B
B
A
A
B
B
9
9
.
.
RISIKO PASAR
R
R
I
I
S
S
I
I
K
K
O
O
P
P
AS
AS
AR
AR
Risiko pasar muncul
Risiko pasar muncul karena harga pasar bergerakkarena harga pasar bergerak
dalam arah yang merugikan organisasi. Misal, suatu
dalam arah yang merugikan organisasi. Misal, suatu
perusahaan mempunyai portofolio sekuritas saham
perusahaan mempunyai portofolio sekuritas saham
yang dibeli dengan harga Rp1 milyar. Misalkan harga
yang dibeli dengan harga Rp1 milyar. Misalkan harga
saham tersebut jatuh, sehingga nilai pasar saham
saham tersebut jatuh, sehingga nilai pasar saham
tersebut turun menjadi
tersebut turun menjadi Rp800 juta. PerusahaanRp800 juta. Perusahaan
tersebut mengalami kerugian karena nilai portofolio
tersebut mengalami kerugian karena nilai portofolio
sahamnya turun sebesar
sahamnya turun sebesar Rp200 juta. KerugianRp200 juta. Kerugian
tersebut disebabkan karena harga saham
tersebut disebabkan karena harga saham bergerbergerakak
ke arah yang kurang menguntungkan (dalam hal ini
ke arah yang kurang menguntungkan (dalam hal ini
turun).
R
R
I
I
S
S
I
I
K
K
O
O
P
P
AS
AS
AR
AR
Risiko pasar muncul
Risiko pasar muncul karena harga pasar bergerakkarena harga pasar bergerak
dalam arah yang merugikan organisasi. Misal, suatu
dalam arah yang merugikan organisasi. Misal, suatu
perusahaan mempunyai portofolio sekuritas saham
perusahaan mempunyai portofolio sekuritas saham
yang dibeli dengan harga Rp1 milyar. Misalkan harga
yang dibeli dengan harga Rp1 milyar. Misalkan harga
saham tersebut jatuh, sehingga nilai pasar saham
saham tersebut jatuh, sehingga nilai pasar saham
tersebut turun menjadi
tersebut turun menjadi Rp800 juta. PerusahaanRp800 juta. Perusahaan
tersebut mengalami kerugian karena nilai portofolio
tersebut mengalami kerugian karena nilai portofolio
sahamnya turun sebesar
sahamnya turun sebesar Rp200 juta. KerugianRp200 juta. Kerugian
tersebut disebabkan karena harga saham
tersebut disebabkan karena harga saham bergerbergerakak
ke arah yang kurang menguntungkan (dalam hal ini
ke arah yang kurang menguntungkan (dalam hal ini
turun).
Bagan 1. Kurva Normal
Bagan 1. Kurva Normal
= deviasi standar
= deviasi standar
Bagan di atas menggambarkan kurva normal
Bagan di atas menggambarkan kurva normal
yang berbentuk seperti bel.
yang berbentuk seperti bel.
Kurv
Kurv
a tersebut
a tersebut
berbentuk simetris, dimana sisi kana merupakan
berbentuk simetris, dimana sisi kana merupakan
cerminan sisi kiri. Deviasi standar dipakai untuk
cerminan sisi kiri. Deviasi standar dipakai untuk
menghitung penyimpangan dari
menghitung penyimpangan dari
nilai rata-r
nilai rata-r
ata.
ata.
Semakin besar deviasi standar, semakin besar
Semakin besar deviasi standar, semakin besar
penyimpangan. Peny
penyimpangan. Peny
impangan dipakai
impangan dipakai
sebagai
sebagai
indikator risiko. Semakin besar penyimpangan,
indikator risiko. Semakin besar penyimpangan,
semakin besar risiko.
Perhitungan deviasi standar bisa digunakan
formula sebagai berikut ini.
