gangguan tidur pada lansia

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Irwin feinberg mengungkapkan bahwa sejak meninggalkan masa remaja, kebutuhan tidur seseorang menjadi relatif tetap. Luce dan segal mengungkapkan bahwa faktor usia merupakan faktor terpenting yang berpengaruh terhadap kualitas tidur. Telah dikatakan bahwa keluhan terhadap kualitas tidur seiring dengan bertambahnya usia.

Pada kelompok lanjut usia (empat puluh tahun) hanya di jumpai 7% kasus yang mengeluh mengenai masalah tidur (hanya dapat tidur tidak lebih dari lima jam sehari). Hal yang sama dijumpai pada 22% kasus pada kelompok lanjut usia tujuh puluh tahun.

Demikian pula, kelompok lanjut usia lebih bbanyak mengeluh terbangun lebih awal dari pukul 05.00 pagi. Selain itu, terdapat 30% kelompok usia tujuh puluh tahun yang banyak terbangun di waktu malam hari. Angka ini ternyata tujuh kali lebih besar dibandingkan dengan kelompok usia dua puluh tahun.

B. Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud dengan tidur ? 2. Bagaimana siklus tidur ?

3. Apa yang mempengaruhi pola tidur ? 4. Gangguan tidur

5. Penatalaksanaan gangguan tidur C. Tujuan

1. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan tidur. 2. Untuk mengetahui Bagaimana siklus tidur.

3. Untuk mengetahui Apa yang mempengaruhi pola tidur. 4. Untuk mengetahui Gangguan tidur.

(2)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian

Menurut Potter & Perry (2005), Tidur merupakan proses fisiologis yang bersiklus bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan. Tidur merupakan kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh stimulasi atau sensori yang sesuai (Guyton dalam Aziz Alimul H) atau juga dapat dikatakan sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktifitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi terhadap perubahan fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap rangsangan dari luar.

Menurut johnson tidur dianggap sebagai salah satu kebutuhan fisiologis dasar manusia, tidur terjadi secara alami, dengan fungsi fisiologis dan fungsi psikologis yang melekat dan merupakan suatu proses perbaikan tubuh. Secara fisiologis, apabila seseorang tidak mendapatkan tidur yang cukup dapat terjadi efek-efek seperti pelupa, konfusi dan disorientasi. Secara psikologis,tidur memungkinkan seseorang untuk mengalami perasaan sejahtera serta energi psikis dan kewaspadaan untuk menyelesaikan tugas-tugas.

B. Siklus Tidur

Tidur terbagi menjadi beberapa fase, yang berulang dan membentuk sebuah siklus selama tidur. Keadaannya sangat berbeda dengan yang tampak dari luar dimana tidur tampak seperti aktifitas yang pasif dan lurus. Mulai dari transisi dari terjaga menjadi tertidur, tidur lelap hingga mimpi, semuanya memegang pengaruh penting terhadap tubuh dan pikiran..

Terdapat dua fase utama tidur, yaitu Non-Rapid Eye Moevement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Keterangan serta tahapan-tahapan yang terjadi di dalamnya adalah sebagai berikut.

a. Fase Tidur: Non-REM (NREM)

Non-rapid eye movement terbagi menjadi 4 tahap: N1 – N4, yang masing-masingnya lebih dalam dari yang lainnya.

N1 dimulai saat kita mulai tertidur dan berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, sekitar 5 menit. Mata bergerak sangat lambat di bawah kelopak, aktifitas otot menurun, dan pada tahap ini kita sangat mudah terbangun. Banyak orang yang

(3)

merasakan sensasi seperti ‘terjatuh’ pada tahap ini, yang menyebabkan kontraksi otot secara tiba-tiba (disebut hypnic myoclonia).

N2 tahap ini bisa dikatakan sebagai tahap awal saat kita benar-benar tidur, dan berlangsung antara 10-30 menit. Pada tahap ini otot tubuh menjadi sangat rileks, aktifitas otak lebih lambat, gerakan mata berhenti, detak jantung melambat dan temperatur tubuh menurun. Seseorang agak susah terbangun di tahap ini.

