BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Studi ini menjelaskan tentang Nasionalisme Papua dalam bendera Bintang Kejora, Burung Mambruk, dan lagu Hai Tanahku Papua. Berbagai polemik yang berkaitan dengan ideologi maupun perilaku dalam penggunaan ketiga entitas ini menjadi keprihatinan bersama. Sampai dengan saat ini, tercatat beberapa kasus penggunaan ketiga entitas ini khususnya bendera Bintang Kejora yang selalu memunculkan korban. George Aditjondro dalam pengantar buku Belanda di Irian Jaya mengatakan (SCHOORL, 2001) :
"bumi kasuari" lagi-lagi dilanda banjir darah dan air mata. Di berbagai kota di Papua Barat, rakyat Papua yang berusaha mengibarkan Sang Bintang Kejora ditembak atau ditangkap oleh aparat pendudukan Indonesia, sementara rakyat yang frustrasi akhirnya membalas dendam dengan menyerang dan membunuh, tidak cuma polisi dan tentara Indonesia, tapi juga pedagang dan imigran sipil Indonesia lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan kebebasan dan kehidupan dalam konteks Papua tidak sekedar masalah klasik yang sudah lazim terjadi di Papua. Dari penjelasan di atas, terdapat masalah krusial yang tak pernah selesai khususnya: Nasionalisme dalam diri orang Papua yang dikatakan Nasionalisme Ganda (Meteray, 2012). Namun demikian, persoalannya tidak pernah selesai karena akar permasalahan dari timbulnya berbagai konflik sosial dan penyangkalan diri terhadap Indonesia dari rakyat Papua yang tidak pernah diketahui alasan-alasan realnya dari sejarah sampai saat ini, karena berbagai masalah yang kompleks dalam memahami Papua.
Padahal salah satunya menurut Bilveer Singh, (Singh, 2008) dalam penelitiannya tentang Geopolitics and the quest for Nationhood, sense of difference (perasaan berbeda) terjadi akibat perjumpaan-perjumpaan dengan orang non-Papua misalnya Belanda, pendudukan Jepang, dan perjumpaan dengan orang-orang Indonesia diluar dari orang asli Papua dalam konteks sejarahnya sehingga muncul tindakan pro kontra dan penyangkalan diri terhadap Indonesia yang didukung oleh peristiwa-peristiwa yang turut membentuk masalah ini sebagai bentuk persaingan (Chauvel, 2005) dan memori pahit terhadap tindak kekerasan dan konflik berdarah yang terjadi sampai saat ini (Yoman, 2007). Bentuk Nasionalisme semacam ini menurut Droglever (2010) sebagai kegagalan Bangsa Indonesia dalam membangun rasa nasionalisme Papua sebagai bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Permasalahan ini kemudian dalam perkembangannya hingga saat ini didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya misalnya (Meteray, 2012) yang meneliti tentang “Nasionalisme Ganda” orang Papua yang mana ia menemukan bahwa orang Papua adalah bagian dari Indonesia dan adalah bagian dari Papua sendiri dalam konteks sejarahnya. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh (Suryawan, 2013) menemukan bahwa adanya kenyataan Papua telah dibentuk sebagai negara merdeka secara de Facto kemudian karena persoalan konspirasi Geopolitik antara Indonesia, Amerika, Belanda, dan Australia seperti yang dikemukakan oleh Osborne, (2001) Papua masuk ke dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan ‘paksaan’ (Droglever P. J., 2010).
Padahal nasionalisme menurut Gellner dan Eriksen (1993) adalah suatu produk ideologi suatu negara modern. Namun, ide tersebut berasal dari sekelompok
masyarakat yang memiliki kesamaan etnis dan Ras. Selain itu karena adanya kesamaan nasib tertekan atau ditindas dalam berbagai bentuk termasuk kekerasan (Yoman, 2007) sehingga mereka berjuang untuk mendapatkan kebebasanya melalui ideologi nasionalismenya (Karma, 2014).
Oleh karenanya, pada konteks Papua seharusnya dipandang sebagai pokok yang utama dalam membentuk Nasionalisme mereka tanpa memungkiri hasil-hasil penelitian tentang Papua dan Nasionalisme yang telah dibahas sebelumnya. Alasannya, penelitian-penelitian sebelumnya (Chauvel, 2005; Droglever 2010; Osborne, 2001: Meteray, 2012; Suryawan, 2013) terkait dengan Nasionalisme khususnya di Papua sejauh yang diketahui hanya membahas dari konteks sejarah untuk memahami permasalahan yang terjadi di Papua.
