Review Penyebab Keterlambatan Pada Proyek Konstruksi
SESMIWATI1*, V. ARIANI2 dan F. ROZA21,2,3Department of Quantity Surveying, Faculty of Civil Engineering and Planning, Universitas Bung Hatta, Jl. Sumatera Ulak Karang, Padang 25133, Indonesia
*Corresponding author: [email protected]
Abstrak: Waktu penyelesaian proyek konstruksi adalah salah satu indikator utama kinerja proyek
konstruksi, namun keterlambatan (delays) masih menjadi fenomena dunia pada industri konstruksi baik di negara maju maupun negara berkembang. Keterlambatan proyek konstruksi dapat didefinisikan sebagai perpanjangan waktu untuk menyelesaikan suatu proyek akan dapat merugikan owner (pemilik) dan kontraktor yang menyebabkan tambahan biaya dan kerugian finansial atau manfaat lainnya dari suatu pembangunan proyek. Studi mengenai penyebab terjadi keterlambatan pada proyek konstruksi telah dilakukan di berbagai negara dan setiap studi memiliki faktor penyebab dan grup penyebab keterlambatan yang berbeda yang dipengaruhi oleh negara, lokasi/daerah, dan tipe atau karakteristik proyek. Studi ini bertujuan untuk menetapkan kerangka teori penyebab keterlambatan proyek konstruksi dari kajian pustaka makalah pada jurnal internasional.
Kata kunci: Penyebab keterlambatan, Kinerja proyek, Proyek konstruksi, Review
1. PENDAHULUAN
Industri konstruksi diyakini sebagai salah satu sektor usaha yang memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Peranan penting industri konstruksi dilihat dari efek ganda yang diciptakan melalui hubungan yang luas dengan sektor-sektor ekonomi lainnya seperti industri pengolahan dan material, energi, keuangan, transportasi, tenaga kerja dan peralatan. Namun, industri konstruksi menghadapi berbagai permasalahan dan yang semakin rumit seiring dengan perkembangan industri konstruksi yang semakin kompleks baik dari segi fisik (bentuk), pembiayaan, sistem kontrak dan pengelolaan sumber daya. Dari pihak klien sebagai pemilik modal menuntut produk konstruksi lebih efisien dan efektif (Latham, 1994 dan Egan, 1998 dalam [1] [2]) baik dari segi biaya dan waktu dengan hasil produk yang bermutu yang merupakan indikator utama kinerja proyek konstruksi.
Berawi, et.al. [3] menyatakan bahwa waktu penyelesaian proyek konstruksi merupakan faktor paling dominan untuk menentukan indikator kinerja utama (key
performance indicator) kesuksesan sebuah proyek konstruksi gedung, indikator kinerja utama lainnya adalah biaya efektifivitas biaya investasi/modal, dan efektivitas biaya pemeliharaan dan operasional. Oleh karena itu, penyelesaian proyek tepat waktu adalah bagian upaya untuk meningkatkan efisiensi pada proyek konstruksi.
Keterlambatan waktu penyelesaian (delays) proyek konstruksi adalah masalah yang dihadapi di berbagai negara seperti Mesir [4], India [5], Turki [6] Ghana [7] Thailand [8], dan Malaysia [9], Nigeria [10]. Pada tahun 2005 di Malaysia, sekitar 17,3% dari 417 proyek pemerintah dianggap ‘sakit’ dengan lebih dari tiga bulan mengalami keterlambatan [9]. Di Saudi Arabia, Assaf dan Al-Hejji [11] melakukan survei pada berbagai tipe proyek konstruksi dimana 70% mengalami penambahan waktu sampai 10-30% dari durasi awal pada kontrak, dan 45 dari 76 proyek mengalami penundaan waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan. Di Indonesia, Kaming, et al. [12] telah mengidentifikasi faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek
konstruksi bangunan tinggi yaitu perubahan desain, kurangnya produktivitas tenaga kerja, perencanaan yang kurang matang dan kelangkaan material. Gluszak dan Lesniak [13] menyatakan keterlambatan pada proyek konstruksi dapat berbeda bedasarkan negara, lokasi/daerah dan tipe atau karakteristik proyek. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menetapkan kerangka teori penyebab keterlambatan proyek konstruksi dari kajian pustaka makalah pada jurnal internasional.
