• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jangan (asal) Beli Buku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jangan (asal) Beli Buku"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood Kuliah WhatsApp Shalihah Motherhood

Jangan (asal) Beli Buku Selasa, 15 Oktober 2019

Narasumber : Annisa (Icha) Anastasia

Moderator: Artha Kusumawardhani

Notulen: Amalia Pratiwie

(2)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood

Dear Moms, selamat datang di Resume "Jangan (asal) Beli Buku"

yang diadakan oleh Komunitas Shalihah Motherhood. Resume

ini bersifat free to share dengan WAJIB mencantumkan

sumber aslinya ya Moms.

TENTANG KOMUNITAS SHALIHAH MOTHERHOOD

Shalihah Motherhood berdiri pada tanggal 14 Maret 2014. Shalihah

Motherhood merupakan komunitas grup whatsapp yang beranggotakan ibu

hamil dan menyusui serta memilki anak usia balita. Saat ini jumlah

anggotannya lebih dari 138 orang yang tersebar di berbagai wilayah di

Indonesia.

Komunitas ini memilki motto Berkarya dan Bermanfaat. Shalillah

Motherhood sebagai komunitas ibu muslimah memiliki visi terus berkarya

dan berperan solutif dalam mengatasi permasalahan seputar anak dan

rumah tangga.

Ciri khas komunitas ini adalah menebarkan buku setiap tahunnya. Love Stories

of Birthing adalah buku pertama komunitas ini yang terbit Bulan Desember

2015 dalam rangka menyambut hari ibu. Ramadhan tahun 2016 Shalihah

Motherhood kembali menerbitkan buku berjudul Ramadhan Happy Ala

Mahmudah. Setelah itu pada Bulan September 2017 Shalihah Motherhood

kembali menerbitkan buku yang berjudul Catatan Cinta Pejuang Asi. Semoga

Allah selalu memudahkan teman-teman Shalihah Motherhood untuk berkarya

dan bermanfaat. Aamiin.

Best Regards,

Mega Dewana

Founder

Komunitas Shalihah Motherhood

Follow kami di :

FP : Shalihah Motherhood Fanspage

IG : Shalihah_Motherhood

(3)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood BIODATA NARASUMBER

Nama Lengkap : Annisa Anastasia

Nama Panggilan : Icha / Mbak Icha / Mbacha TTL : Jakarta, 4 Desember 1990

Pendidikan Terakhir : S1 Mayor: Ilmu Komputer, Minor: Perkembangan Anak . Training I Love Science & Metode Matematika GASING . Training of Trainer Read Aloud

Alamat : Dramaga, Bogor, Jawa Barat

Aktivitas : IRT, bakulan buku anak & parenting di @mamalova.books,

founder @happyeater.id, ngereview isi buku yang menarik, ngobrol, dan diskusi dengan banyak orang

Status : Menikah dan Ibu dari Farzan, 5 tahun Sosial Media : instagram di @algorismee

[email protected] ichanastasia.wordpress.com

(4)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood Sebelum memulai pembahasan, ada pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu oleh peserta

A JOURNEY (Sebuah perjalanan menemukan buku)

Sedikit cerita, tentang awal perjalanan saya, juga Farzan hingga berada dalam kondisi saat ini ya. Flashback hingga 4 tahun yang lalu. Perjalanan saya mengenal buku jauh sejak saya masih kecil dahulu. Namun perjalanan mengenalkan buku kepada Farzan, tak lepas dari cerita awal saya menjadi penjual buku.

Awal mula menjadi penjual buku online tidak didasari oleh kebutuhan ekonomi, bukan pula sebuah hobi suka berdagang (meski mengalir darah Minang di tubuh saya).

Kala itu, belum genap setahun usia Farzan anak saya. Saya mulai tergelitik karena belum ada satupun kehadiran buku di rumah kami, selain sebuah teether book, serta sebuah buku bantal hadiah doorprize. Saya teringat, sejak kecil saya terbiasa dengan buku, terutama buku bekas. Sebagian besar buku sekolah saya adalah buku bekas. Setiap libur kenaikan kelas, sebelum masuk tahun ajaran baru, ibu saya akan mengajak saya pergi ke toko buku bekas mencari buku-buku pelajaran.

Maka ketika terbersit keinginan untuk mulai membelikan anak saya buku, saya mengajak suami berkunjung ke tempat saya biasa membeli buku pelajaran dulu. Ternyata, meski sekian tahun berlalu, masih ada pedagang-pedagang buku itu. Maka buku pertama Farzan setelah teether book adalah buku bekas, dan sebagian besar buku-buku tersebut masih saya simpan hingga kini.

Kala itu, penjual buku online belum semarak sekarang, dan dominasi penjualan buku anak-anak di online adalah buku set premium yang biasanya di dapat dengan cara cash/arisan. Pikir saya waktu itu, jika untuk memiliki buku, saya harus memiliki dana cash sekian juta, atau harus mencicil sekian ratus ribu tiap bulannya, mungkin saya tidak akan mulai-mulai mengenalkan anak saya pada buku. Maka buku bekas/buku murah yang jadi pilihan bagi saya.

