• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. ANALISA DAN TINJAUAN TEORI. Buku menurut isinya dapat dibagi menjadi dua yaitu:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. ANALISA DAN TINJAUAN TEORI. Buku menurut isinya dapat dibagi menjadi dua yaitu:"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

2. ANALISA DAN TINJAUAN TEORI 2.1. Tinjauan Buku

2.1.1. Pengertian Buku

Buku adalah kumpulan dari berbagai macam tulisan, cetakan, gambar, atau lembaran kosong yang terbuat dari kertas, atau bahan lainnya, yang disatukan dalam bentuk jilid sehingga dapat di buka pada sisi satunya. Setiap helai dalam buku di sebut lembar, dan sisi dari lembar disebut halaman. (“Book,” Wikipedia, par.1)

Buku menurut isinya dapat dibagi menjadi dua yaitu: • Fiksi

Fiksi adalah cerita mengenai hal-hal yang tidak nyata, khayalan. Biasanya cerita fiksi dikategorikan lagi berdasarkan

genre-nya. Novel adalah bentuk yang paling umum dari buku

cerita fiksi. • Non-fiksi

Buku non-fiksi adalah buku yang memuat informasi, essay, atau ulasan, biasanya buku jenis ini digunakan sebagai buku referensi.

Jenis buku ini ada beberapa macam, seperti ƒ Ensiklopedia ƒ Kamus ƒ Atlas ƒ Buku pedoman, ƒ dll 2.1.2. Sejarah Buku

Buku pertama kali muncul dalam sejarah adalah ketika bangsa mesir menciptakan kertas papyrus pada tahun sekitar 2400 SM. Kertas

▸ Baca selengkapnya: teknik mengolah bahan pangan dari serealia dan umbi dibagi menjadi dua macam, yaitu

(2)

papyrus yang digunakan sebagai media untuk menulis ini dibentuk dalam

gulungan, dan bentuk ini diyakini sebagai bentuk buku yang pertama kali,

papyrus adalah bahan yang menyerupai kertas tebal dan terbuat dari

tanaman papyrus.(“History of Books,” par. 2)

Walaupun dibuat dari tanaman papyrus, perkamen, atau kertas di asia timur, bentuk gulungan menjadi bentuk buku yang paling banyak digunakan terutama di Yunani kuno, Roma, Cina, dan kebudayaan Yahudi. Bentuk buku yang lebih modern adalah codex, format ini berbentuk balok dengan halaman terpisah yang disatukan dan diberi halaman depan atau cover. Bentuk ini berhasil menggantikan bentuk gulungan yang merupakan bentuk buku pertama di kebudayaan Eurasia karena bentuknya yang ringkas, dan lebih mudah untuk dibawa.

2.2. Tinjauan Fotografi

Berasal dari bahasa Prancis photographie yang diambil dari kata Yunani phos (cahaya) dan graphis (kuas), atau graphê (gambar) sehingga jika disatukan fotografi memiliki arti menggambar dengan cahaya. (“Photography,” Wikipedia, par. 2)

Fotografi adalah proses merekam gambar dengan menangkap cahaya pada media yang peka terhadap cahaya seperti film atau sensor digital. Pola cahaya yang terpantul atau dipancarkan oleh obyek tersebut menyinari film atau sensor digital selama waktu tertentu melalui sebuah lensa yang berada di kamera, dimana kamera ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil informasi secara kimia atau elektronik gambar

2.2.1. Sejarah Fotografi

Sebelum foto pertama kali dibuat, camera obscura adalah kamera pertama yang dapat menghasilkan gambar dengan memproyeksikan cahaya melalui lubang yang sangat kecil. Foto permanen yang pertama

(3)

kali diciptakan oleh Nicephore Niepce dihasilkan dengan melakukan delapan jam penyinaran, kemudian bekerja sama dengan Louis Daguerre mereka bereksperimen menggunakan media dengan bahan dasar perak dan kapur. Dimana campuran dari kedua bahan ini akan menjadi gelap saat terkena cahaya.

