MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 1/PUU-VII/2009
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG
PERUBAHAN KEEMPAT UNDANG-UNDANG NOMOR
7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN
TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
(I)
J A K A R T A
KAMIS, 15 JANUARI 2009
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 1/PUU-VII/2009
PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan terhadap Undang-Undang Dasar 1945.
PEMOHON
- Gustian Djuanda
ACARA
Pemeriksaan Pendahuluan (I)
Kamis, 15 Januari 2009, Pukul 10.16 – 10.46 WIB Ruang Sidang Panel Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Prof. Dr. ACHMAD Sodiki, S.H. (Ketua) 2) Dr. H.M. Arsyad Sanusi, S.H., M.Hum (Anggota) 3) Dr. Muhammad Alim, S.H., M.Hum (Anggota)
Pihak yang Hadir: Pemohon :
1. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Sidang Perkara Nomor 1/PUU-VII/2009 dengan acara pemeriksaan pendahuluan, dengan ini saya nyatakan di buka dan terbuka untuk umum.
Saudara Pemohon saya harap memperkenalkan diri terlebih dahulu identitas Saudara dalam kaitan apa Saudara mengajukan permohonan ini.
2. 2. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Terima kasih Bapak Hakim yang terhormat
Perkenalkan nama saya Gustian Djuanda yang beralamat di Jalan Dewi Sartika, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur. Saat ini saya bertugas sebagai dosen specti school of (...) management di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan. Kami mengajukan permohonan uji materil Undang-Undang Pajak Penghasilan Tahun 2008 ini selaku wajib pajak yang merasa dirugikan kepentingan konstitusionalnya, saya rasa sekian.
3. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Pada sidang pertama ini pokok permohonan Saudara dalam persidangan ini menggunakan komputer bisa kalau mau Saudara menggunakan komputer. Kan alat-alat itu kan bisa, biasanya itu Saudara itu kan dosen biasanya pakai (...) Supaya nanti dilayar bisa dilihat dengan jelas nanti ya?
4. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Saya bawa flash disk-nya Pak
5. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H. Flash disk-nya bawa.
Saudara bisa memaparkan secara jelas pasal-pasal mana yang akan diuji dan alasan-alasan pengujian itu, saya persilakan.
SIDANG DIBUKA PUKUL 10.16 WIB
6. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Terima kasih Majelis.
Sesuai dengan surat yang saya sampaikan, maka permohonan uji materil ini adalah permohonan uji materiil Pasal 9 ayat (1) huruf g dan Pasal 1 ayat (7) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 36 ini mulai berlaku 1 Januari 2009 dan sudah ditandatangani oleh Presiden 30 September 2008. Selanjutnya saya mengajukan permohonan ini sebagai kapasitas warga negara yang dirugikan kewenangan atau hak konstitusionalnya. Kepentingan kami adalah bahwa permohonan ini diajukan Pasal 51 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003, jadi Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang tersebut yaitu perorangan warga negara Indonesia. Dan selanjutnya kepentingan Pemohon berkenaan dengan permohonan uji materiil ini adalah karena Pemohon sebagai warga negara Indonesia diberi hak untuk hidup layak dan sejahtera sebagaimana tertulis dalam Pasal 27 ayt (2) Undang-Undang Dasar 1945 selengkapnya berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, ” dan Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang selengkapnya berbunyi “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik, sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.” Bahwa dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan tersebut akan menambah berat beban kehidupan Pemohon dan juga warga negara Indonesia lainnya dan terjadi ketidakadilan pada beban pajak yang ditanggung serta berpotensi menurunkan kualitas hidup generasi penerus bangsa di masa mendatang. Bahwa dengan diberlakukannya Undang-Undang Pajak Penghasilan tersebut khususnya Pasal 9 ayat (1) huruf g dan Pasal 7 ayat (1) huruf a, b, c, dan d bertentangan dengan Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, sehingga merugikan hak konstitusi Pemohon untuk dapat hidup layak, sejahtera lahir dan bathin di bumi tercinta ini dengan fakta yang terjadi pada Pemohon sebagai berikut;