Tidak sekedar untuk koleksi pribadi, sebagian buku yang saya dapatkan saya tawarkan juga pada teman-teman saya. Di sanalah awal mula saya menjadi penjual buku online. Karena 70% buku yang

(5)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood saya jual adalah buku bekas, saya jadi banyak belajar tentang jenis-jenis buku yang ada. Ada buku yang berbahan kertas tebal, berbahan kertas tipis, sticker book, popup book, dll

Tapi jangan salah mengira, saya tidak terlalu banyak tahu judul-judul buku favorit, penulis favorit, penerbit favorit mulanya. Pengetahuan saya soal itu bisa jadi tidak lebih banyak daripada teman-teman sekalian.

MY CHOICES (Menentukan buku pilihan)

Lalu, buku apa yang saya perkenalkan pada Farzan ketika awal dulu?

Seingat saya, teether book adalah 'buku' perdana Farzan yang saya belikan dahulu. Tapi, waktu itu niat awalnya sama sekali tidak ada hubungan dengan aktivitas membaca. Saya murni mencari teether/alat untuk digigit-gigit. Namun jiwa ekonomis emak-emak merasa rugi kalau fungsinya cuma untuk digigit2. Dan saya bersyukur, saya rasa teether book kala itu adalah sebuah pilihan yang tepat, terutama untuk proses pengenalan buku ke depannya.

Kenapa?

Wujudnya yang berbentuk buku, namun fungsinya bukan sebagai bahan bacaan melainkan alat stimulasi. Ada bagian yang bisa digigit, ada bagian yang diremas mengeluarkan bunyi kresek2, ada yang bisa dipencet bunyit nyit nyit nyit. Wujudnya buku, sehingga tanpa sadar ikut menstimulasi jari tangan Farzan untuk membolak-balik halaman buku. Karena wujudnya buku, namun sekaligus mainan, pendekatan/asosiasi awal yang terbangun bagi Farzan untuk kata 'buku' adalah sesuatu yang fun dan menyenangkan.

Buat yang belum tau, kaya begini punya Farzan dulu

Lalu, apa buku berikutnya yang saya pilih mengingat adalah buku bekas yang jadi sasaran awal? Kalau teorinya, dan sebagian besar ahli mungkin mengatakan, bagi bayi/balita, belilah buku berbahan tebal (boardbook)/anti air semacam buku bantal, karena akan lebih awet. Tapi, kala itu saya tidak menjadikan "bahan buku" sebagai dasar keputusan dalam memilih. Bagi saya, konten menjadi filter pertama ketika membeli suatu buku. Saya tak ambil soal, berbentuk apapun buku tersebut, berbahan apapun dia, jika menurut saya kontennya menarik, positif, menarik, apalagi harganya terjangkau bagi saya, maka saya akan usahakan untuk membelinya.

Sebelum mengetahui apa saja jenis-jenis buku, saya pribadi punya metode sendiri bagaimana memilih buku.

(6)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood Pertama,

Cari buku sesuai tema yang sedang ingin kita sampaikan/kenalkan pada anak terlebih dahulu. Karena bisa jadi, setiap keluarga punya value dan tujuan yang tidak sama dengan keluarga lainnya. Misal : tentang agama/konsep ketuhanan, ataukah tentang kosakata serta pengenalan benda-benda di sekitar

Kedua,

Sesuaikan budget. Sebelum membeli, sebisa mungkin kita sudah mengukur kemampuan diri terlebih dahulu. Belilah secara sadar kita memang butuh membelinya. Meski memang membeli buku adalah suatu kegiatan positif, jangan sampai mengganggu stabilitas ekonomi di rumah. Pastikan membeli bukan karena sekedar ingin semata, apalagi sekedar ikut-ikutan tanpa paham apa tujuan pembelian buku. Libatkan pasangan dalam proses pembelian dan pemilihan buku, bila perlu mintalah izin padanya setiap kali ingin melakukan pembelian.

Ketiga,

Cari referensi. Bila memungkinkan cari sinopsis/review suatu buku yang kita incar. Ada pepatah don't judge a book by its cover, jangan tertipu dengan cover buku yang lucu, pastikan konten di dalamnya sesuai dengan value/prinsip hidup yg ingin kita tanamkan pada anak. Coba untuk kritis menilai konten suatu buku.

Terakhir, Keempat

Bahan dasar / format bacaan. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya tidak terlalu memusingkan bahan baku dasar suatu buku. Bagi saya apapun wujud bukunya, yang canggih semacam boardbook, soundbook, popup, ataukah hanya sekadar majalah bekas yang mungkin ada coretan bekas pemilik sebelumnya, selagi isinya menarik dan bermanfaat, maka bisa masuk daftar pembelian.

(7)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood REFERENSI BUKU ANAK

Apa saja yang bisa jadi bahan bacaan anak? Bahkan Farzan pun terbiasa membaca selebaran brosur atau pamflet yang ditemukannya. Jadi, tidak terbatas hanya benda berwujud buku, apapun yang bisa dibaca/diceritakan bisa pula kita manfaatkan lho. Namun, sebenarnya seperti apa pengkategorian buku anak yang ada saat ini?

