29 STUDI PERBAIKAN FORMULASI DYESTUFF PADA MIXING COLOR
SEBAGAI ALTERNATIF PERBAIKAN KERATAAN WARNA PADA PEWARNAAN DASAR (DYEING) KULIT DOMBA GREEN CABRETTA
Helis Rianti1), Elis Nurbalia1), Prasetyo Hermawan1)
Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit Politeknik ATK Yogyakarta [email protected], [email protected], [email protected]
Jl. Ring Road Selatan, Glugo, Panggungharjo, Sewon, Bantul. www.atk.ac.id email : [email protected]
ABSTRACT
The aim of this study was to find a solution to the problem of the dyeing process of Sheep Cabretta Glove skin that experiences uneven color. One of the causes of uneven color is based on the use of different types of dyestuffs. In changing the formulation of dyeing, the focus is on replacing similar dyestuffs with acid dyes or metal complex dyes. The expected result is that the mixing of the two colors will be more optimal and the color on the skin is evenly distributed. The factors that influence the basic coloring process are pH, temperature, time, and IEP (Iso Electric Point). The raw material used is quality I - IV / V TBL of sheep crust, with shaving thickness of 0.5 - 0.55 mm, and the number of 5 sheets or 16.54 sqft with a weight of 1200 gr. While the auxiliary materials used in the dyeing processed are , Inoderme Green CJR (metal complex dyes), Coriacide Yellow 3JN (acid dyes), Ammonia, Synectan LB. The stages of the processed carried out are wetting back, retanning, fixation, dyeing, fatliquoring, shaving, and Top Fat. The method used are of observation, interviews, direct work practice, and literature study. The dyeing process method used for making sheep Cabretta glove articles is a through dyeing method. The expected results are uniform color leather by mixing similar dyestuffs, namely acid dyes or metal complex dyes and the skin obtained is green, according to organoleptic views it is not in accordance with customer standards, So that a literature study was carried out to change the dye formulation by using acid dyes, namely Coriacide Yellow 3JN with Coriacide Green BS or Coriacide Dark Green JT dyes and metal complex dyes namely Inoderme Green CJR with Inoderm Yellow JS or Melioderm HF Yellow R dyes which are expected to increase the uniform of color on the skin surface. .
Keywords: Uniform color, dyeing, dyestuff replacement, Cabretta glove leather INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pemecahan masalah pada proses pewarnaan/ dyeing kulit sheep cabretta glove yang mengalami ketidak rataan warna. Penyebab ketidak rataan warna salah satunya disebabkan pada penggunaan jenis zat warna/ dyestuff yang tidak sama. Perubahan formulasi merupakan salah satu alternatif penyelesaian masalah yang difokuskan dengan menyamakan jenis dyestuff pada saat pencampuran dyestuff dengan dengan jenis acid dyes atau metal complex dyes. Hasil yang diharapkan pencampuran terhadap kedua warna menjadi lebih optimal dan warna pada kulit merata. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pewarnaan dasar yaitu pH, temperatur, waktu, dan TIE (Titik Iso Elektrik). Bahan baku yang digunakan adalah kulit crust domba
30 kualitas I – IV / V TBL, dengan tebal shaving 0,5 – 0,55 mm, dan jumlah 5 lembar atau 16,54 sqft dengan berat 1200 gr. Sedangkan bahan pembantu yang digunakan dalam proses dyeing yaitu Inoderme Green CJR (metal complex dyes), Coriacide Yellow 3JN (acid dyes), Amonia, dan Synectan LB. Tahapan proses yang dilakukan ialah wetting back, retanning, fiksasi, dyeing, fatliquoring, shaving, dan top fat. Metode yang digunakan yaitu metode observasi, interview, praktek kerja langsung, studi pustaka. Metode proses dyeing yang digunakan untuk pembuatan artikel sheep Cabretta glove adalah metode through dyeing. Hasil yang diharapkan kulit rata dengan pencampuran dyestuff sejenis yaitu acid dyes atau pun metal complex dyes dan kulit yang diperoleh berwarna hijau ditinjau secara organoleptis tidak sesuai dengan standar customer, sehingga dilakukan studi pustaka untuk merubah formulasi dyestuff dengan penggunaan acid dyes yaitu Coriacide Yellow 3JN dengan dyestuff Coriacide Green BS atau Coriacide Dark Green JT dan metal complex dyes yakni Inoderme Green CJR dengan dyestuff Inoderm Yellow JS atau Melioderm HF Yellow R yang diharapkan dapat meningkatkan kerataan warna pada permukaan kulit.
