• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Strategis Bisnis RSCM FKUI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rencana Strategis Bisnis RSCM FKUI"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana Strategis Bisnis RSCM – FKUI

2015 – 2019

RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

(2)
(3)
(4)

Kata Pengantar

Rencana Strategis Bisnis merupakan salah satu perangkat

strategis untuk memandu dan mengendalikan arah gerak dan

perkembangan bisnis suatu organisasi.Rencana Strategis Bisnis

(RSB) RSCM-FKUI periode 2015-2019 ini merupakan kelanjutan

RSB 2010-2014 yang sebentar lagi akan berakhir. Sebagaimana

layaknya suatu dokumen rencana strategis, buku ini berisikan

arah, prioritas, strategi, sasaran-sasaran strategis, indikator

kinerja utama dan program kerja strategis. Berbeda dengan RSB

2010-2014, dokumen RSB 2015-2019 ini juga dilengkapi dengan

suatu bahasan khusus tentang Analisis dan Mitigasi Risiko.

Seiring dengan semakin besarnya harapan dan kekhawatiran

stakeholder, RSCM-FKUI menyadari bahwa sinergi dan

harmonisasi antara RSCM-FKUI semakin dibutuhkan. Atas dasar

itu, RSCM-FKUI menyadari bahwa pembangunan kelembagaan

dan sistem organisasi berupa AHS (Academic Health System)

menjadi prioritas utama dalam periode lima tahun mendatang.

Dengan terwujudnya AHS inilah diharapkan bahwa terjadi

integrasi yang optimal antara pelayanan, pendidikan dan

penelitian serta terbangun jejaring pelayanan, pendidikan dan

penelitian yang sinergis dan harmonis. Atas dasar itulah,

RSCM-FKUI telah menetapkan visi 2019 Creating infinite experiencefor

All melalui AHS.

Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan segala pihak yang

terlibat dalam penyusunan buku Rencana Strategis Bisnis (RSB)

RSCM-FKUI periode 2015-2019. Semoga apa yang dimimpikan

dalam RSB ini dapat terwujud mendukung tercapainya visi 2019.

Direktur Utama RSCM-FKUI

(5)

Daftar Isi

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... ii

Daftar Gambar ... iii

Daftar Tabel ... iii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

I.2 Tujuan ... 3

I.3 Metodologi Penyusunan Renstra ... 4

II. GAMBARAN KINERJA RSCM-FKUI 2011-2014 ... 8

2.1. Pencapaian KPI 2011-2014 ... 8

2.2. Evaluasi Kinerja Renstra 2010-2014 ... 10

III. ARAH DAN PRIORITAS STRATEGIS ... 12

3.1 Tuntutan Stakeholders Kunci ... 12

3.2 Tantangan Strategis ... 14

3.3 Rumusan Visi, Misi dan Tata Nilai ... 15

3.4 Patok Duga (Benchmark) ... 17

3.5 Analisis SWOT ... 17

3.6 Diagram Kartesian Pilihan Prioritas Strategis ... 19

3.7 Analisa TOWS ... 24

3.8 Peta Strategi ... 26

IV. INDIKATOR KINERJA UTAMA DAN PROGRAM KERJA STRATEGIS .... 30

4.1 Matriks KPI ... 30

4.2 Program Kerja Strategis ... 37

V. ANALISIS DAN MITIGASI RISIKO ... 43

5.1 Analisis Risiko ... 43

5.2 Rencana Mitigasi Risiko ... 48

VI. PROYEKSI FINANSIAL ... 52

6.1 Estimasi Pendapatan ... 52

6.2 Estimasi Kebutuhan Anggaran ... 53

(6)

Daftar Gambar

Gambar 1. 1. Metodologi Penyusunan Renstra RSCM dan FKUI

Periode 2015 - 2019 ... 7

Gambar 1. 2. Sebagian Aktivitas Penyusunan Renstra RSCM dan

FKUI Periode 2015 – 2019 ... 7

Gambar 3. 1. Diagram Kartesian Pilihan Prioritas RSCM-FKUI

2015-2019 ... 23

Gambar 3. 2. Peta Strategi RSCM-FKUI 2015-2019 ... 27

Daftar Tabel

Tabel 2. 1. Pencapaian Kinerja 2011-2014 ... 9

Tabel 3. 1. Harapan dan Kekhawatiran Utama Stakeholder Kunci ... 13

Tabel 3. 2. Peluang (Opportunity) ... 20

Tabel 3. 3. Ancaman (Threat) ... 20

Tabel 3. 4. Kekuatan (Strength) ... 21

Tabel 3. 5. Kelemahan (Weakness) ... 21

Tabel 3. 6. Hasil Analisis TOWS ... 25

Tabel 4. 1. Indikator Kinerja Utama (KPI) ... 31

Tabel 4. 2. Matriks KPI ... 34

Tabel 4. 3. Program Kerja Strategis ... 38

Tabel 5. 1. Acuan Penilaian Risiko ... 45

Tabel 5. 2. Pemetaan Risiko terkait Pencapaian Sasaran Strategis ... 46

Tabel 5. 3. Rencana Mitigasi Risiko ... 49

Tabel 6. 1. Estimasi pendapatan 2015-2019 ... 52

(7)
(8)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam tata kelola sistem yang modern, organisasi publik

selayaknya dirancang atas dasar misi dan tujuannya, karena

organisasi merupakan suatu tatanan untuk mencapai tujuan.

Dalam kaitan tersebut, setiap organisasi publik perlu menyusun

prioritas pengelolaan dan pengembangnya agar segenap

komponen organisasi publik dan para mitra kerjanya bergerak

searah dan sinergis menuju tujuan keseluruhan organisasi publik.

Rencana strategis(renstra) merupakan salah satu perangkat

strategis bagi manajemen puncak dari suatu organisasi publik

yang memandu dan mengendalikan arah gerak serangkaian

prioritas pengembangan organisasi, berbagai unit kerja, dan

mitra kerjanya untuk bergerak searah dan bersinergis menuju

tujuan–tujuan keseluruhan organisasi publik.

Dengan memusatkan organisasi pada hal-hal yang sangat

penting, renstra bertindak sebagai kompas yang membantu

pengambil keputusan di berbagai tingkat organisasi publik untuk

mengetahui kapan “bertahan di jalur” dan kapan perlu

mengubah strategi organisasi dalam menghadapi dinamika

tuntutan stakeholders kunci organisasi. Apalagi, setiap

manajemen puncak organisasi menyadari betul bahwa

kemampuan inti organisasi sebetulnya dapat mengalami

penurunan baik dikarenakan perubahan tuntutan lingkungan

eksternal organisasinya yang cenderung lebih rasional dari waktu

ke waktu (misal peningkatan mutu pendidikan, peningkatan

mutu layanan, dan harga layanan rumah sakit yang kompetitif,

riset yang unggul), maupun dikarenakan turunnya kemampuan

internal organisasinya (misal pensiunnya para personil yang

mumpuni, memburuknya kualitas koordinasi antar unit kerja dan

personil, menurunnya tingkat kehandalan sarana dan prasarana

medis dan pendidikan, dsb).

Renstra bagi sebuah organisasi publik merupakan perwujudan

amanah dan aspirasi yang bersumber dari kepentingan

stakeholders kuncinya. Renstra juga merupakan bentuk tanggung

jawab utama jajaran manajemen puncak organisasi publik

terhadap pemenuhan kepentingan stakeholders kuncinya. Oleh

(9)

karena itu, renstra organisasi seharusnya menjadi pedoman

utama bagi setiap jajaran manajemen puncak dari suatu

organisasi publik dalam menilai kemajuan status pencapaian visi

dan target kinerja organsisasi jangka pendek dan panjang serta

mengendalikan arah pengelolaan dan pengembangan roda

organisasinya agar sejalan dengan tuntutan utama stakeholders

kuncinya.

Di periode renstra sebelumnya (periode tahun 2010-2014), RSCM

dan FKUI secara bersama telah melakukan penyusunan renstra.

