• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 144/PUU-VII/2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 144/PUU-VII/2009"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxp;;;;;;;;;;;;;;;;;;; ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 144/PUU-VII/2009

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2004

TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN

KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG

TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR

NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

MENDENGARKAN KETERANGAN PIHAK TERKAIT

(IV)

J A K A R T A

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 144/PUU-VII/2009 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. PEMOHON

- Ruby Panjaitan dan Erwin Richard Andersen ACARA

Mendengarkan Keterangan Pihak Terkait (IV)

Kamis, 18 Maret 2010, Pukul 10.00 –10.38 WIB

Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat.

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, S.H. (Ketua) 2) Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H. (Anggota) 3) Prof. Dr. Maria Farida Indrati, S.H., M.H. (Anggota) 4) Drs. Ahmad Fadlil Sumadi, S.H., M.Hum. (Anggota) 5) Dr. H.M. Akil Mochtar, S.H., M.H. (Anggota) 6) Hamdan Zoelva, S.H., M.H. (Anggota) 7) Dr. Muhammad Alim, S.H., M.Hum. (Anggota)

8) Dr. Harjono, S.H., MCL. (Anggota)

(3)

Pihak yang Hadir: Pemohon:

- Erwin Andersen - Ruby Panjaitan Kuasa Hukum Pemohon: - Ade Yuliawan, S.H. - Ari Erlangga, S.H. - Darul Paseng, S.H. - R.N. Putra A., S.H. Pemerintah:

- Cholilah, S.H., M.H. (Direktur Litigasi Dephukham)

- Dr. Mualimin Abdi (Kasubdit Dephukham untuk Penyiapan dan Pendampingan Sidang MK)

Pihak Terkait:

- Merlina, S.H. (Kuasa Hukum)

- Lusy Hary Mulianti, S.H. (Kuasa Hukum) - Qomarudin (Pihak Terkait)

(4)

1. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Bissmillahirahmanirahim.

Sidang Mahkamah Konstitusi untuk mendengarkan keterangan Pihak Terkait, dalam Perkara Nomor 144/PUU-VII/2009 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Pemohon dipersilakan untuk memperkenakan diri terlebih dulu. 2. KUASA HUKUM PEMOHON: ADE YULIAWAN, S.H.

Terima kasih Yang Mulia.

Kami dari MSS Law Firm, saya Ade Yuliawan, 3. KUASA HUKUM PEMOHON: ARI ERLANGGA, S.H.

Saya Ari Erlangga.

4. KUASA HUKUM PEMOHON: FARDIAN, S.H. Saya Fardian.

5. KUASA HUKUM PEMOHON: DARUL PASENG, S.H.

Saya Darul Paseng.

6. KUASA HUKUM PEMOHON: R.N. PUTRA, S.H. Saya R.N. Putra, S.H, Kuasa Hukum Pemohon. 7. KUASA HUKUM PEMOHON: ADE YULIAWAN, S.H.

Kami juga menghadirkan Pihak Terkait Yang Mulia, terima kasih. Pihak terkait dan Pemohon Prinsipal, terima kasih

SIDANG DIBUKA PUKUL 10.00 WIB

(5)

8. PEMOHON: ERWIN RICHARD ANDERSEN

Nama saya Erwin Anderson Pak. Saya Direktur Programing dan Produksi TPI.

9. PEMOHON: RUBY PANJAITAN

Terima kasih Yang Mulia, saya Ruby Panjaitan, Direktur Keuangan TPI.

10. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Pemerintah, silakan.

11. PEMERINTAH: DR. MUALIMIN ABDI (KASUBDIT PENYIAPAN KETERANGAN PEMERINTAH DAN PENDAMPINGAN PADA SIDANG MK)

Terima kasih Yang Mulia, assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi salam sejahtera.

Pemerintah hadir dari Kementerian Hukum dan HAM. Saya sendiri Mualimin Abdi kemudian di sebelah kiri saya Ibu Cholilah.