Pada tahun 1832 Hercules Florence juga menciptakan proses yang sama dan dinamakan photographie. Pada tahun 1840 William Fox Talbot menciptakan proses calotype dimana proses ini menciptakan gambar negatif . John Herschel kemudian membuat banyak pengembangan dan menciptakan proses cyanotype. Ia yang pertama kali menggunakan istilah fotografi negatif dan positif. Ia menemukan bahwa sodium thiosulphate merupakan hasil dari perak halide, dan dapat digunakan untuk menghasilkan gambar yang permanen.(“History of Photography,” par.3) 2.2.2. Bagian Kamera

2.2.2.1. Lensa

Merupakan kumpulan dari beberapa lensa optik yang digunakan bersama dengan sebuah badan kamera dan bekerja untuk menghasilkan gambar suatu obyek pada media film atau sensor digital.

(4)

• Lensa normal

Memiliki sudut pandang diagonal kira-kira 50° dan jarak titik vocal kira-kira sama dengan diagonal yang dihasilkan sudut pandang ini.

• Lensa tele

Memiliki titik vocal yang lebih panjang dari lensa normal, karena digunakan untuk mengambil obyek yang jauh sehingga terlihat lebih jelas dan terasa dekat

Sumber www.jpckemang.com Gambar 2.1. Lensa Canon 50 mm f/1.4

Sumber www.jpckemang.com

(5)

• Lensa wide

Memiliki sudut pandang yang lebih lebar dari 60° dan memiliki titik vocal yang lebih pendek dari lensa normal. Lensa

wide ini biasa digunakan untuk mengambil gambar di tempat yang

sempit agar terlihat luas.

Sumber www.jpckemang.com

Gambar 2.3. Lensa wide Nikon AF-S DX 12-24mm f/4.0 

• Lensa macro

Sudut pandang dari lensa ini lebih sempit dari 25° dan memliki titik vocal yang lebih panjang dari normal. Lensa ini digunakan untuk foto close-up dimana perbandingan gambar dengan obyek yang dilihat adalah 1:1

Sumber www.jpckemang.com Gambar 2.4. Lensa Canon 60mm f/2.8 macro

(6)

2.2.2.2. Body

Secara umum merupakan tempat untuk menyimpan informasi gambar yang didapat dari hasil pencahayaan pada media film atau sebuah sensor digital. Badan dari kamera harus kedap dari cahaya, karena digunakan untuk menempatkan media yang sangat peka terhadap cahaya. 2.2.2.3. Viewfinder

Tempat dimana fotografer melihat perkiraan gambar yang akan diambil, mengatur komposisi dari gambar, dan tempat untuk melihat perkiraan pengaturan cahaya yang akan masuk kedalam badan kamera. 2.2.3. Pembagian Kamera Berdasarkan Medium Penangkap Cahaya

2.2.3.1. Kamera Film

Kamera jenis ini menggunakan media film untuk merekam gambar, hal ini dapat terjadi karena film terbuat dari bahan dasar Sellulose Asetat yang sangat peka terhadap cahaya. Pada prosesnya, kamera menangkap cahaya kemudian film menyerap cahaya sesuai dengan jumlah cahaya yang masuk pada kamera.

Film yang umumnya digunakan pada kamera adalah tipe 135, biasa juga disebut film 35 mm dan bentuknya berupa roll (gulungan), menghasilkan negatif 3 x 4 cm (24 x 36 mm).

Jika digolongkan dalam hasil dari pencahayaan, jenis film yang digunakan dalam pemotretan ada 2 (dua), yaitu:

• Film Hitam Putih

Sesuai dengan namanya gambar yang dihasilkan oleh film ini tidak berwarna, atau hitam putih, atau dikenal juga dengan istilah monochrome. Film ini hanya memiliki satu lapis

(7)

emulsi saja, jadi sinar yang terekam pada bidang film hanya gelap terangnya cahaya

• Film Warna

Untuk film warna gambar yang dihasilkan sesuai dengan apa yang dilihat pada waktu melakukan pemotretan. Ini disebabkan karena pada film berwarna terdapat tiga lapis emulsi dengan warna yang berbeda yang nantinya menyatu menjadi warna sesuai dengan aslinya.