Namun pada renstra sebelumnya irisan kebersamaam dalam

arah strategis kerjasama kolaboratif baru difokuskan pada area

tertentu. Mempertimbangkan dinamika tuntutan stakeholders

kunci RSCM dan FKUI, pengalaman, dan pencapaian kinerja pada

periode yang lalu tersebut, manajemen RSCM dan FKUI

menyadari dan berkomitmen pada periode tahun 2015 – 2019

untuk meningkatkan status kerjasama strategis tersebut dari pola

kerjasama kolaboratif dengan fokus pada area tertentu menjadi

bentuk kerjasama saling bahu-membahu secara sinergis untuk

menopang pencapaian visi dan misi pendidikan, layanan, dan

riset dalam ilmu dan pelayanan kedokteran di lingkungan RSCM

dan FKUI.

Komitmen tersebut diwujudkan dalam sebuah renstra RSCM dan

FKUI untuk periode tahun 2015-2019 yang dibangun atas dasar

kesepakatan arah dan prioritas strategis bersama. Renstra

periode ini didasarkan pada pola pengelolaan berbasis AHC

(Academic Health Center). Dalam dokumen ini, AHC digambarkan

sebagai sebuah pusat pelayanan kesehatan tempat rumah sakit

pendidikan berkolaborasi dengan fakultas kedokteran tanpa

adanya batas-batas institusional, sehingga meningkatkan

efektivitas dan efisiensi kerja sama antar keduanya. AHC

diarahkan untuk mengintegrasikanfungsi pelayanan, pendidikan

dan riset kedokteran demi menciptakan pelayanan kesehatan

yang paripurna bagi stakeholders inti fakultas pendidikan dan

rumah sakit pendidikan.

Dalam perjalanan perkembangan AHC di berbagai belahan dunia,

AHC telah berevolusi menjadi AHS (Academic Health System).

AHS merupakan model pengelolaan terintegrasi antara fakultas

kedokteran dan rumah sakit pendidikan dengan melibatkan lebih

(10)

banyak pihak yang berkepentingan dalam memajukan mutu

pendidikan dan kesehatan masyarakat. Dengan pola pengelolaan

AHS tersebut, meskipun menawarkan penciptaan nilai (value

creation) jangka panjang bagi rumah sakit pendidikan dan

fakultas kedokteran, namun tanpa arah dan prioritas strategis

pengembangan dan pengelolaan yang jelas dan terukur di masa

depan, itikad kuat bersama demi penciptaan nilai yang

berkelanjutan hanya akan menjadi cita-cita belaka,yang tidak

akan pernah mewujud menjadi kinerja ekselen nyata yang

ditargetkan.

Memperhatikan pentingnya integrasi misi pendidikan, layanan

dan riset yang unggul dalam menghadapi tantangan yang

berkembang bagi FKUI dan RSCM di masa mendatang, maka

dibutuhkan sebuah dokumen rencana strategis periode tahun

2015 – 2019. Dokumen renstra ini diharapkan akan menentukan

arah dan prioritas strategis RSCM dan FKUI untuk periode tahun

2015 – 2019 dalam mengemban misi dan mencapai visi

organisasi.

I.2 Tujuan

Dengan berkomitmen untuk menjalin kerjasama sinergis antara

RSCM dan FKUI dalam payung AHS, maka penyusunan renstra

RSCM - FKUI untuk periode tahun 2015 – 2019 mempunyai

tujuan pokok sebagai berikut:

(i)

menentukan arah dan prioritas strategis perjalanan

kerjasama sinergis antara RSCM dan FKUI dalam payung

AHS.

(ii)

menghasilkan peta jalan (road map) bersama untuk

mewujudkan visi dan misi RSCM - FKUI untuk periode

tahun 2015 - 2019

(iii)

menjadi dasar untuk mengomunikasikan arah dan

prioritas strategis pengembangan dan pengelolaan RSCM

- FKUI kepada para pemangku kepentingan inti(key

stakeholders)

(iv)

menjadi dasar rujukan untuk menilai keberhasilan

pemenuhan visi dan misi RSCM - FKUI

(v)

menjadi salah satu acuan untuk membangun arah jalinan

kerjasama dengan para stakeholders inti RSCM - FKUI

(11)

I.3 Metodologi Penyusunan Renstra

Dalam menyusun renstra RSCM - FKUI periode tahun 2015 –

2019 ini, dilakukan sejumlah fase sebagai berikut:

(a)

Menentukan analisa lingkungan dan kinerja

Fase ini dilakukan untuk menganalisa dinamika tuntutan

dari lingkungan eksternal dan internal RSCM dan FKUI

pada kurun waktu tahun 2015 - 2019. Analisa ini

dilakukan dengan mengidentifikasi apa saja harapan dan

kekhawatiran stakeholders kunci dari RSCM - FKUI untuk

kurun waktu tahun 2015 – 2019. Fase ini juga dilengkapi

dengan aktivitas: menganalisa kinerja kolaborasi selama

ini antara RSCM - FKUI, menganalisa kinerja pembanding

yang cukup baik (benchmark/patok duga), dan

mengidentifikasi aspirasi manajemen RSCM - FKUI,

khususnya harapan dan kekhawatiran manajemen

menghadapi dinamika tuntutan stakeholders kunci dalam

kurun waktu tahun 2015 – 2019.

(b)

Menentukan arah dan prioritas strategis RSCM- FKUI

Fase ini bertujuan untuk menentukan arah dan prioritas

strategis RSCM - FKUI untuk kurun waktu tahun 2015 –

2019. Fase ini akan menganalisa kekuatan (strength),

kekurangan/kelemahan

(weakness),

peluang

(opportunity), dan ancaman (threat) dalam kerangka AHS.

Dalam fase ini, dilakukan jugaanalisa daya saing terhadap

RSCM - FKUI dalam menghadapi peluang dan ancaman

serta mempertimbangkan kekuatan dan ancaman.

Berdasarkan hasil analisa daya saing selanjutnya

dilakukan analisa TOWS. Berbagai sasaran strategis yang

direkomendasikan dari analisa TOWS menunjukkan

prioritas strategis yang hendak dilakukan oleh RSCM -

FKUI dalam kurun waktu tahun 2015 – 2019. Berdasarkan

sasaran strategis yang teridentifikasi, peta strategi

ditentukan. Peta strategi dalam dokumen ini merupakan

gambaran jalinan sebab-akibat berbagai sasaran strategis

RCM - FKUI untuk mencapai visi bersama, yakni ”creating

infinite experience for al through AHS” pada tahun 2019.

Jalinan

sebab-akibat

sasaran

strategis

tersebut

digambarkan

dalam

perspektif

learning&growth,

perspektif

internalbusinness

process,

perspektif

(12)

strategi tersebut, setiap sasaran strategis ditentukan KPI

(Key Performance Indicator) yang relevan. Peran KPI ini

adalah untuk menentukan tingkat keberhasilan (kualitatif)

pencapaian suatu sasaran strategis dalam mewujudkan

visi bersama RSCM dan FKUI. Setiap KPI dilengkapi

dengan target KPI yang menggambarkan ukuran

kuantitatif keberhasilan pencapaian sasaran strategis

pada suatu tahun. Target KPI ditentukan dari tahun 2015

sampai dengan tahun 2019.

(c)

Menentukan program kerja strategis RSCM - FKUI:

Bagian ini akan menjelaskan apa saja program kerja

strategis yang dibutuhkan oleh RSCM - FKUI dalam

mewujudkan visi bersamanya di tahun 2019, yakni

”creating the infinite experience for all through AHS”.

Program kerja strategis menggambarkan kumpulan

rencana aksi atau kegiatan yang diperkirakan dapat

mewujudkan suatu sasaran strategis. Program kerja

strategis ditentukan mulai dari tahun 2015 sampai

dengan tahun 2019.

(d)

Analisa dan mitigasi risiko

Bagian ini bertujuan utama untuk mengidentifikasi apa

saja risiko yang dapat menggagalkan pencapaian atau

keterwujudan sasaran strategis. Bagian ini juga bertujuan

untuk menilai tingkat risiko, serta merencanakan upaya

mitigasi risiko yang dibutuhkan, sedemikian sehingga visi

bersama RSCM dan FKUI bisa dicapai.

(e)

Proyeksi pendapatan dan anggaran

Bagian ini bertujuan utama untuk menyajikan informasi

tentang estimasi pendapatan usaha dan berbagai bentuk

biaya yang akan terjadi terkait dengan upaya

mewujudkan

berbagai

sasaran

strategis

guna

mewujudkan visi bersama RSCM dan FKUI.

