• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bagian sub bab ini akan menyajikan hasil dan pembahasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bagian sub bab ini akan menyajikan hasil dan pembahasan"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

50

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bagian sub bab ini akan menyajikan hasil dan pembahasan penelitian yang telahdiperoleh dari hasil pelaksanaan penelitian. Hasil dan Pembahasan penelitian ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah pada bagian bab pertama tentang bagaimana desain, instalasi, proses dan hasil pelaksanaan supervisi klinis dalam ketercapaian standar proses bagi guru-guru matematika di SMA Negeri 1 Pandawai.

4.1 Gambaran Lokasi Sekolah

Lokasi penelitian berada di SMA Negeri 1 Pandawai yang beralamat Jl. Cendana di kelurahan Kawangu, kecamatan Pandawai Kabupaten Sumba Timur. Sekolah ini terletak di pinggiran Kota dengan jarak ±10 km dari pusat Kota Waingapu. Sekolah tersebut sudah cukup terkenal dikalangan masyarakat, karena letaknya strategis yang berdekatan dengan kantor pemerintahan wilayah dan didukung oleh empat kecamatan yaitu Kecamatan Pandawai, Kecamatan Mahu, Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang dan Kecamatan Kambera. Terdapat empat sekolah pendukung di sekitarnya untuk melakukan kerja sama dan mendapatkan informasi mengenai siswa yang

(2)

51

melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Pandawai, selain itu juga mudah dijangkau dengan stransportasi.

SMA Negeri 1 Pandawai merupakan satu-satunya sekolah menengah atas yang ada di kecamatan pandawai. Sekolah ini berdiri sejak tahun 2009, di bangun di atas tanah seluas 2.000m2. Diresmikan oleh Bupati Sumba Timur yaitu Gidion Mbiliyora atas nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pendirian SMA Negeri 1 Pandawai termasuk dalam surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 128/07/235/V.

Visi dari SMA Negeri 1 Pandawai adalah “Menghasilkan Sumber Daya Manusia yang menguasai IPTEK, Terdidik, Berbudaya, Beretos Kerja, memiliki Imtaq dan Berprestasi dalam Seni Budaya dan Olahraga”.

Sementara misi dari SMA Negeri 1 Pandawai adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efesien dengan tenaga guru yang handal dan profesional untuk menghasilkan lulusan yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

(3)

52

2. Melengkapi sarana dan prasarana serta tenaga kependidikan lainnya untuk menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar. 3. Menyelenggarakan bimbingan dan latihan serta program belajar

tambahan pada siswa untuk meningkatkan kemampuan dan prestasi.

4. Membina dan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler sebagai wahana penyaluran bakat dan minat siswa agar siswa mengenali potensi dirinya sebagai bekal masa depan.

5. Membina dan menegakkan disiplin yang berakar pada kebudayaan nasional yang memiliki etos kerja yang lebih tinggi sebagai kunci utama keberhasilan.

6. Membina dan mengembangkan kegiatan peduli sesama dan lingkungan dengan prestasi yang dimiliki sebagi wujud hidup dalam kebersamaan dan keselarasan.

7. Membina dan mengembangkan kegiatan seni, budaya dan kemasyarakatan untuk mewujudkan hubungan yang harmonis serta memiliki jati diri yang kukuh di tengah-tengah kehidupan antar sesama.

(4)

53

Rombongan belajar (rombel) SMA Negeri 1 Pandawai pada tahun 2018/2019 terbagi menjadi 24 rombel, dengan uraian sebagai berikut:

Tabel 4.1 Rombongan Belajar (Rombel) SMA Negeri 1

Pandawai

Rombel 10 Rombel 11 Rombel 12

Uraian L P Total L P Total L P Total Jumlah 116 168 284 135 158 293 88 152 240

Sumber: website SMA N 1 Pandawai

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah siswa SMA Negeri 1 Pandawai pada tahun 2018/2019 adalah berjumlah 817 peserta didik, terdiri dari 339 laki-laki dan 478 perempuan.

Prestasi yang pernah diraih SMA Negeri 1 Pandawai baik dari segi akademik maupun non-akademik cukup membanggakan. Pada tahun 2012, sekolah ini meluluskan salah satu siswa dengan nilai sempurna sepuluh pada Ujian Nasional untuk satu provinsi Nusa Tenggara Timur.

4.1.1 Sumber Daya Sekolah

Sumber daya sekolah yang terdapat di SMA Negeri 1 panadawai yang terdiri dari 3 sumber daya yaitu:

(5)

54 1. Sumber Daya Manusia

Berdasarkan data dokumen administrasi yang diperoleh dari sekolah, bahwa kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan dengan dukungan sumber daya manusia yang terdiri dari: 20 guru laki-laki termasuk tenaga pendidik, 35 guru perempuan termasuk tenaga pendidik.

2. Sumber Daya Fisik

Hasil observasi dan dokumentasi yang dilakukan, SMA Negeri 1 Pandawai memiliki sumber daya fisik berupa bangunan yaitu 21 ruang kelas, 3 ruang laboraturium dan 1 ruang perpustakaan.

3. Sumber Daya Keuangan

Sumber daya keuangan SMA Negeri 1 Pandawai berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat, dan juga sumbangan sukarela dari orang tua siswa SMA Negeri 1 Pandawai.