N3 & N4 kedua tahap ini merupakan tahap paling dalam dari tidur NREM. Sangat sulit untuk terbangun pada tahap ini, dan jika terbangun kita akan mengalami disorientasi serta membutuhkan penyesuaian selama beberapa menit. Pada bagian terdalam dari tahap ini, aktifitas otak sangat lambat, dan aliran darah lebih banyak diarahkan ke otot, mengisi energi fisik tubuh.

Selama tahap tidur lelap (deep sleep) pada fase NREM, tubuh akan meregenerasi dan memperbaiki sel-sel tubuh, serta memperkuat sistem imun tubuh.

b. Fase Tidur: REM

Fase REM biasanya terjadi 70 – 90 menit setelah kita tertidur. Fase tidur ini lebih dalam dari NREM. Selama fase REM ini, biasanya mata bergerak-gerak/berkedut (itulah mengapa fase ini disebut rapid eye movement) dan napas menjadi lebih tidak teratur, aktifitas otak dan ritme detak jantung juga meningkat.

Umumnya mimpi terjadi saat fase tidur REM. Namun otak ‘melumpuhkan’ otot-otot tubuh, khususnya tangan dan kaki, sehingga kita tidak ikut bergerak saat bermimpi.

c. Siklus NREM dan REM dalam Tidur

Selama tidur, seseorang biasanya melewati setidaknya 3 tahapan dalam NREM sebelum masuk ke fase REM. Siklus atau perputaran antara dua fase ini akan terus berulang selama tidur, yang masing-masingya membutuhkan waktu antara 1 – 2 jam. Dan siklus ini dapat berulang sekitar 3 hingga 4 kali dalam satu malam.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tidur

Sejumlah faktor dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur. Seringkali faktor tunggal tidak hanya menhadi penyebab masalah tidur. Faktor fisiologis, psikologis dan lingkungan dapat mengubah kualitas dan kuantitas tidur.

(4)

Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan fisik (mis. Kesulitan bernapas), atau masalah suasana hati, seperti kecemasan atau depresi, dapat menyebabkan masalah tidur. Seseorang dengan perubahan seperti itu mempunyai masalah kesulitan tidur atau tetap tidru. Penyakit juga dapat memaksa klien untuk tidur dalam posisi yang tidak biasa. Sebagai contoh, memperoleh posisi yang aneh saat tangan atau lengan dimobilisasi pada traksi dapat mengganggu tidur.

Penyekit pernapasan seringkali mempengaruhi tidur. Klien yang berpenyakit paru kronik seperti emfisema dengan napas pendek dan seringkali tidak dapat tidur tanpa dua atau tiga bantal untuk meninggikan kepala mereka. Asma, bronchitis, dan rhinitis alergi mengubah irama pernapasan dan mengganggu tidur. Seorang yang pilek mengalami kongesti nasal, drainase sinus, dan sakit tenggorok, yang mengganggu pernapasan dan kemampuan beristirahat.

Penyakit jantung koroner sring dikarakteristikkan dengan episode nyeri dada yang tiba-tiba dan denyut jantung tidka teratur. Klien yang berpenyakit ini seringkali mengalami frekuensi terbangun yang sering dan perubahan tahapan selama tidur (mis. Sering berpindah dari tahap 3 dan 4 ke tidur tahap 2 yang dangkal) seperti perubahan yang bermakna dalam semua tahap tidur, sebagai contoh, supresi tidur REM dan tahap 3 dan 4 (Landis, 1988).

Hipertensi seringkali menyebabkan terbangun pada pagi hari dan kelemahan. Hipotiroidisme menurunkan tidur tahap 4, sebaliknya hipertiroidisme menyebabkan seorang perlu waktu yang banya untuk tertidur.

Nikturia, atau berkemih pada malam hari, mengganggu tidur dan siklus tidur. Kondisi ini yang paling umum pada lansia dengan penurunan tonus kandung kemih atau orang yang berpenyakit jantung, diabetes, uretritis, atau penyakit prostat. Setelah seseorang berulang kali terbangun untuk berkemih, menyebabkan sulit untuk kembalo tertidur kembali.

