MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 31/PUU-V/2007
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007
TENTANG PEMBENTUKAN KOTA TUAL DI PROVINSI MALUKU
TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN (I)
J A K A R T A
SELASA, 18 DESEMBER 2007
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 29/PUU-V/2007
PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 Tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku terhadap Undang-Undang Dasar 1945
PEMOHON
- Johan Fredrik Let Let dkk.
ACARA
Pemeriksaan Pendahuluan (I)
Selasa, 18 Desember 2007, Pukul 10.00 – 10.50 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) I Dewa Gede Palguna, S.H., M.H. (Ketua) 2) Prof. H.A.S Natabaya, S.h., LL.M . (Anggota)
3) Dr. Harjono, S.H., M.CL (Anggota)
Eddy Purwanto, S.H. Panitera Pengganti
Pihak yang Hadir:
Kuasa Hukum Pemohon :
- H. Sapriyanto Refa, S.H., M.H.
- Budi Prasetiyo, S.H.
- Roby Samuel, S.H.
- M. Nazaruddin Salam, S.H.
SIDANG DIBUKA PUKUL 10.00 WIB
1. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Sidang Panel dalam rangka pemeriksaan pendahuluan Perkara Nomor 31/PUU-V/2007 saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
Selamat pagi Saudara-Saudara, selamat datang di Mahkamah Konstitusi. Sebelum persidangan ini dimulai saya persilakan dulu Saudara memperkenalkan diri siapa saja yang hadir, silakan.
KETUK PALU 1X
2. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Ya, selamat pagi Pak.
Kami yang hadir di sini selaku Kuasa dari Pemohon yaitu yang pertama saya Supriyanto Reva dan di sebelah kanan saya Budi Prasetiyo kemudian di sebelah kiri Muhammad Nazarudin dan di belakang saya adalah Roby Samuel, S.H.
Terima kasih.
3. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Ini semua advokat ya? Kalau itu nanti dalam persidangan selanjutnya tolong dipakai ininya ya? Itu ada di aturan di samping juga memang tentu untuk kepentingan Saudara sendiri dan kekhidmatan persidangan itu sendiri. Supaya kita bisa membedakan mana yang advokat mana yang bukan.
Baiklah, jadi permohonan Saudara sudah diterima dengan nomor registrasi sebagaimana tadi juga saya sudah sampaikan Nomor 31/PUU- V/2007 yang pada intinya Saudara memohonkan pengujian formil dan materil atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku terhadap Undang-Undang Dasar 1945. Sebagaimana layaknya dalam persidangan pemeriksaan pendahuluan maka kepada Saudara akan dipersilakan untuk menyampaikan permohonan ini dan kalau misalnya dipandang perlu tidak usah keseluruhan permohonan dibaca tapi mungkin pokok- pokoknya terutama alasan Saudara mengapa Saudara mengajukan permohonan ini dan kerugian konstitusional yang diderita sebagai akibat berlakunya undang-undang ini, itu terutama yang harus dijelaskan dan
yang terakhir lalu apa yang Saudara mohonkan dari Mahkamah, ya silakan.
4. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Ya, terima kasih Bapak Ketua
Pada kesempatan kami akan sampaikan garis besarnya saja dari permohonan yang kami ajukan ini, ini kami mulai yang pertama dari identitas bahwa kami mewakili masyarakat adat Maluku Tenggara.
Masyarakat Maluku Tenggara ini merasa keberatan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Kabupaten Maluku Tenggara.
Kerugian konstitusional yang mereka alami bahwa masyarakat adat Maluku Tenggara ini adalah masyarakat adat yang tergabung dalam persatuan masyarakat adat yang disebut dengan Key Nuwa Eva Kabupaten Maluku Tenggara, merupakan satu kesatuan masyarakat adat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, diikat dengan suatu hukum adat, disebut dengan Larvul Ngabal yang sampai saat ini masih hidup, berpengaruh, dan mempunyai ikatan kekeluargaan sangat kuat yang telah hidup turun temurun di Kabupaten Maluku Tenggara. Selain itu Para Pemohon memiliki hak ulayat dan wilayah kekuasaan adat di seluruh wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, sehingga mempunyai kepentingan dalam pemekaran Kabupaten Maluku Tenggara. Dengan demikian hak konstitusional para Pemohon adalah untuk menjaga agar hak ulayat dan wilayah kekuasaan adat yang dimiliki oleh para Pemohon tetap terjaga sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 18B ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945.
Bahwa dengan disahkan dan diundangkannya berlakunya Undang-Undang Kota Tual telah menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran para Pemohon yang merupakan masyarakat adat dengan satu persekutuan hukum adat yang secara geneologis adalah satu keturunan dengan hak-hak adat atas tanah atau ulayat dan wilayah kekuasaan adat yang dimiliki secara comunal akan timbulnya intervensi negara terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat, membuat mandul atau lemahnya kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat, terbagi/terpecahnya kesatuan wilayah dan masyarakat adat serta timbulnya konflik sosial masyarakat adat sebagaimana terjadi di masa lalu, oleh karenanya berdasarkan Pasal 51 ayat (1b) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, para Pemohon mempunyai kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan pengujian formil dan materiil Undang-Undang Kota Tual terhadap Undang-Undang Dasar 1945 kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Kemudian adapun yang menjadi alasan daripada permohonan ini adalah:
Bahwa pada tanggal 10 Agustus 2007 Presiden Republik Indonesia telah mengesahkan dan mengundangkan berlakunya Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor: 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku,
Bahwa Undang-Undang Kota Tual, baik formil dan/atau materiilnya bertentangan dengan Pasal 18 ayat (1) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 18B ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 20 ayat (1) Perubahan Kesatu Undang-Undang Dasar 1945, dan Pasal 22A Perubahan Kedua Undang- Undang Dasar 1945.
A. Formil
Bahwa berdasarkan Pasal 18 ayat (1) Perubahan Kedua Undang- Undang Dasar 1945 menentukan bahwa, “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dalam undang- undang”.