FGD (Focus Group Discussion) digunakan untuk menyusun renstra

bersama RSCM - FKUI periode tahun 2015-2019. FGD merupakan

salah satu metode pengambilan keputusan kelompok yang

menggabungkan pengambilan suara para anggota tim ahli

(expert) dengan diskusi terbatas untuk menciptakan konsensus

dan mendapatkan keputusan tim.Penyusunan renstra bersama

(13)

antara RSCM dan FKUI untuk periode tahun 2015 – 2019

dilakukan dengan melibatkan jajaran manajemen puncak RSCM

dan Dekanat FKUI. Alasan menggunakan metode FGD dalam

penyusunan renstra adalah sebagai berikut :

FGD dihadiri oleh orang-orang yang sangat memahami

tentang seluk beluk arah dan prioritas strategis RSCM dan

FKUI, sehingga kualitas informasi yang diperoleh akan

sangat tinggi.

FGD memungkinkan proses perumusan dan pemilihan

terjadi secara interaktif, sehingga seorang pesertaakan

dapat memperbaiki rumusan atau pilihannya setelah

mendengarkan argumentasi yang disampaikan oleh

anggota FGD lainnya.

FGD dibagi dalam beberapa tahapan untuk memberikan

kesempatan kepada peserta untuk melahirkan suatu

rumusan terbaik yang dipilih atau disepakati dalam

diskusi tersebut. Dengan kata lain, pendekatan FGD ini

juga digunakan untuk mendorong semua peserta agar

mempunyai tingkat partisipasi yang sama dalam setiap

tahapan diskusi, tanpa harus dibebani oleh alasan

senioritas, jabatan, atau hambatan kepribadian.

FGD cocok diterapkan untuk permasalahan yang sensitif

dan penting, seperti dalam penyusunan renstra bersama

antara RSCM dan FKUI. Metode ini dapat digunakan

dalam pengambilan keputusan untuk tahapan-tahapan

penyusunan renstra karena diperkirakan terdapat

perbenturan gagasan dan pembahasan berbelit-belit di

antara peserta FGD.

FGD memungkinkan terbentuknya suatu komitmen di

antara peserta tentang hal-hal yang telah disepakati dan

kemudian digunakan sebagai dasar untuk eksekusi renstra

bersama antara RSCM dan FKUI pada periode tahun 2015

– 2019.

Secara keseluruhan, metodologi penyusunan renstra RSCM - FKUI

disajikan pada gambar 1.1. Gambar 1.2 menyajikan sebagian

rekaman proses penyusunan renstra dengan pendekatan FGD,

yang melibatkan jajaran manajemen RSCM dan Dekanat FKUI.

(14)

Kajian Tantangan Lingkungan

Eksternal dan Internal Analisis Aspirasi Manajemen

RSCM dan FKUI

Penentuan Arah dan Prioritas Strategis RSCM dan FKUI

Analisa dan Mitigasi Risiko RSCM dan FKUI

Proyeksi Pendapatan dan Biaya

2

4

5

6

Gambaran Kinerja Sebelumnya

dan Benchmark

1

3

Gambar 1.1.Metodologi Penyusunan Renstra RSCM dan FKUI Periode

2015 - 2019

Gambar 1.2.Sebagian Aktivitas Penyusunan Renstra RSCM dan FKUI

Periode 2015 – 2019

(15)

II. GAMBARAN KINERJA RSCM-FKUI 2011-2014

2.1. Pencapaian KPI 2011-2014

Renstra RSCM-FKUI 2011-2014 telah dijadikan sebagai dasar

penentuan arah dan prioritas bagi korporat RSCM-FKUI dan

berbagai unit kerja dan departemen yang ada di bawahnya.

Sebuah siklus sistem manajemen kinerja juga sudah dijalankan

mulai dari penyusunan renstra beserta indikatornya secara

bersama-sama antara RSCM dan FKUI, cascading renstra

korporat RSCM-FKUI kepada unit kerja yang berada dibawahnya,

kontrak kinerja antara pimpinan RSCM-FKUI dengan unit-unit

kerja berdasarkan renstra yang telah ditetapkan, monitoring

pencapaian kinerja, coaching dan mekanisme reward &

consequences.

Hasil pencapaian indikator renstra 2011-2014 dapat dilihat pada

Tabel 1. Beberapa indikator tidak memiliki capaian yang lengkap

mulai dari 2011-2013 karena 1) indikator tersebut adalah

indikator baru yang menggantikan indikator sebelumnya yang

dianggap kurang tajam 2) pada tahun tersebut belum dilakukan

pengukuran.

Hasil

pencapaian

yang

sangat

membanggakan

adalah

diperolehnya akreditasi JCI pada bulan April 2013 dan adanya

tren kenaikan pencapaian dari hampir semua indikator yang

diukur.

(16)

Tabel 2.1. Pencapaian Kinerja 2011-2014

No

KPI Renstra 2010-2014

CAPAIAN

2011

2012

2013

1

Rasio staf akademik klinik dengan kinerja ekselen

-

39%

47%

2

Rerata nilai impact publikasi jurnal internasional

0.06

0.23

0.47

3

Indeks budaya korporat

-

93.30%

Diukur 2014

4

Indeks kinerja pegawai

-

0.89

0.89

5

Persentase ketersediaan sarana pada kasus tersier

-

-

92.6%

6

Opini Audit Laporan Keuangan

WDP

WTP

WTP

7

Jumlah penelitian operasional yang dilaksanakan

3

4

12

8

Level integrasi IT Rumah Sakit

Siloed 1

Siloed 2

Siloed 2

9

Persentase rujukan yang tepat (atas dan bawah)

64,25%

88%

94.50%

10 Persepsi Keselamatan Budaya Pasien (patient safety)

-

Sedang

Diukur 2014

11 Tingkat kepuasan peserta didik (metode DREEM)

46,2%

89.66%

90,7%

12 Tingkat kepuasan staf

-

72.32%

Diukur 2014

13 Persentase komplain yang ditindaklanjuti

100%

100%

100%

14 Cost recovery rate (CRR) pada pelayanan dan pendidikan di klinik

79.10%

86%

87%

15 Tingkat realisasi tagihan

88.32%

72%

90%

16 Akreditasi RS International (JCI)

Implementasi

Implementasi

Tersertifikasi

17

Sinkronisasi jumlah modul layanan dan pendidikan terintegrasi yang

baru

0

2

8

18 Rasio kelompok pasien non-subsidi dan bersubsidi

-

1:2

1:2,6

19 SHU unit potensial

20%

20%

30%

20 Tingkat Keandalan sarfas sesuai Best Practice

94,46%

75%

88,1%

21 Capaian indikator medik kasus sulit sesuai target medis

35%

70,86%

64,16%

22 Hasil penelitian yang diaplikasikan dalam standar pelayanan

Ditunda terkait

FK-UI

Ditunda terkait

FK-UI

4

(17)

2.2. Evaluasi Kinerja Renstra 2010-2014

Selain capaian-capaian terkait indikator renstra periode tahun

2010 – 2014 di atas, implementasi renstra 2010-2014 telah

mampu membangun beberapa fondasi yang diperlukan bagi

RSCM-FKUI untuk mampu memiliki sistem manajemen kinerja

sesuai best practice, antara lain:

1. Munculnya budaya kinerja berbasis renstra RSCM & FKUI

pada berbagai departemen RSCM & FKUI

2. Pengelolaan rencana biaya dan anggaran (RBA) dilakukan

telah berbasis renstra RSCM & FKUI

3. Berlakunya kontrak kinerja antara RSCM & FKUI dan

berbagai satuan kerjanya (departemen dan bagian) yang

diharapkan mampu memicu kinerja berbagai satuan kerja

di RSCM & FKUI

4. Adanya data base yang menunjang pelacakan status

kemajuan pencapaian kinerja renstra RSCM & FKUI

Berdasarkan realisasi renstra RSCM dan FKUI untuk periode

tahun 2010 – 2014 ditemukan fakta bahwa belum optimalnya

pencapaian target kinerja yang disasar tiap tahun adalah sebagai

berikut:

1. Mindset dan pemahaman terhadap renstra dan peta strategi

pada periode tahun 2010 -2014 masih belum merata pada

tingkatan organisasi di bawah Direksi dan Dekanat

2. Tidak ada kelembagaan yang secara khusus memonitor

implementasi renstra dan memberi masukan kepada

Direksi/Dekanat

3. KPI (termasuk target dan instrumen pengukuran) tidak

ditinjau ulang setelah implementasi. Banyak KPI yang sudah

down-grade dari disain awalnya, namun tidak direvisi lagi

dalam perjalanan implementasi di kurun waktu selanjutnya

4. Budget/anggaran terbatas (masih fokus kepada operasional)

dalam mengupayakan program-program kerja yang bersifat

pengembangan (pelayanan, pendidikan, dan riset).