2. KETERLAMBATAN PADA PROYEK KONSTRUKSI
2.1 Definisi dan Tipe Keterlambatan Sanders dan Eagles (2001) dalam [7] mendefinisikan keterlambatan penyelesaian (delays) sebagai kejadian yang menyebabkan penambahan waktu untuk menyelesaikan seluruh atau sebagian proyek konstruksi. Abdul-Rahman, et.al. [14] menyatakan keterlambatan penyelesaian adalah situasi dimana pekerjaan konstruksi terhambat tanpa terhenti sepenuhnya. Jadi dapat dinyatakan bahwa proyek terlambat apabila melewati dari durasi/waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak konstruksi. Penambahan waktu (extension of time) dapat diperoleh oleh kontraktor jika penyebab keterlambatan disebabkan oleh pihak lain atau eksternal dan ini termasuk dalam kategori proyek terlambat.
Stakeholder industri konstruksi saat ini menjadi sangat peduli terhadap durasi karena akan mengakibatkan peningkatkan suku bunga, inflasi dan tekanan ekonomi (commercial pressures) (Nkado, 1995 dalam [7]. Assaf dan Al-Hejji [11] menyatakan keterlambatan penyelesaian waktu proyek konstruksi berarti kerugian pendapatan owner (pemilik) akibat
ketidaktersediaan fasilitas tepat waktu sedangkan bagi kontraktor menderita kerugian dari kenaikan biaya overhead, material dan tenaga kerja.
Keterlambatan waktu penyelesaian proyek diakui sebagai hal yang umum yang terjadi pada industri konstruksi, [15] menyatakan tipe keterlambatan proyek terbagi tiga kategori umum yaitu: 1. Keterlambatan yang dapat dimaafkan dan tidak dapat dimaafkan (excusable and non-excusable delays)
Keterlambatan yang dapat dimaafkan yang dikenal sebagai “force majeure” atau bukan merupakan tanggung jawab atau kesalahan pihak-pihak yang terlibat pada proyek konstruksi. Umumnya pada kontrak memberikan perpanjangan waktu untuk tipe keterlambatan ini. Sedangkan keterlambatan yang tidak dapat dimaafkan disebabkan oleh kontraktor atau subkontraktor atau pemasok (supplier). Keterlambatan ini menyebabkan kontraktor tidak mendapatkan penambahan waktu dan biaya.
2. Keterlambatan yang mendapatkan ganti rugi dan tidak layak mendapatkan ganti rugi (compensable and non-compansable delays)
Keterlambatan yang mendapatkan ganti rugi disebabkan oleh pemilik (owner) atau wakil pemilik seperti gambar dan spesifikasi yang tidak lengkap, kegagalan pemilik untuk memberikan respon tepat waktu terhadap permintaan informasi mengenai desain, perubahan desain dan material oleh pemilik dan gangguan atau perubahan urutan pekerjaan oleh pemilik. Hal-hal tersebut menyebabkan kontraktor berhak untuk mendapatkan penambahan waktu dan biaya.
3. Keterlambatan yang terjadi bersamaan (concurrent delays)
Jika hanya satu faktor yang menyebabkan keterlambatan biasanya akan lebih mudah untuk menghitung dampak waktu maupun biaya. Situasi yang lebih kompleks terjadi jika lebih dari satu faktor penyebab keterlambatan terjadi pada satu waktu atau tumpang tindih pada suatu waktu.