Kata kunci : Kerataan warna, Proses pewarnaan, pernggantian dyestuff, Kulit cabreta glove
PENDAHULUAN
Kulit samak (leather) menjadi salah satu komoditas yang menjanjikan dalam dunia industri, pada era modern seperti sekarang ini. Barang-barang yang terbuat dari kulit menjadi sebuah kebanggaan tersendiri apabila dapat memakai dan membelinya untuk kalangan tertentu, karena dianggap memiliki nilai gengsi tersendiri. Sehingga permintaan akan produk-produk yang terbuat dari kulit terus meningkat.
Keterampilan dan ilmu pengetahuan sumber daya manusia di bidang pengolahan kulit yang memadai serta ditunjang dengan permesinan kulit, bahan kimia, industri penyamakan kulit akan mampu menghasilkan produk kulit yang berkualitas, sehingga memenuhi kebutuhan kulit secara maksimal. Karena sumber daya manusia yang memadai, permesinan yang baik dan chemicals itu saling berhubugan untuk menghasilkan kulit yang bagus. Apabila salah satu dari tiga faktor itu ada yang tidak bagus atau kurang memadai maka kulit yang dihasilkan pun kurang maksimal.
Proses penyamakan kulit terbagi dalam empat tahapan proses yang meliputi beam house operation, penyamakan (tanning), penyamakan ulang (pasca tanning), dan proses terakhir adalah finishing. Untuk mendapatkan kulit yang berkualitas, dipengaruhi oleh keberhasilan setiap tahapan-tahapan proses pengolahan kulitnya. Sarung tangan saat ini merupakan
trend tersendiri bagi sebagian olahragawan atau atlit. Penggunaan sarung
tangan terutama sarung tangan yang berasal dari kulit masih didominasi oleh negara luar terutama negara yang memiliki empat musim. Penggunaan
31 sarung tangan dari cuaca dingin maupun cuaca panas tetapi juga digunakan untuk kelengkapan fashion (Purnomo, 2017).
Proses pasca tanning adalah tahapan dimana terjadi proses pembentukan karakteristik kulit yang akan dibuat. Salah satu proses yang penting dalam proses pasca penyamakan (pasca tanning) adalah proses pewarnaan (dyeing). Tujuan proses pewarnaan adalah memberikan warna dasar pada kulit sesuai dengan standar yang ditetapkan, terutama yang berhubungan dengan karakteristik uji fisik, organoleptik, kimia, termasuk persyaratan yang berhubungan dengan penggunaan jenis dyestuff sehingga memberikan tampilan atau nilai keindahan pada kulitnya agar dapat menambah daya tarik konsumen dan menambah nilai jual kulit jadinya (Hermawan dkk, 2014).
Tujuan
Untuk mengetahui efek penggantian jenis dyestuff terhadap optimalisasi kerataan warna pada artikel green cabretta.
Manfaat
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan terhadap kerataan warna pada permukaan kulit dengan memperhatikan penggunaan jenis dyestuff yang sejenis sehingga dapat menghasilkan warna yang merata secara optimal pada artikel green
cabretta.
METODE PENELITIAN Materi Penelitian
Bahan baku/Raw Material. Bahan baku yang digunakan untuk proses
dyeing kulit crust domba dengan kualitas I – IV / V TBL, tebal kulit shaving
0,5 – 0,55 mm, dan jumlah 5 lembar atau 16,54 sqft dengan berat 1200 gr. Bahan kimia/Chemicals. Bahan kimia yang digunakan pada saat proses pewarnaan (dyeing) yaitu Inoderme Green CJR (metal complex dyes), Coriacide Yellow 3JN (acid dyes), Amonia, dan Synectan LB.
Jalannya Penelitian
Proses pasca tanning pada artikel cabretta terdiri dari rangkaian proses yaitu wetting back, retanning, dyeing, fixing, fatliquoring, dan fixing. Perlakuan perubahan formulasi dilakukan pada bagian proses dyeing yaitu dengan mengganti jenis dyes sejenis diantaranya yang merupakan jenis
32 Penelitian yang dilakukan dapat dijabarkan seperti formulasi pada Tabel 1 berikut
Tabel 1 Penggunaan Dyestuff pada Proses Dyeing Artikel Green Cabretta
Proses
Dyestuff
Green Yellow
D1 Inoderme Green 3JN Coriacide Yellow CJR
D2 Coriacide Green BS/
Coriacide Dark Green JT Coriacide Yellow CJR
D3 Inoderme Green 3JN Inoderm Yellow JS/ Melioderm
HF Yellow R
Tabel 2 dibawah ini merupakan index color acid dyes dan metal complex
dyes yang merupakan karakteristik dari jenis dyestuff pada tabel 1.