Ada sumber yang menarik untuk disimak

Teman-teman bisa buka link berikut ini untuk penjelasan tiap jenisnya ya http://1001buku.org/mengenal-berbagai-jenis-buku-bergambar/

Baby Books (Buku untuk Bayi).

Buku seperti ini dirancang agar simpel, menggunakan warna yang mencolok, dan menggunakan bahan yang tahan lama (kain, karton tebal, kayu dan sejenisnya). Detail pembuatan buku-buku seperti ini cukup penting, seperti penggunaan material yang tidak berbahaya, ujung yang bulat/tidak tajam, dapat dicuci, dan tidak ada komponen yang mudah terlepas. Kontennya harus mengakomodasi dialog antara bayi dan pengasuhnya.

Interactive Books (Buku Interaktif).

Buku jenis ini ditujukan untuk menstimulasi anak secara verbal dan memancing partisipasi anak saat dibaca, seperti pertanyaan, perintah untuk mengulang sebuah kalimat, menirukan suara, menggerakkan objek, atau bahkan meminta anak untuk menyentuh permukaan buku.

Wordless Books (Buku Minim Kata).

Buku-buku ini disajikan dengan urutan ilustrasi untuk menampilkan cerita. Buku ini tidak, atau sedikit sekali, menampilkan tulisan; dan ditujukan terutama untuk usia anak sebelum dapat

(8)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood membaca, yaitu 4-6 tahun. Anak-anak dapat menggunakan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa verbal dan bercerita, memahami bagaimana membolak-balik buku dari awal hingga akhir sesuai urutan cerita, dan yang paling penting memahami bahwa mereka bisa menginterpretasikan cerita, bukan hanya yang diceritakan, tetapi tergantung pada mereka sendiri.

Movable Books.

Secara umum, buku yang memiliki ilustrasi tiga dimensi (seperti popup books), dapat digerakkan, diubah, ditarik, dan bentuk-bentuk lain akan sangat menarik bagi kebanyakan anak-anak usia muda. Pengerjaannya sangat memakan waktu, namun akan menarik antusiasme anak-anak (dan bahkan orang dewasa( untuk menyukai aktivitas membaca.

Concept Books.

Cukup banyak orang Indonesia yang menganggap bahwa buku hanya digunakan sebagai sumber ilmu, sehingga buku-buku anak yang bertujuan agar anak dapat membaca dan berhitung menjadi sangat populer, bahkan bagi anak-anak usia dini/taman kanak-kanak. Buku alfabet tersedia untuk mengajarkan huruf-huruf kepada anak, baik secara langsung maupun dengan berbagai trik kreatif seperti permainan kata sambil mengajarkan kosa kata baru bagi anak, cara pengucapan dengan suara/musik, dll.

Picture Storybooks.

Buku cerita bergambar sangat digemari oleh anak. Di usia awal membaca, yaitu usia 5-7 tahun, buku-buku jenis ini akan membantu anak untuk memahami cerita dan membaca kata yang sulit baginya. Pengasuh dapat membaca nyaring (read aloud) sehingga kata-kata sulit dapat ditangkap oleh anak. Porsi teks biasanya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan gambarnya. Saat anak beranjak dewasa, seharusnya picture storybooks tidak lagi ditampilkan untuk anak. Anak perlu diberikan tantangan membaca yang lebih, dan tidak lagi tergantung pada gambar untuk memahami makna cerita.

Graphic Novels (Komik).

Tak pelak lagi, komik merupakan jenis buku yang populer di tanah air. Tiap percakapan biasanya ditunjukkan dengan dengan kotak percakapan, dengan teks yang menceritakan ilustrasi yang ditampilkan. Komik dapat menarik perhatian anak dengan ekspresi kejenakaannya dan membantu anak untuk membayangkan detail dari sebuah cerita. Perlu diwaspadai bahwa industri komik bukan hanya ditujukan bagi anak-anak; pengelola taman baca perlu melihat isi sebuah komik sebelum mengkategorikannya sebagai buku anak.

Transitional Books.

Jenis buku ini adalah buku transisi untuk anak-anak yang baru belajar membaca namun belum lancar. Buku ini tidak bisa disebut sebagai buku bergambar, namun juga belum seperti buku novel penuh tak bergambar. Ilustrasi akan tampil sesekali, terutama untuk membantu pemahaman di daerah-daerah yang sulit. Buku-buku seperti ini biasanya dirancang secara teliti untuk menyeimbangkan antara cerita yang berkualitas dan mulai kompleks, kesulitan membaca, dan gambar seperti apa yang sebaiknya ditampilkan tanpa merusak imajinasi anak.

(9)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood Ada juga yang melakukan kategorisasi khusus buku bayi seperti yang saya dapatkan dari www.id.theasianparents.com

Bahkan ada juga jenis wordless book. Buku ini benar-benar tidak ada teks sama sekali. Tapi, justru melalui buku semacam ini kita maupun anak bisa berimajinasi seluas-luasnya.