Lansia sering juga mengalami “sindrom kaki tak berdaya” yang terjadi pada saat sebelum tidur. Mereka mengalami berulang kali kambuh, gerakan berirama pada kaki dan tungkai. Sensasi gatal sangat dirasakan di otot. Berkurang hanya dengan menggerakkan kaki, yang mencegah relaksasi dan tidur selanjutnya. Tergantung pada sebsrapa berat tidur terganggu, maka sindrom kaki yang tak berdaya menjadi suatu kondisi yang relative. Sebaliknya, orang yang mengalami kram kaki pada malam hari bermasalah pada siklus arteri.

Seseorang yang berpenyakit tukak peptic seringkali terbangun pada tengah malam. Kadar asam lambung mencapai puncak sekitar pukul 1 sampai 3 (McNeil dkk, 1986), menyebabkan nyeri lambung.

(5)

Dari daftar obat di PDR 1990,dengan 584 obat resep atau obat beas menyliskan mengantuk sebagai salah satu efek samping, 486 menulis insomnia, 281 mwnywbabkan kelelahan (Buysse, 1991). Mengantuk dan deprivasi tidur dalah efek samping medikasi yang umum (lihat kotak). Medikasi yang dirsepkan untuk tidur seringkali memberib anyak masalah daripada keuntungan. Orang dewasa muda dan dewasa tengah dapat tergantung pada obat tidur untuk mengatasi stesor agaya hidupnya. Lansia seringkali menngunakan variasi obat untuk mengontrol atau mengatasi penyakit kroniknya, dan efek kombinasi dari bebrapa obat-obatantersebut dapat mengganggu tidur secara serius. L-triptofan, suatu protein alami yang ditemukan dalam makanan seperti susu, keju, dan daging, dapat membantu orang untuk tertidur.

Nama obat Pengaruh pada tidur

Hipnotik - Mengganggu dengan mencapai tahap

tidur yamh lebih dalam

- Memberikan hanya peningkatan kualitas tidur sementara (q minggu)

- Seringkali menyebabkan “rasa

mengambang” sepanjang siang hari; perasaan mengantuk berlabihan, bingung, dan prnurunan energy.

- Memperburuk apnea tidur pada lansia

Diuretik - Menyebabkan nokturia

Antidepresan dan stimulant - Menekan tidur REM

- Menurunkan total waktu tidur

Alcohol - Mempercepat tidur REM

- Mengganggu tidur REM

- Membangunkan seseorang pada malam hari menyebabkan kesulitan untuk kembali tidur

Kafein - Mencegah seseorang tertidur

- Dpaat menyebabkan seseorang terbangun malam hari

Penyekat –beta - Menyebabkan mimpi buruk

- Menyebabkan insomnia

- Menyebabkan terbangun dari tidur

Benzodiazepine - Meningkatkan waktu tidur

- Meingkatkan kantuk di siang hari

Narkotika (morfin/Demerol) - Menekan tidur REM

(6)

kantuk pada siang hari 3. Gaya Hidup

Rutinitas harian seseorang mempengaruhi pola tidur. Individu yangbekerja bergantian berputar (mis. 2 minggu siang dan diikuti oleh 1 minggu malam) seringkali mempunyai kesulitan menyesuaikan perubahan jadwal tidur. Jam internal tubuh diatur pukul 22, tetapi sebaliknya jadwal kerja memaksa untuk tidur pada pukul 9 pagi. Individu mampu untuk tidur hanya selam 3 sampai 4 jam karean jam tubuh mempersepsikan bahwa ini adalah waktu terbangun dan aktif. Kesulitan mempertahankan kesadaran selama waktu kerja menyebabkan oenurunan dan bahkan penampilan yang berbahaya. Setelah beberapa minggu kerja pada dinas malam hari, jam bilogis seseorang biasanya dapat menyesuaikan. Perubahan lain dalam rutinitas yang mengganggu pola tidur meliputi kerja berat yang tidak biasanya, terlibat dalam aktivitas social pada larut-malam, dan perubahan waktu makan malam.

