serta menentukan komitmen dengan manajemen dalam pengembangan EA.
2. Architecture Vision (Tahap A)
Menciptakan keseragaman pandangan mengenai pentingnya arsitektur enterprise untuk mencapai tujuan organisasi yang dirumuskan dalam bentuk strategi serta menentukan lingkup dari arsitektur yang akan dikembangkan. Pada tahapan ini berisikan kebutuhan-kebutuhan berkenaan dengan perancangan arsitektur sistem
informasi yaitu profil organisasi, pendefinisian visi dan misi organisasi, tujuan organisasi, proses bisnis organisasi, dan kondisi arsitektur saat ini.
3. Business Architecture (Tahap B)
Mendefinisikan kondisi awal arsitektur bisnis, menentukan model bisnis atau aktivitas bisnis yang diinginkan berdasarkan skenario bisnis.
4. Information System Architecture (Tahap C)
Pada tahapan ini lebih menekankan pada aktivitas bagaimana arsitektur sistem informasi dikembangkan. Pendefinisian arsitektur sistem informasi dalam tahapan ini meliputi arsitektur data dan arsitektur aplikasi yang akan digunakan oleh organisasi. Arsitektur data lebih memfokuskan pada bagaimana data digunakan untuk kebutuhan fungsi bisnis, proses dan layanan.
5. Technology Architecture (Tahap D)
Membangun arsitektur teknologi yang diinginkan, dimulai dari penentuan jenis kandidat teknologi yang diperlukan menggunakan Technology Portfolio Catalog yang meliputi perangkat lunak dan perangkat keras. Dalam tahapan ini juga mempertimbangkan alternatif-alternatif yang diperlukan dalam pemilihan teknologi.
6. Opportunities and Solution (Tahap E)
Pada tahapan ini lebih menekan pada manfaat yang diperoleh dari arsitektur enterprise yang meliputi arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi dan arsitektur teknologi, sehingga menjadi dasar bagi stakeholder untuk memilih dan menentukan arsitektur yang akan diimplementasikan.
7. Migration Planning (Tahap F)
Pada tahapan ini akan dilakukan penilaian dalam menentukan rencana migrasi dari suatu sistem informasi. Biasanya pada tahapan ini untuk pemodelannya menggunakaan matrik penilaian dan keputusan terhadap kebutuhan utama dan pendukung dalam organisasi terhadap implementasi sistem informasi.
8. Implementation Governance (Tahap G)
Menyusun rekomendasi untuk pelaksanaan tatakelola implementasi yang sudah dilakukan, tatakelola yang dilakukan meliputi tatakelola organisasi, tatakelola teknologi informasi, dan tatakelola arsitektur.
9. Architecture Change Management (Tahap H)
Menetapkan proses arsitektur manajemen perubahan untuk enterprise architecture baru dan secara berkelanjutan memonitor proses perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan organisasi serta menentukan apakah akan dilakukan siklus pengembangan enterprise architecture berikutnya.
Untuk penelitian perencanaan architecture enterprise pada Kementerian ATR/BPN, perumusan landasan solusi SI merupakan sebuah proses yang harus dilaksanakan pada tahapan persiapan (Preliminary Framework and Priciple), sedangkan untuk pengembangan perencanaan arsitektur enterprise pada Labkom, terfokus pada 4 tahapan saja, yaitu tahapan fase A sampai fase D.
II.4.2 Kelebihan dan Kekurangan TOGAF
Perancangan Enterprise Architecture menggunakan TOGAF juga memliki kekurangan dan kelebihan salah satu kelebihan menggunakan TOGAF adalah karena sifatnya yang fleksibel dan bersifat open source. TOGAF memandang enterprise architecture ke dalam empat kategori. Keempat kategori tersebut adalah business architecture, application architecture, data architecture, dan technology architecture (Setiawan, 2009).
Secara umum TOGAF memiliki struktur dan komponen sebagai berikut:
1. Architecture Development Method (ADM)
merupakan bagian utama dari TOGAF yang memberikan gambaran rinci bagaimana menentukan sebuah enterprise architecture secara spesifik bersasarkan kebutuhan bisnisnya.
2. Foundation Architecture
Merupakan sebuah framework-within-aframework dimana di dalamnya tersedia gambaran hubungan untuk pengumpulan arsitektur relevan, juga menyediakan bantuan petunjuk pada saat terjadinya abstaksi level yang berbeda. foundation architecture dapat dikumpulkan melalui ADM.
3. Resource Base
Pada bagian ini terdapat informasi mengenai guidelines, templates, checklist, latar belakang dan detail material pendukung yang membantu arsitek dalam penggunaan ADM.