Bahwa Pemohon sebagai dosen STEKPI—School of Bussines and Management, beralamat di Kampus STEKPI Jalan TMP Kalibata ternyata zakat yang disetorkan kepada baitul maal Muamalat yaitu sebuah lembaga amil zakat yang dibentuk dan disahkan oleh pemerintah tidak dapat dikurangkan kepada besarnya penghasilan kena pajak. Hal tersebut di atas terjadi sehubungan dengan adanya alasan dari bendaharawan sebagai pemotong pajak penghasilan karyawan STEKPI
yang mengatakan tidak adanya kolom tentang zakat untuk mengurangkan penghasilan kena pajak di formulir SPT 1721 A1 bukti P1. Jadi dapat dikatakan implementasi fasilitas zakat kena pajak penghasilan seperti diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 sulit dilakukan, namun demikian masih memungkinkan melakukan pengurangan terhadap penghasilan walaupun tidak 100%. Hal ini disebabkan peraturan pelaksanaan dari bentuk Kep Irjen Nomor 163/PJ/2003 tentang perlakuan zakat atas penghasilan dalam penghitungan penghasilan kena pajak yang ditetapkan pada tanggal 10 Juni 2003 dimana Pasal 1 ayat (1) yang selengkapnya berbunyi “zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri, pemeluk agama Islam dan atau wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pedoman Zakat boleh dikurangkan dari penghasilan bruto wajib pajak badan atau penghasilan netto wajib pajak orang pribadi yang bersangkutan, dalam menentukan besarnya penghasilan kena pajak. Artinya zakat dapat dikurangkan terhadap penghasilan kena pajak sesuai amanat Undang-Unang Nomor 17 Tahun 2000 dilanggar oleh Keputusan Dirjen Pajak Nomor 163/PJ/2003 tentang Perlakuan Zakat atas penghasilan dalam penghitungan penghasilan kena pajak yang ditetapkan Jakarta pada tanggal 10 Juni tahun 2003. Hal yang lebih memberatkan Pemohon adalah Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tidak mencantumkan lagi kata-kata yang menyatakan bahwa penyetor atau pembayar zakat mendapatkan fasilitas pengurangan pada besarnya penghasilan kena pajak. Pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tepatnya pada Pasal 9 ayat (1) huruf g tersebut sehingga fasilitas zakat sebagai pengurangan pajak penghasilan tidak ada lagi tanpa memberikan alasan penghapusan secara Konstitusi. Hal ini tentu menambah beban berat kehidupan Pemohon dan seluruh wajib pajak yang selama ini menggunakan fasilitas tersebut harus menanggung beban pajak dan zakat secara keseluruhan.
Fakta lain besarnya PTKP singkatan dari penghasilan tidak kena pajak atas istri tidak bekerja hanya 8,3% dari wajib pajak, maksudnya 8,3% dari PTKP wajib pajak pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 dibandingkan 50% dari wajib pajak dari Undang-Undang No.17 tahun 2000 menyebabkan pemohon harus menanggung beban dibandingkan dengan karyawan lain yang istrinya bekerja, begitu juga besarnya PTKP tanggungan 8,3% dari PTKP Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 dibandingkan 50% dari wajib pajak pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 menyebabkan Pemohon harus menanggung beban lebih besar dengan bertambahnya anak, padahal kebutuhan hidup di Indonesia semakin tinggi sementara kenaikan gaji tidak sebanding dengan kenaikan harga barang sehingga daya beli menurun yang berdampak pada penurunan potensi kualitas hidup, khususnya generasi muda di masa yang akan datang. Hal yang lain menambah
berat kehidupan Pemohon adalah adanya perubahan kebijakan manajemen STEKPI yang tidak lagi memberikan tunjangan pajak pada karyawannya. Pemberian tunjangan pajak ini tidak ada dasar hukumnya berupa pasal yang menyatakan hal tersebut tetapi pada formulir SPT 1321 A1 Nomor 2 memberikan wajah untuk itu, oleh karena itu peraturan pelaksanaan perpajakan diskriminatif terhadap fasilitas pengurang pajak penghasilan, yaitu zakat sudah sangat jelas dasar hukumnya, dipersulit pelaksanaannya sedangkan tunjangan pajak tidak mempunyai dasar hukum dalam Undang-Undang Perpajakan diberikan fasilitas pengurang.