D. Macam-Macam Gangguan Tidur 1. Insomnia

Insomnia adalah ketidak mampuan untuk tidur walaupun ada keinginan untuk melalukannya. Lansia rentan terhadap insomnia karena adanya perubahan pola tidur,sering terbangun , ketidakmampuan kembali tidur dan terbangun pada dini hari. Karena insomnia merupakan gejala ,maka perhatian harus diberikan pada factor-faktor biologis,emosional,dan medis yang berperan, juga pada kebiasaan tidur yang buruk. Imsomnia terdiri dari tiga jenis:

a. Jangka pendek.berakhir beberapa minggu dan muncul akibat pengalaman stress yang bersifat sementara seperti kehilangan orang yang dicintai, tekanan di tempat kerja, atau takut kehilangan pekerjaan. Biasanya kondisi ini dapat hilang tanpa intervensi medis setelah orang tersebut beradaptasi dengan stressor.

b. Sementara: episode malam gelisah yang tidak sering terjadi akibat perubahan – perubahan lingkungan seperti jet lag, kontruksi bangunan yang bising, atau pengalaman yang menimbulkan ansietas.

c. Kronis: berlangsung selama 3 minggu atau seumur hidup. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kebiasaan tidur yang buruk, masalah psikologis,penggunaan obat tidur berlebihan,gangguan jadwal tidur-bangun dan masalah kesehatan lainnya. 40% insomnia kronis disebabkan oleh masalh fisik seperti apnea tidur,sindrom kaki

(7)

gelisah, atau nyeri kronis atau atritis. Insomnia kronis biasanya memerlukan intervensi psikiatrik atau medis.

2. Hypersomnia

Hypersomnia dicirikan dengan tidur lebih dari 8 atau 9 jam periode 24 jam,dengan keluhan tidur berlebihan. Penyebab hypersomnia masih bersifat spekulatif terapi dapat berhubungan dengan ketidak aktifan,gaya hidup yang membosan kan,atau depresi.orang tersebut dapat menunjukan mengantuk di siang hari dan persisten,mengalami “serangan tidur”,tampak mabuk atau komatose,atau mengalami mengantuk pascaensefalitik. Keluhan keletihan ,kelemahan,dan kesulitan mengingat atau belajar merupakan hal yang sering terjadi.

3. Apnea tidur

Apnea tidur adalah berhentinya pernapasan selama tidur.gangguan ini diidentifikasi dengan gejala “mendengkur,berhentinya pernafasan selama 10 detik,dan rasa kantuk disiang hari yang luar biasa.”selama tidur pernafasan dapat berhenti sebanyak 300kali,dan episode apnea dapat berakhir dari 10-90 detik. Pria dewasa dengan riwayat mendengkur yang keras dan intermiten, yang juga obesitas dengan leher yang pendek dan besar biasanya berisiko mengalami apnea tidur. Gejala apnea tidur antara lain:

a. Dengkuran yang keras dan periodic

b. Aktivitas malam hari yang tidak biasa,seperti duduk tegak,berjalan dalm tidur,terjatuh dari tempat tidur

c. Gangguan tidur dengan seringnya terbangun di malam hari (nocturnal waking) d. Perubahan memori

e. Deperisi

f. Rasa kantuk yang berlebihan disiang hari g. Nokturia

h. Sakit kepala di pagi hari i. Ortopnea akibat apnea tidur

Pengobatan yang spesifik untuk apnea tidur melibatkan penurunan berat badan,dengan penatalaksanan medis atau pembedahan untuk membuang penumpukan jaringan di area faring. Pasien dapat di anjurkan untuk menghindari alcohol dan

(8)

obat-obatan yang dapat memengaruhi respon terbangun dan untuk menggunakan bantal tambahan atau tidur dikursi.

Semua tindakan tersebut dapat membantu mengurangi kemungkinan komplikasi yang disebabkan oleh apnea tidur.

E. Penatalaksanaan Gangguan Tidur 1. Pencegahan Primer

Sebelas peraturan untuk mendapatkan hygiene tidur yang baik telah berhasil diidentifikasi untuk pencegahan primer gangguan tidur.

a. Tidur seperlunya,tetapi tidak berlebihan,agar merasa segar dan sehat di hari berikutnya. Pembatasan waktu tidur dapat memperkuat tidur,berlebihan waktu yang di habiskan di tempat tidur tampak nya berkaitan dengan tidur yang terputus putus dan dangkal.

b. Waktu bangun yang teratur di pagi hari memperkuat siklus sirkadian menyebabkan tidur yang teratur.

c. Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memperdalam tidur,namun latihan yang hanya dilakukan kadang-kadang tidak dapat memperbaikan tidur pada malam berikut nya.

d. Bunyi bising yang bersifat kadang-kadang (mis:bunyi pesawat yang terbang melintas)dapat mengganggu tidur sekalipun orang tersebut tidak terbangun oleh bunyinya dan tidak dapat mengingatnya di pagi hari.kamar tidur kedap suara dapat membantu bagi orang-orang yang harus tidur di dekat kebisingan.

e. Meskipun ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur,namun tidak ada bikti yang menunjukkan bahwa kamar yang terlalu dingin dapat membantu tidur. f. Rasa lapar mengganggu tidur,kudapan ringan dapat membantu tidur.

g. Pil tidur yang hanya kadang-kadang saja digunakan dapat bersifat menguntugkan,namun penggunanya yang kronis tidak efektif pada kebanyakan penderita insomnia.

h. Kafein dimalam hari dapat mengganggu tidur,meskipun pada orang-orang berfikir demikian.

i. Alcohol membantu orang-orang yang tegang untuk tertidur lebih mudah,tetapi tidur tersebut kemudian akan terputus-putus.

(9)

j. Orang-orang yang merasa marah dan frustasi karena tidak dapat tidur tidak boleh berusaha terlalu keras untuk tertidur tetapi harus menyalakan lampu dan melakukan hal lain yang berbeda.

k. Penggunaan tembakau secara kronis dapat mengganggu tidur. Tindakan pencegahan primer lainnya antara lain adalah:

 Kasur yang baik memungkinkan kesejajaran tubuh yang tepat

 Suhu kamar harus cukup dingin (kurang dari 24 0C)sehingga cukup nyaman  Asupan kalori minimal pada saat menjelang tidur.

 Latihan sedang disiang hari atau sore hari merupakan hal yang di anjurkan. 2. Pencegahan Sekunder

Pengkajian oleh perawat harus mencakup factor-faktor berikut ini: a. Seberapa baik lansia tersebut tidur dirumah?

b. Berapa kali lansia tersebut terbangun di malam hari? c. Kapan lansia tersebut pergi ketempat tidur dan terbangun?

d. Ritual apa saja yang terjadi menjelang tidur (kudapan menjelang tidur, nonton, dengar musik, membaca)?

e. Berapa jumlah dan jenis latihan yang dilakukan setiap hari?

f. Apakah posisi yang paling di sukai saat berada di atas tempat tidur?

g. Apa kondisi yang di senangi saat tidur (tenang, musik lembut, terang gelap total, kamar tertutup)?

h. Berapa suhu yang di sukai?

i. Berapa ventilasi yang di inginkan?

j. Aktivitas apa yang biasanya di lakukan beberapa jam menjelang tidur? k. Apa saja obat tidur atau obat lain yang di ingesti sebelum tidur secara rutin? l. Berapa banyak waktu yang di habiskan orang tersebut dalam hobinya? m. Persepsi orang tersebut tentang kepuasan hidup dan status kesehatannya?

Seperti biasa, validasi riwayat pengkajian dengan anggota keluarga ialah hal penting untuk memastikan keakuratan data pengkajian jika pasien kurang kooperatif dalam memerikan data.

Catatan harian tentang tidur ialah cara pengkajian yang sangat bagus bagi lansia di rumahnya sendiri. Informasi ini memberikan catatan yang akurat mengenai masalah gangguan tidur dalam kurun waktu selama 3 sampai 4 minggu. Catatan tersebut harus mencakup faktor-faktor berikut ini :

(10)

 Seberapa sering bantuan di perlukan untuk memberikan obat nyeri, tidak dapat tidur, menggunakan kamar mandi.

 Kapan lansia terseebut turun dari tempat tidur

 Berapa kali lansia tersebut terbangun atau tertidur saat di observasi oleh perawat atau pemberi bantuan.

 Terjadinya difusi atau disorientasi.  Penggunaan obat tidur.

 Perkiraan lansia tersebut bangun di pagi hari.

a. Penatalaksanaan Terapeutik

Bootzin dan Nicasio menganjurakn aturan-aturan berikut untuk mempertahankan kenormalan pola tidur :

 Pergi tidur jika hanya mengantuk saja.  Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur.