Terima kasih Yang Mulia.

12. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Pihak Terkait, silakan.

13. KUASA HUKUM PIHAK TERAKIT : MERLIANA, S.H.

Terima kasih Yang Mulia, selamat pagi, assalamualaikum wr.wb. Saya Merlina salah satu dari kuasa hukum dari Pihak Terkait dan di sebelah kanan saya Lusi Hary Mulianti dan pada siang ini pun hadir Pihak Terkait Prinsipal, saya persilakan, terima kasih.

14. PIHAK TERKAIT: QOMARUDIN

Terima kasih, saya Qomarudin selaku pengurus ISBI. 15. PIHAK TERKAIT: M. HAFIS

Saya Hafids dari Sekretaris Umum Federasi Serikat Buruh Indonesia.

(6)

16. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Baik, jadi acara kita tinggal hari ini.

Saya persilakan Pihak terkait untuk menjelaskan keterkaitannya sekaligus kepentingan apa yang ingin disampaikan di sini, serta pernyataan sikap atas permohonan ini.

Silakan.

17. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT : MERLIANA, S.H. Terima kasih Yang Mulia.

Mengenai kedudukan hukum atau legal standing Pihak Terkait. Bahwa Pihak Terkait adalah perorangan yang bergabung dalam wadah Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia dan menjadi pengurus Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia, dengan tujuan memperjuangkan kepentingan buruh sebagaimana diperlihatkan dalam Anggaran Dasar Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia sebagai bukti PT-4. Dan bahwa dengan merujuk pada Pasal 28C ayat (2) UUD 1945, maka dapat dikatakan bahwa Pihak Terkait memiliki kedudukan hukum atau legal standing untuk memperjuangkan kepentingan buruh dalam hal jaminan, pemberian upah dan hak-hak finansial lainnya terkait dengan status pailit dari perusahaan yang memperkerjakan mereka.

Bahwa pada Pihak Terkait juga pihak yang memiliki hak konstitusional yang diberikan oleh Pasal 28E ayat (3) UUD 1945, yaitu sebagai kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama di dalam sebuah serikat buruh, Federasi Ikatan Buruh Indonesia serta Pihak Terkait juga memiliki hubungan sebab akibat atau causal verband antara kerugian konstitusional dengan akibat hukum dari pernyataan tidak berlakunya ketentuan undang-undang a quo yang dimohonkan untuk diuji.

Bahwa untuk selanjutnya dasar permohonan Pemohon adalah adanya Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang menyebabkan putusan pengadilan niaga dapat dijalankan terlebih dahulu, sehingga Pihak Terkait berkepentingan secara tidak langsung yaitu apabila permohonan dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi oleh karena Pihak Terkait sebagai organisasi perburuhan yang melakukan advokasi-advokasi terhadap masalah-masalah perburuhan termasuk kepailitan yang terjadi pada perusahaan akan mengalami dampak terhadap ketentuan a quo apabila ketentuan tersebut tidak dibatalkan. Dan buruh sebagai pihak yang bekerja sama pada perseorangan, persekutuan ataupun badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri atau bukan miliknya atau mewakili perusahaan di luar wilayah Indonesia yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain membayar upah atau imbalan

(7)

dalam bentuk lain, akan menjadi kreditur ketika putusan pailit diucapkan.

Dalam Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, diatur mengenai adanya hak kurator untuk melakukan pemutusan hubungan kerja dengan pemberitahuan paling singkat 45 hari sebelumnya. Dengan demikian kurator berdasarkan putusan pengadilan niaga yang putusannya dapat dijalankan terlebih dahulu dapat sewaktu-waktu memutuskan hubungan kerja buruh yang bekerja pada debitur pailit dan tenggang waktu 45 hari sebelumnya. Dan buruh tidak dapat menolak putusan hubungan kerja dilakukan oleh kurator, dikarenakan Pasal 29 dan Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menggugurkan seluruh tuntutan hukum di pengadilan (termasuk Pengadilan Hubungan Industrial) terhadap debitor bahkan sejak putusan pernyataan pailit diucapkan, tidak ada suatu putusan yang dapat dilaksanakan.