4.1.2 Supervisi Klinis di SMA Negeri 1 Pandawai

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah disebutkan bahwa standar kepala sekolah terdiri dari kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki oleh kepala sekolah/madrasah. Kompetensi yang harus

(6)

55

dimiliki kepala sekolah mencakup lima dimensi yaitu kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, nasional, dan supervisi. Dalam kompetensi supervisi kepala sekolah/madrasah harus mampu: 1) merencanakan program supervisi pengajaran terhadap guru dalam rangka meningkatkan profesionalsme guru; 2) melaksanakan supervisi pengajaran terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat; 3) menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran terhadap guru untuk ketercapaian profesionalisme guru. Atas dasar hal tersebut kepala sekolah memilki kewenangan untuk melaksanakan supervisi termasuk supervisi klinis.

Pelaksanaan supervisi klinis di SMA Negeri 1 Pandawai belum berjalan secara maksimal sesuai dengan program supervisi yang telah ditetapkan oleh lembaga maupun pemerintah. Hal ini disampaikan oleh kepala sekolah dalam hasil wawancara sebagai berikut:

“Supervisi sudah dilakukan tetapi belum maksimal, termasuk supervisi klinis juga belum dilaksanakan dengan baik, untuk saat ini belum ada tindak lanjut dari hasil supervisi hanya terbatas pada tingkat pengawasan” (15 Januari 2019).

Pernyataan diastas dapat dipahami bahwa SMA Negeri 1 Pandawai telah menjalankan supervisi klinis, namun dalam pelaksanaannya belum berjalan secara maksimal dengan belum terwujudnya tindakan lanjut untuk memperbaiki kelemahan dari implementasi supervisi tersebut.

(7)

56

4.2 Hasil Penelitian

Hasil penelitian akan membahas tentang pelaksanaan supervisi klinis yang berkaitan dengan ketercapaian standar proses dikalangan guru-guru matematika di SMA Negeri 1 Pandawai. Hasil tersebut akan dibahas dalam empat tahapan evaluasi model kesenjangan (discrepancy evaluation model) yaitu desain, instalasi, proses, dan hasil.

4.2.1 D

esain Supervisi Klinis dalam Ketercapaian Standar Proses

Sebagai lembaga pendidikan formal dalam hal ini adalah sekolah memiliki misi yang sama yaitu melaksanakan proses belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Proses belajar mengajar akan terlaksana dengan baik apabila adanya kebutuhan dalam lembaga tersebut terpenuhi dan berfungsi sebagaimana mestinya. Kebutuhan yang dimaksud antara lain: sarana dan prasarana yang memadai, tenaga kependidikan yang berkompetensi, struktur organisasi yang teratur dan yang paling penting adalah peranan dari kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah.

Salah satu tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi pendidikan. Supervisi yang dilaksanakan kepala sekolah dalam hal ini ialah supervisi klinis yang merupakan bagian dari supervisi pendidikan.

(8)

57

Langkah awal sebelum melaksanakan supervisi kepala sekolah terlebih dahulu melakukan pengamatan atau pertemuan awal atas dasar permintaan guru yang akan disupervisi, merumuskan program supervisi, dan membuat instrumen kemudian melakukan supervisi bagi guru matematika yang membutuhkan bantuan. Namun, mempersiapkan program ini membutuhkan waktu yang cukup lama, karena banyaknya kegiatan yang harus diikuti kepala sekolah baik tingkat kecamatan maupun tingkat kabupaten. Hal ini ditersirat dari hasil wawancara yang dilakukan kepada kepala sekolah sebagai berikut:

“Perencanaan yang kami lakukan sebelum melaksanakan kegiatan supervisi klinis yaitu pertama melakukan pengamatan awal atau pertemuan awal dengan guru dan membicarakan hal yang berkaitan dengan kelemahan guru, selanjutnya menyusun program supervisi dan membuat instrumen penilaian. Untuk melakukan program ini membutuhkan waktu yang lama karena saya mengikuti banyak kegiatan baik di dalam maupun di luar” (15 Januari 2019).

Pernyataan kepala sekolah merupakan bukti bahwa ada perencanaan atau persiapan yang dibuat oleh supervisor sebelum dilaksanakan supervisi sebagai pedoman atau tolak ukur penilaian yang akan diberikan kepada guru dengan harapan dapat mencapai standar proses bagi kalangan guru secara khusus guru-guru matematika di SMA Negeri 1 Pandawai. Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah mengatakan bahwa,

(9)

58

“Tujuan dilaksanakannya supervisi klinis adalah memperbaiki kelemahan-kelemahan atau hambatan yang dialami oleh guru mata pelajaran kemudian melakukan tindak lanjut hal tersebut dalam meningkatkan standar mengajar yang lebih baik” (15 Januari 2019).

Sama halnya yang disampaikan oleh guru-guru matematika dalam hasil wawancara yang menyatakan sebagai berikut,

“Memang supervisi klinis dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan bantuan dan pembinaan dari kepala sekolah tentang kelemahan kami sebagai guru dalam mengajar sehingga dapat memperbaikinya dalam cara mengajar yang lebih baik” (17 Januari 2019).

Hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pelaksanaan supervisi klinis adalah untuk memperbaiki cara mengajar seorang guru untuk meningkatkan standar proses pengajaran yang lebih berkualitas. Kemudian hal yang mendasari perlunya pelaksanaan supervisi klinis untuk ketercapaian standar proses adalah adanya guru matematika yang memiliki kemampuan kurang dalam mengelola kelas saat melaksanakan proses belajar mengajar dikelas. Hal ini disampai oleh guru 2 dalam hasil wawancara sebagai berikut,

“Jujur saja, saya belum bisa sepenuhnya menguasai kelas saat kegiatan belajar mengajar dikelas sehingga ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan penjelasan guru” (17 Januari 2019). Penjelasan guru tersebut dipertegas dengan pernyataan kepala sekolah sebagai berikut,

“Masih ada guru matematika yang perlu ditingkatkan kemampuannya dalam mengelola kelas dan praktek mengajar

(10)

59

yang kurang, sehingga perlu pelatihan dan perberian contoh, khususnya guru baru” (17 Januari 2019).

Berdasarkan penjelasan hasil wawancara tersebut dapat dipahami bahwa masih ada guru matematika memiliki kemampuan dibawah standar dalam pengelolaan kelas saat proses belajar menjagar. Selain itu berdasarkan hasil observasi dan studi dokumentasi, guru belum melakukan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) seperti menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Penyusunan perangkat pembelajaran seperti membuat silabus, RPP dan program tahunan dilaksanakan bersama oleh guru di awal tahun ajaran atau awal semester sebelum proses belajar mengajar dilakukan. Hal ini diungkapkan oleh kepala sekolah saat wawancara,

“Setiap awal tahun pembelajaran sekolah melakukan MGMP yang didalamnya guru-guru bertukan pikiran untuk menyusun perangkat pembelajaran dan program tahunan. Juga memperhatikan waktu yang mungkin menjadi kelemahan dalam proses pembelajaran” (15 Januari 2019).

Senada dengan pernyataan guru matematika yang mangatakan bahwa,

“Untuk setiap awal semester atau awal tahun pembelajaran kami melakukan yang namanya MGMP seperti menyusun perangkat yang didalamnya menyusun silabus, RPP dan program tahunan” (17 Januari 2019).

(11)

60

Penyataan diatas dapat disimpulkan bahwa sekolah sangat memperhatikan kesiapan-kesiapan yang diperlukan oleh guru di setiap awal tahun pembelajaran untuk ketercapaian standar proses pengajaran yang sudah dibentuk dalam program MGMP. Berkaitan dengan kesiapan sebelum proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru matematika, peneliti memberikan pertanyaan kepada subjek penelitian apakah guru-guru tersebut menyiapkan bahan ajar sebelum lakukukan kegiatan belajar mengajar dikelas?. Semua guru matematika menjawab,

“Yang pasti kami siapkan bahan ajar atau meteri, agar tidak menyimpang atau keluar dari konteks materi maka perlu persiapan jauh hari sebelum masuk kelas” (17 & 18 Januari 2019). Selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan berkaitan dengan empat aspek penyusunan bahan ajar yaitu: runut, logis, kontekstuan, dan muktahir?. jawaban yang hampir sama dari ke 2 guru matematika kelas 10 dan 11 yang menjadi subjek penelitian mengatakan bahwa,

“Ya, dalam penyusunan bahan ajar kami selalu mengikuti empat aspek tersebut berdasarkan pedoman yang ada dalam kurikulum 2013” (17 Januari 2019).

Sedangkan guru kelas 12 mengatakan bahwa,

“Karena kelas 12 menggunakan KTSP maka disesuaikan dengan materi dan kelas 12 adalah kelas persiapan ujian nasional” (18 Januari 2019).

Berdasarkan hasil wawancara dapat dipahami bahwa dalam penyusunan bahan ajar untuk kelas 10 dan kelas 11 mengacu pada

(12)

61

pendoman silabus kurikulum 2013 dengan urutan materi yang disesuaikan pada konteks kehidupan saat ini. Penyusunan bahan ajar tidak terlepas dari perhatian kebutuhan peserta didik, sarana dan prasarana dan harus dikaitkan dengan hal-hal baru sesuai perkembangan zaman, sehingga penyampaian materi dapat dimengerti dan diterima dengan baik oleh peserta didik. Berbeda dengan kelas 12 yang menggunakan KTSP sekaligus sebagai kelas persiapan ujian maka menyesuaian dengan kondisi dan lebih pada pembahasan soal ujian.

Selain itu, pemilihan strategi pembelajaran, sumber belajar atau media pembelajaran menjadi hal krusial dalam praktek belajar mengajar di sekolah untuk meningkatkan pembelajaran yang lebih baik. Guru sebagai aktor utama diharapkan mampu memilih strategi, sumber belajar atau media pembelajaran yang disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Oleh karena itu, peneliti bertanya apakah dalam pemilihan sumber belajar dan media pembelajaran serta strategi yang digunakan memiliki pengaruh yang signifikan dalam menyampaikan materi?. Dari hasil wawancara semua subjek menjawab,

“Sangat berpengaruh, disesuaikan dengan metode yang digunakan dan materi. Selain itu kita harus tau juga kondisi kelas dan keadaan kemampuan masing-masing anak” (17 & 18 Januari 2019).