Bahwa berdasarkan Pasal 20 ayat (1) Perubahan Kesatu Undang- Undang Dasar 1945 menentukan bahwa, “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia memegang kekuasaan membentuk undang-undang”.
Bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 18 ayat (1) Perubahan Kedua dan Pasal 20 ayat (1) Perubahan Kesatu Undang- Undang Dasar 1945, pada tanggal 15 Oktober 2004 Presiden Republik Indonesia telah mengesahkan dan mengundangkan berlakunya Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (selanjutnya disebut Undang-Undang Pemda), sehingga Undang-Undang Pemda harus dilihat dan dibaca dalam satu kesatuan konstitusi dengan Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.
Oleh karenanya pembagian/pembentukan/pemekaran suatu daerah sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 harus mengacu kepada Undang- Undang Pemda. Bahwa berdasarkan Undang-Undang Pemda ternyata bahwa pembentukan pemekaran wilayah Kota Tual Kabupaten Maluku Tenggara tidak memenuhi syarat-syarat administratif, kemudian syarat- syarat teknis, syarat fisik dari pembentukan sebuah wilayah pemekaran sebagaimana dimaksud di dalam Undang-Undang Pemda tersebut. Dan yang kedua bahwa selain itu bahwa Undang-Undang tentang Kota Tual bertentangan dengan Pasal 22 perubahan kedua Undang-Undang Dasar 1945 yang menentukan bahwa ketentuan lebih lanjut tentang cara pembentukan undang-undang diatur dengan undang-undang dengan alasan sebagaimana diuraikan tersebut di bawah ini:
Jadi kemudian setelah kami cermati bahwa Undang-Undang Kota tual ini tidak memenuhi asas-asas pembentukan peraturan perundang- undangan sebagaimana yang dimaksud di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004.
Bahwa Undang-Undang Kota Tual yang disahkan dan diundangkan berlakunya oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 10 Agustus 2007, pembentukannya bertentangan dengan Pasal 20 ayat (1) Perubahan Kesatu dan Pasal 22A Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945 dengan alasan-alasan sebagaimana diuraikan tersebut di bawah ini:
Bahwa pada bagian pembukaan Undang-Undang Kota Tual yang terdiri dari konsideran, jabatan pembentuk undang-undang dan kop surat yang digunakan pejabat yang membentuk undang-undang tersebut adalah Presiden Republik Indonesia, padahal menurut Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang memegang kekuasan membentuk undang-undang adalah DPR-RI. Menurut Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H., M.Si, dkk dalam bukunya “Teori dan Hukum Konstitusi” menyebutkan bahwa kekuasaan legislatif diserahkan kewenangannya kepada DPR.
Dengan demikian, pejabat yang memegang kekuasaan pembentuk undang-undang adalah DPR Republik Indonesia. Oleh karena pejabat pembentuk Undang-Undang Kota Tual adalah Presiden RI, maka pejabat pembentuk Undang-Undang Kota Tual bertentangan dengan Pasal 20 ayat (1) Perubahan Kesatu Undang-Undang Dasar 1945.
B. Materil
Bahwa berdasarkan Pasal 18B ayat (2) Perubahan Kedua Undang- Undang Dasar 1945 menentukan bahwa, “negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak- hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang”.
Bahwa latar belakang maksud dan tujuan dimasukkannya Pasal 18B ayat (2) ke dalam Undang-Undang Dasar 1945 oleh pembuat Konstitusi adalah merupakan pengakuan dan penghormatan negara berdasarkan bahwa Negara Republik Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau dan bermacam-macam suku bangsa, yang masing-masing suku bangsa memiliki hukum adatnya sendiri dan hak tradisionalnya, yang hidup dan mempunyai pengaruh sangat kuat dalam rangka mengatur ketertiban hidup masyarakat adat tersebut. Oleh karena masyarakat adat berhak ikut untuk mengambil bagian dalam pengambilan keputusan tentang hal- hal yang akan berpengaruh terhadap hak-hak mereka. Lewat hak-hak mereka yang akan dipilih sendiri lewat cara pemilihan untuk memperjuangkan hak-hak kolektif dan nasib mereka sebagaimana negara mengakui, menghormati hak tersebut. Termasuk hak untuk otonomi dan pemerintahan sepanjang masyarakat hukum adat masih hidup.
Untuk membuktikan bahwa negara telah melaksanakan sebagaimana kewajiban diatur dalam Pasal 18B di ayat (2) perubahan Undang-Undang Dasar 1945, maka seharusnya negara dalam melakukan
suatu tindakan atau membuat suatu kebijakan yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat hukum adat, maka seyogianya terlebih dahulu melakukan konsultasi dan kerja sama dengan masyarakat hukum adat dalam mengambil langkah-langkah yang patut termasuk tindakan- tindakan legislatif yang kesemuanya dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta adil dan makmur.
Bahwa dengan dimekarkannya Kabupaten Maluku Tenggara menjadi Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual dengan cakupan wilayah dan batas-batas wilayah sebagaimana diatur dalam Bab II Bagian Kesatu Pasal 2, Bagian Kedua Pasal 3, Pasal 4 dan Bagian Ketiga Pasal 5, dan Pasal 6 Undang-Undang Kota Tual mengakibatkan terbaginya atau terpecahnya hak-hak adat atas tanah atau ulayat dan wilayah kekuasaan adat Para Pemohon yang dimiliki secara komunal.
Seharusnya negara memberikan pengakuan dan perlindungan hukum atas tanah, wilayah dan sumber daya yang dimiliki masyarakat hukum adat yang merupakan satu bentuk perwujudan dari pengakuan negara terhadap adat, tradisi dan sistem pemanfaatan tanah dari masyarakat hukum adat yang hidup di daerah tersebut. Pengakuan dan perlindungan hukum yang dilakukan oleh negara terhadap masyarakat hukum adat merupakan kewajiban negara yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang harus dipenuhi.