E(R)
=
∑ Ri / N
………….. (2)
σR2
=
∑ (Ri – E(R))2 / (N – 1)
….……….. (3)
Tabel 1. Tingkat Keuntungan Historis Bulan (1) Aset A (%) (2) Aset B (%) (3) (R A – E(R A))2 R B – E(R B))2 1 3 2 0.714025 4.6225 2 2 4 3.404025 0.0225 3 4.5 5 0.429025 0.7225 4 3 4 0.714025 0.0225 5 4 1.5 0.024025 7.0225 6 5.2 4 1.836025 0.0225 7 3.5 8 0.119025 14.8225 8 4.25 5 0.164025 0.7225 9 4 3 0.024025 1.3225 10 5 5 1.334025 0.7225 Rata-rata 3.845 4.15 Jumlah 8.76225 30.025 Varians= Jumlah/(N-1) 0.973583 3.336111
Tabel 2. Tingkat Keuntungan Yang Diperkirakan Di Masa Mendatang Kondisi Ekonomi (1) Probabilitas (2) Tingkat euntungan A (%) Tingkat Keuntungan B (%) Baik 0.3 5 2 Sedang 0.4 3 1.5 Jelek 0.3 -2 1 1 E(R)= 2.10 1.50 Varians 7.89 0.15 Deviasi standar 2.808914 0.387298
VALUE AT RISK
Value At Risk(VAR) mengembangkan
lebih lanjut konsep kurva normal seperti
yang telah dibicarakan di muka, untuk
menjawab pertanyaan sebagai berikut
ini ’Jika besok adalah hari yang jelek,
berapa besar (nilai Rupiah) dan berapa
besar kemungkinannya (probabilitas)
kerugian yang bisa dialami perusahaan
besok (atau beberapa hari
VALUE AT RISK
Jawaban tersebut akan berbentuk
kalimat seperti berikut ini ’besok ada
kemungkinan sebesar 5% bahwa
kerugian perusahaan (karena
pergerekan harga pasar yang tidak
menguntungkan) sebesar Rp10 juta
atau lebih’. Perhatikan bahwa VAR
menjawab pertanyaan tersebut dengan
memberikan nilai uang dari kerugian
METODOLOGI VAR
Metode historis menggunakan data
historis (data masa lalu) untuk
menghitung VAR.
Metode analitis menggunakan model
tertentu untuk mengestimasi VAR.
VAR Monte-Carlo menggunakan
VAR Metode H istoris
Tabel 3. Perhitungan Value At Risk dengan Data Historis
Saham PT X Saham PT Y Portofolio X dan Y
(1) (2) (3) (4) (5)
Hari Return (%) Hari Return (%) Return (%) Return (%) Return (%) 1 1.86008 7 -8.37883 1 -1.96078 1 -0.05035 7 -6.11249 2 -0.65038 19 -2.77565 2 2 2 0.67481 1 -0.05035 3 6.399526 14 -1.79577 3 7.843137 3 7.121332 6 -0.00095 4 2.119365 2 -0.65038 4 -1.81818 4 0.150592 4 0.150592 5 3.512881 20 -0.17928 5 3.703704 5 3.608292 19 0.278842 6 7.140963 1 1.86008 6 -7.14286 6 -0.00095 2 0.67481 7 -8.37883 4 2.119365 7 -3.84615 7 -6.11249 20 0.716812 8 4.148766 11 2.547136 8 4 8 4.074383 14 0.887829 9 8.782409 15 2.99732 9 1.923077 9 5.352743 12 1.071214 10 7.539626 5 3.512881 10 5.660377 10 6.600002 11 2.166425 11 2.547136 8 4.148766 11 1.785714 11 2.166425 15 2.360729 12 5.6512 12 5.6512 12 -3.50877 12 1.071214 17 3.332057 13 8.797835 3 6.399526 13 1.818182 13 5.308008 5 3.608292 14 -1.79577 16 7.042143 14 3.571429 14 0.887829 8 4.074383 15 2.99732 6 7.140963 15 1.724138 15 2.360729 16 4.368529 16 7.042143 10 7.539626 16 1.694915 16 4.368529 13 5.308008 17 9.997447 9 8.782409 17 -3.33333 17 3.332057 9 5.352743 18 9.472343 13 8.797835 18 3.448276 18 6.460309 18 6.460309 19 -2.77565 18 9.472343 19 3.333333 19 0.278842 10 6.600002 20 -0.17928 17 9.997447 20 1.612903 20 0.716812 3 7.121332
Misalkan kita ingin melihat VAR 95% harian, kita
akan melihat 5% return terendah. 5% dari 20
adalah 1, dengan demikian kita memilih 1 hari
dengan return terendah yaitu -8,38%.