5. Departemen memiliki stakeholder yang lain, sehingga

Departemen mempunyai agenda lain yang membuat belum

fokus dalam menjalankan renstra.

(18)

7. Beberapa fungsi kerja pada proses bisnis penunjang yang

belum sepenuhnya mendukung fungsi-kerja pada proses

bisnis utama RSCM dan FKUI

8. Fungsi ICT (Information and Communication Technology) yang

belum optimal menunjang pengambilan keputusan dan

tindakan di berbagai tingkatan organisasi dan proses bisnis

RSCM dan FKUI

9. Ketidakmerataan beban kerja SDM pada berbagai proses

bisnis dan ketidakmerataan kemampuan SDM dalam

mengeksekusi berbagai jenis proses bisnis

(19)

III. ARAH DAN PRIORITAS STRATEGIS

Arah ke mana sebuah institusi publik hendak diwujudkan di masa

depan akan sangat tergantung pada dinamika tuntutan

stakeholders kunci terhadap keberadaan institusi publik tersebut.

Kondisi ini juga berlaku bagi RSCM dan FKUI yang secara

bersama-sama berkomitmen saling bahu-membahu dan

bekerjasama secara sinergis dalam mewujudkan visi dan misi

bersama.

Kemampuan

mengidentifikasi

harapan

dan

kekhawatiran stakekolders kunci sebagai bagian dari tuntutan

utama stakeholders kunci merupakan salah satu tahap kritis awal

dalam menentukan arah dan prioritas strategis pengelolaan

kerjasama RSCM dan FKUI secara bersama di tahun-tahun

mendatang. Selain itu, informasi tentang patok duga

(benchmark) juga ikut menentukan arah dan prioritas strategis

pengelolaan RSCM - FKUI dalam menjalankan misi layanan,

pendidikan, dan penelitiannya di masa mendatang. Untuk

kepentingan ini, bagian ini akan menyajikan informasi tentang

proyeksi tuntutan stakeholders kunci dan benchmark yang kelak

menentukan arah dan prioritas strategis renstra RSCM - FKUI

pada kurun waktu tahun 2015-2019.

3.1 Tuntutan Stakeholders Kunci

Bagian ini menyajikan informasi tentang harapan dan

kekhawatiran utama dari para stakeholders inti RSCM - FKUI pada

kurun waktu tahun 2015 – 2019. Tabel 3.1 di bawah ini

menyajikan informasi harapan dan kekhawatiran utama para

(20)

Tabel 3.1.Harapan dan Kekhawatiran UtamaStakeholder Kunci

No

Komponen Stakeholder

Harapan

Kekhawatiran

1

Kemenkes

 RSCM sebagai acute tertiary care

 Sistem remunerasi yang semakin baik

 Sistem rujukan dan jejaring yang lebih baik

Sistem rujukan tidak berjalan baik

2

Kemenkeu

Peningkatan kinerja dan kemandirian keuangan

BLU serta laporan keuangan yang WTP

Laporan keuangan yang tidak akuntabel

3

Pemda DKI

Sistem rujukan dan jejaring yang lebih baik

Sistem rujukan tidak berjalan baik

4

Pasien

Layanan yang cepat, aman, ramah, worth it,

berbasiskan evidence, nyaman

Layanan yang tidak memuaskan

5

Peserta Didik

Pelaksanaan pendidikan dan penelitian yang

bermutu dengan standar internasional, suasana

yang nyaman dan apresiatif

Lulus dengan waktu melebihi batas

6

Staf Medik

Budaya collegial, sarana kerja yang mendukung,

beban kerja yang seimbang (pendidikan, penelitian

dan pelayanan), memberikan kesejahteraan,

kondusif untuk berkarya

Kesejahteraan kurang diperhatikan dan

banyaknya tugas dan koordinasi manajerial

yang menghabiskan waktu

7

Staf Non-medik

Beban kerja yang seimbang, memberikan

kesejahteraan, merasa dihargai, mendapatkan

pelatihan kompetensi, dan peluang pengembangan

karir

Kesejahteraan kurang diperhatikan

8

Masyarakat

Secara proaktif memberikan promosi kesehatan,

mampu membantu masyarakat mencegah

timbulnya penyakit

Kurangnya kontribusi langsung RSCM-FKUI ke

masyarakat

(21)

3.2 Tantangan Strategis

Memperhatikan dinamika tuntutan stakeholders kunci dan

informasi dari benchmark serta evaluasi atas pelaksanaan renstra

RSCM dan FKUI pada periode tahun 2010 - 2014, maka tantangan

strategis yang akan dihadapi oleh RSCM dan FKUI untuk periode

tahun 2015 – 2019 sebagai berikut :

(i)

Terwujudnya budaya menolong dan berkinerja

(ii)

Terwujudnya

staf

yang

memiliki

kompetensi

komprehensif yang unggul dengan pendekatan integratif

dan interdisipliner

(iii)

Terwujudnya integrasi riset dalam pelayanan dan

pendidikan

(iv)

Terwujudnya riset operasional, translasional, dan HTA

(health technology assessment berupa produk)

(v)

Terwujudnya sistem jaringan pelayanan dan pendidikan

menuju RSCM-FKUI sebagai acute academic tertiary care

(vi)

Cost-containment dalam pendidikan, layanan, dan riset

(vii)

Terwujudnya pelayanan yang beyond expectation

pengguna jasa

(viii) Terwujudnya sistem manajemen terintegrasi RSCM dan

FKUI

(ix)

Advokasi kepada pemerintah untuk mengoptimalkan

fleksibilitas

agar

kemandirian

finansial

lembaga

meningkat

(x)

Terwujudnya kematangan proses bisnis dan organisasi di

Departemen secara merata

(xi)

Keberlangsungan eksekusi proses bisnis berdasar JCI

(xii)

Terwujudnya kesejahteraan pegawai

Butir (i), (ii), (iii), (iv), (v) di atas sudah muncul pada renstra RSCM

dan FKUI periode tahun 2010 – 2014, dan periode renstra tahun

2015 – 2019 dinilai masih belum sepenuhnya tuntas.

Manajemen RSCM dan Dekanat menilai bahwa aspek-aspek

tersebut masih diperlukan untuk menunjang misi layanan,

pendidikan, dan riset, sehingga layak untuk kembali

dipertimbangkan dalam renstra periode tahun 2015 – 2019.

(22)

3.3 Rumusan Visi, Misi dan Tata Nilai

Rumusan Visi RSCM-FKUI 2019 adalah:

Creating infinite experience for all through Academic

Health System (AHS) atau Menciptakan Pengalaman yang

Istimewa untuk Semua melalui AHS

Definisi Operasional:

Yang dimaksud dengan infinite adalah gambaran sesuatu beyond

the

expectation.Ia

merupakan

ujung

dari

suatu

kontinumkepuasanberikut: basic – expected – desired – beyond

expectation (infinite).