Oleh karenanya dalam setiap tindakan atau membuat sebuah kebijakan yang berhubungan dan mempunyai dampak terhadap masyarakat hukum adat seyogianya negara melakukan konsultasi dan meminta persetujuan dari masyarakat hukum adat. Tindakan penolakan yang dilakukan Pemohon terhadap pemekaran Kabupaten Maluku Tenggara dapat diartikan sebagai tindakan tidak menyetujui dilakukannya pemekaran Kabupaten Maluku Tenggara.
Dengan demikian tindakan negara melakukan pemekaran Kabupaten Maluku Tenggara sebagaimana diatur dalam Bab II Bagian Kesatu Pasal 2, Bagian Kedua Pasal 3, Pasal 4 dan Bagian Ketiga Pasal 5, dan Pasal 6 Undang-Undang Kota Tual bertentangan Pasal 18B ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu terdapat kontradiksi antara Pasal 3 tentang Cakupan Wilayah dan Pasal 5 tentang Batas Wilayah dengan Lampiran Peta Wilayah Kota Tual yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang Kota Tual.
Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Kota Tual berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, mencakup 4 (empat) kecamatan yaitu: Kecamatan Dullah Utara, Kecamatan Dullah Selatan, Kecamatan Pulau-Pulau Tayando-Tam dan Kecamatan Pulau-Pulau Kur, dan berdasarkan Pasal 5 ayat (1) Kota Tual mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:
- Sebelah utara berbatasan dengan Laut Banda;
- Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Maluku Tenggara di Selat
Nerong;
- Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Pulau-Pulau Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara dan Laut Arafura; dan
- Sebelah barat berbatasan dengan Laut Banda.
Akan tetapi berdasarkan Peta Wilayah yang tercantum dalam Lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang- Undang Kota Tual, Wilayah Kota Tual mencakup 7 (tujuh) Kecamatan, yaitu Kecamatan Dullah Utara, Kecamatan Dullah Selatan, Kecamatan Kei Kecil, Kecamatan Kei Kecil Timur, Kecamatan Kei Kecil Barat, Kecamatan Pulau-Pulau Tayando-Tam dan Kecamatan Pulau-Pulau Kur, dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah utara berbatasan dengan Laut Banda;
- Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Maluku Tenggara di Selat - Nerong;
- Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arafura; dan - Sebelah barat berbatasan dengan Laut Banda.
Hal ini membuktikan bahwa pembentukan Undang-Undang Kota Tual dilakukan secara tergesa-gesa dan tanpa kajian mendalam dan komprehensif.
Bahwa dengan disahkan dan diundangkan berlakunya Undang- Undang Kota Tual telah menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi Para Pemohon yang merupakan satu kesatuan masyarakat hukum adat yang secara geneologis adalah satu keturunan dengan hak- hak adat atas tanah/ulayat yang dimiliki secara komunal. Para Pemohon cemas dan khawatir akan timbulnya intervensi negara terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat, membuat mandul atau lemahnya kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat, terbagi/terpecahnya kesatuan wilayah dan masyarakat adat Para Pemohon.
Berdasarkan fakta-fakta hukum yang telah para Pemohon uraikan sebagaimana tersebut di atas, terbukti menurut hukum bahwa Undang- Undang Kota Tual bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.
Oleh karenanya para Pemohon mohon kepada Ketua Mahkamah Konstitusi untuk berkenan memeriksa permohonan para Pemohon dengan memberikan putusan yang amarnya berbunyi sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Pemohon.
2. Menyatakan bahwa pembentukan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku tidak memenuhi ketentuan pembentukan undang-undang berdasarkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
3. Menyatakan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan/atau;
4. Menyatakan materi muatan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
5. Menyatakan materi muatan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Demikian permohonan ini kami sampaikan, hormat kami H.
Sapriyanto Refa, S.H., M.H., Budi Prasetiyo, Nazarudin Salam, M.
Nahwan Matdoan, S.H.,dan Roby Samuel, S.H.
Terima kasih.
5. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Baik, terima kasih Saudara Pemohon,
Kalau secara sistematika tampaknya permohonan ini sudah cukup sistematis. Tapi nanti akan ada beberapa hal yang mungkin akan diberikan nasihat kepada Saudara karena itu diwajibkan kepada kami untuk memberikan nasihat kepada Pemohon dalam pemeriksaan pendahuluan ini yang tujuannya adalah untuk kelancaran pemeriksaan persidangan ini selanjutnya dan kejelasan dari permohonan dan kejelasan dari Pemohon. Sehubungan dengan itu begini, ada beberapa hal yang ini dari saya dulu dan barangkali akan ditambahkan dari Bapak Hakim anggota yang lain.
Yang pertama adalah jelas bahwa permohonan ini Saudara maksudkan adalah mengatasnamakan Pemohon sebagai dalam kualifikasi sebagai masyarakat hukum adat. Hal yang disebutkan di dalam permohonannya, ini yang hendak disampaikan bahwa harus dibedakan antara masyarakat adat di satu pihak dengan masyarakat hukum adat, karena itu jelas sekali. Ada perbedaan, apa perbedaannya?
Silakan Saudara lihat itu di dalam literatur, Saudara tahu dalam ajaran, apa perbedaan antara masyarakat adat dengan masyarakat hukum adat?
Yang jelas adalah tidak setiap masyarakat adat adalah otomatis masyarakat hukum adat. Dan tidak setiap masyarakat hukum adalah masyarakat hukum adat, itu pasti berbeda, itu dijelaskan!
Kalau yang diatur di dalam Pasal 51 ayat (1) huruf b adalah jelas yang dimaksud di situ masyarakat hukum adat. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi di situ yaitu yang pertama, bahwa masyarakat hukum adat itu adalah masih hidup. Yang kedua bahwa masyarakat hukum adat itu sesuai dengan perkembangan masyarakat, itu persyaratan yang disebutkan. Dan yang ketiga bahwa masyarakat hukum adat itu tidak bertentangan dengan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Dan yang keempat bahwa masyarakat hukum adat itu ada pengaturannya dalam undang-undang. Itukan disebutkan, coba Anda teliti di dalam Pasal 51 ayat (1) huruf b dan itu berkorelasi dengan Pasal 18B yang Saudara kutip itu di dalam Undang-Undang Dasar, persis seperti itu rumusannya. Artinya kalau Saudara mengatasnamakan atas nama masyarakat hukum adat bukan masyarakat adat, itu unsur-unsur itu harus Saudara jelaskan. Mengapa dia masih hidup, buktinya apa?