Mengenai Argumentasi Pihak Terkait yaitu;

Bahwa dalam ketentuan Pasal 16 ayat (1) UU a quo dinyatakan; “kurator berwenang melaksanakan tugas pengurusan dan/atau pemberesan atas harta pailit sejak tanggal putusan pailit diucapkan meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan kembali.”

Bahwa Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang a quo tersebut di atas, menunjukkan bahwa sejak putusan pernyataan pailit diucapkan, maka putusan tersebut dapat dijalankan walaupun ada upaya hukum biasa dan luar biasa.

Bahwa, pelaksanaan putusan pernyataan pailit berwujud suatu pengurusan dan/atau pemberesan atas harta pailit oleh kurator, yang salah satu kewenangan kurator dalam pemberesan harta pailit adalah tindakan terhadap kelanjutan hubungan kerja/hubungan hukum kreditor preferens buruh dengan debitor pailit. Kewenangan kurator sebagaimana diatur dalam Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, dapat berakibat pada putusnya hubungan kerja yang tidak dapat diajukan keberatan kepada Pengadilan Hubungan Industrial, karena dalam Pasal 29 dan Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah menggugurkan seluruh tuntutan hukum di pengadilan, bahkan sejak putusan pernyataan pailit diucapkan, tidak ada suatu putusan yang dapat dilaksanakan.

Dan untuk selanjutnya, bahwa pada hakikatnya, setiap perusahaan akan mempertahankan dirinya untuk tidak pailit atau bangkrut, karena hal ini selain dapat menyebabkan berhentinya usaha dan pelunasan segala utang piutangnya, juga dapat menyebabkan

(8)

putusnya hubungan kerja yang bekerja, sehingga dapat mengakibatkan pertambahan pengangguran.

Dengan demikian, upaya debitor pailit untuk mempertahankan usahanya dengan mengajukan upaya hukum biasa dan luar biasa adalah suatu upaya yang patut untuk dipertimbangkan. Serta, penyelesaian perkara kepailitan dalam Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidaklah memakan waktu yang terlalu lama. Namun demikian bagi debitor pailit dengan adanya tenggang waktu bagi dirinya untuk tetap bertahan, maka debitor pailit dapat bekerja bersama-sama dengan buruh untuk mencari jalan keluar guna melunasi utang piutang debitor pailit.

Dalam kasus kepailitan yang sedang dialami Pemohon, yaitu betapa Pemohon sangat kesulitan dalam mencari klien/order untuk tetap dapat bertahan dan mempertahankan buruhnya lebih dari 1.000 orang, karena tanggung jawab perusahaan telah dialihkan kepada kurator oleh Pengadilan Niaga berdasarkan Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Bahwa dengan kecemasan buruh Pemohon, dapat kita jumpai dalam aksi-aksi unjuk rasa yang mereka lakukan karena khawatir adanya tindakan kurator dalam memutuskan hubungan kerja dengan mereka (buruh), dan bukan tidak mungkin hal tersebut dilakukan oleh kurator, karena kurator diberikan kewenangan berdasarkan Pasal 39 ayat (1) Undang-undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dan segala perbuatan yang dilakukan oleh kurator (termasuk tindakan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan buruh) tetap sah dan mengikat debitor pailit, walaupun putusan pernyataan pailit dibatalkan dalam tingkatan kasasi atau peninjauan kembali sebagaimana tersebut di dalam Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Bahwa dalam ketentuan Pasal 180 HIR/Pasal 191 RBg, telah ditentukan mengenai syarat-syarat dan ketentuan putusan yang bersifat dapat dijalankan terlebih dahulu dan ketentuan tersebut berlaku di seluruh tingkatan pengadilan tingkat pertama, termasuk seharusnya juga berlaku pada Pengadilan Niaga sebagai pengadilan tingkat pertama. Sehingga, ketentuan Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang sepanjang frasa “meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan kembali”, telah diskriminatif, dan tidak memenuhi rasa kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