Tabel 2 Index Color Dyestuff Acid dan Metal Complex
(Sumber : Stahl Neo Global Core Range 2019 – Wet End)
Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penentuan kerataan warna kulit
green cabretta pada masing masing perlakuan perbedaan jenis dyestuff
yang digunakan adalah secara organoleptis pada pengamatan kerataan warna pada permukaan kulit artikel green cabretta
HASIL DAN PEMBAHASAN
Menurut Covington (2009), Pewarnaan dasar merupakan tahapan penting dalam penyamakan kulit yang merupakan sifat pertama kulit untuk
Dyestuff Penetrasi Metal
Komponen Stability to Acid Fastnesst to Acid Solubility (g/l) 200C 600C
Coriacide Yellow CJR 3-4 Free 3 5 20 30
Inoderme Yellow JS 3-4 Cr 5 4 50 50
Melioderm HF Yellow R 4 Co 5 5 60 60
Inoderme Green 3JN 4-5 Cu 5 5 100 100
Coriacide Green BS 4-5 Free 5 5 70 70
33 menjadi taksiran pelanggan, ketika warna terpenetrasi kedalam kulit, pewarnaan dasar merupakan salah satu proses dalam penyamakan kulit yang memberikan warna kulit agar memiliki nilai keindahan, karena proses ini menentukan warna kulit jadi yang dinginkan.
Tujuan pewarnaan dasar adalah memberikan warna dasar pada kulit sesuai dengan standar yang ditetapkan, terutama yang berhubungan dengan karakteristik uji fisik, organoleptis, kimia, termasuk persyaratan yang berhubungan dengan penggunaan jenis dyestuff (Hermawan dkk, 2014).
Berdasarkan pada formulasi bahwa proses pewarnaan dasar bertujuan agar dyestuff atau warna terpenetrasi sempurna ke dalam kulit. Metode pewarnaan yang digunakan itu ialah metode through dyeing. Menurut Purnomo (2010), metode through dyeing adalah metode yang bertujuan untuk menembuskan warna keseluruhan penampang kulit dengan menggunakan sedikit air (short float), konsentrasi tinggi, dan temperatur rendah. Dari formulasi proses dyeing menunjukan bahwa penggunaan air sebanyak 30% yang berarti sedikit air (short float) dengan temperatur rendah air 400C. Sehingga nantinya hasil kulit jadi akan
didapatkan dengan metode through dyeing tembus sampai ke bagian penampang kulit. Dari hasil pengamatan proses pewarnaan dasar kulit
sheep cabretta glove berwarna hijau dan warna tembus hingga ke
penampang kulit.
Hasil yang optimal dalam proses dyeing beberapa hal yang perlu diperhatikan ialah jenis dyestuff, angka penetrasi, ketahanan terhadap asam terutama terhadap fomic acid, dan kelarutan. Syarat yang tertera untuk mixing color salah satunya memiliki perbedaan / selisih nilai penetrasi (1-5) tidak lebih dari 2 (Purnomo, 2016).
Proses dyeing yang dilakukan dengan menggunakan dyestuff berwarna hijau dengan nama Inoderme Green 3JN (metal complex dyes) dan warna kuning dengan nama Coriacide Yellow CJR (acid dyes). Pewarnaan ini dilakukan pada kulit artikel sheep cabretta glove, yang diharapkan memiliki kenaturalan kulit yang menjadikan kulit tersebut tidak perlu melalui tahapan finish. Proses dyeing dilakukan dengan menggunakan air sebanyak 30% dan dilakukan penambahan 0,1% EDTA yang berfungsi untuk menurunkan kesadahan air, hal tersebut dikarekan kesadahan air terbilang cukup tinggi sehingga dapat mempengaruhi proses pewarnaan dan dyestuff yang digunakan.
Penggunaan Synektan LB dan Amonia digunakan sebagai
penetrating dan levelling agent. Bahan pembantu Amonia merupakan
34 lemah, berbau menyengat, memiliki pH 6,5-7,0 termasuk bahan yang mudah larut dalam air, alkohol dan eter. Penggunaan ammonia bertujuan untuk membantu penetrasi dyestuff kedalam kulit sedangkan Synektan LB berbentuk serbuk dan berwarna kekuningan, memiliki pH 6,5-7,0, dan bermuatan anionik.