Atas dasar pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemilihan sumber belajar dan media pembelajaran dan strategi dapat

(13)

62

berpengaruh positif dan sangat membantu bagi siswa untuk memahami materi. Selain itu, peserta didik lebih semangat belajar termasuk meningkatkan proses pembelajaran yang kreatif bagi guru.

4.2.2 Instalasi Supervisi Klinis dalam Ketercapaian Standar

Proses

Untuk mengidentifikasi perbedaan, apakah program supervisi berjalan sesuai yang diharapkan dengan kenyataan dilapangan maka diperlukan instalasi. Instalasi merupakan bagian dari pelaksanaan supervisi dengan ketentuan standar yang telah ditetapkan untuk menilai jalan sebuah program. Instalasi terhadap pelaksanaan supervisi dalam hal ini supervisi klinis mengacu pada landasar hukum yang tercantum dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang perubahan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan.

Pelaksanaan Supervisi Klinis untuk ketercapaian standar proses pembelajaran di SMA Negeri 1 Pandawai telah mengikuti standar

(14)

63

yuridis yang ditetapkan oleh pemerintah seperti Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Hal ini diketahui dari hasil wawancara kepala sekolah menyatakan bahwa:

“Pelaksanaan supervisi klinis di sekolah ini sudah mengikuti peraturan pemerintah seperti yang ada pada PP nomor 32 tahun 2013 dan Permendikbud nomor 22 tahun 2016 tentangstandar proses belajar mengajar” (15 Januari 2019).

Senada yang disampaikan oleh kedua guru matematika sebagai subjek penelitian mengatakan bahwa,

“Ya,, pelaksanaan belajar mengajar di sekolah kami sudah mengikuti Permendikbud nomor 22 tahun 2016” (17 Januari 2019).

Standar evaluasi pelaksanaan supervisi klinis dalam ketercapaian standar proses pembelajaran meliputi empat tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi, dan tahap tindak lanjut yang secara administrasi telah disusun dan dipersiapkan oleh kepala sekolah. Namun dalam pelaksanaannya kepala sekolah hanya dapat menjalankan dua tahap evaluasi yaitu perencanaan dan pelaksanaan sedangkan pada tahap evaluasi dan tindak lanjut belum dilakukan. Demikian halnya yang dilakukan guru sebelum proses belajar mengajar dikelas, sebagaimana yang telah disampaikan oleh kepala sekolah dalam hasil wawancara sebagai berikut:

(15)

64

“Sebagian besar guru matematika telah dapat membuat dan menyusun administrasi program pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi sampai pada tindak lanjut dengan baik, namun dalam prakteknya terkadang tidak samapai pada evaluasi sehingga masih ada beberapa guru yang perlu dibina untuk memahami dan meningkatkan kompetensinya tentang penyusunan administrasi pembelajaran” (15 Januari 2019).

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa secara administrasi guru telah berpedoman pada aspek perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut hanya perlu ditingkatkan lagi kompetensinya. Pada tahapan instalasi evaluasi supervisi klinis dalam ketercapaian standar proses di SMA Negeri 1 Pandawai telah mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang perubahan peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendikbud nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Namun pada tahap evaluasi dan tindak lanjut belum dilakukan oleh kepala sekolah.

4.2.3 Proses Supervisi Klinis dalam Ketercapaian Standar

Proses

Proses merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengubah sesuatu menjadi bentuk lain menjadi lebih baik. Proses pelaksanaan supervisi klinis di SMA Negeri 1 Pandawai meliputi: proses pengambilan keputusan, proses pelaksanaan supervisi klinis, dan

(16)

65

proses evaluasi. Ketiga hal tersebut dapat diketahui melalui hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada kepala sekolah dan guru-guru matematika.

1. Proses pengambilan keputusan

Bentuk pengambilan keputusan yang dilakukan kepala sekolah SMA Negeri 1 Pandawai yaitu dengan melibat guru-guru yang akan disupervisi dan guru senior membantu untuk menyusun perencanaan, kesiapan pelaksanaan bahkan sampai pada tindak lanjut dari hasil. Sebagaimana hal ini telah disampaikan oleh kepala sekolah dalam hasil wawancara sebagai berikut:

“Bentuk pengambilan keputusan yang dilakukan adalah sekolah membuat rencana untuk menindak lanjuti hasil supervisi secara umum dan khususnya juga bagi guru-guru matematika yang ada di sekolah ini. Keputusan ini berdasarkan kesepakatan dengan semua guru yang disupervisi dan dibantu oleh guru senior” (15 Januari 2019).

Penyataan tersebut adalah bentuk keputusan yang ambil kepala sekolah bersama dengan guru-guru matematika dan guru senior, dengan tujuan bahwa guru akan mengetahui kapan dilaksanakan supervisi dan harapannya guru lebih siap untuk disupervisi.