Sementara itu, kajian yang mengedepankan aspek kultural yang terkait dengan Atribut, Nasionalisme yang ada pada diri mereka, khususnya terkait dengan konteks sejarah pembentukan Bendera bintang Kejora, Burung Mambruk, dan lagu Hai Tanahku Papua yang saat ini bertransformasi dalam berbagai bentuk dan pemaknaan yang belum dikaji secara mendalam sebagai bagian yang integral dan berperan dalam memahami permasalahan Nasionalisme di Tanah Papua. Karena ternyata, hal ini berkaitan dengan aspek religiusnya, dan perjuangan secara politik terhadap konflik identitas dalam diri mereka secara langsung untuk merdeka dalam arti yang luas dari sisi nilai-nilai yang dihidupi dari atribut-atribut tersebut telah menghasilkan Sakralitas-Nasionalisme dalam diri mereka.
Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana proses terbentuknya Bendera Bintang Kejora, Burung Mambruk, dan lagu
Hai, Tanahku Papua? (2) Apa makna Bendera Bintang Kejora, Burung Mambruk, dan lagu Hai, Tanahku Papua dalam membentuk Nasionalisme Papua? (3) Bagaimana hubungan antara Nasionalisme yang sakral dalam Bendera Bintang Kejora, Burung Mambruk, dan lagu Hai, Tanahku Papua dengan konflik kekerasan yang berkepanjangan di Papua hingga saat ini?.
Tujuannya untuk mengeskplorasikan nilai-nilai yang terkandung dalam bendera bintang kejora, burung Mambruk, dan Lagu Hai Tanahku Papua, menemukan makna ketiga entitas ini dalam Nasionalisme Papua, serta menemukan hubungan antara ketiga entitas ini dengan konflik yang berkepanjangan di Papua hingga saat ini.
Manfaat penelitian ini secara teoritis untuk melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya yang telah mengkaji tentang Nasionalisme di Papua. Sedangkan secara praktis untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi warga masyarakat Papua dan Indonesia khususnya dalam memahami dan menangani permasalahan terkait entitas ini.
1.2. Kerangka Konseptual
Penulis menyadari telah banyak tulisan tentang Papua, khususnya yang berkaitan dengan nasionalisme. Berbagai pandangan tentang Nasionalime Papua tentunya tidak akan sama antara satu dengan yang lain. Namun, penulis mendasari tulisan ini dengan membangun konsep dari penulis-penulis sebelumnya sebagai berikut.
a. Nasionalisme
Nasionalisme dipahami dalam kerangka berpikir terkait dengan rancang bangun suatu negara, dan kehidupan bernegara di Indonesia khususnya di Papua yang
pernah hadir di tahun 1961. Benedict Anderson (1999) dalam bukunya berjudul Komunitas-komunitas Imajiner menjelaskan proses Nasionalisme dalam abad keenam belas hingga abad kesembilan belas mengalami peningkatan pesat, terutama pada beberapa wilayah jajahan dan suatu wilayah dekolonisasi (non-self government
territorial). Pada abad ketujuh belas setelah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan
yang kemudian menemukan inovasi dalam perkembangan teknologi, maka sumber daya alam menjadi tujuan utama negara-negara yang telah lebih dulu mengalami perubahan tersebut.
Ketersediaan sumber daya yang terbatas ditambah dengan keinginan meningkatkan inovasi terbaru dalam industri teknologi, baik dalam bidang kajian ilmu, maupun kedaulatan negara, memaksakan atas niat negara-negara barat berdatangan ke wilayah-wilayah Asia-Pasifik. Hal ini juga yang terjadi dalam proses perjalanan Indonesia dalam merebut Papua masuk ke dalam NKRI dan berdampak kepada gejolak politik hingga saat ini dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai bentuk perjuangan (Karma, 2014).
Menurut Smith (Smith, 1981), nasionalisme pada hakekatnya memiliki tiga unsur penting yang membentuknya, yakni kesadaran identitas bersama, terbentuknya ideologi tentang sejarah bersama dan memiliki rasa senasib sepenangungan bersama yang berlandaskan kepada gerakan sosial bersama untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan. Nasionalisme akan semakin tampak dan kokoh jika adanya musuh bersama yang mengancam eksistensinya.