Menurut Covington (2009) Levelling agent yang dimasukkan sebelum ditambahkannya dyestuff akan memiliki efek samping diantaranya menurunkan intensitas warna hingga 1-3. Jika leveling agent ditambahkan bersamaan dengan dyestuff hal tersebut tidak akan berpengaruh terhadap intensitas warna, namun memberikan efek penurunan kerataan warna. Penambahan auxiliaris berupa levelling agent untuk membantu meratakan warna pada permukaan kulit. Mekanisme kerjanya berdampingan dengan
dyestuff yang bermuatan sama. leveling agent bekerja menyamaratakan
muatan pada kulit sehingga dyestuff dapat terdistribusi secara merata.
Levelling agent terlebih dahulu mengeblok muatan pada dyestuff sebelum
terjadinya ikatan antar dyestuff dengan serat. Sehingga dyestuff mengalami persebaran terlebih dahulu secara merata sebelum terjadinya pengikatan terhadap kulit. Penggunaan auxiliaries bermuatan anionik dengan dyestuff bermuatan anionik akan bekerja sebagai levelling agent, dan terhadap
dyestuff bermuatan kationik akan berperan sebagai fixing agent (BASF,
2009).
Hasil maksimal didapatkan pada proses kulit sarung tangan ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu penggunaan jenis cat dasar (dyestuff). Cat dasar yang digunakan adalah yang memiliki nilai penetrasi 1-5, karena semakin tinggi nilai penetrasi dyestuff maka dyestuff akan lebih cepat terpenetrasi ke dalam kulit. Macam macam jenis dyestuff dapat digolongkan sebagai berikut (Purnomo, 2016) :
1. Acid dyes
2. Direct/ Cotton/ Substative dyes
3. Metal complex dyes 4. Reaktive dyes
Jhon (1997), Penggunaan cat dasar tergantung dari permintaan jenis ketahanan warna kulit dan tujuan artikel kulit yang akan diproduksi, karena setiap jenis cat dasar memiliki karakter yang berbeda beda satu dengan yang lainnya. Untuk menghasilkan ketahanan warna yang sesuai dengan sifat dan keunggulannya. Penggunaan cat dasar yang digunakan untuk proses dyeing pada mixing color kulit sheep cabretta glove ialah Inoderme
Green 3JN berbentuk serbuk berwarna hijau, memiliki angka penetrasi 4-5,
ketahanan terhadap asam 5, ketahanan terhadap formic acid 5, tembaga
35 Sedangkan pada dyestuff Coriacide Yellow CJR berbentuk serbuk berwarna kuning, memiliki angka penetrasi 3-4, ketahanan terhadap asam 3, ketahanan terhadap formic acid 5, free metal component dan solubility to 200C sebesar 20 g/l dan 600C sebesar 30 g/l (End S. N., 2020).
Pengujian (trial) yang dilakukan dengan melarutkan Coriacide Yellow CJR dan Inoderme Green 3JN secara bersamaan menggunakan air dengan suhu 400C. pencampuran yang dilakukan dengan metode tersebut terhadap
kedua dyestuff membuat kelarutan antara dyestuff hijau dan kuning tidak larut secara sempurna. Hal tersebut dikarenakan kedua dyestuff memiliki angka solubility terhadap suhu tertentu yang bebeda. Dyestuff Coriacide
Yellow CJR memiliki angka solubility yang lebih rendah dibandingkan
dengan dyestuff Inoderme Green 3JN, sehingga kedua dyestuff tersebut tidak dapat dilakukan pelarutan secara bersamaan. Kelarutan yang tidak optimal akan menyulitkan penetrasi dan homogenitas yang sempurna, serta menyebabkan warna belang dipermukaan kulit. Selain itu ditemukan bahwa
dyestuff berwarna hijau Inoderme Green 3JN merupakan jenis metal complex dan dyestuff berwarna kuning Coriacide Yellow CJR merupakan
jenis acid dyes. Sehingga perubahan formulasi pada dyeing sangat dianjurkan untuk meningkatkan keratawaan warna pada kulit.