(10)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood SESI TANYA-JAWAB

1. Bunda Ifa

Saya pernah beli buku dan cukup menyesal karena isinya tidak sesuai ekspektasi saya  dulu belinya pas PO dan diskon gede  gimana ya mba? Apa dibacakan ke anak dg improvisasi sendiri jd bahasanya berirama gt?! Tp berirama maksa kalau menurut saya. Jadi, ada beberapa kata yg dipaksakan sama. Dan gambarnya juga full kartun manusia. Padahal cerita ttg nabi Muhammad. Bagaimana menjelaskan ke anak ya? Maap kalo agak melenceng ya mbak.

Jawaban:

Wa ‘alaykumsalam mba..

Ini menurutku pribadi ya, menanggapi situasi ada buku yang kontennya ternyata tidak sesuai dengan kita.

Pertama : buku berima. Memang membuat narasi berima, yaitu yg akhirannya terdengar serupa/sama itu ada skillnya tersendiri. Meramu sekian banyak kata menjadi suatu kalimat yg padu namun tetap mudah dicerna buat anak itu bukan sesuatu yang mudah. Poinnya di sini betapa menulis cerita untuk anak tidak sesederhana yg kita kira. Berhubung aku belum lihat sendiri buku yg dimaksud, bisa jadi bukan bukunya yg sulit, jgn2 kitanya yg masih butuh lebih banyak belajar dan membaca.

Kalaupun benar memang bukunya yang terasa aneh dari sisi narasi, menurutku masih bisa kita 'daur ulang' hanya dengan memanfaatkan ilustrasi yg ada. Jadi mungkin kita bahasakan dgn bahasa kita sendiri.

Nah masalahnya, ternyata ada value berbeda yg mba pegang dgn yg ditawarkan di buku. Krn aku bukan ahlinya, jd aku ga akan bahas soal hukum gambar makluk bernyawa ya  Yg pasti diterima secara umum seharusnya khusus Nabi Muhammad memang tidak boleh digambarkan, biasanya diwakilkan dgn tulisan aja. Jadi apakah memang bukunya memggambarkan nabi muhammad jg, atau cuma persepsi kita aja, itu kembali ke value dan pendapat yg mbak pilih. Kalau memang baik narasi maupun ilustrasi tidak sesuai dgn value kita, mau gamau bukunya bisa dijual/dialihkan utk org lain menurutku ya 

Berhubung lagi bahas tentang buku berima, ada sedikit yg mau aku sharing. Kebetulan aku baca ini di buku Read Aloudnya Jim Trealease,

(11)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood Sebagian besar buku anak-anak berbahasa Inggris sudah menerapkan teks berima ini. Masalahnya adalah.. Bahasanya adalah B.Inggris. Sedangkan bahasa kita, bahasa Ibu, adalah B.Indonesia. Dan memang buku anak-anak dalam b.indonesia masih jarang yg memperhatikan soal ini, kcuali yg berasal dari penulis-penulis anak yg sudah paham soal ini .

Belum lama ini, ada buku dari penerbit Ahlan, yang mengadopsi narasi berima ini Allah binasakan Fir’aun dan bala tentaranya

Mereka semua mati tenggelam dalam samudera Tapi, jasad Fir’aun Allah angkat dari sana Agar dapat menjadi pelajaran bagi manusia

(Sumber: Kisah Shahih Para Nabi dan Rasul, Penerbit Ahlan, 2019)

Kalau hanya melihat sekilas, mungkin rasanya gak masuk jadi pilihan utk buku anak balita ya? Bahannya kertas biasa, teksnya panjang2. Tapi.. Kalau paham ada sesuatu di baliknya, seharusnya mulai terbayang buku-buku seperti apa yg layak kita miliki dan bacakan untuk anak di rumah.

Waktu 2 minggu lalu sempat ikut training read aloud, saya sempat tanya ke fasilitatornya, kenapa kebanyakan buku berima anak2 itu bahasa Inggris. Beliau sampaikan, kalau pun terasa sulit mencari buku berima untuk anak dalam bahasa Indonesia, alternatif yg bisa dilakukan adalah bacakan buku-buku puisi. Kita tahu, puisi itu biasanya pasti ada polanya kan, ada rimanya.

Kalau sadar, lagu-lagu jaman kecil dulu pun sudah pakai pola itu ya. Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya

Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru Meletus balon hijau, hatiku sangat kacau Balonku tinggal empat, kupegang erat erat

Berima nih ga melulu hurufnya sama persis gitu ya. Bisa juga kalau dibacakan, terdengar sama  Menangis pilu Siti Halimah,

Wahai kasih sudah tercurah! Takkan bisa ditarik kembali Harits pun menunduk sedih Empat tahun Muhammad Membawa cahaya bahagia Bagi halimah sekeluarga, Bagi seluruh desa Saad

(Sumber: Boardbook Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk Anak, Penerbit GIP 2014)

2. Bunda Manda

Aku sebenarnya emang tahu kalau kata2 berima ini bagus buat anak. Tapi aku kok yo baru kepikiran buku berima. Dan aku lihat buku2 kakak itu ga ada yang berima. Jadi nursery rhyme aku ambil dari lagu2 aja. Tapi apakah sepenting itu buku harus ada rimanya, atau gapapa engga - kenalin lewat lagu? Maksudnya sepenting itu untuk perkembangan kedepannya? Dan sayangnya lagunya cacamelon mulu  yaa ada sih Indonesia tp belum kekejar bangeet.