Terakhir, hal yang terakhir yang memberatkan Pemohon ternyata penghitungan pajak PTKP Pasal 7 ayat (1) huruf a,b.c dan d, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tidak berdasarkan kebutuhan hidup minimum, hal ini tentu memberatkan Pemohon yang berpenghasilan tetap. Bahwa, dengan demikian diberlakukannya Undang-Undang pajak Penghasilan tersebut di atas khususnya Pasal 9 Ayat (1) huruf g, dan Pasal 7 Ayat (1) huruf a,b,c,d, bertentangan dengan Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.
Nah pokok perkaranya bahwa dengan telah disahkannya diundangkan dan diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2009 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 ini terutama pada Pasal 9 Ayat (1) huruf g dan Pasal 7 Ayat (1) huruf a,b,c dan d telah mengambil hak konstitusi Pemohon bahwa, yang kedua bahwa
7. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Ini jangan dibaca semua.
8. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Ya itu pokok-pokoknya hampir sama dengan kepentingannya mungkin yang saya perlu disampaikan tambahan halaman 9 Pak, di halaman 9 bahwa di dalam Undang-Undang sebelumnya wajib pajak menyetor bayar pajak dapat dikurangkan penghasilan kena pajak yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 yaitu untuk menentukan besarnya penghasilan pajak terbagi dan bentuk tetap tidak boleh dikurangkan di Undang-Undang Nomor 17 ini Pasal 9 ayat (1) ada pernyataan bahwa kecuali zakat atas penghasilan uang pribadi yang nyata-nyata dibayarkan oleh wajib pajak pemeluk agama Islam atau wajib pajak bagian dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk dan disahkan oleh Pemerintah, sedangkan di Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 hilang, kata-kata ini, kecuali kecuali zakat ini hilang sehingga fasilitas pengurangnya tidak ada lagi. Kemudian tambahan lagi adalah bahwa ternyata motivasi dapat dikurangkannya pembayaran zakat terhadap penghasilan kena pajak yaitu halaman 10 nomor g bahwa
ternyata motivasi dapat dikurangkannya pembayaran zakat dan penghasilan kena pajak secara ekplisit pada penjelasan Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tersebut berbunyi sebagai berikut, pengurangan zakat dari laba pendapatan sisa kena pajak dimasukkan agar wajib pajak tidak terkena beban ganda yakni kewajiban membayar zakat dan pajak kesadaran bayar zakat dapat memacu kesadaran membayar pajak hal ini berarti justru instrumen zakat penghasilan digunakan pemerintah untuk dapat meningkatkan penerimaan pajak, bukti empiris telah terjadi negara Malaysia dalam 5 tahun terakhir penerimaan zakat meningkat yang instrumennya dikenakan pajak secara penuh 100%, bukan seperti di Indonesia yang hanya mengakomodir sebagian. Negara lain yang mengakomodasi sebagai pengguna pajak adalah Amerika Serikat dan Libya. Kalau Libya itu zakat infaq shadaqah adalah pajak. Dari ketiga negara tersebut ternyata pendapatan nasional tumbuh bahkan kerugian masyarakat lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang mempunyai kekayaan negara melimpah tetapi tergolong negara miskin. Hal ini terjadi terhubung realisasi undang-undang tersebut telah dikeluarkan (suara tidak jelas) ini sama dengan yang tadi. Jadi zakat sebagai orang pajak sebagai instrumen sekarang sudah dihilangkan dengan adanya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008. Kemudian mungkin perlu penjelasan mengenai yang nomor 2 itu Pak, bahwa isteri tidak bekerja dan itu ada di halaman 11 bahwa wajib pajak istrinya menerima atau memperoleh penghasilan yang digabung wajib pajak tersebut mendapat tambahan dari tidak kena pajak, untuk istri seorang sebesar lima belas juta delapan empat puluh ribu. Nah wajib pajak ini yang mempunyai anggota sedarah saja atau mempunyai garis lurus yang mempunyai tanggungan sebelumnya misalnya orang tua, mertua, anak angkat diberikan penghasilan kena pajak untuk tarif pajak 3 orang.