Dalam Gluszak dan Lesniak [13], keterlambatan dapat dibagi atas dua grup yaitu keterlambatan yang dapat dibenarkan (justified delays) dan keterlambatan yang tidak dapat dibenarkan (unjustified delays). Keterlambatan yang dapat dibenarkan biasanya kesalahan investor dan kontraktor berhak mendapatkan kompensasi. Selama masa pelaksanaan pekerjaan, modifikasi pada dokumen desain sering terjadi dan proses pengambilan keputusan yang lama oleh investor menyebabkan keterlambatan penyelesaian suatu proyek. Lebih lanjut, adanya keterlambatan yang dapat dibenarkan tetapi tidak mendapatkan kompensasi, karena para pihak tidak bertanggung jawab atas kejadiannya seperti kondisi cuaca, perubahan peraturan dan kejadian random lainnya (kemalingan, masalah teknis pada peralatan konstruksi yang digunakan, penemuan barang arkeologi atau bahan peledak). Sedangkan keterlambatan yang tidak dapat dibenarkan merupakan tanggung jawab kontraktor yang tidak berhak mendapatkan kompensasi baik penambahan waktu atau biaya. Faktor yang berhubungan dengan kontraktor terutama berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, organisasi, pengawasan dan pengalaman.
2.2 Penyebab Keterlambatan Proyek Konstruksi
Toor dan Ogunlana [8] telah mengidentifikasi masalah-masalah lazim terjadi yang menyebabkan keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi yaitu:
Kurang sumber daya (bahan/material, tenaga kerja, dana, dan lain-lain).
Kurang komunikasi antar pihak yang terlibat.
Buruknya manajemen kontrak.
Keterlambatan desain.
Perubahan desain.
Perencanaan dan penjadwalan kurang terencana dengan baik.
Perencanaan dan pengendalian site kurang baik.
Subkontaktor dan supplier yang kurang berpengalaman.
Penilaian estimasi sumber daya kurang tepat.
Lebih lanjut juga mengidentifikasi beberapa permasalahan yang muncul dalam penelitian 5 tahun terakhir yaitu:
Kontraktor kurang berpengalaman.
Proses pengambilan keputusan owner (pemilik) yang lambat.
Klien kurang berpengalaman.
Eskalasi biaya material.
Kurangnya tenaga kerja konstruksi.
Sistem hukum yang kompleks.
Tidak adanya standar desain.
Di Indonesia, faktor-faktor utama penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi bangunan tinggi telah diidentifikasi oleh Kaming, et.al [12] perubahan desain, kurangnya produktivitas tenaga kerja, perencanaan yang kurang matang dan kelangkaan material. Selain itu, penelitian tersebut mengidentifikasi faktor-faktor utama penyebab pembengkakan biaya (cost overrun) konstruksi yaitu inflasi, estimasi bahan kurang akurat, dan tingkat kompleksitas proyek. Sedangkan
faktor-faktor utama terjadinya penambahan waktu dan biaya adalah peningkatan biaya material akibat inflasi, estimasi kurang akurat dan pengalaman kontraktor yang kurang dalam melaksanakan tipe proyek yang dibangun.
Le-Hoai, et.al. [16] mengidentifikasi kategori penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi sebagai berikut:
Kategori yang berhubungan dengan owner: kesulitan finansial dan keterlambatan dalam pembayaran.
Kategori yang berhubungan dengan kontraktor: manajemen site (site management), yang kurang baik, kesulitan finansial, metode konstruksi kurang sesuai, estimasi tidak akurat, subkontraktor yang kurang kompeten dan kesalahan selama masa konstruksi.
Kategori yang berhubungan dengan konsultan: manajemen proyek yang kurang baik, manajemen kontrak kurang baik, pengawasan yang lambat dan kesalahan pada desain
Kategori yang berhubungan dengan proyek: perubahan desain, pekerjaan tambah dan lambatnya alur informasi antara parapihak.
Kategori yang berhubungan dengan material dan tenaga kerja: kekurangan bahan/material dan kekurangan tenaga kerja terampil
Kategori eksternal: kondisi site yang tidak terduga, fluktuasi harga, cuaca dan hambatan dari pemerintah.
Tabel 1 memaparkan kategori penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi dari beberapa literatur. Le-Hoai, et.al. [16] telah mengidentifikasi penyebab-penyebab utama keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi di beberapa negara seperti yang terlihat pada Tabel 2.