(12)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood Jawaban:

Poinnya bukan setiap buku harus ada rimanya. Tapi mengenalkan sesuatu yang berima itu, secara penelitian ternyata baik untuk kemampuan berbahasa anak 

Coba latihan sendiri, Kalau disuruh bikin narasi berima, kira-kira kita mikir keras, atau mudah aja buat kita? Mudah sulitnya ini pasti berkaitan erat dengan seberapa banyak perbendaharaan kata yang kita punya kan 

Sumbernya gak selalu harus dari buku. Tapi bedanya buku dan non buku : buku punya tata aturan baku berbahasa. Kalimat yang digunakan mengandung S P O K dst kalau masih ingat pernah belajar itu waktu sekolah. Jadi secara tidak langsung ketika kita membacakan narasi lewat buku, yang dipelajari anak termasuk pola tata bahasa tadi.

3. Bunda Septi

Adakah pengaruh saat buku yg kita berikan kurang tepat dg usia anak? Semisal usia dua bulan kita berikan pengenalan dg buku pengetahuan walau dg bahasa mudah .

Bagaimana dan apa yang harusnya kita mulai kenalkan pertama pada anak ? Dr versi bahasa, Bhs ibu (Indonesia) atau boleh dg bhs inggris dan lainnya ? Terkait huruf, abjad atau hijaiyah?

Terimakasih Jawaban: Halo mb septi..

Kalau tanyanya dari sisi penelitian gitu, sejujurnya aku belum tau sejauh itu ya (siapa tau di sini ada yang tahu, boleh banget nih sharing di sini). Tapi yang pernah aku tau, cuma ini pun debatable ya. Ada yg berpandangan : jangan terlalu banyak memberikan inputan kognitif pada anak, karena bisa memperberat dirinya. Ada yang justru, meyakini otak manusia ini sangat bisa dioptimalkan. Yg pandangan awal itu bahkan katanya bisa menimbulkan stress tanpa sadar. Wallahu'alam ya.

Aku sekali lagi sejujurnya sampai detik ini belum tau lebih lanjut sebenarnya seperti apa, mana yg benar mana yg keliru, atau gimana-gimanya. Tapi kalau pengalamanku pribadi ke Farzan selama ini, aku gak pernah membatasi Farzan dengan buku sesuai usia. Menurutku bukan bukunya yg disesuaikan dengan usia, tapi cara kita menyampaikan yang disesuaikan dengan usia.

Farzan sekarang masih 5 tahun. Tapi aku gak masalah memperkenalkan buku yang aku sendiri waktu baca aslinya pusing sih �

Balik lagi, karena buatku, buku itu alat bantu, bukan tujuan.

Karena aku gak mampu hafal di luar kepala segala sesuatu, bukulah yang mebantu aku menyampaikan apa yg mau aku sampaikan ke Farzan. Yang jadi PR itu adalah kitanya, orangtua/fasilitatornya. Mau bagaimana memanfaatkan alat bantu yang ada tadi

Jadi bisa aja, waktu usianya masih under 1y, aku pakai buku itu hanya sebatas pengenalan kosakata, yang ada contoh gambar nyata. Misal ensiklopedi. Kalau buat bayi kayaknya ko berat ya? Ya aku pakai hanya gambarnya. Aku tunjuk gambar dan sebut namanya saja. Misal hewan a, b, c , d dst. Tapi

(13)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood penjelasan rinci hewan itu hidup di padang savana, atau tinggal di air tawar, atau kutub utara ya gak perlu aku sampaikan saat itu juga 

Jadi menurutku kuncinya justru bener yang mb bilang : dengan bahasa mudah. Tapi....

Sumber:

Panduan Perjenjangan Buku Nonteks Pelajaran Bagi Pengguna Perbukuan – Balitbang dan Puskurbuk Kemendikbud (2018)

Kalau yang sebelumnya itu kan menurut pengalamanku. Kalau menurut Balitbang dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, ada pembagian sasaran pembaca dengan buku seperti ada

(14)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood tabel di atas.

Sebenarnya pembagian-pembagian jenis buku dan usia ada juga dibahas di buku Ibu Roosie Setiawan, yang judulnya Membaca Nyaring. Fokusnya terutama untuk anak usia di bawah 2 tahun ya. Kalau saya tuliskan di sini bakalan super panjang, saya sih saranin ibu-ibu beli dan baca sendiri bukunya . Tapi secara garis besar, inti utama yg saya tangkap utamanya adalah, awali dengan sesuatu yg sekiranya akan membuat anak tertarik dengan benda bernama buku 

4. Bunda Nastiti

Ada tips ga mba buat mengetahui konten sebuah buku (buku sepaket) selain dari review di internet? Jawaban:

Hai mba..

Kalau selain internet aku rasa ya cari pengalaman temen yang udah punya duluan ya  Kalau nggak mau darimana lagi?! Apalagi kalau buku paketan gitu ya, kan biasanya pasti banyak yg uda punya duluan deh. Sisanya kadang suka ada pameran buku gitu, beberapa penerbit ngasih contoh buku paketannya untuk diintip isinya.