2. Proses pelaksanaan supervisi klinis

Menurut kepala sekolah proses pelaksanaan supervisi klinis SMA Negeri 1 Pandawai berlangsung dalam suatu siklus melalui tiga (3) tahap yaitu: tahap pertemuan awal, tahap pengamatan mengajar,

(17)

66

dan tahap pertemuaan akhir. Adapun penjelasan dari masing-masing ke tiga tahap tersebut sebagai berikut:

1) Tahap pertemuan awal/ pendahuluan

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pertemuan awal atau tahap pendahuluan ini adalah kepala sekolah bersama dengan guru matematika membicarakan rencana pelajaran serta tujuan pelajaran. Dalam tahap ini juga memberikan kesempatan kepada guru matematika dan kepala sekolah untuk mengidentifikasi perhatian utama guru kemudian menerjemahkan kedalam bentuk tungkah laku yang dapat diamati. Selain itu, memilih atau mengembangkan suatu isntrumen observasi yang akan digunakan untuk merekam tingkah laku guru selama proses pelajaran berlangsung. Tujuan utama dari pertemuan awal ini adalah untuk mengembangkan secara bersama-sama antara kepala sekolah dan guru tentang kerangka kerja observasi kelas yang akan dilakukan.

2) Tahap pengamatan mengajar

Kapala sekolah melakukan pengamatan dan mencatat atau merekam secara objektif, lengkap dengan apa adanya dari dari tingkah laku guru ketika mengajar berdasarkan

(18)

67

komponen keterampilan yang diminta oleh guru. Kepala sekolah juga mencatat tingkah laku siswa dikelas serta interaksi antara guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selain hal tersebut, tahap ini membicara pembagian waktu, pengumpulan data dan informasi melalui wawancara, dan studi dokumentasi.

3) Tahap pertemuan akhir (umpan-balik)

Tahap umpan balik dilaksanakan setelah kegiatan pengumpulan data dan informasi selesai dilaksanakan. Kemudian kepala sekolah menyampaikan hasil supervisi sesuai kondisi yang ada serta memberikan penguatan pendapat/perasaan. Untuk lebih rinci tentang langkah-langkah pertemuan balikan disajikan sebagai berikut: 1) menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan guru ketika mengajar serta memberikan penguatan; 2)

me-review tujuan pembelajaran; 3) me-review target keterampilan serta perhatian utama guru; 4) menanyakan peresaan guru tentang jalannya pengajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya; 5) menunjukkan hasil rekaman dan memberikan kesempatan kepada guru menafsirkan data tersebut; 6) bersama menginterpretasi

(19)

68

data rekaman; 7) menanyakan perasaan guru setelah melihat rekaman data tersebut; 8) menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dengan apa yang sebenarnya telah terjadi atau tercapai; 9) menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya. Pada akhirnya, tujauan utama dari tahap umpan balik adalah menindak lanjuti apa yang dilihat oleh supervisor sebagai pengamat terhadap proses pembelajaran.

3. Proses evaluasi supervisi klinis

Kepala sekolah dan para guru SMA Negeri 1 Pandawai melakukan evaluasi bersama tentang pelaksanaan program supervisi klinis yang telah ditetapkan. Namun, evaluasi pelaksanaan supervisi klinis belakangan terakhir belum dilakukan dengan alasan banyak kegiatan yang mendesak yang harus diselesaikan oleh sekolah. Dalam hasil wawancara guru 3 mengatakan:

“..Akhir ini banyak pekerjaan dan mendesak yang harus diselesai oleh sekolah, sehingga pelaksanaan evaluasi untuk supervisi klinis belum dilakukan dengan baik atau sering ditunda untuk dilakukan” (17 & 18 Januari 2019).

(20)

69

Berdasarkan pernyataan tersebut dipahami bahwa evaluasi terhadap pelaksanaan supervisi klinis di SMA Negeri 1 Pandawai belum mengikuti jadwal yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Sesuai informasi yang diperoleh dari kepala sekolah mengatakan bahwa pelaksanan supervisi klinis di sekolah belum berjalan seperti yang ditetapkan karena banyak pekerjaan berkaitan dengan persiapan ujian yang harus dikerjakan dan diselesaikan oleh sekolah, sehingga pelaksanaan supervisi klinis terkadang tidak sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang telah disepakati. Hal ini diungkapkan kepala sekolah saat dilakukan wawancara;

“Belakangan ini banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan oleh sekolah menyangkut persiapan kelas ujian sehingga evaluasi pelaksanaan supervisi klinis ini jarang dilakukan dan sering tertunda, tidak sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat” (15 Januari 2019).

Berdasarkan pernyaataan tersebut dan didukung dari hasil dokumentasi yang diperoleh bahwa evaluasi pelaksanaan supervisi klinis di SMA Negeri 1 Pandawai mengalami berbagai kendala seperti berfokusnya persiapan kelas ujian. Hal ini membuat evaluasi pelaksanaan supervisi klinis tidak berjalan secara maksimal dan tidak sesuai jadwal, prosedur yang seharusnya dua kali dalam setahun dilakukan, namun terkadang hanya sekali bahkan tidak dilakukan.