Makna infinite experience bagi setiap stakeholder adalah:

 Bagi Pasien: Layanan yang cepat, aman, ramah, worth it,

berbasiskan

evidence,

nyaman,

empati

dan

“unik”/inovatif pada saat pra, durante, dan pasca layanan

 Bagi Peserta didik: Pelaksanaan pendidikan dan penelitian

yang bermutu dengan standar internasional, suasana

yang nyaman dan apresiatif, dan pengalaman belajar 1)

dengan para pakar berlandaskan profesionalisme, 2)

dalam berbagai setting pelayanan kesehatan, 3) dengan

teknologi terkini, 4) dalam penanganan kasus-kasus

khusus

 Bagi Staf Medik: budaya collegial, sarana kerja yang

mendukung, beban kerja yang seimbang (pendidikan,

penelitian dan pelayanan), memberikan kesejahteraan,

kondusif untuk berkarya dan difasilitasi untuk aktualisasi

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

kedokteran

 Bagi Staf Non-Medik: beban kerja yang seimbang,

memberikan

kesejahteraan,

merasa

dihargai,

mendapatkan pelatihan kompetensi, dan peluang

pengembangan karir dan profesi yang menarik

 Bagi Masyarakat: secara proaktif memberikan promosi

kesehatan, mampu membantu masyarakat mencegah

timbulnya penyakit, menurunkan angka kejadian sakit,

menciptakan perilaku hidup sehat, meningkatkan kualitas

hidup (cerdas dan produktif).

(23)

Rumusan Misi 2015-2019 RSCM-FKUI adalah:

1. Memberikan pelayanan kesehatan paripurna dan

bermutu serta terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

2. Menyelenggarakan pendidikan yang menghasilkan lulusan

terbaik, berbasis riset dalam rumah sakit bertaraf

internasional.

3. Melaksanakan penelitian kedokteran dan penelitian

pendidikan kedokteran bertaraf internasional, lintas

disiplin untuk mengantisipasi masalah kesehatan di masa

depan.

4. Berperan aktif membantu pemerintah pusat dan

pemerintah daerah dalam bidang pelayanan kesehatan,

pendidikan dan penelitian kedokteran.

5. Menyelenggarakan tatakelola organisasi yang terintegrasi,

efektif, efisien, dan akuntabel, sehingga terwujud

pertumbuhan finansial serta manajemen yang handal.

Rumusan Tata Nilai RSCM-FKUI dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2.Rumusan Tata Nilai RSCM-FKUI

No.

Nilai

Makna Nilai

Perilaku Utama

1

Integrity –

Integritas

Keselarasan antara

perkataan dan

perbuatan sesuai

etika, moral, dan

kemanusiaan

 Beriman & Bertakwa

 Jujur & Konsisten

 Memegang teguh etika

2

Professio-nalism –

Profesionalis

me

Kompeten dan

bertanggung jawab

dalam menjalankan

tugas

 Kompeten & Belajar

berkelanjutan

 Bertanggung jawab &

berdedikasi

 Disiplin & Taat pada aturan

3

Care for

Others –

Kepedulian

Melayani dengan

empati, tulus dan

peduli

 Peduli & Empati

 Cepat Tanggap

 Saling menghargai

4

Collaboration

– Kolaborasi

Bekerjasama secara

terpadu dalam

kesetaraan untuk

mencapai tujuan

bersama

 Proaktif bekerjasama

 Saling menolong & bersinergi

 Integrasi dalam kesetaraan

5

Excellence –

Keunggulan

Menghasilkan yang

terbaik secara

kreatif, inovatif, dan

berkelanjutan

 Berorientasi pada standar

tertinggi

 Inovatif, kreatif & mutakhir

 Terbuka terhadap perubahan

(24)

3.4 Patok Duga (Benchmark)

Dalam kurun waktu tahun 2015 – 2019, RSCM dan FKUI telah

berkomitmen untuk mengelola secara bersama dan sinergis misi

layanan, pendidikan, dan penelitian.Untuk kepentingan ini,

konsep AHS telah digunakan sebagai pola dalam mewujudkan visi

dan misinya.Karena pola pengelolaan berbasis AHS bersifat baru

bagi RSCM dan FKUI, maka RSCM dan FKUI telah menggunakan

institusi di bawah ini yang telah menggunakan AHS sebagai acuan

patok duga kinerjanya.

1. National University Health System, Singapura

2. University of Pennsylvania, USA

3.5Analisis SWOT

Analisis

SWOT

yang

dilakukan

merupakan

upaya

merepresentasikan berbagai faktor eksternal yang dinilai

sebagian tidak sepenuhnya bisa dikendalikan dan bahkan

sebagian sisa lainnya di luar kendali RSCM & FKUI dan berbagai

faktor internal yang sepenuhnya dapat dikendalikan oleh RSCM &

FKUI dalam rangka mewujudkan visi organisasinya. Faktor

eksternal direpresentasikan dalam analisis SWOT melalui

OPPORTUNITIES dan THREATS, sedangkan STRENGTHS dan

WEAKNESSES merepresentasikan faktor internal RSCM & FKUI.

Analisis dilakukan pertama-tama dengan menganalisa

faktor-faktor eksternal organisasi yang akan memengaruhi jalannya

roda organisasi AHS RSCM & FKUI dan kemudian berdasarkan

pemahaman atas faktor eksternal tersebut dilanjutkan dengan

menganalisa faktor internal organisasi RSCM dalam mewujudkan

visi RSCM & FKUI untuk periode tahun 2015-2019.

Berikut ini disajikan analisis faktor eksternal dan internal yang

dinilai faktor-faktor OPPORTUNITIES dan THREATS serta

STRENGTHS dan WEAKNESSES dalam mewujudkan visi periode

2011-2015.

Peluang

o Adanya JKN

o Meningkatnya health literacy dan kemampuan ekonomi

masyarakat

o Transisi demografi dan emerging diseases

o Perkembangan teknologi IT dan kedokteran

(25)

o Jejaring kerjasama dengan PEMDA, universitas dan

institusi lain terkemuka di dunia

o Mendapatkan status kemandirian dan fleksibilitas

pengelolaan (UI sebagai PTN BH)

o UU pendidikan kedokteran: Pentingnya hubungan antara

FK dan RS Pendidikan (AHC menjadi mungkin untuk

diwujudkan)

o Keberadaan rumpun ilmu kesehatan dan RS UI Depok

Ancaman

o Pertumbuhan industri rumah sakit dan munculnya jejaring

RS asing & FK asing

o Ketidakpastian kebijakan dan dukungan suprasistem

belum berjalan optimal

o Perkembangan budaya masyarakat yang lebih menuntut

terhadap pelayanan dan pendidikan

o Sistem rujukan nasional yang belum tertata

o Penugasan layanan publik yang membebani anggaran

o Ketidakpastian pendanaan dari suprasistem

Kekuatan

o Status UI yang sudah PTN BH dan RSCM yang sudah BLU

o Status dan reputasi RSCM & FKUI di tingkat nasional,

internasional, dan international acrreditation (JCI)

o Engagement staf medik dan non-medik yang tinggi

o Staf medik dengan kualifikasi paling tinggi di bidangnya

dan mempunyai integritas yang tinggi di Indonesia

o Peserta didik PPDS yang berkualitas tinggi

o Sudah memiliki layanan multi unggulan

o Kesamaan visi dan keharmonisan RSCM & FKUI

Kelemahan

o Belum meratanya tingkat kematangan organisasi dan

proses bisnis departemen

o Sarana &prasarana terbatas, termasuk kemampuan dan

biaya operasional pemeliharaan

o Proses bisnis pendidikan dan layanan yang masih belum

seamless

o Soft skill staf medik dan staf non-medik secara umum

yang belum memadai

(26)

o Sistem manajemen kinerja yang belum inherent pada

semua lini

o Remunerasi yang belum sepenuhnya berlaku

o Level integrasi IT yang masih rendah

o Inefisensi pemanfaatan (pengendalian biaya belum

tumbuh) sedangkan sumber daya finansial terbatas

o Penguasaan metodologi pendidikan kedokteran masih

lemah

3.6Diagram Kartesian Pilihan Prioritas Strategis

Tujuan bagian ini adalah untuk menentukan posisi bersaing

RSCM dan FKUI untuk mewujudkan visi periode tahun 2015 –

2019.Penilaian

posisi

bersaing

ini

dilakukan

dengan

memperhatikanbenchmark (patok duga) berbagai institusi yang

mempunyai arah pengembangan yang berbasis AHS (academic

health system).Posisi bersaing RSCM dan FKUI dilakukan dengan

memperhatikan hasil analisa SWOT dan benchmark.

Berikut ini disajikan analisa posisi bersaing RSCM & FKUI untuk

periode tahun 2015 – 2019.