Misalkan portofolio kita bernilai Rp1 milyar, maka
VAR 95% harian adalah -8,38% x Rp1 milyar =
-Rp83,78 juta.
Kita bisa mengatakan ’besok ada kemungkinan
sebesar 5% kerugian kita pada saham X sebesar
Rp83,78 juta atau lebih’.
Alternatif redaksional yang lain adalah sebagai
berikut ini ’kita yakin sebesar 95% bahwa
kerugian kita besok tidak akan melebihi Rp83,78
juta’.
Misalkan kita membentuk portofolio yang terdiri
dari saham X dan Y, dengan proporsi
masing-masing sebesar 50%, konstan selama 20 hari.
Return untuk portofolio tersebut bisa dilihat
pada kolom (4). Sebagai contoh, return
portofolio pada hari 1 adalah -0,05%
(0,5*1,86)+(0,5*-1,96).
Sama seperti sebelumnya, kita bisa
mengurutkan return portofolio dari yang paling
rendah ke yang paling tinggi.
Kolom (5) menunjukkan hasil pengurutan
tersebut. VAR 95% harian
VAR 95% harian untuk portfolio tersebut adalah
Rp-6,11% x Rp2 milyar = Rp122,2juta.
Alternatif lain adalah melakukan perhitungan
dengan formula sebagai berikut ini (lihat buku
teks teori portofolio dan investasi untuk alasan
kenapa formula di bawah ini bisa diturunkan).
VAR portofolio =
[ VARX2 + VARY2 + 2
×
XY×VARX ×VARY] 1/2
Dimana VARX = VAR (Value At Risk saham X)
VARY
= VAR (Value At Risk saham Y)
XY
= korelasi return saham X dengan
sahamY
Dengan formula tersebut, VAR portofolio bisa
dihitung sebagai berikut ini.
VAR port =[ (83.78^2) + (71.43^2) + (2 ×
0,089 × 83.78 × 71.43) ]1/2
= 114,83
Metode historis mempunyai kelebihan seperti (1) tidak mengasumsikan distribusi tertentu, (2) sederhana.
Tetapi metode tersebut mempunyain kelemahan seperti asumsi bahwa data masa lalu bisa dipakai untuk
memprediksi masa datang. Dengan kata lain, metode tersebut mempunyain asumsi bahwa pola data di masa lalu sama dengan pola data di masa mendatang.
Jika pola yang terjadi cukup stabil, maka data masa lalu bisa dipakai untuk memprediksi data masa mendatang. Jika tidak (misal ada krisis yang tidak terduga), maka data masa lalu tidak bisa dipakai untuk memprediksi masa mendatang.
Disamping itu, 20 observasi ke belakang masih terbilang sangat sedikit. Idealnya kita bisa memperoleh data
historis cukup banyak, yang mencakup semua siklus bisnis (resesi, boom, normal), sehingga data tersebut bisa cukup representatif.
VAR Metode Modeling (Analytical)
Metode analitis biasanya mengasumsikan distribusi tertentu yang mendasari return atau harga. Biasanya distribusi normal (yang berbentuk bel) yang
diasumsikan mendasari pergerakan harga tersebut. Setelah distribusi tersebut diasumsikan, kita bisa menghitung nilai yang diharapkan (misal rata-rata) dan penyimpangan dari nilai yang diharapkan
tersebut (misal deviasi standar).