5. Bunda Dwi Putri

Mbak, anakku sekarang berusia 13 bulan. Aku udah punya beberapa buku boardbook. Untuk selanjutnya aku hrs lebih banyak beli buku yg gimana ya mbak buat anakku? Tolong rekomendasi judul2 buku yg baik buat anak2 laki-laki ya mbak.

Jawaban:

Aku sering banget ditanyain customer pertanyaan semacam ini. Dan sejujurnya ini pertanyaan paling susah menurutku sih  Kenapa? Karena yg paling tau anak kita tentunya kita sendiri hehe.. Dan yang seharusnya tahu mau menanamkan soal apa ke anak kita ya kita sendiri.

Jadi balikinnya ke situ. Kita sebagai orangtua mau menyampaikan pesan apa ke anak kita? Karena gak ada yang benar atau salah, kalau kembalinya ke value tiap keluarga. Mungkin aja buat saya yang penting menanamkan X, buat yg lain belum tentu. Tapi kalau tanya preferensi saya pribadi, menurut saya, semisal muslim ya, sebaiknya memang menyelipkan nilai-nilai tauhid keislaman sejak dini. Jadi apapun yg kita kenalkan, diarahkan bahwa yang ada yang menciptakan, ada yg berkuasa, ada yang maha besar.

Sejujurnya, kalau pengalaman dulu, saya luput soal ini. Baru tersadar justru bisa dibilang agak terlambat. Momen yang menyadarkan itu setelah membaca buku bacaan utk orangtua ya, judulnya "Setetes Iman untuk Ananda". Selebihnya tergantung buku-buku yang selama ini udah mbak beli tentang apa? Tinggal dicari tema/topik yang berbeda.

Kalau usia 13 bulan mungkin bisa diutamakan dengan sesuatu yang dekat dengan kesehariannya. Karena usia segitu kan baru tahap awal mengenal lingkungan luar ya. Misal pengenalan kosakata macam-macam emosi, benda-benda/tempat di sekitarnya, intinya sesuatu yg dekat dengan kesehariannya sih. Soalnya umur segitu kan tahap awal belajar bicara juga ya 

(15)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood Harapannya buku bisa jadi alat bantu buat kita, sebagai jembatannya gitulah ya mengenalkan kosakata dasar yang bisa bantu dia berkomunikasi nantinya secara verbal. Tanpa buku ya bisa aja, mungkin pakai kartu, atau tunjuk bendanya dan katakan langsung namanya. Tapi untuk sesuatu yg ga ada wujudnya, nah di sana fungsinya buku.

6. Bunda Vina

Jadi pilihan buku untuk dibacakan ke anak, tidak perlu yg living book ya cha? Oh iya, kalo daftar living books untuk buku indonesia, apa aja cha? Judul dan pengarangnya? Terima kasih 

Jawaban:

Aku sendiri sempat bertanya-tanya terkait bahasa ini.

Jadi ceritanya, ada yang mengganggu pikiranku. Soal bahasa buku. Sebagian besar influencer yang aku perhatikan, lebih banyak kasih contoh buku yg berbahasa inggris kan. Termasuk buku-buku yang dibacakan nyaring, atau living books tadi. Kenapa? Karena mmg dari sisi konten, buku luar selangkah lebih maju daripada indonesia untuk khusus buku anak-anak ya.

Tapii.. Mungkin karena value/prinsip mereka sejak awal justru ingin membiasakan anaknya dengan bahasa inggris, jadi ya sah-sah aja. Lalu, memangnya buku anak bahasa indonesia gak ada ya yang bagus? Nah, jangan salah. Justru sebenarnya sekarang ini udah semakin banyak buku lokal yang kualitasnya gak kalah sama buku luar lho 

Apalagi kalau fokus kita bukan sekedar fitur ya, karena jangka panjang fitur ini kan semakin menghilang sebenernya, karena diharapkan kita mau dan suka membaca, terbiasa membaca, dan mampu membaca kalimat yang lebih panjang. Kalau terbiasa mindsetnya adalah value dan konten, nanti lama-lama terasah dengan sendirinya deh, memilih buku mana yang bagus dan tidak.

Kebetulan beberapa waktu lalu sempat ikut kulwap tentang living books. Di situ buku dianalogikan sebagai makanan. Makanan ada makanan bergizi, ada yg sekedar junkfood. Ada yg mungkin bagus tampilannya, tapi sebenarnya tidak sehat / tidak enak dikonsumsi .

Ya buku juga gak jauh beda. Ada makanan yang sifatnya sekedar hiburan, ada yg memang untuk menopang kehidupan kita. Buku juga seperti itu. Jadi balik lagi ke tujuan dan value yang mau ditanamkan tadi sih. Kalau niatnya sambil membiasakan bahasa inggris, berarti saat membacakan bukunya harus sesuai teks aslinya yang bahasa inggris ke anak. Kenapa? Karena yang mau ditanamkan kan pembiasaan bahasa inggris tadi. Jadi arahnya itu suara yang terdengar, dengan tangan kita menunjuk teks di buku, itu sinkron ditangkap sama anak. Ini jangka panjangnya sekaligus belajar membaca juga. Jadi anak merekam kalau teks seperti ini, bunyinya seperti ini. Baru setelahnya kita bahas ulang bukunya dengan versi bahasa kita sendiri. Cuma, berarti tujuannya berubah, bukan lagi pembiasaan bahasa inggris, tapi sekedar menggunakan buku sebagai alat bantu kita aja menyampaikan pesan ke anak.