Film warna sendiri terdapat dua macam: ƒ Film Negatif

Hasil yang di peroleh setelah proses pengembangan (pencucian) film, film negatif tidak dapat langsung dilihat hasilnya, tetapi harus melalui pemrosesan lagi yang disebut tahap pencetakan baru setelah itu kita dapat melihat hasil akhirnya karena warna pada film negatif adalah kebalikan dari warna yang sebenarnya. ƒ Film Positif

Setelah proses pengembangan film hasil akhir dapat langsung dilihat seperti pada obyek aslinya dalam bentuk transparan, sehingga tidak perlu melalui proses pencetakan foto. Film positif biasa juga disebut sebagai slide.

Pada dasarnya proses dalam pemotretan antara kedua film sama, tetapi untuk film positif fotografer harus lebih kritis, karena jika ingin melakukan proses pencetakan tidak dapat dilakukan perbaikan seperti yang bisa dilakukan pada film negatif. (Soeprapto 26)

(8)

Film juga memiliki kepekaan yang berbeda-beda, kepekaan ini ditunjukan dengan satuan yang disebut I.S.O. (International Standart

Organization). Selain I.S.O. ada satuan lainnya seperti:

• A.S.A. (American Standard Assocation) • D.I.N. (Deutsche Industrie Norm) • J.I.S. (Japan Industrial Standard)

Nilai yang tertera pada bungkus luar (roll) menunjukan seberapa peka film tersebut terhadap cahaya. Semakin besar bilangan, maka semakin peka film tersebut terhadap cahaya sehingga lebih leluasa untuk memotret dalam kondisi penyinaran lemah. Akan tetapi semakin bilangan tersebut gambar yang dihasilkan akan semakin kasar. (Soeprapto 27)

I.S.O. 25 50 100 200 400 800 1600 3200

I.S.O rendah I.S.O tinggi

● kepekaan cahaya kurang ● kepekaan cahaya tinggi ● hasil gambar halus ● hasil gambar kasar ● warna kontras ● warna kurang kontras

Umumnya untuk pemotretan digunakan I.S.O. 100 karena film ini memiliki kepekaan yang cukup untuk pemotretan sehari-hari.

2.2.3.2. Kamera Digital

Jenis kamera yang digunakan untuk mengambil gambar dalam bentuk video atau foto dengan merekamnya pada sebuah sensor digital yang peka terhadap cahaya.

Berbeda dengan kamera film, besar gambar yang diperoleh tergantung dari resolusi yang ada pada sensor digital CCD

(charged-coupled devise) yang digunakan. Semakin tinggi resolusi yang ada pada

(9)

pada kamera digital dibentuk dari banyaknya jumlah pixel yang ada pada CCD tersebut. Setiap pixe elementl terdapat tiga sampai empat dimensi warna seperti merah, hijau, biru, atau cyan, magenta, kuning, dan hitam. Dari sensor ini cahaya yang dipantulkan oleh obyek direkam dan disimpan kedalam sebuah memory card dalam bentuk file yang umumnya dengan format JPEG. Hasil dari gambar yang tersimpan tadi juga dapat langsung dilihat melalui layar yang disebut LCD (liquid crystal display). 2.2.3.3. Kamera Polaroid

Adalah tipe kamera yang memungkinkan fotografer untuk dapat langsung melihat hasil dari gambar yang diambil dalam bentuk lembar cetakan. Sebenarnya polaroid adalah nama dari lembaran plastik sintetik yang di gunakan untuk mempolarisasikan cahaya, dimana bahannya tersusun dari kristal iodoquinine sulfat dengan ukuran mikroskopik yang satukan pada film nitrocellulose polymer transparan. (“Polaroid,”

Wikipedia, par. 1)

2.2.4. Pembagian Kamera Berdasarkan Teknologi Viewfinder 2.2.4.1. Kamera Poket

Dalam istilah fotografi biasa disebut range finder camera (kamera bidik) kamera jenis ini umumnya kecil, ringan, dan praktis untuk harga juga relatif lebih murah, tetapi untuk menghasilkan foto masih kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena adanya kemungkinan terjadinya

parallax (ketidaksamaan antara yang terlihat di jendela bidik dengan hasil

gambar pada film). (komunikasi pribadi, Hendra Irawan, 14 April 2008) 2.2.4.2.Kamera SLR (Single Lens Reflect)

Kamera ini menggunakan sistem penggerak cermin otomatis yang memungkinkan fotografer untuk melihat gambar yang akan di tangkap oleh film atau sensor digital tanpa terjadi parallax, tidak seperti pada

(10)

kamera non-SLR dimana hasil gambar yang ditangkap kamera berbeda dengan yang di lihat.