Apakah dia sesuai dengan perkembangan masyarakat? Saudara jelaskan.
Apakah sesuai dengan prinsip negara kesatuan dan pengaturannya di dalam undang-undang bagaimana? Jelaskan dulu. Baru dari situ kemudian masuk kepada persoalan mengapa masyarakat hukum adat yang mengajukan permohonan ini dirugikan oleh berlakunya Undang- Undang Pembentukan Kota Tual itu, begitu logikanya bukan? Mengapa dirugikan? Mungkin di dalam permohonan sudah Saudara sebutkan, tapi tentu kerugian itu tidak boleh hanya berupa kecemasan seperti yang Saudara sampaikan dalam halaman 7 itu pada angka 2, tapi harus lebih nyata tampak bahwa kerugian itu, kalau syarat kerugian konstitusional sebagaimana, mungkin Saudara sudah membaca putusan-putusan Mahkamah Konstitusi. Salah satunya bahwa kerugian hak konstitusional itu kalaupun tidak nyata-nyata terjadi atau tidak faktual terjadi dia potensial terjadi yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan bahwa itu akan terjadi dengan diberlakukannya undang-undang ini, begitu. Itu harus Saudara jelaskan di dalam permohonan, saya kira itu sementara dari saya yang berkaitan dengan substansi permohonan itu dulu, mungkin dari Bapak-Bapak Hakim yang lain Pak Natabaya, silakan.
6. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S. NATABAYA, S.H., LLM.
Saudara Pemohon, mencermati permohonan Saudara, saya bacakan permohonan Saudara, yang bertanda tangan di bawah ini nama Saudara-Saudara bertindak dan untuk atas nama 1, 2, 3, dan 4 dan semuanya ini pribadi ya, apakah betul?
7. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Betul.
8. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S. NATABAYA, S.H., LLM.
Bertindak untuk atas nama, nama Johan Fredrik Let Let, nama Mohammad Tayeb Matdoan, nama Fredrik Julius Renel, nama ini semua pribadi. Lantas selanjutnya dalam hal ini berdasarkan Akta Kuasa Nomor 07 tertanggal 27 November 2007 yang dibuat di hadapan Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah Hengki Tengko, S.H. bertindak selaku Penerima Kuasa, nama Nasir Leisubun, Ricky Elkel, Farneubun Bernadus,
Burhan Rusbal, Julius Matius Lutur, Paulinus Taulain terus sebenarnya sampai 25, ini pribadi ya?
9. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Ya.
10. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S. NATABAYA, S.H., M.H.
Pribadi? Betul bukan? Ini saya baca di sini yang masing-masing bertindak dan atas nama, persatuan masyarakat hukum adat, ini masyarakat hukum adat yang mana yang bertindak ini, yang pribadi 25 ini? Ini perlu Saudara jelaskan ini, inikan pribadi-pribadi semua ini, sebab apa yang dikatakan oleh Bapak Ketua Panel tadi yang mempunyai legal standing itu adalah masyarakat hukum adat yang masih hidup, yang tidak bertentangan dengan prinsip Negara NKRI dan yang diatur dalam undang-undang, ini Anda harus buktikan. Kalau melihat dari permohonan Saudara ini pribadi semua ini. Apa yang dimaksudkan masyarakat hukum adat itu apa? Itu harus Anda tahu itu, masyarakat hukum adat itu adalah sesuatu subjek, suatu susunan pemerintahan yang berada di daerah terpencil itu. Kalau di Bali namanya subak, kalau di tempat saya dulu namanya marga, kalau di Sumatera Barat itu namanya nagari, kalau di Aceh itu namanya gampong, ini harus jelas kalau ini namanya pribadi semua hanya mengatasnamakan masyarakat adat, lantas ini ada pengujian formil. Hal yang mau saya tanya adalah sesuai dengan ketentuan ini Pasal 5 ini Anda mengajukan formil, ini tidak jelas juga di dalam permohonan Anda ini, kalau ini formil mengenai syarat-syarat pembentukan kota itu yang diatur di dalam undang-undang itu. Di dalam Pasal 5 ini ada dua syarat yaitu satu, ada persetujuan DPRD, kedua ada rekomendasi daripada Menteri Dalam Negeri, Saudara tidak mengatakan apakah tidak ada persetujuan DPRD itu?
11. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Ada Pak.
12. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S. NATABAYA, S.H., LLM.
Nah ada, lantas apakah tidak ada rekomendasi dari Menteri Dalam Negeri? Ada tidak?
13. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Ada Pak tetapi tidak melalui proses dari bawah.
14. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S. NATABAYA, S.H., LLM.
Tunggu, tunggu dulu ini undang-undang berbicara dalam prosesnya itu. Jadi kalau Anda mengatakan untuk formil, kalau ini tidak ada baru itu bisa formil. Kalau ini ada formilnya ada, persetujuan ada, rekomendasi dari Menteri Dalam Negeri ada, sebab tidak mungkin DPR pusat itu membuat undang-undang pembentukan Kotamadya Tual itu itukan peningkatan ya dari kota administratif? Kalau tidak ada syarat- syarat ini, inikan syarat. Kalau masalah materiilnya itu Anda harus buktikan bahwa pasal itu memang bertentangan dengan hak yang dimiliki oleh masyarakat hukum adat itu dan apa kerugiannya, ini harus jelas. Dan saya melihat ini belum lengkap ini belum disebut yang mana kerugiannya itu. Dalam hal ini hari ini kita hanya memeriksa itu menurut Pasal 39 daripada Undang-Undang Mahkamah Konstitusi kami itu mempunyai kewajiban saya bacakan ya? “Sebelum memulai memeriksa pokok perkara Mahkamah Konstitusi mengadakan pemeriksaan kelengkapan kejelasan materiil permohonan,” inilah tugas kami ini.
Dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Mahkamah Konstitusi wajib memberi nasihat kepada Pemohon untuk melengkapi dan atau memperbaiki permohonannya dalam jangka waktu paling lambat empat belas hari, inilah tugas kami pada pagi hari ini memberi nasihat, kalau Anda terima ya terima, tidak mau terima ya monggo, itu urusan atau terserah Saudara.
15. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Terima kasih Bapak Hakim Anggota Prof. H.A.S. Natabaya,
Saudara, di permohonan inikan pengujian materil itu Saudara memohon beberapa pasal yang menurut Anda atau menurut Pemohon bertentangan dengan Undang-Undang Dasar yaitu Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 4, 5, dan Pasal 6. Tetapi di dalam permohonan ini memang harus dijelaskan, dikutip dulu mungkin pasalnya, apa bunyinya? Lalu Anda berikan argumentasinya mengapa bertentangan dengan hak masyarakat hukum adat, kalau ini beda. Jadi Anda harus menjelaskan dulu masyarakat hukum adatnya itu kemudian syaratnya sudah terpenuhi setelah Saudara jelaskan bahwa dengan demikian istilah yang Anda sebutkan di sini memenuhi kriteria sebagai masyarakat hukum adat dan tidak bertentangan dengan atau memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud pada Pasal 51 ayat (1) huruf B Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003, kalau sudah memenuhi syarat kemudian Saudara dapat buktikan bahwa karena dia sudah memenuhi syarat maka barulah kemudian hak-hak itu muncul, Saudara jelaskan hak apa itu? Ini, ini, ini lalu ada pasal yang bunyinya seperti ini, hak itu menjadi dirugikan itu begitu mudahnya memahami permohonan ini, itulah bagian dari tadi disampaikan Profesor Natabaya khusus untuk pengujian materiilnya, jadi ada ketentuan. Jadi pasalnya di kutip dulu dan kemudian mengapa jadi
bertentangan dengan hak-hak konstitusional dan dari masyarakat hukum adat itu dengan asumsi bahwa Saudara di depan telah berhasil membuktikan bahwa pihak yang Saudara wakili atau yang mengajukan Permohonan ini adalah benar-benar merupakan kesatuan masyarakat hukum adat yang memenuhi kriteria yang memenuhi Pasal 51 ayat (1) huruf B dari Undang-Undang Mahkamah Konstitusi paham ya maksud saya? Baik, Bapak Hakim Anggota Dr. Harjono, silakan.
16. HAKIM KONSTITUSI : Dr. HARJONO, S.H., M.CL.
Terima kasih Bapak Ketua.
Saudara Kuasa Pemohon ini namanya H. Sapriyanto Refa, S.H., M.H., Marwan Nadwan, lalu Roby Samuel, S.H., M. Nazaruddin Salam, S.H., saya sebut satu-satu ini kira-kira Anda tahu persis tidak masyarakat hukum adat yang Anda terima kuasanya ini bentuknya apa? Tahu persis tidak itu? Atau hanya lewat surat kuasa ini saja, kemudian Anda tahu itu ada masyarakat hukum adat seperti itu? Saya coba identifikasi nama ini ada yang dari sana tidak, maksud saya seperti itu, ada tidak?
17. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Kami tidak berasal dari sana, tapi berdasarkan informasi dari mereka.
18. HAKIM KONSTITUSI : Dr. HARJONO, S.H., M.CL.
Oke, oleh karena itu perlu lebih dalam karena Mahkamah ingin mendapat suatu kepastian, bahwa Anda ini kuasa yang akan melakukan atau bertindak dan atas nama, itu kalau di halaman 6 itu yang masing- masing bertindak untuk dan atas nama Persatuan Masyarakat Adat.
Persatuan Masyarakat Adat itu disebut sebagai rat atau rangkaye kalau itu di Key. Nuhu Efaf kalau itu di Kabupaten Maluku Tenggara seperti itu.
Sekarang persoalannya adalah yang Anda wakili itu Persatuan Masyarakat Adat, kalau Anda mewakili Persatuan Masyarakat Adat itu ada dua hal yang harus dipertimbangkan. Apakah Persatuan Masyarakat Adat itu sendiri yang diwakili 25 orang itu, itu sama dengan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat sebagaimana dimaksud oleh Pasal 51. Nanti setelah Anda teliti oh sama, oh tidak, bisa seperti itu. Yang kedua adalah apakah di dalam Persatuan Masyarakat Adat terdapat beberapa masyarakat hukum adat iya kan? Itu harus jelas dulu. Itu baru berangkat dari persoalan siapa yang Anda wakili, nanti juga menyangkut 25 orang ini, 25 orang ini kedudukannya dalam Persatuan Masyarakat Hukum Adat itu apa? Atau mungkin mereka masing-masing menjadi anggota masyarakat hukum adat, sebagai apa? Ini secara berpikir urutannya.
Yang kedua adalah persoalan masih menyangkut itu, kalau saya baca pada halaman 7, halaman 7 modal legal standing B itu pada angka
2 yang di bawah sendiri itu, sudah dapat halaman 7-nya? Di situ Anda katakan “bahwa para Pemohon adalah para pemangku adat.” Anda mengintrodusir satu lagi kata “pemangku adat”, apakah ke-25-nya itu pemangku adat? Karena saya lihat di situ mereka kepala desa semua, apa hubungan kepala desa dan pemangku adat? Di pemangku adatnya tidak dijelaskan, masing-masing nama adalah agama, kepala desa, desa ini lalu pemangku dan kepala desa ini hubungannya apa itu?
19. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Di dalam masyarakat sana, mereka yang menjadi kepala desa adalah pemangku adat di wilayahnya.