Contohnya ini wajib pajak, pada halaman 12 Pak Hakim, 12, wajib pajak A mempunyai seorang isteri dengan tanggungan 4 orang anak, apabila istrinya memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja yang sudah dipotong pajak penghasilan Pasal 21 dan itu tidak ada hubungannya dengan usaha besarnya PTKP kepada wajib pajak A, adalah Rp.21.120.000,- artinya itu berasal dari Rp.15.000.840,- ditambah Rp.1.320.000 yaitu tiga kali hanya mengakui 3 anak. Atau 3 tanggungan, sedangkan untuk istrinya pada saat pemotongan pajak penghasilan Pasal 21 oleh pemberi pajak angka PTKP sebesar Rp.15.000.840, apabila penghasilan isteri harus digabung dengan penghasilan suami besarnya PTKP kepada wajib pajak A ini, Rp.36.960,000, bandingkan dengan yang di atas Pak Hakim, bahwa yang istri tidak bekerja hanya PTKP-nya Rp.21.120.000. Sedangkan yang istri bekerja itu, Rp.36.960.000. Inilah yang merupakan ketidakadilan yang merugikan konstitusi Pemohon sebagai wajib pajak.
Bahwa hal tersebut sangat tidak dapat diterima dengan akal sehat bahwa seseorang yang tidak memiliki penghasilan malah dibebani pajak
yang lebih besar dibandingkan dengan yang memiliki penghasilan. Pemikiran yang diatur dengan undang-undang ini bahwa istri bekerja wajib pajak seperti suami yang bekerja karenanya diperlukan Pasal 7 ayat (1a) yaitu penghasilan tidak kena pajak sebesar Rp.15.840.000. Ini dapat diartikan bahwa pembentuk undang-undang berkontribusi dengan generasi penerus yang lemah baik fisik, emosi spiritual dan dampak lain yang timbul sebagai akibat dari isi yang diharapkan bekerja karena beban pajak yang lebih rendah.
Menurut hemat Pemohon fitrah seorang Ibu, adalah pendidik utama anak-anak serta mengurus rumah tangga yang jauh lebih baik dibandingkan bekerja di luar rumah. Begitu juga sama dengan yang di bawah perlu diberi penjelasan lagi yaitu PTKP untuk tanggungan, yaitu hanya Rp.1.320.000,-per/tahun atau Rp.110.000,-/bulan jadi (….).
9. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Halaman berapa itu?.
10. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Halaman 13 Pak, jadi atas PTKP atas tanggungan yaitu anak, itu hanya Rp.1.320.000,/tahun atau Rp.110.000,/bulan sehingga anak-anak itu kalau minta uang jumlahnya dikasih Rp.3.000,- jatah anak, untuk makan, sekolah dan macam-macam. Ini yang sangat memberatkan Pemohon karena kenyataan biaya pendidikan kesehatan masih mahal padahal PTKP adalah sangat rendah dan hanya mengakui tanggungan tiga orang saja. Untuk itu Pemohon telah, kenapa Pemohon mengajukan ini karena memang, di halaman 17 itu secara rinci dijelaskan bahwa dihapuskannya zakat sebagai pengurangan pajak penghasilan Pasal 9 ayat 1 huruf g pada Undang-Undang Nomor 36 itu kecilnya fasilitas pengurangan pajak yang diterima Pemohon sebagai wajib pajak warga negara Indonesia.