Bahwa berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka telah terbukti adanya kerugian konstitusional Pemohon, sehingga ketentuan Pasal 16 ayat (1) UU a quo sepanjang frasa “meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan Kembali”,

(9)

harus dapat dinyatakan bertentangan dengan ketentuan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

Untuk petitum saya lanjutkan oleh kolega saya Lusi Hary Mulianti, terima kasih Yang Mulia.

18. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Silakan.

19. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: LUSI HARY MULIANTI, S.H. Petitum, Berdasarkan uraian tersebut, Pihak Terkait memohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk memeriksa dan memutus Perkara permohonan hak uji materiil Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, dengan amar putusan sebagai berikut: 1. Menerima Permohonan Pihak Terkait sebagai Pihak Terkait.

2. Menyatakan materi muatan Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang sepanjang frasa “meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan kembali, bertentangan dengan Pasal 28 D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Menyatakan materi muatan Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang sepanjang frasa “meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan kembali”, harus dimaknai “setelah adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).

4. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.

Atau, bila Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, Pihak Terkait memohon putusan seadil-adilnya.

Terima kasih.

20. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Iya, jadi sama ya mendukung Pemohon ya? Baik, Pemerintah mau menanyakan? Tidak?

21. PEMERINTAH: DR. MUALIMIN ABDI (KASUBDIT PENYIAPAN KETERANGAN PEMERINTAH DAN PENDAMPINGAN PADA SIDANG MK)

(10)

22. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Cukup.

Oke, sebentar dulu Pemohon, silakan.

23. KUASA HUKUM PEMOHON: ADE YULIAWAN, S.H.

Yang Mulia mengingat Pemohon hadir maka mohon waktu nanti Pemohon diberikan kesempatan untuk menyampaikan keterangan-keteranganya.

Terima kasih Yang Mulia.

24. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Baik, diizinkan silakan, tapi jangan terlalu lama yang mana ini Pemohonnya kan ada dua yang hadir, siapa yang mau?

25. PEMOHON : ROBY PANJAITAN Yang Mulia terima kasih.

Pada kesempatan ini kami juga membawa bahan persentasi supaya persidangan ini cepat, mohon tolong dimunculkan.

26. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Silakan, teknisi.

27. PEMOHON : ROBY PANJAITAN Berikitnya next.

Yang Mulia perlu kami sampaikan bahwa kasus TPI ini sangat unik yang pertama yaitu Pemohon pailit bukan kreditur TPI dan tidak ada saldo Pemohon pailit di TPI. ini harus kita camkan bersama kenapa kami begitu kekukuhannya mempertahankan diri.

Kemudian yang kedua TPI adalah perusahaan yang sehat dan beroperasi dengan normal, itu yang kedua.

Yang ketiga, kasus kepailitan TPI bukan merupakan kehendak TPI untuk pailit, jadi ini merupakan involunter.

Next, berikut kami sajikan fakta kesewenang-wenangan yang terjadi dalam sehubungan dengan Pasal 16 dan 16 ayat (1) dan ayat (2) yaitu pertama kurator membuat pengumuman pailit sebanyak dua kali di media masa yang menurut kami ini terlalu berlebihan, dimana pengumuman kedua itu lebih memprovokasi sehingga membuat bingung semua stakeholder TPI. Nanti kami akan sajikan.