20. HAKIM KONSTITUSI : Dr. HARJONO, S.H., M.CL.
Itu Anda jelaskan nanti ya, padahal itu tidak dijelaskan pada masing-masing identitas itu bukan? Pemangku adat tergabung dalam persatuan ini lagi, lalu disebutkan di situ merupakan satu kesatuan masyarakat adat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, diikat dengan satu hukum adat disebut sebagai larful ngabal. Coba beri gambaran tentang ini, apa ini? Kesatuan Masyarakat Hukum Adat yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain ini bentuknya bagaimana? Karena masyarakat adat itu ada diikat oleh ikatan teritori, ada bisa diikat oleh ikatan geneologis. Seberapa kuat, katakan saja koesifitas dari yang Anda sebut sebagai masyarakat hukum adat ini? Apa masyarakat hukum adat ini kemudian—meskipun ada orang Key atau orang Key Nahu Tufewa kemudian sudah tinggal di Jakarta dia masih diikat oleh masyarakat hukum adat ini atau tidak? Kita masih belum dapat gambaran, yang Anda sebut masyarakat hukum adat itu bagaimana? Apakah seorang Key yang ke sini itu kemudian masih diikat oleh hukum adatnya, bentuknya apa ikatan itu?
Kemudian lalu ini juga masih diikatkan, dikaitkan dengan suatu masyarakat hukum adat disebut dengan Larfal Nabal yang sampai saat ini masih hidup, berpengaruh dan mempunyai ikatan kekeluargaan sangat kuat, ini antara dua hal, ini wujud pengaruhnya apa? Apakah pengaruh sebagai pimpinan karena dia adalah pemangku adat ataukah dia memang masih dalam struktur masyarakat adat itu sendiri? Mungkin dia sudah tidak ada kedudukan strukturnya, tapi masih berpengaruh, gambarannya orang di Jawa mungkin dengan gelar Raden itu masih punya pengaruh, tapi dia kenyataannya juga sama dengan masyarakat biasa, ini ada kata “berpengaruh” ini bagaimana? Apakah berpengaruh itu dalam arti dalam struktur itu masih ada kedudukan, masih ada hukum-hukumnya yang mengikat pada dia, masih ada strukturnya atau karena pengaruh karena itu sisa, tinggalan dia dulu adalah raja-raja, datuk-datuk, apa seperti itu? Nanti disampaikan saja, tapi itu perlu kita
untuk mendapatkan gambaran. Anda tidak perlu menjawab sekarang, yang diperlukan adalah nanti itu akan muncul pada perbaikan.
Hal yang berikutnya ada persoalan dengan halaman 8 angka 3, bahwa “dengan disahkan Undang-Undang Kota Tual telah menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran para Pemohon yang merupakan masyarakat dengan satu persekutuan hukum adat.” Nah, ini muncul kata hukum, tadi belum, masyarakat dengan satu persekutuan hukum adat yang secara geneologis. Ini persoalannya adalah persekutuan adat secara geneologis ini lalu menjadi terganggu bagaimana dengan Undang-Undang Kota Tual itu, yang terganggu apanya? Apakah katakan saja masyarakat hukum adat ini mempunyai suatu kewenangan, mempunyai suatu kekuasaan katakan saja untuk membagi-bagi tanah di dalam wilayah hukum adat itu atau untuk menyatakan bahwa atau masalah tanah adat yang masih dikuasai secara riil oleh masyarakat itu, penguasaan itu pun juga diakui katakan saja oleh Undang-Undang Pokok Agraria. Nanti kalau sudah ada Kota Tual seolah-olah kemudian itu hilang, ini harus jelas apa yang kemudian menjadikan sebab bahwa keberadaan Undang-Undang Kota Tual itu sudah berada, sudah efektif lalu persekutuan hukum adat ini yang secara geneologis ini dipengaruhi, karena disebut di sini, “hak-hak adat atas tanah ulayat, apa wujud hak atas tanah itu yang masih ada apa?
Kalau atas tanah itu apakah dia bisa memiliki bidang-bidang tanah dengan hak-hak adatnya yang kalau itu kemudian ada Kota Tual, kemudian itu bisa hilang? Apakah kemudian hak ulayatnya itu berupa apa? Mengambil kayu ataukah juga mempunyai tempat gembala. Hak ulayat tidak selalu pada tanahnya, mungkin hak di atas tanahnya, karena dengan demikian nanti bisa jelas bahwa itu kemudian bisa disimpulkan mungkin saja keberadaan Kota Tual itu bisa mengganggu hal demikian.
Yang berikutnya adalah apakah pernah ada ketentuan peraturan daerah yang kemudian memberi kedudukan kepada masyarakat adat itu, apapun namanya bahwa Perda telah menguatkan bahwa ini sebagai sebuah masyarakat hukum adat diakui hak-haknya karena di tempat- tempat lain ada itu. Umpamanya saja di Jambi kalau tidak salah itu ada, kemudian diakomodasi keberadaannya, ini ada tidak seperti itu? Apalagi Anda menyebut akan timbulnya intervensi negara terhadap kesatuan masyarakat hukum adat, wujudnya apa intervensi yang dikhawatirkan itu? Apakah hak-haknya akan hilang, hak apa saja? Membuat mandul dan lemahnya kesukuan masyarakat hukum adat, ini apa? Ini supaya dirinci. Maksud-maksud hal-hal itu tidak lain bermaksud untuk meyakinkan kita bahwa gambaran masyarakat hukum adat itu memang ada, tidak hanya disebut saja masyarakat hukum adat. Oleh karena itu kalau perlu ya para Pemohon ini yang bisa menjelaskan masyarakat hukum adat itu ada karena Anda tidak ada di sana itu bisa hadir sendiri coba berikan gambaran masyarakat hukum adat itu bagaimana yang ada di sana? Baru kemudian nanti Anda masuk ke persoalan hak-hak itu, ini masih bicara legal standing. Tapi karena di situ sudah dijelaskan tadi
hak-hak masyarakat hukum adat lalu Anda akan bisa menjelaskan nanti itu akan hilang kalau kota Tual ini ada lalu bisa mulailah keberuntutan dari permohonan Anda ini bisa kita tangkap maksudnya. Saya kira itu yang bisa saya sumbangkan Pak.