(27)

Tabel 3.3. Peluang (Opportunity)

OPPORTUNITY

BOBOT

Nilai

Skor

1.Adanya JKN

13

4

0.52

2.Meningkatnya health literacy dan kemampuan ekonomi masyarakat

10.25

4

0.41

3.Transisi demografi dan emerging diseases

12.5

5

0.63

4.Perkembangan teknologi IT dan kedokteran

15.25

4

0.61

5.Jejaring kerjasama dengan PEMDA, universitas dan institusi lain

terkemuka di dunia

15

5

0.75

6.Mendapatkan status kemandirian dan fleksibilitas pengelolaan (UI sbg PTN

BH)

13.5

4

0.54

7.UU pendidikan kedokteran: Pentingnya Hubungan antara FK dan RS

Pendidikan (AHC menjadi mungkin untuk diwujudkan)

13.5

5

0.675

8.Keberadaan rumpun ilmu kesehatan dan RS UI Depok

7

4

0.28

TOTAL

100

4.41

Tabel 3.4. Ancaman (Threat)

THREAT

BOBOT

Nilai

Skor

1.Pertumbuhan industri rumah sakit dan munculnya jejaring RS asing & FK

asing

21

-4

-0.84

2.Ketidakpastian kebijakan dan dukungan supra-sistem belum berjalan

optimal

17.5

-4

-0.7

3.Perkembangan budaya masyarakat yang lebih demanding terhadap

pelayanan dan Pendidikan

12.5

-2

-0.25

4.Sistem rujukan nasional yang belum tertata

14

-2

-0.28

5.Penugasan layanan publik yang membebani anggaran

16.5

-2

-0.33

6.Ketidakpastian pendanaan dari suprasistem

18.5

-4

-0.74

(28)

Tabel 3.5. Kekuatan (Strength)

STRENGTH

BOBOT

Nilai

Skor

1.Status UI yg sudah PTN BH dan RSCM yg sudah BLU

11.3

3

0.34

2.Status dan reputasi RSCM & FKUI di tingkat nasional, internasional, dan

international acrreditation (JCI)

12.8

4

0.51

3.Engagement staf medik dan non-medik yang tinggi

16.0

3

0.48

4.Staf medik dengan kualifikasi paling tinggi di bidangnya dan mempunyai

integritas yang tinggi di Indonesia

18.4

4

0.74

5.Peserta didik PPDS yang berkualitas tinggi

12.9

4

0.52

6.Sudah memiliki layanan multi unggulan

14.5

4

0.58

7.Kesamaan visi dan keharmonisan RSCM & FKUI

14.3

5

0.71

TOTAL

100

3.87

Tabel 3.6. Kelemahan (Weakness)

WEAKNESS

BOBOT

Nilai

Skor

1.Belum meratanya tingkat kematangan organisasi dan proses bisnis

departemen

11.1

-2

-0.22

2.Sarana & Prasarana terbatas, termasuk kemampuan dan biaya operasional

pemeliharaan

10.0

-3

-0.30

3.Proses bisnis pendidikan dan layanan yang masih belum seamless

12.9

-4

-0.52

4.Soft skill staf medik dan staf non-medik secara umum yang belum

memadai

8.5

-3

-0.26

5.Sistem manajemen kinerja yg belum inherent pada semua lini

11.7

-3

-0.35

6.Remunerasi yang belum sepenuhnya berlaku

11.9

-3

-0.36

7.Level integrasi IT yg masih rendah

11.5

-4

-0.46

8.Inefisensi pemanfaatan (pengendalian biaya belum tumbuh) sedangkan

sumber daya finansial terbatas

11.5

-3

-0.35

9.Penguasaan metodologi pendidikan kedokteran masih lemah

10.9

-4

-0.44

(29)

Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 3.2 hingga 3.5, posisi

bersaing RSCM & FKUI untuk periode tahun 2015 – 2019 berada

di kuadran I pada diagram kartesius(lihat gambar 3.1). Walaupun

total skor kekuatan lebih besar dari kelemahan, namun selisih

atau resultante antara keduanya dinilai belum cukup besar.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa strategi RSCM - FKUI masih

perlu memfokuskan pada penguatan mutu kelembagaan dan

pengembangan pasar sasarannya sebagai arah strategis yang

ditekankan dalam mewujudkan visinya hingga tahun 2019. Patut

dicatat di sini bahwa di waktu yang lalu periode tahun 2010-

2014, RSCM dan FKUI berada di posisi di kuadran II diagram

kartesius. Hal ini mengindikasikan bahwa ada kemajuan berarti

selama 4 (empat) terakhir membangun mutu kelembagaan bagi

RSCM - FKUI. Namun demikian RSCM & FKUI masih perlu terus

menguatkan mutu kelembagaannya karena hasil evaluasi

pencapaian renstra RSCM dan FKUI periode tahun 2015-2019

menunjukkan bahwa masih ada banyak pekerjaan untuk menata

kembali mutu kelembagaan RSCM & FKUI, dan upaya penataan

ini menjadi suatu keniscayaan terlebih dalam perjalanan

mewujudkan bingkai AHS pada kurun waktu tahun 2015-2019.

Dan alasan ini pula yang menunjukkan mengapa sumbu X pada

diagram kartesius, yang menggambarkan resultante upaya

kekuatan terhadap kelemahan RSCM & FKUI, dinilai belum cukup

besar pada kurun waktu tahun 2015 – 2019.

(30)
(31)

3.7 Analisa TOWS

Berdasarkan posisi bersaing RSCM - FKUI untuk periode tahun

2015 – 2019, maka analisa TOWS dilakukan dengan menekankan

arah strategis pada penguatan mutu kelembagaannya. Berikut

disajikan hasil analisa TOWS (Tabel 3.6). Setiap sel matriks TOWS

diisi oleh sasaran strategi yang menunjukkan prioritas strategis

yang dipilih oleh RSCM & FKUI pada kurun waktu tahun 2015 –

2019 dalam menghadapi salah satu dari 4 (empat) keadaan

berikut:

(i)

memanfaatkan strength tertentu untuk menghadapi

suatu threat

(ii)

memanfaatkan

strength

tertentu

untuk

menggapaiopportunity

(iii)

meminimasi atau meniadakan weakness tertentu

dengan menghadapi threat tertentu

(iv)

meminimasi atau meniadakan weakness tertentu

dengan memanfaatkan opportunity tertentu

(32)

Tabel 3.7. Hasil Analisis TOWS

OPPORTUNITY THREAT

1.Adanya JKN

1.Pertumbuhan industri rumah sakit dan munculnya jejaring RS

asing & FK asing

2.Meningkatnya health literacy dan kemampuan ekonomi

masyarakat

2.Ketidakpastian kebijakan dan dukungan supra-sistem belum

berjalan optimal

3.Transisi demografi dan emerging diseases

3.Perkembangan budaya masyarakat yang lebih demanding

terhadap pelayanan dan pendidikan

4.Perkembangan teknologi IT dan kedokteran

4.Sistem rujukan nasional yang belum tertata

5.Jejaring kerjasama dengan PEMDA, universitas dan institusi

lain terkemuka di dunia

5.Penugasan layanan publik yang membebani anggaran

6.Mendapatkan status kemandirian dan fleksibilitas

pengelolaan (UI sbg PTN BH)

7.UU pendidikan kedokteran: pentingnya hubungan antara FK

dan RS Pendidikan

8.Keberadaan rumpun ilmu kesehatan dan RS UI Depok

1.Status UI yg sudah PTN BH dan RSCM yg sudah BLU

2.Status dan reputasi RSCM & FKUI di tingkat nasional, internasional,

dan international acrreditation (JCI)

S1 O4: Mengupayakan berbagai sumber pembiayaan untuk

investasi teknologi

S1,7 T2,6: Mewujudkan advokasi

3.Engagement staf medik dan non-medik yang tinggi

S2,3,4 O2 -4 : Mewujudkan Pusat Unggulan (Transplantasi

Center, Pelayanan Stemcell, Bank Jaringan, Clinical Research

Unit, dll)