(11)

Kemudian yang kedua memasuki kantor TPI dengan cara yang tidak sopan, kemudian yang ketiga mempekerjakan tenaga yang tidak mempunyai keahlian, baik itu sebagai akuntan publik maupun sebagai pengacara litigasi. Kemudian yang keempat melakukan perubahan rekening bank yaitu khsusnya di BCA dan Bank Mandiri yang atas nama TPI menjadi atas nama kurator. Kemudian melakukan perubahan specimen, tanda tangan menjadi atas nama tersebut tanpa pemberitahuan dan komunikasi dengan hakim pengawas dan menejemen terkait.

Berikutnya, kita lompat ke halaman berikutnya.

Ini yang kami sajikan fakta sebelumnya, tolong halaman sebelumnya yaitu berikutnya, ini kami perlihatkan kepada Yang Mulia bahwa anggota tim kurator itu mencoba identitasnya dimana ini merupakan karyawan dari pemilik pada saat TPI mengalami kesulitan yaitu bekerja di TPI sejak tahun 1994 sampai adanya transaksi kasus surat berharga bodong ini. Ini begitu arogansinya Yang Mulia, di sini kita melihat bagaimana tim kurator mencoba memasuki ruangan tanpa izin. Kemudian juga kita lihat yang kedua itu dimana yang petak itu, salah satu anggota tim kurator juga mencoba memarahi karyawan TPI.

Berikutnya kita masuk ke penggantian specimen. Ini yang terjadi adalah penggantian speciment yang pertama kurator tanpa melakukan konfirmasi kepada direksi TPI meminta Bank Central Asia dan Bank Mandiri untuk melakukan perubahan rekening. Kemudian setelah melakukan perubahan rekening dilakukan lagi perubahan specimen, tanda tangan.

Dampaknya ini adalah pemasukkan ke rekening TPI itu menjadi sangat turun, pemasukkan dana. Di sini kami bisa perlihatkan bahwa sebelumnya itu rata-rata dari collection kami atau aging {sic} piutang kami itu adalah sekitar 1 sampai 30 hari maupun sampai 360 hari. Kalau kita lihat disini piutang kami itu menjadi menumpuk artinya banyak customer kami yang tidak melakukan pembayaran. Kalau kita lihat di sini naik dari 107 menjadi 117%, terjadi kenaikan yang sangat signifikan dari collection TPI, sehingga ini menyulitkan explore TPI pada saat itu.

Kemudian pada halaman berikutnya kami akan melihatkan juga, akibat dari pengumuan kedua itu adalah dimana salah satu butirnya menyatakan bahwa semua perikatan setelah kejadian pailit itu tidak akan dilakukan pembayaran. Nah, akibatnya itu adalah terjadi penurunan atau pendapatan iklan TPI yang sangat signifikan. Kalau kita lihat di sini, di bulan September 2009 kami masih bisa mencapai target itu, sekitar 50-an miliar d50-an itu turun terus menjadi 35 miliar d50-an akhirnya menjadi 39 miliar.

Kalau kita lihat dari persentase, persentasenya itu sangat signifikan yaitu penurunannya itu dari 26 persen menjadi 33 persen.

(12)

Dan ini yang sangat berbahaya Yang Mulia, supplier kami melakukan penundaan pekerjaan dan minta dibayar tunai.

Yang pertama, itu adalah kami sajikan di sini adalah PT Solo Bakti. Yang merupakan kontraktor untuk penguatan struktur atau studio kami. Dengan terjadinya pengumuman-pengumuman yang menjadi kurator ini, pihak vendor kami ini melakukan penundaan pekerjaan yang ini sangat berbahaya karena in, menyangkut penguatan struktur rangka gedung studio 3 dan studio 4 TPI.

Kemudian juga PT Anka Inter Press, dimana yang bersangkutan adalah supplier peralatan studio berupa lampu dan sound system yang tadinya itu transaksinya itu dilakukan oleh time of payment atau periode pembayaran sekitar 3 bulanan itu menjadi minta tunai dibayar tunai. Kemudian juga jangka waktu kredit rata-rata dari PT. Mitra Pesona dan Komando Langgeng itu adalah 2, 3 bulan diminta dibayar tunai.