Tabel 1: Kategori penyebab keterlambatan waktu
Penulis (Negara)
Kategori
Assaf dan Al-Hejji-2006 [11] (Arab Saudi) 1. Proyek 2. Owner 3. Kontraktor 4. Konsultan 5. Desain 6. Bahan/material 7. Peralatan 8. Tenaga kerja 9. Eksternal Toor dan Ogunlana – 2008 [8] (Thailand) 1. Owner 2. Desainer/Perencana 3. Manajemen proyek/konsultan 4. Kontraktor 5. Tenaga kerja 6. Finansial 7. Kontrak 8. Komunikasi 9. Site dan lingkungan 10. Faktor-faktor lainnya Le-Hoai, et.al.-2008 [16] (Vietnam) 1. Owner 2. Kontraktor 3. Konsultan 4. Proyek
5. Bahan dan tenaga kerja 6. Eksternal
Tabel 2: Penyebab utama keterlambatan di beberapa negara
Negara Penyebab Utama Vietnam
Le-Hoai et.al, 2008 (1)
1. Manajemen site dan pengawasan kurang baik 2. Manajemen proyek kurang
baik
3. Kesulitan finasial oleh owner 4. Kesulitan finansial oleh
kontraktor 5. Perubahan desain Malaysia
Sambasivan, 2007 (2)
1. Perencaan kurang tepat 2. Manajemen site 3. Pengalaman kontraktor
kurang mencukupi
4. Keuangan dan pembayaran 5. Subkontraktor Korea Selatan Archarya et.al, 2007 (2) 1. Gangguan dari publik/masyarakat 2. Perubahan kondisi site 3. Kegagalan untuk
menyediakan site
4. Estimasi waktu yang tidak realistis
Negara Penyebab Utama Hong Kong
Lo, 2006 (2)
1. Modal kontraktor tidak cukup 2. Keadaan tanah tidak terduga 3. Penawaran dengan biaya
terendah
4. Kontraktor kurang berpengalaman
5. Permasalahan dengan utilitas eksisting
UAE Faridi, 2006 (2)
1. Persiapan dan persetujuan gambar
2. Perencanaan proyek baik 3. Proses membuat keputusan
lambat
4. Kekurangan tenaga kerja 5. Manajemen site dan
pengawasan kurang baik Jordan
Sewis, 2007 (2)
1. Kesulitan finasial oleh kontraktor Perencanaan proyek baik
2. Terlalu pekerjaan
tambah/kurang dari owner 3. Perencanaan & penjadwalan
yang kurang baik oleh kontraktor
4. Tenaga kerja tak terlatih 5. Kekurangan tenaga teknis
profesional pd organisasi kontraktor
Kuwait Koushki, 2005 (2)
1. Pekerjaan tambah kurang 2. Masalah finansial
3. Owner kurang berpengalaman 4. Material
5. Cuaca (3) 1. Kontraktor
2. Material
3. Masalah finansial 4. Pekerjaan tambah kurang 5. Cuaca Ghana Frimpong, 2003 (1) 1. Permasalahan pembayaran bulanan
2. Manajemen kontraktor kurang baik
3. Pengadaan material 4. Inflasi
5. Kontraktor kesulitan finansial Nigeria
Aibinu, 2006 (2)
1. Kontraktor kesulitan finansial 2. Permasalahan cashflow owner 3. Gambar arsitek kurang
lengkap
4. Mobilisasi subkontraktor lambat
5. Peralatan rusak & masalah pemeliharaan
(1): Delay and cost overruns; (2): delay only (3): cost overruns only
Sumber: Le-Hoai, et.al. [16]
3. PEMBAHASAN
Identifikasi makalah yang sesuai pada jurnal internasional bereputasi dilakukan untuk menyimpulkan penyebab keterlambatan pada proyek konstruksi. Pencarian makalah dengan mengunakan kata kunci seperti delays, causes, construction pada mesin pencari Google Scholar.