Konsep yang ditawarkan ini secara tepat dapat digunakan dalam tulisan ini sebagai dasar dalam menghadirkan Nasionalisme Papua yang terbentuk melalui
benturan-benturan kepentingan dunia (Osborne, 2001) yang membentuk semangat
sense of difference yang merujuk kepada identitas bersama melalui ras dan agama serta
tujuan bersama sebagai tawaran atas permasalahan seperti kekerasan baik secara struktur, kultur dan fisik yang kerap kali dirasakan dalam kehidupan orang Papua.
b. Identitas
Untuk memahami identitas yang merupakan indikator pendukung dalam mengembangkan tulisan ini, penulis mendalami identitas dalam pandangan Jan Boelaars (Boelaars, 1986). Ia menjelaskan bahwa identitas seseorang terletak di dalam caranya mendekati lingkungannya, sesama manusianya, dan dunia rohaninya. Identitas itu muncul dari suatu sikap dasar, yang mewarnai segala sesuatu yang dilakukan atau dibiarkan oleh seseorang. Identitas seseorang muncul dalam dirinya sendiri untuk memilih nilai-nilai, yang lebih disukainya, tetapi di bawah itu masih ada lagi cara yang lebih pribadi untuk menghayati nilai-nilai yang lebih mendasar yang membentuk keyakinannya.
Cara yang digunakannya mungkin dengan menyebutkan nilai-nilai kultural, yang bahkan di kalangan berbagai daerah dan suku-suku Papua yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Seorang Marind bukan orang Muyu dan seorang Ekagi bukan orang Baliem. Tetapi ada sesuatu identitas yang sakral (misalnya kepercayaan terhadap leluhur), yang dapat mengikat jenis-jenis manusia yang berbeda-beda ini, dan itulah yang membuat mereka merasa dirinya orang Papua dan menolak semua orang, yang bukan orang Papua. Jan Boelaars (Boelaars, 1986) dalam tulisannya menggambarkan sikap dasar penduduk asli Papua, setiap kali dengan bertolak dari cara pergaulan mereka yang dibentuk dari alam, dengan sesama manusia dan dengan dunia
yang tidak kelihatan. Apa yang dikemukan olehnya, merujuk kepada sebuah identitas yang dibentuk melalui sebuah kepercayaan yang secara subjektif dan dimiliki manusia yang berbeda dan disatukan oleh nilai-nilai yang sama menurut mereka secara subjektif.
Nilai yang bersifat religius (Nonie Sharp, Markus Wonggor Kaisiepo, 1994) dari bendera, burung dan Lagu. Hal ini karena nilai-nilai ini sangat dipegang teguh dalam memaknai kehidupan bangsa Papua dan menjadi sumber inspirasi dalam memperjuangkan hak-hak mereka dalam aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan spiritual maupun kehidupan bermasyarakat yang berhubungan dengan konteks sejarah masa lalu khususnya cargo cult, yang berkaitan dengan mitologi Koreri yang mengisahkan tentang Manarmakeri dan juga proses penerimaan zending (pekabar Injil) yang membangun fondasi kesakralan.
1.3. Metode Penelitian a. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekataan kualitatif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif bertujuan untuk mengembangkan sikap, perilaku, dan pengalaman dalam menemukan data. Cara-cara yang digunakan seperti wawancara atau fokus kelompok. Hal ini dapat membantu untuk menemukan data melalui pendapat secara mendalam melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka tetapi juga melalui observasi. Kelebihan pendekataan ini juga secara langsung membangun hubungan kedekatan antara peneliti dengan partisipan, sehingga dapat membentuk
pertemuan yang tidak sebatas kepentingan penelitian, tetapi juga dapat merujuk kepada hubungan jangka panjang yang secara langsung dapat menjaga keamanan dan keaslian data (Creswell, 2010).
b. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian yang dilakukan penulis menggunakan beberapa teknik yang secara logis dapat menjawab kebutuhan tulisan ini. Beberapa metode ini digunakan untuk memberikan data yang valid dan objektif yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi (Creswell, 2010).
Observasi
Penulis melakukan pengamatan langsung di tempat penelitian dan lokasi kejadian secara partisipatif ketika peneliti melakukan penelitian bahkan sebelum penelitian ini dibuat yang merujuk kepada pengalaman hidup penulis di lokasi penelitian. Hal ini untuk membantu penulis dalam mengenal dan menemukan fenomena-fenomena yang biasanya memengaruhi situasi dalam waktu-waktu tertentu. Pada pengamatan ini, penulis menemukan sejumlah data yang berkaitan dengan penulisan ini. Kendala yang dihadapi ialah penulis ditolak saat melakukan observasi dan dimata-matai oleh pihak yang secara langsung terlibat dalam tulisan ini. Penulis menyadari bahwa tulisan ini cukup beresiko bagi keselamatan penulis.