Yang kedua besarnya penetapan PTKP pada Pasal 7 Undang-Undang Nomor 36 tidak berdasarkan kebutuhan hidup minimum, kemudian yang ketiga PTKP untuk istri bekerja lebih rendah dibandingkan dengan PTKP istri bekerja seperti yang tercantum pada pasal 7 ayat 1 huruf c Undang-Undang Nomor 36 terus PTKP tanggungan juga begitu hanya 8,3% dari PTKP wajib pajak dibandingkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 yaitu 50 % dari PTKP wajib pajak.
Nah yang kedua tentang ketidakadilan dalam pembebanan pajak yaitu halaman 18, fasilitas pemberian tunjangan pajak kepada pegawai oleh pemberi kerja yang diperbolehkan oleh Dirjen Pajak seperti tercantum dalam formulir SPT 1721A1 nomor 2 bukti P1 merupakan sebuah ketidakadilan dengan pembebanan pajak secara riil yang dirasakan bagi pegawai yang tidak mendapatkan fasilitas tunjangan
pajak dari pemberi kerja.
Pada kenyataan tunjangan pajak ini sangat dirasakan manfaatnya oleh level top manajemen perusahaan atau institusi dan tenaga ahli asing yang bekerja di indonesia sebagai subyek pajak dalam negeri. Nah ini juga didasarkan oleh kami pimpinan kami Ketua STEKPI itu diberi tunjangan pajak sedangkan semua karyawan STEKPI di bawahnya tidak mendapat tunjangan pajak, ini lah adalah ketidakadilan. Nah ini hal yang dilupakan oleh pembuat undang-undang memasukkan—tidak memasukkan, boleh tidaknya tunjangan pajak.
Kemudian bebannya berapa sehingga kami merasa bahwa ada ketidakadilan, padahal pemberian fasilitas tunjangan pajak ini tidak ada satupun yang eksklusif pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
Nah terakhir halaman 19, oleh karena itu kiranya Ketua Mahkamah Konstitusi cq Majelis Hakim yang terhormat dapat memberikan atau menjatuhkan putusan sebagai berikut:
Yang pertama mengabulkan permohonan Pemohon seluruhnya, yang kedua menyatakan bahwa Pasal 9 ayat (1) huruf g dan Pasal 7 ayat (1) huruf a, b, c, dan d Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 bertentangan dan melanggar Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28B ayat (1) dan Pasal 28H ayat 1 UUD 1945, yang ketiga menyatakan membatalkan Pasal 9 ayat (1 )huruf g dan Pasal 7 ayat (1) huruf a, b, c dan d Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, yang keempat menyatakan Pasal 9 ayat 1 huruf g dan Pasal 7 ayat (1) huruf a, b, c dan d Undang-Undang Nomor 36 tidak mempunyai kekuatan hukum tetap, atau mohon putusan yang seadil-adilnya
demikian
Jakarta 17 November 2008 hormat kami,
11. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Ya, baik tadi Saudara mengemukakan juga tentang apa yang dilanggar oleh Keputusan Direktur Jendral ya? Pajak Nomor Kep 163 ya? Ini tentunya ketentuan yang berada di bawah undang-undang ya? Tentunya itu sudah sering maju ke sini karena sudah banyak ketentuan yang dianggap melanggar undang-undang tapi itu bukan wewenang dari Mahkamah. Saudara mempersoalkan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2000, sementara saya simpulkan itu lebih baik dari pada Undang-Undang 36 Tahun 2009 ya?
12. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
13. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
2008 ya? Jadi ini kita pahami demikian.
Apakah nanti juga setelah ini Saudara nanti juga akan mengajukan saksi-saksi ahli?
14. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Ya, saya akan mengajukan saksi ahli.
15. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Kalau begitu nanti sebelum, nanti dari pihak Pemerintah atau mungkin Departemen Keuangan akan juga menghadirkan saksi-saksi atau keterangan-keterangannya. Jadi dengan demikian sebelum sidang yang akan datang yang akan kita tentukan nanti daftarnya harus sudah masuk dan betul-betul yang bersangkutan dikonfirmasi ya? Supaya benar-benar bisa hadir dan dapat menjelaskan atau memperkuat argumentasi Saudara
Ya, tentunya ini kita akan mendengarkan kedua belah pihak mungkin dari DPR juga akan hadir juga siapa yang akan mewakili dari pihak DPR dalam kaitannya dengan keberatan Saudara ini.