S1,2,4 T1,6: Mewujudkan strategic Public Private Partnership

4.Staf medik dengan kualifikasi paling tinggi di bidangnya dan

mempunyai integritas yang tinggi di Indonesia

S1,2,3,7 O6,7,8: Mewujudkan AHC

T4: Mewujudkan penguatan pemberdayaan rumah sakit se-DKI

5.Peserta didik PPDS yang berkualitas tinggi

S3,4,5,6 O1: Mewujudkan RSCM-FKUI sebagai acute tertiary

care center dan top referral institution

6.Sudah memiliki layanan multi unggulan

7.Kesamaan visi dan keharmonisan RSCM & FKUI

1.Belum meratanya tingkat kematangan organisasi dan proses bisnis

departemen

2.Sarana & Prasarana terbatas, termasuk kemampuan dan biaya

operasional pemeliharaan

O1 W1,3,5,6,7,8: Penyempurnaan proses bisnis dan tatakelola

W1,3,4,5 T3: Mewujudkan sistem penjaminan mutu yang

berkesinambungan

3.Proses bisnis pendidikan dan layanan yang masih belum seamless

O4 W1,2,3,5,7,8: Mewujudkan percepatan integrasi IT

W2,6 T1: Mewujudkan RSCM-FKUI to be the best place to work

(remunerasi, recognition, sarana prasarana, karir, dll)

4.Soft skill staf medik dan staf non-medik secara umum yang belum

memadai

W4,9 : Mewujudkan kompetensi pendidik klinik

5.Sistem manajemen kinerja yg belum inherent pada semua lini

6.Remunerasi yang belum sepenuhnya berlaku

7.Level integrasi IT yg masih rendah

8.Inefisensi pemanfaatan (pengendalian biaya belum tumbuh)

sedangkan sumber daya finansial terbatas

9.Penguasaan metodologi pendidikan kedokteran masih lemah

ST R EN G TH W EA K N ES S

6.Ketidakpastian pendanaan dari suprasistem

(33)

3.8Peta Strategi

Berdasarkan hasil analisa posisi bersaing dan analisa TOWS, maka

dapat disusun peta strategi. Dalam buku ini, peta strategi

menggambarkan jalinan hubungan sebab dan akibat atas

berbagai sasaran strategis pada 4 (empat) perspektif, yakni

perspektif stakeholders, perspektif proses bisnis, perspektif

learning & growth, dan perspektif finansial. Peta strategi yang

disusun diadaptasi dari pendekatan Balanced Scorecard.Gambar

4 menyajikan peta strategi RSCM & FKUI untuk kurun waktu

tahun 2015 – 2019. Peta strategi RSCM & FKUI periode tahun

2015 – 2019 disusun atas 16 (enam belas) jenis sasaran strategis

yang dikembangkan berdasarkan pada analisa TOWS sebagai

berikut:

1. Terwujudnya pelayanan, pendidikan dan riset yang

ekselen

2. Terwujudnya strategic Public Private Partnership

3. Terwujudnya

cost-containment

dalam

pendidikan,

layanan dan riset

4. Terwujudnya kelembagaan AHC

5. Terakreditasi internasional

6. Terwujudnya pusat unggulan riset, pelayanan dan

pendidikan yang terintegrasi

7. Terwujudnya sistem jaringan pelayanan dan pendidikan

menuju RSCM-FKUI sebagai acute academic tertiary care

8. Terwujudnya Pendidikan Dokter Spesialis dalam rangka

menunjang layanan primer

9. Terwujudnya sistem advokasi yang efektif kepada

stakeholder

10. Sasaran Strategis

11. Terwujudnya sistem tata kelola dan penjaminan mutu

ditingkat unit kerja

12. Terwujudnya proses bisnis yang seamless dan terintegrasi

13. Terwujudnya percepatan integrasi IT

14. Terwujudnya RSCM-FKUI to be the best place to work

15. Terwujudnya budaya menolong dan berkinerja

16. Terwujudnya

staf

dengan

memiliki

kompetensi

komprehensif yang unggul dengan pendekatan integratif

dan interdisipliner

Berikut ini disajikan peta strategi RSCM dan FKUI untuk periode

tahun 2015 – 2019 (Gambar 3.2).

(34)

Gambar 3.2. Peta Strategi RSCM-FKUI 2015-2019

Terakreditasi Nasional

& Internasional

(35)

Peta strategi tersebut dimaknai sebagai berikut.Peta strategi

disusun untuk mewujudkan visi RSCM 2019, yakni “to create

infinite experience for al through AHS”. Dalam rangka

mewujudkan visi tersebut, sasaran strategis yang diperlukan

pada perspektif stakeholder adalah terwujudnya kepuasan

stakeholder, yang hanya bisa terjadi bila RSCM dan FKUI

mewujudkan

sasaran

strategis

terwujudnya

pelayanan,

pendidikan, dan riset yang excellent. Dan untuk mewujudkan

sasaran strategis terwujudnya pelayanan, pendidikan, dan riset

pada perspektif stakeholder, RSCM dan FKUI perlu terlebih

dahulu mewujudkan sasaran strategis terwujudnya kelembagaan

AHS

dan

mewujudkan

sasaran

strategis

terakreditasi

internasional pada perspektif proses bisnis internal. Untuk dapat

merealisasikan sasaran strategis terwujudnya kelembagaan AHS,

RSCM & FKUI terlebih dahulu perlu mengupayakan tiga jenis

sasaran strategis, yakni terwujudnya sistem jaringan pelayanan

dan pendidikan menuju RSCM & FKUI sebagai acute tertiary care,

sasaran strategis terwujudnya pusat unggulan nasional riset,

pelayanan, dan pendidikan yang terintegrasi, dan sasaran

strategis terwujudnya sistem kesehatan layanan primer. Kedua

jenis sasaran strategis pertama hanya bisa direalisasikan bila

RSCM & FKUI berkomitmen untuk membangun sasaran strategis

terwujudnya proses bisnis yang seamless dan terintegrasi dan

juga sasaran strategis terwujudnya sistem advokasi yang efektif

kepada stakeholders.

Pada perspektif proses bisnis internal, selain berkomitmen untuk

sasaran strategis terwujudnya kelembagaan AHS, RSCM & FKUI

perlu berkomitmen untuk merealisasikan sasaran strategis

terakreditasi internasional, yang dicapai melalui sasaran strategis

terwujudnya proses bisnis yang seamless dan terintegrasi dan

terwujudnya sistem tata kelola dan penjaminan mutu di tingkat

unit kerja.

Untuk mampu mewujudkan berbagai sasaran strategis pada

perspektif proses bisnis internal sebagaimana dijelaskan di atas,

maka RSCM & FKUI perlu mewujudkan berbagai sasaran strategis

di perspektif learning&growth sebagai fondasi dasar perwujudan

visi organisasi RSCM & FKUI di akhir tahun 2019. RSCM & FKUI

perlu berkomitmen untuk merealisasikan terwujudnya budaya

menolong

dan

berkinerja.

Namun,

untuk

mampu

(36)

mewujudkannya, RSCM & FKUI perlu terlebih dahulu

merealisasikan tiga jenis sasaran strategis pada perspektif

learning & growth: sasaran strategis terwujudnya percepatan

integrasi IT (information technology), sasaran strategis

terwujudnya staf yang memiliki kompetensi komprehensif yang

unggul, dan sasaran strategis terwujudnya RSCM & FKUI menjadi

the best place to work.

Perspektif finansial pada peta strategi berfungsi sebagai enabler

yang memampukan percepatan perwujudan ketiga jenis

perspektif lainnya (perspektif stakeholder, perspektif proses

bisnis internal, dan perspektif learning&growth). Ada dua jenis

sasaran strategis yang perlu direalisasikan oleh RSCM & FKUI

dalam perspektif finansial, yakni sasaran strategis terwujudnya

strategic public private partnership dan sasaran strategis

terwujudnya cost containment dalam pendidikan, layanan, dan

riset.