Selanjutnya VAR bisa dihitung dengan menggunakan parameter yang dideduksi (diambil) dari distribusi
tersebut (nilai yang diharapkan dan penyimpangannya).
Misalkan manajer portfolio mempunyai
aset senilai Rp1 milyar. Misalkan kita
mengasumsikan distribusi normal
mendasari pergerakan harga aset
tersebut.
Misalkan kita memperkirakan tingkat
keuntungan harian yang diharapkan
dengan deviasi standarnya adalah 12%
dan 15%.
Bagan 2. Kurva Normal untuk Perhitungan VAR 12% -12,75 36,75 90% M-1.65.STD M+1.65.STD Confidence Interval
Luas total wilayah distribusi normal mencerminkan probabilitas sebesar 1 (probabilitas bernilai dari 0 sampai dengan 1, inklusif). Sebagian luas dibawah distribusi normal mencerminkan probabilitas dibawah satu. Sebagai contoh, luas ditengah (yang berwarna gelap, antara -12,75 dengan 36,75) mencerminkan 90% dari total wilayah distribusi normal, dan dengan demikian mencerminkan probabilitas sebesar 90% (atau 0,9).
Jika kita melihat tabel distribusi normal, maka luas wilayah sebesar 5% dari ujung paling kiri (atau dri ujung paling kanan), mempunyai nilai z sebesar 1,65. Dengan demikian wilayah tengah seluas 90% berada diantara (Rata2 – (1,65 * deviasi standar)) dengan (Rata2 + (1,65 * deviasi standar).
Dengan demikian VAR 95% return harian bisa dihitung melalui batas bawah dimana wilayah sebesar 5% dari ujung paling kiri akan
diperoleh, sebagai berikut ini.
VAR = 12% – 1,65 (15) = 12 % – 24,75 = – 12,75% VAR = – 12,75% x Rp1 milyar = – Rp127,5 juta
Tabel 4. Data Perhitungan VAR Untuk Portofolio
A B
Return yang diharapkan (harian) 12% 10,5%
Standar deviasi 15% 18%
Nilai Investasi Rp20 milyar Rp12 milyar
95% Value At Risk Rp2,55 milyar Rp2,3 milyar
Korelasi A dengan B 0,55
VAR dengan Simulasi Monte Carlo
Tabel 5. Tingkat Keuntungan dengan Probabilitasnya Tingkat Keuntungan (%) Probabilitas Probabilitas Kumulatif 1 -0.5 0.05 0-4 2 -0.25 0.05 5-9 3 0 0.1 10-19 4 0.1 0.1 20-29 5 0.5 0.25 30-54 6 1 0.15 54-69 7 1.2 0.1 70-79 8 1.25 0.1 80-89 9 2.25 0.05 90-94 10 3 0.05 95-99 Jumlah 1 Misalkan kita memperkiraka n tingkat keuntungan harian dengan probabilitasnya pada tabel disampingLangkah berikutnya adalah menghasilkan
(generate) angka random yang akan
mempunyai nilai antara 0 sampai dengan
99, konsisten dengan probabilitas
kumulatif.
Kemudian mengkaitkan angka random
tersebut dengan return yang berkaitan.
Kemudian kita mengulangi langkah
tersebut 100, 500, atau 1.000 kali
Kemudian kita akan memperoleh
distribusinya.