 Jika tidak bisa tidur, coba lakukan bangun dari tempat tidur lalu pindah ke ruangan lain, dan rasakan sampai mengantuk baru tidur lagi ke kamar, apabila belum juga bisa tidur lakukan hal tersebut sesering mungkin.

 Stel alarm dengan waktu yang sama di setiap harinya untuk menciptakan irama tidur yang konstan tanpa menghiraukan berapa lama rentang tidur malam hari.

 Jangan tidur siang.

b. Intervensi Keperawatan

Ini adalah intervensi keperawatan yang di anjurkan :

 Pertahankan kondisi yang kondusif saat ingin tidur,yang termasuk perhatian pada faktor-faktor lingkungan dan kegiatan ritual sebelum tidur.

 Berikan terapi pada lansia tersebut menjelang tidur seperti usapan punggung, masase kaki untuk menimbulkan efek mengantuk.

 Berikan posisi yang nyaman, menghilangkan yeri, serta berikan kehangatan dengan selimut-selimut konvensional atau selimut listrik.

 Jangan biarkan pasien meminum kafein seperti kofi di malam dan sore hari.

 Lakukan tindakan-tindakat masuk akal seperti stel musik-musik dengan irama pelan, atau tawarkan susu hangat dan minuman hangat tanpa menggunakan metode hipnotik.

(11)

 Latihan setiap hari juga di anjurkan untuk meningkatkan tidur,latihan di lakukan di pagi hari.

 Mandi air hangat (berendam) juga dapat menimbulkan efek relax pada lansia tp tidak semua menyukainya karna banyak yang beranggapan akan pusing saat bangun dari tub. Jika tindakan ini gagal untuk memperbaiki kualitas tidur maka obat-obatan dapat menjadi pilihan untuk sementara tapi hanya boleh untuk upaya terakhir. Perawat yang terampil haruslah paham betul dengan obat-obatan yang di berikan kepada lansia tersebut sebab bila di dapati rasa kantuk di siang hari atau disorientasi dan konfusi maka pemberian obatan-obatan harus di hentikan secara berhap dan di lakukan tindakan non farmakologi.

3. Pencegahan tersier

Jika terdapat gangguan tidur seperti apnea tidur yang mengancam kehidupan, kondisi pasien memerlukan rehabilitasi melalui tindakan-tindakan seperti pengangkatan jaringan yang menyumbat di mulut dan mengaruhi jalan napas. Karna perkembangan zaman jadi sekarang sudah banyak bisa di termukan tempat-tempat untuk membantu mengevaluasi gangguan tidur yang di lengkapi alat-alat yang canggih untuk merekam listrik di otak dan obstruksi pernapasan. Data-data tersebut membantu untuk menentukan pengobatan yang tepat bagi gangguan tidur.

(12)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada kelompok lanjut usia (empat puluh tahun) hanya di jumpai 7% kasus yang mengeluh mengenai masalah tidur (hanya dapat tidur tidak lebih dari lima jam sehari). Hal yang sama dijumpai pada 22% kasus pada kelompok lanjut usia tujuh puluh tahun.

Demikian pula, kelompok lanjut usia lebih bbanyak mengeluh terbangun lebih awal dari pukul 05.00 pagi. Selain itu, terdapat 30% kelompok usia tujuh puluh tahun yang banyak terbangun di waktu malam hari. Angka ini ternyata tujuh kali lebih besar dibandingkan dengan kelompok usia dua puluh tahun.

B. Saran

Hendaknya keluarga-keluarga yang hidup dengan lansia lebih memperhatikan siklus tidur dari lansia tersebut. Apabila ditemukan gangguan, bias berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terdekat agar cepat ditemukan solusinya.

(13)

Daftar pustaka

Mickey stanley & Patricia, G.B (2006). Buku ajar keperawatan gerontik. Terjemahan. Jakarta. EGC

Potter, Patricia.A (2005). Buku ajar fundamental keperawatan; konsep, proses, dan praktik. Jakarta. EGC

Wahjudi , Nugroho (2000). Keperawatan gerontik .Jakarta. EGC

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : gangguan tidur pada lansia