Nah soal ini, balik ke temen-temen sekalian. Kalau pakai yang ini, menurut fasilitator, jadi sayang karena pembelajaran tata bahasanya gak sekalian dapat jadinya. Cuma dapat inti pesan bukunya. Menurut beliau, sebaiknya mantapkan dulu bahasa ibu sebelum bahasa lain-lainnya. Kalau masih ada opsi buku berbahasa indonesia dgn konten yg sama, ini lebih baik untuk dipilih ketimbang yg berbahasa inggris. Kecuali misalnya, memang belum kita temukan buku berbahasa indonesia dengan konten tersebut/fitur tersebut, dan menurut kita ini sesuatu yg penting buat anak, nah bisa jadi pertimbangan utk dibeli 

(16)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood org punya kacamatanya masing2. Gak bisa kita bilang ini yg pasti baik, yang itu tidak. Karena kan tergantung latar belakang masing2 orangnya juga kan.

Sedikit mengutip dari materi mba Dianita Sandy tentang apa itu living books :

Pernahkah kita membaca satu buku, lalu ketika usai, kita tak bisa berhenti memikirkannya?

Atau kita jadi terinspirasi melakukan sesuatu karenanya? Atau tiba-tiba di waktu yang lain, isi buku itu tiba-tiba saja muncul di kepala kita, mengaitkan diri dengan ide-ide lainnya, membentuk pendapat kita? Itulah tanda ide-ide dalam buku itu hidup dalam pikiran kita.

Demikianlah maksud Charlotte tentang living books. Buku-buku berkaliber living books mengandung ide-ide luhur yang menggerakkan anak untuk mengingat, merenungkan, atau memvisualisasikannya.

Ide-ide itu mengeram dalam benak anak lama setelah buku selesai dibaca, membuatnya tergugah, membentuk kepribadiannya secara positif.

Waktu saya baca paragraf ini tentang apa itu livingbooks, saya pribadi tercenung dan tercengang. Ide living books sependek yg saya tahu memang berawal dari buah pikiran Charlotte Mason, ada metodenya tersendiri. Tapi secara umum, hanya dengan membaca paragraf di atas, menurut saya seharusnya setiap buku sepatutnya diniatkan dengan tujuan akhir seperti itu kan?

Anak-anak kita membaca buku, menyukai buku, mencintai aktivitas membaca, seharusnya bukan hanya sekedar sampai di otaknya, namun juga menggerakkan hatinya. Sama seperti kalau muslim membaca Quran, bukan sekedar bisa, sekedar hafal, tapi seharusnya bisa menggerakkan diri menjadi pribadi yang baik dalam wujud aksi nyata, dalam perilaku kesehariannya. Iya kan?

Sebagai penjual, saya pribadi ikut merenung, adakah apa yang saya pasarkan, hanya sekedar untuk pengetahuan, ataukah bisa membawa nilai lebih? Tapi... Seperti halnya yang saya sampaikan di awal, bahwa buku adalah alat, maka tujuannya bergantung kepada kita penggunanya. Mungkin kalau pakem aslinya living books, ada rambu-rambu tertentu. Dan itu adalah metode tersendiri.

Apakah 100% harus livingbooks? Menurut saya tidak harus  Tapi apakah setiap buku seharusnya menggerakkan pembacanya ke arah yang lebih baik? Jawabannya ya seharusnya.

Jadi, sepanjang perjalanan saya mengenalkan buku ke Farzan, setelah sudah terlalui fase-fase sampai akhirnya alhamdulillah sudah bisa baca sendiri tanpa paksaan, sudah terbiasa membaca sendiri, dan semoga mencintai aktivitas baca. Tetap ada 1 hal yang belum bisa saya pastikan : apakah yg dia baca kelak mampu memberikan perubahan seperti apa yg diharapkan? Ini masih PR saya.

7. Bunda Niesa

Berarti jenis buku itu tidak seberapa penting dari cara kita menyampaikan ke anak ya mb icha? Seperti materi dar mb icha, saya jg pernah baca, memang ada beberapa tingkatan jenis buku untuk usia tertentu. Intinya, semakin besar usia anak buku yg dikenalkan harusnya semakin sedikit gambar. Bagaimana menurut mb icha?

Jawaban:

Jenis buku iya, Konten buku tetap penting, Cara kita menyampaikan lebih penting lagi 

(17)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood terbentur budget yg terbatas. Tapi kalau rezekinya ada, gak ada salahnya juga membeli jenis buku tertentu yg interaktif dan menarik. Karena pasti akan meningkatkan daya tarik anak untuk deket2 sama buku kan 

Bukan harusnya sedikit gambar, tapi harusnya harapannya bisa mencerna dan membaca kalimat yg lebih panjang. Seharusnya. Dan ini gak bisa instan tiba-tiba.. Makanya penting untuk tahu apa tujuan kita membelikan anak-anak buku.