Pada Kamera SLR fotografer memiliki kendali penuh atas kamera yang dipakai, mulai dari mengatur fokus lensa, sampai pengukuran cahaya yang masuk untuk menghasilkan gambar yang terdapat pada bukaan diafragma dan kecepatan rana

Sumber www.wikipedia.org Gambar 2.5. Kamera SLR Minolta XD 11

1. Lensa kamera

2. Mirror / cermin pantul 45° 3. Shutter

4. Film 35mm atau sensor 5. Layar focus

6. Kaca buram 7. Prisma 8. Viewfinder

Sumber www.wikipedia.org

(11)

2.2.4.3. Kamera TLR (Twin Lens Reflect)

Sesuai dengan namanya, kamera ini memiliki dua buah lensa dengan panjang titik vocal yang sama. Satu lensa berguna untuk mengambil gambar, dimana lensa yang satunya digunakan untuk melihat atau sebagai viewfinder. Berbeda dengan kamera SLR gambar yang dilihat pada viewfinder akan terus tampak walaupun ketika sedang melakukan penyinaran. Kelemahan dari TLR ini adalah masih dapat terjadi parallax jika pengambilan gambar ada pada jarak yang dekat, akan tetapi hal ini dapat di minimalkan jika obyek yang diambil ada pada jarak yang jauh.

Sumber www.wikipedia.org Gambar 2.7. Kamera TLR

(12)

2.2.5. Teknik Menciptakan Karya Fotografi 2.2.5.1. Berdasarkan Komposisi

Dalam komposisi fotografer menentukan bagaimana penempatan elemen-elemen agar enak untuk dilihat. Ada beberapa faktor yang menentukan komposisi, seperti:

• Bentuk dan proporsi • Keseimbangan • Crop • Warna • Pengulangan • Perspektif • Sudut pandang

Dalam fotografi terdapat berbagai macam teori aturan komposisi dasar yang sering digunakan dalam memotret:

• Hukum sepertiga

Aturan dasar komposisi yang ada dalam fotografi biasa dikenal dengan sebutan aturan pertigaan. Tujuannya adalah agar gambar tidak terlihat membosankan, dengan meletakkan gambar mendekati salah satu garis yang membagi gambar menjadi tiga.

(13)

• Geometri dan simetris

Dalam aturan ganjil, jumlah ganjil dalam suatu gambar akan terlihat lebih menarik daripada genap. Jika dihubungakan dengan aturan tadi, bentukkan segitiga dalam komposisi gambar akan terlihat lebih menarik dari pada gambar dengan betuk yang simetris.

• Garis dan bentuk

Sebenarnya di dunia ini garis itu tidak ada, tetapi hanya penglihatan yang tercipta karena bentukan tersebut menghilang menjauhi pandangan. Elemen-elemen ini bisa digunakan secara dramatis untuk menciptakan komposisi dalam fotografi.

• Garis lurus

Garis vertikal, horisontal, dan garis dari sudut pandang dapat menciptakan mood yang berbeda pada suatu gambar. Sudut pandang dan batas frame dalam suatu gambar akan sangat mempengaruhi garis yang dihasilkan. Garis horisontal biasanya dapat ditemui pada gambar

landscape, menggambarkan ketenangan, dan kedamaian. Garis vertikal

menggambarkan kemegahan, dan ketinggian. • Garis lengkung

Garis lengkung umumnya dapat menciptakan kesan mengalir pada suatu gambar. Garis lengkung akan memberikan kesan yang lebih dinamis jika dibandingkan dengan garis lurus.

2.2.5.2. Berdasarkan Jarak Pemotretan • Long Shot

Umumnya memperlihatkan gambar obyek dalam hal ini adalah manusia secara keseluruhan, dan biasanya memperlihatkan latar belakang dan keadaan sekitar obyek.