Selain itu, pengumuman-pengumuman yang dilakukan oleh kurator membuat keresahan di karyawan kami, sehingga di sini kami sajikan ada sekitar 14 karyawan kami pada periode tersebut yang mengajukan pengunduran diri.

Nah, berdasarkan hal tersebut dapat kami simpulkan yaitu dengan adanya tindakan-tindakan yang dilakukan kurator dengan kewenangan yang begitu sangat besar, ya. Yang menyebabkan termasuk melakukan perubahan rekening dan specimen bank TPI ini dapat menggangu operasional TPI dan berpotensi dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi seandainya tidak melakukan perubahan rekening. Artinya kewenangan kurator di sini itu sangat besar.

Kemudian dana penagihan itu turun sangat signifikan. Ini terutama disebabkan oleh pengumuman-pengumuman yang tidak relevan menurut kami yang dilakukan oleh tim kurator yang berpihak ke arah memprovokasi. Sehingga kami menduga, tujuannya itu adalah semakin cepat TPI itu menjadi tidak beroperasi, artinya akan menjadi penjualan aset-aset TPI semakin cepat. Dimana kita ketahui bahwa, fee dari kurator itu adalah ditentukan oleh besaran harta yang dijual.

Kemudian pendapatan iklan juga turun sangat signifikan, kemudian perubahan rekening bank dan specimen menimbulkan kekhawatiran dari para supplier, sehingga supplier menunda pekerjaan di TPI.

Yang terakhir, pengumuman-pengumuman dan tindakan kurator justru semakin memicu kekhawatiran para pemangku kepentingan TPI. Karena kurator tidak memiliki kemampuan menangani industri televisi.

Yang Mulia, mohon maaf saya sampaikan juga pertemuan kami dengan hakim pengawas, kami sudah menyatakan kepada hakim pengawas keberatan kami bahwa tim kurator tidak memiliki keahlian khusus atau pun memiliki keahlian umum mengelola stasiun televisi. Dan pada saat pertemuan pertama dan kedua mereka menyetujui bahwa, pendapat kami itu benar. Sehingga, pada saat itu hakim pengawas,

(13)

ruang pertemuan tersebut karena sudah ditemukan fakta bahwa yang bersangkutan tidak independen. Artinya yang bersangkutan ada dan terlibat dalam melakukan transaksi surat berharga yang menjadi pokok bukti dari kepailitan TPI tersebut. Tapi, namun demikian tim kurator masih memasukan anggota tim tersebut, namun, hakim pengawas dengan segala hormat dapat melakukan deteksi tersebut dan mengusir yang bersangkutan.

Nah, dalam hal pertemuan tersebut sudah dinyatakan bahwa tim kurator akan melakukan perbaikan-perbaikan yang ternyata sampai pada akhirnya tidak terjadi.

Demikian yang dapat saya sampaikan Yang Mulia, terkait dengan begitu besarnya kewenangan yang dimiliki oleh kurator terkait dengan Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang.

Terima kasih.

28. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Baik, kalau begitu saya persilakan dari Majelis Hakim ada yang mau tanya?

Pak Harjono, silakan.

29. HAKIM ANGGOTA: DR. HARJONO, S.H., M.CL Saya mau tanya kepada Pihak Terkait ini.

Pihak Terkait, kesimpulannya memohon supaya apa yang dimohon oleh Pemohon dikabulkan.

Saya tanya dulu, bagaimana sih hubungan Pihak Terkait dengan ketentuan itu? Ketentuan itu kan hanya mengatur persoalan, kapan kurator itu mulai mengambil alih tugas. Lalu, bagaimana Pihak Terkait itu bisa dirugikan oleh pengambilan pengalihan tugas yang begitu putusan kemudian mengambil alih tugas? Karena ada ketentuan yang seperti. Ini Pasal 21 “kepailitan meliputi seluruh kekayaan debitor pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan serta segala sesuatu yang diperoleh selama kepailitan.