Apa tujuannya? Supaya cepet pinter membaca tulisan? Atau supaya suka dan betah berlama-lama sama buku? 

8. Bunda Ai Kustiani

Living books itu contohnya kayak gimana Cha? Buku berima itu yang kayak gimana juga? Banyak banget ilmu baru nih.. thanks a lot narasumber kece Icha mama Farzan 

Jawaban:

Untuk contoh buku living books, aku belum mendalami, jadi ga berani share. Mungkin perlu narsum yg lebih kompeten untuk topik ini 

Untuk contoh buku berima ini tadi aku uda kasih contoh beberapa 

9. Bunda Yalfi

Maaf mbak living books itu bukan maksudnya isi buku yg kita baca itu tetap 'hidup' dalam diri kita walau udah selesai baca bukunya kah? Artinya jiwa buku itu berpengaruh dalam diri kita secara positif. Maaf kalo salah 

Jawaban:

Ya mungkin aja ya mba, seperti yg aku bilang klau aku pribadi belum mendalami lebih jauh, jadi sementara mengutip dari narasumber lain waktu pernah ikut kulwapnya  Tapi aku pribadi tertarik memang cari tau lebih lanjut, karena ada pakem-pakemnya kalau ga salah buku yang bisa disebut sebagai livingbooks ini. Salah satu yang aku ingat disampaikan oleh narsumnya waktu itu : pesan buku disampaikan tidak secara eksplisit/gamblang, melainkam tersirat tak langsung.

(18)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood Kesimpulan dari Narasumber:

Mungkin kesimpulannya sesi kali ini adalah WHATnya ya.

Untuk nextnya perlu sesi terpisah jika perlu diskusi untuk WHY atau HOWnya praktek membacakan buku ke anak. 

Pesan saya:

JANGAN BELI BUKU Kalau hanya sekedar punya Kalau hanya sekedar gengsi Kalau hanya sebatas koleksi Tapi

Tidak kita bacakan pada anak Tidak kita sampaikan nilainya

Atau mungkin, tidak memberikan efek yg positif baginya JANGAN BELI BUKU!!

Saya serius dengan pesan ini. Jangan sekali-kali teman-teman sekalian membeli buku, apalagi untuk anak.

KALAU,

hanya sekedar menjadi pajangan, hanya untuk ditumpuk-tumpuk, Bahkan tak sempat membacakannya sekalipun hanya 10 menit setiap hari. So, please, JANGAN asal BELI BUKU! 

(19)

Shalihah Motherhood Shalihah_Motherhood DAFTAR PUSTAKA

Abunnada. (2019). Kisah Shahih Para Nabi dan Rasul (Berdasarkan Kitab Ibnu Katsir). Ahlan Pustaka Umat: Tangerang.

Balitbang dan Puskurbuk Kemendikbud. (2018). Panduan Perjenjangan Buku Nonteks Pelajaran Bagi Pengguna Perbukuan.

Setiawan, Roosie. (2017). Membacakan Nyaring. Noura Publishing: Jakarta.

Tartusi, Tartila. (2014). Boardbook Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk Anak. Gema Insani Press: Depok.

Tomlinson, Carl M. dan Lynch-Brown. (2008). Essentials of Children Literature.Pearson: England. Trelease, Jim. (2017). The Read-Aloud Handbook. Noura Books: Jakarta.

http://1001buku.org/mengenal-berbagai-jenis-buku-bergambar/

Referensi

Dokumen terkait

Sama halnya dengan KERJA ONLINE ini untuk dapatkan bahan/ JOB + PANDUAN KERJA ONLINE anda harus aktivasi sekali, Karena selanjutnya anda menjalankan Job dari KERJA ON-LINE tidak

Menimbang : bahwa demi menjaga ketertiban/keamanan serta suasana ketenangan pada umumnya, dan kelancaran tugas pelaksanaan Landreform pada khususnya, dipandang perlu

ةﺮﺷﺎﺒﻣ , ةدﻮﺟ ﺔﻴﻗﺮﺗ ﻰﻠﻋ رﺪﻘﻳ نأ ﻲﻌﺴﻟا اﺬﻫ ﻦﻣ ﻰﺟﺮﻳو ﺔﻴﻠﻤﻋ. ﺒﺴﻴﺳو ﻢﻴﻠﻌﺘﻟا

(1) Halaman muka menunjukkan jenis jaminan dan nomor urut Buku Tanah menurut wilayah kerja Kantor Pendaftaran Tanah/Kantor dan Pengawasan Pendaftaran Tanah

Pengaruh Kreativitas Produk dan Inovasi Produk Terhadap Keunggulan Bersaing Produk Kue Soes Pada Toko Kue Soes Merdeka di.. Jalan Merdeka No

Dalam Bab 1 ketentuan umum undang – undang nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, menegaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga

Sebagai kesimpulan, kondisi ekologi ekosistem mangrove di Desa Bahoi dikategorikan baik, dan disadari bermanfaat bagi masyarakat dalam fungsi ekologis sebagai pencegah abrasi

Dari hasil kuesioner terhadap responden yang belum pernah menggunakan jasa boga untuk acara pernikahan (responden kelompok pertama) dapat diketahui faktor-faktor yang