Metode ini membantu penulis menemukan data dari beberapa literatur diantaranya buku, arsip, surat, yang berkaitan dengan tulisan ini. Dokumen yang berikut berupa gambar, foto dan video yang dapat menjadi data yang valid dan dapat disajikan secara menarik serta dapat membantu penulis menemukan data secara objektif. Studi historis yang terkait dengan tulisan ini, menyebabkan penulis merujuk kepada beberapa literatur kuno. Akibatnya, kendala yang dihadapi penulis ialah sulit untuk menemukan literatur kuno tersebut.
Wawancara
Metode wawancara merupakan metode pengumpulan data yang juga penting dalam penelitian jenis ini. Wawancara merupakan komunikasi yang berlangsung dua arah. Metode ini dilakukan dengan menyiapkan beberapa pertanyaan untuk ditanyakan kepada informan. Hubungan yang akan terbangun dalam hal ini adalah hubungan yang bersifat jangka panjang, sehingga membantu penelitian-penelitian selanjutnya jika situasi konteks berubah. Kendala yang dihadapi penulis ialah berjumpa dengan para narasumber mengingat kesibukan narasumber dan lokasi yang ditempuh untuk bertemu dengan narasumber.
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlangsung di Kota Jayapura, Papua yang merupakan tempat dari sejumlah peristiwa penting terkait ketiga entitas ini. Selain itu juga,
berbagai informan yang akan mendukung tulisan ini berada di lokasi penelitian tersebut.
D. Unit Analisis
Penelitian ini terbagi dalam beberapa unit analisis, yakni:
Beberapa pelaku, Pemerintah (Eksekutif dan Legislatif), Aparat Keamanan (Kepolisian dan TNI), Akademisi, Tokoh adat, Tokoh Gereja, dan masyarakat. Unit analisis dalam penelitian ini yang akan membantu mengembangkan analisis permasalahan dalam penelitian ini.
E. Sistematika penulisan
Tulisan ini ditulis oleh penulis dengan membaginya dalam lima bab. Masing-masing bab memiliki kerterkaitan dan memiliki komposisi yang saling melengkapi antara satu dengan yang lain.
BAB I
Bab ini tentang pendahuluan yang berisi tentang masalah yang dikaji melalui metodologi serta beberapa metode yang menjadi dasar bagi peneliti dalam melakukan penelitian ini. Bab I meliputi: latarbelakang penulisan, rumusan permasalahan, kerangka konseptual, definisi konsep, dan metode penelitian. Beberapa kerangka yang dibangun dalam bab ini dirasa penting oleh penulis, untuk menuntun penulis dalam mencapai hasil yang sistematis dari tulisan ini.
Bab II dalam tulisan ini berisikan sejarah Papua sebelum dan sesudah integrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari sejarah yang ditampilkan pada bab ini, secara langsung akan diketahui awal mula diciptakannya bendera bintang kejora, burung mambruk, dan lagu hai tanahku Papua yang menjadi fokus penelitian ini. Penulis berpandangan bahwa, sejarah tidak akan terlepas dari penulisan ini. Sehingga, dapat terlihat lebih objektif untuk menemukan fakta terkait diciptakannya ketiga entitas dalam fokus penelitian ini.
BAB III
Bab III berisikan tentang identitas dalam hal ini nilai yang terkandung dalam bendera bintang kejora, burung mambruk, dan lagu Hai Tanahku Papua, pertentangannya serta bentuk transformasi dalam penggunaannya. Selanjutnya akan dijelaskan juga wujud Nasionalisme Papua yang terkandung dalam dalam ketiga entitas ini.
BAB IV
Bab IV pada tulisan ini akan dijelaskan tentang Nasionalisme Eksternal VS Nasionalisme Internal. Penulis membagi Nasionalisme eksternal dan internal dalam beberapa aktor untuk mengetahui bagaimana masing-masing dari mereka memahami dan menggunakan ketiga entitas ini dalam kehidupan sehari-hari.
BAB V
Bab V adalah penutup yang berisikan tentang kesimpulan dan saran dari tulisan ini sebagai bentuk jawaban atas polemik terkait bendera bintang kejora, burung mambruk, dan lagu Hai Tanahku Papua.