Penerapan penggunaan jenis acid dyes dapat dilakukan dengan melakukan penggantian warna hijau dyestuff Inoderme Green 3JN dengan
dyestuff Coriacide Green BS atau Coriacide Dark Green JT. Penggunaan acid dyes ini juga dapat meminimalisis terjadinya reaksi terhadap
penggunaan Trilon B pada tahapan proses. Trilon B merupakan senyawa EDTA (etilenadiaminatetraasetat), penggunaan pada EDTA bertujuan untuk mengurangi tingginya kesadahan air yang ada pada tahapan proses sebelum dyeing. Penambahan EDTA juga dapat meminimalisir terjadinya kesalahan pada proses pewarnaan (dyeing) apa bila air yang digunakan memiliki kesadahan yang tinggi. Sehingga penggunaan acid dyes ini menjadi pilihan untuk meningkatkan kerataan warna akibat penggunaan
dyes yang tidak sejenis.
Walaupun index color yang tertera pada jenis acid dyes ini lebih rendah jika dibandingkan dengan jenis metal complex, namun acid dyes tetap memikiki kelebihan diantaranya (Purnomo, 2016) :
a. Ketahanan terhadap air sadah tinggi (tidak mengendap).
b. Tidak menimbulkan efek bronzing walau penggunaannya berlebihan, kecuali bila digunakan dengan disemprotkan.
c. Mempunyai ketahanan gosok, cahaya, keringat yang relatif baik dengan nilai 3-5.
36 Pencampuran (mixing) dyestuff Coriacide Yellow CJR dan dyestuff Coriacide Green BS atau Coriacide Dark Green JT dilakukan pelarutan dengan menggunakan air pada dengan suhu antara 20oC - 60oC secara
terpisah. Hal ini dikarenakan angka solubility yang dimiliki oleh acid dyestuff ini berbeda cukup jauh antara keduanya. Coriacide Yellow CJR pada suhu 20oC memiliki angka solubility 20 g/l dan pada 60oC memiliki angka 30 g/l,
sedangkan pada Coriacide Green BS pada suhu 20oC-60oC memiliki angka
solubility 70 g/l dan Coriacide Dark Green JT pada suhu 20oC-60oC memiliki
angka solubility 75 g/l. Sehingga pelarutan tidak akan sempurna jika dilakukan secara bersamaan.
Menurut Purnomo (2016), cat metal kompleks adalah dyes yang mengandung komponen metal didalam struktur kimianya. Fungsi metal sebagai koordinatif dari dua atau lebih molekul dyes. Jenis metal yang sering digunakan adalah krom (Cr), besi (Fe), kobalt (Co), Tembaga (Cu). Ada beberapa kelebihan pewarna ini dibandingkan dengan jenis dyes yang lain, diantaranya adalah :
1. Sangat stabil terhadap perubahan pH walaupun pada pH 3, dimana biasanya merupakan titik krusial bagi dyes terutama jenis direct
2. Warna sangat rata
3. Warna lebih tajam dibandingkan pewarna direk tetapi lebih rendah dibandingkan dengan cat asam
4. Ketahanan terhadap cahaya, fatliquor, syntan sangat baik
Pengembangan pewarna untuk kulit dengan sifat ketahanan yang khusus yang mudah dikombinasi dan mempunyai sifat penetrasi yang bagus sebagian besar tersedia dalam bentuk serbuk. Ada dua tipe metal
complex dyes yang sering digunakan yaitu :
1. Cat metal complex 1:1
Ini berarti dalam komponen cat metal kompleks terdapat kandungan satu mol chrome dan satu mol dyes tipe ini bersifat larut air.
2. Cat metal complex 1:2
Ini berarti dalam komponen cat metal kompleks terdapat kandungan satu mol chrome dan dua mol. Dyes tipe ini bersifat larut terhadap pelarut organik, sehingga umumnya digunakan sebagai liquid dyestuff (LD)
Penggunaan metal komplek lebih dianjurkan, hal ini dikarenakan kulit artikel sheep cabretta glove diutamakan untuk tidak dilakukannya finishing guna mempertahankan ke naturalan dari kulit tersebut. Penggunaan metal
complex dyes dapat menghasilkan efek ketahanan cahaya yang sangat
bagus dan ketahanan cuci serta mempunyai daya penetrasi yang bagus. Sebagian besar digunakan untuk aplikasi pewarnaan garment dan sarung
37 tangan untuk warna pastel (warna muda). Untuk menghasilkan proses pewarnaan yang sempurna, dapat dilakukan dengan menggunakan suhu yang tidak terlalu tinggi dan pH <5. Selanjutnya kombinasi dengan golongan pewarna yang lain atau bahan kompleks seharusnya dapat dihindarkan karena demetalisasi pada cat kompleks mungkin terjadi, serta menghasilkan perubahan pada warna atau kehilangan ketahanan (Jhon, 1997).