Kekurangan framework TOGAF:
1. Tidak adanya template standar untuk seluruh domain (misalnya untuk membuat blok diagram).
2. Tidak ada artfak yang dapat digunakan ulang (ready made)
II.5 Tools Perancangan Arsitektur II.5.1 Principle Catalog
Tujuan dari katalog ini adalah untuk menangkap bisnis dan prinsip-prinsip yang menggambarkan solusi atau arsitektur. Prinsip ini digunakan untuk mengevaluasi dan menyetujui hasil dari arsitektut bisnis. Prinsip ini juga digunakan sebagai tools untuk membuat tata keolal arsitektur yang mempunyai inisiatif perubahan. (The Open Group 2009)
Tabel 2. 1 Principle Catalog
No. Prinsip Tujuan
1. Keputusan arsitektur harus mengacu pada tujuan strategis dan proses bisnis
Mendukung kemampuan adaptasi terhadap proses bisnis
Memperkuat hubungan antara infrastruktur dan proses bisnis
serta lebih mudah menyelaraskan proses bisnis ketika perubahan terjadi
2. Pengelolaan arsitektur ini diusahakan mudah
Meningkatkan kemampuan untuk berbagi data dan sumber daya lain dalam pelayanan kepada
pengguna dan membantu kerjasama antar divisi 3. Arsitektur yang
dikembangkan harus aman
Dapat meminimalisir dampak atas bencana alam
Mampu bertahan dari serangan eksternal seperti virus, worm, hack, syware, crack, phising, denial of service.
4. Data Security Untuk melindungi dari akses pihak- pihak yang tidak berwenang
Mengatur stakeholder dalam mengolah data
II.5.2 Value Chain
Rantai Nilai merupakan sudut cara pandang di mana bisnis sebagai rantai aktivitas yang mengubah inpu menjadi output yang bernilai bagi pelanggan. Nilai bagi pelanggan berasal dari tiga sumber yaitu: aktivitas yang membedakan produk, aktivitas yang menurunkan biaya produk dan aktivitas yang dapat segera memenuhi kebutuhan pelanggan.(Sulandari, 2015)
Model pendekatan value chain merupakan alat analisis yang berguna untuk mendefinisikan kompetensi inti perusahaan agar dapat mengejar keunggulan
kompetitif. Keunggulan kompetitif tersebut terdiri dari keunggulan biaya dan diferensiasi. Keunggulan biaya dilakukan dengan menekan biaya dari aktivitas rantai nilai. Sedangkan diferensiasi dilakukan dengan berfokus pada aktivitas yang berhubungan dengan kompetensi inti dan melakukan yang lebih baik dari pesaing.
Tujuan dari value chain adalah untuk meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan. Keunggulan kompetitif berasal dari kinerja perusahaan di bidang perancangan, pemasaran, memproduksi, dan mendukung produk. Untuk mencapai keunggulan kompetitif dari keggiatan tersebut harus mempunyai nilai yang efektif dan efesien.
Gambar 2. 2 Value Chain Sumber: Michael Porter 1985
II.5.3 Business Process Modeling Notation
Business Process Modeling Notation (BPMN) adalah notasi grafis yang menggambarkan logika dari langkah-langkah dalam proses bisnis. Notasi ini telah didesain secara khusus untuk mengkoordinasikan urutan proses dan pesan yang mengalir antara pelaku dalam kegiatan yang berbeda.
Tujuan BPMN adalah menyediakan suatu notasi yang mudah dipahami oleh semua masyarakat terutamapegiat software. Dari analis bisnis yang ada kemudian menciptakan draft permulaan dari proses-proses sampai dengan pengembangan teknis meliputi alur-dan pekerjaan dalam bentuk model atau notasi. BPMN juga telah menciptakan suatu jembatan terstandarisasiuntuk gap antara desain proses bisnis dan implementasi proses.
II.5.4 UML
Unified Modelling Laguage (UML) adalah salah satu alat bantu yang sangat handal di dunia pengembangan sistem yang berorientasi objek. Hal ini disebabkan karena UML menyediakan bahasa pemodelan visual yang meungkinkan bagi pengembang sistem untuk membuat cetak biry atas visi misi mereka dalam bentuk yang baku, mudah dimengerti serta dilengkapi dengan mekanisme yang efektif untuk berbago dan mengkomunikasikan rancangan mereka dengan yang lain.
UML merupakan kesatuan dari bahasa pemodelan yang dikembangkan oleh Booch, Object Modelling Technique (OMT) dan Object Oriented Engineering (OOSE).
Metode Bppch dari Grady Booch sangat terkenal denhan nama metode Design Object Oriented. Metode ini menjadikan proses analisis dan design ke dalam empat tahapan iterative, yaitu: identifikasi kelas-kelas dan obyek-obyek, identifikasi dari hubungan obyek dan kelas tersebut, perincian interface dan implementasi.
Desain sistem pada UML disusun oleh simbpl-simbol yang terbentuk menjadi diagram model. Berikut adalah symbol yang digunakan pada desain sistem ini. UML memili beberapa diagram diantaranya(Sulandari, 2015):
1. Diagram Use Case
Use Case adalah deskripsi fungsi dari sebuah sistem dari perspektif pengguna. Use case bekerja dengan cara mendeskripsikan tipikal interkasi antara user (pengguna) sebuah sistem dengan sistemnya sendiri melali sebuah cerita bagaimana sebuah sistem dipakai.