(21)

70

4.2.4 Hasil Supervisi Klinis dalam Ketercapaian Standar Proses

Supervisi klinis dilakukan melalui kunjungan kelas setelah adanya pertemuan awal antara guru dan kepala sekolah. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keadaan kelas apakah sesuai dengan hasil yang diharapkan dan kenyataan yang sebenaranya terjadi. Adapun hasil yang diharapkan dalam pelaksanaan supervisi klinis di SMA Negeri 1 Pandawai sebagai berikut: 1) adanya informasi yang objektif, akurat, dan valid mengenai terlaksananya program yang mencakup: penyusunan program pembelajaran; pelaksanaan pembelajaran; dan tindak lanjut hasil pembelajaran, 2) teridentifiakasinya tingkat ketercapaian program pembelajaran sesuai SNP, 3) teridentifikasi hambatan, kelemahan dan keberhasilan keterlaksanaan program, dan 4) tersusunnya tindak lanjut hasil supervisi.

Pelaksanaan supervisi klinis di SMA Negeri 1 Pandawai belum berjalan sesuai harapan. Hal ini diketahui dari hasil pelaksanaan supervisi yang ada pada dokumentasi sekolah. Berikut hasil supervisi yang dilakukan sekolah kepada guru-guru matematika:

(22)

71

Tabel 4.2 Supervisi Sekolah

Nama guru

Hasil Supervisi Nilai Rata-rata

Rencana tindak lanjut (diskusi, konsultasi, pelatihan, pemberian contoh)

Perencanaan Pelaksanaan Evaluasi

Guru 1 96 92 95 94 Diskusi, konsultasi Guru 2 89 85 70 81 Diskusi, konsultasi,

dan pelatihan

Guru 3 78 77 70 75 Diskusi, konsultasi, pelatihan, dan pemberian contoh Sumber: Hasil dokumen sekolah

Pemaparan hasil supervisi diatas menunjukkan bahwa proses pelaksanaan supervisi klinis di SMA Negeri 1 Pandawai belum mencapai target yang diharapkan, guru perlu pelatihan dan pemberian contoh untuk dapat mengembangkan kompetensi mengajar yang lebih baik. Hal ini berdampak pada kegiatan proses belajar mengajar di kelas yang dilakukan guru matematika. Dari kegiatan observasi yang dilakukan peneliti didapatkan bahwa kemampuan beberapa guru matematika dalam pengelolaan pembelajaran yang kurang kreatif serta tidak melakukan inovasi pembelajaran berpengaruh pada prestasi siswa secara akademik. Peneliti mengajukan pertanyaan tentang inovasi pembelajaran yang dilakukan guru matematika pada saat mengajar dikelas. Tiga guru matematika sebagai subjek penelitian memberikan jawab yang sama yaitu:

(23)

72

“Belum melakukan inovasi pembelajaran, hanya sebatas rencana/keinginan untuk melakukan” (17 & 18 Januari 2019). Pernyataan tersebut dipahami bahwa beberapa guru matematika perlu dibina untuk mengembangkan kompetensinya tentang pelaksanaan pembejalaran yang berkualitas. Selain inovasi pembelajaran yang belum dilakukan oleh guru matematika, termasuk perbaikan atau pengayaan merupakan kegiatan yang jarang dilakukan oleh guru serta pemilihan metode ceramah yang sering digunakan saat mengajar menyebabkan ketercapaian standar proses mengajar menjadi kurang maksimal. Selain itu evaluasi pembelajaran sudah dilakukan dengan baik oleh beberapa guru, namun masih ada guru yang jarang melakukannya. Hasil wawancara sebagai berikut:

Tabel 4.3 Evaluasi Pembelajaran

Subjek Penelitian Evaluasi Pembelajaran

Guru 1

Memberikan contoh soal kepada siswa untuk dapat mengingat kembali materi yang sudah dipelajari.

Guru 2 Selalu mengunakan alat evaluasi disetiap akhir pembelajaran.

Guru 3 Jarang melakukan evaluasi.

Sumber: Hasil wawancara dengan subjek penelitian ( 17 & 18 Januari 2019) Prestasi yang paling baik dari segi akademik SMA Negeri 1 Pandawai pada ujian nasional atau ujian sekolah adalah nilai 7 dalam 2 tahun terakhir di tingkat kabupaten. SMA Negeri 1 Pandawai belum

(24)

73

pernah mengikuti olimpiade. Ini disampaikan oleh salah satu guru matematika dalam wawancara mengatakan,

“Prestasi yang paling menonjol untuk olimpiade belum pernah. Untuk nilai UN dua tahun terakhir yang paling bagus yaitu 7,..sekian sekarang tidak” (17 Januari 2019).

Hal ini menunjukkan bahwa SMA Negeri 1 Pandawai masih berada di peringkat bawah dari enam SMA Negeri yang ada di kabupaten Sumba Timur.

Adapun prestasi non-akademik dalam 1 tahun terakhir SMA Negeri 1 Pandawai dengan meraih juara 1 pada cabang olahraga sepak bola tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh salah satu universitas yang ada di kabupaten Sumba Timur.