(37)

IV. INDIKATOR KINERJA UTAMA DAN PROGRAM KERJA STRATEGIS

4.1Matriks KPI

Berdasarkan peta strategi yang telah ditetapkan sebagai bingkai

arah dan prioritas strategis RSCM & FKUI demi mewujudkan visi

bersama AHS di penghujung tahun 2019, maka dapat disusun

Indikator Kinerja Utama atau KPI (Key Performance Indicator) dan

target KPI serta bobot KPI dan PIC (Person in Charge) atas suatu

KPI. Berbagai jenis KPI telah dirumuskan untuk renstra bersama

antara RCM & FKUI untuk periode tahun 2015 – 2019. Sebagian

jenis KPI adalah bertipe outcome, dan lainnya bertipe output,

proses, dan input. KPI berfungsi untuk mengukur secara kualitatif

tingkat keberhasilan pencapaian suatu sasaran strategis pada

peta strategi.KPI berjenis outcome merupakan indikator kinerja

utama yang mengukur keberhasilan RSCM & FKUI untuk

menghasilkan sasaran strategis tertentu. Jenis KPI outcome

hanya bisa diwujudkan bila ditunjang oleh berbagai KPI berjenis

output, yang berfungsi untuk mengukur tingkat keberhasilan

keluaran suatu sasaran strategis pada peta strategis. Berbagai KPI

bertipe proses merupakan kumpulan indikator keberhasilan

sasaran strategis yang dibutuhkan untuk mewujudkan KPI bertipe

output. Dalam buku ini, KPI bertipe proses hanya bisa diwujudkan

bila RSCM dan FKUI mewujudkan KPI bertipe input, yang

mengukur pencapaian keberhasilan RSCM & FKUI dalam

menyediakan sumber daya organisasi tertentu sebagai masukan

untuk melakukan berbagai sasaran strategis pada proses bisnis

internal.

Tabel 4.1 menggambarkan berbagai KPI untuk mengukur tingkat

keberhasilan suatu sasaran strategis pada peta strategi RSCM &

FKUI periode tahun 2015 – 2019.

(38)

Tabel 4.1. Indikator Kinerja Utama (KPI)

No

Perspektif

Sasaran Strategis

KPI

1

Stakeholder

Terwujudnya kepuasan stakeholder

1

Tingkat kepuasan pasien

2

Tingkatkepuasan peserta didik

2

Stakeholder

Terwujudnya pelayanan, pendidikan dan riset yang

ekselen

3

Jumlah translational research yang diterapkan dalam layanan

4

% kasus sulit yang berhasil ditangani (survive atau meninggal

dengan kualitas yang baik)

5

Jumlah jenis kasus sulit baru yang menjadi model (yan, lit, dik)

6

% lulusan yang mendapatkan pengalaman dan kompetensi lebih

dari standar

3

Finansial

Terwujudnya strategic Public Private Partnership

7

Jumlah layanan baru yang pembiayaannya berbasis PPP (>10M)

4

Finansial

Terwujudnya cost-containment dalam pendidikan,

layanan dan riset

8

Tingkat kewajaran biayapelayanan, pendidikan, dan riset

berbasis cost containtment

9

Tingkat efisiensi anggaran

5

BPI

Terwujudnya kelembagaan AHC

10 Terbitnya dasar hukum pembentukan AHC

11 % proses bisnis terintegrasi yang dikelola AHC

6

BPI

Terakreditasi internasional

12

Akreditasi

JCI

13 Akreditasi LAMP-PTKes

7

BPI

Terwujudnya pusat unggulan riset, pelayanan dan

pendidikan yang terintegrasi

14

Jumlah pusat unggulan riset, pelayanan dan pendidikan yang

terintegrasi dengan kinerja ekselen

8

BPI

Terwujudnya sistem jaringan pelayanan dan

pendidikan menuju RSCM-FKUI sebagai acute

academic tertiary care

15 % rujukan ke RSCM-FKUI yang tidak tepat

16 Jumlah RS binaan yg mampu menjadi RS rujukan balik

17

Jumlah program pendidikan pelatihan RS Jejaring yang

dilaksanakan oleh RSCM-FKUI

9

BPI

Terwujudnya Pendidikan dokter spesialis dalam

rangka menunjang layanan primer

18

Jumlah lulusan yang bekerja di sistem jejaring kesehatan primer

RSCM-FKUI

10

BPI

Terwujudnya sistem advokasi yang efektif kepada

stakeholder

19

Jumlah hasil kajian strategis yang dipakai untuk advokasi ke

(39)

Tabel 4.1.Indikator Kinerja Utama (KPI) (Lanjutan)

No

Perspektif

Sasaran Strategis

KPI

11

BPI

Terwujudnya sistem tata kelola dan penjaminan

mutu ditingkat unit kerja

20

% unit kerja (Unit & Dept) yang mendapatkan nilai ekselen

(tatakelola ISO, leadership, continuous improvement, integrasi

pendidikan, pelayanan, dan riset)

21

% unit kerja melaksanakan RTL (Rencana Tindak Lanjut) audit

mutu internal dan tracer

22 %unit kerja yang capaian indikator medik ekselen (JCI)

12

BPI

Terwujudnya proses bisnis yang seamless dan

terintegrasi

23 Jumlah BTP (Break Thru Project) yang berhasil diimplementasikan

13

L&G

Terwujudnya percepatan integrasi IT

24 Level integrasi IT

14

L&G

Terwujudnya RSCM-FKUI to be the best place to

work

25 Indeks kepuasan staf terhadap sistem dan lingkungan kerja

15

L&G

Terwujudnya budaya menolong dan berkinerja

26 % staf medik dengan kinerja ekselen

27 % staf non-medik dengan kinerja ekselen

28 Indeks budaya kinerja AHC RSCM-FKUI

16

L&G

Terwujudnya staf dengan memiliki kompetensi

komprehensif yang unggul dengan pendekatan

integratif dan interdisipliner

29

% staf medik yg memiliki perilaku integratif dan interdisipiliner

(mengikuti pendidikan dasar dokter klinik, mempunyai sertifikat

Good Clinical Practice, pernah menangani kasus medik sulit)

30 % staf non-medik yang memiliki kompetensi sesuai

(40)

Target matriks KPI berfungsi untuk mengukur tingkat

keberhasilan secara kuantitatif di tiap tahun atas kemajuan

pencapaian suatu sasaran strategis pada peta strategi.Target KPI

yang ditetapkan tiap tahun diupayakan ada peningkatan secara

kuantitatif hingga terwujudnya visi RSCM & FKUI di tahun 2019.

Bobot KPI ditentukan untuk menunjukkan tingkat kepentingan

relatif suatu jenis KPI dibandingkan dengan jenis KPI lainnya.

Total bobot semua jenis KPI adalah 100 (seratus) persen. Dengan

demikian, bila ada suatu jenis KPI mempunyai nilai bobot lebih

tinggi daripada jenis KPI lainnya, jenis KPI tersebut dinilai lebih

menentukan dalam mewujudkan visi bersama RSCM & FKUI di

akhir tahun 2019. Kondisi ini juga mengindikasikan bahwa bobot

KPI yang lebih tinggi merepresentasikan keinginan kuat jajaran

manajemen RSCM dan Dekanat FKUI untuk merealisasikan suatu

sasaran strategis yang dinilai lebih penting dan mendesak untuk

mewujudkan visi bersama RSCM & FKUI di akhir tahun 2019.

PIC (person in charge) menggambarkan penanggung jawab

utama terhadap pencapaian suatu jenis KPI dalam menilai tingkat

keberhasilan pencapaian suatu sasaran strategis pada peta

strategi RSCM & FKUI periode tahun 2015 – 2019. PIC

mengondisikan bahwa penanggung jawab tersebut akan

memantau, mengukur, dan mengevaluasi secara berkala status

pencapaian kemajuan atau keberhasilan suatu sasaran strategis

pada peta strategi dan pada waktu tertentu bersama-sama

dengan PIC lainnya, PIC terkait melakukan secara berkala

koordinasi untuk mengendalikan status pencapaian visi bersama

RSCM & FKUI.

Tabel 9 menggambarkan informasi bobot KPI, target KPI tiap

tahun dan PIC terkait.

Gambar

Gambar 1.2.Sebagian Aktivitas Penyusunan Renstra RSCM dan FKUI  Periode 2015 – 2019
Tabel 2.1. Pencapaian Kinerja 2011-2014
Tabel 3.1.Harapan dan Kekhawatiran UtamaStakeholder Kunci
Tabel 3.2.Rumusan Tata Nilai RSCM-FKUI
+7

Referensi

Dokumen terkait