• Medium Shot

Kamera mengambil gambar dengan jarak menengah, tidak terlalu jauh, dan tidak terlalu dekat. Jika diukur dengan manusia

(14)

medium shot dimulai dari batas lutus, masih memperlihatkan latar

belakang tetapi tidak dominan. • Close Up

Foto close-up adalah dengan mengambil gambar dengan yang rapat dengan frame latar belakang hanya sebagai pelengkap saja. Memperlihatkan detail dari obyek, latar belakang bisa terlihat sedikit atau tidak terlihat sama sekali.

2.3. Analisis Produk

2.3.1. Analisis Produk dibuat berdasakan 5W + 1H • What

Sebuah pedoman yang dibuat untuk mempermudah melakukan pemotretan balita dalam bentuk buku dan disertai dengan gambar sebagai pendukung dari langkah-langkah yang disampaikan. Ukuran buku 14,8 cm x 21 cm dengan sampul depan soft cover.

• Who

Demografis: fotografer pemula yang memasuki dunia fotografi. Tidak dibatasi usia dan jenis kelamin

Psikografis: Memiliki keinginan untuk terus belajar, dan memiliki pikiran yang terbuka

Behavior: Suka membaca dan aktif dalam dunia fotografi. Geografis: Surabaya

• When

Produk akan dipasarkan tanggal 20 Agustus 2008 bertepatan dengan acara lomba fotografi balita

(15)

• Where

Akan di-launching di Sheraton Hotel Ballroom bertindak sebagai salah satu sponsor yang mengadakan lomba fotografi balita. • Why

Permintaan untuk pemotretan balita sangat banyak, tetapi jumlah fotografer yang memotret balita sangat sedikit. Hal ini disebabkan karena jumlah fotografer senior semakin sedikit dan tingkat kesulitan untuk pemotretan balita sangat tinggi. Kesulitan ini yang menyebabkan banyak fotografer pemula yang lebih memilh untuk tidak memotret balita dan beralih menjadi fotografer untuk model atau wedding.

• How

Buku dibuat dengan pengumpulan data terlebih dahulu, pengumpulan data berasal dari hasil wawancara, buku referensi, dan melakukan praktek secara langsung. Berisi tentang contoh kasus, gambar pendukung, dan teknik yang digunakan unutk memotret balita.

Gambar

Gambar 2.3. Lensa wide Nikon AF-S DX 12-24mm f/4.0  
Gambar 2.6. Komponen dan cara kerja kamera SLR
Gambar 2.8. Pengaturan komposisi berdasarkan pada hukum sepertiga

Referensi

Dokumen terkait

Sebelum dilakukan pengaplikasian tepung ikan pada pembuatan biskuit, dilakukan uji bahan baku tepung ikan yang meliputi rendemen, kadar air, kadar protein, kadar

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai infromasi kepada masyarakat mengenai pengaruh lama perendaman asap cair sekam padi terhadap kandungan gizi ikan lele

Peranan mulsa dalam konservasi tanah dan air adalah: (a) melindungi tanah dari butir-butir hujan sehingga erosi dapat dikurangi dan tanah tidak mudah menjadi

Hendaknya menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pairs and Share dalam pembelajaran bahsa Indonesia, khususnya untuk keterampilan membaca pemahaman

Oleh karena itu, disarankan untuk penelitian selanjutnya dapat digunakan data yang lebih banyak bisa berupa LPPD dari pemda tingkat dua (kabupaten/kota) atau pemda propinsi

Laporan ini merupakan pertanggungjawaban Kepala LPMP ProvinsiKepulauan Bangka Belitung atas pelaksanaan tugas dan fungsinya dalammenopang tugasKementerian Pendidikan dan

Berdasarkan uji simultan yang sudah dilakukan oleh peneliti menunjukan bahwa variabel bebas yang terdiri dari Citra Merek dengan nilai signifikansi sebesar 0,000,

Loyalitas merek akan muncul ketika Celebrity Endorsement produk tersebut bagus atau dalam artian mampu mempengaruhi konsumen untuk melakukan sebuah tin- dakan yakni