Kalau toh itu juga tidak diambil oleh kurator sebetulnya statusnya harta kepailitan sudah sama, statusnya sudah sama dalam judul kepailitan. Yang status seperti itu juga menimbulkan hal-hal seperti ini, debitor demi hukum kehilangan hak-haknya untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan, Pasal 24 juga seperti itu. Oleh karena itu budelnya sudah dinyatakan pailit, lalu menjadi hartanya, artinya harta itu kemudian tidak boleh diutik-utik lagi oleh yang dinyatakan pailit, tidak boleh diutik-utik lagi orang yang punya tagihan sebelum itu dihitung semua. Meskipun toh kurator itu tidak langsung

(14)

sebetulnya tidak ada bedanya sama sekali. Itu diserahkan kurator pada saat putusan, atau 60 hari atau waktu agak molor setelah ada putusan yang berkekuatan hukum mengikat, kepentingan terhadap harta pailit itu sudah sama saja. Coba diceritakan bagaimana kok ada persoalan di situ, saya mohon penjelasan dari Pihak Terkait.

30. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Ya silakan.

31. KUASA HUKUM PIHAK TERAKIT: MERLIANA, S.H.

Terima kasih Yang Mulia akan dijawab oleh Muhammad Hafis 32. PIHAK TERKAIT: M. HAFIS

Ya terima kasih.

Saya sekedar mengutip pernyataan ahli dari Prof. Dr Andi Muhammad Subhan, perkara sebelumnya tentang Kepailitan. Bahwa, beliau menyampaikan kurator pada saat ini sudah melebihi batas kewenangannya dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit. Artinya segala kekuasaan yang diberikan kepada kurator sudah sangat luas, seluas-luasnya. Hubungannya dengan kami sebagai perwakilan dari beberapa kawan-kawan buruh memang tidak ada bedanya ketika putusan pailit diucapkan pada saat di Pengadilan Niaga dengan putusan pernyataan pailit di Mahkamah Agung. Tetapi tentu upaya debitur selaku perusahaan sangat penting dipertimbangkan, agar dalam rentan waktu yang memang singkat dapat bekerja sama dengan buruh untuk memperbaiki kinerjanya, memperbaiki produktivitasnya sehingga debitur diberikan kesempatan untuk memikirkan dan berusaha membayar hutang-hutangnya, terlepas dari apa yang dimohonkan oleh Pemohon, ada beberapa hal yang kami sepakati dan ada beberapa hal yang kami cukup keberatan dengan itu. Jadi di luar dari pada konteks argumentasi Pemohon, kami melihatnya lebih luas lagi bahwa dengan kewenangan kurator, kurator dapat saja melakukan PHK kepada buruh, 45 hari setelah pernyatakan putusan pailit dan ini terjadi di PT Sindol Pratama yang dulu juga pernah kami ajukan. Jadi setelah 8 Agustus 2006 diputus pailit, 45 hari kemudian kurator mengeluarkkan putusan PHK, padahal PT Sindol Pratama sekali lagi masih bisa jalan, masih bisa bekerja dan mencoba melunasi hutang-hutangnya. Jadi kami melihatnya bukan hanya sekedar bertitik tolak pada argumen Pemohon tetapi lebih luas lagi bahwa dengan rentetan waktu antara putusan pernyataan pailit di Pengadilan Niaga dengan Mahkamah Agung, mungkin 2 sampai 3 bulan ke depan pengusaha dengan kami selaku buruh bisa bersama-sama meningkatkan produktivitas kerja sehingga dapat menyelamatkan

(15)

33. HAKIM ANGGOTA: DR. HARJONO, S.H., M.CL Terakhir ya?

Bahwa debitur bisa meningkatkan kinerjanya lalu menutupi hutang-hutangnya. Itu tidak mungkin, kalau sudah ada pernyataan pailit. Karena dalam Pasal 21 “kepailitan meliputi seluruh kekayaan debitur pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan, serta segala sesuatu yang diperoleh selama kepailitan. Jadi kalau toh dia sudah mendapat keuntungan dan itu tidak kemudian dia bisa men-spent itu di luar harta kepailitan, pendapatannya juga masuk sebagai harta kepailitan ya?