Tabel 6. Sampel Simulasi Monte-Carlo
Angka Random Tingkat Keuntungan Yang Berkaitan 1 31 0.5 2 29 0.1 3 11 0 4 65 1 5 54 1 6 6 -0.25 7 45 0.5 8 26 0.1 9 50 0.5 10 33 0.5Tabel 7. Distribusi Frekuensi Hasil Simulasi Tingkat Keuntungan Frekuensi -0.5 3 -0.25 5 0 10 0.1 7 0.5 25 1 18 1.2 6 1.25 12 2.25 3 3 11 Jumlah 100
Distribusi Frekuensi Tingkat Keuntungan Berdasarkan Simulasi 0 5 10 15 20 25 30 -0.5 -0.25 0 0.1 0.5 1 1.2 1.25 2.25 3
Untuk distribusi di atas, nilai rata-rata dan
deviasi standarnya adalah
Rata-Rata tingkat keuntungan
=
0,904%
Deviasi standar
=
0,927%
95% VAR-harian bisa dihitung seperti berikut ini.
VAR95%harian = 0,904 – 1,65 (0,927) =
-0,627
Misalkan kita mempunyai portofolio senilai Rp1
milyar, maka VAR-95% harian adalah -0,627% x
Rp1 milyar = -Rp6,27 juta.
Pemodelan VAR
Dalam beberapa situasi, kita ingin memodelkan
VAR. Sebagai contoh, misalkan kita mempunyai
portofolio obligasi. Harga pasar obligasi sangat
dipengaruhi oleh tingkat bunga. Jika tingkat
bunga naik, harga obligasi akan turun, dan
sebaliknya. Kita bisa memfokuskan perhatian kita
pada tingkat bunga, dan menghubungkan
perubahan tingkat bunga dengan nilai pasar
obligasi, kemudian menghitung VAR untuk
portofolio obligasi kita.
Hubungan antara perubahan tingkat bunga
dengan nilai obligasi bisa dilihat sebagai berikut
ini (lihat bab mengenai risiko perubahan tingkat
bunga).
dP/P = – D [ dR / (1 + R) ]
dimana dP = perubahan harga
P = harga obligasi
D = Durasi obligasi
dR = perubahan tingkat bunga
R = tingkat bunga
Misalkan portofolio obligasi kita mempunyai
durasi sebesar 5. Tingkat bunga saat ini adalah
10%. Kemudian kita mengasumsikan pergerakan
tingkat bunga mengikuti distribusi normal.
Analisis lebih lanjut, berdasarkan data historis
dan pertimbangan-pertimbagan, menunjukkan
bahwa perubahan tingkat bunga harian yang
diharapkan adalah 0%, dengan deviasi standar
perubahan tingkat bunga adalah 1%.
Bagan 4. Distribisi Perubahan Tingkat Bunga 0% -1,65% +1,65% 90% M-1.65.STD M+1.65.STD Deviasi standar=1%
BE RAPA VAR 95% UNTUK
PORTOF OLI O OBLI GASI KI TA?
Pertama, kita bisa menghitung perubahan harga akibat kenaikan tingkat bunga, sebagai berikut ini,
dP/P = – D [ dR / (1 + R) ]
= – 5 [ 0,0165 / (1 + 0,1) ] = –
0,075
Jika tingkat bunga meningkat sebesar 1,65%, maka portofolio kita akan turun nilainya sebesar 7,5%.
Jika portofolio kita mempunyai nilai sebesar Rp1 milyar, maka 95% VAR portofolio kita adalah:
VAR 95% = -0,075 x Rp1 milyar = Rp75 juta
Dengan hasil tersebut, kita bisa mengatakan bahwa ada kemungkinan sebesar 5% kerugian portofolio obligasi kita sebesar Rp75 juta atau lebih.
VAR untuk
Periode Yang Lebih Panjang
Dalam beberapa situasi, kita ingin menghitung VAR untuk periode yang lebih panjang. Misal, untuk melikuidasi posisi portofolio, waktu satu hari tidak cukup. Kita memerlukan waktu, misal 5 hari. Padahal kita menghitung VAR dengan menggunakan periode harian. Dalam situasi tersebut, VAR
harian harus dikonversi menjadi VAR 5-hari. Konversi tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan formula sebagai berikut ini.