Ada sesuatu yang ingin ditanyakan lagi? Ada?
16. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Mungkin jumlahnya kira-kira berapa Pak?
17. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Jumlah saksi tidak saya batasi, tapi ya kalau Saudara mau membatasi yang sangat-sangat relevan dan yang sangat bisa mendukung argumentasi Saudara itu sangat bijaksana.
Jadi nanti ini sebelum kita tutup sidangnya Saudara mengajukan bukti-bukti surat tidak di sini?
18. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Sudah
19. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
20. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Sudah.
21. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Ada buku kelihatannya.
22. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Iya buku
23. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Kalau ini di anu ini juga harus dimaterai juga ya? Dikasih materai 6000.
24. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Bagaimana? Kan 12 ini Pak, caranya bagaimana?
25. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Satu saja itu di copy saja. Kecuali yang ini undang-undang ya?
26. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Sudah semua Pak, undang-undang saya ambil dari Seskab sama Sesneg
27. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Berapa bukti yang sudah disampaikan ini?
28. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Lima Pak.
29. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Ini dikasih tanda ya?
30. HAKIM KONSTITUSI : H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.
bukti?
31. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Bukti Pak karena di situ dinyatakan tadi untuk kebutuhan hidup minimum ini itu ada perhitungannya Pak. Bahwa sesuai dengan yang di halaman ini kan tadi tidak saya bacakan tadi, kebetulan itu ada perhitungannya.
32. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
P.1 itu mengenai formulir SPT 1721
33. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Iya, saya sudah serahkan di bagian pendaftaran.
34. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
jadi sebaiknya begini saja ini nanti di pojok itu Saudara tandai P.1, jadi ini misalnya begini ini ya? Ini Saudara tandai di atas P.1
Yang kedua mengenai buku pelaporan zakat yang kalau Saudara jadikan bukti ya, di dalam dikasih materai satu ya?
Kemudian Undang Nomor 38 Tahun 1999 Undang-Undang Nomor 17, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 36, ini Saudara dapatkan dimana ini?
35. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Dari SesNeg dan SesKab Pak, langsung dari sana.
36. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Baik jadi ini, kecuali P.1 dan kewajiban Saudara untuk menyempurnakan ini. bukti buku ini disah kan dulu ya?
Jadi formulir SPT 172A1 menyusul ya?
37. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Sudah disampaikan di bagian pendaftaran, Di awal-awal Pak. Jadi mungkin keselip Pak. Kalau belum ada nanti saya coba buat.
38. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Tinggal itu saja
Jadi nanti pada sidang yang akan datang itu Saudara boleh mengajukan saksi dengan daftarnya sekali disampaikan dan dikonfirmasi supaya benar-benar mereka bisa hadir dalam persidangan ini untuk memperkuat argumentasi Saudara ya?
Cukup ya?
Jadi saksi yang akan datang, sidang yang akan datang ini Saudara akan dipanggil secara resmi (...)
39. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Ya.
40. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Dan ini akan kita laporkan dulu dalam sidang apa ini di pleno ya?
41. PEMOHON : GUSTIAN DJUANDA
Ya.
42. KETUA : Prof. Dr. ACHMAD SODIKI, S.H.
Dan itu tadi catatan kita tentang bukti-bukti tentang permintaan supaya Saudara mengajukan daftar saksi-saksi yang dibutuhkan yang akan datang dan nanti resmi Saudara akan dipanggil untuk sidang yang akan datang.
Dengan demikian sidang Perkara Nomor 1/PUU-VII/2009 dinyatakan dinyatakan ditutup
SIDANG DITUTUP PUKUL 10.46 WIB KETUK PALU 3X