34. PIHAK TERKAIT: M. HAFIS

Bukankah ada proses PKPU, perdamaian walaupun misalnya ada putusan pengadilan niaga, kemudian putusan pengadilan niaga dinyatakan, anggap dinyatakan oleh MK tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat berarti kan kurator belum bisa melaksanakan tugasnya untuk melakukan pemberesan harta pailit. Nah selama rentan waktu itulah kemungkinan debitur pailit dengan Pemohon pailitnya itu bisa mengajukan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang).

35. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Baik saya kira cukup ya? kalau begitu, sidang sebenarnya kalau bagi Majelis Hakim itu sudah dianggap selesai dan tinggal sidang berikutnya pengucapan vonis. Meskipun begitu Pemerintah mengajukan ahli misalnya, dipersilakan saja tetapi kalau tidak ya tidak apa-apa.

Jadi begini, kami, ini hari Kamis, kalau hari Senin tidak informasi untuk permintaan sidang berikutnya dari Pemohon maupun dari Terkait. Bagi Majelis Hakim sudah cukup sebenarnya bahan-bahan untuk membuat vonis. Jadi silakan Senin itu berikan informasi ke Kepaniteraan, apakah mengusulkan persidangan berikut untuk menghadirkan ahli atau tidak?

(16)

Kalau misalnya Senin tidak ada informasi itu maka akan beri waktu sampai hari Kamis yang akan datang, untuk menyampaikan kesimpulan dari persidangan ini, ya kesimpulan untuk bahan bagi Majelis Hakim membuat putusan agar bahannya menjadi lebih komprehensif, baru sesudah akan ditentukan sidang berikutnya untuk pengucapan vonis.

Dengan demikian sidang hari ini dinyatakan selesai dan ditutup.

SIDANG DITUTUP PUKUL 10.38 WIB KETUK PALU 3X

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan di dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 ini pengaturannya itu sudah jelas sekali, subjek pajak, objek pajak, tarif pajak, dan lain sebagainya, selama itu Saudara

Yang Mulia Ketua dan Majelis Hakim Konstitusi, terhadap anggapan para Pemohon yang menyatakan bahwa ketentuan Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang

Bahwa dengan disahkan dan diundangkannya berlakunya Undang-Undang Kota Tual telah menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran para Pemohon yang merupakan masyarakat adat dengan

Pemohon adalah perseorangan, di situ sebagai pemilih diantaranya Pilkada yang kebetulan yang menemukan suatu penemuan yaitu memilih angka favorit cukup satu kali langsung kuorum

Itu sebabnya kalau memang tidak ada perlindungan di dalam pasal-pasal lain dalam batang tubuh Undang-Undang KPK barangkali ini yang dilihat atau dilihat oleh Pemohon urgensi

Pertama, dengan prinsip-prinsip negara hukum, prinsip kedaulatan rakyat, asas lexspecialis dan kepastian hukum, karena ada 3 unsur dalam pasal 27 ayat (3) yang justru tidak

Pandangan atas permasalahan atas yang diajukan dalam rangka permohonan uji materiil Pasal 9 ayat (1) huruf G dan Pasal 7 ayat (1) huruf A,B,C, dan D Undang-Undang Nomor 36 Tahun

Kami melihat bahwa berdasarkan pasal ini maka, sebagaimana diajukan perkara ini maka Pemohon adalah perseorangan yang bergabung di dalam wadah Federasi Ikatan Serikat Buruh