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

4.3.1 Evaluasi Desain Supervisi Klinis dalam Ketercapaian Standar

Proses

Keberhasilan dari perlaksanaan sebuah program tidak terlepas dari sebuah perencanaan yang matang. Perencanaan merupakan salah satu dari tiga komponen lainnya yang melekat pada pelaksanaan program supervisi klinis. Perencanaan sebelum melakukan supervisi di sekolah merupakan panduan atau acuan dalam melaksanakan program supervisi klinis. Perencanaan yang dilakukan di SMA Negeri 1 Pandawai untuk supervisi klinis adalah melakukan pengamatan atau

(25)

74

pertemuan awal atas dasar permintaan guru yang akan disupervisi, merumuskan program supervisi, dan membuat instrumen kemudian melakukan supervisi bagi guru matematika yang membutuhkan bantuan. Perencanaan program supervisi dilakukan bukan hanya sekedar kelengkapan administrasi pengajar, namun merupakan bagian integral proses pekerjaan profesional kepala sekolah sehingga berfungsi sebagai arah dan pedoman yang jelas dalam melaksanakan supervisi klinis untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Namun dalam mempersiapkan supervisi klinis membutuhkan waktu yang cukup lama bagi kepala sekolah karena banyaknya kegiatan lain baik dalam maupun luar yang diikuti kepala sekolah.

Tujuan dilaksanakannya program supervisi klinis adalah untuk memperbaiki kelemahan cara mengajar seorang guru untuk mencapai standar proses pengajaran yang lebih berkualitas. adapun hal yang mendasari perlunya pelaksanaan supervisi klinis untuk ketercapaian standar proses adalah adanya guru matematika belum mampu melaksanakan proses belajar mengajar dikelas dengan baik. Hal ini terlihat dari cara mengajar guru yang belum melakukan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) seperti menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang

(26)

75

berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Artinya bahwa masih ada guru matematika memiliki kemampuan dibawah standar dalam pengelolaan kelas saat proses belajar menjagar. Hal ini menunjukan bahwa masih ada kesenjangan antara yang diharapkan dengan realita dilapangan.

Penyusunan perangkat pembelajaran seperti membuat silabus, RPP dan program tahunan sudah dilaksanakan secara bersama oleh guru di awal tahun ajaran atau awal semester sebelum proses belajar mengajar dilakukan yang dibentuk dalam program MGMP. Penyusunan bahan ajar untuk kelas 10 dan kelas 11 mengacu pada pendoman silabus kurikulum 2013 dengan urutan materi yang disesuaikan pada konteks kehidupan saat ini. Berdeba dengan kelas 12 yang menggunakan KTSP sekaligus sebagai kelas persiapan ujian maka menyesuaian dengan kondisi dan lebih pada pembahasan soal ujian.

Guru sangat memperhatikan pemilihan sumber belajar dan media pembelajaran dan strategi pembelajaran yang dapat berpengaruh positif dan sangat membantu bagi siswa untuk memahami materi. Sehingga, peserta didik lebih antusias dalam belajar termasuk meningkatkan proses pembelajaran yang kreatif bagi guru.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa evaluasi desain supervisi klinis dalam ketercapaian standar proses adalah kepala

(27)

76

sekolah telah melakukan perencanaan dengan baik tentang pelaksanaan supervisi klinis, namun dalam praktek mengajar guru belum semua tujuan tercapai artinya masih ada kesenjangan antara yang diharapkan dan kenyataan.

4.3.2 Evaluasi Instalasi Supervisi Klinis dalam Ketercapaian Standar

Proses

Pelaksanaan supervisi klinis dalam ketercapaian standar proses pembelajaran bagi guru-guru matematika di SMA Negeri 1 Pandawai sudah mengacu pada standar Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang perubahan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

Selain itu, tahap instalasi evaluasi supervisi klinis dalam ketercapaian standar proses bagi guru-guru matematika di SMA Negeri 1 Pandawai secara administrasi telah mengikuti standar yang telah ditetapkan dengan berpedoman pada aspek komponen perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiga aspek tersebut merupakan standar yang akan dipakai sebagai langkah-langkah dalam merancang pelaksanaan pembelajaran secara khusus pelajaran matematika.

(28)

77

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi instalasi supervisi klinis dalam ketercapaian standar proses bagi guru-guru matematika di SMA Negeri 1 Pandawai sudah mengacu pada Peraturan Pemerintah dan Undang-Undang, serta pedoman rancangan pelaksanaan pembelajaran sudah mengikuti standar yang ditetapkan melalui tiga aspek komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

4.3.3 Evaluasi Proses Supervisi klinis dalam Ketercapaian Standar

Proses

Evaluasi proses pelaksanaan supervisi klinis dilakukan pada tiga aspek yaitu: proses pengambilan keputusan, proses pelaksanaan supervisi klinis, dan proses evaluasi supervisi klinis.

Pengambilan keputusan yang dilakukan kepala sekolah dalam pelaksanaan program supervisi klinis di SMA Negeri 1 Pandawai dilakukan secara musyawarah dengan melibatkan guru yang akan disupervisi dan guru senior yang membantu dalam proses pelaksanaan supervisi. Dalam kegiatan tersebut guru dapat menyampaikan kelemahannya dan meminta bantuan dari supervisor. Kemudian kepala sekolah menyusun rencana pelaksanaan supervisi.