VAR(n) = VAR(harian) x n
Kembali ke contoh di atas dimana 95%-VAR harian untuk portofolio obligasi kita adalah Rp75 juta, 95%-VAR 5 hari bisa dihitung sebagai berikut ini. VAR (5 hari) = Rp75 juta x 5
= Rp167,71 juta
STRE SS-TE STI NG
VAR mencoba menjawab berapa besar kerugian yang bisa dialami dan berapa besar kemunginannya. Tetapi VAR tidak bisa mendeteksi peristiwa-peristiwa yang
ekstrim. Peristiwa semacam itu biasanya mempunyai probabilitas yang sangat kecil. Tetapi jika terjadi, maka efeknya akan sangat serius bagi organisasi.
Sebagai contoh, tsunami Aceh barangkali mempunyai probabilitas sebesar 0,0000001. Tetapi, sekali terjadi, korban manusia bisa mencapai ratusan ribu orang.
Probabilitas Rusia default (tidak bisa membayar hutang-hutangnya di tahun 1990-an) adalah kecil sekali (misal 0,000001). Tetapi sekali terjadi, banyak perusahaan keuangan yang bangkrut.
Bagan 5. Stress-Testing
Tsunami, Rusia bangkrut
Stress-testing berusaha mengakomodasi kejadian
ekstrim tersebut. Yang ingin dijawab oleh stress-testing adalah pertanyaan sebagai berikut ini, ‘Jika peristiwa ekstrim terjadi, bagaimana pengaruhnya terhadap organisasi, atau portofolio kita?’
Sebagai contoh, ‘Jika Rusia default, bagaimana efeknya terhadap portofolio kita?’ Untuk melakukan
stress-testing, manajer akan memilih parameter tertentu, kemudian melihat (mengukur dan mensimulasikan) bagaimana pengaruh perubahan parameter tersebut yang ekstrim terhadap organisasi atau portofolio
organisasi.
Parameter tersebut bisa bervariasi mulai dari kenaikan tingkat bunga yang ekstrim (misal naik 30% dalam satu hari), penurunan harga saham yang ekstrim (misal 20% dalam satu hari), negara tertentu default (tidak bisa
membayar hutangnya), kejadian alam tertentu (misal tsunami).
LANGKAH-LANGKAH
STRESS-TESTING
Mengidentifikasi dan Memilih Parameter
Yang Diperkirakan Akan Berubah
Menentukan Seberapa Besar Parameter
tersebut akan Dirubah (Di-stress)
Melihat Pengaruh Stress-testing Tersebut
Terhadap Nilai Portofolio
Melihat Asumsi Yang Digunakan, Merubah
Asumsi Tersebut jika Diperlukan (Misal
Dalam Situasi Krisisi, Asumsi Yang Biasa
Berlaku Barangkali Tidak Jalan Lagi).
CONTOH PARAME TE R YG DI STRE SS-TE ST
DAN PE RUBAH ANNYA
Tabel 8. Parameter Untuk Stress-Testing Oleh Swiss Bank Corp RATING NEGARA SHOCK TINGKAT BUNGA SHOCK SAHAM SHOCK VALAS SHOCK KOMODITAS AAA 60-100 bp 8-9% 4-10% Emas 8% AA DAN A 160 bp 20% 10% Platinum 12% BBB 240 bp 25% 12,5% Palladium 12% BB 320 bp 30% 20% Perak 16% B 420 bp 40% 30% Catatan:
Kolom kiri adalah rating Negara yang mencerminkan risiko Negara. AAA adala Negara dengan risiko paling rendah (misal Swiss), B adalah Negara dengan risiko tinggi (misal Irak).