Terimakasih.
21. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Sudah cukup paham ya? Jadi begini Saudara, saya beritahukan saja bahwa dalam pengujian permohonan undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar itu memang lebih susah kalau Saudara mendalilkan atau berkualifikasi sebagai kesatuan masyarakat hukum adat, bukan lebih susah apanya tapi menjelaskan bahwa Saudara itu sebagai kesatuan masyarakat hukum adat sesuai untuk bisa diterima legal standing-nya, itu yang sulit. Tentu beda dengan perorangan, kalau perorangan Warga Negara Indonesia cukup dilihat dengan KTP, oh ya dia sudah perorangan Warga Negara Indonesia, dia memang memiliki hak konstitusional, lebih mudah, lebih singkat. Tapi ini memang harus detail, Saudara harus detail menjelaskan itu. Sebab ada persoalan begini, lupa saya sampaikan, yang saya nasihatkan, begini, umpamanya Saudara katakanlah benar, Saudara sudah dapat membuktikan bahwa apapun istilahnya yang Saudara sampaikan itu adalah kesatuan masyarakat hukum adat, misalnya benar begitu, dapat diterima. Saudara jelaskan dengan baik umpamanya.
Persoalan yang kedua adalah karena ini akan bertindak di pengadilan maka pertanyaannya siapa yang dalam ketentuan masyarakat hukum adat itu yang berwenang untuk bertindak untuk dan atas nama mereka. Sebab ini tidak boleh terjadi klaim, misalnya klaim nanti kepala desa mengklaim dia bertindak atas nama hukum adat, entah kepala sukunya atau apa namanya yang menurut kepala hukum adat sendiri dia yang seharusnya berwenang, itu tidak betul itu permohonan itu, kami tidak pernah berwenang memberikan ini.
Gambarannya begini Saudara bahkan Ketua DPR pun tidak bisa atau tidak dapat dia bertindak mengatasnamakan DPR, kecuali bahwa bertindaknya dia di depan pengadilan di depan Mahkamah ini adalah sudah melalui keputusan rapat pleno, karena dia ketua bukan kepala walaupun di dalam undang-undang dia dapat mewakili di dalam maupun di luar persidangan. Tetapi mekanismenya adalah dia harus melalui rapat pleno dulu baru dia bertindak, maka itu dia disebut speaker ya sebagai juru bicara saja sebenarnya.
Dan yang kedua hati-hati Saudara apabila menggunakan istilah intervensi negara, tidak semua intervensi negara itu tidak boleh, namanya negara kesatuan masak tidak boleh, tapi dalam hal apa?
Misalnya intervensi negara terhadap hak-hak yang sudah diakui secara konstitusional, itu merupakan hak konstitusional masyarakat hukum adat, nah di situ mungkin negara tidak boleh mengambil secara semena-
mena, itu barangkali yang Saudara maksud. Kalau intervensi negara untuk mengatur secara inikan boleh saja. Makanya ada pembentuk undang-undang yang boleh membagi, memekarkan atau bahkan menyatukan wilayah dan sebagainya itukan intervensi juga namanya.
Jadi istilah-istilah itu memang akan membawa konsekuensi kalau Saudara gunakan di dalam sebuah permohonan yang formil seperti di Mahkamah Konstitusi itu, jangankan itu, Saudara salah menempatkan koma saja bisa salah artinya misalnya itu, itu membawa konsekuensi tersendiri. Oleh karena itu tolong dijelaskan secara lebih detil.
Kepada Saudara, Saudara tidak perlu menanggapi ini karena itu bagian dari nasihat. Anda diberikan waktu empat belas hari sejak sekarang untuk melakukan perbaikan dan tolong nanti dicatat baik-baik apa yang sudah disampaikan oleh Mahkamah dan jika dalilnya adalah Saudara bertindak mengatasnamakan masyarakat hukum adat maka hal- hal yang tadi itu harus benar-benar tampak. Sebab kalau tidak begitu resikonya Anda sebagai advokat tentu tahu kalau Pemohonnya atau permohonannya tidak memenuhi syarat maka menurut Pasal 56 di ayat (2) itu, maka permohonan akan dinyatakan tidak dapat diterima alias NO karena tidak memenuhi syarat, sehingga substansi tidak akan diperiksa.
Oleh karena itulah pentingnya keterperincian uraian khususnya mengenai legal standing itu untuk membuktikan bahwa Saudara memang mempunyai legal standing untuk mengajukan permohonan ini begitu, apalagi ini dua yang diujinya formil maupun materil. Nah, ini jadi syarat legal standing ini mohon benar-benar diuraikan secara detail dulu.
Oleh karena itu maka bukti-bukti yang Saudara diajukan itu belum dapat disahkan sekarang, nanti pada persidangan berikutnya karena ini satu hal yang fundamental yang harus Saudara perbaiki ini. Memang betul itu, jangan-jangan bukan nanti masyarakat hukum adat, itu resikonya tentu akan jadi berbeda mungkin permohonan ini harus ditarik misalnya begitu ya, kalau bukan. Tentu akan lain ceritanya kalau benar- benar Saudara bisa menguraikan bahwa ini adalah masyarakat hukum adat yang diatur Pasal 51 ayat (1) huruf b dari Undang-Undang Mahkamah Konstitusi.
Apakah ada yang masih belum jelas Saudara?
22. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Ada satu hal yang ingin kami tanyakan Pak, kalau tadi menyimak apa yang disampaikan oleh Majelis tadi memang ada beberapa hal yang harus kami perbaiki. Mungkin satu hal yang prinsip karena ini berkaitan dengan surat kuasa dan surat kuasa ini yang kami terima beberapa waktu yang lalu tentu dengan perubahan-perubahan itu juga akan terjadi perubahan surat kuasa, apakah surat kuasa ini akan tetap mengikuti pola kuasa yang lama tanggalnya atau tanggalnya mengikuti perkembangan hari ini?
23. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Sekarang begini Saudara, mungkin itu menjadi persoalan yang kedua barangkali. Saudara jelaskan dulu bahwa ini adalah masyarakat hukum adat misalnya, dari situ kemudian Saudara akan melihat siapa yang boleh bertindak atas nama hukum adat itu? Seharusnya itulah yang memberi kuasa kepada Saudara begitu, barangkali ini menjadi tidak penting malah yang Saudara sampaikan sekarang orang-orang yang ini, atau berubah malah, kecuali kalau memang dia mempunyai menurut ketentuan masyarakat hukum adat yang masih hidup di situ dan dapat Saudara dapat buktikan bahwa dia memang mempunyai kewenangan bertindak dan atas nama masyarakat hukum adat itu, itulah yang seharusnya memberikan kuasa kepada Saudara kalau dalilnya adalah Saudara mewakili kesatuan masyarakat hukum adat, jadi yang ini mungkin malah tidak perlu dipakai, paham?
24. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Itu Pak pertanyaan kami tadi, kalau kemudian ada di antara, kami punya keyakinan bahwa mereka ini memang yang berhak bertindak atas nama masyarakatnya, cuma persoalannya sekarang karena tadi formatnya tadi Bapak Profesor bicara ada format yang menunjukkan bahwa seolah-olah ini kesannya perorangan, sehingga kamikan harus perbaiki, dengan kami perbaiki tentunya tanggalnya tidak mengikuti tanggal yang terdahulu, apakah itu jadi masalah atau tidak yang berkaitan dengan permohonan ini?
25. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Ya kalau itu ternyata, itukan ada sekian orang yang merangkap memberikan kuasa itu. Kalau menurut kami itu harus Saudara ubah itu karena belum tentu di antara semua itu yang mempunyai kewenangan untuk bertindak mengatasnamakan masyarakat hukum adat. Mungkin ada beberapa di antaranya, tapi mungkin juga yang jadi berkurang di antara itu. Sebenarnya jumlah itu tidak menentukan Saudara, satu orang saja misalnya kalau dia mempunyai kewenangan bertindak untuk dan atas nama hukum adat menurut masyarakat yang masih hidup di sana, itu sudah cukup untuk memberikan kuasa. Persoalannya bahwa Saudara harus membuktikan bahwa kewenangan itu dimiliki oleh dia, itu yang menjadi soal begitu, jadi bukan soal jumlah ini yang jadi masalah.
26. KUASA HUKUM PEMOHON : H. SAPRIYANTO, S.H., M.H.
Bukan itu Pak, mengenai tanggal Pak, kami harus memperbaiki surat kuasa sementara surat kuasa yang dulu mengikuti permohonan yang ada sebelum permohonan, sekarang permohonan sudah berjalan
kemudian surat kuasa harus diperbaiki, apakah hari ini surat kuasanya atau kita buat mundur seperti kemarin?
27. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Bisa diubah itu, sebaiknya diubah, sebab nanti pemberi kuasanya beda bukan? Bedakan kualifikasi pemberi kuasanya?
28. HAKIM KONSTITUSI : Dr. HARJONO, S.H., M.CL
Jadi begini, mulanya yang mengajukan adat, mulanya masyarakat hukum adat. Tentu ini yang tidak berubah bukan? Permohonan ini juga hukum adat kalau tokh diperbaiki juga masyarakat hukum adat, hanya persoalannya adalah siapa yang kemudian berhak mewakili masyarakat hukum adat? Kalau dari surat kuasa ini kemudian ada perubahan lalu diubah dengan tujuan untuk memberikan legitimasi yang memberi kuasa, silakan. Tentu itu surat kuasanya akan lebih baru dari pada surat kuasa yang ini, selama itu dalam perbaikan itu tidak ada persoalan, tapikan tidak bisa dikatakan bahwa nanti seluruhnya ganti mungkin satu- dua masih ada dalam kapasitasnya sebagai masyarakat hukum adat. Itu terserah kepada Anda untuk mencari tahu siapa yang kemudian harusnya mewakili itu? Karena sifatnya perbaikan masih tetap.
29. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Silakan Bapak Hakim Prof. Natabaya?
30. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S NATABAYA, S.H., LL.M
Ini supaya jelas. Jadi Anda inikan mendapat kuasa, kalau membaca surat kuasa yang ini, inikan kesannya itu perorangan, yang katanya bertindak selaku masyarakat adat. Sekarang ini yang menjadi persoalan masyarakat adat itu tidak bisa beracara di sini, yang bisa beracara itu adalah masyarakat hukum adat. Oleh karena itu harus kelihatan bahwa orang itu memang mewakili masyarakat hukum adat itu dan dia mempunyai kewenangan untuk mewakili, kewenangannya untuk mewakili itulah yang diberikan kuasa kepada Saudara, kapan itu? Pada waktu perbaikan itu, inikan memperbaiki pada waktu itulah kelihatan bahwa itu ada baru tapi dalam rangka perbaikan yang pertama tapi berlakunya itu baru, tapi itukan dalam rangka perbaikan? Kira-kira itu ya?
31. KETUA : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H.
Sudah cukup jelas ya? Ada pertanyaan lagi Saudara? Cukup ya?
Baik, dengan demikian ingat waktunya adalah empat belas hari, bukan empat belas hari kerja, artinya minggu juga dihitung, hari libur dihitung itu. Empat belas hari sejak sekarang Saudara harus, ya paling lambat, paling lambat itu, kalau bisa tiga hari tentu akan lebih bagus.
Paling lambat empat belas hari Saudara diberikan waktu untuk melakukan perbaikan, artinya kalau tenggang waktu itu Saudara lewati maka permohonan yang diajukan, diperiksa oleh Mahkamah adalah permohonan yang ini, maka jangan sampai terlambat. Kalau Saudara bermaksud untuk melakukan perbaikan, sudah dipahami ya?
Baik, dengan demikian Saudara maka sidang ini, pemeriksaaan pendahuluan untuk permohonan Nomor 31/PUU-V/2007 dengan ini saya nyatakan ditutup.
KETUK PALU 3X
SIDANG DITUTUP PUKUL 10.50 WIB