Pemilihan metal complex dyestuff yang diberikan untuk mixing color memiliki dua pilihan yaitu Inoderm Yellow JS dan Melioderm HF Yellow R. Kedua dyestuff memiliki jenis yang sama dengan dyestuff berwarna hijau yang digunakan yaitu Inoderme Green 3JN, namun keduanya masih memiliki spek color index yang lebih rendah dibandingkan dengan dyes berwarna hijau. Dyestuff kuning yang merupakan produk keluaran produsen Stahl. Dari berbagai jenis acid dyes maupun metal complex hampir keseluruhan dyes dengan warna kuning memiliki nilai color index yang cukup rendah dibandingkan dengan warna dyestuff yang lainnya. Sehingga penambahan levelling agent sangat dianjurkan untuk lebih memaksimalkan kerataan warna pada kulit.
Penggunaan yang dianjurkan sebagai pengganti warna dari dyestuff Coriacid Yellow CJR yang merupakan jenis acid dyes ialah dyestuff dengan jenis metal complex yang memiliki jenis yang sama dengan dyes Inoderme
Green 3JN, dyes tersebut yakni Inoderm Yellow JS dan Melioderm HF Yellow R. Dari hasil data color index diatas, dyes yang memiliki range nilai
yang mendekati dengan dyes Inoderme Green 3JN ialah dyes Melioderm HF Yellow R. Namun ditemukan permasalahan yang akan muncul jika penggunaan metal complex dyes ini dicampurkan dengan penambahan EDTA pada proses pra-dyeing. Senyawa EDTA (etilenadiaminatetraasetat) yang ditambahkan sebagai penurunan tingkat kesadahan air, dapat berpengaruh terhadap unsur metal yang terdapat pada metal complex dyes. EDTA yang ditambahkan dapat mengabsorbsi senyawa mineral atau metal yang terkandung dalam metal complex dyes, setelah itu unsur metal akan berikatan dengan EDTA dan kemudian mengalami pengendapan. Hilangnya unsur metal pada dyes dapat mengakibatkan menurunnya tingkat fastness dyes tersebut, hal ini terjadi karena unsur metal pada dyes berperan sebagai koordinatif dari dua atau lebih molekul dyes (Purnomo, 2016).
KESIMPULAN
1. Penggunaan dyestuff sejenis dapat meningkatkan kerataan warna pada saat proses mixing color.
38 2. Penggunaan dyestuff jenis metal complex dapat mengalami demetalisasi apa bila dilakukan pencampuran dengan jenis dyestuff lainnya yaitu acid
dyes.
3. Penggunaan metal complex dyes memiliki kelemahan jika penggunaannya disertakan dengan EDTA, sedangkan untuk jenis acid
dyes tidak berpengaruh terhadap penggunaan EDTA.
4. Memperhatikan index color pada masing masing dyestuff dapat membantu perlakuan dyestuff pada saat akan dilakukan proses dyeing DAFTAR PUSTAKA
BASF. (2007). Pocket Book For Leather Technology. Fourth Edition.
Covington, T. (2009). Tanning Chemistry The Science of Leather. UK: The University of Northampton.
End, S. N. (2020, April 17). “Metal Free Dyestuff For Carefree Colored
Leather with Coriacide”. Retrieved from stahl.com:
https://www.stahl.com/leather/wet-end/dyes/coriacide
End, S. N. (2020, April 17). Melioderm and Inoderme Metal Complex Dyes
Keep Leather Looking Beautiful for Longer. Retrieved from
stahl.com: https://www.stahl.com/leather/wet-end/dyes/inoderme-melioderm
Gerhard, J. (1997). Possible Defect in Leather Production. New York: Repbelishing Company Huntington.
Hermawan, P., Abdullah, S. S., & Purnomo, E. (2014). Teknologi
Pengolahan Kulit. Yogyakarta: Akademi Teknologi Kulit.
Purnomo, E. (2010). Teknologi Pasca Tanning. Yogyakarta: Akademi Teknologi Kulit.
Purnomo, E. (2016). Colour and Leather. Yogyakarta: Politeknik ATK Yogyakarta.
Purnomo, E. (2017). Teknik Penyamakan Kulit Sarung Tangan. Yogyakarta: Politeknik ATK Yogyakarta.
Purnomo, E. (2017). Teknologi Pasca Tanning. Yogyakarta: Politeknik ATK Yogyakarta.