Usecase merupakan konstruksi untuk mendeskripsikan bagaimana sistem akan terlihat di mata pengguna potensial. Use case terdiri dar sekumpulan scenario yang dilakukan oleh seorang aktor (orang, perangkat keras, urutan waktu atau sistem yang lain). Use case adalah alat bantu terbaik guna menstimulasi pengguna potensial untuk mengatakan tentang suatu sistem dari sudut pandangnya. Diagram usecase mempunyai 3 notasi yang menunjukkan aspek dari sistem, yaitu actor (pengguna), use case dan relationship.
2. Diagram Kelas
Class Diagram adalah deskripsi objek-objek dengan property, perilaku (operasi) dan relasi yang sama. Disamping itu class diaram bisa memberikan pandangan global atas sebuah sistem. Class dalam notasi UML digambarkan kotak. Nama class menggunakan huruf besar di awal kalimatnya dan diletakkan di atas kotak. Bila class mempunyai nama yang terdiri dari 2 (dua) suku kata atau lebih, maka semua suku kata digabungkan tanpa spasi dengan huruf awal tiap suku kata menggunaka hiruf-huruf besar. Atributeadalah property dari sebuah class. Atribute ini melukiskan batas nilai yang mungkin ada pada obyek dari class. Sebuah class mungkin mempunyai nol atau lebih attribute.
Operation adalah sesuatu yang dilakukan oleh sebuah class atau yang anda (atau class yang lain) dapat lakukan sebuah class. Responsibility adalahketerangan tentang apa yang akan dilakukan class yaitu apa yang akan dicapai oleh atribure dan operation.
II.5.5 Technology Portfolio Catalog
Catalog ini digunakan untuk mengidentifikasi daftar teknologi yang digunakan dalam perusahaan, seperti hardware, infrastruktur software, dan application software. Technology portfolio yang sudah disetujui akan menjadi dasar standar
teknologi perusahaan yang dapat mendukung siklus hidup produk manajemen teknologi dan beberapa versi teknologi selanjutya. (The Open Group, 2011)
II.5.6 Communications Enginering Diagram
Communication engineering diagram menggambarkan sarana komunikasi diantara asset arsitektur teknologi. Sebuah diagram dan penerimaan informasi, antara asset-aset arsitektur teknologi informasi yaitu hardware, software, networking. Diagram ini membutuhkan hubungan logis antara komponen client dan server serta mengidentifikasibatas jaringan dan infrastruktur jaringan yang diperlukan untuk mengimplementasikan koneksi secara fisik. (The Open Group, 2009)
II.5.7 Matrix Analisis Gap
Menurut The Open Group, 2009 matrix ini menunjukan suatu ruang lingkup dari sebuah paket pekerjaan ynag harus diimplementasikan sebagai bagian dari transformasi Road Map yang lebih luas dengan penggambaran baseline architecture yang ada pada saat ini dan penggambaran target arsitektur target.
Premis dasar adalah untuk menyororti kekurangan antara Arsitektur Dasar dan Arsitektur Sasaran, yaitu item yang telah sengaja dihilangkan, sengaja ditinggalkan, atau belum ditetapkan.
Sebuah lagkah penting dalam mengevaluasi arsitektur adalah untuk mempertimbangkan apa yang mungkin telah dilupakan. Arsitektur harus mendukung semua kebutuhan pengolahan informasi penting dari organisasi.
Sumber yang paling penting dari gaps yang harus dipertimbangkan adalah kekhawatiran stakeholder yang belum dibahas dalam karya arsitektur sebelumnya
.
II.6 Studi Literatur
Tabel 2. 2 Sudi Literatur
Penulis Judul
Ivana Tyora Oktavian, Asti Amalia Nur Fajrillah, Irfan Darmawan (Kasus &
Makanan, 2019)
Enterprise Architecture dengan
Pendekatan TOGAF untuk
Transformasi Digital pada UMKM (Studi Kasus: UMKM Makanan Oleh- Oleh
Ahmad Haqqul Fikri, Wlly Purnomo, Widhy Hayuhardhika Nugraha Putra (Hafintech &
Mandiri, 2020)
Perancangan Enterprise Architecture Menggunakan TOGAF ADM pada PT.
Hafintech Prima Mandiri Sekar Aninditya Sugi Ananda, S, Thya
Safitri, Didi Supriyadi (Aninditya et al., n.d.)
Enterprise Architecture Desa Menggunakan Framework TOGAF ADM Adi Rachmanto , Muhammad Rajab
Fachrizal (Rachmanto & Fachrizal, 2018)
Perancangan Enterprise Architecture dengan Framework TOGAF ADM Pada Rumah Sakit Umum di Cimahi