Kepala sekolah telah memahami prosedur pelaksanaan supervisi klinis dengan benar, dengan mengatakan bahwa terdapat 3 tahap

(29)

78

pelaksanaan supervisi klinis yaitu pertemuan awal, mengamatan mengajar dan umpan balik. Hal ini senada dengan apa yang di sampaikan Bolla (1985: 9), bahwa terdapat tiga tahap dalam pelaksanaan supervisi klinis yaitu tahap pertemuan awal, tahap pengamatan mengajar, dan tahap umpan balik. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa kepala sekolah telah melaksanakan supervisi klinis dengan mengikuti prosesdur yang tepat. Namun proses evaluasi supervisi belum dilakukan disebabkan adanya kendala yang ditemui dan sering tertunda pelaksanaannya karena banyaknya pekerjaan atau kegiatan berkaitan dengan persiapan kelas ujian.

Berdasarkan pembahasan atau uraian diatas dapat disimpulkan bahwa proses pelaksanaan supervisi klinis di SMA Negeri 1 Pandawai kepada guru-guru matematika oleh kepala sekolah sudah berjalan namun belum maksimal.

4.3.4 Evaluasi Hasil Supervisi Klinis dalam Ketercapaian Standar

Proses

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hasil pelaksanaan supervisi klinis bagi guru-guru matematika di SMA Negeri 1 Pandawai belum mencapai target yang diharapkan, ini diketahui berdasarkan hasil supervisi yang dilakukan kepala sekolah kepada beberapa guru. Adanya beberapa guru matematika yang perlu dilakukan pembinaan

(30)

79

untuk ketercapaian kompetensi dalam mengajar seperti pelatihan dan pemberian contoh.

Kelemahan guru tersebut belum dapat diperbaiki karena belum adanya tindak lanjut yang dilakukan sekolah, masih sebatas rencana. Adapun alasan sekolah belum melakukan tindak lanjut perbaikan adalah banyak kegiatan atau pekerjaan yang berkaitan dengan persiapan ujian dan kegiatan lain harus diselesaikan sehingga perbaikan mengajar guru-guru matematika kurang diperhatikan. Didukung pernyataan Kunandar (2014: 13), menjalaskan bahwa setelah melaksanakan analisis hasil harus dilakukan tindak lanjut dengan mengacu pada hasil pemetaan tingkat keterapaian kompetensi.

Selain itu, dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti di dapatkan bahwa semua guru yang menjadi subjek penelitian belum melakukan inovasi pembelajaran. Masih ada guru yang tidak melakukan evaluasi pembelajaran. Menurut Kunandar (2014: 65),menjelaskan bahwa evaluasi pembelajaran merupakan suatu kegiatan guru yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang ketercapaian kompetensi atau hasil belajar siswa yang mengikuti proses pembelajaran. Dan guru sering menggunakan metode ceramah. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya kreatifitas guru dalam melakukan pembelajaran.

(31)

80

Keberhasilan dan kegagalan guru dalam mengelola pembelajaran dikelas berorientasi pada hasil belajar atau prestasi yang diraih siswa baik secara akademik maupun non-akademik. Dalam dua tahun terakhir, prestasi terbaik siswa dari segi akademik masih dikategorikan cukup dengan memperoleh nilai tujuan dalam ujian nasional. Hal ini masih jauh dari harapan sekolah yang ingin dicapai. Dari segi non-akademik dikategorikan baik dengan meraih juara 1 sepak bola pada tahun 2018 yang diadakan salah satu kampus di kabupaten Sumba Timur.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil pelaksanaan supervisi klinis dalam ketercapaian standar proses mengajar bagi guru-matematika di SMA Negeri 1 Pandawai belum sesuai dengan yang diharapkan.

Gambar

Tabel  4.1  Rombongan  Belajar  (Rombel)  SMA  Negeri  1  Pandawai
Tabel 4.2 Supervisi Sekolah
Tabel 4.3 Evaluasi Pembelajaran  Subjek Penelitian  Evaluasi Pembelajaran

Referensi

Dokumen terkait

Governance dalam setiap kegiatan usaha Bank pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi. 5) Direksi dalam penyelenggaraan tugas yang bersifat strategis

penerbit, tempat terbit pun tak tertinggal untuk dicantumkan sebagaimana buku-buku yang terbit dewasa ini. 4) Meskipun material sumber sudah didigitalisasi atau dengan

Menimbang, bahwa dalam permohonan tersebut baik identitas Pemohon maupun Termohon keduanya tertulis beragama Islam, namun kemudian pada sidang ke tiga hari Kamis 09

Kemampuan untuk mengenetepikan segala perbezaan yang kecil serta menyatukan perjalanan matlamat yang sama mampu memperlihatkan kesungguhan setiap organisasi dalam

Faktor-faktor yang mempengaruhi internalisasi karakter disiplin siswa melalui metode diskusi kelompok kelas VIII di SMPN 1 Kluet Tengah meliputi: faktor orang tua

Ekstrak batang pepaya pada konsentrasi 1% memiliki aktivitas antibakteri paling efektif terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan diameter zona hambat sebesar 12 mm

Manakala huraian stail pakaian pula menjelaskan dengan teliti tentang setiap ciri yang terdapat pada pakaian tersebut, sebagai contoh, lisu, belah, bahu mendatang ( yoke ) ,

Zona hambat adalah zona jernih di sekitar sumuran yang disebabkan karena berkurangnya atau tidak adanya pertumbuhan koloni bakteri uji karena perlakuan cairan kultur,