Studi mengenai penyebab keterlambatan konstruksi telah banyak dilakukan, temuan yang berbeda mengenai penyebab utama telah diteliti dari berbagai negara. Aziz dan Abdel-Hakam [4] telah mengidentifikasi 15 grup kategori penyebab keterlambatan pada proyek konstruksi sebagai berikut: (1) Keuangan (financing), (2) Pemilik, (3) Kontraktor, (4) tenaga kerja, (5) Desain, (6) Lokasi proyek (site), (7) Hubungan kontraktual, (8) Kontrak, (9) Proyek, (10) Eksternal , (11) Peralatan, (12) Peraturan dan ketentuan, (13) Konsultan, (14) Penjadwalan dan pengawasan, (15) Material.
Lebih lanjut [4] telah menyusun peringkat penyebab keterlambatan pada kajian pustaka seperti yang terlihat pada tabel 3 dimana kondisi cuaca dengan grup kategori eksternal menjadi faktor utama penyebab keterlambatan. Kurang tersedia material konstruksi, lambatnya proses pengambilan keputusan oleh owner, manajemen proyek dan pengawasan yang kurang baik kontraktor, dan kurang tersedianya tenaga kerja merupakan penyebab utama keterlambatan yang sering ditemukan pada kajian pustaka seperti yang terlihat pada Tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3: Penyebab utama keterlambatan proyek pada studi pustaka
Peringkat Faktor Penyebab 1 Kondisi cuaca
2 Ketersedian material konstruksi 3 Owner lambat dalam proses
pengambilan keputusan
4 Manajemen proyek dan pengawasan yang kurang baik oleh kontraktor 5 Ketersediaan tenaga kerja 6 Kecelakaan selama konstruksi 7 Lambatnya pengiriman material 8 Metode konstruksi
9 Kurangnya peralatan
10 Keuangan kontraktor selama konstruksi
11 Persiapan dan persetujuan gambar kerja & contoh
12 Kurangnya pengalaman kontraktor menyebabkan error
13 Rendahnya level produktivitas kerja 14 Proses memperoleh izin dari
pemerintah
15 Perencanaan dan penjadwalan yang kurang efektif oleh kontraktor 16 Keterlambatan pembayaran
kemajuan pekerjaan oleh owner 17 Durasi kontrak yang kurang realistis
dan persyaratan yang memaksakan 18 Keuangan owner bermasalah 19 Perubahan pekerjaan oleh owner
selama konstruksi
20 Perselisihan/sengketa antara parapihak (klaim konstruksi) Sumber: Aziz dan Abdel-Hakam [4]
Faktor finansial merupakan penyebab utama keterlambatan di Malaysia [14] dan Ghana [7]. Dalam Abdul-Rahman, et.al., [14] menyatakan kategori finansial yang menyebabkan proyek terhambat di Malaysia adalah permasalahan yang berkaitan dengan pembayaran, permasalahan arus kas (cash flow), permasalahan sumber finansial (kesulitan mendapatkan pinjaman dan tidak ada alokasi dana pada budget pemerintah) dan masalah pemasaran (kenaikan suku bunga, inflasi dan kenaikan nilai tukar mata uang asing untuk bahan atau peralatan impor). Hasil penelitian tersebut juga menemukan bahwa akar permasalahan keterlambatan
penyelesaian proyek konstruksi yang berhubungan dengan finansial adalah manajemen arus kas yang kurang baik, keterlambatan pembayaran, sumber finansial yang tidak mencukupi dan financial market yang kurang stabil.
Di Ghana, faktor keterlambatan penyelesaian proyek yang utama adalah kategori finansial, material, dan penjadwalan dan pengontrolan [7]. Faktor-faktor yang termasuk dalam kategori finansial yaitu dikarenakan oleh terlambatnya menerbitkan sertifikat pembayaran (payment certificate), kesulitan mendapatkan pinjaman dan fluktuasi harga.