Tabel 9. Parameter Stress Testing Yang Disarankan Derivative Policy Group
1) PERGERAKAN PARALEL YIELD CURVE NAIK ATAU TURUN SEBESAR 100 BASIS POINT (1%)
2) KENAIKAN ATAU PENURUNAN VOLATILITAS SEBESAR 20% DARI TINGKAT SEKARANG
3) KENAIKAN ATAU PENURUNAN NILAI INDEKS SAHAM SEBESAR 10% 4) KENAIKAN ATAU PENURUNAN VOLATILITAS INDEKS SAHAM
SEBESAR 20% DARI TINGKAT SAAT INI
5) KENAIKAN ATAU PENURUNAN KURS VALUTA ASING SEBESAR 6% (UNTUK MATA UANG KERAS) ATAU 20% UNTUK MATA UANG LUNAK 6) KENAIKAN ATAU PENURUNAN VOLATILITAS KURS SEBESAR 20% DARI TINGKAT SAAT INI
7) KENAIKAN ATAU PENURUNAN SPRED SWAP SEBESAR 20 BASIS POINTS (0,2%)
Melihat efek perubahan parameter tersebut
terhadap nilai portofolio kita
Tabel 10. Contoh Hasil Stress-Test
Stress Test, 1 November 1997
Pengaruh terhadap $1 juta
Negara Parameter
Perubahan Kenaikan
Penurunan
Australia Pergeseran yield yang parallel
Yield curve semakin menajam
Fluktuasi tingkat bunga meningkat
Mata uang depresiasi
Indeks saham berubah
Fluktuasi indeks saham meningkat
100bp
20%
20%
10%
20%
-0,209
-0,009
0,703
0,824
0,000
0,000
1,129
0,057
-0.809
-0.727
0,000
0,000
Melihat asumsi yang berlaku:
misal linearitas vs non-linear
Kas ($)
1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000
Kurs(Rp/$)
8.000
9.000
10.000
11.000
12.000
13.000
Kas (Rp)
8 milyar
9 milyar 10 milyar 11 milyar 12 milyar 13 milyar
PERUBAHAN BERSIFAT LINEAR
-6%
-3%
-2%
-1% 0%
1%
2%
3%
6%
DM/$
1,5957 1,5464 1,5306 1,5152 1,500 1,4851 1,4706 1,4563 1,4151
Laba/Rugi (1,14) (0,94) (0,74) (0,44)
0
0,57 1,27 2,08 4,87
Meskipun stress test nampaknya mudah, tetapi stress-test menggunakan banyak pertimbangan subyektif.
Parameter apa yang harus distress test dan berapa besar
perubahannya, merupakan pertanyaan yang bersifat subyektif.
Idealnya parameter tersebut adalah parameter yang relevan dengan organisasi, karena parameter yang tidak relevan hanya akan
mengakibatkan kelebihan informasi (information overload).
Stress-test juga tidak menggunakan probabilitas. Stress-test hanya menyajikan angka seberapa besar keuntungan atau kerugian akibat peristiwa tertentu.
Karena peristiwa yang di-stress biasanya jarang terjadi, maka informasi histories mengenai peristiwa tersebut masih jarang (terbatas).
Disamping itu, seperti disinggung di atas, hubungan yang normal
dalam situasi normal bisa berubah menjadi tidak normal dalam situasi ekstrim (situasi stress-test).
Manajer risiko harus berhati-hati terhadap kemungkinan semacam itu.
BACKTESTING
Backtesting adalah istilah untuk proses pengecekan apakah model yang kita gunakan sudah sesuai
dengan realitas yang ada. Sebagai contoh, jika kita menghitung 99%VAR-1 hari, dan memperoleh angka Rp500 juta. Back testing akan melihat seberapa
sering kerugian yang dialami perusahaan di masa lalu yang melebihi Rp500 juta. Jika kita menemukan
bahwa kerugian di atas Rp500 juta adalah sekitar 1% atau kurang, maka kita bisa mengatakan bahwa
model kita cukup bagus, sesuai dengan kenyataan yang ada. Tetapi jika kita menemukan bahwa
kerugian di atas Rp500 juta mencapai 10% dari total observasi, maka model VAR kita barangkali perlu
diragukan. Model tersebut barangkali tidak sesuai dengan realitas yang ada, dan perlu diperbaiki.