Le-Hoai, et.al. [16] melakukan survei mengenai faktor penyebab yang keterlambatan penyelesaian proyek dan pembengkakan biaya konstruksi yang sering terjadi di Vietnam adalah manajemen dan pengawasan site kurang baik, manajemen proyek kurang baik, kesulitan finansial oleh owner, kesulitan finansial oleh kontraktor dan perubahan desain. Dari penelitian tersebut menyatakan bahwa penyebab terbesar penambahan waktu dan biaya berhubungan dengan masalah manajemen dan manusia (human). 4. KESIMPULAN
Keterlambatan penyelesaian proyek sebagai kejadian yang menyebabkan penambahan waktu untuk menyelesaikan seluruh atau sebagian proyek konstruksi dan masih menjadi isu dan fenomena baik di negara berkembang maupun negara maju. Hasil studi mengenai penyebab keterlambatan di beberapa negara menetapkan rangking yang berbeda dikarenakan perbedaan negara, lokasi/daerah dan tipe atau karakteristik proyek. Langkah awal untuk mengurangi keterlambatan suatu proyek adalah dengan memahami akar permasalahan penyebab keterlambatan. Upaya
identifikasi penyebab dilakukan untuk menetapkan strategi mitigasi yang tepat yang dapat meningkatkan kinerja proyek konstruksi.
5. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih pada kepada Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dan Universitas Bung Hatta yang telah memberikan kesempatan untuk mendapatkan Hibah Penelitian Dosen Pemula tahun 2017.
6. DAFTAR PUSTAKA
1. Cartlidge, Duncan (2006), New Aspect of
Quantity Practices, Elsevier: United
Kingdom
2. Shen, Qiping and Liu, Guiwen (2004), Application of value management in the
construction industry in China,
Engineering, Construction and
Architectural Management, Vol. 11(1),
9-19
3. Berawi, M.A, Susantono, B., Abdul-Rahman, H., Sesmiwati, Herawati, Z.R, Sari, M., (2012), Improving Construction Project Performance Using Quality and
Value Management, International
Conference on Value Engineering and Management Proceedings, Desember
2012, Hong Kong
4. Aziz, Remon F, and Abdel-Hakam, Asmaa A. (2016). “Exploring Delay Causes of Road Construction Projects in Egypt.” Alexandria Engineering Journal 55(2): 1515–39.
5. Desai, M dan Bhatt, R. (2013), “Critical causes of delay in residential construction projects: Case study of central Gujarat region in India”, International Journal of
Engineering Trends and Technology,
Vol. 4, No. 4, pp762-768
6. Gunduz, M. Nielsen, Y. Dan Ozdemir, M (2013), “Quantification of delay factors using the relative importance index method for construction project in
Turkey”, Journal of Construction
Engineering and Management, Vol. 140
No. 1
7. Fugar, F. D. K. and Agyakwah-Baah, A.
B. (2010), Delays in building
construction projects in Ghana,
Australasian Journal of Construction Economics and Building, Vol. 10 (1/2)
103-116
8. Toor, Shamas‐Ur‐Rehman & Ogunlana , Stephen O. (2008), Problems causing delays in major construction projects in Thailand, Construction Management and
Economics, Vol. 26(4), 395-408
9. Sambasivan, Murali dan Yau, Wen Soon (2007), Causes and effects of delays in
Malaysian construction industry,
International Journal of Project
Management, Vol. 25, 517-526
10. Aibinu, A.A dan Jagboro, G.O (2002), "The effects of construction delays in project delivery in Nigerian construction industry, International Journal of Project
Management, Vol. 20, No. 8, pp 593-599
11. Assaf, S. A. and Al-Hejji, (2006), Causes of delay in large construction projects, International Journal of Project
Management, Vol. 24, 349-357
12. Kaming, P. F., et.al. (1997), Factors influencing construction time and cost
overruns on high-rise projects in
Indonesia, Construction Management
and Economics, Vol. 15(1), 83-94
13. Guszak, M dan Lesniak, A, (2015), “Construction delays in clients opinion –
multivariate statistical analysis”,
Procedia Engineering 123, pp. 182-189
14. Abdul-Rahman, et.al (2011), Project sechedule influenced by financial issues:
Evidence in construction industry,
Scientific Research and Essays, Vol.
6(1), 205-212
15. Alaghbari, Wa, Mohd Razali A Kadir,
dan Azizah Salim. (2007). “The
Significant Factors Causing Delay of
Building Construction Projects in
and Architectural Management 14(2):
192–206
16. Le-Hoai, et. al. (2008), Delay and cost overruns in Vietnam Large Construction Projects: A comparison with other selected countries, KSCE Journal of Civil